Articles tagged with: God
Renungan, Spiritualisme »
Oleh: Katya Chopin
Salah satu tantangan terbesar dari seorang pendoa adalah tidak dapat melihat secara langsung hasil dari doanya. Apalagi bila mendoakan orang yang tidak dikenal, dia sering tidak dapat mengetahui apakah doanya didengarkan Tuhan, apakah doanya berhasil mengubah orang-orang yang dia doakan itu, atau apakah doanya memberikan hasil seperti yang dia harapkan? Dia hanya dapat pasrah dan sepenuhnya mempercayakan doanya kepada kemurahan Tuhan semata, namun kadangkala hal itu juga bisa membuat seorang pendoa menjadi frustasi.
God, Humaniora, Spiritualisme, Twilight Zone »
Oleh: Frizzy Jo
Aku tak pernah suka tempat ini, sejak dulu, kemarin, mau pun esok. Tempat ini terlalu ramai dan memusingkan. Terlalu banyak orang di sini. Tua dan muda, pria dan wanita, bahkan abang-abang yang memajang dagangan beraneka produk kelas menengah ke bawah semakin memperparah sakit kepalaku.
Aku terus berjalan dengan wajah lurus menatap ke depan. Seperti zombie, kata teman-temanku yang sering menemaniku melewati tempat ini. Sedikit pun aku tak mengurangi kecepatan langkahku, hingga orang-orang yang memperhatikanku bisa saja menduga kalau aku sedang mengejar copet yang mengambil isi tasku. Aku tak peduli. …
Renungan, Sepocikopiana »
Oleh: Deni Melisa
Tuhan, malam ini aku dan kekasihku memilih terjaga, mengalir bersama detik-detik yang mengubah tahun demi tahun. Pukul 12 tepatnya, saat kekasihku menggenggam jemariku hangat. Kami menyatu dan haru dalam doa yang kami panjatkan kepada-Mu. Ada harapan yang disampaikan, ada ucapan syukur yang digemakan. Kuharap Engkau berkenan. Kuucapkan juga terima kasih atas penyertaanMu sepanjang tahun yang baru saja kulewati. Terima kasih karena Engkau telah menjadi pandu setia, pelita terang dan penjaga yang tidak pernah terlelap.
Tuhan, aku bersyukur atas kedua bola mata sehat yang telah Engkau berikan kepadaku, sebab saat …
Humaniora, Ibu, Personal Life »
Oleh: FlaPuding
“Kalau reinkarnasi, kamu mau jadi anak Mama lagi, nggak?”
Deg. Sedetik jantungku berhenti berdetak. Aku kaget dengan pertanyaan ibu. Ini adalah perbincangan ringan di sela makan siangku bersama ibu di sebuah restoran.
Aku dan ibu jarang mempunyai waktu untuk berbagi cerita, tapi tampaknya kami dapat menghabiskan hari Sabtu sore ini untuk berjalan-jalan bersama. Namun tidak terlalu banyak pilihan berbagi cerita akan kucentang di daftar list-ku. Aku adalah anak tunggal, tapi aku lebih cenderung pendiam jika bersama keluargaku. Tak ada yang bisa dan mau aku bagikan kepada mereka. Aku sama sekali tak …
Sepocikopiana, Spiritualisme »
Oleh: Ade Rain
Di luar hari telah lama gelap, namun air mataku masih terus menggenang. Ibadah-ibadah yang rasanya tak seberapa itu seolah kertas-kertas berserakan yang tengah kukaji ulang; mereka telah kuremas, berserakan. Jumlahnya lebih banyak dari kertas rapi yang tersedia, cukupkah ibadah yang kulakukan itu, ya Allah? Aku berdiri di tepian tempat tidur, menarik selimut lebih tinggi ke atas, menutupi seluruh kepala, nelangsa di dalamnya.
Humaniora, Spiritualisme »
Oleh: Sebeningembun
Azan magrib baru saja berkumandang. Dengan sukacita kuteguk segelas air putih yang dengan segera membasahi kerongkonganku setelah seharian kerontang. Seperti tanaman layu yang langsung segar tersiram air hujan, begitu pula rasanya tubuhku kembali bugar. Terima kasih Tuhan…, saat puasa begini, bahkan air putih pun terasa begitu nikmat. Hari ini masih seperti hari-hari kemarin, tidak ada hidangan berbuka puasa yang meriah, tidak ada es buah, tidak ada kolak atau pacar cina. Hanya air putih di atas meja. Dan entah mengapa, rasanya itu sudah lebih dari cukup.
Sesungguhnya kebahagiaan orang yang …
Lagak Lajang, Sepocikopiana »
Oleh: Oscar A.
Dunia adalah samudra kesulitan, di seberangnya samudra kemudahan. Dalam kesulitan, semuanya terlihat buram. Lampu-lampu temaram, langit berwajah muram, tak ada senyuman selain wajah-wajah penuh rintihan dan meringis. Apa yang kau ingat tatkala kesedihan itu datang? Sakit hati yang sudah berkarat? Kekasih yang seenaknya meninggalkanmu dan menyayatmu perlahan-lahan? Apa yang kau lihat? Air hujan yang menetes dari sudut atapmu yang sudah bocor? Apa yang kau rasakan? Kepedihan yang tiada tara melebihi sakitnya seorang anak yang ditinggal mati kedua orangtuanya? Apa yang kau inginkan? Kekasih berengsek mu itu kembali pada …
Humaniora, Tajuk »
Oleh: Nuha Guwa
“Sudah cukupkah mengeluhmu hari ini?” Sejak berangkat kerja hingga tiba di kantor, kita berhadapan dengan banyak hal untuk mengeluh soal beragam hal. Mulai cucian yang nggak kering, ongkos ojek yang suka-suka dinaiki tukang ojek mumpung Ramadan harga sembako sedang gila-gilaan, kurang tidur malam tadi karena BBM bunyi terus, pacar yang nggak perhatian, capek, pusing, sakit mata, gatal-gatal, sampai be-a-be nggak lancar. Walah! Manusia punya mulut, mulutnya seribu kalau sudah mengeluh, mengomeli harga barang yang makin mahal, penghasilan kecil, negara yang makin kacau, tentang resesi ekonomi, bencana.
Selagi masih di …
Humaniora, Spiritualisme »
Oleh: De Ni
Apakah kita semua, benar-benar tulus
Menyembah pada-Nya
Atau mungkin kita hanya takut pada neraka
Dan inginkan surga*
Lelaki setengah baya itu baru saja kembali dari mimbar gereja. Wajahnya tersenyum bahagia seiring dengan senyum para jemaat gereja yang mengembang karena kesaksiannya. Ya, sebuah kesaksian yang dilafalkannya dengan semangat yang luar biasa di hadapan puluhan jemaat. Lelaki itu baru saja luput dari sebuah penipuan. Seminggu yang lalu ia baru saja gagal menjual mobilnya karena sang pembeli lebih berminat membeli mobil tetangganya. Padahal saat itu ia sangat membutuhkan uang untuk membiayai anaknya yang berada di …
Humaniora, Opini, Spiritualisme »
Oleh: Zetha Septina Abdu
Tiket Sancaka Jogja-Surabaya kuremas keras, kereta tumpanganku baru berangkat besok pagi. Aku berdiri tepat di sebelah kereta api Prambanan Ekspres. Begitu menyadari kereta itu tidak segera beranjak melanjutkan perjalanan menuju Solo, menunggu orang-orang yang bergegas memburunya, aku meloncat melintasi badan kereta. Tak kalah bergegas, aku mencari tempat duduk di ruang tunggu. Terkadang di antara keriuhan orang-orang, manusia dapat menemukan sisi paling sunyi dari dirinya, paling tidak hal itu berlaku bagiku.
Aku menekan perasaan, berusaha mengelak untuk menjadi sentimentil. Ada banyak yang bisa dikenang dari stasiun Tugu selain hal-hal …





