<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; Gay</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/tag/gay/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 02:00:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Buku: Boy Meets Boy – Cinta dan Galau Remaja</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/02/buku-boy-meets-boy-cinta-dan-galau-remaja/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/02/buku-boy-meets-boy-cinta-dan-galau-remaja/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jan 2012 14:56:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Gay]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17044</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Alex
Perkenalkan Paul. Anak kelas dua SMA dan gay. Gay yang sudah coming out ke keluarganya dan diterima baik hingga ke sepenjuru kota. Kota kecil di New Jersey, Amerika Serikat. Dan inilah hidupnya sebagai gay dan kisahnya dengan sahabat-sahabatnya.
Paul bersahabat dengan Joni, gadis yang menjadi sahabat baiknya sejak kanak-kanak. Juga Tony, yang sama-sama gay namun tidak seterbuka Paul dan tidak diterima dengan baik oleh orangtuanya yang amat religius. Lalu ada sahabatnya Infinite Darlene, yang aslinya lelaki tapi berpakaian perempuan, ratu homecoming yang juga bintang futbol. Semua tokoh dengan kepribadian beragam ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/poci.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17045" title="poci" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/poci-194x300.jpg" alt="" width="194" height="300" /></a>Oleh: Alex</p>
<p>Perkenalkan Paul. Anak kelas dua SMA dan gay. Gay yang sudah coming out ke keluarganya dan diterima baik hingga ke sepenjuru kota. Kota kecil di New Jersey, Amerika Serikat. Dan inilah hidupnya sebagai gay dan kisahnya dengan sahabat-sahabatnya.</p>
<p>Paul bersahabat dengan Joni, gadis yang menjadi sahabat baiknya sejak kanak-kanak. Juga Tony, yang sama-sama gay namun tidak seterbuka Paul dan tidak diterima dengan baik oleh orangtuanya yang amat religius. Lalu ada sahabatnya Infinite Darlene, yang aslinya lelaki tapi berpakaian perempuan, ratu <em>homecoming </em>yang juga bintang futbol. Semua tokoh dengan kepribadian beragam dalam novel <em>Boy Meets Boy </em>ini dikisahkan masih remaja yang duduk di SMA.</p>
<p><span id="more-17044"></span>Ketika suatu malam sedang <em>hang out </em>bersama Joni dan Tony, Paul bertemu Noah untuk pertama kalinya padahal Noah bersekolah di sekolah yang sama dengannya. Lalu cinta pun bersemi di hati Paul. Namun ada Kyle, si mantan yang belum bisa <em>move on</em>, tampaknya masih mengintai Paul. Putusnya hubungan Kyle dan Paul berlangsung buruk, mereka berdua tidak saling bicara sejak putus. Apalagi karena Kyle menyebar isu bahwa Paul menjebaknya menjadi gay. Padahal sesungguhnya Paul biseksual yang bingung dengan orientasi seksualnya.</p>
<p>Noah juga memiliki masalahnya sendiri karena dia masih belum ingin memulai hubungan baru karena masih terluka akibat hubungan lamanya yang gagal.</p>
<blockquote><p>&#8216;“I liked this guy a lot. And I thought he liked me a lot, but in truth he didn’t really like me at all. He was my first boyfriend, and I made him my everything – he was my new life, my new love, my new compass point. I guess that’s the danger with first – you lose all sense of proportion. So I made a fool of myself, even though I didn’t realize it at the time. I was so devoted to him.” His “devoted” is italicized by sarcasm, underlined by hurt. “And he didn’t really care. He was a year older than me, and for a while I used that as an excuse for not knowing he was cheating on me with roughly half his grade. I thought I could see him so well. But I didn’t see him at all, really. And he didn’t even try to see me.”&#8217;</p></blockquote>
<p>Penjelasan Noah pada Paul di atas mengingatkan saya pada cinta pertama yang membabibuta, yang juga bisa dialami oleh lesbian, bahkan heteroseksual. Ketika kita menempatkan dia menjadi sosok yang dipuja dan ketika cinta itu menggores luka, rasanya luka itu tak kunjung sembuh.</p>
<p>David Levithan sepertinya dengan sengaja membuat tokoh tokoh dengan kepribadian ekstrem yang dimunculkan dengan interaksi Paul antara teman-temannya di sekolah. Novel ini ditulis dengan sudut pandang “aku” si Paul yang terasa hidup dalam dunia utopis. Yang bahkan sejak TK sudah menyadari dirinya gay. Yang tidak mendapat tekanan apa pun dalam kondisinya sebagai gay. Seakan seluruh dunia bersukacita menyambut ke-gay-annya sebagai sesuatu yang biasa.</p>
<p>Tentangan terhadap gay hanya terjadi pada diri Tony, yang pada akhirnya pun mendapat akhir bahagia dengan kompromi dari orangtua dan dukungan dari teman-temannya.  Utopia ini terasa mengganggu namun juga membuat saya mempertanyakan apakah sang pengarang sengaja membuat dunia semacam ini dalam novelnya.</p>
<p><em>Boy Meets Boy </em>adalah novel pertama karya David Levithan yang diterbitkan tahun 2003. Pria kelahiran tahun 1972 ini bekerja sebagai editorial director di Scholastic dan dia sendiri <em>openly gay</em>. Novel ini memenangkan Lambda Literary Award, juga mendapat banyak pujian dari kritikus. Novel setebal 192 halaman ini sayangnya belum ada terjemahan bahasa Indonesia-nya. Novel David Levithan yang baru diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia adalah <em>The Lover&#8217;s Dictionary </em>(2011).</p>
<p>Konsep utopia yang mengganggu saya dalam novel <em>Boy Meets Boy</em>, ternyata juga menjadi kritik yang sering ditanyakan pada sang pengarang. Menanggapi hal ini, David Levithan menjawab, <em>“I’m often asked if the book is a work of fantasy or a work of reality, and the answer is right down the middle – it’s about where we’re going, and where we should be.”</em></p>
<p>Oh, oke, Mr. Levithan. Akhirnya saya paham.</p>
<p><strong>Boy Meets Boy<br />
David Levithan<br />
Bahasa: Inggris<br />
Penerbit: Knopf Books, 2003<br />
Halaman: 192</strong></p>
<p>@Alex, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/02/buku-boy-meets-boy-cinta-dan-galau-remaja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mix n’ Match: Tribute untuk Elizabeth Taylor</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/03/27/mix-n-match-tribute-untuk-elizabeth-taylor/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/03/27/mix-n-match-tribute-untuk-elizabeth-taylor/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Mar 2011 16:40:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Mix n' Match]]></category>
		<category><![CDATA[Gay]]></category>
		<category><![CDATA[HAM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=11274</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Alex
Banyak orang yang akan mengenang karyanya dalam film. Tapi kiprahnya terhadap kaum gay terutama kepeduliannya terhadap HIV/AIDS juga meninggalkan kenangan abadi bagi banyak orang. Elizabeth Taylor meninggal dunia pada tanggal 23 Maret 2011 kemarin akibat gagal jantung pada usia 79 tahun.
Elizabeth, yang menikah delapan kali selama hidupnya, meninggalkan empat anak, sepuluh cucu, dan empat cicit. Jenazah Elizabeth Taylor dimakamkan di Forest Lawn, Glendale, di luar Los Angeles. Tempat pemakaman yang sama dengan tempat pemakaman sahabat baiknya, Michael Jackson, yang dikuburkan di sana pada tahun 2009.
Kecantikannya luar biasa. Matanya yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/03/taylor.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-11275" title="taylor" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/03/taylor-199x300.jpg" alt="" width="199" height="300" /></a>Oleh: Alex</p>
<p>Banyak orang yang akan mengenang karyanya dalam film. Tapi kiprahnya terhadap kaum gay terutama kepeduliannya terhadap HIV/AIDS juga meninggalkan kenangan abadi bagi banyak orang. Elizabeth Taylor meninggal dunia pada tanggal 23 Maret 2011 kemarin akibat gagal jantung pada usia 79 tahun.</p>
<p>Elizabeth, yang menikah delapan kali selama hidupnya, meninggalkan empat anak, sepuluh cucu, dan empat cicit. Jenazah Elizabeth Taylor dimakamkan di Forest Lawn, Glendale, di luar Los Angeles. Tempat pemakaman yang sama dengan tempat pemakaman sahabat baiknya, Michael Jackson, yang dikuburkan di sana pada tahun 2009.</p>
<p>Kecantikannya luar biasa. Matanya yang indah memukau. Tubuhnya yang molek. Kepiawaian aktingnya. Semua itu menjadikannya legenda meskipun pada 20 tahun terakhir orang juga mengenalnya sebagai aktris yang gemar kawin-cerai.</p>
<p>Elizabeth Taylor memulai kariernya sebagai bintang cilik ketika berusia 9 tahun. Film dewasa pertamanya adalah produksi tahun 1951 berjudul <em>A Place in The Sun</em>  ketika dia berusia 19 tahun. Tahun 1950-1970an adalah masa keemasan karier filmnya. Pada masa itu, dia adalah lawan bintang Hollywood lain Marilyn Monroe. Sepanjang kariernya, Elizabeth Taylor dinominasikan lima kali dalam piala Oscar, dan menang dua kali sebagai aktris terbaik yaitu dalam <em>Butterfield 8 </em>(1960) dan <em>Who&#8217;s Afraid of Virgina Woolf </em>(1966).</p>
<p>Jika belum pernah menonton filmnya, atau bahkan belum pernah tahu bahwa ada aktris bernama Elizabeth Taylor, kini saatnya mencoba mencari film-film klasiknya. Dia adalah seorang aktris sejati, yang menggunakan ketenaran dan nama besarnya untuk kebaikan banyak orang. Yang pasti sumbangannya kepada riset AIDS dan persamaan hak kaum gay/lesbian layak menjadikan Elizabeth Taylor sebagai legenda. Inilah <em>tribute </em>untuk film-filmnya terbaiknya versi SepociKopi:</p>
<p><strong>Giant &#8211; 1956<br />
</strong></p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/03/taylor-giant.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-11276" title="taylor-giant" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/03/taylor-giant.jpg" alt="" width="400" height="300" /></a></p>
<p>Elizabeth Taylor, Rock Hudson, James Dean, dan Texas. Elizabeth berperan sebagai wanita muda yang menikah dengan koboi Texas dan masuk ke dalam keluarga sang koboi. Drama keluarga sepanjang tiga generasi.</p>
<p><strong>Butterfield 8 &#8211; 1960</strong></p>
<p><strong><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/03/taylor-butterfield.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-11277" title="taylor-butterfield" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/03/taylor-butterfield-300x232.jpg" alt="" width="300" height="232" /></a></strong><br />
Perannya sebagai gadis panggilan kelas atas membuatnya dibenci dan dipuja, membuahkan Oscar pertama untuk Elizabeth Taylor.</p>
<p><strong>Cleopatra &#8211; 1963</strong></p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/03/taylor-cleo1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-11279" title="taylor-cleo" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/03/taylor-cleo1-218x300.jpg" alt="" width="218" height="300" /></a></p>
<p>Film ini menjadi film termahal pada zamannya, menjadikan Elizabet Taylor sebagai aktris termahal juga. Bersama Richard Burton, pria yang dinikahinya dua kali, Elizabeth Taylor mengangkat nama Cleopatra menjadi legenda layar lebar.</p>
<p><strong>Who&#8217;s Afraid of Virginia Woolf  &#8211; 1966</strong></p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/03/taylor-woolf.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-11281" title="taylor-woolf" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/03/taylor-woolf-243x300.jpg" alt="" width="243" height="300" /></a><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/03/taylor-cat.jpg"></a></p>
<p>Oscar kedua untuk Elizabeth Taylor dalam perannya sebagai istri pemabuk dari seorang profesor. Dalam perannya ini, Taylor menambah berat badan 30 kg dan menjadi wanita tua berusia lima puluhan.</p>
<p><strong>Cat on a Hot Tin Roof &#8211; 1958</strong></p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-11280" title="taylor-cat" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/03/taylor-cat-300x228.jpg" alt="" width="300" height="228" /><br />
Elizabeth Taylor berperan sebagai Maggie gelisah dalam pernikahannya dengan Paul Newman dalam kisah tragis nan kelam yang diangkat dari karya Tennessee Williams.</p>
<p>Selamat menonton&#8230;</p>
<p>@Alex, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/03/27/mix-n-match-tribute-untuk-elizabeth-taylor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerpen: Insensatez</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/12/20/cerpen-insensatez/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/12/20/cerpen-insensatez/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Dec 2010 08:26:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Gay]]></category>
		<category><![CDATA[transeksual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=9039</guid>
		<description><![CDATA[Insensatez
Oleh: Agus Noor
Cerpen ini dimuat kumcer Rendezvous: Kisah Cinta yang Tak Setia (Galang Press, 2004)
MAYA telanjang, telentang di ranjang. Dan aku memandanginya gamang. Seperti ada keasingan yang perlahan menggenang, memenuhi kamar. Cahaya kekuningan lampu kamar yang remang membuat kulitnya yang langsat seperti diluluri madu. Dia menggeliat, memberi isyarat agar aku segera mendekat. Tapi aku hanya duduk di sofa, memandanginya. Ada sesuatu yang tak kunjung aku fahami. Padahal dia sudah menyiapkan suasana yang begini romantis. Musik yang lembut, yang selalu diputarnya berulang-ulang bila kami bercinta. Harum opium yang menyebar dari asap ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/12/joy_and_sorrow_by_Non_08.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-9041" title="joy_and_sorrow_by_Non_08" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/12/joy_and_sorrow_by_Non_08-182x300.jpg" alt="" width="182" height="300" /></a>Insensatez<br />
Oleh: Agus Noor<br />
Cerpen ini dimuat kumcer <em>Rendezvous: Kisah Cinta yang Tak Setia</em> (Galang Press, 2004)</strong></p>
<p>MAYA telanjang, telentang di ranjang. Dan aku memandanginya gamang. Seperti ada keasingan yang perlahan menggenang, memenuhi kamar. Cahaya kekuningan lampu kamar yang remang membuat kulitnya yang langsat seperti diluluri madu. Dia menggeliat, memberi isyarat agar aku segera mendekat. Tapi aku hanya duduk di sofa, memandanginya. Ada sesuatu yang tak kunjung aku fahami. Padahal dia sudah menyiapkan suasana yang begini romantis. Musik yang lembut, yang selalu diputarnya berulang-ulang bila kami bercinta. Harum opium yang menyebar dari asap aroma terapi begitu meneduhkan, dan membuatku melayang. Kenapa aku malah begini gelisah? Dia bangkit meraih selendang yang terkulai di lantai, kemudian menatapku. Lekuk susu dan bentuk putingnya yang tegak, agak ganjil di antara silhuet kaki-gelas yang ramping.</p>
<p>“Ada apa? Kau lagi sungkan bercinta?” Dia bangkit, bersijengkat mendekat.</p>
<p><span id="more-9039"></span>Lihatlah caranya berjalan yang seakan-akan melayang, bagai mambang keluar dari rerimbun petang. Jari-jarinya terasa lebih lentik ketika dia menenteng dan memain-mainkan selendang.</p>
<p>“Kau lagi tak selera?”</p>
<p>Dia bersimpuh, merebahkan kepalanya di antara kedua pahaku yang berselonjor di sofa. Nafasnya hangat. Jejarinya dengan lembut mengurut bagian bawah perut, kemudian mengusap menelusup pelan di selangkang, menekan-nekan kerampang, hingga aku menggelinjang. Dia memang begitu hafal, bagaimana membangkitkan birahiku dengan cara sedikit nakal!</p>
<p>Tapi, untuk kesekian kali, aku merasakan sesuatu yang kian mengasingkanku.</p>
<p>“Kenapa? Kamu sudah mulai merasa bosan?” Ditekannya kepalaku ke sandaran sofa. “Katakanlah, apakah aku telah membuatmu bosan?” Suaranya seperti ciuman yang mengharapkan balasan.</p>
<p>Tidak. Aku tidak bosan. Aku hanya merasa ada yang tak kunjung aku fahami. Entahlah…</p>
<p>“Aku ngerti, kamu mulai berfikir bagaimana caranya meninggalkan aku!”</p>
<p>Aku menggeleng.</p>
<p>“Kamu akan menyelinap pergi dari kehidupanku, seperti kamu menyelinap keluar dari kamar pelacur yang barusan kamu setubuhi!”</p>
<p>Dia mengangkat bahuku, hingga kami bertatapan begitu dekat. Ujung hidungnya menyentuh ujung hidungku. Dia mulai menciumi leherku, menjilati telingaku sambil mendesah, “Aku akan membuatmu tak mungkin meninggalkanku…” Lalu tangan kanannya bergerak pelan ke arah dadaku. Jari-jarinya mengembang, menyentuhkan ujung-ujung kukunya yang berkutek ungu, tepat di bagian ulu. Dia tersenyum. “Aku akan mengambil hatimu, bila perlu…” Lantas dengan tenang dia merancapkan kukunya ke dadaku, membuat sayatan, seperti pisau dokter yang melakukan pembedahan. Lalu dia benamkan telapak tangannya merogoh dadaku… Dan, dengan sekali sentak membetot hatiku.</p>
<p>Bagai ada yang tiba-tiba lepas, dan aku merasakan tubuhku seringan kapas.</p>
<p>Dia menyeringai, bergairah, seperti baru saja mendapatkan kegembiraan baru yang belum pernah dirasakan sebelumnya. “Bagaimana kalau kita bermain-main sebentar? Mungkin ini akan membuatmu sedikit terangsang…”</p>
<p>Aku kian terbenam dalam keasingan yang memenuhi kamar, ketika menyaksikan dia mulai meliuk-liuk, menari, memain-mainkan hati yang terus menetes-neteskan darah itu. Dia menciumi dan menjilati hati itu, hingga darah belepotan di bibir dan pipinya. Dia menari meliuk-liuk mendesah menggesek-gesekkan hati itu ke seluruh bagian tubuhnya, seperti tengah bermain-main dengan sabun mandi. Hingga seluruh tubuhnya memerah belepotan darah. Kemudian ia berdiri mengangkangiku. Dan ia kian meliuk-liuk jalang, ketika aku mulai terangsang.</p>
<p>Rasa asing dan gamang yang tadi menggenang, seperti bau kamper yang menguap di udara. Aku nanar menatapnya yang terus meliuk menggelinjang. Bahkan aku tak pernah menyaksikan adegan striptease seperti ini. Aura yang memancarkan birahi purba seakan-akan keluar dari tubuhnya, seperti sulur-sulur akar. Saat itulah aku merasakan ada teluh yang menggemuruh dalam tubuh. Aku merasakan sulur-sulur akar bercecabang yang keluar dari tubuhnya itu mulai membelit dan melilit tubuhku. Hingga aku hanya bisa menjerit ketika sejulur akar dengan kasar membelit batang zakar, menghisap seluruh cairan dalam tubuh. Sampai kemudian aku terlempar dan terkapar, mendapati tubuhku telah gosong dan garing. Rasanya, tak ada lagi secuil pun sperma menetes dari ujung kelaminku yang kering.</p>
<p>Maya tersenyum puas, beringas. Dia menyodorkan tangannya yang berlepotan darah. “Lihatlah, hatimu akan kukunyah, kumamah.” Lalu sambil tersenyum riang ia menjauhiku yang tergolek di sofa. Ia melangkah gemulai menuju kamar mandi, sembari terus dengan penuh gairah mengunyah hati yang dikerkahnya pelan-pelan, seakan melahap sepotong semangka…</p>
<p>***</p>
<p>AKU terbangun.</p>
<p>Segera kuraba dada. Tak ada luka. Masih ada degup. Sedikit gugup. Lalu aku mulai menyadari, seperti ada mimpi yang bersijengkat pergi. Tapi ini bukan mimpi. Semalam Maya memang berada di sini. Aku masih bisa mencium bau tubuhnya. Menguar dalam kamar. Dan di dekat bantal – yang masih terasa hangat dan basah karena keringat – aku dapati dua helai rambut menelusup serat seprei. Seakan-akan Maya sengaja meninggalkannya untukku.</p>
<p>Aku terbaring, masih dengan perasaan asing. Maya selalu membuatku terpana, seperti kemunculannya. Dia datang dan pergi serupa misteri. Seakan-akan ada yang sengaja dia tutup-tutupi. “Seperti persetubuhan, sesuatu akan mengesankan bila ada yang tak terungkapkan,” katanya suatu kali. Dan memang, bersama Maya, selalu kurasakan tengah memasuki labirin rahasia. Ada sesuatu yang selalu ingin membuatku kembali, karena selalu saja kurasakan ada yang selalu tak tertuntaskan. Selalu kutemukan sesuatu yang tak terduga. Hingga kemudian aku kian faham, betapa kenikmatan seringkali bisa kita dapatkan pada saat dan tempat yang tak biasa.</p>
<p>Seperti ketika aku melihatnya pertama kali pada sebuah pesta…</p>
<p>Saat itu aku mulai melayang karena dua butir blue diamond yang sekaligus kutenggak dengan sebotol air mineral. Saat itu aku mulai merasakan kabut dingin merayap naik menjalari kulit tubuhku. Telapak kakiku mulai berasa lembab dan basah, sehingga aku seakan-akan mengapung di atar permukaan air yang sejuk. Begitu enteng. Perlahan-lahan pula eksterna telingaku mulai termuka, seperti ada bunga yang pelan-pelan mekar dalam telingaku. Alangkah nyaman, dan aku mulai bisa merasakan harmoni dentaman house music yang menggetarkan membran dan koklea. Di antara gemuruh dan segala yang hingar-bingar, aku bisa mendengar gemeritik dan gemerincing bunyi-bunyian yang ajaib, bagaikan ada kereta kencana dengan kuda-kuda putih turun dari surga. Dan kabun dingin dalam tubuhku membuatku serasa begitu ringan mengambang melayang-layang di kesejukan semesta yang tak berbatas. Saat itulah, ditengah hingar bingar bermacam suara ketika beberapa orang mulai muntah tetapi masih saja terus tertawa-tawa, aku merasakan sepasang mata menatapku penuh gelora. Sepasang mata yang menggerayangi seluruh tubuhku, tanpa perlu menyentuh. Lalu ketika puluhan pasangan mulai bertumbangan terkapar setengah telanjang, kulihat dia duduk di atas meja bertelanjang dada dengan kedua tangan bersilang dan bersidekap, bagai pertapa yang abai pada keriuhan dunia. Dia seperti menyihirku dengan pesonanya. Dia seperti memahami gairah dan kesepianku. Caranya memandangiku, seolah-olah ia mempersembahkan hidupnya untuk kunikmati.</p>
<p>Sejak itulah, cara Maya tertawa atau merajuk mulai menjadi bagian kisah tersendiri dalam hidupku. Aku suka caranya tertawa. Seakan-akan dia ia bisa mengatasi semua persoalan, cukup hanya dengan tertawa. Aku juga suka pada caranya menikmati orgasme: seluruh tubuhnya meregang, hingga perutnya menjadi pipih dan mengencang, dan punggungnya melengkung seperti pelangi. Dan seperti kubilang, ia sering muncul begitu mengejutkan. Tahu-tahu ia sudah berdiri di sudut kamar mandi, memandangiku yang lagi masturbasi. Tiba-tiba desah suaranya muncul di telepon, menjilati daun telingaku. Atau terkadang aku begitu kaget mendapatinya sudah menggeliat di bawah selimut, mendesis-desis, kemudian mulai menghisap dan menjilatiku. Caranya bercinta selalu mengagetkan, seperti petasan.</p>
<p>Tetapi semua itulah yang barangkali sering membuatku tekejut, dan termangu setelahnya. Selalu aku merasakan kelengangan yang panjang, setelah ledakan petasan itu menghilang. Aku hanya mendengar suara langkahnya yang pelan, menjauh. Gema suara tawanya yang bagai tertanam dalam kaca, hingga aku sering melihatnya berkelebat di sana. Dan aku, seperti saat ini, hanya bisa berbaring diusik perasaan asing.</p>
<p>Aku kaget ketika <em>handphone </em>di meja berbunyi. Dari nada ring tone-nya aku sudah tahu itu telepon dari siapa. Aku malas menerimanya. Tetapi <em>handphone </em>itu terus menjerit-jerit seperti kanak-kanak yang minta diperhatikan.</p>
<p>“Ada apa?”</p>
<p>“Ada apa! Aku cuma mau ngingetin, nanti siang kamu mesti temenin Bettita. Ketemu di mall ajah langsung! Halo?! Halo! Kamu udah hidup kan? Dasar kampret. Pasti semalam kamu keluyuran. Jangan lupa nanti temenin Bettita!”</p>
<p>Aku menguap sebal. Itu telepon dari Dona, istriku.</p>
<p>***</p>
<p>“PAPA!” riang teriakan Bettita menghambur ke arahku. Yap! Aku mengangkatnya tinggi-tinggi, kemudian menciuminya gemas. Inilah saat-saat aku merasakan hidup begitu berharga. Bettita diantar sopir dan ditemanin baby sitter-nya. Aku malah suka, dari pada ia datang datang bersama mamanya.</p>
<p>“Puter-puter dulu atau langsung makan, sayang?”</p>
<p>“Makan ajah dulu. Betita udah laper.”</p>
<p>Bettita minta ke Izzy Pizza. Agar aku bisa lebih punya waktu bersama Bettita, baby sitter itu kusuruh pulang duluan sama sopir. “Biar nanti aku yang anter Betita ke rumah…”</p>
<p>Bettita selalu membuatku merasa masih memeiliki kebahagiaan. Keriangannya membuatku menyukai saat-saat bersamanya setiap akhir pekan seperti ini. Betapa pun, Bettita menjadi semacam ingatan, betapa aku pernah menikmati perkawinan yang menyenangkan, sebelum akhirnya aku cerai dengan Dona, dua tahun lalu.</p>
<p>Aku tak pernah risau dengan perceraian itu. Karena aku sendiri menganggap perkawinan kami hanya menjadi semacam formalitas. Aku tak terlalu perduli, apakah Dona benar-benar mencintaiku atau tidak. Waktu itu, aku merasa perkawinan adalah salah satu jalan untuk menepis gunjingan. Seakan-akan aku hanya ingin membuktikan, bahwa aku bisa kawin, punya anak, dan bla bla bla… Atau mungkin juga karena aku ingin mengingkari kenyataan – dan terlebih perasaanku – dengan cara memasuki perkawinan. Seperti seseorang yang ingin melupakan sesuatu yang selalu merisaukannya dengan cara menyibukkan diri. Dan perkawinan, kufikir, bisa menjadi semacam kesibukan untuk melupakan kerisauanku itu. Meski pun terkadang aku merasakannya lebih sebagai sebuah pengingkaran: seperti pecundang yang melarikan diri dari seseuatu yang tak mau diakuinya.</p>
<p>Sampai pada akhirnya pecundang itu tak lagi bisa terus-menerus melarikan diri. Tak bisa terus-menerus menyembunyikan diri. Ia tersiksa menjadi seorang yang terus-terusan munafik. Hingga akhirnya ketahanannya meledak. Dan Dona hanya terbelalak ketika aku mengakuinya, bahwa aku tak pernah bisa benar-benar mencintainya. Bahwa perkawinan ini hanyalah tempat aku menyembunyikan diri.</p>
<p>“Bagaimana mungkin kamu melakukan semua ini? Bahkan sampai kita punya Bettita?!” Dona gemetar tak percaya, saat aku mengatakan semuanya. Aku bisa merasakan tatapannya yang penuh kebencian, karena selama ini merasa dipermainkan. “Aku tak pernah menyangka kalau selama ini kamu menganggap perkawinan kita hanya seperti itu. Bagimu perkawinan ini menjadi tempat persembunyian, bagiku tak lebih lubang kehancuran…”</p>
<p>Dan kami bercerai. Perceraian yang berlangsung lancar, dan baik, kurasa. Aku masih diijinkan bertemu Bettita setiap hari Minggu, bila aku atau Bettita pingin ketemu. Bagaimana pun aku berterimakasih, karena Dona mau memahami. Meski ia tetap tak bisa menghilangkan perasaan jijiknya padaku. Karena itulah, aku lebih suka bertemu Bettita, tanpa harus disertai mamanya. Hanya lebih karena tak ingin pertemuan kami berlangsung kaku, karena ekspresi Dona yang tak kunjung bisa menghadapiku tanpa perasaan sebal.</p>
<p>Perceraian, bagaimana pun selalu tak mengenakkan. Tapi bagiku terasa membebaskan. Membebaskan? Dari apa? Entahlah. Toh aku masih saja terus diusik kebimbangan. Merasakan saat-saat yang asing dan gamang, seperti ketika aku memandang Maya yang telentang telanjang di ranjang…</p>
<p>Maya datang memhampiri seluruh kerisauanku. Dia datang dengan segenap pesona dan keanggunannya. Dia muncul…</p>
<p>“Hai…”</p>
<p>Aku kaget disapa tiba-tiba. Maya! Nyaris aku tak bisa menguasai kegugupanku.</p>
<p>“Lagi jalan-jalan?”</p>
<p>Aku tersenyum. Lalu melirik ke arah beberapa orang yang memandang ke arah maya. Maya memang akan jadi pusat perhatian, lebih-lebih di tempat keramaian seperti ini. Aku terkesan dengan penampilannya: memakai setelan two-pieces, perpaduan celana cokelat lembut berbahan crepe dan atasan model blues yang potongan kerahnya bergaya sabrina, tapi hanya sedikit terbuka, memperlihatkan satu bahunya yang bersih. Pertemuan yang mengejutkan. Pertemuan yang tak kusangka-sangka. Jujur saja, aku tak pernah membayangkan akan bertemu maya di keramaian seperti ini. Seperti ada yang ingin cepat-cepat aku sembunyikan…</p>
<p>Saat itulah Bettita berlarian riang, muncul dari arah toilet. “Papa…” Dan anak itu seketika berdiri mematung memandangi Maya. Aku bisa menangkap kelebat keheranan dalam wajah Bettita. Begitu lama dia memandangi Maya, yang berdiri di hadapanku. Sedang aku mencoba menghindari tatapan Maya.</p>
<p>“Ini Bettita. Anakku…” Aku tarik Bettita mendekat. “Sini sayang… Beri salam ama Tante Maya…” Lidahku seperti terbelit, nyaris kegigit, ketika mengucapkan ‘Tante Maya’. Ganjil kedengarannya…</p>
<p>Cara Bettita menatap Maya, membuatku tak bisa mengatasi suasana. Aku tak tahu, apakah Bettita terpesona oleh penampilan Maya, atau ia merasa heran dengan sosoknya…</p>
<p>***</p>
<p>KAMI terus diam, meluncur dalam hujan. Aku menyetir, dan Maya bersandar memandang ke arah jalanan yang terlihat aneh dengan cahaya lampu-lampu yang terlihat seperti meleleh. Sudah hampir tiga jam kami hanya berputar-putar. Dan aku makin gelisah melihat Maya terus diam.Kurasakan hujan seperti serpihan kepedihan, menyimpan galau yang tertahan. Seakan ada yang ingin dibangkitkan oleh hujan. Kami terus meluncur pelan dalam diam…</p>
<p>“Kamu marah?”</p>
<p>Maya hanya menggeliat, terus menatap ke arah jalan. Apa yang ia lihat dalam kelambu hujan?</p>
<p>“Boleh aku merokok?” Akhirnya ia bersuara.</p>
<p>Sikapnya yang formal dan penuh kesopanan malam membuatku kian merasa terpojokkan.</p>
<p>Dan dia merokok, setelah sebelumnya memencet angka pada tape mobil, hingga nomor lembut Insensatez1 kembali mengalun. Terdengar bening dantara kucuran hujan, seakan ingin melintasi malam. Dia sangat suka komposisi lagu ini. Maya memang menyukai bossa nova. Aku selalu ingat pada apa yang pernah ia katakan, “Selalu kurasakan ketengan dalam kelembutannya…”. Dan ia pun bercerita, betapa dia selalu memimpikan hidupnya mengalir seperti sebuah bossa nova. Tak terlalu banyak kejutan, seperti jazz. Karena itulah, aku terkadang begitu heran, kenapa ia bisa begitu penuh fantasi ketika bercinta…</p>
<p>“Tidak seperti bossa nova yang aku bayangkan, ternyata kamu penuh kejutan…” dia mendesah, menghembuskan rokok, terus memandang ke depan.</p>
<p>“Maafkan soal Bettita…”</p>
<p>“Bukan itu soalnya.”</p>
<p>“Lantas?”</p>
<p>“Tapi bahwa kamu menikah…”</p>
<p>“Pernah menikah…”</p>
<p>“Apa bedanya?”</p>
<p>“Setidaknya aku mencoba berani mengambil keputusan. Setidaknya aku telah berani mencoba untuk mengakui.”</p>
<p>“Mengakui apa?”</p>
<p>Aku diam.</p>
<p>Hujan perlahan menyusut. Jalanan berkilatan di bawah luapan cahaya yang kini terlihat bening dan segar.</p>
<p>“Bisakah kita tak usah bertengkar?”</p>
<p>“Apa aku kelihatan ingin bertengkar?” dia balik bertanya, kini menatapku. “Kamu menginginkan hubungan kita berjalan nyaman, begitu? Tidak! Yang kamu inginkan bukanlah perasaan nyaman, tapi sesuatu yang tersembunyi dengan aman. Kamu ingin hubungan kita berlangsung diam-diam. Karena kamu masih terus ingin sembunyi. Kamu tak pernah mengambil keputusan. Kamu tak pernah berani mengakui. Perceraian itu tidak membuktikan kamu telah melakukan apa-apa…”</p>
<p>Aku melihat kesedihan yang pecah dalam matanya. Ada yang tak terucapkan, tetapi aku jadi kian memahami raut wajahnya yang kini murung. Garis alisnya yang rapi. Lipstik merah marun pada bibirnya yang gemetar. Dan selalu, aku merasakan selubung rahasia, yang tak pernah berani aku buka. Tak pernah dengan berani aku memasukinya, setidaknya hingga saat ini.</p>
<p>“Aku memang tak pernah menginginkan kamu melakukan apa yang belum berani kamu lakukan. Meski aku selalu ingin membuktikan, betapa aku memang mencintaimu.”</p>
<p>“Aku juga mencintaimu…”</p>
<p>Dia tersenyum.</p>
<p>“Sungguh!”</p>
<p>“Andai kamu mengucapkan itu hanya untuk merayuku, aku sudah merasa bahagia.”</p>
<p>“Tapi aku memang mencintaimu…”</p>
<p>“Sungguh?”</p>
<p>“Sungguh…”</p>
<p>“Cium aku…”</p>
<p>Aku menciumnya. Ia tertawa tiba-tiba.</p>
<p>“Kenapa?”</p>
<p>“Aku bisa merasakan getaran bibirmu… Kamu tidak mencintaiku. Kamu bernafsu padaku…” Dia mengatakan itu, seakan-akan ia memang bisa merasakan gairah seseorang dari ciumannya. Ia terus tertawa, dan mulai membuka retsleting celanaku.</p>
<p>“Maya…” aku mendesah gugup.</p>
<p>“Masuk tol…” ia memerintah, tak ingin dibantah. “Ayo!”</p>
<p>Dan kami meluncur melintasi sisa hujan.</p>
<p>“Tetap di lajur pelan…”</p>
<p>Cahaya yang gemerlapan berlintasan. Aku merasakan lembab yang menekan. Lalu hujan mendadak kembali mengucur dengan deras. Kami meluncur pelan, menembus kelam, menembus hujan.</p>
<p>“Jangan, Maya…”</p>
<p>Tapi dia sudah memelorotkan celanaku.</p>
<p>Keredap hujan, seperti mengetuk-ngetuk kesunyian. Kenapakah kita bisa begini merasa sunyi? Aku seperti terkurung bayangan malam yang dilapisi kaca yang sedikit berkabut. Andaikan hidup memang seperti bossa nova yang lembut…</p>
<p>Kemudian kami kembali diam. Dengan pelan Maya membersihkan mulutnya dengan tissue. Seperti ingin mengapus dusta dari mulutnya. Mobil terus menembus hujan dan kerisauan.</p>
<p>“Turunkan aku sekarang…”</p>
<p>“Kita ke bar saja.”</p>
<p>“Tidak. Aku mau turun sekarang.”</p>
<p>“Hujan masih begini deras.”</p>
<p>“Tak apa. Kita pisah sekarang saja…”</p>
<p>“Maya…”</p>
<p>“Aku selalu menyiapkan diri untuk menghadapi saat-saat seperti ini. Karena aku yakin, semua orang yang aku cintai pada akhirnya memang akan pergi…”</p>
<p>“Kamu salah, Maya…”</p>
<p>“Mungkin. Tapi aku selalu berani menghadapi pilihan yang salah sekali pun. Sekarang turunkan aku…”</p>
<p>Aku ingin memaki ketololanku ketika akhirnya mobil berhenti. Maya tersenyum, dan mencium bibirku lembut. Masih kurasakan asin rasa sperma yang masih lengket di sela bibirnya. Dan dengan cepat ia keluar.</p>
<p>Hujan begitu deras. Dari balik kaca mobil yang gelap aku melihat bayangan Maya menjauh. Dia kemudian berhenti, menoleh ke arahku. Tubuhnya tampak pucat diguyur hujan dan cahaya lampu jalan. Aku ingin mengejar. Dan Maya seperti berdiri di bawah cahaya itu untuk menungguku keluar mobil, mengejarnya. Tapi aku hanya membenamkan tubuh dalam kebimbanganku. Lalu aku melihat tubuh maya yang pecat perlahan-lahan memudar. Dalam pendaran bening hujan karena sinar lampu jalan, tubuh Maya perlahan-lahan memudar, kemudian pecah seperti plasma cahaya..</p>
<p>PENYANYI itu menembangkan Misty, sembari sesekali memandang ke arahku yang duduk di dekat bar. Sudah sebulan ini aku selalu datang ke bar ini, memesan lagu yang itu-itu juga, sambil berharap bertemu dengan Maya. Di bar ini Maya biasanya nongkrong. Dia pernah bilang, bar ini telah menjadi rumahnya. Tempat dia bisa bertemu teman-teman sehati. Tapi Maya tak pernah muncul, sejak malam berhujan itu, dan aku melihatnya lenyap menjelma plasma cahaya.</p>
<p><em>Look at me,</em></p>
<p><em>I’m helpless as a kitten up a tree</em></p>
<p><em>An I feel like I’m clingin’ to a cloud,</em></p>
<p><em>I can’t understand</em></p>
<p><em>I get misty, just holding your hand</em></p>
<p>Aku berharap menembut kabut keraguanku, aku berharap bertemu Maya. Bar masih sunyi – dan seperti akan terus sunyi dalam hatiku – hingga aku malah merasa seperti berada dalam musium tanpa pengunjung. Dan aku perlahan-lahan menjadi arca, masih saja tak bisa berdamai dengan riwayatnya. Hingga ia selalu tergegergap setiap kali berkaca mendapati gurat-gurat lelah yang selalu disembunyikannya. Mata yang kehilangan cahaya. Rahang yang kerontang. Lakrimal yang bagai ceruk dangkal. Dengan bayangan murun tentang rumah yang tenang dengan celoteh anak-anak yang riang.</p>
<p>Lagu itu selalu mengingatku pada Maya, karena di bar ini, suatu malam aku pernah terpesona ketika dia menyanyikannya. Aku mulai merasa betapa ada sesuatu yang memang lebih berharga ketimbang ciuman dan sentuhan.</p>
<p>Andai aku berani mengakui. Andai aku bisa meyakinkan Maya. Tapi dia seakan-akan hilang ditelan hujan – dan setiap kali mengingat ini, aku menjadi kian merasa nestapa, karena kisah cintaku dengan Maya berakhir seperti sebaris lirik lagu pop murahan. Dan itu karena aku tak pernah berani mengakui mimpi-mimpiku. Sejak dulu. Sejak masa kanak-kanak. Aku berusaha mengingkarinya. Seperti ketika aku mengingkari mimpi-basah pertamaku. Aku masih selalu ingat, bagaimana aku tak pernah berani mengakui mimpi-basah pertamaku, ketika semua kawan bercerita tentang asyiknya mimpi-basah pertama mereka. Seorang kawan bercerita bagaimana dia bermimpi mencium teman sekelas yang diam-diam ditaksirnya Ada yang bercerita, ia mimpi mandi bersama Bu Guru mereka. Ada juga yang bermimpi didatangi bidadari, kemudian tergeragap bangun dengan rasa basah di celana. Aku lebih banyak diam mendengarkan. Tapi tak bisa mengelak ketika kawan-kawanku mendesak agar aku giliran bercerita. Sambil menunduk aku bercerita, kalau dalam mimpi basah pertamaku, aku bermimpi berciuman dengan seorang bintang film.</p>
<p>Tentu saja, aku berdusta saat itu. Aku tak pernah berani bilang, kalau dalam mimpi basah pertamaku, aku bersenggama denga ayah…</p>
<p>Sejak itu, aku selalu risau untuk membunuh mimpi-mimpiku. Fantasiku. Aku tak kunjung berani mengakui orientasi seksualku. Sampai aku bertemu Maya, seorang waria yang benar-benar membuatku kasmaran dan jatuh cinta.</p>
<p style="text-align: right;">Yogyakarta, 2003-2004</p>
<p style="text-align: left;">Redaksi SepociKopi mengucapkan terima kasih kepada Agus Noor atas izin pemuatan cerpen ini.</p>
<p><em>1 Insensatez atau (How Insensitive), judul satu komposisi berirama bossa nova yang dibuat oleh Antonio Carlos Jobin dan Vinicius de Moraes.</em></p>
<p><strong>Tentang Agus Noor:</strong><br />
Kelahiran Tegal 1968 meyakini bahwa menulis baginya adalah cara untu menyelamatkan diri dari kegilaan. Ia adalah sastrawan yang sangat produktif. Baru-baru ini, kumpulan cerpennya <em>Bibir Paling Indah di Dunia </em>masuk nominasi penghargaan sastra paling bergengsi Khatulistiwa Literary Award 2010. Buku-buku kumpulan cerpennya <span style="font-style: italic;">Memorabilia </span>(Yayasan untuk Indonesia, 1999), <span style="font-style: italic;">Bapak Presiden yang Terhormat</span> (Pustaka Pelajar, 2000), <span style="font-style: italic;">Selingkuh Itu Indah</span> (Galang Press, 2001), <span style="font-style: italic;">Rendezvous: Kisah Cinta yang Tak Setia</span> (Galang Press, 2004). Cerpennya terhimpun dalam antologi bersama, seperti <span style="font-style: italic;">Lampor</span> (Cerpen Pilihan Kompas, 1994) dan <span style="font-style: italic;">Jl. &#8220;Asmaradana&#8221;</span> (Cerpen Pilihan Kompas, 2005). Mendapat penghargaan sebagai cerpenis terbaik pada Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) IV tahun 1992. Sementara pada tahun 1999, tiga cerpennya <span style="font-style: italic;">Keluarga Bahagia, Dzikir Sebutir Peluru</span>, dan <span style="font-style: italic;">Tak Ada Mawar di Jalan Raya</span> masuk Anugrah Cerpen Indonesia yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta. Sedang cerpen <span style="font-style: italic;">Pemburu </span>oleh majalah sastra <span style="font-style: italic;">Horison</span> dinyatakan sebagai salah satu karya terbaik yang pernah terbit di majalah itu selama kurun waktu 1990-2000. <span style="font-style: italic;"> </span>Cerpennya <em>Potongan Cerita di Kartu Pos</em> dipilih SepociKopi pada Antologi Cerpen <em>Un Soir du Paris.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/12/20/cerpen-insensatez/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mix n’ Match: Tokoh-Tokoh Yang Bisa Jadi Gay/Lesbian dalam Film Kartun</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/08/15/mix-n-match-tokoh-tokoh-yang-bisa-jadi-gaylesbian-dalam-film-kartun/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/08/15/mix-n-match-tokoh-tokoh-yang-bisa-jadi-gaylesbian-dalam-film-kartun/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Aug 2010 16:17:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Mix n' Match]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Gay]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=8050</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Alex
Tulisan berikut ini terinspirasi karena keseringan nonton kartun, nggak ada maksud untuk mencari-cari tapi mata lesbian saya ini nggak bisa berhenti memicu otak saya untuk memikirkan “kemungkinan” seksualitas mereka. Ambiguitas seksualitas mereka tampak dari penampilan atau subteks yang terlihat melalui “mata lesbian” saya.
Saya yakin anak-anak yang menjadi sasaran film-film ini tidak berpikir semacam itu, tapi sekali lagi, ini mata lesbian saya yang mungkin berlebihan, atau mungkin kamu juga berpendapat sama?
Babi di Chicken Little. Babi dalam film ini menampilkan stereotipe gay, yang memiliki koleksi lengkap CD Barbra Streisand, berkaraoke riang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/08/Winnie-the-Pooh-Piglet-Wallpaper-disney-6616276-1024-768.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-11318" title="Winnie-the-Pooh-Piglet-Wallpaper-disney-6616276-1024-768" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/08/Winnie-the-Pooh-Piglet-Wallpaper-disney-6616276-1024-768.jpg" alt="" width="294" height="222" /></a>Oleh: Alex</p>
<p>Tulisan berikut ini terinspirasi karena keseringan nonton kartun, nggak ada maksud untuk mencari-cari tapi mata lesbian saya ini nggak bisa berhenti memicu otak saya untuk memikirkan “kemungkinan” seksualitas mereka. Ambiguitas seksualitas mereka tampak dari penampilan atau subteks yang terlihat melalui “mata lesbian” saya.</p>
<p>Saya yakin anak-anak yang menjadi sasaran film-film ini tidak berpikir semacam itu, tapi sekali lagi, ini mata lesbian saya yang mungkin berlebihan, atau mungkin kamu juga berpendapat sama?</p>
<p><strong>Babi di Chicken Little</strong>. Babi dalam film ini menampilkan stereotipe gay, yang memiliki koleksi lengkap CD Barbra Streisand, berkaraoke riang dengan lagu Spice Girls, dan menyanyikan lagu “I Will Survive” dengan penuh semangat. (Buat yang nggak tahu, Barbra Streisand konon memiliki banyak fans dari kalangan gay.) Ia juga naksir si rubah yang tadinya tidak jelas kelaminnya kemudian berubah jadi perempuan pada akhinya.</p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="300" height="250" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/rBNtGEFu3xI?fs=1&amp;hl=en_US" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="300" height="250" src="http://www.youtube.com/v/rBNtGEFu3xI?fs=1&amp;hl=en_US" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><strong><span id="more-8050"></span>Piglet.</strong> Siapa tak kenal dengan babi pink dalam kisah legendaris si beruang madu yang baik hati <em>Winnie the Pooh</em>? Piglet yang walaupun laki-laki memakai baju pink, suka bersih-bersih dan merapikan rumah. Gagap dan takut-takutnya membuat piglet kelihatan makin feminin. Ngomong-ngomong soal feminin, awalnya saya mengira Piglet itu perempuan lho. Saya suka syal ungu Piglet dalam video ini.</p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="300" height="250" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/wKsOxTxJ5hI?fs=1&amp;hl=en_US" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="300" height="250" src="http://www.youtube.com/v/wKsOxTxJ5hI?fs=1&amp;hl=en_US" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p><strong>Ken di Toy Story 3</strong>. Yah, kita semua kenal Ken sebagai pasangan Barbie? Tapi dalam <em>Toy Story 3,</em> Disney Pixar menampilkan sosok Ken yang amat metroseksual. Dengan pakaian-pakaian ala fashionista berwarna-warni ceria. Dia bahkan lebih sering berdandan dibanding Barbie dalam film ini. Ah, sudah, lihat saja Ken di video ini, <em>groovy </em>banget deh baju-bajunya.</p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="300" height="250" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/DmgB0iWiXXY?fs=1&amp;hl=en_US" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="300" height="250" src="http://www.youtube.com/v/DmgB0iWiXXY?fs=1&amp;hl=en_US" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>Bicara soal Barbie, hm ada satu film Barbie yang merupakan favorit saya. <strong>Barbie and the Diamond Castle.</strong> Ini film Barbie pertama yang saya tonton dengan ending Barbie tidak bersama sang lelaki tampan. Dikisahkan dua sahabat Barbie sebagai Liana dan Teresa sebagai Alexa adalah dua gadis yang bersahabat akrab. Mereka tinggal serumah, suka bernyanyi, dan menjalani petualangan bersama untuk menemukan Diamond Castle. Dan jangan lupakan endingnya ketika mereka pun tinggal bersama berdua, tanpa laki-laki. Wuih!</p>
<p><object classid="clsid:d27cdb6e-ae6d-11cf-96b8-444553540000" width="300" height="250" codebase="http://download.macromedia.com/pub/shockwave/cabs/flash/swflash.cab#version=6,0,40,0"><param name="allowFullScreen" value="true" /><param name="allowscriptaccess" value="always" /><param name="src" value="http://www.youtube.com/v/aLvRkdFVO6Q?fs=1&amp;hl=en_US" /><param name="allowfullscreen" value="true" /><embed type="application/x-shockwave-flash" width="300" height="250" src="http://www.youtube.com/v/aLvRkdFVO6Q?fs=1&amp;hl=en_US" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true"></embed></object></p>
<p>Selain di atas, masih ada beberapa tokoh yang dianggap ambigu seksualitasnya seperti Bert dan Ernie yang hidup bersama dalam <em>Sesame Street.</em> SpongeBob yang oh<em> well</em>&#8230; SpongeBob. Atau Tinky Winky di <em>Teletubbies.</em> Tapi sudahlah tidak perlu kelihatan terlalu mencari-cari&#8230;.</p>
<p>@Alex, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/08/15/mix-n-match-tokoh-tokoh-yang-bisa-jadi-gaylesbian-dalam-film-kartun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bengkel Menulis: Lambda Literary Awards, Penghargaan Bergengsikah?</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/06/03/bengkel-menulis-lambda-literary-awards-penghargaan-bergensikah/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/06/03/bengkel-menulis-lambda-literary-awards-penghargaan-bergensikah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jun 2010 10:23:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bengkel Menulis]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Gay]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=7368</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lakhsmi
Mau tahu bagaimana geliat sastra LGBT di negara nun jauh di sana, di mana homoseksualitas sudah lebih baik daripada di Indonesia? Intip yuk. Penghargaan Lambda adalah penghargaan sastra LGBT paling bergengsi Amerika. Penghargaan ini kerap disebut sebagai the Lammy, penghargaan yang merayakan karya-karya sastra dengan tema LGBT. Misi mereka adalah membesarkan, menghormati, dan menjaga sastra LGBT melalui program-program yang mendukung karya-karya indah, membuka cakrawala kesempatan, dan mendorong perkembangan para penulis pemula.
Sejarah yayasan Lambda Literary dimulai ketika L. Page Maccubin, pemilik toko buku LGBT terkenal Lambda Rising Bookstore di Washington ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/06/Lambda_Literary_Awards_logo_gold.png"><img class="alignleft size-full wp-image-7376" title="Lambda_Literary_Awards_logo_gold" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/06/Lambda_Literary_Awards_logo_gold.png" alt="Lambda_Literary_Awards_logo_gold" width="198" height="190" /></a>Oleh: Lakhsmi</p>
<p>Mau tahu bagaimana geliat sastra LGBT di negara nun jauh di sana, di mana homoseksualitas sudah lebih baik daripada di Indonesia? Intip yuk. Penghargaan Lambda adalah penghargaan sastra LGBT paling bergengsi Amerika. Penghargaan ini kerap disebut sebagai <em>the Lammy</em>, penghargaan yang merayakan karya-karya sastra dengan tema LGBT. Misi mereka adalah membesarkan, menghormati, dan menjaga sastra LGBT melalui program-program yang mendukung karya-karya indah, membuka cakrawala kesempatan, dan mendorong perkembangan para penulis pemula.</p>
<p>Sejarah yayasan Lambda Literary dimulai ketika L. Page Maccubin, pemilik toko buku LGBT terkenal Lambda Rising Bookstore di Washington DC menerbitkan catatan pertamanya <em>Lambda Book Report</em> atau LBR. Akhirnya, dari LBR lahirlah penghargaan Lambda pada tahun 1989. Beberapa pengarang terkenal menghadiri malam perayaan kelahiran Lambda. Mereka menerima pita hitam penghargaan <em>honor as distinguished writer</em>.  Suatu malam yang sangat membanggakan, membuka harapan dan cakrawala baru bagi sastra bertema LGBT.</p>
<p><span id="more-7368"></span>Pada tahun-tahun selanjutnya, penghargaan Lambda berkembang secara besar di Amerika, menyembulkan bunga-bunga sastra LGBT dari kerja sama yang dinamis antara penerbit, toko buku, dan kaum LGBT sendiri. Lambda Book Report (LBR) pun tumbuh menjadi ruang studi dan review sastra yang sangat mumpuni, menunjukkan keperkasaan dan kehebatan para kritikus memberikan kritik dan pujian kepada karya-karya LGBT. Tahun 1997, Yayasan Lambda Literary akhirnya berdiri secara resmi dan profesional, mengurus penghargaan Lambda dan penerbitan LBR.</p>
<p>Di tahun 2007, Yayasan Lambda meluncurkan program residensi untuk para pengarang LGBT. Namanya adalah <em>Writers’ Retreat for Emerging LBGT Voices</em>. Di program residensi ini, para penulis terpilih (yang sedang bersinar di dunia sastra) akan mendapat bimbingan oleh tim sastrawan elit yang karya-karyanya dihormati secara luas dan tentu saja, dosen-dosen sastra terhebat di bidangnya. Program residensi ini memberikan masa depan yang sangat baik untuk kemajuan sastra LGBT di Amerika.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan Indonesia? Penghargaan sastra masih terhitung dengan beberapa jari. Jangankan sastra bertema LGBT, sastra bertema umum pun belum mendapat penghargaan yang layak. Sastra LGBT harus berjuang di tengah-tengah sastra bertema umum. Kita harusnya berterimakasih kepada Penghargaan Dewan Kesenian terhormat yang pernah memenangkan <a href="http://sepocikopi.com/2008/07/20/buku-tabula-rasa-%E2%80%93-pertanyaan-pertanyaan-tentang-cinta/">Tabula Rasa karya Ratih Kumala</a> yang memiliki unsur homoseksualitasnya. Kita juga selayaknya berterimakasih kepada penghargaan Adikarya Ikapi untuk novel <a href="http://sepocikopi.com/2007/09/23/buku-detik-terakhir-buku-lesbian-pemenang-adikarya-ikapi/">Detik Terakhir karya Alberthiene Endah</a> kategori novel remaja yang bertema LGBT.</p>
<p>Di tahun 2009, penghargaan sastra LGBT bergengsi Lambda Literary Award, memberikan pernyataan terbarunya kepada publik, sehubungan dengan perubahan sistem seleksi mereka. Pernyataan tersebut diterjemahkan sebagai berikut:</p>
<p><em>“Kami mengerti kesedihan perasaan penulis LGBT &#8211; ketika penulis hetero menghasilkan buku sangat cantik tentang homoseksual dan berhasil memenangkan penghargaan Lambda sementara penulis LGBT sendiri hanya duduk sebagai finalis – yang sangat berharap di penghargaan ini sebagai bagian dari karir mereka satu-satunya di dunia sastra. Karena itu kami akan akan memberikan nominasi kepada buku dengan penilaian sebagai berikut: buku tersebut harus bertema LGBT dan pengarangnya adalah sosok yang bisa membuka dirinya sebagai anggota keluarga besar penulis LGBT.”</em></p>
<p>Perubahan pra-seleksi pemenang penghargaan Lambda meledakkan reaksi pro-kontra yang besar dalam skala nasional. Penulis gay Brent Hartinger (pernah memenangkan penghargaan Lambda dan telah menerbitkan banyak novel bertema gay) menulis kritik keras terhadap &#8220;diskriminasi&#8221; kaum hetero di situs gay AfterElton.com. Menurutnya, pengotak-kotakan penghargaan terhadap &#8220;siapa yang menulis&#8221; atas sebuah buku melemahkan nilai kualitas penghargaan itu sendiri. Fiksi tidak pantas apabila hanya dinilai dari siapa pengarangnya, fiksi bergenre apa pun selayaknya dinilai atas karyanya yang bersinar.</p>
<p>Beberapa artikel lain yang kontra memberikan analogi perlombaan Olimpiade. Bayangkan perlombaan sekeren Olimpiade harus dibatasi peserta karena &#8211; misalnya, warna rambut harus pirang. Mereka juga mengatakan bahwa pengecilan pra-seleksi menjadikan karya LGBT yang mendapat penghargaan memudar kualitasnya, berbuntut tak memiliki daya saing di tengah arena fiksi umum. Mereka juga mulai mengejek penghargaan Lambda bukan lagi sebagai penghargaan sastra tapi penghargaan &#8220;penulis yang berani <em>Coming Out</em>&#8221; dan bertanya-tanya apakah ini pembalasan dendam kaum LGBT kepada kaum hetero dengan mendeskriminasikan mereka.Penulis lesbian, Nicola Griffith juga menolak keras keputusan yayasan Lambda, mengatakan bahwa seksualitas adalah hal yang cair sehingga tidak mungkin sebuah yayasan menentukan definisi seksualitas atas kemenangan suatu karya sastra.</p>
<p>Sementara yang pro menyatakan bahwa penulis non-LGBT telah memiliki banyak penghargaan lain yang layak diikuti, yang bertebaran di mana-mana. Lambda Literary Awards adalah satu-satunya penghargaan yang menjadi awal karir seorang penulis LGBT. Sebagai pendorong majunya penulis LGBT, selayaknya yayasan Lambda memberikan perlindungan bagi kaum LGBT agar bisa &#8220;menang&#8221; di antara populasi masyarakat umum. Dalam debat dan diskusi, Yayasan Lambda bertahan dengan keputusan mereka karena mereka memiliki dan mendukung misi yang selalu berupaya untuk mendorong penulis LGBT pemula.</p>
<p>Silang pendapatan pro-kontra menjadi ramai dan semakin seru. Bintang penulis-penulis Amerika yang mapan dari kaum hetero maupun LGBT menyuarakan pendapat mereka. Senang sekali membaca perdebatan sehat seperti ini di situs-situs LGBT dan blog para penulis. Tapi apa pun silang pendapat, pro maupun kontra, yayasan Lambda bergeming dengan seleksi mereka sehingga sampai sekarang penghargaan Lambda tetap didasari pada orientasi seksual.</p>
<p>Nah, bagaimana menurut pendapatmu, lesbian Indonesia? Apakah memang penghargaan karya lesbian sewajibnya dihargai karena orientasi seksual para penukangnya? Ataukah tidak? Secercah renungan buat masa depan sastra LGBT Indonesia.</p>
<p>@Lakhsmi, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/06/03/bengkel-menulis-lambda-literary-awards-penghargaan-bergensikah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sejarah Pengkhianatan</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/05/11/sejarah-pengkhianatan/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/05/11/sejarah-pengkhianatan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 May 2010 09:26:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Friendship]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Gay]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=7108</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lakhsmi
Seorang lesbian mendapat kejutan di suatu hari. Ibunya menerima SMS kaleng, mengatakan anak perempuannya seorang lesbian yang selama ini berpura-pura berpacaran dengan lelaki untuk menutupi orientasi seksualnya. Anaknya juga sering bergaul dengan sesama sahabat lesbian lainnya. Sejak hari itu, hubungan si ibu-anak dalam keluarga menjadi tegang, nyaris mengakibatkan seorang lesbian diusir dari rumah, putus sekolah, dan terkatung-katung di jalanan. Siapa yang mengirim SMS kaleng dan menghancurkan hidupnya? Tentu saja dapat ditelusuri dengan mudah: pacar si anak.
Pengkhianatan. Betrayal. Backstabbing. Menggunting di dalam lipatan. Jangankan di dunia lesbian, dunia hetero pun ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/05/backstabber2.jpeg"><img class="alignleft size-medium wp-image-7111" title="backstabber2" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/05/backstabber2-216x300.jpg" alt="backstabber2" width="173" height="240" /></a>Oleh: Lakhsmi</p>
<p>Seorang lesbian mendapat kejutan di suatu hari. Ibunya menerima SMS kaleng, mengatakan anak perempuannya seorang lesbian yang selama ini berpura-pura berpacaran dengan lelaki untuk menutupi orientasi seksualnya. Anaknya juga sering bergaul dengan sesama sahabat lesbian lainnya. Sejak hari itu, hubungan si ibu-anak dalam keluarga menjadi tegang, nyaris mengakibatkan seorang lesbian diusir dari rumah, putus sekolah, dan terkatung-katung di jalanan. Siapa yang mengirim SMS kaleng dan menghancurkan hidupnya? Tentu saja dapat ditelusuri dengan mudah: pacar si anak.</p>
<p>Pengkhianatan. <em>Betrayal. Backstabbing</em>. Menggunting di dalam lipatan. Jangankan di dunia lesbian, dunia hetero pun memiliki kisah sejarah pengkhianatan yang panjang dan terkenal. Ingat cerita bagaimana Brutus mengkhianati Ceasar? Delilah mengkhianati Samson? Yudas mengkhianati Yesus? Dari sejarah Indonesia, 350 tahun penjajahan Belanda diisi dengan penuh pengkhianatan dari kaum pribuminya sendiri. Jendral Sudirman dan Cut Nyak Dien, adalah contoh pemimpin besar Indonesia yang harus takluk karena pengkhianatan dari dalam lingkungannya sendiri.</p>
<p><span id="more-7108"></span>Pengkhianatan menurut Wikipedia adalah perusakan suatu hubungan sosial yang mulanya didasari pada kepercayaan, meninggalkan lubang besar tentang hukum moral dan konflik psikologis antara individu satu sama lainnya, atau individu dan organisasi. Pengkhianatan adalah sikap membela grup yang berbeda atau hanya keinginan untuk satu perpecahan. Orang yang berkhianat disebut Sang Pengkhianat.</p>
<p>Dalam dunia lesbian, konon <em>backstabbing </em>menjadi hal yang sering terdengar. Pacar/mantan pacar yang sakit hati tega melakukannya. Sahabat yang dengki nekad melakukannya. Kondisi sosial di Indonesia yang masih menabukan homoseksual, maka kerahasiaan orientasi seksual menjadi umpan yang sedap bagi para manusia pemuja altar pengkhianatan. Persahabatan lesbian, antar-<em>gank </em>lesbian, dan hubungan kekasih diwarnai dengan <em>backstabbing</em>.</p>
<p>Dari dulu, komunitas dan organisasi LGBT mengeluhkan hal yang sama. Para penentang kehidupan homoseksual dan lesbian yang terbesar justru bukan berasal dari masyarakat hetero. Kaum lesbian sendirilah yang paling sering berkhianat terhadap komunitasnya. Ada penyakit psikologis kronis yang didera oleh para lesbian: berbahagia dalam ketidakbahagiaan orientasi seksualnya sehingga menjadi depresi berat saat beberapa sahabat lesbian sungguh berbahagia pada pilihan hidupnya.</p>
<p>Mengapa terjadi seperti ini? Mengapa para lesbian sendiri yang menentang komunitas lesbian? Pertanyaan ini baiknya dikembalikan kepada diri sendiri. <em>Musuh terbesar diri kita bukan orang lain, melainkan diri sendiri. </em>Ketika pergumulan besar bergolak pada diri seorang lesbian, ketika seorang lesbian belum menemukan kedamaian pada dirinya&#8230; ya, dia memang sedang berhadapan dengan dirinya sendiri. Komunitas lesbian sebenarnya tidak sedang menghadapi masyarakat hetero sebagai perlawanannya, melainkan anggotanya sendiri yang belum bisa berdamai.</p>
<p>Selama tiga tahun, situs SepociKopi menerima komen-komen kasar dari masyarakat hetero, itu benar. Tapi percayalah, situs ini lebih sering menerima komen-komen dan ancaman yang (lebih) tak bermartabat dari sesama teman-teman lesbian sendiri! Bukankah ini menjadi ironi yang memilukan? Sementara redaksi telah menerima ratusan email di <em><a href="http://users.smartgb.com/g/g.php?a=s&amp;i=g18-00485-b3">Guestbook</a> </em>dan email dari para pembaca lesbian yang menemukan oase informasi dan penghiburan di situs ini. Ada beberapa email mengharu-biru yang mengatakan betapa berartinya artikel-artikel di SepociKopi baginya, sebab telah menemaninya dalam kesepian dan keinginan untuk bunuh diri. Betapa menyedihkan mengetahui oase yang meneduhkan &#8212; bahkan menyelamatkan &#8212; ini malah ditentang dan hendak dirampas oleh sesama lesbian lain.</p>
<p>Ingatkah kisah Pararaton? Ken Arok membuat sejarah menjadi penuh darah, intrik, dan perang. Dia bukan hanya membunuh sahabatnya, Mpu Gandring yang diminta untuk membuat keris pusaka yang akan digunakan untuk membunuh Tunggul Ametung &#8212; orang yang harus dikawalnya di Tumapel. Setelah itu, Ken Arok merebut istri Tunggul Ametung, Ken Dedes dengan menimpakan kejahatan pembunuhan itu di tangan Kebo Hijo. Ia mengangkat diri menjadi pemimpin di Tumapel, bersumpah setia untuk menjadi bagian dari Kerajaan Kediri. Tahun 1222, Ken Arok memberontak dari Kerajaan Kediri, merebut kerajaan itu, dan menjadi raja pertama.</p>
<p>Hiruk pikuk pengkhianatan sudah berjalan sejak manusia berada di bumi. Sejarah pengkhianatan adalah cerita tentang dendam dan ambisi kejahatan para manusia yang terlibat di dalamnya. Apakah kita mau menjadi lesbian yang sempoyongan karena terus-menerus mendapat tikaman bertubi-tubi di punggung dan depan oleh lesbian lain? Dalam drama Julius Ceasar, Shakespeare melukiskan detik-detik terakhir Ceasar meregang nyawa. Ketika belati menghujam ke tubuhnya, Ceasar berkata lemah, &#8220;Dan engkau juga, Brutus?&#8221;</p>
<p>Sampai hari ini, masih banyak Brutus-brutus lain di antara para lesbian. Seorang teman selayaknya menjadi orang yang membelamu ketika kamu terjatuh atau berada dalam titik terendah dalam hidup, bukan orang yang mengakibatkan kejatuhanmu, apalagi menjadi yang pertama mengolok-olokmu ketika kamu berada dalam masalah. Menjauhlah dari lesbian yang hatinya diliputi awan dengki dan dendam seperti itu. Dunia sudah penuh dengan sejarah pengkhianatan &#8211; termasuk negeri ini, jangan lagi jalan panjang lesbian dipenuhi dengan jejak darah dan air mata. <em>Wahai lesbian, engkaukah Brutus itu?</em></p>
<p>@Lakhsmi, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/05/11/sejarah-pengkhianatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Have Your Say: Menikah dengan Gay</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/03/19/have-your-say-menikah-dengan-gay/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/03/19/have-your-say-menikah-dengan-gay/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Mar 2010 10:30:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Have Your Say]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Gay]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[menikah]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=6475</guid>
		<description><![CDATA[Banyak lesbian yang mengharapkan memiliki suami gay sehingga pernikahan mereka tidak menjadi beban. Bisakah pernikahan pura-pura ini sukses? Mungkin ada yang sukses, tapi masih ada keraguan bagi banyak lesbian yang ingin mencoba-coba. Dengarkan kisah kita, Reda White, yang menceritakan kisah perkawinannya dengan lelaki gay.
Saya menikah karena terpaksa. Tidak ada jalan lain yang bisa saya ambil. Ibu saya sudah mencurigai hubungan saya dengan pacar saya saat itu. Ibu mendesak saya menikah dengan cowok yang saya pacari pura-pura. Cowok itu tidak tahu saya lesbian, tapi saya memacarinya karena dia naksir dengan saya.
Setelah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-6477" title="images" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/03/images.jpg" alt="images" width="180" height="180" /><em>Banyak lesbian yang mengharapkan memiliki suami gay sehingga pernikahan mereka tidak menjadi beban. Bisakah pernikahan pura-pura ini sukses? Mungkin ada yang sukses, tapi masih ada keraguan bagi banyak lesbian yang ingin mencoba-coba. Dengarkan kisah kita, Reda White, yang menceritakan kisah perkawinannya dengan lelaki gay.</em></p>
<p>Saya menikah karena terpaksa. Tidak ada jalan lain yang bisa saya ambil. Ibu saya sudah mencurigai hubungan saya dengan pacar saya saat itu. Ibu mendesak saya menikah dengan cowok yang saya pacari pura-pura. Cowok itu tidak tahu saya lesbian, tapi saya memacarinya karena dia naksir dengan saya.</p>
<p><span id="more-6475"></span>Setelah keseriusan mencapa level tinggi, saya tidak tahan lagi. Saya bersama pacar cewek saya mencari jalan keluar. Akhirnya kami mencari gay, lelaki yang akan saya nikahi. Tentu saja lelaki itu harus bersedia menikah pura-pura dengan saya. Kami berkeliling dari satu komunitas dan kelompok gay, mencari lelaki yang tepat. Tidak bisa sembarangan mencari calon suami, biar pun cuma pura-pura. Lelaki gay itu haruslah tegap (tidak boleh kelihatan &#8220;melambai&#8221;), seagama, mapan, dan bisa dipercaya.</p>
<p>Kami bertemu dengan G di sebuah acara pertemanan. Langsung saja kami terlibat pembicaraan yang seru dan dalam hati saya merasa sreg dengan G. Setelah itu, kami jadi sering dekat dan saya mulai mendekati G untuk mengungkapkan niat dan rencana saya. Tidak diduga, G tidak mau setuju begitu saja. Dia butuh waktu berpikir. Dua bulan setelah itu, G memantapkan niatnya untuk menikahi saya.</p>
<p>Saya memutuskan pacar saya yang langsung sakit hati. Saya tidak tahu ternyata pacar saya sakit setelah itu dan meninggal sebulan setelah saya menikah. Saya baru diberitahu teman tentang keadaannya. Mantan pacar saya meninggal muda sekali, di usia tiga puluh karena lever. Itu sih yang saya dengar, tapi saya menyimpan rasa bersalah yang teramat besar. Jangan-jangan dia meninggal karena sedih dengan perpisahan dan pernikahan saya.</p>
<p>Akhirnya kami menikah. Berpura-pura honeymoon. Berpura-pura tidur bersama di satu kamar. Saya bertekad keluar rumah, tidak mau tinggal bersama orangtua. Kami pun memilih menyewa rumah bareng, walaupun kecil dan di gang. Yang penting orangtua saya tidak perlu tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Pacar perempuan saya segera pindah ke rumah sewaan kami. &#8220;Suami&#8221; saya tinggal di kamar satunya lagi.</p>
<p>Apakah masalah selesai dengan itu? Tidak! Ibu saya sering datang dan menginap. Jika ibu saya menginap atau mertua datang, saya harus menjaga sikap. Saya dan suami harus tidur bareng di satu kamar. Alangkah tersiksanya saya terpaksa tidur dengan G. Saya tidak berani tidur terpisah ranjang dengan tiker/kasur tipis, takut ketahuan ibu atau mertua. Mana mungkin sih pasutri baru menikah tidurnya berpisah? Aneh.</p>
<p>Problem kedua bermunculan sehubungan dengan masalah keuangan. Saya harus membagi sebagian uang saya untuk pernikahan antara saya dan G. Rumah harus disewa berdua. Tukang cuci baju harus datang dan dibayar. Belum bayaran ini itu. Tentu saja pacar saya mau membantu dalam urusan finansial, tapi tetap saja akhirnya pernikahan membutuhkan pengeluaran tersendiri.</p>
<p>Problem ketiga adalah toleransi dengan keluarganya yang selalu mau tau urusan orang. Kakak dan sepupunya harus dikunjungi, harus bertemu dengan keluarga besarnya, dan yang paling parah, keluarganya mau meminjam uang kepada kami. Mereka mengira kami adalah pasangan yang mempunyai uang banyak, karena kami berdua sama-sama bekerja. Menolak mereka sungguh pekerjaan yang melelahkan.</p>
<p>Problem keempat adalah urusan kehamilan. Menikah bukan solusi segalanya. Pertanyaan kapan hamil mulai menggaungi telinga kami. Saya disodorkan nama-nama dokter, bahkan ibu saya menawarkan diri untuk menemani saya mengunjungi dokter yang dapat membuat saya hamil.</p>
<p>Sampai sekarang problem-problem tersebut terus menerus bermunculan dan tak henti. Tulisan ini dibuat untuk mengingatkan para lesbian lain yang menganggap pernikahan dengan gay adalah jalan keluar. Menurut saya bukan jalan keluar. Saya sudah mengalaminya dan saya pusing tujuh keliling dengan keadaan ini. Jalan apa pun yang diambil memiliki konsekuensi dan problemnya sendiri-sendiri, putuskan dengan bijak, dan hadapi saja tanpa banyak mengeluh.</p>
<p>@Reda White, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/03/19/have-your-say-menikah-dengan-gay/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TAJUK: Stephen Gately dan Kita</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/10/13/tajuk-stephen-gately-dan-kita/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/10/13/tajuk-stephen-gately-dan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 14:19:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tajuk]]></category>
		<category><![CDATA[Gay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=4443</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nuha Guwa
Kematian sesuatu yang sulit dipahami, namun sangat lazim terjadi. Kita sudah sangat akrab dengan kematian. Hampir setiap hari media massa menghiasi headline mereka dengan jumlah-jumlah kematian, dan cara-cara kematian yang tidak biasa. Namun tetap saja misteri kematian tak bisa terjawab dengan mudah. Ke mana roh-roh kita pergi? Apakah setiap yang jahat akan memasuki neraka dan yang baik memasuki surga? Atau pengadilan Tuhan yang teradil tersebut akan membuat kejutan-kejutan ajaib, ternyata seseorang yang tadinya kita anggap bukan siapa-siapa dan amalnya tidak seberapa bisa menduduki singgasana surga.
Kematian menurut Wikipedia merupakan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-medium wp-image-4444" title="poci1" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/10/poci1-208x300.jpg" alt="poci1" width="195" height="280" />Oleh: Nuha Guwa</p>
<p>Kematian sesuatu yang sulit dipahami, namun sangat lazim terjadi. Kita sudah sangat akrab dengan kematian. Hampir setiap hari media massa menghiasi <em>headline</em> mereka dengan jumlah-jumlah kematian, dan cara-cara kematian yang tidak biasa. Namun tetap saja misteri kematian tak bisa terjawab dengan mudah. Ke mana roh-roh kita pergi? Apakah setiap yang jahat akan memasuki neraka dan yang baik memasuki surga? Atau pengadilan Tuhan yang teradil tersebut akan membuat kejutan-kejutan ajaib, ternyata seseorang yang tadinya kita anggap bukan siapa-siapa dan amalnya tidak seberapa bisa menduduki singgasana surga.</p>
<p>Kematian menurut Wikipedia merupakan akhir dari kehidupan, ketiadaan nyawa dalam organisme biologis. Di mana makhluk hidup pada akhirnya akan mati secara permanen, baik karena penyebab alami berupa penyakit atau sebab tidak alami  seperti kecelakaan. Kematian tak bisa ditunda. Datangnya bisa sembarangan, tergantung takdir setiap orang. Tapi jika takdir konon bisa bergeser oleh perbuatan mulia, siapa juga tak mau menggeser kepastian kematiannya dengan perbuatan baik? Maaf, kalimat yang terakhir itu hanya asumsi saya sendiri. Tetap saja cara pandang Tuhan melihat kematian beda dengan harapan-harapan kita. Jika saja kita bisa memesan kematian, pada tanggal sekian-sekian, jam ini dan begini. Dalam keadaan demikian dan sekian. Tapi keadaan kematian merupakan hak mutlakNya. Bisa saja terjadi di depan altar gereja, atau sedang sujud pada salat malam yang sepi.</p>
<p><span id="more-4443"></span>Baiklah, sebenarnya saya mengangkat tema ini karena berkaitan dengan kematian seorang homoseksual terkenal. Siapa lagi kalau bukan salah satu pentolan Boyzone, Stephen Gately. Kematian Stephen Gately memang mengejutkan. Tentu saja karena pertama penggemarnya banyak, kedua ia dikenal sebagai homoseksual. Jadi lengkaplah isu tersebut untuk dijadikan sebagai salah satu <em>headline </em>media gosip untuk mengupas habis kematian tersebut.</p>
<p>Diagnosis awal Stephen diduga meninggal dunia akibat tersedak muntahannya sendiri. Tragis bukan? Namun ada sekelumit cerita sehari sebelum ia wafat. Menurut beberapa informasi terdekat. Ia dan pacarnya, Andy Cowles berpesta di Black Cat Disco, <em>Gay Club </em>di Majorca Spanyol. Hanya selang beberapa jam setelah tiba di rumah, Gately ditemukan tak bernyawa di rumah liburan mereka. Andy Cowles menemukan Stephen tak bernapas dalam posisi seperti sedang berdoa, mengenakan piama, dengan kondisi kepala terbenam di bantalan sofa. Dugaan-dugaan atas penggunakan obat-obatan terlarang maupun overdosis minuman keras merebak. Tentu  kematian dengan cara ini ini bukan kabar menyenangkan untuk para homoseksual. Namun apa lacur? Ini merupakan fenomena menjadi marginal.</p>
<p>Apa pun penyebab kematian Stephen, tentu muncul ucapan dukacita mendalam atas petaka tersebut. Semoga arwahnya  mendapat tempat terbaik di pangkuan Tuhan. Tulisan ini  tak bermaksud menyudutkan, atau menambah duka keluarga atau fans yang ditinggalkan. Hanya segelintir renungan buat kita yang merasa senasib sebagai homoseksual. Kita tidak pernah tahu, terkadang kematian mungkin jalan terbaik bagi seseorang. Namun tentunya kita bisa mengambil hikmah atas kematian tersebut. Bagi kita para lesbian, tentu berharap kematian kita nantinya merupakan kematian dalam keadaan yang baik. Setidaknya ilmu yang sudah kita dapatkan susah payah selama ini bermanfaat sepanjang masa. Harta yang kita kumpulkan setengah mati memberi manfaat bagi orang lain. Waktu-waktu penting terbagi adil buat keluarga, kerabat, teman dan partner terkasih.</p>
<p>Hari-hari yang kita lewati saat ini semakin mendekatkan kita dengan kematian. Jangan sampai kita malah menyibukkan diri dengan aktivitas dan kegiatan yang sangat bertolak belakang dengan persiapan menghadapi kematian ini. Tujuan utama hidup memang mencapai kebahagiaan, tentu bukan hanya di dunia saja, tak seorang pun dapat membawa harta bendanya ke dalam kuburan.</p>
<p>Jenazah dikuburkan hanya dengan dibungkus kain kafan yang dibuat dari bahan murah. Atau peti mati yang tak berharga. Bahkan pada saat menjadi abu tubuh itu benar-benar hanya segelintir debu. Tubuh datang ke dunia ini seorang diri dan pergi darinya pun dengan cara yang sama. Modal yang dapat dibawa seseorang ketika mati hanyalah amal kebaikan. Stephen Gately wafat di depan kekasihnya sendiri. Mungkin belum sempat menulis wasiat, barangkali juga pasangannya tak kuat menerima keadaan tersebut, kemudian menjadi frustrasi dan stres karena ditinggal pergi begitu saja. Tidak apa-apa kok jika kematian Stephen Gately menyegarkan kembali kesadaran kita akan hakekat kematian itu sendiri. Sebagai lesbian tentu tidak salah jika kemudian kita bercita-cita semoga kematian itu nanti merupakan sebuah kematian yang terindah.</p>
<p>@Nuha Guwa, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/10/13/tajuk-stephen-gately-dan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buku: Un Homme et Une Femme : Saat Cinta Sejati Dipertanyakan</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/09/28/buku-un-homme-et-une-femme-saat-cinta-sejati-dipertanyakan/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/09/28/buku-un-homme-et-une-femme-saat-cinta-sejati-dipertanyakan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Sep 2009 06:13:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Gay]]></category>
		<category><![CDATA[Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=4265</guid>
		<description><![CDATA[ Oleh: Grey Sebastian
*spoiler alert*

“Pernah nggak terlintas di pikiran kamu kalau orang yang bersama kamu sekarang bukanlah orang yang seharusnya bersama kamu, dan orang yang harusnya bersama kamu sekarang masih menunggu di luar sana untuk kamu temukan?”
Beginilah kalimat pembuka pada bagian prolog Un Homme et Une Femme. Sejak halaman pertama, pembaca sudah dijelaskan dengan permasalahan yang menjadi kebingungan kedua tokoh utama dalam novel ini. 
Cerita di buka ketika Lara, seorang perempuan muda yang mulai merasa galau dan terus bertanya-tanya apakah Khrisna adalah pria “the one” dalam hidupnya. Karena itulah ia ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/09/homme.jpg" alt="homme" title="homme" width="170" height="250" class="alignleft size-full wp-image-4266" /> Oleh: Grey Sebastian</p>
<p><strong>*spoiler alert*<br />
</strong><br />
<em>“Pernah nggak terlintas di pikiran kamu kalau orang yang bersama kamu sekarang bukanlah orang yang seharusnya bersama kamu, dan orang yang harusnya bersama kamu sekarang masih menunggu di luar sana untuk kamu temukan?”</em></p>
<p>Beginilah kalimat pembuka pada bagian prolog <em>Un Homme et Une Femme. </em>Sejak halaman pertama, pembaca sudah dijelaskan dengan permasalahan yang menjadi kebingungan kedua tokoh utama dalam novel ini. </p>
<p>Cerita di buka ketika Lara, seorang perempuan muda yang mulai merasa galau dan terus bertanya-tanya apakah Khrisna adalah pria <em>“the one” </em>dalam hidupnya. Karena itulah ia meminta Bayu, sahabatnya yang juga merupakan adik Khrisna, untuk membantunya memainkan sebuah skenario agar memiliki alasan untuk meminta <em>“time out” </em>dari Khrisna, supaya mereka bisa menjalani hidup masing-masing dulu sebelum memantapkan diri melangkah ke jenjang berikutnya dalam hubungan mereka. </p>
<p><span id="more-4265"></span>Sedangkan Bayu, yang pernah mengalami patah hati berat, akhirnya menemukan kembali arti cinta dalam diri Rio. Namun sebagai seorang pria muda yang merasa pernah jatuh cinta dan patah hati dengan seorang gadis, “cinta baru” ini membuat hati nuraninya bergolak. Bagaimana mungkin seorang pria bisa jatuh cinta dengan pria lainnya? Bagaimana dengan tanggapan keluarganya, orangtuanya, teman-temannya? Bisakah mereka menerima dirinya?</p>
<p><em>Un Homme et Une Femme, </em>yang dalam bahasa Indonesia berarti seorang lelaki dan seorang perempuan, adalah novel pertama karangan Stanley Dirgapradja yang di terbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada akhir 2007. Stanley adalah seorang penulis film paruh waktu dan sempat mengenyam bangku kuliah di Universitas Sanata Dharma jurusan bahasa Inggris. </p>
<p>Meskipun alur kisah U<em>n Homme et Une Femme</em> sedikit lambat dan berkesan biasa saja. Namun dengan kesan biasa inilah Stanley berhasil membuat novel ini terasa sangat natural dan wajar terjadi. </p>
<p>Pertanyaan-pertanyaan dan kecemasan-kecemasan yang menjadi kegalauan tokoh-tokoh di dalamnya, pasti pernah dialami oleh orang-orang muda saat mereka mulai beranjak dewasa dan harus memutuskan mana yang harus menjadi prioritas dalam hidup mereka. Seperti Khrisna yang akhirnya memutuskan untuk serius menyelesaikan kuliahnya justru setelah diputus hubungan kekasih oleh Lara. </p>
<p>Pergolakan batin Bayu saat menyadari bahwa dirinya mulai jatuh cinta dengan Rio pasti pernah dialami oleh mereka yang jatuh cinta pada sesama jenis. Kebimbangan Lara untuk menjadikan Khrisna pria terakhir dalam hidupnya, juga sering dirasakan oleh perempuan menjelang saat-saat mereka akan melepas lajang. </p>
<p>Meski harus penuh pertimbangan namun hidup juga harus terus berjalan. Ketakutan dan kekhawatiran yang kita rasakan, terkadang memang hanya terjadi dalam pikiran kita sendiri. Itulah pesan moral yang saya tangkap dalam novel ini. Bayu yang pada awalnya mati-matian menolak bahwa ia juga menyukai Rio, namun saat dia pada akhirnya memutuskan untuk menerima cinta Rio dan berjuang bersama orang yang sangat mencintainya itu. Ternyata keluarga dan kerabat mereka tidak mempermasalahkan hubungan mereka sama sekali. </p>
<p>Lara pada awalnya tidak yakin dengan hubungannya bersama Khrisna, karena dia melihat Khrisna sebagai pria yang tidak pernah bisa serius memikirkan masa depan. Namun akhirnya Lara harus mengakui bahwa ia tidak ingin kehilangan Khrisna, pria tidak sempurna yang selalu mencintai dia dengan cara yang sempurna. Khrisna pun akhirnya berhasil membuktikan bahwa ia tidak seperti yang dipikirkan oleh Lara.  </p>
<p>Membaca novel ini membuat saya seperti sedang melihat kisah saya sendiri. Pernyataan yang sama juga dilontarkan seorang sahabat saya yang merekomendasikan novel ini untuk saya baca. Satu-satunya hal yang sedikit tidak masuk akal menurut saya adalah penerimaan seluruh keluarga dan kerabat Bayu atas hubungan cintanya dengan Rio yang begitu mudah dan tidak mendapat kritikan sedikit pun. Padahal kita tahu, saat ini masih sangat sulit bagi pasangan sesama jenis untuk mendapatkan restu dari keluarga dan kerabat.</p>
<p>@Grey Sebastian, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/09/28/buku-un-homme-et-une-femme-saat-cinta-sejati-dipertanyakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rak Buku Agustus 2009: Nel, Club Camilan, Gay Archipelago</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/08/10/rak-buku-agustus-2009-club-camilan-nel-gay-archipelago/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/08/10/rak-buku-agustus-2009-club-camilan-nel-gay-archipelago/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Aug 2009 02:58:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Gay]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=3623</guid>
		<description><![CDATA[Judul: Nel
Pengarang: Dalih Sembiring
Harga: Rp40.000,-
Seorang gadis mengalah dalam patah hatinya, namun tidak dalam meminta jawaban mengapa ia ditinggalkan. Seorang pemuda berangkat ke tanah seberang demi mengobati kerinduan, meski hanya tersampaikan pada sepucuk nisan. Ikut terjalin dalam kisah mereka seorang lelaki misterius, perempuan yang mengidap gangguan kejiwaan dengan masa lalu yang berlumur darah, serta puluhan karakter yang tak menyadari bahwa sebuah peperangan di kota mereka yang kecil sedang merangkai ceritanya sendiri.
Enam tahun dalam penulisan dan pencarian penerbit, &#8220;Nel&#8221; akhirnya hadir untuk membawa pembaca dalam petualangan menyusuri rasa kehilangan, dongeng dan sejarah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-3625" title="nel" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/08/nel.jpg" alt="nel" width="150" height="230" /><strong>Judul: Nel<br />
Pengarang: Dalih Sembiring<br />
Harga: Rp40.000,-</strong></p>
<p>Seorang gadis mengalah dalam patah hatinya, namun tidak dalam meminta jawaban mengapa ia ditinggalkan. Seorang pemuda berangkat ke tanah seberang demi mengobati kerinduan, meski hanya tersampaikan pada sepucuk nisan. Ikut terjalin dalam kisah mereka seorang lelaki misterius, perempuan yang mengidap gangguan kejiwaan dengan masa lalu yang berlumur darah, serta puluhan karakter yang tak menyadari bahwa sebuah peperangan di kota mereka yang kecil sedang merangkai ceritanya sendiri.</p>
<p><em>Enam tahun dalam penulisan dan pencarian penerbit, &#8220;Nel&#8221; akhirnya hadir untuk membawa pembaca dalam petualangan menyusuri rasa kehilangan, dongeng dan sejarah yang disusun ulang, serta menyuguhkan pertanyaan-pertanyaan baru tentang hubungan antarmanusia, juga tentang hubungan antara manusia dengan apa yang ia percayai selama ini.<br />
</em></p>
<p><span id="more-3623"></span><img class="alignleft size-full wp-image-3624" title="club-camilan" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/08/club-camilan.jpg" alt="club-camilan" width="150" height="230" /><strong>Judul: Club Camilan<br />
Pengarang: Bella Widjaja, Brigitta NS, Donna Talitha<br />
Harga : Rp 40.000,-<br />
Tebal : 328 halaman<br />
</strong></p>
<p>Ini adalah kisah tiga perempuan: Donna yang percaya diri tapi rapuh, Bee yang tenang-tenang menghanyutkan tapi serbasalah, dan Nie yang mapan tapi plin-plan. Mereka hidup dalam dunia di kepala mereka serta tokoh-tokoh yang berinteraksi di sekeliling mereka, maya dan nyata.</p>
<p>Ketika petualangan terus berlanjut; cinta datang dan pergi; rahasia tersimpan dan terungkap, bisakah tiga perempuan itu menghadapi hantu-hantu putus asa, patah hati, rasa kecewa, dan kesedihan yang terus membayang pada setiap keputusan yang mereka buat?</p>
<p>Jalinan kisah tiga novela ini diangkat dari blog lesbian populer yang nikmatnya selegit camilan. <a href="www.camilansepocikopi.blogspot.com">www.camilansepocikopi.blogspot.com</a></p>
<p><img src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/08/gay-archipelago1.jpg" alt="gay-archipelago1" title="gay-archipelago1" width="200" height="234" class="alignleft size-full wp-image-3627" /><strong>Judul: Gay Archipelago<br />
Penulis: Tom Boellstorff<br />
Harga: Rp50.000,-<br />
</strong></p>
<p>&#8220;The Gay Archipelago: Seksualitas dan Bangsa di Indonesia&#8221; dengan tidak biasa mengetengahkan keseluruhan bangsa dan negara Indonesia sebagai subyeknya. Hal tersebut berbeda bila dibandingkan dengan kelompok etnik semata yang biasa menjadi subyek penelitian para antropolog. Buku ini melihat bangsa Indonesia dalam kajian budaya (dan tidak hanya kajian politis), yaitu sebentuk identitas yang membuat kaum gay dan lesbian Indonesia menjadi tampak dan dimengerti. Dengan fokus tersebut, buku ini mengalamatkan pertanyaan-pertanyaan dalam hal seksualitas, media massa, nasionalisme, dan modernitas dengan berbagai implikasinya di seluruh Asia Tenggara dan dunia. </p>
<p>Dalam buku ini, Tom Boellstorff menganalisis sejarah homoseksual di Indonesia kemudian berpindah pada pembahasan mengenai bagaimana berbagai identitas gay dan lesbian dijalani dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia. Dari pertanyaan tentang cinta, hasrat, dan romansa, sampai pada tempat-tempat gay dan lesbian bertemu. Tom juga mengeksplorasi peran media, negara, dan pernikahan dalam identitas gay dan lesbian.</p>
<p>NB: Tiga buku ini telah diluncurkan dalam Q! Film Festival 2009 di Jakarta</p>
<p>@Alex, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/08/10/rak-buku-agustus-2009-club-camilan-nel-gay-archipelago/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

