<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; pergerakan</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/tag/pergerakan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 10:52:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Noktah Merah: The Children’s Hour, dari Sejarah Sampai Seni Pertunjukkan</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/02/03/noktah-merah-the-childrens-hour-dari-sejarah-sampai-seni-pertunjukkan/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/02/03/noktah-merah-the-childrens-hour-dari-sejarah-sampai-seni-pertunjukkan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 13:24:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Noktah Merah]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17850</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lakhsmi
Apa yang terjadi ketika sepasang kepala sekolah/guru perempuan dituduh memiliki hubungan yang tidak alamiah oleh seorang murid? Cerita yang benar-benar terjadi pada tahun 1810 di Skotlandia diangkat menjadi pentas teater dan pembuatan film Hollywood selama dua kali, termasuk remake-nya. Pentas teaternya dipertunjukkan di Broadway pada tahun 1934, ditulis oleh penulis teater/screenplay Amerika yang sangat terkenal Lillian Hellman. Pertunjukkan ini berjalan selama dua tahun sebelum bergerak ke London  dan Dublin. Sepanjang sejarah teater Amerika, inilah salah satu pentas pertama yang mengangkat isu lesbianisme.
Naskah drama in, diberi judul oleh sang kreator ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/hour5.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17851" title="hour5" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/hour5-192x300.jpg" alt="" width="192" height="300" /></a>Oleh: Lakhsmi</p>
<p>Apa yang terjadi ketika sepasang kepala sekolah/guru perempuan dituduh memiliki hubungan yang tidak alamiah oleh seorang murid? Cerita yang benar-benar terjadi pada tahun 1810 di Skotlandia diangkat menjadi pentas teater dan pembuatan film Hollywood selama dua kali, termasuk <em>remake</em>-nya. Pentas teaternya dipertunjukkan di Broadway pada tahun 1934, ditulis oleh penulis teater/<em>screenplay </em>Amerika yang sangat terkenal Lillian Hellman. Pertunjukkan ini berjalan selama dua tahun sebelum bergerak ke London  dan Dublin. Sepanjang sejarah teater Amerika, inilah salah satu pentas pertama yang mengangkat isu lesbianisme.</p>
<p><span id="more-17850"></span>Naskah drama in, diberi judul oleh sang kreator Lillian Hellman, <em>The Children&#8217;s Hour</em> dianggap sebagai karya klasik yang sangat terkenal. Ceritanya berdasarkan<em> true story</em> pada penuduhan dan kebohongan yang disebarkan oleh seorang anak perempuan bernama Mary Tilford. Dia menyebarkan gosip bahwa Karen Wright dan Martha Dolbie &#8211; sepasang kepala sekolah/guru &#8211; memiliki hubungan tidak alamiah. Kata &#8220;lesbian&#8221; tidak pernah diucapkan sebab pada zaman itu, lesbianisme masih belum dinamai. Walaupun tuduhan itu tidak benar, nenek Mary memercayainya sehingga menghancurkan sekolah  itu sendiri.</p>
<p>Karen dan Martha melawan Mary di pengadilan, tapi kalah. Hubungan Karen dan kekasih lelakinya, Dr. Joe Cardin terancam putus. Ketika kedua perempuan itu sedang duduk merenungi nasib kekalahan mereka, Martha mengakui perasaan cintanya kepada Karen. Bahwa tuduhan itu bukanlah bohong, melainkan benar. Karen protes terhadap pengakuan Martha. Walaupun Karen tidak memiliki perasaan yang sama kepada Martha, Karen tetap ingin tinggal bersama Martha. Martha tidak setuju, sebab dia yakin perasaannya kepada Karen adalah kehancuran bagi hidup Karen. Martha memutuskan bunuh diri.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/hour6.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17852" title="hour6" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/hour6-300x184.jpg" alt="" width="300" height="184" /></a>Tentu saja pada tahun 1810, orang-orang masih belum mengerti rasa cinta yang tumbuh di antara sesama jenis, sehingga mereka takut terhadap perasaan itu. Homoseksualitas sangat dianggap tabu dan tidak benar. Perempuan tak bisa mengatakan perasaannya kepada sesama jenis. Di kota kecil, walaupun tidak ada saksi dan bukti bahwa dua kepala sekolah dan guru itu adalah lesbian, penduduknya langsung menuding dan menuduh mereka.</p>
<p>Di zaman sekarang, cerita seperti ini bukanlah cerita homoseksual modern yang mempertunjukkan kenyataan lesbian. Namun <em>The Children&#8217;s Hour</em> ini adalah penghormatan kepada kisah sejarah yang realis pada era di mana kaum lesbian tidak memiliki pilihan apa-apa atas cinta dan hidup mereka, kecuali bunuh diri atau menolak perasaan yang tumbuh itu. Ketika sang penulis naskah Lillian Hellman menyutradarai pertunjukkan ini di tahun 1952, dia mengatakan bahwa cerita ini bukan tentang lesbian, tapi tentang kebohongan yang menyakitkan.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/hour2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17853" title="hour2" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/hour2-300x229.jpg" alt="" width="300" height="229" /></a>Pada tahun 1936, teater <em>The Children&#8217;s Hour</em> diangkat menjadi film dengan judul <em>These Three</em>. Lagi-lagi, naskah film ini juga ditulis oleh Lillian Hellman. Walaupun pada tahun itu, kata &#8220;homoseksual&#8221; adalah ilegal di negara bagian New York, tapi hukum seakan-akan berhasil &#8220;ditelikung&#8221; pada seni pertunjukkan ini sehingga baik teater Broadway maupun filmnya bisa melenggang dengan sukses dan menuai komen dari publik. Film ini mendapat pujian dari berbagai kalangan, termasuk media dan orang-orang penting di dunia sineas Hollywood.  Di film ini, aktris Bonita Granville yang memerankan Mary Tilford mendapat nominasi Academy Award untuk Best Supporting Actress.</p>
<p>Pada tahun 1961, film <em>These Three</em> dibuat <em>remake </em>dengan judul asli sesuai dengan pertunjukkan teaternya <em>The Children&#8217;s Hour</em>. Aktris yang sangat terkenal di zaman itu, Audrey Hepburn membintangi film ini sebagai Karen Wright. Sampai tahun 2012 sekarang, komunitas lesbian seluruh dunia, khususnya Amerika, masih merekomendasikan film ini sebagai film lesbian klasik yang layak ditonton, selain untuk mengenang sejarah homoseksual, juga sebagai tonggak pencapaian kaum lesbian dalam seni pertunjukkan.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/hour4.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17854" title="hour4" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/hour4-211x300.jpg" alt="" width="211" height="300" /></a>Tahun 2011, pertunjukkan teater <em>The Children&#8217;s Hour</em> dipertunjukkan di London, dengan Keira Knightley dan Elizabeth Moss yang menjadi aktris pendukung. Setelah nyaris seratus tahun sejak peristiwa yang sesungguhnya terjadi, termasuk pertunjukkannya di pentas Broadway dan film layar lebar, teater <em>The Children&#8217;s Hour</em> di tahun 2011 memperlihatkan perbedaan yang nyata. Bagaimana isu lesbian abad 19 ditafsirkan oleh para aktris zaman sekarang? Bahasa tubuh yang dipertontonkan pada teater kali ini lebih terlihat sebagai perempuan tahun 2011 dibandingkan dengan perempuan tahun 1810, 1936, atau 1961. Beberapa dialog diperbaiki sehingga terlihat segar dan modern, juga mengubah bagaimana cinta Martha Dolbie menjadi &#8220;hadiah indah&#8221; untuk Karen. Walau akhir cerita melawan <em>happy ending</em>, pertunjukan teater <em>The Children&#8217;s Hour </em>ini masih tetap relevan menggugat hati nurani tentang kejahatan atas kebohongan,  romantisme kejujuran, dan keberanian untuk mencintai.</p>
<p>Menikmati cerita sejarah tentang dua perempuan di tahun 1810 lewat panggung teater dan teknologi layar lebar, sebagai lesbian kita kembali diajak untuk merenung tentang apa yang menjadikan kita lesbian dan apa yang kita lakukan dengan kelesbianan ini. Untuk detil filmnya, silakan lihat resensi SepociKopi film <a href="http://sepocikopi.com/2007/09/05/childrens-hour-ketika-lesbian-masih-dianggap-aib/">The Children&#8217;s Hour</a>. Lesbian, semoga hidup kita semakin diperkaya dan diinspirasi oleh berbagai seni bergenre homoseksual yang artistik dan filosofis.</p>
<p>@Lakhsmi, SepociKopi, 2012</p>
<p>Keterangan gambar:<br />
1. Poster teater <em>The Children&#8217;s Hour</em> untuk pertunjukkan di London tahun 2011<br />
2. Salah satu adegan film<em> The Children&#8217;s Hour</em><br />
3. Poster film <em>The Children&#8217;s Hour</em> dengan aktris Audrey Hepburn<br />
4. Poster pertunjukan teater <em>The Children&#8217;s Hour</em> oleh mahasiswa di kampus lokal</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/02/03/noktah-merah-the-childrens-hour-dari-sejarah-sampai-seni-pertunjukkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanda-tanda Lesbi?</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/24/24-jan-tanda-tanda-lesbi/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/24/24-jan-tanda-tanda-lesbi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 08:00:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan dan Seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17307</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Edith
…Bahkan ketika kamu adalah seorang homoseksual, kamu tidak punya hak untuk mengklaim seseorang itu berkecenderungan atau bahkan seorang homoseksual atau bukan…

Saya benar-benar kesal dengan orang yang dengan mudahnya mengatakan bahwa seseorang punya indikasi menjadi homoseksual, hanya karena ia sudah berinteraksi dengan komunitas lesbian dan gay. Bagi saya, tidak ada yang layak untuk mempublikasikan, menebak-nebak, mendeklarasikan orientasi seksual atau identitas gender seseorang kecuali dianya sendiri.
Ini terjadi pada seorang teman dari Solo. Dia berencana mengadakan kegiatan bertema tentang homoseksual dan dia merasa sangat tidak nyaman ketika seorang lesbian yang seharusnya sudah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/Pride_by_XxWritergurl06xX.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17425" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/Pride_by_XxWritergurl06xX-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a>Oleh: Edith</p>
<p><em>…Bahkan ketika kamu adalah seorang homoseksual, kamu tidak punya hak untuk mengklaim seseorang itu berkecenderungan atau bahkan seorang homoseksual atau bukan…<br />
</em><br />
Saya benar-benar kesal dengan orang yang dengan mudahnya mengatakan bahwa seseorang punya indikasi menjadi homoseksual, hanya karena ia sudah berinteraksi dengan komunitas lesbian dan gay. Bagi saya, tidak ada yang layak untuk mempublikasikan, menebak-nebak, mendeklarasikan orientasi seksual atau identitas gender seseorang kecuali dianya sendiri.</p>
<p>Ini terjadi pada seorang teman dari Solo. Dia berencana mengadakan kegiatan bertema tentang homoseksual dan dia merasa sangat tidak nyaman ketika seorang lesbian yang seharusnya sudah paham tentang seksualitas dan bagaimana membangun gerakan, mengatakan bahwa dia punya &#8216;tanda-tanda&#8217; sebagai seorang lesbian.</p>
<p>&#8220;Aku bisa melihat dari sorot mata kamu, kalau kamu punya &#8216;tanda-tanda&#8217; itu.&#8221;</p>
<p>Pernyataan itu membuat teman saya yang berasal dari Solo menjadi benar-benar cemas dan membuatnya selama dua minggu tidak bisa konsentrasi, hanya terus menerus memikirkan apakah dia seorang lesbian. Apesnya, pernyataan itu malah membuat dia menjadi homofobia. Dia berpikir bahwa semua lesbian selalu begitu, senang mengajak orang lain untuk menjadi bagian dari mereka.</p>
<p>Bagi saya, organisasi atau komunitas LGBT dibentuk bukan untuk mengubah semua orang menjadi manusia yang memiliki orientasi seksual lesbian, gay, biseksual, atau transgender. Saya mengerti sekali tentang teori yang mengatakan bahwa seksualitas itu cair dan semua orang bisa memiliki kecenderungan untuk heteroseksual maupun homoseksua.  Tapi teori ilmu itu bukan berarti dapat dijadikan legitimasi untuk melabeli seseorang dengan identitas tertentu. Bukankah itu sama saja seperti mementahkan kembali usaha yang telah dibangun bersama untuk membangun ulang nilai-nilai heteronormatif di kaum awam?</p>
<p>Ketika sistem sosial dan politik mengarahkan semua orang pada label heteroseksual, kenapa pada saat yang sama juga ada oknum yang mengadopsi aturan hegemoni seperti itu; dengan mengarahkan atau mencemplungkan seseorang pada label homoseksual sesuai dengan &#8216;tanda-tanda&#8217;?</p>
<p>Perbincangan homoseksualitas tidak akan pernah berhenti dan selama wacana tersebut terus bergulir, akan ada banyak kategori baru tentang homoseksual. Tidak akan ada satu kategori tunggal mengenai homoseksual. Homoseks kelas menengah atas atau menengah ke bawah? Homoseks yang religius atau tidak religius? Homoseks muda atau tua? Homoseks yang bekerja atau tidak bekerja? Homoseks yang bergerak di gerakan perjuangan identitas, akademisi/peneliti, berperan sebagai wartawan, pembuat film, penulis, pekerja seni, pemuka agama, kritikus sastra, politisi, pengacara, dan lain-lain? Jadi, kenapa harus berpikiran sangat sempit dalam tema homoseksual sebagai oposisi atau lawan dari heteroseksualitas?</p>
<p>Jadi, berhentilah membuat stereotip dengan tidak serta merta mengatakan bahwa dia mempunyai tanda-tanda seorang homoseksual!</p>
<p>@Edith, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/24/24-jan-tanda-tanda-lesbi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tajuk: Dongeng Cinderella dan Kita</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/10/tajuk-dongeng-cinderella-dan-kita/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/10/tajuk-dongeng-cinderella-dan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 10:02:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Tajuk]]></category>
		<category><![CDATA[Coming Out]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[ulang tahun]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17208</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nuha Guwa
Pada zaman dahulu kala, di sebuah kerajaan besar, hiduplah seorang ibu peri yang pandai merapal sihir, baik hati, penggugup, dan pemalu. Jakarta, sebagai kerajaan padat dengan jurang-jurang sosial yang tinggi membuatnya menjadi linglung. Kehidupan manusia penuh sesak, kompleksitas perbedaan strata hidup antara kaya miskin, bodoh pintar, jahat baik, di antara pemukiman mewah dan kumuh, membuat hari-hari ibu peri yang bernama Lakhsmi tidak enak. Makan salah, tidur juga salah. Tongkat sihirnya menjadi berdebu karena sering terlupakan.
Tak jelas siapa tokoh antagonis dalam kisah ini. Apakah keadaan, ketakutan, kemiskinan, kecemasan, atau ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/cinderella.jpg"><img class="size-full wp-image-17209 alignleft" title="cinderella" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/cinderella.jpg" alt="" width="259" height="194" /></a>Oleh: Nuha Guwa</p>
<p>Pada zaman dahulu kala, di sebuah kerajaan besar, hiduplah seorang ibu peri yang pandai merapal sihir, baik hati, penggugup, dan pemalu. Jakarta, sebagai kerajaan padat dengan jurang-jurang sosial yang tinggi membuatnya menjadi linglung. Kehidupan manusia penuh sesak, kompleksitas perbedaan strata hidup antara kaya miskin, bodoh pintar, jahat baik, di antara pemukiman mewah dan kumuh, membuat hari-hari ibu peri yang bernama Lakhsmi tidak enak. Makan salah, tidur juga salah. Tongkat sihirnya menjadi berdebu karena sering terlupakan.</p>
<p><span id="more-17208"></span>Tak jelas siapa tokoh antagonis dalam kisah ini. Apakah keadaan, ketakutan, kemiskinan, kecemasan, atau ketidaktahuan, namun kekejaman ala ibu tiri pada masyarakat &#8211; sadar atau tanpa sadar &#8211; menyentuh banyak lesbian yang hidup dalam ketidakadilan. Pandangan hina dan rendah terhadap homoseksual sebagai suku pendosa memang masih diberlakukan. Ibu peri Lakhsmi semakin kalut, seperti dikejar-kejar mimpi buruk setiap malam. Apa yang bisa dia lakukan untuk merapal sihir ajaib, agar setidaknya lesbian bisa merasakan kegembiraan menjadi seorang putri dan pengeran kerajaan?</p>
<p>Saat perempuan-perempuan lain sibuk mendandani diri untuk menghadiri pesta dan mengejar nama besar di istana, para lesbian yang ada di cerita ini diberi nama sebagai Cinderella &#8211; yang berarti gadis kotor dan penuh debu &#8211; masih <em>rempong </em>mencari-cari identitas diri. Boro-boro menghadiri pesta dansa sang pengeran, mengurus diri sendiri aja kacau balau. Pandangan bahwa kelesbianan adalah penyakit yang bisa disembuhkan sangat merisaukan. Para ibu tiri percaya bahwa membawa Cinderella ke dukun bisa membuatnya menjadi kaum <em>straight</em>. Mereka juga melakukan tindakan kasar dan tak beradab, semena-mena, dan penuh kejahatan.</p>
<p>Suatu malam, Lakhsmi, si ibu peri penggugup, menyihir kereta kuda dengan segala kemewahannya. Dibantu oleh sahabat-sahabatnya, Cinderalla menjadi seorang putri yang cantik jelita. Bersama kereta kuda itu, ibu peri dan Cinderella bersama-sama pergi ke istana bernama SepociKopi. Di istana itu, para putri cantik dan tampan menikmat satu malam pesta dansa yang menggembirakan. Lihat, betapa meriahnya suasana! Sosok-sosok yang berbahagia muncul satu per satu di depan pintu istana, dengen kereta kencana emas yang berkelap-kelip mewah.</p>
<p>Pesta tidak pernah usai. Setiap malam, para putri berjalan ke pesta SepociKopi dengan kegembiraan. Setiap malam, tujuh hari seminggu, selama lima tahun. Ibu peri Lakhsmi yang baik hati sudah tidak bekerja sendirian lagi. Sihirnya mampu dirapal oleh para putri-putri Cinderella yang lain. Sampai detik ini, pesta masih berjalan dengan ritme kerja yang luar biasa. Begitu banyak sepatu-sepatu tertinggal di tangga ketika jam berdentang pukul dua belas malam. Tidak ada yang ingin meninggalkan pesta SepociKopi.</p>
<p>Karakter dan cerita di atas tidak saya lebih-lebihkan, juga tidak semata-mata dibuat  untuk mengundang simpati atau tawa. Atau ingin membuat sosok lesbian terlihat suci. Semua kisah kegembiraan dan kesedihan yang terjadi pada setiap malam di pesta SepociKopi hadir apa adanya. Dongeng Cinderella di sini berbeda dengan dongeng Cinderella yang heteronormatif.  Sebagaimana kehidupan putri dan pangeran yang berbahagia di akhir kisahnya, SepociKopi berharap lesbian menjadi perempuan-perempuan bisa menggali  “harta karun” dan “berlian yang belum diasah” di setiap pribadi masing-masing sebelum menemukan pasangan hidup mereka.</p>
<p>Namun, berbeda dengan dongeng-dongeng lainnya, Cinderella di kisah ini belum berakhir. Tidak sama dengan cerita Cinderella yang ditutup dengan kalimat <em>&#8220;happily ever after&#8221;</em>, Cinderalla lesbian masih perlu berjuang lebih keras lagi untuk mencapai kebahagiaan selama-lamanya. Bahkan masih banyak yang cemas menunggu pukul dua belas malam saat sihir ibu peri berakhir, sehingga kereta yang membawanya berubah menjadi labu dan teman-temannnya kembali berubah wujud menjadi tikus-tikus dan burung. Pertarungan antara pagi, siang malam; dunia maya dan dunia asli adalah perjuangan yang nyata.</p>
<p>Sayang, mantra sihir ibu peri Lakhsmi dan ibu-ibu peri lainnya hanya bertahan sampai tengah  malam. Tapi memang begitulah yang harusnya terjadi, sebab sosok-sosok  lesbian tidak perlu menjadi lesbian setiap detik tapi melainkan menjadi  manusia biasa yang bisa berkarya pada sepanjang hari. Namun saya percaya, suatu hari akan hadir mantra sihir yang lebih kuat sehingga para lesbian bisa berpesta di istana SepociKopi sepanjang hari dan menjadi permaisuri/pangeran yang berkuasa di seantero negeri. Dengan begitu, akhir kisah ini bisa ditutup dengan kalimat .<em>..And they live happily ever after</em>.</p>
<p>Selamat ulang tahun SepociKopi tercinta.</p>
<p>@Nuha Guwa, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/10/tajuk-dongeng-cinderella-dan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>te.Lez.kop: Malu Sama Umur</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/05/te-lez-kop-malu-sama-umur/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/05/te-lez-kop-malu-sama-umur/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 08:25:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Telezkop]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17099</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Tya Andriani
Beberapa hari ini saya bergabung dengan komunitas dan di komunitas itu, saya bertemu dengan beberapa teman-teman SMA. Anak-anak SMA ini berusia sekitar 16-19 tahun. Dari beberapa kali bertemu, saya menduga beberapa di antara mereka berorientasi lesbian.
Anak SMA lesbian?
Kenapa tidak? Tapi ini meninggalkan pertanyaan di benak saya: bagaimana mereka bisa tahu orientasi seksual mereka dan bersikap santai dengan orientasi itu? Pasti karena mereka mengenal diri mereka dengan baik.
Yang seru, setelah beberapa kali saya bergabung diskusi dan mengobrol secara pribadi dengan mereka, saya terpana dalam panah kekaguman. Saya tidak bisa  ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/number.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17100" title="number" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/number-265x300.jpg" alt="" width="265" height="300" /></a>Oleh: Tya Andriani</p>
<p>Beberapa hari ini saya bergabung dengan komunitas dan di komunitas itu, saya bertemu dengan beberapa teman-teman SMA. Anak-anak SMA ini berusia sekitar 16-19 tahun. Dari beberapa kali bertemu, saya menduga beberapa di antara mereka berorientasi lesbian.</p>
<p>Anak SMA lesbian?</p>
<p><span id="more-17099"></span>Kenapa tidak? Tapi ini meninggalkan pertanyaan di benak saya: bagaimana mereka bisa tahu orientasi seksual mereka dan bersikap santai dengan orientasi itu? Pasti karena mereka mengenal diri mereka dengan baik.</p>
<p>Yang seru, setelah beberapa kali saya bergabung diskusi dan mengobrol secara pribadi dengan mereka, saya terpana dalam panah kekaguman. Saya tidak bisa  menyepelekan remaja-remaja muda ini. Mereka cerdas. Pengetahuan mereka luas. Daftar bacaan buku mereka sangat banyak, termasuk buku-buku fiksi/non fiksi klasik yang berat. Daftar film yang ditonton bukan sekadar film <em>mainstream</em>, tapi juga film-film budaya dan seni. Dari semua bacaan dan tontonan itu, mereka menjadi remaja yang berpengetahuan dan penuh percaya diri.</p>
<p>Saya tidak menduga bahwa remaja lesbian jauh lebih maju daripada lesbian angkatan saya (angkatan tua). Kebebasan pengetahuan yang bisa didapat dengan mudah membuat pola pikir menjadi lebih terbuka. Saya duduk bertiga dengan dua lesbian yang masih duduk di kelas satu SMA dan tiga SMA, berbicara tentang politik dan <em>cinematography </em>(perhatian, bukan tentang topik lesbian). Saya seperti duduk berbicara dengan teman-teman seusia saya, bahkan teman-teman yang berusia jauh lebih tua.</p>
<p>Usia memang relatif. Ada yang berusia 16 tahun tapi sudah terlihat sangat dewasa, dari cara berbicara, cara membawakan dirinya, karakternya, dan caranya menilai kehidupan. Ada yang berusia 30 tahun tapi tidak tahu dengan rencana masa depan. Ada yang berusia 40 tahun tapi masih bersikap kekanak-kanakan. Wah, malu sama umur! Benar, umur tidak menentukan kebijaksanaan seseorang. Ada baiknya sebagai lesbian, kita juga berteman dengan lesbian lain yang berbeda umur sehingga yang lebih dewasa bisa menyebarkan kedewasaannya.</p>
<p>Saya percaya pada kekuatan kolektif kaum muda. Negara yang maju adalah negara yang memiliki kaum muda yang cerdas dan produktif. Saya rasa ini berlaku juga untuk dunia lesbian. Memandang remaja lesbian yang masih SMA, yang tahu apa yang mereka mau, saya merasa memiliki semangat lebih tinggi. Angkatan lesbian dewasa yang lebih baik dan hebat menanti di masa depan. Kaum lesbian akan menempati tempat-tempat istimewa di berbagai posisi penting masyarakat sehingga mau tidak mau, masyarakat akan menerima keberadaan kaum homoseksual karena kekuasaan ini.</p>
<p>Di luar negeri, untuk festival-festival film international, ada desas desus yang mengatakan bahwa kekuatan film internasional dipegang oleh kaum gay. Tidak heran jika sutradara/film maker homoseksual bisa berkiprah dengan baik di industri film-film berkualitas seni dan mendapat apresiasi tinggi. Bahkan untuk industri fashion, kita juga tahu bagaimana kaum homoseksual menguasai industri tersebut. Kekuatan kolektif ini mendorong masyarakat umum untuk menerima mereka sebagai bagian penting dan menganggapnya sebagai hal yang wajar.</p>
<p>Saya rasa industri lain butuh kaum lesbian yang kuat untuk duduk di posisi kunci sehingga dengan kekuasaan ini, masyarakat umum akan melihatnya sebagai hal yang wajar. Remaja-remaja lesbian yang masih duduk di SMA dengan pengetahuan mereka yang sudah luas dan kepercayaan diri mereka untuk bercita-cita tinggi sungguh mengharu biru hati saya. Ya, pengalaman mereka memang masih belum ada dan pengalaman memegang kendali penting untuk menjadi sosok manusia yang hebat di masyarakat. Namun, pengalaman bisa datang dengan sendirinya dengan alamiah. Ibaratnya, pengalaman adalah bibit, sementara tanah yang subur adalah pengetahuan yang ada di kepala.</p>
<p>Remaja lesbian, khususnya yang masih SMA, jangan berhenti mencerdaskan diri. Mencerdaskan diri harus juga dibarengi dengan karakter yang baik serta positif. Membaca jurnal-jurnal psikologi tentang pertumbuhan remaja, remaja lesbian yang pertumbuhannya baik adalah remaja yang diberi berbagai akses pengetahuan tentang kehidupan serta ajaran tentang kemanusiaan. Yang harus diingat juga keberhasilan tidak didapat dalam sekejab mata dan instan, tapi butuh perjuangan nyata. Semoga SepociKopi bisa menjadi mercu suar bagi remaja lesbian, (calon) pemimpin, karakter, sosok, tokoh hebat di masa depan.</p>
<p>Benar banget kata-kata ini dari Joan Collins: <em>Age is just a number. It&#8217;s totally irrelevant, unless of course you happen to be a bottle of wine.<br />
</em></p>
<p>@Tya Andriani, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/05/te-lez-kop-malu-sama-umur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tajuk: (Bukan) Ibu dan Kita</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/20/tajuk-bukan-ibu-dan-kita/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/20/tajuk-bukan-ibu-dan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2011 12:19:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Tajuk]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16842</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nuha Guwa
Ketika aku masih duduk di sekolah dasar, aku paling malas bangun pagi. Namun, ibuku ini selalu sabar membujuk agar aku menghirup udara bersih setiap hari. Dia menemaniku bermain badminton di bawah sinar mentari. Katanya biar tulang-tulangku kokoh dan sekuat baja. Ayahku, beliau selalu  mengajakku menyempatkan diri berkunjung ke tetangga kami yang kulit dan statusnya sangat berbeda. Sehingga aku mengenal apa artinya kemuliaan dan toleransi. Mereka memelihara sehelai jiwaku yang masih kecil untuk selalu peduli dengan kepapaan orang lain.
Ayahku &#8211; meski bukan ayah sesungguhnya, dan ibuku &#8211; meski ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/mom-and-i.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-16843" title="mom-and-i" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/mom-and-i.jpg" alt="" width="256" height="290" /></a>Oleh: Nuha Guwa</p>
<p><em>Ketika aku masih duduk di sekolah dasar, aku paling malas bangun pagi. Namun, ibuku ini selalu sabar membujuk agar aku menghirup udara bersih setiap hari. Dia menemaniku bermain badminton di bawah sinar mentari. Katanya biar tulang-tulangku kokoh dan sekuat baja. Ayahku, beliau selalu  mengajakku menyempatkan diri berkunjung ke tetangga kami yang kulit dan statusnya sangat berbeda. Sehingga aku mengenal apa artinya kemuliaan dan toleransi. Mereka memelihara sehelai jiwaku yang masih kecil untuk selalu peduli dengan kepapaan orang lain.</em></p>
<p><em><span id="more-16842"></span></em><em>Ayahku &#8211; meski bukan ayah sesungguhnya, dan ibuku &#8211; meski bukan ibu sesungguhnya, namun mereka membesarkan aku dengan perjuangan  yang tidak tergambarkan. Ibu masih terus membuatku merasa hidup dan berharga sebagai manusia. Dia tidak berkecil hati saat mengetahui anak yang diambilnya dari sebuah panti asuhan ternyata seorang lesbian. </em></p>
<p><em>Ibuku &#8211; ibu yang bukan ibuku ini, telah membuktikan cintanya dengan terus membahagiakanku. Dengan seluruh kemuliaan Tuhan, dia sudah membuktikan semua itu tanpa menilai dari darah mana aku berasal. Ketika kamu menanyakan seberapa besar aku menilai ibuku di hari Ibu? Sangat sulit kudeskripsikan, karena sebenarnya, tanpa cinta  ibu-yang-bukan-ibuku, aku hanyalah kehampaan.</em></p>
<p>***</p>
<p>Apa yang dicukilkan di atas adalah selarik catatan seorang teman yang berprofesi sebagai pengacara. Dia menjawab email di atas ketika saya tanyakan apa arti ibu baginya. Selama ini keluarganya dikenal santun dan bermartabat. Orangtuanya memiliki nama baik di negeri ini. Berkat didikan tinggi, akhirnya dia bekerja di sebuah perusahan minyak. Namun ada keharuan yang lebih dashyat dari semua itu. Dia akhirnya mengetahui bahwa ternyata selama ini orangtua yang mengasihinya bukanlah ayah dan ibu kandung.</p>
<p><em>Bukan Ibu. </em>Kita tahu ada banyak kisah yang hampir-hampir mirip dengan versi di atas, baik yang sedih maupun yang bahagia. Kisah teman ini tentu menjadi catatan manis, betapa seseorang bisa menjadi seorang yang sangat berharga dari sosok ibu tanpa harus menjadi ibu yang sesungguhnya.</p>
<p>Kita sudah sering memaknai Hari Ibu di tanggal 22 Desember, dan selama ini sekedar mengingatkan bagaimana perjuangan sosok perempuan yang memiliki anak. Hari Ibu berkaitan dengan  bagaimana ibu bisa mendapatkan hak-hak mereka di bawah sebuah sistem dan politik negara. Peringatan untuk menghargai perempuan &#8211; khususnya ibu &#8211; memang patut ada, namun sayang, pembahasannya nyaris begitu-begitu saja.</p>
<p>Mari memaknai Hari Ibu melalui diri sendiri sebagai seseorang lesbian yang &#8220;bukan ibu&#8221; dan mungkin takkan bakal mendapat titel &#8220;ibu&#8221;. Ibu angkat dari teman saya tadi adalah BUKAN IBU (kandung). Beliau hanyalah seorang perempuan biasa yang memberikan dirinya ruang untuk mengasihi dan membesarkan seorang anak dari sebuah panti asuhan. Dia mengandung anak itu bukan dari rahimnya, tapi dari hatinya. Menjadi &#8220;bukan ibu&#8221; tidaklah berarti kita tidak mampu memberikan sesuatu layaknya seorang ibu berikan kepada anaknya. Sederhana saja, bahwa idealnya cinta, perhatian, materi, perjuangan, pengorbanan, ketulusan, keikhlasan seorang ibu juga bisa diberikan oleh siapa saja untuk manusia lain yang membutuhkannya.</p>
<p>Hidup dengan seorang pria bagi seorang lesbian adalah momok menakutkan. Memiliki anak dari mereka adalah menggelikan. Banyak lesbian yang kemudian memilih tidak menikah. Sebagian lain merasa nyaman hidup berdua hanya dengan pasangan. Sebagian lagi menginginkan bisa mengasuh anak-anak dari seorang lesbian yang memiliki anak. Di sisi lain, tidak semua lesbian menyukai anak-anak. Lihatlah, bagaimana manusia berbeda satu sama lain.</p>
<p>Terlepas dari model kehidupan apa yang sedang kita lalui sekarang, rasanya perlu merenungi makna &#8220;bukan ibu&#8221; tadi. Seperti apa rasanya berada di posisi sebagai ibu angkat teman lesbian kita? Jelas bahwa cinta dari seorang yang &#8220;bukan ibu&#8221; tetap bernilai. Sungguh tak ada yang paling dirindukan seorang manusia  selain menjadi berharga bagi manusia lain, terutama bagi seseorang yang dikasihinya. Barangkali menjadi &#8220;bukan ibu&#8221; menjadi satu sisi yang patut dipertimbangkan.</p>
<p>Selama kita hidup, mampukah memberi warna dan keceriaan pada sebuah tunas mungil? Mampukah mengasihi, memberikan kehidupan, dan perhatian yang layak? Mampukah menyebarkan cinta tanpa perlu menjadi sosok seorang ibu? Mampukah kita memberikan wawasan dan contoh positif kepada para remaja? Jika ibu adalah titel yang dihargai dan dipuja, seorang lesbian yang memiliki titel &#8220;bukan ibu&#8221; karena tidak pernah melahirkan dan membesarkan anak layak pula mendapat penghargaan tertinggi jikalau hatinya mengarah kepada perilaku seorang ibu: penuh kasih, mampu menyayangi, memberikan kesempatan, dan mendidik kaum muda (dan kaum lesbian) ke masa depan yang lebih cerah.</p>
<p>@Nuha Guwa, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/20/tajuk-bukan-ibu-dan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FabuLezlyCool: Sang Waktu</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/14/fabulezlycool-sang-waktu/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/14/fabulezlycool-sang-waktu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 05:11:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FabuLezlyCool]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16709</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Chossy Tan
Ralph Waldo Emerson seorang  penyair dan penulis esai terkenal dari Amerika pernah mengucapkan suatu kalimat yang sangat inspiratif, &#8220;Hidup itu seperti  taksi. Argo akan terus berjalan entah kita menuju ke suatu tempat atau kita hanya berhenti di tempat saja.&#8221;
Sebelum naik taksi pasti kita sudah tahu tujuan yang akan kita tempuh. Tidak mungkin kan kita naik taksi dan hanya berputar-putar saja karena bingung mau ke mana? Dan yang pasti hal tersebut akan memboroskan waktu dan uang. Siapa sih yang mau membayar taksi mahal-mahal tetapi tidak tahu tempat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/taxi_of_tomorrow2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16710" title="taxi_of_tomorrow2" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/taxi_of_tomorrow2-300x201.jpg" alt="" width="300" height="201" /></a>Oleh: Chossy Tan</p>
<p>Ralph Waldo Emerson seorang  penyair dan penulis esai terkenal dari Amerika pernah mengucapkan suatu kalimat yang sangat inspiratif, &#8220;Hidup itu seperti  taksi. Argo akan terus berjalan entah kita menuju ke suatu tempat atau kita hanya berhenti di tempat saja.&#8221;</p>
<p><span id="more-16709"></span>Sebelum naik taksi pasti kita sudah tahu tujuan yang akan kita tempuh. Tidak mungkin kan kita naik taksi dan hanya berputar-putar saja karena bingung mau ke mana? Dan yang pasti hal tersebut akan memboroskan waktu dan uang. Siapa sih yang mau membayar taksi mahal-mahal tetapi tidak tahu tempat yang akan di tuju? Hal itu sama seperti dalam kehidupan kita, seringkali kita tidak tahu apa yang menjadi tujuan hidup ini. Kita menghabiskan masa muda  dengan cara yang salah dan akhirnya tidak terasa umur semakin bertambah tetapi belum mendapatkan apa-apa.</p>
<p>Memiliki tujuan yang jelas membuat kita bersemangat dalam menjalani hidup. Sebagai lesbian, tentunya boleh saja  memiliki target-target tertentu dalam hidup,  seperti umur sekian harus lulus kuliah, umur sekian harus kerja atau buka usaha, umur sekian memiliki rumah, hidup bersama kekasih tercinta, merasa bahagia, nyaman, tentram dan kaya raya. Meskipun poin-poin selanjutnya terasa agak berat untuk diwujudkan, toh tidak ada salahnya tetap menjadi target dalam hidup kita, syukur-syukur  bisa terwujud.</p>
<p>Untuk mencapai  tujuan yang  sudah kita tetapkan  memang tidak mudah dan yang pasti harus berani bayar harga. Kita harus bekerja keras dan menghargai waktu. Karena waktu akan  terus bergerak, jadi sangat penting untuk menetapkan tujuan dan bersegera dalam menjalani hidup. Waktu adalah pemberian Tuhan yang begitu berharga, setiap hari Tuhan memberi kita duapuluh empat jam untuk kita berkarya, bersosialisasi dan beristirahat, dan itu adalah ukuran yang sangat sempurna. Tetapi apa yang biasanya kita lakukan dengan waktu? Kita lebih suka menyia-nyiakannya. Karena itu, kita selalu merasa kekurangan waktu. Akhirnya, bukan manfaat yang kita dapat tetapi kesenangan sesaat yang berujung pada penyesalan.</p>
<p>Waktu laksana argo yang terus berjalan. Jika menunda untuk mencapai suatu tujuan, pasti akan tertinggal. Coba saja sehari menunda pekerjaan, kemudian di hari berikutnya menunda lagi sebuah pekerjaan. Di hari selanjutnya berapa pekerjaan yang harus dilakukan? Tiga pekerjaan ekstra! Pekerjaan ini terus tertunda kalau tidak dikerjakan sampai akhirnya meledak menjadi masalah besar. Bagaimana bisa memiliki rencana seandainya lesbian lebih suka bermalas-malasan dan hidup santai?</p>
<p>Jika kita sudah menentukan tujuan dengan jelas dan pasti, maka “argo” yang dibayar akan sebanding dengan tercapainya tujuan. Tanpa tujuan yang jelas kita hanya melakukan pemborosan. Apa pun yang kita lakukan saat ini lakukan yang terbaik, sekalipun hasilnya belum kelihatan atau seolah-olah percuma. Saya percaya bahwa Tuhan melihat jerih payah pekerjaan saya. Bahkan sekali pun saya mengalami kegagalan, saya tidak menyerah untuk belajar tidak menyerah agar bisa terus bekerja dan berharap.</p>
<p>Tentukan tujuan hidup dan bayarlah untuk mencapai tempat itu. Ingat, waktu terus berputar; jangan sampai kita tertinggal. Ingat, argo terus maju; jangan sampai kita tidak punya uang untuk membayar seluruh biaya perjalanan.</p>
<p>@Chossy Tan, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/14/fabulezlycool-sang-waktu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membuka Jendela</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/13/membuka-jendela/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/13/membuka-jendela/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Dec 2011 07:15:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16689</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Appu
Di usia sebelas tahun, saya menyadari bahwa saya sudah tertarik pada makhluk perempuan. Tertarik pada rambutnya yang indah. Tertarik pada tengkuknya yang landai. Tertarik pada kelembutannya yang khas. Maka, saya mendekat dan terus mendekat pada perempuan. Hingga saya tersentak, kalau saya benar-benar jatuh cinta pada perempuan. Dan hanya bisa jatuh cinta pada perempuan.
Seterusnya saya jatuh cinta pada perempuan dan mau melakukan apa pun untuk orang yang saya cintai. Bak lagu dangdut, saya jatuh bangun mengejar perempuan. Semuanya saya lakukan dengan bahasa kerahasiaan. Tanpa kata. Sebab apabila saya lakukan dengan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/Open_Window_by_thefantasim.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16692" title="Open_Window_by_thefantasim" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/Open_Window_by_thefantasim-300x232.jpg" alt="" width="300" height="232" /></a>Oleh: Appu</p>
<p>Di usia sebelas tahun, saya menyadari bahwa saya sudah tertarik pada makhluk perempuan. Tertarik pada rambutnya yang indah. Tertarik pada tengkuknya yang landai. Tertarik pada kelembutannya yang khas. Maka, saya mendekat dan terus mendekat pada perempuan. Hingga saya tersentak, kalau saya benar-benar jatuh cinta pada perempuan. Dan hanya bisa jatuh cinta pada perempuan.</p>
<p><span id="more-16689"></span>Seterusnya saya jatuh cinta pada perempuan dan mau melakukan apa pun untuk orang yang saya cintai. Bak lagu dangdut, saya jatuh bangun mengejar perempuan. Semuanya saya lakukan dengan bahasa kerahasiaan. Tanpa kata. Sebab apabila saya lakukan dengan terang-terangan, maka yang tak sanggup saya hadapi adalah penolakan. Penolakan membuat saya patah hati. Patah hati menorehkan ingatan yang menyakitkan.</p>
<p>Dengan jatuh bangunnya saya dalam percintaan, saya berusaha menunjukkan kepada para perempuan yang saya cintai bahwa sekali pun berorientasi seksual berbeda dengan orang kebanyakan, saya selalu serius dengan mereka. Akibatnya, saya diam ketika diduakan kekasih. Saya diam ketika kekasih memilih jalan dengan seorang lelaki di hari jadian kami. Saya diam ketika selama bertahun-tahun dia menunjukkan keraguan untuk melanjutkan ke hubungan ke jenjang lebih serius. Saya diam ketika seorang perempuan tidak jelas maunya apa dan menggantungkan saya. Saya diam ketika saya dimanfaatkan untuk kepentingannya saja.</p>
<p>John Dewey, seorang filsuf, kritikus sosial, dan pakar pendidikan kenamaan dari Amerika Serikat pernah berkata, “Pendidikan bukanlah persiapan menghadapi hidup; pendidikan adalah hidup itu sendiri.” Sebagai filsuf, Dewey percaya kalau filsafat haruslah berpijak pada pengalaman hidup dan mengolah pengalaman tersebut secara kritis. Jika bisa saya interpretasikan pemikiran Dewey ini, bahwa kebijaksanaan lahir dari refleksi pengalaman hidup.</p>
<p>Dari berbagai kepahitan yang dialami serta ribuan diskusi dengan teman-teman, akhirnya saya menyadari, saya hidup hanya bercermin dengan diri sendiri. Semua yang saya lakukan berpusat pada diri sendiri. Keseriusan saya tak lebih dari sebuah pembuktian terus-menerus. Bukan penerimaan terhadap hidup yang kita miliki. Akibatnya, kita malah bermusuhan dengan sekitar kita, dengan menganggap kita berbeda. Permusuhan seperti itu justru membuat kita makin terpojok. Padahal pada kenyataannya, kita sama dengan orang lain. Hanya berbeda selera. Beda selera berarti normal, kan? (tersenyum)</p>
<p>Seberapa banyak dari kita yang hidup bak cermin? Ketika bercermin, yang dilihat adalah bayangan kita sendiri. Tidak salah untuk banyak bercermin. Melihat ke dalam pribadi dan hidup kita sendiri. Ingin membuat perbaikan-perbaikan sana-sini. Menginginkan percintaan yang lebih baik. Perempuan secantik Agnes Monica yang hanya ada untuk kita sendiri. Seorang Angelina Jolie di atas ranjang kita setiap malam, mungkin. Perempuan yang memuja kita seumur hidup. Namun, pernahkah kita terpikir untuk mengubah cermin itu menjadi sebuah jendela? Jendela bisa dibuka, sehingga orang yang berada di baliknya bisa melihat keluar. Banyak yang bisa dilihat di luar jendela. Jendela juga mampu mengubah hawa, memberi ruang untuk udara masuk.</p>
<p>Konsep jendela ini saya dapatkan saat saya tengah mencari kutipan inspirasi yang pas untuk laman jejaring sosial khusus para orangtua murid. Saya mendapatkan kutipan dari Sidney J. Harris, seorang jurnalis dan pendidik, yang berkata, “Tujuan utama dari pendidikan adalah mengubah cermin menjadi jendela.” Jika pendidikan adalah hidup itu sendiri, maka sesungguhnya tujuan hidup ialah mengubah cermin menjadi jendela.</p>
<p>Bagaimana caranya?<br />
<strong><br />
1. Gunakan cermin itu untuk berdamai dengan diri sendiri.</strong><br />
Akui saja, kita adalah perempuan pecinta perempuan. Dalam hal kehidupan cinta, kita merasa lengkap bila berpasangan dengan sesama perempuan. Bercermin juga berarti melihat ke dalam diri, mengenali hal-hal yang dapat kita lakukan. Menggali segala potensi amat penting dalam proses menyadari, bahwa seorang lesbian dapat memberikan kontribusi untuk hidup. Mengenal siapa kita sesungguhnya bisa membantu pencarian pasangan yang sesuai. Terus terang, saat menggali ke dalam pribadi saya, saya jadi lebih mudah menetapkan kriteria perempuan yang ingin saya bawa ke hubungan yang serius. Justru itu membuat saya tenang karena mengerti yang benar-benar saya inginkan.</p>
<p><strong>2. Membuka jendela</strong><br />
Membuka jendela artinya mulailah membuka wawasan hidup. Wawasan hidup tidak melulu bicara pengetahuan yang muluk-muluk. Wawasan hidup bisa berupa mengenali kebutuhan keluarga kita. Itu jauh lebih baik daripada memusuhi mereka gara-gara keluarga belum bisa cocok dengan selera cinta kita. Bantu keluarga kita sampai mereka menyadari, anaknya sebenarnya bisa berbakti dengan caranya sendiri.</p>
<p>Membuka wawasan hidup juga berarti memperluas pergaulan. Saat memperluas pergaulan, satu hal yang perlu kita ingat adalah jadilah diri sendiri. Menutup diri justru akan lebih memberi kesan aneh daripada bikin penasaran. Pada suatu hari, saya mengenakan jersey klub bola kesayangan di tempat kerja. Seorang rekan perempuan yang tidak tahu saya lesbian menjejeri saya dan berkomentar, “Lu feminin dikit kenapa sih?”</p>
<p>Dengan santai, saya menjawab, <em>“Well, this is who I am.” </em>Si rekan malah salah tingkah dan menimpali, “Kalau cowok, ganteng banget lu. Hahaha!” Saya gesit merespon, “Kenapa emang? Naksir yah?”</p>
<p><strong>3. Menjadi jendela</strong><br />
Saat menjadi jendela, kita siap untuk memberikan kontribusi kepada sekeliling kita. Apakah seorang fotografer, musisi, arsitek, guru, kepala sekolah, apa pun pekerjaan kita, pekalah pada isu-isu yang membutuhkan kehadiran kita di situ. Sebab, sangat sayang bila hidup hanya sekedar dihargai dengan kehidupan cinta dengan pasangan. Hanya sibuk dengan mengejar perempuan-perempuan tidak jelas dan belum tentu mau bersama kita. Atau sibuk memunguti kepingan-kepingan hati akibat ditolak atau putus.</p>
<p>Lihat Harvey Milk. Bayangkan kalau dia cuma mengurusi pasangannya seumur hidupnya. Tidak akan ada revolusi di Castro. Lebih banyak gay yang bunuh diri atau hidupnya berakhir di ujung candu dan obat bius. Atau contoh Ellen Degeneress. Tak akan pernah ada yang bisa membuat jutaan orang di seluruh dunia terhibur dan terinspirasi dengan <em>daytime talkshow</em>-nya, bila dia terus-menerus terpuruk akibat ditolak sana-sini selepas<em> coming out.</em></p>
<p>Berkaryalah sebanyak mungkin. Sesungguhnya, itu yang sanggup membuat seorang manusia merasa berarti: ketika dia menyadari, bahwa dia adalah bagian penting dalam kehidupan banyak orang. Sebagai seorang guru, saya mendidik para siswa saya untuk bisa menghargai diri sendiri sehingga mereka bisa memberikan yang terbaik. Sebagai teman, terlalu egois jika saya tidak berbagi pengalaman berharga kepada orang lain. Sebagai lesbian, penting untuk membuat orang menyadari kalau kita sama normalnya dengan mereka, hanya berbeda selera.</p>
<p>Di balik jendela yang terbuka itu, siapa tahu ada perempuan indah yang tersentuh akan kehadiran kita.</p>
<p>@Appu, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/13/membuka-jendela/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Trilogi Cinta: I Love Me! (2)</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/07/trilogi-cinta-i-love-me-2/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/07/trilogi-cinta-i-love-me-2/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Dec 2011 04:18:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16569</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Carmen dan Lakhsmi
(Sambungan dari bagian 1)
Nah, kemarin kan kita bicara soal akibat dari “tidak mencintai diri sendiri” yang tidak bisa dianggap enteng, karena bisa memengaruhi kualitas hidup si individu lesbian. Perasaan inferior terhadap kaum heteroseksual membuat si lesbian menjadi kikuk bergaul dengan kaum itu karena dihantui perasaan takut ketahuan lesbian melulu. Dia bahkan tidak berani melakukan hal-hal intelektual yang berhubungan dengan LGBT, misanya mengikuti seminar/diskusi tentang homoseksual, membeli buku gay/lesbian di toko buku, dan lain-lain. Istilah ini dinamakan heterophobia. Di kasus pertama, Irene akhirnya diam-diam menjadi lesbian yang introver, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/i_love_me_large.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16573" title="i_love_me_large" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/i_love_me_large-229x300.jpg" alt="" width="229" height="300" /></a>Oleh: Carmen dan Lakhsmi</p>
<p>(Sambungan dari <a href="http://sepocikopi.com/2011/12/06/trilogi-cinta-i-love-me-1/">bagian 1</a>)</p>
<p>Nah, kemarin kan kita bicara soal akibat dari “tidak mencintai diri sendiri” yang tidak bisa dianggap enteng, karena bisa memengaruhi kualitas hidup si individu lesbian. Perasaan inferior terhadap kaum heteroseksual membuat si lesbian menjadi kikuk bergaul dengan kaum itu karena dihantui perasaan takut ketahuan lesbian melulu. Dia bahkan tidak berani melakukan hal-hal intelektual yang berhubungan dengan LGBT, misanya mengikuti seminar/diskusi tentang homoseksual, membeli buku gay/lesbian di toko buku, dan lain-lain. Istilah ini dinamakan <em>heterophobia</em>. Di kasus pertama, Irene akhirnya diam-diam menjadi lesbian yang introver, tidak pede, penakut, kaku, pendiam, serba salah, dan tidak bisa bergaul dengan lingkungannya.</p>
<p><span id="more-16569"></span>Mungkin akan ada yang bilang, &#8220;Ya, sudahlah, perasaanku yang negatif tidak akan merugikan orang lain. Aku menyimpannya untuk diriku saja.&#8221; Eh, enak aja, kenyataannya tidak begitu! Perasaan yang dialami manusia selalu terpantul lewat perilaku. Perilaku lesbian yang buruk akan berpengaruh pada perasaan, pikiran, dan sikap orang lain juga, bahkan memiliki akibat yang jahat bagi orang-orang di sekelilingnya.</p>
<p>Inilah ilustrasi nomor dua. Perhatikan&#8230;.</p>
<p><em>Siti adalah tipe orang yang suka bingung. Seperti saat ini, dia bingung mau memutuskan apa dalam hidupnya. Ujung-ujungnya selalu tidak pernah jelas. Contoh deh, soal percintaan. Siti bolak-balik pacaran tapi kandas dalam waktu singkat. Soalnya Siti suka menduakan pacarnya. Siti biasanya jatuh cinta sama makhluk berjenis kelamin cewek. Tidak ada hentinya dia diputusin cewek karena Siti juga berpura-pura pacaran sama lelaki jika sedang berpacaran dengan pacar ceweknya. Siti selalu trauma jika diputusin perempuan. Apa mereka tidak tahu bahwa susah berpura-pura pacaran dengan cowok, pikir Siti geram. Dia tidak pernah mencintai para lelaki itu! Capek, deh! Kadang Siti sampai tidak bisa tidur gara-gara ini. Kalau pun tidur, dia selalu gelisah dan terbangun beberapa kali. Siti pun mulai mencoba-coba merokok. Berbatang-batang rokok dihabisinya saat dia sedang gelisah, padahal dia cuma ingin menenangkan perasaannya. Aduh, ini kan yang namanya gejala-gejala depresi?</em></p>
<p><em>Padahal yang Siti lakukan, menurutnya, merupakan tameng dan pengorbanan besar untuk melindungi dirinya dan kekasih pujaan hati untuk bisa melanjutkan hubungan mereka. Biar tidak diejek teman-temannya. Biar kelihatan &#8220;normal&#8221;. Biar tidak tidak ketahuan lesbian. Masa mau diusir keluarga karena menjadi lesbian? Dia ingat waktu di sekolah dulu. Siti yang sangat tomboy sering diledek teman-temannya karena berbeda. Jadilah Siti bersikeras memenuhi ekspektansi lingkungan mulai dari bagaimana cara berpakaian, bertingkah laku, sampai ke hal ekstrim, yaitu berpacaran yang tidak sesuai hatinya. Salah satu mantan pacar ceweknya pernah berkata, &#8220;Aku menghargai diriku, Siti. Aku tidak mau kamu menyakiti diriku terus-menerus dengan menduakanku. Yang kamu lakukan bukan cinta.&#8221;</em></p>
<p><em>Siti makin bingung. Saking bingungnya, fokusnya selalu ke masalah percintaan melulu. Kuliahnya tidak pernah beres. Kadang-kadang Siti menyiksa dirinya dengan bekerja mati-matian sampai livernya tersiksa dan dia harus diopname di rumah sakit. Dia juga sibuk pacaran dengan cewek, sama satu, dua, tiga orang. Perasaannya galau tiada henti. Hatinya sakit terus-menerus. Di ambang frustrasinya, Siti memutuskan untuk menikah dengan lelaki yang tidak pernah dia cintai. Dia meyakini, menikahi lelaki ini adalah hukuman yang harus dihadapinya sebagai lesbian.</em></p>
<p>Pusing ya baca masalah Siti? Hadeeeh, pusing bangeeet! Soal perasaan cintanya pada pacar perempuannya nih, misalnya. Menurut Siti, cintanya kepada pacar perempuannya sangat besar tuh. Siti berani mengorbankan perasaan dirinya sampai seluruh jiwa raga nyeriiii. Padahal dia tidak menyadari, yang sakit bukan dirinya saja. Dia juga mengorbankan perasaan orang lain, seperti pacar laki-laki dan pacar perempuannya. Coba kalau si nona ini mencintai dirinya sepenuh hati, sedikit sekali kemungkinan dia bermain-main sama perasaan orang lain, apalagi perasaan dirinya sendiri. Dia takkan harus menanggung malam-malam penuh kesepian dan kemarahan yang berbentuk tangisan.</p>
<p>Atau, jika dia belum siap mencintai diri sendiri, lebih baik ditunda dulu kisah kasihnya pada perempuan, atau tentu saja, tidak memutuskan menikah. Menikah tuh bukan solusi bagi permasalahan urusan percintaan, apalagi percintaan lesbian. Masalah Siti bisa merembet ke mana-mana dan semakin parah untuk dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya. Virus &#8220;tidak mencintai diri sendiri&#8221; adalah virus yang sangat jahat, bisa membunuh pelan-pelan. Mantan ceweknya Siti tahu secara intuitif bahwa hubungannya dengan Siti adalah hubungan yang tidak sehat. Dia tidak mau ikut-ikutan terjangkit virus seperti ini, sehingga memilih meninggalkan Siti.</p>
<p>Akhirnya lagi-lagi Siti gigit jari, diputus pacar yang dicintainya. Bete banget deh.</p>
<p>Dalam istilah psikologi, masalah yang dihadapi Siti disebabkan oleh perkembangan identitas diri yang kacau balau. Siti tidak mengenal siapa dirinya. Dia tidak tahu bagaimana caranya bersikap. Dia berusaha menjadi orang lain dengan berpura-pura sampai tingkat ekstrim. Akibatnya, keputusan-keputusan Siti dalam kehidupannya menjadi perilaku dengan resiko tinggi. &#8220;Resiko tinggi&#8221; di sini artinya aksi yang berpotensi menjadi masalah di kemudian hari. Misalnya, bergonta-ganti pacar, menduakan pacar (istilah kerennya <em>prosmicuity</em>), merokok tak kenal waktu, bolos kuliah, menyakiti diri sendiri dengan bekerja tanpa henti, menangis terus-terusan, tidur yang tidak pernah cukup, menyiksa diri dengan menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya.</p>
<p>Siti mewakili lesbian yang identitasnya kacau karena ekspektasi masyarakat yang sangat tinggi terhadap seksualitas dan gendernya. Dia tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengenal dan mencintai dirinya secara utuh. Permasalahan yang umum terjadi pada lesbian yang seperti ini biasanya si lesbian itu sendiri juga turut memelihara identitas yang kacau sehingga menimbulkan kerusakan masa depan. Untuk mencegah perkembangan identitas yang berantakan, cara paling efektif dan bisa dilakukan oleh Siti adalah dengan <strong>menerima diri apa adanya</strong>. Hal &#8220;menerima diri&#8221; adalah pertolongan pertama pada kecelakaan mental.</p>
<p>Eh tunggu, bukan cuma itu aja loh! Ternyata &#8220;menerima diri&#8221; pun tidak cukup untuk kesehatan jangka panjang. Selama pengobatan untuk kesehatan jiwa, pembangunan dan pembentukan &#8220;konsep diri yang baik&#8221; masih harus dikasih pertolongan pertama terus-menerus. Akar permasalahan pada diri Siti perlu dituntaskan setuntas-tuntasnya sampai Siti menjadi sehat lagi. Yaitu, Siti sebaiknya mencari afirmasi (bantuan kekuatan) untuk menyadari bahwa menjadi lesbian itu bukan beban atau penyakit atau hukuman, tapi anugrah. Dia bukan pula satu-satunya lesbian di dunia ini, bahwa masih ada ratusan juta manusia seperti dirinya yang memenuhi bumi, tercipta karena cinta. Siti juga harus belajar menghargai diri, menempatkan dirinya sebagai sosok yang disayang. Artinya dia sebaiknya kuliah dengan baik, tidak menduakan kekasih perempuan, tidak perlu berpura-pura pacaran dengan lelaki, tidak melarikan diri dengan merokok/minuman keras saat menyadari sedang tertekan, menghentikan rencana pernikahan, dan lain-lain. Jika Siti terlalu tertekan, Siti bisa membagi bebannya kepada orang yang bisa menghargai hidupnya sebagai lesbian. Ingat saja, jika ada orang lain yang berusaha merendahkan nilai kelesbianan Siti, artinya nilai Siti berada di atas mereka. Inilah vaksin &#8220;mencintai diri&#8221; yang digunakan untuk melawan virus <em>denial</em> pada lesbian seperti Siti.</p>
<p><em>Healing homosexual</em> adalah istilah yang digunakan untuk membantu lesbian menuju proses <em>self-acceptance</em>. Dalam proses <em>self-acceptance</em> ini, banyak yang harus lesbian lakukan. Contoh: mengikis habis perasaan benci-pada-diri dengan menyadari besarnya cinta Tuhan pada manusia, khususnya diri sendiri; memaafkan orang lain yang pernah menghina dirinya, khususnya kelesbianannya; dan akhirnya membantu lesbian lain yang juga mengalami masalah yang sama. Menurut psikologi, membantu sesama juga sebuah terapi yang memberikan perasaan dihargai, dicintai, dan berguna.</p>
<p>Fiuh, panjang ya. Masih ada lagi loh. Sudah siap dengan kisah lesbian lain dalam urusan percintaan dan konsep cinta-diri?</p>
<p>(bersambung <a href="http://sepocikopi.com/2011/12/08/trilogi-cinta-i-love-me-3/">ke bagian 3</a>)</p>
<p>@Carmen, Lakhsmi, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/07/trilogi-cinta-i-love-me-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tajuk: Percaya Diri dan Kita</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/06/tajuk-percaya-diri-dan-kita/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/06/tajuk-percaya-diri-dan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 12:14:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Tajuk]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16557</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nuha Guwa
Lesbian? Tapi tidak percaya diri? Tunggu. Jangan buat pengakuan yang mengerikan, atau pernyataan yang hanya memberikan alasan-alasan agar kita cukup pantas dikasihani. Rasa percaya diri tentu saja bukan kodrat pemberian Tuhan seperti halnya kelesbianan. Rasa pede &#8211; seperti juga rezeki, baru bisa muncul jika kita yang memunculkannya. Untuk itu penting bagi kita memberi ruang bagi diri untuk membuatnya tumbuh ke permukaan.
Rasa percaya diri sebenarnya bukan barang mahal, bukan makhluk eksklusif, bukan juga sesuatu yang sulit untuk diupayakan. Sikap percaya muncul akibat kebiasaan-kebiasaan kita dalam mengembangkan sikap dan pendapat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/Build-Self-Confidence.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16559" title="Build-Self-Confidence" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/Build-Self-Confidence-245x300.jpg" alt="" width="245" height="300" /></a>Oleh: Nuha Guwa</p>
<p>Lesbian? Tapi tidak percaya diri? Tunggu. Jangan buat pengakuan yang mengerikan, atau pernyataan yang hanya memberikan alasan-alasan agar kita cukup pantas dikasihani. Rasa percaya diri tentu saja bukan kodrat pemberian Tuhan seperti halnya kelesbianan. Rasa pede &#8211; seperti juga rezeki, baru bisa muncul jika kita yang memunculkannya. Untuk itu penting bagi kita memberi ruang bagi diri untuk membuatnya tumbuh ke permukaan.</p>
<p><span id="more-16557"></span>Rasa percaya diri sebenarnya bukan barang mahal, bukan makhluk eksklusif, bukan juga sesuatu yang sulit untuk diupayakan. Sikap percaya muncul akibat kebiasaan-kebiasaan kita dalam mengembangkan sikap dan pendapat positif tentang kita sendiri. Bagaimana orang mau menghargai jika ternyata kita sendiri tidak memberikan penghargaan yang cukup tinggi pada diri sendiri?</p>
<p>Benar, seringkali memang lingkungan tempat kita berada tidak mendukung sisi kepercayaan diri ini sehingga kita takut mencoba, takut mengemukakan pendapat, takut menjawab sesuatu, dan takut untuk berbuat salah. Fenomena enggan mencoba sesuatu karena takut malu atau salah sebenarnya membuat kepribadian menjadi kerdil, terkungkung, dan pasti jiwa yang begini akan sering dirundung masalah.</p>
<p>Ketika takut dimarahi, kita diam saja. Mahasiswa takut tunjuk tangan ketika dosen bertanya, karena merasa tidak yakin dosen menerima pandangan kita. Mau menyapa tapi takut tidak dibalas karena merasa tidak selevel. Mau berkenalan, tapi malu setengah mati. Mau ikut seminar gratis, tidak berani karena tidak ada akses. Mau ikut kursus, harus cari teman dulu. Mau menyatakan keberatan, tapi gengsi. Mau mencoba, tapi takut gagal. Mau menjadi pemimpin, tapi takut ketahuan lesbian. Jika tindakan keseharian kita didasari dengan rasa takut, ragu-ragu, malas, tidak yakin, atau malu kapan kesuksesan akan datang? Kapan kita tahu jawaban itu benar atau tidak? Bagaimana kita bisa tahu dosen yang cantik itu memperhatikan kita? Oh,<em> come on!</em></p>
<p>Kita sudah tahu banyak kaum homoseksual diberkahi bakat-bakat dan keterampilan luar biasa. Sisi ini sebenarnya dapat dijadikan aset untuk kemajuan diri sendiri. Namun bagaimana caranya mengetahui kemampuan tersebut jika kita takut mencoba? Sayang sekali jika di antara kita sampai ada yang tidak mau bangkit memperbaiki kondisi hidup, atau terlalu merasa sudah cukup puas dengan keadaan, atau malah tidak ingin menjadi pendengar/murid yang baik. Padahal, seharusnya kita punya potensi yang jauh lebih besar.</p>
<p>Menurut aspek psikologi, rasa percaya diri berhubungan dengan bagian dari alam bawah sadar dan tidak terpengaruh oleh argumentasi rasional. Ia adalah dampak dari hal-hal yang bersifat emosional dan perasaan. Maka untuk membangun percaya diri diperlukan alat yang sama, yaitu emosi, perasaan, dan imajinasi. Emosi, perasaan, dan imajinasi positif inilah yang mengelaborasi dan meningkatkan rasa percaya diri. Sebaliknya emosi, perasaan, dan imajinasi negatif akan menurunkan rasa percaya diri.</p>
<p>Bagaimana cara supaya diri kita selalu dikelilingi oleh energi positif? Sederhananya, rasa percaya diri sangat berhubungan dengan otak manusia. Berpikirlah positif, maka hal yang positif pun akan tiba. Berpikirlah negatif, hal yang negatif pun akan terbentuk. Rasa percaya diri menjadi bagian penting dari kehidupan karena seseorang akan mampu mengeksplorasi kemampuan dirinya secara maksimal. Percaya diri ini membuat kita selalu berpikiran positif dan tidak tergantung kepada orang lain. Percaya diri juga membuat kita tidak mudah ketakutan sampai tahap paranoid kalau-kalau keberhasilan kita diserobot orang lain; ide atau karya kita dicuri orang lain; atau bisnis kita ditiru orang lain. Ini adalah gejala-gejala rasa rendah diri yang parah.</p>
<p>Untuk memenuhi bekal rasa percaya diri, ciptakan lingkungan yang penuh dengan dengan orang-orang yang kita nilai memiliki konsep diri yang keren. Mereka yang memiliki ide dan cita-cita yang tak terbatas. Percaya diri adalah penyakit menular! Rasa percaya diri seseorang pasti bisa menular pada kita. Bergaul dengan teman-teman yang hidupnya positif akan memberikan kita sugesti yang positif juga. Bergaul dengan orang bijak akan memberikan wawasan yang bijak juga.</p>
<p>Percaya diri bukan artinya narsis, bukan pula kesombongan. Percaya diri bukan pertentangan dengan sikap kesederhanaan atau hidup ala kadarnya. Percaya diri bukan bertujuan untuk menjatuhkan orang lain. Memiliki percaya diri akan membuat seorang lesbian menjadi lesbian yang bersinar dalam segala aspek, mulai dari pekerjaan, sekolah, dan hubungan <em>personal </em>dengan sesama lesbian lain, serta masyarakat. Percaya diri adalah salah satu sumber penting dari kata <em>pride </em>yang sering dijadikan motto istimewa bagi komunitas lesbian sedunia. Wahai lesbian, sudahkah kita memiliki rasa percaya diri yang kuat? Sudahkah kita bangga dengan diri sendiri?</p>
<blockquote><p><em>Be careful what you think, for your thoughts become your words.<br />
Be careful what you say, for your words become your actions.<br />
Be careful what you do, for your actions become your habits.<br />
Be careful what becomes habitual, for your habits become your destiny. </em></p></blockquote>
<p>@Nuha Guwa, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/06/tajuk-percaya-diri-dan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Noktah Merah: Virginia Woolf, Penulis Lesbian Garis Depan</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/11/25/noktah-merah-virginia-woolf-penulis-lesbian-garis-depan/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/11/25/noktah-merah-virginia-woolf-penulis-lesbian-garis-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 11:24:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Noktah Merah]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16279</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lakhsmi

The truth is, I often like women. I like their unconventionality. I like their completeness. I like their anonymity.
Kutipan ini adalah kutipan klasik dan legendaris dari Virginia Woolf, di buku esainya yang terkenal berjudul A Room of One’s One. Terlahir dengan nama Adeline Virginia Stephen tanggal 25 Januari 1882 di Hyde Park Gate, London. Dia adalah pengarang yang berasal dari Inggris.

Virginia menulis banyak sekali karya dalam bentuk novel, cerita pendek, dan kumpulan esai. Karya-karyanya dihormati sampai sekarang, karena itu Virginia ditahbiskan sebagai sastrawan modern di abad dua puluh. Novel-novelnya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/vw.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16283" title="vw" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/vw-222x300.jpg" alt="" width="222" height="300" /></a>Oleh: Lakhsmi<br />
<em><br />
The truth is, I often like women. I like their unconventionality. I like their completeness. I like their anonymity.</em></p>
<p>Kutipan ini adalah kutipan klasik dan legendaris dari Virginia Woolf, di buku esainya yang terkenal berjudul <em>A Room of One’s One.</em> Terlahir dengan nama Adeline Virginia Stephen tanggal 25 Januari 1882 di Hyde Park Gate, London. Dia adalah pengarang yang berasal dari Inggris.</p>
<p><span id="more-16279"></span><br />
Virginia menulis banyak sekali karya dalam bentuk novel, cerita pendek, dan kumpulan esai. Karya-karyanya dihormati sampai sekarang, karena itu Virginia ditahbiskan sebagai sastrawan modern di abad dua puluh. Novel-novelnya banyak yang terkenal, inilah beberapa di antaranya: <em>Mrs Dalloway </em>(1925), <em>To the Lighthouse </em>(1927), dan <em>Orlando </em>(1928). Virginia disebut sebagai &#8220;pembela garis depan dengan gaun ala Victoria&#8221; oleh kritikus sastra feminis, Jane Marcus.</p>
<p>Ayah Virginia bernama Leslie Stephen, yang mengedit<em> Dictionary of National Biography.</em> Ibunya, Julia Pattle Duckworth, menikah dengan ayahnya sebagai suami kedua. Salah satu kakak tiri Julia Gerald Duckworth pernah melakukan pelecehan seksual kepada Virginia saat dia remaja. Masa-masa remaja Virginia diisi dengan banyak kematian dan kegelapan depresi yang mengganggu Virginia seumur hidupnya. Ibunya meninggal di tahun 1895. Kakak tirinya Stella meninggal di tahun 1897. Ayahnya meninggal di tahun 1904 dan saudara lelakinya Thoby di tahun 1906. Virginia mulai mengalami gangguan kejiwaan pada usia tiga belas tahun sesaat kematian ibunya.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/vw1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-16284" title="vw1" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/vw1.jpg" alt="" width="247" height="250" /></a>Pada tahun 1912, Virginia menikah dengan Leonard Woolf, lelaki yang berada di kelas bawah dalam status ekonomi. Pernikahan ini adalah pernikahan yang memiliki ikatan kuat antara suami-istri. Mereka berdua mendirikan Hogarth Press, sebuah penerbitan yang menerbitkan buku-buku Virginia, T.S. Eliot, dan lain-lain. Virginia mulai aktif menjadi penulis di masa-masa ini. Karyanya masuk di koran <em>Guardian</em>, yang difasilitasi oleh Violet Dickinson.</p>
<p>Hubungannya dengan perempuan dimulai dari Violet. Mereka berdua saling tukar menukar surat dengan penuh gelora dan mengisi catatan harian tentang ketertarikan mereka satu sama lain. Gairah emosi dan seksualitas diungkapkan dalam bahasa erotisme yang sensual.  Mereka melahirkan karya sastra berdua, tapi tidak semua dipublikasikan. Kebanyakan ditulis untuk mengagung-agungkan hubungan persahabatan mereka yang sangat intim. Violet berusia dua kali lipat dari usia Virginia. Dalam tulisannya selanjutnya, Virginia mengatakan bahwa hubungannya dengan Violet membuatnya mampu menemukan jati dirinya sebagai “penulis”.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/vw4.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16287" title="vw4" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/vw4-194x300.jpg" alt="" width="194" height="300" /></a>Selanjutnya, Virginia bertemu dengan Vita Sackville-West, satu-satunya hubungan intim persahabatan Virginia dengan perempuan yang melibatkan hubungan fisik (seks) di tahun 1922. Usia mereka terpaut jauh, sama seperti hubungan Virginia dan Violet, namun kebalikannya. Virginia berusia empat puluh tahun dan Vita berusia tiga puluh tahun. <em>Affair</em> percintaan ini dimulai pada tahun 1925 dan berakhir pada tahun 1928. Selama tahun itu, Vita melakukan dua kali perjalanan ke Persia untuk mengunjungi suaminya di Tehran. Kedua kalinya, Vita pergi bersama perempuan lain yang menciptakan kecemburuan pada Virginia. Virginia semakin tidak bisa memberikan toleransi kepada Vita dan &#8220;perempuan-perempuannya&#8221;.</p>
<p>Pada tahun 1928, Virginia bersama E.M. Forster menulis surat membela Radclyffe Hall, pengarang yang menulis novel lesbian pertama kali <em>The Well of Loneliness</em>. Ini menunjukkan kompetensi Virginia sebagai feminis sejati. Virginia tidak membela Radclyffe karena novel tersebut dianggapnya berkualitas atau karena mengangkat isu lesbian, tapi karena Virginia membela hak-hak kebebasan berbicara atas nama seni.</p>
<p>Pada tahun yang sama, Virginia memberikan kuliah di Newnham And Girton College, yang menghasilkan esainya yang terkenal berjudul <em>A Room of One’s Own. </em>Virginia juga melahirkan novel berjudul <em>Orlando</em>, yang didedikasikan untuk Vita. Buku itu dianggap dunia sebagai &#8220;surat cinta terpanjang dan terindah dalam literatur klasik.&#8221; Walaupun hubungan percintaan antara Virginia dan Vita berakhir di tahun 1929, hubungan intim <a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/vw3.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16286" title="vw3" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/vw3-166x300.jpg" alt="" width="166" height="300" /></a>persahabatan mereka terus berlanjut dengan sangat baik sampai hari kematian Virginia. Tahun-tahun itu adalah tahun-tahun kesuksesan bagi dua penulis tersebut. Virginia membuat Vita &#8220;abadi&#8221; dalam sejarah sastra dunia lewat <em>Orlando</em>. Bukan itu saja, Virginia juga mewariskan tanah keluarganya, Knole, kepada Vita.</p>
<p>Karya Virginia diterjemahkan ke dalam lima puluh bahasa dunia. Virginia dianggap sebagai kreator brilyan dalam penggubahan bahasa Inggris. Istilah kritik sastra yang terkenal <em>stream of consciousness</em> (narasi yang menjelaskan pandangan karakter lewat proses pemikirannya, bisa lewat teknik monolog atau aksi-reaksi) dilekatkan dalam karya-karyanya. Ketenaran Virginia merosot setelah Perang Dunia II, namun bangkit kembali bersama kekuatan gelombang feminisme pada tahun 1970.</p>
<p>Setelah menyelesaikan naskah novelnya <em>Between the Acts,</em> Virginia terjatuh dalam kegelapan depresi lagi, sama seperti yang dialaminya ketika masih remaja. Perang Dunia II dan kehancuran rumahnya di London membuat kondisinya menjadi-jadi sehingga dia tak sanggup bekerja. Dalam surat terakhirnya untuk suaminya, Virginia mengaku dia mendengar suara-suara dan tak bisa berkonsentrasi. Dia tak ingin membuat suaminya dibebankan dengan penyakit jiwanya. Pada tanggal 28 Maret 1941, Virginia mengambil jaket panjangnya, mengisinya kantung-kantungnya dengan batu sebagai pemberat, dan berjalan ke Sungai Ouse, dekat rumahnya. Dia menenggelamkan dirinya di sungai itu. Mayatnya tak ditemukan sampai pada tanggal 18 April 1941.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/vw2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-16285" title="vw2" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/vw2.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>Di zaman sekarang, penelitian kepada buah karya Virginia lebih difokuskan pada topik feminisme dan lesbian. Esai berjudul <em>Virginia Woolf: Lesbian Readings </em>diterbitkan tahun 1997 oleh Eileen Barrett dan Patricia Cramer. Ada juga esai yang meneliti tentang pelecehan seksual yang dialami Virginia di masa remajanya. Buku itu berjudul <em>Virginia Woolf: The Impact of Sexual Abuse on Her Life And Work </em>oleh Louise A. DeSalvo.</p>
<p>Novel <em>The Hours </em>yang memenangkan penghargaan Pulitzer Prize ditulis oleh Michael Cunningham di tahun 1998 bercerita tentang tiga perempuan yang berasal dari tiga generasi, yang tersentuh oleh novel karya Virginia, <em>Mrs. Dalloway.</em> Pada tahun 2002, novel itu diangkat ke layar lebar dengan aktris Nicole Kidman yang beradu akting sebagai Virginia Woolf dengan Julianne Moore dan Meryl Streep. Nicole Kidman mendapatkan penghargaan Academy Award sebagai <em>Best Actress</em> di tahun yang sama lewat film tersebut.</p>
<p>Virginia Woolf rasanya pantas dinobatkan sebagai salah satu tokoh lesbian yang inspiratif lewat keteguhannya membela perempuan dan  kualitas karya-karyanya. Bukan itu saja. Cinta Virginia yang besar pada Vita tertulis di berlembar-lembar catatan hariannya, menjadi abadi dan dikenang oleh generasi selanjutnya: <em>“She shines with a candle-lit radiance, pink glowing, grape clustered, pearl hung.”</em></p>
<p>@Lakhsmi, SepociKopi, 2011</p>
<p>**Artikel ini ditulis atas diskusi/pertanyaan-pertanyaan tentang Virginia Woolf di milis SepociKopi. Terima kasih buat para miliser SepociKopi yang tertarik menanggapi pahlawan lesbian Virginia Woolf.</p>
<p><strong>Keterangan gambar:</strong><br />
1. Lukisan Virginia Woolf oleh George Charles Beresford<br />
2. Potret diri Vita Sackville-West<br />
3. Novel Orlando, didedikasikan untuk Vita Sackville-West<br />
4. Surat-surat cinta Virginia Woolf dan Vita Sackville-West<br />
5. Salah satu buku esai yang membahas hubungan percintaan Virginia dan Vita</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/11/25/noktah-merah-virginia-woolf-penulis-lesbian-garis-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

