Articles tagged with: Keluarga
Have Your Say, Sepocikopiana »
Ulang Tahun »
Oleh: Chossy Tan
Ijinkan aku bercerita tentang sebuah rumah. Rumah yang nyaman dan bersahabat. Aku tidak mengenal secara pribadi sang pemilik rumah, namun yang kudengar dari orang-orang, siapa pun boleh datang ke sana, sekadar duduk-duduk melepas lelah atau bercengkerama dengan pengunjung lain. Rumah itu sederhana. Tidak mewah, apalagi berpagar tinggi yang membuat orang segan melangkah masuk. Rumah itu juga tidak pernah terkunci sehingga memungkinkan setiap orang bisa bertamu kapan pun mereka mau, yang penting tetap menjaga kesopanan dan menjunjung etika serta tidak membuat ulah.
Aku pun tertarik mengunjungi rumah itu. Awalnya hanya …
Humaniora, Tajuk »
Oleh: Nuha Guwa
Pada zaman dahulu kala, di sebuah kerajaan besar, hiduplah seorang ibu peri yang pandai merapal sihir, baik hati, penggugup, dan pemalu. Jakarta, sebagai kerajaan padat dengan jurang-jurang sosial yang tinggi membuatnya menjadi linglung. Kehidupan manusia penuh sesak, kompleksitas perbedaan strata hidup antara kaya miskin, bodoh pintar, jahat baik, di antara pemukiman mewah dan kumuh, membuat hari-hari ibu peri yang bernama Lakhsmi tidak enak. Makan salah, tidur juga salah. Tongkat sihirnya menjadi berdebu karena sering terlupakan.
God, Humaniora, Ibu, Keluarga, Spiritualisme, Twilight Zone »
Oleh: Deni Melisa
Malam Natal selalu mengingatkanku padamu, Ibu. Cengkeh yang biasa kau tusukkan di atas kue nastar kita, aromanya menyerebak di dapurmu. Aroma cengkeh itu sudah lama tak mampir ke hidungku. Sudah lama sekali, sejak kau meninggalkanku bergelut di dunia yang fana ini.
Sekarang, yang ada bukan aroma cengkeh, tapi aroma gurihnya ayam panggang. Hidup telah berubah Ibu, masa telah berganti. Meski di malam Natal ini aku tetap bersama orang-orang terkasih, tapi itu bukan kau, bukan Papa, bukan Cici, bukan Koko. Mereka adalah orang-orang yang berbeda dengan cinta yang sama. Mereka …
Have Your Say, Sepocikopiana »
Lesbian yang memiliki anak mengharapkan memiliki pasangan yang bersikap dewasa dan menjadi seorang istri yang berdedikasi untuk mencintai seorang anak. Mampukah lesbian menerima tanggung jawab sebesar itu? Membesarkan anak bukan urusan sepele, namun berliku dan berat. Apakah lesbian hanya menginginkan cinta semanis madu gulali tanpa mengerti nilai tanggung jawab? Dengarkan kisah D’Heart seorang mombian yang berkisah tentang pengalaman hidupnya dengan pasangan perempuannya.
Sepocikopiana, Tentang Cinta »
Oleh: Jacquier de vache
Sosok seorang Mama bagiku, mungkin tidak ada bedanya dari mama yang lain. Yang sangat aku hargai, karena telah melahirkanku ke dunia ini. Tapi sayangnya, aku sering membanding–bandingkan Mama dengan yang lain.
Seandainya, Mama seorang wanita karier, pasti dia tidak akan rempong mengingatkanku kapan harus pulang. Dia tidak ingat waktu yang tepat untuk pulang ke rumah, karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya.Artinya, aku bisa bebas menghabiskan waktuku di luar. Seandainya, Mama seorang perempuan yang gaul dan eksis, pasti dia tidak perlu mengganggu waktuku bertelponan dengan partner, hanya untuk mengajarkannya cara …
FabuLezlyCool, Humaniora »
Oleh: Wasabi
Bagi gue, teman adalah segala-galanya. Sejak gue SMP, gue percaya teman adalah rumah kedua gue. Gue punya kakak dan kakak gue tinggal di luar negeri, mengikuti suaminya. Gue tinggal di kota ini sendirian, nggak memiliki saudara. Kedua orangtua gue tinggal di kota kelahiran gue, nggak mau tinggal bersama gue di kota ini. Jadi teman adalah satu-satunya yang bisa gue andalkan. Kalau gue susah, gue selalu mencari teman untuk bala bantuan.
Humaniora, Tajuk »
Oleh: Nuha Guwa
Ketika aku masih duduk di sekolah dasar, aku paling malas bangun pagi. Namun, ibuku ini selalu sabar membujuk agar aku menghirup udara bersih setiap hari. Dia menemaniku bermain badminton di bawah sinar mentari. Katanya biar tulang-tulangku kokoh dan sekuat baja. Ayahku, beliau selalu mengajakku menyempatkan diri berkunjung ke tetangga kami yang kulit dan statusnya sangat berbeda. Sehingga aku mengenal apa artinya kemuliaan dan toleransi. Mereka memelihara sehelai jiwaku yang masih kecil untuk selalu peduli dengan kepapaan orang lain.
Cuci Mata, Gaya Hidup »
Oleh: Sidney
Di acara kawinan kemarin… Wait. Bukan, bukan kawinan “itu” tapi kawinan adiknya kakak ipar yang berlangsung di taman – I never get pesta taman di Jakarta pada musim hujan ya…. Dengan keribetan perlunya pawang hujan de el el — aku lagi-lagi disadarkan dengan betapa batik sudah jadi pakaian resmi kenegaraan, eh, maksudnya kondangan.
FabuLezlyCool, Humaniora »
Oleh: FlaPuding
Ingat tidak masa-masa kanak-kanak, pra-remaja, dan remaja? Untuk pertama kalinya, orangtua memperkenalkan ruang sekolah kepada kita. Lalu mulai deh, waktu mencapai pubertas, yang namanya jatuh cinta membuat hidup jungkir balik. Bisa dengan teman sekelas, bisa juga dengan teman satu kursus piano, atau tetangga, dan akhirnya kita mengesampingkan pelajaran karena sibuk melamun tentang dia, dia, dia, dan dia. Akibatnya, nilai pelajaran turun semua. Nah, pasti tahu kan apa yang selanjutnya terjadi? Diomelin Papa Mama! Bahkan diancam tidak boleh main keluar setiap malam minggu. Whaaaaat? Huhuhuhu….





