<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; kesetiaan</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/tag/kesetiaan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 10:52:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Tajuk: Hubungan Percintaan Langgeng dan Kita</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/02/07/tajuk-hubungan-percintaan-langgeng-dan-kita/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/02/07/tajuk-hubungan-percintaan-langgeng-dan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Feb 2012 10:23:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Tajuk]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17923</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nuha Guwa
Apa ada cinta lesbian yang hubungannya langgeng dan lama? Bagi yang merasa frustrasi melihat hubungan lesbian yang kelihatan jarang langgeng, jangan cepat putus asa. Banyak kok di antara kita yang hubungannya bertahun-tahun. Ketika kita bertemu dia tahun lalu, pacarnya A, bertemu lagi di tahun berikutnya pasangannya masih sama.
Memang, rata-rata pasangan lesbian langgeng seperti ini tampaknya tidak begitu banyak berinteraksi di dunia maya. Mereka lebih memfokuskan diri pada kehidupan asli. Jadi, data tentang mereka sangat minim ditemukan. Alangkah senangnya jika ada rekan-rekan lesbian yang mau melakukan riset tentang hal ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/love-forever-promise.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17924" title="love forever promise" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/love-forever-promise-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Oleh: Nuha Guwa</p>
<p>Apa ada cinta lesbian yang hubungannya langgeng dan lama? Bagi yang merasa frustrasi melihat hubungan lesbian yang kelihatan jarang langgeng, jangan cepat putus asa. Banyak kok di antara kita yang hubungannya bertahun-tahun. Ketika kita bertemu dia tahun lalu, pacarnya A, bertemu lagi di tahun berikutnya pasangannya masih sama.</p>
<p><span id="more-17923"></span>Memang, rata-rata pasangan lesbian langgeng seperti ini tampaknya tidak begitu banyak berinteraksi di dunia maya. Mereka lebih memfokuskan diri pada kehidupan asli. Jadi, data tentang mereka sangat minim ditemukan. Alangkah senangnya jika ada rekan-rekan lesbian yang mau melakukan riset tentang hal ini sehingga data akurat tentang pasangan lesbian berumur panjang bisa mengimbangi kisah  drama Oh Mama Oh Papa yang banyak kita dengar dari curhat-curhat selama ini.</p>
<p>Benar, banyak kisah yang membuat kita bergidik. Baru saja kita bertemu teman lesbian itu dengan pacar barunya, beberapa bulan kemudian kita sudah dikenalkan dengan pasangan terkininya yang lain. Tahun berikutnya, ternyata sudah yang lain lagi. Aduh!</p>
<p>Banyak faktor yang dapat membuat hubungan kita dengan pasangan awet. Berjuta ragam tips di internet mengajarkan manusia bagaimana memelihara hubungan cinta dengan pasangan. Memiliki hubungan harmonis dan sanggup menjalani suka duka hidup bersama-sama merupakan impian setiap pasangan. Cinta menjadi bagian penting dari tema hidup. Tanpa cinta, kehidupan ini seperti <em>gadget </em>canggih tanpa sinyal, seperti sayur tanpa garam. Sepanjang peradaban manusia, cinta selalu menjadi legenda paling menyenangkan untuk diketahui. Hubungan cinta abadi selalu menjadi tolak ukur kebahagiaan seseorang.</p>
<p>Psikolog asal Swiss, Jerman dan Amerika Serikat melakukan riset menarik soal hubungan langgeng. Penelitian itu mengatakan bahwa  pasangan yang baru mengenal dan hidup bersama selama satu hingga dua tahun ternyata lebih saling mengerti satu sama lain dibandingkan yang telah hidup bersama selama empat puluh tahun. Konon, hal ini bisa terjadi karena pada awal hubungan, mereka benar-benar mencoba untuk saling mengenal. Lalu ketika usia hubungan berjalan lama, mereka berpikir sudah tahu segala sesuatu tentang pasangannya.</p>
<p>Para peneliti ini melakukan pengamatan pada dua kelompok pasangan, yang tua dan muda. Mereka diberikan pertanyaan kesukaan pasangan terkait tiga hal yaitu film, makanan, dan <em>furniture </em>dapur. Dari hasil jawaban, 38 pasangan muda yang berusia antara 19 hingga 32 tahun dan baru hidup bersama rata-rata dua tahun satu bulan memiliki jawaban yang lebih tepat. Hal itu dibandingkan dengan dua puluh pasangan tua, berusia antara 62 hingga 78 tahun yang telah hidup bersama selama empat puluh tahun sebelas bulan. Para peneliti memperkirakan, pasangan muda memang lebih termotivasi  untuk mengenal dan mengerti pasangan ketika memulai hidup bersama. Tetapi sayangnya, motivasi tersebut menurun seiring berjalannya waktu.</p>
<p>Berdasarkan riset di atas, seperti halnya tanaman, ternyata cinta perlu dipupuk dan disiram sepanjang hari. Cinta memerlukan proses setiap waktu untuk bisa mengerti terhadap keinginan dan perubahan yang ada dalam pasangan. Cinta membutuhkan adaptasi, cinta butuh ilmu, cinta butuh materi, cinta butuh seluruh potensi hidup untuk mempertahankannya.</p>
<p>Membangun cinta dengan pasangan perlu modal perhatian dan ekstra keras setiap saat, seperti usaha kita di saat baru berkenalan. Analoginya mungkin bisa seperti ini, dalam cinta perlu tawar menawar, mirip transaksi jual beli. Keduanya bisa sama-sama untung ketika kesepakatan tercapai. Bentuk jual beli dalam cinta tentu saja bukan seperti jual-beli yang nyata. Jual beli dalam cinta terjadi dalam makna spiritual, emosional, pengetahuan, pengalaman, dan banyak faktor lain.</p>
<p>Biasanya di awal pertemuan, cinta yang benar-benar kuat akan mendorong seseorang mengatakan dalam hatinya, oh perempuan inilah pilihan saya, kehidupan saya akan diisinya sampai akhir. Didukung dengan pupuk yang hebat yakni tingkat pendidikan, pengetahuan, dan pengalaman yang cukup maka cinta akan selamat meskipun godaan datang silih berganti.</p>
<p>Saya adalah salah satu yang begitu percaya dengan pomeo bahwa &#8220;sifat seseorang tidak jauh-jauh dari pasangannya&#8221;. Secara sederhana, kalau saya lihat teman saya baik, maka dengan segera saya akan mengatakan bahwa pasangannya juga baik dan menyenangkan. Kalau tidak, pasti sudah lama mereka berpisah. Namun, sudah pasti faktor penentu seperti kepercayaan diri, tingkat pendidikan atau pengetahuan, serta pengalaman menjadi sumber kelanggengan dalam sebuah hubungan yang harus selalu dipupuk.</p>
<p>Tips berpasangan langgeng bisa saja bertebaran dan dengan mudah didapatkan. Cinta bisa saja tumbuh subur dan menghilang di antara kedua manusia. Kesetaraan dalam pasangan bisa saja terjadi. Riset ilmiah tentang dunia percintaan bisa saja terus menerus dilakukan oleh para ilmuwan. Tapi yang harus diingat, hubungan percintaan bukan sekadar ilmu atau tips, tapi hubungan percintaan yang langgeng adalah sebuah seni, yang bukan hanya harus dipelajari seumur hidup, tapi juga dihayati sepenuh jiwa raga.</p>
<p>@Nuha Guwa, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/02/07/tajuk-hubungan-percintaan-langgeng-dan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerpen: Lara Lana</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/23/cerpen-lara-lana/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/23/cerpen-lara-lana/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 08:00:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17310</guid>
		<description><![CDATA[Lara Lana
Oleh: Dewi Dee Lestari
Cerpen ini dimuat di kumpulan cerita dan prosa Filosofi Kopi (Gagas Media, 2005)
Sederet angka mencuat dari kertas putih, menusuk mata Lana. Ada sebersih takjub juga ngeri. Seberantak angka yang susah dihafal mampu membongkar kenangan usang dan memberinya makna baru. Dia yang baru. Aku yang usang.
Ruang tunggu selalu memancing dilema dalam hatinya, tapi tidak pernah seperti ini. Lana betul-betul tergerak untuk menelepon. Mungkin karena Lana sudah tak yakin kapan akan kembali, akankah dirinya kembali.
Lana memencet empat angka pertama dari sepuluh digit yang tertera. Dadanya berdegup kencang sampai ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/Lara-Lana.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17415" title="Lara Lana" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/Lara-Lana-214x300.jpg" alt="" width="214" height="300" /></a>Lara Lana</strong><br />
Oleh: Dewi Dee Lestari<br />
Cerpen ini dimuat di kumpulan cerita dan prosa <em>Filosofi Kopi</em> (Gagas Media, 2005)</p>
<p>Sederet angka mencuat dari kertas putih, menusuk mata Lana. Ada sebersih takjub juga ngeri. Seberantak angka yang susah dihafal mampu membongkar kenangan usang dan memberinya makna baru. <em>Dia yang baru. Aku yang usang.</em></p>
<p>Ruang tunggu selalu memancing dilema dalam hatinya, tapi tidak pernah seperti ini. Lana betul-betul tergerak untuk menelepon. Mungkin karena Lana sudah tak yakin kapan akan kembali, akankah dirinya kembali.</p>
<p>Lana memencet empat angka pertama dari sepuluh digit yang tertera. Dadanya berdegup kencang sampai sakit rasanya. Bibirnya bergetar resah, mengantisipasi. Begitu terdengar nada sambung nanti, Lana siap berekspresi layaknya pose untuk berfoto yang terakhir kali. Kata &#8216;apa kabar&#8217; akan meluncur dengan semangat penghabisan matahari sore sebelum dipadamkan malam. Lalu ia lancarkan sepaket basa-basi dalam urutan yang tepat, seperti yang selalu dilatihkannya dalam hati sebelum lelap tidur, agar percakapan mereka tercatat sejarah sebagai yang paling mengasyikkan.</p>
<p>Lalu perasaan itu. Rasa rindu yang akan ia ungkapkan hati-hati, dicicil sehingga tidak terasa picisan. Rasaya sayang dikemas dalam kiasan seperti membungku puteri dalam gaun pesta lalu dilepas anggun ke lantai dansa. Cantik mengundang tapi membuat segan. Semua itu telah dilatihkannya berhari-hari. Bertahun-tahun.</p>
<p>Dua angka sebelum digit terkahir. Jarinya bertahan oleh detik yang tahu-tahu membeku. Detik yang tahu-tahu melebar dan membentangkannya dua puluh tiga tahun perkawanan. Dia selalu memuja Lana, begitu kata semua orang. Tapi mereka tidak bsia bersama karena alasan yang tak perlu dipertanyakan lagi. Kamu itu bajaj bermesin BMW, begitu Lana mengungkapkan padanya saat didesak.</p>
<p>Lana kenal banyak BMW bermesin bajaj, dan semua itu habis ia hina-hina. Untuk benar-benar bersanding sebagai pacar Lana, seseorang harus jadi mobil mewah Eropa luar dalam. Lana yang unik dan glamor. Kamu cukup jadi kacung intelektualku saja, kata Lana padanya. Mereka berdua lantas tertawa-tawa, mereka suka perumpamaan itu, sekali pun hatinya patah setiap kali kata &#8216;kacung&#8217; terlontar dari bibir Lana yang menguncup menggemaskan.</p>
<p>Dia ingin jadi pendekar sakti, seorang master, ilmuwan kaya raya yang menciptakan temuan-temuan hebat untuk memajukan umat manusia. Lana ingin menjadi anggota dari kelompok ultraelit yang memperoleh teknologi dari makhluk Mars untuk membangun koloni rahasia di bulan. Mereka percaya teori konspirasi dan secara berkala bertukar informasi yang dikarang sendiri. Tak ada orang yang lain mampu menghibur Lana sebegitu sempurna, memuaskan rasa humornya, menjajal daya khayalnya.</p>
<p>Masa kuliah mereka habiskan di tempat berbeda. Dia kuliah di UI dan untuk itu terpaksa menumpang di dapur pamannya di Lenteng Agung karena beliau beranak delapan dan itulah satu-satunya tempat yang masih muat digelari kasur. Lana kuliah di USC yang mengharuskannya tinggal di Los Angeles. Sama-sama &#8216;L.A.&#8217;, baru kalau diuraikan perbedaannya terlihat, canda mereka selalu sama. Namun ada kalanya persamaan insignifikan itu, aksara L dan A, menjadi satu-satunya penghibur kala kangen mereka tak lagi terbendung.</p>
<p>Lana tidak menyelesaikan kuliahnya di USC, dan itu tidak masalah. Bisnis keluarganya terlalu banyak untuk menunggu sebuah gelar kesarjanaan. Lain halnya dengan dia yang mencicil gelar demi gelar, mengetuk banyak pintu demi beasiswa, lalu kembali berjuang meniti karier akademis yang terjal, yang tak akan pernah membuatnya sekaya raya Lana.</p>
<p>Saat dia menjadi dosen, hidup sederhana dalam rumah cicilan tipe 35 di perumahan milik universitas yang sebagian masih rawa-rawa, Lana membantunya pindahan, bahkan menginap dan ikut tidur di atas tikar. Pendar-pendar televisi pemberiannya menyemarakkan dinding polos yang tak berhias. Lana tidak punya koloni di bulan, tapi penghasilannya lebih dari cukup unutk menghadiahkan televisi.</p>
<p>Lana tinggal seminggu di rumah itu. Setelah kita mencoba hidup 24 jam x 7 hari dengan seseorang dan tidak merasa bosan, maka orang itu bisa kita nikahi, Lana berteori. Mendengar ucapan Lana, ia tertawa sampai berurai air mata, diikuti Lana sampai tercekik-cekik. Saya tidak mungkin menikahi kamu, ia bercelutuk di ujung tawanya. Barulah Lana sadar, mereka berdua tertawa karena alasan yang berbeda.</p>
<p>Suatu hari dia bilang kalau dia punya pacar. Baru seminggu. Seorang gadis tingkat akhir yang lugu, kaku, dan tidak seru. Tidak percaya UFO, tidak suka Kho Ping Hoo, dan tidak peduli ada tidaknya konspirasi global selama nasi tersaji di meja makan keluarganya setiap hari, selama adzan masih berkumandang lima kali sehari. Kenapa kamu bisa suka, Lana bertanya. Karena dia mau sama saya, ia menjawab. Lana spontan tertawa, kaku dan lama. Ia hanya tersenyum dan menunggu tawa Lana usai. Saya akan menikah, lanjutnya saat hening. Bagaimana kamu bisa menikahi orang yang baru kamu kenal, yang tak seru, yang tak bisa menghargai keunikan pikiranmu, yang tak bisa kamu ajak bercanda dan berkhayal semalam suntuk, cecar Lana yang mulai marah karena percakapan itu makin tidak lucu.</p>
<p>Dia diam, menatap Lana dengan lelah. Dia jemu menanti yang tak pasti. Dia jenuh menjadi pihak yang tak berdaya. Manusia mana yang tidak, pikir Lana. Namun dirinya tak bisa berbuat apa-apa. Keadaan mereka terlampau jauh berbeda. Terkadang Lana berpikir keajaibanlah yang melahirkan manusia satu ini. Bagaimana mungkin lingkungan serba kekurangan, kolot, konservatif, ortodoks, kampungan, dan segala ajektif yang menandakan sistem klaustrofobik sosial mampu menghadirkan dia yang sebegitu canggih dan gila. Seolah dia terbelah dalam dua dunia: dunianya bersama Lana dan bersama sisa dunia tanpa Lana.</p>
<p>Lana ingat saat terkahir kali nomor itu tertera di layar ponselnya: <em>Besok saya lamaran. Doakan ya</em>. Lana tergeli sendiri, apa yang harus didoakan? Hidup berjalan sesuai kontrak yang disepakati antar-roh sebelum terlahir menjadi daging di dunia. Apa pun yang terjadi bukanlah keberuntungan atau kesialan, melainkan eksekusi kontrak belaka. Jadi, apakah seseorang bisa dibilang sial kalau sebenarnya kesialan itu direncanakan? Lana tambah stres saat pertama kali mendengar konsep itu di retret anti-stres.</p>
<p>Akhirnya Lana tak tahan lagi, nelepon membabi buta: Saya mohon, jangan pergi melamar ke sana. Kalau kamu menikah, saya akan jadi orang paling kesepian di dunia. Kalau perlu, saya yang melamar ke orangtua kamu. Jangan bohongi diri kamu. Cuma saya yang mengerti siapa sebetulnya kamu&#8230;</p>
<p>Ia memotong, dingin, seolah disusupi roh asing yang tak Lana kenal: Selama ini kamu cuma mengenalku dalam versi yang kamu mau. Aku begitu karena kamu. Kamu tdak pernah tahu siapa diriku sebenarnya.</p>
<p>Lana menggeleng. Tidak mungkin. Barangkali ia salah sambung. Perjanjian macam apa ini? Benarkah ini roh yang sama, teman sebangkunya sejak SMA, yang selalu berkata mereka adalah sejiwa terbelah dua, <em>soulmate</em>? Lana menutup telepon. <em>Aku ditipu. Breach of contract</em>.</p>
<p>Anaknya yang paling besar sudah mau masuk SD, mereka masih tinggal di rumah yang sama. Lana tahu itu dari seorang alumni. Dan kamu belum menikah? Temannya itu bertanya, hati-hati. Lana menggeleng ringan dengan ekspresi yang bikin iri. Ada kemerdekaan di sana, penerimaan, dan keberanian untuk menjadi beda. Sejak dulu memang cuma Lana yang punya itu semua, temannya membatin. Bergaul dengan Lana seperti hanyut dalam air sejuk, tapi kesejukan itu lama-lama menjadi dingin yang mengintimidasi. Temannya pun permisi pergi, meninggalkan Lana yang kehilangan belahan jiwanya pada reuni akbar, pada sat jiwa-jiwa yang terpisah seharusnya kembali bertemu.</p>
<p>Digit terakhir. Jatuh pada angka nol. Jempol Lana gemetar seolah dibebani bergunung-gunung sampah batin yang dikoleksinya sepanjang hayat. Hatinya lalu mengukur dan menimbang: Akankah aku bertambah tenang bila berhasil membuktikan pada diriku, pada dia, pada dunia, kalau aku baik-baik saja?</p>
<p>Saut percakapan telepon akan membuktikannya. Satu dosis kejujuran sebelum Lana pergi meracuni tubuh dengan kemoterapi &#8211; racun yang berbohong jadi obat.</p>
<p>Jempol itu melayang di atas nol. <em>Kejujuranlah obat sejati.</em></p>
<p>Suara sintetik bernada tinggi menggema di ruang tunggu yang lengang. Tombol terakhir dipencet sudah. Aku mencintaimu. Tidak akan berubah.</p>
<p>Tombol merah yang Lana pilih menghapus kesembilan digit angka pada layar ponsel yang menyala biru. Seorang perempuan berseragam menghampirinya, &#8216;Bapak Maulana, mari saya antar ke pesawat.&#8217;</p>
<p>Lana tidak terburu-buru. Tangan bergerak pelan dan khidmat. Pesawat itu pasti mau menunggu seorang pesakitan untuk melipat dan menyimpan secarik kertas ke dalam dompet, sebagaimana kertas itu sudah terlipat dan menunggu bertahun-tahun di tempat sama. Lalu Lana beringsut hati-hati ke kursi roda yang dibawakan khusus untuknya.</p>
<p>&#8216;Tidak apa-apa, Pak?&#8217; petugas itu bertanya saat melihat mata Lana.</p>
<p>Lana tersenyum tipis, ringan, ekspresi yang memancing rasa iri. Ada kejujuran di sana, kepasrahan, dan keberanian untuk menjadi beda. Namun ada juga bulatan air menyerupai angka nol yang menyembul di pelupuk mata. Lana menghancurkan bulatan itu dengan punggung tangan, &#8216;Tidak apa-apa.&#8217;</p>
<p>***</p>
<p><strong>Tentang Dewi Dee Lestari</strong><br />
Diawali dengan debutnya lewat novel serial <em>Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh</em> pada tahun 2001, dan menyusul enam judul buku sesudahnya hingga yang terakhir <em>Madre </em>tahun 2011, Dee telah menancapkan jejak indahnya di khasanah perbukuan negeri dan hati pembacanya. Cerpen <em>Mencari Herman</em> yang diterbitkan dalam antalogi <em>Filosofi Kopi</em> merupakan karya sastra terbaik versi Majalah Tempo tahun 2006.</p>
<p>@SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/23/cerpen-lara-lana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berpasangan Sampai Tua</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/21/berpasangan-sampai-tua/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/21/berpasangan-sampai-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 02:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Friendship]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17177</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Yasmin
&#8220;&#8216;Memiliki pasangan yang tetap berpasangan sampai tua’ itulah jawaban semua lesbian, ketika ditanya apa harapan hidupnya,” kata salah seorang teman. “Tanya ke aku dong…,” pintaku. “Ya, kalau kamu, apa harapan hidupmu sebagai lesbian?” tanyanya. “Boleh nggak sebagai manusia saja, nggak usah sebut sebagai lesbian,” pintaku lagi, ngeyel.
Jawaban saya, memiliki pasangan maupun tidak, saya ingin jadi manusia yang berguna bagi orang-orang di sekitar saya.  Kalimat “memiliki pasangan maupun tidak” adalah penekanan saya terhadap penyangkalan asumsi bahwa semua lesbian mempunyai harapan itu.
Sebenarnya pembicaraan ini diawali dengan debat kami akan perlunya mempertahankan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/stock-photo-a-photo-of-two-old-women-with-their-dog-enjoying-the-sunset-6159742.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17404" title="two-old-women-with-their-dog-enjoying-the-sunset-6159742" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/stock-photo-a-photo-of-two-old-women-with-their-dog-enjoying-the-sunset-6159742-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>Oleh: Yasmin</p>
<p>&#8220;&#8216;Memiliki pasangan yang tetap berpasangan sampai tua’ itulah jawaban semua lesbian, ketika ditanya apa harapan hidupnya,” kata salah seorang teman. “Tanya ke aku dong…,” pintaku. “Ya, kalau kamu, apa harapan hidupmu sebagai lesbian?” tanyanya. “Boleh nggak sebagai manusia saja, nggak usah sebut sebagai lesbian,” pintaku lagi, ngeyel.</p>
<p>Jawaban saya, memiliki pasangan maupun tidak, saya ingin jadi manusia yang berguna bagi orang-orang di sekitar saya.  Kalimat “memiliki pasangan maupun tidak” adalah penekanan saya terhadap penyangkalan asumsi bahwa semua lesbian mempunyai harapan itu.</p>
<p>Sebenarnya pembicaraan ini diawali dengan debat kami akan perlunya mempertahankan hubungan dengan pasangan dengan cara-cara tertentu.  Yang disebutkan dengan cara-cara tertentu oleh teman saya tersebut adalah hubungan pertemanan dia dan pasangannya dengan teman-teman mereka sangat terarah dan terstruktur. Teman hetero banyak, tapi khusus untuk teman lesbian, perlu kehati-hatian tersendiri. Hal inilah yang saya tolak mentah-mentah. Pertama, terbayang gerak sosial teman saya itu jadi sangat terbatas.  Kedua, status saya sebenarnya adalah teman lesbiannya (bukan mereka) karena saya tidak kenal partnernya.  Jadi, kemungkinan saya harus siap-siap ditendang.</p>
<p>Alasannya, kata teman saya itu, praktek teman-makan-teman sudah bukan rahasia lagi, dan sering terjadi di kelompok lesbian. <em>What??!!</em> Tambah nggak bisa terima lagi saya dengan alasan tersebut.  Urusan teman-makan-teman memang sering terjadi di kelompok lesbian, eh ralat, di mana pun sebenarnya, bukan di kelompok lesbian saja.  Saya pun pernah mengalaminya, pasangan hetero yang menikah pun kita lihat pernah mengalaminya. Namun, bukankah selingkuh atau tidak itu tergantung orangnya? Bukankah meski tanpa akad nikah atau pemberkatan pernikahan, pasangan lesbian juga berkomitmen untuk selalu bersama, saling setia?</p>
<p>Kalau ada peraturan pembatasan pergaulan, menurut saya itu sama artinya dengan tidak ada kepercayaan satu sama lain, terjadi pembelengguan kebebasan satu sama lain, melanggar privasi seseorang dalam melaksanakan haknya sebagai mahluk sosial. Mukaku pun merah padam, menahan kesal.</p>
<p>Kita ambil contoh, <em>webzine </em>SepociKopi ini, di sinilah tempat lesbian-lesbian berkumpul. Sama-sama membaca, sama-sama menulis, sama-sama berkomentar, dan seterusnya. Apakah interaksi seperti ini juga dilarang? Teman saya bilang, “Justru di SepociKopi banyak sekali orang-orang keren yang pintar-pintar sebagai penulis maupun pembaca, inilah godaan besar buat lesbian yang perpasangan. Saya malah nggak boleh buka website SepociKopi lagi,” katanya.</p>
<p><em>Oh</em> <em>God.</em> Saya pun nyerocos. “Lho, biar pintar dan cakep, emangnya mau diapain? Kamu kan udah punya pasangan, ya jangan dong,” kataku.</p>
<p>“Prakteknya susah, Yas, itu tetap menjadi godaan buat kami, daripada terjadi apa-apa, maka saya mau saja menuruti kata-kata partner saya, dia juga nggak buka-buka SepociKopi kok,” jawabnya.</p>
<p>Benarkah? Saya tetap dengan keteguhan hati bahwa pergaulan penting buat hidup kita. Pergaulan dengan sesama lesbian juga demikian.  Alangkah sayangnya kalau SepociKopi yang brilian ini dibiarkan berlalu, tanpa pernah dikunjungi. Benarkah kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk mempertahankan hubungan kalau elemen godaan mengguncang hati kita? Bagaimana dengan pasangan Alex dan Lakhsmi yang mengelola <em>webzine </em>ini, dan berinteraksi dengan seluruh unsur-unsurnya? Manusia memang berbeda-beda, ya?</p>
<p>Harapan memiliki pasangan sampai tua tinggal harapan kalau prakteknya harus ada pembatasan pergaulan seperti yang dianut teman saya itu. Itulah sebabnya jawaban saya di atas jadi seperti tadi, menekankan kata-kata berpasangan maupun tidak…</p>
<p>Teman saya itu dan pasangannya termasuk yang awet.  Mereka sudah bertahun-tahun perpartner, tahun ini sudah memasuki hitungan berapa belas tahun mereka bersama. Sebelum ini saya sering bertanya kepadanya, apa sih yang membuat hubungan kalian awet? Jawabannya ya gitu-gitu deh, ada kata saling setia, dan lain-lain.  Tapi rupanya ada strategi lain, batasi pergaulan satu sama lain untuk bergaul di lingkungan lesbian.  Kalau memang begitu strategi menjaga hubungan, terima kasih deh…! Mendingan saya tidak berpartner.</p>
<p>Namun, saya kan orang yang optimis, saya masih yakin akan ada partner untuk saya yang tanpa perlu batas membatasi pergaulan akan awet sampai tua. Gitu aja harapannya, kok repot.</p>
<p>Kalau harapan itu tidak terkabul? Persiapan diri secara mandiri terhadap diri sendiri kan sudah saya rencanakan dengan rapi. Investasi masa depan, asuransi kesehatan dan asuransi jiwa sudah saya persiapkan juga. Sekarang urusan hati. Ya siap-siaplah dari sekarang. Menjalin hubungan baik dengan keluarga dan teman sebanyak-banyaknya adalah termasuk persiapan itu. Tidak ada yang tahu nasib kita di masa yang akan datang. Akan sampai tuakah usia kita? Atau besok sudah dijemput maut? <em>Wallohu&#8217;alam</em>.</p>
<p>@Yasmin, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/21/berpasangan-sampai-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Commitment Phobia</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/19/commitment-phobia/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/19/commitment-phobia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 02:00:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17304</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Cleo Andromeda
Apakah Anda mempunyai fobia terhadap sesuatu? Pasti setiap orang mempunyai ketakutannya masing-masing, entah pada serangga, ruangan gelap, atau mungkin pada makanan tertentu. Secara umum, fobia adalah rasa ketakutan yang kuat (berlebihan) terhadap suatu benda, situasi, atau kejadian, yang ditandai dengan keinginan untuk menjauhi sesuatu yang ditakuti itu. Orang menjadi fobia terhadap sesuatu karena merasa sesuatu ini akan menyakitinya atau memiliki trauma tersendiri terhadap sesuatu ini.
Bagaimana dengan fobia terhadap komitmen? Pernahkah punya pengalaman berurusan dengan orang seperti ini? Atau mungkin Anda sendiri adalah orang dengan fobia terhadap komitmen?
Menurut Cambridge ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/phobia_by_izzyherman.jpg"><img class="size-medium wp-image-17398 alignleft" title="phobia_by_izzyherman" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/phobia_by_izzyherman-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a>Oleh: Cleo Andromeda</p>
<p>Apakah Anda mempunyai fobia terhadap sesuatu? Pasti setiap orang mempunyai ketakutannya masing-masing, entah pada serangga, ruangan gelap, atau mungkin pada makanan tertentu. Secara umum, fobia adalah rasa ketakutan yang kuat (berlebihan) terhadap suatu benda, situasi, atau kejadian, yang ditandai dengan keinginan untuk menjauhi sesuatu yang ditakuti itu. Orang menjadi fobia terhadap sesuatu karena merasa sesuatu ini akan menyakitinya atau memiliki trauma tersendiri terhadap sesuatu ini.</p>
<p>Bagaimana dengan fobia terhadap komitmen? Pernahkah punya pengalaman berurusan dengan orang seperti ini? Atau mungkin Anda sendiri adalah orang dengan fobia terhadap komitmen?</p>
<p>Menurut Cambridge Advanced Learner’s Dictionary, Anda disebut berkomitmen jika &#8220;Ketika kita mau memberikan waktu dan energi untuk sesuatu yang kita yakini, atau sebuah janji, atau sebuah keputusan bulat untuk melakukan sesuatu.&#8221; Semua orang mempunyai keterbatasan waktu dan energi, tetapi dengan berkomitmen yang baik, waktu dapat “dibuat” dan energi dapat “dikumpulkan”. Berkomitmen&#8212;entah dalam hal pekerjaan, pendidikan atau dalam sebuah hubungan&#8212;bukanlah hal yang mudah, tapi setiap orang harus belajar untuk itu.</p>
<p>Ketika komitmen dianggap sebagai sebuah pengikat, mungkin inilah yang membuat orang menjadi takut akan sebuah komitmen. Membayangkan sebuah ikatan yang akan dihadapi di depan ketika membuat komitmen itu rasanya seperti membayangkan berada di sebuah ruangan sempit dan gelap. Fiuh, nasib mengidap <em>claustrophobia</em>.</p>
<p>Suatu waktu, aku pernah berdiskusi hebat dengan teman-teman di kampus soal hubungan, soal bagaimana aku tidak mau diikat dan diatur oleh pasanganku nanti, soal bagaimana nantinya aku dan pasanganku akan mendiskusikan dan membuat standar sendiri mengenai seluruh hubungan kami. Bayangkan, aku ingin memiliki hubungan tapi tidak ingin memiliki ikatan. Tiba-tiba saja setelah diskusi itu, seorang sahabat mengajakku berbicara empat mata dan langsing menembakku &#8220;Diskusimu kemarin terdengar seperti lesbian. Takut dengan komitmen.&#8221;</p>
<p><em>Deggg!</em> Tahukah kawan, bagaimana rasanya ditembak seperti itu? Dengan gelagapan aku mencoba untuk bertanya dan memperjelas maksud pernyataannya itu.<em> Well,</em> jadi menurutnya, salah satu alasan seseorang menjadi lesbian adalah karena mereka tidak mau berkomitmen dengan laki-laki, karena laki-laki itu brengsek, karena laki-laki itu kasar dan lain sebagainya. Wahai kawan, tahukah kau bahwa perempuan pun banyak yang brengsek? Menjadi homoseksual atau heteroseksual adalah masalah hati, kenyamanan dan pengakuan, terlepas dari urusan seseorang itu fobia terhadap komitmen atau tidak.</p>
<p>Memutuskan untuk membuat komitmen adalah keputusan yang berat dan bukanlah hal yang main-main. Buatku, ketika berani berkomitmen berarti berani menghadapi resiko ke depannya, tetap setia, dan bertanggungjawab. Jika tidak suka dengan standar serius yang umum diikuti orang, maka buatlah standar serius dalam berkomitmenmu sendiri dengan pasangan. Memang susah menemukan pasangan yang bisa diajak serius berkomitmen, apalagi mengikuti komitmen seperti apa yang kamu mau. Ujung-ujungnya, karena begitu inginnya memiliki pasangan dan sedikitnya jumlah kaum lesbian, akhirnya ada yang melepas standarnya demi mendapat pasangan .Lebih baik menunggu kan daripada repot di tengah jalan karena ternyata pengertian terhadap komitmen dalam berhubungan itu berbeda?</p>
<p>Untuk menghadapi orang-orang dengan fobia terhadap komitmen ini sebenarnya gampang. Jangan pernah ‘mengikat’ mereka. Jika dari awal memulai hubungan, tidak perlulah langsung membicarakan masa depan. Sebenarnya ini salah satu hal yang paling ditakuti mereka. Bicarakan saja tentang hal-hal seru yang bisa dilakukan bersama untuk menghabiskan waktu, misalnya menghabiskan sore bersama untuk hunting matahari terbenam. Atau jangan pernah menuntutnya untuk selalu ada 24 jam sehari buat kita, selalu terhubung dengan SMS atau telepon karena dia juga pasti memiliki banyak kegiatan di luar sana. Berikan perhatian secukupnya jangan sampai membuatnya risih.</p>
<p>Selamat menaklukkan manusia yang fobia dengan komitmen!</p>
<p>@Cleo Andromeda, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/19/commitment-phobia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>L’Amour: My Soulmate, Didit</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/25/my-soulmate-didit/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/25/my-soulmate-didit/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 16:18:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[L'Amour]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16930</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: D&#8217;Vita
Di usiaku yang sudah melampaui seperempat abad dan tinggal di ibukota yang jauh dari orangtua, Didit adalah berkat yang diberikan Tuhan untukku. Karena seperti kata orang, memang tidak mudah memperoleh sahabat sejati.
Nama sebenarnya Dita, tapi sejak SMA aku mengenalnya sebagai Didit. Nama saja menunjukkan keambiguanya. Nama Dita hanya dia gunakan di dokumen resmi. Sisanya saat berkenalan atau kapan pun dia akan mengulurkan tangan dan menyebut nama sebagai Didit. Perawakannya agak tomboy. Tapi tanpa menjadi tomboy pun dia memang tidak begitu mirip cewek. Tubuhnya kerempeng dengan dada rata. Tapi buat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="_mcePaste"><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/Friendship_is___by_Bunnis.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16931" title="Friendship_is___by_Bunnis" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/Friendship_is___by_Bunnis-300x229.jpg" alt="" width="300" height="229" /></a>Oleh: D&#8217;Vita</div>
<p>Di usiaku yang sudah melampaui seperempat abad dan tinggal di ibukota yang jauh dari orangtua, Didit adalah berkat yang diberikan Tuhan untukku. Karena seperti kata orang, memang tidak mudah memperoleh sahabat sejati.</p>
<p>Nama sebenarnya Dita, tapi sejak SMA aku mengenalnya sebagai Didit. Nama saja menunjukkan keambiguanya. Nama Dita hanya dia gunakan di dokumen resmi. Sisanya saat berkenalan atau kapan pun dia akan mengulurkan tangan dan menyebut nama sebagai Didit. Perawakannya agak tomboy. Tapi tanpa menjadi tomboy pun dia memang tidak begitu mirip cewek. Tubuhnya kerempeng dengan dada rata. Tapi buat Didit itu bukan masalah. Didit orang yang paling nyaman dengan tubuhnya. Nyaman dengan pilihan hidupnya, nyaman dengan orientasi seksualnya.</p>
<p>Terlihat seperti sempurna, nyaris memiliki semua hal yang diidamkan lesbian. Terlebih dia tidak memiliki masalah dalam urusan cinta. Kalau dia naksir pasti nggak sulit buatnya untuk jadian, dan kalaupun ditolak dia tidak akan terpuruk karena penolakan.</p>
<p>Hanya tidak banyak yang tahu bahwa sosok Dita adalah hasil tempaan keras dalam hidupnya. Dia tumbuh besar di tengah keluarga yang berantakan, meski ia menolak bahwa faktor keluarga mempengaruhi orientasi seksualnya. Didit mengaku sudah menyadari kelesbianannya sejak Sekolah Dasar.</p>
<p>Berbeda dengan Didit, aku mengalami pergulatan panjang menghadapi dilema orientasi seksualku. Beberapa kali Didit menyelamatkanku dan membelaku di hadapan teman-teman dan keluargaku, menutupi kelesbiananku.</p>
<p>Hingga setelah lulus kuliah dan mandiri, pergulatanku berakhir. Persahabatan kami makin erat. Seperti saudara meski tidak ada ikatan darah. Takdir pula mempertemukan kami tinggal dan bekerja di kota Jakarta.</p>
<p>Kurasa banyak urusan hidupku yang bergantung pada Didit, meski kata orang kami sama-sama tomboynya. Bahkan urusan pacar pun lebih sering dia yang nyomblangin atau mendorong aku untuk punya berkenalan, seperti perkenalanku dengan Nita. Dan aku merasa belum banyak yang bisa kulakukan untuknya. Sering kali aku baru tau dia sakit setelah dia sembuh dan bercerita padaku.</p>
<p>&#8220;Dit, daripada kos atau ngontrak sendiri-sendiri, kita nyewa apartemen yuk,&#8221; kataku pada Didit suatu hari, saat kami ngopi bareng dan saling menceritakan perkembangan karir kami masing-masing.</p>
<p>Didit menolak. Awalnya dia mengajukan alasan bahwa akan terlalu besar uang yang harus dia sisihkan untuk membayar uang sewa. Tapi aku tidak menerima alasan itu. Bahkan jika Didit nggak usah membayar pun tidak apa-apa. Yang dia berikan berikan bagiku selama persahabatan kami tidak akan terbayar oleh materi.</p>
<p>Akhirnya pecakapan itu mental begitu saja. Kami kembali ke situasi seperti biasa. Dengan kebiasaannya yang datang mendadak ke tempat kosku baik naik sepeda atau naik ojek.</p>
<p>Hingga akhir bulan lalu, sebelum kos-kosan tahunan memasuki bulan terakhir aku kembali mengajukan tawaran itu pada Didit, karena aku sudah deal menyewa apartemen dua kamar.</p>
<p>&#8220;Nggak usah lah, Vi. Gini ya, gue nggak mau persahabatan kita rusak. Biasanya semakin dekat semakin kenal keburukannya. Sebagian besar keburukan gue kan udah lu tau, tapi kan masih banyak keburukan lain yang belum lu tau!&#8221; Katanya dengan wajah serius. Biasanyanya kalau dia sudah bersikap sinis seperti ini aku tau dia benar-benar serius.</p>
<p>Tapi kali ini aku tidak menyerah. Aku tidak pernah sesiap ini. Bahkan untuk tinggal bersama Nita saja aku belum siap. Tapi bersama sahabat terbaik yang kukenal sejak SMA, seratus persen aku siap!</p>
<p>Aku meyakinkan Didit, bahkan ketika dia tidak ingin diusik dan tidak ingin ngobrol denganku, ia tidak perlu memaksakan diri. Jika ia berantakan dan ingin &#8220;mengacaukan dirinya sendiri&#8221; aku tidak akan pernah melarang dan mengomentarinya. Aku hanya ingin dia menikmati tempat tinggal yang lebih nyaman, senyaman yang bisa kunikmati. Setidaknya saat ia sakit, ada orang yang sekedar membelikan obat buatnya. Karena aku bisa sampai di sini karena dukungannya yang tidak pernah putus untukku.</p>
<p>Dan tidak pernah aku sebahagia ini, ketika Didit menerima tawaranku. Lebih bahagia dari saat Nita menerimaku sebagai kekasihnya <img src='http://sepocikopi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Meraih suatu pencapaian memang membahagiakan, tapi lebih bahagia saat orang-orang yang kita sayangi ikut menikmatinya. Dan aku menyayangi sahabatku, sahabat lesbian pertamaku, sahabat yang mendukungku hingga saat ini, Didit.</p>
<p>Ah, aku tidak sabar menunggu tahun 2012 tiba&#8230;.</p>
<p>@D&#8217;Vita, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/25/my-soulmate-didit/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>te.Lez.kop: Bugil di Socmed</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/11/03/te-lez-kop-bugil-di-socmed/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/11/03/te-lez-kop-bugil-di-socmed/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Nov 2011 04:32:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Telezkop]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=15759</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Tya Andriani
Baru-baru ini seorang pacarnya artis mengamuk di Twitter sambil membeberkan aib artis (pacarnya) sehingga infotainment tidak perlu menunggu lama, langsung menyantap twit demi twit yang bertaburan di timeline-nya. Wuih, seram sekali efeknya. Si artis dan pacarnya harus menggelar jumpa pers untuk memberikan statement. Walaupun beberapa twit akhirnya dihapus, tapi masih saja yang sempat difoto dan tersebar ke mana-mana.
Twitter memang menjadi fenomena banget sejak beberapa tahun terakhir ini. Lesbian berpindah jejaring sosial ke Twitter dan menunjukkan gejala-gejala yang sama. Lesbian mencari teman di Twitter; demikian juga dengan melakukan PDKT, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/angrytwitter.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-15760" title="angrytwitter" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/angrytwitter-300x242.png" alt="" width="300" height="242" /></a>Oleh: Tya Andriani</p>
<p>Baru-baru ini seorang pacarnya artis mengamuk di Twitter sambil membeberkan aib artis (pacarnya) sehingga <em>infotainment </em>tidak perlu menunggu lama, langsung menyantap twit demi twit yang bertaburan di <em>timeline</em>-nya. Wuih, seram sekali efeknya. Si artis dan pacarnya harus menggelar jumpa pers untuk memberikan <em>statement</em>. Walaupun beberapa twit akhirnya dihapus, tapi masih saja yang sempat difoto dan tersebar ke mana-mana.</p>
<p><span id="more-15759"></span>Twitter memang menjadi fenomena banget sejak beberapa tahun terakhir ini. Lesbian berpindah jejaring sosial ke Twitter dan menunjukkan gejala-gejala yang sama. Lesbian mencari teman di Twitter; demikian juga dengan melakukan PDKT, pacaran dengan mesra, putus di Twitter, saling memaki-maki, dan&#8230;ber selingkuh. Khusus yang satu ini, yang melakukan justru teman saya sendiri. Dia memiliki dua akun nick lesbian. Yang satu digunakan untuk bermesra-mesraan dengan pacar pertamanya. Nick yang kedua digunakan untuk PDKT ke cewek-cewek lain yang &#8220;tampaknya&#8221; <em>available</em>. Kenapa saya bilang <em>tampaknya </em>dengan tanda kutip? Karena cewek-cewek yang dikejarnya yang kemudian berhasil dijadikan pacar keduanya juga tidak seratus persen lajang. Pacar selingkuhannya ternyata juga menyelingkuhi dirinya dengan menjadikanya pacar kedua. Hahaha! <em>Score</em>-nya satu-satu.</p>
<p>Teman saya &#8211; sebut saja namanya DD &#8211; susah untuk memiliki satu pacar saja. Itu diakuinya dengan putus asa kepada saya waktu saya bertanya kepadanya, &#8220;Kenapa sih lo begini?&#8221;. Sejak dari pertama kali jadian dengan cewek pada usia tujuh belas tahun sampai usia tiga puluh dua tahun, dia selalu mengakhiri hubungannya dengan berselingkuh atau memiliki pacar gelap lain. Sebagai teman yang mendengarkan, saya prihati (ala SBY). Dia bahkan pernah memiliki dua pacar yang saling mengetahui dan rela untuk diduakan (karena dua-duanya sudah menikah). Seakan-akan dua pacar resmi tidak cukup, kemudian DD melakukan PDKT dengan cewek lain lewat Twitter.</p>
<p>Bugil di socmed memang sudah menjadi hal yang umum. Merayu cewek terang-terangan, bahkan ngetwit berulang-ulang tentang betapa kesepiannya hidup ini dan betapa butuhnya pacar demi kelangsungan masa depan bisa dilakukan di Twitter. Banyak yang tidak menganggap perbuatannya seperti membuka aib diri sendiri. Malah bangga! Kapan lagi bisa curhat 100% tentang diri sendiri? Membaca twit-twit seperti itu sering membuat hati saya nelangsa. Begitukah menderitanya hidup sebagai lesbian sampai mencari pacar harus <em>desperado</em>? Yang lebih nelangsa, ternyata yang mengaku-ngaku kesepian ini bukan benar-benar lajang yang kesepian. Sama seperti DD &#8211; teman saya, mereka sebenarnya sudah punya satu, dua, bahkan tiga pacar. Semuanya dirayu dan digilir lewat nama akun yang berbeda-beda di Twitter.</p>
<p>Berantem di Twitter? Jangan tanya berapa seringnya saya menemukan pasangan yang saling memaki, menyindir &#8211; mulai dari konfrontasi langsung sampai dengan #nomention. Kalau masuk ke <em>timeline</em>, maka terlihatlah dulunya saling memuji, merayu, mengucapkan sejuta twit-twit cinta. Belakangan, di bagian bawah, twit-twitnya berubah, menjadi kasar, galau, dan penuh sindiran buat pasangannya (atau mantan pasangannya).</p>
<p>Aduh lesbian, begitukah hidup kita di Twitter? Jika ada yang bilang Twitter tidak merefleksikan kenyataan, saya jadi bertanya-tanya. Jika di Twitter (saja) seperti itu, bagaimana kenyataan yang serba tertutup dan tak terbuka? Yang ditutupi atau tak terlihat biasanya lebih seram daripada yang terlihat dengan mata kepala sendiri. Bugil di socmed (mungkin) menyenangkan bagi banyak lesbian, tapi lesbian harus ingat konsekuensi berbugil di tempat umum. Omongan akan tiba di telingamu di suatu pagi di mana kamu lagi <em>good mood, </em>&#8220;Tubuh lo tuh gemuk, menjijikan, dan sama sekali tidak seksi.&#8221;</p>
<p><em>#Jleb</em>.<em> #Jleb. #Jleb.</em></p>
<p>@Tya Andriani, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/11/03/te-lez-kop-bugil-di-socmed/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>te.Lez.kop: Bebeb Forever</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/10/27/te-lez-kop-bebeb-forever/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/10/27/te-lez-kop-bebeb-forever/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Oct 2011 15:01:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[Telezkop]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=15608</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Alex
How long is forever?
Pertanyaan itu sering mengganggu benak saya ketika membaca pernyataan, &#8220;I love you forever.&#8221; Membaca pernyataan itu selalu membuat saya tergelitik untuk bertanya, &#8220;Seberapa lama selamanya itu? Selamanya hingga kiamat? Selamanya hingga umur berakhir? Selamanya hingga bosan?&#8221;
Lihat pasangan-pasangan lesbian yang dengan gegap gempita menyatakan perasaan cintanya di blog, twitter, atau facebook, (dalam social media versi  nick lesbian tentunya), dengan mengatakan, I love you, bebeb. Forever and always. (Di-bold, italic, huruf besar, digaris bawah pula.) Lalu ditambah dengan status FB domestic partnership atau in relationship with. Romantis sekali ya? ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/forever__by_kyrateppelin-d3ejkvu.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-15613" title="forever__by_kyrateppelin-d3ejkvu" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/forever__by_kyrateppelin-d3ejkvu-300x169.jpg" alt="" width="300" height="169" /></a>Oleh: Alex</p>
<p><em>How long is forever?</em></p>
<p>Pertanyaan itu sering mengganggu benak saya ketika membaca pernyataan, &#8220;I love you forever.&#8221; Membaca pernyataan itu selalu membuat saya tergelitik untuk bertanya, &#8220;Seberapa lama selamanya itu? Selamanya hingga kiamat? Selamanya hingga umur berakhir? Selamanya hingga bosan?&#8221;</p>
<p>Lihat pasangan-pasangan lesbian yang dengan gegap gempita menyatakan perasaan cintanya di blog, twitter, atau facebook, (dalam <em>social media</em> versi  nick lesbian tentunya), dengan mengatakan, <em>I love you, bebeb. Forever and always</em>. (Di-<em>bold</em>, <em>italic</em>, huruf besar, digaris bawah pula.) Lalu ditambah dengan status FB <em>domestic partnership </em>atau <em>in relationship with</em>. Romantis sekali ya? Tapi sekali lagi pertanyaannya, seberapa lama <em>forever </em>itu?</p>
<p>Dalam hitungan bulan, terkadang tahun, ada pula minggu, si bebeb yang dipuja-puja akan dicintai <em>forever and ever </em>itu ternyata sudah ganti, bukan lagi bebeb yang sama. Atau bahkan ekstremnya si bebeb yang dipuja-puja tadi sudah dikutuk habis-habisan. Yang bahkan penyebutan namanya adalah penghujatan. Kan katanya batas antara cinta dan benci itu setipis kertas. Jadi wajar kan jika cinta berubah jadi benci ketika batas <em>forever-</em>nya kedaluwarsa.</p>
<p>Kecuali kamu Edward Cullen, saya rasa gagasan <em>&#8220;forever&#8221; </em>itu tak masuk akal. Tapi kelebayan gagasan <em>“forever”</em> itu sudah merasuk ke dalam benak jutaan perempuan dan menganggapnya sebagai sesuatu yang romantis meskipun tak realistis. Ya jelas tidak realistis, di mana di dunia ini kita bisa menemukan vampir ganteng nan sempurna, baik hati dan tidak sombong plus kaya raya dan membaktikan hidup hanya untuk satu-satunya perempuan yang dia cintai dalam hidup abadinya sebagai mayat hidup.</p>
<p>Hubungan lesbian, yang sering kali didera halangan dan rintangan, mengandung romantisme berlebihan bagai menelan madu diaduk dengan gula dicampur sirup. Cinta pun diagungkan dalam kuil pemujaan. Saat sudah jatuh cinta, realita dan logika  sudah keburu dibuang di got&#8230; yang mampet pula gotnya. Seperti kata pepatah, saat jatuh cinta, taik kucing rasanya seperti cokelat.  Tapi siapa di sini yang mau makan taik kucing biarpun berasa seperti cokelat?</p>
<p>Cinta, jatuh cinta, mencintai, harusnya punya buku panduan berisi tata cara pemakaian dengan dosis pakainya, disertai garansi seumur hidup. Tapi sayangnya buku panduan itu tak pernah ada, apalagi garansinya. Sebagai manusia kita tahu seperti apa megahnya perasaan cinta itu. Dari mata turun ke hati. Debar-debar pesona yang memukau. Kehangatan yang menjalar ke sekujur tubuh. Sensasi kupu-kupu yang terbang dalam perut menggelitiki kita. Apakah ini selamanya yang kita cari? Tanpa perlu buku petunjuk pun kita tahu bahwa perasaan macam ini tak pernah berlangsung selamanya. Jika tak pernah ada garansi, bagaimana kita bisa menyatakan bahwa cinta pada sang bebeb akan berlangsung selamanya?</p>
<p>Bedakan antara selamanya dengan hubungan jangka panjang nan lama. Kalau kita menjanjikan sesuatu yang jelas tak akan bisa kita capai, seperti kata<em> ”forever and ever” </em>itu, wajarlah jika target itu tak pernah tercapai. Untuk bisa termotivasi agar bisa mencapai target, target yang kita buat pun harus jelas dan pastinya BISA dicapai. Sekali lagi, jika kau bukan Edward Cullen yang bisa hidup selamanya, mulailah menimbang janji &#8220;selamanya&#8221; itu. Target yang mengawang-awang akan membuat pelakunya juga semau gue mencapainya. Oya, menjadi vampir juga bukan target yang membumi.</p>
<p>Mungkin pernyataan <em>&#8220;I love you forever&#8221;</em> itu cuma romantisme berlebih, atau kemegahan yang ditumpahkan dengan keinginan untuk bisa selalu mencintai si bebeb selama-lamanya. Mungkin juga sewaktu kecil kamu terlalu percaya sama dongeng Princess yang ditutup dengan, &#8220;Lalu mereka selamanya hidup berbahagia.&#8221;</p>
<p>Coba cek status FB kita lagi, pemujaan kita terhadap sang bebeb di blog, atau pernyataan ayang-ayangan 140 karakter di Twitter. Dan sebelum mengetikkan kalimat <em>“I love you, bebeb, foreveeerrrr&#8230;”, </em>mari kita tanyakan pada diri kita sendiri, seberapa lamanya <em>forever</em> yang kita janjikan itu?</p>
<p>@Alex, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/10/27/te-lez-kop-bebeb-forever/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Opera Sabun Mandi</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/10/15/opera-sabun-mandi/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/10/15/opera-sabun-mandi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Oct 2011 08:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=15045</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Bening
“Dik, sabun kita habiiss…” teriakan partner  terdengar melengking dari kamar mandi.
Aku yang sudah selesai mandi duluan dan sedang mengenakan pakaian, menunda menyorongkan kaus yang sudah kukeluarkan dari lemari lalu menghampiri pintu kamar mandi.
“Iya, maaf ya… pakai yang ada dulu ya, Say. Soalnya kemarin sudah ke Carefour tapi sabun kayak sabun kita lagi kosong. Ada sih merek yang sama, tapi aromanya lain. Mau coba?”
Dengan kepala memutih oleh busa shampo, partner menggeleng kuat-kuat, tanpa mengucap sepatah kata pun.
Sebut saja namanya Sabun Charming (untuk menghindari tulisan ini menjadi promosi gratis produk tersebut ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/mom-bubble-bath-de.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-15053" title="mom-bubble-bath-de" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/mom-bubble-bath-de-300x234.jpg" alt="" width="300" height="234" /></a>Oleh: Bening</p>
<p>“Dik, sabun kita habiiss…” teriakan partner  terdengar melengking dari kamar mandi.</p>
<p>Aku yang sudah selesai mandi duluan dan sedang mengenakan pakaian, menunda menyorongkan kaus yang sudah kukeluarkan dari lemari lalu menghampiri pintu kamar mandi.</p>
<p>“Iya, maaf ya… pakai yang ada dulu ya, Say. Soalnya kemarin sudah ke Carefour tapi sabun kayak sabun kita lagi kosong. Ada sih merek yang sama, tapi aromanya lain. Mau coba?”</p>
<p>Dengan kepala memutih oleh busa shampo, partner menggeleng kuat-kuat, tanpa mengucap sepatah kata pun.</p>
<p>Sebut saja namanya Sabun Charming (untuk menghindari tulisan ini menjadi promosi gratis produk tersebut hehehe). Perkenalanku dengan sabun ini hampir seusia dengan hubunganku dengan partner, tujuh tahun lebih. Namanya juga lagi jatuh cinta sama partner, aku juga jatuh cinta dengan aroma sabun yang menempel di tubuhnya.  Berhubung saat itu kami masih LDR, setiba di kotaku aku bertekad untuk mencari sabun tersebut. Kupikir inilah salah satu cara mengobati kerinduanku padanya, dengan membawa aromanya selalu dekat dengan tubuhku. Sayang, meski sudah menyusuri setiap mal dan supermarket, aku gagal menemukannya. Dan pada pertemuan berikutnya, dengan malu-malu aku mengaku pada partner bahwa aku ingin membawa pulang sabun yang ada di kamar mandinya. Ha ha ha.</p>
<p>Partner sendiri cerita sudah setia memakai sabun ini hampir empat belas (14) tahun! Dan sekali pun tidak pernah berganti.</p>
<p>Kadang-kadang, kesetiaan membawa “masalah”. Urusan sabun ini salah satunya.  Meski bukan sabun mahal, sayangnya sabun yang kami gunakan bukan produk Unil*v*r yang mudah didapatkan. Bahkan di supermarket besar semacam Hypermart dan Carefour pun sering kosong. Kami pernah memborong sampai lima botol ukuran 500 ml saking senangnya menemukan kemasan besar (yang tentu lebih murah dari kemasan kecil). Kesetiaannya ini membuatku selalu “waspada”, supaya tidak sampai kehabisan. Tapi kalau memang lagi nggak ada, gimana dong? Repot, kan?</p>
<p>“Dik, tolong ambilin handuk,” pinta partner, sambil menggigil di atas keset di depan pintu kamar mandi.</p>
<p>Aku bergegas menyodorkan handuk kering. Dan seperti biasa aku selalu menyempatkan mengecup pipinya yang basah, menghirup dalam-dalam aroma yang menguar dari tubuhnya. Paduan wangi  shampo, pasta gigi, sabun badan dan sabun muka yang segar. Tapi seperti ada yang kurang…</p>
<p>“Tadi pakai sabun yang mana, Say?” selidikku. Karena aku menyediakan dua pilihan. Sabun cair di botol kecil (hadiah dari sabun wajah) dan sabun aromaterapi, oleh-oleh temanku dari Bali.</p>
<p>“Nggak pakai sabun. Shampo aja.”</p>
<p>“Hah? Lho… kan ada sabun yang udah adik siapin.”</p>
<p>“He he he. Kirain itu sabun tangan.”</p>
<p>Gubrakkss!</p>
<p>***</p>
<p>Saat belanja bahan makanan di Foodhall, aku sempatkan mengecek sabun tercinta kami. Seperti dugaanku, tetap tidak ada. Aku putuskan memilih salah satu sabun yang kurasa beraroma oke, paduan <em>Bergamot</em>, <em>Grapefruit</em> dan<em> Orange Flower.</em> Kupastikan juga sabun ini lembut di kulit. Aku makin mantap ketika membaca tulisan di labelnya, “<em>Illuminate your sense and soften your skin</em>”. Pasti mantap dong?</p>
<p>“Say, sabun kita di Foodhall nggak ada. Belum nemu. Pakai yang ini dulu ya. Warnanya sama-sama kuning. Aromanya juga mirip. Enak lho wanginya…” Aku mengeluarkan sabun dari kantong belanja dan menunjukkanya ke partner. Harus begitu. Harus ditunjukin. Harus dijelasin. Jangan sampai besok dia nggak sabunan lagi dengan alasan mengira sabun yang kubeli itu sabun untuk cuci piring.</p>
<p>Dengan lirikan sekilas dan tanpa komentar apa pun, partner mengangguk dan kembali asik dengan <em>game</em>-nya.</p>
<p>Aku menarik napas lega. Aman! Huff… mungkin minggu depan atau minggu depannya lagi aku bisa mengajak partner ke Carefour yang lebih besar. Atau ke Carefour lain. Pokoknya nyari deh sampai dapat.</p>
<p>***</p>
<p>Keesokan hari, menjelang tidur…</p>
<p>“Dik…”</p>
<p>“Hm…”</p>
<p>“Udah bobo?”</p>
<p>“Hampir.”</p>
<p>“Sabun baru kita kok kayaknya bikin kulit kering ya?”</p>
<p><em>*Sigh*</em></p>
<p>Dasar kampret item sayap bodong! Baru jadi sabun aja udah bohong. Mana janjinya <em>illuminate your sense? </em>Auk ah, gelap! Lalu, <em>soften your skin</em>… <em>Soften</em> apaan? <em>Soften</em> dari Hongkong! Bikin bete aja ih.</p>
<p>Tapi benar-benar kamar kami sudah gelap. Ini memang waktunya tidur. Lalu kenapa mau tidur begini partner ngomongin sabun sih?! Arrgghhh…</p>
<p>“Iya. Iya. Besok pulang kerja adik <em>cari sampai dapat</em>. Sekarang bobo ya.”</p>
<p>Sudahlah. Harusnya aku tau, ini bukan sekedar urusan sabun.  Sabun adalah  <em>sabun</em> <em>yang</em> <em>biasa dia pakai</em>. Bukan sabun yang lain. Meskipun ada produsen sabun yang memberikan garansi uang kembali bila sabunnya tidak mampu melembutkan kulit selembut sutera dan lembab serta halus seperti pantat bayi, sepertinya partner tetap nggak beralih.</p>
<p>Sekarang aku hanya minta bantuan doa dari seluruh warga Republik SepociKopi, semoga pabrik sabun itu nggak gulung tikar. Sebab kalau sampai itu terjadi, ada kemungkinan partner akan menyuruhku menelepon ke kantor DPR dan minta supaya pabrik itu buka tikar lagi.</p>
<p>P.S. Kira-kira, ada nggak sih hubungan setia sama sabun dengan kesetiaan pada pasangan?</p>
<p>@Bening, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/10/15/opera-sabun-mandi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rumah Untuk Hatiku</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/10/08/rumah-untuk-hatiku-2/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/10/08/rumah-untuk-hatiku-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Oct 2011 08:33:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Memory]]></category>
		<category><![CDATA[Partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Life]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[mantan]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=15178</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Violet
Terdengar sedikit egois?  Mungkin ya, dan mungkin juga tidak. Tapi siapa sih yang tidak mau memiliki rumah untuk hatinya? Tempat di mana kita menemukan kenyamanan, kehangatan, kepercayaan, keamanan, cinta, dan kasih sayang.
Rumah bukan melulu hanya soal kemesraan, keromantisan tapi juga soal bersatunya dua prinsip yang berbeda. Pertengkaran, ketidaksukaan, rasa cemburu, protes, dan hal lainnya adalah pelengkap dalam sebuah rumah. Karena sebuah rumah yang hanya berisi mengenai kemesraan sama tidak sehatnya dengan rumah yang hanya berisi soal pertengkaran.
Usiaku dua puluh lima tahun dan hidupku masih belum settle benar. Kecintaanku ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/home2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-15197" title="home2" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/home2-300x296.jpg" alt="" width="240" height="237" /></a>Oleh: Violet</p>
<p>Terdengar sedikit egois?  Mungkin ya, dan mungkin juga tidak. Tapi siapa sih yang tidak mau memiliki rumah untuk hatinya? Tempat di mana kita menemukan kenyamanan, kehangatan, kepercayaan, keamanan, cinta, dan kasih sayang.</p>
<p><span id="more-15178"></span>Rumah bukan melulu hanya soal kemesraan, keromantisan tapi juga soal bersatunya dua prinsip yang berbeda. Pertengkaran, ketidaksukaan, rasa cemburu, protes, dan hal lainnya adalah pelengkap dalam sebuah rumah. Karena sebuah rumah yang hanya berisi mengenai kemesraan sama tidak sehatnya dengan rumah yang hanya berisi soal pertengkaran.</p>
<p>Usiaku dua puluh lima tahun dan hidupku masih belum <em>settle </em>benar. Kecintaanku pada perempuan dan bisnis nyaris sama besar dan aku hanya ingin mencari rumah untuk hatiku. Aku bukan tipe gadis berhati besar atau yang berlapang dada. Kuanggap diriku pintar dan sisanya cuma orang-orang berbicara omong-kosong.</p>
<p>Banyak perempuan keluar masuk dalam kehidupanku. Menurutku itu sebuah kamuflase yang luar biasa; mereka datang, mereka terperangkap, dan mereka pergi. Siklus hidup yang membosankan. Lantas kapan rumah yang kumimpikan akan tiba?</p>
<p>Di usiaku 23 tahun, datang Is, si seksi yang membuatku penasaran. Sekuat tenaga kurayu dia, kureguk kegadisannya. Tidak ingin kusia-siakan pengabdiannya, aku hanya ingin menjadikan Is rumah untuk hatiku. Kukatakan padanya bahwa aku akan belajar untuk mencintai dia. Tapi apa daya rasa hati yang dipaksakan? Kepalaku penuh dengan rasa tanggung jawab atas kegadisannya.  Rumah yang kubangun bersama Is tidak memiliki pondasi yang kuat.</p>
<p>Dua tahun rumah mungil untuk hatiku terasa bagai neraka, hanya panas yang membara, banyak sudut kosong yang terbengkalai di dalamnya.  Aku dan Is, aku tenggelam dalam kesibukan.  Rumah yang kubina bersama Is akhirnya terbakar ketika aku bersandang ke rumah seseorang perempuan dewasa cantik dengan tiga orang buah hati yang luar biasa.</p>
<p>Semula aku hanya iseng mengetuknya, tidak pernah menyangka perempuan itu &#8211; Liy &#8211; akan membiarkanku masuk dan melangkah. Rumah modern yang berbau pelitur mahal, kaku tapi cukup nyaman.  Rumahnya tidak sehangat rumahku bersama Is, tapi menyenangkan. Aku mencintai furnitur mewahnya, aku mencintai ketiga anaknya. Aku bisa berlama-lama di sana, menonton TV dan merasa puas dengan senyum di wajah cantiknya, menelan bulat-bulat status menjadi simpanannya</p>
<p>Semakin lama aku semakin tidak sanggup membina rumah bersama Is, selalu saja terbakar oleh api cemburu, kemarahan dan kebencian. Kami saling menyakiti, tidak ada jalan keluar. Apa ini rumah yang kuinginkan untuk hatiku?  Is melangkah pergi dari rumah kami yang sudah hancur luluh lantak. Sudah tidak ada lagi tempat untuk dia berlindung. Aku tidak mengejarnya, hanya membiarkannya pergi.</p>
<p>Kembali aku berjalan dari satu rumah ke rumah yang lain, singgah untuk sekedar mencari kenikmatan dan kemudian pergi. Mengetuk rumah Liy, bersandar, tertawa, marah dan tertidur di dalamnya. Tetap saja sudut gelap yang berantakan itu tidak tersentuh, kuncinya pun tidak pernah kudapat. Seperti berjalan dalam imajinasi saja hidup di rumah bersama Liy, entah apa yang kucari.  Hingga akhirnya aku ucapkan ‘Selamat Tinggal’ juga.  Rumah modern mewah itu bukan yang kucari, meski aku tidak pernah merasa kekurangan apa pun.</p>
<p>Kembali aku berjalan, terus mencari rumah untuk hatiku. Kemudian langkahku terhenti.  Rumah berdinding bata merah, dengan sebuah <em>gazebo </em>mungil berdiri di depanku tiba-tiba. Entah dari mana asalnya rumah itu. Aroma rumah itu begitu familier, furniturnya tidak mewah tapi juga tidak sederhana. Bernuansa <em>victorian</em> modern, setiap sudut rumahnya memiliki penerangan yang cukup, tertata rapi dan sangat nyaman.</p>
<p>Jantungku berdetak hebat, kupejamkan mata dan kudengar suara anak-anakku bermain di dalam rumah ini. Aroma kopi yang semerbak bercampur dengan harum roti dan sedikit anggur merah yang semarak. Majalah-majalah berantakan di depan sebuah TV Flat 42”, tampak perabot dari kayu dan lantai marmer, halaman belakang yang luas, dapur yang menyenangkan. Ini..  …rumah yang kucari selama ini.</p>
<p>Tapi hei, rumah ini ada pemiliknya. Oh <em>well</em>, aku tadi seenaknya melangkah masuk karena terpesona dengan keindahannya. Tapi pemilik rumah ini tidak pantas sama sekali, akulah yang seharusnya menjadi pemilik rumah indah ini. Aku yang akan merawatnya dan yang akan mengisi rumah ini dengan kehangatan. Aku yang akan memilikinya sebab aku menginginkan rumah ini.</p>
<p>@Violet, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/10/08/rumah-untuk-hatiku-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>L’Amour: Ice Skating Cinta</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/10/02/lamour-ice-skating-cinta/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/10/02/lamour-ice-skating-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2011 16:51:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[L'Amour]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=15077</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Valencia
Ide tulisan ini bermula dari BBM yang dikirimkan GF, BBM yang bikin saya ngakak sampai sakit perut dan memutuskan untuk nyamperin dia ke kostnya dan menggelitikinya habis-habisan. Begini BBM-nya:
Say, kamu trainer Ice Skating ya?
Nyindiiir ?
Jawabnya jangan begitu! Bilang begini: “Kok tau?” (kayak di OVJ itu lho)
Baiklah… “Kok kamu tau, Sayang?”
Karena kamu selalu meluncur di hatiku!
Ha ha ha. Iyaa… Prikitiww dehh
Saya kuliah di kampus di daerah Jakarta Barat. Karena berasal dari daerah, ketika hari minggu teman-teman kos suka ngajak jalan-jalan, ke mal sekedar cuci mata, makan pake voucer murah meriah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/OCs__Mei_and_Luvena___Skating_by_x_Windust.jpg"><img class="size-medium wp-image-15081 alignleft" title="OCs__Mei_and_Luvena___Skating_by_x_Windust" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/OCs__Mei_and_Luvena___Skating_by_x_Windust-300x205.jpg" alt="" width="300" height="205" /></a>Oleh: Valencia</p>
<p>Ide tulisan ini bermula dari BBM yang dikirimkan GF, BBM yang bikin saya ngakak sampai sakit perut dan memutuskan untuk nyamperin dia ke kostnya dan menggelitikinya habis-habisan. Begini BBM-nya:</p>
<p><em>Say, kamu trainer </em>Ice Skating<em> ya?</em></p>
<p><em>Nyindiiir ?</em></p>
<p><em>Jawabnya jangan begitu! Bilang begini: “Kok tau?” (kayak di OVJ itu lho)</em></p>
<p><em>Baiklah… “Kok kamu tau, Sayang?”</em></p>
<p><em>Karena kamu selalu meluncur di hatiku!</em></p>
<p><em>Ha ha ha. Iyaa… Prikitiww dehh</em></p>
<p>Saya kuliah di kampus di daerah Jakarta Barat. Karena berasal dari daerah, ketika hari minggu teman-teman kos suka ngajak jalan-jalan, ke mal sekedar cuci mata, makan pake voucer murah meriah dan nyoba hal-hal aneh. Termasuk <em>ice skating</em>. Ini hal teraneh dan paling konyol yang saya coba seumur hidup, karena saya termasuk manusia yang punya keseimbangan tubuh yang payah. Jalan biasa saja sering tersandung. Itu pula sebabnya saya nggak bisa naik sepeda apalagi sepeda motor. Mama saya bilang itu karena telapak kaki saya terlalu datar (coba deh cek telapak kaki masing-masing).</p>
<p>Hari itu saya jalan dan dua teman berangkat ke Mal Taman Anggrek yang tidak begitu jauh dari kampus, cuma sekali naik bus kota. Sengaja kami ke sana pada <em>week day</em>, karena teman saya kalau <em>week day</em> waktunya nggak dibatasi dan lebih sepi. Kedua teman saya memang sudah pernah mencoba beberapa kali sebelumnya.</p>
<p>Begitu masuk <em>ice rink</em> teman-teman saya langsung <em>action</em>. Meski sesekali kali jatuh tapi mereka sudah bisa meluncur. Sementara saya, berdiri di atas <em>ice skates</em> sambil berpegangan di pinggir <em>ice rink</em> saja kepayahan. Saya pikir penjaga yang ada di sana bakal ngajarin, minimalnya bantu berdiri kalau jatuh. Tapi  ternyata tidak. Dan teman-teman saya… berapa lama sih mereka tahan bantuin saya melulu. Sudahlah, saya “ngesot” saja di pinggir <em>ice rink</em>, menahan dingin yang bikin hidung saya memerah sambil menahan rasa iri melihat anak kecil berputar-putar. Rasanya, mereka seperti mengejek saya.</p>
<p>Sampai seseorang menyapa saya. “Cece baru pertama kali ya?”</p>
<p>Saya mengangguk malu, tapi dalam hati bilang, <em>“Sepuluh kali ke sini juga bakal begini-begini aja.”</em></p>
<p>“Sendirian?”</p>
<p>“Nggak, sama teman.” Saya menunjuk teman-teman saya. Yang satu baru berdiri setelah jatuh dan yang satunya sedang meluncur mengayunkan tangan.</p>
<p>“Mulai belajar berjalan aja dulu, Ce. Mau saya ajarin?”</p>
<p>“Bayar nggak?”</p>
<p>“Ha ha ha. Nggak lah! Atau kalau mau, bayar seikhlasnya aja. Ha ha ha. Saya becanda, Ce.”</p>
<p>Karena memang nggak mau kenalan, saya biarin aja dia manggil saya “Cece” dan saya manggil dia “Kamu”. Dia mulai ngajarin saya berjalan dengan langkah-langkah pendek (bukan meluncur) sambil pegangan dan bertumpu dengan satu kaki dan satu kaki yg lain buat mendorong supaya badan saya maju. Karena pas pertama nyoba, bukannya maju, saya malah jadi mundur. Dia juga ngajarin saya memanfaatkan gerigi pada <em>ice skates</em> buat bertumpu saat mau bergerak. Pokoknya gitu-gitu deh. Dia terus ngoceh soal teori berjalan yang susah buat saya cerna. Sampai akhirnya dia nawarin supaya saya pegangin tangannya sambil mencoba bergerak maju. Yang ada saya menikmati aja meluncur sambil di tarik-tarik. Hihihi.</p>
<p>Singkat kata itulah mulanya, nggak sepanjang waktu juga sih dia ngajarin saya. Karena saat dia nyuruh saya mencoba sendiri, dia mulai pamer kehebatannya hahaha (ini saya tahu belakangan). Saat mau udahan, saya pengen nanya kapan aja dia main tapi maluuu-lah. Eh ternyata dia yang nawarin.</p>
<p>“Kalau Cece mau, nanti hari Kamis saya main ke sini lagi. Nanti saya ajarin buat nyeimbangin badan.”</p>
<p>“Tapi, Kamis saya ada kuliah, sampai sore.”</p>
<p>“Kuliah di mana, Ce?”</p>
<p>“Untar.”</p>
<p>“Woo, deketan dong. Saya Untris. Ha ha ha. Kos daerah Tanjung Gedong, dong?”</p>
<p>“Iya. Kamu juga?”</p>
<p>“Enggak. Saya di Muwardi, tapi sering main ke Tanjung Gedong.</p>
<p>Kami akhirnya tukaran nomor telepon, eh dia sih yang ngasi nomor telepon duluan, dan dia bilang supaya saya SMS saja kalau pas main <em>ice skating</em>. Tapi lagi-lagi saya malu, sampai dia sendiri yang telepon dan ngajak saya.</p>
<p>Lama juga kami sahabatan dan sering main bersama, kadang berempat sama teman kos saya. Sampai akhirnya saya sadar, saya merasa sangat nyaman dan senang saat bersama dia. Meski kadang manja dan kekanak-kanakan, dia lucu dan menyenangkan. Dia juga penyemangat yang baik. Kami nggak pernah ada kata jadian, berjalan begitu saja. Dia spesial bukan karena setelah sekian lama dia berhasil ngajarin saya meluncur di atas <em>ice skates,</em> tapi karena saya memang merasa hidup saya nggak lengkap kalau nggak ada dia. Hubungan kami juga nggak selalu mulus, jatuh-bangun-jatuh-bangun sampai biru-biru karena lebam. Tapi ya itu, setelah jatuh selalu salah satu dari kami mengulurkan tangan untuk bangkit dan kembali meluncur bersama-sama.</p>
<p>@Valencia, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/10/02/lamour-ice-skating-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

