Articles tagged with: tubuh
Humaniora, Telezkop »
Oleh: Tya Andriani
Jatuh cinta berjuta rasanya, begitulah yang saya dengar dan rasakan. Kenapa jatuh cinta sama si dia? Sejujurnya saya tidak pernah tahu mengapa saya jatuh cinta dengan pasangan saya. Rasanya seperti ada magnet yang kuat yang menariknya mendekat ke arah saya, membuat saya jatuh pada pesonanya.
Gaya Hidup, Mix n' Match »
Oleh: Carmen
Artikel ini kupersembahkan untuk para lesbian yang sudah, maupun yang sebentar lagi akan mencapai umur kepala enam, atau lebih. *jabat tangan dulu*
Terkadang risi saat dulu magang di kantor, melihat pekerja yang berusia >50 tapi belum memasuki masa pensiun diperlakukan tidak adil. Yaitu, pada saat melakukan kesalahan, mereka diperlakukan lebih sadis (e.g., ibu itu sudah tua, kita pindah saja) dibandingkan bila kesalahan serupa dilakukan oleh pekerja yang lebih muda (e.g., ah kan masih muda, salah ya wajar). Atau saat pekerja sosial yang berusia pensiun tapi masih sangat aktif berkegiatan sosial, …
Have Your Say, Humaniora, Label, Sepocikopiana »
Masih belum mengenal orientasi seksual dengan tepat? Pasti masih ada banyak orang yang kebingungan dengan orientasi seksualitasnya. Dalam label LGBTIQ, orang-orang ini adalah mereka yang masuk dalam kategori Q, yaitu Questioning. Inilah manusia yang masih bertanya-tanya dan mencari tahu tentang orientasi seksualnya. Bagaimana lesbian menyikapi persahabatan dengan orang seperti ini? Dengarkan kisah sahabat kita, miss_lazy77, yang masih mencari kejujuran atas orientasi seksualnya.
Untuk orientasi seksual, sejujurnya saya adalah orang yang paling bingung seperti apa saya sebenarnya. Tipe heterokah, lesbiankah atau biseksualkah. Saya sendiri tidak begitu memahami, karena sampai detik ini saya …
Obrolan Cewek, Sepocikopiana »
Oleh: Ade Rain
Berjalan kaki sambil menikmati udara pagi yang sejuk sungguh menyenangkan. Biasanya saat berpapasan dengan sesama penikmat pagi saling menabur cinta, eh, senyum maksudnya, dibarengi sapa olahraga yang lazim, “Selamat pagi! Sepatu larinya bagus, loh!” atau “Ayooo! Belum keringatan tuh.” Aku memilih rute jalan kaki di kompleks perumahan, di antara pertokoan sepi. Daerah yang masih banyak gedung kosong. Belum jauh melangkah, terdengar suara datang dari arah belakang.
“Boleh bergabung?”
Humaniora, Label »
Oleh: Yasmin Sutomo
Saya mulai mengenal dunia lesbian, mengakui diri sebagai lesbian dan berteman dengan sesama lesbian (termasuk mulai pacaran sama perempuan, eheeem…) di tahun 80an. Kala itu lesbian yang tomboy—baik sedikit tomboy maupun tomboy banget—disebut Butch. Pasangannya “pasti” Femme. Sebenarnya mungkin tidak se-saklek itu, tapi di lingkungan tempat saya bergaul ya begitu.
Kondisi ini makin lama menjadi stigma dalam kelompok lesbian pertemanan saya bahwa sesama Butch dilarang saling naksir. Begitu juga kalau ada pasangan yang keduanya berpenampilan feminin, kami akan memandang dengan aneh. Siapa yang jadi laki dan siapa yang jadi …
Cuci Mata »
Oleh: Sidney
Bukannya mau memberi kesan narsis atau egois tapi mencintai yang terpenting adalah mencintai diri sendiri. Siapa gitu pernah bilang, sebelum kita bisa membahagiakan orang lain, kita harus bahagaia lebih dulu. Sama dengan cinta. Sebelum kita mencintai diri orang lain, kita harus bisa mencintai diri sendiri. Sebelum bisa memanjakan orang lain, kita harus bisa memanjakan diri. I can go on and on about this, but I think you’ve got my point.
Tadi sore aku baru mendapat kabar tentang seorang teman yang sakit. Oleh dokter, dia diagnosis… kurang gizi dan kurang makan. …
Humaniora, Perempuan, Sepocikopiana »
Oleh: Frizzy Jo
”Sayang sekali ya dia itu lesbian, padahal dia cantik lho.”
Pernah mendengar kalimat di atas?
Aku yakin sebagian besar dari kita pernah mendengarnya. Secara personal aku mendengar teman-teman heteroku mengucapkan kalimat tersebut pada saat Lindsay Lohan dikabarkan coming out sebagai lesbian. Selain itu, kalimat tersebut juga biasanya terselip pada bisik-bisik alias ngegosip tentang perempuan yang “diduga lesbian”
Tapi kalimat bernada penyesalan itu tidak hanya ditujukan kepada para perempuan lho, tapi juga menimpa Mas Bro kita, para pria tampan bertubuh maskulin dengan wajah rupawan yang ”ternyata” seorang gay.
Sikap mencemooh juga tak jarang …
Humaniora, Opini »
Oleh: Carmen dan Lakhsmi
(Sambungan dari bagian 1)
Nah, kemarin kan kita bicara soal akibat dari “tidak mencintai diri sendiri” yang tidak bisa dianggap enteng, karena bisa memengaruhi kualitas hidup si individu lesbian. Perasaan inferior terhadap kaum heteroseksual membuat si lesbian menjadi kikuk bergaul dengan kaum itu karena dihantui perasaan takut ketahuan lesbian melulu. Dia bahkan tidak berani melakukan hal-hal intelektual yang berhubungan dengan LGBT, misanya mengikuti seminar/diskusi tentang homoseksual, membeli buku gay/lesbian di toko buku, dan lain-lain. Istilah ini dinamakan heterophobia. Di kasus pertama, Irene akhirnya diam-diam menjadi lesbian yang introver, …
Humaniora, Tajuk »
Oleh: Nuha Guwa
Lesbian? Tapi tidak percaya diri? Tunggu. Jangan buat pengakuan yang mengerikan, atau pernyataan yang hanya memberikan alasan-alasan agar kita cukup pantas dikasihani. Rasa percaya diri tentu saja bukan kodrat pemberian Tuhan seperti halnya kelesbianan. Rasa pede – seperti juga rezeki, baru bisa muncul jika kita yang memunculkannya. Untuk itu penting bagi kita memberi ruang bagi diri untuk membuatnya tumbuh ke permukaan.
L'Amour, Perempuan, Sepocikopiana »
Oleh: Saraswati Firdauz
Jika ada yang bertanya padaku apakah aku merasa cantik? Aku akan menjawab, tidak!
Aku adalah gadis muda yang sangat percaya dengan kemampuanku, bukan karena aku merasa sangat pintar tapi aku sangat percaya bahwa manusia bisa melakukan apa pun selama dia mau belajar. Aku sangat yakin bahwa aku punya kemampuan untuk melakukan sesuatu yang baru.
Tapi tidak untuk urusan fisik.
Kepercayaan diriku untuk hal-hal yang berkaitan dengan fisik sangat rendah. Dengan tinggi hanya 153 sentimeter, berat badan mencapai 50 kilogram, kulit cokelat, dan hidung yang menurutku keterlaluan peseknya, membuat rasa percaya diriku merosot. …





