<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; suicide</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/tag/suicide/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 02:00:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>S.O.S!: Nggak Rela Diselingkuhi</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/03/05/s-o-s-nggak-rela-diselingkuhi/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/03/05/s-o-s-nggak-rela-diselingkuhi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Mar 2011 09:52:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[S.O.S!]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[Perselingkuhan]]></category>
		<category><![CDATA[suicide]]></category>
		<category><![CDATA[tanyajawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=10895</guid>
		<description><![CDATA[Dear DoMba yang caem,
Saat  ini saya sedang sakit hati DoMba.  Bayangkan&#8230;setelah hampir delapan  tahun saya pacaran, semuanya baru terungkap. Ternyata selama ini pacar  saya berselingkuh dengan teman kantornya. Sakit sekali rasanya! Malahan  kemarin saya nekat ingin bunuh diri dengan cara lompat dari  apartemen saya di lantai 10 . Tapi, akhirnya saya nggak jadi bunuh diri DoMba (ya  iyalah, secara kalau lo jadi bunuh diri yang ngirim pertanyaan S.O.S! ini  siapa? SEREM!).  Bunuh diri itu saya batalkan lantaran saya fobia  ketinggian. Jadi belum ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/03/Caught_cheating_by_ricky326123.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-10896" title="Caught_cheating_by_ricky326123" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/03/Caught_cheating_by_ricky326123-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Dear DoMba yang caem,</div>
<div>Saat  ini saya sedang sakit hati DoMba.  Bayangkan&#8230;setelah hampir delapan  tahun saya pacaran, semuanya baru terungkap. Ternyata selama ini pacar  saya berselingkuh dengan teman kantornya. Sakit sekali rasanya! Malahan  kemarin saya nekat ingin bunuh diri dengan cara lompat dari  apartemen saya di lantai 10 . Tapi, akhirnya saya nggak jadi bunuh diri DoMba (<em>ya  iyalah, secara kalau lo jadi bunuh diri yang ngirim pertanyaan S.O.S! ini  siapa? SEREM!</em>).  Bunuh diri itu saya batalkan lantaran saya fobia  ketinggian. Jadi belum sampai ke lantai 10 saya keburu pingsan karena  menyadari bahwa saya berada di tempat yang tinggi.</p>
<p>Sebenar sih,  saya juga punya selingkuhan DoMba, tapi untungnya pacar saya tidak tahu. Saya memang egois, walau kami sama-sama selingkuh, tetap saja  saya merasa kesal sama pacar saya. Saya merasa harga diri saya  diinjak-injak. Masa orang sekeren saya diselingkuhi? Yang boleh  selingkuh kan cuma saya, betuuul nggak DoMba?</p>
</div>
<div>Meskipun kesal  dengan pacar, entah kenapa saya nggak mau putus,  DoMba. Sumpah, saya nggak rela dia menjadi milik selingkuhannya.  Lagi pula,  selingkuhan saya juga  nggak seasik dan selucu pacar saya. Aduh,   gimana ya saya bingung. Tolong bantuan sarannya DoMba. Terserah deh, mau  serius, gokil, nggak jelas, sesat atau jayus sekalipun. Yang penting  saya butuh masukan secepatnya. Harus <em>post </em>sabtu ini ya DoMba! Awas kalau  nggak! Saya akan nekat selingkuh sama pacar-pacar DoMba loh. AWAS!!!</p>
<p>Salam ngancam,</p>
</div>
<div>Dispenser</div>
<p><strong><br />
Jawaban Dokter Jo</strong></p>
<p>Dear Dispenser,</p>
<p>Pertama,  saya hanya ingin memberitahu kamu, untung saja kamu pasien klinik S.O.S!  ini. Kalau kamu pasien pribadi saya, pasti saya akan langsung  mengubah kamu yang sebelumnya dispenser  menjadi galon air, mau kamu?! <em>Please </em>deh! Jangan suka ngaku keren kalau  pribadi kamu nggak ada keren-kerennya! Kalau kamu sudah bisa keren luar  dalam baru kamu boleh bilang kamu keren, huh! *Kenapa gue jadi  marah-marah ya, hhh!*</p>
<p>Baca email kamu, saya malah langsung pengin  nyusul kamu ke lantai 10, nyiram kamu pakai air es biar kamu langsung  bangun dari pingsan, terus dengan sukarela deh saya dorong aja kamu dari  lantai 10.  Kejam, ya? Emang harus kejam sih sama orang yang gak  sayang sama dirinya sendiri. Ngapain coba pakai niat bunuh diri,  emangnya dunia cuma selebar daun kelor yang isinya cuma tentang sakit  hati diselingkuhin?</p>
<p>Saya sampai bingung mau ngomong apalagi  secara baru kali ini terima email yang begitu jujur (satu-satunya  kelebihan kamu yang saya hargai), sudah marah-marah diselingkuhi pacar eh  belakangan baru ngaku ternyata kamu juga selingkuh. Nggak usah merasa  harga diri kamu dinjak-injak, saya rela kok nginjak kamu. Eh jangan salah, injakan  saya berhasil menghilangkan sakit pegal linunya si Mbah lho.</p>
<p>Tau  dong kenapa saya marah-marah? Lah, dengan kamu mengkonsultasikan masalah  perselingkuhan ini, kamu sudah tidak menghargai saya  sebagai Duta Kesetiaan di Sepocikopi (<em>please </em>deh, Jo!), lalu kamu  malah minta saran saya untuk membantu mengatasi masalah kamu yang  diselingkuhi pacar padahal kamu sendiri juga berselingkuh.</p>
<p>Saran  saya nih, kamu kirimkan ke saya nomor telepon pacar kamu sekaligus nomor  telepon selingkuhan kamu, alamat email atau akun ym juga boleh. Setelah  itu tunggu saja sampai jamuran, dijamin pacar dan selingkuhan kamu nggak  akan mengganggu diri kamu yang keren itu, setuju?</p>
<p>Yang sebal karena diancam,<br />
Dokter Jo</p>
<p>(Dokter Jo bisa dihubungi di Hotline: <strong>jo@sepocikopi.com</strong>)</p>
<p><strong>Jawaban Mbah De Ni</strong></p>
<p>Dispenser yang suka ngancam,<br />
Kayaknya hubungan kamu itu  memang sesuai deh sama nama kamu. Seperti dispenser yang <em>hot </em>dan <em>cool</em>,  demikian juga hubungan kamu. Ada <em>hot</em>-nya karena disertakan intrik-intrik  perselingkuhan yang ruwet. Bayangkan, kamu diselingkuhi tapi kamu juga selingkuh,  pacar kamu selingkuh tapi diselingkuhi. Ruwet kan? Pokoknya kisah kamu  mah <em>hot </em>punyalah! Kalau dibikin sinetron bisa ngalahin ratingnya Aneka  Ria Safari dan cerita Oshin yang diputar jaman Mbah masih muda dulu.  Selain <em>hot </em>kamu juga <em>cool</em>, <em>cool</em> dalam artian kamu tetap mempertahankan  harga diri kamu yang nggak mau diselingkuhi meski kamu juga selingkuh. <em> Cool </em>banget kan?</p>
<p>Cuma kalau Mbah boleh saran, coba deh renungkan  lagi. Sebenarnya hubungan kamu ini mau dibawa kemana? Nggak jelas kan?  Mau dibawa ke Blok M: macet. Ke Mangga Dua: kejauhan. Ke Tanah Abang:  minimal mesti 1/4 lusin. Pokoknya bingung deh! Semua menyakiti, semua  tersakiti. Seperti kamu yang ngerasa sakit diselingkuhin, sampai-sampai  kamu nekat mencoba bunuh diri meski akhirnya gagal, pacar kamu juga  pasti merasakan sakit yang sama dengan perselingkuhan kamu. Jadi,  cobalah ambil waktu biacara untuk menyelesaikan  masalah yang ruwet ini.</p>
<p>Sebenarnya sih ada dua solusi untuk  menyelesaikan masalah kamu. Pertama, kamu putuskanlah selingkuhan kamu  dan mintalah pacar kamu putuskan selingkuhannya. Jadi kalian jalanin  hubungan baik-baik dan saling setia satu sama lain dalam suka maupun  duka, sehat maupun sakit, kaya ataupun miskin, gemuk maupun kurus sampai  maut yang memisahkan, fiuh!</p>
<p>Intinya adalah jalanin hubungan dengan  komitmen tinggi dan tekat kuat bahwa hati ini tidak akan goyah oleh  godaan perempuan mana pun. Bulatkan tekat untuk menjadi pasangan yang  setia seperti Mbah. Kalau ada cewek cakep lewat, Mbah nggak akan  tergoda. Sumpah! (<em>Ya&#8230;, paling jauh cuma kedip-kedipin mata dan minta  nomer HP cewek itu, terus datang ke rumahnya, dan ngajak dia makan  jagung bakar di Bali, minum wedang jahe di Lombok dan nyobain tempe  mendoan sambil nyelam di Bunaken. Terus saat matahari terbenam, palingan  Mbah cuma ngajak dia berlari bergandengan tangan di pinggir  pantai, berguling-guling dipasir putih, lalu kemudian Mbah akan  menyelipkan mawar merah di telinganya. Aduhay! Cuma begitu kok</em>!).</p>
<p>Lanjut  ke solusi yang dua. Nah, solusi yang kedua ini adalah solusi yang nggak  ada solusi. Maksudnya ya, kalian tetap jalani hubungan aneh ini. Jadi  baik kamu dan pacar kamu sama-sama selingkuh dan diselingkuhi. Kalau  kalian sepakat dan tidak ada yang saling keberatan, silahkan jalani,  asal semuanya <em>happy</em>. Cuma, perlu kalian ingat satu hal yang paling  penting  bahwa tidak ada orang yang senang diselingkuhi, apa pun  alasannya. Tidak ada orang yang rela pacarnya mencintai orang lain,  meski ia sendiri membagi hati dengan orang lain. Kamu tahu kenapa?  Karena semua orang egois, rela mengorbankan perasaan orang demi memberi  kebahagiaan pada perasaannya sendiri,  rela menyakiti agar dirinya tidak  sakit. Ini adalah hal yang salah sista! Yang benar adalah kalau kamu  nggak mau disakiti, cobalah untuk  tidak menyakiti. Kata mamanya Mbah, orang yang  rela mengorbankan kebahagiaannya sendiri demi kebahagiaan  pasangannya, akan menerima  kebahagiaan yang sejati. Ahay!</p>
<p>So, mulailah dari diri sendiri. Semua keputusan ada di tangan kamu.</p>
<p>Salam <em>hot &amp; cool</em>,<br />
Mbah De Ni</p>
<p>(Mbah De Ni bisa dihubungi di Hotline: <strong>deni@sepocikopi.com</strong>)</p>
<p>@Tim S.O.S!, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/03/05/s-o-s-nggak-rela-diselingkuhi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>On Depression And Suicide (Tamat)</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/06/16/on-depression-and-suicide-tamat/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/06/16/on-depression-and-suicide-tamat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Jun 2010 08:31:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[suicide]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=7545</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lakhsmi
Di tulisan sebelumnya (On Depression And Smoking, On Depression And Alcoholism), telah dijelaskan bahwa penyakit nomor satu yang dapat membunuh di kalangan lesbian adalah depresi. American Journal of Public Health untuk pertama kalinya memberikan laporan kesehatan klinis menarik, yaitu AKIBAT dari diskriminasi. Maksudnya?
Kaum LGBT yan tinggal di daerah yang memiliki tingkat diskriminasi tinggi dan penolakan masyarakat terhadap kaum homoseksual, resiko terkena penyakit klinis (psychiatric disorder) lebih tinggi sampai 200 persen daripada yang tinggal di daerah penerimaan. Pada kasus di Amerika, ini dilihat dari negara-negara bagian yang masih melarang pernikahan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/06/suicide.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-7546" title="suicide" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/06/suicide-300x225.jpg" alt="suicide" width="240" height="180" /></a>Oleh: Lakhsmi</p>
<p>Di tulisan sebelumnya (<a href="http://sepocikopi.com/2010/06/02/on-depression-and-smoking/">On Depression And Smoking</a>, <a href="http://sepocikopi.com/2010/06/09/on-depression-and-alcoholism/">On Depression And Alcoholism</a>), telah dijelaskan bahwa penyakit nomor satu yang dapat membunuh di kalangan lesbian adalah depresi. <em>American Journal of Public Health</em> untuk pertama kalinya memberikan laporan kesehatan klinis menarik, yaitu AKIBAT dari diskriminasi. Maksudnya?</p>
<p>Kaum LGBT yan tinggal di daerah yang memiliki tingkat diskriminasi tinggi dan penolakan masyarakat terhadap kaum homoseksual, resiko terkena penyakit klinis (<em>psychiatric disorder)</em> lebih tinggi sampai 200 persen daripada yang tinggal di daerah penerimaan. Pada kasus di Amerika, ini dilihat dari negara-negara bagian yang masih melarang pernikahan sesama jenis. Akibat depresi ini, kaum LGBT rentan dengan depresi, yang berakibat ke arah <em>mood disorders, generalized anxiety disorder</em> and<em> alcohol use disorders.</em></p>
<p><em><span id="more-7545"></span></em>Tunggu sebenatar. Apakah ini artinya kaum LGBT memang pecandu alkohol, perokok, pemakai narkoba, mengidap masalah penyakit klinis, bahkan bunuh diri? Mau tidak mau kita harus mengakui, riset yang telah dilakukan oleh <em>American Journal of Public Health </em>memang telah menggambar suatu lukisan mengerikan bagi kaum LGBT Amerika, dan mungkin juga memiliki hasil yang sama bagi kaum LGBT Indonesia. Coba lihat angka-angka itu lagi. Apakah hasil riset yang angka-angka persentasinya menakutkan bertujuan untuk mengolok-ngolok atau menakut-nakuti kita kaum lesbian, bahkan menancapkan kekuatan stigma yang semakin kokoh bahwa kita adalah sampah masyarakat?</p>
<p>Tentu tidak. Pengejekan dan penghinaan yang sering dilancarkan sebenarnya berdiri di atas pasir hisap. Pasir hisap yang terkenal dengan nama <em>fallacy</em>. <em>Fallacy </em>adalah suatu premis/pernyataan yang mengacaukan komponen argumen sehingga kelihatannya benar padahal tidak benar. Memang, premis data-data penyakit klinis kaum LGBT sangat rawan untuk dipermainkan sehingga mudah bagi masyarakat untuk takut kepada kaum lesbian yang kelihatannya “menyeramkan”.</p>
<p>Padahal kalau diteliti lebih dalam lagi, banyak yang sebenarnya “bukan seperti itu.” Misalnya, walaupun bunuh diri ditemukan sebagai hal yang lebih banyak terjadi di kaum LGBT dibanding kaum hetero, menurut riset yang dilakukan oleh Andrea Solarz, ternyata kaum lesbian hanya punya pemikiran untuk bunuh diri, itu pun hanya 18 persen di antara sesama lesbian lainnya. Di antara 18 persen itu, harus diteliti juga, berapa persen yang benar-benar melakukannya, dengan resiko tinggi kematian vs resiko kecil kematian. Semakin kecil deh angkanya.</p>
<p>Jadi ingatlah, gunakan data atau riset tentang kesehatan lesbian untuk kebaikan. Jangan gunakan data-data tersebut sebagai poin-poin yang ditujukan untuk menakut-nakuti diri sendiri atau orang lain. Masalah depresi dan bunuh diri sudah menjadi alarm kencang yang terus menerus digaungkan oleh komunitas LGBT di Amerika, sama besarnya dengan alarm kencang tentang bahayanya kanker testis dan jantung untuk para lelaki di masyarakat.</p>
<p>Berhadapan dengan urusan bunuh diri adalah masalah yang menantang dan rumit. Secara alamiah, kematian adalah hal yang membuat depresi, sehingga keseluruhan problem bunuh diri dan komplesitas si penderita saat dalam kondisi krisis sangat susah diuraikan. Tidak mungkin mengidentifikasi bunuh diri kasus per kasus! Tapi studi tentang keinginan bunuh diri membuat para peneliti dan psikolog dapat memetakan faktor-faktor resiko orang yang mau bunuh diri dan cara-cara untuk menanggulanginya. Aku sendiri pernah memiliki pengalaman yang bersinggungan dengan bunuh diri, karena itu bunuh diri menjadi hal sensitif bagi diriku (baca: <a href="http://sepocikopi.com/2009/09/01/suicide-note/">Suicide Note</a>)</p>
<p>Apa yang harus kita sadari tentang bunuh diri ini? Ingatlah, bunuh diri yang dibicarakan di sini adalah bunuh diri yang diakibatkan oleh tekanan depresi karena orientasi seksual. Kaum lesbian yang tidak <em>coming out,</em> yang mendapat tekanan untuk menikah atau terpaksa menikah, serta mereka yang terkucilkan rentan dengan depresi. Karena itu, kita seharusnya sadar dengan faktor-faktor depresi yang dapat memicu bunuh diri.</p>
<p>Mari kita lihat apa saja faktor-faktor tersebut. Faktor-faktor itu antara lain, menarik diri dari keluarga dan teman, merasa tidak berguna, merasa tak tertolong, emosi marah dan kekecewaan yang berlarut-larut, merasa terjebak dan tidak menemukan jalan keluar, mood yang berubah-ubah dengan cepat, perubahan perilaku, bersikap masa bodoh, jam tidur yang berbeda-beda, perilaku makan yang aneh, kehilangan minat terhadap banyak hal, nilai sekolah yang merosot, merasa malu, dan bersikap gelisah terus-terusan.</p>
<p>Sejauh ini, aku belum menemukan klinik kesehatan di Indonesia yang membantu kaum LGBT yang tertimpa depresi dan memiliki keinginan untuk bunuh diri. Tapi biarpun belum ada, ada baiknya kita selalu menjadi lesbian siaga. Kalau kamu mengenal teman lesbian yang memiliki gejala-gejala serius depresi yang mengarah kepada tindakan bunuh diri, segera lakukan pencegahan, seperti mendampinginya, mendengarkannya secara serius, bahkan mencari psikolog yang dapat menolongnya secara klinis.</p>
<p>Ingat selalu, bunuh diri bukanlah jawaban, mencari pertolongan adalah jawaban. Mari kaum lesbian, jangan berhenti melawan bunuh diri. Sadari kapan kamu merasakan depresi, sadari juga saat diri dalam keadaan berbahaya. Carilah pertolongan. Selamatkan hidup, sebab hidup sangat berharga dan jangan lupakan bahwa banyak orang-orang yang peduli dengan dirimu.</p>
<p>@Lakhsmi, SepociKOpi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/06/16/on-depression-and-suicide-tamat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita-cerita Kematian</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/01/20/cerita-cerita-kematian/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/01/20/cerita-cerita-kematian/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 09:16:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualisme]]></category>
		<category><![CDATA[God]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[suicide]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=5722</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Zetha Septina Abdu
Tiket Sancaka Jogja-Surabaya kuremas keras, kereta tumpanganku baru berangkat besok pagi. Aku berdiri tepat di sebelah kereta api Prambanan Ekspres. Begitu menyadari kereta itu tidak segera beranjak melanjutkan perjalanan menuju Solo, menunggu orang-orang yang bergegas memburunya, aku meloncat melintasi badan kereta. Tak kalah bergegas, aku mencari tempat duduk di ruang tunggu. Terkadang di antara keriuhan orang-orang, manusia dapat menemukan sisi paling sunyi dari dirinya, paling tidak hal itu berlaku bagiku.
Aku menekan perasaan, berusaha mengelak untuk menjadi sentimentil. Ada banyak yang bisa dikenang dari stasiun Tugu selain hal-hal ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-5723" title="Under_The_Rose_by_Juli_SnowWhite" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/01/Under_The_Rose_by_Juli_SnowWhite.jpg" alt="Under_The_Rose_by_Juli_SnowWhite" width="192" height="192" />Oleh: Zetha Septina Abdu</p>
<p>Tiket Sancaka Jogja-Surabaya kuremas keras, kereta tumpanganku baru berangkat besok pagi. Aku berdiri tepat di sebelah kereta api Prambanan Ekspres. Begitu menyadari kereta itu tidak segera beranjak melanjutkan perjalanan menuju Solo, menunggu orang-orang yang bergegas memburunya, aku meloncat melintasi badan kereta. Tak kalah bergegas, aku mencari tempat duduk di ruang tunggu. Terkadang di antara keriuhan orang-orang, manusia dapat menemukan sisi paling sunyi dari dirinya, paling tidak hal itu berlaku bagiku.</p>
<p>Aku menekan perasaan, berusaha mengelak untuk menjadi sentimentil. Ada banyak yang bisa dikenang dari stasiun Tugu selain hal-hal cengeng. “Ahay, di tempat macam ini apa lagi yang bisa kau temukan, wahai anak muda?”</p>
<p><span id="more-5722"></span>Perasaanku protes. Perasaan kurang ajar ini rupanya menantangku. Wahai perasaan, akan kukisahkan padamu tentang Amir Sjarifuddin. Sementara regu tembak bersiap menyikat habis nyawanya, bekas Perdana Menteri Indonesia itu sempat menghabiskan jam-jam terakhir hidupnya dengan duduk-duduk di bangku tunggu ini.</p>
<p>“Lalu menurutmu bangku satasiun Tugu membikin Amir Sjarifuddin masih memikirkan tudingan pemberontak yang ditempelkan begitu saja pada jidadnya? Atau mengenang bagaimana ia melawan fasisme Jepang?” Ah, perasaanku menanyakan hal yang barangkali hanya diketahui oleh Amir Sjarifuddin dan (mungkin) Tuhan. Dari apa yang dituturkan Gie, aku cuma tahu bahwa Amir Sjarifuddin membaca <em>Romeo and Juliet</em>-nya William Shakespeare dalam gerbong kereta yang mengangkutnya menuju Jogja. Tempat eksekusi kematian Amir Sjarifuddin.</p>
<p>Dari koleksiku mengenai sekumpulan kisah anggun tentang kematian, aku mengenang Amir Sjarifuddin sebagaimana mengenang Charles Brook Jr.. Meletakkan bagian <em>Romeo and Juliet </em>sama persis dengan sisi romantis dari kematian tragis Brook. Sebagai seorang terpidana mati yang pertama kali dieksekusi dengan suntikan, Brook menghadapi kematiannya dengan begitu tenang. Di samping ranjang eksekusi, kekasih Brook, Vanessa Sapp menemaninya. Kalimat terakhir diucapkan Brook dengan mengulum senyum tipis pada Vanessa, “Aku cinta padamu.”</p>
<p>“Nah, sekarang kau malah mengksploitasi kematian dengan mengambili sisi-sisi cengengnya!” Perkataan perasaanku makin menjengkelkan. Ya, baiklah wahai perasaan, aku menyerah. Jika kondisi ruwet yang kualami menjadikanku sentimentil, mari kita anggap sebagai kewajaran, manusia pada umumnyalah!   Silahkan kau merayakan sentimental berlebih, tapi tentu saja aku yang mengatur tata cara perayaan itu. Menatanya sebagai mana lagu-lagu reggae, isi lagu boleh saja sedih menghiba, namun alunan musik tetap saja: ceria! <em>Woyo</em>….</p>
<p>Keruwetan keadaan bermula ketika satu malam sebelumnya seorang kekasih menelepon. Tepat saat aku sampai pada sebuah fragmen di mana Otoko bunuh diri. Otoko menjejalkan obat tidur ke dalam mulutnya dengan dosis berlebih, usianya waktu itu 17 tahun. Dua bulan sebelum berencana bunuh diri, Otoko kehilangan bayinya. Ibunya yang memaksa Otoko untuk secepat mungkin meninggalkan Oki, laki-laki beristri sekaligus ayah mendiang anaknya, kian membulatkan niat Otoko. Aku membayangkan perasaan Otoko, bahwa ia sudah tak punya lagi alasan untuk hidup. Sepenggal fragmen itu aku dapati dalam<em> Utsukushisa To Kanashimi</em>, dalam bahasa Inggris menjadi <em>Beauty and Sadness,</em> karya Kawabata. Ketika buku baru menjelma sebagai barang yang mustahil di akhir bulan, bagiku buku itu selalu saja menjadi sasaran empuk untuk dieksploitasi berulangkali.</p>
<p>Lima menit telepon genggam yang menempel di telingaku cuma menyampaikan dengung halus. Jeda waktu yang mungkin dibutuhkan kekasihku sebelum pada akhirnya dia berteriak histeris, “Aku mau bunuh diri saja!”. Sudah sering kali aku membaca dan mendengar masalah klise yang diidap lesbian: <em>dipaksa menikah! </em>Sekarang ketika kekasihku mengalami hal serupa, aku jadi gagap, sumpah! Apalagi hal ini pula yang rupanya menjadi musabab keinginan kekasihku untuk bunuh diri.</p>
<p>Ketika Onoko sudah menenggak obar tidur dengan dosis berlebih, ibu Onoko berhasil menyelamatkan nyawanya, bahkan berinisiatif memanggil Oki. Bisa jadi ibu kekasihku mampu menggagalkan aksi bunuh diri kekasihku, tapi memanggilku demi mengobati hati anaknya? Entah dari mana datangnya keyakinanku. Pastinya, aku yakin ibu kekasihku lebih bisa memaafkan laki-laki seperti Oki, seandainya kekasihku dihamili laki-laki beristri. Ketimbang memaafkan perempuan yang mustahil menghamili, namun ternyata menjerat hati anak perempuannya.</p>
<p>Sampai pada saat meremas tiket Sancaka, aku masih tak tahu apa yang seharusnya kulakukan. Cuma terpikir segera menuntaskan hasrat menginjakkan kaki di Surabaya, menemui kekasihku. Mengajaknya kabur mungkin? Tapi kabur sama pengecutnya dengan tindakan bunuh diri. Ah!</p>
<p>Kilasan-kilasan kisah kematian menghantami otakku. Aku mulai mengumpulkan kematian yang kuangap sexy. Socrates menengak racun dengan tenang, namun sebelum meregang nyawa ia sudah memastikan Plato sebagai penerusnya. Tapi, apa yang bakal ditingalkan kekasihku setelah meninggal selain kepedihan? Dalam sebuah novelnya,<em> Veronica Decided to Die</em> &#8211; Paulo Coelho menulis: ‘selalu ada jarak antara niat dan tindakan’. Dikisahkan bahwa Veronika dengan amat sempurna menyiapkan rencana bunuh diri. Hari, jam, dan bagaimana cara Veronika bunuh diri sudah dipilah dengan matang. Tapi pada akhirnya, Veronika tidak jadi bunuh diri. Jarak yang tercipta antara niat untuk bunuh diri dengan eksekusi membuat Veronika berpikir.</p>
<p>Aku memutuskan untuk mengisi ‘jarak’ yang dipunyai kekasihku dengan kumpulan kisah kematian yang sudah kupilah. Kekasihku boleh mati, tapi tidak dengan cara yang (benar-benar) menyedihkan. Menyuntikkan kata-kata pada otaknya, mengabarkan tentang amat disayangkannya semangat orang-orang yang pupus dijemput kematian. Pada akhirnya aku harus membiarkan kekasihku sendirian. Memilih dan mengatakan bahwa dalam hidup selalu ada jalan dengan mulutnya sendiri. Paling tidak, kekasihku akan belajar hal bernama konsekuensi atas pilihan yang diambilnya sendiri.</p>
<p>Aku merobek tiket di tanganku. Nanti malam akan kukabarkan pada kekasihku tentang kumpulan kisah kematian koleksiku. Pun perasaanku. Samar aku merasakan perasaanku tersenyum tipis, mungkin sinis. Entahlah.</p>
<p>@Zetha Septina Abdu, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/01/20/cerita-cerita-kematian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Have Your Say: Aku Nyaris Bunuh Diri</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/12/25/have-your-say-aku-nyaris-bunuh-diri/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/12/25/have-your-say-aku-nyaris-bunuh-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Dec 2009 00:00:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Have Your Say]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[suicide]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=5290</guid>
		<description><![CDATA[Bunuh diri gara-gara hubungan dengan pacar buruk? Nggak banget deh. Hubungan yang buruk memang selalu melahirkan kengerian-kengerian yang tidak bisa diukur kadarnya. Kita musti belajar dari mereka yang mempunyai pengalaman buruk dalam berhubungan dengan pacar. Dengarkan kisah Tira, yang nyaris bunuh diri karena memiliki hubungan percintaan yang rusak.
Namaku Tira, aku bukan lesbian pada mulanya. Meski sedikit tomboy, tapi sejak mulai mengenal cinta monyet, cintaku selalu jatuh pada teman lelaki dan seperti teman-temanku yang lain, dan begitu juga sebaliknya, aku juga kerap kejatuhan cinta dari teman lelaki. Hampir semua murid yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-5297" title="8a732096aef87f090c18cce34000261c" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/12/8a732096aef87f090c18cce34000261c.jpg" alt="8a732096aef87f090c18cce34000261c" width="210" height="278" /><em>Bunuh diri gara-gara hubungan dengan pacar buruk? Nggak banget deh. Hubungan yang buruk memang selalu melahirkan kengerian-kengerian yang tidak bisa diukur kadarnya. Kita musti belajar dari mereka yang mempunyai pengalaman buruk dalam berhubungan dengan pacar. Dengarkan kisah Tira, yang nyaris bunuh diri karena memiliki hubungan percintaan yang rusak.</em></p>
<p>Namaku Tira, aku bukan lesbian pada mulanya. Meski sedikit tomboy, tapi sejak mulai mengenal cinta monyet, cintaku selalu jatuh pada teman lelaki dan seperti teman-temanku yang lain, dan begitu juga sebaliknya, aku juga kerap kejatuhan cinta dari teman lelaki. Hampir semua murid yang bersekolah di SMA-ku jauh dengan orang tua, ada yang tinggal di asrama ada juga yang tinggal di rumah-rumah kos di sekitar sekolah, termasuk aku.</p>
<p><span id="more-5290"></span>Saat duduk dibangku kelas dua SMA, di antara banyak teman dan sahabatku ada seorang sahabat, namanya Tri, yang sering memberi perhatian juga meminta perhatian lebih di banding sahabatku yang lain. Dari mulai minta diajarin urusan pekerjaan rumah, meminjam catatan, hingga curhat masalah keluarga. Kedekatan ini juga membuat kami seperti saudara sendiri.</p>
<p>Awalnya Tri tinggal di kos yang berbeda denganku, tapi ketika ada salah satu penghuni kosku yang pindah, dia langsung memutuskan pindah ke tempat kosku dengan alasan agar bisa lebih serius belajar di bawah bimbinganku. Kedekatan kami makin intens, dari perhatian-perhatian yang wajar sampai  yang terasa agak berlebihan. Aku pernah mencoba menghindar, tapi begitu dia menyadari penolakanku dia marah, tersinggung, ngambek, dan menangis. Aku tidak tahan melihat airmatanya.</p>
<p>Dia kerap mengungkapkan kalau dia menyayangiku, tapi aku selalu menganggap itu ungkapan sayang dari sahabat atau dari adik sendiri. Kukatakan aku juga menyayanginya. Tak jarang ungkapan itu diiringi dengan sentuhan dan belaian di kepalaku. Ada perasaan bahwa &#8220;ini bukan hal yang wajar&#8221; tapi ketika aku mengelak dia akan berbalik dan menangis. Aku takut teman-teman kami yang lain mendengar tangisannya, jadi kupikir lebih baik menuruti kemauannya. Hingga suatu hari dia menyodorkan <em>diary</em>-nya, memintaku untuk membacanya.</p>
<p>Aku gemetar membaca lembar demi lembar catatan hariannya, kekagumannya padaku, perasaan yang begitu dalam dan segala kebingungannya dengan perasaan tersebut. Pada satu halaman aku terdiam sangat lama. Di sana dia menuliskan kenyataan yang mengejutkanku, dia mencintaiku seperti lelaki mencintai perempuan. Bagaimana mungkin? Kami sama-sama perempuan. Aku tidak sanggup memikirkannya. Aku tidak mampu mencernanya dan tidak dapat menemukan istilah yang tepat untuk perasaan ini, meski aku menyadari ini bukan hal yang wajar tapi aku tidak sanggup menolaknya.</p>
<p>Dari sentuhan di kepala, dia bergerak memindai sudut-sudut tubuhku yang lain. Dia menyalakan tombol hormon kedewasaanku jauh sebelum waktunya, sekaligus menyalakan tombol ketakutan dan kecemasan pada hal yang tidak kumengerti. Anehnya semakin kami semakin saling menyayangi, semakin dalam rasa cinta di hati kami semakin mengerikan juga pertengkaran antara kami. Kamar kos kami pernah hancur berantakan karena kami saling melempar benda yang terjangkau tangan, saling menjungkirbalikkan meja belajar, rak buku dan melemparkan baju-baju dari lemari.</p>
<p>Aku dihantui perasaan bersalah, dan kepalaku selalu berdentum bahwa Tri-lah yang membuat aku begini. Aku menyalahkannya, juga menyalahkan diri sendiri yang tidak mampu menolak orang lain menyentuh tubuhku. Satu hal yang paling menyakiti hatiku, bila Tri mengatakan aku tidak mencintainya, padahal aku telah merelakan diriku menjalani hubungan hingga sejauh ini. Aku telah mengorbankan banyak hal, namun dia masih menuduhku tidak bisa benar-benar mencintainya. Aku tidak tau, dengan cara apa lagi harus kubuktikan aku mencintainya.</p>
<p>Terlalu muda aku mengalami semuanya, terlalu muda aku mengenal cinta yang kuyakin tidak semestinya terjadi. Aku tidak siap. Aku tidak tau bagaimana menyelesaikan masalah salam sebuah hubungan seintim itu. Ketika perasaanku disakiti aku tidak tau cara mengobatinya, yang aku tahu hanya menciptakan rasa sakit yang lain. Aku mencoba membenturkan kepala ke dinding, tapi sakitnya lekas hilang tak berbekas. Sampai aku menemukan cara mudah menciptakan rasa sakit.</p>
<p>Silet dan peniti. Kedua benda itu menimbulkan rasa perih yang baru akan sembuh setelah beberapa hari. Luka itu mengingatkanku pada Tri yang menyakitiku. Luka itu menuntaskan dendamku, aku seolah bisa mengatakan pada Tri, &#8220;Lihat ini lukaku, namun luka di hatiku jauh lebih pedih dari ini!&#8221; Tapi kami masih sama-sama sangat muda. Pertengkaran makin kerap terjadi. Kadang satu goresan di lenganku belum sembuh, goresan lain telah tertoreh. Buku diary biru yang kami isi bersama, semakin penuh dengan jejak darah.</p>
<p>Puncaknya, pada suatu pertengkaran (aku sudah tidak ingat karena apa) dia mengancam akan meninggalkanku, akan berhenti sekolah dan apa saja ancaman yang bisa dilontarkannya. Selama ini itulah yang menjadi senjata andalannya, ancaman dan ancaman. Aku kalap. Aku tidak tau bagaimana meredakannya, aku tidak tau bagaimana melerai pertengkaran kami, aku tidak tau bagaimana lagi meredakan sakit hatiku karena ucapannya. Aku tidak tau bagaimana cara menunjukkan cinta yang sebenarnya. Didalam kepalaku hanya menginginkan rasa sakit, aku hanya ingin menyelesaikan semua masalah ini, aku hanya ingin membuktikan kalau aku menyayanginya.</p>
<p>Aku kalap. Aku mengambil silet yang kusembunyikan. Dan&#8230; cesss! Silet tajam itu meluncur di atas kulit di pangkal lenganku. Tidak ada rasa sakit, atau tepatnya rasa sakitnya tidak sebanding dengan rasa sakit hatiku. Yang ada hanya cairan merah yang muncrat. Berceceran di lantai. Di depan mata kepala Tri.</p>
<p>Saat itu aku berharap Tri memelukku dan mengatakan &#8220;Cukup!&#8221;. Tapi dia justru memilih pergi meninggalkanku dengan lengan dan jemari yang perlahan semakin mati rasa.</p>
<p>Dia jahat. Sangat jahat. Cinta ternyata hanya menciptakan kesempatan untuk menyakiti. Aku bodoh. Sangat bodoh. Cinta ternyata bisa membuat siswa berprestasi seberti aku, berubah menjadi sangat bodoh. Aku berharap mati kehabisan darah. Tapi itu tidak kunjung terjadi. Bayangan orang tuaku tiba-tiba terlintas, kemiskinan dan kesakitan telah lama membelit keluarga kami, kalau aku mati maka kesakitan yang lain akan membelit orang tuaku. Cukup.</p>
<p>Aku bangkit dengan kenyataan bahwa Tri tidak pernah mencintaiku. Semua yang terjadi ini hanya mimpi buruk. Aku harus segera terjaga. Aku menekuk dan membalut lenganku dengan sapu tangan, darah masih terus merembes dan menguarkan bau besi dan amis yang menyengat. Dengan sisa kekuatan dan keberanian aku pergi ke rumah sakit umum pemerintah, langsung ke bagian UGD. Menyodorkan lenganku. Sapu tangan pembalutnya sudah berubah warna menjadi merah.</p>
<p>Aku beruntung, dokter tidak banyak tanya, aku berbohong mengatakan bahwa lenganku terkena kaca jendela, aku tau mereka tidak percaya tapi mereka langsung membius dan menjahit lenganku.</p>
<p>Sepulang dari rumah sakit aku mengambil waktu menenangkan diri. Mencoba memahami yang barusan terjadi. Berulang-ulang kukatakan pada diriku, semua hanya mimpi buruk dan aku harus terjaga. Sejak saat itu aku bertekad membenahi diri. Pelajaranku banyak tertinggal sementara waktu kelulusan tidak lama lagi. Aku mungkin sudah tersesat jauh memaknai cinta, tapi aku ingin punya kesempatan kembali dan membayar semua kebodohan ini.</p>
<p>Bagaimana dengan Tri? Jangankan mengucapkan simpati dan meminta maaf, dia malah mengata-ngataiku bodoh. Aku tidak bisa berkutik. AKu tidak bisa membalas. Aku takut dia menjalankan ancamannya, aku takut dia membeberkan apa yang terjadi antara kami. Aku berusaha menghindar agar tidak semakin jauh dengan alasan ingin fokus pada pelajaran sekolah. Jauh di dalam hatiku aku ingin segera terlepas dari hubungan yang tidak sehat ini. Aku semakin terpacu untuk cepat-cepat lulus. Akhirnya prestasi yang sempat jeblok kembali naik, dan aku berhasil meraih prestasi sebagai 10 besar lulusan terbaik.</p>
<p>Tri memintaku untuk melanjutkan kuliah di kota yang sama, tapi aku tidak ingin menciptakan kebodohan yang lebih banyak. Aku memutuskan pergi dan menjauh. Meneruskan kuliah di kota yang terpisah ribuan kilo dengan Tri, mebawa pertanyaan-pertanyaan tentang cinta apa yang terjadi antara kami.</p>
<p>Pelan-pelan kukubur semua kenangan bersama Tri. Aku fokus pada kuliah dan masa depanku. Aku memilih mengabaikan semua sisa-sisa perasaan itu hingga menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi dengan prestasi gemilang dan mendapatkan pekerjaan yang baik. Aku bersyukur pada Tuhan, hidup yang dulu pernah ingin kuakhiri ternyata digantikanNYA dengan hidup yang lebih baik. Aku tidak ingin mengulangi kebodohan dan kesalahan yang sama. Masalah akan selalu ada, kesakitan akan selalu ada. Tapi sekarang, aku memiliki Tuhan menjadi sandaranku dalam setiap masalah.</p>
<p>@Tira, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/12/25/have-your-say-aku-nyaris-bunuh-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

