<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; God</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/tag/god/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 02:00:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Kado Natal</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/24/kado-natal/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/24/kado-natal/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 04:10:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[God]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualisme]]></category>
		<category><![CDATA[Twilight Zone]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16897</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Frizzy Jo
Aku tak pernah suka tempat ini, sejak dulu, kemarin, mau pun esok. Tempat ini terlalu ramai dan memusingkan. Terlalu banyak orang di sini. Tua dan muda, pria dan wanita, bahkan abang-abang yang memajang dagangan beraneka produk kelas menengah ke bawah semakin memperparah sakit kepalaku.
Aku terus berjalan dengan wajah lurus menatap ke depan. Seperti zombie, kata teman-temanku yang sering menemaniku melewati tempat ini. Sedikit pun aku tak mengurangi kecepatan langkahku, hingga orang-orang yang memperhatikanku bisa saja menduga kalau aku sedang mengejar copet yang mengambil isi tasku. Aku tak peduli. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/give-thanks.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16903" title="give thanks" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/give-thanks-240x300.jpg" alt="" width="240" height="300" /></a>Oleh: Frizzy Jo</p>
<p>Aku tak pernah suka tempat ini, sejak dulu, kemarin, mau pun esok. Tempat ini terlalu ramai dan memusingkan. Terlalu banyak orang di sini. Tua dan muda, pria dan wanita, bahkan abang-abang yang memajang dagangan beraneka produk kelas menengah ke bawah semakin memperparah sakit kepalaku.</p>
<p>Aku terus berjalan dengan wajah lurus menatap ke depan. Seperti zombie, kata teman-temanku yang sering menemaniku melewati tempat ini. Sedikit pun aku tak mengurangi kecepatan langkahku, hingga orang-orang yang memperhatikanku bisa saja menduga kalau aku sedang mengejar copet yang mengambil isi tasku. Aku tak peduli. Aku hanya ingin pergi dari tempat ini.</p>
<p>“Bu… minta uang, Bu… dari pagi belum makan, Bu… “</p>
<p>Kurasakan ujung kemejaku tertarik. Kutatap mata anak kecil yang menghalangi jalanku. Mata yang bening, penuh harapan. Kontras dengan pakaian dekil yang ia kenakan. Warna rambutnya menguning mungkin karena seringnya terpapar sinar matahari. Seolah tak mau kalah, kulitnya legam tak menyisakan sedikit pun warna terang.</p>
<p>Kuberikan senyum tanda penolakan. Anak itu tetap gigih mengejar langkahku yang semakin bergegas. Kupalingkan wajah, kembali lurus menatap ke depan sambil mematikan semua rasa kemanusiaan yang ada. Banyaknya pengemis palsu di kota ini membuat rasa empati yang ada di diriku semakin lama semakin mati. Anak itu pun menyerah dan mundur untuk mencari “mangsa” yang lain yang lebih bisa peduli dibanding diriku.</p>
<p>Sebentar lagi. Sebentar lagi aku akan meninggalkan tempat ini untuk sementara. Kelegaan hampir menguasai diriku. Aku bersiap melangkah turun dan sempat melirik seorang ibu sedang bersandar lemah. Di depannya terbaring seorang balita kira-kira berusia dua tahun. Balita kurus, mungkin kurang gizi. <em>Another beggar</em>, pikirku. Hatiku tetap teguh, namun entah mengapa bayangan ibu dan balita itu tak bisa lepas dari pikiranku.</p>
<p>Hari itu kuliah berjalan lancar. Sudah jam setengah sepuluh malam. Masih sempat mengejar bus TransJakarta terakhir. Kutarik nafas dalam-dalam, memenuhi rongga dadaku dengan oksigen sebelum mulai melangkah menuju halte terdekat dan menaiki tangga penyeberangan menuju pintu loket  TransJakarta.  Detak jantungku semakin berpacu. Menyebalkan! Selalu seperti ini setiap melewati jembatan laknat di mana pun.</p>
<p>Sambil melangkah, ingatanku kembali melayang ke masa lalu. Masa lalu di mana aku tak perlu bersusah payah berjalan kali dan berusaha keras mengalahkan ketakutanku menyeberangi jembatan terkutuk ini. Seandainya saja Papa tak berutang kartu kredit ke bank. Seandainya saja sejak awal Papa memberitahu kami anak-anaknya kalau ia membutuhkan dana. Seandainya Mama tak jatuh sakit mendengar rumah kami nyaris disita. Dan banyak pengandaian lain yang menari di kepalaku.</p>
<p>Tak ada pengandaian lagi. Semuanya nyata sekarang. Ada di depan mata dan kualami sejak setahun terakhir. Sisa dana di rekening tabunganku sudah habis tak berbekas. Motor kesayanganku pun berpindah ke tangan sepupuku dengan segala keengganan. “Motor ini cuma kugadaikan ya, bukan kujual…” Itu pesanku kepada sepupuku. Dan di sinilah aku. Menua di jalan karena harus mengantri di kemacetan ibukota tercinta, berdesakan di angkutan umum yang pengap untuk melanjutkan perjalanan menuju kantor dan kampus.</p>
<p>“Bu… tolong, Bu… kami belum makan sejak pagi, Bu…” Lamunanku terpotong suara rintihan yang sama dengan yang kudengar pagi ini. Kulihat pemilik tangan yang menarik kemejaku. Bocah yang sama. Tampaknya ia juga mengenali diriku yang pagi tadi diadangnya.</p>
<p>Kuberikan senyum penolakan sekali lagi. Aku harus mempercepat langkah sebelum bus datang dan meninggalkanku. Sambil melangkah, samar-samar aku mendengar percakapan si bocah yang sepertinya anak si ibu yang duduk bersama balita yang kulihat tadi pagi.</p>
<p>“Aku <em>ndak</em> ada dapat duit, Mbok. Gimana ini?”</p>
<p>“<em>Ora opo-opo</em>, Nduk. Kita berdoa saja, nanti pasti ada yang ngasih.”</p>
<p>Langkahku terhenti. Itu percakapan asli, tanpa berjejak kepalsuan. Aku berjongkok, pura-pura membetulkan tali sepatuku yang tak lepas sama sekali.</p>
<p>“Tapi Simbok dan Adek belum makan apa-apa seharian. <em>Mosok </em>cuma minum air putih terus. Kembung nanti.”</p>
<p>“<em>Ora opo-opo</em>, Nduk. Gusti Allah pasti  ngirimi makanan sebelum kita kelaparan. Sabar yo, Nduk.”</p>
<p>“Aku minta kado sama Gusti Allah semalam. Kado makanan. Tapi kok <em>ndak </em>dikabulkan ya? Gusti Allah pasti sibuk ya, Mbok?”</p>
<p>Hatiku tercekat. Sial!!! Kenapa harus ada pengemis palsu sih?! Hingga orang-orang yang benar-benar membutuhkan kena dampaknya!</p>
<p>Kubuka tas ranselku lalu merogoh plastik di dalamnya. Keluargaku masih cukup pangan dan sandang, pikirku. Aku berbalik dan melangkah menuju tempat mereka yang terheran-heran melihatku mendekat. Sang anak melihat kesempatan di depan mata kembali menadahkan telapak tangannya.</p>
<p>“Bu… sedekahnya, Bu…”</p>
<p>Kuletakkan bingkisan natal dari perusahaan tempatku bekerja. Tanpa kata-kata, karena jujur aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tersenyum. Kubelai kepala sang anak sebelum berbalik dan kembali melangkah cepat. Tepat sebelum aku berbelok turun, aku mendengarnya berseru dengan suara melengking.</p>
<p>“Mbok, kita dapat makanan, Mbok! Banyak, Mbok. Ada susu juga buat Adek!!”</p>
<p>“Ya, Gusti Allahhhh, terima kasih, Gustiiii.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kado natalku <em>wis teko,</em> Mbok. Tuhan udah <em>ndak </em>sibuk.”</p>
<p>Itu&#8230; suara <em>malaikat </em>yang mengingatkanku untuk selalu bersyukur.</p>
<p>Kuhapus airmata yang merembes di pipiku. Jembatan penyeberangan ini tak lagi laknat dan terkutuk. Jembatan ini nyata. Menghubungkan diriku dengan rasa syukur. Natal tak lagi penuh dengan keluhan. Natal kali ini penuh rasa syukur, bersyukur karena aku bisa belajar bersabar seperti sang ibu yang menghibur anak-anaknya. Bersyukur karena aku bisa meneladani sikap sang anak yang tak marah karena Tuhan terlambat memberikan hadiah karena kesibukanNYA.</p>
<p>@Frizzy Jo, SepociKopi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/24/kado-natal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Cinta di Pengujung Tahun</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/01/01/catatan-cinta-penghujung-tahun/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/01/01/catatan-cinta-penghujung-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Jan 2011 16:58:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[God]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=9191</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Deni Melisa
Tuhan, malam ini aku dan kekasihku memilih terjaga, mengalir bersama detik-detik yang mengubah tahun demi tahun. Pukul 12 tepatnya, saat kekasihku menggenggam jemariku hangat. Kami menyatu dan haru dalam doa yang kami panjatkan kepada-Mu. Ada harapan yang disampaikan, ada ucapan syukur yang digemakan. Kuharap Engkau berkenan. Kuucapkan juga terima kasih atas penyertaanMu sepanjang tahun yang baru saja kulewati. Terima kasih karena Engkau telah menjadi pandu setia, pelita terang dan penjaga yang tidak pernah terlelap.
Tuhan, aku bersyukur atas kedua bola mata sehat yang telah Engkau berikan kepadaku, sebab saat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/01/little-star.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-9192" title="little star" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/01/little-star-240x300.jpg" alt="" width="172" height="215" /></a>Oleh: Deni Melisa</p>
<p><em>Tuhan, malam ini aku dan kekasihku memilih terjaga, mengalir bersama detik-detik yang mengubah tahun demi tahun. Pukul 12 tepatnya, saat kekasihku menggenggam jemariku hangat. Kami menyatu dan haru dalam doa yang kami panjatkan kepada-Mu. Ada harapan yang disampaikan, ada ucapan syukur yang digemakan. Kuharap Engkau berkenan. Kuucapkan juga terima kasih atas penyertaanMu sepanjang tahun yang baru saja kulewati. Terima kasih karena Engkau telah menjadi pandu setia, pelita terang dan penjaga yang tidak pernah terlelap.</em></p>
<p><em>Tuhan, aku bersyukur atas kedua bola mata sehat yang telah Engkau berikan kepadaku, sebab saat kata amin kuucapkan,  saat mataku yang terpejam kubuka, kembali dapat kulihat parasnya. Terima kasih Tuhan, karena telah memberikan cahaya surga di wajahnya. Hingga, setiap aku melihatnya menatap, setiap memandangnya tersenyum, setiap mendengarnya berucap, seolah melalui semuanya itu, Kau membuat hidupku istimewa.<span id="more-9191"></span></em></p>
<p><em>Kubisikan sekali lagi ke telingaMu ya Tuhan, tentang kata-kata baru saja dia ucapkan kepadaku. Barusan dia berkata,  “ Aku kira aku akan mati memilih jalan ini. Tapi bersama kamu semua terasa indah. Terima kasih ya.”</em></p>
<p><em>Tuhan, perempuan yang Kau tempatkan disisiku itu berhasil membuat hatiku melompat, hidung dan dadaku kembang kempis tak karuan oleh kata-katanya. Bahkan bisakah Kau rasakan bahwa ia baru saja menyulap meja, kursi, tempat tidur dan tumpukan buku di kamarku menjadi bunga.</em></p>
<p><em>Ah, padahal Engkau yang paling tahu Tuhan, bahwa hidupku dengannya tidak seindah yang mereka bayangkan. Dalam kebersamaan kami, tawa dan air mata menjadi bagian yang tak bisa dielakkan. Engkaulah yang paling mengerti kesakitan-kesakitan apa saja yang telah kami kecap sepanjang tahun 2010. Bahkan jari tangan dan kaki ini pun tak akan cukup menghitungnya.</em></p>
<p><em>Karena itulah, kumohon padaMu Tuhan, beritahu pada pasangan lesbian lain yang kini sedang mengalami kesakitan bahwa kehidupan kami pun tidak sempurna dan semanis yang digemakan. Hanya saja, kami ingin  menjadi ahli dalam menyembunyikan kepedihan hidup.  Sedih, derita dan tangis rasanya ingin kami kecap sendiri, kemudian semua kami telan bulat-bulat hingga lenyap, hilang dan tak berbekas. Akhirnya, yang kami bagi hanya bahagia.</em></p>
<p><em>Bukan, bukan maksud kami untuk berbohong. Kami hanya ingin membagi apa yang kami ingin bagi, dan menyimpan rapat apa yang tak perlu diketahui orang. Sebab apalah maknanya perih jika dalam sekejap perih itu lenyap oleh kekuatan cinta? Jadi kupilih untuk membagi kekuatan cinta ini saja supaya semua pasangan lesbian mampu menggengam jemari kekasihnya dengan senyum. Tuhan, bisakah mereka rasakan indahnya dunia lesbian dari kami?</em></p>
<p><em>Jika iya, beritahu mereka Tuhan, bahwa inilah kekuatan cinta. Cinta yang telah Engkau rasuk ke dalam hatiku dan hati semua orang di dunia ini ternyata memiliki kekuatan maha dasyat. Sepanjang tahun 2010 yang baru aku lewati, tak terhitung berapa kali cinta menenangkan hati yang bergemuruh, mendamaikan yang berseteru, memberikan harapan pada jiwa yang rapuh, bahkan menyelamat hidup yang tak berarah.</em></p>
<p><em>Cintalah yang telah begitu banyak menolongku melewati masa-masa sulit yang mestinya tak bisa diatasi dengan kekuatanku sebagai manusia. Entah bagaimana hidupku tanpa cinta? Baik cinta yang kudapat dariMu, dari kekasihku, dari keluargaku, bahkan dari teman dan  sahabat. Semuanya telah menyanggaku hingga berdiri tegak sebagai lesbian yang tak lagi memandang dunia ini kelabu.</em></p>
<p><em>Sekali lagi, bahkan tak bosan kuucapkan Terima kasih padaMu Tuhan, karena Kau telah menabur cinta pada setiap hati sehingga setiap hati yang penuh cinta itu mampu mewarnai dunia. Semoga di tahun yang baru ini, aku dan seluruh kawan lesbian dipenuhi cinta yang tak biasa, cinta yang mewarnai segala sisi kehidupan, cinta yang mengajar, cinta yang mengubahkan dan cinta yang membangun. </em></p>
<p>@Deni Melisa, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/01/01/catatan-cinta-penghujung-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalau Reinkernasi&#8230;</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/12/29/kalau-reinkernasi/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/12/29/kalau-reinkernasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Dec 2010 07:59:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Life]]></category>
		<category><![CDATA[God]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=9155</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: FlaPuding
“Kalau reinkarnasi, kamu mau jadi anak Mama lagi, nggak?”
Deg. Sedetik jantungku berhenti berdetak. Aku kaget dengan pertanyaan ibu. Ini adalah perbincangan ringan di sela makan siangku bersama ibu di sebuah restoran.
Aku dan ibu jarang mempunyai waktu untuk berbagi cerita, tapi tampaknya kami dapat menghabiskan hari Sabtu sore ini untuk berjalan-jalan bersama. Namun tidak terlalu banyak pilihan berbagi cerita akan kucentang di daftar list-ku. Aku adalah anak tunggal, tapi aku lebih cenderung pendiam jika bersama keluargaku. Tak ada yang bisa dan mau aku bagikan kepada mereka. Aku sama sekali tak ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/12/49074.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-9156" title="49074" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/12/49074-300x199.jpg" alt="" width="240" height="159" /></a>Oleh: FlaPuding</p>
<p>“Kalau reinkarnasi, kamu mau jadi anak Mama lagi, nggak?”</p>
<p><em>Deg</em>. Sedetik jantungku berhenti berdetak. Aku kaget dengan pertanyaan ibu. Ini adalah perbincangan ringan di sela makan siangku bersama ibu di sebuah restoran.</p>
<p>Aku dan ibu jarang mempunyai waktu untuk berbagi cerita, tapi tampaknya kami dapat menghabiskan hari Sabtu sore ini untuk berjalan-jalan bersama. Namun tidak terlalu banyak pilihan berbagi cerita akan kucentang di daftar <em>list</em>-ku. Aku adalah anak tunggal, tapi aku lebih cenderung pendiam jika bersama keluargaku. Tak ada yang bisa dan mau aku bagikan kepada mereka. Aku sama sekali tak antusias menceritakan pacarku, karena hal itu tentunya tidak mungkin. Padahal di dalam hati, aku ingin sekali bisa berbagi cerita tentang seseorang yang aku paling sayang dan berarti di hidupku. Kadang aku hanya menceritakan bagaimana teman-teman kampusku yang sayangnya tidak dapat mendukungku, dalam artian mereka merokok dan mengkonsumsi minuman keras, dan aku sama sekali tidak menyukainya. Jadi mereka pun tak dapat kuceritanya kepada ibuku terlalu banyak karena aku takut beliau akan khawatir dengan lingkunganku.</p>
<p><span id="more-9155"></span>Kembali ke ceritaku saat makan siang bersama ibu. Sambil menunggu makanan datang, kami berbincang ringan. Pertanyaan ibu kembali menggema. Karena tak mau menyakiti hatinya yang aku tau begitu tulus mencintaiku, maka aku jawab sekenanya.</p>
<p>&#8220;Iya,&#8221; kataku.</p>
<p>Lalu, setelahnya aku baru berpikir, membayangkan jika benar nanti kami telah tak bersama lagi. Berpisah&#8230; dan tiba-tiba saja mataku berkaca-kaca. Ternyata membayangkannya saja sudah membuatku sedih, walau aku sering kali sebal dengan ibu. Pernah terlintas di benakku pergi dari rumah, jauh dari orang-orang yang kuanggap hanya bisa menghakimi dan menuntut sesuai keinginan mereka tanpa mau mencoba untuk mengerti apa yang aku butuhkan.</p>
<p>Sama seperti yang lain, aku juga ingin menggapai kebahagiaan bersama orang yang aku cintai. Aku mau bisa menghabiskan hari-hariku bersama partnerku yang sekarang ini sedang menuntut ilmu di negeri tirai bambu. Ini adalah semester terakhirnya dan beberapa hari lagi aku akan menyambutnya pulang. Dia akan kembali kepelukanku sampai  tahun 2012. Saat itu, giliranku yang harus meninggalkan kota kelahiranku. Sungguh, kurasa aku belum sanggup meninggalkan ini semua.</p>
<p>Setelah aku mendapatkan pertanyaan seperti itu dari ibu, aku menceritakannya kepada pacarku. Tiba-tiba ia pun tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sama.</p>
<p>&#8220;Kalo hidup sekali lagi nanti, mau jadi pacarku lagi, nggak?”</p>
<p>Pertanyaan ini tidak membuat jantungku berhenti berdetak lagi seperti tadi, tapi malah sebaliknya, hatiku tergelitik dengan pertanyaan itu. Hmm&#8230;.. Semua pasangan yang saling mencintai pasti akan menjawab kata YA dengan lantang. Jelas itu akan dilakukan semua orang bukan? Tapi, kalimatku tidak selesai sampai di situ saja.</p>
<p>&#8220;Mau, tapi baiknya kalau bisa hidup di negara yang melegalkan kita.&#8221;<br />
“Dengan jenis kelamin yang berbeda?”<br />
“Kalo beda, untuk apa mencari negara yang melegalkan kita dong? Kalo kamu?”<br />
“Aku mau aja asal direstui semua orang dan Tuhan”</p>
<p><em>Deg. </em>Aku terdiam sejenak. <em>Direstui semua orang dan Tuhan? </em>Kalimat itu benar-benar menganggu perasaanku. Begitu dalam maknanya, begitu besar keinginan diakui semua orang, ingin direstui, ingin semua orang turut merasakan kebahagiaan atas hubungan yang didasari cinta tulus. Sama seperti hubungan kaum hetero lainnya, yang dapat meraih kehidupan berkeluarga, membangun rumah tangga harmonis dalam naungan Tuhan. Siapa sih yang nggak mau seperti itu? Apakah hanya kaum hetero yang dapat menikmati semua itu? Apakah kita tak bisa merasakan hal yang sama? Kita kan juga manusia, sama seperti mereka. Mengapa tidak dapat perlakuan yang sama? Itu semua pertanyaan yang muncul di otakku.</p>
<p>Walau sulit menjalani hidup seperti ini, tapi tak ada yang mustahil. Maka, jangan sia-siakan waktu yang ada. Semasa muda, berusahalah semaksimal mungkin untuk mencapai impian yang kita harapkan. Jangan menjadi lesbian yang hanya meratapi nasib. Kalau kita membuktikan kita eksis di masyarakat, maka berarti kita adalah sama seperti yang lain. Siapa bilang lesbian tak mampu?  Aku mampu. Setelah itu, jangan lupa menjadi lesbian yang berbakti kepada orangtua karena besar pahalanya di Surga.</p>
<p>@FlaPuding, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/12/29/kalau-reinkernasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmatnya Mencintai Tuhan</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/09/11/nikmatnya-mencintai-tuhan/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/09/11/nikmatnya-mencintai-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Sep 2010 14:29:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualisme]]></category>
		<category><![CDATA[God]]></category>
		<category><![CDATA[opini]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[spiritualisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=8275</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ade Rain
Di luar hari telah lama gelap, namun air mataku masih terus menggenang. Ibadah-ibadah yang rasanya tak seberapa itu seolah kertas-kertas berserakan yang tengah kukaji ulang; mereka telah kuremas, berserakan. Jumlahnya lebih banyak dari kertas rapi yang tersedia, cukupkah ibadah yang kulakukan itu, ya Allah? Aku berdiri di tepian tempat tidur, menarik selimut lebih tinggi ke atas, menutupi seluruh kepala, nelangsa di dalamnya.
Cahaya bohlam terlihat bagai pancaran sinar kotak-kotak kecil di balik selimut. Pikiran tergelincir dari badan, satu per satu mengerubut di sekitarku. Di luar telah hitam pekat seluruhnya, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/bulan.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14137" title="bulan" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/bulan-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Oleh: Ade Rain</p>
<p>Di luar hari telah lama gelap, namun air mataku masih terus menggenang. Ibadah-ibadah yang rasanya tak seberapa itu seolah kertas-kertas berserakan yang tengah kukaji ulang; mereka telah kuremas, berserakan. Jumlahnya lebih banyak dari kertas rapi yang tersedia, cukupkah ibadah yang kulakukan itu, ya Allah? Aku berdiri di tepian tempat tidur, menarik selimut lebih tinggi ke atas, menutupi seluruh kepala, nelangsa di dalamnya.</p>
<p><span id="more-8275"></span>Cahaya bohlam terlihat bagai pancaran sinar kotak-kotak kecil di balik selimut. Pikiran tergelincir dari badan, satu per satu mengerubut di sekitarku. Di luar telah hitam pekat seluruhnya, tak ada lagi anak-anak yang ditemani ayah ibu mereka bermain kembang api yang tadinya mencuat warna-warni di atas langit. Aku rasa takkan sanggup terlelap dengan pikiran-pikiran seperti ini. Kubiarkan jendela tetap terbuka, mengambil bulir-bulir tasbih, menitinya satu per satu.</p>
<p><!--more-->Sebulan lalu, di perdana Ramadan. Sedikit demi sedikit kelalaian orang-orang di sekelilingku dibukakan-Nya. Terlalu banyak pertikaian yang terjadi. Sahabat karibku menemukan kertas tanda terima sebuah pub berikut biaya pramusaji “perempuan” yang harganya dibandrol ratusan ribu di kantong celana suaminya. Mereka ribut besar, sampai-sampai terucap talak.</p>
<p>Suasana teman-teman di sekelilingku berhadapan dengan problema, yang berkonflik dengan teman sekantor, staf yang selama ini menjahati perusahaan tempat ia bekerja akhirnya terkena PHK. Ada yang dicobai dengan pekerjaan lembur yang sangat berat. Di bulan Ramadan ini aku jadi teringat suasana di Tanah Suci, semua amalan langsung dibalas tunai saat itu juga.</p>
<p>Rentetan peristiwa begitu rapat, seolah rumah yang berdampingan di sisi jalan, berdempetan satu sama lain seakan berpegangan tangan. Benar saja, sepanjang hari selama berpuasa apapun amalan yang dilakukan langsung diberi balasan. Sedekah dibalas rezeki, mengumpat dibalas hinaan, bantuan dibalas bantuan… kasih sayang dibalas belas kasih.</p>
<p>Kubenamkan hidung di bawah selimut, makin menenggelamkannya. Kenangan Ramadan itu membuatku tak bisa tidur.</p>
<p>“Semua hal buruk dibukakan Allah Ramadan kali ini.” Tiba-tiba sahabat lesbianku berkata suatu pagi saat kami sama-sama jalan ke kantor. Aku bergeming.</p>
<p>“Aku merasakan yang sama,” kataku terbata. Aku menatap nanar jalanan sibuk. Angkot-angkot melahap badan jalan dengan rakus, seakan yakin kecepatan mereka yang membabi buta itu berarti uang.</p>
<p>“Doa-doa dan amalan baik seperti menunda peristiwa buruk yang akan terjadi,” katanya serius.</p>
<p>“Apa yang terjadi padamu?” Tanyanya lagi ingin tahu.</p>
<p>“Hanya amalam-amalan baik yang langsung dibalas Allah tak lebih dari sehari. Kamu?”</p>
<p>“Teman sekantorku licik, dan kutemukan rahasia-rahasia banyak orang jahat terbuka hingga sepuluh akhir Ramadan. Apa lagi yang terjadi padamu?”</p>
<p>“Di seminggu akhir puasa aku semaput karena pekerjaan. Pernah dua kali aku diuji dengan beragam <em>dead line</em>, dan harus pulang larut malam, kupaksakan mengerjakan Tarawih, karena aku sayang meninggalkannya… terus terang tenaga nyaris tak ada lagi, mataku berat diburu kantuk luar biasa. Aku langsung berdoa dan minta kekuatan dari Allah. Tiba-tiba saja tenagaku pulih dan betapa ringannya melakukan ibadah tersebut hingga Witir terakhir.”</p>
<p>“Apa lagi?”</p>
<p>“Ketika semua orang berharap Lailatul Qadar, aku sungguh malu berharap hal tersebut. Aku sibuk memperbaiki kekhusyukan, dan tak memiliki banyak waktu untuk membaca Al-Quran. Jadi aku malu berharap berkat malam 1000 bulan. Dicintai Allah dengan kelesbianan ini saja aku sudah berbesar hati.”</p>
<p>Dua lesbian terdiam di sepanjang jalan. Memikirkan perbuatan-perbuatan kami sendiri. Jika memang Allah menuruti prasangka hamba-hamba-Nya. Aku memang tidak pernah berprasangka buruk pada Allah. Aku takut berbuat salah atau berbuat hal-hal yang menyakitkan orang lain. Aku takut salah ucap ketika marah, tanganku mulai gemetar ketika azan tiba dan aku masih sibuk bekerja. Rasa waswasku akan kelesbianan ini diketahui orang lain juga sesekali menyergap usai tahajud yang dingin dini hari.</p>
<p>Gema takbir bertalu-talu, tahmid takbir dilafaz syahdu lewat corong mesjid telah berlalu. Kusambut Idul Fitri dengan satu pelajaran penting… tetap memelihara kualitas ibadah, dan tidak berlebihan bersikap sebagai lesbian. Kujalani hal ini sepanjang Ramadan lalu, di bulan yang apapun langsung dibalas tunai oleh Allah. Aibku terpelihara, maluku terjaga, dan sungguh aku ingin dilindungi seperti itu hingga napas berhenti.</p>
<p>Tidak ingat berapa lama aku tertidur, saat terbangun selimut itu telah menjauh, kakiku kedinginan, jam tangan menunjukkan pukul 4.30 pagi, malam yang susah tidur itu sudah berlalu. Kusesap rasa sayang Allah padaku dengan bergegas mengambil air sembahyang. Hari ini lebaran kedua… aku masih terkaget tiada lagi waktu Sahur, memang aku merindukannya. Sama seperti kangenku pada pesan-pesan sahur dan berbuka dari kekasih. Hari ini terbuka untuk perbuatan baik apa pun… kumulai dengan harapan, semoga semua lesbian bisa merasakan nikmatnya mencintai Tuhan. Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin.</p>
<p>@Ade Rain, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/09/11/nikmatnya-mencintai-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saat Berbuka Tiba</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/09/02/saat-berbuka-tiba/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/09/02/saat-berbuka-tiba/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2010 15:50:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualisme]]></category>
		<category><![CDATA[God]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[spiritualisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/2010/09/02/saat-berbuka-tiba/</guid>
		<description><![CDATA[ Oleh: Sebeningembun
Azan magrib baru saja berkumandang. Dengan sukacita kuteguk segelas air putih yang dengan segera membasahi kerongkonganku setelah  seharian kerontang. Seperti tanaman layu yang langsung segar tersiram air hujan, begitu pula rasanya tubuhku kembali bugar. Terima kasih Tuhan&#8230;, saat puasa begini, bahkan air putih pun terasa begitu nikmat. Hari ini masih seperti hari-hari kemarin, tidak ada hidangan berbuka puasa yang meriah, tidak ada es buah, tidak ada kolak atau pacar cina. Hanya air putih di atas meja. Dan entah mengapa, rasanya itu sudah lebih dari cukup.
Sesungguhnya kebahagiaan orang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img style="WIDTH: 178px; HEIGHT: 248px" height="274" alt="Jama Masjid by Faylinn" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/jama_masjid_by_faylinn.jpg" width="225" align="left" /> Oleh: Sebeningembun</p>
<p>Azan magrib baru saja berkumandang. Dengan sukacita kuteguk segelas air putih yang dengan segera membasahi kerongkonganku setelah  seharian kerontang. Seperti tanaman layu yang langsung segar tersiram air hujan, begitu pula rasanya tubuhku kembali bugar. Terima kasih Tuhan&#8230;, saat puasa begini, bahkan air putih pun terasa begitu nikmat. Hari ini masih seperti hari-hari kemarin, tidak ada hidangan berbuka puasa yang meriah, tidak ada es buah, tidak ada kolak atau pacar cina. Hanya air putih di atas meja. Dan entah mengapa, rasanya itu sudah lebih dari cukup.</p>
<p><em>Sesungguhnya kebahagiaan orang yang berpuasa itu ada dua, yaitu saat berbuka dan saat bertemu dengan Tuhannya.</em></p>
<p><span id="more-8199"></span>
<p>Di depanku layar komputer masih berkedip-kedip, setelah sesorean <em>ngabuburit</em> di dunia maya. Mulai acara mengunjungi forum-forum diskusi, melompati beberapa portal berita sembari menyelesaikan beberapa detil pekerjaan kantor yang tertunda. TV juga masih menyala dengan suara lirih hingga memungkinkanku mendengar sayup-sayup lantunan salawat dari masjid di kompleks belakang.</p>
<p>Hanya dua benda, laptop dan TV yang menemaniku kala berbuka. Plus ponsel yang sesekali bergetar menyampaikan ucapan selamat berbuka puasa. Partner masih di kantor. Hari kerja begini sangat sulit buat dia menyempatkan diri menemaniku berbuka puasa. Selain karena tuntutan pekerjaan, jalanan yang macet dan sesak selalu jadi pemandangan rutin di jam-jam pulang kantor menjelang berbuka. Kesempatan menikmati buka bersama partner bisa dihitung dengan jari tangan. Tapi anehnya, tidak sedikitpun terasa sepi.</p>
<p>Aku masih berselonjor menikmati kedamaian. Konon katanya, saat menjelang buka puasa dan saat berbuka adalah waktu terbaik agar doa-doa kita dikabulkan Tuhan. Dan boleh jadi, doa-doa yang dipanjatkan orang-orang itulah yang menguarkan aroma syahdu hingga ke ruang tengah rumah kami. Udara pekat oleh manisnya kedekatan dengan Tuhan.</p>
<p>Sebutir butir kurma yang legit semakin memulihkan tenagaku. Mungkin bukan hanya karena kandungan gizinya yang tak terbantahkan, tapi karena kasih sayang yang terselip di antara susunan kurma tersebut. Awal bulan Ramadan kemarin, seorang sahabat mengirimkan dua kotak kurma, setelah beberapa minggu sebelumnya dia juga mengirimkan penganan untuk menemaniku menyantap hidangan sahur. Tidak ada kalimat yang mampu menerjemahkan perhatian setulus itu kecuali sesuatu yang bernama kasih sayang.</p>
<p>Teringat aku, sepenggal percakapan dengan partner saat menikmati kurma bersama-sama.</p>
<p>“Dik, kurma itu adalah salah satu jenis buah yang menunjukkan kekuasaan Tuhan,” katanya memulai cerita.</p>
<p>“Oh, ya? mengapa begitu A?” tanyaku antusias.</p>
<p>“Lihatlah, bagaimana kuasa Tuhan menciptakan buah kurma. DIA menumbuhkannya di negeri gurun pasir. Di atas bumi yang kelihatan gersang dan sulit mendapatkan air, DIA menumbuhkan tanaman yang menghasilkan buah yang luar biasa: bergizi, manis, mengenyangkan, dan menyimpan ratusan mineral bermanfaat yang tidak kita temukan pada buah lain.”</p>
<p>Aku tersenyum, berbisik lirih. <em>Mahasuci Engkau Tuhan</em>.</p>
<p>Dan hari-hari pekat oleh manisnya kebersamaan.</p>
<p>Mungkin itu sebabnya, untuk ukuran orang yang menikmati ibadah puasa sendirian aku tidak sempat merasa kesepian. Kesibukan partner dengan pekerjaannya di kantor justru membuatku memiliki kuantitas waktu yang cukup untuk meretas kembali jalan menuju Tuhan yang selama ini kubiarkan tak terawat, onak dan duri-duri kemalasan membuatku terseok-seok mengejar banyak ketertinggalan. Seperti sekarang ini&#8230;.</p>
<p>Pikiranku masih melompat ke sana kemari. Meski azan sudah selesai berkumandang, aku masih saja enggan beranjak ke kamar mandi untuk segera berwudu sebelum menunaikan solat magrib. </p>
<p>Dan lintasan kenangan itu muncul lagi&#8230; Televisi yang selama ini tak mempan dikritik karena hanya mampu menayangkan acara yang tak mendidik, di bulan ramadan ini seakan berlomba menjadi sarana penyebar kebaikan. Televisi yang biasa kucibir sinetronnya, kini harus kusyukuri keberadaannya sebagai sumber penambah wawasan, khususnya buat orang-orang sepertiku yang cetek pemahaman agamanya.</p>
<p><em>Sholat itu wajib, tetapi hati harus menemukan alasan agar sholat menjadi khusyuk.</em></p>
<p>Cukup lama aku tercenung, potongan kalimat itu terngiang-ngiang di telingaku. Sebentuk cermin jernih terpampang di hadapanku, memaksa diri untuk menatap jauh ke relung hati terdalam.</p>
<p>Terkadang ada bisikan-bisikan, “Halah, ngapain juga sembahyang kalau kelakuannya kagak bener” atau “Kalau solat cuma sekedar lepas kewajiban dapat apa? Nggak ada rasanya… sama aja dengan yang kagak solat.” Duh… kerjaan siapa sih yang ngebisikin hal-hal begini? syaitan kali, ya? Tapi bukannya syaitan lagi dirantai?</p>
<p>Mungkin aku harus terus mengasah diri, terus mencari alasan-alasan untuk bisa khusuk melaksanakan solat, tidak sekedar melepaskan kewajiban, apalagi sampai mengabaikan kewajiban itu hanya karena tidak menemukan alasan agar menjadi khusuk.</p>
<p>Eh, sebentar&#8230; Aku teringat lagi sesuatu. Tadi sore, saat berselancar di dunia maya, aku sempat membaca <em>timeline</em> di Twitter seorang penulis. Kalau tidak salah begini bunyinya, &#8220;Berpura-puralah menjadi seseorang yang baik selama mungkin&#8211;sampai kau lupa bahwa kau sedang berpura-pura!&#8221;</p>
<p>Aha! mungkin tips ini bisa kuterapkan. Berpura-pura menjadi seseorang yang khusuk solatnya, sampai akhirnya lupa bahwa aku sedang berpura-pura. Atau mungkin berpura-pura lupa bahwa aku seseorang lesbian, agar aku tidak perlu lagi tersaruk-saruk memanggul label lesbian yang membuatku enggan menghadap Tuhan, padahal Tuhan sendiri berjanji bahwa IA Mahapengasih yang tidak akan pernah pilih kasih.</p>
<p>Baiklah, tidak ada salahnya dicoba. Mumpung kesempatan mengumpulkan kekuatan tinggal seminggu lagi, terlalu sayang kesempatan berharga ini disia-siakan. Sebab belum tentu diri ini akan berjumpa dengan Ramadan berikutnya. </p>
<p>@Sebeningembun, SepociKopi, 2010</p>
<p>Ilustrasi <a href="http://faylinn.deviantart.com/art/Jama-Masjid-47428516?q=boost%3Apopular+masjid&amp;qo=35">Jama Masjid</a> by Faylinn, Deviantart.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/09/02/saat-berbuka-tiba/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lagak Lajang: Meredupnya Lampu Jalan ke Surga</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/08/22/meredupnya-lampu-jalan-ke-surga/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/08/22/meredupnya-lampu-jalan-ke-surga/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Aug 2010 05:35:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lagak Lajang]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[God]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[kenangan]]></category>
		<category><![CDATA[spiritualisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/2010/08/22/meredupnya-lampu-jalan-ke-surga/</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh: Oscar A.
Dunia adalah samudra kesulitan, di seberangnya samudra kemudahan. Dalam kesulitan, semuanya terlihat buram. Lampu-lampu temaram, langit berwajah muram, tak ada senyuman selain wajah-wajah penuh rintihan dan meringis. Apa yang kau ingat tatkala kesedihan itu datang? Sakit hati yang sudah berkarat? Kekasih yang seenaknya meninggalkanmu dan menyayatmu perlahan-lahan? Apa yang kau lihat? Air hujan yang menetes dari sudut atapmu yang sudah bocor? Apa yang kau rasakan? Kepedihan yang tiada tara melebihi sakitnya seorang anak yang ditinggal mati kedua orangtuanya? Apa yang kau inginkan? Kekasih berengsek mu itu kembali pada ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img height="168" alt="Before Heaven by TheBroth3R" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/08/before_heaven_by_thebroth3r.jpg" width="225" align="left" /></p>
<p>Oleh: Oscar A.</p>
<p>Dunia adalah samudra kesulitan, di seberangnya samudra kemudahan. Dalam kesulitan, semuanya terlihat buram. Lampu-lampu temaram, langit berwajah muram, tak ada senyuman selain wajah-wajah penuh rintihan dan meringis. Apa yang kau ingat tatkala kesedihan itu datang? Sakit hati yang sudah berkarat? Kekasih yang seenaknya meninggalkanmu dan menyayatmu perlahan-lahan? Apa yang kau lihat? Air hujan yang menetes dari sudut atapmu yang sudah bocor? Apa yang kau rasakan? Kepedihan yang tiada tara melebihi sakitnya seorang anak yang ditinggal mati kedua orangtuanya? Apa yang kau inginkan? Kekasih berengsek mu itu kembali pada dirimu, lalu dengan seenaknya menjajahmu kembali seperti yang lalu-lalu? Bangkitlah, berdirilah lalu berjalanlah.</p>
<p><span id="more-8104"></span>
<p>Sesekali, mungkin sebaiknya kita berdiam dan merenung. Sejenak tinggalkan kesibukan, lupakan deretan rutinitas. Renungkan segala kesulitan yang menimpa atau yang sedang dialami. Kalau pacarmu meninggalkanmu, doakan sajalah dia berbahagia dengan pilihannya. Kalau kondisi keuanganmu sedang berantakan, bersyukurlah artinya kau masih punya uang, meskipun berantakan. Lalu bayangkan, peminta-minta di jalanan, yang mengumpulkan keping demi keping untuk sepiring nasi. Kalau hatimu sedang gundah gulana, lakukanlah hal-hal positif yang bisa mengembalikan mood bahagiamu. Bersepeda, berjalan-jalan di pinggir pantai, menonton DVD di dalam kamar, atau mendengarkan lagu-lagu kesayanganmu. Renungkanlah, karena hidup adalah pergulatan yang panjang, yang tetap harus diarungi sampai titik akhir nafas kita.</p>
<p>Ramadhan sedang melintas di hadapan. Kali ini saya benar-benar khawatir, apakah tahun depan Ramadhan masih mau datang lagi, atau jangan-jangan, diri ini yang sudah tak mampu lagi mendatanginya. Diri ini tak sanggup membayangkannya, karna berlumuran dengan dosa. Saya tak mau membahasnya panjang-panjang karena harusnya kita tahu dosa apa yang saya maksud.</p>
<p>Biru sedang mewarnai langit, tapi yang saya lihat adalah kelabu yang sedang bertahta. Sebelum wudhu&#8217; ternoda, cepat-cepat saya bergegas memasuki halaman mesjid dan menghentikan lamunan tak berjudul itu.</p>
<p>Di dalam mesjid, sajadah tak bertuan lebih banyak jumlahnya daripada yang bertuan. Ini sudah lumayan banyak, dibanding hari-hari selain Ramadhan. Segera saya ambil mukena dan sajadah, menghadapkan diri sepenuhnya kepada pemilik jiwa dan raga dan mempasrahkan semuanya kepada Dia sang Pencipta.</p>
<p>&#8221;Nak, pakai mukenanya, sayang.&#8221; Seorang Ibu sedang menasehati anaknya di sebelah saya.</p>
<p>&#8221;Mama, Najwa mau pakai peci aja kayak Papa. Papa kan solat pake peci,&#8221; jawab sang bocah kepada Ibunya.</p>
<p>Dag dig dug dag dig dug, mata saya berpapasan dengan Ibu si bocah ini. Oh, Tuhan, perempuan cantik ini tersenyum lalu menjawab anaknya sambil menyorongkan mukena ke kepala si bocah dengan penuh kasih sayang.</p>
<p>&#8221;Najwa itu perempuan dan Papa itu laki-laki. Kata Allah, perempuan itu tidak boleh menyerupai laki-laki, sayang.&#8221;</p>
<p>PLAK! Tamparan mengenai tepat kedua pipi saya. Oke, hentikan ini semua. STOP. Saya tak tahan, saya ingin menjerit, saya ingin menangis di sini, di rumah Tuhan yang mulia ini. Ingin saya bersujud semalaman di sini, lalu mengguncang-guncang bahu Tuhan dan mencari jawaban atas ini semua. Astaga, sombongnya saya! Memangnya Tuhan mau menerima saya?</p>
<p>Entahlah, hari ini saya tidak sedang memikirkan masa depan duniawi, melainkan memikirkan masa depan akhirat saya. Mukena masih menjerat tubuh saya, dan saya terpekur atas ucapan perempuan cantik di sebelah. Mata saya mulai berair, dan berharap semoga saya tidak benar-benar bercucuran air mata di sini. Ya, bayangan itu muncul lagi, diri ini yang berlumuran dosa. Hitam dan putih seolah-olah menarik-narik tangan kanan dan kiri saya. Dan harusnya, saya tidak perlu terjerat di ranah abu-abu ini.  Ah, tiba-tiba, perjalanan ini terasa semakin berat saja. Karena, lampu menuju surga, meredup sepanjang jalan ini.</p>
<p>@Oscar A., SepociKopi, 2010.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/08/22/meredupnya-lampu-jalan-ke-surga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>28</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TAJUK: Syukur dan Kita</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/08/10/tajuk-syukur-dan-kita/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/08/10/tajuk-syukur-dan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Aug 2010 13:54:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Tajuk]]></category>
		<category><![CDATA[God]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=8032</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nuha Guwa
“Sudah cukupkah mengeluhmu hari ini?” Sejak berangkat kerja hingga tiba di kantor, kita berhadapan dengan banyak hal untuk mengeluh soal beragam hal. Mulai cucian yang nggak kering, ongkos ojek yang suka-suka dinaiki tukang ojek mumpung Ramadan harga sembako sedang gila-gilaan, kurang tidur malam tadi karena BBM bunyi terus, pacar yang nggak perhatian, capek, pusing, sakit mata, gatal-gatal, sampai be-a-be nggak lancar. Walah! Manusia punya mulut, mulutnya seribu kalau sudah mengeluh, mengomeli harga barang yang makin mahal, penghasilan kecil, negara yang makin kacau, tentang resesi ekonomi, bencana.
Selagi masih di ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-8034" title="poci" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/08/poci.jpg" alt="poci" width="200" height="133" />Oleh: Nuha Guwa</p>
<p>“Sudah cukupkah mengeluhmu hari ini?” Sejak berangkat kerja hingga tiba di kantor, kita berhadapan dengan banyak hal untuk mengeluh soal beragam hal. Mulai cucian yang nggak kering, ongkos ojek yang suka-suka dinaiki tukang ojek mumpung Ramadan harga sembako sedang gila-gilaan, kurang tidur malam tadi karena BBM bunyi terus, pacar yang nggak perhatian, capek, pusing, sakit mata, gatal-gatal, sampai be-a-be nggak lancar. Walah! Manusia punya mulut, mulutnya seribu kalau sudah mengeluh, mengomeli harga barang yang makin mahal, penghasilan kecil, negara yang makin kacau, tentang resesi ekonomi, bencana.</p>
<p>Selagi masih di ruang privasi mengeluh memang wajar, tapi sadar atau tidak sebenarnya mengeluh merupakan ciri tipis tidak adanya rasa syukur. Seorang pakar kejiwaan mengatakan bahwa keluhan itu sebenarnya sangat berbahaya, karena sanggup membuat membuat orang lupa dan buta akan kondisi yang sebenarnya. Misalnya, kalimat-kalimat macam ini: “Ah, gajiku sih kecil&#8230; Ah, biasa saja&#8230; Rumahku-kan gubuk, lain dengan rumahmu&#8230; Ayo kita makan seadanya &#8230;” menjadi bagian dari budaya kita, untuk merendah, tidak sombong, tetapi yang jadi masalah adalah kalau omongan ini terlalu sering diucapkan sehingga kita tidak lagi bisa membedakan antara hanya basa-basi dengan yang sebenarnya yang dirasakan.<span id="more-8032"></span> </p>
<p>Padahal sebenarnya, tidak ada suatu apa pun di dunia ini yang diciptakan Tuhan sia-sia. Barangkali kita tidak sadar, bahwa dengan mengeluh muncul kesan kurang bersyukur. Menurut kacamata psikologi, rasa tidak bersyukur sering kali muncul akibat pikiran terkosentrasi pada “apa yang diinginkan”, bukan pada &#8220;apa yang dimiliki&#8221;, dengan demikian membuatakan mata untuk melihat apa yang hakiki, yang nyata di depan mata.</p>
<p>Katakanlah kita telah memiliki rumah, kendaraan, pekerjaan tetap, dan pasangan yang baik. Tapi masih merasa kurang. Pikiran dipenuhi beragam target dan keinginan. Hasrat begitu terobsesi memiliki rumah besar dan indah, mobil mewah, serta pekerjaan yang mendatangkan lebih banyak uang. Kita ingin ini dan itu, bila tak mendapatkannya maka pikiran akan terus memikirkannya. Lama-lama mengabaikan rasa bersyukur tadi.</p>
<p>Seorang psikolog merumuskan cara sederhana untuk bersyukur, yakni hanya dengan memusatkan perhatian pada “sifat-sifat baik orang lain”, dimulai dari orang terdekat, pasangan, kerabat, teman hingga orang-orang di sekitar kita. Dengan memikirkan apa yang baik dari mereka maka jiwa mengadaptasi dengan kekurangan-kekurangan apa pun, sehingga kita memaklumi kekurangan dan kelebihan siapa saja.</p>
<p>Tanpa disadari pikiran positif ini mencerminkan kualitas hati yang secara tidak langsung menjadikan kita pribadi menyenangkan buat orang lain. Dengan syukur terpancar rasa damai, tentram dan bahagia. Sebaliknya, perasaan tak bersyukur so pasti beban, kurang nyaman, dan berkesan tidak bahagia. Bersyukur berarti kita dapat menikmati apapun yang dimiliki. Tentunya boleh-boleh saja memiliki keinginan lebih, tapi perlu disadari bahwa terlalu banyak keinginan merupakan akar perasaan tidak tenteram. Cobalah lihat sekeliling, pikirkan yang sudah kita miliki, tinggalkan aktivitas membanding-bandingkan, sesapi nikmat hidup yang sudah ada tersebut. Bersyukur bahwa ternyata kita memang belum siap memiliki segala sesuatu yang diinginkan. Seandainya sudah, apalagi yang diinginkan?</p>
<p>Bersyukur juga apabila tidak tahu sesuatu, karena hal ini memberi kesempatan untuk belajar. Bersyukur di masa-masa sulit, karena keadaan tersebut membuat jiwa tumbuh lebih matang. Bersyukur atas keterbatasan, karena hal ini memberi kesempatan untuk berkembang. Bersyukur untuk setiap tantangan baru, karena membangun kekuatan dan karakter. Bersyukur untuk kesalahan yang dibuat, sebab mengajarkan pelajaran yang berharga di kemudian hari. Bersyukur memang mudah mengatakannya namun sangat sulit dilaksanakan.</p>
<p>Barangkali momen masuknya bulan Ramadan dapat dijadikan sebagai bagian dari pelaksanaan upaya bersyukur tadi. Hakekat menahan lapar dan dahaga menjadi tolak ukur kesyukuran kita terhadap rezeki yang sudah diturunkan-Nya. Sementara menahan amarah, menafikan iri hati, mengabaikan rasa sombong, merupakan salah satu jalan untuk membersihkan hati . Bagi yang tidak melaksanakan ibadah puasa, barangkali bulan ini cocok menjadi bulan toleransi, bulan kasih sayang di mana keluhan atas segala macam keluhan dihentikan.</p>
<p>@Nuha Guwa, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/08/10/tajuk-syukur-dan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Tak Bersyarat</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/04/11/cintatakbersyarat/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/04/11/cintatakbersyarat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Apr 2010 01:22:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualisme]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[God]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[spiritualisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=6745</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: De Ni
Apakah kita semua, benar-benar tulus
Menyembah pada-Nya
Atau  mungkin kita hanya takut pada neraka
Dan inginkan surga*
Lelaki setengah baya  itu  baru saja kembali dari mimbar gereja. Wajahnya tersenyum bahagia seiring dengan senyum para jemaat gereja yang  mengembang karena kesaksiannya. Ya, sebuah kesaksian yang dilafalkannya dengan  semangat yang luar biasa di hadapan puluhan jemaat. Lelaki itu baru saja luput  dari sebuah penipuan. Seminggu yang lalu ia baru saja gagal menjual mobilnya karena  sang pembeli lebih berminat membeli mobil tetangganya. Padahal saat itu ia  sangat membutuhkan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-6750" title="Unconditional_Love_by_bypass2020" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/04/Unconditional_Love_by_bypass2020-200x300.jpg" alt="Unconditional_Love_by_bypass2020" width="200" height="300" />Oleh: De Ni</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Apakah kita semua, benar-benar tulus<br />
Menyembah pada-Nya<br />
Atau  mungkin kita hanya takut pada neraka<br />
Dan inginkan surga*</em></p>
<p style="text-align: justify;">Lelaki setengah baya  itu  baru saja kembali dari mimbar gereja. Wajahnya tersenyum bahagia seiring dengan senyum para jemaat gereja yang  mengembang karena kesaksiannya. Ya, sebuah kesaksian yang dilafalkannya dengan  semangat yang luar biasa di hadapan puluhan jemaat. Lelaki itu baru saja luput  dari sebuah penipuan. Seminggu yang lalu ia baru saja gagal menjual mobilnya karena  sang pembeli lebih berminat membeli mobil tetangganya. Padahal saat itu ia  sangat membutuhkan uang untuk membiayai anaknya yang berada di rumah sakit.  Tapi untunglah, sebab kalau saja mobil itu jadi dibeli oleh sang pembeli,  maka lenyaplah harapan lelaki itu untuk bisa membayar rumah sakit anaknya  karena ternyata sang pembeli mobil membayar mobil yang dibelinya dengan sebuah  cek kosong. “Saya bersyukur, mungkin kalau waku itu jadi menjual mobil  kepada orang itu, maka mobil saya akan hilang begitu saja. Tuhan benar-benar baik,  dan tidak pernah meninggalkan umat-Nya.”<span id="more-6745"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Seluruh jemaat bertepuk tangan mengiringi hingga ia  kembali duduk di bangkunya. Hanyalah aku yang datar. Bukan, bukan karena aku  tidak mengakui kebesaran penyertaan dan pertolongan Tuhan, atau  karena  aku meragukan kesaksiannya. Sungguh, aku pun salut padanya karena ia menyadari pertolongan yang dialami dalam hidupnya semua berasal dari Tuhan. Tentu saja hal ini luar biasa, karena  di dunia ini ada begitu banyak orang yang berulang kali ditolong Tuhan,  namun tidak pernah mau mengakui bahwa pertolongan yang terimanya berasal dari  Tuhan. Hanya saja, percakapan yang sempat aku lakukan dengannya minggu lalu membuat  otakku berpikir dengan keras.</p>
<p style="text-align: justify;">Minggu lalu aku bertemu dengan lelaki itu, dia  sedang duduk disebuah kedai kopi pinggir kali. Aku yang kebetulan disuruh mami  membeli terasi di kedai itu sempat melemparkan senyum kepadanya.  Lelaki  itu hanya membalas senyumku tipis dan membuka percakapan setelah ia mereguk segelas kopi hitam.</p>
<p style="text-align: justify;">“Emang nasib gue sial Den. Ini nih yang bikin gue  males ke gereja. Tuhan mah nggak sayang sama gue. Orang udah mau beli mobil gue  nih, eh pake nggak jadi lagi, malah dia beli mobil Pak Surya yang udah jelas  kaya raya. Sial banget!!! Gimana gue bisa bayar biaya rumah sakit anak gue? Apa  Tuhan tuh nggak punya perasaan yah.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ssssttt. Jangan ngomong gitu pak.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Emang iya kok. Tuhan emang nggak sayang sama gue.  Percuma gue rajin ke gereja. Hidup gue <em>ngebelangsak </em>aja. Tuh si Erick nggak  pernah ke gereja, nggak pernah ke masjid, tapi hidupnya senang-senang aja. Malah  bisa <em>ngempanin </em>bininya yang sekarang jumlahnya udah tiga. Mungkin lebih baik  jadi orang kafir kali yah.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya ampun pak. Jangan ngomong begitu.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Halah, gue udah males percaya Tuhan Den. Lu bilang  aja tuh ke bapak lo, gue udah nggak mau ke gereja. Tuhan udah jelas nggak sayang  sama gue. Nggak mau nolong gue. Dari kecil gue susah, dan baru aja gue punya  mobil udah mau dijual lagi, eh sekalinya ada yang beli malah pembelinya  diambil orang, sial!!”</p>
<p style="text-align: justify;">“Pak, jangan berpikir begitu pak.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Udahlah, elo masih muda nggak tahu apa-apa.”</p>
<p style="text-align: justify;">Lelaki itu menghirup kopinya sekali lagi. Aku  mencoba tersenyum, tapi kegetiran hatiku hampir saja membuat aku menangis, namun untung  otakku segera menyuruhku pulang.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Jika surga dan neraka tak pernah ada<br />
Masihkan kau bersujud  kepada-Nya<br />
Jika surga dan neraka tak pernah ada<br />
Masihkah kau  menyebut nama-Nya*</em></p>
<p style="text-align: justify;">Sikapnya minggu lalu dan minggu ini sungguh jauh  berbeda. Minggu lalu lelaki itu menjadi seorang yang begitu marah dan membenci  Tuhan, tapi minggu ini lelaki itu menjadi orang yang begitu mencintai Tuhan dan  memuja Tuhan. Kalau boleh jujur, sebenarnya aku merasa tak nyaman juga  mendengar kesaksiannya. Lelaki itu bisa begitu bangga menceritakan pertolongan  Tuhan seolah apa yang ia kerjakan sedang membuat hati Tuhan senang, tapi  pernahkah dia berpikir bahwa semua makiannya minggu lalu sungguh melukai Tuhan?</p>
<p style="text-align: justify;">Sikap lelaki itu disebut dengan <em>conditional love</em>, yaitu cinta yang ditentukan oleh kondisi. Jika kondisinya menyenangkan  maka dia bisa begitu mengasihi Tuhan namun jika kondisinya tidak menyenangkan dia  bisa mengutuki Tuhan. Perubahan kasih itu bisa terjadi begitu cepat seriring  dengan cepatnya perubahan kondisi hidup seseorang. Jadi antara makian dan  pujian memiliki perbedaan yang sangat tipis. Dari mulut bisa megeluarkan  pujian, namun dari mulut yang sama pula dengan sekejab bisa menjadi cacian. Kasih yang ditentukan oleh kondisi ini sering membutakan mata kita untuk mencari  hikmah dalam setiap ujian yang kita alami. Kadang kita menganggap Tuhan sebagai penjahat yang telah merampas hak kita, padahal apa yang sedang Tuhan  lakukan sesungguhnya justru untuk menolong kita. Analoginya, kita memukul dan  memaki-maki dengan kasar orang yang membuang makanan kita ke tempat sampah, padahal tindakan yang ia lakukan adalah untuk menolong kita karena makanan itu mengandung racun.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukankah lebih baik kita menjadi orang yang mampu  mengekang diri dan tidak buru-buru mengeluarkan makian kepada Tuhan? Bayangkan  kalau sebagai lesbian kita terburu-buru memaki Tuhan karena keberadaan kita  sebagai lesbian, lalu dengan sekejab makian itu berubah jadi pujian karena kita mendapat partner lesbian yang cantik. Tuhan itu bukan buku harian yang di atasnya kita bisa menulis caci maki, lalu dengan sekejap menulis puisi  cinta. Tuhan memang pemurah tapi Tuhan tidak murahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jadi sangat menyedihkan jika Tuhan  dalam  segala keagungan-Nya baru bisa disanjung hanya jika ia melakukan hal baik dalam hidup kita. Bukankah sangat tidak  pantas jika kita memberikan cinta bersyarat kepada Tuhan yang mencintai kita  tanpa syarat. Bayangkan apa jadinya jika Tuhan mencintai kita dengan cinta  yang bersyarat? Hanya memberikan nafas kepada umat yang menyenangkan hati-Nya  dan menghentikan nafas semua umat yang melukai hati-Nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Penyembahan kepada Tuhan mestinya berasal dari hati  yang tulus. Dari cinta yang tidak beralasan. Memang ini adalah fase cinta  tertinggi yang hanya bisa dimiliki oleh orang-orang yang menjalankan agamanya  bukan dengan paksa dan rutinitas, melainkan dengan sebuah penghayatan. Tapi,  kalau kita bisa menjawab “Aku mencintainya karena aku mencintainya.” kepada  orang yang bertanya kepada kita tentang mengapa kita mencintai partner,  tentulah kita mengerti konsep cinta ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah lagu dari Chrisye yang berjudul “Jika Surga  Dan Neraka Tak Pernah Ada” sungguh telah mengkritisi kita tentang bagaimana  kita harus menyembah Tuhan, bukan karena kerinduan akan adanya surga dan  ketakutan akan adanya neraka, tapi karena kita benar-benar mengasihi Tuhan dengan  tulus. <em>Unconditional love</em> yaitu cinta yang tidak bersyarat, cinta yang tidak ditentukan oleh situasi dan kondisi.  Saat Tuhan mengijinkan kita mengalami berbagai ujian kita tidak menjadi orang  yang memaki, menyalahkan dan mengkambing hitamkan Tuhan. Cinta kita tetap  sama, baik waktu kita ditolong maupun saat kita mengalami cobaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepada sahabat lesbian aku tidak pernah bosan untuk  menulis tema-tema tentang spiritualitas , karena sebagai manusia kita sering kali hanya  berfokus pada hal-hal besar yang bisa Tuhan kerjakan, tanpa menyadari hal-hal  besar itu justru telah dikerjakan-Nya tiap saat dalam hidup kita. Perhatikanlah  tubuhmu, kalau kita bisa berjalan, berlari, memegang dan beraktifitas itu adalah tanda  bahwa hal besar telah Tuhan kerjakan. Taruhlah tanganmu di dada dan rasakan sebuah  ritme denyut jantungmu, kalau jatung itu masih berdetak berarti Tuhan telah  melakukan pekerjaan besar, dan sadarilah bahwa hari ini kita bernafas juga adalah  tanda bahwa Tuhan sudah melaklukan perkerjaan besar dalam hidup kita. Dan  semua itu Tuhan kerjakan karena cinta-Nya yang tidak bersyarat.  Jadi  masihkah kita mencintai Tuhan dengan cinta yang bersyarat?</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Bisakah kita semua<br />
Benar-benar sujud sepenuh hati<br />
Kar`na sungguh  memang Dia<br />
Memang pantas disembah<br />
Memang pantas dipuja</em></p>
<p style="text-align: justify;">@De Ni, SepociKopi, 2010</p>
<div style="text-align: justify;">*Lirik &#8220;Jika Surga Dan Neraka Tak Pernah Ada&#8221; oleh Chrisye</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/04/11/cintatakbersyarat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerita-cerita Kematian</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/01/20/cerita-cerita-kematian/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/01/20/cerita-cerita-kematian/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 09:16:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualisme]]></category>
		<category><![CDATA[God]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[suicide]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=5722</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Zetha Septina Abdu
Tiket Sancaka Jogja-Surabaya kuremas keras, kereta tumpanganku baru berangkat besok pagi. Aku berdiri tepat di sebelah kereta api Prambanan Ekspres. Begitu menyadari kereta itu tidak segera beranjak melanjutkan perjalanan menuju Solo, menunggu orang-orang yang bergegas memburunya, aku meloncat melintasi badan kereta. Tak kalah bergegas, aku mencari tempat duduk di ruang tunggu. Terkadang di antara keriuhan orang-orang, manusia dapat menemukan sisi paling sunyi dari dirinya, paling tidak hal itu berlaku bagiku.
Aku menekan perasaan, berusaha mengelak untuk menjadi sentimentil. Ada banyak yang bisa dikenang dari stasiun Tugu selain hal-hal ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-5723" title="Under_The_Rose_by_Juli_SnowWhite" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/01/Under_The_Rose_by_Juli_SnowWhite.jpg" alt="Under_The_Rose_by_Juli_SnowWhite" width="192" height="192" />Oleh: Zetha Septina Abdu</p>
<p>Tiket Sancaka Jogja-Surabaya kuremas keras, kereta tumpanganku baru berangkat besok pagi. Aku berdiri tepat di sebelah kereta api Prambanan Ekspres. Begitu menyadari kereta itu tidak segera beranjak melanjutkan perjalanan menuju Solo, menunggu orang-orang yang bergegas memburunya, aku meloncat melintasi badan kereta. Tak kalah bergegas, aku mencari tempat duduk di ruang tunggu. Terkadang di antara keriuhan orang-orang, manusia dapat menemukan sisi paling sunyi dari dirinya, paling tidak hal itu berlaku bagiku.</p>
<p>Aku menekan perasaan, berusaha mengelak untuk menjadi sentimentil. Ada banyak yang bisa dikenang dari stasiun Tugu selain hal-hal cengeng. “Ahay, di tempat macam ini apa lagi yang bisa kau temukan, wahai anak muda?”</p>
<p><span id="more-5722"></span>Perasaanku protes. Perasaan kurang ajar ini rupanya menantangku. Wahai perasaan, akan kukisahkan padamu tentang Amir Sjarifuddin. Sementara regu tembak bersiap menyikat habis nyawanya, bekas Perdana Menteri Indonesia itu sempat menghabiskan jam-jam terakhir hidupnya dengan duduk-duduk di bangku tunggu ini.</p>
<p>“Lalu menurutmu bangku satasiun Tugu membikin Amir Sjarifuddin masih memikirkan tudingan pemberontak yang ditempelkan begitu saja pada jidadnya? Atau mengenang bagaimana ia melawan fasisme Jepang?” Ah, perasaanku menanyakan hal yang barangkali hanya diketahui oleh Amir Sjarifuddin dan (mungkin) Tuhan. Dari apa yang dituturkan Gie, aku cuma tahu bahwa Amir Sjarifuddin membaca <em>Romeo and Juliet</em>-nya William Shakespeare dalam gerbong kereta yang mengangkutnya menuju Jogja. Tempat eksekusi kematian Amir Sjarifuddin.</p>
<p>Dari koleksiku mengenai sekumpulan kisah anggun tentang kematian, aku mengenang Amir Sjarifuddin sebagaimana mengenang Charles Brook Jr.. Meletakkan bagian <em>Romeo and Juliet </em>sama persis dengan sisi romantis dari kematian tragis Brook. Sebagai seorang terpidana mati yang pertama kali dieksekusi dengan suntikan, Brook menghadapi kematiannya dengan begitu tenang. Di samping ranjang eksekusi, kekasih Brook, Vanessa Sapp menemaninya. Kalimat terakhir diucapkan Brook dengan mengulum senyum tipis pada Vanessa, “Aku cinta padamu.”</p>
<p>“Nah, sekarang kau malah mengksploitasi kematian dengan mengambili sisi-sisi cengengnya!” Perkataan perasaanku makin menjengkelkan. Ya, baiklah wahai perasaan, aku menyerah. Jika kondisi ruwet yang kualami menjadikanku sentimentil, mari kita anggap sebagai kewajaran, manusia pada umumnyalah!   Silahkan kau merayakan sentimental berlebih, tapi tentu saja aku yang mengatur tata cara perayaan itu. Menatanya sebagai mana lagu-lagu reggae, isi lagu boleh saja sedih menghiba, namun alunan musik tetap saja: ceria! <em>Woyo</em>….</p>
<p>Keruwetan keadaan bermula ketika satu malam sebelumnya seorang kekasih menelepon. Tepat saat aku sampai pada sebuah fragmen di mana Otoko bunuh diri. Otoko menjejalkan obat tidur ke dalam mulutnya dengan dosis berlebih, usianya waktu itu 17 tahun. Dua bulan sebelum berencana bunuh diri, Otoko kehilangan bayinya. Ibunya yang memaksa Otoko untuk secepat mungkin meninggalkan Oki, laki-laki beristri sekaligus ayah mendiang anaknya, kian membulatkan niat Otoko. Aku membayangkan perasaan Otoko, bahwa ia sudah tak punya lagi alasan untuk hidup. Sepenggal fragmen itu aku dapati dalam<em> Utsukushisa To Kanashimi</em>, dalam bahasa Inggris menjadi <em>Beauty and Sadness,</em> karya Kawabata. Ketika buku baru menjelma sebagai barang yang mustahil di akhir bulan, bagiku buku itu selalu saja menjadi sasaran empuk untuk dieksploitasi berulangkali.</p>
<p>Lima menit telepon genggam yang menempel di telingaku cuma menyampaikan dengung halus. Jeda waktu yang mungkin dibutuhkan kekasihku sebelum pada akhirnya dia berteriak histeris, “Aku mau bunuh diri saja!”. Sudah sering kali aku membaca dan mendengar masalah klise yang diidap lesbian: <em>dipaksa menikah! </em>Sekarang ketika kekasihku mengalami hal serupa, aku jadi gagap, sumpah! Apalagi hal ini pula yang rupanya menjadi musabab keinginan kekasihku untuk bunuh diri.</p>
<p>Ketika Onoko sudah menenggak obar tidur dengan dosis berlebih, ibu Onoko berhasil menyelamatkan nyawanya, bahkan berinisiatif memanggil Oki. Bisa jadi ibu kekasihku mampu menggagalkan aksi bunuh diri kekasihku, tapi memanggilku demi mengobati hati anaknya? Entah dari mana datangnya keyakinanku. Pastinya, aku yakin ibu kekasihku lebih bisa memaafkan laki-laki seperti Oki, seandainya kekasihku dihamili laki-laki beristri. Ketimbang memaafkan perempuan yang mustahil menghamili, namun ternyata menjerat hati anak perempuannya.</p>
<p>Sampai pada saat meremas tiket Sancaka, aku masih tak tahu apa yang seharusnya kulakukan. Cuma terpikir segera menuntaskan hasrat menginjakkan kaki di Surabaya, menemui kekasihku. Mengajaknya kabur mungkin? Tapi kabur sama pengecutnya dengan tindakan bunuh diri. Ah!</p>
<p>Kilasan-kilasan kisah kematian menghantami otakku. Aku mulai mengumpulkan kematian yang kuangap sexy. Socrates menengak racun dengan tenang, namun sebelum meregang nyawa ia sudah memastikan Plato sebagai penerusnya. Tapi, apa yang bakal ditingalkan kekasihku setelah meninggal selain kepedihan? Dalam sebuah novelnya,<em> Veronica Decided to Die</em> &#8211; Paulo Coelho menulis: ‘selalu ada jarak antara niat dan tindakan’. Dikisahkan bahwa Veronika dengan amat sempurna menyiapkan rencana bunuh diri. Hari, jam, dan bagaimana cara Veronika bunuh diri sudah dipilah dengan matang. Tapi pada akhirnya, Veronika tidak jadi bunuh diri. Jarak yang tercipta antara niat untuk bunuh diri dengan eksekusi membuat Veronika berpikir.</p>
<p>Aku memutuskan untuk mengisi ‘jarak’ yang dipunyai kekasihku dengan kumpulan kisah kematian yang sudah kupilah. Kekasihku boleh mati, tapi tidak dengan cara yang (benar-benar) menyedihkan. Menyuntikkan kata-kata pada otaknya, mengabarkan tentang amat disayangkannya semangat orang-orang yang pupus dijemput kematian. Pada akhirnya aku harus membiarkan kekasihku sendirian. Memilih dan mengatakan bahwa dalam hidup selalu ada jalan dengan mulutnya sendiri. Paling tidak, kekasihku akan belajar hal bernama konsekuensi atas pilihan yang diambilnya sendiri.</p>
<p>Aku merobek tiket di tanganku. Nanti malam akan kukabarkan pada kekasihku tentang kumpulan kisah kematian koleksiku. Pun perasaanku. Samar aku merasakan perasaanku tersenyum tipis, mungkin sinis. Entahlah.</p>
<p>@Zetha Septina Abdu, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/01/20/cerita-cerita-kematian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>If You’ll Die Today</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/01/09/if-youll-die-today/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/01/09/if-youll-die-today/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 Jan 2010 15:38:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[God]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[kematian]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[spiritualisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=5545</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: De Ni
Bukankah kita semua mengakui bahwa waktu berjalan begitu cepat? Baru kemarin aku tiba di muka bumi, bugil, menangis kencang, dan mencari puting susu ibuku. Baru kemarin aku berlari kesana kemari bertelanjang dada dan hanya menggunakan kolor bergambar Popeye. Baru kemarin kakiku bergetar saat memasuki lapangan sekolahku, hari pertama aku sekolah di SD yang sederhana, saat itu aku masih menggenggam tangan ibuku erat. Baru kemarin aku disebut ABG. Dan baru kemarin aku dipanggil dengan sebutan “adik” saat berbelanja di warung.
Seperti kilat, kini semua berubah. Kita, yaitu aku dan kamu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-5546" title="poci" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/01/poci1.jpg" alt="poci" width="170" height="145" />Oleh: De Ni</p>
<p>Bukankah kita semua mengakui bahwa waktu berjalan begitu cepat? Baru kemarin aku tiba di muka bumi, bugil, menangis kencang, dan mencari puting susu ibuku. Baru kemarin aku berlari kesana kemari bertelanjang dada dan hanya menggunakan kolor bergambar Popeye. Baru kemarin kakiku bergetar saat memasuki lapangan sekolahku, hari pertama aku sekolah di SD yang sederhana, saat itu aku masih menggenggam tangan ibuku erat. Baru kemarin aku disebut ABG. Dan baru kemarin aku dipanggil dengan sebutan “adik” saat berbelanja di warung.</p>
<p>Seperti kilat, kini semua berubah. Kita, yaitu aku dan kamu disebut sebagai perempuan dewasa. Dari kita telah banyak dituntut tanggung jawab. Kita telah mandiri, keluar dari kepak sayap ibunda dan kegagahan ayah. Kita adalah kita sekarang dengan segala pengalaman, pahit, manis, duka dan suka. Kita adalah kita sekarang dengan segala rutinitas.</p>
<p><span id="more-5545"></span>Oleh karena itu, rasanya perlu kita mengambil waktu sejenak untuk keluar dari semua rutinitas. Sebab tanpa perenungan yang dalam terhadap hidup, maka rutinitas akan berubah menjadi sel kanker yang menggerogoti tubuh kita.  Tanpa gejala, tanpa kesakitan, tiba-tiba kita sudah berada di ujung maut. Tiba-tiba liang lahat sudah terbuka, dan pintu surga sudah menanti. Untuk itulah, penting rasanya jika kita sejenak menutup mata dan merenungkan mengapa kita hidup? Apa yang sudah kita lakukan dan apa yang belum kita perbuat? Siapa orang yang telah kita tolong dan siapa telah kita sakiti? Apakah kita berguna atau bercela? Apakah kita jadi pahlawan atau penjahat? Piala atau celurit?</p>
<p>Sebab  pada awal tahun ini seorang nenek kusta yang aku temui di perkampungan Sintanala telah menasihatiku banyak hal. Dia, nenek yang telah begitu renta, duduk di kursi rotan yang ringkih. Dia yang walaupun telah sembuh dari kusta, namun kehilangan setengah dari panjang jarinya. Dengan susah payah nenek tua itu menggapai gelas berisi teh manis, mereguknya dengan hati-hati, pandangannya menerwang, matanya berkaca-kaca saat berkisah.</p>
<p>***</p>
<p><em>Seorang gadis kecil mengintipku dari balik tubuh ayahnya. Ah, dia begitu lucu. Dia adalah anak tunggalku, anak yang kudapat saat usiaku hampir mencapai empat puluh. Lama sekali aku dan suamiku menantikan anak. Kami telah mencoba berbagai cara, mulai dari minum jamu sampai pergi ke dukun urut yang konon membantu banyak perempuan mendapatkan keturunan. Tapi tidak bagiku. Kala itu aku memang masih sangat muda, usiaku 15 tahun saat suamiku memintaku menjadi istrinya. Pada pernikahan yang ke-23 tahun barulah kami dianugerahkan seorang anak perempuan, cantik benar dia seperti purnama. Maka kunamai dia Bulan.</em></p>
<p><em>Bulan anakku tersayang, seandainya tidak pernah ada jarak yang menajiskan aku, ingin sekali aku memeluknya, memangkunya dan ciuminya. Tapi anakku tetap bersembunyi di balik tubuh ayahnya. Jijikkah dia padaku? Ah… seandainya penyakit kusta ini tidak pernah aku derita. Saat anakku berusia dua tahun, aku malah harus diasingkan karena penyakit sialan ini. Waktu itu penyakit kusta dianggap sebagai sebuah penyakit yang menakutkan dan menular, tidak mudah mencari obatnya, apalagi untuk orang miskin sepertiku. Suamiku berinisiatif membuatkanku gubuk sederhana, aku tinggal disana sendirian, jauh dari anak dan keluarga.</em></p>
<p><em>“Bulan, Ibu sayang kamu, Nak. Ibu sayang.” Air mataku menetes. Entah bagaimana aku mengungkapkannya. Meskipun ia berjarak 10 meter dari tempat aku berdiri, tapi aku tak bisa menggapainya. Anakku belum mengerti apa-apa kala itu, cintaku dibalasnya dengan tangisan, “Bapak pulang yuk, Bulan takut.” Suamiku mengangguk. Ya, Tuhan… begitu menjijikkankah aku saat itu??? Ya, memang aku menjijikkan. Kulitku memutih, pucat dan berlendir, jari-jari tangan membengkok.</em></p>
<p><em>“Bu, Bapak pulang ya. Baik-baik.” Suamiku merangkul Bulan mesra. Jejak langkah mereka adalah kepedihan bagiku. Aku butuh kasih sayang, aku butuh cinta.  Tapi mereka pergi meninggalkanku, hari itu adalah hari terakhir aku berjumpa dengan anakku.</em></p>
<p><em>Aku memendam kesakitan ini bertahun-tahun. Untungnya ada  seseorang yang berbaik hati membawaku berobat hingga sembuh. Ya, aku sembuh, setelah aku kehilangan jari-jariku, dan setelah aku kehilangan keluargaku. Suamiku telah menikah lagi kala itu, namun ia berbaik hati menawarkanku menjumpai Bulan. Berkali-kali tawaran itu datang, tapi berkali-kali pula aku menolaknya. Aku malu, aku takut jika Bulan jijik dan menolakku. Jadi, kubangun hidupku sendiri, kubangun diriku dalam berbagai rutinitas hingga aku menua. Setelah aku sadar, aku telah kehilangan semuanya. Suamiku telah meninggal dan tidak menyisakan jejak sedikit pun untuk memberitahu di mana Bulan berada. Entah di mana anakku sekarang. Entah di mana Bulan-ku. Kalau saja aku tidak terlena pada rutinitasku, kalau saja aku berani menemuinya. Ah, semuanya sudah terlambat. Sekarang aku sudah begitu tua untuk mencarinya.</em></p>
<p><em>Sungguh, orang-orang yang telah menua sepertiku bukan menyesali apa yang aku lakukan, tapi justru menyesali apa yang tidak aku lakukan pada masa mudaku.</em></p>
<p><em>***</em></p>
<p>Air matanya tumpah, air mata nenek tua itu, tumpah bersama air mataku. Ya, orang-orang muda selalu menyesali apa yang ia lakuan. Menyesali kekeliruannya, menyesali salah ucapnya, menyesali kemalangannya dan menyesali kehilangannya. Tapi, marilah bermain peran sekarang. Anggaplah dirimu tua dan renta. Anggaplah kematian sudah di depan mata. Bukankah ada begitu banyak penyesalan untuk hal-hal yang tidak kita lakukan. Menyesal mengapa dulu kita tidak mencintai partner dengan sepenuh hati, mengapa dulu kita tidak berbakti kepada orangtua, mengapa kita tidak mempersiapkah hari tua, mengapa pada masa muda kita hanya sibuk dengan rutinitas, tanpa bersedia mengambil waktu untuk introspeksi diri, untuk merencanakan masa depan. Menyesal mengapa saat muda kita berjalan tanpa arah, tanpa tujuan. Kita hanya menjadi daun yang nurut pada aliran sungai hingga akhirnya membawa kita ke hulu yang asing.</p>
<p>Ah… untungnya kita masih muda, hai lesbian. Masih banyak hal yang bisa kita lakukan pada sisa hidup kita ini. Masih banyak kesempatan untuk kita mengepakkan sayap agar bisa terbang tinggi dan melintasi dunia. Masih banyak tenaga untuk kita mendaki menaklukan tebing terjal. Masih banyak ide segar yang mengalir untuk kita berkarya. Lihatlah kesempatan masih luas membentang, ada kesuksesan kita di sana, ada kebahagiaan kita yang menunggu dan ada peluang yang akan menjadikan kita disebut sebagai orang yang berhasil kelak. Semoga tahun ini kita bisa melakukan dan mengahasilkan yang terbaik. Semoga kita bisa membangun hubungan yang baik dengan semua orang, membuang segala benci, dan merendahkan diri untuk merangkul musuh menjadi karib. Semoga tidak ada orang yang tersakiti oleh karena perbuatan kita. Semoga kita mampu mengepakkan sayap dan terbang tinggi. Hingga pada masa tua kita tiba, hidup kita telah terisi dengan jutaaan kearifan yang akan membuang jauh kata penyesalan dari kerentaan kita.  Selamat berkarya lesbian!</p>
<p>@De Ni, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/01/09/if-youll-die-today/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

