<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; kesehatan</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/tag/kesehatan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 10:52:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Cuci Mata: I Love Me</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/21/cuci-mata-i-love-me/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/21/cuci-mata-i-love-me/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 12:46:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cuci Mata]]></category>
		<category><![CDATA[gaya hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16872</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sidney
Bukannya mau memberi kesan narsis atau egois tapi mencintai yang terpenting adalah mencintai diri sendiri. Siapa gitu pernah bilang, sebelum kita bisa membahagiakan orang lain, kita harus bahagaia lebih dulu. Sama dengan cinta. Sebelum kita mencintai diri orang lain, kita harus bisa mencintai diri sendiri. Sebelum bisa memanjakan orang lain, kita harus bisa memanjakan diri. I can go on and on about this, but I think you&#8217;ve got my point.
Tadi sore aku baru mendapat kabar tentang seorang teman yang sakit. Oleh dokter, dia diagnosis&#8230; kurang gizi dan kurang makan. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/poci1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-16873" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/poci1.jpg" alt="" width="256" height="329" /></a>Oleh: Sidney</p>
<p>Bukannya mau memberi kesan narsis atau egois tapi mencintai yang terpenting adalah mencintai diri sendiri. Siapa gitu pernah bilang, sebelum kita bisa membahagiakan orang lain, kita harus bahagaia lebih dulu. Sama dengan cinta. Sebelum kita mencintai diri orang lain, kita harus bisa mencintai diri sendiri. Sebelum bisa memanjakan orang lain, kita harus bisa memanjakan diri. <em>I can go on and on about this, but I think you&#8217;ve got my point</em>.</p>
<p>Tadi sore aku baru mendapat kabar tentang seorang teman yang sakit. Oleh dokter, dia diagnosis&#8230; kurang gizi dan kurang makan. Alamak jreng-jreng. Hari gini? Bengong dong aku. Langsung membayangkan headline di koran lampu merah “Seorang Eksekutif Muda Ditemukan Tewas di Apartemen Mewah Karena Kurang Gizi”.</p>
<p><span id="more-16872"></span>Aku nggak habis pikir membayangkan bagaimana seseorang bisa menyakiti dirinya sedemikian rupa sampai kurang gizi. Ini perempuan sukses, lajang, mandiri, dan memutuskan untuk merusak dirinya secara sadar. Masa sih dia sama seperti bapak-bapak pengangguran yang kalau ada uang Rp.10.000 lebih memilih rokok daripada makan? Ya ampun, tepok jidat benturin kepala si bodoh ini ke dinding.</p>
<p>Bagaimana bisa ada seseorang yang sanggup liburan di Paris, <em>tweeting</em> sedang minum Merlot di resto paling <em>hip </em>di Jakarta, beli tas Kate Spade waktu sale kemarin, tapi kurang gizi? Ini kan ibaratnya ada orang yang bisa minum kopi Starbucks tapi pulang ke rumah makan nasi plus kecap manis dan krupuk. <em>Where&#8217;s the logic in this? Is she stupid or what?</em></p>
<p>Sibuk sampai nggak sempat makan? Oh, <em>please </em>deh! Bahkan Bill Gates atau Oprah Winfrey aja masih sempat makan kok.</p>
<p>Diet? Okelah diet? <em>Hello? </em>Hari gini diet kan banyak program khusus yang tidak membuatmu harus melaparkan diri sampai didiagnosis kurang gizi. Walau aku bersyukur diberkahi tubuh langsing dan tidak perlu diet menguruskan badan, tapi aku tahu ada program diet dengan makanan sehat dan teratur yang membuat kita bisa menyantap makanan yang diatur kalorinya dan gizi seimbang.</p>
<p>Patah hati sampai nggak mau makan? <em>Shrug</em>&#8230; ya ampun. Baca paragraf pertama deh. Bagaimana bisa kita mencintai orang lain kalau kita nggak mencintai diri sendiri. Atau yang lebih buruk lagi, bagaimana bisa ada orang yang merusak dirinya sendiri dengan memasukkan segala zat beracun macam nikotin dan alkohol tapi tidak makan makanan sehat dan berharap dicintai?</p>
<p><em>I love myself </em>ini sungguh bukan cuma slogan. Aku nggak pernah membayangkan ada orang yang sebegitu bodohnya mau merusak diri hingga mendengar cerita ini. Makan merupakan kebutuhan utama manusia. Sakit kurang makan dan kurang gizi jika dialami oleh orang yang hidupnya berkecukupan, menurutku, itu kegiatan merusak diri secara sadar.</p>
<p>Bagaimana dengan lesbian? Benci dengan kelesbianan diri sampai harus merokok tanpa henti? Banyak tuh yang seperti itu. Ada teman lesbianku yang mendadak jadi perokok akut setiap percintaannya babak belur. <em>Unbelievable, how much she hates herself! </em>Bukan juga cerita baru kalau dapat kabar lesbian bunuh diri karena ditolak cintanya. Atau lesbian menyakiti tubuhnya saat berantem dengan pacar dengan cara menyilet-nyilet. Brrr, <em>my body is shivering just to think about it</em>. Mana cakep sih miting dengan bos besar dengan lengan bekas silet terbuka di atas meja?</p>
<p>Aduh, ngomongin semua ini membuatku makan di restoran enak dan nonton bioskop. Tapi tentu saja tidak sendirian, enaknya bersama partner. Mencintai diri sih memang oke, tapi ingat loh, manusia tidak sanggup hidup sendirian. Karena itulah enaknya punya pasangan yang sayang sama aku. <em>I love her! </em>*wink*</p>
<p>@Sidney, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/21/cuci-mata-i-love-me/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mix ‘n Match: Sistem Support Jiwa</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/10/30/mix-n-match-sistem-support-jiwa/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/10/30/mix-n-match-sistem-support-jiwa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Oct 2011 06:54:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mix n' Match]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=15669</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Carmen
Fakta: Selama 7 tahun terakhir, aku menghabiskan ratusan juta rupiah untuk servis terkait kejiwaan.
Apakah Carmen sakit jiwa? Oh tidak, dear, tidak sama sekali. Selama kurun waktu tersebut, aku mengumpulkan “sistem support” yang strategis untuk pencegahan sakit jiwaku di masa depan. Istilahnya, investasi untuk hidup lebih bahagia di masa sekarang sudah mulai kulakukan sejak di bangku kuliah. Dan dengan penyertaan Tuhan, aku berhasil.
Mungkin harus dijelaskan latar belakangnya tentang strategiku yang bombastis dan jauh dari murah ini. Sebagai lesbian yang normal, pastilah dari awal sudah terbayang konsekuensi-konsekuensi seperti “bagaimana kalau ketahuan, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/secret.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-15670" title="secret" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/secret.jpg" alt="" width="225" height="220" /></a>Oleh: Carmen</p>
<p><em>Fakta: Selama 7 tahun terakhir, aku menghabiskan ratusan juta rupiah untuk servis terkait kejiwaan.</em></p>
<p>Apakah Carmen sakit jiwa? Oh tidak, dear, tidak sama sekali. Selama kurun waktu tersebut, aku mengumpulkan “<em>sistem support</em>” yang strategis untuk pencegahan sakit jiwaku di masa depan. Istilahnya, investasi untuk hidup lebih bahagia di masa sekarang sudah mulai kulakukan sejak di bangku kuliah. Dan dengan penyertaan Tuhan, aku berhasil.</p>
<p><span id="more-15669"></span>Mungkin harus dijelaskan latar belakangnya tentang strategiku yang bombastis dan jauh dari murah ini. Sebagai lesbian yang normal, pastilah dari awal sudah terbayang konsekuensi-konsekuensi seperti “bagaimana kalau ketahuan, tekanan dari lingkungan terdekat untuk jadi hetero” dan lain-lain. Nah eskalasi kegawatan dari konsekuensiku tersebut bisa dibilang cukup tinggi.</p>
<p>Menyadari eskalasi yang tinggi tersebut, apakah lalu sebagai lesbian aku jadi minta dikasihani atau malah pasrah? Tidak, aku memilih untuk berjuang keras. Aku juga mau dapat yang lebih banyak. Aku sangat nyaman dengan keluargaku, aku menyayangi mereka, aku mau mereka satu pihak denganku. Mengapa? Aku memang lesbian, tapi aku juga adalah pribadi yang berharga yang patut dicintai sebesar itu. Di sisi lain, keluargaku juga istimewa, mereka perlu kesempatan untuk menunjukkan keindahan hati dan moral mereka yang luar biasa tinggi (e.g., tidak diskriminatif, tidak homofobia, tidak heteroseksis, tidak berbuat jahat). Seperti di artikel sebelumnya tentang <a href="http://sepocikopi.com/2011/10/16/mnm-coming-out-anak-referensi-dari-orangtua/">Coming Out Anak</a>, titik balik yang sangat penting dalam kesuksesan <em>coming out</em>-ku adalah sistem support dari <em>mental health professionals</em>, yaitu terapis, psikolog, psikiater, dan konselor Kristen.</p>
<p><em>Think, lesbians. Think.</em></p>
<p>Kalau ketahuan, sudah hampir pasti 100% aku dibawa ke ahli-ahli tersebut. Bukannya tidak percaya pada profesi kejiwaan di negara tercinta ini, tapi mari berpikir realistis. Kita ada di lingkungan keluarga Indonesia (baca: relatif konservatif, heteroseksis, patriarkis). Aku memang waktu itu tinggal di negara lain, <em>mental health professionals </em>di sana memang lebih <em>aware </em>atas isu-isu lesbian. Apakah mereka lebih pintar? Sama sekali tidak! Karena toh mereka punya keterbatasan membantuku dengan konteks keluarga Indonesia. Secara intuitif keluargaku pasti lebih percaya hasil dari konselor dalam negeri sendiri, yang tahu persis norma dan budaya Indonesia. Di sisi lain, mari bersikap <em>fair </em>juga dengan konselor dalam negeri. Kesimpulanku menemui banyak dari mereka adalah, kendalanya ada di keterbatasan informasi dan pendidikan tentang isu lesbian. Tapi selalu ada berlian langka dari antara <em>mental health professionals </em>asal Indonesia&#8211;<em>the ones with the brightest mind and an incredibly-blessed heart.</em></p>
<p>Kata kuncinya adalah kompetensi. Ini kubagi tips-tips untuk lesbian biar memudahkan mengerti info yang mungkin simpang siur, dan biar nggak perlu membayar terlalu banyak seperti kasusku. Pada saat menemui mereka, masalah yang kubincangkan adalah “penerimaan diri sendiri dan orangtua”. Dari respons-respons mereka dan tingkat kepuasanku, paling sedikit ada 5 kompetensi yang patut dimiliki seorang <em>mental health profesional</em>:</p>
<p><strong>1. Kompetensi menjaga kerahasiaan</strong></p>
<p>Kompetensi ini kutempatkan sebagai yang utama alias yang terpenting! Konselor yang tidak bisa menjaga rahasia klien adalah yang paling tidak kompeten, tidak punya integritas, termasuk level paling rendah dari seluruh konselor. Apa pun alasannya, menjaga rahasia adalah absolut. Kecuali kasus tertentu misalnya si klien mau bunuh diri, jadi bunuh dirinya dilaporkan ke pihak berwajib (tapi kerahasiaan lain dari klien ini harus tetap dijaga, sesuai pembicaraan dengan klien). Konsep menjaga rahasia ini sangat penting karena menyangkut keberhargaan suatu profesi.</p>
<p>Menurut banyak penelitian, komponen paling penting dari keberhasilan suatu sesi kesehatan jiwa adalah tingkat kepercayaan antara klien-konselor. Sangat penting rasa percaya yang tinggi ini, sampai-sampai Carl Rogers, figur ternama, mengatakan kalau kliennya percaya dan konselornya menerima klien secara menyeluruh, maka kliennya akan otomatis berjalan ke fungsi yang lebih baik.</p>
<p>Jadi kalau ada konselor yang ember bocor, apalagi kalau sampai ngomong di publik televisi tentang individu tertentu, sebaiknya jauh-jauh dari konselor tipe ini. Sebagai klien kita punya hak untuk dijaga rahasianya. Kita bayar lho untuk jasa mereka yang “mulia”! Kode etiknya sangat jelas sehingga jika ada pelanggaran, bisa dilaporkan ke organisasi profesi yang bersangkutan atau sekalian pencemaran nama baik. Sejujurnya, hal ini juga menyebabkan faktor membengkaknya biaya yang kukeluarkan. Berkali-kali aku mendapat pengalaman buruk karena si konselor punya potensi ember. Cape deh.</p>
<p>Singkatnya, ada beberapa cara pencegahan: Dengan cara mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang konselor yang ingin kautemui. Lihat komentarnya di media-media. Lihat tingkah lakunya. Atau biar lebih yakin, kita bisa bikin semacam surat perjanjian masalah menjaga rahasia. Kalau di negara yang maju sistem <em>public mental health</em>-nya, klien diberikan semacam <em>letter of consent </em>bahwa kerahasiaan terjamin dll adalah prosedur yang standar. Tapi di Indonesia termasuk tidak umum. Jadi, buat aja sendiri, lalu ditandatangani kedua belah pihak. Ini juga supaya konselornya tahu bahwa kita memberikan kesempatan untuk memercayai dirinya.</p>
<p>Tulis spesifik di perjanjianmu bahwa ke siapa pun, termasuk orangtua, semua informasi dalam sesi tidak boleh bocor! Kita uda dewasa kan (&gt;17 tahun), jadi berhak mendapat jaminan ini. Kalau konselor menolak di sesi awal, sebaiknya cari konselor lain. Jika dia tidak mampu menerima kepercayaanmu, sebaiknya pergi.</p>
<p><strong>2. Kompetensi berpengetahuan empiris</strong></p>
<p>Apakah konselor yang terkenal berarti berpengetahuan dan kompeteb? Belum tentu! Pengalamanku, konselor yang kompeten adalah yang tidak berhenti belajar. Kalimat “homoseksualitas adalah bukan penyakit kejiwaan” di buku pedoman dokter-dokter bisa dibaca kok. Kalau konselornya tidak tahu tentang hal ini atau langsung menolak kalau dikasih tahu, berarti dia tidak membaca cukup banyak dalam 40 tahun terakhir. Tinggal <em>google </em>“homosexual disorder”, baca dikit, sudah langsung tahu info yang akurat dari organisasi kesehatan setingkat PBB.</p>
<p>Apakah itu berarti kesannya kita mencocok-cocokkan, menjustifikasi kelesbianan kita dengan mencari orang-orang yang berpandangan serupa? Menurutku tidak juga. Kalimat ini: “homoseksualitas adalah bukan penyakit kejiwaan” adalah suatu fakta (bukan opini) yang dibawa oleh nyaris semua organisasi kesehatan di dunia ini, baik di negara yang liberal, konservatif, hingga campuran. Kalimat tersebut juga punya <em>support </em>sangat baik dari beribu-ribu penelitian kesehatan selama 40 tahun. Yang justru aneh adalah saat kita mencocok-cocokkan pandangan yang sifatnya opini, padahal salah.</p>
<p>Pengalamanku juga, ada konselor yang benar-benar tak ada ide/tak pernah dengar soal homoseksual, tapi juga terbuka. Saat sesi kedua, kamu bisa lihat pengetahuannya nambah atau tidak dari info-info konstruktif (sifatnya solusi) yang diberikan padamu, dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan yang sifatnya memang pertanyaan (bukan menyudutkan) padamu. Kalau kamu beruntung, kamu sudah menemukan konselor yang terbaik dari semuanya: Yang mau terus menerus belajar, banyak baca, dan punya niat baik&#8211;&gt; menempatkan kebahagiaan klien lebih utama daripada ego/tujuan pribadinya. Kita ke sana untuk menemukan solusi masalah kita, bukan mengurusi masalah tidak-berpengetahuannya si konselor. Jadi implikasinya, belum tentu konselor yang baik cuma ada di kota besar lho. Salah satu konselor konservatif yang kutemui yang kompetensinya segede jempol keatas adalah dari kota kecil di Jawa Timur.</p>
<p><strong>3.Kompetensi kesadaran diri</strong></p>
<p>Menurutku, setelah ada jaminan kompetensi nomer 1 yaitu menjaga rahasia, langsung tanya apakah keberatan jika menangani kasus saya yang beridentitas lesbian? Umumnya harusnya konselor mana pun tidak bisa diskriminatif ya, terkait integritas, tapi tidak bisa juga naif lalu perasaan kita tersakiti karena didiskriminasi. Jadi lebih baik jujur dari awal dan tanya terang-terangan.</p>
<p>Terkadang, ada juga konselor yang berkata bahwa ia tidak mengerti tentang kompleksitas masalah kita (jujur nih!), tapi dia mau berusaha mengerti dan belajar dan membantu. Lihat lagi kompetensi mau belajar di poin 2. Mengapa? Karena faktor yang mempengaruhi keberhasilan suatu sesi adalah saat konselornya punya kesadaran tinggi atas keterbatasan dan nilai-nilai yang dia anut. Sehingga saat sesi, dia akan berhati-hati untuk tidak bersikap dan bereaksi negatif terhadap kita secara eksplisit maupun implisit. Akibatnya, misalnya, si konselor akan lebih berfokus pada penyelesaian masalah kita (soal stres karena pekerjaan), bukan masalah kita-sebagai-lesbian (yang tak ada hubungannya dengan alasan kita menemui dia). Dan dia akan mencoba lebih mengerti bagaimana stigmatisasi dari masyarakat punya andil besar sebagai faktor risiko kita stres.</p>
<p>Lain kalau dia memang dari awal jelas-jelas bilang “nggak bisa sama lesbi”, sebaiknya tendang ni konselor jauh-jauh, karena jelas tidak kompeten menangani masalah kita.</p>
<p>Apakah itu berarti konselor yang beridentitas lesbian adalah lebih baik? <em>Tet tot.</em> Menurut pengalamanku, asumsi ini salah. Kompetensi seorang konselor lebih penting daripada orientasi seksualnya. Maaf nih, aku punya pengalaman buruk sama konselor lesbian. Ceritanya si konselor lesbian malah menganggap ketakutan dan konsekuensi <em>coming out </em>sebagai sebelah mata <em>(aneh, kan?!)</em>. Jadi dia menganggap kunci dari masalahku adalah dengan <em>coming out</em>. Konselor ini jadinya membuatku merasa tidak dimengerti dan perjuangan atas ketakutanku tidak diapresiasi. Ia juga tidak menghiraukan konsekuensi dari fakta bahwa masyarakat dan orangtuaku masih homofobia.</p>
<p><strong>4. Kompetensi integritas, termasuk profesionalitas dalam isu-isu personal.</strong></p>
<p>Kompetensi ini terkait dengan poin 1, dan hal-hal umum seperti naksir-naksiran. Susah kan kalau konselornya jadi jatuh cinta sama si cantik Carmen, misalnya. Ini kisah nyata karena terjadi padaku<em>.</em> Entahlah, mungkin akunya yang sedang sial, karena teman-temanku memilih konselor lain yang juga beridentitas lesbian, dan mereka baik-baik saja.</p>
<p><strong>5. Kompetensi kecocokan/kompatibilitas</strong></p>
<p>Kecocokan klien dan konselor juga penting. Misalnya, apakah konselormu mengerti kompleksitas masalahmu, dengan latar belakang keluarga dan masyarakatmu yang spesifik? Apakah kamu perlu konselor yang, misalnya, punya pendekatan spiritual juga, sesuai kondisi keluargamu. Dan lain-lain.</p>
<p>Secara mengejutkan, yang kualami adalah gender dari konselor tidak berpengaruh. Beberapa konselorku adalah laki-laki, dan mereka luar biasa!  Lalu secara umum, penelitian mengatakan bahwa untuk klien homoseksual, psikiater lebih dihindari oleh klien dibanding konselor maupun psikolog. Entah mengapa, memang lebih sulit mencari psikiater yang bersifat terbuka. Aku berkali-kali kecewa dengan dokter-dokter itu. Tapi pengalamanku, ada kok psikiater keren yang lagi-lagi luar biasa.</p>
<p>Intinya adalah, datang ke <em>mental health professionals</em> itu agar lebih bahagia. Tapi kalau hasilnya malah lebih depresi, dan lain-lain, untuk apa? Jangan ragu juga untuk mengomunikasikan hal ini kepada mereka kalau kamu merasa tidak diperlakukan dengan baik.</p>
<p>Terakhir, artikel ini bersifat subjektif dan konteks disesuaikan dengan kondisi penulis. <em>Resource </em>yang kuhabiskan adalah tepat sasaran untuk karakteristik keluargaku. Nah jadi, coba dipikirkan baik-baik! Kalau kondisimu, gimana? Walau kamu tidak niat <em>coming out</em>, tetap harus siapkan bemper lho (seperti yang kualami). Mudah-mudahan tips-tips diatas bisa memudahkan lesbian untuk mengambil manfaat dari jasa yang diberikan oleh <em>mental health professionals</em>.</p>
<p>Paling tidak, lebih bisa berhemat dan proses berhasilnya lebih cepat. Sedikit catatan, aku tidak akan memberitahukan kepadamu siapa konselor yang kompeten dan siapa yang tidak. <em>People can change</em>, termasuk mereka. Aku menyarankan untuk bersikap semacam “praduga tak bersalah” kepada setiap konselor mana pun di bumi Indonesia. Kalau dilihat secara positif, memberikan kesempatan rasa percaya seperti ini juga merupakan penghargaan paling tinggi yang bisa kuberikan untuk para <em>mental health professionals </em>yang sudah membantuku dan keluargaku yang naik setingkat dalam hubungan antar keluarga, terutama dalam cinta. <em>Thank you, my wonderful counsellors! You are truly ones with the brightest mind and an incredibly-blessed heart! And I trust your profession!</em></p>
<p>@Carmen, SepociKopi, 2011</p>
<div id="yui_3_2_0_1_1319960237811123">
<div id="yiv1148193302">
<div id="yui_3_2_0_1_1319960237811120">
<div id="yui_3_2_0_1_1319960237811117">
<h6>
<div><em>Keterangan:</em></div>
<div><span style="font-weight: normal;">Konselor = disini sebutan orang yang memberikan sesi konseling, termasuk di dalamnya psikolog, psikiater, hingga konselor tertentu.</span></div>
<div><span style="font-weight: normal;"><br />
</span></div>
<div><span style="font-weight: normal;">Sumber</span></div>
<div><span style="font-weight: normal;">Balsam, K. F., Rothblum, E. D., &amp; Beauchine, T. P. (2005). Victimization over the life span: A comparison of lesbian, gay, bisexual, and heterosexual siblings. <em>Journal of Counseling and Clinical Psychology, 73,</em>477-487</span></div>
<div><span style="font-weight: normal;">Beckstead, A. L., &amp; Morrow, S. L. (2004). Mormon clients’ experiences of conversion therapy: The need for a new treatment approach. <em>The Counselling Psychologist, 32,</em> 651-691</span></div>
<div><span style="font-weight: normal;">Burckell, L. A., &amp; Goldfried, M. R. (2006). Therapist qualities preferred by sexual-minority individuals. <em>Psychotherapy: Theory, Research, Practice, Training, 43</em>, 32-49</span></div>
<div><span style="font-weight: normal;">Dorland, J. M., &amp; Fischer, A. R. (2001). Gay, lesbian, and bisexual individuals’ perceptions: An analogue study. <em>The Counselling Psychologist, 29,</em> 532-547</span></div>
<div><span style="font-weight: normal;">Kawakami, K., Young, H., &amp; Dovidio, J. F. (2002). Automatic stereotyping: Category, trait, and behavioral activations. <em>Personality and Social Psychology Bulletin, 28,</em> 3-15</span></div>
<div><span style="font-weight: normal;">Hetherington, L., Lavner, J. A. (2008). Coming to terms with coming out: Review and recommendations for family systems-focused approach. <em>Journal of Family Psychology, 22,</em> 329-343</span></div>
<div><span style="font-weight: normal;">Hill, M., Glaser, K., &amp; Harden, J. (1995). A feminist model for ethical decision-making. In E. J. Rave &amp; C. C. Larsen (Eds.), <em>Ethical decision-making in therapy: Feminist perspectives</em> (pp. 18-37). New York: Guilford Press</span></div>
<div><span style="font-weight: normal;">Lasser, J. S., &amp; Gottlieb, M. C. (2004). Treating patients distressed regarding their sexual orientation: Clinical and ethical alternatives. <em>Professional Psychology: Research and Practice, 35,</em> 194-200</span></div>
<div><span style="font-weight: normal;">Lewis, R. J., Derlega, V. J., Clarke, E. G., &amp; Kuang, J. C. (2006). Stigma consciousness, social constraints, and lesbian well-being. <em>Journal of Counseling Psychology, 53, </em>48-56</span></div>
<div><span style="font-weight: normal;">Liddle, B. J. (1999). Gay and lesbian clients’ ratings of psychiatrists, psychologists, social workers, and counselors. <em>Journal of Gay and Lesbian Psychotherapy, 3,</em> 81-93</span></div>
<div id="yui_3_2_0_1_1319960237811111"><span style="font-weight: normal;">Pachankis, J. E., &amp; Goldfried, M. R. (2004). Clinical Issues in working with lesbian, gay, bisexual clients. <em>Psychotherapy: Theory, Research, Practice, Training, 41,</em> 227-246</span></div>
<div><span style="font-weight: normal;">Saulnier, C. F. (2002). Deciding who to see: Lesbians discuss their preferences in health and mental health care providers. <em>Social Work, 47,</em> 355-365</span></div>
<div><span style="font-weight: normal;">Sherry, A. (2007). Internalized homophobia and adult attachment: Implications for clinical practice. <em>Psychotherapy: Theory, Research, Practice, Training, 44,</em> 219-245</span></div>
</h6>
</div>
</div>
</div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/10/30/mix-n-match-sistem-support-jiwa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>te.Lez.kop: Whither Goest Thou Seksualitas Lesbian?</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/10/20/te-lez-kop-whither-goest-thou-seksualitas-lesbian/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/10/20/te-lez-kop-whither-goest-thou-seksualitas-lesbian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Oct 2011 03:12:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Telezkop]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan sesama jenis]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=15498</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Tya Andriani
Kalau di dunia heteroseksual, kita sudah biasa mendengar bahwa pernikahan memiliki batas usia minimal. Banyak negara melindungi warganegaranya, khususnya anak-anak, sehingga tidak terjadi pernikahan di bawah umur. Hukum mengawasi jika ada orangtua yang berani menikahkan remaja di bawah umur. Pernikahan itu dianggap ilegal dan cacat hukum.
Dalam lingkup budaya dan sosial, lingkungan juga turut menjaga urusan pernikahan heteroseksual. No sex before the wedding! Jangankan di daerah pedesaan di mana hukum adat dan sosial masih sangat kuat, di daerah perkotaan yang modern, hal ini masih berlaku. Bukankah banyak agama juga ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/question-mark1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-15500" title="question-mark1" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/question-mark1-300x278.jpg" alt="" width="240" height="222" /></a>Oleh: Tya Andriani</p>
<p>Kalau di dunia heteroseksual, kita sudah biasa mendengar bahwa pernikahan memiliki batas usia minimal. Banyak negara melindungi warganegaranya, khususnya anak-anak, sehingga tidak terjadi pernikahan di bawah umur. Hukum mengawasi jika ada orangtua yang berani menikahkan remaja di bawah umur. Pernikahan itu dianggap ilegal dan cacat hukum.</p>
<p><span id="more-15498"></span>Dalam lingkup budaya dan sosial, lingkungan juga turut menjaga urusan pernikahan heteroseksual. <em>No sex before the wedding! </em>Jangankan di daerah pedesaan di mana hukum adat dan sosial masih sangat kuat, di daerah perkotaan yang modern, hal ini masih berlaku. Bukankah banyak agama juga mengatur masalah kegiatan seks? Tanpa ikatan resmi, aktivitas seks dianggap sebagai kegiatan tabu yang ganjarannya tergantung setiap hukum sosial dan agama yang dianut lingkungan tersebut. Aktivitas seks di antara dua manusia perlu mendapat legalisasi, yakni pernikahan.</p>
<p>Balik ke dunia lesbian. Bagaimana dengan aturan dan budaya lesbian? Adakah aturan dan hukum sosial yang mengendalikan urusan seksualitas dan usia pernikahan? Sebelum kita ramai-ramai menjawab “Ngapain sih mikirin peraturan? Bebas aja lageee!”, saya ingin menekankan bahwa kesepakatan-kesepakatan antarmanusia yang dibuat dalam hukum menjadikan manusia sebagai kelompok yang memiliki kemampuan berorganisasi untuk membangun kota, kerajaan, negara, bahkan perserikatan bangsa-bangsa.</p>
<p>Kelompok manusia terkecil, yakni keluarga, memiliki aturan sendiri. Bahkan sesama pasangan lesbian, ayoo ngaku, pasti kita punya aturan main bersama kekasih. Misalnya, makan malam harus bareng (kecuali ada kesibukan yang mendesak). Atau setiap kali pesawat <em>boarding </em>saat <em>business trip</em>, harus mengirimkan SMS pemberitahuan kepada Yayang. Bukankah demikian? Pasti ada aturan-aturan main lagi yang khas dan unik di antara sesama pasangan lesbian. Kenapa manusia butuh aturan? Sebab aturan membuat kita aman, terlindungi, dan kuat.</p>
<p>Sekarang ini, remaja-remaja lesbian yang sudah menyadari orientasi seksualnya sedini mungkin bisa mendapatkan akses informasi dan penguatan diri lewat dunia internet. Tidak ada yang bisa menahan kecanggihan teknologi dan melarang para remaja mencari pengetahuan untuk dirinya sendiri. Situs SepociKopi juga salah satu situs yang membantu transformasi remaja lesbian yang galau, bingung, dan putus asa menjadi remaja yang penuh rasa percaya diri, memiliki cita-cita setinggi-tingginya, dan berani bermimpi. Remaja-remaja pun bergegas-gegas mencari pacar sehingga tidak jomblo dan&#8230; langsung berhubungan seks tanpa adanya peraturan sosial tentang “seksualitas lesbian”.</p>
<p>Dalam hubungan sesama lesbian, memang tidak akan ada konsekuensi nyata dari perbuatan itu. Dua perempuan tidak mungkin saling membuahi dan menciptakan kehamilan. Apakah aturan-aturan di dunia heteroseksual tentang standarisasi umur dan pernikahan sebagai bentuk rasa takut akan kehamilan yang tak diinginkan? Belum tentu. Menahan dan menjaga berhubungan seksual sampai di usia matang ternyata membantu remaja dalam perkembangan fisik dan mentalnya.</p>
<p>Kenapa saya ngomong seperti ini? Karena hubungan seks yang sangat dini tidak produktif, malah kontra-produktif. Aktivitas seks bukan hanya melibatkan perasaan cinta, melainkan penggabungan emosi dan fisik dua individu menjadi satu. Kesadaran spiritual dan kesehatan jiwa sangat ditekankan. Penting bagi setiap individu untuk sehat secara jiwa raga sebelum melakukan hubungan seksual pertama kali. Remaja sendiri tidak cocok melakukan aktivitas seksual terlalu dini karena remaja belum tentu mengenal dirinya lahir batin. Masa-masa remaja adalah masa-masa untuk menelusuri diri sendiri dan mengenal diri sendiri lewat berteman, beraktivitas, dan beremosi.</p>
<p>Saya cemas jika melihat remaja-remaja lesbian akhirnya menjadi remaja yang teradiksi dengan cinta dan dengan mudah naik ke atas ranjang jika naksir dengan seseorang. Sementara remaja heteroseksual memiliki batasan-batasan yang “lebih” ketat daripada batasan-batasan kita. Tanpa aturan main, hukum sosial, dan ganjaran budaya tentang seksualitas lesbian yang jelas, maka remaja lesbian menjadi remaja yang bakal mudah terinfeksi dengan penyakit kelamin di usia mereka yang dini.</p>
<p>Saya cemas jika melihat remaja-remaja lesbian yang masih muda sudah berani berkomitmen serius seakan-akan mereka sudah “menikah” dengan satu perempuan pasangannya. Sementara remaja heteroseksual sedang asyik-asyiknya menikmati masa-masa kebebasan dan kesendirian mereka sebelum menikah. Apakah remaja lesbian mundur lima langkah ke belakang daripada remaja-remaja heteroseksual?</p>
<p>Saya cemas jika melihat remaja-remaja lesbian terobsesi dengan belahan jiwa sehingga nekad melanggar perintah orangtua dan kabur dari rumah jika dilarang. Saya cemas jika melihat remaja-remaja lesbian menggunakan kata “hak seksualitas” sebagai kunci emas untuk berhubungan seksual sedini mungkin. Saya cemas. Saya cemas. Sesungguhnya, saya benar-benar cemas.</p>
<p>Mau dibawa ke mana seksualitas lesbian sepuluh tahun lagi dari sekarang? <em>Quo vadis </em>seksualitas lesbian? <em>Whiter goest thou?</em> Tanpa ikatan resmi, aturan sosial, dan hukum negara, kita bagaikan manusia yang tak memiliki rumah.</p>
<p>@Tya Andriani, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/10/20/te-lez-kop-whither-goest-thou-seksualitas-lesbian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengutuki Lesbian (di Alam Bawah Sadar)</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/09/27/mengutuki-lesbian-di-alam-bawah-sadar/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/09/27/mengutuki-lesbian-di-alam-bawah-sadar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Sep 2011 13:14:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14935</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lakhsmi
Di negara empat musim, pada saat musim semi, tampaklah dari tanah yang lembab oleh gerimis, sepotong kepala mungil yang disebut tunas dan kuntum bunga. Kepala itu akan terbuka dan mekar dalam beberapa hari saja. Fenomena ini tentu saja tidak banyak terlihat di negara dua musim seperti Indonesia. Tapi, siapa yang senang berkebun, tentu akan takjub dan terheran-heran melihat alam menumbuhkan sesuatu dari yang tak terlihat menjadi ada. Paling sederhana, coba lihat percobaan gampang yang sering dilakukan oleh anak: membiakkan kecambah alias tauge. Biji berwarna hijau tiba-tiba terbuka seperti Tuhan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/Plant_growing_in_hand.jpg"><img class="size-full wp-image-14936 alignleft" title="Plant_growing_in_hand" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/Plant_growing_in_hand.jpg" alt="" width="250" height="281" /></a>Oleh: Lakhsmi</p>
<p>Di negara empat musim, pada saat musim semi, tampaklah dari tanah yang lembab oleh gerimis, sepotong kepala mungil yang disebut tunas dan kuntum bunga. Kepala itu akan terbuka dan mekar dalam beberapa hari saja. Fenomena ini tentu saja tidak banyak terlihat di negara dua musim seperti Indonesia. Tapi, siapa yang senang berkebun, tentu akan takjub dan terheran-heran melihat alam menumbuhkan sesuatu dari yang tak terlihat menjadi ada. Paling sederhana, coba lihat percobaan gampang yang sering dilakukan oleh anak: membiakkan kecambah alias tauge. Biji berwarna hijau tiba-tiba terbuka seperti Tuhan berkata &#8220;<em>Open </em>Sesame&#8221; dan keluarlah sulur mungil yang mendorong sekuat-kuatnya sampai melewati permukaan tanah.</p>
<p><span id="more-14935"></span>Di dalam diri manusia, ada sesuatu yang terlihat juga, yang arus dorongannya lebih kuat daripada kesadaran pemikiran. Dalam istilah psikologi, namanya <em>unconscious mind</em> atau dalam istilah yang lebih umum, dinamakan <em>subconscious </em>atau alam bawah sadar. Alam bawah sadar ini &#8211; sama seperti benih yang menghidupkan nyawa tumbuhan &#8211; mengendalikan alam sadar diri manusia.</p>
<p><em>Unconscious mind</em> diulas habis-habisan oleh Bapak Alam Bawah Sadar, Sigmund Freud yang melahirkan metode klinis dan cabang ilmu kejiwaan bernama <em>psychoanalysis</em>. Intinya, Freud menjelaskan bahwa kekuatan alam bawah sadar adalah kekuatan dasyat yang tak terlihat, tapi bisa dikenali lewat meditasi, analisis mimpi, bahkan keceplosan (atau disebut juga sebagai <em>Freudian Slip</em>). Tuan Jung membagi alam bawah sadar menjadi dua: alam bawah sadar <em>personal </em>dan <em>collective</em>. Yang disebut sebagai alam bawah sadar <em>personal </em>adalah gudang tempat sesuatu yang pernah dilakukan secara sadar, kini terlupakan atau ditekan, yang kemudian &#8220;mengganggu&#8221; manusia dalam kehidupannya sehari-hari.</p>
<p>Contohnya, jika seseorang pernah ditipu oleh lelaki tinggi besar, maka ketika dia melihat lelaki tinggi besar, keringatnya tiba-tiba menetes dan seluruh tubuhnya bersiap kabur. Ini semua dikendalikan oleh alam bawah sadar yang melakukan semua itu agar peristiwa traumatis di masa lalu takkan terulang lagi.</p>
<p>Dalam suatu obrolan dengan seorang psikolog, aku mendengar cerita tentang hal-hal sepele yang dilakukan alam bawah sadar tapi &#8220;&#8221;mengganggu&#8221; hidup manusia. Misalnya, mengapa seseorang tidak sanggup menabung, sementara orang lain sanggup menabung? Orang kaya atau sukses &#8211; kata Bill Gates &#8211; bukan kemampuannya mendapatkan uang, tapi juga kemampuan hebatnya menahan uang dengan baik. Berapa banyak dari kita yang hidup dengan boros? Seberapa pun uang masuk, tapi tetap saja uang keluar sehingga meninggalkan angka nol di rekening bank? Kata psikolog itu, kemungkinan besar karena arus alam bawah sadar manusia telah terprogram untuk percaya bahwa menjadi kaya adalah suatu kejahatan, atau menjadi kaya adalah suatu kesewenang-wenangan. Nasihat baik yang terkadang salah kaprah dari sisi yang berbeda: mendeskripsikan diri sebagai wong cilik adalah tindakan yang baik dan luhur.</p>
<p>Benarkah? Coba lihat sinetron yang bertubi-tubi mengangkat harkat orang miskin sebagai orang yang paling benar dan paling suci sementara orang kaya sebagai orang yang licik dan jahat. Coba lihat bagaimana orangtua melarang anak-anak menyentuh uang karena uang adalah sesuatu hal yang kotor. Kalau pun habis menyentuh uang, tangan harus dicuci sebersih-bersihnya. Coba lihat bagaimana budaya menabukan untuk membicarakan uang seakan-akan orang yang selalu membicarakan uang adalah orang yang menyombongkan diri dan gila harta. Tidak usah jauh-jauh, lihat saja artikel-artikel SepociKopi yang berbicara tentang uang dan kesejahteraan hidup selalu mampu menohok  pembaca lesbian dan menjadi tersinggung seakan-akan si penulis sedang pamer.</p>
<p>Inilah bagaimana arus bawah sadar manusia mengendalikan kesadaran sehingga terlihat jelas, mereka yang tak sanggup berbicara tentang uang adalah mereka yang tidak memiliki kesejahteraan dalam bidang finansial. Si psikolog itu menekankan pentingnya melakukan program ulang alam bawah sadar sehingga hal-hal buruk yang disimpan di alam bawah sadar bisa diubah menjadi muatan positif yang berpengaruh pada kesadaran diri.</p>
<p>Aku langsung teringat dengan keadaan lesbian. Di tengah-tengah tekanan dari lingkungan yang mengatakan bahwa menjadi lesbian adalah sikon yang menjijikan dan tak terhormat, maka lesbian pun memprogram alam bawah sadarnya untuk menjadi benci terhadap diri sendiri. Di tengah-tengah <em>bullying </em>masyarakat, semua hal-hal negatif ini tersimpan di arus bawah sadar dan kemudian menjadi endapan mengerikan bagi konsep harga diri dan rasa percaya diri lesbian. Tidak heran, banyak lesbian yang mau bunuh diri dan bersikap destruktif (baik dalam urusan perilaku maupun cinta. Misalnya, rela diduakan, dan menderita habis-habisan karenanya). Itu semua terjadi karena jauh di dalam jiwanya, lesbian merasa muak dengan dirinya dan menganggap penderitaan/kesedihan/galau/sakit hati adalah hal &#8220;wajib&#8221; dan &#8220;pantas&#8221; mereka dapatkan.</p>
<p>Karena itu, &#8220;menjadi lesbian&#8221; bukan sekadar jatuh cinta kepada sesama perempuan dan terjebak kasus galau sejagat raya. &#8220;Menjadi lesbian&#8221; adalah perjalanan yang jauh, sunyi, dan menantang, yaitu perjalanan menuju alam bawah sadar. Arus alam bawah sadar tidak bisa dilawan karena arus itu sangat deras. Arus ini lebih kuat daripada arus atas alias arus kesadaran. Lesbian tidak mungkin melawan arus bawah sadar itu. Yang bisa dilakukan adalah membelokkan arus itu menuju tempat lain. Dengan kata yang lebih sederhana: <em>memprogram ulang. </em>Jika dari kecil kita sudah dicekoki gambaran bahwa mencintai sesama jenis adalah buruk dan mengerikan, sekarang saatnya untuk memprogram ulang konsep tersebut.</p>
<p>Maka lesbian wajib memenuhi dirinya dengan informasi berharga dan penting tentang eksistensi diri. Lesbian wajib mencari tahu sejarah dan masa lalunya. Lesbian wajib berpikir secara holistik tentang konsep diri. Lesbian wajib menuliskan seluruh uneg-uneg tentang masa lalu, kehadiran masa sekarang, rencana masa depan, dan cita-citanya. Lesbian wajib mencintai dan dicintai dalam hubungan monogamus yang sehat. Dengan seluruh daya ini, maka lesbian dengan program baru akan dilahirkan. Program mencintai diri di alam bawah sadar akan pelan-pelan terbentuk yang efeknya akan terlihat secara nyata. Jika berhasil mencintai diri dengan bangga dan sepenuh hati, lesbian tidak akan lagi membenci, memandang rendah, dan mengutuki keberadaannya. Jika berhasil mencintai diri dengan percaya diri 100%, maka bersiap-siaplah menghadapi kekuatan dasyat lesbian di masa depan, di tengah masyarakat. <em>Powerful! Scary!</em></p>
<p>Jadi biarlah, biarlah, biarlah, biarlah&#8230; tak ada lagi lesbian yang galau 24/7, bukan saja karena cinta, tapi juga karena eksistensi diri.</p>
<p>@Lakhsmi, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/09/27/mengutuki-lesbian-di-alam-bawah-sadar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>L&#8217;Amour: Fighting for Your Love</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/08/14/lamour-fighting-for-your-love/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/08/14/lamour-fighting-for-your-love/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Aug 2011 09:39:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[L'Amour]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[olahraga]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14273</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Adette Curly
Bagi mereka yang sedang mengenyam jenjang pendidikan, mungkin urusan cinta hanya akan membuat pusing. Misalnya saja ketika menghadapi ujian, bukannya belajar dengan giat, ee&#8230; malah asyik neleponin calon pacar. Keesokan harinya kesulitan menjawab soal-soal ujian dan hasilnya&#8230; nilai ujian jeblok habis. Untuk yang sudah memasuki dunia kerja, urusan cinta juga tak kalah rumitnya. Saat sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan annual meeting, partner protes karena merasa diabaikan. Akibatnya terjadi pertengkaran semalam suntuk hingga keesokan harinya malah duduk terkantuk-kantuk di meeting room lantaran kurang tidur. Sedemikian negatifkah efek cinta itu?
Eits, jangan salah! ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/08/Fight_by_ChocoHal.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14285" title="Fight_by_ChocoHal" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/08/Fight_by_ChocoHal-224x300.jpg" alt="" width="239" height="321" /></a>Oleh: Adette Curly</p>
<p>Bagi mereka yang sedang mengenyam jenjang pendidikan, mungkin urusan cinta hanya akan membuat pusing. Misalnya saja ketika menghadapi ujian, bukannya belajar dengan giat, ee&#8230; malah asyik neleponin calon pacar. Keesokan harinya kesulitan menjawab soal-soal ujian dan hasilnya&#8230; nilai ujian jeblok habis. Untuk yang sudah memasuki dunia kerja, urusan cinta juga tak kalah rumitnya. Saat sedang sibuk-sibuknya mempersiapkan <em>annual meeting</em>, partner protes karena merasa diabaikan. Akibatnya terjadi pertengkaran semalam suntuk hingga keesokan harinya malah duduk terkantuk-kantuk di <em>meeting room</em> lantaran kurang tidur. Sedemikian negatifkah efek cinta itu?</p>
<p>Eits, jangan salah! Cinta tak melulu hanya membangkitkan perasaan <em>mellow </em>dan efek negatif, lho. Setidaknya hal inilah yang terjadi ketika saya tengah jatuh cinta terhadap seorang perempuan.</p>
<p>Tahun lalu saya mengenal perempuan ini, seorang andro-butch yang berusia 15 tahun di atas saya. Sebut saja namanya Joan. Saya sangat menyukai sifatnya yang <em>cool</em>, tegas, lugas, jujur, dan berimbang dalam memandang suatu permasalahan. Kebersamaan kami telah menciptakan kesan tersendiri bagi saya. Terus terang, dia adalah perempuan pertama dan satu-satunya yang hingga detik ini berhasil meluluh-lantakkan hati saya.</p>
<p>Layaknya benda seni bernilai tinggi bak lukisan Monalisa yang sangat sulit untuk dimiliki, demikian pula halnya dengan Joan. Dari awal, saya menyadari bahwa saya bukanlah tipe perempuan yang biasa ia taksir. Perempuan femme, blasteran, tinggi, langsing, seksi, dengan rambut panjang terurailah yang selalu berhasil mencuri hatinya. Sedangkan saya hanya bermodalkan hati yang tulus dan tanpa tendensi apa pun saat mendekatinya. Saya hanya ingin mencintainya. Titik. Tidak ada lagi alasan apa pun di balik itu semua.</p>
<p>Kehadiran Joan dalam hidup saya justru banyak membawa dampak positif. Yang paling luar biasa adalah turunnya berat badan dengan jumlah sangat fantastis dalam waktu singkat. Sebelum mengenalnya, level percaya diri saya urusan bentuk tubuh hampir mendekati titik terendah. Bertahun-tahun berat badan saya di luar kendali hingga jauh melebihi angka berat badan normal yang seharusnya. Tidak ada pakaian yang menurut saya pantas untuk dikenakan. Setiap berganti tahun saya juga harus berganti ukuran celana seiring dengan bertambahnya timbunan lemak di dalam tubuh. Saya merasa tersiksa dengan kondisi tersebut, tapi bukannya tergerak untuk memulai pola hidup yang lebih sehat, sebaliknya rasa malas semakin merajalela.</p>
<p>Hingga pada suatu hari, tanpa tedeng aling-aling Joan berkata kepada saya di ujung sambungan telepon, &#8220;Aku kemarin lihat ada perempuan gemuk sekali. Kasihan deh, melihatnya. Kakinya pasti nggak akan kuat menopang badan sebegitu beratnya untuk jangka waktu lama. Kamu jangan gemuk-gemuk, deh. Kasihan jantung dan lututmu. Olahraga, gih! Ayo, aku temani lari.&#8221;</p>
<p>Saya yang masih terbengong-bengong mendengar ajakannya hanya bisa bertanya, &#8220;Sekarang?&#8221; Yang seketika langsung dijawabnya, &#8220;Ya iya, sekarang. Mau kapan lagi? Lari di rumah juga bisa, yang penting berkeringat. Aku juga lari, deh. Ayo, cepetan!&#8221; ujarnya melecut semangatku.</p>
<p>Hari berganti hari hingga malam berulang menjemput pagi. Saya bagaikan salah satu peserta acara <em>reality show</em> &#8220;<em>The Biggest Loser</em>&#8220;. Nyaris setiap pagi dan sore hari Joan menelepon saya dan bertanya, &#8220;Sudah lari berapa menit?&#8221; Secara bertahap ia menambahkan jadwal berlari saya dari hitungan waktu sepuluh menit ke 20 menit hingga mencapai 30 menit dalam satu sesi. Bagi mereka yang berbadan lebih ramping, pastilah hal ini tidak akan memberatkan. Beda halnya dengan saya. Sukar untuk berlari dengan berat tubuh yang berlebihan. Jantung berdetak kencang. Keringat membanjiri seluruh tubuh. Lemasnya bukan main. Terang saja, karena menurut sebuah studi, berlari 30 menit dapat terbakar 450 kkal, sedangkan stok karbohidrat saya kurang dapat menunjangnya. Karena untuk mempercepat penurunan berat badan saya melakukan diet karbo, menghindari segala bentuk karbohidrat serta menggantinya dengan asupan sayur dan buah serta dua liter air mineral per harinya.</p>
<p>Pada awal proses, di tengah kesibukannya yang sangat padat, Joan meluangkan waktunya untuk menemani saya berlari. Saat ia merasa saya telah memiliki pola olahraga yang teratur, Joan cukup mengingatkan saja. Terkadang ia menelepon ketika saya sedang berolahraga dan menghitung menit demi menitnya sembari tetap menyuntikkan semangat. Yang lebih menyenangkan lagi, terkadang ia menghadiahi saya kecupan di pipi ketika nafas saya masih terdengar terengah-engah setelah berlari beberapa menit. &#8220;Hadiah karena hari ini kamu mau berolahraga,&#8221; begitu ucapnya. Saya menikmati setiap tahap dari proses ini sembari mencanangkan target pribadi, bahwa di pertemuan kami yang kesekian, saya akan mempersembahkan hasil yang terbaik untuknya.</p>
<p>Tak terasa 215 hari telah berlalu terhitung sejak hari dimana Joan mengajak saya berolahraga. Kini saya telah berhasil membuang hampir 20 kg lemak yang pernah menempel dengan setianya di tubuh saya. Belum sepenuhnya mencapai target sih, tapi sungguh menyenangkan ketika mendengar pujian sepenuh hatinya ketika minggu lalu saya mengiriminya sebuah foto terbaru. &#8220;Wowwwww&#8230; Cantikkk! <em>Looks younger</em>!&#8221; serunya tak henti-henti.</p>
<p>Sambil tersenyum saya bergumam, &#8220;Hasil jerih payahku ini, kupersembahkan semata-mata untukmu&#8230;&#8221;</p>
<p>@Adette Curly, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/08/14/lamour-fighting-for-your-love/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeweran Tuhan Buat Si Andro Bandel</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/08/13/jeweran-tuhan-buat-si-andro-bandel/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/08/13/jeweran-tuhan-buat-si-andro-bandel/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 15:32:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualisme]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14275</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Deni Melisa
Ada satu hal yang masih menjadi misteri hingga saat ini. AADM, Ada-Apa-Dengan-Mel? Aku merasa bahwa Tuhan sangat menyayanginya, Tuhan tidak pernah membiarkannya disakiti sedikit pun dan selalu membela Mel kapan pun ia membutuhkan pembelaan. Simaklah beberapa kisah nyata dalam kehidupan kami.
Kisah pertama…
Suatu pagi saat mengantarkan Mel ke kantornya, aku dan Mel sarapan di sebuah kedai seafood di dekat kantornya. Saat memilih tempat duduk, sebenarnya aku sudah menyadari bahwa ada salah satu bagian kursi yang patah, tapi aku tetap menduduki kursi itu karena logikaku berkata bahwa kursi tersebut masih ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/08/Adentist2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14280" title="Adentist" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/08/Adentist2-300x253.jpg" alt="" width="328" height="277" /></a>Oleh: Deni Melisa</p>
<p>Ada satu hal yang masih menjadi misteri hingga saat ini. AADM, Ada-Apa-Dengan-Mel? Aku merasa bahwa Tuhan sangat menyayanginya, Tuhan tidak pernah membiarkannya disakiti sedikit pun dan selalu membela Mel kapan pun ia membutuhkan pembelaan. Simaklah beberapa kisah nyata dalam kehidupan kami.</p>
<p>Kisah pertama…</p>
<p>Suatu pagi saat mengantarkan Mel ke kantornya, aku dan Mel sarapan di sebuah kedai <em>seafood</em> di dekat kantornya. Saat memilih tempat duduk, sebenarnya aku sudah menyadari bahwa ada salah satu bagian kursi yang patah, tapi aku tetap menduduki kursi itu karena logikaku berkata bahwa kursi tersebut masih cukup kuat untuk menyangga bobot tubuhku yang tidak terlalu besar.</p>
<p>Setelah beberapa menit menikmati sarapan, tibalah aku dan Mel pada perdebatan yang membuatnya merasa kesal dengan sikap dan cara pandangku. Keras kepalaku membuat Mel jengah dan akhirnya memutuskan untuk meninggalkanku dan berjalan menuju ke kantornya. Namun baru beberapa langkah Mel meninggalkanku, kekesalannya seperti menjadi kutukan, tiba-tiba bangku yang kududuki terbelah menjadi dua! Sialnya, saat aku jatuh bangku itu malah terbelah lagi menjadi empat bagian. Spontan kejadian ini mengundang gelak tawa orang-orang di kedai. Aku buru-buru bangkit dan berjalan cepat keluar kedai. Bukan hanya karena malu pada pengunjung yang lain, tapi juga karena takut disuruh mengganti bangku yang patah. Mel yang melihat kejadian itu cekikikan sendiri memandangiku. Sejak saat itu aku tidak pernah mau kembali ke kedai itu. Tuh kan, Tuhan sayang banget kan sama Mel?</p>
<p>Kisah kedua…</p>
<p>Lain hari, di atas motor aku marah-marah sama Mel gara-gara dia telat membangunkanku, padahal pagi ini aku ada janji bisnis penting dengan seseorang. Masih dengan perasaan marahl, aku menurunkan Mel di seberang kantornya. Di tepi jalan itu Mel mencoba membujuk untuk meluluhkanku, tapi aku sudah kepalang kesal. Jadi aku buru-buru memacu motorku meninggalkan Mel. Tapi, sekali lagi Tuhan menunjukkan pembelaannya pada Mel, baru sepuluh meter saja motorku melaju meninggalkannya, tiba-tiba polisi menghadang motorku. Aku kena tilang karena lupa menyalakan lampu motor.  Dari jauh, kulihat Mel terbahak-bahak menertawakan kejadian ini. Asyyem!!!</p>
<p>Nah, ini kisah ketiga&#8230;</p>
<p>Kisah yang membuatku tersiksa berminggu-minggu, kisah yang berhasil menurunkan bobot tubuhku berkilo-kilo, kisah yang membuat mataku sembab karena menangis bermalam-malam, kisah yang membuatku nyaris gila.</p>
<p>Semua berawal saat aku memulai <em>living together</em> dengan Mel. Latar belakang hidupku yang sembrawut dan tidak teratur membuatku harus beradaptasi gila-gilaan dengan gaya hidup Mel yang tertib, bersih dan teratur. Awal-awal tinggal bersama Mel sering banget mengungkapkan empat kalimat andalan:</p>
<p>1.       &#8220;Kalau kamu nggak mandi, aku nggak mau dicium kamu.&#8221;</p>
<p>2.       &#8220;Kalau tidur tuh pake baju tidur, dong. Kan baju kamu kotor. Kalau nggak pake baju tidur nggak boleh peluk aku, ya.&#8221;</p>
<p>3.       &#8220;Kalau nggak cuci kaki, kamu nggak boleh tidur sama aku, ya.&#8221;</p>
<p>4.      &#8220;Kalau kamu nggak gosok gigi sebelum tidur, besok pagi aku nggak mau bikinin kamu sarapan.&#8221;</p>
<p>Tapi lama kelamaan kalimat-kalimat itu mulai menghilang dari peredaran. Bukan karena aku menurut hingga nggak perlu diingatkan kembali, tapi lantaran Mel sudah bosan menasehati andro kepala batu seperti aku. Pernah saking kesalnya, Mel pernah melontarkan kalimat yang melukai perasaanku yang terdalam, begini kalimatnya: “Kenapa ya, aku baru ketemu andro-andro keren setelah aku jadian sama kamu? Aku sudah kepalang tanggung sekarang. Khilaf aku jadian sama kamu. Mau di-retur, aku juga bingung mau retur kamu kemana? Hikh!”</p>
<p>Coba bayangkan teman-teman seantero SepociKopi! Bagaimana perasaan kalian kalau pacar yang kalian cintai mengungkapkan kalimat yang menyakitkan itu? Hikh! Pasti kalian akan merasakan duka nestapa yang teramat sangat. Iya, kan? Iya, dong?</p>
<p>Tapi, sebenarnya inti kisah ketiga bukan itu.</p>
<p>Begini&#8230;, lantaran aku nggak <em>nurut </em>sama nasehat Mel supaya hidup bersih dan selalu sikat gigi sebelum tidur, beberapa minggu lalu gigi  gerahamku yang memang sudah bolong, mendadak kumat lantaran aku gemes mengigit tulang ayam yang jelas-jelas keras. Setelah sakitnya reda karena nekat meminum <em>painkiller </em>dosis tinggi ( aku benar-benar nggak tahan sakitnya), beberapa hari kemudian aku datang ke dokter gigi.</p>
<p>Melihat kondisi gigiku, dokter menyarankanku untuk menambal gigi tersebut yang langsung aku setujui. Dokter mengetuk dan menusuk sana sini untuk memastikan bahwa tidak ada rasa sakit dan bisa dilakukan penambalan. Rupanya pengaruh <em>painkiller </em>yang barusan kuminum membuatku tidak bisa merasakan sakit. Jadi setelah tanya ini itu, dan kuawab asal-asalan yang penting segera selesai, akhirnya dokter memutuskan melakukan penambalan gigi segera. Tapi, tanpa kuduga ternyata tambalan dalam kondisi gigi yang sakit membuat gigiku infeksi. Pipiku membengkak dan menimbulkan rasa sakit yang gila-gilaan. Aku memutuskan untuk kembali ke dokter beberapa hari kemudian.</p>
<p>Melihat kondisiku yang memilukan, dokter memutuskan untuk melakukan perawatan akar gigi. Tapi sumpah demi apa pun! prosesnya menyiksaku habis-habisan. Sakitnya bukan hanya di gigi, gusi dan ke kepala, tapi juga merambat ke dompet. Sepulang dari dokter gigi, aku mengalami sakit hati melihat tagihannya!</p>
<p>Berminggu-minggu hidupku bergantung pada <em>painkiller</em> yang membuat otakku jadi makin bego. Hampir tiap tengah malam aku terbangun dan mengerang kesakitan saat<em> painkiller</em> andalanku sudah habis khasiatnya. Aku jadi mudah kesal, marah dan emosi. Pernah suatu hari saat sakitnya mencapai puncak dan beberapa <em>painkiller </em>yang kuminum  tidak mampu lagi meredakan rasa sakit, aku berubah menjadi seperti monster, seperti orang yang kesetanan. Sakit gigi  yang sudah menjalar ke telinga dan sendi-sendi tulangku, nyaris mencuri semua kesadaranku. Aku memukul semua barang-barang yang bisa kujangkau, bahkan aku nekat mengkarate motorku sendiri yang imbasnya sukses membuat tanganku bengkak. Sungguh tindakan konyol itu aku lakukan di luar kesadaranku. Dan hal yang paling memalukan adalah saat aku menangis meraung-raung selama perjalanan menuju rumah sakit seperti orang gila. Padahal selama ini, aku termasuk perempuan yang kuat menahan sakit. Bayangkan, saat tulang kakiku patah, pergelangan kakiku robek dan harus dijahit lima belas jahitan tanpa bius, aku sama sekali tidak menangis. Tapi untuk urusan sakit gigi kali ini, aku menyerah! Ini adalah sakit gigi yang paling mengerikan yang pernah aku alami.</p>
<p>Imbasnya, orang yang paling menderita adalah Mel. Bermalam-malam dia tak bisa tidur, berusaha memeluk dan menenangkanku yang mengerang kesakitan. Berkali-kali dia menjadi sasaran amarahku karena menahan sakit. Berkali-kali dia ikut menangis karena tak tega melihat kesakitanku. Bahkan saat sakit mencapai puncaknya, aku sama sekali tak mau disentuh oleh siapa pun, termasul Mel. Aku tahu selama aku sakit , Mel sangat tersiksa secara fisik maupun psikis. Aku tahu, selama sakit aku banyak berbuat dosa padanya. Bukan saja dosa karena tidak mendengar nasehatnya, tapi juga dosa karena membuatnya tersiksa.</p>
<p>Saat itu aku sadar, Tuhan sangat sayang sama Mel. DIA sedang membela Mel atas kelakukanku yang tak mau menuruti nasehat baik Mel. Dan, saat aku meminta maaf pada Mel, hal yang paling menyentuh perasaanku adalah saat dia bilang, “Tanpa tantangan, kesetiaan dan cinta kita nggak akan teruji, kan? Cuma pesanku lain kali kalau marah jangan karate motor dong. Dodol banget sih. Kayak jagoan aja. Hahaha.”</p>
<p>Aku tidak tahu harus memberi pesan moral apa pada tulisan ini. Sebab jujur saja, sampai detik ini aku masih ngerasa bego akibat kebanyakan menenggak<em> painkiller. </em> Tapi yang jelas kejadian ini menyadarkanku untuk selalu menghargai Mel sebagai partner yang dianugerahkan Tuhan untukku. Karena  Tuhan tidak suka pada orang yang menyakiti hati partnernya. Betul nggak, ya? Hahahaha…</p>
<p>@Deni Melisa, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/08/13/jeweran-tuhan-buat-si-andro-bandel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesehatan dan Seksualitas: Mirror, Mirror on the Wall</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/07/01/kesehatan-dan-seksualitas-mirror-mirror-on-the-wall/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/07/01/kesehatan-dan-seksualitas-mirror-mirror-on-the-wall/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jul 2011 09:19:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan dan Seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=13194</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Juno Bis
Mirror, mirror on the wall, who is the sexiest girl of all?
Teman-teman di jagad SepociKopi ini tentu mahfum bahwa sebingkai cermin memiliki banyak sekali fungsi. Cermin besar yang ditempatkan di salah satu dinding ruang tamu bisa memberikan kesan luas. Ada juga cermin ukuran sedang yang digunakan sebagai aksen di dekat meja makan. Di kamar mandi cermin yang biasanya kita gantung di atas wastafel bisa menjadi ‘kawan’ yang pertama kali menyapa kita setelah bangun tidur.
Di meja kantor seorang kolega, cermin kecil yang ditempatkan persis di samping komputernya berperan sebagai ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/07/Mirror.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-13196" title="Mirror" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/07/Mirror-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Oleh: Juno Bis</p>
<p><em>Mirror, mirror on the wall, who is the sexiest girl of all?</em></p>
<p>Teman-teman di jagad SepociKopi ini tentu mahfum bahwa sebingkai cermin memiliki banyak sekali fungsi. Cermin besar yang ditempatkan di salah satu dinding ruang tamu bisa memberikan kesan luas. Ada juga cermin ukuran sedang yang digunakan sebagai aksen di dekat meja makan. Di kamar mandi cermin yang biasanya kita gantung di atas wastafel bisa menjadi ‘kawan’ yang pertama kali menyapa kita setelah bangun tidur.</p>
<p><span id="more-13194"></span>Di meja kantor seorang kolega, cermin kecil yang ditempatkan persis di samping komputernya berperan sebagai kaca spion untuk melihat kalau-kalau bosnya datang dari belakang. Tetapi, pernahkah kita menyadari bahwa sebenarnya cermin punya fungsi yang teramat canggih: menambah gairah bercinta!  Nggak percaya? Dengar kisah ini langsung dari si pengguna cermin seksi ini.</p>
<p><strong>Skenario awal: </strong>Mari kita longok sebentar kamar tidurmu. Di mana letak tempat tidurmu? Agak jauh dari dinding?  Kalau begitu, geser sedikit supaya dekat ke dinding.  Setelah itu, cari sepotong cermin, ukuran agak besarlah, kira-kira 40cm x 80cm, di toko bahan bangunan. Ya, iyalah, masak mau cari cermin di toko CD?  Kalau mau lebih rapi, cermin itu bisa kamu bingkai dulu di toko pembingkai lukisan. Kalau mau yang praktis, beli beberapa pengait atau klip untuk cermin.</p>
<p>Mau diapakan cermin itu?  Untuk digantung di dinding dekat tempat tidur dan tingginya kira-kira sejajar dengan kasur atau matras.  Posisi cermin horisontal alias memanjang ke samping.</p>
<p>Kalau kamu biasa bergaul dengan palu, obeng, tang dan paku, cobalah gantungkan cermin ini. Ini sudah sering saya buktikan. Ooops, buka rahasia! Tapi kalau kamu malas, minta tolong <em>handyman </em>alias tukang yang sering bikin betul kamar kos, atau tukang kebun yang datang sebulan sekali ke rumahmu untuk potong rumput. Kalau mereka tanya  &#8220;Non, untuk apa pasang cermin di dekat tempat tidur?&#8221; Bilang saja &#8220;Saya sering mimpi dandan, Mang. Jadi supaya muka nggak belepotan bedak sama lipstik, saya mesti tidur dekat cermin.&#8221; Beres kan?!</p>
<p><strong>Skenario berikutnya:</strong> Kekasih hatimu pasti bertanya-tanya kenapa tempat tidur berpindah lokasi dan ada cermin di dekat tempat tidur. Nah, di sinilah dituntut kepiawaianmu dalam membujuk sang belahan jiwa untuk bereksperimen. Bercinta di dekat cermin!</p>
<p><strong>Skenario penutup:</strong> Nikmati pantulan anatomi tubuh di cermin. Coba bayangkan, betapa indahnya gerakan sepasang kekasih yang saling mencintai terpantul di cermin. Lekukan tubuh yang biasanya luput dari mata terlihat seperti siluet cantik goresan sang pelukis maestro. Sensasi pemandangan ini bagai rayuan genit sang kekasih sewaktu hati terpanah Dewa Cupido. Oh, iya, sebelum beranjak ke peraduan, jangan lupa redupkan lampu kamar tidurmu.</p>
<p><strong>Skenario tambahan:</strong> Untuk teman-teman yang berani mengambil risiko, cermin seksi ini bisa diletakkan di atas plafon. Tapi, pastikan ada paku atau penjepit cukup kokoh menahan beban cermin, apalagi jika terjadi gempa bumi. Keselamatan harus menjadi nomor satu ya. Selamat mencoba! Salam dari Juno si pengguna cermin seksi.</p>
<p>@Juno Bis, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/07/01/kesehatan-dan-seksualitas-mirror-mirror-on-the-wall/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuci Mata: Forever Young</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/06/29/cuci-mata-forever-young/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/06/29/cuci-mata-forever-young/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jun 2011 14:59:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cuci Mata]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=13142</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sidney
“Selamat sore, Bu, memperkenalkan produk krim anti wrinkles-nya.”
Aku nyaris menumpahkan cangkir kopi Starbuck&#8217;s yang kutenteng di tanganku&#8230; ke wajah mbak SPG. “Maksud lo? Maksooood loooo gue keripuuuuuuttttt???” jeritku dalam hati.
Partner yang menemaniku jalan di mal hari itu sudah merasakan embusan napas nagaku yang akan menyembur ke si mbak SPG yang tak bersalah. Apalagi si mbak masih menambahkan dengan kalimat, “Krim ini bagus juga untuk menghilangkan kantong mata&#8230;”
Aku diseret menjauh oleh partner agar bau nagaku eh semburan api kobaran kemarahanku tidak keburu meledak. Inilah enaknya menjadi lesbian. Bawa pasangan cewek ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/06/IMGf5c79b3c936513c29271ab6e8082ad0a.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-13150" title="IMGf5c79b3c936513c29271ab6e8082ad0a" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/06/IMGf5c79b3c936513c29271ab6e8082ad0a-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a>Oleh: Sidney</p>
<p>“Selamat sore, Bu, memperkenalkan produk krim<em> anti wrinkles</em>-nya.”</p>
<p>Aku nyaris menumpahkan cangkir kopi Starbuck&#8217;s yang kutenteng di tanganku&#8230; ke wajah mbak SPG. “Maksud lo? Maksooood loooo gue keripuuuuuuttttt???” jeritku dalam hati.</p>
<p>Partner yang menemaniku jalan di mal hari itu sudah merasakan embusan napas nagaku yang akan menyembur ke si mbak SPG yang tak bersalah. Apalagi si mbak masih menambahkan dengan kalimat, “Krim ini bagus juga untuk menghilangkan kantong mata&#8230;”</p>
<p><span id="more-13142"></span>Aku diseret menjauh oleh partner agar bau nagaku eh semburan api kobaran kemarahanku tidak keburu meledak. Inilah enaknya menjadi lesbian. Bawa pasangan cewek yang bisa mengerti perasaan hati kekasihnya sampai ke akar-akarnya. Ditolongi bak Superman menyelamatkan kekasihnya.</p>
<p>“Hon, itu maksudnya apa ya si mbak bilang gitu ke aku? Maksudnya aku udah keriput? Udah tua?” tanyaku sambil mendelik.</p>
<p>Dia buru-buru menjawab dengan piawai, “Ya nggaklah, hon. Wajahmu itu mulus seperti pantat bayi.”</p>
<p>Aku jadi melotot padanya. “Maksudnya pantat bayi?”</p>
<p>Dan dia langsung gelagapan menyatakan betapa aku masih terlihat cantik di usiaku yang tahun ini akhirnya menyentuh kepala 3 (dan belum menikah). Blablabla&#8230; Tanpa sempat aku jawab ketika kebetulan aku melewati cermin besar dan langsung mengerem berhenti di depannya untuk berkaca. “Kantong mataku kelihatan jelas ya, hon?”</p>
<p>Terlihat partner yang nyengir lalu mengulang jawaban yang menyatakan (lagi) betapa cantiknya aku&#8230; dst, dll. Ah, dia memang partner paling mengerti perasaanku. Kebayang dong kalau punya pasangan cowok yang tidak mengerti urusan cewek. Teman-teman <em>straight</em>-ku sering curhat tentang suami dan pacar cowoknya. Betapa tidak sensitifnya mereka dengan perasaan cewek.</p>
<p>Bicara soal penuaan, jelas kita memang tidak bisa menghindari proses itu. Lihat bagaimana aku ditawari segala produk <em>anti-wrinkles, anti-premature aging</em>, dan produk-produk lain yang intinya memperlambat proses gravitas bumi yang menarik kulit kita ke bawah. Eh, produk penuaan bukan cuma untuk perempuan kepala 3 ke atas lho, sekarang ada lagi produk yang melambatkan penuaan di usia kepala 2!  Geleng-geleng kepala deh.</p>
<p>Wajar dong kalau lesbian juga ikut-ikutan berusaha mencegah atau tepatnya memperlambat proses tersebut. Gimana nggak sadar, iklan tentang<em> anti-aging</em> bertebaran di mana-mana. Yang tidak wajar adalah mengingkari kenyataan tersebut.</p>
<p>Sejauh ini aku belum tertarik melakukan segala proses perlambatan penuaan itu dengan cara radikal semacam bedah plastik atau suntik botox. Selain tidak suka dengan jarum suntik dan operasi, aku agak ngeri melihat hasilnya. Bukan apa-apa ya, tapi teman-temanku yang melakukan botox jadi seperti “nyandu” untuk nyuntik terus agar lebih pede.</p>
<p>Nggak tahu terbukti kebenarannya atau tidak, aku masih percaya sama produk-produk lokal untuk urusan ini, semacam jamu, misalnya. Duh, pernah waktu menginap di hotel di Jawa, di depan klien bule aku memesan jamu beras kencur dan kunyit asam saat<em> breakfast meeting</em>. Alhasil, mbak dan mas bule itu yang walaupun awalnya meringis heran, jadi ikutan memesan ramuan tradisional tersebut.</p>
<p>Buatku ramuan tradisional<em> is still the best</em>. Aku meminumnya secara rutin, nyaris setiap hari sejak masih usia belasan. Kalau berada di negara-negara barat, jamu-jamu inilah yang kurindukan untuk menemaniku sarapan. Aduh, ketauan deh di balik sosok Sidney yang <em>mallholic</em> ada sosok mbok jamu nan singset. Hihihi&#8230; Jamu menurutku menyehatkan, ayo pembaca SepociKopi mana lagi yang juga penyuka jamu?</p>
<p>Lesbian memang nggak bisa menghindari proses penuaan dan nggak usah mengingkarinya, tapi tolong dong mbak SPG yang cantik dan seksi, jangan tawari kami krim itu. Lebih suka kan kalau wajah kita dipijat-pijat lembut sama kekasih cewek yang tangannya paling lentik sedunia? Pencet titik-titik sensitif di muka; yaitu di dahi, tulang pipi, deket telinga, dan dagu. Menurut pakar kecantikan lesbian a.k.a Sidney, itu adalah resep rahasia <em>anti-aging </em>yang paling siiiip! Yuuuk Jeng, dicoba malam ini!</p>
<p>@Sidney, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/06/29/cuci-mata-forever-young/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>te.Lez.kop: Masalah Harian</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/04/07/te-lez-kop-masalah-harian/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/04/07/te-lez-kop-masalah-harian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Apr 2011 10:51:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Telezkop]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=11474</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Shinigami
Pernah dengar tidak tentang prinsip menyelesaikan masalah yang terjadi hari itu juga? Tepatnya seperti ini nih, ada prinsip bahwa pasangan kekasih yang bertengkar haruslah menyelesaikan permasalahan mereka hari itu juga sebelum tidur. Jangan tidur dengan hati marah/susah/gundah/apa pun lah selama definisi kata itu tidak bagus. Terdengar bagus ya?
Memang prinsip itu terdengar bagus dan bahkan bijak. Intinya adalah menyelesaikan masalah secepat mungkin dan tidak membiarkannya berlarut-larut. Sering kan ada masalah yang menumpuk, dibiarkan, terpendam, lalu suatu saat meledak begitu saja dan menghantam segala sesuatunya. Nah, dengan bayangan kengerian macam itu, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/04/horse.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-11475" title="horse" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/04/horse-300x185.jpg" alt="" width="300" height="185" /></a>Oleh: Shinigami</p>
<p>Pernah dengar tidak tentang prinsip menyelesaikan masalah yang terjadi hari itu juga? Tepatnya seperti ini nih, ada prinsip bahwa pasangan kekasih yang bertengkar haruslah menyelesaikan permasalahan mereka hari itu juga sebelum tidur. Jangan tidur dengan hati marah/susah/gundah/apa pun lah selama definisi kata itu tidak bagus. Terdengar bagus ya?</p>
<p><span id="more-11474"></span>Memang prinsip itu terdengar bagus dan bahkan bijak. Intinya adalah menyelesaikan masalah secepat mungkin dan tidak membiarkannya berlarut-larut. Sering kan ada masalah yang menumpuk, dibiarkan, terpendam, lalu suatu saat meledak begitu saja dan menghantam segala sesuatunya. Nah, dengan bayangan kengerian macam itu, bagus bukan bila ada yang berprinsip masalah harus diselesaikan hari itu juga, sebelum berangkat tidur?</p>
<p>Selain itu, karena terkait dengan hubungan kita dengan kekasih, prinsip itu juga berpotensi terdengar romantis di telinga kita. Seperti suatu pedoman mulia bahwa kita akan menyelesaikan masalah itu bersama dan tak membawanya hingga keesokan hari. Bertengkar atau marahan harus selesai hari ini, dan besok pagi bisa langsung mesra lagi, sayang-sayangan lagi. Aww&#8230; manis kan?</p>
<p>Ya, ya, manis sih manis, tapi itu tadi cuma satu sisi tanggapan atas prinsip ini. Sisi satu lagi tentu saja tak memuat hal-hal sepaham. Dilihat dari sisi lain, prinsip di atas itu tidak efektif dan malah berpotensi jadi konyol.</p>
<p>Mari bayangkan situasi yang timbul dari bertengkar seharian. Bahkan tidak perlu seharian, bertengkar beberapa jam bisa sangat melelahkan dan menguras emosi. Dalam keadaan capek seperti itu, kalau memakai prinsip yang dibahas ini, kita tetap harus menyelesaikannya saat itu juga. Kebayang tidak kemungkinan yang ada?</p>
<p>Pertama, bakal tidak tidur deh. Ketika masih emosi, orang sering tidak bisa dipaksa untuk membuat atau menerima suatu penyelesaian. Jadi kalau prinsipnya masalah harus diselesaikan sebelum tidur, sedangkan penyelesaian tak kunjung ada karena emosi, ya gimana lagi selain tidak tidur (di jam seperti biasa)?</p>
<p>Kedua, kalau akhirnya muncul juga penyelesaian, mungkin itu bukan penyelesaian yang terbaik. Orang lebih bisa berpikir dengan baik ketika ia tidak dikuasai emosi. Dengan kata lain, keputusan yang dibuat ketika emosi, besar kemungkinan datang dari pemikiran yang tak terlalu jernih pertimbangannya. Jangan-jangan penyelesaian ini malah bikin masalah baru besoknya.</p>
<p>Ketiga, penyelesaian itu tidak sungguh-sungguh disetujui kedua pihak. Yang benar saja, kalau saya dilarang tidur oleh pacar karena masih belum sepakat tentang penyelesaian atas masalah yang kami miliki sedangkan saya sudah capek setengah mati, saya akan memilih mengiyakan saja semua yang dia katakan, semua pilihan yang dia berikan. Bodo amat lah, yang penting cepat selesai. Ngantuk nih!</p>
<p>Satu lagi, tidur tuh sering jadi obat mujarab lho. Karena, bila ibarat komputer, tidur itu reboot. Ketika bangun dari tidur, perasaan dan pikiran kita jadi lebih ringan dan jernih. Rasa marah, sebal, dll yang kemarin seakan sudah terbawa menguap bersama mimpi. Nahhhh&#8230; dalam keadaan segar inilah saya kira pertengkaran/permasalahan bisa diselesaikan dengan lebih memuaskan. Masalah itu ya masalah, bukan buruh atau pegawai. Masa disuruh harian?</p>
<p>@Shinigami, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/04/07/te-lez-kop-masalah-harian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tajuk: Seksualitas Remaja dan Kita</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/04/05/tajuk-seksual-remaja-dan-kita/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/04/05/tajuk-seksual-remaja-dan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Apr 2011 12:29:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Tajuk]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Coming Out]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=11425</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nuha Guwa
Sebulan yang lalu, Adel seorang keponakan perempuan saya berusia lima belas tahun tiba-tiba dengan malu-malu bertanya kepada saya bagaimana sebenarnya bentuk “kondom” yang sering diiklankan di telivisi dan papan-papan reklame program Keluarga Berencana.. Sontak saya tertawa. Saya jawab mengapa tidak beli saja di swalayan, bukankah di sana dijual beragam macam kondom? Ia mengaku malu untuk membeli,  karena wajahnya yang imut itu bakal mengundang syak wasangka juru kasir. Walah! Saya dan dia pun akhirnya sengaja pergi ke apotek terdekat dan membeli beberapa jenis kondom. Terjadilah kuliah seksualitas singkat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/04/sitting.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-11426" title="sitting" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/04/sitting-300x202.jpg" alt="" width="300" height="202" /></a>Oleh: Nuha Guwa</p>
<p>Sebulan yang lalu, Adel seorang keponakan perempuan saya berusia lima belas tahun tiba-tiba dengan malu-malu bertanya kepada saya bagaimana sebenarnya bentuk “kondom” yang sering diiklankan di telivisi dan papan-papan reklame program Keluarga Berencana.. Sontak saya tertawa. Saya jawab mengapa tidak beli saja di swalayan, bukankah di sana dijual beragam macam kondom? Ia mengaku malu untuk membeli,  karena wajahnya yang imut itu bakal mengundang syak wasangka juru kasir. Walah! Saya dan dia pun akhirnya sengaja pergi ke apotek terdekat dan membeli beberapa jenis kondom. Terjadilah kuliah seksualitas singkat tersebut, yang tentu saja akan panjang jika saya ceritakan di sini.</p>
<p><span id="more-11425"></span>Saya pikir tidak hanya Adel,  remaja seringkali merasa tidak nyaman atau tabu untuk membicarakan masalah seksualitas dan kesehatan reproduksi. Banyak orangtua juga tidak punya inisiatif untuk mendiskusikan seks, baik itu berupa apa itu orientasi seksual, atau reproduksi yang notabene berkaitan dengan pendidikan seks. Banyak orang tua memang tidak termotivasi untuk memberikan informasi mengenai seks dan kesehatan reproduksi kepada remaja sebab mereka takut hal itu justru akan meningkatkan terjadinya hubungan seks pra-nikah, aduh!</p>
<p>Menurut Siti Rokhmawati Darwisyah, seorang peneliti seksualitas remaja yang mengutip penelitian Iskandar, 1977 dalam penelitiannya menemukan bukti bahwa keengganan para orang tua untuk memberikan informasi kesehatan reproduksi dan seksualitas disebabkan oleh rendahnya pengetahuan mereka. Hasil pre-test materi dasar Reproduksi Sehat Anak dan Remaja (RSAR) di Jakarta Timur (perkotaan) dan Lembang (pedesaan) menunjukkan bahwa apabila orang tua merasa memiliki pengetahuan yang cukup mendalam tentang kesehatan reproduksi, mereka lebih yakin dan tidak merasa canggung untuk membicarakan topik yang berhubungan dengan masalah seks. Hambatan utama adalah justru bagaimana mengatasi pandangan bahwa segala sesuatu yang berbau seks adalah tabu untuk dibicarakan oleh orang yang belum menikah.</p>
<p>Akan tetapi karena faktor keingintahuan yang besar beragam cara dilakukan untuk mendapatkan informasi ini. Karena ketiadaan solusi, biasanya remaja cenderung mencari alternatif sumber informasi lain seperti teman, buku, atau internet. Barangkali Adel cukup beruntung karena saya cukup blak-blakan ketika mendiskusikan semua hal tentang seks padanya, termasuk bagaimana seks sehat untuk homoseksual.</p>
<p>Remaja pada umumnya menghadapi permasalahan yang sama untuk memahami tentang seksualitas, yaitu minimnya pengetahuan terkait kesehatan reproduksi yang disebabkan oleh terbatasnya akses informasi dan advokasi remaja. Barangkali ini patut jadi bahan pemikiran bagi pembuat kebijakaan, bagaimana caranya remaja bisa mendapatkan  akses pelayanan ramah, baik itu kurikulum kesehatan reproduksi serta institusi di pemerintah yang khusus menangani remaja. Kalau memang perlu dibuat undang-undang yang mengakomodir hak-hak remaja untuk mendapatkan informasi ini, mengapa tidak?</p>
<p>Bicara soal peraturan atau undang-undang, sebenarnya cukup menyedihkan, regulasi perundangan dan budaya kita sendiri malah menjadi penyebab utama remaja semakin kesulitan secara terbuka mendapatkan pengetahuan mengenai seksualitas dan reproduksi, apalagi remaja homoseksual yang serta merta sudah pasti terkucilkan. Undang-Undang masih membatasi dan menyebutkan melarang pemberian informasi seksual dan pelayanan bagi orang yang belum menikah. Hal itu juga secara otomatis membatasi ruang pendidikan dan sosial untuk memberikan pengetahuan pada remaja mengenai seksualitas mereka.</p>
<p>Norma-norma dan adat istiadat yang dianut bangsa kita tidak hanya menjadi kendala bagi orangtua tapi juga membuat remaja merasa tabu untuk membicarakan masalah seksualitas dan kesehatan reproduksinya kepada orangtua atau kerabat dekat mereka. Sebenarnya sangat disayangkan, pendampingan semacam ini belum secara maksimal ditemukan di Indonesia. Memang sudah ada beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat yang mulai berkonsentrasikan terkait hal ini, namun jumlahnya bisa dibilang terhitung jari.</p>
<p>Keingintahuan mengenai seksualitas serta dorongan seksual yang secara alamiah muncul telah menyebabkan remaja terpaksa melakukan aktivitas seksual yang akhirnya menimbulkan persoalan. Seperti kasus-kasus kekerasan seksual, kehamilan tidak diinginkan, aborsi, pernikahan usia muda. Nah bagaimana dengan yang homoseksual? Ketidaktahuan seorang remaja lesbian tentang orientasi seksualnya menyebabkan ia menjadi stres dan mengalami tekanan sosial. Wajar saja mengingat homoseksual masih dianggap sebagai penyakit masyarakat, sehingga kecenderungan bunuh diri bagi remaja homoseksual cukup tinggi. Sementara itu ketidaktahuan bagaimana melakukan seks sehat di kalangan lesbian pun menyebabkan mereka rentan terhadap penyakit.</p>
<p>Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Hurlock, 1972 dikutip dari Iskandar, 1997 mengenai kesehatan reproduksi dan pendidikan seks, bahwa anak yang mendapatkan pendidikan seks dari orang tua atau sekolah cenderung berperilaku seks yang lebih baik daripada anak yang mendapatkannya dari orang lain. Dalam sebuah studi lain yang dilakukan sebuah Hatmadji dan Rochani, 1993 di 13 propinsi di Indonesia , menemukan bahwa sebagian besar responden remaja setuju bahwa pengetahuan mengenai kontrasepsi sudah harus dimiliki sebelum menikah.</p>
<p>Kalau sudah demikian, rasanya memang perlu pendidikan seksualitas bagi remaja ini diakomodir. Tentu saja tidak cukup bagi remaja yang heteroseksual, namun juga secara intensif memberi bimbingan bagi remaja homoseksual untuk mendapatkan pengetahuan yang luas terkait orientasi seksual mereka. Setidaknya mereka tidak lagi menutup diri terhadap orientasi seksualnya. Paling tidak mereka bisa berdamai dengan dirinya sendiri dengan dukungan keluarga khususnya orangtua. Bagaimana dengan kita, pembaca SepociKopi yang sudah dewasa? Siapkah kita membantu remaja homoseksual dalam mengeksekusi hak-hak mereka mengenali seksualitas yang pada akhirnya bertujuan untuk berdamai dengan dirinya sendiri?</p>
<p>@Nuha Guwa, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/04/05/tajuk-seksual-remaja-dan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

