<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; Keluarga</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/tag/keluarga/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 10:52:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Have Your Say: Pasanganku Intraseksual</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/27/have-your-say-pasanganku-intraseksual/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/27/have-your-say-pasanganku-intraseksual/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 03:29:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Have Your Say]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17704</guid>
		<description><![CDATA[Intrakseksual adalah manusia yang memiliki kelamin ganda. Secara fisik, terkadang kelamin ganda itu terlihat, terkadang hanya tampak satu saja. Adakah lesbian yang merasa memiliki kelamin ganda? Dengarkan kisah sahabt lesbian kita, Ardita, yang mengaku memiliki pasangan intraseksual. 
Ini adalah kedua kalinya saya memposting tulisan di SepociKopi. Tapi tulisan saya yang pertama tidak diterbitkan. But it&#8217;s okay, mungkin memang waktu itu tulisan saya belum memenuhi syarat penerbitan. Sekarang saya mencoba menulis lagi di SepociKopi. Saya hanya ingin berbagi pengalaman saya yang cukup unik.
Jadi begini. Sudah tiga tahun ini saya menjadi seorang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/guy-giving-flowers-111208.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17705" title="guy-giving-flowers-111208" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/guy-giving-flowers-111208-300x236.jpg" alt="" width="300" height="236" /></a><em>Intrakseksual adalah manusia yang memiliki kelamin ganda. Secara fisik, terkadang kelamin ganda itu terlihat, terkadang hanya tampak satu saja. Adakah lesbian yang merasa memiliki kelamin ganda? Dengarkan kisah sahabt lesbian kita, Ardita, yang mengaku memiliki pasangan intraseksual. </em></p>
<p><em><span id="more-17704"></span></em>Ini adalah kedua kalinya saya memposting tulisan di SepociKopi. Tapi tulisan saya yang pertama tidak diterbitkan. <em>But it&#8217;s okay, </em>mungkin memang waktu itu tulisan saya belum memenuhi syarat penerbitan. Sekarang saya mencoba menulis lagi di SepociKopi. Saya hanya ingin berbagi pengalaman saya yang cukup unik.</p>
<p>Jadi begini. Sudah tiga tahun ini saya menjadi seorang lesbian. Benar-benar lesbian karena saya mempunyai pasangan dan dia adalah seorang perempuan. Setidaknya <em>saat ini </em>dia adalah seorang perempuan. Eh? Mengapa ada kata &#8220;saat ini&#8221;? Benar sekali. Ada kemungkinan status keperempuanan partner hanya sementara dan tinggal sebentar lagi. Kenapa? Partner saya bukanlah seorang perempuan seutuhnya. Setidaknya itulah yang dia rasakan. Dia merasa bahwa dia adalah seorang laki-laki yang terjebak di tubuh seorang perempuan.</p>
<p>Mungkin banyak perempuan yang merasakan apa yang partner saya rasakan. Terutama perempuan lesbian yang berlabel butch. Mereka pasti mengerti. Awalnya, saya berpikir kalau partner saya adalah seorang perempuan lesbian yang menyukai hal-hal yang berbau maskulin sehingga dia merasa dirinya seorang laki-laki.</p>
<p>Tapi ternyata saya salah. Setelah semakin lama saya mengenalnya, ada beberapa kejanggalan yang terjadi pada partner. Seperti misalnya, siklus menstruasinya yang tidak menentu. Suatu hari, partner mengatakan dia tanpa sengaja mengeluarkan cairan yang seharusnya hanya bisa dikeluarkan oleh seorang laki-laki dewasa. Itu cukup mengejutkan untuk saya, mengingat bahwa apa yang saya lihat dari fisik partner saya adalah seorang perempuan.</p>
<p>Oleh karena itu, kami memutuskan untuk memeriksakan keanehan ini kepada dokter. Ternyata partner saya memiliki kemungkinan seorang hermaprodit atau intraseksual. Partner memiliki penyakit kelainan pada kromosom yang menyebabkan ambiguitas genital atau biasa disebut dengan kelamin ganda. Ada banyak sekali tes-tes yang harus dilakukan untuk memastikan ini semua secara medis, sementara kesibukan pada pekerjaam membuat partner memiliki waktu yang tidak luang.</p>
<p>Namun terlepas dari itu semua, ada satu hal yang sangat mengganjal di hati saya. Yaitu, apabila nanti partner dinyatakan secara medis memiliki kelamin ganda dan dia memutuskan menjadi seorang laki-laki seutuhnya, lalu yang terjadi dengan saya? Apakah saya akan ikut berubah menjadi heteroseksual? Atau saya terjebak menjadi biseksual atau malahan tetap sebagai lesbian? Sampai sekarang, sementara saya mencintainya sebagai seorang perempuan. Hal ini benar-benar menimbulkan kejanggalan dan kebingungan pada diri saya sendiri.</p>
<p>Tapi bukan berarti saya tidak menginginkan partner saya berubah. Saya akan menjadi orang pertama yang berbahagia untuknya jika suatu saat nanti dia telah benar-benar berubah menjadi seorang laki-laki. Saya tau persis seperti apa penderitaan yang dia rasakan saat terjebak di dalam ketidakpastian gender dan seksualitasnya. Saya juga tau persis bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan kejelasan status gender dan mendapatkan pengakuan dari lingkungan dan keluarga.</p>
<p>Mungkin yang bisa saya lakukan saat ini hanyalah berharap jika nantinya dia adalah seorang laki-laki, dia tetap akan mencintai saya dengan caranya yang seperti sekarang ini. Caranya yang lembut dan penuh kasih. Caranya yang santun dan apa adanya. Caranya yang kuat dan tegas. Caranya yang selalu menjunjung tinggi prinsip kebersamaan, keterbukaan, dan kesetiaan. Caranya yang akan mampu membuat saya bertahan meski pun saya harus berjuang untuk menyesuaikan diri dengan fisiknya yang baru sebagai laki-laki. Hmm&#8230; Tak apa kan? Bukankah pada kenyataannya hati adalah penuntun setia untuk menuju apa yang benar-benar kita cari, inginkan, dan butuhkan?</p>
<p>@Ardita, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/27/have-your-say-pasanganku-intraseksual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rumah Sahabatku</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/14/rumah-sahabatku/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/14/rumah-sahabatku/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 05:00:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulang Tahun]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[ulang tahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17278</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Chossy Tan
Ijinkan aku bercerita tentang sebuah rumah. Rumah yang nyaman dan bersahabat. Aku tidak mengenal secara pribadi sang pemilik rumah, namun yang kudengar dari orang-orang, siapa pun boleh datang ke sana, sekadar duduk-duduk melepas lelah atau bercengkerama dengan pengunjung lain. Rumah itu sederhana. Tidak mewah, apalagi berpagar tinggi yang membuat orang segan melangkah masuk. Rumah itu juga tidak pernah terkunci sehingga memungkinkan setiap orang bisa bertamu kapan pun mereka mau, yang penting tetap menjaga kesopanan dan menjunjung etika serta tidak membuat ulah.
Aku pun tertarik mengunjungi rumah itu. Awalnya hanya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/Home_Sweet_Home_by_Gemini_Soul.jpg"><img class="size-medium wp-image-17352 alignleft" title="Home_Sweet_Home_by_Gemini_Soul" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/Home_Sweet_Home_by_Gemini_Soul-200x300.jpg" alt="" width="275" height="375" /></a>Oleh: Chossy Tan</p>
<p>Ijinkan aku bercerita tentang sebuah rumah. Rumah yang nyaman dan bersahabat. Aku tidak mengenal secara pribadi sang pemilik rumah, namun yang kudengar dari orang-orang, siapa pun boleh datang ke sana, sekadar duduk-duduk melepas lelah atau bercengkerama dengan pengunjung lain. Rumah itu sederhana. Tidak mewah, apalagi berpagar tinggi yang membuat orang segan melangkah masuk. Rumah itu juga tidak pernah terkunci sehingga memungkinkan setiap orang bisa bertamu kapan pun mereka mau, yang penting tetap menjaga kesopanan dan menjunjung etika serta tidak membuat ulah.</p>
<p>Aku pun tertarik mengunjungi rumah itu. Awalnya hanya ingin tahu seperti apa sih isinya, mengapa banyak orang dari berbagai kalangan senang bertamu dan betah di sana. Pertama kali datang, aku disambut hangat dan disuguhi berbagai hidangan yang diolah secara profesional. Pada cicipan pertama langung membuat hatiku dipenuhi sukacita.</p>
<p>Setiap hari aku menyempatkan diri mampir ke sana. Kadang pagi-pagi untuk sarapan sebelum aku berangkat ke toko. Atau siang, melepas penat sambil sekalian makan siang. Sore pun mereka tidak pelit menyuguhkan camilan lezat. Sepulang dari toko, saat melintas aku melihat rumah itu masih terbuka dan terang benderang. Seperti tidak pernah tidur ya?</p>
<p>Setelah cukup lama, aku baru mengetahui alasan kenapa banyak orang berkunjung ke sana. Ternyata rahasianya terletak pada variasi hidangan yang disuguhkan. Kadang mereka menyajikan makanan yang lembut dan manis seperti bubur sumsum sehingga mudah ditelan tanpa harus mengunyah. Namun ada kalanya mereka menyuguhkan hidangan  bertekstur dan bercitarasa pedas yang membuat tamu berkeringat dengan wajah memerah. Meskipun pedas, ada sensasi rasa yang menggoda bak <em>gohu </em>Manado yang nikmat tiada tara dan membuat ketagihan.</p>
<p>Pernah suatu hari aku mencicipi hidangan yang  sulit kukunyah. Bukan salah hidangannya, tapi aku saja yang tidak terbiasa dengan tekstur makanan yang terlalu keras. Kata seorang pengunjung, menikmatinya  harus pelan-pelan agar tak tersedak. Oya, selain makanan kadang mereka juga menyuguhkan berbagai minuman. Pernah aku menerima minuman yang sangat pahit seperti jamu sambiloto, namun tetap kuhabiskan, karena setelah rasa pahit usai muncul rasa manis di akhir tegukan. Tapi ada juga hidangan manis menggoda, seperti sirup manis dan gula-gula. Jenis ini tentu banyak yang menyukainya, termasuk saya. Tetapi pakar kesehatan yang juga datang bertamu mengingatkan, jangan hanya menyantap yang manis-manis saja karena bisa membuat gigi berlubang dan rentan diabetes. Ya, tentu semua harus seimbang.</p>
<p>Aku heran, begitu banyak hidangan dan setiap hari selalu baru. Siapa sih yang mengolahnya? Siapa pula yang menghidangkan  untuk tamu sebanyak itu?</p>
<p>Setelah bertanya kesana-kemari ternyata juru masak rumah ini tak hanya satu-dua orang saja, tetapi banyak. Tapi yang paling mengagumkan, mereka semua perempuan. Dan&#8230; lesbian! Seperti saya.</p>
<p>Terkadang pemilik rumah ikut turun ke dapur, memasak menu spesial. Tetapi tidak sedikit orang-orang yang dulunya hanya sebagai tamu, kini ikut memasak untuk para pengunjung yang  setiap hari semakin banyak. Pantas  saja hidangan yang mereka suguhkan  begitu beragam.</p>
<p>Dua tahun sudah  sejak pertama kali aku masuk ke rumah itu. Begitu banyak hal yang aku dapatkan, selain hidangan yang nikmat ada banyak pengalaman kupetik dari orang-orang yang mengolahnya. Sekarang, rumah itu sedang merayakan ulang tahun ke lima dan aku ingin mempersembahkan sesuatu. Tapi aku bingung apa yang bisa aku berikan? Mereka menyukai hidangan yang diolah secara profesional, ditata dan disajikan dengan estetika, bukan yang sembarangan dan tidak taat aturan. Ah, aku pusing memikirkannya&#8230; Mampukah aku?</p>
<p>Baiklah akan kucoba mengolah hidangan untuk rumah  itu, meskipun aku kurang pandai memasak dan selalu kesulitan meracik bumbu yang pas tapi akan kuolah dengan cinta dan ketulusan. Aku belum bisa membayangkan akan seperti apa hidangan yang aku buat.  Apakah pemilik rumah berkenan? Akankah para tamu menyukainya? Atau justru hanya akan mempermalukan diriku sendiri karena hidangan yang aneh rasanya?</p>
<p>Aku mulai ragu&#8230; nyaris mengurungkan niat. Sudahlah&#8230; nanti kuucapkan selamat ulang tahun saja tanpa memberikan apa-apa. Tapi&#8230; kok hatiku menolak ya? Aku mulai berpikir ulang. Rumah itu telah ramah dan hangat menerimaku singgah dan berteduh ketika aku sendirian dalam gelap, mengalami penolakan, kekecewaan, dan kepahitan. Mereka juga menyuguhkan  berbagai  jenis hidangan yang bisa aku nikmati setiap saat. Dan sekarang aku tidak memberikan apa-apa untuknya?  Teer&#8230; laa&#8230; luu&#8230;!</p>
<p>Aku memutar tubuh, segera kembali ke dapur  menyelesaikan olahan yang sempat tertunda. Kugulung lengan kemeja dan mulai bekerja dan mengolahnya sepenuh hati, berharap  rasanya cukup layak untuk dinikmati. Begitu selesai segera kubungkus serapi mungkin. Kuikat dan menyelipkan secarik catatan, kutuliskan:</p>
<p><em>Kepada: redaksi@sepocikopi.com</em></p>
<p><em>Selamat ulang tahun rumahku&#8230;</em></p>
<p><em>Rumah hangat yang menjadi sahabatku. Rumah SepociKopi.</em></p>
<p><em>Inilah hasil olahanku. Sederhana, tapi kuolah dengan cinta.  Semoga bisa dinikmati semua tamu yang ikut menyemarakkan pesta di rumah ini, di rumah SepociKopi.</em></p>
<p><em>Salam dariku.</em></p>
<p><em>Chossy Tan.</em></p>
<p>@Chossy Tan, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/14/rumah-sahabatku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tajuk: Dongeng Cinderella dan Kita</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/10/tajuk-dongeng-cinderella-dan-kita/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/10/tajuk-dongeng-cinderella-dan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 10:02:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Tajuk]]></category>
		<category><![CDATA[Coming Out]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[ulang tahun]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17208</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nuha Guwa
Pada zaman dahulu kala, di sebuah kerajaan besar, hiduplah seorang ibu peri yang pandai merapal sihir, baik hati, penggugup, dan pemalu. Jakarta, sebagai kerajaan padat dengan jurang-jurang sosial yang tinggi membuatnya menjadi linglung. Kehidupan manusia penuh sesak, kompleksitas perbedaan strata hidup antara kaya miskin, bodoh pintar, jahat baik, di antara pemukiman mewah dan kumuh, membuat hari-hari ibu peri yang bernama Lakhsmi tidak enak. Makan salah, tidur juga salah. Tongkat sihirnya menjadi berdebu karena sering terlupakan.
Tak jelas siapa tokoh antagonis dalam kisah ini. Apakah keadaan, ketakutan, kemiskinan, kecemasan, atau ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/cinderella.jpg"><img class="size-full wp-image-17209 alignleft" title="cinderella" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/cinderella.jpg" alt="" width="259" height="194" /></a>Oleh: Nuha Guwa</p>
<p>Pada zaman dahulu kala, di sebuah kerajaan besar, hiduplah seorang ibu peri yang pandai merapal sihir, baik hati, penggugup, dan pemalu. Jakarta, sebagai kerajaan padat dengan jurang-jurang sosial yang tinggi membuatnya menjadi linglung. Kehidupan manusia penuh sesak, kompleksitas perbedaan strata hidup antara kaya miskin, bodoh pintar, jahat baik, di antara pemukiman mewah dan kumuh, membuat hari-hari ibu peri yang bernama Lakhsmi tidak enak. Makan salah, tidur juga salah. Tongkat sihirnya menjadi berdebu karena sering terlupakan.</p>
<p><span id="more-17208"></span>Tak jelas siapa tokoh antagonis dalam kisah ini. Apakah keadaan, ketakutan, kemiskinan, kecemasan, atau ketidaktahuan, namun kekejaman ala ibu tiri pada masyarakat &#8211; sadar atau tanpa sadar &#8211; menyentuh banyak lesbian yang hidup dalam ketidakadilan. Pandangan hina dan rendah terhadap homoseksual sebagai suku pendosa memang masih diberlakukan. Ibu peri Lakhsmi semakin kalut, seperti dikejar-kejar mimpi buruk setiap malam. Apa yang bisa dia lakukan untuk merapal sihir ajaib, agar setidaknya lesbian bisa merasakan kegembiraan menjadi seorang putri dan pengeran kerajaan?</p>
<p>Saat perempuan-perempuan lain sibuk mendandani diri untuk menghadiri pesta dan mengejar nama besar di istana, para lesbian yang ada di cerita ini diberi nama sebagai Cinderella &#8211; yang berarti gadis kotor dan penuh debu &#8211; masih <em>rempong </em>mencari-cari identitas diri. Boro-boro menghadiri pesta dansa sang pengeran, mengurus diri sendiri aja kacau balau. Pandangan bahwa kelesbianan adalah penyakit yang bisa disembuhkan sangat merisaukan. Para ibu tiri percaya bahwa membawa Cinderella ke dukun bisa membuatnya menjadi kaum <em>straight</em>. Mereka juga melakukan tindakan kasar dan tak beradab, semena-mena, dan penuh kejahatan.</p>
<p>Suatu malam, Lakhsmi, si ibu peri penggugup, menyihir kereta kuda dengan segala kemewahannya. Dibantu oleh sahabat-sahabatnya, Cinderalla menjadi seorang putri yang cantik jelita. Bersama kereta kuda itu, ibu peri dan Cinderella bersama-sama pergi ke istana bernama SepociKopi. Di istana itu, para putri cantik dan tampan menikmat satu malam pesta dansa yang menggembirakan. Lihat, betapa meriahnya suasana! Sosok-sosok yang berbahagia muncul satu per satu di depan pintu istana, dengen kereta kencana emas yang berkelap-kelip mewah.</p>
<p>Pesta tidak pernah usai. Setiap malam, para putri berjalan ke pesta SepociKopi dengan kegembiraan. Setiap malam, tujuh hari seminggu, selama lima tahun. Ibu peri Lakhsmi yang baik hati sudah tidak bekerja sendirian lagi. Sihirnya mampu dirapal oleh para putri-putri Cinderella yang lain. Sampai detik ini, pesta masih berjalan dengan ritme kerja yang luar biasa. Begitu banyak sepatu-sepatu tertinggal di tangga ketika jam berdentang pukul dua belas malam. Tidak ada yang ingin meninggalkan pesta SepociKopi.</p>
<p>Karakter dan cerita di atas tidak saya lebih-lebihkan, juga tidak semata-mata dibuat  untuk mengundang simpati atau tawa. Atau ingin membuat sosok lesbian terlihat suci. Semua kisah kegembiraan dan kesedihan yang terjadi pada setiap malam di pesta SepociKopi hadir apa adanya. Dongeng Cinderella di sini berbeda dengan dongeng Cinderella yang heteronormatif.  Sebagaimana kehidupan putri dan pangeran yang berbahagia di akhir kisahnya, SepociKopi berharap lesbian menjadi perempuan-perempuan bisa menggali  “harta karun” dan “berlian yang belum diasah” di setiap pribadi masing-masing sebelum menemukan pasangan hidup mereka.</p>
<p>Namun, berbeda dengan dongeng-dongeng lainnya, Cinderella di kisah ini belum berakhir. Tidak sama dengan cerita Cinderella yang ditutup dengan kalimat <em>&#8220;happily ever after&#8221;</em>, Cinderalla lesbian masih perlu berjuang lebih keras lagi untuk mencapai kebahagiaan selama-lamanya. Bahkan masih banyak yang cemas menunggu pukul dua belas malam saat sihir ibu peri berakhir, sehingga kereta yang membawanya berubah menjadi labu dan teman-temannnya kembali berubah wujud menjadi tikus-tikus dan burung. Pertarungan antara pagi, siang malam; dunia maya dan dunia asli adalah perjuangan yang nyata.</p>
<p>Sayang, mantra sihir ibu peri Lakhsmi dan ibu-ibu peri lainnya hanya bertahan sampai tengah  malam. Tapi memang begitulah yang harusnya terjadi, sebab sosok-sosok  lesbian tidak perlu menjadi lesbian setiap detik tapi melainkan menjadi  manusia biasa yang bisa berkarya pada sepanjang hari. Namun saya percaya, suatu hari akan hadir mantra sihir yang lebih kuat sehingga para lesbian bisa berpesta di istana SepociKopi sepanjang hari dan menjadi permaisuri/pangeran yang berkuasa di seantero negeri. Dengan begitu, akhir kisah ini bisa ditutup dengan kalimat .<em>..And they live happily ever after</em>.</p>
<p>Selamat ulang tahun SepociKopi tercinta.</p>
<p>@Nuha Guwa, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/10/tajuk-dongeng-cinderella-dan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Malam Natal Kita</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/24/malam-natal-kita/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/24/malam-natal-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 14:52:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[God]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualisme]]></category>
		<category><![CDATA[Twilight Zone]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16909</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Deni Melisa

Malam Natal selalu mengingatkanku padamu, Ibu. Cengkeh yang biasa kau tusukkan di atas kue nastar kita, aromanya menyerebak di dapurmu. Aroma cengkeh itu sudah lama tak mampir ke hidungku. Sudah lama sekali, sejak kau meninggalkanku bergelut di dunia yang fana ini.

Sekarang, yang ada bukan aroma cengkeh, tapi aroma gurihnya ayam panggang. Hidup telah berubah Ibu, masa telah berganti. Meski di malam Natal ini aku tetap bersama orang-orang terkasih, tapi itu bukan kau, bukan Papa, bukan Cici, bukan Koko. Mereka adalah orang-orang yang berbeda dengan cinta yang sama. Mereka ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="yui_3_2_0_1_1324736856334112"><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/holy.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16910" title="holy" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/holy-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>Oleh: Deni Melisa</div>
<div></div>
<div>Malam Natal selalu mengingatkanku padamu, Ibu. Cengkeh yang biasa kau tusukkan di atas kue nastar kita, aromanya menyerebak di dapurmu. Aroma cengkeh itu sudah lama tak mampir ke hidungku. Sudah lama sekali, sejak kau meninggalkanku bergelut di dunia yang fana ini.</div>
<div></div>
<div>Sekarang, yang ada bukan aroma cengkeh, tapi aroma gurihnya ayam panggang. Hidup telah berubah Ibu, masa telah berganti. Meski di malam Natal ini aku tetap bersama orang-orang terkasih, tapi itu bukan kau, bukan Papa, bukan Cici, bukan Koko. Mereka adalah orang-orang yang berbeda dengan cinta yang sama. Mereka kusebut sebagai keluarga baruku. Keluarga baru yang bersama mereka aku dapat melalui jungkirbaliknya kehidupan.</div>
<p>Tahukah? Setiap Natal yang aku lewati tanpamu, justru membuatku banyak berpikir tentangmu. Pernahkah kau bayangkan bahwa anakmu ini telah melewati babak demi babak drama kehidupan serupa labirin, aku banyak tersesat untuk bisa mendapat jalan yang tepat.</p>
<p>Ibu, ingatkah Natal terakhir kita? Waktu itu aku bermain drama kehidupan di gereja. Kau terpingkal-pingkal menertawaiku, sebenarnya mungkin kau sedang menertawai kehidupan. Setelah itu, kau menghampiriku dan bertanya, “Siapa yang buat naskahnya?”</p>
<p>Kujawab, “Eneng. Kenapa, Ma? Aneh ya? Padahal kehidupan yang sesungguhnya kan datar ya, Ma. Model cerita begitu cuma ada di drama.”</p>
<p>Waktu itu kau tidak sepakat, jawabmu, “Siapa bilang hidup manusia itu datar? Kehidupan manusia itu unik. Tidak ada kehidupan yang terlihat biasa. Dulu sebenarnya Mama berpikir yang sama dengan kamu, tapi dalam perjuangan melawan kanker ini, Mama jadi sadar, kehidupan itu luar biasa.”</p>
<p>Dan benar seperti katamu, Ibu.  Drama kehidupan tidak pernah datar. Drama itu telah memilin manusia dalam ritme yang fluktuatif. Kadang manusia merasa begitu bahagia hingga berusaha menghentikan waktu, tapi kadang hidup membawa manusia pada kengerian terdasyat hingga mengharap raganya tak pernah ada, dan jiwanya tak pernah dicipta.</p>
<p>Hari ini aku ingin membuka topeng itu. Rasanya lelah juga berusaha agar terlihat sempurna. Aku yang telah mengajarkan kepada banyak orang untuk menghargai hidup, aku yang telah mengajarkan pada banyak orang untuk mensyukuri berkat dan anugerah Tuhan, aku yang berusaha tampil kuat dan sempurna, sesungguhnya pernah ingin mengakhiri hidupku di dunia. Aku tak sekuat yang kaubayangkan, aku tak setangguh yang kauharapkan, Ibu.</p>
<p>Tapi, pada hari-hari terlemah dalam hidupku, aku kembali mengingat tentang malam Natal kita. Mengingat petuah Natal  yang selalu kau tanamkan dalam hati dan pikiranku. Mengingatmu, mengigat Alkitab hitam besar di tanganmu itu, mengingat ayat itu&#8230;</p>
<p><em>TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku</em> (Mazmur 23:1-4).</p>
<p>Ada satu yang tidak akan pernah lepas dari hati dan pikiranku, yaitu tentang kata-katamu dalam menerjemahkan ayat ini, bahwa sebesar apa pun masalah yang aku alami, sesakit apa pun hidup melukaiku, aku tidak akan pernah sendiri. Dalam gelap ada cahaya yang akan bersinar, dalam tandus akan ada aliran air segar, dalam lemah akan ada kekuatan. Dan semua itu dilakukan oleh satu pribadi, yang kita sebut Tuhan.</p>
<p>Bu, benar katamu, Tuhan tidak pernah meninggalkanku, meski sering kali aku berusaha meninggalkan-Nya. Lihatlah, kalau sekarang kabarku baik dan terpelihara sempurna. Kalau sekarang ada orang-orang yang setia mengurusku, kalau sekarang keluarga besar Mel dengan penuh kasih menerimaku sebagai bagian dari keluarga mereka. Sungguh, ini semua membuktikan petuahmu tentang kesetiaaNya, kesetiaan Tuhan Yesus kita.</p>
<p>Ibu, coba bayangkan, apa jadinya kalau malam Natal kita tidak pernah ada, kalau petuah tidak pernah kau sampaikan. Mungkin aku akan menjadi kalah dalam perjuangan melawati babak demi babak hidup yang sarat badai. Tak ada manusia yang benar-benar kuat, kalau bukan karena ada tangan kedua yang menguatkannya. Tangan keduaku yaitu Tuhan, tangan keduaku yang kau Ibu, tangan keduaku yaitu kekasihku, tangan keduaku yaitu orang-orang yang aku kasihi dan orang-orang yang mengasihiku.</p>
<p>Ibu, kini malam Natal tiba, ruangan telah sengaja dibuat temaram agar lampu di pohon Natal terlihat cantik sempurna. Sekarang ijinkan aku dan kekasihku bergenggaman jemari untuk sekedar mensyukuri semua badai yang telah kami lewati. Sungguh dalam badai terberat, justru kami menemukan Tuhan.</p>
<p>Selamat Natal, Bu. Selamat Natal semua. Kubisikan sesuatu, bukan petuah, bukan nasehat, hanya sebuah pengalamanku, bahwa ada satu yang tidak bisa Tuhan lakukan, yaitu meninggalkan orang yang dicintai-Nya.</p>
<p>@Deni Melisa, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/24/malam-natal-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Have Your Say: Sayangku Diriku dan Putraku</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/23/have-your-say-sayangku-diriku-dan-putraku/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/23/have-your-say-sayangku-diriku-dan-putraku/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Dec 2011 04:24:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Have Your Say]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[pernikahan sesama jenis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16892</guid>
		<description><![CDATA[Lesbian yang memiliki anak mengharapkan memiliki pasangan yang bersikap dewasa dan menjadi seorang istri yang berdedikasi untuk mencintai seorang anak. Mampukah lesbian menerima tanggung jawab sebesar itu? Membesarkan anak bukan urusan sepele, namun berliku dan berat. Apakah lesbian hanya menginginkan cinta semanis madu gulali tanpa mengerti nilai tanggung jawab? Dengarkan kisah D&#8217;Heart seorang mombian yang berkisah tentang pengalaman hidupnya dengan pasangan perempuannya.
Hari ini semuanya sudah berakhir. Sekali pun aku ingin merengkuh kepergian cintaku namun tanganku tak berdaya. Untuk kesekian kalinya kembali hatiku berdarah. Aku hanya bisa menatap pekatnya malam dan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/mother-son-flower.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16893" title="Mother and young son putting flowers in vase" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/mother-son-flower-193x300.jpg" alt="" width="193" height="300" /></a>Lesbian yang memiliki anak mengharapkan memiliki pasangan yang bersikap dewasa dan menjadi seorang istri yang berdedikasi untuk mencintai seorang anak. Mampukah lesbian menerima tanggung jawab sebesar itu? Membesarkan anak bukan urusan sepele, namun berliku dan berat. Apakah lesbian hanya menginginkan cinta semanis madu gulali tanpa mengerti nilai tanggung jawab? Dengarkan kisah D&#8217;Heart seorang mombian yang berkisah tentang pengalaman hidupnya dengan pasangan perempuannya.</em></p>
<p><em><span id="more-16892"></span></em>Hari ini semuanya sudah berakhir. Sekali pun aku ingin merengkuh kepergian cintaku namun tanganku tak berdaya. Untuk kesekian kalinya kembali hatiku berdarah. Aku hanya bisa menatap pekatnya malam dan mencoba menghitung rintik-rintik air hujan yang jatuh. Aku teringat kata-kata yang pernah kutuliskan untuknya: &#8220;Ketika hujan turun, cobalah untuk menghitung setiap tetes yang jatuh. Sebanyak itulah aku mencintaimu.&#8221; Namun kali ini bukan cuma tetas air hujan yang kucoba hitung namun juga bersamaan dengan tetesan air mataku yang sukar kubendung.</p>
<p>Luka itu masih merah. Dia adalah satu di antara tiga perempuan yang akhirnya aku pilih untuk mendampingi hidupku, untuk menemaniku membesarkan anakku semata wayang yang mulai beranjak remaja. Aku berharap banyak padanya. Sekali pun dia lebih muda dariku, aku percaya akan kedewasaannya dan juga besarnya cintanya kepadaku.</p>
<p>Hampir tiga tahun aku lalui bersamanya. Tepatnya bertiga dengan putraku, suka duka kami jalani bersama.  Perkembangan anakku yang agak lambat dalam belajar agak tertolong dengan kehadiran dirinya.  Harus kuakui dia cukup pandai dan piawai mengajar anak seusia anakku. Aku bangga padanya dan aku yakin dia yang terbaik untuk aku dan anakku. Sejujurnya, aku tidak sanggup kalau harus membesarkan anakku sendirian. Pengalaman pahit ditinggalkan seorang lelaki dalam hidupku cukup membuatku berpikir mampukah aku menjadi Mama sekaligus ayah buat anakku?  Aku perlu seseorang menemaniku. Dulu aku bersyukur dia bersedia menerimaku dan anakku.</p>
<p>Namun, waktu memberikan jawaban yang berbeda dari harapanku. Perlahan, namun pasti, ritme rumah tangga yang semula terlihat ideal dan indah berubah. Kekasihku mulai mengeluhkan tingkah laku anakku yang terlalu aktif, malas belajar, dan tidak juga menjadi pandai. Harus aku akui, anakku memiliki kekurangan dari segi prestasi belajarnya. Dia mencoba mendisiplinkan hidup anakku, bahkan terkadang memberikan sangsi  jika anakku melanggar aturan namun juga memberikan penghargaan jika anakku berbuat baik.</p>
<p>Aku senang dengan pola asuh yang dia terapkan sekali pun kadang-kadang aku tidak tega melihat anakku ditegur dan dimarahi olehnya.  Kadang aku memberi kelonggaran dengan memaafkan kesalahan yang dilakukan anakku dan itu memicu pertengkaran kami. Perkembangan anakku yang lambat  rupanya membuat dia kehilangan kesabaran. Namun aku melihat <em>progress </em>yang cukup baik dibanding sewaktu aku belum hidup bersamanya.  Beberapa kali aku berusaha menguatkan kekasihku untuk mengerti bahwa masing-masing anak memiliki waktu sendiri untuk mengalami perubahan. Aku memintanya dengan sangat supaya dia rela mengesampingkan kekesalan hatinya dan memahami sikon anakku.</p>
<p>Beberapa waktu  yang lalu, dia berkata dia merasa jenuh dengan ritme hidupnya. Dia merasa belum siap berperan sebagai istri yang mendampingiku. Dia merasa berat harus berdiri di antara aku dan anakku; berusaha memahami aku dan juga anakku. Menurutnya, aku dan anakku adalah pribadi yang sukar diubah olehnya. Selain itu, dia juga mulai berpikir untuk meraih cita-cita dan menyalurkan bakatnya. Sepertinya dia akan sia-sia hidup denganku, sebab secara umur dia masih muda.</p>
<p>Dia mulai mengikuti aktivitasnya di band bersama teman-temannya. Aktivitas itu mengharuskannya untuk berlatih hingga larut malam atau manggung pada hari wiken. Agak berat aku mengizinkannya karena membuat waktu kami bersama menjadi berkurang, namun dia memintaku untuk mendukungnya. Seiring waktu, aku mendapatkan pekerjaan di luar kota yang membuatku hanya pulang di hari-hari wiken. Aku berharap dia ada di rumah ketika aku pulang, namun ternyata tidak.</p>
<p>Hingga suatu saat dia merasa hubungan kami harus diakhiri. Aku terenyak mendengarnya. Ibarat dua orang yang sepakat mendayung perahu kecil menuju lautan lepas, tiba-tiba saja salah satu berhenti  dan berbalik pulang meninggalkan aku sendirian di lautan lepas. Hatiku terluka. Ingin rasanya aku berkata &#8220;<em>Please, don’t leave me alone</em>&#8220;, tapi kata yang tak terucap itu tak bergaung di hatinya. Dia ingin mengubah hubungan kami menjadi teman baik yang saling mendukung saja. Namun bukan teman baik yang aku butuhkan saat ini, melainkan  orang terdekat yang sedia berbagi beban, berbagi cinta untuk sama-sama mengasihi putraku.</p>
<p>Sudah waktunya aku berusaha menerima kenyataan pahit ini. Dalam hati aku bertanya &#8220;mengapa&#8221;. Mengapa selalu berujung begini? Mengapa selalu ada yang terluka? Ah, banyak pertanyaan yang terpendam di dalam hatiku, bergaung di kesunyian malam. Pertanyaan biarlah kujadikan pertanyaan yang tak terjawab saja. Aku selalu berdoa, walaupun aku harus mendayung perahu kecil ini sendirian, aku percaya aku akan tegar untuk melanjutkan perjalanan hidupku. Sebab aku adalah seorang ibu untuk putraku yang sangat membutuhkanku.</p>
<p>@D’Heart, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/23/have-your-say-sayangku-diriku-dan-putraku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Hari Mama</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/22/16876/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/22/16876/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 04:36:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16876</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Jacquier de vache
Sosok seorang Mama bagiku, mungkin tidak ada bedanya dari mama yang lain. Yang sangat aku hargai, karena telah melahirkanku ke dunia ini. Tapi sayangnya, aku sering membanding–bandingkan Mama dengan yang lain.
Seandainya, Mama seorang wanita karier, pasti dia tidak akan rempong mengingatkanku kapan harus pulang. Dia tidak ingat waktu yang tepat untuk pulang ke rumah, karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya.Artinya, aku bisa bebas menghabiskan waktuku di luar. Seandainya, Mama seorang perempuan yang gaul dan eksis, pasti dia tidak perlu mengganggu waktuku bertelponan dengan partner, hanya untuk mengajarkannya cara ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/happy-mothers-day-1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16878" title="happy mothers day 1" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/happy-mothers-day-1-300x240.jpg" alt="" width="300" height="240" /></a>Oleh: Jacquier de vache</p>
<p>Sosok seorang Mama bagiku, mungkin tidak ada bedanya dari mama yang lain. Yang sangat aku hargai, karena telah melahirkanku ke dunia ini. Tapi sayangnya, aku sering membanding–bandingkan Mama dengan yang lain.</p>
<p>Seandainya, Mama seorang wanita karier, pasti dia tidak akan rempong mengingatkanku kapan harus pulang. Dia tidak ingat waktu yang tepat untuk pulang ke rumah, karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya.Artinya, aku bisa bebas menghabiskan waktuku di luar. Seandainya, Mama seorang perempuan yang gaul dan eksis, pasti dia tidak perlu mengganggu waktuku bertelponan dengan partner, hanya untuk mengajarkannya cara mengganti <em>Display Picture</em> BBM, log in ke FB, dan lain-lain. Seandainya Mama bukan seorang yang suka mengadu, pasti aku tidak perlu berurusan dengan Papa dengan semua aturannya yang berlebihan. Seandainya mama begini dan begitu&#8230; Itu terus yang selalu membuatku terus mengeluh tiada habisnya.</p>
<p><span id="more-16876"></span>&#8230;Sampai ketika aku tiba merefleksikan hidupku kini yang menurutku sangat sempurna, dengan hadirnya seorang Mama yang begitu menyayangiku dengan caranya sendiri. Aku terdiam.</p>
<p>Mama mengkhawatirkanku dengan selalu mengecek keberadaanku jika hingga larut malam aku belum pulang kantor. Bahkan dia menawarkan menjemputku ke depan kompleks, takut kalau–kalau aku dicegat di jalanan yang gelap. Seringkali kutemukan diri dengan <em>handphone </em>yang masih ON di tangannya, terlelap di kursi karena menunggu kedatanganku.</p>
<p>Sungguh Ma, maafkan anakmu ini, karena aku yang seringkali kurang tau diri, tidak memikirkanmu yang tanpa letih menunggu kedatanganku di rumah. Bahkan waktuku sering kuhabiskan di luar dengan teman, sering juga dengan partner untuk bersenang–senang dan mencari kebahagiaanku di luar. Aku tak pernah sadar bahwa kebahagiaan yang sesungguhnya bisa kudapat di rumah. Aku bisa duduk di sampingmu sambil bertukar cerita tentang ini itu. ini itu, dari bergosip tentang tetangga sebelah hingga pertanyaan–pertanyaanmu tentang pekerjaanku. Aku smerindukan percakapan hangat kita di ruang tamu dan di ranjang ketika aku tidur bersebelahan denganmu.</p>
<p>Mama, aku tahu kau ingin bersikap modern demi anak–anakmu. Maka kini aku mengerti betapa besar niatmu untuk belajar menggunakan <em>gadgets </em>canggih seperti BlackBerry dan aktif di beberapa jejaring sosial. Mama ingin selalu dekat dengan aku. Menyadari hal itu, aku rela jika waktuku mengobrol dengan partner di telpon terganggu dengan pertanyaan ini-itu. Dengan senang hati, akan kuladeni. Saat aku kecil Mama mengajarkanku cara memegang sendok dan garpu dengan baik dan benar. Mama pasti sabar dan terus diulang–ulang mengajariku. Maka, tidak ada alasan untukku menolak mengajarimu apa yang kini kutahu.</p>
<p>Sungguh Ma, aku tidak mampu melihat air mata di wajahmu. Air matamu, luka batinku. Maka saat itu juga aku akan sadar, bahwa tindakanku telah menyakiti hati orangtuaku, terlebih hati Mama. Beruntung aku memiliki Mama seperti ibuku, tapi Mama mungkin akan kecewa melihat anaknya begini. Anakmu ini berbeda dari putri-putri teman arisanmu yang dibanggakan orangtuanya masing-masing, entah karena menang kontes kecantikan, dapat jodoh yang mapan, dilamar dan siap menikah. Di Hari Ibu sekarang, satu hal yang harus Mama tahu, aku mencintai Mama. Aku ingin membuat Mama bahagia. Aku ingin membuat Mama bangga dengan caraku sendiri. Aku ingin Mama tidak kecewa walaupun nantinya Mama harus menerima fakta bahwa putri sulungmu ini seorang lesbian.</p>
<p>Dan menjelang Natal, aku akan mengkhusukan waktuku untuk membantumu menyiapkan segala keperluan hari istimewa ini. Sehingga mama tidak terlalu repot, bahkan marah–marah karena terlalu capek. Aku inginkan damai Natal Mama rasakan dalam keluarga kita.</p>
<p>@Jacquier de Vache, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/22/16876/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FabuLezlyCool: Cuma Punya Teman</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/21/fabulezlycool-cuma-punya-teman/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/21/fabulezlycool-cuma-punya-teman/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Dec 2011 09:25:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FabuLezlyCool]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16866</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Wasabi
Bagi gue, teman adalah segala-galanya. Sejak gue SMP, gue percaya teman adalah rumah kedua gue. Gue punya kakak dan kakak gue tinggal di luar negeri, mengikuti suaminya. Gue tinggal di kota ini sendirian, nggak memiliki saudara. Kedua orangtua gue tinggal di kota kelahiran gue, nggak mau tinggal bersama gue di kota ini. Jadi teman adalah satu-satunya yang bisa gue andalkan. Kalau gue susah, gue selalu mencari teman untuk bala bantuan.
Gue pernah diputus pacar pada saat gue lagi dalam kondisi terpuruk. Gue nggak punya pekerjaan dan harus membayar uang kos ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/friendship-forever.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16867" title="friendship forever" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/friendship-forever-300x210.jpg" alt="" width="300" height="210" /></a>Oleh: Wasabi</p>
<p>Bagi gue, teman adalah segala-galanya. Sejak gue SMP, gue percaya teman adalah rumah kedua gue. Gue punya kakak dan kakak gue tinggal di luar negeri, mengikuti suaminya. Gue tinggal di kota ini sendirian, nggak memiliki saudara. Kedua orangtua gue tinggal di kota kelahiran gue, nggak mau tinggal bersama gue di kota ini. Jadi teman adalah satu-satunya yang bisa gue andalkan. Kalau gue susah, gue selalu mencari teman untuk bala bantuan.</p>
<p><span id="more-16866"></span>Gue pernah diputus pacar pada saat gue lagi dalam kondisi terpuruk. Gue nggak punya pekerjaan dan harus membayar uang kos yang sudah ditunggak dua bulan. Untung ada seorang teman yang rela gue pinjam uangnya. Gue tentu membayar balik uang tersebut dalam jangka watu dua minggu sesuai dengan janji gue. Gue juga pernah ditampung tidur oleh seorang teman yang berbaik hati karena tetangga kos-kosan gue kebakaran. Pokoknya, teman-teman gue sering menjadi pelampung hidup gue. Gue berutang banyak kepada teman-teman gue.</p>
<p>Walaupun gue percaya teman adalah hal nomor dua setelah keluarga dalam hidup, sebenarnya gue sangat pemilih untuk berteman. Gue nggak bisa sembarangan berteman dan dekat dengan seseorang. Gue selalu mencari teman sesuai dengan standarisasi gue. Kedengarannya sombong ya gue pake standarisasi berteman, tapi memang begitu caranya untuk bisa mempunyai teman yang setia. Apa aja sih standarisasi berteman? Semoga tips gue ini bisa membantu pembaca SepociKopi menemukan teman-teman lesbian yang oke punya.<br />
<strong><br />
1. Cari teman yang nggak suka ngomongin jelek orang lain</strong><br />
Kalau baru pertemu pertama kali, dia sudah ngejelek-jelekin orang lain, bakal nggak ada jaminan deh gue nggak dijelek-jelekin juga ke orang lain. Teman yang seperti ini bukan hanya berbahaya, tapi juga bisa menikam punggung waktu gue lengah. Gue nggak akan mau tuh temanan sama orang yang jago ngegosip. Jauh-jauhin gue sama orang-orang seperti itu.<br />
<strong><br />
2. Cari teman yang nggak narsis</strong><br />
Ini penting, kalau baru kenalan aja dia udah sok nyeleb, bisa gawat hubungan pertemanan di masa depan. Orang yang terus-terusan membesar-besarkan kehebatan dirinya adalah orang yang nggak peka sama temannya. Ngapain temanan sama orang yang seperti ini? Nanti malah pekerjaan kamu cuma untuk jadi dayang-dayang dia aja.<br />
<strong><br />
3. Cari teman yang idealis, atau seenggaknya punya idealisme tentang hidup</strong><br />
Gue selalu suka sama orang yang idealis. Orang yang rela mati demi memperjuangkan sesuatu yang bukan tentang dirinya doang. Kalau kita cuma memperjuangkan kelesbianan kita doang itu namanya egois. Tapi kalau kita juga memperjuangkan hidup jujur, menolak korupsi, bekerja gratis untuk keselamatan orang lain, dan lain-lain, itu artinya kita idealis. Gue nggak suka sama teman yang segala-galanya harus diperhitungkan secara ekonomi/uang atau kepentingan dirinya pribadi.<br />
<strong><br />
4. Cari teman yang nggak menyeret ke dunia kriminal</strong><br />
Misalnya, narkoba, merokok, minum-minuman, pelacuran, hidup tidak sehat, memalak orang, pencurian, kejahatan. Langsung jauhi teman-teman seperti itu!<br />
<strong><br />
5. Cari teman yang berpikirnya positif, penuh semangat, dan nggak pantang menyerah</strong><br />
Semangat yang baik bisa menular. Gue pernah ketemu teman yang curhat melulu, berkeluh kesah terus, dan cemburu sama kehidupan gue yang dianggapnya lebih baik. Teman yang kayak gini bener-bener teman yang nggak dewasa sama sekali. Kalau kita lagi bete, kan enaknya mengobrol dengan orang yang senang biar bete kita hilang. Bukannya malah menyeret bete menjadi super bete!<br />
<strong><br />
6. Cari teman yang setia</strong><br />
Nah, ini yang paling penting. Teman yang nggak setia tuh teman yang bakal menghancurkan hidup kita di belakang kita tanpa sepengetahuan kita. Teman yang setia adalah teman yang menjaga nama baik kita, bukan malah menjelek-jelekkan. Gue dulu pernah punya teman yang manis di depan gue tapi ternyata di belakang, gue disabotase. Rasanya sakit banget!</p>
<p>Kalau lesbian cari teman juga musti kudu hati-hati. Nggak semua teman lesbian bisa dianggap sebagai <em>sista</em>, atau saudari. Untuk menentukan kualitas teman sebenarnya paling asyik kalau dihitung dari lamanya persahabatan. Semakin lama, semakin keliatan tuh bagaimana nilai persahabatan. Gue punya banyak sahabat baik yang juga lesbian, yang benar-benar gue anggap sebagai <em>sista</em>. Tapi juga gue meninggalkan banyak lesbian yang nggak enak dijadikan teman.</p>
<p>Oke, selamat berteman. Ingat, &#8216;darah&#8217; teman bisa sekental &#8216;darah&#8217; keluarga. Sejarah sudah membuktikan tentang tali mesra persahabatan yang sukses mengubah dunia. Gue percaya ada pertemanan abadi yang terjalin erat sampai usia tiada.</p>
<p>@Wasabi, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/21/fabulezlycool-cuma-punya-teman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tajuk: (Bukan) Ibu dan Kita</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/20/tajuk-bukan-ibu-dan-kita/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/20/tajuk-bukan-ibu-dan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Dec 2011 12:19:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Tajuk]]></category>
		<category><![CDATA[ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16842</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nuha Guwa
Ketika aku masih duduk di sekolah dasar, aku paling malas bangun pagi. Namun, ibuku ini selalu sabar membujuk agar aku menghirup udara bersih setiap hari. Dia menemaniku bermain badminton di bawah sinar mentari. Katanya biar tulang-tulangku kokoh dan sekuat baja. Ayahku, beliau selalu  mengajakku menyempatkan diri berkunjung ke tetangga kami yang kulit dan statusnya sangat berbeda. Sehingga aku mengenal apa artinya kemuliaan dan toleransi. Mereka memelihara sehelai jiwaku yang masih kecil untuk selalu peduli dengan kepapaan orang lain.
Ayahku &#8211; meski bukan ayah sesungguhnya, dan ibuku &#8211; meski ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/mom-and-i.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-16843" title="mom-and-i" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/mom-and-i.jpg" alt="" width="256" height="290" /></a>Oleh: Nuha Guwa</p>
<p><em>Ketika aku masih duduk di sekolah dasar, aku paling malas bangun pagi. Namun, ibuku ini selalu sabar membujuk agar aku menghirup udara bersih setiap hari. Dia menemaniku bermain badminton di bawah sinar mentari. Katanya biar tulang-tulangku kokoh dan sekuat baja. Ayahku, beliau selalu  mengajakku menyempatkan diri berkunjung ke tetangga kami yang kulit dan statusnya sangat berbeda. Sehingga aku mengenal apa artinya kemuliaan dan toleransi. Mereka memelihara sehelai jiwaku yang masih kecil untuk selalu peduli dengan kepapaan orang lain.</em></p>
<p><em><span id="more-16842"></span></em><em>Ayahku &#8211; meski bukan ayah sesungguhnya, dan ibuku &#8211; meski bukan ibu sesungguhnya, namun mereka membesarkan aku dengan perjuangan  yang tidak tergambarkan. Ibu masih terus membuatku merasa hidup dan berharga sebagai manusia. Dia tidak berkecil hati saat mengetahui anak yang diambilnya dari sebuah panti asuhan ternyata seorang lesbian. </em></p>
<p><em>Ibuku &#8211; ibu yang bukan ibuku ini, telah membuktikan cintanya dengan terus membahagiakanku. Dengan seluruh kemuliaan Tuhan, dia sudah membuktikan semua itu tanpa menilai dari darah mana aku berasal. Ketika kamu menanyakan seberapa besar aku menilai ibuku di hari Ibu? Sangat sulit kudeskripsikan, karena sebenarnya, tanpa cinta  ibu-yang-bukan-ibuku, aku hanyalah kehampaan.</em></p>
<p>***</p>
<p>Apa yang dicukilkan di atas adalah selarik catatan seorang teman yang berprofesi sebagai pengacara. Dia menjawab email di atas ketika saya tanyakan apa arti ibu baginya. Selama ini keluarganya dikenal santun dan bermartabat. Orangtuanya memiliki nama baik di negeri ini. Berkat didikan tinggi, akhirnya dia bekerja di sebuah perusahan minyak. Namun ada keharuan yang lebih dashyat dari semua itu. Dia akhirnya mengetahui bahwa ternyata selama ini orangtua yang mengasihinya bukanlah ayah dan ibu kandung.</p>
<p><em>Bukan Ibu. </em>Kita tahu ada banyak kisah yang hampir-hampir mirip dengan versi di atas, baik yang sedih maupun yang bahagia. Kisah teman ini tentu menjadi catatan manis, betapa seseorang bisa menjadi seorang yang sangat berharga dari sosok ibu tanpa harus menjadi ibu yang sesungguhnya.</p>
<p>Kita sudah sering memaknai Hari Ibu di tanggal 22 Desember, dan selama ini sekedar mengingatkan bagaimana perjuangan sosok perempuan yang memiliki anak. Hari Ibu berkaitan dengan  bagaimana ibu bisa mendapatkan hak-hak mereka di bawah sebuah sistem dan politik negara. Peringatan untuk menghargai perempuan &#8211; khususnya ibu &#8211; memang patut ada, namun sayang, pembahasannya nyaris begitu-begitu saja.</p>
<p>Mari memaknai Hari Ibu melalui diri sendiri sebagai seseorang lesbian yang &#8220;bukan ibu&#8221; dan mungkin takkan bakal mendapat titel &#8220;ibu&#8221;. Ibu angkat dari teman saya tadi adalah BUKAN IBU (kandung). Beliau hanyalah seorang perempuan biasa yang memberikan dirinya ruang untuk mengasihi dan membesarkan seorang anak dari sebuah panti asuhan. Dia mengandung anak itu bukan dari rahimnya, tapi dari hatinya. Menjadi &#8220;bukan ibu&#8221; tidaklah berarti kita tidak mampu memberikan sesuatu layaknya seorang ibu berikan kepada anaknya. Sederhana saja, bahwa idealnya cinta, perhatian, materi, perjuangan, pengorbanan, ketulusan, keikhlasan seorang ibu juga bisa diberikan oleh siapa saja untuk manusia lain yang membutuhkannya.</p>
<p>Hidup dengan seorang pria bagi seorang lesbian adalah momok menakutkan. Memiliki anak dari mereka adalah menggelikan. Banyak lesbian yang kemudian memilih tidak menikah. Sebagian lain merasa nyaman hidup berdua hanya dengan pasangan. Sebagian lagi menginginkan bisa mengasuh anak-anak dari seorang lesbian yang memiliki anak. Di sisi lain, tidak semua lesbian menyukai anak-anak. Lihatlah, bagaimana manusia berbeda satu sama lain.</p>
<p>Terlepas dari model kehidupan apa yang sedang kita lalui sekarang, rasanya perlu merenungi makna &#8220;bukan ibu&#8221; tadi. Seperti apa rasanya berada di posisi sebagai ibu angkat teman lesbian kita? Jelas bahwa cinta dari seorang yang &#8220;bukan ibu&#8221; tetap bernilai. Sungguh tak ada yang paling dirindukan seorang manusia  selain menjadi berharga bagi manusia lain, terutama bagi seseorang yang dikasihinya. Barangkali menjadi &#8220;bukan ibu&#8221; menjadi satu sisi yang patut dipertimbangkan.</p>
<p>Selama kita hidup, mampukah memberi warna dan keceriaan pada sebuah tunas mungil? Mampukah mengasihi, memberikan kehidupan, dan perhatian yang layak? Mampukah menyebarkan cinta tanpa perlu menjadi sosok seorang ibu? Mampukah kita memberikan wawasan dan contoh positif kepada para remaja? Jika ibu adalah titel yang dihargai dan dipuja, seorang lesbian yang memiliki titel &#8220;bukan ibu&#8221; karena tidak pernah melahirkan dan membesarkan anak layak pula mendapat penghargaan tertinggi jikalau hatinya mengarah kepada perilaku seorang ibu: penuh kasih, mampu menyayangi, memberikan kesempatan, dan mendidik kaum muda (dan kaum lesbian) ke masa depan yang lebih cerah.</p>
<p>@Nuha Guwa, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/20/tajuk-bukan-ibu-dan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuci Mata: Antik Batik</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/01/cuci-mata-antik-batik/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/01/cuci-mata-antik-batik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Dec 2011 13:50:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cuci Mata]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[mode]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16434</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sidney
Di acara kawinan kemarin&#8230; Wait. Bukan, bukan kawinan &#8220;itu&#8221; tapi kawinan adiknya kakak ipar yang berlangsung di taman &#8211; I never get pesta taman di Jakarta pada musim hujan ya&#8230;. Dengan keribetan perlunya pawang hujan de el el &#8212; aku lagi-lagi disadarkan dengan betapa batik sudah jadi pakaian resmi kenegaraan, eh, maksudnya kondangan.
Para pria yang hadir memakai batik dengan kain cemerlang yang tampak mahal. Sementara perempuannya memakai gaun/kebaya batik indah yang membuat pemakainya jadi makin anggun dan cantik. Rambut disasak tinggi, leher jenjang nan indah, batik yang membalut tubuh&#8230; ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/batik.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16439" title="batik" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/batik-214x300.jpg" alt="" width="214" height="300" /></a>Oleh: Sidney</p>
<p>Di acara kawinan kemarin&#8230; <em>Wait. </em>Bukan, bukan kawinan &#8220;itu&#8221; tapi kawinan adiknya kakak ipar yang berlangsung di taman &#8211;<em> I never get </em>pesta taman di Jakarta pada musim hujan ya&#8230;. Dengan keribetan perlunya pawang hujan de el el &#8212; aku lagi-lagi disadarkan dengan betapa batik sudah jadi pakaian resmi kenegaraan, eh, maksudnya kondangan.</p>
<p><span id="more-16434"></span>Para pria yang hadir memakai batik dengan kain cemerlang yang tampak mahal. Sementara perempuannya memakai gaun/kebaya batik indah yang membuat pemakainya jadi makin anggun dan cantik. Rambut disasak tinggi, leher jenjang nan indah, batik yang membalut tubuh&#8230; Oh, cantiknya perempuan indonesia. Belakangan ini, aku sering mengenakan kebaya kalau mendapat undangan acara mulai dari pernikahan sampai acara resmi, seperti launching produk perusahaan atau ulang tahun bos. Kata partner, aku terlihat sangat cantik dengan kebaya.</p>
<p>Pada hari kerja di kantor, sebulan sekali pada Jumat minggu pertama kami memakai batik. Ini konsensus bersama loh, bukan keharusan. Tapi kami senang melakukannya karena sering kali aku jadi punya alasan beli batik baru. Iya, kan? Kan nggak mungkin pakai batik yang sama selama setahun. Nanti dikira seragam.</p>
<p>Memakai batik bukan cuma sekadar karena batik dari Indonesia. Tapi ada kebanggaan sebagai orang Indonesia yang memakainya. Pada tahun 2009 UNESCO sudah menetapkan Batik sebagai the Intangible Cultural Heritage from Indonesia. Bangga dong kita! Sayangnya nggak banyak orang Indonesia yang tahu bahwa Batik sudah diakui secara internasional sebagai warisan budaya Indonesia. Bahkan Obama datang di Bali kemarin itu juga pakai batik untuk menghormati kita. Batik bukan sekadar pakaian, tapi mengandung arti filosofis.</p>
<p>Salah satu arti filosofis dari batik adalah kesabaran. Pernah lihat orang membatik dengan canting? Aku tak pernah lupa ketika melihat seorang ibu membatik dengan penuh cinta dan sabar menggambar motif di atas kain dengan cantingnya. Selembar kain batik itu berarti keringat, cinta, dan kesabaran dari si pembatik. Jadi jangan komplain deh bilang batik asli itu mahal bikinnya saja bisa berbulan-bulan. Karena setiap lembar kain itu unik. Memiliki kisah sendiri.</p>
<p>Aku dapat warisan kain batik dari omaku. Sampai sekarang kain batik itu masih kusimpan dan pernah ditawar sama seorang kolektor tapi tak mau kulepas. Walaupun tawarannya bisa buat beli tas Bottega Veneta sih tetap saja tak mau kulepas. Tas Hermes sekalipun nggak bakal bisa mengganti warisan yang tertinggal dari kain batik peninggalan Oma.</p>
<p>Kesabaran itu penting, harta berharga dalam hidup. Indah banget filosofis kesabaran. Apabila semua dikerjakan dengan tekun, teliti, dan berkualitas, maka satu elemen penting agar bisa menjadi sukses tentu saja adalah kesabaran. Menjadi lesbian yang sukses itu jalan hidup artistik. Makanya, perlu kesabaran. Butuh pendidikan yang tinggi dan mendaki karier sebelum menjadi lesbian mapan yang bisa menjadi apa adanya di masyarakat. Itu belum termasuk hubungan percintaan ya. Hubungan percintaan yang lama pasti didasari oleh kesabaran sepasang lesbian untuk memperjuangkan komitmen, kesetiaan, dan kematangan pribadi.</p>
<p>Kalau lesbian belum apa-apa udah nggak sabar pengin lari dari rumah bersama pacar padahal pendidikan masih morat-marit dan tidak punya pekerjaan, bagaimana bisa menjadi lesbian yang mapan, baik dalam hubungan percintaan maupun finansial? Miskin itu bukan kebanggaan, bukan juga kartu As buat bersikap semena-mena dengan yang berpunya, Jenderal!</p>
<p>Ah, kini saatnya memilih kain batik yang bisa aku cocokkan dengan kebaya di acara <em>cocktail party</em> dengan dubes negara tetangga. Sidney mau pasang sanggul dulu. Ciao! Salam kebanggaan batik!</p>
<p>@Sidney, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/01/cuci-mata-antik-batik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FabuLezlyCool: I Forgive You</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/11/29/fabulezlycool-i-forgive-you/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/11/29/fabulezlycool-i-forgive-you/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Nov 2011 09:29:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FabuLezlyCool]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16392</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: FlaPuding
Ingat tidak masa-masa kanak-kanak, pra-remaja, dan remaja? Untuk pertama kalinya, orangtua memperkenalkan ruang sekolah kepada kita. Lalu mulai deh, waktu mencapai pubertas, yang namanya jatuh cinta membuat hidup jungkir balik. Bisa dengan teman sekelas, bisa juga dengan teman satu kursus piano, atau tetangga, dan akhirnya kita mengesampingkan pelajaran karena sibuk melamun tentang dia, dia, dia, dan dia. Akibatnya, nilai pelajaran turun semua. Nah, pasti tahu kan apa yang selanjutnya terjadi? Diomelin Papa Mama! Bahkan diancam tidak boleh main keluar setiap malam minggu. Whaaaaat? Huhuhuhu&#8230;.
Selanjutnya, kita malah nekat membantah kata ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/to-forgive.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-16393" title="to forgive" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/to-forgive.jpg" alt="" width="290" height="173" /></a>Oleh: FlaPuding</p>
<p>Ingat tidak masa-masa kanak-kanak, pra-remaja, dan remaja? Untuk pertama kalinya, orangtua memperkenalkan ruang sekolah kepada kita. Lalu mulai deh, waktu mencapai pubertas, yang namanya jatuh cinta membuat hidup jungkir balik. Bisa dengan teman sekelas, bisa juga dengan teman satu kursus piano, atau tetangga, dan akhirnya kita mengesampingkan pelajaran karena sibuk melamun tentang dia, dia, dia, dan dia. Akibatnya, nilai pelajaran turun semua. Nah, pasti tahu kan apa yang selanjutnya terjadi? Diomelin Papa Mama! Bahkan diancam tidak boleh main keluar setiap malam minggu. <em>Whaaaaat</em>? Huhuhuhu&#8230;.</p>
<p><span id="more-16392"></span>Selanjutnya, kita malah nekat membantah kata orang tua. Tidak adil rasanya kalau mendapat hukuman seperti itu. Maka, keributan pun pecah. Mama Papa jadi tambah kesal dengan diri kita. Terucapkanlah kata-kata yang menyakitkan. Aduh, aduh. Sebagai anak yang tidak mau kurang ajar dengan orangtua, kita berhenti membantah, namun diam-diam memelihara dendam yang menimbulkan permusuhan.</p>
<p>Permusuhan? Dengan orang tua? Nggak banget deh. Tapi kenyataannya, seperti inilah yang terjadi. Tidak hanya teman yang dapat dijadikan musuh, ternyata mantan, Papa Mama bisa juga menjadi musuh loh!</p>
<p>Siapa yang di sini punya dendam dengan orang lain, bahkan dendam dengan seseorang yang serumah/sekamar?</p>
<p>Dendam seringkali lebih merugikan diri sang pendendam dibanding orang yang dibenci. Orang yang dibenci tidak merasakan apa-apa, sementara yang membenci akan kehilangan rasa tentram dan damai. Contoh konkritnya, siapa yang membenci bakalan tidak bisa tenang kalau melihat ada orang yang dibenci berada di dekat-dekatnya. Mendadak kulit rasanya gatal-gatal dan rambut ketombean. Jantung berdebar-debar dan mulut merengut. Apalagi melihat musuh sedang berbahagia. Rasanya benciiii banget. Efek dendam jika terus dibiarkan berkembang di dalam hati akan menimbulkan penyakit-penyakit kronis lainnya, seperti serangan jantung, hipertensi, kanker, dan lain-lain. Olala, seram sekali! Oleh karena itu ada baiknya kalau kita mencoba belajar berdamai. Kuncinya adalah: dengan memaafkan.</p>
<p>Eits, tunggu. Masalah memaafkan, bukan hanya sekedar memaafkan basa-basi saja, tapi memaafkan tanpa batas. Tidak mungkin kalau memaafkan memiliki tanggal<em> expired date</em>. Memangnya makanan? Ini Fla punya dua tips penting agar kita bisa belajar memaafkan dengan ikhlas dan tulus.</p>
<p>Pertama-tama, belajar memaafkan kepada orang lain tanpa menghitung kesalahan yang pernah diperbuat kepada kita, atau menghitung kesakitan yang mereka torehkan di dalam hati. Misalnya, Papa Mama, sang mantan, atau teman. Menghitung berarti mengingat-ingat. Itu sih artinya memelihara dendam! Mendingan memelihara ikan daripada dendam. Iya kan?</p>
<p>Fla juga sedang belajar untuk memaafkan tanpa menghitung berapa kali Fla tersakit. Percayalah, memaafkan itu adalah proses penyembuhan. Penyembuhan dari apa? Penyembuhan dari rasa sakit hati karena tersakiti. Fla percaya, setiap manusia belajar dari kesalahan yang diperbuat, walaupun efeknya tidak terlihat langsung. Yah, namanya juga proses. Suatu hari mereka tidak akan melakukan kesalahan itu lagi. Kejahatan dibalas kebaikan? Ah, coba dulu. Pasti bisa kok.</p>
<p>Kedua, memaafkan butuh ruang kesabaran yang sangat besar.Caranya, ingatlah kalau mereka adalah orang-orang yang kamu sayangi, seperti Papa, Mama, adik, kakak, pacar, dan lain-lain. Kalau mereka marah pada dirimu, secepat kilat sadarlah untuk meredam amarah diri sendiri sebelum menjadi percik bara dendam. Niscaya, amarah dalam hati dan di sekeliling bisa padam. Hati pun menjadi damai.</p>
<p>Semoga hal ini bisa membantu kita semua, kaum lesbian, untuk terus menebarkan kasih kepada orang tersayang. Salam mengampuni!</p>
<p>@FlaPuding, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/11/29/fabulezlycool-i-forgive-you/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

