<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; tubuh</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/tag/tubuh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 02:00:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Have Your Say: Saya Adalah Tipe Q</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/20/have-your-say-saya-adalah-tipe-q/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/20/have-your-say-saya-adalah-tipe-q/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jan 2012 02:00:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Have Your Say]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Label]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17317</guid>
		<description><![CDATA[Masih belum mengenal orientasi seksual dengan tepat? Pasti masih ada banyak orang yang kebingungan dengan orientasi seksualitasnya. Dalam label LGBTIQ, orang-orang ini adalah mereka yang masuk dalam kategori Q, yaitu Questioning. Inilah manusia yang masih bertanya-tanya dan mencari tahu tentang orientasi seksualnya. Bagaimana lesbian menyikapi persahabatan dengan orang seperti ini? Dengarkan kisah sahabat kita, miss_lazy77, yang masih mencari kejujuran atas orientasi seksualnya.
Untuk orientasi seksual, sejujurnya saya adalah orang yang paling bingung seperti apa saya sebenarnya. Tipe heterokah, lesbiankah atau biseksualkah. Saya sendiri tidak begitu memahami, karena sampai detik ini saya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/raindrops_of_a_flower_by_whatsaworld-d3g0xk6.jpg"><img class="size-medium wp-image-17401 alignleft" title="raindrops_of_a_flower_by_whatsaworld-d3g0xk6" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/raindrops_of_a_flower_by_whatsaworld-d3g0xk6-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>Masih belum mengenal orientasi seksual dengan tepat? Pasti masih ada banyak orang yang kebingungan dengan orientasi seksualitasnya. Dalam label LGBTIQ, orang-orang ini adalah mereka yang masuk dalam kategori Q, yaitu Questioning. Inilah manusia yang masih bertanya-tanya dan mencari tahu tentang orientasi seksualnya. Bagaimana lesbian menyikapi persahabatan dengan orang seperti ini? Dengarkan kisah sahabat kita, miss_lazy77, yang masih mencari kejujuran atas orientasi seksualnya.</em></p>
<p>Untuk orientasi seksual, sejujurnya saya adalah orang yang paling bingung seperti apa saya sebenarnya. Tipe heterokah, lesbiankah atau biseksualkah. Saya sendiri tidak begitu memahami, karena sampai detik ini saya seolah membiarkan segala sesuatunya berjalan begitu saja, seperti air mengalir.</p>
<p>Saya mulai penasaran dengan orientasi seksual setelah saya mengenal Andien, sahabat saya yang luar biasa saya sayangi. Semakin dewasa, saya semakin intens mencari jati diri saya. Karena begitu besar rasa sayang saya kepada Andien, dalam beberapa bulan terakhir, saya getol mencari artikel-artikel homoseksual, khususnya lesbian.</p>
<p>Sempat ngeri, karena beberapa artikel ketika saya mengetik <em>keyword </em>“Lesbian”, sebagian besar artikel yang keluar dari <em>search engine Google</em> adalah cerita-cerita panas tentang lesbian. Sempat berfikir, kaum homoseksual sepertinya memiliki kecenderungan dengan aktivitas seksual yang lebih tinggi dibanding mereka yang hetero. Kengerian lain yang sempat saya baca adalah mengenai kecenderungan sifat posesif dari kaum homoseksual. Memiliki perasaan yang lebih mendalam, umumnya pasangan homo lebih sulit melepaskan pasangannya ketika rasa cinta itu masih terpendam dalam hati. Bahkan dari artikel yang pernah saya baca, kaum homo lebih cenderung pendendam dan memiliki potensi lebih besar untuk membunuh. Entah juga sih kebenarnnya, itu hanya sebatas pengetahuan yang pernah saya baca.</p>
<p>Beberapa artikel juga memaparkan lesbian dari sudut pandang psikologi. Ini terdiri dari apa saja faktor seseorang bisa menjadi lesbian, pertentangan batin yang mereka rasakan, serta bagaimana menyikapi orientasi seksual lesbian yang dianggap &#8220;menyimpang&#8221;. Dari sini, saya bisa memandang bahwa lesbian sama seperti manusia lainnya yang cukup menarik untuk dipelajari dan dikaji lebih lanjut dari sudut pandang keilmuan.</p>
<p>Saya menghabiskan cukup banyak waktu untuk membaca artikel-artikel terkait homoseksual, tak hanya lesbian tetapi juga kaum gay, hingga saya menemukan situs Sepocikopi. Wow, benar-benar tidak menyangka. Membaca SepociKopi membuat saya berada di antara takjub, heran, aneh, tetapi juga salut. Takjub dan heran karena ternyata ada situs yang benar-benar menampung dan mungkin menjadi wadah para perempuan lesbian yang selama ini menjadi kaum minoritas.</p>
<p>Pasti semua sependapat, bahwa kehadiran SepociKopi menjadi oase bagi para lesbian di Indonesia. Di tengah keheranan saya, saya juga salut dengan SepociKopi karena tulisan-tulisan dan artikel yang disajikan berisi kisah nyata, opini, dan wawasan terkait dunia lesbian yang dikemas dari sudut pandang yang berbeda, apa adanya, dan mengedepankan intelektualitas. Dan yang paling penting, tidak berbau pornografi seperti artikel-artikel lesbian kebanyakan.</p>
<p>Hampir setiap hari saya menyempatkan diri untuk membaca Sepocikopi. Walaupun tidak membenarkan orientasi seksual para lesbian, namun membaca SepociKopi membuat saya bisa melihat lesbian dari sudut pandang lain. Beberapa cerita, bahkan membuat saya terharu dan kagum atas mereka apa yang mereka alami dan bagaimana mereka menyikapinya. Saya benar-benar belajar dari mereka.</p>
<p>Dari artikel, saya mencoba menyambangi ke jejaring social Facebook untuk mengenal lebih dekat dengan kaum lesbian. Dari hasil pencarian pertemanan dengan kata kunci “lesbian” di sana saya menemukan banyak akun-akun lesbian, dan saya memilih membuka akun komunitas lesbian. Sempat membaca status-status yang ditulis serta komen-komen yang ditinggalkan. Hal ini cukup mengejutkan buat saya. Jadi sedikit geli, aneh, unik, serem, dan ada lucu-lucunya. Dengan beberapa pertimbangan, saya pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan nomor handphone (HP) pada dinding komentar di salah satu status mereka.</p>
<p>Malamnya saya mendapatkan SMS yang tiba-tiba mengajak berkenalan. Dari SMS-nya, ia mengaku berasal dari Surabaya dan menanyakan hal tentang saya. SMS kedua datang dari teman lesbian di Jakarta dan terakhir dari Sukabumi, hanya tiga orang. Yang membuat saya heran, SMS-SMS perkenalan yang awalnya begitu semangat dan menggebu-gebu, semua berakhir begitu saja ketika mereka mengetahui saya bukan atau lebih tepatnya belum mengetahui apakah saya lesbian atau tidak. Lah, faktanya seperti itu, mau mengakui lesbian kok rasanya aneh. Faktanya saya tidak pernah pacaran dengan perempuan dan tidak pernah punya teman lesbian.</p>
<p>Mau tidak mengakui, di satu sisi saya pernah begitu menyayangi seorang perempuan. Makanya saya bilang “Tidak tau.” atau “Bukan.”, setiap kali mereka bertanya “Apakah kamu lesbian?” Jawaban saya berakhir dengan menjauhnya mereka, bahkan mereka sama sekali tidak membalas SMS-SMS saya berikutnya. Malah, slah satu dari mereka mereka yang begitu menggebu-gebu berkenalan dengan saya, mendadak berkata bahwa dia bukan lesbian dan meminta maaf kepada saya. Haduh, saya jadi bingung sendiri. Kenapa mereka seperti itu?</p>
<p>Selama ini banyak sekali lesbian yang beranggapan mereka tidak diterima masyarakat karena dianggap menyimpang. Homoseksual menganggap selama ini masyarakat yang tidak mau menerima kehadirannya. Tapi kenapa ketika ada seseorang yang ingin mengenal keberadaan kaum lesbian, justru lesbian malah bersikap introver dan menarik diri? Padahal saya tidak berniat menjadikan lesbian sebagai objek pemuas rasa penasaran saya. Kendati sedikit kecewa, namun tetap berusaha untuk bisa memahami sikap mereka. Mungkin bukan hal yang mudah untuk bisa membuka diri dengan orang di luar komunitas lantaran menganggap diri lesbian sebagai kaum berbeda. Atau mungkin juga karena memang tak nyaman untuk menjalin hubungan/persahabatan dengan orang baru yang bukan/belum lesbian?</p>
<p>Entahlah, sampai sekarang saya masih bingung dengan orientasi seksual saya dan belum memiliki seorang teman lesbian satu pun. Adakah yang ingin menjadi sahabat saya?</p>
<p>@miss_lazy77, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/20/have-your-say-saya-adalah-tipe-q/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Asyiknya Jalan Pagi</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/04/asyiknya-jalan-pagi/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/04/asyiknya-jalan-pagi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Jan 2012 08:24:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Obrolan Cewek]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[Coming Out]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17078</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ade Rain
Berjalan kaki sambil menikmati udara pagi yang sejuk sungguh menyenangkan. Biasanya saat berpapasan dengan sesama penikmat pagi saling menabur cinta, eh, senyum maksudnya, dibarengi sapa olahraga yang lazim, &#8220;Selamat pagi! Sepatu larinya bagus, loh!&#8221; atau &#8220;Ayooo! Belum keringatan tuh.&#8221; Aku memilih rute jalan kaki di kompleks perumahan, di antara pertokoan sepi. Daerah yang masih banyak gedung kosong. Belum jauh melangkah, terdengar suara datang dari arah belakang.
&#8220;Boleh bergabung?&#8221;
Suara yang menyapa ternyata Mia, sahabatku. Mia melihatku seolah bertanya apakah aku setuju? Namun bola mata cokelatnya yang mirip biji salak mendelik ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/fingers.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17080" title="fingers" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/fingers-300x286.jpg" alt="" width="300" height="286" /></a>Oleh: Ade Rain</p>
<p>Berjalan kaki sambil menikmati udara pagi yang sejuk sungguh menyenangkan. Biasanya saat berpapasan dengan sesama penikmat pagi saling menabur cinta, eh, senyum maksudnya, dibarengi sapa olahraga yang lazim, &#8220;Selamat pagi! Sepatu larinya bagus, loh!&#8221; atau &#8220;Ayooo! Belum keringatan tuh.&#8221; Aku memilih rute jalan kaki di kompleks perumahan, di antara pertokoan sepi. Daerah yang masih banyak gedung kosong. Belum jauh melangkah, terdengar suara datang dari arah belakang.</p>
<p>&#8220;Boleh bergabung?&#8221;</p>
<p><span id="more-17078"></span>Suara yang menyapa ternyata Mia, sahabatku. Mia melihatku seolah bertanya apakah aku setuju? Namun bola mata cokelatnya yang mirip biji salak mendelik ketika melihat sosok tersebut; perempuan andro, bercelana pendek biru, handuk kecil tersampir di leher, sepatu olah raga kuning menyala, hidung mancung, mata sipit dengan bintik hitamnya yang besar, dan sedang tersenyum lebar seolah seekor anak anjing mungil yang menemukan tuan baru.  Mia mengangguk sebelum mataku sempat menyatakan setuju. Senyumnya menyimbolkan sesuatu, seperti cemooh nakal. Mia tahu soal ‘takdir’ itu, sesuatu yang sering terjadi padaku.</p>
<p>Perempuan muda ini menarik handuknya dari leher, mengelap peluh di dahi, kemudian setengah melompat dia aktif berlari di sekitar kami. Saat dia berada di depan, kugunakan kesempatan itu untuk melirik Mia. Dia menunjukkan jempolku ke arah punggung perempuan itu dengan mimik serius sambil memberikan gerakan bibir tanpa suara. &#8220;Lesbi?&#8221;</p>
<p>Bedebah Mia! Dia menjulurkan lidahnya, sambil menujukkan jari telunjuk ke atas (Baca: langit yang berarti Tuhan), sementara jempolnya mengarah kepadaku. Ini simbol yang selalu dia lakukan setiap kali mengingatkan karmaku yang selalu bertemu lesbian di tempat umum.</p>
<p>&#8220;Eh, kalian sering di sini ya?&#8221; Tiba-tiba perempuan yang kami perhatikan tadi membalik badan.  Suaranya lantang dan kencang. Telingaku terasa ditelannya.</p>
<p>&#8220;Nggg&#8230;&#8221; kataku ragu. &#8220;Iya, tapi kami jarang bareng. Biasanya sendiri.&#8221;</p>
<p>Mia melihat aku yang mulai rikuh. Aku takut si cewek tadi melihat bahasa isyarat Mia.</p>
<p>&#8220;Eh, kebetulan kita lewat sini. Masuk yuk! Ini tempat aku nge-<em>gym</em>.&#8221;</p>
<p>Mia berhasil mengalihkan perhatiannya, kemudian menuntun kami masuk ke sana. Aku bergegas membuntuti Mia, tapi andro tadi, eh perempuan tadi juga mengekor di belakang Mia.  Kuperhatikan dirinya dari belakang. Rambut pendek, tengkuk putih bersih. Kuperhatikan lagi langkahnya, gelagatnya, termasuk cara bicaranya, tangannya… Jreng jreng jreng! Sepertinya memang kelihatan kalau dia seperti kami.</p>
<p>&#8220;Sebenarnya aku hanya sementara di sini karena pekerjaan. Dua temanku sedang berenang. Aku nggak bisa berenang, makanya aku memilih jogging.&#8221;</p>
<p>Kami berdua percaya saja. Auranya cukup menyenangkan. Aku dan Mia terpana dengan cara berbicaranya yang bersahabat, hangat, dan penuh ketulusan. Dari gelagat dan gerak-geriknya, mungkin benar dia adalah lesbian.</p>
<p>Dua jam mengitari taman dan bundaran, obrolan kami bertiga semakin seru. Mulai soal umur, pekerjaan, kemudian bertukar nomor hape. Mia melirikku, memastikan apakah aman memberikan nomor hape ke teman baru kam. Aku sudah tidak peduli, sebaiknya berpikir positif saja. Kuanggap dia <em>straight</em>. Tempat bekerjanya cukup bonafid sehingga tampaknya dia cukup bisa dipercaya. Kami pun saling bertukar PIN BB.</p>
<p>Ketika istirahat minum di sebuah kafe, Mia mulai iseng.</p>
<p>&#8220;Boleh kulihat jarimu?”</p>
<p>Dia merenggangkan jari, menunjukkan pada Mia. Mimik Mia tampak serius.</p>
<p>&#8220;Dari jarimu, kamu kelihatan akan memiliki sedikit anak, soalnya jari manismu lebih panjang dari jari telunjukmu!”  Mia mendelik ke arahku sambil memastikan kelesbianan tersebut.</p>
<p>Otot mataku langsung terasa kaku, membatu. Ngapain coba main-main sama jari? Bagaimanakalau dia malah menebak kami pasangan lesbian? Ada asbak di meja. Ingin kulempar Mia dengan benda itu. Banyak lesbian sudah tahu soal &#8220;tanda lesbian&#8221; di jari. Huh, nekad sekali ngomongin soal jari?</p>
<p>&#8220;Katanya kalau perempuan punya jari manis lebih panjang dari telunjuk, artinya BEGITU ya?”</p>
<p>Demi film bajakan, keset kaki kusut, binatang di planet Mars! Apa katanya? Begitu?</p>
<p>&#8220;Begitu apa? Maksudmu?” Aku berpura-pura bego. Wajah Mia berubah seperti keranjang sampah. Dia mendadak pucat pasi.</p>
<p>&#8220;Begitu loh&#8230; maksudnya perempuan penyuka perempuan.&#8221;</p>
<p>Bibir tipisnya menyeringai, seolah dia baru saja melepaskan jahitan di lidahnya saat menyebutkan kata penyuka&#8230; penyuka&#8230; penyuka tadi.</p>
<p>&#8220;Oh? Nggak tahu ya kalau  soal itu,&#8221; kujawab dengan begitu percaya diri.</p>
<p>Secepat kilat aku menggulung tisu sambil menutup jari-jariku. Seolah pemain sulap, entah kapan Mia sudah memasukkan kedua tangan ke dalam kantong kaus olah raganya. Mampus! Bau lesbian di badan dan jariku terselamatkan ketika telepon Sulung masuk.</p>
<p>&#8220;Maaf, anakku menelepon. Sebentar ya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Sudah ada anak toh, Mbak?&#8221; Rautnya seakan tidak percaya.</p>
<p>Aku mengerlingkan mata padanya, kemudian pergi ke pintu café. Aku selamat. Dari luar, di balik kaca kulihat Mia gelagapan mengobrol dengan perempuan tadi sambil terus menyimpan tangannya di dalam saku. Kujulurkan lidahku padanya. Aku tertawa sepuasnya.</p>
<p>@Ade Rain, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/04/asyiknya-jalan-pagi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>My Label is No Label</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/31/my-label-is-no-label/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/31/my-label-is-no-label/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Dec 2011 04:15:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Label]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17021</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Yasmin Sutomo
Saya mulai mengenal dunia lesbian, mengakui diri sebagai lesbian dan berteman dengan sesama lesbian (termasuk mulai pacaran sama perempuan, eheeem&#8230;) di tahun 80an.  Kala itu lesbian yang tomboy&#8212;baik sedikit tomboy maupun tomboy banget&#8212;disebut Butch.  Pasangannya “pasti” Femme.  Sebenarnya mungkin tidak se-saklek itu, tapi di lingkungan tempat saya bergaul ya begitu.
Kondisi ini makin lama menjadi stigma dalam kelompok lesbian pertemanan saya bahwa sesama Butch dilarang saling naksir.  Begitu juga kalau ada pasangan yang keduanya berpenampilan feminin, kami akan memandang dengan aneh. Siapa yang jadi laki dan siapa yang jadi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/no-label-freshjive-1-360x540.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17022" title="no-label-freshjive-1-360x540" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/no-label-freshjive-1-360x540-200x300.jpg" alt="" width="300" height="400" /></a>Oleh: Yasmin Sutomo</p>
<p>Saya mulai mengenal dunia lesbian, mengakui diri sebagai lesbian dan berteman dengan sesama lesbian (termasuk mulai pacaran sama perempuan, eheeem&#8230;) di tahun 80an.  Kala itu lesbian yang tomboy&#8212;baik sedikit tomboy maupun tomboy banget&#8212;disebut Butch.  Pasangannya “pasti” Femme.  Sebenarnya mungkin tidak se-<em>saklek </em>itu, tapi di lingkungan tempat saya bergaul ya begitu.</p>
<p>Kondisi ini makin lama menjadi stigma dalam kelompok lesbian pertemanan saya bahwa sesama Butch dilarang saling naksir.  Begitu juga kalau ada pasangan yang keduanya berpenampilan feminin, kami akan memandang dengan aneh. Siapa yang jadi <em>laki </em>dan siapa yang jadi <em>perempuan </em>nih? Aneh kan kalimat ini? Bukankah mereka sama-sama perempuan? Kok tetap ada peran laki dan peran perempuan?</p>
<p>Stigma itulah yang membatasi lesbian zaman itu dalam mencari pasangan. Aturannya memang tidak digeneralisir, tapi paling tidak di kelompok saya begitulah adanya.</p>
<p>Baru beberapa tahun kemudian, saya mengenal ada kelompok lesbian berlabel Andro. Itu pun masih terdapat sublabel Andro-ke-Femme dan Andro-ke-Butch. Terus terang saya nggak mengerti betul.  Seorang teman seangkatan saya suatu hari berujar, “Zaman sekarang lesbian tomboy lebih senang mengaku Andro daripada Butch. Coba deh perhatikan,” katanya.</p>
<p>Menurut dia, teman saya itu, kalau seseorang secara yakin langsung mengatakan dia Butch, berarti dia hidup di angkatan yang sama dengan kami.  Sedangkan mengaku sebagai Andro lebih disukai oleh lesbian tomboy yang lebih muda. Hmmm&#8230; ya bolehlah diasumsikan demikian, walaupun lagi-lagi tidak se-<em>saklek </em>itu, mungkin hanya di kelompok pertemanan lesbian saya saja yang begitu.</p>
<p>Kenyataannya, beberapa kali pacaran, saya selalu berpasangan sama Femme.  Meski kadang-kadang ada rasa naksir juga ke Andro, tapi biasanya saya akan berusaha mematikan perasaan tersebut, mengingat, teman-teman saya pasti akan melecehkan saya, dengan bilang, &#8220;Kamu ih&#8230; kok jeruk minum jeruk?&#8221; Begitu.</p>
<p>Berpasangan dengan beberapa Femme (tentunya tidak di waktu yang sama), membuat saya bagaikan mengarungi bukit yang terjal dan menuruni lembah yang curam. Jatuh bangun nggak keruan.  Agak lebay sih, tapi begitulah analoginya. Saya sering kali mengalami tidak enaknya. Nggak usah disebutlah nggak enaknya apa, yang jelas kisah percintaan saya tidak berlangsung mulus. Ujung-ujungnya&#8230;. jomblo lagi… jomblo lagi.</p>
<p>Sampai suatu saat, saya menemukan ada yang menarik dari seseorang di dunia maya yang mengaku No Label. Lah… apa <em>pulak </em>ini?</p>
<p>“Saya tidak memposisikan diri berlabel apa pun, dan saya bisa tertarik dengan perempuan berlabel apa pun. Asal nyambung dan dia perempuan, bisa saja kami jadian,” katanya.</p>
<p>Dengar lesbian menyebut dirinya No Label sih sering, tapi kadang-kadang saya tidak mengerti maknanya, serupa dengan ketidakmengertian saya akan Andro-ke-Femme dan Andro-ke-Butch itu. Baru dari si Miss No Label yang menarik ini, pikiran saya terbuka lebar.</p>
<p>Saya sendiri sering kali <em>blank </em>kalau ditanya apa labelmu. Spontan ingin jawab: Butch (sesuai zamannya saya), tapi mikir lagi, benarkah? Saya nggak kelaki-lakian banget kok, apalagi sifat dan tutur kata. Ciaelaaah. Lagi pula beberapa referensi mengatakan, label tidak ditentukan dari penampilan, tapi dari sifat-sifat di dalam dirinya. Tuh kan? Selama ini kalau dicecar musti menyebutkan label, saya suka ngasal dan menjawab sekenanya, &#8220;Kata orang-orang sih Butch.&#8221;</p>
<p>Apakah mulai sekarang saya harus mengatakan pada dunia (dunia SepociKopi doang sih beraninya) bahwa saya ini No Label? Dengan demikian saya tidak memposisikan pada label mana pun. Hmm&#8230; No Label…. keren tuh kayaknya!  Walaupun No Label sering dicap pemakan segala, saya nggak peduli.</p>
<p>Intinya, saya nggak mau lagi label membatasi cakupan pencarian pasangan,  yang penting nyambung. Meskipun kata <em>nyambung </em>itu sendiri berkaitan dengan banyak variabel yang hanya bisa dirasakan dan susah dituliskan dengan kata-kata. Setuju atau setuju? He he he. Intinya lagi (lho inti kok banyak?), bukan cewek-cewek yang ngerepotin, manja dan nggak mandiri (ini pengalaman pribadi), terserah labelnya apa.</p>
<p>Kalau kelak nyambungnya sama cewek mandiri, nggak manja dan nggak ngerepotin yang berpenampilan kayak laki, trus saya dikatain jeruk minum jeruk, nggak peduli juga ah&#8230; Asal perbuatan, sikap, dan karakternya bikin geli-geli di perut (alias <em>butterfly in my stomach</em>), terusin aja ya… he he he.</p>
<p>Ayo, siapa berani maju? Hayyaaaah buntutnya: cari pacar!</p>
<p>@Yasmin, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/31/my-label-is-no-label/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuci Mata: I Love Me</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/21/cuci-mata-i-love-me/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/21/cuci-mata-i-love-me/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 12:46:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cuci Mata]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16872</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sidney
Bukannya mau memberi kesan narsis atau egois tapi mencintai yang terpenting adalah mencintai diri sendiri. Siapa gitu pernah bilang, sebelum kita bisa membahagiakan orang lain, kita harus bahagaia lebih dulu. Sama dengan cinta. Sebelum kita mencintai diri orang lain, kita harus bisa mencintai diri sendiri. Sebelum bisa memanjakan orang lain, kita harus bisa memanjakan diri. I can go on and on about this, but I think you&#8217;ve got my point.
Tadi sore aku baru mendapat kabar tentang seorang teman yang sakit. Oleh dokter, dia diagnosis&#8230; kurang gizi dan kurang makan. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/poci1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-16873" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/poci1.jpg" alt="" width="256" height="329" /></a>Oleh: Sidney</p>
<p>Bukannya mau memberi kesan narsis atau egois tapi mencintai yang terpenting adalah mencintai diri sendiri. Siapa gitu pernah bilang, sebelum kita bisa membahagiakan orang lain, kita harus bahagaia lebih dulu. Sama dengan cinta. Sebelum kita mencintai diri orang lain, kita harus bisa mencintai diri sendiri. Sebelum bisa memanjakan orang lain, kita harus bisa memanjakan diri. <em>I can go on and on about this, but I think you&#8217;ve got my point</em>.</p>
<p>Tadi sore aku baru mendapat kabar tentang seorang teman yang sakit. Oleh dokter, dia diagnosis&#8230; kurang gizi dan kurang makan. Alamak jreng-jreng. Hari gini? Bengong dong aku. Langsung membayangkan headline di koran lampu merah “Seorang Eksekutif Muda Ditemukan Tewas di Apartemen Mewah Karena Kurang Gizi”.</p>
<p><span id="more-16872"></span>Aku nggak habis pikir membayangkan bagaimana seseorang bisa menyakiti dirinya sedemikian rupa sampai kurang gizi. Ini perempuan sukses, lajang, mandiri, dan memutuskan untuk merusak dirinya secara sadar. Masa sih dia sama seperti bapak-bapak pengangguran yang kalau ada uang Rp.10.000 lebih memilih rokok daripada makan? Ya ampun, tepok jidat benturin kepala si bodoh ini ke dinding.</p>
<p>Bagaimana bisa ada seseorang yang sanggup liburan di Paris, <em>tweeting</em> sedang minum Merlot di resto paling <em>hip </em>di Jakarta, beli tas Kate Spade waktu sale kemarin, tapi kurang gizi? Ini kan ibaratnya ada orang yang bisa minum kopi Starbucks tapi pulang ke rumah makan nasi plus kecap manis dan krupuk. <em>Where&#8217;s the logic in this? Is she stupid or what?</em></p>
<p>Sibuk sampai nggak sempat makan? Oh, <em>please </em>deh! Bahkan Bill Gates atau Oprah Winfrey aja masih sempat makan kok.</p>
<p>Diet? Okelah diet? <em>Hello? </em>Hari gini diet kan banyak program khusus yang tidak membuatmu harus melaparkan diri sampai didiagnosis kurang gizi. Walau aku bersyukur diberkahi tubuh langsing dan tidak perlu diet menguruskan badan, tapi aku tahu ada program diet dengan makanan sehat dan teratur yang membuat kita bisa menyantap makanan yang diatur kalorinya dan gizi seimbang.</p>
<p>Patah hati sampai nggak mau makan? <em>Shrug</em>&#8230; ya ampun. Baca paragraf pertama deh. Bagaimana bisa kita mencintai orang lain kalau kita nggak mencintai diri sendiri. Atau yang lebih buruk lagi, bagaimana bisa ada orang yang merusak dirinya sendiri dengan memasukkan segala zat beracun macam nikotin dan alkohol tapi tidak makan makanan sehat dan berharap dicintai?</p>
<p><em>I love myself </em>ini sungguh bukan cuma slogan. Aku nggak pernah membayangkan ada orang yang sebegitu bodohnya mau merusak diri hingga mendengar cerita ini. Makan merupakan kebutuhan utama manusia. Sakit kurang makan dan kurang gizi jika dialami oleh orang yang hidupnya berkecukupan, menurutku, itu kegiatan merusak diri secara sadar.</p>
<p>Bagaimana dengan lesbian? Benci dengan kelesbianan diri sampai harus merokok tanpa henti? Banyak tuh yang seperti itu. Ada teman lesbianku yang mendadak jadi perokok akut setiap percintaannya babak belur. <em>Unbelievable, how much she hates herself! </em>Bukan juga cerita baru kalau dapat kabar lesbian bunuh diri karena ditolak cintanya. Atau lesbian menyakiti tubuhnya saat berantem dengan pacar dengan cara menyilet-nyilet. Brrr, <em>my body is shivering just to think about it</em>. Mana cakep sih miting dengan bos besar dengan lengan bekas silet terbuka di atas meja?</p>
<p>Aduh, ngomongin semua ini membuatku makan di restoran enak dan nonton bioskop. Tapi tentu saja tidak sendirian, enaknya bersama partner. Mencintai diri sih memang oke, tapi ingat loh, manusia tidak sanggup hidup sendirian. Karena itulah enaknya punya pasangan yang sayang sama aku. <em>I love her! </em>*wink*</p>
<p>@Sidney, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/21/cuci-mata-i-love-me/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Cantik, dan Aku Lesbian</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/10/aku-cantik-dan-aku-lesbian/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/10/aku-cantik-dan-aku-lesbian/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Dec 2011 07:37:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[Coming Out]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16622</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Frizzy Jo
”Sayang sekali ya dia itu lesbian, padahal dia cantik lho.”
Pernah mendengar kalimat di atas?
Aku yakin sebagian besar dari kita pernah mendengarnya. Secara personal aku mendengar teman-teman heteroku mengucapkan kalimat tersebut pada saat Lindsay Lohan dikabarkan coming out sebagai lesbian. Selain itu, kalimat tersebut juga biasanya terselip pada bisik-bisik alias ngegosip tentang perempuan yang &#8220;diduga lesbian&#8221;
Tapi kalimat bernada penyesalan itu tidak hanya ditujukan kepada para perempuan lho, tapi juga menimpa Mas Bro kita, para pria tampan bertubuh maskulin dengan wajah rupawan yang ”ternyata” seorang gay.
Sikap mencemooh juga tak jarang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/i_am_rainbow_by_kameolynn-d3diym0.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16628" title="i_am_rainbow_by_kameolynn-d3diym0" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/i_am_rainbow_by_kameolynn-d3diym0-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Oleh: Frizzy Jo</p>
<p>”Sayang sekali ya dia itu lesbian, padahal dia cantik lho.”</p>
<p>Pernah mendengar kalimat di atas?</p>
<p>Aku yakin sebagian besar dari kita pernah mendengarnya. Secara personal aku mendengar teman-teman heteroku mengucapkan kalimat tersebut pada saat Lindsay Lohan dikabarkan <em>coming out</em> sebagai lesbian. Selain itu, kalimat tersebut juga biasanya terselip pada bisik-bisik alias ngegosip tentang perempuan yang &#8220;diduga lesbian&#8221;<br />
Tapi kalimat bernada penyesalan itu tidak hanya ditujukan kepada para perempuan lho, tapi juga menimpa Mas Bro kita, para pria tampan bertubuh maskulin dengan wajah rupawan yang ”ternyata” seorang gay.</p>
<p>Sikap mencemooh juga tak jarang terjadi mengiringi pernyataan tersebut, misalnya dengan ungkapan, ”Kayak udah nggak laku aja sampai jadi lesbian.”</p>
<p>Semua hal di atas membuatku berpikir,  teori macam apa atau premis-premis apa yang mereka gunakan untuk membuat pernyataan itu? Apakah lantas hanya perempuan berparas biasa saja yang boleh menjadi lesbian? Jika ternyata aku secantik Monica Belluci apa itu berarti aku tidak boleh jadi lesbian?</p>
<p>Memang benar perempuan identik sebagai makhluk yang mengutamakan kecantikan dan pria makhluk yang memuja dan menggilai kecantikan. Tapi kalau kecantikan hanya dipandang sebagai alat untuk memikat lawan jenis, apa bedanya manusia dengan beberapa jenis spesies fauna yang menggunakan kemolekan bulu-bulu yang mengembang untuk memikat sang pejantan?</p>
<p>Cinta pada manusia jauh lebih tinggi tingkatannya daripada sekedar ketertarikan fisik semata. Siapa bilang laki-laki juga hanya tertarik pada perempuan putih, cantik dan feminin? Kenyataannya banyak pria yang bertekuk lutut di hadapan perempuan bertubuh subur, berparas biasa, perempuan berkulit eksotis (baca: berkulit cokelat/afro) bahkan perempuan-perempuan semampai (semeter tak sampai) atau pada perempuan-perempuan tomboy yang mandiri. Begitu juga sebaliknya.</p>
<p>Anggapan bahwa lesbian adalah perempuan-perempuan yang &#8220;nggak laku&#8221; kepada laki-laki hingga memilih sesama perempuan, <em>it&#8217;s so so so oldies</em> dan sebenarnya merendahkan manusia sebagai makhluk yang memiliki akal, logika dan rasa. Perempuan sekarang jauh lebih cerdas dan independen, yang tidak mau dirinya hanya dipandang sebagai objek.</p>
<p>Aku pribadi tidak mau memiliki pasangan yang hanya menilaiku dari fisik. Aku menginginkan orang yang punya kecerdasan lebih, yang mampu melihat lebih jauh. <em>Outer beauty</em> mudah di lihat oleh siapa pun. Tapi hanya orang yang luar biasa yang mampu memandang<em> inner beauty</em>.</p>
<p>Aku kembali teringat akan percakapan dengan seorang sahabat. Ketika bicara tentang cinta, dia mengungkapkan bahwa ia tidak membatasi diri hanya dengan kecantikan semata. Dan ketika kita bicara tentang cinta, ia akan jatuh tanpa bisa kita cegah meskipun ia jatuh di hati seorang lesbian.</p>
<p>Dan aku mulai menyusun strategi,  jika suatu saat ada teman yang berkata, ”Sayang ya, cantik-cantik kok lesbian.”</p>
<p>Aku akan menjawab, ”Hm, aku juga cantik dan aku lesbian lho&#8221;</p>
<p>Atau, kalau ada bibir gosiper yang masih cuap-cuap, &#8220;Ih, jadi lesbian, kayak nggak laku aja!&#8221;</p>
<p>Aku akan menjawab, &#8220;Eh, jangan salah. Tuh cewek justru udah laku lho. Nih, pacarnya ada di sebelah elo.”</p>
<p>Hm&#8230; mungkin&#8230; Suatu hari nanti. <img src='http://sepocikopi.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>@Frizzy Jo, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/10/aku-cantik-dan-aku-lesbian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Trilogi Cinta: I Love Me! (2)</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/07/trilogi-cinta-i-love-me-2/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/07/trilogi-cinta-i-love-me-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 04:18:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16569</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Carmen dan Lakhsmi
(Sambungan dari bagian 1)
Nah, kemarin kan kita bicara soal akibat dari “tidak mencintai diri sendiri” yang tidak bisa dianggap enteng, karena bisa memengaruhi kualitas hidup si individu lesbian. Perasaan inferior terhadap kaum heteroseksual membuat si lesbian menjadi kikuk bergaul dengan kaum itu karena dihantui perasaan takut ketahuan lesbian melulu. Dia bahkan tidak berani melakukan hal-hal intelektual yang berhubungan dengan LGBT, misanya mengikuti seminar/diskusi tentang homoseksual, membeli buku gay/lesbian di toko buku, dan lain-lain. Istilah ini dinamakan heterophobia. Di kasus pertama, Irene akhirnya diam-diam menjadi lesbian yang introver, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/i_love_me_large.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16573" title="i_love_me_large" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/i_love_me_large-229x300.jpg" alt="" width="229" height="300" /></a>Oleh: Carmen dan Lakhsmi</p>
<p>(Sambungan dari <a href="http://sepocikopi.com/2011/12/06/trilogi-cinta-i-love-me-1/">bagian 1</a>)</p>
<p>Nah, kemarin kan kita bicara soal akibat dari “tidak mencintai diri sendiri” yang tidak bisa dianggap enteng, karena bisa memengaruhi kualitas hidup si individu lesbian. Perasaan inferior terhadap kaum heteroseksual membuat si lesbian menjadi kikuk bergaul dengan kaum itu karena dihantui perasaan takut ketahuan lesbian melulu. Dia bahkan tidak berani melakukan hal-hal intelektual yang berhubungan dengan LGBT, misanya mengikuti seminar/diskusi tentang homoseksual, membeli buku gay/lesbian di toko buku, dan lain-lain. Istilah ini dinamakan <em>heterophobia</em>. Di kasus pertama, Irene akhirnya diam-diam menjadi lesbian yang introver, tidak pede, penakut, kaku, pendiam, serba salah, dan tidak bisa bergaul dengan lingkungannya.</p>
<p><span id="more-16569"></span>Mungkin akan ada yang bilang, &#8220;Ya, sudahlah, perasaanku yang negatif tidak akan merugikan orang lain. Aku menyimpannya untuk diriku saja.&#8221; Eh, enak aja, kenyataannya tidak begitu! Perasaan yang dialami manusia selalu terpantul lewat perilaku. Perilaku lesbian yang buruk akan berpengaruh pada perasaan, pikiran, dan sikap orang lain juga, bahkan memiliki akibat yang jahat bagi orang-orang di sekelilingnya.</p>
<p>Inilah ilustrasi nomor dua. Perhatikan&#8230;.</p>
<p><em>Siti adalah tipe orang yang suka bingung. Seperti saat ini, dia bingung mau memutuskan apa dalam hidupnya. Ujung-ujungnya selalu tidak pernah jelas. Contoh deh, soal percintaan. Siti bolak-balik pacaran tapi kandas dalam waktu singkat. Soalnya Siti suka menduakan pacarnya. Siti biasanya jatuh cinta sama makhluk berjenis kelamin cewek. Tidak ada hentinya dia diputusin cewek karena Siti juga berpura-pura pacaran sama lelaki jika sedang berpacaran dengan pacar ceweknya. Siti selalu trauma jika diputusin perempuan. Apa mereka tidak tahu bahwa susah berpura-pura pacaran dengan cowok, pikir Siti geram. Dia tidak pernah mencintai para lelaki itu! Capek, deh! Kadang Siti sampai tidak bisa tidur gara-gara ini. Kalau pun tidur, dia selalu gelisah dan terbangun beberapa kali. Siti pun mulai mencoba-coba merokok. Berbatang-batang rokok dihabisinya saat dia sedang gelisah, padahal dia cuma ingin menenangkan perasaannya. Aduh, ini kan yang namanya gejala-gejala depresi?</em></p>
<p><em>Padahal yang Siti lakukan, menurutnya, merupakan tameng dan pengorbanan besar untuk melindungi dirinya dan kekasih pujaan hati untuk bisa melanjutkan hubungan mereka. Biar tidak diejek teman-temannya. Biar kelihatan &#8220;normal&#8221;. Biar tidak tidak ketahuan lesbian. Masa mau diusir keluarga karena menjadi lesbian? Dia ingat waktu di sekolah dulu. Siti yang sangat tomboy sering diledek teman-temannya karena berbeda. Jadilah Siti bersikeras memenuhi ekspektansi lingkungan mulai dari bagaimana cara berpakaian, bertingkah laku, sampai ke hal ekstrim, yaitu berpacaran yang tidak sesuai hatinya. Salah satu mantan pacar ceweknya pernah berkata, &#8220;Aku menghargai diriku, Siti. Aku tidak mau kamu menyakiti diriku terus-menerus dengan menduakanku. Yang kamu lakukan bukan cinta.&#8221;</em></p>
<p><em>Siti makin bingung. Saking bingungnya, fokusnya selalu ke masalah percintaan melulu. Kuliahnya tidak pernah beres. Kadang-kadang Siti menyiksa dirinya dengan bekerja mati-matian sampai livernya tersiksa dan dia harus diopname di rumah sakit. Dia juga sibuk pacaran dengan cewek, sama satu, dua, tiga orang. Perasaannya galau tiada henti. Hatinya sakit terus-menerus. Di ambang frustrasinya, Siti memutuskan untuk menikah dengan lelaki yang tidak pernah dia cintai. Dia meyakini, menikahi lelaki ini adalah hukuman yang harus dihadapinya sebagai lesbian.</em></p>
<p>Pusing ya baca masalah Siti? Hadeeeh, pusing bangeeet! Soal perasaan cintanya pada pacar perempuannya nih, misalnya. Menurut Siti, cintanya kepada pacar perempuannya sangat besar tuh. Siti berani mengorbankan perasaan dirinya sampai seluruh jiwa raga nyeriiii. Padahal dia tidak menyadari, yang sakit bukan dirinya saja. Dia juga mengorbankan perasaan orang lain, seperti pacar laki-laki dan pacar perempuannya. Coba kalau si nona ini mencintai dirinya sepenuh hati, sedikit sekali kemungkinan dia bermain-main sama perasaan orang lain, apalagi perasaan dirinya sendiri. Dia takkan harus menanggung malam-malam penuh kesepian dan kemarahan yang berbentuk tangisan.</p>
<p>Atau, jika dia belum siap mencintai diri sendiri, lebih baik ditunda dulu kisah kasihnya pada perempuan, atau tentu saja, tidak memutuskan menikah. Menikah tuh bukan solusi bagi permasalahan urusan percintaan, apalagi percintaan lesbian. Masalah Siti bisa merembet ke mana-mana dan semakin parah untuk dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Virus &#8220;tidak mencintai diri sendiri&#8221; adalah virus yang sangat jahat, bisa membunuh pelan-pelan. Mantan ceweknya Siti tahu secara intuitif bahwa hubungannya dengan Siti adalah hubungan yang tidak sehat. Dia tidak mau ikut-ikutan terjangkit virus seperti ini, sehingga memilih meninggalkan Siti.</p>
<p>Akhirnya lagi-lagi Siti gigit jari, diputus pacar yang dicintainya. Bete banget deh.</p>
<p>Dalam istilah psikologi, masalah yang dihadapi Siti disebabkan oleh perkembangan identitas diri yang kacau balau. Siti tidak mengenal siapa dirinya. Dia tidak tahu bagaimana caranya bersikap. Dia berusaha menjadi orang lain dengan berpura-pura sampai tingkat ekstrim. Akibatnya, keputusan-keputusan Siti dalam kehidupannya menjadi perilaku dengan resiko tinggi. &#8220;Resiko tinggi&#8221; di sini artinya aksi yang berpotensi menjadi masalah di kemudian hari. Misalnya, bergonta-ganti pacar, menduakan pacar (istilah kerennya <em>prosmicuity</em>), merokok tak kenal waktu, bolos kuliah, menyakiti diri sendiri dengan bekerja tanpa henti, menangis terus-terusan, tidur yang tidak pernah cukup, menyiksa diri dengan menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya.</p>
<p>Siti mewakili lesbian yang identitasnya kacau karena ekspektasi masyarakat yang sangat tinggi terhadap seksualitas dan gendernya. Dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengenal dan mencintai dirinya secara utuh. Permasalahan yang umum terjadi pada lesbian yang seperti ini biasanya si lesbian itu sendiri juga turut memelihara identitas yang kacau sehingga menimbulkan kerusakan masa depan. Untuk mencegah perkembangan identitas yang berantakan, cara paling efektif dan bisa dilakukan oleh Siti adalah dengan <strong>menerima diri apa adanya</strong>. Hal &#8220;menerima diri&#8221; adalah pertolongan pertama pada kecelakaan mental.</p>
<p>Eh tunggu, bukan cuma itu aja loh! Ternyata &#8220;menerima diri&#8221; pun tidak cukup untuk kesehatan jangka panjang. Selama pengobatan untuk kesehatan jiwa, pembangunan dan pembentukan &#8220;konsep diri yang baik&#8221; masih harus dikasih pertolongan pertama terus-menerus. Akar permasalahan pada diri Siti perlu dituntaskan setuntas-tuntasnya sampai Siti menjadi sehat lagi. Yaitu, Siti sebaiknya mencari afirmasi (bantuan kekuatan) untuk menyadari bahwa menjadi lesbian itu bukan beban atau penyakit atau hukuman, tapi anugrah. Dia bukan pula satu-satunya lesbian di dunia ini, bahwa masih ada ratusan juta manusia seperti dirinya yang memenuhi bumi, tercipta karena cinta. Siti juga harus belajar menghargai diri, menempatkan dirinya sebagai sosok yang disayang. Artinya dia sebaiknya kuliah dengan baik, tidak menduakan kekasih perempuan, tidak perlu berpura-pura pacaran dengan lelaki, tidak melarikan diri dengan merokok/minuman keras saat menyadari sedang tertekan, menghentikan rencana pernikahan, dan lain-lain. Jika Siti terlalu tertekan, Siti bisa membagi bebannya kepada orang yang bisa menghargai hidupnya sebagai lesbian. Ingat saja, jika ada orang lain yang berusaha merendahkan nilai kelesbianan Siti, artinya nilai Siti berada di atas mereka. Inilah vaksin &#8220;mencintai diri&#8221; yang digunakan untuk melawan virus <em>denial</em> pada lesbian seperti Siti.</p>
<p><em>Healing homosexual</em> adalah istilah yang digunakan untuk membantu lesbian menuju proses <em>self-acceptance</em>. Dalam proses <em>self-acceptance</em> ini, banyak yang harus lesbian lakukan. Contoh: mengikis habis perasaan benci-pada-diri dengan menyadari besarnya cinta Tuhan pada manusia, khususnya diri sendiri; memaafkan orang lain yang pernah menghina dirinya, khususnya kelesbianannya; dan akhirnya membantu lesbian lain yang juga mengalami masalah yang sama. Menurut psikologi, membantu sesama juga sebuah terapi yang memberikan perasaan dihargai, dicintai, dan berguna.</p>
<p>Fiuh, panjang ya. Masih ada lagi loh. Sudah siap dengan kisah lesbian lain dalam urusan percintaan dan konsep cinta-diri?</p>
<p>(bersambung <a href="http://sepocikopi.com/2011/12/08/trilogi-cinta-i-love-me-3/">ke bagian 3</a>)</p>
<p>@Carmen, Lakhsmi, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/07/trilogi-cinta-i-love-me-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tajuk: Percaya Diri dan Kita</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/06/tajuk-percaya-diri-dan-kita/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/06/tajuk-percaya-diri-dan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 12:14:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Tajuk]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16557</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nuha Guwa
Lesbian? Tapi tidak percaya diri? Tunggu. Jangan buat pengakuan yang mengerikan, atau pernyataan yang hanya memberikan alasan-alasan agar kita cukup pantas dikasihani. Rasa percaya diri tentu saja bukan kodrat pemberian Tuhan seperti halnya kelesbianan. Rasa pede &#8211; seperti juga rezeki, baru bisa muncul jika kita yang memunculkannya. Untuk itu penting bagi kita memberi ruang bagi diri untuk membuatnya tumbuh ke permukaan.
Rasa percaya diri sebenarnya bukan barang mahal, bukan makhluk eksklusif, bukan juga sesuatu yang sulit untuk diupayakan. Sikap percaya muncul akibat kebiasaan-kebiasaan kita dalam mengembangkan sikap dan pendapat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/Build-Self-Confidence.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16559" title="Build-Self-Confidence" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/Build-Self-Confidence-245x300.jpg" alt="" width="245" height="300" /></a>Oleh: Nuha Guwa</p>
<p>Lesbian? Tapi tidak percaya diri? Tunggu. Jangan buat pengakuan yang mengerikan, atau pernyataan yang hanya memberikan alasan-alasan agar kita cukup pantas dikasihani. Rasa percaya diri tentu saja bukan kodrat pemberian Tuhan seperti halnya kelesbianan. Rasa pede &#8211; seperti juga rezeki, baru bisa muncul jika kita yang memunculkannya. Untuk itu penting bagi kita memberi ruang bagi diri untuk membuatnya tumbuh ke permukaan.</p>
<p><span id="more-16557"></span>Rasa percaya diri sebenarnya bukan barang mahal, bukan makhluk eksklusif, bukan juga sesuatu yang sulit untuk diupayakan. Sikap percaya muncul akibat kebiasaan-kebiasaan kita dalam mengembangkan sikap dan pendapat positif tentang kita sendiri. Bagaimana orang mau menghargai jika ternyata kita sendiri tidak memberikan penghargaan yang cukup tinggi pada diri sendiri?</p>
<p>Benar, seringkali memang lingkungan tempat kita berada tidak mendukung sisi kepercayaan diri ini sehingga kita takut mencoba, takut mengemukakan pendapat, takut menjawab sesuatu, dan takut untuk berbuat salah. Fenomena enggan mencoba sesuatu karena takut malu atau salah sebenarnya membuat kepribadian menjadi kerdil, terkungkung, dan pasti jiwa yang begini akan sering dirundung masalah.</p>
<p>Ketika takut dimarahi, kita diam saja. Mahasiswa takut tunjuk tangan ketika dosen bertanya, karena merasa tidak yakin dosen menerima pandangan kita. Mau menyapa tapi takut tidak dibalas karena merasa tidak selevel. Mau berkenalan, tapi malu setengah mati. Mau ikut seminar gratis, tidak berani karena tidak ada akses. Mau ikut kursus, harus cari teman dulu. Mau menyatakan keberatan, tapi gengsi. Mau mencoba, tapi takut gagal. Mau menjadi pemimpin, tapi takut ketahuan lesbian. Jika tindakan keseharian kita didasari dengan rasa takut, ragu-ragu, malas, tidak yakin, atau malu kapan kesuksesan akan datang? Kapan kita tahu jawaban itu benar atau tidak? Bagaimana kita bisa tahu dosen yang cantik itu memperhatikan kita? Oh,<em> come on!</em></p>
<p>Kita sudah tahu banyak kaum homoseksual diberkahi bakat-bakat dan keterampilan luar biasa. Sisi ini sebenarnya dapat dijadikan aset untuk kemajuan diri sendiri. Namun bagaimana caranya mengetahui kemampuan tersebut jika kita takut mencoba? Sayang sekali jika di antara kita sampai ada yang tidak mau bangkit memperbaiki kondisi hidup, atau terlalu merasa sudah cukup puas dengan keadaan, atau malah tidak ingin menjadi pendengar/murid yang baik. Padahal, seharusnya kita punya potensi yang jauh lebih besar.</p>
<p>Menurut aspek psikologi, rasa percaya diri berhubungan dengan bagian dari alam bawah sadar dan tidak terpengaruh oleh argumentasi rasional. Ia adalah dampak dari hal-hal yang bersifat emosional dan perasaan. Maka untuk membangun percaya diri diperlukan alat yang sama, yaitu emosi, perasaan, dan imajinasi. Emosi, perasaan, dan imajinasi positif inilah yang mengelaborasi dan meningkatkan rasa percaya diri. Sebaliknya emosi, perasaan, dan imajinasi negatif akan menurunkan rasa percaya diri.</p>
<p>Bagaimana cara supaya diri kita selalu dikelilingi oleh energi positif? Sederhananya, rasa percaya diri sangat berhubungan dengan otak manusia. Berpikirlah positif, maka hal yang positif pun akan tiba. Berpikirlah negatif, hal yang negatif pun akan terbentuk. Rasa percaya diri menjadi bagian penting dari kehidupan karena seseorang akan mampu mengeksplorasi kemampuan dirinya secara maksimal. Percaya diri ini membuat kita selalu berpikiran positif dan tidak tergantung kepada orang lain. Percaya diri juga membuat kita tidak mudah ketakutan sampai tahap paranoid kalau-kalau keberhasilan kita diserobot orang lain; ide atau karya kita dicuri orang lain; atau bisnis kita ditiru orang lain. Ini adalah gejala-gejala rasa rendah diri yang parah.</p>
<p>Untuk memenuhi bekal rasa percaya diri, ciptakan lingkungan yang penuh dengan dengan orang-orang yang kita nilai memiliki konsep diri yang keren. Mereka yang memiliki ide dan cita-cita yang tak terbatas. Percaya diri adalah penyakit menular! Rasa percaya diri seseorang pasti bisa menular pada kita. Bergaul dengan teman-teman yang hidupnya positif akan memberikan kita sugesti yang positif juga. Bergaul dengan orang bijak akan memberikan wawasan yang bijak juga.</p>
<p>Percaya diri bukan artinya narsis, bukan pula kesombongan. Percaya diri bukan pertentangan dengan sikap kesederhanaan atau hidup ala kadarnya. Percaya diri bukan bertujuan untuk menjatuhkan orang lain. Memiliki percaya diri akan membuat seorang lesbian menjadi lesbian yang bersinar dalam segala aspek, mulai dari pekerjaan, sekolah, dan hubungan <em>personal </em>dengan sesama lesbian lain, serta masyarakat. Percaya diri adalah salah satu sumber penting dari kata <em>pride </em>yang sering dijadikan motto istimewa bagi komunitas lesbian sedunia. Wahai lesbian, sudahkah kita memiliki rasa percaya diri yang kuat? Sudahkah kita bangga dengan diri sendiri?</p>
<blockquote><p><em>Be careful what you think, for your thoughts become your words.<br />
Be careful what you say, for your words become your actions.<br />
Be careful what you do, for your actions become your habits.<br />
Be careful what becomes habitual, for your habits become your destiny. </em></p></blockquote>
<p>@Nuha Guwa, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/06/tajuk-percaya-diri-dan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>L’Amour: Kamu Membuatku Cantik</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/04/lamour-kamu-membuatku-cantik/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/04/lamour-kamu-membuatku-cantik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Dec 2011 01:33:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[L'Amour]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16480</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh: Saraswati Firdauz
Jika ada yang bertanya padaku apakah aku merasa cantik? Aku akan menjawab, tidak!
Aku adalah gadis muda yang sangat percaya dengan kemampuanku, bukan karena aku merasa sangat pintar tapi aku sangat percaya bahwa manusia bisa melakukan apa pun selama dia mau belajar. Aku sangat yakin bahwa aku punya kemampuan untuk melakukan sesuatu yang baru.
Tapi tidak untuk urusan fisik.
Kepercayaan diriku untuk hal-hal yang berkaitan dengan fisik sangat rendah. Dengan tinggi hanya 153 sentimeter, berat badan mencapai 50 kilogram, kulit cokelat, dan hidung yang menurutku keterlaluan peseknya, membuat rasa percaya diriku merosot. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/You_are_beautiful__by_flyinglikesuperman.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16483" title="You_are_beautiful__by_flyinglikesuperman" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/You_are_beautiful__by_flyinglikesuperman-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Oleh: Saraswati Firdauz</p>
<p>Jika ada yang bertanya padaku apakah aku merasa cantik? Aku akan menjawab, tidak!</p>
<p>Aku adalah gadis muda yang sangat percaya dengan kemampuanku, bukan karena aku merasa sangat pintar tapi aku sangat percaya bahwa manusia bisa melakukan apa pun selama dia mau belajar. Aku sangat yakin bahwa aku punya kemampuan untuk melakukan sesuatu yang baru.</p>
<p>Tapi tidak untuk urusan fisik.</p>
<p>Kepercayaan diriku untuk hal-hal yang berkaitan dengan fisik sangat rendah. Dengan tinggi hanya 153 sentimeter, berat badan mencapai 50 kilogram, kulit cokelat, dan hidung yang menurutku keterlaluan peseknya, membuat rasa percaya diriku merosot. Aku merasa kata cantik tidak bisa disematkan padaku.</p>
<p>Dulu ketika ada lelaki atau perempuan yang mendekatiku aku akan langsung mundur. Menurutku ketertarikan terhadap lawan jenis atau sesama jenis pasti selalu berhubungan erat dengan daya tarik fisik. Itu sebabnya aku langsung kabur saat ada teman laki-laki yang mendekatiku. Bukan karena aku lesbian, tapi karena dia salah satu cowok terkeren di sekolah dan semua perempuan yang menyukainya adalah primadona sekolah. Menurutku aneh jika dia menyukaiku. Tapi ini tidak hanya terjadi sekali, sepanjang yang kuingat ada tiga nama laki-laki di masa SMA yang mencoba mendekatiku, dan selalu aku tinggal kabur dengan alasan, &#8220;aku tidak cantik.&#8221;</p>
<p>Zaman kuliah pun sama. Aku merasa satu-satunya perempuan yang tidak punya penggemar di gengku, karena aku tidak cantik. Padahal sudah jelas ada satu dua laki-laki yang terang-terangan menunjukan ketertarikannya padaku. Tapi lagi-lagi aku kabur duluan. Sekali lagi bukan karena aku lesbian, tapi karena aku merasa tidak cantik.</p>
<p>Saat mulai bekerja dan memutuskan untuk mengenal dunia lesbian lebih jauh lewat dunia maya, aku akan mengatakan bahwa labelku butch, minimal andro. Alasannya simple saja, menurutku menjadi andro atau butch itu tidak perlu cantik. Meski dalam hati aku menyukai butch, tapi aku tidak berani mendekatinya karena kupikir butch akan jatuh cinta pada femme yang cantik. Bahkan ketika ada beberapa butch yang mendekatiku pun aku akan kabur, alasannya sama: aku tidak cantik.</p>
<p>Aku sering berkaca dan menyadari ketidakcantikanku. Hidung yang pesek dan bibir yang menurutkuku terlalu tebal menjadi fokus perhatianku. Aku hanya bisa geleng-geleng, aku memang tidak cantik!</p>
<p>Aku sempat berhubungan dengan beberapa orang, mereka bilang aku baik, aku pintar, aku manja, aku kadang mengesalkan tapi juga ngangenin. Tapi tidak seorang pun yang bilang aku cantik. Ya setidaknya aku merasa tidak ada yang pernah bilang aku cantik. Dan aku tidak keberatan dengan hal itu, karena aku memang tidak cantik. Buatku kata &#8220;cantik&#8221; dan aku adalah dua sisi yang berbeda, tidak berkaitan dan tidak berhubungan</p>
<p>Sampai dia datang. Dia yang selalu mengatakan bahwa aku cantik.</p>
<p>Awalnya aku hanya menatapnya dengan tatapan aneh dan menganggap dia juga aneh. Cantik? Aku mencoba liat mantan-mantannya, oh yang benar saja! Perempuan-perempuan yang pernah ada dalam hidupnya cantik semuanya. Tinggi, berkulit putih dan berhidung mancung. Perempuan-perempuan itu memenuhi standar kecantikan yang kuterapkan. Tapi dia tetap menganggapku cantik.</p>
<p>Dan&#8230; lihat bagaimana cara dia menatapku. Benarkah itu tatapan untukku? Tatapan terpesona yang akan dilanjutkan dengan ucapan lembut, &#8220;Kamu cantik.&#8221;</p>
<p>Hah? <em>Sumpe lo</em>?  Apa dia tidak melihat ada hidung pesek yang nangkring di wajahku? Tentu saja dia melihatnya, tapi ternyata dia lebih tertarik melihat alis mataku yang katanya memiliki bentuk yang indah. Dia senang melihat mataku. Mata yang menurutku berbentuk aneh, tapi menurutnya justru terlihat lucu seperti mata kanak-kanak. Dan dia menyukai bibirku.  Bibir tebal yang sering kurutuki karena tidak merah merekah seperti bibir perempuan kebanyakan, justru menurutnya bibirku hangat dan menyenangkan.</p>
<p>Tapi aku tetap tidak bisa melupakan hidungku yang pesek. Saat kutodong penjelasannya, dia bilang bahwa kucing persia saja terlihat lucu dan menggemaskan karena hidung peseknya. Kucing persia? Ya, dia bilang aku kucing persia yang lucu. Dia bilang suka dengan bentuk tubuhku, padahal hampir seumur hidup aku membenci kegendutanku. Dia bilang aku punya kulit yang bersih dan halus, padahal aku sangat sebal dan menganggap kulitku yang cokelat tidak menarik sama sekali. Aku tidak suka gigi depanku yang besar, tapi dia bilang Agnes Monika pun bergigi kelinci.</p>
<p>Dia melihatku dari sisi yang berbeda dan meyakinkanku bahwa aku cantik.</p>
<p>Aku menatapnya, menduga dia sedang bercanda atau sedang mengerjaiku, tapi saat dia balik menatapku, aku bisa yakin bahwa dia memang melihatku sebagai sosok yang cantik. Matanya memancarkan sinar kekaguman yang tulus dan nyata. Tidak dibuat-buat.</p>
<p>Aku kembali berkaca. Tidak ada yang berubah dengan bentuk wajahku, tapi aku melihat diriku yang lain. Cara dia menatapku membuatku mampu melihat diriku dari sisi yang berbeda.</p>
<p>Aku tersenyum kali ini. Dengan percaya diri kukatakan, &#8221; Ternyata aku memang cantik!&#8221;</p>
<p>@Saraswati Firdauz, SepociKopi, 2011</p>
<p><strong>Tentang Penulis:</strong><br />
Perempuan berusia 23 tahun, sedang bersemangat untuk melanjutkan kuliah di bidang akuntansi sambil tetap bekerja. Sedang belajar menulis bersama partner dan memiliki keinginan suatu saat karya-karya kami akan terpampang di toko buku. Mulai tertarik dengan dunia fotografi dan giat menabung untuk membeli kamera profesional. Menyukai musik jazz, tapi menikmati  musik pop elektrik juga.</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/04/lamour-kamu-membuatku-cantik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FabuLezlyCool: I Hate You</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/11/23/fabulezlycool-i-hate-you/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/11/23/fabulezlycool-i-hate-you/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Nov 2011 07:18:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FabuLezlyCool]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[depresi]]></category>
		<category><![CDATA[mental]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16221</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Wasabi
Berapa banyak kata &#8220;I hate you&#8221; terlontar lantang kepada sahabat, teman, sesama sista, mantan, bahkan pacar? Atau ada jugakah lesbian yang pernah berteriak &#8220;I hate you&#8221; kepada orangtua? Kalau gue, kata &#8220;I hate you&#8221; memang terucapkan kalau seseorang menyakiti gue sedemikian rupa sampai-sampai gue ingin mencekiknya agar dia merasakan derita yang gue derita. Salah satu alasan kebencian karena si pembenci pernah tersakiti.
Ada lagi rupa kebencian karena alasan warna kulit, ras, seksualitas, ideologi, agama, dan lain-lain. Namun, gue nggak mau membahas kebencian karena rupa-rupa itu. Gue mau membahas kebencian karena ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/nobody-chair-komplot-alone.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16232" title="nobody-chair-komplot-alone" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/nobody-chair-komplot-alone-300x203.jpg" alt="" width="300" height="203" /></a>Oleh: Wasabi</p>
<p>Berapa banyak kata <em>&#8220;I hate you&#8221;</em> terlontar lantang kepada sahabat, teman, sesama <em>sista</em>, mantan, bahkan pacar? Atau ada jugakah lesbian yang pernah berteriak <em>&#8220;I hate you&#8221; </em>kepada orangtua? Kalau gue, kata <em>&#8220;I hate you&#8221;</em> memang terucapkan kalau seseorang menyakiti gue sedemikian rupa sampai-sampai gue ingin mencekiknya agar dia merasakan derita yang gue derita. Salah satu alasan kebencian karena si pembenci pernah tersakiti.</p>
<p><span id="more-16221"></span>Ada lagi rupa kebencian karena alasan warna kulit, ras, seksualitas, ideologi, agama, dan lain-lain. Namun, gue nggak mau membahas kebencian karena rupa-rupa itu. Gue mau membahas kebencian karena akibat disakiti oleh seseorang. Seseorang itu bisa orang asing (<em>stranger</em>) yang tidak terlalu dikenal (misalnya ditipu), tapi bisa juga orang terdekat. Menurut teori teman gue, sebenarnya yang paling mampu menyakiti diri kita adalah orang terdekat. Jadi kalau sakitnya sampai amit-amit ke tulang sumsum, biasanya sih memang gara-gara orang dekat.</p>
<p>Kadang-kadang gue mikir, kaum masyarakat yang homofobia alias yang benci kepada kaum gay, jangan-jangan bukan sekadar kebencian karena alasan pilihan seksualitas, tapi karena ada yang pernah tersakiti oleh kaum gay. Teori ini terdengar menggelikan. Teman gue tidak setuju dengan pendapat gue, tapi dia menambahkan jangan-jangan masyarakat yang membenci kaum homo bukan saja berasal dari kelompok heteroseksual, tapi <em>dari sesama kaum homoseksual</em> yang pernah tersakiti oleh homoseksual lainnya.</p>
<p><em>Tring</em>! Bohlam otak gue langsung menyala. Masuk akal, cuy.</p>
<p>Gue pernah ketemu dengan salah satu teman SMA gue yang jadi psikolog (dia <em>straight</em>). Kebetulan dari kuliah, dia udah tau gue lesbian. Kalau sekarang lagi ketemuan, kami berdua sering mengobrol tentang masalah lesbian. Baru-baru ini dia ngomong tentang salah seorang teman kakaknya yang menyeret anaknya berusia 15 tahun berkonsultasi dengan psikolog. Anaknya ini kedapatan lesbian. Teman gue cerita si anak remaja lesbian itu dalam keadaan depresi berat karena di-<em>brain wash</em> oleh orangtuanya.<em> Brain wash</em>-nya tentu saja tentang kebencian terhadap kaum LGBT. Akibatnya, anak remaja itu sangat membenci kaum lesbian.</p>
<p>Lesbian membenci lesbian lain. Lesbian homofobia. Gue jadi penasaran sama konsep ini.</p>
<p>&#8220;Lu percaya nggak, si anak remaja itu bilang nggak mau jadi lesbi karena menjijikan, tapi dia sendiri lesbian. Dia bilang kalau hubungan lesbian nggak bakal bahagia karena pasti akan dipisahkan, padahal dia sendiri mau hidup bersama pacarnya selama-lamanya. Dia nggak pernah setuju adanya legalitas pernikahan sesama jenis, namun dia sendiri mengharapkan memiliki keluarga bahagia dengan anak bersama pacar ceweknya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa bisa begitu?&#8221; tanya gue heran. &#8220;Kenapa kontradiktif kayak begitu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia membenci dirinya sendiri. Dia pernah tersakiti sama pacarnya. Mereka putus karena dipisahkan oleh ortu.  Sekarang dia masuk ke tahap stres karena dicekoki tentang keburukan-keburukan lesbian. Dia takut menjalani hidup sebagai lesbian. Sementara itu, dia tidak bisa menjadi heteroseksual.&#8221;</p>
<p>Kasihan.</p>
<p>Gue membayangkan remaja itu sedang memandang dirinya di cermin lalu berkata<em>, &#8220;I hate you!&#8221; </em>kepada dirinya sendiri. Kebencian yang bertubi-tubi kepada diri sendiri dimenifestasikan kepada kaum lesbian secara umum. Dimenifestasikan kepada diri sendiri. Kepada perilakunya. Kepada pemikirannya. Kepada perkataannya.</p>
<p>Seberapa besarnya rasa sakit hati yang ditanggung pasca putus dengan pacar? Seberapa besarnya kebencian yang ditanamkan orangtuanya ke dalam konsep harga dirinya? Seberapa besarnya kekuatannya menanggung rasa benci-diri dan benci kepada sesama kaum LGBT?</p>
<p>Kata temen gue, &#8220;Lesbian yang kayak gitu banyak, cuy. Bisa mengarah ke bundir (*).&#8221;</p>
<p>Semoga masih banyak lesbian yang memiliki pola pikir positif dan meyakini bahwa kesusahan pasti akan berlalu. Masalah pasti akan terselesaikan satu per satu. <em> It will get better.</em> Jangan percaya sama omongan orang yang bilang lesbian nggak mungkin bahagia, lesbian bakal hidup sengsara, lesbian  adalah pecundang, lesbian adalah kaum terpinggirkan, lesbian tak mungkin memiliki apa yang dimiliki kaum heteroseksual. Kalau lo membenci diri lo terus-terusan, maka yang lo dapatin tak lain dan tak bukan adalah kebencian itu sendiri. Kalau lo mikirnya negatif terus, maka lo bakal jadi manusia pahit yang memang sial nasibnya. Cintai diri lo. Dengan cinta yang penuh, lo bakal jadi orang yang bahagia dan sukses lahir batin.</p>
<p>@Wasabi, SepociKopi, 2011</p>
<p>(*) bundir = bunuh diri</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/11/23/fabulezlycool-i-hate-you/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>te.Lez.kop: Belok Kiri Jurang</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/11/17/te-lez-kop-belok-kiri-jurang/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/11/17/te-lez-kop-belok-kiri-jurang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 13:51:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Telezkop]]></category>
		<category><![CDATA[Coming Out]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16124</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Tya Andriani
Bulu kuduk saya pasti berdiri kalau membaca komen dari pembaca lesbian yang menyebut diri sebagai kaum &#8220;belog&#8221; atau &#8220;belok&#8221; atau &#8220;beloq&#8221;. Dulu saya berusaha mengerti, kata &#8220;belok&#8221; ini pasti berasal dari lawan kata &#8220;lurus&#8221; alias straight. Lesbian adalah lawan katanya kaum heteroseksual. Homoseksual lawan katanya heteroseksual. Demikian hidup &#8220;lurus&#8221; lawan katanya adalah hidup &#8220;belok&#8221;. Kalau belok kiri jurang, apa lesbian tetap mau kalau disuruh belok?
Istilah penyebutan &#8220;lesbian&#8221; yang kacau ini sudah sering diulas sama SepociKopi, misalnya di What&#8217;s In A Name? dan Eufemisme dan Pembunuhan Kata dalam Lesbia. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/window.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16125" title="window" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/window-300x198.jpg" alt="" width="300" height="198" /></a>Oleh: Tya Andriani</p>
<p>Bulu kuduk saya pasti berdiri kalau membaca komen dari pembaca lesbian yang menyebut diri sebagai kaum &#8220;belog&#8221; atau &#8220;belok&#8221; atau &#8220;beloq&#8221;. Dulu saya berusaha mengerti, kata &#8220;belok&#8221; ini pasti berasal dari lawan kata &#8220;lurus&#8221; alias <em>straight</em>. Lesbian adalah lawan katanya kaum heteroseksual. Homoseksual lawan katanya heteroseksual. Demikian hidup &#8220;lurus&#8221; lawan katanya adalah hidup &#8220;belok&#8221;. Kalau belok kiri jurang, apa lesbian tetap mau kalau disuruh belok?</p>
<p><span id="more-16124"></span>Istilah penyebutan &#8220;lesbian&#8221; yang kacau ini sudah sering diulas sama SepociKopi, misalnya di <a href="http://sepocikopi.com/2011/07/07/te-lez-kop-whats-in-a-name/">What&#8217;s In A Name? </a>dan <a href="http://sepocikopi.com/2009/05/14/bengkel-menulis-eufemisme-dan-pembunuhan-kata-dalam-lesbian/">Eufemisme dan Pembunuhan Kata dalam Lesbia. </a>Izinkan saya menuliskan satu tulisan lagi ala saya &#8212; yang (mungkin) tidak secerdas kedua penulis jagoan itu (*nyengir sok berani*).</p>
<p>Saya mengenal kata &#8220;belok/belog/beloq&#8221; waktu saya masih cupu. Masih tidak sadar tentang pentingnya menerima diri sendiri, bahkan dimulai dari bagaimana saya menyebut/memanggil diri. Saya sudah memiliki ketertarikan dengan sesama jenis ketika saya masih remaja, namun perasaan itu tidak saya kembangkan. Saya tidak bisa melarikan diri dari kenyataan bahwa saya lesbian ketika usia menapaki kepala dua. Nah, saat itulah, saya sedang heboh-hebohnya melakukan <em>denial </em>terhadap diri sendiri.</p>
<p>Saya tidak mau mengakui kalau diri saya termasuk kaum homoseksual (menyebut kata &#8216;lesbian&#8217; saja membuat saya merinding), namun saya tetap jelalatan mengejar cewek yang saya taksir. Sampai akhirnya saya jadian dengan kekasih pertama saya dan saya berpacaran dengannya, saya masih tetap tidak bisa menerima kelesbianan diri ini. Ternyata setelah saya telusuri lagi, sikap tidak mau berdamai ini adalah hal normal dalam proses penerimaan diri seorang lesbian. Saya tidak sendirian. Masih ada jutaan lesbian lain yang masih berjuang untuk menerima dirinya. Perjuangan penerimaan diri adalah seperti <em>milestone </em>yang harus dilalui setiap lesbian sebelum menjadi lesbian yang bahagia lahir batin.</p>
<p>Tidak bisa menerima diri membuat saya selalu serbasalah dan penuh emosi. Saya ketakutan sampai tahap parno. Jika ada hal yang berhubungan dengan lesbian di dunia heteroseksual, saya langsung kabur. Saya tidak bisa santai jika teman kuliah saya berbicara tentang gay. Saking takutnya ketahuan, saya sempat berpacaran dengan seorang lelaki. Untung nalar saya masih bekerja. Saya tidak tega menjerumuskan lelaki itu semakin dalam ke sebuah kebohongan yang mengerikan. Saya juga tidak tega melihat pasangan saya gelisah setiap kali saya bepergian dengan lelaki itu. Dan, untuk diri saya, saya juga tertekan kalau harus bersikap manis layaknya kekasih kepada lelaki yang tidak pernah saya cintai.</p>
<p>Itulah penolakan saya terhadap saya. Saya vs Saya. Saya melawan Saya. Banyak lesbian yang berusaha mencampakkan kelesbianannya selama bertahun-tahun, namun tidak berhasil. Banyak lesbian hidup menderita dan merasa dia layak menerima penderitaan itu karena dirinya lesbian. Banyak lesbian yang alergi dengan kaumnya sendiri karena sebenarnya dia membenci dirinya sendiri. Ke mana kamu mau membunuh &#8220;lesbian&#8221; dalam dirimu? Membunuh lesbian, berarti sama juga dengan membunuh diri.</p>
<p>Membutuhkan waktu bertahun-tahun (bahkan dalam kasus banyak lesbian, seumur hidup) untuk mengenal sosok &#8220;lesbian&#8221; ini. Caranya? Ada banyak cara, namun saya kasih tiga tips saja deh. Satu, belajarlah bersikap santai dengan segala pernak-pernik yang berhubungan dengan lesbian, misalnya obrolan sesama teman <em>straight </em>di kampus/kantor yang melibatkan tema LGBT. Dua, hentikan sikap antipati/membenci kaum LGBT. Membenci kaum LGBT tidak akan membuat dirimu bahagia. Dan terakhir, gunakan panggilan yang tepat untuk diri sendiri sebagai bentuk penghormatan yang indah. Kalau memang lesbian, ya lesbian saja. Tidak usah diganti pakai kata lain seperti tomat, udara, goyang, kedip, meong, piyik, belok,&#8230; Ini seperti kode spionase saja.</p>
<p>Ternyata berdamai dengan diri itu rasanya enak sekali. Plong. Saya sendiri masih <em>stay in the closet,</em> namun sudah sedikit <em>out </em>kepada beberapa teman <em>straight </em>yang bisa menerima diri saya. Tapi artinya berdamai bukan sama dengan <em>coming out</em> loh. Berdamai artinya memiliki peta perjalanan dan tahu jalan mana yang harus diambil; mau lurus kek, mau ke kiri kek, mau ke kanan kek, mau kelok-kelok kek, mau turun naik kek, dan lain-lain. Jangan memaksakan diri belok terus-terusan, Jeng. Apalagi kalau di sebelah sana ada jurang yang sudah banyak memakan korban.</p>
<p>@Tya Andriani, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/11/17/te-lez-kop-belok-kiri-jurang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

