<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; film festival</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/tag/film-festival/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 10:52:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Film: Film Pendek &#8211; Sebuah Alternatif</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/06/07/film-film-pendek-sebuah-alternatif/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/06/07/film-film-pendek-sebuah-alternatif/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Jun 2010 08:27:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[film festival]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=7425</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Alex
Apa sih menariknya film pendek? Kadang-kadang membingungkan, kebanyakan metafora, atau cuma selewat begitu aja habis, dan nggak jelas maunya apa? Tidak juga. Beberapa memang mementingkan drama visual dan bukan pemahaman pada cerita terutama dalam film-film pendek produksi Eropa, meskipun produksi Amerika biasanya lebih menekankan pada karakter. Durasi film yang pendek  memang membuat kreator film harus pintar-pintar berkreasi dalam menyampaikan cerita. Film pendek tidak melulu kalah dari film panjang. Penyampaian gagasan melalui film pendek 10 menit terkadang malah lebih mengena dibanding penonton harus menghabiskan 100 menit.
Secara teknis, film pendek ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-7427" title="Film Can" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/06/Film-Can.jpg" alt="Film Can" width="183" height="240" />Oleh: Alex</p>
<p>Apa sih menariknya film pendek? Kadang-kadang membingungkan, kebanyakan metafora, atau cuma selewat begitu aja habis, dan nggak jelas maunya apa? Tidak juga. Beberapa memang mementingkan drama visual dan bukan pemahaman pada cerita terutama dalam film-film pendek produksi Eropa, meskipun produksi Amerika biasanya lebih menekankan pada karakter. Durasi film yang pendek  memang membuat kreator film harus pintar-pintar berkreasi dalam menyampaikan cerita. Film pendek tidak melulu kalah dari film panjang. Penyampaian gagasan melalui film pendek 10 menit terkadang malah lebih mengena dibanding penonton harus menghabiskan 100 menit.</p>
<p>Secara teknis, film pendek di Amerika didefinisikan sebagai film yang panjangnya 20-40 menit. Tapi di Eropa, Amerika Latin, Australia, Asia, durasi film pendek yang umum adalah 1-15 menit. Film pendek biasanya populer di kalangan pembuat film muda karena biaya pembuatannya lebih murah dan produksinya juga lebih mudah. Dari segi topik, film-film pendek sering memilih topik yang lebih riskan/dihindari oleh pembuat film komersil. Film-film berjenis LGBT juga merupakan topik yang sering kali jadi pilihan kreator film pendek.</p>
<p><span id="more-7425"></span>Kalau rajin membrowsing situs-situs video seperti youtube, daily motion, dan sebagainya, bisa ditemukan banyak film pendek lesbian karya pembuat film independen. Beberapa film pendek lesbian bahkan sudah bisa ditemukan dalam bentuk DVD, seperti seri <em>She Likes Girls</em>, yang pernah dibahas di <a href="http://sepocikopi.com/2009/08/17/film-she-likes-girls-4-kumpulan-film-pendek-tentang-cewek-macho-dan-tangguh/">SepociKopi</a>. Ayo, ketik <em>keyword</em>-nya di kotak pencari dan temukan film-film pendek itu. Puluhan, bahkan ratusan film pendek bisa ditemukan di internet. Seperti <em>Torn</em>, film lesbian independen yang terpampang di youtube, yang ditulis dan disutradarai oleh Heather Tobin.</p>
<p><object width="330" height="250"><param name="movie" value="http://www.youtube.com/v/pLg6dWE0c84&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;"></param><param name="allowFullScreen" value="true"></param><param name="allowscriptaccess" value="always"></param><embed src="http://www.youtube.com/v/pLg6dWE0c84&#038;hl=en_US&#038;fs=1&#038;" type="application/x-shockwave-flash" allowscriptaccess="always" allowfullscreen="true" width="330" height="250"></embed></object></p>
<p>Pada tahun 2002, <em>Ten Rules: A Lesbian Survival Guide</em> yang ditulis, disutradarai, dan diperankan Michelle Paradise, merupakan film pendek berdurasi 30 menit yang diedarkan dalam berbagai festival film. Ceritanya sendiri lesbian banget, berkisar tentang hubungan antar mantan, teman, kekasih dalam lingkaran persahabatan lesbian. Dari <em>Ten Rules</em> ini, Michelle Paradise mengembangkan dan menjual ceritanya ke Showtime hingga menjadi serial<em> Exes and Ohs.</em> Coba digoogle deh, mungkin masih ada yang mengupload film pendek ini di internet/youtube.</p>
<p>Salah satu film pendek lesbian yang kemudian jadi fenomenal adalah <em><a href="http://rahasiabulan.blogspot.com/2006/11/film-debs.html">D.E.B.S</a>.</em> Awalnya <em>D.E.B.S </em>adalah film pendek berdurasi 11 menit yang ditulis dan disutradarai Angela Robinson pada tahun 2003. <em>D.E.B.S </em>sukses di berbagai festival film dan menerima tujuh penghargaan dalam beberapa festival. Kisahnya sendiri berkonsep agen rahasia ala <em>Charlie’s Angels </em>yang kemudian jatuh cinta pada penjahatnya, yang juga perempuan.</p>
<p>Pada tahun 2004, <em>D.E.B.S </em>dikembangkan menjadi film panjang berdurasi 91 menit dengan sutradara yang sama. Dua pemeran utama yang bermain sebagai pasangan lesbian Amy dan Lucy diganti dalam versi panjangnya. Jordana Brewster berperan sebagai Lucy dan Sara Foster sebagai Amy. Film panjangnya rugi jutaan dolar karena hanya memperoleh pendapatan tidak sampai 100.000 dolar dalam peredarannya selama 21 hari di 45 bioskop di AS.</p>
<p>Di Indonesia sendiri, film pendek kita sering  beberapa penghargaan untuk film pendek. Penghargaan terbaru diterima oleh <em>Purnama di Pesisir</em>, sebuah film pendek berdurasi 16 menit tentang perjuangan seorang anak perempuan melawan penggusuran karya sutradara muda Chairun Nissa. Film ini memperoleh penghargaan <em>special mention</em> di Roma International Film Festival bulan April 2010.  Untuk tema LGBT, aktris muda Sigi Wimala memenangkan Jury Prize dalam LA Lights Indie Movie awal tahun 2010 ini untuk film berjudul <em>Gay/Tidak.</em> </p>
<p>Seperti yang sudah disebutkan di atas tadi, topik yang dihindari dalam film panjang komersil justru sering menjadi pilihan dalam tema film pendek. Jadi buat teman-teman yang berminat dalam bidang film, kenapa tidak melirik film pendek sebagai sarana alternatif menyampaikan hasrat seni sekalian aspirasi dunia lesbian?</p>
<p>@Alex, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/06/07/film-film-pendek-sebuah-alternatif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Q!Film Festival Surabaya 2009</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/10/19/qff-surabaya-2009/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/10/19/qff-surabaya-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Oct 2009 08:08:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[film festival]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=4517</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sketza
Q! Film Festival Surabaya hadir kembali untuk ketiga kalinya, kali ini mengambil jadwal 13 hingga 18 Oktober 2009. Meskipun baru kali ketiga, Q! Film Festival dan Q-munity Surabaya tampak berusaha memberikan yang terbaik melalui tempat-tempat yang digunakan, acara yang diadakan, hingga tentu saja pilihan film yang diputar. 
Tempat-tempat yang dipilih untuk melangsungkan festival film ini terdiri dari tiga tempat yang sudah sangat dikenal keberadaannya di Surabaya—Cinema XXI di Surabaya Town Square (Sutos), CCCL yang adalah pusat kebudayaan Perancis di Surabaya, dan Gaya Nusantara Community Centre (GNCC)—serta dua tempat yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Sketza</p>
<p>Q! Film Festival Surabaya hadir kembali untuk ketiga kalinya, kali ini mengambil jadwal 13 hingga 18 Oktober 2009. Meskipun baru kali ketiga, Q! Film Festival dan Q-munity Surabaya tampak berusaha memberikan yang terbaik melalui tempat-tempat yang digunakan, acara yang diadakan, hingga tentu saja pilihan film yang diputar. </p>
<p>Tempat-tempat yang dipilih untuk melangsungkan festival film ini terdiri dari tiga tempat yang sudah sangat dikenal keberadaannya di Surabaya—Cinema XXI di Surabaya Town Square (Sutos), CCCL yang adalah pusat kebudayaan Perancis di Surabaya, dan Gaya Nusantara Community Centre (GNCC)—serta dua tempat yang relatif masih belum akrab bagi masyarakat luas—bRawn Cafe dan C2O. Cinema XXI di Sutos memang tidak berperan banyak dalam festival ini, namun perannya sangat besar sebagai pembuka festival ini dengan memutar film produksi Kalyana Shira Foundation yang berjudul<em> Pertaruhan </em>atau <em>At Stake</em>. Empat tempat sisanya secara bergantian menayangkan dua film setiap harinya, dengan CCCL sebagai <em>venue</em> utama. </p>
<p><span id="more-4517"></span>Selain pemutaran film, Q! Film Festival Surabaya juga menyelenggarakan empat acara lain yang turut memberi warna festival ini, yaitu workshop untuk Queer Comic, talkshow Q! Lips yang mengusung tema “Seberapa Queer-kah kamu?”, pertunjukan seni berupa tari kontemporer berjudul “Deux” oleh dua penari asal Perancis, Véronique Delarché dan Thierry Giannarelli, dan pameran seni berupa pameran foto dan gambar dengan tema<em> fetish. </em>Untuk yang terakhir, amat disayangkan tidak adanya keterangan pada setiap karya yang ditampilkan, yang memuat judul karya serta nama penghasilnya. Apabila ada, tentu pengunjung akan lebih bisa menikmati pameran tersebut. </p>
<p>Tentu saja, bila dibandingkan dengan Q! Film Festival di Jakarta yang menampilkan seratus-sekian film, dengan “hanya” tiga puluh tiga film, dapat dikatakan film-film yang diputar di Surabaya tidaklah terlalu banyak. Namun jumlah yang agak terbatas itu ternyata cukup memberi ruang bagi jenis-jenis film yang diputar. Tidak hanya film biasa dengan durasi di atas enam puluh menit, film dokumenter semacam <em>Love Man Love Woman, A Jihad for Love</em>, dan tentu saja Pertaruhan juga meramaikan festival ini bersama dengan sejumlah film pendek seperti <em>Bokutotsu, Mr_Right_22, A White Dress</em> atau <em>Une Robe Blanche, </em>dan T<em>he Windows. </em>Dilihat dari negara asal film-film yang ada, Thailand dan Perancis tampaknya merupakan dua negara yang mendominasi. Meskipun demikian, dan kenyataan bahwa sebagian besar film yang diputar adalah film bertema gay, film-film ini bisa menjadi pilihan tontonan yang segar, berbeda, dan menarik bagi siapa pun yang datang, termasuk para lesbian Surabaya. </p>
<p>Sebagai penutup festival,<em> Babi Buta yang Ingin Terbang </em>diputar di layar besar di kebun belakang CCCL yang asri, lengkap dengan kehadiran sutradara film yang bersangkutan. Dalam sesi tanya-jawab singkat yang digelar seusai pemutaran film, antusiasme penonton cukup terasa melalui banyaknya orang yang mengangkat tangan, meminta diberi giliran mengajukan pertanyaan. Dimas Hary, perwakilan Q-Munity Jakarta, didaulat menjadi moderator antara penonton dan Edwin, si sutradara film yang sebenarnya lebih mengangkat isu etnis Cina di Indonesia ini. </p>
<p>Mungkin sekitar lima belas hingga dua puluh menit kemudian, acara dilanjutkan dengan makan malam serta mengobrol santai antara sekitar lima hingga enam puluh penonton yang datang di upacara penutupan ini. Suasana terasa begitu santai dan akrab, apalagi dengan adanya kelompok akustik lokal yang terdiri dari dua butchi pemain gitar dan seorang perempuan feminin sebagai vokalis yang, di antaranya, membawakan lagu <em>My Immortal </em>milik Evanesence serta <em>Decode </em>dari Paramore yang merupakan sountrack film <em>Twilight.</em> Meskipun malam hangat dan cerah yang membungkus Surabaya semakin larut, wajah-wajah para panitia yang berseragam batik itu tetap memancarkan kesan optimis, seakan menjanjikan keberadaan Q! Film Festival 2010 yang lebih baik lagi. </p>
<p><strong>Tentang Sketza: </strong><br />
wartawan berusia dua puluh lima tahun lulusan salah satu universitas negeri di Jawa Timur. </p>
<p>@Sketza, SepociKopi 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/10/19/qff-surabaya-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sastra Lesbian? Oi, Elok Nian!</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/08/04/sastra-lesbian-oi-elok-nian/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/08/04/sastra-lesbian-oi-elok-nian/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 08:26:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[film festival]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=3546</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Mumu Aloha
Lelaki tua bertopi yang duduk di deretan bangku belakang dan paling pinggir itu mengulang-ulang kata &#8220;elok&#8221;, &#8220;rambut pendek&#8221; dan &#8220;cerdas&#8221;. Dia adalah salah satu penanya dalam diskusi &#8220;Evolusi Sastra Lesbian: Dari Blog ke Novel&#8221; di Goethehaus, Jakarta, Minggu (2/8/09) petang. Lupakan penampilannya dan gayanya yang rada-rada &#8220;freak&#8220;, tapi saya melihat ekspresi wajahnya bertolak belakang dengan sehari sebelumnya, ketika ia juga bertanya dalam diskusi peluncuran novel Nel karya Dalih Sembiring di tempat yang sama. Ketika itu, ia terdengar tegang, &#8220;menyerang&#8221;, bernada tidak setuju dengan cara bertutur Dalih yang menurutnya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-3547" title="img_2389" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/08/img_2389.jpg" alt="img_2389" width="200" height="150" />Oleh: Mumu Aloha</p>
<p>Lelaki tua bertopi yang duduk di deretan bangku belakang dan paling pinggir itu mengulang-ulang kata &#8220;elok&#8221;, &#8220;rambut pendek&#8221; dan &#8220;cerdas&#8221;. Dia adalah salah satu penanya dalam diskusi &#8220;Evolusi Sastra Lesbian: Dari Blog ke Novel&#8221; di Goethehaus, Jakarta, Minggu (2/8/09) petang. Lupakan penampilannya dan gayanya yang rada-rada <em>&#8220;freak</em>&#8220;, tapi saya melihat ekspresi wajahnya bertolak belakang dengan sehari sebelumnya, ketika ia juga bertanya dalam diskusi peluncuran novel <em>Nel</em> karya Dalih Sembiring di tempat yang sama. Ketika itu, ia terdengar tegang, &#8220;menyerang&#8221;, bernada tidak setuju dengan cara bertutur Dalih yang menurutnya terlalu blak-blakan dalam menggambarkan adegan-adegan seks sesama-lelaki.</p>
<p>Namun, pada kesempatan diskusi tentang novel lesbian itu, ia tampak riang, berkali-kali menyahut &#8220;setuju&#8221; ketika Hetih Rusli, editor Gramedia Pustaka Utama, sebagai salah satu pembicara sedang menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Sebelumnya ia juga sempat bilang begini, &#8220;Bayangkan kalau Demi Moore atau Sharon Stone itu lesbian, elok sekali!&#8221; Sebagai klimaksnya, ia mengaku &#8220;bangga&#8221; dan menyambut gembira istilah &#8220;sastra lesbian&#8221; yang diciptakan oleh Gramedia Pustaka Utama (GPU), pihak yang menyelenggarakan diskusi yang menandai peluncuran buku terbaru terbitannya, berjudul <em>Club Camilan</em>, kumpulan tiga novel pendek yang ditulis oleh tiga penulis yang berbeda, dan semuanya perempuan lesbian.</p>
<p><span id="more-3546"></span>Saya tidak tahu, siapakah bapak tua yang begitu rajin, menghadiri dua acara peluncuran buku bertema homoseksual yang digelar dua hari berturutan sebagai bagian dari acara tahunan Q! Film Festival. Tapi, dari dua sikap berbeda yang diperlihatkannya pada masing-masing acara itu, saya mendapatkan gambaran begini: kaum pria heteroseksual, rupanya lebih bisa menerima homoseksualitas perempuan ketimbang homoseksualitas laki-laki. Namun, apa yang terpikir di benak saya itu masih sebatas asumsi, dan bukannya kesimpulan yang valid. Kebetulan, dalam diskusi novel <em>Club Camilan</em> itu, ada penanya lain yang punya asumsi sebaliknya&#8212;bahwa tema gay dalam novel lebih bisa diterima masyarakat luas&#8212;berdasarkan fakta: Gramedia Pustaka Utama lebih dulu menerbitkan novel-novel bertema gay (misalnya <em>Lelaki Terindah</em>-nya Andrei Aksana) ketimbang novel-novel yang bertema lesbian (salah satunya <em>Jangan Beri Aku Narkoba </em>karya Alberthiene Endah yang setelah difilmkan, cetakan ulang bukunya berubah judul menjadi <em>Detik Terakhir</em>).</p>
<p>Hetih Rusli menanggapinya dengan pernyataan filosofis. &#8220;Sebuah naskah punya cara sendiri untuk terbit. Sebagai editor, saya tidak bisa memilih naskah seperti apa yang dikirimkan ke meja redaksi. Jadi, tidak ada kesengajaan untuk mengangkat novel-novel bertema gay lebih dulu karena lebih diterima pembaca.&#8221; Namun, kemudian Hetih menambahkan informasi bahwa jauh sebelum <em>Lelaki Terindah</em> yang laris-manis itu, tema lesbian dalam novel sudah muncul sejak 1980-an, lewat salah satu karya Mira W. yang berjudul<em> Relung-relung Gelap Hati Sisi.<br />
</em><br />
Jadi, apa itu sastra lesbian? Apa pula itu sastra gay, kalau nanti ada yang menyebut-nyebut istilah itu? Bapak tua bertopi tadi menjajarkan istilah-istilah itu dengan sastra pembebasan dan lain-lain, dan semakin banyak muncul sastra ini dan sastra itu, tentu akan memperkaya khasanah pilihan pembaca. Namun, pembicara lainnya, Eka Kurniawan, novelis yang juga nge-blog, mengatakan bahwa label-label yang ditempelkan di belakang kata sastra itu sebenarnya justru lebih banyak membingungkan, ketimbang membantu dan memperjelas pemahaman. &#8220;Dan, dari sisi penerbitnya itu lebih merupakan strategi marketing saja,&#8221; tambah dia.</p>
<p>Menempelkan kata lesbian di belakang sastra saja sudah cukup problematis, apalagi diskusi petang itu masih menambahkan lagi kata blog. Jadi, ceritanya begini. Novel <em>Club Camilan </em>itu memang berawal dari blog yang di dalamnya ada tiga perempuan lesbian bernama Donna, Bee dan Nies. Masing-masing menuliskan kisah cinta dan perjalanan hidup mereka secara berkesinambungan. Dalam pengantarnya, Hetih Rusli yang mengeditori ketika tulisan-tulisan di blog tersebut akan diterbitkan mengatakan bahwa blog mereka unik.&#8221;Ada gaya yang khas, orisinalitas dan bahasa yang jernih. Dan, tidak seperti blogger kebanyakan yang menulis semau gue, mereka rajin meng-<em>update </em>blog itu tiap hari.&#8221;</p>
<p>Sebagai moderator, saya membuka diskusi dengan ilustrasi: dulu, perusahaan-perusahaan paling takut sama LSM, tapi sekarang mereka lebih takut pada blogger. Saya ingin menggambarkan betapa blog memiliki kemungkinan sampai ke hal-hal yang tak terbayangkan. Orang bisa saling gugat di pengadilan gara-gara blog. Tapi, kini, orang juga bisa terkenal karena tulisan-tulisan di blognya disukai oleh penerbit dan kemudian diterbitkan dalam bentuk buku. Menurut Eka, kenyataan bahwa kini sesuatu yang disebut novel bisa lahir dari blog, tidak serta merta bisa diragukan kualitasnya. &#8220;Blog hanya media. Bisa saja novel yang lahir dari blog menjadi karya yang bagus, dan sebaliknya, bisa saja karya yang dipersiapkan bertahun-tahun dan memang ditulis secara khusus sebagai novel, hasilnya gitu-gitu aja,&#8221; kata dia.</p>
<p>Eka sendiri mengaku suka dengan cerita-cerita dalam <em>Club Camilan </em>karena membaca problem-problem klasik (bagaimana terus-menerus berusaha menutup indentitas seksualnya dari keluarga dan teman-teman sekantor) perempuan-perempuan lesbian itu menarik. Namun, kalau diminta menyebutkan satu yang paling disuka antara ketiganya, Eka memilih cerita pertama, &#8220;Donat&#8221; ketimbang dua cerita lainnya, &#8220;Bolu&#8221; dan &#8220;Brownies&#8221;.&#8221;Subjektif aja, karena ceritanya berkaitan dengan sosok seorang ibu,&#8221; Eka memberi alasan.</p>
<p>Diskusi berlangsung santai dan seru. Ada pertanyaan mengenai apakah ini hanya tren? Apakah menerbitkan novel-novel bertema homoseksual (dengan asumsi bahwa pembacanya terbatas) bukan suatu proyek rugi? Apakah ini bentuk CSR-nya GPU? Apakah GPU memang punya niat mulia memberi kesempatan bagi kaum homoseksual untuk menyuarakan aspiranya? Ada juga pertanyaan yang bersifat teknis: apa kriteria tulisan di blog agar bisa diterbitkan menjadi buku? Namun, yang paling bikin penasaran adalah, kenapa ketiga penulisnya tidak tampil di depan? Ini pertanyaan yang sudah diantisipasi karena sejak awal para penulisnya memang menolak untuk tampil&#8212;tentu dengan alasan yang sangat pribadi berkaitan dengan orientasi seksual mereka.</p>
<p>Hetih Rusli menjawab dengan membuat hadirin makin penasaran, &#8220;Yang jelas mereka ada di sini, duduk di antara Anda semua, silakan ditebak-tebak.&#8221; Semua tertawa sambil celingukan ke sana ke mari.</p>
<p>Pada akhir diskusi, Pak Tua kita yang nyentrik itu tetap ngotot: &#8220;Bagaimana kalau nanti ada produser yang mau memfilmkan novel ini, dan meminta para penulisnya untuk membintanginya. Masa tetap nggak mau muncul, kan bisa terkenal tuh.&#8221;</p>
<p>Kali ini saya yang menjawabnya, &#8220;Mungkin kalau produser itu benar-benar ada, ketiga penulis buku ini akan berubah pikiran, Pak.&#8221;</p>
<p>Lalu, saya menutup diskusi dengan nasihat yang luar biasa bijak, &#8220;Dengan terbitnya buku ini, GPU telah menantang teman-teman lesbian semua, bagi yang belum punya blog, pulang dari diskusi ini langsung bertobat dan bikin blog, biar nanti bisa diterbitkan menjadi novel.&#8221; Buktikan bahwa perempuan-perempuan lesbian itu, di luar soal-soal seperti &#8220;berambut pendek&#8221;, sejatinya memang cerdas dan elok.</p>
<p>@Mumu Aloha, SepociKopi, 2009</p>
<p><strong>Tentang Mumu Aloha: </strong><br />
Moderator dalam peluncuran novel <em>Club Camilan </em>dan diskusi &#8220;Dari Blog ke Novel: Evolusi Sastra lesbian.&#8221; Tinggal di Jakarta. Berprofesi sebagai penulis, juga pengamat budaya, blogger, dan editor.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/08/04/sastra-lesbian-oi-elok-nian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jadwal Lengkap Q! Film Festival 2009</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/07/26/jadwal-lengkap-q-film-festival-2009/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/07/26/jadwal-lengkap-q-film-festival-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Jul 2009 08:13:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[film festival]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=3408</guid>
		<description><![CDATA[Q! Film Festival ke-8 akan berlangsung di Jakarta 27 Juli &#8211; 5 Agustus 2009. Berbagai film bertema LGBT akan diputar di sana. Selain pemutaran film, berlangsung pula launching buku, talkshow, pameran bertema LGBT. 
Acara-acara di QFF terbuka untuk umum yang berusia 17 tahun ke atas. Semua acara juga tidak dipungut bayaran alias gratis. 
Untuk jadwal lengkapnya, silakan unduh: http://www.qfilmfestival.org/download/QFF.xls
@SepociKopi, 2009
PS: Jangan lupa datang ya ke launching novel Club Camilan tgl 2 Agustus 2009
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" src="http://www.qfilmfestival.org/images/big-center.jpg" alt="" width="198" height="298" />Q! Film Festival ke-8 akan berlangsung di Jakarta 27 Juli &#8211; 5 Agustus 2009. Berbagai film bertema LGBT akan diputar di sana. Selain pemutaran film, berlangsung pula launching buku, talkshow, pameran bertema LGBT. </p>
<p>Acara-acara di QFF terbuka untuk umum yang berusia 17 tahun ke atas. Semua acara juga tidak dipungut bayaran alias gratis. </p>
<p>Untuk jadwal lengkapnya, silakan unduh: <a href="http://www.qfilmfestival.org/download/QFF.xls">http://www.qfilmfestival.org/download/QFF.xls</a></p>
<p>@SepociKopi, 2009<br />
PS: Jangan lupa datang ya ke <a href="http://sepocikopi.com/2009/07/24/launching-novel-club-camilan/">launching novel Club Camilan </a>tgl 2 Agustus 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/07/26/jadwal-lengkap-q-film-festival-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stop Press: Volunteer untuk Q! Film Festival 2009</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/07/08/stop-press-volunteer-untuk-q-film-festival-2009/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/07/08/stop-press-volunteer-untuk-q-film-festival-2009/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 15:07:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[film festival]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=3065</guid>
		<description><![CDATA[Q! Film Festival 2009 sedang mencari volunteer untuk bekerja selama festival yang berlangsung di Jakarta, dari tanggal 26 Juli &#8211; 5 Agustus 2009.
Bila berminat menjadi volunteer, silakan mengirim e-mail aplikasi dengan mencantumkan:
Nama:
No Ponsel:
Alamat e-mail:
Umur:
kirimkan e-mailmu ke: oktavatko@yahoo.co.uk
Tempat terbatas. Pendaftaran untuk volunteer ditutup tanggal 13 Juli 2009.
@SepociKopi, 2009
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Q! Film Festival 2009 sedang mencari <em>volunteer</em> untuk bekerja selama festival yang berlangsung di Jakarta, dari tanggal 26 Juli &#8211; 5 Agustus 2009.</p>
<p>Bila berminat menjadi <em>volunteer</em>, silakan mengirim e-mail aplikasi dengan mencantumkan:</p>
<p>Nama:<br />
No Ponsel:<br />
Alamat e-mail:<br />
Umur:</p>
<p>kirimkan e-mailmu ke: oktavatko@yahoo.co.uk</p>
<p>Tempat terbatas. Pendaftaran untuk <em>volunteer </em>ditutup tanggal 13 Juli 2009.</p>
<p>@SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/07/08/stop-press-volunteer-untuk-q-film-festival-2009/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Women International Film Festival 21-26 April 2009  di Jakarta</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/04/20/women-international-film-festival-21-26-april-2009-di-jakarta/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/04/20/women-international-film-festival-21-26-april-2009-di-jakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2009 09:19:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[film festival]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=1735</guid>
		<description><![CDATA[Dalam dekade terakhir dunia perfilman di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat. 
Sutradara-sutradara perempuan di Indonesia kini mampu mengeksplorasi isu perempuan dengan lebih populer dan menuangkannya ke layar lebar. Dengan berkembangnya ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap film dengan tema isu perempuan, Komunitas Salihara dan sejumlah lembaga berinisiatif menyelenggarakan V Film Festival 2009, sebuah festival film perempuan internasional di mana masyarakat bisa menikmati karya sineas perempuan dari seluruh dunia yang bertutur dan bercerita tentang persoalan perempuan.

Acara berlangsung tgl 21 &#8211; 26 April  2009 di
Teater Salihara.
Alamat  :  	Jl.Salihara No.16 Pasar ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam dekade terakhir dunia perfilman di Indonesia mengalami perkembangan yang sangat pesat. </p>
<p>Sutradara-sutradara perempuan di Indonesia kini mampu mengeksplorasi isu perempuan dengan lebih populer dan menuangkannya ke layar lebar. Dengan berkembangnya ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap film dengan tema isu perempuan, Komunitas Salihara dan sejumlah lembaga berinisiatif menyelenggarakan V Film Festival 2009, sebuah festival film perempuan internasional di mana masyarakat bisa menikmati karya sineas perempuan dari seluruh dunia yang bertutur dan bercerita tentang persoalan perempuan.<br />
<span id="more-1735"></span><br />
Acara berlangsung tgl 21 &#8211; 26 April  2009 di<br />
Teater Salihara.<br />
Alamat  :  	Jl.Salihara No.16 Pasar Minggu<br />
Jakarta Selatan 12520<br />
No. Telepon : 	021 789 1202 ext. 303 </p>
<p><strong>Berikut adalah jadwal V Film Festival 2009:</strong></p>
<p><strong>Selasa 21 April 2009</strong><br />
16.00 Launching Komik &#8216;Cerita Si Lala&#8217;<br />
Drawing Performance by Tita Larasati<br />
18.00 Pembukaan V Film Festival, Festival Film Perempuan Internasional Musik akustik oleh Mian Tiara</p>
<p>20.20 Opening Film &#8220;Water Lilies&#8221; (Celine Sciamma, Perancis, 2007, 83&#8242;) (khusus undangan)</p>
<p><strong>Rabu 22 April 2009</strong><br />
17.00 Film Pendek &#8220;Maya, Raya, Daya&#8221; (Nan T. Achnas, Indonesia, 2008, 10&#8242;)<br />
&#8220;Mereka Bilang Saya Monyet&#8221; (Djenar Maesa Ayu, Indonesia, 2007, 90&#8242;)<br />
20.00 Film Pendek &#8220;(Bukan) Kesempatan yang Terlewat&#8221; (Lasja F.S, Indonesia, 2006, 10&#8242;)<br />
&#8220;The Education of Shelby Knox&#8221; (Marion Lipscutz, Rose Rosenblatt,USA, 2005, 90’)<br />
<strong><br />
Kamis 23 April 2009</strong><br />
17.00 Program Film PERTARUHAN<br />
20.00 Film Pendek &#8220;THe Matchmaker&#8221; (Cinzia Puspitarini, Indonesia, 2006, 10’)<br />
&#8220;Fiksi&#8221; (Mouly Surya, Indonesia, 2008, 110&#8242;)</p>
<p><strong>Jumat 24 April 2009</strong><br />
15.00 Diskusi &#8220;Youth and Sexuality&#8221;<br />
17.00 Program Film GENDER MONTAGE<br />
20.00 Film Pendek &#8220;The Big Day&#8221; (Keke Tumbuan, Indonesia, 2006, 10&#8242;)<br />
&#8220;In Mom&#8217;s Head&#8221; (Carine Tardieu, Perancis, 2007, 95’)</p>
<p><strong>Sabtu 25 April 2009</strong><br />
09.00 Round Table Discussion &#8220;Feminist Film Theory&#8221;<br />
19.00 Program Film THE GIRLS TALK<br />
21.00 &#8220;Perempuan Girli&#8221; (Rosana Yuditia Ripi, Indonesia, 2008, 19’)<br />
&#8220;Sweeping Addis&#8221; (Corrine Kuenzli, Switzerland, 2006, 50’)</p>
<p><strong>Minggu 26 April 2009</strong><br />
10.00 Workshop &#8220;Produksi Film Berwawasan Gender&#8221;<br />
15.00 &#8220;The Allround Reduced Personality-Redupers&#8221; (Helke Sander, Jerman, 95&#8242;)<br />
18.00 Closing Film &#8220;Mother Beast Mother Human&#8221; (Helke Sander, Jerman, 1998, 63&#8242;)</p>
<p>Untuk informasi lebih lanjut kunjungi: <a href="http://festivalfilm.multiply.com">http://festivalfilm.multiply.com/,</a> <a href="http://salihara.org">http://salihara.org</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/04/20/women-international-film-festival-21-26-april-2009-di-jakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

