<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; pernik</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/tag/pernik/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 02:00:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Cuci Mata: Time Tells All</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/06/27/cuci-mata-time-tells-all/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/06/27/cuci-mata-time-tells-all/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Jun 2009 01:39:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cuci Mata]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=2825</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sidney
Salah satu cara menilai status sosial dan ekonomi seseorang adalah dari jam tangan, itu kata seorang teman lesbianku yang senang bergonta-ganti pacar. Bukan aku. Tapi sialnya saran itu terus terngiang di otakku. Gara-gara saran itu setiap kali ketemu orang, aku selalu melirik merek jam yang dipakainya.
Sampai suatu weekend, aku diajak bertemu dengan butch asal Singapore yang kebetulan sedang berkunjung ke Jakarta. Usut punya usut, ternyata dia adalah temannya teman. Konon, butch ini katanya bisa mendapat cewek mana pun sekali menjentikkan jari; femme, andro, dan butch tunduk di hadapannya. Penasaran? ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-2827" title="watch_by_peachjuice" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/06/watch_by_peachjuice.jpg" alt="watch_by_peachjuice" width="130" height="194" />Oleh: Sidney</p>
<p>Salah satu cara menilai status sosial dan ekonomi seseorang adalah dari jam tangan, itu kata seorang teman lesbianku yang senang bergonta-ganti pacar. Bukan aku. Tapi sialnya saran itu terus terngiang di otakku. Gara-gara saran itu setiap kali ketemu orang, aku selalu melirik merek jam yang dipakainya.</p>
<p>Sampai suatu <em>weekend</em>, aku diajak bertemu dengan butch asal Singapore yang kebetulan sedang berkunjung ke Jakarta. Usut punya usut, ternyata dia adalah temannya teman. Konon, butch ini katanya bisa mendapat cewek mana pun sekali menjentikkan jari; femme, andro, dan butch tunduk di hadapannya. Penasaran? Tentu saja, berhasilah aku dibuatnya penasaran setengah mati.</p>
<p><span id="more-2825"></span>Di restoran yang terletak di hotel bintang lima, aku dan dua temanku, jadi kami berempat duduk menikmati hidangan <em>buffet </em>makan siang. Kami mengobrol ke sana kemari. Mulai bicara tentang bisnis sampai <em>relationship</em>. Kulihat penampilan si butch ini, nggak sekeren Shane atau setampan Max. Apa sih yang bikin dia punya cewek yang bertebaran di sepenjuru Asia?</p>
<p>Tangannya mengibas sesekali. Cincin bermata berlian mungil menghiasi jari manisnya. Tangannya mengibas lagi, ujungan lengan kemeja tangan panjangnya tertarik sedikit, memperlihatkan jam Chopard dengan butiran-butiran berlian menghiasinya. Harganya? Kalau dicantumkan di majalah <em>lifestyle</em>, akan tertulis <em>Price by Request</em>, kan nggak mungkin membuat orang takut dengan mencantumkan harga sepotong jam tangan yang bisa membeli rumah kecil di daerah pinggiran Jakarta.</p>
<p><em>Weits</em>, temanku sepertinya mulai nempel dengannya (Padahal baru kenal, bo!). Tanpa mengurangi rasa hormat pada temanku itu, tampaknya dia juga mulai kepincut. Aku menggigit bibir. Maaf ya, aku nggak akan termasuk yang kena sihir pesonanya. Sepanjang makan aku masih berpikir apa sih yang bikin butch ini menarik? Pasti ada daya tariknya yang nggak kelihatan. Tapi entah mengapa mataku selalu tertuju pada jam tangannya yang supermewah itu. Hmm, aku yakin jam tangannya itu yang bikin cewek-cewek pada kepincut!</p>
<p>Mungkin saran temanku dulu itu benar. Jam tangan bukan cuma menunjukkan waktu, tapi juga status dan menggaet cewek. Kalau memang mau lihat waktu, kan bisa lihat jam yang berada di hape. Tapi urusan status, ya itu tidak tergantikan. Kalau kamu suka pakai jam tangan bermerek yang palsu, artinya suka status palsu dong?</p>
<p>Jam tanganku sih dibeliin Mama di Singapore, Christian Dior yang berbentuk kotak dan bertali kulit cokelat. Aku tidak terlalu tertarik mengenakan berbagai jenis jam tangan, tapi berhubung Mama adalah seorang kolektor jam tangan, aku familiar dengan berbagai merek jam tangan beserta harganya yang dimulai dari ratusan ribu rupiah sampai dengan puluhan juta rupiah. Aku sungguh-sungguh tidak terlalu peduli dengan jam tangan walaupun seringkali diseret Mama ke toko jam untuk melihat-lihat dan menambah-nambah koleksi jam tangan Mama. Berdasarkan &#8220;ilmu&#8221; ku yang diturunkan Mama, jam tangan butch temanku ini kutaksir harganya sudah pasti mencapai ribuan US dollar.</p>
<p>Masih banyak teman-teman lesbianku yang menaksir status sosial dan ekonomi calon pacar atau calon gebetan dari hape yang digenggam orang tersebut. Sttt, udah basi kali menilai  status sosial dan ekonomi dari hape. Sini kuberitahu ya. Sebenarnya yang paling tepat adalah melirik ke arah lebih atas lagi ke sekitar pergelangan tangan, yaitu jam tangan. Cewek semakin kelihatan seksi dan mahal dari jam tangan yang melingkari tangannya. Oya, hati-hati merek palsu karena banyak sekali jam tangan palsu yang bertebaran. <em>So, better watch out and watch this. </em>Kamu kan nggak mau mendapatkan pacar palsu yang memalsukan segala-galanya?<em><br />
</em></p>
<p>@Sidney, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/06/27/cuci-mata-time-tells-all/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>te.Lez.kop: Side by Side and Cheek to Cheek</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/04/01/side-by-side-and-cheek-to-cheek-2/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/04/01/side-by-side-and-cheek-to-cheek-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Mar 2009 17:05:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Telezkop]]></category>
		<category><![CDATA[pernik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=1239</guid>
		<description><![CDATA[oleh Shinigami
Beberapa waktu lalu saya sempat keluar mencari jajanan bersama mantan pacar. Bukan tempat yang mentereng, cukup di warung jagung dan roti bakar dekat kosnya. Sambil menunggu pesanan, kami sedikit mengobrol. Namun di sela-sela obrolan, ketika kami tak lagi berkata-kata, perhatian saya teralih pada sepasang kekasih yang duduk di meja ujung. Pasangan itu sebenarnya biasa saja, mulai dari dandanan hingga wajah tak ada yang berlebihan ataupun kurang. Yang menarik bagi saya adalah posisi duduk yang mereka pilih.
Setiap meja di warung itu dilengkapi oleh bangku kayu di kedua sisinya. Setiap bangku ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-1215" title="cheek" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/03/cheek.jpg" alt="cheek" width="113" height="170" />oleh Shinigami</p>
<p>Beberapa waktu lalu saya sempat keluar mencari jajanan bersama mantan pacar. Bukan tempat yang mentereng, cukup di warung jagung dan roti bakar dekat kosnya. Sambil menunggu pesanan, kami sedikit mengobrol. Namun di sela-sela obrolan, ketika kami tak lagi berkata-kata, perhatian saya teralih pada sepasang kekasih yang duduk di meja ujung. Pasangan itu sebenarnya biasa saja, mulai dari dandanan hingga wajah tak ada yang berlebihan ataupun kurang. Yang menarik bagi saya adalah posisi duduk yang mereka pilih.</p>
<p>Setiap meja di warung itu dilengkapi oleh bangku kayu di kedua sisinya. Setiap bangku cukup panjang untuk bisa ditempati oleh dua orang dengan nyaman. Dengan bangku seperti itu, pasangan yang menarik perhatian saya malam itu memilih untuk duduk bersisian dan berdempetan. Apanya yang menarik, mungkin begitu kaupikir. Bukankah itu posisi duduk biasa bagi mereka yang pacaran? Memang. Hanya saja, hal itu menjadi menarik ketika saya membandingkannya dengan posisi duduk yang dipilih pasangan lesbian.</p>
<p><span id="more-1239"></span></p>
<p>Sebelum saya melanjutkan dengan apa yang ada di pikiran saya, terlebih dahulu saya mau mengatakan bahwa ini bukan generalisasi. Dibutuhkan riset dan pengolahan data yang benar-benar serius dan dapat dipertanggungjawabkan untuk dapat menarik kesimpulan secara umum seperti itu. Yang akan dipaparkan cuma pemikiran atas pengamatan kecil yang kebetulan tertambat di otak saya. Setuju? Mari.</p>
<p>Pasangan tadi membuat saya menggali ingatan sekaligus memasang kesadaran lebih untuk memperhatikan sekeliling selama beberapa waktu: pasangan heteroseksual di pujasera supermarket, pasangan lesbian remaja di McD, pasangan heteroseksual di restoran <em>all you can eat</em>, pasangan lesbian di kafe, serta memori atas kencan-kencan yang saya dan mantan lakukan dulu. Dari pengamatan dan ingatan itu, saya menangkap sebuah fenomena bahwa pasangan heteroseksual lebih sering menampilkan posisi duduk bersisian dan bersebelahan, sedangkan pasangan homoseksual (dalam hal ini lesbian) lebih sering duduk berhadapan. Terlepas dari apa pun tipe kursi yang mereka gunakan.</p>
<p>Awalnya saya sebatas mengamati perbedaan posisi duduk ini. Namun, bisa jadi karena kurang kerjaan atau memang kedua hal ini dapat dikaji lebih lanjut, saya kemudian mencoba membaca kenyataan ini dengan mengaitkannya terhadap karakteristik hubungan yang dimiliki kedua kelompok.</p>
<p>Hubungan heteroseksual adalah hubungan yang dapat dikatakan sangat aman. Dalam artian, secara umum, tidak ada sanggahan keberatan dari masyarakat. Hal ini membuat pasangan heteroseksual dapat dengan mudahnya menunjukkan kebersamaan bahkan kemesraan mereka di depan umum. Karena itulah tak ada yang heran melihat posisi duduk sepasang kekasih di warung jagung tadi.</p>
<p>Nyaris berbeda seratus delapan puluh derajat, hubungan homoseksual sampai sekarang adalah hubungan yang tak diakui secara terbuka oleh masyarakat. Ibarat sekolah, statusnya baru terdaftar, belum disamakan, apalagi terakreditasi A. Duduk berhadapan dan bukannya bersisian, bagi saya, dapat dibaca sebagai bentuk ketidakterbukaan terhadap pihak umum. Bahwa masih ada sesuatu yang harus disembunyikan, disimpan hanya untuk mereka berdua. Bukan karena tak mau membagi, namun lebih kepada tak bisa. Di luar sana tidaklah begitu ramah.</p>
<p>Dan mungkin ini suara sel-sel penghuni jalan romantis di kota otak saya, sebab ketika memikirkan posisi duduk pasangan heteroseksual, saya teringat pada lirik <em>Side by Side</em>, sebuah lagu dari drama musikal Company karya Stephen Soundheim. Terutama bagian-bagian berikut: <em>“Comfy and cozy, Side by side by side” … // “One is lonely and two is boring” … // “One&#8217;s impossible, two is dreary, Three is company, safe and cheery”.</em> Saya membayangkan mereka menganggap orang-orang lain di sekitar adalah teman untuk berbagi kebersamaan dan kemesraan. Berdua tidaklah cukup. Mereka butuh membuka celah bagi dunia untuk turut menikmatinya. Jadilah mereka duduk bersisian, menghadap dunia.</p>
<p>Sedangkan bagi pasangan lesbian, lirik lagu<em> Cheek to Cheek</em> yang pernah dipopulerkan Frank Sinatra terasa lebih mengena: <em>“Heaven, I’m in heaven, And the cares that hung around me through the week, Seem to vanish like a gamblers lucky streak, When were out together dancing cheek to cheek.” </em>Meskipun duduk berhadapan bukanlah berdansa sambil bertempel pipi, tetapi kedekatan yang dirasakan memiliki kemiripan. Seolah berkata, “ Lihat wajahku, sayang. Mereka bisa jadi tak ramah, tapi tak usah kaupedulikan. Ada aku di sini. Lihat saja wajahku.” Seakan saling menguatkan.</p>
<p>Namun demikian, apa pun yang saya pikirkan tentang kedua posisi duduk itu tak membuat salah satunya menjadi lebih baik dari yang lain. Mereka hanya berbeda. Berbeda yang menjadi menarik. Itu saja.</p>
<p>@Shinigami, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/04/01/side-by-side-and-cheek-to-cheek-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

