<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; Film</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/tag/film/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 02:00:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Noktah Merah: The Children&#8217;s Hour, dari Sejarah Sampai Seni Pertunjukkan</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/02/03/noktah-merah-the-childrens-hour-dari-sejarah-sampai-seni-pertunjukkan/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/02/03/noktah-merah-the-childrens-hour-dari-sejarah-sampai-seni-pertunjukkan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 13:24:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Noktah Merah]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17850</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lakhsmi
Apa yang terjadi ketika sepasang kepala sekolah/guru perempuan dituduh memiliki hubungan yang tidak alamiah oleh seorang murid? Cerita yang benar-benar terjadi pada tahun 1810 di Skotlandia diangkat menjadi pentas teater dan pembuatan film Hollywood selama dua kali, termasuk remake-nya. Pentas teaternya dipertunjukkan di Broadway pada tahun 1934, ditulis oleh penulis teater/screenplay Amerika yang sangat terkenal Lillian Hellman. Pertunjukkan ini berjalan selama dua tahun sebelum bergerak ke London  dan Dublin. Sepanjang sejarah teater Amerika, inilah salah satu pentas pertama yang mengangkat isu lesbianisme.
Naskah drama in, diberi judul oleh sang kreator ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/hour5.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17851" title="hour5" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/hour5-192x300.jpg" alt="" width="192" height="300" /></a>Oleh: Lakhsmi</p>
<p>Apa yang terjadi ketika sepasang kepala sekolah/guru perempuan dituduh memiliki hubungan yang tidak alamiah oleh seorang murid? Cerita yang benar-benar terjadi pada tahun 1810 di Skotlandia diangkat menjadi pentas teater dan pembuatan film Hollywood selama dua kali, termasuk <em>remake</em>-nya. Pentas teaternya dipertunjukkan di Broadway pada tahun 1934, ditulis oleh penulis teater/<em>screenplay </em>Amerika yang sangat terkenal Lillian Hellman. Pertunjukkan ini berjalan selama dua tahun sebelum bergerak ke London  dan Dublin. Sepanjang sejarah teater Amerika, inilah salah satu pentas pertama yang mengangkat isu lesbianisme.</p>
<p><span id="more-17850"></span>Naskah drama in, diberi judul oleh sang kreator Lillian Hellman, <em>The Children&#8217;s Hour</em> dianggap sebagai karya klasik yang sangat terkenal. Ceritanya berdasarkan<em> true story</em> pada penuduhan dan kebohongan yang disebarkan oleh seorang anak perempuan bernama Mary Tilford. Dia menyebarkan gosip bahwa Karen Wright dan Martha Dolbie &#8211; sepasang kepala sekolah/guru &#8211; memiliki hubungan tidak alamiah. Kata &#8220;lesbian&#8221; tidak pernah diucapkan sebab pada zaman itu, lesbianisme masih belum dinamai. Walaupun tuduhan itu tidak benar, nenek Mary memercayainya sehingga menghancurkan sekolah  itu sendiri.</p>
<p>Karen dan Martha melawan Mary di pengadilan, tapi kalah. Hubungan Karen dan kekasih lelakinya, Dr. Joe Cardin terancam putus. Ketika kedua perempuan itu sedang duduk merenungi nasib kekalahan mereka, Martha mengakui perasaan cintanya kepada Karen. Bahwa tuduhan itu bukanlah bohong, melainkan benar. Karen protes terhadap pengakuan Martha. Walaupun Karen tidak memiliki perasaan yang sama kepada Martha, Karen tetap ingin tinggal bersama Martha. Martha tidak setuju, sebab dia yakin perasaannya kepada Karen adalah kehancuran bagi hidup Karen. Martha memutuskan bunuh diri.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/hour6.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17852" title="hour6" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/hour6-300x184.jpg" alt="" width="300" height="184" /></a>Tentu saja pada tahun 1810, orang-orang masih belum mengerti rasa cinta yang tumbuh di antara sesama jenis, sehingga mereka takut terhadap perasaan itu. Homoseksualitas sangat dianggap tabu dan tidak benar. Perempuan tak bisa mengatakan perasaannya kepada sesama jenis. Di kota kecil, walaupun tidak ada saksi dan bukti bahwa dua kepala sekolah dan guru itu adalah lesbian, penduduknya langsung menuding dan menuduh mereka.</p>
<p>Di zaman sekarang, cerita seperti ini bukanlah cerita homoseksual modern yang mempertunjukkan kenyataan lesbian. Namun <em>The Children&#8217;s Hour</em> ini adalah penghormatan kepada kisah sejarah yang realis pada era di mana kaum lesbian tidak memiliki pilihan apa-apa atas cinta dan hidup mereka, kecuali bunuh diri atau menolak perasaan yang tumbuh itu. Ketika sang penulis naskah Lillian Hellman menyutradarai pertunjukkan ini di tahun 1952, dia mengatakan bahwa cerita ini bukan tentang lesbian, tapi tentang kebohongan yang menyakitkan.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/hour2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17853" title="hour2" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/hour2-300x229.jpg" alt="" width="300" height="229" /></a>Pada tahun 1936, teater <em>The Children&#8217;s Hour</em> diangkat menjadi film dengan judul <em>These Three</em>. Lagi-lagi, naskah film ini juga ditulis oleh Lillian Hellman. Walaupun pada tahun itu, kata &#8220;homoseksual&#8221; adalah ilegal di negara bagian New York, tapi hukum seakan-akan berhasil &#8220;ditelikung&#8221; pada seni pertunjukkan ini sehingga baik teater Broadway maupun filmnya bisa melenggang dengan sukses dan menuai komen dari publik. Film ini mendapat pujian dari berbagai kalangan, termasuk media dan orang-orang penting di dunia sineas Hollywood.  Di film ini, aktris Bonita Granville yang memerankan Mary Tilford mendapat nominasi Academy Award untuk Best Supporting Actress.</p>
<p>Pada tahun 1961, film <em>These Three</em> dibuat <em>remake </em>dengan judul asli sesuai dengan pertunjukkan teaternya <em>The Children&#8217;s Hour</em>. Aktris yang sangat terkenal di zaman itu, Audrey Hepburn membintangi film ini sebagai Karen Wright. Sampai tahun 2012 sekarang, komunitas lesbian seluruh dunia, khususnya Amerika, masih merekomendasikan film ini sebagai film lesbian klasik yang layak ditonton, selain untuk mengenang sejarah homoseksual, juga sebagai tonggak pencapaian kaum lesbian dalam seni pertunjukkan.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/hour4.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17854" title="hour4" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/hour4-211x300.jpg" alt="" width="211" height="300" /></a>Tahun 2011, pertunjukkan teater <em>The Children&#8217;s Hour</em> dipertunjukkan di London, dengan Keira Knightley dan Elizabeth Moss yang menjadi aktris pendukung. Setelah nyaris seratus tahun sejak peristiwa yang sesungguhnya terjadi, termasuk pertunjukkannya di pentas Broadway dan film layar lebar, teater <em>The Children&#8217;s Hour</em> di tahun 2011 memperlihatkan perbedaan yang nyata. Bagaimana isu lesbian abad 19 ditafsirkan oleh para aktris zaman sekarang? Bahasa tubuh yang dipertontonkan pada teater kali ini lebih terlihat sebagai perempuan tahun 2011 dibandingkan dengan perempuan tahun 1810, 1936, atau 1961. Beberapa dialog diperbaiki sehingga terlihat segar dan modern, juga mengubah bagaimana cinta Martha Dolbie menjadi &#8220;hadiah indah&#8221; untuk Karen. Walau akhir cerita melawan <em>happy ending</em>, pertunjukan teater <em>The Children&#8217;s Hour </em>ini masih tetap relevan menggugat hati nurani tentang kejahatan atas kebohongan,  romantisme kejujuran, dan keberanian untuk mencintai.</p>
<p>Menikmati cerita sejarah tentang dua perempuan di tahun 1810 lewat panggung teater dan teknologi layar lebar, sebagai lesbian kita kembali diajak untuk merenung tentang apa yang menjadikan kita lesbian dan apa yang kita lakukan dengan kelesbianan ini. Untuk detil filmnya, silakan lihat resensi SepociKopi film <a href="http://sepocikopi.com/2007/09/05/childrens-hour-ketika-lesbian-masih-dianggap-aib/">The Children&#8217;s Hour</a>. Lesbian, semoga hidup kita semakin diperkaya dan diinspirasi oleh berbagai seni bergenre homoseksual yang artistik dan filosofis.</p>
<p>@Lakhsmi, SepociKopi, 2012</p>
<p>Keterangan gambar:<br />
1. Poster teater <em>The Children&#8217;s Hour</em> untuk pertunjukkan di London tahun 2011<br />
2. Salah satu adegan film<em> The Children&#8217;s Hour</em><br />
3. Poster film <em>The Children&#8217;s Hour</em> dengan aktris Audrey Hepburn<br />
4. Poster pertunjukan teater <em>The Children&#8217;s Hour</em> oleh mahasiswa di kampus lokal</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/02/03/noktah-merah-the-childrens-hour-dari-sejarah-sampai-seni-pertunjukkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mix n’ Match: 5 Aktris Terbaik Academy Awards 2012</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/29/mix-n-match-5-aktris-terbaik-academy-awards-2012/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/29/mix-n-match-5-aktris-terbaik-academy-awards-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 16:31:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Mix n' Match]]></category>
		<category><![CDATA[aktris]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17736</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Alex
Menjelang Academy Award bulan Februari 2012, yuk kita lihat perempuan-perempuan yang beradu akting berusaha mendapat gelar aktris pemeran utama terbaik. Tahun ini persaingan antara lima aktris hebat ini lumayan berat. Bukan rahasia lagi jika mereka yang sukses memerankan tokoh nyata secara baik, akan mendapat nominasi Oscar. Dalam lima nama ini ada dua yang berperan sebagai tokoh nyata. Saya bakalan bingung memilih siapa yang harus menang karena semuanya memiliki kualitas tersendiri. Tapi jika saya harus memilih, saya menjagokan Meryl Streep dalam The Iron Lady. Siapa saja sih kandidatnya? Mari kita ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Alex</p>
<p>Menjelang Academy Award bulan Februari 2012, yuk kita lihat perempuan-perempuan yang beradu akting berusaha mendapat gelar aktris pemeran utama terbaik. Tahun ini persaingan antara lima aktris hebat ini lumayan berat. Bukan rahasia lagi jika mereka yang sukses memerankan tokoh nyata secara baik, akan mendapat nominasi Oscar. Dalam lima nama ini ada dua yang berperan sebagai tokoh nyata. Saya bakalan bingung memilih siapa yang harus menang karena semuanya memiliki kualitas tersendiri. Tapi jika saya harus memilih, saya menjagokan Meryl Streep dalam <em>The Iron Lady</em>. Siapa saja sih kandidatnya? Mari kita lihat:<br />
<span id="more-17736"></span><br />
<strong><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/violadavis.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-17739" title="violadavis" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/violadavis-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a></strong></p>
<p><strong>Viola Davis, &#8220;The Help&#8221;</strong></p>
<p>Viola Davis adalah aktris kulit hitam kelahiran Amerika. Ia mendapat nominasi Academy Awards dalam perannya sebagai Aibileen Clark dalam film <em>The Help. The Help </em>adalah film yang diangkat dari novel Kathryn Stockett, berkisah tentang pembantu kulit hitam pada tahun 1960-an di Mississippi. Dalam film ini diceritakan nasib pembantu yang dengan susah payah membesarkan anak-anak majikan kulit putih mereka dan tidak mendapat penghargaan semestinya. Seorang gadis kulit putih kaya, Skeeter (Emma Stone) memutuskan untuk menuliskan kisah para pembantu kulit hitam ini meskipun mendapat tentangan. Film ini perempuan banget dengan tokoh utama nyaris semua perempuan dengan akting luar biasa. Direkomendasikan untuk mereka yang menyukai film tentang perjuangan perempuan.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/glenn.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-17737" title="glenn" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/glenn-300x193.jpg" alt="" width="300" height="193" /></a><br />
<strong>Glenn Close, &#8220;Albert Nobbs&#8221;</strong></p>
<p>Glenn Close berperan sebagai perempuan di Dublin, Irlandia pada abad ke-19 yang menyamar sebagai lelaki bernama Albert Nobbs agar bisa bekerja. Namun penyamaran ini membuat ia terjebak menjadi lelaki selama tiga puluh tahun. Film ini diangkat dari cerita pendek karya pengarang Irlandia, George Moore, <em>The Singular Life of Albert Nobbs</em>. Pada awal tahun 1980-an, Glenn Close pernah berperan sebagai Albert Nobbs dalam versi teater Off-Broadway. Sayangnya sampai sekarang saya belum menonton film ini, jadi tidak bisa berkomentar panjang. Namun melihat perempuan menjalani hidup sebagai laki-laki dan berpacaran dengan perempuan jelas <em>Albert Nobbs </em>salah satu film yang ingin saya tonton. Apalagi saya penggemar berat Glenn Close.</p>
<p><strong><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/rooney.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-17740" title="rooney" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/rooney-300x193.jpg" alt="" width="300" height="193" /></a></strong></p>
<p><strong>Rooney Mara, &#8220;The Girl With the Dragon Tattoo&#8221;</strong></p>
<p>Seperti yang sudah saya duga, <em>The Girl With the Dragon Tattoo</em> versi Amerika Serikat dengan peran utama Rooney Mara dan Daniel Craig ini tidak diputar di Indonesia. Alasannya karena sang sutradara film ini, David Fincher, tidak mau filmnya dibabat sensor padahal film ini. Padahal versi Swedia <em>The Girl With the Dragon Tattoo </em>yang diperankan oleh Noomi Rapace sempat diputar di Indonesia dua tahun lalu. Film yang diangkat dari novel karya Stieg Larsson ini berkisah tentang Lisbeth Salander <em>hacker </em>perempuan berusia 23 tahun yang bertato, bertindik, dan biseksual dalam membantu jurnalis separo baya bernama Mikael Blumvkist memecahkan kasus pembunuhan berantai. Rooney Mara bermain apik sebagai Lisbeth Salander dalam film yang penuh adegan kekerasan seks, pemerkosaan, telanjang, dan lesbian. Dan sukses film ini membuat saya menanti film keduanya, <em>The Girl Who Played with Fire </em>yang kalau di bukunya lebih menampilkan sisi lesbian Lisbeth Salander.</p>
<p><strong><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/meryl.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-17741" title="meryl" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/meryl-300x193.jpg" alt="" width="300" height="193" /></a></strong></p>
<p><strong>Meryl Streep, &#8220;The Iron Lady&#8221;</strong></p>
<p>Sejujurnya, saya agak kecewa dengan cerita film ini dan menurut saya ini bukanlah <em>biopic </em>tentang Margaret Thatcher. Ini adalah suatu kisah fiksi tentang Margaret Thatcher yang kini menderita dementia dicampur dengan catatan perjalanan hidupnya menjadi sosok perempuan kuat dunia dengan menjadi perdana menteri perempuan pertama di negara Eropa selama 11,5 tahun. Phyllida Llyod, sang sutradara adalah sutradara Inggris yang sudah <em>out </em>lesbian dan sebelumnya juga menyutradari <em>Mamma Mia!</em> dengan bintang utama juga Meryl Streep. Untungnya, film ini diselamatkan oleh akting brilian Meryl Streep. Meryl Streep menampilkan akting bintang lima sebagai mantan perdana menteri Inggris ini, yang membuat penonton terpukau dan terkesan hingga waktu yang lama. Berkat perannya sebagai Margaret Thatcher, Meryl Streep sudah meraih Golden Globe Award for Best Actress &#8211; Motion Picture Drama. Yang menurut saya amat sangat layak diterimanya.</p>
<p><strong><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/marylin.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-17742" title="marylin" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/marylin-202x300.jpg" alt="" width="202" height="300" /></a></strong></p>
<p><strong>Michelle Williams, &#8220;My Week With Marilyn&#8221;</strong></p>
<p>Film ini mengisahkan kehidupan Marilyn Monroe selama seminggu yang diangkat dari buku karya Colin Clark, saat syuting film <em>The Prince and the Showgirl</em> pada tahun 1957. Secara mengejutkan Michelle Williams berkilau sebagai Marilyn Monroe, meskipun sulit bagi saya menerima Kenneth Branagh sebagai Laurence Olivier. Di bagian Branagh inilah, saya merasa tidak sreg. Secara keseluruhan film ini menampilkan sejenak kehidupan seorang Marilyn Monroe, yang memang layak ditonton oleh mereka penggemar aktris kontroversial ini. Atas perannya sebagai Marilyn Monroe, Michelle Williams berhasil memenangkan Golden Globe Award for Best Actress &#8211; Motion Picture Musical or Comedy.</p>
<p>Demikianlah lima perempuan hebat di Hollywood yang akan bertarung menjadi aktris terbaik. Jadi siapa favoritmu?</p>
<p>@Alex, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/29/mix-n-match-5-aktris-terbaik-academy-awards-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>te.Lez.kop: Malu Sama Umur</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/05/te-lez-kop-malu-sama-umur/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/05/te-lez-kop-malu-sama-umur/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 08:25:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Telezkop]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17099</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Tya Andriani
Beberapa hari ini saya bergabung dengan komunitas dan di komunitas itu, saya bertemu dengan beberapa teman-teman SMA. Anak-anak SMA ini berusia sekitar 16-19 tahun. Dari beberapa kali bertemu, saya menduga beberapa di antara mereka berorientasi lesbian.
Anak SMA lesbian?
Kenapa tidak? Tapi ini meninggalkan pertanyaan di benak saya: bagaimana mereka bisa tahu orientasi seksual mereka dan bersikap santai dengan orientasi itu? Pasti karena mereka mengenal diri mereka dengan baik.
Yang seru, setelah beberapa kali saya bergabung diskusi dan mengobrol secara pribadi dengan mereka, saya terpana dalam panah kekaguman. Saya tidak bisa  ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/number.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17100" title="number" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/number-265x300.jpg" alt="" width="265" height="300" /></a>Oleh: Tya Andriani</p>
<p>Beberapa hari ini saya bergabung dengan komunitas dan di komunitas itu, saya bertemu dengan beberapa teman-teman SMA. Anak-anak SMA ini berusia sekitar 16-19 tahun. Dari beberapa kali bertemu, saya menduga beberapa di antara mereka berorientasi lesbian.</p>
<p>Anak SMA lesbian?</p>
<p><span id="more-17099"></span>Kenapa tidak? Tapi ini meninggalkan pertanyaan di benak saya: bagaimana mereka bisa tahu orientasi seksual mereka dan bersikap santai dengan orientasi itu? Pasti karena mereka mengenal diri mereka dengan baik.</p>
<p>Yang seru, setelah beberapa kali saya bergabung diskusi dan mengobrol secara pribadi dengan mereka, saya terpana dalam panah kekaguman. Saya tidak bisa  menyepelekan remaja-remaja muda ini. Mereka cerdas. Pengetahuan mereka luas. Daftar bacaan buku mereka sangat banyak, termasuk buku-buku fiksi/non fiksi klasik yang berat. Daftar film yang ditonton bukan sekadar film <em>mainstream</em>, tapi juga film-film budaya dan seni. Dari semua bacaan dan tontonan itu, mereka menjadi remaja yang berpengetahuan dan penuh percaya diri.</p>
<p>Saya tidak menduga bahwa remaja lesbian jauh lebih maju daripada lesbian angkatan saya (angkatan tua). Kebebasan pengetahuan yang bisa didapat dengan mudah membuat pola pikir menjadi lebih terbuka. Saya duduk bertiga dengan dua lesbian yang masih duduk di kelas satu SMA dan tiga SMA, berbicara tentang politik dan <em>cinematography </em>(perhatian, bukan tentang topik lesbian). Saya seperti duduk berbicara dengan teman-teman seusia saya, bahkan teman-teman yang berusia jauh lebih tua.</p>
<p>Usia memang relatif. Ada yang berusia 16 tahun tapi sudah terlihat sangat dewasa, dari cara berbicara, cara membawakan dirinya, karakternya, dan caranya menilai kehidupan. Ada yang berusia 30 tahun tapi tidak tahu dengan rencana masa depan. Ada yang berusia 40 tahun tapi masih bersikap kekanak-kanakan. Wah, malu sama umur! Benar, umur tidak menentukan kebijaksanaan seseorang. Ada baiknya sebagai lesbian, kita juga berteman dengan lesbian lain yang berbeda umur sehingga yang lebih dewasa bisa menyebarkan kedewasaannya.</p>
<p>Saya percaya pada kekuatan kolektif kaum muda. Negara yang maju adalah negara yang memiliki kaum muda yang cerdas dan produktif. Saya rasa ini berlaku juga untuk dunia lesbian. Memandang remaja lesbian yang masih SMA, yang tahu apa yang mereka mau, saya merasa memiliki semangat lebih tinggi. Angkatan lesbian dewasa yang lebih baik dan hebat menanti di masa depan. Kaum lesbian akan menempati tempat-tempat istimewa di berbagai posisi penting masyarakat sehingga mau tidak mau, masyarakat akan menerima keberadaan kaum homoseksual karena kekuasaan ini.</p>
<p>Di luar negeri, untuk festival-festival film international, ada desas desus yang mengatakan bahwa kekuatan film internasional dipegang oleh kaum gay. Tidak heran jika sutradara/film maker homoseksual bisa berkiprah dengan baik di industri film-film berkualitas seni dan mendapat apresiasi tinggi. Bahkan untuk industri fashion, kita juga tahu bagaimana kaum homoseksual menguasai industri tersebut. Kekuatan kolektif ini mendorong masyarakat umum untuk menerima mereka sebagai bagian penting dan menganggapnya sebagai hal yang wajar.</p>
<p>Saya rasa industri lain butuh kaum lesbian yang kuat untuk duduk di posisi kunci sehingga dengan kekuasaan ini, masyarakat umum akan melihatnya sebagai hal yang wajar. Remaja-remaja lesbian yang masih duduk di SMA dengan pengetahuan mereka yang sudah luas dan kepercayaan diri mereka untuk bercita-cita tinggi sungguh mengharu biru hati saya. Ya, pengalaman mereka memang masih belum ada dan pengalaman memegang kendali penting untuk menjadi sosok manusia yang hebat di masyarakat. Namun, pengalaman bisa datang dengan sendirinya dengan alamiah. Ibaratnya, pengalaman adalah bibit, sementara tanah yang subur adalah pengetahuan yang ada di kepala.</p>
<p>Remaja lesbian, khususnya yang masih SMA, jangan berhenti mencerdaskan diri. Mencerdaskan diri harus juga dibarengi dengan karakter yang baik serta positif. Membaca jurnal-jurnal psikologi tentang pertumbuhan remaja, remaja lesbian yang pertumbuhannya baik adalah remaja yang diberi berbagai akses pengetahuan tentang kehidupan serta ajaran tentang kemanusiaan. Yang harus diingat juga keberhasilan tidak didapat dalam sekejab mata dan instan, tapi butuh perjuangan nyata. Semoga SepociKopi bisa menjadi mercu suar bagi remaja lesbian, (calon) pemimpin, karakter, sosok, tokoh hebat di masa depan.</p>
<p>Benar banget kata-kata ini dari Joan Collins: <em>Age is just a number. It&#8217;s totally irrelevant, unless of course you happen to be a bottle of wine.<br />
</em></p>
<p>@Tya Andriani, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/05/te-lez-kop-malu-sama-umur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mix n’ Match: The Best of 2011</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/01/mix-n-match-the-best-of-2011/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/01/mix-n-match-the-best-of-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 12:04:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Mix n' Match]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Glee]]></category>
		<category><![CDATA[Grey's Anatomy]]></category>
		<category><![CDATA[Lagu]]></category>
		<category><![CDATA[pretty little liars]]></category>
		<category><![CDATA[TV]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17030</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Alex
Selamat Tahun Baru 2012! *tiup terompet* Tahun 2011 berlalu sudah meninggalkan jejak kenangan baik yang duka maupun suka. Namun kenangan, apa pun bentuknya selalu memperkaya kita dan ingatan kita tentang masa lalu menjadi bagian yang menjadikan diri kita sekarang. Tanpa perlu berpanjang lebar, (ini tulisannya udah panjang banget), hehehe&#8230; Yuk kita lihat kompilasi The Best of 2011 pilihan SepociKopi untuk lagu, film, buku, dan serial TV. Kenapa mereka yang terpilih? Bukan semata-mata karena isu lesbian, tapi karena juga mengusung isu perempuan dan segala keresahannya selama 2011.
Best Song
Adele – Someone ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/britt1.jpg"><img src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/britt1.jpg" alt="" title="britt" width="300" height="210" class="alignleft size-full wp-image-17033" /></a>Oleh: Alex</p>
<p>Selamat Tahun Baru 2012! *tiup terompet* Tahun 2011 berlalu sudah meninggalkan jejak kenangan baik yang duka maupun suka. Namun kenangan, apa pun bentuknya selalu memperkaya kita dan ingatan kita tentang masa lalu menjadi bagian yang menjadikan diri kita sekarang. Tanpa perlu berpanjang lebar, (ini tulisannya udah panjang banget), hehehe&#8230; Yuk kita lihat kompilasi The Best of 2011 pilihan SepociKopi untuk lagu, film, buku, dan serial TV. Kenapa mereka yang terpilih? Bukan semata-mata karena isu lesbian, tapi karena juga mengusung isu perempuan dan segala keresahannya selama 2011.</p>
<p><strong>Best Song</strong><br />
<strong>Adele – Someone Like You</strong><br />
Lagu <em>Someone Like You </em>ini sepertinya jadi lagu wajib putar di radio sejagat raya. Bahkan menduduki peringkat no. 1 di YouTube sebagai video yang paling sering ditonton sepanjang tahun 2011.<br />
<span id="more-17030"></span><br />
<iframe width="400" height="233" src="http://www.youtube.com/embed/hLQl3WQQoQ0" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p><em>“Never mind I&#8217;ll find someone like you. I wish nothing but the best for you. Don&#8217;t forget me, I beg. I remember you said, sometimes it last in love but sometimes it hurts instead.”</em>Ya, sekian, inilah lagu yang bikin puluhan juta manusia nggak bisa <em>move on</em>.</p>
<p><strong>SNSD – The Boys</strong><br />
Fans K-Pop angkat tangannyaaaaa&#8230; Biarpun kalian <em>haters</em>, tapi mau nggak mau harus mengakui bahwa selama dua tahun terakhir serbuan K-Pop melanda seluruh dunia. Bahkan di Indonesia mulai banyak grup KW-nya&#8230; SNSD alias Girls Generation yang beranggotakan sembilan gadis cantik ini merupakan girl band Korea yang paling terkenal sepanjang tahun 2011. Bahkan konsernya di Singapura bulan Desember lalu sudah <em>sold out </em>hanya dalam hitungan hari sampai mereka perlu melakukan konser tambahan satu hari karena banyaknya peminat. Cekidot video klip mereka terbaru di 2011, <em>The Boys</em>. (Jangan lupa tutup mulut, jangan kelamaan menganga kagumnya, kakakkk)<br />
<iframe width="400" height="233" src="http://www.youtube.com/embed/6pA_Tou-DPI" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p><strong>Glee – Rumor Has It/Someone Like You</strong><br />
Ya, ya, tahun 2011 memang tahunnya Adele dan Glee. Gabungan keduanya berarti&#8230; hits. Ketika dalam season 3 ini Glee me-<em>mashup </em>2 lagu Adele, <em>Rumor Has It </em>dan <em>Someone Like You </em>ditambah dengan cerita lesbian di dalamnya membuat lagu ini wajib jadi the <em>best song </em>2011 SepociKopi. Coba lihat dong tatapan Santana ke Brittany di menit 1:15. Saya sih udah meleleh di panggung kalau ditatap seperti itu.<br />
<iframe width="400" height="233" src="http://www.youtube.com/embed/qb7zjKkLCoQ" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p><strong>Best Book:<br />
Sing You Home &#8211; Jodi Picoult<br />
</strong><em>It&#8217;s not gender that makes a family; it&#8217;s love. You don&#8217;t need a mother and a father; you don&#8217;t necessarily even need two parents. You just need someone who&#8217;s got your back.&#8221;<br />
</em>&#8220;Sing You Home&#8221; adalah novel ke-18 dari Jodi Picoult, yang langsung menduduki no.1 <em>bestseller </em>di Amerika Serikat saat terbit awal bulan April 2011. Berkisah tentang Zoe dan Max sudah berusaha memiliki anak selama 10 tahun pernikahan mereka. Segala cara sudah dicoba hingga terakhir mereka melakukan bayi tabung. Zoe akhirnya berhasil hamil namun bayinya lahir mati ketika berusia 28 minggu. Duka yang amat dalam membuat mereka memutuskan bercerai. Zoe bertemu dengan Vanessa, memulai persahabatan hingga kemudian mereka saling jatuh cinta. Lalu masalah pun timbul ketika Zoe kepingin punya anak dan ditentang gereja Max. Buku yang akan membuat kita terharu saat membacanya. Review lengkap di: <a href="http://sepocikopi.com/2011/05/09/buku-sing-you-home-jodi-picoult/">http://sepocikopi.com/2011/05/09/buku-sing-you-home-jodi-picoult/</a></p>
<p><strong>Huntress &#8211; Malinda Lo<br />
</strong>Ini adalah novel kedua Malinda Lo, mantan <em>managing editor </em>situs lesbian afterellen.com. Masih berkutat dalam tema fantasi remaja. Malinda Lo menampilkan gagasan tentang cinta lesbian dalam novel terbarunya, <em>Huntress</em>, yang terbit awal April 2011. <em>Huntress </em>berkisah tentang petualangan dan cinta antara Kaede dan Taisin yang melakukan perjalanan mengunjungi negeri para peri untuk memusnahkan kutukan musim dingin yang membelenggu dunia mereka. Dalam perjalanan inilah kedua remaja perempuan ini mulai jatuh cinta. Kaede adalah putri penasihat raja yang terpilih ikut serta bersama rombongan pangeran muda dan para pengawalnya karena mimpi yang dilihat Taisin, sang peramal muda. Kedua karakter dalam novel ini, Kaede dan Taisin memiliki kekuatan dan kelemahan sesuai karakter masing-masing. Buat penyuka novel fantasi remaja dan ingin membaca tokoh utama lesbian, <em>Huntress </em>adalah buku yang harus dibaca. Review lengkapnya baca di: <a href="http://sepocikopi.com/2011/04/18/buku-huntress-kisah-cinta-dan-petualangan-sepasang-gadis-muda/">http://sepocikopi.com/2011/04/18/buku-huntress-kisah-cinta-dan-petualangan-sepasang-gadis-muda/</a></p>
<p><strong>IQ84 &#8211; Haruki Murakami<br />
</strong>Menurut saya, novel setebal hampi 1000 halaman ini bukan novel terbaik Murakami. Cinta pertama saya padanya tetap di <em>Norwegian Wood</em>. Tapi dalam novel yang jadi paling dinanti terbit bahasa Inggris-nya pada tahun 2011, kita bisa melihat “kecintaan” Murakami pada lesbian dengan menyertakan beberapa adegan lesbian dalam novel ini. <em>IQ84 </em>mendapat beragam review dan tidak sedikit yang kecewa, termasuk saya. Menurut saya, Haruki Murakami terlalu berusaha keras dalam novel ini. Tapi tidak menyebut <em>IQ84 </em>sebagai salah satu buku pilihan kok rasanya nggak sreg ya? Namun jika memang ingin membaca novel lesbian Murakami, <em><a href="http://sepocikopi.com/2011/06/27/buku-sputnik-sweetheart-segala-yang-terasing-dan-hilang/">Sputnik Sweetheart</a> </em>bisa jadi pilihan.</p>
<p><strong>Best TV Series<br />
Glee<br />
</strong>Season 3 <em>Glee </em>resmi menjadi season lesbian <em>Glee </em>dengan <em>coming out </em>dan penerimaan Santana (Naya Rivera) terhadap orientasi seksualnya. Jika dalam season 2, <em>Glee </em>banyak membahas <em>bullying </em>yang dialami Kurt yang gay setelah ketahuan gay, entah apa yang akan dibawa oleh Santana yang bitchy ini setelah ketahuan lesbian. Apa pun itu, serial ini menyenangkan untuk ditonton, tidak hanya isu homoseksualnya namun lagu-lagunya juga bikin kita kecanduan untuk terus menontonnya. Lebih jauh tentang Glee, bisa dilihat di: <a href="http://sepocikopi.com/2011/03/21/tv-raise-your-glass-if-youre-a-gleek/">http://sepocikopi.com/2011/03/21/tv-raise-your-glass-if-youre-a-gleek/</a></p>
<p><strong>Pretty Little Liars<br />
</strong>Serial remaja ini masuk Season 2 pada tahun 2011 dan masih menampilkan tokoh lesbian Emily Fields yang diperankan oleh Shay Mitchell. Dalam season 2 ini, isu orientasi seksual Emily makin berkembang dan kompleks. Ditambah dengan <em>coming out </em>dan homofobia di sekolah, juga penerimaan keluarganya. Sejauh ini <em>Pretty Little Liars </em>adalah salah satu seri yang lumayan oke untuk ditonton jika ingin melihat isu remaja dan segala kompleksitasnya.</p>
<p><strong>Grey&#8217;s Anatomy</strong><br />
Serial <em>medical drama </em>ini sudah masuk Season 8. Pada bulan Mei tahun 2011, serial ini mencapai puncak kelesbianannya dengan pernikahan lesbian antara dr. Callie Torres dan dr. Arizona Robbins pada season 7 dalam episode “White Wedding”. Apakah season 8 ini mereka masih layak ditonton? Tentu saja, buat mereka pecinta drama dan dokter-dokter cantik atau tampan, <em>Grey&#8217;s Anatomy </em>masih menjadi tontonan wajib.</p>
<p>Review lengkap soal TV series pilihan, bisa dilihat di: <a href="http://sepocikopi.com/2011/05/22/serial-tv-piliha/">http://sepocikopi.com/2011/05/22/serial-tv-piliha/</a></p>
<p><strong>Best Movie<br />
Daughter of Club Bilitis<br />
</strong>FTV <em>Daughters of Club Bilitis</em> tayang di KBS, Korea Selatan pada bulan Agustus 2011. Drama ini menceritakan tiga generasi lesbian berusia remaja, 30-an, dan 50-an. Inilah pertama kalinya Korea memutar drama yang menampilkan lesbian sebagai identitas seksual tokoh-tokohnya, bukan cuma tokoh tambahan. Kisahnya terpusat pada enam perempuan. Dua remaja lesbian yang masih duduk di SMA (Joo-yeon dan Yeo-gyung), sepasang kekasih berusia 30-an (Han-na dan Young-eun), dan pasangan lesbian senior (Myung-hee dan Han-ja). Tiga generasi ini mewakili lesbian dengan segala permasalahannya. Lesbian remaja berusaha menghindari gosip lesbian di sekolah. Lesbian berusia 30-an menghadapi tekanan keluarga dan lingkungan untuk menikah dengan laki-laki. Sementara lesbian 50-an yang sudah senior menghadapi masalah dengan keluarga serta kebersamaan.  Silakan menonton episode 1 dari 4-nya di:<br />
<iframe width="400" height="233" src="http://www.youtube.com/embed/aXFlYiPsguk" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p><strong>The Help</strong><br />
Ini bukan film lesbian, tapi film tentang segregasi ras antara kulit hitam dan kulit putih di Amerika Serikat pada tahun 1960-an. Berkisah tentang Skeeter (Emma Stone) yang pulang ke kampung halamannya di Jackson, Mississippi dan berniat menjadi penulis. Awalnya, dia mewawancarai pembantu kulit hitam di rumah sahabatnya untuk pekerjaannya sebagai kolumnis. Namun lambat laun wawancara itu berkembang menjadi isu diskriminasi warna kulit dan bagaimana nasib pembantu klit hitam di rumah keluarga kulit putih yang kaya raya. Film ini perempuan banget dengan peran utama yang nyaris semuanya perempuan. <em>The Help</em> diangkat dari novel berjudul sama karya Kathrynn Stockett yang novel debutnya ini menjadi <em>bestseller </em>pada tahun 2009 yang kemudian difilmkan dan dirilis tahun 2011.</p>
<p><strong>Sang Penari</strong><br />
Film Indonesia ini merupakan film terbaik dalam FFI 2011 yang diangkat dari novel klasik Indonesia, <em>Ronggeng Dukuh Paruk </em>karya Ahmad Tohari. Bersetting pada tahun 1960-an pada masa gejolak politik Indonesia menjelang G30S. Ini merupakan <em>remake </em>film tahun 1980-an dengan judul sama. Kini kisah cinta Srintil dan Rasus tahun 2011 diperankan oleh Prisia Nasution dan Oka Antara. Prisia Nasution juga mendapat penghargaan sebagai aktris terbaik di FFI. <em>Sang Penari </em>mengisahkan bagaimana Srintil bercita-cita menjadi sang penari ronggeng di Dukuh Paruk, yang tidak hanya sekadar menari, tapi juga harus “buka ranjang” alias menjual tubuhnya pada lelaki yang bisa membayar mahal. Srintil merupakan sosok perempuan yang harus menanggung “dosa” orangtuanya, beban desanya, juga terjebak dalam dosa politik bangsa era itu. Dan ketika PKI masuk ke Dukuh Paruk, Srintil kembali menjadi korban politik meskipun dia tak paham apa-apa. Sebuah kisah mengenaskan yang memaksa kita untuk berkaca pada masa lalu.</p>
<p>Demikian ulasan terbaik pilihan 2011. Oya, untuk film lesbian, mungkin bisa juga menonton film Thailand, <a href="http://sepocikopi.com/2011/07/11/film-yes-or-no-cinta-di-asrama/">Yes or No</a>, yang dirilis Desember 2010, jadi nggak bisa masuk The Best 2011, tapi saya yakin jadi <em>the best lesbian movie </em>di hati banyak pembaca SepociKopi.</p>
<p>@Alex, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/01/mix-n-match-the-best-of-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Film: 5+ Film Indonesia yang Wajib Ditonton</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/10/17/film-5-film-indonesia-yang-wajib-ditonton/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/10/17/film-5-film-indonesia-yang-wajib-ditonton/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Oct 2011 05:58:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=15386</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lo
Halo, sobat lesbian. Kabar baik, kan? Buat yang lagi sibuk kerja, sekolah, atau yang lagi stres ujian nih kayak aku (curcol), sini deh aku kasih beberapa sinopsis film-film Indonesia yang recommended dan tentunya masih mengangkat isu-isu homoseksual, kesetaraan gender, dan perempuan. Eits, jangan underestimate dulu, film Indonesia juga nggak kalah keren lho! Banyak yang patut diacungi jempol. Check it out!

1. Butterfly
Film Butterfly bercerita tentang kisah perjalanan persahabatan tiga orang mahasiswa. Vano (Andhika Saputra), Tia (Poppy Sovia), dan Desi ( Debby Kristi), masing-masing mereka memiliki masalah kompleks dalam keluarganya. Suatu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Lo</p>
<p>Halo, sobat lesbian. Kabar baik, kan? Buat yang lagi sibuk kerja, sekolah, atau yang lagi stres ujian nih kayak aku (curcol), sini deh aku kasih beberapa sinopsis film-film Indonesia yang <em>recommended </em>dan tentunya masih mengangkat isu-isu homoseksual, kesetaraan gender, dan perempuan. Eits, jangan <em>underestimate</em> dulu, film Indonesia juga nggak kalah keren lho! Banyak yang patut diacungi jempol.<em> Check it out!</em></p>
<p><em><span id="more-15386"></span></em></p>
<p><strong><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/butterfly_poster1preview.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-15418" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/butterfly_poster1preview-203x300.jpg" alt="" width="203" height="300" /></a>1. Butterfly</strong></p>
<p>Film <strong>Butterfly </strong>bercerita tentang kisah perjalanan persahabatan tiga orang mahasiswa. Vano (Andhika Saputra), Tia (Poppy Sovia), dan Desi ( Debby Kristi), masing-masing mereka memiliki masalah kompleks dalam keluarganya. Suatu hari mereka mengadakan perjalanan sebagai hadiah ulangtahun untuk Desi. Selama perjalanan tersebut terjadi banyak hal yang semakin mempererat persahabatan mereka. Kisah ini berujung ketika akhirnya Desi meninggal karena penyakit yang dideritanya. Namun beberapa saat sebelum kematiannya, ia mengakui bahwa ia mencintai Tia. Sedangkan selama ini Tia justru memendam perasaan terhadap Vano.</p>
<p><em>Scene </em>favoritku adalah ketika Desi mengajukan permohonan terakhirnya, yaitu mencium Tia. Sutradara sukses menciptakan suasana yang haru dan menggetarkan. Ceritanya ringan, lumayan buat yang punya waktu luang, tapi lagi males mikir.</p>
<p><strong><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/coklat.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-15419" title="coklat" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/coklat-211x300.jpg" alt="" width="211" height="300" /></a>2. Coklat Stroberi</strong></p>
<p>Masih mengangkat isu tentang homoseksual, film <strong>Coklat Stroberi </strong>bercerita tentang dua orang perempuan yaitu Key (Nadia Saphira) dan Citra (Marsha Timothy). Keduanya mahasiswa sekaligus pekerja paruh waktu yang tinggal bersama dalam satu rumah kontrakan di Jakarta. Hingga suatu ketika Key mengalami kesulitan untuk membayar uang sewa, dan pemilik rumah (Tike Priyatnakusumah) memutuskan untuk menyewakan kamar di rumah itu pada dua orang pemuda yaitu Nesta (Nino Fernandez) dan Aldi (Mario Merdhithia) yang disinyalir merupakan pasangan gay. Akhirnya rumah itu dihuni empat orang. Klimaks terjadi ketika Nesta menyadari dirinya jatuh hati pada Key. Aldi menjadi semakin cemburu dan posesif kepada Nesta. Namun <em>ending</em>-nya Nesta memilih jalannya untuk menjadi <em>straight</em>, sedangkan Nesta tetap menjadi seorang gay. Tapi mereka tetep bersahabat dan Nesta tetap mendukung Aldi.</p>
<p>Disutradarai oleh Ardy Octaviand, film ini menawarkan cerita seputar kehidupan remaja yang menanggapi disorientasi seksual dengan reaksi yang beragam. Dan film ini menyajikan  adegan yang sama-sama menarik, yaitu ketika Nesta berciuman dengan Key, namun adegan lain menampilkan Nesta berciuman dengan Aldi dengan begitu romantis. Ringan dan ngepop, film ini ideal buat tontonan sembari melepas lelah sepulang kuliah.</p>
<p><strong><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/pertaruhan2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-15420" title="pertaruhan2" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/pertaruhan2-202x300.jpg" alt="" width="202" height="300" /></a>3. Pertaruhan</strong></p>
<p><strong>Pertaruhan </strong>merupakan film dokumenter garapan Nia Dinata. Yah, sutradara yang gak diragukan lagi sepak terjangnya dalam mengangkat isu-isu  feminisme.</p>
<p>Film ini terdiri atas  empat  kisah berbeda yang begitu kontroversial dan dekat hubungannya dengan masalah kesetaraan gender, yaitu tentang masalah <em>Pap Smear</em> (pemeriksaan kesehatan organ reproduksi perempuan), tradisi sunat perempuan, TKW ( Tenaga Kerja Wanita) yang menjadi lesbian, dan tentang perjuangan seorang pelacur untuk menghidupi anak-anaknya.</p>
<p>Film ini benar-benar mengangkat sisi lain kehidupan perempuan. Karena nggak lulus sensor, akhirnya film ini diproduksi ulang dan masuk ke <em>major </em>label dengan judul <strong>Perempuan Punya Cerita.</strong></p>
<p><strong><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/berbagisuami.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-15421" title="berbagisuami" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/berbagisuami-211x300.jpg" alt="" width="211" height="300" /></a>4. Berbagi Suami</strong></p>
<p>Masih membahas film garapan Nia Dinata. Film <strong>Berbagi Suami</strong> intinya mengangkat cerita tentang  poligami yang terjadi pada tiga perempuan berbeda. Salma (Jajang C. Noer) seorang dokter yang memiliki keluarga bahagia dan mapan secara finansial, namun tetap pasrah menghadapi suaminya yang menikah lagi. Dia memilih untuk tetap mempertahankan keluarganya dengan alasan menjaga hati anaknya.  Siti (Shanty) gadis lugu dari desa yang dibawa ke Jakarta untuk diikutkan kursus kecantikan oleh pakliknya (Lukman Sardi), ternyata malah dijadikan istri ketiga. Namun akhirnya Siti memutuskan kabur dan hidup sebagai pasangan lesbian bersama istri kedua pakliknya,  Dwi (Rieke Dyah Pitaloka). Ming (Dominique), seorang gadis cantik yang bekerja sebagai kasir di restoran bebek terkenal milik Koh Abun (Tio Pakusadewo), ternyata dijadikan istri simpanan oleh Koh Abun. Namun akhirya istri pertama Koh Abun tahu dan langsung melabrak Ming.</p>
<p>Dengan konflik dan intrik yang begitu kompleks, film ini cukup keren untuk menyindir atau sekedar menggelitik isu poligami yang sampai saat ini masih menjadi polemik di masyarakat kita.</p>
<p><strong><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/mereka-bilang.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-15422" title="mereka bilang" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/mereka-bilang-216x300.jpg" alt="" width="216" height="300" /></a>5. Mereka Bilang Saya Monyet</strong></p>
<p>Film <strong>Mereka Bilang Saya Monyet</strong> mengisahkan tentang seorang perempuan bernama Adjeng (Titi Sjhuman) yang begitu pasif dan penurut di mata ibunya, namun ternyata begitu liberal dan cukup agresif dalam urusan seks di mata kekasih dan teman-temannya. Ternyata Adjeng menyimpan masa lalu yang kelam. Dia pernah mengalami pelecehan seksual oleh kekasih ibunya (Bucek).</p>
<p>Film ini sama sekali tidak menyinggung soal lesbian, tapi cukup keren memotret segala pergolakan dalam diri Adjeng, ditambah dengan nilai-nilai liberalisme yang disisipkan di dalamnya, cukup untuk membuat kita kembali mempertanyakan bagaimana posisi perempuan di masyarakat saat ini. Secara terselubung film ini mempertarungkan ideologi liberalisme dan konservatif. Disutradarai dan dikarang sendiri oleh Djenar Maesa Ayu, film ini cocok bagi kawan-kawan yang lagi dapet tugas semiotika film.</p>
<p><strong><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/arisan.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-15423" title="arisan" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/arisan-216x300.jpg" alt="" width="216" height="300" /></a>6. Arisan</strong></p>
<p>Ehm&#8230; Ternyata masih membahas film garapan Nia Dinata nih. Dua jempol deh buat Nia Dinata!. <strong>Arisan</strong>, menceritakan saudara seperjuangan kita, gay. Persahabatan tiga anak manusia yaitu Sakti (Tora Sudiro) seorang gay dari keluarga Batak, Andien (Aida Nurmala) yang berusaha membalas dendam suaminya yang selingkuh dan Meimei (Cut Mini Theo) yang berusaha keras untuk memenuhi obsesinya untuk memiliki anak.</p>
<p>Klimaks terjadi ketika ternyata Sakti dan Mei Mei mencintai pria yang sama yaitu Nino (Surya Saputra). Film ini juga mengangkat permasalahan-permasalahan yang sering dialami oleh para ekskutif muda yang hidup di kota metropolitan dengan segala tuntutan dunia sosialnya. Namun akhirnya <em>happy ending</em>, karena kedua sahabat Sakti, juga ibu Sakti akhirnya bisa menerima bahwa Sakti adalah seorang gay!</p>
<p>Nah, film-film di atas rasanya wajib kita tonton untuk menambah pengetahuan kita, apalagi kita begitu dekat dengan isu-isu sosial yang diangkat dalam film-film tersebut. Lumayan kan, buat bahan obrolan atau diskusi atau cara PDKT  sama gebetan (biar kelihatan peka dan pinter dengan seni/budaya kontemporer. Cewek mana yang nggak klepek-klepek?) sambil nongkrong di warung kopi sama teman-teman/kekasih. Selain itu, menonton film-film berkualitas juga bakal membuka wawasan. Nikmatilah nilai estetika film-film Indonesia. Dan tentunya, sebagai bentuk apresiasi kita terhadap para sutradara Indonesia yang dengan gagahnya turut menyuarakan isu-isu penting, yang lekat dengan diri kita (homoseksual, gender, dan feminisme) melalui filmnya. <em>Finally</em>, selamat menonton ya, sista!</p>
<p>@Lo, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/10/17/film-5-film-indonesia-yang-wajib-ditonton/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mix n’ Match: Coming Out Anak – Referensi dari Orangtua</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/10/16/mnm-coming-out-anak-referensi-dari-orangtua/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/10/16/mnm-coming-out-anak-referensi-dari-orangtua/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Oct 2011 08:33:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Mix n' Match]]></category>
		<category><![CDATA[Coming Out]]></category>
		<category><![CDATA[referensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=15380</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Carmen
Akhir-akhir ini di SepociKopi, banyak tulisan bagus yang muncul tentang masalah coming out. Aku jadi pengin ikut-ikut ala anak bebek untuk ambil kail topik yang super seru ini. Nah gimana kalau bahas tema yang paling bikin banyak lesbian berdiri bulu roma-nya (halah kok jadi dangdut), yaituuuu&#8230; coming out pada&#8230; orangtua!
Ngacung yang sudah coming out sama mama papanya!

Seperti biasa, yang dilakukan pertama kali adalah mencari bahan. Setelah mengubek-ubek tumpukan buku dan film, majalah-majalah, buka-buka katalog, buka mata buka telinga, hingga buka jendela, akhirnya jidat pun ditepok tangan sendiri! Hei! Kenapa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Carmen</p>
<p>Akhir-akhir ini di SepociKopi, banyak tulisan bagus yang muncul tentang masalah <em>coming out</em>. Aku jadi pengin ikut-ikut ala anak bebek untuk ambil kail topik yang super seru ini. Nah gimana kalau bahas tema yang paling bikin banyak lesbian berdiri bulu roma-nya (halah kok jadi dangdut), yaituuuu&#8230; <em>coming out </em>pada&#8230; orangtua!</p>
<p>Ngacung yang sudah <em>coming out </em>sama mama papanya!<br />
<span id="more-15380"></span><br />
Seperti biasa, yang dilakukan pertama kali adalah mencari bahan. Setelah mengubek-ubek tumpukan buku dan film, majalah-majalah, buka-buka katalog, buka mata buka telinga, hingga buka jendela, akhirnya jidat pun ditepok tangan sendiri! Hei! Kenapa pusing, coba? Gimana kalau tanya orangtua langsung?</p>
<p>Aku sudah <em>coming out </em>ke orangtua. Bukan aku yang sengaja <em>coming out </em>atau bukan pula ketangkap basah, tapi mereka tahunya dari temanku yang keceplosan. Orangtuaku awalnya seperti kesamber petir dan menentang homoseksualitas secara keras. Singkat cerita, lewat drama yang berbukit-bukit dan berombak nyaris tsunami selama kurang lebih 6 bulan, akhirnya orangtua menerimaku apa adanya sebagai anaknya yang berorientasi seksual lesbian. Relatif singkat, ya? Tapi transformasinya nyata. Menerimanya tidak dengan berat hati lho, tapi dengan embel-embel tetap bangga dan sayang sama anaknya! Yipiii&#8230;!</p>
<p>Selama proses yang berat itu, apa sih yang membuat mama papaku menerima anaknya yang lesbian? Jawabannya mungkin adalah, selain karena elemen cinta, mereka juga mengedukasi diri! Terlepas perbedaan konteks orangtua yang lain, berikut adalah jawaban dari mama papaku waktu kutanya: “Bahan apa yang paling efektif waktu resolusi proses kemarin soal penerimaan anak yang lesbian?”</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/dimsum-terakhir.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-15381" title="dimsum terakhir" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/dimsum-terakhir.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>1.<br />
Menurut Mama, sebelum anaknya yang lucu ini ketahuan lesbian, mama membaca novel fiksi yang tergeletak di pangkuanku waktu kami sama-sama di pesawat (sedikit mancing? mungkin saja, hihi). Ternyata novel ini dianggap mamaku sebagai persiapan sebelum babak-babak realitas anaknya yang nyaris bikin jantungan. Judulnya adalah <a href="http://inibuku.com/2602/dimsum-terakhir.html">&#8220;Dimsum Terakhir&#8221; </a>karya Clara Ng. Begini komentar Mama yang mungkin jadi kunci, setelah membaca novel (sambil tersenyum sumringah) tersebut: “Lucu ya, Nak. Pusing orangtuanya. Empat anak perempuannya kembar, lingkungan tumbuhnya sama, dididiknya mirip, tapi pas gede jadinya beda-beda, masalahnya juga masing-masing. Eh penyelesaiannya juga nggak terduga, tetap saja (mereka) nggak berubah, (tetap jadi) anak-anak orangtuanya.” Nah, cerita salah satu anak kembar itu menyerempet-nyerempet kisah sesama jenis dan akhirnya meliputi isu transgender.</p>
<p>“Ya. Akhirnya, seaneh apa pun anaknya, orangtua akan tetap sayang. Mama sayang kamu lho, Carmen.” Kalimat yang diucapkan sambil setengah bercanda ini membuatku tersenyum-senyum sepanjang minggu. Ada harapan, dan sekarang sudah terwujud! </p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/beyond-acceptanc.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-15382" title="beyond acceptanc" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/beyond-acceptanc.jpg" alt="" width="183" height="280" /></a>2.<br />
Salah satu bahan yang jadi titik tolak penting bagi mamaku setelah aku ketahuan lesbian adalah bacaan non-fiksi “Beyond Acceptance: Parents of Lesbians and Gays Talk about their Experiences” karya Griffin, Wirth, dan Wirth (1996) yang diambilnya dari ruang kerjaku. Si mami di rumah memang suka beres-beresin ruang kerjaku yang biasanya aujubile berantakan penuh kertas-kertas dan buku terbuka di mana-mana. Ternyata, berantakan membawa berkah (halah), karena ia jadi melahap buku itu.</p>
<p>Menurut Mama, buku yang bercerita tentang pengalaman para orangtua yang mempunyai anak lesbian dan gay ini menyadarkannya benar bahwa yang ia dan papaku alami juga dialami oleh orang nyata yang lain. Mamaku yang sebelumnya merasa terisolasi/lain dari lingkungan (karena gagal mendidik, perasaan teramat sedih dll) sekarang tidak merasa sendirian. Alur bab demi bab mengantarkan mamaku dengan lembut dan hati-hati ke level pemahaman baru tentang yang ia alami. Banyak pertanyaan yang terjawab, banyak deskripsi-deskripsi perasaan yang mirip dengan yang dialami. Semua itu diberikan oleh 23 orangtua yang memberikan kesaksian dalam proses penerimaannya terhadap anaknya yang lesbian atau gay, yang tergabung dalam suatu grup bernama P-FLAG (Parents, Families, and Friends of Lesbians and Gays) di Amerika.</p>
<p>Ia membagi isinya dengan Papa, dan dari informasi akurat yang diberikan para orangtua yang heteroseksual juga di sana, orangtuaku mulai melihat jalan alternatif&#8211;bahwa ada cara untuk membangun hubungan baru denganku yang dilandasi kejujuran dan kasih sayang. Seperti salah satu penulis buku katakan, transformasi yang ditunjukkan dari mendapatkan pengetahuan akurat adalah “an incredibly beautiful thing to witness”.</p>
<p>Sayangnya, bukunya berbahasa Inggris. Jadi kalau orangtuanya terbatas bahasa inggrisnya memang jadi sulit. Seandainya ada buku seperti ini yang edisi bahasa Indonesia, pasti sangat luar biasa&#8230;! *lirik LSM lesbian* Ayo dong bikin bahan-bahan yang seperti ini! Kemungkinan kontribusinya terhadap kebahagiaan keluarga yang mempunyai anak lesbian bisa sangat tinggi lhooo, dan sifatnya positif.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/Cover-I-Love-my-Parents.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-15383" title="Cover I Love my Parents" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/Cover-I-Love-my-Parents-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>3.<br />
Berikutnya adalah referensi film terkait religi. Untuk kami keluarga Kristiani, di hari Minggu yang tenang dan damai, kami bertiga (aku + Papa + Mama) terkadang menonton bersama di ruang keluarga. Biasanya tayangan rohani, jadi kuselipin deh DVD keren ini  <a href="http://sepocikopi.com/2010/12/06/resensi-film-for-the-bible-tells-me-so/">For the Bible Tells Me So</a>. Lagi-lagi sayangnya aku belum nemu yang ada subtitle Bahasa Inggrisnya, apalagi Bahasa Indonesia. Hal ini krusial, karena seperti film dokumenter lainnya, dialog wawancara biasanya lebih penting dari aspek visual atau alur cerita.</p>
<p>Menurut Papa, film ini cukup membuatnya terkaget-kaget dan mulai membuka diri, terutama terhadap informasi-informasi baru yang berhubungan dengan homoseksualitas, tidak terbatas soal teologi. Masuknya elemen afeksi kasih tanpa syarat, dan lain-lain juga muncul setelah menonton film keluarga jenis ini. Untuk teman-teman yang non-Kristiani, mungkin bisa dicari film-film sejenis (contoh, untuk yang Muslim:  Jihad for Love atau Gay Muslims (2006); untuk yang Hindu: Anyone and Everyone (2007) atau I Am (2011); untuk yang Buddha: Friends in High Places (2001); untuk yang Yahudi Ortodoks: Trembling before G-D (2001).</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/psycotherapy-250x179.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-15384" title="psycotherapy-250x179" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/psycotherapy-250x179.jpg" alt="" width="250" height="179" /></a>4.<br />
Elemen berikut yang krusial setelah aku ketahuan lesbian, menurut papa-mamaku, adalah dibukanya dialog dengan psikolog, psikiater, tokoh agama, hingga ahli-ahli lain. Uniknya, bukan mereka lho yang mengajakku ke sana, tapi aku yang mengajak mereka ke ahli-ahli itu duluan! Hehehe. Dilandasi logika, jauuuhh sebelum ketahuan orangtua, aku sudah mempersiapkan diri bertahun-tahun dengan meraup informasi sebanyak-banyaknya tentang orientasi seksualku dan dampaknya bagi kehidupanku. Tak terkecuali mencari informasi pula sebanyak-banyaknya dari para pakar yang kupercaya dan yang kutahu bahwa para pakar itu sungguh-sungguh dalam profesinya. Setelah kupikir-pikir, mungkin informasi tentang memilih pakar dan melindungi diri sebagai klien dalam servis dari profesi-profesi ini penting bagi lesbian, jadi di artikelku berikutnya aku akan membahas lebih dalam soal hal ini.</p>
<p>5.<br />
Faktor yang juga krusial menurut papaku, yang membuat perasaanku berbunga-bunga dan agak melambung adalah si anak yang menunjukkan kemauan berdialog dan kompromi, teredukasi hal-hal homoseksual tapi dengan cara tetap sopan dan rendah hati. Bukan meledak-ledak marah, malah kabur dari rumah, atau menuntut orangtua untuk menerima secara membabibuta dalam waktu sekejap mata&#8230;! Ternyata benar kan yang kulakukan: Kalau ingin dihargai orangtua, junjunglah juga orangtua kita layaknya manusia heteroseksual biasa yang punya perasaan, dan punya keterbatasan informasi. Mau kan disayang orangtua? Sayangi juga mereka lewat perbuatanmu. Setelah papaku memujiku seperti itu, aku juga secara asertif bilang bahwa sikapku seperti itu kepada mereka karena aku percaya sepenuhnya pada kemampuan orangtua berproses dan berpikir, dan kemampuan mereka untuk mencintaiku seutuhnya. Memang terkadang aku sempat nyaris putus asa di masa-masa tersulit, namun itu bukan hal yang aneh karena, hei, namanya juga proses&#8230;! <em>Trust them more!</em></p>
<p>Semoga referensi dari mama papaku ini berguna untuk pembaca di sini. Artikel ini sifatnya rada personal dan sangat subjektif, tapi nulisnya pakai hati lhooo, dan semuanya dengan tujuan untuk berbagi dengan teman-teman. <em>Good luck!</em></p>
<p>@Carmen, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/10/16/mnm-coming-out-anak-referensi-dari-orangtua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mix n’ Match: Subkultur Lesbian 18+</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/10/02/mix-n-match-subkultur-lesbian-18/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/10/02/mix-n-match-subkultur-lesbian-18/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Oct 2011 14:21:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Mix n' Match]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=15069</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Carmen
Seks. Lesbian.
Apa yang kaupikirkan pertama kali saat membaca dua kata tersebut?
Sebagai perempuan, tabu membicarakannya secara eksplisit? Merasa itu tidak layak diperbincangkan? Menjurus ke arah tidak sopan? Atau lebih jauh, merasa dikotori saat kutanya?
Aku tidak bermaksud mencetuskan perasaan-perasaan itu terhadap pembaca. Jadi jika semua pertanyaan itu dijawab “iya”, mungkin bisa dipertimbangkan untuk rekonstruksi perspektif tentang seksualitas perempuan. Atau jika jalan itu sangat tertutup, lebih baik stop membaca artikel ini. Bukan apa-apa, karena makin ke bawah, yang kubahas akan makin kental dengan nuansa dua kata tersebut. Contoh, resensi buku jenis “kamasutra” ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Carmen</p>
<p>Seks. Lesbian.</p>
<p>Apa yang kaupikirkan pertama kali saat membaca dua kata tersebut?</p>
<p>Sebagai perempuan, tabu membicarakannya secara eksplisit? Merasa itu tidak layak diperbincangkan? Menjurus ke arah tidak sopan? Atau lebih jauh, merasa dikotori saat kutanya?</p>
<p>Aku tidak bermaksud mencetuskan perasaan-perasaan itu terhadap pembaca. Jadi jika semua pertanyaan itu dijawab “iya”, mungkin bisa dipertimbangkan untuk rekonstruksi perspektif tentang seksualitas perempuan. Atau jika jalan itu sangat tertutup, lebih baik stop membaca artikel ini. Bukan apa-apa, karena makin ke bawah, yang kubahas akan makin kental dengan nuansa dua kata tersebut. Contoh, resensi buku jenis “kamasutra” lesbian, dokumentasi industri seks lesbian, dan lain-lain.<em>You have been warned</em>!</p>
<p>Motivasiku untuk membahas dua hal tersebut adalah terkait dengan isu teori subkultur di studi tentang <em>queer</em>. Permasalahannya, teori-teori subkultur yang ada saat ini menurutku telah gagal dalam mendeskripsikan, menjelaskan, dan memprediksi subkultur lesbian (bahasan tentang sifat sains bisa dilihat di artikel <a href="http://sepocikopi.com/2011/04/17/mix-n-match-pintu-dunia-sains-interdisipliner/" target="_blank">Pintu Sains Interdisipliner</a>).</p>
<p>Subkultur bisa dibaca sebagai satu ciri grup aktif yang melawan hegemoni/kultur dominan dengan bentuk-bentuk gaya hidup. Jadi “gaya hidup” lebih dipilih sebagai strategi daripada artikulasi ideologi yang sifatnya konfrontasi langsung (Hebdige, 1979). Contoh, gaya hidup punk di tahun 70-an yang dianut sebagian remaja pada zaman itu bisa dilihat sebagai bentuk pemberontakan terhadap kultur dominan (<em>parent culture</em>). Terkadang, bentuk-bentuk subkultur diserap oleh kultur dominan atau dianggap sebagai “fase” remaja yang sifatnya sementara.</p>
<p>Subkultur lesbian secara umum menawarkan hal yang lebih bagi teori-teori subkultur. Selama ini nyaris semua teori-teori subkultur tidak mengikutsertakan isu seksualitas dan lebih berfokus pada partisipasi remaja laki-laki heteroseksual; dan partisipasinya yang bersifat sementara (pada waktu menikah, umumnya tidak lagi menjalankan gaya hidup menurut subkultur tersebut) (Leblanc, 1998). Namun, subkultur lesbian merupakan hal yang sifatnya non-heteroseksual dan jelas bukan isu eksklusif laki-laki; dan partisipasinya pun tidak bersifat sementara (bukan “fase”), tapi partisipasinya berlanjut melebihi masa remaja. Contoh, banyak lesbian yang menolak mentah-mentah bentuk-bentuk nilai heteroseksualitas yang imperatif, seperti “menjadi perempuan dewasa berarti membentuk keluarga” (Butler, 2000). Bagi banyak lesbian, secara spesifik, gaya hidup yang sifatnya seksual dengan perempuan tidak hanya berupa fase remaja yang bersifat sementara, namun berlanjut sebagai komitmen seumur hidup. Dengan kata lain, partisipasi komunitas lesbian umumnya lebih setia pada subkulturnya (“queer time”&#8211;Halberstam, 2003).</p>
<p>Saat ini, dari yang kubaca, belum ada teori subkultur komprehensif dari seluruh dunia yang bisa mengadopsi subkultur lesbian. Nah mumpung jadi penulis SepociKopi, mengapa tidak dimulai untuk mengumpulkan bahan-bahan bagi pengembangan teori subkultur yang lebih baik (e.g., non-heteronormatif). Kali-kali saja salah satu pembaca disini ada yang jadi Sigmund Freud-nya bidang sosiologi atau <em>queer studies</em>. Ambisi boleh dong&#8230; Lesbian gitu lho!</p>
<p>Metode yang kupakai adalah pengarsipan. Idealnya ada wawancara etnografi dengan produser-partisipan subkultur lesbian yang digabungkan dengan arsip-arsip produksi subkultur. Namun karena keterbatasan penulis, yang kulakukan hanya bentuk yang kedua. Secara spesifik, tema yang kuangkat adalah aktivitas seksualitas lesbian.</p>
<p>Produksi subkultur yang kubahas pertama disini adalah artefak seni lukis. Pernah melihat karya-karya pelukis Audrey Kawasaki? Karya-karyanya banyak disebut sebagai manifestasi dari fantasi seks lesbian. Subyek dari lukisan Kawasaki kebanyakan adalah perempuan yang terkesan misterius menggoda.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-15070" title="1" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/1-226x300.jpg" alt="" width="181" height="240" /></a></p>
<p>Seorang Jepang yang dibesarkan di Amerika, Kawasaki banyak terekspos dua kultur&#8211;Jepang dan Barat; dan hal tersebut terlihat di lukisannya. Inspirasinya banyak diambil dari Manga Jepang serta bentuk-bentuk garis kurvilinear Art Nouveau&#8211;dilukis di panel kayu, garisnya dilukis menggunakan grafit dan aplikasi tipis cat minyak. Efek natural dari kayu tersebut membuat subyek lukisannya seakan <em>translucent</em>; dan warna natural kayu juga menambah kehangatan pada setiap garis kurva dari si subjek perempuan.</p>
<p>Beberapa kritik menyebut karyanya sebagai paradoks,<a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/2.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-15071" title="2" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/2-300x289.jpg" alt="" width="240" height="231" /></a>karena sifatnya erotis namun <em>innocent</em>. Ada unsur melankoli yang seduktif, terlihat dari tatapan langsung mata subyek si perempuan. Tak jarang, secara eksplisit ia melukis dua perempuan yang saling bersentuhan yang terdepiksi secara indah. Semuanya itu terkadang digabung dengan elemen kultur Jepang, seperti simbolisasi dan memasukkan cerita dongeng rakyat Jepang. Kawasaki sendiri menyebut lukisan-lukisannya sebagai sarana ekspresi eksistensi dan penghayatan diri; terkait seksualitas, identitas, dan gebrakan sosial pribadi.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/3.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-15072" title="3" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/3-300x199.jpg" alt="" width="270" height="179" /></a>Pembahasan tentang subkultur biasanya tidak lepas dari populasi remaja. Jadi yang kuarsip untuk produksi subkultur selanjutnya adalah artefak film remaja, “Eloise” dari Spanyol. Film-film dari Eropa umumnya punya karakteristik yang tidak biasa, seperti alur yang mengagetkan, atau topik yang bisa bikin bulu kuduk berdiri karena gelap nuansanya. Tak terkecuali film-film dari Spanyol. Apalagi ada bonus menonton perempuan-perempuan cantik dengan akting yang ciamik dan aksen bahasa yang bisa dibilang <em>beyond sexy</em>! Eloise adalah tidak terkecuali. Seorang remaja lesbian, Eloise dianggap aneh oleh teman-temannya. Asia, cewek populer teman sekolahnya yang punya pacar cowok populer malah tertarik melihat “kekuatan” Eloise yang diam-diam menghanyutkan. Asia kemudian menawarkan diri menjadi model lukisan Eloise; dan lewat media seni ini, hubungan antara Eloise dan Asia menjadi lebih dekat. Apalagi setelah Asia ingin menjadi model telanjang lukisan Eloise&#8211;proses yang memerlukan rasa percaya kedua belah pihak. Proses kedekatan kedua remaja didepiksikan berkembang secara natural, terutama tentang ketertarikan seksual dari pasangan ini, di tengah-tengah penolakan dari pihak keluarga dan teman Asia atas hubungan mereka berdua. Di antara banyak film lesbian remaja yang biasanya ambigu dan monoton atau malah terlalu kacau, film Eloise dengan segala kekurangannya bisa jadi pilihan utama yang menyajikan cerita tentang seksualitas remaja yang elegan dan tidak berlebihan.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/4.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-15073" title="4" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/4-300x99.jpg" alt="" width="300" height="99" /></a>Film dokumenter yang secara eksplisit membahas subkultur seksualitas lesbian tampaknya patut disebut di sini, yaitu <em>Lesbian Sex and Sexuality</em> (<em>Season 2</em>). Di seri yang kedua ini, seksualitas lesbian tidak dibisiki atau dianggap tabu atau dimarjinalisasi, tapi dirayakan habis-habisan. Apa sih yang dianggap seksi oleh komunitas lesbian? Bagaimana cara pasangan lesbian meramu kedekatan seksual mereka? Pernah dengar tentang<em> lesbian escort</em>? Atau lesbian <em>sex therapist</em>? Bagaimana dengan dinamika butch-femme pasca tahun millenium ini? Apa saja yang dilakukan komunitas lesbian untuk berkumpul dan merayakan seksualitasnya? Episode per episode menayangkan wawancara dengan <em>experts </em>atau selebriti lesbian, dan kamera terus mengikuti sumber-sumber otentik yang terlibat dalam perayaan seksualitas lesbian. Film dokumenter ini bisa jadi referensi cukup baik untuk yang tertarik lebih lanjut tentang subkultur seksualitas lesbian yang luar biasa beragam&#8211;bahwa setiap perempuan banyak berbeda dalam hal pengalaman seksual, gairah, dan sikap menghadapi tantangan.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/FeliceNewman.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-15074" title="FeliceNewman" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/FeliceNewman.jpg" alt="" width="165" height="170" /></a>Karena penulis menganggap aktivitas seks adalah salah satu hal yang penting, baik dalam kaitan dengan identitas dan pengekspresian lesbianisme, pengarsipan berikutnya mencakup resensi ”buku seks” lesbian. Opini penulis, buku yang pantas mendapat tempat di artikel ini adalah “The Whole Lesbian Sex Book” karya Felice Newman. Malah menurutku buku ini mungkin buku terbaik tentang kesehatan seksual! Tulisan Newman enak dibaca, sangat informatif, dan cocok untuk perempuan yang baru mulai berpikir bercinta dengan perempuan, hingga untuk lesbian yang sudah bersama pasangannya hingga puluhan tahun lamanya. Semuanya tentang bagaimana memuaskan perempuan&#8230; dan menunjukkan <em>the fun of sex between women</em>! Tentang teknik, buku ini banyak membahas tentang bermacam teknik, sampai ada ilustrasinya segala (<em>note</em>. di edisi e-book, tidak ada ilustrasinya). Newman juga menulis hasil surveynya tentang seksualitas lesbian di sini, sehingga beberapa pembaca di <em>review</em>-nya mendapat kesan bahwa banyak lesbian mengeksplorasi dan menikmati seksualitasnya! <em>Inspiring</em>, bukan?</p>
<p>Yang terakhir adalah fenomena YouTube. Adakah subkultur lesbian yang mengekspresikan diri lewat dunia ini? Oh jelas ada, malah banyak. Contohnya lihat saja banyaknya kompilasi video tentang lesbian, dari yang jelek sampai yang nyeni. Salah satu user favoritku, “<a href="http://www.youtube.com/user/saphrodite" target="_blank">saphrodite</a>” memperlihatkan video kompilasi yang diambil dari berbagai film-film lesbian, bertema pandangan mata ( http://youtu.be/e-fxAWNoe90). Interpretasiku, pandangan mata adalah awal dari segala aktivitas seksual lesbian. <em>Ow ow yeah</em>!</p>
<p>Subkultur seksualitas lesbian dalam berbagai bentuk, seperti yang dijelaskan sebelumnya merupakan salah satu bukti kuat penolakan ukuran heteronormativitas dalam komunitas lesbian.</p>
<p>Nah terpikirkah oleh kamu, bentuk subkultur lesbian yang lain selain ekspresi seksualitas? Manusia berbudaya mungkin adalah pencipta peradaban. Apakah lesbian bisa menjadi salah satu bagian dari pencipta peradaban baru? Atau lebih spesifiknya, apakah kamu punya sarana tertentu dalam pengekspresianmu dalam mencintai perempuan? Tidak harus topik seksualitas; topik ini kuangkat agar jelas thesis kalimat pertamaku di paragraf ini. Bentuknya seperti apa: memproduksi, mendistribusi, atau mengapresiasi?</p>
<p>Sumber:<br />
Butler, J. (2000) ‘Agencies of Style for a Liminal Subject’, in Paul G., Lawrence G., &amp; Angela M. (eds.), Without Guarantees: In Honour of Stuart Hall, pp. 30–7. London and New York: Verso.</p>
<p>Cvetkovich, A. (2003). An Archive of Feelings: Trauma, Sexuality and Lesbian Public Cultures. Durham, NC: Duke University Press.</p>
<p>Halberstam, J. (2003). What’s that smell? : Queer temporalities and Subcultural lives. International Journal of Cultural Studies, 6, 313</p>
<p>Hebdige, D. (1979). Subculture: The Meaning of Style. New York and London: Methuen.</p>
<p>Leblanc, L. (1998). Pretty in Punk: Girls’ Gender Resistance in a Boys’ Subculture. Rutgers, NJ: Rutgers University Press.</p>
<p>@Carmen, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/10/02/mix-n-match-subkultur-lesbian-18/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mix n’ Match: 10 Lesbian Movies YMWBYD</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/09/25/mix-n-match-10-lesbian-movies-ymwbyd/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/09/25/mix-n-match-10-lesbian-movies-ymwbyd/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Sep 2011 08:26:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Mix n' Match]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14907</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Carmen dan Alex
Berikut ini kami, Alex dan Carmen, bakal memberi rekomendasi 10 film lesbian yang harus kudu mesti ditonton. Apa yang membuat film-film ini yang jadi pilihan? Ada beberapa kriteria.
Pertama, segi kenikmatan mata, telinga, dan otak. Bye bye deh sama film-film kecuprit yang gambarnya goyang-goyang, atau yang dialognya bikin si penonton pengen adu gulat sama penulis skenario, atau yang musiknya bernuansa pocong pas adegan romantis lesbian, atau yang alurnya pusing sehingga berisiko bikin IQ penonton turun 20 poin.
Kedua, segi amanat non-heteronormativitas. Terutama film-film yang me”manusia”kan lesbian: lesbian punya perasaan, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Carmen dan Alex</p>
<p>Berikut ini kami, Alex dan Carmen, bakal memberi rekomendasi 10 film lesbian yang harus kudu mesti ditonton. Apa yang membuat film-film ini yang jadi pilihan? Ada beberapa kriteria.</p>
<p>Pertama, segi kenikmatan mata, telinga, dan otak. <em>Bye bye </em>deh sama film-film kecuprit yang gambarnya goyang-goyang, atau yang dialognya bikin si penonton pengen adu gulat sama penulis skenario, atau yang musiknya bernuansa pocong pas adegan romantis lesbian, atau yang alurnya pusing sehingga berisiko bikin IQ penonton turun 20 poin.</p>
<p>Kedua, segi amanat non-heteronormativitas. Terutama film-film yang me”manusia”kan lesbian: lesbian punya perasaan, punya hati, bisa sedih, bisa senang juga, bisa tertawa, bisa sehat, bisa punya kisah cinta dahsyat, atau bisa berkomitmen tidak kalah hebat. Jadi tendang jauh-jauh film yang ada tokoh lesbi yang mau bunuh pasangannya karena cemburu atau mau bunuh diri karena ditolak cintanya. Tokoh-tokoh fiktif menghina yang jumlahnya overdosis itu tidak layak ditempatkan di daftar film-film waras.</p>
<p>Ketiga, diutamakan film-film yang memberi gambaran positif pada sosok lesbian. Alasannya, sebagai jenis manusia normal yang sama dengan manusia lain, selayaknya diberi porsi informasi positif dan negatif yang seimbang dari lingkungan. Banyaknya elemen aura negatif yang ditempel di label “lesbian” membuat kami menjerit-jerit kepanasan akibat gemas untuk mendaraskan informasi dan ide-ide positif tentang lesbianisme yang sejatinya super sekseh dan <em>slurpy </em>sekaligus <em>yummy</em>.</p>
<p>Temanya beragam; ada yang rom-com, noir, komedi, hingga era victorian. Mulai dari film yang diproduksi ketika saluran TV cuma ada TVRI aja hingga era internet. Pilihan film pasti subjektif, tapi hei&#8230; setelah sekian tahun mendedikasikan waktu kami untuk menonton segala macam film lesbian dan menuliskan reviewnya di sini, tega banget masa sih nggak dipercaya&#8230;?</p>
<p>Film-film yang mendapat rating tinggi dalam penilaian kami adalah&#8230;.</p>
<p><strong>1. Bound (1996)</strong></p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/bound.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-14917" title="bound" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/bound-201x300.jpg" alt="" width="201" height="300" /></a>Film debutan Wachowski bersaudara&#8211;sutradara Matrix Trilogy ini&#8211;merupakan film noir-thriller terbaik tahun 1990-an. <em>Bound </em>berkisah tentang dua perempuan,Violet (Jennifer Tilly) dan Corky (Gina Gershon) yang berupaya mencuri uang 2 juta dolar milik mafia. Saat membuat rencana pencurian, kedua perempuan ini terlibat dalam hubungan asmara, meskipun Violet adalah kekasih Caesar, sang anggota mafia.</p>
<p>Film ini hanya bersetting di apartemen namun memiliki unsur ketegangan yang tinggi dengan nuansa thriller ala Alfred Hitchcock. Plot cerita dan karakter yang kuat membuat penonton tegang menanti adegan demi adegan hingga akhir film. Bound sendiri tidak memberi penekanan pada kisah lesbiannya melainkan lebih berfokus pada jalan cerita yang menegangkan ketika sepasang lesbian ini harus saling mempercayai satu sama lain dalam rencana pencurian mereka, yang jika gagal akan membuat mereka dihabisi oleh para mafia. Plus bikin penontonnya pengen pakai jaket kulit dan merasa panassss ala makhluk khatulistiwa.</p>
<p><strong>2.Fingersmith (2005)</strong></p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/intro_fingersmith.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14916" title="intro_fingersmith" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/intro_fingersmith-210x300.jpg" alt="" width="210" height="300" /></a>Film produksi BBC, Inggris, ini merupakan film yang diangkat dari novel historical lesbian fiction karya Sarah Waters yang berjudul sama. Film <em>Fingersmith</em> bersetting di Inggris pada tahun 1800an. Film berdurasi 3 jam ini terbagi menjadi dua bagian yang menampilkan dua sudut pandang dari tokoh utamanya. Bagian pertama dimulai ketika gadis yatim piatu bernama Sue yang dibesarkan kelompok pencuri di London menyamar menjadi pembantu pribadi gadis lugu bernama Maud agar bisa menipu hartanya.</p>
<p>Lambat laun di antara Sue dan Maud terbentuk persahabatan dan Sue mulai jatuh cinta pada Maud. Ia jadi tidak enak hati mengingat dia bertujuan menipu Maud. Pada akhir bagian pertama, penonton akan diberi akhir dengan twist yang mengagetkan. Lalu berlanjut ke bagian kedua dengan sudut pandang Maud.</p>
<p>Kalau suka film bersetting abad lampau alias <em>historical fiction</em>, boleh juga mencoba menonton film <em>Tipping the Velvet </em>(2002), yang juga diangkat dari novel karya Sarah Waters bersetting pada abad ke-18 berkisah tentang gadis lugu bernama Nancy yang bekerja di restoran ayahnya. Suatu hari dia menonton teater yang menampilkan male impersonator bernama Kitty Butler. Jatuh cinta, Nancy kabur dari rumah dan mengikuti Kitty. Penonton dibuat mengikuti Nancy yang melakukan perjalanan panjang jatuh-bangun mencari jati dirinya sebagai lesbian.</p>
<p>Secara keseluruhan, dua film yang bersetting dan plot menarik ini menyuguhkan pula akting yang tidak asal-asalan, sehingga mampu membuat penonton (lesbi ataupun bukan) bisa mengapresiasi kisah indah dua perempuan yang hidup di abad yang berbeda.</p>
<p><strong>3. Yes or No (2010)</strong></p>
<p><em><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/Yes-or-No-Yaak-Rak-Gaw-Rak-Loey-2010.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-14915" title="Yes or No Yaak Rak Gaw Rak Loey 2010" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/Yes-or-No-Yaak-Rak-Gaw-Rak-Loey-2010-210x300.jpg" alt="" width="210" height="300" /></a>Yes or No </em>adalah film lesbian komedi romantis tentang sepasang mahasiswi Thailand, Pie (Sucharat Manaying) dan Kim (Supanart Jittaleela). Keduanya merupakan mahasiswa baru yang harus tinggal sekamar di asrama. Awalnya Pie tidak menyukai Kim yang tomboi, namun lambat laun Kim dan Pie pun makin dekat dan akhirnya jatuh cinta. Secara cerita, alur film <em>romantic comedy</em> ini menargetkan penonton muda dengan tokoh anak kuliahan dengan femme yang manis dan butch yang cool yang dijamin akan membuat penonton lesbian deg-degan teringat masa cinta pertama kita. Dengan segala kekurangannya, <em>Yes or No </em>adalah film yang menyenangkan dan menampilkan sosok lesbian dengan karakter yang enak dilihat. Paling tidak film ini mampu membuat salah satu penulis memajang salah satu foto pemain di <em>wallpaper </em>dinding komputer.</p>
<p><strong>4. Saving Face (2004)</strong></p>
<p><em><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/saving-face.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14914" title="saving face" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/saving-face-203x300.jpg" alt="" width="203" height="300" /></a>Saving Face</em> adalah film tentang “menjadi lesbian” dalam keluarga keturunan Asia di Amerika. Dalam budaya Cina, menjaga muka keluarga dari aib dianggap hal yang mesti dijunjung tinggi. Tokoh utama film ini adalah Wil (Michelle Krusiec), dokter muda berusia 28 tahun yang bekerja di rumah sakit di Manhattan, New York. Kemudian Wil bertemu dengan Vivian (Lynn Chen), yang juga putri atasan Wil di rumah sakit, lalu keduanya saling jatuh cinta.</p>
<p>Hidup Wil yang tenang jadi ruwet ketika ibunya, Ma (Joan Chen) tinggal bersama Wil karena sang ibu yang sudah janda kedapatan hamil di luar nikah. Karena tidak mau membuat aib, Ma memutuskan mengungsi sementara ke rumah Wil dan membuat hubungan Wil dan Vivian jadi berantakan. Namun lebih dari sekadar film lesbian, <em>Saving Face </em>adalah film drama komedi tentang hubungan ibu dan anak yang berusaha saling memahami dalam mencari cinta di masyarakat yang punya banyak hal yang ditabukan. Salah satu contoh film bagus yang me”manusia”kan lesbian. <em>A pleasant watch.</em></p>
<p><a href="http://ec1.images-amazon.com/images/P/B00004U104.01._AA240_SCLZZZZZZZ_.jpg"><img style="margin: 0px 0px 10px 10px; width: 200px; float: right; cursor: pointer;" src="http://ec1.images-amazon.com/images/P/B00004U104.01._AA240_SCLZZZZZZZ_.jpg" border="0" alt="" /></a><strong>5. If These Walls Could Talk 2 (2000)</strong></p>
<p>Film produksi HBO  ini terbagi dalam tiga segmen cerita, yang disutradari oleh tiga sutradara berbeda yang semuanya perempuan. Benang merah yang menghubungkan ketiga cerita yang berlangsung selama hampir setengah abad adalah rumah yang sama yang jadi setting tempat cerita lesbian ini.</p>
<p>Pada tahun 1961, rumah itu dihuni pasangan lesbian manula bernama Edith (Vanessa Redgrave) dan Abby (Marian Seldes). Ketika Abby meninggal dunia, keluarga Abby yang tidak memahami hubungan Abby dan Edith malah berencana menjual rumah tempat tinggal pasangan itu. Edith yang tak berdaya hanya bisa pasrah karena rumah itu memang terdaftar atas nama Abby dan tidak ada ikatan legal antara mereka meskipun mereka sudah berpasangan selama puluhan tahun. Pada tahun 1972, rumah itu jadi tempat tinggal anak kuliahan yang feminis lesbian.  Linda (Michelle Williams)  jatuh cinta pada Amy (Chloe Sevigny), butch yang menjurus ke transeksual. Bagi sahabat-sahabatnya, Amy adalah sosok yang tidak sesuai bagi perjuangan feminis/lesbian yang mereka perjuangkan selama ini, karena Amy dianggap sosok yang tidak perempuan dan juga tidak laki-laki. Pada tahun 2000, Fran (Sharon Stone) and Kal (Ellen DeGeneres), pasangan yang sudah hidup bersama selama beberapa tahun di rumah itu memutuskan untuk memiliki anak untuk melengkapi ikatan mereka melalui sumbangan sperma dari sahabat gay mereka.</p>
<p><em>If These Walls Could Talk 2 </em>menampilkan semacam realita perubahan yang terjadi pada kehidupan kaum lesbian dari beberapa generasi ke belakang.  Semacam catatan sejarah tentang  perjuangan yang mungkin  masih dijalani oleh kaum lesbian masa kini.</p>
<p><strong>6. Desert Hearts</strong> <strong>(1985)</strong></p>
<p><strong><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/238849_desert_hearts.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14909" title="238849_desert_hearts" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/238849_desert_hearts-300x257.jpg" alt="" width="300" height="257" /></a></strong>Film drama berbudget minim yang disutradarai pembuat film dokumenter Donna Deitch ini bersetting pada tahun 1959. Vivian (Helen Shaver), seorang profesor English Literature datang ke kota Reno untuk menceraikan suaminya. Ia bertemu dengan Cay, gadis muda yang di waktu malam bekerja di salah satu kasino dan tinggal di studio kecil yang ada di peternakan milik Frances, selir dari ayah Cay yang sudah meninggal. Frances menyayangi Cay yang independen, tapi tidak setuju dengan Cay yang tidak malu dengan preferensi seksualnya yang lesbian dan yang sedang mencari pasangan hidup secara terbuka. Vivian yang menginap di tempat Frances untuk “menemukan” dirinya banyak berinteraksi dengan Cay, yang juga sedang berjuang mengatasi masalahnya sendiri. Frances mencurigai hubungan keduanya sehingga Vivian diusir dari penginapan, sehingga harus ke hotel di kota terdekat. Cay pun mengejar Vivian.</p>
<p>Film yang beradegan di peternakan dan gurun ini menampilkan perilaku-perilaku lesbian yang tanpa pretensi; dan interaksi kedua tokoh utama sangat intens dengan kadar yang cukup. Untuk film yang dibuat tahun 1985, film ini bisa dibilang sebagai pelopor kisah lesbian dengan ending yang memuaskan namun realistis.</p>
<p><strong>7. Intimates (1997)</strong></p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/intimates.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-14912" title="intimates" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/intimates.jpg" alt="" width="300" height="186" /></a>Film drama Hong Kong ini berkisah tentang Wai (Theresa Lee) yang menemani tantenya Foon (Qua Ah Leh) ke tanah kelahirannya. Wai yang mengalami masalah dengan pacarnya ditolong oleh tantenya itu yang juga mengalami kehilangan cinta di masa lalu. <em>Flashback</em> cerita di abad 19, Foon masa muda (Charlie Yeung) yang dulu hidup selibat, ditolong berkali-kali oleh penyanyi klub populer perempuan Wan (Carina Lau), termasuk saat Foon melakukan aborsi hingga hampir mati. Foon terkesan dengan cinta yang ditunjukkan Wan dan sadar bahwa cinta sejati itulah yang ia cari selama ini. Penjajahan Jepang dan perang yang memisahkan keduanya tidak mampu memudarkan cinta kedua perempuan yang begitu dahsyat tersebut; sampai di masa tua si Foon tetap mencari Wan sampai ke kampung halamannya. Ending yang mengharukan sanggup membuat kedua penulis berkaca-kaca mengambil tissue dan menarik kekasih untuk dipeluk dan dibisikkan kata-kata cinta.</p>
<p><strong>8. Room in Rome (2010)</strong></p>
<p><strong><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/Room-in-Rome.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14913" title="Room in Rome" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/Room-in-Rome-300x187.jpg" alt="" width="300" height="187" /></a></strong>Film drama erotis ini melibatkan dua perempuan dari negara berbeda, Alba (Elena Anaya) seorang lesbian dari Spanyol dan Natasha (Natasha Yarovenko) dari Rusia yang baru bertemu dan bermalam bersama di sebuah hotel di kota Roma. Diawali resistensi Natasha yang mengaku <em>straight</em>, akhirnya keduanya bercinta di malam musim panas di hari yang paling singkat kota itu. Budget kostumnya relatif minim karena di sebagian besar adegan, kedua pemainnya telanjang&#8230; hihihi. Yang mengesankan adalah, seiring berjalannya waktu, penonton bisa lupa akan fakta telanjang itu karena eksplorasi mendalam dari perkembangan karakter pemain. Awalnya kedua perempuan berusaha untuk menjaga jarak, tidak memberikan nama asli, mengarang cerita tempat tinggal dan peristiwa; namun sepanjang malam, mereka menjadi bertambah dekat. Aktivitas seks menjadi sarana komunikasi yang paling jujur. Kebohongan-kebohongan mulai terkuak, dan keterlibatan emosi makin bercampur menjadi kisah cinta yang manis. Metafora-metafora subtle tentang karya seni dan sejarah yang menyelimuti film ini tidak bisa dianggap enteng dan melengkapi ambiens film.</p>
<p>Disutradarai oleh Julio Medem, seorang laki-laki, memberi pesan tertentu untuk penulis: Untuk tidak pernah lagi meremehkan sutradara dari gender tertentu untuk bikin film lesbian. Dukung siapa pun juga untuk membuat film lesbian yang apik!</p>
<p><strong>9. But I’m A Cheerleader (1999)</strong></p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/But-I-m-A-Cheerleader-but-im-a-cheerleader-18030965-400-258.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-14911" title="But-I-m-A-Cheerleader-but-im-a-cheerleader-18030965-400-258" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/But-I-m-A-Cheerleader-but-im-a-cheerleader-18030965-400-258-300x193.jpg" alt="" width="300" height="193" /></a>Bercerita tentang Megan (Natasha Lyonne), ketua cheerleader yang dicurigai lesbian oleh teman-temannya karena misalnya suka makan tofu, vegetarian, dan tidak suka ciuman sama pacar cowoknya. Ia dikirim ke sekolah terapi konversi True Directions (yang mengklaim bisa bikin yang gay menjadi tidak gay lagi) oleh orangtuanya. Di sana, lesbian dilatih pekerjaan rumah tangga, mengasuh anak, berdoa, dan hal-hal aneh lain yang diklaim bisa membuat seseorang menjadi hetero. Di sana, Megan bertemu Graham (Clea Duvall), cewek tomboi yang tidak suka hal-hal berbau feminin dan suka merokok.</p>
<p>Film ini cocok ditonton untuk yang lelah dengan film berisi stereotipe-stereotipe lesbian yang bikin enek. <em>But I’m a Cheerleader </em>adalah film yang memberikan sensasi satirikal humor dengan menggunakan stereotipe-stereotipe tersebut. Hehe jadi bukannya dilawan secara langsung, stereotipe tersebut malah dibikin lucu yang maksa-maksa gitu. Kocak deh, pinter karena ada elemen kritis utama tentang jaminan ketidakberhasilan terapi konversi dan dampak buruknya bagi kesehatan mental kaum LGBT.</p>
<p><strong>10. Aimee and Jaguar (1999)</strong></p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/aimee-and-jaguar-nih.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14910" title="aimee and jaguar nih" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/aimee-and-jaguar-nih-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Siapa bilang kami tidak suka cerita tragedi dan kisah cinta lesbian layaknya obsesi? Dengan skenario yang apik dan <em>believable</em>, Aimee and Jaguar adalah salah satu film yang terbaik dari Jerman untuk genre ini. Diangkat dari kisah nyata, kita mengikuti Ilse (Johanna Wokalek), seorang lesbian muda Yahudi yang menyamar menjadi orang non-Yahudi dan tinggal di pusat kota Berlin. Ia bekerja sebagai baby sitter untuk Lilly Wust (Juliane Kohler), ibu tiga anak. Pacar Ilse, Felice (Maria Schrader) berkenalan dengan Lilly dan dari situlah kisah cinta antara Felice, seorang mata-mata Yahudi yang cantik dan pintar dan tak takut mati, dan Lilly, seorang istri perwira tinggi Nazi yang suka berselingkuh karena mencari cinta, dimulai. Lilly kemudian jatuh cinta secara mendalam dengan Felice sang pengambil risiko tinggi (bergaul dengan perwira-perwira dan wartawan-wartawan utama propaganda Nazi; melihat teman baiknya dibunuh di jalan dengan mata kepala sendiri; pura-pura tidak peduli dengan keluarganya yang dibawa pergi ke penjara siksaan karena ketahuan sebagai orang Yahudi, dll parah!) dan Felice membalas cinta Lilly dengan konsekuensi yang tragis.</p>
<p>Secara umum, Aimee and Jaguar merupakan film dengan perhatian ke detail di jaman yang penuh dengan tensi perang; sungguh luar biasa bahwa ada kisah cinta dua perempuan yang seharusnya merupakan musuh bebuyutan itu bisa tumbuh di kondisi demikian. Menyenangkan melihat komunitas queer yang glamor di kota Berlin jaman itu; adanya pesta-pesta dan konser sebagai pelarian stress bahwa di luar terjadi perang dan opresi dahsyat dari sekitar. Simak salah satu dialog cinta Felice waktu kumpul-kumpul komunitas <em>queer</em>; sesaat sebelum beberapa di antara mereka mati dibunuh: <em>&#8220;I want&#8230; Perhaps everything. But I&#8217;d be satisfied with one single moment. So perfect, it would last a lifetime.&#8221;</em></p>
<p>Bagaimana, lesbian? Selamat menonton ya&#8230;!</p>
<p>*You Must Watch Before You Die</p>
<p>@Carmen,Alex/SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/09/25/mix-n-match-10-lesbian-movies-ymwbyd/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mix n’ Match: Miss Beauty, Brain, Behaviour</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/09/18/mix-n-match-miss-beauty-brain-behaviour/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/09/18/mix-n-match-miss-beauty-brain-behaviour/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Sep 2011 14:56:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Mix n' Match]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14789</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Alex
Beberapa hari lalu pemenang Miss Universe 2011 resmi mengumumkan Leila Lopes dari Angola sebagai pemenang. Tadinya saya mau memilih beberapa perempuan tercantik di jagat raya ini untuk Mix n&#8217; Match kali ini, tapi entah kenapa setelah dibrowsing kok semua perempuan ini kelihatan sama saja. Cantik dengan tubuh indah semampai dan otak yang cemerlang.
Saya cari-cari kok nggak ada yang mengena di hati dan nggak ada Miss Universe yang coming out sebagai lesbian juga. Paling-paling saya cuma ingat Sushmita Sen, pemenang tahun 1994 yang jadi aktris Bollywood karena saya penggemar film ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Alex</p>
<p>Beberapa hari lalu pemenang Miss Universe 2011 resmi mengumumkan Leila Lopes dari Angola sebagai pemenang. Tadinya saya mau memilih beberapa perempuan tercantik di jagat raya ini untuk Mix n&#8217; Match kali ini, tapi entah kenapa setelah dibrowsing kok semua perempuan ini kelihatan sama saja. Cantik dengan tubuh indah semampai dan otak yang cemerlang.</p>
<p>Saya cari-cari kok nggak ada yang mengena di hati dan nggak ada Miss Universe yang <em>coming out </em>sebagai lesbian juga. Paling-paling saya cuma ingat Sushmita Sen, pemenang tahun 1994 yang jadi aktris Bollywood karena saya penggemar film India. Atau pemenang-pemenang yang jadi bintang iklan vitamin C.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/poci-miss-con2.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-14790" title="poci-miss con2" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/poci-miss-con2.jpg" alt="" width="220" height="328" /></a><br />
Akhirnya saya malah kepikiran adegan film di <em>Miss Congeniality 2: Armed and Fabulous </em>(2005), waktu adegan salah satu peserta yang coming out menyatakan cinta pada kekasih perempuannya di panggung. Seru! Memang <em>Miss Congeniality 2: Armed and Fabulous </em>bukan film yang bisa dibilang film kelas A, (bahkan kalah dari film pertamanya), tapi ini jelas film yang menghibur. Di sini kita bisa melihar sekelompok perempuan peserta kontes kecantikan yang cantik, tentunya, yang cekikikan seseruan bersama Agen FBI Gracie Hart (Sandra Bullock) dalam upayanya menyelamatkan peserta yang diculik. Ini jenis film yang bisa ditonton tanpa mikir, hanya untuk senang-senang.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/poci-wongfo.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-14791" title="poci-wongfo" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/poci-wongfo.jpg" alt="" width="220" height="316" /></a><br />
Bicara film tentang kontes kecantikan,<em> To Wong Foo Thanks For Everything, Julie Newmar! </em>(1995) ini adalah film favorit saya. Tiga aktor pria yang biasa jadi jagoan gagah, Patrick Swayze, Wesley Snipes, dan John Leguizamo berperan sebagai tiga waria bernama Vida Boheme, Noxeema Jackson, dan Chi-Chi Rodriguez yang hendak ikut kontes waria di Hollywood. Perjalanan dimulai dari New York dan perjalanan itu sendiri menjadi perjalanan yang lucu, sedih, dan menghibur dalam menemukan jati diri dan pemaafan.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/poci-sun.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-14792" title="poci-sun" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/poci-sun.jpg" alt="" width="220" height="325" /></a><br />
Abigail Breslin cemerlang di film tahun 2006 ini. Dalam <em>Little Miss Sunshine</em>, Abigail Breslin berperan sebagai Olive, anak culun yang ingin ikut kontes kecantikan. Sekeluarga, bersama ayah, ibu, kakak, kakek, dan omnya yang gay mereka naik mobil van dari Albuquerque menuju Los Angeles. Walaupun bukan anak yang cantik, namun sekeluarga mendukung keinginan Olive untuk ikut kontes kecantikan. Film ini menampilkan bagaimanapun keluarga adalah yang akan mencintaimu apa adanya.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/poci-con.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-14793" title="poci-con" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/poci-con.jpg" alt="" width="220" height="326" /></a><br />
Tadi sudah dibahas soal <em>Miss Congeniality 2</em>, masa sih saya tega tidak menyebutkan <em>Miss Congeniality </em>(2000) yang pertama? Saat pertama kali kita mengenal Agen FBI Gracie Hart (Sandra Bullock) dari bebek jelek berubah menjadi si cantik. Dari agen FBI yang tomboi dan malas dandan, ia harus menyamar sebagai peserta kontes kecantikan demi menyelamatkan kontes yang mendapat ancaman bom. Banyak adegan kocak dalam film ini dan saya bisa mengulang nonton setiap kali film ini diputar ulang.</p>
<p>Aduh, kenapa juga saya malah bahas film? Mestinya bahas miss-miss cantik dengan tubuh indah berbalut bikini dan gaun-gaun malam yang memesona. Juga jangan lupakan kecerdasan mereka. Secara  <em>beauty, brain, </em>dan <em>behaviour </em>perempuan-perempuan ini konon bisa dibilang dapat nilai 9 lho.<em> </em>Ngomong-ngomong, di sini ada nggak yang mau punya pacar Miss Universe?</p>
<p>@Alex, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/09/18/mix-n-match-miss-beauty-brain-behaviour/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mix n’ Match: Predatory Sexy Lesbian Vampires</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/09/11/predatory-sexy-lesbian-vampires/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/09/11/predatory-sexy-lesbian-vampires/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Sep 2011 07:33:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Mix n' Match]]></category>
		<category><![CDATA[TV]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14625</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Carmen dan Alex
Media apa yang berkontribusi memupuk stereotipe bahwa lesbian merupakan makhluk predator pemangsa perempuan perawan (atau paling tidak, heteroseksual)? Sepertinya salah satu yang berperan adalah media film. Film-film tentang vampir lesbian banyak menggunakan stereotipe-stereotipe tentang mitos-mitos perilaku seksualitas lesbian sebagai predator. Menariknya, dinamika peran predator vs korban pun berubah seiring zaman, terkait gerakan perempuan di masanya.
(1)
Sebelum tahun 1960, ada mitos seksualitas lesbian bercirikan di luar kewajaran, abnormal, konyol. Lesbian adalah kelompok yang kaya, perempuan tidak bermoral yang menggoda perempuan-perempuan lemah (atau berstatus sosial lebih rendah) sebagai korbannya. Misalnya, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/true-blod.jpg"><img src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/true-blod.jpg" alt="" title="true blod" width="280" height="400" class="alignleft size-full wp-image-14654" /></a>Oleh: Carmen dan Alex</p>
<p>Media apa yang berkontribusi memupuk stereotipe bahwa lesbian merupakan makhluk predator pemangsa perempuan perawan (atau paling tidak, heteroseksual)? Sepertinya salah satu yang berperan adalah media film. Film-film tentang vampir lesbian banyak menggunakan stereotipe-stereotipe tentang mitos-mitos perilaku seksualitas lesbian sebagai predator. Menariknya, dinamika peran predator vs korban pun berubah seiring zaman, terkait gerakan perempuan di masanya.</p>
<p><span id="more-14625"></span>(1)<br />
Sebelum tahun 1960, ada mitos seksualitas lesbian bercirikan di luar kewajaran, abnormal, konyol. Lesbian adalah kelompok yang kaya, perempuan tidak bermoral yang menggoda perempuan-perempuan lemah (atau berstatus sosial lebih rendah) sebagai korbannya. Misalnya, di salah satu film pertama vampir lesbian, <em>Dracula’s Daughter</em> (1936), Countess Zaleska (dibintangi secara meyakinkan oleh bintang Broadway Gloria Holden) ingin keluar dari ke-vampir-annya dengan bantuan Dr Garth (psikiater). Namun si Countess tidak sanggup menahan keinginan badaniahnya sebagai vampir, misalnya, saat melihat Lili (pelayan lugu dengan status sosial lebih rendah) yang berpose hampir telanjang sebagai model lukisannya.</p>
<p>(lihat video <a href="http://youtu.be/E_2YyzNAT98">http://youtu.be/E_2YyzNAT98</a>)</p>
<p>Tidak heran jika vampir dan lesbian seakan kompatibel: Vampir adalah bukan manusia, dan makhluk yang sudah mati (jadi jelaslah bertindak di luar kewajaran dan sadis; sama seperti lesbian yang menyukai perempuan). Pirie (1997), pengamat film, melihat bahwa depiksi vampirisme lesbian merupakan bentuk ketakutan fundamental kaum laki-laki bahwa hubungan antara dua perempuan mengancam supremasi patriarki; sehingga ketertarikan perempuan dengan perempuan lain dihubungkan dengan kejahatan&#8211;yaitu, pasti salah satu dari perempuan yang terlibat di dalamnya adalah korban dari yang lainnya. Seksualitas perempuan satu sama lain adalah berbahaya!&#8211;kira-kira mungkin begitu bayangan pembuat film-film awal vampir lesbian.</p>
<p>(2)<br />
Gerakan feminis tahun 1970-an tampaknya berpengaruh pada film-film vampir lesbian pada zaman itu; vampir dan korban tampak bisa memiliki hubungan yang kuat secara afeksi (bukan kuat vs lemah karena status sosial seperti di film-film awal). Misalnya di film <em>Vampyros Lesbos </em>(1971), film horor erotis yang memperlihatkan si vampir <em>stylish</em> Countess Nadine yang bertemu dengan pengacara Linda di pulau dekat Istanbul untuk membantu Countess menyelesaikan masalah real estate warisan Count Dracula (hihihi vampir pun pusing sama urusan properti). Linda yang meninggalkan kekasih prianya tertarik pada si Countess, lalu setelah diminum darahnya, menjadi amnesia. Dan setelah itu jalan ceritanya menjadi makin absurd.</p>
<p>(lihat video <a href="http://youtu.be/HX1zkeegnco">http://youtu.be/HX1zkeegnco</a>)</p>
<p>Di luar filmnya yang sarat eksploitasi seksual dan alur cerita yang sangat sangat membosankan (walaupun penuh adegan perempuan tanpa busana yang menyukai satu sama lain dan berjalan-jalan telanjang di pantai), si vampir cantik pemilik kekuatan supernatural bisa juga unjuk kekuatan dengan laki-laki untuk bisa bersama-sama dengan perempuan korban. Namun di film-film di zaman ini, masih sarat manusia perempuan yang lemah sebagai korban, walaupun awalnya ia juga tertarik secara seksual pada si Countess.</p>
<p>(3)<br />
Tahun 1983 mungkin adalah tahun keemasan munculnya cult gothic vampir lesbian. Film <em>The Hunger </em>menandai kebangkitan kelompok ini, dibintangi aktris cantik Catherine Deneuve (lihat plot film di sini <a href="http://sepocikopi.com/2011/05/01/mix-nmatch-deneuve-lesbian-filmography/">http://sepocikopi.com/2011/05/01/mix-nmatch-deneuve-lesbian-filmography/</a> ). Di film ini, <em>seduction scene </em>antara vampir Miriam dan si manusia Sarah mungkin adalah yang terbaik dari semua film (minimal) horor; walaupun melibatkan dua perempuan!</p>
<p>(lihat video <a href="http://youtu.be/6850CjhIzrY">http://youtu.be/6850CjhIzrY</a>)</p>
<p>Di sini, si manusia perempuan yang tertarik secara seksual dengan vampir cantik (tanpa ada pengaruh gaib dari si vampir; dan tanpa elemen &#8216;ketidaksadaran&#8217; manusia perempuan) yang dengan sadar memilih berhubungan dengan si vampir. Malah lebih jauh lagi, si “korban” mempunyai kekuatan untuk membunuh si vampir. Bandingkan dengan film-film awal yang mengesankan manusia perempuan tidak berdaya menghadapi predator vampir lesbian.</p>
<p>(4)<br />
Pada era 1990-an media televisi menempatkan perempuan sebagai jagoan dan tokoh utama. Bahkan menyebutkan nama tokoh si perempuan sebagai sosok jagoan. <em>Buffy the Vampire Slayer</em> (1997-2003), misalnya.  Di serial TV ini, perempuan tidak lagi menjadi tokoh yang hanya menjadi korban sang vampir lelaki. Bahkan lebih jauh daripada itu, si perempuan menjadi sang jagoan pemusnah vampir. Buffy sang pahlawan perempuan yang meskipun jatuh cinta pada Angel&#8211;sang vampir&#8211; iatidak lagi ditampilkan takluk luluh pada vampir laki-laki yang memiliki pesona memukau. Buffy dan Angel memiliki kedudukan sejajar bukan sebagai korban vs penguasa.</p>
<p>(Lihat video:<a href="http://www.youtube.com/watch?v=4xR6c-IsBU4&amp;feature=related">http://www.youtube.com/watch?v=4xR6c-IsBU4&amp;feature=related</a>)</p>
<p>Buffy, sebagai manusia, memiliki hak atas tubuhnya sendiri dan tidak memohon-mohon pada  sang vampir lelaki untuk menjadikannya pengantin sang vampir. Yah, tulisan tentang Buffy ini memang agak menyimpang karena si vampir menawan itu bukan lesbian. Tapi kehadiran sosok perempuan kuat sebagai pahlawan pemusnah vampir, yang notabene dunia laki-laki yang predator dan perempuan hanyalah makanan yang bisa dikorbankan, berubah total sejak saat itu. Dan apalagi dalam serial ini pada season 5, Willow sahabat Buffy, ditampilkan menjadi sosok penyihir lesbian.</p>
<p>(5)<br />
Pasca Buffy membawa kita ke serial vampir paling LGBT <em>friendly</em> saat ini, <em>True Blood</em> (2008-). Serial yang diangkat dari novel karya Charlaine Harris ini sudah memasuki season 4 di HBO. Sejak season 2, sang kreator serial, Alan Ball, sudah memasukkan tokoh-tokoh gay dan lesbian dalam kehidupan penduduk di Bon Temps ini. Dalam season 2, Evan Rachel Wood berperan sebagai Sophie-Anne, sang ratu vampir yang menikah dengan raja vampir yang gay, dengan gamblang dia bilang, &#8220;Aku sudah tidak bercinta dengan laki-laki sejak era (Presiden) Eisenhower.&#8221; Dan ia memiliki hubungan ribet dengan perempuan (manusia) bernama Hadley.</p>
<p>Lihat video: <a href="http://www.youtube.com/watch?v=wOcSXsCsojo&amp;feature=related">http://www.youtube.com/watch?v=wOcSXsCsojo&amp;feature=related</a></p>
<p>Selain Sophie-Anne, ada pula tokoh vampir bernama Pam Swynford De Beaufort (Kristin Bauer), yang dengan jelas menampilkan identitas seksual sebagai lesbian. Dia selalu bersama perempuan, menjadikan mereka sebagai pasangan, juga korban, dan bekerja di klub penari telanjang karena dia mau dan senang, bukan karena terpaksa.</p>
<p>Dalam season 4, tokoh lesbian baru dimunculkan, kali ini adalah manusia (bukan vampir) bernama Tara (Rutina Wesley). Dalam season sebelumnya, Tara menjalin hubungan dengan manusia laki-laki, dan sekali nyaris dijadikan pengantin vampir oleh vampir laki-laki yang jahat. Namun di season 4, dia kembali dan menunjukkan kekuatan dirinya dengan menjadi petarung dan menjalin hubungan dengan&#8230; perempuan. Dengan segala pengalaman hidup yang sudah dilewatinya,  penonton tidak kaget melihat sosok Tara ini bisa  berubah menjadi lesbian. Hei, lagi pula kita bicara soal <em>True Blood</em>, di mana seksualitas bukanlah hal yang tabu di dunia ketika manusia hidup bersama vampir, werewolves, penyihir. Kalau manusia dianggap wajar bercinta dengan vampir, kenapa lesbian dianggap tidak normal?</p>
<p>@Carmen, Alex, SepociKopi, 2011</p>
<p>Referensi:<br />
Benshoff, H. M. (1997). <em>Monsters in the Closet: Homosexuality and the Horror Film</em>. Manchester &amp; New York: Manchester. UP, 1997.<br />
Hanson, E. (1999). <em>Outtakes: Essays in Queer Theory and Film</em>. Durham &amp; London: Duke UP.<br />
Pirie, D. (1997). <em>The Vampire Cinema</em>. New York: Crescent Books<br />
Vito, R. (1987). <em>The Celluloid Closet: Homosexuality in the Movies</em>. NJ: Harrow &amp; Row, 1987.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/09/11/predatory-sexy-lesbian-vampires/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

