Articles tagged with: Keluarga
Have Your Say, Sepocikopiana »
Personal Life, Sepocikopiana »
Oleh: Ade Rain
Jika bisa pergi berdua dengan sulung; berleha-leha, cuci mata sambil naik mobil, atau hanya makan mie instan godok ala kaki lima merupakan rahmat. Baca pelan-pelan “rahmat”. Ini pasti ini bukan Pak Rahmat yang jualan pulsa di seberang sekolahnya. Yang kalau sedang menjemputnya, mendadak jendela mobilku disodori moncong bedil, eh kuitansi berjumlah 100 ribu. Bukan Pak Rahmat ini. Ini betulan rahmat besar karena kesibukan kami berdua yang menggila (kedengaran kayak orang penting, ya?).
Humaniora, Opini »
Oleh: Lo
Alkisah, ada cerita tentang salah satu Wali Songo yang suka membantu rakyat miskin. Namun, bantuan itu berasal dari hasil curian. Dia bertemu dengan seorang kakek bijak yang mengingatkan, bahwa tindakan itu sama saja dengan mencuci dengan air kotor. Tentu saja analogi ini terdengar sangat kejam, karena cara yang dilakukannya sebenarnya tidak sehina dengan mencuri lalu menggunakan hasil curian tersebut untuk keuntungan pribadi. Tapi intinya, seindah apa pun tujuan (ingin membantu rakyat miskin), dia tidak akan bisa mentoleransi cara (mencuri).
Have Your Say, Sepocikopiana »
Lesbian harus berjuang? Tentu saja, perjuangan lesbian tidak mudah. Dari nol harus menjadi sesuatu. Karena jika kita tidak punya apa-apa, apa yang bisa kita lakukan untuk bertahan dan berbahagia? Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, Jho yang berjuang hidup sebagai lesbian.
Karena kekuatan cinta, walau saya lesbian, semuanya bisa berubah seiring jalannya waktu. Dulu keadaan saya amat susah. Bayangkan, untuk menambal ban bocor seharga dua ribu rupiah saja, saya tidak punya uang dan harus meminjam ke teman. Kondisinya, saya tinggal di Jakarta karena memang ingin mengadu nasib.
Humaniora, Opini »
Oleh: Carmen
“Pantas kita bangga menjadi lesbian. Bukan karena kita memilih menjadi lesbian, tapi karena kita memilih menyingsingkan lengan baju untuk bekerja keras.” (Lakhsmi, awal tahun 2012)
Kalau dibaca kutipan teman kita yang baik hati itu, jadi jelas bahwa artikel ini bukan untuk mengajak narsis, tapi untuk mengapresiasi lesbian-lesbian di sekitar kita, dari dulu hingga masa kini. Bukan karena kelesbianannya per se, tapi karena kerja keras dan sifat pantang menyerah yang ditunjukkan — saat ada label lesbian tercetak menjadi bagian dari diri. Aku secara pribadi menolak ajakan agar menjadi lesbian yang “biasa-biasa” …
Humaniora, Keluarga »
Oleh: Bening
“Ini, Ning,” kata tuakim, mengansurkan kemeja batik Pa. “Gulung yang rapi, jangan kena air mata lagi ya.” Aku mengangguk, menahan air mata agar tidak terjatuh lagi, meski tetap merembes di sudut mata. Kemeja Pa yang telah kugulung rapi kuselipkan di pinggir peti, di dekat kakinya, kaki yang sempat kupeluk dan kucium begitu pertama kali tiba di rumah duka saat jasadnya belum dipindahkan ke peti. Aku, sayang Pa…
Usai menata pakaian secukupnya, aku kembali mundur, berdiri agak ke belakang. Hingga lenganku ditarik lagi dan disodorkan sebotol minyak harum. “Sana, tuangkan ke …
Have Your Say, Sepocikopiana »
Kita tidak pernah meminta dilahirkan di dunia oleh Ibu, tapi bukankah akhirnya kita kerasan di bumi ini? Begitulah cinta seorang Ibu sepanjang zaman. Ribut-ribut dengan orangtua gara-gara urusan orientasi seksual selayaknya direnungkan dengan baik-baik sebelum nasi menjadi bubur. Bagaimana kalau penyesalan datang terlambat? Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, Fridya, yang rindu ingin kembali ke masa lalu.
Humaniora, Tajuk »
Oleh: Nuha Guwa
Semalaman saya terduduk memandangi status Facebook beberapa teman lesbian. Setahun lalu betapa indahnya hubungan-hubungan itu. Status-status romantis yang menggetarkan perasaan acap kali menyejukkan hati ketika membacanya. Sesekali muncul rasa cemburu, betapa mesra cinta mereka! Namun kini dinding-dinding romantis tadi sontak bertukar menjadi kebun binatang dengan segala atraksi pribadi, anatomi tubuh yang penuh kegiatan privasi, kotoran segala jenis kotoran mahluk hidup, bergabung dengan makna-makna kata yang jarang dipakai kecuali ketika emosi sedang meledak-ledak.
Have Your Say, Sepocikopiana »
Mencintai seseorang memang indah, sampai pada hari dia bersama orang lain alias menikah. Banyak lesbian yang harus merelakan kekasihnya menikah dengan sebongkah hati yang patah. Bagaimana merekat hati yang rusak itu? Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, Indigo, yang bercerita tentang masa lalunya.
Dia mantan saya. Dan sebentar lagi dia akan menikah.
Opini, Sepocikopiana »
Oleh: Carmen
Selama beberapa bulan aku agak pening karena masuk dan bergaul di salah satu lingkungan fanatik fundamentalis yang menghujat homoseksual secara bebas merdeka. Ceritanya sih aku melakukan itu untuk mengetahui dan berempati pada segala macam orang/kelompok yang tampaknya sangat membenci homoseksual. Aku ingin tahu, apa sih yang membuat dan memotivasi mereka mengeluarkan kalimat yang sangat jahat (misalnya, merasa paling benar, merasa paling tahu pikiran Tuhan; sehingga menekan, mendiskriminasi, dan lain-lain).





