Browse Categories

Sepocikopiana

Pelukan hangat dari segenap keluarga SepociKopi.

Gaya Hidup

Obrolan santai di beranda, milik kita

Humaniora

Bukalah jendela pemikiran, melangkahlah keluar.

Seni Budaya

Mari jatuh cinta pada estetika

Reportase

Segala yang paling aktual dari pelosok dunia.

Home » Archive by Tags

Articles tagged with: Puisi

te.Lez.kop: The Impossibilities of Love

24/04/2014 – 7:00 am | 8 Comments | 1,341 views

Oleh: Lakhsmi
Ingat Juli dan Emma? Beberapa hari lalu, mereka merayakan hari jadian mereka yang kedua. Sebagai kekasih yang ingin memberikan aura romantisme, Juli mengirimkan puisi kepada Emma. Beginilah puisi Juli yang ditulis oleh penyair kenamaan Indonesia, Sapardi Djoko Damono:

Puisi: 1, 2

02/07/2012 – 8:00 pm | 2 Comments | 802 views

Oleh: Tears Angel
1.
Kudapati awan gelap meraung-raung,
penuh luka rasa
Perlahan menangis,
tangis jatuh berhempas ke sudut ruang bumi
Perlahan menyayat luka begitu lembut
Yang tak kusangka perih tak terkira

Puisi: Kopi dan Kesendirian

21/05/2012 – 8:10 pm | 7 Comments | 1,485 views

Oleh: Fidi
Dalam hujan
Hanya kopi yang menemani
Bukan cinta, tahta, atau harta
Semua seakan enggan mendekat,
Walau hanya untuk menyapa sedikit saja
Aku menjadi tersenyum miris
Sekarang siapa temanku?
Mana rekanku?
Atau ada belahan jiwaku?
Mana mereka?
Sepoci kopi yang sedikit namun banyak

Puisi: Rindu Kedua

30/04/2012 – 2:53 pm | 12 Comments | 1,241 views

Rindu Kedua
Oleh: Tears Angel
hujan itu seperti ribuan hati yang terluka
basah, dingin, rindu menyatu.
hujan itu seperti genggaman malaikat
yang ada, tapi tak ada

Aan Mansyur: Dunia LGBT yang Kompleks Adalah Modal Utama Puisi

24/04/2012 – 4:52 pm | 3 Comments | 1,433 views

Oleh: Lakhsmi dan Vilinnz
Siapa yang tidak kenal Aan Mansyur? Aan adalah penyair dan sastrawan angkatan muda yang produktif. Aktivis di berbagai komunitas sastra, Aan juga bekerja menjadi kurator untuk karya-karya budaya dan sastra. Puisi-puisinya dipublikasikan di berbagai media massa nasional.

Puisi: Masih Saja, Karena Aku Perempuanmu

16/04/2012 – 7:29 pm | 10 Comments | 1,368 views

Masih Saja
Oleh: Nura Ranu
Kau masih saja membuka pintu rumahmu, kau baik sekali
membiarkanku masuk untuk menyesap perih yang ada
Kau masih saja duduk di sampingku, kau manis sekali
menghilangkan kepahitan tangis secara perlahan
Kau masih saja menatap mataku, kau indah sekali
membiarkan air mata mengaliri alur jemarimu di pipi

Puisi: Tari Asmara

12/03/2012 – 12:10 pm | 13 Comments | 827 views

Tari Asmara
Oleh: Raa Pikatan
Seorang bidadari menari-nari asmara Bedhaya Ketawang di hadapan
Sayangnya aku bukan Sultan Agung yang tampan dan ksatria
Hingga belum pasti tari asmara itu untukku.
Aku hanya bisa larut dalam belaian ritmis gerakan jiwanya
bergerak ke kanan-kiri mengikuti irama gendhing surgawi. Godaan khas seorang hawa.

Puisi: Perayaan Sajak-sajak Cinta 4

27/02/2012 – 11:51 am | One Comment | 811 views

Pada Senin terakhir di bulan Februari, inilah tiga penyair mancanegara yang mempersembahkan segenap cintanya di bait-bait sajak. Pada mulanya memang cinta, biarlah berakhir dengan cinta pula. Marilah bersama-sama membaca tiga puisi karya tiga penyair dunia E. E. Cunnings, Oscar Wilde, dan Elizabeth Barrett Browning. Selamat menikmati!
Aku Bawa Hatimu Bersamaku
Oleh: E. E. Cunnings

Puisi: Perayaan Sajak-sajak Cinta 3

20/02/2012 – 10:34 am | 2 Comments | 840 views

Minggu ketiga bulan Februari. Derai-derai kata jatuh basah pada kertas. Kita melangkah dengan segala kedigdayaan imajinya. Hari ini kita membaca puisi cinta karya dua penyair dalam negeri yang tersohor: Aan Mansyur dan Hanna Fransisca. Selamat menikmati!

Tiga Catatan Terakhir
Oleh: Aan Mansyur
2.
Tiba-tiba mampu aku pahami
seluruh yang pernah datang
bertandang ke dua mataku
bahkan yang aku duga mimpi.

Puisi: Perayaan Sajak-sajak Cinta 2

13/02/2012 – 2:53 pm | 2 Comments | 736 views

Minggu kedua bulan Februari, mari kita lanjutkan puisi cinta dari penyair terkenal manca negara. Hari ini, kita akan membaca puisi cinta karya Pablo Neruda dan Sapardi Djoko Damono.
Selamat menikmati!
SONETA II
Oleh: Pablo Neruda
Kasihku, berapa banyak jalan harus kutempuh untuk mendapatkan ciuman,
berapa kali aku tersesat kesepian sebelum menemukanmu!
Kereta kini melaju menembus hujan tanpa diriku.
Di Taltal musim semi belum kunjung tiba.