<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; Label</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/tag/label/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 02:00:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Peran Gender Lesbian</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/02/05/peran-gender-lesbian/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/02/05/peran-gender-lesbian/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Feb 2011 15:10:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Label]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=9636</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: De Ni
Eh, pernah nggak kalian mengamati? Sebenarnya hubungan lesbian ini unik, ya? Semalam aku dan Mel membuat daftar keunikan hubungan lesbian yang kemungkinan tidak pernah ditemukan dalam perjalanan cinta para hetero.
Pertama-tama kami cekikikan saat membicarakan peran gender. Meski aku dan Mel sama-sama perempuan, tapi entah mengapa, sejak living together, peran gender kami terlihat semakin jelas. Mel mengambil peran sebagai emak-emak dan aku yang mulanya adalah perempuan yang lemah gemulai akhirnya mengambil peran sebagai bapak-bapak.
Anehnya, semua terjadi secara alami. Tidak pernah ada yang menyuruh Mel untuk melakukan pekerjaan seperti memasak, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/02/poci4.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-9637" title="poci" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/02/poci4.jpg" alt="" width="163" height="170" /></a>Oleh: De Ni</p>
<p>Eh, pernah nggak kalian mengamati? Sebenarnya hubungan lesbian ini unik, ya? Semalam aku dan Mel membuat daftar keunikan hubungan lesbian yang kemungkinan tidak pernah ditemukan dalam perjalanan cinta para hetero.</p>
<p>Pertama-tama kami cekikikan saat membicarakan peran gender. Meski aku dan Mel sama-sama perempuan, tapi entah mengapa, sejak <em>living together</em>, peran gender kami terlihat semakin jelas. Mel mengambil peran sebagai emak-emak dan aku yang mulanya adalah perempuan yang lemah gemulai akhirnya mengambil peran sebagai bapak-bapak.</p>
<p><span id="more-9636"></span>Anehnya, semua terjadi secara alami. Tidak pernah ada yang menyuruh Mel untuk melakukan pekerjaan seperti memasak, mencuci, menyetrika, membereskan rumah dan mengurus semua keperluan rumah tangga. Juga, tidak pernah ada yang menyuruhku untuk mengambil peran sebagai bapak-bapak seperti mengantar si emak ke pasar, beli beras, beli gas, beli air galon, membetulkan atap rumah, membetulkan peralatan elektronik yang rusak, hingga urusan memacul rumput pekarangan yang lebat. Sungguh, kami tidak mengenal <em>job description</em>, semua dilakukan sekonyong-konyong karena panggilan jiwa yang terdalam. Haiya!</p>
<p>Hal kedua yang juga membuat kami cekikikan adalah masalah cemburu. Ini juga aneh, aku tidak pernah bersoal jika Mel dekat perempuan mana pun, padahal sudah jelas-jelas bahwa Mel adalah penyuka perempuan. Amarahku justru meledak-ledak kalau Mel dekat dengan laki-laki. Terutama, belakangan ini, jujur batinku sangat tersiksa saat laki-laki bernama Chiko hadir dalam hidup kami. Bukan apa-apa, menurutku Chiko ini adalah jenis laki-laki yang kurang ajar. Buktinya baru pertama kenal Mel, lelaki itu sudah berani mencium tangannya. Dan yang lebih menyebalkan adalah saat diciumi Chiko, Mel malah senyum-senyum kesenangan. Huek! Muak banget ngelihat si Chiko itu. Dia juga lancang, masuk ke rumah kami tanpa permisi, dan lagi-lagi Mel malah <em>welcome </em>banget sama dia. Jujur aku cemburu, padahal kalau mau dilihat-lihat, apa sih yang menarik dari si Chiko itu? Udah badannya bau, bulunya banyak, dan kalau ngomong itu lho&#8230; Nggak jelas. Bayangkan, udah sebesar itu si Chiko cuma bisa ngomong satu kata saja, dan kata itulah yang diulang-ulangnya, “Guk, guk, guk, guk.” Fiuh!</p>
<p>Kebalikan denganku, Mel tidak pernah bersoal jika aku dekat dengan lelaki mana pun, padahal sudah jelas-jelas aku pernah berpacaran dengan lelaki, dan juga sudah jelas-jelas bahwa ada banyak lelaki yang melamar karena terpesona oleh kecantikanku yang memang sudah terbawa sejak lahir. Tapi Mel bergeming pada para lelaki yang menggilaiku itu (Huek!), justru kekasihku yang lemah lembut itu akan mengeluarkan taringnya kalau melihatku berdekatan dengan perempuan, apalagi perempuan itu berlabel <em>femme</em>. Seperti kejadian beberapa waktu yang lalu, saat kami berbincang-bincang dengan perempuan cantik yang tengah hamil tua. Tanpa sebab, Mel tiba-tiba menginjak kakiku bertubi-tubi. Aku yang polos dan lugu ini jadi bertanya-tanya, ada apa gerangan? Melihat mukaku yang kebingungan, Mel buru-buru menunjuk perut perempuan cantik itu. Alamak! Pantas saja Mel marah, rupanya sedari tadi tanpa sadar tanganku mengelus-elus perut gendut perempuan itu.</p>
<p>Baiklah, lupakan soal perut ibu hamil itu. Mari kita lanjut ke hal ketiga yang juga membuat kami merasa hubungan lesbian ini unik adalah saat kami membicarakan tentang perempuan. Sebagai sesama pencinta perempuan, kami sama-sama antusias saat menilai, memandang, dan melirik perempuan cantik. Tidak jarang saat berada di keramaian, kami saling menyikut sekadar memberikan isyarat jika ada perempuan <em>bening </em>yang lewat. Biasanya kami kami memakai istilah jarum jam untuk menunjuk lokasi perempuan cantik itu berada. Simaklah sepenggal pembicaraan kami saat browsing perempuan cantik di sebuah mal.</p>
<p>“Hon, 12.30 mukanya halus banget.”</p>
<p>“Iya, kayak kulit bayi ya, Say?</p>
<p>“Ho oh.”</p>
<p>“Eh say, 7.15 butch keren tuh!”</p>
<p>“Ya ampun, mata kamu kelilipan candi borobudur ya, Hon? itu kan cowok! Udah jelas-jelas jenggotan begitu.”</p>
<p>“Lah iya, ya. ASEM ASEM!”</p>
<p>“Dasar dodol!!!!”</p>
<p>“Eh, tapi lihat di 2.30 deh say. Cewek itu hidungnya mancung, ya?”</p>
<p>“Iya ih, mancung. Nggak kayak hidung kamu ya, Hon? Nongkrong!”</p>
<p>“ARRRGGGG!!!!”</p>
<p>Huh! Mari kita akhiri topik tentang hidung nongkrong eh maksudnya tentang keunikan hubungan lesbian ini dengan hal keempat, yaitu soal perasaan. Berhubung baik kita dan pasangan adalah sama-sama perempuan yang secara alamiah akan lebih memakai otak kanan ketimbang otak kiri. Maka masalah perasaan akan sangat memberikan warna unik dalam hubungan lesbian. Keduanya adalah perempuan yang sama-sama butuh kasih sayang, keduanya sama-sama ingin didengar, keduanya sama-sama diterka, keduanya sama-sama ingin dipedulikan.</p>
<p>Karena itulah, maka tak jarang pertengkaran antara aku dan Mel berakhir dengan isak tangis kami berdua. Mel menangis tersedu karena tak tahan pada sikapku, dan ini membuatku bersimpuh di kakinya demi memohon agar dia berhenti menangis. Tapi saat Mel berhenti menangis, gantian aku yang menangis karena merasa bersalah telah membuatnya menangis. Akhirnya gantian Mel yang bersimpuh di kakiku agar aku berhenti menangis.</p>
<p>Tapi saat aku berhenti menangis, Mel malah menangis lagi karena ia terharu pada sikap kesatriaku yang mau mengakui kesalahan. Akhirnya terpaksa aku bersimpuh lagi dikakinya meminta Mel berhenti menangis. Tapi, setelah Mel berhenti menangis, gantian aku yang menangis karena merasa terharu pada kelembutan hati Mel yang mau menangis untukku. Akhirnya Mel kembali bersimpuh lagi di kakiku berharap aku berhenti menangis. Tapi saat aku behenti menangis, Mel menangis lagi karena ia terharu punya pacar sebaik aku. Akhirnya aku bersimpuh lagi di kakinya agar Mel berhenti menangis. Kemudian gantian lagi aku yang menangis, lalu bersimpuh, lalu diam, lalu Mel menangis lagi. Demikian seterusnya sampai sampai kecebong berubah jadi kodok buduk.</p>
<p>@De Ni, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/02/05/peran-gender-lesbian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>My Tough Femme</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/08/13/my-tough-femme/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/08/13/my-tough-femme/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Aug 2010 13:43:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan dan Seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[Label]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/2010/08/13/my-tough-femme/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Juno Bis
Setelah ngobrol tentang si Butch yang seksi, wangi, lembut, bersih dan setia, sekarang kita ngerumpi tentang pasangannya yaitu si Femme.
Istilah femme diambil dari bahasa Prancis yang artinya perempuan. Jadi baik penampilan maupun pembawaannya harus  feminin atau &#8216;perempuan&#8217;. Menurut teman-teman, seperti apa kira-kira gambaran ideal seorang femme?
Kata beberapa temanku, femme itu kudu cuaantik, kulit putih, halus mulus, manja, ringkih, selalu pakai rok, setiap akhir pekan senang berlama-lama di salon untuk merawat tubuh dan kecantikan dan&#8230; (mungkin ini yang agak tidak nyaman terdengar) femme itu nggak bisa jalan sendiri ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="WIDTH: 169px; HEIGHT: 362px" height="444" alt="hello lovely by chibighibli" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/08/hello_lovely_by_chibighibli.jpg" width="225" align="left" />Oleh: Juno Bis</p>
<p>Setelah ngobrol tentang <a href="http://sepocikopi.com/2010/07/02/kesehatan-dan-seksualitas-my-sexy-butch/" target="_blank">si Butch yang seksi</a>, wangi, lembut, bersih dan setia, sekarang kita ngerumpi tentang pasangannya yaitu si Femme.</p>
<p>Istilah femme diambil dari bahasa Prancis yang artinya perempuan. Jadi baik penampilan maupun pembawaannya harus  feminin atau &#8216;perempuan&#8217;. Menurut teman-teman, seperti apa kira-kira gambaran ideal seorang femme?</p>
<p>Kata beberapa temanku, femme itu kudu cuaantik, kulit putih, halus mulus, manja, ringkih, selalu pakai rok, setiap akhir pekan senang berlama-lama di salon untuk merawat tubuh dan kecantikan dan&#8230; (mungkin ini yang agak tidak nyaman terdengar) femme itu nggak bisa jalan sendiri &#8211; maksudnya bukan dituntun, tapi harus selalu ditemani. Ke kelurahan untuk mengurus KTP harus ditemani, ke Kantor Pajak untuk mengurus bukti setoran pajak harus ditemani, ke kantor PLN untuk mengurus tagihan listrik yang kegedean harus ditemani.</p>
<p><span id="more-8046"></span>
<p>Bagaimana dengan urusan ke bengkel untuk perbaikan motor atau mobil yang mulai ngambek? Rasanya hampir tak mungkin ada femme yang mau ke bengkel sendirian, apalagi  mampu ngobrol dengan mekanik tentang mesin. Kalau kita lihat kenyataan, mungkin gambaran-gambaran itu mendekati kenyataan. Banyak teman butch yang menganggap pasangannya lemah sehingga sang butch yang selalu tampil mengerjakan banyak hal, terutama yang membutuhkan tenaga dan wawasan yang luas. Umumnya para butch itu tidak percaya bahwa pasangannya pun memiliki kemampuan yang dapat diandalkan. Tetapi karena seringkali dianggap lemah dan tidak berdaya, alam bawah sadar para femme itu pun akan mengirimkan sinyal yang membatasi gerak dan kreatifitas mereka. Jadi, teman-teman, sebenarnya kesalahan itu tidak sepenuhnya boleh ditumpahkan ke pundak para femme.</p>
<p>Seperti kata pepatah zaman oma-opa kita dulu, &#8216;alah bisa karena biasa&#8217; &#8211; seseorang akan mampu mengerjakan hal yang sukar kalau ia membiasakan diri dan mau melatih dirinya untuk mengatasi kesukaran itu. Sepertinya kata-kata bijak ini berlaku juga bagi para femme. Perempuan-perempuan kesayangan ini pun sebenarnya mampu mengerjakan banyak hal kalau saja mereka diberikan kesempatan dan kepercayaan. Seorang butch yang baik hati bercerita tentang kekasihnya. Gambaran mantap tentang femme-nya ini terbentuk karena  ia berkeyakinan bahwa setiap orang memiliki kemampuan dan potensi yang bisa terus dikembangkan. Mari kita simak.</p>
<p>Femme itu pemberani. Dia tidak takut pada kegelapan. Jadi kalau lampu di kamarnya seperti hidup segan mati tak mau, dia akan sigap menyiapkan lampu darurat.</p>
<p>Femme itu gagah. Kalau ada orang yang berniat mengusilinya, dia mampu mempertahankan dirinya dan tidak menjerit-jerit ketakutan.</p>
<p>Femme itu cerdas. Kalau diajak ngobrol tentang politik, ekonomi dan sosial, dia bisa mengimbangi dan &#8216;nyambung&#8217;.</p>
<p>Femme itu cerdik. Dia tidak mudah terpedaya oleh bujukan lingkungan atau sekelompok orang untuk melakukan hal-hal yang merugikan dirinya.<br />
Femme itu bijaksana dalam mengatur keuangan. Dia tidak konsumtif dan tidak menghamburkan uang untuk hal-hal yang tidak perlu.</p>
<p>Femme itu tidak nyinyir. Dia bicara pada saat yang tepat, kepada orang yang tepat dan pada waktu yang tepat.</p>
<p>Femme itu tepat waktu. Jika ada janji, dia tidak memakai jam karet.</p>
<p>Femme itu canggih. Dia tidak gagap teknologi. Dia mau belajar untuk memperkaya wawasannya tentang teknologi populer, telekomunikasi, atau bahkan tentang cara membuat robot.</p>
<p>Femme itu cekatan dan mau berkotor-kotor ria. Kalau ban mobilnya bocor, dia mampu menggantinya sendiri tanpa harus menunggu bantuan orang lain. Dia pun tidak sungkan untuk memperbaiki kran air yang rusak, mengecat kamar atau pun mencuci mobil.</p>
<p>Femme itu lucu dan humoris. Dia tidak gampang tersinggung mendengar canda-canda yang ditujukan ke dirinya. Dia mampu mentertawakan kelemahan dirinya.</p>
<p>Femme itu tidak melulu minta diperhatikan. Dia memiliki segudang perhatian untuk kekasihnya.</p>
<p>Femme itu tidak tepe-tepe. Seandainya pun dia cantik, dia tidak mengumbar senyum genit ke kiri dan ke kanan. Dia setia pada kekasihnya.<br />
Dan&#8230; ketika menghadapi butch-nya di peraduan, femme itu tidak gengsian! Dia tidak hanya menunggu diajak, tetapi juga mau mengajak kekasihnya untuk bercinta!</p>
<p>Jadi, teman-teman femme, coba hitung ada berapa kira-kira kriteria yang mengena pada diri kalian? <em>The more, the better!</em></p>
<p>@Juno Bis, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/08/13/my-tough-femme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesehatan dan Seksualitas: My Sexy Butch</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/07/02/kesehatan-dan-seksualitas-my-sexy-butch/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/07/02/kesehatan-dan-seksualitas-my-sexy-butch/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jul 2010 07:24:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan dan Seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[Label]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=7708</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Juno Bis
Menurut penerawangan Pakde Google, seksualitas itu bukan sekadar kegiatan mesra dan meresahkan di tempat tidur. Topik genit itu juga melibatkan banyak aspek dalam kehidupan, termasuk di dalamnya prioritas, aspirasi, pilihan kontak sosial, hubungan inter-personal, evaluasi diri, ekspresi emosi dan perasaan, karir dan persahabatan. So, sebelum kita jenuh membaca cerita adegan ranjang lagi, sekarang kita ngobrol tentang topik yang nggak habis-habisnya dikuliti oleh penghuni Pelangi: Butch.
Definisi singkatnya, butch adalah perempuan di dunia LGBT yang ditandai oleh penampilannya seperti laki-laki.  Ada mitos yang tumbuh subur di kalangan butch, baik ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/07/poci.jpg" alt="poci" title="poci" width="130" height="185" class="alignleft size-full wp-image-7710" />Oleh: Juno Bis</p>
<p>Menurut penerawangan Pakde Google, seksualitas itu bukan sekadar kegiatan mesra dan meresahkan di tempat tidur. Topik genit itu juga melibatkan banyak aspek dalam kehidupan, termasuk di dalamnya prioritas, aspirasi, pilihan kontak sosial, hubungan inter-personal, evaluasi diri, ekspresi emosi dan perasaan, karir dan persahabatan. <em>So</em>, sebelum kita jenuh membaca cerita adegan ranjang lagi, sekarang kita ngobrol tentang topik yang nggak habis-habisnya dikuliti oleh penghuni Pelangi: Butch.</p>
<p>Definisi singkatnya, butch adalah perempuan di dunia LGBT yang ditandai oleh penampilannya seperti laki-laki.  Ada mitos yang tumbuh subur di kalangan butch, baik di Indonesia atau di negeri-negeri seberang, tentang sosok butch.<br />
<span id="more-7708"></span><br />
Sampai saat ini, tidak sedikit teman butch saya yang ngotot mempertahankan prinsipnya bahwa menjadi butch itu kudu berpenampilan bak laki-laki perkasa. Penampilan luar maupun dalam. Busananya stereotipe: celana jins yang dipadankan dengan kemeja lengan panjang kotak-kotak atau garis-garis. Kadang-kadang satu atau dua kancing kemeja dibuka supaya kelihatan lebih ‘jantan’. Sepatunya? Kets butut, bot atau sepatu sandal kulit. Rambut cepak dan kalau perlu dipotong pendek banget, kira-kira satu atau dua senti dari ubun-ubun. Bagaimana dengan <em>makeup</em> wajah? Nggak ada butch yang suka dandan, apalagi pakai lipstick, eye-shadow dan maskara! Bahkan, supaya lebih terkesan macho, ada teman butch yang punya kebiasaan mencukur bagian pinggir wajahnya dengan harapan akan tumbuh bulu-bulu menyerupai jambang. Duuh!</p>
<p>Bagaimana dengan ‘aksesori dalam’ para butch?  Musuh besar para butch adalah penyanggah buah dada alias beha. Hampir tidak ada butch yang suka memakainya. Sebagai upaya menyamarkan keindahan dua bukit Venus ini, tidak sedikit teman-teman butch membebat dadanya supaya tampak rata. Bagaimana dengan penutup aurat pilihan butch?  Celana dalam laki-laki, lah! Ekstrem?  Sama sekali tidak!  Para sahabat butch yang saya kenal memang memakai celana dalam laki-laki sebagai pengganti celana dalam perempuan atau G-string yang cantik jelita itu.</p>
<p>Pilihan parfum para butch? Di antaranya beraroma <em>sandalwood</em> atau wangi penyegar sehabis bercukur (<em>shaving lotion</em>). Mereka merasa kurang gagah kalau menyemprotkan minyak wangi beraroma bunga melati atau cempaka.</p>
<p>Sahabat butch saya yang tampangnya laki banget bilang, butch itu tidak boleh menangis. Butch itu nggak suka film-film sentimentil dan cengeng. Butch itu alergi masuk dapur, apalagi memasak. Butch itu malu kalau dikasih bunga atau dibacakan puisi cinta pada saat mereka berulang tahun atau pada hari-hari istimewa lain.</p>
<p>Apa iya ya? Padahal butch itu nggak harus seperti laki-laki, loooh! Mau tahu apa sebenarnya gambaran utuh tentang butch itu? Beberapa tahun yang lalu, secara tidak sengaja saya mendapatkan definisi yang bagus sekali tentang butch di Internet. Ini dia.</p>
<p><em>WHAT IS BUTCH?   ‘Butches want to be men’. ‘I want a real woman’&#8230;. these comments are spoken by those who don’t know butch, don’t understand it, love it as I do. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Butch is a slight strut to their walk, haircuts just long enough to wrap your fingers in right at the roots. Butch is a gallantness, protectiveness, a confidence. It is a woman with soft womanly characteristics and strong ones that society tries to reserve for men only, but are really about confidence and personal power. Butch is blue jeans, button down shirts, boots, and cologne that says I am not a flower but a strong woman. </p>
<p>Butch is that delightful woman that feels happy deeply but feels is quietly. Butch is a wicked smile on the lips that says you will be her dinner and be glad of it. It is that look in the eyes that says she knows exactly what she is doing and she might even prove it to you.</p>
<p>Butch is a woman crying quiet tears of release and lover after her lover makes love to her. It is loving arms that hold you and soothing whisper, “I’m right here, I’m here”. Butch is the most beautiful of women. In case you haven’t guessed I adore all that is butch. Especially a butch with mischievous grin, cocky way of talking, tender heart, romantic nature. </em> (*)</p>
<p>Gambarannya indah banget, kan?</p>
<p>Jadi, teman-teman butch, nggak usah malu untuk mengubah penampilanmu menjadi butch yang seksi dan genit. Kan lebih menggamit kalau butch itu berpenampilan yang agak-agak cowok, tapi masih ada kelembutannya. Agak-agak jantan, tapi masih beraroma wangi bunga yang segar. Lebih oke lagi kalau rapi, bersih, dan setia. Berani terima tantangan untuk mengubah kesan tentang butch, teman-teman?</p>
<p>@Juno Bis, SepociKopi, 2010</p>
<p>(*) Written by Vinetta &#8211; For all those spectacular butches</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/07/02/kesehatan-dan-seksualitas-my-sexy-butch/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>50</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Oh Andro!</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/05/12/oh-andro/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/05/12/oh-andro/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 May 2010 08:26:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Label]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=7135</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ade Rain
Akhirnya aku duduk paling belakang nggak jauh dari meja makanan dan minuman yang sudah tertata rapi. Lima belas menit sebelum break pertama usai, aku masih tepat waktu sesuai jadwal yang dijanjikan. Pola duduk membentuk huruf U membuat mata cukup luas memandang tamu. Aku menemukan seorang andro duduk di depan. Nggak lama waktu istirahat itu pun tiba, ia menuju ke arahku. Buru-buru aku memperbaiki pose, seolah sedang menunggu pangeran melintas, eh putri ding. Dia bukan mau menyapa, tapi mengarah ke meja penuh penganan tadi.
Beruntunglah para andro, diciptakan Tuhan tengah-tengah. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/05/sombong_ny_kucing.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-7136" title="sombong_ny_kucing" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/05/sombong_ny_kucing-263x300.jpg" alt="sombong_ny_kucing" width="210" height="240" /></a>Oleh: Ade Rain</p>
<p>Akhirnya aku duduk paling belakang nggak jauh dari meja makanan dan minuman yang sudah tertata rapi. Lima belas menit sebelum <em>break </em>pertama usai, aku masih tepat waktu sesuai jadwal yang dijanjikan. Pola duduk membentuk huruf U membuat mata cukup luas memandang tamu. Aku menemukan seorang andro duduk di depan. Nggak lama waktu istirahat itu pun tiba, ia menuju ke arahku. Buru-buru aku memperbaiki pose, seolah sedang menunggu pangeran melintas, eh putri ding. Dia bukan mau menyapa, tapi mengarah ke meja penuh penganan tadi.</p>
<p>Beruntunglah para andro, diciptakan Tuhan tengah-tengah. Beruntunglah ia yang diciptakan tampan, <em>boyish </em>, tapi masih kelihatan sisi kefeminiman. Jadi, bisa tebar-tebar pesona tanpa sadar sama dia. Ah, tapi dia cuek dan acuh.</p>
<p><span id="more-7135"></span>Aku mencoba berdiri di dekatnya. Bagaimana memulai percakapan ini ya? Kepalaku gatal. Lima menit, sepuluh menit, Bahasa tangannya bolak-balik melihat hape, kemudian mengetikkan sesuatu, tenang sebentar, kemudian begitu lagi. Ah pastilah ia sedang berkomunikasi dengan seseorang yang spesial di ujung sana. Siapa dia, perempuan jugakah? Aku memilih kembali duduk di kursiku. Otakku terus menerus mengajak berkenalan dengan si Andro. Waktu istirahat sudah lewat. Katanya hanya lima belas menit tapi ternyata sudah lewat setengah jam. Seperti bersiap-siap disuruh pidato, akhirnya aku berdiri, lalu mendekatinya. Nekad bow!</p>
<p>“Eh, lama juga ya <em>break</em>-nya,&#8221; kataku terbata. Kikuk. Konyol. Gerakan tubuhnya membuatku merasa begitu kecil, lebih kecil dari ulat bulu. Dasar cewek kampung, aku memaki diri sendiri, yang begini aja kok nggak bisa di-<em>handle</em>!</p>
<p>“Iya, paling payah kalau panitia ngaret begini. Sayang, seharusnya bisa dapat ilmu lebih banyak.” Nadanya tenang, kalimatnya apik, dan menyatu utuh, seirama dengan suara itu. Ia memang tidak mau terlihat sebagai orang biasa. “Dua pembicara sesi selanjutnya mengangkat topik lumayan.” Matanya kembali ke hape itu lagi.</p>
<p>“Menurutmu, bagaimana pembicara yang pertama, Mbak?”</p>
<p>“Sangat berbobot, menguasai bidang yang diangkat, penalaraannya juga terkonsep, teratur, menjelaskan dengan gaya asertif. Sampai-sampai saya nggak perlu mencatat, sangat mudah diingat dan nggak berbelit-belit.”</p>
<p>“Iya.” Aku mengangguk sambil manyun. Dia sama sekali nggak memberiku jeda buat berbicara lagi.</p>
<p>“Anda pasti tahu pembicara pertama itu aktif di berbagai seminar di luar negeri. Dia pernah menjadi pembicara di PBB mewakili Indonesia.”</p>
<p>“Iya. Aku baca bahan yang dikasih panitia tadi,&#8221; kataku bodoh. Anda? Rasa-rasanya kita sebaya deh! Atau tampangku tante-tante banget sehingga ia perlu memanggil sebutan Anda? Atau ingin menunjukkan betapa berkelasnya ia? Dia masih melanjutkan teori-teori berat versi guru kimia waktu SMA, sulit dimengerti. Maklum, aku bukan orang teknik, aku orang sosial yang sering merasa udik begitu membaca sebuah buku baru. Eh, tadi dia  bilang ia insinyur? Manager proyek di tambang apa? Aku sangat buruk mengingat nama. Yaela, barangkali dia memang bukan lesbian. Aku  memang suka masyuk sendiri kalau memvonis seseorang.</p>
<p>“Sudah mengambil <em>snack</em>, Mbak? Mau saya ambilkan?”</p>
<p>“Boleh deh, tolong ambilkan buah dan <em>cocktail</em>, ya.”</p>
<p>Menyesal aku menawarkan diri. Huh, dasar sombong, andro jelek, belagu kelas burung emprit, dan sangat sok tahu. Tuhan, maafkan hambamu yang lemah ini, yang tak tahan bertemu andro dan ingin berkenalan. Barangkali aku harus tahu nama lengkapnya jadi bisa segera ku-<em>google</em>. Mungkin ia masuk top 20 orang terkaya dunia atau masuk dalam 100 ilmuwan pintar dunia, bahkan namanya sudah dicanangkan masuk daftar pahlawan Indonesia.</p>
<p>Kuambilkan dia nanas, kucari yang agak kotor. Pepaya yang agak lembek, melon yang sudah berair. Belum jarak semeter meninggalkan meja, aku merasa  berdosa. Kumakan buah-buah jelek lebih dulu, baru mengambilkannya piring baru dan buah yang berkualitas baik. Oh, kepalaku mulai bertanduk dan aku sibuk membuang tanduknya. Sekarang mengambil <em>cocktail</em>. Kupakai gelas bekas saja, mudah-mudahan keracunan virus atau bakteri orang sebelumnya memakai gelas ini. Haaah, itu ada bekas gelas bapak-bapak yang merokok! Barangkali TBC-nya bisa menular ke dia…</p>
<p>Niat murahan itu akhirnya kutukar. Aku mengambil gelas yang paling bersih, nggak ada bercak-bercak seolah aku sedang mengambilkan gelas terbaik buat ibuku. <em>Cocktail </em>kutuang ke dalam gelas ramping itu.  Aku berniat mencelupkan ujung jariku ke dalam gelas. Siapa tahu dia kesengsem denganku dan mau bersahabat?  Aku berjalan melenggang ke arahnya. Kulihat lagi mejaku di belakang. Berkas-berkas laptop dan bahan-bahan makalah milikku masih tertata apik. Ada sekitar 200-an orang dalam seminar <em>leadership </em>itu. Karena datang belakangan, aku hanya kebagian kursi bagian belakang.</p>
<p>“ Ini, Mbak.&#8221;</p>
<p>Ia mengambil <em>cocktail </em>dulu, minum dan membiarkan lenganku memegang buah-buahannya. Memang tangan ini meja ya? Iyalah, kan karya desainer terbaik, <em>made in</em> Allah. Lalu ia mencolokkan garpu mini ke buah dan membiarkan tanganku masih memegangi piring. <em>Dung pret! </em>Tampangku memang udah kayak meja <em>stand party</em>? Bundar dengan dagu makin panjang meleleh akibat dongkol.</p>
<p>“Mbak, saya sudah makan buah di sana tadi, ini piring buahnya dipegang,&#8221; kataku kepadanya.</p>
<p>“Sebenar ya, takut hape saya basah. Saya habiskan <em>cocktail</em>-nya dulu.”</p>
<p>Lah, jas buat apa, ya? Bukannya hape bisa ditaruh dulu di kantong blazer? Busyet, ni orang, mudah-mudah dia kena konslet arus listrik jadi urat sombongnya putus.</p>
<p>“Anda dari institusi mana ya?”</p>
<p>“Pribadi, Mbak, saya datang sendiri, ya sendiri aja.”</p>
<p>“Oh!”</p>
<p>Ya, mengambil buah lagi, membiar tanganku masih memegang piring kecil itu. Pelan-pelan kugeser ke meja terdekat, mau meletakkan piring buah itu. Tanganku mulai dipanas-panasi hatiku. Andro belagu begini nggak bakal dipakai di SepociKopi, nggak akan disapa sama pembaca, bakalan dikutuk cacing segala cacing di dunia akhirat deh. Semua orang-orangan sawah akan memanggil namanya lewat angin Halimum di tengah malam Jumat dan akan menjadi orang-orangan sawah di musim panen berikutnya.</p>
<p>Tiba-tiba, dari arah podium seorang panitia tergopoh-gopoh mendekati kami. “Eh, Mbak, kenapa di belakang? Kursi Mbak di sana, itu dekat XXX. Kami dari tadi menunggu.”</p>
<p>“Iya, saya telat, tapi nyaman kok duduk di belakang. Udaranya lebih dingin dan segar,” kataku.</p>
<p>Panitia mengulurkan tangan, meminta maaf. Dia mengomel pada teman panitia lain, seolah merasa tidak enak menempatkanku di kursi paling jauh. Pengumuman pembicara selanjutnya dikumandangkan. Aku mengambil kursiku di podium, sebelumnya menyalami sekali lagi andro berbahu tinggi, berhidung penyok, berhati belukar.</p>
<p>“Maaf, Mbak, saya harus bekerja dulu.”</p>
<p>Aku sebenarnya masih gemes dengan andro ganteng itu. Setelah duduk di podium, ia tidak berhenti menatap dari tempat duduknya, bersisian dengan para manusia yang merasa tinggi hati.</p>
<p>“Terserah kamu, deh Mbak. Tapi aku sudah kadung mati rasa,&#8221; kataku dalam hati. Aku pun melanjutkan sesi kedua itu dengan tema<em> Bagaimana Membunuh Kepribadian Pemimpin yang Sombong</em>. Topik ngarang, ding!</p>
<p>@Ade Rain, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/05/12/oh-andro/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aku Ingin Memanggilmu Suami</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/03/13/aku-ingin-memanggilmu-suami/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/03/13/aku-ingin-memanggilmu-suami/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Mar 2010 05:58:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Label]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=6407</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Deni Melisa
Malam sudah begitu larut saat Mel masih berusaha menyibukkan dirinya dengan sebuah Kamus Bahasa Indonesia. Dia mencoba mempertanyakan tentang arti kata &#8216;nikah&#8217;, &#8216;suami&#8217; dan &#8216;isteri&#8217;. Ya, dia berusaha mengalihkan pikirannya dari sebuah kecemasan atas hujan dan gemuruh. Bukan, bukan karena begitu ringkihnya rumah yang ia tempati sehingga bisa dirubuhkan oleh hujan dan angin, tapi karena di luar sana ada seseorang yang sangat ia cintai. Seseorang yang sedang berusaha melawan hujan deras untuk menemuinya. Rindu serasa begitu menggebu, padahal baru beberapa jam yang lalu Mel berpisah di depan kantornya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/03/Love_Sweet_heart_005276_.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-12097" title="Love_Sweet_heart_005276_" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/03/Love_Sweet_heart_005276_-300x240.jpg" alt="" width="300" height="240" /></a>Oleh: Deni Melisa</p>
<p style="text-align: justify;">Malam sudah begitu larut saat Mel masih berusaha menyibukkan dirinya dengan sebuah Kamus Bahasa Indonesia. Dia mencoba mempertanyakan tentang arti kata &#8216;nikah&#8217;, &#8216;suami&#8217; dan &#8216;isteri&#8217;. Ya, dia berusaha mengalihkan pikirannya dari sebuah kecemasan atas hujan dan gemuruh. Bukan, bukan karena begitu ringkihnya rumah yang ia tempati sehingga bisa dirubuhkan oleh hujan dan angin, tapi karena di luar sana ada seseorang yang sangat ia cintai. Seseorang yang sedang berusaha melawan hujan deras untuk menemuinya. Rindu serasa begitu menggebu, padahal baru beberapa jam yang lalu Mel berpisah di depan kantornya setelah dia mencium tangan kekasihnya.<span id="more-6407"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Tapi sepertinya hujan tak mau berdamai dengan kecemasannya. Hujan malam itu adalah hujan binal, hujan yang deras disertai angin kecang dan petir yang doyan menjilat bumi. “Dimana kamu kakasihku?” Hatinya tak henti memanggil setelah beberapa kali teleponnya tak dijawab. Sudah dipikirkannya apa yang akan disediakan untuk menghangatkan tubuh kekasihnya jika telah tiba di rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Mel begitu resah. Sudah beberapa kalimat dicoretkan pada lembaran kertas putih itu, tapi kekasihnya tak kunjung tiba. Setiap beberapa menit ia menghampiri jendela berharap ada sebuah motor yang datang. Wajahnya penuh kecemasan. Tapi untunglah, tak beberapa lama akhirnya senyum perempuan itu mengembang ketika HP-nya dibunyikan oleh sebuah sms sederhana namun mampu membuat hatinya membuncah, <em>“Say, aku udah di Carefour, hujan deras. Susah hubungi kamu.”</em> Carefour menandakan bahwa lima belas menit lagi sang kekasih akan tiba di rumah. Mel langsung menuju dapur dengan gembira, memanaskan sup ayam dan membuatkan secangkir wedang jahe. Rasa gembiranya tidak tertahan ketika suara klakson motor berbunyi di depan rumah. Segera ia berlari untuk membukakan pintu, hampir saja ia terpeleset pada lantai licin akibat terkena percikan air hujan.</p>
<p style="text-align: justify;">Pintu dibukanya dengan bahagia, ya dia adalah kekasih yang ditunggunya. Dilihatnya sang kekasih basah kuyup dan mengigil, Mel segera mengambil sebuah handuk dan mengeringkan kepala sang kekasih. Wajah kekasih yang begitu dingin setelah beberapa jam diterpa air hujan tak menyurutkan niatnya untuk menciumi pipi sang kekasih, “Aku kangen kamu” bisiknya. Sang kekasih tersenyum sarat makna. Mel mengambilkan baju tidur dan membereskan semua baju-baju basah yang baru saja dicopot dari tubuh kekasihnya. Waktu itu jam 12 malam, ketika akhirnya wedang jahe dan sup ayam masuk ke perut sang kekasih.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mestinya kamu nggak usah tunggu aku loh. Hujan-hujan begini kan enakan tidur.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku nggak bisa tidur kalau kamu belum pulang.”</p>
<p style="text-align: justify;">Mata Mel sudah sayu menunjukkan kelelahannya. Setelah merasa semua sudah beres, dia segera berdoa lalu segera lelap dalam tidur. Sang kekasih yang sebenarnya ingin sekali menemaninya tidur terpaksa menahan diri, dia masih harus bertarung dengan tugas kuliah. Di meja itu ada beberapa novel, kamus, buku dan tumpukkan kertas. Didapatinya sebuah kertas yang baru saja dicoret-coret Mel ketika menunggunya pulang&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Nikah adalah ikatan perkawinan yang dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama atau hidup sebagai suami istri tanpa pelanggaran terhadap agama.</em> <em>Hm… dari pengertian ini jelaslah bahwa aku dan dia bukan suami istri, karena walaupun kami hidup layaknya suami istri, tapi hubungan kami tidak sesuai dengan ketentuan hukum dan ajaran agama. Dan jelas juga bahwa aku bukan isteri, karena isteri adalah  perempuan yang telah menikah atau yang bersuami. Dan yang paling membuatku sedih adalah jelas bahwa dia bukan suami, karena suami adalah pria yang menjadi pasangan hidup resmi seorang wanita (istri), dia adalah pasangan hidupku tapi dia tidak bisa disebut suami karena dia bukan pria.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Jadi disebut apakah hubungan aku dengannya? Pacaran? Ah, arti pacar juga ternyata adalah teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih. Aku dan dia memang mempunya hubungan yang tetap berdasarkan cinta kasih, tapi dia bukan lawan jenisku. Jadi aku harus menyebut dia apa? Rasanya pikiranku sekarang terpenjara dan hatiku tersakiti oleh definisi dan arti kamus.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dia bukan pacarku, karena kamus melarangku menyebutnya begitu. Padahal hubungan yang terjalin antara aku dengannya telah begitu dalam. Aku tidur dengannya dan memberikan tubuhku kepadanya.  Bukan, bukan cuma tubuh ternyata, tapi telah kuberikan hidupku. Aku masih terlalu muda saat berkomitmen untuk mendampinginya. Lihatlah orang-orang sebayaku hidup bebas, berpacaran dengan beberapa lelaki, melakukan berbagai kegiatan anak gaul, mulai dari nonton sampai nongkrong dengan teman se-geng hingga larut malam. Tapi dalam kemudaan justru kuberikan hidupku untuknya. Segala minatku untuk hidup layaknya seorang gadis muda lainnya telah kukubur sejak dua tahun lalu. Aku lebih memilih berada di rumah ini, mengurus segala keperluannya, menemaninya makan dan merasakan kasih sayangnya. Entah dari mana rasa ini datang, tapi bagiku, memberikan hidupku untuknya adalah sebuah kebahagiaan yang tak terhingga. Aku tak pernah menyesali masa mudaku hilang, yang aku sesali justru adalah kalau sampai semua ini berakhir, kalau sampai aku berpisah dengannya.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Aku tak bisa membayangkan apa jadinya dia tanpa aku dan apa jadinya aku tanpa dia. Dia adalah hidupku dan aku adalah nyawanya. Aku jadi teringat saat aku berwisata dengan teman-teman kantor untuk beberapa hari, dia tak berhenti menelepon hanya sekedar bertanya di mana aku menaruh buku-bukunya, di mana kusimpan jeans kesukaannya, di mana aku letakkan baju favoritnya, dan di mana aku taruh celana dalam kesayangannya. Dan aku pun teringat saat dia meninggalkanku beberapa hari ke luar kota karena tugas kantor. Aku tidak bisa tidur bermalam-malam tanpanya. Hingga saat dia kembali ke Jakarta, aku malah menyambutnya dalam keadaan sakit.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Jadi aku bukan pacarnya, kan? Karena seseorang tidak akan mengurusi pacarnya hingga ke tingkat ini. Seorang pacar tidak tahu bagaimana cemasnya menunggu partner pulang, tak tahu bagaimana perihnya terkena cipratan minyak panas ketika menggoreng ikan tongkol kesukaan partner, seorang pacar tidak tahu bagaimana rasanya tidur dalam pelukan partner sepanjang malam, bagaimana rasanya belanja bulanan bersama, mengelola keuangan, menyelesaikan masalah-masalah keluarga hingga membangun siasat untuk menangkap tikus-tikus nakal di rumah. Seorang pacar tidak tahu rasanya melipat tangan bersama lalu berseru dengan sungguh kepada Tuhan saat badai cobaan datang. Seorang pacar tidak tahu bagaimana bau mulut partner saat bangun pagi. Seorang pacar tidak akan pernah mampu membaca perasaan partner hanya dengan melihat raut mukanya</em>.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Seorang pacar tidak akan pernah tahu semua itu. Semua rasa itu hanya bisa dirasakan oleh seorang perempuan yang disebut istri. Saat beberapa teman kerja yang adalah seorang istri bercerita tentang suaminya, tentang rumah tangganya, aku selalu tersenyum membayangkan kehidupan kami yang sama persis dengan kehidupan pernikahan mereka. Ya, aku memahami semua rasa ini layaknya seorang istri.  Seandainya bisa, kepada kekasihku yang adalah bukan pria, yang berjenis kelamin sama denganku, aku ingin sekali memanggilnya dengan sebutan suami. Karena sedalam itu pengabdianku kepadanya, sedalam itu perasaanku kepadanya, sedalam seorang istri kepada suaminya. Tapi sayangnya aku malu, aku malu memanggilnya dengan sebutan itu. Aku malu pada kamus bahasa Indonesia itu, malu sekali. Jadi biarlah aku memanggilnya dalam hati saja. De Ni, suamiku.”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Perempuan itu tercengang membaca tulisan tangan Mel. Entah seberapa banyak pasangan lesbian yang ingin sekali memanggil partnernya dengan sebutan suami atau istri, tapi merasa malu dengan bahasa, merasa malu dengan sebuah definisi tentang suami, istri dan pernikahan. Hingga semua niat hanya mampu terkatakan di hati saja tanpa mampu dikeluarkan oleh bibir karena takut sang bahasa akan membungkamnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan hanya untuk malam itu De Ni berusaha jujur pada hatinya, hanya untuk malam itu ia  meminta ijin untuk melanggar bahasa dan definisi. Malam itu, ia mencium kening kekasihnya yang sudah lelap dalam tidur, lalu membisikkan kalimat yang sebenarnya sudah lama sekali ingin diucapkannya, <em>“Aku sayang kamu Mel, istriku&#8230;&#8221;</em></p>
<p style="text-align: justify;">@Deni Melisa, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/03/13/aku-ingin-memanggilmu-suami/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>56</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>S.O.S: Capek Jadi Kepala Rumah Tangga</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/03/06/s-o-s-capek-jadi-kepala-rumah-tangga/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/03/06/s-o-s-capek-jadi-kepala-rumah-tangga/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Mar 2010 14:34:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[S.O.S!]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Label]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[tanyajawab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=6296</guid>
		<description><![CDATA[Dear DoMba yang aneh,
DoMba saya punya masalah yang cukup rumit. Saya adalah butch sejati dan pacar saya seorang femme. Sejak living together dengan pacar, saya jadi stres. Pasalnya gini DoMba, pacar menuntut saya memenuhi semua kebutuhan rumah tangga kami sendiri. Sedangkan gaji saya pas-pasan. Saya jadi merasa kewalahan.
Alasan pacar saya sih karena dia menganggap bahwa living together mirip dengan kehidupan rumah tangga betulan. Jadi saya diposisikan menjadi seorang &#8221;suami&#8221; yang harus memenuhi semua kebutuhan &#8220;istri&#8221; dan rumah tangga. Dalam hubungan lesbian ini, saya merasa semua menjadi tidak jelas. Benarkah tindakan pacar saya DoMba? Menurut ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-6298" title="poci" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/03/poci2.jpg" alt="poci" width="124" height="190" />Dear DoMba yang aneh,</p>
<p>DoMba saya punya masalah yang cukup rumit. Saya adalah butch sejati dan pacar saya seorang femme. Sejak living together dengan pacar, saya jadi stres. Pasalnya gini DoMba, pacar menuntut saya memenuhi semua kebutuhan rumah tangga kami sendiri. Sedangkan gaji saya pas-pasan. Saya jadi merasa kewalahan.</p>
<p>Alasan pacar saya sih karena dia menganggap bahwa <em>living together</em> mirip dengan kehidupan rumah tangga betulan. Jadi saya diposisikan menjadi seorang &#8221;suami&#8221; yang harus memenuhi semua kebutuhan &#8220;istri&#8221; dan rumah tangga. Dalam hubungan lesbian ini, saya merasa semua menjadi tidak jelas. Benarkah tindakan pacar saya DoMba? Menurut pendapat DoMba, bagaimana sistem keuangan pasangan lesbian yang<em> living together</em> sebenarnya? Adakah kewajiban-kewajiban seperti demikian yang harus dipatuhi? Karena jujur, secara fisik saya sudah tidak kuat mencari uang siang-malam demi mencukupi kebutuhan rumah tangga.</p>
<p>Mohon bimbingan DoMba.</p>
<p>Thanks,<br />
Sarungkan<br />
<span id="more-6296"></span><br />
Dear Sarungkan yang antik,<br />
Kamu ini sebenarnya peranakan India atau Lutung sih? Kok sepintas nama kamu kayak artis Bollywood yang keren itu? Tapi kalau saya perhatikan kok malah bawa-bawa marga Kasarung? Ah, sudahlah, yang penting sekarang kamu sarungkan pedangmu dulu, itu kalau kamu bawa pedang ya.</p>
<p>Masalah hidup bersama, seperti yang pernah diulas oleh Shinigami, memang merupakan masalah yang kompleks bukan hanya bagi pasangan lesbian tapi juga pasangan hetero yang sudah menikah secara legal. Jangankan buat yang gajinya pas-pasan, buat yang pendapatannya cukup juga pasti ribet. Saya perhatikan titik masalah yang terjadi karena sejak awal kalian tinggal bersama, kalian telah melakukan pengkotakan terhadap label. Ditambah pemahaman bahwa sebagai butch, kamu harus menjadi “kepala rumah tangga”, dan pacar sebagai seorang yang femme, selayaknya hanya menjadi “ibu rumah tangga” yang baik.</p>
<p>Menurut saya tidak ada keharusan untuk memenuhi kebutuhan pacar kamu. Sama halnya dengan pacar kamu juga tidak harus untuk melayani kebutuhan kamu yang dianggap sebagai pencari nafkah. Dalam kehidupan berpasangan, yang seharusnya terjadi adalah memberi karena INGIN memberi, bukan karena HARUS memberi.</p>
<p>Ada dua hal yang saya asumsikan menjadi penyebab kamu merasa terbebani. Pertama, coba kamu pelajari hati kamu lagi deh, soalnya sepengetahuan saya, kalau kita cinta dan sayang sama seseorang, maka apa pun yang kita lakukan akan menjadi sebuah kesenangan dan kita bisa menikmatinya tanpa menjadikannya sebagai beban. Kedua, mungkin juga kamu memang sudah benar-benar kewalahan menghadapi tingkah laku pasangan kamu yang terlalu menuntut, jadinya kamu merasa letih. Dalam hal ini saya pikir kamu butuh jamu Pangkubumi ramuan Mbah De Ni.</p>
<p>Coba kamu perhatikan, apakah selama ini pasangan sudah melayani kamu layaknya ibu rumah tangga yang baik atau belum. Kalau selama ini dia hanya melayani dirinya sendiri, misalnya: cuma masak, nyuci dan nyetrika pakaian milik dia sendiri, kamu harus pandai membuat strategi. Kalau saat kamu pegal tapi dia menolak dimintai tolong mijitin kamu, sudah saatnya kamu berpikir ulang soal rumah tangga kalian. Lain halnya kalau kamu merasa porsi kamu dalam melakukan kegiatan rumah tangga hanya segelintir sementara dia melayani segala kebutuhan kamu, kamu nggak bisa menuntut balik dong. Lagian ngapain sih tuntut-menuntut? Mending saling tuntun-menuntun.</p>
<p>Ada cara yang cukup ekstrem untuk &#8220;memberi pelajaran” kepada pasangan yang terlalu banyak enuntut. Dalam kasus kamu, selama ini kamu dituntut untuk mencari nafkah siang dan malam bagi kebutuhan kalian berdua sampai-sampai fisik kamu terganggu. Coba ambil cuti beberapa hari. Jadilah pasangan yang “manja” dan minta perhatian lebih dari pasangan kamu. Minta dia buatin bubur, tapi jangan mau makan kalau tidak disuapin. Berubahlah menjadi “kepala rumah tangga” yang cerewet akan kebersihan. Beri komentar pedas dan sinis setiap kamu menemukan setitik debu pada perabotan rumah tangga, kalau perlu kamu bisa melakukan dramatisasi dengan mengoleskan ujung telunjuk kamu dan meniupnya seperti di adegan film yang majikannya minta dirajam itu lho.</p>
<p>Nah, kalau pasangan kamu mulai menunjukkan tampang bete dan siap menerkam kamu, jangan terpancing. Ini saatnya mengkomunikasikan segala hal yang mengganjal di hati dengan cara baik-baik. Kalau perlu siapkan seember air es, kalau dia mulai panas, segera siram agar kembali dingin.</p>
<p>Kalau pasangan kamu mengerti, saya yakin kamu tidak akan letih secara fisik lagi karena sibuk mencari nafkah. Tapi kayaknya sih kamu bakal capai fisik juga, karena akhirnya kamu juga harus nyuci dan nyetrika serta bersih-bersih rumah sendiri karena pasangan kamu marah lalu kabur sehabis kamu siram air es. (Semoga) selamat saat mencoba, ya.</p>
<p>Salam hangat,<br />
Dokter Jo</p>
<p>Sarungkan yang juga aneh. Kalau menurut pandangan Mbah, dalam kasus kamu yang terpenting bukanlah masalah nilai benar atau salah pada sebuah kewajiban, tapi bagaimana kalian bisa saling memberi pengertian. Dalam sebuah hubungan yang sehat, mestinya tidak ada aturan yang justru malah menekan pasangan hingga melampaui batas kesanggupannya. Aturan memang akan selalu ada, tapi tujuan aturan dibuat adalah seharusnya demi kebaikan. Agar manusia tahu mana hak dan kewajibannyalah maka aturan dibuat. Sebab tak jarang manusia menjadi begitu alpa terhadap kewajibannya, dan malah terus menuntut agar haknya terpenuhi. Ada banyak orang yang malas cari uang, tapi ngamuk-ngamuk minta dikasih makan, plus ayam goreng dan kambing guling pula.</p>
<p>Alamak!</p>
<p>Jadi dalam hal ini sebenernya tidak baik jika kita menetapkan aturan yang begitu ketat tentang siapa yang harus membiayai rumah tangga, dan siapa yang harus mengurus rumah tangga. Baik kamu dan partner keduanya adalah bagian dari rumah tangga. Jadi mencari nafkah tentu adalah kewajiban bersama, apalagi jika kamu belum bisa mencukupi semua kebutuhan rumah tangga yang ujung-ujungnya malah membuat kamu sakit. Lihatlah dalam kehidupan rumah tangga heteroseksual pun ada begitu banyak suami yang dibantu istrinya dalam memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga apabila pendapatan suaminya memang belum mencukupi.</p>
<p>Sebenarnya kunci kesuksesan sebuah hubungan adalah komunikasi. Komunikasi bagaikan sebuah ruang yang bisa menghancurkan segala salah prasangka, menyatakan hal yang belum ternyatakan, dan memahami banyak hal yang belum terpahami. Maka saran Mbah, bicarakanlah kepada partner bahwa sebenarnya kamu nggak sanggup menanggung semua kebutuhan hidup kalian sendiri. Putuskan kewajiban-kewajiban apa saja yang bisa kamu lakukan dan yang harus partner lakukan. Aturlah keuangan sebaik mungkin. Kalau bisa, jangan satukan tabuangan kalian, sebab takutnya akan menimbulkan masalah apabila kalian putus nanti. Ingat Indonesia belum membuat undang-undang pembagian harta gono-gini untuk kaum lebian yang bercerai. Bisa repot deh!</p>
<p>Namun apabila, seandainya, jikalau setelah kamu komunikasikan dengan partner dan ternyata partner masih ngotot nuntut kamu yang harus mencukupi semua kebutuhan rumah tangga kalian sendirian. Cobalah renungkan, Sis! Apakah partner benar-benar mencari kekasih, atau mencari orang yang bisa mencukupi kebutuhan hidupnya? Cinta tidak pernah menuntutmu jadi kaya, tapi cinta jutru memberimu kekayaan kasih. Cinta tidak pernah memintamu untuk mencukupi, tapi cintalah justru membuatmu menjadi cukup. Hm… Jadi teringat saat Mbah mendekati Tante Mel dengan hanya bermodalkan sepiring nasi goreng pinggir jalan yang harganya cuma delapan ribu seporsi. Tapi entah mengapa nasi goreng itu bisa membuat hati Tante Mel berdebar-debar, hidungnya kembang kempis dan matanya berkedip-kedip. Sumpah! Sakin senengnya Tante Mel makan nasi gorengnya lahap banget, sampe nambah pula, bahkan minta dibungkus buat dibawa pulang untuk kakak-kakaknya dan para keponakan yang jumlahnya seabrek, halah lebay deh! Ups! Intinya Tante Mel bahagia bukan karena Mbah banyak uang, tapi karena kekerenan Mbah DeNi yang luar biasa, eh… maksudnya karena cinta Tante Mel yang tulus. Hihihihihi…</p>
<p>salam,<br />
Mbah De Ni.</p>
<p>@Tim SOS, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/03/06/s-o-s-capek-jadi-kepala-rumah-tangga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>te.Lez.kop: Femme&#8217;s Playground</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/12/02/telezkop-femmes-playground/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/12/02/telezkop-femmes-playground/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 00:35:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Telezkop]]></category>
		<category><![CDATA[Label]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=5019</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Shinigami
Mari saya data apa yang muncul di benak kalian ketika pertama kali membaca judul itu. Butik? Lantai bagian kosmetik atau sepatu suatu pusat perbelanjaan? Spa? Kelas yoga? Kelas menjahit? Kursus membuat kue? Ya, ya, daftarnya akan terus bertambah dan mungkin menyaingi daftar belanja bulanan seorang ibu kepala asrama, tetapi saya yakin –bahkan saya nyaris berani pasang taruhan– kalian hampir tidak akan memikirkan satu jenis tempat yang akan saya bahas kali ini: bengkel. Tidak, saya tidak salah ketik atau mabuk.
Apakah yang saya maksud itu bangunan yang bagian lantainya sering kali ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-5020" title="tukang_pelek____by_giandhalimarta" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/12/tukang_pelek____by_giandhalimarta.jpg" alt="tukang_pelek____by_giandhalimarta" width="193" height="281" />Oleh: Shinigami</p>
<p>Mari saya data apa yang muncul di benak kalian ketika pertama kali membaca judul itu. Butik? Lantai bagian kosmetik atau sepatu suatu pusat perbelanjaan? Spa? Kelas yoga? Kelas menjahit? Kursus membuat kue? Ya, ya, daftarnya akan terus bertambah dan mungkin menyaingi daftar belanja bulanan seorang ibu kepala asrama, tetapi saya yakin –bahkan saya nyaris berani pasang taruhan– kalian hampir tidak akan memikirkan satu jenis tempat yang akan saya bahas kali ini: bengkel. Tidak, saya tidak salah ketik atau mabuk.</p>
<p>Apakah yang saya maksud itu bangunan yang bagian lantainya sering kali sudah tak jelas warna aslinya lantaran terlalu sering kena oli dan yang memiliki mesin kompresor yang menghasilkan suara desis memekakkan telinga setiap kali angin dipompa keluar melalui selang kecil? Ih, itu kan tempatnya kotor banget? Bagaimana bisa membayangkan para femme wangi dan cantik dengan tas imut, sepatu berhak, dan pakaian warna pastel mereka duduk di pojok, menunggui kendaraannya di-<em>tune up</em>?</p>
<p><span id="more-5019"></span>Mungkin absurdnya seperti membayangkan Ade Rai pakai kostum tari pendet ya? Memang sih, bengkel bukanlah tempat yang lazim untuk diasosiasikan dengan femme yang cantik dan imut. Tetapi sesuatu yang jarang terjadi bukan berarti ia tak dapat atau tak seharusnya terjadi. Bisa saja hal itu sangat jarang terjadi karena kita belum benar-benar memikirkan atau mencermatinya.</p>
<p>Kondisi bengkel yang tak terawat dan cenderung berantakan cukup sering membuat orang malas ke bengkel. Tidak semua bengkel bersih dan menyenangkan seperti yang pernah ditulis Sidney di artikelnya<a href="http://sepocikopi.com/2009/10/17/cuci-mata-a-new-dating-place/"> A New Dating Place</a>. Ralat, sebagian besar bengkel TIDAK bersih dan TIDAK menyenangkan. Karena itu, perempuan biasanya akan meminta pacar atau teman yang lebih maskulin (entah laki-laki atau perempuan) untuk membawa kendaraannya ke bengkel. Akibatnya bengkel seakan menjadi tempat yang didominasi kaum laki-laki dan sangat berbau maskulin.</p>
<p>Sampai di sini kalian mungkin sudah bersorak: Tepat! Karena itulah bengkel tidak cocok dijadikan tempat bermain femme. Tidak salah, itu satu sudut pandang yang bisa kita pakai. Tetapi, jangan kaget bila saya katakan bahwa justru dominasi kaum laki-laki dan sifat maskulin bengkel itulah yang menjadi alasan mengapa bengkel seharusnya menjadi arena para femme.</p>
<p>Kalau kalian belum menyadarinya, lelaki biasanya ingin tampil sebagai pahlawan bagi perempuan; bila bukan sebagai penyelamat segala sesuatunya, setidaknya sebagai sosok yang bisa diandalkan. Apalagi kita bicara soal otomotif, bidang yang secara otomatis dianggap dunia laki-laki. Nah, femme dapat dengan mudah memanfaatkan dua kondisi tersebut.</p>
<p>Bayangkan seorang perempuan manis berkuncir kuda yang sedikit lepek karena keringat, memasuki bengkel sambil menuntun sepeda motornya. Ia terlihat bingung dan panik, tidak mengerti apa yang salah dengan motornya yang tiba-tiba mati di perempatan jalan. Bagi lelaki, pemandangan semacam itu di mata mereka berubah menjadi semacam lampu Batman yang dinyalakan penduduk Gotham City ketika mereka membutuhkan bantuan. Mereka akan merasa berdosa bila tak melakukan sesuatu pun untuk membantu. Dan demi menjalankan peran pahlawan itu, mereka akan melakukan hal yang terbaik, terefektif, serta terefisien. Kalau perlu perempuan manis itu tak perlu mengotori tangannya satu milimeter pun. Serahkan saja semuanya kepada mereka, kaum laki-laki.</p>
<p>Coba kita ganti sedikit ilustrasi tadi dengan seorang butch gagah, lengkap dengan tas ransel, jaket balap, dan helm teropong mentereng. Ketika ia muncul sambil menuntun motornya, yang terlihat oleh para laki-laki adalah seorang teman yang kebetulan sedang bernasib sial. Entah bagaimana, mereka cenderung melihat sesama lelaki sebagai sesama <em>superhero </em>yang pasti bisa mengatasi masalahnya sendiri tanpa perlu dibantu. Alhasil, si butch tak akan mendapatkan perhatian atau pertolongan dengan level yang sama seperti yang seketika didapatkan perempuan manis berkuncir kuda yang saya jadikan contoh di atas. Biasanya diperlukan waktu cukup lama untuk menyadari bahwa pemilik sepeda motor mogok itu sebenarnya seorang perempuan yang sangat tomboi. Dan ketika itu terjadi, si butch kemungkinan besar sudah bermandi keringat dan sedikit frustrasi dengan kondisinya.</p>
<p>Selain kesigapan dan bantuan maksimal dalam tempo singkat yang diperoleh, femme juga akan diuntungkan dalam hal perolehan pengetahuan otomotif. Meskipun perempuan, ada baiknya juga kan kita sedikit mengerti tentang otomotif, terutama yang berhubungan dengan kendaraan yang kita pakai. Sering kali, montir-montir di bengkel itu bersikap seperti orang yang menderita radang tenggorokan alias irit bicara. Mereka biasanya diam saja kalau tak ditanya, dan kalau ditanya, mereka hanya akan menjawab pendek-pendek. Nah, ceritanya akan sedikit berbeda bila yang bertanya seorang femme cantik. Saya yakin, si montir akan memberikan jawaban yang lebih lengkap dari biasanya dengan tingkat antusiasme dan kesabaran yang di atas garis rata-rata. Kapan lagi bisa membuat perempuan cantik terkesima dengan pengetahuan yang dimilikinya?</p>
<p>Kalau yang bertanya butch? Kemungkinan besar montir itu akan menganggap ‘laki-laki’ ini sudah cukup tahu sehingga pemberian jawaban pendek pastilah cukup atau bisa jadi si montir akan menjawab dengan serangkaian istilah pelik bidang otomotif semacam “stang seker” atau “rantai kamrat” yang biasanya menimbulkan tanda tanya sebesar benua Amerika di pikiran seorang perempuan.</p>
<p>Bagaimana, masuk akal kan kalau saya bilang bengkel itu seharusnya menjadi <em>playground </em>femme? Demi pelayanan ekstra sigap dan penambahan pengetahuan bidang otomotif yang bisa jadi berguna suatu hari nanti, mulai sekarang mintalah pacar kalian yang femme untuk ke bengkel. Jangan suruh si andro atau butch, sebab mereka hanya akan menjadi sangat berguna bila bengkel itu bermontirkan perempuan semua. Hehehe&#8230;.</p>
<p>@Shinigami, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/12/02/telezkop-femmes-playground/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lagak Lajang: Don&#8217;t Judge the Book by Its Cover</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/11/28/lagak-lajang-dont-judge-the-book-by-its-cover/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/11/28/lagak-lajang-dont-judge-the-book-by-its-cover/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 03:11:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lagak Lajang]]></category>
		<category><![CDATA[Label]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=4956</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Oscar Arumi
Kalau mau pake label-labelan, saya tidak keberatan bila dikategorikan sebagai bagian dari andro-butch. Yah, kalau kata anak-anak sekarang sih, memang rada macho tapi gak kelihatan cowok banget kok. Ketika semasa kuliah dulu, saya selalu menggunakan kaos dan jins belel plus sepatu kets yang talinya gak pernah nyambung dengan warna sepatu.  Dengan sekali pandang, lesbian mana pun yang bertatapan dengan saya pasti bisa menerka-nerka bagaimana saya. Beranjak tamat kuliah dan mulai dewasa, saya terbiasa menggunakan celana bahan kain dibalut kemeja plus sepatu kulit perempuan tanpa hak yang modelnya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-4957" title="4b584d53d34d7a1386e9247fbea58718" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/11/4b584d53d34d7a1386e9247fbea58718.jpg" alt="4b584d53d34d7a1386e9247fbea58718" width="234" height="174" />Oleh: Oscar Arumi</p>
<p>Kalau mau pake label-labelan, saya tidak keberatan bila dikategorikan sebagai bagian dari andro-butch. Yah, kalau kata anak-anak sekarang sih, memang rada macho tapi gak kelihatan cowok banget kok. Ketika semasa kuliah dulu, saya selalu menggunakan kaos dan jins belel plus sepatu kets yang talinya gak pernah nyambung dengan warna sepatu.  Dengan sekali pandang, lesbian mana pun yang bertatapan dengan saya pasti bisa menerka-nerka bagaimana saya. Beranjak tamat kuliah dan mulai dewasa, saya terbiasa menggunakan celana bahan kain dibalut kemeja plus sepatu kulit perempuan tanpa hak yang modelnya mirip sepatu pria. Atau, bila sedang tak menggunakan celana berbahan kain, jins yang tak terlalu ketat tetap menjadi pilihan saya. Dengan berbusana demikian, ditambah kemeja atau atasan lain yang dimasukkan kedalam celana hingga mata sabuk kelihatan samar-samar di bagian perut, seorang lesbian dewasa pasti bisa mengenali aura yang saya kenakan. Dan, saya yakin, pasti!</p>
<p><span id="more-4956"></span>Beberapa tahun lalu, saya pernah bergelut dengan sindrom pengangguran besar-besaran. Artinya, saya menganggur ketika baru tamat kuliah dengan bulan bermalas-malasan yang sangat berkesan. Namun, justru akhirnya memacu diri untuk mengubah masa depan saya. Waktu itu, saya  sedang mengikuti ujian psikotes dan wawancara  pada sebuah bank. Sampai suatu ketika, seorang peserta mendekati saya.</p>
<p>&#8220;Mbak, yang kemarin ngantri di kantor pos kan? Tes juga ya, Mbak?” tanyanya dengan yakin sementara saya benar-benar tak bisa mengingat siapa perempuan yang menyapa saya. Akhirnya, saya cengar-cengir sendiri menanggapi ceritanya.</p>
<p>Lalu, di sebuah kesempatan yang lain, saya harus menemani seorang sahabat yang diserang demam berdarah. Ketika menunggu racikan obat di apotik rumah sakit, saya duduk menunggu bersama pasien lainnya. Seorang pasien menyenggol lengan saya sambil berucap, &#8220;Eh, Mbak yang ngantri film <em>Kuch-Kuch-Hota-Hae</em> minggu lalu kan? Wah, dapat tiketnya nggak? Saya nggak dapat loh, Mbak’’.</p>
<p>Berulang kali saya mengerutkan dahi mengingat siapa perempuan ini, berulang kali pula saya gagal memanggil memori pengingat saya untuk mendeteksi &#8220;cewek yang mana ya?’’.</p>
<p>Oke, ada apa dengan mereka? Saya bertanya-tanya mengapa perempuan-perempuan yang sama sekali tidak saya kenal malah ternyata ‘mengenali’ saya. Beberapa tahun yang lalu, saya tak sempat menganalisanya dan tak tertarik mengadakan penelitian lebih lanjut. Mengapa dulu, banyak sekali yang gampang ‘menandai’ saya, tapi tidak seperti sekarang? Entah kenapa, akhir-akhir ini saya yang malah meng-introspeksi diri sendiri. Jangan-jangan memang ada yang salah dalam diri saya pada periode tahun lalu.</p>
<p>Saya memandangi cermin dan tersenyum melihat rok mengajar yang wajib saya kenakan, sepatu ber-hak yang tak terlalu tinggi plus blazer yang kerap digunakan sehari-hari. Saya tatap wajah saya di cermin, nyaris tak ada perubahan selain kerutan yang mulai menyeruak ke permukaan dahi.</p>
<p>Perlahan saya sadari, sekarang ini berbeda dengan yang dulu. Penampilan andro-butch dulu, mungkin menimbulkan kesan tersendiri bagi beberapa orang sehingga lekat dalam ingatan. Yang melihat saya bisa saja lesbian, bisa juga bukan. Yang pasti, dengan penampilan yang ‘berbeda’ seperti dulu, orang-orang bisa menandai bahwa saya memang ‘berbeda’ dari perempuan kebanyakan. Lantas, saya pandangi cermin sekali lagi, dan melihat rok mengajar yang saya kenakan. Senyuman puas tersungging di bibir. Puas karena ternyata rok mengajar berhasil mengelabui beberapa orang! Setidaknya saya nggak kelihatan macho.</p>
<p>Tetapi, tiba-tiba teringat status jomblo saya dan kemudian menerka-nerka. Jangan-jangan karena rok mengajar ini, maka saya hampir tak berhasil dekat dengan perempuan <em>femme </em>mana pun? Atau&#8230; jangan-jangan mereka justru menganggap saya <em>femme </em>dengan rok seperti ini? PLAK! Tangan saya memukul kening sendiri, menggelengkan kepala tak habis pikir. Saya takut, jangan-jangan ternyata benar!</p>
<p>@Oscar Arumi, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/11/28/lagak-lajang-dont-judge-the-book-by-its-cover/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gaya Bahasa Chatting</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/11/04/gaya-bahasa-chatting/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/11/04/gaya-bahasa-chatting/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 08:47:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Label]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=4662</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Rafilus Olenka
Bagi kamu para pegiat chatting dan conference, via apa saja, sesekali coba deh kamu perhatikan pilihan-pilihan kata yang digunakan kawan ngobrolmu. Sedikit teliti, pasti akan menemukan beberapa faktu unik (cenderung menggelikan) seputar gaya bahasa yang dipakai dan kaitannya dengan label lesbian yang diakuinya.
Setiap kali chat dengan seorang lesbian yang berlabel andro, ada beberapa kesamaan pilihan gaya bahasa yang digunakannya jika dibandingkan dengan andro-andro yang lain, yaitu:
 1. Sering menggunakan kata yang mengekspresikan aktivitas tertawa, entah tertawa biasa atau terbahak-bahak, bahkan terpingkal-pingkal;
2. Sering memakai kata yang mengekspresikan teriakan-teriakan datar ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-4663" title="chatting_with_you_by_thegabx" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/11/chatting_with_you_by_thegabx.jpg" alt="chatting_with_you_by_thegabx" width="210" height="158" />Oleh: Rafilus Olenka</p>
<p>Bagi kamu para pegiat <em>chatting </em>dan <em>conference</em>, via apa saja, sesekali coba deh kamu perhatikan pilihan-pilihan kata yang digunakan kawan ngobrolmu. Sedikit teliti, pasti akan menemukan beberapa faktu unik (cenderung menggelikan) seputar gaya bahasa yang dipakai dan kaitannya dengan label lesbian yang diakuinya.</p>
<p>Setiap kali <em>chat </em>dengan seorang lesbian yang berlabel andro, ada beberapa kesamaan pilihan gaya bahasa yang digunakannya jika dibandingkan dengan andro-andro yang lain, yaitu:<br />
<span id="more-4662"></span> 1. Sering menggunakan kata yang mengekspresikan aktivitas tertawa, entah tertawa biasa atau terbahak-bahak, bahkan terpingkal-pingkal;<br />
2. Sering memakai kata yang mengekspresikan teriakan-teriakan datar sebagai penanda ekspresi terkejut;<br />
3. Kerap menampilkan emoticons yang mengekspresikan tawa;<br />
4. Cenderung memilih kata-kata yang mengundang canda dan suasana santai.</p>
<p>Mungkin sebenarnya masih banyak kesamaan lain dari bahasa <em>chat </em>para andro ini, tapi jika disimpulkan kurang lebih seperti beberapa poin di atas. Dari pilihan kata, para andro terlihat dominan dalam mencairkan suasana. Mereka cenderung memilih tema-tema pembicaraan yang mengundang tawa-canda. Gaya semacam itu juga terlihat saat ngobrol keroyokan alias <em>conference</em>. Andro dan butch terlihat lebih mendominasi keributan ruang konferensi dengan teriakan dan jerit tawa mereka. Awalnya, kupikir ini hanya gaya yang muncul dari karakter salah satu teman <em>chatting </em>androku, tapi ternyata hampir semua andro di daftar YM-ku bergaya sama, tak peduli karakter aslinya memang benar-benar humoris/penuh keributan, atau pendiam/cuek.</p>
<p>Nah, bagaimana dengan gaya bahasa <em>chatting </em>para femme?</p>
<p>Femme biasanya lebih berhati-hati dalam memilih kata. Pilihan kalimatnya cenderung datar tanpa ekspresi berlebihan. Para femme lebih suka menggunakan <em>emoticons </em>senyuman atau kedipan, meski sesekali juga menggunakan <em>emoticons</em>tawa. Yang unik, jika lawan ngobrolnya berlabel femme, tema pembicaraan yang terjadi seringnya lebih mengarah pada “curcol” alias curhat colongan tentang partner masing-masing dan permasalahan-permasalahan seputarnya. Tapi, jika lawan bicaranya berlabel andro, pembicaraan akan mengalir ke tema yang lebih umum atau obrolan-obrolan penuh canda lainnya. Dalam berinteraksi di dunia maya, femme terlihat lebih terbuka dengan dunia lesbiannya sehari-hari.</p>
<p>Bagaimana dengan butch? Seperti apa gaya bahasanya saat <em>chatting</em>?</p>
<p>Biasanya, butch lebih memilih kata-kata yang berekspresi serius dan datar, bahkan kadang agak sedikit formal. Para bucth tidak mudah dan sering mengumbar ikon tawa atau menebar kalimat-kalimat penuh canda. Namun, jika bergabung bersama dalam ruang conference, ia akan terlihat lebih santai dan mengimbangi para andro untuk bersama-sama memeriahkan suasana (dan terkadang bersama-sama juga memojokkan para femme yang terdiam manis).</p>
<p>Lalu, bagaimana dengan gaya bahasa lesbian yang memilih untuk tidak melabeli dirinya dengan stempel A, F, atau B? Mereka yang tergolong <em>no label </em>tidak punya gaya yang terlalu khas, rata-rata sama dengan perempuan kebanyakan. Hanya saja, mereka terkadang lebih memilih untuk tidak berbicara dan bercerita lebih dalam tentang dunia lesbian mereka.</p>
<p>Apa mau dikata, pilihan seseorang dalam berbahasa (entah lisan entah tulisan) memang akan sangat dipengaruhi oleh banyak faktor yang ada di sekitarnya. Mulai dari status sosial, tingkat pendidikan, suku bangsa, lingkaran pertemanan, bahkan label orientasinya. Variasi berbahasa yang berbeda ini, dalam dunia lesbianis, ternyata mengindikasikan identitas sosial dan label dari penutur bahasa yang bersangkutan. Para femme mungkin tidak terlalu tampak berbeda dengan perempuan kebanyakan, jika dilihat dari pilihan berbahasa atau berinteraksi (menurut seorang temanku yang andro, hal ini juga yang menjadikan femme sedikit sulit diidentifikasi oleh para andro di dunia nyata). Sedangkan para andro dan butch memiliki gaya yang berasosiasi pada nuansa maskulin.</p>
<p>Tulisan ini memang tidak ditulis berdasarkan sampel atau riset yang sangat banyak dan dalam, hanya sekitar sepuluh orang saja dari sekian nama yang ada dalam daftar teman di akun YM-ku. Jadi, teserah saja mau percaya 100% atau tidak. Yang pasti, iseng-iseng memerhatikan hal unik ini tidak ada salahnya kan. Siapa tahu, kamu malah bisa membongkar identitas orang yang sedang kamu dekati, yang selama ini mengaku berlabel femme, padahal butch sejati!</p>
<p>@Rafilus Olenka, SepociKopi, 2009<br />
<strong><br />
Tentang Rafilus Olenka: </strong><br />
Pekerja lepas dunia perbukuan, tinggal di ujung selatan Ibu Kota</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/11/04/gaya-bahasa-chatting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesehatan dan Seksualitas: Lesbian Rating Scale for Label</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/07/09/%e2%80%9claras-l%e2%80%9d-a-lesbian-rating-scale-for-label/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/07/09/%e2%80%9claras-l%e2%80%9d-a-lesbian-rating-scale-for-label/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jul 2009 06:46:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan dan Seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[Label]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=3070</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sky
Pada tahun 1948, seorang ahli zoologi bernama Alfred Kinsey mempublikasikan hasil survei yang ia lakukan sejak tahun 1938 mengenai perilaku seksual. Hasil survei tersebut mengindikasikan bahwa kebanyakan orang sudah pernah mencoba perilaku seksual alternatif, termasuk masturbasi, anal sex, dan hubungan seks pranikah. Berdasarkan survei tersebut, Kinsey juga menemukan bahwa hampir 46% pria dan sekitar 6-14% perempuan memiliki bisexual experience.
Penemuan ini jelas menghebohkan dan menimbulkan kontroversi di Amerika Serikat tempat Kinsey melakukan penelitian. Kontroversi tersebut semakin hebat karena Kinsey dan rekan-rekan penelitiannya lantas mengemukakan apa yang mereka sebut sebagai Rating ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/07/pendant.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-13112" title="pendant" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/07/pendant-157x300.jpg" alt="" width="157" height="300" /></a>Oleh: Sky</p>
<p>Pada tahun 1948, seorang ahli zoologi bernama Alfred Kinsey mempublikasikan hasil survei yang ia lakukan sejak tahun 1938 mengenai perilaku seksual. Hasil survei tersebut mengindikasikan bahwa kebanyakan orang sudah pernah mencoba perilaku seksual alternatif, termasuk masturbasi, <em>anal sex</em>, dan hubungan seks pranikah. Berdasarkan survei tersebut, Kinsey juga menemukan bahwa hampir 46% pria dan sekitar 6-14% perempuan memiliki <em>bisexual experience</em>.</p>
<p>Penemuan ini jelas menghebohkan dan menimbulkan kontroversi di Amerika Serikat tempat Kinsey melakukan penelitian. Kontroversi tersebut semakin hebat karena Kinsey dan rekan-rekan penelitiannya lantas mengemukakan apa yang mereka sebut sebagai <em>Rating Scale for Sexual Orientation. </em>Kinsey percaya bahwa orientasi seksual bukanlah sebuah keadaan <em>either/or </em>di mana seseorang hanya bisa menjadi <em>completely heterosexual </em>atau <em>completely homosexual, </em>melainkan sebuah <em>continuum.</em></p>
<p><span id="more-3070"></span>Hal itulah yang sempat terlintas di dalam kepala saya ketika membaca artikel<a href="http://sepocikopi.com/2009/06/18/labelicious-club/"> Labelicious Club</a> hasil guratan Lakhsmi dan mendiskusikannya dengan kekasih. Bagi sejumlah lesbian, label seperti butch, femme, atau andro mungkin sesuatu yang secara otomatis mereka peroleh ketika menjejakkan kaki di jalan yang menikung tajam ini. Namun, sejumlah lain memilih untuk menolak label tersebut setelah menyematkan <em>badge</em> “L” untuk kata lesbian di dada mereka. Mengapa ada lesbian yang memilih untuk menempelkan tulisan <em>no label </em>di kening mereka? Apakah status butch, femme, dan andro memang sesuatu yang <em>definite</em> dan merupakan keadaan yang <em>either/or </em>bagi lesbian? Ataukah semua sebenarnya berada di garis lurus yang kontiniu seperti skala Kinsey? Saya pribadi lebih setuju dengan opsi yang kedua.</p>
<p>Apa, sih, yang membuat seorang lesbian bisa disebut sebagai butch? Rambut cepak? <em>No make-up? </em>Gaya berjalan dan tingkah laku layaknya seorang gentleman? Apa pula yang membuat seorang lesbian menjadi femme atau andro? Apakah cukup dengan penampilan fisik? Lalu bagaimana dengan orang yang hari ini senang bergaya <em>tomboy-ish </em>kemudian minggu depan berdandan <em>supergirly?</em></p>
<p>Hal inilah yang membuat saya lebih condong untuk percaya bahwa label adalah sesuatu yang kontiniu, dan kadang lesbian yang paling butch sekalipun juga ingin diperlakukan layaknya seorang gadis kecil yang manis. Oleh sebab itu, iseng-iseng saya membuat skala sendiri yang mirip dengan skala Kinsey. Saya menamakannya “LaRaS-L”, sebuah singkatan untuk <em>a Lesbian Rating Scale for Label.<br />
</em><br />
<img class="alignleft size-full wp-image-3071" title="gambar-laras" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/07/gambar-laras.jpg" alt="gambar-laras" width="430" height="260" /></p>
<p><strong>0- Exclusively butch with no femme tendency<br />
1- Predominantly butch, only incidentally has femme tendency<br />
2- Predominantly butch, but more than incidentally has femme tendency<br />
3- Equally butch and femme (Andro)<br />
4- Predominantly femme, but more than incidentally has butch tendency<br />
5- Predominantly femme, only incidentally has butch tendency<br />
6- Exclusively femme<br />
</strong></p>
<p>Ini adalah sebuah skala yang dihasilkan murni dari pemikiran iseng. Tanpa perenungan yang mendalam, tanpa penelitian dengan metode yang benar. Jadi, jangan terlalu dianggap serius, ya. <em>(It’s just for fun!).</em></p>
<p>Mungkin beberapa di antara kaum <em>no label </em>adalah mereka yang masih bingung dengan perasaannya, dan berada pada skala 1, 2, 4, atau 5. Mereka tidak bisa menentukan dengan pasti apakah keadaan mereka sudah menggambarkan butch, femme, atau andro. Tidak berarti bahwa pendapat saya pasti benar karena banyak juga yang berargumentasi bahwa mereka menolak label untuk menghindari dikotomi peran gender lelaki-perempuan.</p>
<p><em>So, anyway</em>, kira-kira kamu ada di nomor berapa?</p>
<p>@Sky, SepociKopi, 2009</p>
<p><strong>Tentang Sky:<br />
</strong>Berusia sembilan belas tahun sembilan bulan dan saat ini sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di Indonesia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/07/09/%e2%80%9claras-l%e2%80%9d-a-lesbian-rating-scale-for-label/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

