<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; Ekonomi</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/tag/ekonomi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 02:00:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>FabuLezlyCool: Tergoda</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/05/fabulezlycool-tergoda/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/05/fabulezlycool-tergoda/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 04:16:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FabuLezlyCool]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17090</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Chossy Tan
Seekor kutilang sedang terbang, dan melihat seekor kucing berteriak, &#8220;Cacing, cacing segar!&#8221; Burung kutilang tertarik. Ia segera terbang merendah dan mendekati kucing itu. &#8220;Bolehkah aku membeli cacing segar itu?&#8221; tanya kutilang.  “Boleh. Hanya dengan sehelai bulu sayapmu kamu dapat menikmati tiga ekor cacing segar,” jawab kucing. Kutilang pun menukar sehelai bulu sayapnya dengan tiga ekor cacing.
Setelah itu, ia terus dibayangi cacing-cacing yang lezat. Burung kutilang tidak dapat menahan diri untuk menikmati makanan kegemarannya itu. Kali ini, ia membeli dua kali lipat. Begitu pula selanjutnya semakin banyak ia ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/t-shirts-on-sale.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17091" title="t-shirts-on-sale" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/t-shirts-on-sale-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Oleh: Chossy Tan</p>
<p>Seekor kutilang sedang terbang, dan melihat seekor kucing berteriak, &#8220;Cacing, cacing segar!&#8221; Burung kutilang tertarik. Ia segera terbang merendah dan mendekati kucing itu. &#8220;Bolehkah aku membeli cacing segar itu?&#8221; tanya kutilang.  “Boleh. Hanya dengan sehelai bulu sayapmu kamu dapat menikmati tiga ekor cacing segar,” jawab kucing. Kutilang pun menukar sehelai bulu sayapnya dengan tiga ekor cacing.</p>
<p><span id="more-17090"></span>Setelah itu, ia terus dibayangi cacing-cacing yang lezat. Burung kutilang tidak dapat menahan diri untuk menikmati makanan kegemarannya itu. Kali ini, ia membeli dua kali lipat. Begitu pula selanjutnya semakin banyak ia membeli, semakin banyak pula bulu sayap yang dicabutnya. Sementara itu, kucing yang licik menunggu saat yang tepat untuk menerkam si kutilang. Ketika burung kutilang sudah kehilangan banyak bulu, dan tidak punya kekuatan lagi untuk terbang, kucing itu langsung menerkamnya. Burung kutilang mati karena tidak dapat menahan diri dari godaan.<br />
<em><br />
Tidak dapat menahan diri</em>, sepertinya itu adalah karakter yang banyak di miliki kaum hawa. Apalagi soal berbelanja. Berbelanja memang suatu kegiatan yang mengasyikan tetapi bisa menimbulkan kebangkrutan kalau tidak hati-hati. Bayangkan saja betapa girangnya ketika di suatu mal ada tawaran diskon gila-gilaan, tanpa pikir panjang kita langsung memborong barang-barang tersebut. Kita berpikir tidak ada salahnya membeli, toh harganya murah dan belum tentu lain waktu ada lagi.</p>
<p>Apalagi saat ini kita dimudahkan dengan tawaran kredit yang menggiurkan, bisa di katakan tidak ada barang yang tidak bisa terbeli saat ini. Demikian juga bujuk rayu “kemudahan” seperti cicilan sangat kecil, bunga nol persen, hingga diskon besar. Maka toko-toko dan produsen seolah “membantu” konsumen agar bisa memiliki produknya, dengan cara instan pula.</p>
<p>Saya bukan tipe anak mal yang hobi berbelanja setiap bulan, tetapi begitu ada kesempatan berbelanja, saya  langsung membeli  berpuluh-puluh baju. Awalnya saya berpikir toh saya tidak berbelanja setiap bulan, jadi tidak ada salahnya  saya memuaskan diri. Tapi sebenarnya,  hal itu merupakan pemborosan juga, hanya lebih lambat atau istilahnya, pemborosan yang tertunda. Tapi itu dulu. Sekarang saya berusaha lebih berhati-hati dalam mengelola keuangan karena saya tidak ingin terlilit utang dan mengalami kebangkrutan di masa muda.</p>
<p>Bisa bayangkan jika saya tetap menganut sistem pemborosan yang tertunda atau bahkan setiap bulan berbelanja sepatu, baju, hape hanya untuk menjadi modis. Bisa-bisa saya kehabisan uang, tidak mempunyai tabungan, terlilit utang,  dan bangkrut. Terus, bagaimana kalau saya mengalami itu semua? Minta bantuan orang tua? Mengemis ke kakak-kakak saya? Saya tidak mau menyusahkan keluarga dengan urusan finansial.  Sudah bukan waktunya saya merengek-rengek pada mereka.</p>
<p>Kadang  masih tergoda (juga) ketika teman-teman pamer barang-barang terbaru mereka. Ada niat untuk ikut-ikutan membeli tetapi setelah dipikir-pikir, barang-barang tersebut sudah saya punya. Meski pun barang  lama, toh masih bagus dan bisa dipakai. Akhirnya saya urungkan niat untuk membeli sesuatu yang tidak begitu penting. Mending uangnya ditabung atau diinvestasikan seperti yang diajarkan kakak-kakak saya.</p>
<p>Menahan godaan untuk berbelanja membutuhkan komitmen dan disiplin. Saat kita sungguh-sungguh dan berdisiplin tinggi waktu menjalaninya, maka kegilaan berbelanja bukanlah hal yang sulit untuk diatasi. Lalu komitmen macam apa yang harus kita lakoni? Cobalah beberapa cara berikut:</p>
<p><strong>Buat  Rencana Anggaran </strong><br />
Siapkan daftar rencana barang yang hendak kita beli dan perkirakan pengeluarannya. Kita bisa menetapkan jumlah uang yang akan dipakai dalam sebulan. Taatilah rencana itu.<br />
<strong><br />
Jangan Terjebak “Barang Bagus”</strong><br />
&#8220;Barang bagus&#8221; &#8211; entah bagus harganya (diskon) atau bagus bentuknya &#8211; seringkali menjebak orang untuk membelinya, padahal belum tentu  dibutuhkan.<br />
<strong><br />
Budayakan Menabung dan Investasi</strong><br />
Kita bisa menabung dengan cara tradisional (menyimpan di celengan), menabung di bank, investasi (membeli emas, tanah, reksandana, saham) wajib dilakukan. Sisihkan 15%-25% dari penghasilan kita setiap bulan. Kunci sukses menyimpan uang adalah dengan menyisihkan uang di awal sebelum dipakai untuk kebutuhan lain.</p>
<p><strong>Gunakan Uang Tunai</strong><br />
Meskipun lebih ribet, berbelanja dengan tunai lebih memudahkan kita untuk mengukur anggaran kita. Misalkan kita hanya membawa uang 500 ribu. Jika uang sudah terpakai 450 ribu, tentu kita tidak akan berbelanja lagi. Berbeda kalau kita memakai kartu debit atau kartu kredit. Kita sulit mengetahui besarnya jumlah yang sudah kita keluarkan.</p>
<p>Lesbian selayaknya cerdas dalam mengelola keuangan. Memang uang yang kita belanjakan tersebut hasil jerih payah kita selama ini, tetapi berpikir panjang sebelum membelanjakan uang adalah sikap bijak demi masa depan. Masa depan tidak mau menanti dan lesbian &#8211; suka atau tidak suka &#8211; harus mampu  hidup mandiri. Bayangkan kalau kita terlilit utang dan harus menyusahkan keluarga. Bisa-bisa ada stempel: &#8220;Lesbian? Pasti banyak utangnya. Mana ada yang mau?&#8221;</p>
<p>@Chossy Tan, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/05/fabulezlycool-tergoda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Say No to Corruption!</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/10/27/say-no-to-corruption/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/10/27/say-no-to-corruption/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Oct 2011 14:55:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=15610</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Yasmin
Kalau kita baca di koran-koran serta majalah-majalah, korupsi sepertinya makin merajalela di negara kita ini. Setiap terbit, koran dan majalah memberitakan pejabat-pejabat yang korupsi, baik dari unsur eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Daerah pun rentangnya merata. Mengerikan ya?
Tak sedikit yang masa bodoh seolah-olah ranah pejabat jauh dari ikatan darah kita. Berpikiran bahwa kita hanyalah pekerja swasta yang hanya sebagai sekrup dalam menggerakkan bisnis kecil milik orang lain. Ada pula yang bergejolak memaki para koruptor dengan sindiran halus sampai makian kasar di komen-komen berita online, Twitter, bahkan muncul di running text ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/corruption.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-15611" title="corruption" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/corruption-300x221.jpg" alt="" width="300" height="221" /></a>Oleh: Yasmin</p>
<p>Kalau kita baca di koran-koran serta majalah-majalah, korupsi sepertinya makin merajalela di negara kita ini. Setiap terbit, koran dan majalah memberitakan pejabat-pejabat yang korupsi, baik dari unsur eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Daerah pun rentangnya merata. Mengerikan ya?</p>
<p>Tak sedikit yang masa bodoh seolah-olah ranah pejabat jauh dari ikatan darah kita. Berpikiran bahwa kita hanyalah pekerja swasta yang hanya sebagai sekrup dalam menggerakkan bisnis kecil milik orang lain. Ada pula yang bergejolak memaki para koruptor dengan sindiran halus sampai makian kasar di komen-komen berita <em>online</em>, Twitter, bahkan muncul di <em>running text</em> televisi dan lain-lain. Saya bertanya dalam hati, begitukah cara menunjukkan sikap bahwa kita anti korupsi? Apakah yang berteriak sehari-harinya sudah berpikir anti korupsi? Bebas dari kelakuan budaya korupsi?</p>
<p>Sering saya membaca artikel obituari tentang profil seorang tokoh yang baru saja meninggal dunia. Seperti biasa, yang diungkapkan adalah fakta-fakta keteladanan dan kebaikan almarhum. Tak jarang disebutkan bahwa almarhum adalah sosok yang jujur, yang ketika menjadi pejabat tidak pernah korupsi. Loh, bukankah pejabat memang sepatutnya tidak korupsi? Oh, saking banyaknya korupsi di Indonesia, kita justru menganggap kejujuran/ ketidakkorupsian sebagai hal yang “luar biasa&#8221;. Kalau pejabat korupsi, itu sih hal yang “biasa”.</p>
<p>Saya mau mengajak teman-teman untuk memerangi budaya korupsi ini mulai dari hal yang paling kecil. Akan saya jabarkan poin-poinnya:</p>
<p><strong>1. Hindari kata-kata &#8220;lahan basah&#8221;, &#8220;profesi basah&#8221;, &#8220;posisi basah&#8221;</strong></p>
<p>Dalam perjalanan dinas ke Bandung, tiba-tiba seorang teman berkata, &#8220;Wah lahan basah tuh.&#8221; Saya bertanya, &#8220;Apa lahan basah?&#8221; Teman menjawab, &#8220;Tuh, lihat mobil itu tulisannya Dinas Pendapatan Daerah. Orang-orang yang kerja di situ pasti mengurus pendapatan daerah.&#8221; Saya tidak mengerti. &#8220;Lho, kan dia cuma mengurus? Uangnya bukan punya dia.&#8221; Teman tetap ngotot. &#8220;Ya, tapi tau sendiri kan biasanya di tempat yang ada kesempatan korupsi, orang pasti akan memanfaatkanya.&#8221;</p>
<p>Sejak mengerti tanggung jawab, saya menghindari tuduhan &#8220;posisi basah&#8221; untuk posisi tertentu. Saya berprinsip, saya harus yakin dengan tanggung jawab orang-orang yang bekerja di posisi tersebut. Dengan memberikan kepercayaan penuh, maka mereka akan bekerja dengan baik. Kalau tidak ada lagi tuduhan &#8220;lahan basah&#8221; maka praktek korupsi lama-lama akan menjadi praktek yang memalukan, bukanlah merupakan praktek yang &#8220;biasa&#8221;.</p>
<p><strong>2. Jangan mau gratisan!</strong></p>
<p>Orang berhasil kaya karena kerja kerasnya. Kalau kita mau kaya, kita harus kerja keras. Kalau mau menikmati kesenangan, kita harus mengeluarkan biaya. Kalau kita tidak punya biaya, tidak usah ngotot mau mendapatkan kesenangan itu. Apalagi kalau mau menikmati kesenangan dengan minta gratisan dari orang yang sudah kerja keras tersebut. Di mana keadilan dalam praktik ini?</p>
<p>Budaya maunya gratisan ini ada di mana-mana. Keseringan minta gratisan memicu korupsi. Sikap malas akan tumbuh dalam diri karena keberuntungan mendapatkan gratisan. Ketika gratisan sulit didapatkan, gelap mata membawa ke arah mencuri. Kalau tadinya minta terang-terangan, lama-lama mengambil diam-diam. Dalam jumlah kecil saja jatuhnya korupsi, apalagi dalam jumlah besar. Dan kalau sudah bisa dapatkan yang kecil, selalu ingin yang lebih besar.</p>
<p><strong>3. Minta oleh-oleh? <em>No way!</em></strong></p>
<p>Mendengar teman pergi ke luar kota atau luar negeri, kalimat yang muncul dari saya, baik terucap maupun dalam hati: &#8220;Semoga selamat sampai tujuan, semoga kamu menikmati perjalanan ini.: Dalam kalimat bahasa gaulnya: <em>have fun</em> ya. Sudah lama banget saya tidak ngomong, &#8220;Oleh-oleh ya.&#8221; Lebih sadar lagi kalau membayangkan perjalanan yang hanya singkat dan padat harus ditambah padat dan merepotkan kalau harus mencari oleh-oleh dan memikirkan membawanya. Jauhilah kata-kata itu. Sumpeh lho, ini nggak ada hubungannya sama basa basi.</p>
<p>Apa pemicu korupsi? Di balik korupsi seringkali ada CINTA. Demi membahagiakan istri tercinta, pasangan melakukan korupsi. Lesbian, berhati-hati! Perempuan matre berada di mana-mana. Hubungan asmara para lesbian banyak dibutakan gara-gara cinta. Tak sedikit lesbian yang mencari pacar untuk “bersandar” alias menghidupi dirinya. Jika kita yang tidak tegas dengan prinsip anti korupsi seperti contoh-contoh di atas, ditambah dengan mengelu-elukan cinta dan rasa kasihan, maka terjerembablah lesbian ke dunia korupsi. Bisakah kita menelan pernyataan masyarakat yang sinis, &#8220;Dasar lesbian memang biang koruptor!&#8221;? Ah, sungguh mengerikan.</p>
<p>@Yasmin, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/10/27/say-no-to-corruption/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tajuk: Krisis Eropa, Yunani, dan Kita</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/09/27/tajuk-krisis-eropa-yunani-dan-kita/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/09/27/tajuk-krisis-eropa-yunani-dan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Sep 2011 13:12:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Tajuk]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14938</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nuha Guwa
Masih sibuk dengan masalah pribadi, cinta, keluarga, atau ekonomi yang tidak ada habis-habisnya? Coba tilik sebentar permasalahan global yang terjadi pada ekonomi dunia sekarang ini. Barangkali setelah mengetahuinya kita menjadi sedikit lega dan menyadari ternyata masalah kita itu hanya seujung kuku permasalahan pelik yang dihadapi oleh orang lain.
Setelah krisis ekonomi di Amerika, kini Eropa pula mulai megap-megap. Pasar keuangan dunia pada pekan ini merosot, di tengah ketakutan gagal bayar utang Yunani. Terbayangkah? Yunani tidak bisa bayar utang! Jika Yunani gagal membayar utangnya yang jatuh tempo, ancaman kebangkrutan menunggu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/euro-note_1577590c.jpg"><img class="size-medium wp-image-14939 alignleft" title="euro-note_1577590c" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/euro-note_1577590c-300x187.jpg" alt="" width="300" height="187" /></a>Oleh: Nuha Guwa</p>
<p>Masih sibuk dengan masalah pribadi, cinta, keluarga, atau ekonomi yang tidak ada habis-habisnya? Coba tilik sebentar permasalahan global yang terjadi pada ekonomi dunia sekarang ini. Barangkali setelah mengetahuinya kita menjadi sedikit lega dan menyadari ternyata masalah kita itu hanya seujung kuku permasalahan pelik yang dihadapi oleh orang lain.</p>
<p>Setelah krisis ekonomi di Amerika, kini Eropa pula mulai megap-megap. Pasar keuangan dunia pada pekan ini merosot, di tengah ketakutan gagal bayar utang Yunani. Terbayangkah? Yunani tidak bisa bayar utang! Jika Yunani gagal membayar utangnya yang jatuh tempo, ancaman kebangkrutan menunggu bank-bank di Eropa, yang kemungkinan besar akan berefek domino ke negara-negara di Asia termasuk Indonesia.</p>
<p><span id="more-14938"></span>Utang Yunani yang meningkat hingga 189,1 persen dari produk domestik bruto (PDB) memang mengerikan. Utang Athena ini menyebabkan mata uang euro jatuh dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Efeknya adalah indeks saham, pasar valuta, harga emas, tembaga dan minyak ikut jatuh, sementara pelaku pasar mulai panik dengan keadaan ini. Mereka ramai-ramai melepas saham dan komoditas berharap harga-harga akan turun.</p>
<p>Dana Moneter Internasional atau IMF tengah berupaya keras meluncurkan dana talangan baru dalam <em>bailout </em>sebesar 11 miliar euro (150 miliar dolar AS). Jepang juga berjanji siap bantu <em>bailout </em>utang Yunani ini. Mari kita berdoa semoga upaya yang dilakukan berefek positif.</p>
<p>Pemerintah Yunani telah membuat  pengumuman pihaknya sedang melakukan penghematan, serta mencari solusi  mendapatkan  pinjaman internasional untuk menyelamatkan negara mereka dari kebangkrutan. Yunani juga memprioritaskan langkah-langkah yang disebut &#8220;rencana jangka menengah&#8221;, berkomitmen untuk mengurangi defisit anggaran sampai dengan 2014 dan menjual 50 miliar euro aset negara (jadi teringat ketika negara kita menjual Indosat!). Media di sana melaporkan pekan ini akan dilakukan langkah-langkah menyedihkan, termasuk pemberhentian pegawai negara dipercepat, pensiun dan pemotongan upah bagi pegawai negeri sipil, kenaikan pajak bahan bakar pemanas serta perpanjangan pajak properti. Betapa sengsarannya menjadi rakyat Yunani.</p>
<p>Uni Eropa tampaknya menyesalkan masuknya Yunani ke zona ekonomi mereka, sehingga imbas utang negara ini berdampak kepada nilai mata uang. Konon jika Yunani tidak bisa keluar dari krisis, Uni Eropa mengancam tidak akan mau mengurus Yunani lagi. Itu berarti Yunani harus keluar dari zona Eropa. Dampaknya tidak akan bisa ditanggung oleh masyarakat Yunani sendiri dan berimbas negatif bagi masyarakat Eropa lain, bahkan dunia. Jelas ini bukan sekadar kebangkrutan keuangan sejumlah negara, tapi kekurangan modal perbankan di mana-mana. Model kredit macet yang mengerikan karena melibatkan utang dengan jumlah menyeramkan. Utang perorangan saja bisa membuat pening, konon pula satu negara berutang sedemikian banyak dan tak bisa membayar.</p>
<p>Bagaimana di Asia? Sudah jelas, gagal bayar utang Yunani berdampak pada keuangan Asia. Minggu ini rupiah juga ikut-kutan melemah dan tertekan hingga 1,55 persen. Pelemahan ini juga diikuti bath Thailand 0.64 persen, ringgit Malaysia 0,21 persen, rupee India 0,32 persen, dollar Singapura 0,33 persen, dan peso Filipina 0,34 persen. Perkembangan pasar uang juga cukup merisaukan, dengan indeks saham yang terus melemah, indikatornya terlihat ketika investor di luar negeri mulai meninggalkan pasar saham. Kondisi ini membuat perusahaan yang berada di bursa saham tidak memiliki jalan untuk menghimpun dana ekspansi. Ini berarti tak ada lapangan pekerjaan baru tahun ini. Lupakan dulu kalau mau pindah tempat kerja ya!</p>
<p>Negara kita barangkali tidak langsung berimbas, tapi tengoklah, harapan pemasukan negara dari ekspor sudah pasti akan menurun. Sementara itu bahan baku yang kita impor dari luar harganya akan naik dua hingga beberapa kali lipat. Hal ini berimbas pada barang-barang yang harganya akan dinaikkan, seperti handphone, komputer, dan industri  elektronik yang banyak memakai bahan baku luar. Tunda dulu jika ingin membeli barang-barang tersebut!</p>
<p>Perusahaan yang mengandalkan bahan baku lokal barangkali bisa bernapas lega. Namun bisa bertahankah negara kita di tengah bom mesjid, peledakan gereja, konflik Ambon? Belum lagi uang rakyat yang dibungakan dan masih saja di simpan di bank daerah? Korupsi dibisniskan sementara infrastruktur dibiarkan?</p>
<p>Akhirnya kita dijadikan tumbal biaya ekstra. Kita akan memakai akses jalan yang jelek, parit yang tidak kunjung, pembangunan yang melambat. Pemborosan terjadi secara massal di banyak provinsi. Angkutan umum kecil harus mengganti ban dua kali dalam setahun karena jalan rusak. Kerugian akibat banjir, macet, kebakaran hutan, dan lain-lain. Uang yang harusnya digunakan untuk kepentingan umum tak dimanfaatkan secara maksimal. Hasil keringat kita  terus-terusan dijadikan cadangan bencana dan layanan sosial selalu jelek. Padahal kita sudah dikutip pajak ini itu, ah!</p>
<p>Harap-harap saja, efek domino itu tidak begitu berdampak besar ke negara tercinta ini. Bisa dibayangkan jika pemerintah terpaksa menjual  BUMN kepada asing. Maka terjadilah kebangkrutan usaha, PHK di mana-mana. Mau jadi jongos macam apa kita? Apalagi lesbian yang masih belum menyelesaikan urusan cinta semelekete yang sebenarnya tak perlu dibesar-besarkan. Sudahilah semua itu, lebih baik mempersiapkan diri menghadapi masalah-masalah yang lebih besar.</p>
<p>Balik lagi ke problema Athena tadi. Hingga kini belum ada solusi nyata soal krisis gagal bayar utang ini. Tapi bolehlah kita sebagai individu lesbian versiap-siap. Coba perhatikan, apakah saat ini kita sudah merasakan kesulitan? Harga harga sembako naik? Daya beli berkurang? Susah cari kerja? Penipuan investasi terjadi di mana-mana? Intinya, jika semua problema ekonomi tadi toh harus  merembet dashyat ke sini, setidaknya kita memiliki rencana B untuk tetap hidup sejahtera. Bertani? Pulang kampung? Hidup di desa seadanya, bertanam sayur, beternak ikan, tanpa mal dan kemewahan? Apa pun itu, jangan memakan waktu terlalu lama. Mari pikirkan strategi menyelamatkan diri (investasi) yang aman sekarang juga!</p>
<p>@Nuha Guwa, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/09/27/tajuk-krisis-eropa-yunani-dan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siapa Berani Tinggal Bersama Pasangan?</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/09/06/siapa-berani-tinggal-bersama-pasangan/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/09/06/siapa-berani-tinggal-bersama-pasangan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Sep 2011 06:19:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Partnership]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[mantan]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tanyajawab]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14530</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: IndieX
Tinggal bareng. Mungkin itu keinginan beberapa dari kita untuk tinggal bareng dengan pasangan kita. Yang ada di bayangan pasangan yang belum pernah tinggal bareng pasti semua kebaikan-kebaikannya. Kalau keburukan-keburukannya pasti ketahuan saat dijalani. Atau mungkin juga sudah mendengar dari beberapa teman yang berpengalaman.
Kebetulan aku sudah pernah merasakan tinggal bareng dengan beberapa pacarku dulu, tapi tidak di Indonesia. Sebenarnya apa sih suka dukanya tinggal bareng dengan pasangan sejenis? Inilah pengalamanku. Sebelum ngomongin enak dan nggak enaknya tinggal bersama pasangan, mending aku bagi dulu beberapa tipe housemate.
1. Tipe Loyal
Tipe ini bukan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/living-together.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14531" title="living-together" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/living-together-300x217.jpg" alt="" width="300" height="217" /></a>Oleh: IndieX</p>
<p>Tinggal bareng. Mungkin itu keinginan beberapa dari kita untuk tinggal bareng dengan pasangan kita. Yang ada di bayangan pasangan yang belum pernah tinggal bareng pasti semua kebaikan-kebaikannya. Kalau keburukan-keburukannya pasti ketahuan saat dijalani. Atau mungkin juga sudah mendengar dari beberapa teman yang berpengalaman.</p>
<p>Kebetulan aku sudah pernah merasakan tinggal bareng dengan beberapa pacarku dulu, tapi tidak di Indonesia. Sebenarnya apa sih suka dukanya tinggal bareng dengan pasangan sejenis? Inilah pengalamanku. Sebelum ngomongin enak dan nggak enaknya tinggal bersama pasangan, mending aku bagi dulu beberapa tipe <em>housemate</em>.</p>
<p><span id="more-14530"></span><strong>1. Tipe Loyal</strong></p>
<p>Tipe ini bukan tipe pelit dan perhitungan. Dia mau mengeluarkan biaya untuk membayar tagihan dan biaya sewa apartemen/rumah/kamar kos. Bahkan untuk kebutuhan sehari-hari, dia mau membeli segala sesuatu. Paling enak punya pasangan seperti ini. Jadi kita bisa <em>save money for fun</em>.</p>
<p><strong>2. Tipe Perhitungan</strong></p>
<p>Tipe ini sebenarnya bukan pelit, tapi perhitungan. Semua tagihan dan biaya dikalkulasikan, diteliti, lalu dibagi dua. Untuk kebutuhan sehari-hari, biasanya beli sendiri-sendiri. Jadi tidak merugikan kedua belah pihak. Punya pasangan seperti ini antara enak dan tidak enak. Enaknya sih dia selalu <em>fair</em>. Istilahnya kita bayar apa yang kita makan. Tapi tidak enaknya adalah, pacaran macam apa begitu? Seperti tidak ada kesatuan dan kebersamaan.</p>
<p><strong>3. Tipe Sok Nggak Punya Duit</strong></p>
<p>Tipe ini sebenernya tidak miskin atau tidak punya uang, tapi males banget mengeluarkan uang. Tiap kali mau bayar, pasti bilangnya belum ambil duit di ATM. Sukanya minta tolong dibeliin tapi tak pernah mengganti uang pembelian itu. Nanti giliran di restoran, makannya lama. Saat gilirannya membayar, dia pergi ke toilet. Paling malas punya pasangan seperti ini. Bukannya kita perhitungan tapi tau diri dong. Awal-awal sih tidak bermasalah karena pasti lagi sangat cinta, tapi lama-lama, pasti muak deh.</p>
<p><strong>4. Tipe Parasit</strong></p>
<p>Nah, tipe inilah yang harus kita hindari. Mereka hanya memanfaatkan untuk dapat menikmati fasilitas yang kita punya. Tidak bekerja, tidak ada penghasilan. Kadang tidak sekolah. Hidupnya hanya bergantung pada siapa pasangannya saat itu. Biasanya orang yang bisa hidup dengan tipe seperti ini adalah orang yang memiliki ekonomi mapan dan cinta mati sama pasangannya. Kalau tidak, maaf saja, orang jenis ini mau sama pasangannya karena duit. Hati-hati sama parasit seperti ini. Biasanya mereka <em>drama queen </em>banget. Kalo diputusin, mereka mengancam akan bunuh diri. Mereka akan melakukan segala cara agar tetap bisa &#8220;menumpang hidup&#8221;.</p>
<p>Yang terakhir&#8230; Jreng jreng jreng!</p>
<p><strong>5. Tipe Pasangan Idaman</strong></p>
<p>Tipe ini mengetahui hak dan tanggung jawabnya. Dia tahu kapan harus mengeluarkan uang, bersikap adil, dan yang mana yang harus dibagi berdua. Enak sekali punya pasangan seperti ini. Kita tidak menjadi parasit dan tidak diperah.</p>
<p>Sebenarnya, semua tipe di atas takkan ada artinya kalau kita cinta mati sama pasangan. Tapi ya sekali lagi, makan tuh cinta! Kita harus tetap rasional dalam menyikapi hidup bersama berdasarkan cinta kan? Nah, berikut ini hal-hal yang mungkin harus diperhatikan kalau mau tinggal bersama pasangan:</p>
<p><strong>1. <em>Privacy</em></strong></p>
<p>Karena tinggal bareng, ada beberapa hal pribadi yang mau nggak mau harus kamu bagi dengan pasanganmu. Memang untuk beberapa hal tidak masalah kalau pasangan tau, tapi ada beberapa hal yang lebih baik dipertahankan untuk diri sendiri. Meskipun tinggal bareng, lebih asyik loh kalau kita masih punya &#8220;ruang&#8221; pribadi di dalam rumah masing-masing.</p>
<p><strong>2. Kehidupan seksual</strong></p>
<p>Hal satu ini pasti yang paling menarik dari tinggal bersama. Ada dua hal yang bisa terjadi di sini, yaitu kesatu, kehidupan seks akan menjadi hebat, namun kedua, seperti mata pisau lainnya, kehidupan seks bisa menjadi sangat membosankan. Pada awal tinggal bareng, bukan hal yang aneh kalau setiap hari melakukan hubungan seksual. Setelah beberapa bulan, bahkan hitungan tahun (kalau bisa mencapai angka dua digit), kita sudah kehabisan gaya, tempat, dan enerji. Sudah pasti intensitas akan sangat berkurang. Jadi, seharusnya aktivitas seks diatur dari awal. Terlalu menggebu-gebu bisa mengakibatkan kebosanan setelah beberapa saat.</p>
<p>Untuk mendapatkan penyegaran seksual, carilah kamar hotel atau berliburlah bersama di luar kota. Kegiatan-kegiatan seperti ini bisa memicu semangat dan gairah lagi. Tapi, berlibur tentu saja butuh uang dan waktu, tidak bisa cuma uang atau waktu saja<em>. I believe sex is communication, two ways.</em> Tidak ada salahnya bernegoisasi dengan pasangan untuk mengatur intensitas, posisi, tempat, dan pernik-pernik lainnya.</p>
<p><strong>3. Pengaturan Waktu<br />
</strong></p>
<p>Jika tinggal bareng, hidup sering berkutat di sekitar kita berdua. Kuantitas dan kualitas waktu dengan keluarga, teman, atau kolega menjadi menurun. Hindari hal-hal seperti ini. Selain kehidupan cinta, kita pasti juga mau punya kehidupan pertemanan yang sehat di luar sana. Untuk pasangan yang bekerja misalnya. Karena terbatasnya waktu, tidak sedikit pasangan yang menuntut agar <em>weekend </em>dihabiskan berdua saja. <em>Please </em>deh, dunia kan tidak selebar kamar kos saja. Berbaurlah dengan dunia luar. Jangan batasi pasangan bertemu dengan teman-temannya. Intinya adalah kepercayaan. Sejauh-jauh merpati terbang, pasti akan balik ke sarang <img src='http://sepocikopi.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /><br />
<strong><br />
4. Kebiasaan buruk</strong></p>
<p>Kebiasaan buruk akan terpampang dengan lebarnya. Seperti misalnya pasangan yang ternyata hobi kentut, suka dengerin musik keras-keras. Ada lagi yang selalu lupa nge-<em>flush </em>toilet, atau yang paling males bersih-bersih. Lainnya, suka buang sampah sembarangan, perokok, jarang mandi, gila dengan hobinya.  Bernegosiasilah dengan itu semua.</p>
<p>***</p>
<p>Sebenarnya masih banyak lagi hal yang harus dibicarakan, seperti sejauh apa keterbukaan status kita di depan teman-teman dan keluarga, dan lain sebagainya. Bagaimana kita mengatasinya bersama adalah yang paling penting. Kalau harus berpisah karena sesuatu hal, kenangan selama tinggal bareng itu akan jadi kenangan yang manis. Canda tawa di tempat tidur, masak bareng di dapur, bersih-bersih rumah, dan lain-lain.</p>
<p>Sampai sekarang, meski sudah tidak berhubungan dengan mantan-mantanku lagi, tapi setiap kali mengingat kenangan-kenangan itu, aku pasti tersenyum. Dalam hidup, ada perjumpaan dan perpisahan. Penuhi hidup yang terjadi sekarang dengan nikmat keindahan. <em>No regret, as always.</em></p>
<p>@IndieX, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/09/06/siapa-berani-tinggal-bersama-pasangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuci Mata: Belanja Cantik dan Sukses</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/08/18/cuci-mata-belanja-cantik-dan-sukses/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/08/18/cuci-mata-belanja-cantik-dan-sukses/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Aug 2011 14:16:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cuci Mata]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[fesyen]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14349</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sidney
&#8220;Sid, besok 17an kita lihat sale sandal yuk.&#8221; Demikian seorang teman lesbian mengirim BBM pada siang hari, mengajakku melihat sale up to 70% sandal/sepatu berlogo buaya di sebuah mal di Jakart Barat. Sedetik aku tergoda ingin mengiyakan ajakan sahabat lesbian yang kebetulan teman SMA-ku ini.  Lucu juga sih, di hari kemerdekaan, diajak upacara di mal. Tapi membayangkan antreannya yang pasti mengular gila-gilaan, sejujurnya aku masih trauma sisa mengantre beli android bulan lalu. Yap, aku menolak ajakannya. Bayangkan, Sidney menolak ajakan melihat sale.
&#8220;Tapi murah-murah lho, Sid,&#8221; rayu temanku lagi. &#8220;Yuk, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/08/Girls-Shopping.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14351" title="Girls-Shopping" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/08/Girls-Shopping-300x232.jpg" alt="" width="300" height="232" /></a>Oleh: Sidney</p>
<p>&#8220;Sid, besok 17an kita lihat <em>sale </em>sandal yuk.&#8221; Demikian seorang teman lesbian mengirim BBM pada siang hari, mengajakku melihat <em>sale up to</em> 70% sandal/sepatu berlogo buaya di sebuah mal di Jakart Barat. Sedetik aku tergoda ingin mengiyakan ajakan sahabat lesbian yang kebetulan teman SMA-ku ini.  Lucu juga sih, di hari kemerdekaan, diajak upacara di mal. Tapi membayangkan antreannya yang pasti mengular gila-gilaan, sejujurnya aku masih trauma sisa mengantre beli android bulan lalu. Yap, aku menolak ajakannya. Bayangkan, Sidney menolak ajakan melihat <em>sale</em>.</p>
<p><span id="more-14349"></span>&#8220;Tapi murah-murah lho, Sid,&#8221; rayu temanku lagi. &#8220;Yuk,  Lisa juga mau. Sekalian cuci mata, mungkin ada andro-andro cakep yang ikut mengantre sandal. Lisa juga pasti nraktir kita makan sushi sehabis belanja-belanja cantik.&#8221; Aku sedikit goyah. Sahabat lesbianku satu ini ya&#8230; Pintar sekali merayuku denganku tiga kegemaranku. <em>Sale, </em>sushi, dan andro. Tapi aku mengeraskan hati, dan tetap menolak.</p>
<p>Nah, pada hari kemerdekaan kemarin aku diajak makan sushi sama partner di mal tempat <em>sale </em>berlangsung. Teganya! Ini bukan hari merdeka namanya. Aku melirik <em>banner </em><em>sale </em>itu beberapa kali lalu melirik partnerku dan aku melihat dia menahan senyum. Tahu bahwa aku tergoda. Jahatnya! Tapi aku tidak mau kalah dan tidak mengajaknya ke sana.</p>
<p>Pagi ini dalam suasana pasca liburan, kantorku penuh dengan gejolak adrenalin yang belum surut. Alias masih malas-malasan kerja. Rasanya kepingin buru-buru jam pulang sehingga aku bisa pulang ke apartemen partnerku dan masak di sana.<em> Tik tok. </em>Jam pulang tiba. Tiba-tiba bosku memanggil.</p>
<p>&#8220;Sid, kemari sebentar.&#8221;<br />
Pasti mau dikasih<em> last minute </em>kerjaan deh.<br />
&#8220;Sid!&#8221; Panggilnya lagi, lebih mendesak.<br />
&#8220;Ya, Bu?&#8221; Aku bergerak ke arahnya.<br />
&#8220;Sid, nanti kita ke <em>sale </em>sandal yuk. Sebentar lagi kita jalan.&#8221; Aku bengong. Dia menyebut dua nama manajer lain yang bakal ikut dan klien kami. Aduh! Bayangkan, klien juga ikutan. K.L.I.E.N.</p>
<p>Bagaimana ini? Diajak gaul sama bos-bos ke <em>sale </em>yang sudah kutahan sejak kemarin. Bagaimana bisa menolak<em> female bonding</em> dengan bos, manajer, dan klien? Ini atas nama bisnis, bukan main-main. Bukan ajakan ala teman lesbianku kemarin. Akhirnya aku luluh. Aku harus patuh dengan panggilan bisnis, bukan?<em> I can resist everything except temptation,</em> kata Oscar Wilde. Sepanjang perjalanan menuju mal, aku menyugesti diriku, &#8220;Lihat aja, jangan beli apa-apa.&#8221; Kuucapkan berkali-kali seperti mantra.</p>
<p>Tapi, ini kan Sidney ya. Aku sudah tahu <em>ending</em>-nya. Dalam suasana <em>sale </em>yang ramai dan penuh orang kalap, aku terseret-seret. Akhirnya aku membeli sandal dengan diskon 50 persen. Setidaknya, aku berhasil menahan diri tidak membeli sepatu kanvas Hello Kitty warna <em>pink</em>.</p>
<p>Apa kabar dengan belanja bisnisnya? Berhasil dengan baik, akhirnya klien dengan rupa bahagia langsung menyetujui permintaan bos untuk menurunkan <em>budget</em>-nya, di antara keriuhan memilih sandal. Inilah pentingnya belanja-belanja cantik dengan para eksekutif perempuan. Seharusnya setiap lesbian mengerti pentingnya aktivitas <em>sale </em>untuk meluluhkan hati cewek gebetan. Ini sudah terbukti! Sekarang, aku mengetik tulisan ini sambil menunggu orderan sushi. Ditraktir bos yang sedang bahagia &#8211; dapat sandal, klien yang oke, dan gosip di lingkungan bisnis. Ihiy!</p>
<p>@Sidney, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/08/18/cuci-mata-belanja-cantik-dan-sukses/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Have Your Say: Menjadi Sukses dari Usaha Sendiri</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/07/29/have-your-say-menjadi-sukses-dari-usaha-sendiri/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/07/29/have-your-say-menjadi-sukses-dari-usaha-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 Jul 2011 15:07:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Have Your Say]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[wirausaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14020</guid>
		<description><![CDATA[Merasa sombong  dan pintar karena lulusan S2? Ada yang menganggap para lulusan S2  memiliki gagap intelektual sehingga merasa diri yang terhebat di banding  yang lain. Benarkah? Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, Rumput, yang  bercerita tentang kesuksesan wirausahanya tanpa bersekolah.
Kebetulan  topik SepociKopi tentang wirausaha, membuatku teringat apa yang terjadi  denganku dan mantanku, Btari. Perbedaan usia aku dan Btari adalah lima  tahun. Aku mengenal Btari lewat temanku yang dikenalin di forum chatting lesbian waktu aku lulus SMA. Waktu aku lulus SMA, orangtuaku tidak  punya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/07/Blooming_by_FosseProductions.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14021" title="Blooming_by_FosseProductions" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/07/Blooming_by_FosseProductions-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Merasa sombong  dan pintar karena lulusan S2? Ada yang menganggap para lulusan S2  memiliki gagap intelektual sehingga merasa diri yang terhebat di banding  yang lain. Benarkah? Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, Rumput, yang  bercerita tentang kesuksesan wirausahanya tanpa bersekolah.</em></p>
<p>Kebetulan  topik SepociKopi tentang wirausaha, membuatku teringat apa yang terjadi  denganku dan mantanku, Btari. Perbedaan usia aku dan Btari adalah lima  tahun. Aku mengenal Btari lewat temanku yang dikenalin di forum <em>chatting</em> lesbian waktu aku lulus SMA. Waktu aku lulus SMA, orangtuaku tidak  punya uang untuk meneruskan kuliahku. Kakakku mengalami kecelakaan dan  harus dirawat di rumah sakit dalam jangka waktu lumayan lama sehingga  menghabiskan tabungan orangtuaku untuk pendidikanku. Akhirnya aku  mengalah, memutuskan untuk menunda kuliahku selama beberapa tahun dengan  bekerja dulu.</p>
<p>Aku tidak pernah suka bekerja sebagai karyawan.  Mulai dari sekretaris, staf admin, sampai penjaga toko. Aku mencoba-coba  menjual perlengkapan bantal, tas kain, dan taplak meja. Aku membordir  sendiri perlengkapan kain itu dengan model-model yang aku suka. Aku  sendiri senang mendesain, jadi ketika mendesain gambar untuk bantal, tas  kain, dan taplak aku tidak mengalami kesulitan. Di kantor tempatku  bekerja, barang-barangku selalu laku terjual.</p>
<p>Akhirnya aku  pelan-pelan menabung dari gaji dan usaha kecil-kecilanku. Ketika  tabunganku sudah lumayan besar, aku mengalami dilema. Btari mendesak  agar uangnya dipakai untuk uang pendaftaran kuliah, sementara aku  berpikir tentang keinginanku yang lain. Aku ingin mencoba berbisnis  pelapis bantal dan taplak, menekuninya dengan lebih serius. Kami  bertengkar hebat. Menurut Btari, aku menyia-nyiakan masa mudaku. Melawan  keinginan Btari, aku nekad mengundurkan diri dari kantorku dan memulai  bisnisku dari nol dengan modal yang aku miliki, hasil menabung selama  setahun.</p>
<p>Hubunganku dengan Btari semakin di ujung tanduk. Btara  mengagungkan sekolah sebagai tempat untuk mengenyam pendidikan dan  menjadi &#8220;orang&#8221; yang sukses dan berhasil. Setelah menyelesaikan S1-nya,  Btari melanjutkan pendidikan S2. Aku sendiri masih terpuruk dengan  bisnisku yang masih bayi dan tidak jelas masa depannya.</p>
<p>Tapi aku  tidak putus asa. Aku bekerja keras, bepergian ke kota-kota kecil untuk  menawarkan barang-barangku, membeli kain dengan harga lebih murah. Btari  sendiri sudah lulus S2, hubungan kami sudah berjalan dua tahun.</p>
<p>Sejak  itu, Btari selalu merendahkanku sebagai orang yang tidak berpendidikan.  Setiap kali kami bertengkar, Btari memanfaatkan momen itu untuk  menyakitiku dengan menyindirku sebagai cewek yang bodoh, nggak nangkep,  tidak mengerti dunia intelektual, dan lain-lain. Btari juga lama-lama  enggan mengajakku berkumpul dengan teman-teman kuliahnya, karena aku  dianggapnya tidak selevel dengannya.</p>
<p>Keributan-keributan ini  membuat hubungan kami semakin buruk dan akhirnya kami pun putus. Aku  sempat putus asa dan frustrasi dengan hidupku. Kehilangan pacar, bisnis  yang masih mandek, dan modal yang nyaris habis. Aku berada di titik  paling rendah dalam hidupku. Aku nyaris putus asa dan memutuskan kembali  menjadi karyawan. Tapi aku bertahan dengan sisa uang pas-pasan untuk  melanjutkan usahaku.</p>
<p>Untunglah atas kegigihan usahaku, barangku  bisa menembus <em>department store</em> besar di beberapa mal. Keberhasilan ini  memberikan hasil yang luar biasa untuk bagian pemesanan. Bertubi-tubi  aku mendapatan kuantitas pesanan yang semakin meningkat. Dengan sabar  dan telaten, aku membangun bisnisku dan dari memiliki hanya satu  karyawan, kini aku punya 10 karyawan yang aku karyakan. Bukan itu saja,  aku sedang dalam proses mendekati desa-desa agar pemperkayakan para  ibu-ibu dan kaum muda perempuan di sana untuk bekerja membordir untuk  pesanan taplakku.</p>
<p>Bisnisku belum hebat, masih merangkak. Tapi  setidaknya sekarang aku memiliki uang kuliah dari keringatku sendiri  jika setiap saat aku mau kuliah. Aku merencanakan tahun ini untuk  memulai kuliahku di bidang management sehingga pasti bisa menjadi ilmu  yang nyambung dengan bisnis yang kutekuni. Aku membuktikan pada mantanku  sekarang (entah di mana dia sekarang, semoga dia membaca), bahwa tidak  kuliah bukan berarti bodoh dan terbelakang. Aku juga buktikan bahwa  berhasil lulus S2 bukan berarti dia menjadi paling hebat dari semua  orang. Ada orang lain yang bisa hebat tanpa perlu embel-embel kuliah S2,  bahkan S1.</p>
<p>Itu yang kini kupercayai dan hasil bercermin dari pengalamanku.</p>
<p>@Rumput, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/07/29/have-your-say-menjadi-sukses-dari-usaha-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FabuLezlyCool: The Young Millionaires (And Lesbian, too)</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/07/13/fabulezlycool-the-young-millionaires-and-lesbian-too/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/07/13/fabulezlycool-the-young-millionaires-and-lesbian-too/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Jul 2011 04:10:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FabuLezlyCool]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=13646</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Cheese
Wirausaha. Honestly, gue suka banget tema bulan ini, meski pun gue bukan tipikal orang yang berpengalaman dalam bidang wirausaha. Gue merinding aja setiap mendengar kata itu, membayangkan gue di masa depan memiliki usaha mandiri yang sukses, berskala global, dan dikenal secara internasional. Aih, muluk sekali kamu, Cheese.
By the way, SepociKopi mengajarkan gue bahwa bermimpi muluk itu sangat sehat selama diiringi dengan tindakan yang mendukung. Mengingat tulisan Lakhsmi di waktu lalu berjudul Because I Am The Boss! Percaya atau enggak, sampai hari ini masih bertahan di bookmark handphone supaya sesekali ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/07/womanentrepreneur.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-13647" title="womanentrepreneur" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/07/womanentrepreneur.jpg" alt="" width="270" height="179" /></a>Oleh: Cheese</p>
<p>Wirausaha. <em>Honestly</em>, gue suka banget tema bulan ini, meski pun gue bukan tipikal orang yang berpengalaman dalam bidang wirausaha. Gue merinding aja setiap mendengar kata itu, membayangkan gue di masa depan memiliki usaha mandiri yang sukses, berskala global, dan dikenal secara internasional. Aih, muluk sekali kamu, Cheese.</p>
<p><span id="more-13646"></span><em>By the way,</em> SepociKopi mengajarkan gue bahwa bermimpi muluk itu sangat sehat selama diiringi dengan tindakan yang mendukung. Mengingat tulisan Lakhsmi di waktu lalu berjudul <a href="http://sepocikopi.com/2010/02/04/because-i-am-the-boss/">Because I Am The Boss!</a> Percaya atau enggak, sampai hari ini masih bertahan di <em>bookmark </em>handphone supaya sesekali bisa gue baca kembali untuk mencambuk gue yang lengah. Biar bagaimanapun, gue tetap butuh pengingat untuk tetap konsisten sama tujuan dan cita-cita gue.</p>
<p>Kalau wirausaha alias usaha mandiri, lo masih terbayang bapak-bapak tua dengan perut buncit dan kepala botak yang duduk di kursi dengan kaki dinaikin ke atas meja dan kaca mata melorot? Itu udah garing ke mana-mana, sis! Sekarang jamannya yang muda, yang buka suara, dan membuat inovasi-inovasi mutakhir juga luar biasa. Gue belom sih, doakan akan dengan segera.</p>
<p>&#8220;Nggak ada modal, susah. Masih muda, pikirin yang ada aja dulu deh.&#8221; Klasik, gue udah sering denger. Nggak cuma denger, bahkan gue sering ngucapin ini. Dulu, maksudnya. Sebelum gue sadar. Tantangan banyak orang berwirausaha itu bukan modal. Modal hanya salah satu faktor yang perlu di pikirkan. Bukan pegawai, bukan tempat, bukan pabrik, bukan segmen pasar, bukan krisis perekonomian. Tapi di sini, apa yang ada di dalam pikiran. Dari pengetahuan yang banyak gue dapat dari buku dan kesaksian langsung dari beberapa pengusaha muda yang gue kenal, masalah yang utama adalah ketakutan untuk memulai.</p>
<p>Gue sendiri berasal dari keluarga pedagang. Jiwa wirausaha itu mau nggak mau mengalir kental di pembuluh darah gue. Gue hanya belum selesai mengasahnya dengan baik. Gue terngiang-ngiang ucapan Mama dulu. Waktu itu gue masih berumur sembilan tahun dan gue bilang, kalau gue udah dewasa nanti, gue juga pengen seperti Papa Mama, punya usaha sendiri. Jawaban Mama cukup mengecewakan sih, “Nggak usah, lo mendingan kerja sama orang. Nggak banyak pikiran, duit mengalir lancar, nggak pusing hidup lo!”</p>
<p>Tapi seiring berjalannya waktu, Mama yang paling semangat mendorong gue untuk memulai usaha kue kecil-kecilan semasa SMP. Dan ya, memang gue jalanin. Berbekal modal yang dikasih Mama untuk belajar membuat kue, akhirnya kue itu gue pasarkan di kalangan teman-teman sendiri. Gue udah bisa menghasilkan uang sendiri. Rasanya enak gue punya uang sendiri. Tolong dicatat. Uang sendiri, bukan jajan, bukan upah.</p>
<p>Gue senang mengikuti seminar-seminar kewirausahaan, selama biayanya masih terjangkau, dan gue ada waktu untuk ikut. Gue banyak belajar dari sana, dan tentunya seminar-seminar semacam ini disarankan banget buat teman-teman lesbian yang lagi bingung dan mau memulai usaha. Bisa jadi satu motivasi yang mutakhir, selama diiringi dengan konsistensi yang juga disiplin.</p>
<p>Pertanyaan yang sempat terlintas di benak gue. &#8220;Kenapa harus pusing berpikir cari kerja apa seusai kuliah? Kenapa kita nggak pusing berpikir mau bikin usaha apa?” Pertanyaan semacam itu semakin menantang diri gue untuk memulai sesuatu yang baru, yang lebih canggih dari pengalaman produksi dan jualan gue dari waktu lalu, yang bisa membuat gue dikenal sebagai pengusaha. Bahagia, kaya, dan cantik. Lihat, menempatkan bahagia di depan lalu diiring dengan tingkat ekonomi dan penampilan cantik yang luar dalam. Cuma orang munafik yang akan bilang nggak mau. Punya gengsi itu kebanggaan, mandiri tanpa tergantung orang lain itu kebahagiaan, memiliki perekonomian yang baik itu kesenangan.</p>
<p>Untuk sekarang ini, gue punya pandangan usaha bukan lagi tentang kematangan rencana dan pengetahuan tentang bisnis, tapi gue lebih setuju dengan modal optimis dan berani maju. Ide kecil akan jadi besar selama diiringi dengan kerja keras. Sebaliknya, jangan kebanyakan konsep dan bicara saja. Ide dan rencana yang terlalu besar bakal jadi angan-angan belaka selama nggak diiringi dengan realisasi. Kerja keras, angan-angan. Dua hal yang saling melengkapi bagi gue. Jadi, apa salahnya dengan memulai sekarang?</p>
<p>Ayo, para lesbian muda! Pikirkan tentang rencana besok, berani ajukan pertanyaan ini kepada diri: mau jadi apa kita nantinya?<em> Think big and aim high! </em>Berjuang dari muda, sebab seperti kata salah satu pengusaha top: lebih baik gagal di saat muda daripada gagal di usia renta/tua. Akhir kata, <em>see you at the top, sis!</em></p>
<p>@Cheese, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/07/13/fabulezlycool-the-young-millionaires-and-lesbian-too/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tajuk: Wiraswasta dan Kita</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/07/05/tajuk-wiraswasta-dan-kita/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/07/05/tajuk-wiraswasta-dan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jul 2011 07:01:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tajuk]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=13343</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nuha Guwa
&#8220;Bertahun-tahun bekerja di perusahaan, apa tidak bosan?&#8221;
&#8220;Apa masih mau terikat aturan yang kuno dengan rutinitas yang itu-itu saja?&#8221;
&#8220;Kita bekerja di perusahaan dengan gaji pas-pasan. Tahukah penghasilan yang didapat oleh pemilik perusahaan bisa mencapai lima puluh hingga seratus kali lipat dari penghasilan kita?&#8221;
Barangkali hari-hari belakangan ini kita merasa capek dan lelah bekerja, ditambah lagi dengan rutinitas yang membosankan. Sehingga pertanyaan-pertanyaan di atas menyambangi pikiran. Belum lagi bila bos marah, teman kerja yang sirik soal kerjaan dan posisi. Profesi sebagai pegawai memang menjanjikan penghasilan yang lebih bahkan bagi yang memiliki ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/07/women-entrepreneurs.jpg"><img class="size-full wp-image-13344 alignleft" title="women-entrepreneurs" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/07/women-entrepreneurs.jpg" alt="" width="336" height="252" /></a>Oleh: Nuha Guwa</p>
<p>&#8220;Bertahun-tahun bekerja di perusahaan, apa tidak bosan?&#8221;<br />
&#8220;Apa masih mau terikat aturan yang kuno dengan rutinitas yang itu-itu saja?&#8221;<br />
&#8220;Kita bekerja di perusahaan dengan gaji pas-pasan. Tahukah penghasilan yang didapat oleh pemilik perusahaan bisa mencapai lima puluh hingga seratus kali lipat dari penghasilan kita?&#8221;</p>
<p><span id="more-13343"></span>Barangkali hari-hari belakangan ini kita merasa capek dan lelah bekerja, ditambah lagi dengan rutinitas yang membosankan. Sehingga pertanyaan-pertanyaan di atas menyambangi pikiran. Belum lagi bila bos marah, teman kerja yang sirik soal kerjaan dan posisi. Profesi sebagai pegawai memang menjanjikan penghasilan yang lebih bahkan bagi yang memiliki kesempatan. Tapi seberapa pun yang didapat per bulan, kita tetap tergantung pada orang lain. Apa yang terjadi jika perusahaan bangkrut? Apa yang terjadi jika mereka memecat kita dengan alasan orientasi seksual? Apa yang terjadi jika mereka menolak penerimaan karyawan karena penampilan yang terlalu maskulin? Pertanyaan-pertanyaan itu menghantui benak lesbian dan akhirnya lesbian menjadi individu yang memiliki<em> bargaining power</em> lemah di dunia bisnis dan masyarakat.</p>
<p>Kalau begitu, bagaimana? Apakah kita diam dan menyerah saja dengan nasib? Mengapa tidak mencoba usaha sendiri sehingga lesbian bisa memiliki penghasilan yang berkali lipat, bahkan melebihi penghasilan sekarang? Mengapa tidak mencoba membangun perusahaan sendiri sehingga lesbian bisa lebih mandiri dan memiliki keputusan di tangan sendiri?</p>
<p>Kita bisa saja masih menjadi pegawai atau tidak, namun alangkah baiknya jika kita juga memiliki usaha. Dengan memiliki usaha sendiri, lesbian bisa merencanakan masa tua akan seperti apa. Pernahkah membayangkan lesbian kekurangan duit di masa tua karena dana pensiun hanya cukup buat makan sehari-hari? Atau terpaksa berharap belas kasih saudara, keponakan, dan kerabat? Alangkah menyenangkan jika kita memiliki usaha sendiri dan terus berpenghasilan hingga akhir hayat. Untuk mendapatkan hal tersebut, tentu saja usaha itu tidak jatuh dari langit. Atau bangun pagi tiba-tiba &#8220;<em>Tadaaa</em>!&#8221;, sudah ada perusahaan yang menunggu tanda tangan kita untuk mencetak uang. Jangan cuma bermimpi di siang bolong, Lesbian!</p>
<p>Banyak cara untuk meningkatkan kualitas hidup. Beragam  penulis dan penasehat keuangan memberikan cara untuk mengubah kehidupan, beralih dari penerima gaji bulanan menjadi pencetak lapangan pekerjaan, bahkan menjadi pembuka tren usaha baru dengan omzet gila-gilaan. Beratus bahkan ribuan buku motivasi mengajarkan pembacanya untuk mengubah haluan hidup sukses dengan berwirasawasta, dan ini sudah terbukti!</p>
<p>Kalau begitu mengapa kita tidak mulai dengan berwirausaha atau wiraswasta ini? Secara etimologis wirasawasta merupakan suatu istilah yang berasal dari kata-kata “wira” dan “swasta”. Wira artinya berani, utama atau perkasa. Swasta merupakan gabungan dari kata ”swa” dan “sta”. Swa artinya sendiri, sedangkan sta artinya berdiri. Swasta  dapat diartikan sebagai berdiri menurut kekuatan sendiri. Atas makna etimologi tersebut dapat disimpulkan bahwa wiraswasta berarti bukanlah usaha sampingan, sebagaimana yang dipikirkan banyak orang selama ini.</p>
<p>Menurut Wirahadi Wicaksono salah seorang ahli <em>entrepreneur</em>, istilah wirausaha atau wiraswasta merupakan terjemahan dari kata <em>entrepreneur</em>. <em>Entrepreneur </em>sendiri berasal dari bahasa Perancis yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan arti <em>between taker</em> atau <em>go-between</em>. Contoh yang sering digunakan untuk menggambarkan pengertian <em>go-between </em>atau &#8220;perantara&#8221;  ini adalah pada saat Marcopolo yang mencoba merintis jalur pelayaran dagang ke Timur jauh. Untuk melakukan perjalanan dagang tersebut, Marcopolo tidak menjual barangnya sendiri. Dia hanya membawa barang seorang pengusaha melalui penandatanganan kontrak.</p>
<p>Sekitar abad lima belas, pengertian <em>entrepreneur </em>mengalami pergeseran. Saat itu istilah <em>entrepreneur </em>dipakai untuk melukiskan seseorang yang memimpin proyek produksi.  Dalam kepustakaan bisnis Amerika, <em>entrepreneur </em>menjelaskan sebagai kegiatan individual atau kelompok yang membuka usaha baru dengan maksud memperoleh keuntungan, memelihara usaha itu dan membesarkannya, dalam bidang produksi maupun distribusi barang-barang ekonomi maupun jasa.  Dari berbagai pendapat ahli di atas, maka arti dari wiraswastawan ialah seorang yang memiliki dorongan untuk menciptakan sesuatu yang lain dengan menggunakan waktu dan kegiatan, disertai modal dan resiko, serta menerima balas jasa dan kepuasan serta kebebasan pribadi atas usahanya tersebut.</p>
<p>Ada beberapa tips untuk menjadi seorang wiraswasta yang handal. Pertama-tama, cari tahu daftar seratus jenis usaha yang memiliki potensi pasar dan peluang bisnis. Dari seratus jenis usaha tersebut, pilih yang paling disukai karena terasa menyenangkan. Dari sisa daftar yang ada, pilihlah jenis usaha yang paling dikuasai untuk dilaksanakan, dengan membuat pertimbangan bahwa pengetahuan bisa menjadi sumber daya, jaringan, dan mitra kerja yang ada. Kedua, jika sudah menemukan jenis usaha, mari berkomitmen dan fokus pada usaha tersebut. Jangan lupa untuk membuat inovasi dan daya juang yang keras untuk membangun bisnis secara konsisten. Usaha baru umumnya memiliki tantangan dan cobaan yang sangat keras dan tidak gampang untuk dilalui.</p>
<p>Fokus berarti kita mesti rela menggunakan seluruh waktu, perhatian, dan sumber daya yang dimiliki untuk menekuni. Setelah berkomitmen, maka dilanjutkan dengan langkah-langkah mempelajari pasar, siapa yang harus dipenetrasi. Mantapkan produk atau jasa yang ingin dibuat dan dipasarkan. Tentukan dengan  modal dan sumber daya yang dibutuhkan minimal jangka pendek (1-3 tahun). Kuatkan arus kas. Kembangkan rencana dan model bisnis yang sesuai dengan target dan karakteristik serta menggunakan pemasaran yang<em> up to date</em>. Situs jejaring merupakan salah satunya.</p>
<p>Terakhir, jalankan bisnis berdasarkan rencana dan model yang telah didefinisikan sebelumnya. Lakukan evaluasi dan pembelajaran secara kontinyu dari hari ke hari untuk segera melakukan perbaikan dalam berbagai hal. Jika sudah menjalan proses ini semua, yang terakhir bersiaplah untuk panen. Masih ada banyak ruang-ruang kosong untuk wiraswastawan perempuan. Nah, masih belum tergugah, lesbian?</p>
<p>@Nuha Guwa, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/07/05/tajuk-wiraswasta-dan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tajuk: Lari ke Luar Negeri dan Kita</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/06/14/tajuk-lari-ke-luar-negeri-dan-kita/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/06/14/tajuk-lari-ke-luar-negeri-dan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jun 2011 11:01:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Tajuk]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=12755</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nuha Guwa
Bisa dikatakan  SepociKopi termasuk media online yang sangat cinta tanah air. Terkadang saking sangat idealis, sehingga sesekali muncul keputusan-keputusan yang tidak logis jika melihat sesuatu hal yang tidak pada koridornya. Kami menganggap masalah nasional adalah masalah kita.
Ada menteri yang terlibat korupsi, maka kami akan ketularan gelisah. Jika kedapatan hakim yang membebaskan puluhan koruptor, kami juga panas  dingin. Kok tega ya? Jaksa yang kedapatan meluruskan kasus-kasus yang bukti-buktinya sudah mati-matian dikumpulkan polisi akan membuat kami meriang. Polisi yang liar dan memanipulasi Berita Acara Pemeriksaan bisa membuat kami ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/06/runaway300_new.gif"><img class="size-full wp-image-12760 alignleft" title="runaway300_new" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/06/runaway300_new.gif" alt="" width="300" height="300" /></a>Oleh: Nuha Guwa</p>
<p>Bisa dikatakan  SepociKopi termasuk media <em>online </em>yang sangat cinta tanah air. Terkadang saking sangat idealis, sehingga sesekali muncul keputusan-keputusan yang tidak logis jika melihat sesuatu hal yang tidak pada koridornya. Kami menganggap masalah nasional adalah masalah kita.</p>
<p><span id="more-12755"></span>Ada menteri yang terlibat korupsi, maka kami akan ketularan gelisah. Jika kedapatan hakim yang membebaskan puluhan koruptor, kami juga panas  dingin. Kok tega ya? Jaksa yang kedapatan meluruskan kasus-kasus yang bukti-buktinya sudah mati-matian dikumpulkan polisi akan membuat kami meriang. Polisi yang liar dan memanipulasi Berita Acara Pemeriksaan bisa membuat kami demam.</p>
<p>Untuk mengatasi masalah-masalah yang mengganggu itu, biasanya saya berusaha mencari tokoh-tokoh yang bisa mengobati kesedihan tersebut. Guru  teladan yang anak didiknya menjadi orang-orang besar. Ada hakim bijak yang menangani kasus dengan adil dan sempurna. Ratusan jaksa yang bekerja sesuai koridor, lempeng pola pikir, dan lurus jalan hidupnya. Masih begitu banyak polisi yang tidak pernah mempersulit urusan di kantor polisi. Sah! Biasanya cenat cenut akan langsung sembuh. Tidak semua hakim jahat, tidak semua jaksa laknat, banyak polisis yang dedikasi dan kerjanya memang mengabdi pada masyarakat.</p>
<p>Namun tentu saja perasaan bangga dan bahagia itu kemudian mendadak sirna sesaat setelah menonton televisi. Sakit kepala saya malah bertambah hebat.  Bayangkan, menurut  data Indonesia Corruption Watch (ICW), jumlah  koruptor yang lari ke luar negeri cukup menakjubkan. Sebanyak empat puluh koruptor kabur ke luar negeri dalam sepuluh tahun terakhir. Yang paling  unik lagi, dua puluh di antaranya memilih tempat yang sama dengan mantan bendahara umum Partai Demokrat &#8212; yang diduga tersangkut kasus Kemenpora. Mereka ke Singapura! Banyak hal membuat koruptor memilih singapura sebagai tempat pelarian. Mengapa? Salah satunya karena tidak adanya perjanjian ekstradisi.</p>
<p>Benar kata mantan wapres Jusuf Kalla, kalau ada pejabat  negara yang lari keluar negeri berarti ada masalah. Kenapa ya bisa berulang kali terjadi? Kok negara kita selalu kecolongan?  Menurut catatan  ICW, ada sekitar 45 orang terkait korupsi ke luar negeri, sebagian belum vonis, 20 di antaranya ke Singapura, lainnya ke Hongkong. Kasus BLBI merupakan penyumbang paling banyak. Jumlahnya cukup mencengangkan. Jika hanya hitungan jari barangkali masuk akal. Yang paling menyedihkan, sebenarnya banyak dari koruptor ini ternyata masih bisa mengatur lingkaran bisnisnya dari pelarian.</p>
<p>Baiklah… Sepertinya memang lari keluar negeri menjadi tren di Indonesia .</p>
<p>Tentu banyak sebab mengapa orang lari keluar negeri. Mulai dari memperlambat kasusnya sehingga bisa mengatur jawaban-jawaban jika penyidik menanyai ini itu. Lari ke luar negeri adalah salah satu cara bagaimana menghindari proses hukum yang akan dilakukan terhadap dirinya. Pada intinya melarikan diri keluar negeri untuk mengindari masalah yang sedang menjerat.</p>
<p>Mari kita tinggalkan dulu para koruptor yang lari keluar negeri itu. Coba lihat kisah yang satu ini. Suatu hari, seorang teman rekan yang perusahananya sempat maju dan merajai pasokan batik ke seluruh Indonesia selama puluhan tahun tahun harus menghadapi kebangkrutan. Maka dia mengadu dengan putus asa,</p>
<p>&#8220;Seumur hidup, saya akan merasa bersalah karena telah menyebabkan perusahaan rugi besar. Apalagi jika sampai ada buruh yang jatuh miskin dan anak-anaknya putus sekolah karena itu. Aduh, rasanya saya mau mati saja!&#8221;</p>
<p>Hampir setiap kali bicara di telepon, dia menangis ketakutan dikejar rasa bersalah dan memikirkan para buruh yang pasti akan mengutukinya.</p>
<p>&#8220;Kali ini, habislah saya. Rasanya ingin mati saja.”</p>
<p>Saya mengenal rekan ini cukup lama, dan beberapa kali melakukan bisnis berbarengan. Tentu saja rasa kepercayaan saya padanya cukup tinggi. Ia salah satu obat bagi saya untuk menghilangkan uring-uringan akibat hal-hal yang tidak mengenakkan di negeri ini. Jangan mati dulu, dong! Ia rekan yang bisa dipercaya dan bertanggung jawab, justru harusnya tetap hidup dan menghadapi masalah ini.</p>
<p>Saya memang tidak punya solusi untuknya. Jika saya memiliki bank, barangkali dengan sukarela akan meminjamkan dana talangan untuk membayar pesangon pegawainya. Saya tahu benar mengapa usahanya bangkrut. Kebijaksanaan yang sangat memihak pada barang-barang impor membuat industri yang dikelolanya tak lagi sanggup bersaing.</p>
<p>Rekan ini tidak lari ke luar negeri. Padahal begitu mudah baginya untuk melakukan hal tersebut. Ia salah satu kenalan saya ketika sekolah di luar negeri, dan saya tahu bagaimana mapan orangtuanya untuk bisa pindah ke negara yang menjadikannnya seorang master. Akhirnya  ia menjual semua aset dan membayarkan pesangon semua buruh tanpa ampun. Terpaksa dia menjual semua mobil mewah dan rumah damai yang ia tempati bersama anak, istri, dan ayah-ibunya.</p>
<p>Kita tentunya seringkali mendengar istilah &#8220;tanggungjawab&#8221;, yang artinya siap menerima kewajiban atau tugas. Arti tanggung jawab di atas semestinya sangat mudah untuk dimengerti oleh setiap orang. Banyak orang mengelak bertanggung jawab, karena jauh lebih mudah untuk “menghindari” tanggung jawab, daripada “menerima” tanggung jawab. Banyak orang mengelak bertanggung jawab, karena memang lebih mudah &#8220;menggeser&#8221; tanggung jawab, daripada &#8220;berdiri dengan berani dan menyatakan dengan tegas&#8221; bahwa, “Ini tanggung jawab saya!”  Banyak orang yang sangat senang dengan melempar tanggung jawabnya ke pundak orang lain. Apalagi jika korupsi yang dilakukan massal, orang yang terlibat cukup banyak. Sehingga yang mencairkan dana dan mengurus pencairan merasa bukan pelaku kriminal. Apalagi ternyata uang itu mengalir kepada kelompok atau tokoh-tokoh yang menjadi panutan.</p>
<p>Melarikan diri pun menjadi solusi. Membiarkan orang lain menanggung beban tanggung jawabnya. Sungguh sangat menyedihkan. Di masa kini, kita memiliki banyak orang yang mengelak bertanggung jawab. Labih gilanya lagi, “lepas tanggung jawab” sering didukung oleh lingkungan dekatnya, teman-teman, anak buah, atasan, anak kandung, bahkan didukung oleh istri atau suaminya yang bersepakat menyembunyikan keberadaannya. Sebagian besar orang-orang di lingkungan dekat ini sudah pasti mendukung, karena barangkali selama ini mereka semua ikut merasakan hasil-hasil dari korupsi atau manipulasi itu.</p>
<p><em>Anyway</em>, yang pasti orang-orang yang lari ini bukan dari kalangan lesbian. Lesbian adalah orang-orang yang bertanggungjawab dan sangat prinsipil dengan nilai-nilai hidup.  Lesbian bukan orang-orang yang kabur ke luar negeri untuk menghindari kejaran kewajiban. Ah, semoga saya tidak sedang bermimpi ketika mengatakan hal ini!</p>
<p>@Nuha Guwa, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/06/14/tajuk-lari-ke-luar-negeri-dan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FabuLezlyCool: Dream And Action!</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/05/11/fabulezlycool-dream-and-action/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/05/11/fabulezlycool-dream-and-action/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 May 2011 09:48:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FabuLezlyCool]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=12084</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Cheese
Hari gini, zaman motivator dan pelatih-pelatih sukses lagi gencar-gencarnya membagi pengalaman lewat buku maupun Twitter ternyata ikut menyeret gue yang mengaku berambisi jadi entrepreneur muda ini. Kebanyakan dari buku-buku itu ternyata juga mengiming-imingi kita semua dengan kekuatan mimpi. Well, sebut saja ini impian. Mimpi terjadi waktu nggak sadar, sedangkan impian terjadi waktu lagi sadar. Nggak lupa juga, yang menyusul dan yang terpenting dari mimpi ini adalah TINDAKAN. DNA, Dream And Action!
Prinsip sukses yang udah jadi jargonnya motivator-motivator terkenal seperti Bong Chandra ataupun Purdi. E. Chandra ini yang menginspirasi gue ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/InspirationalReachStar.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-12086" title="InspirationalReachStar" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/InspirationalReachStar-298x300.jpg" alt="" width="298" height="300" /></a>Oleh: Cheese</p>
<p>Hari gini, zaman motivator dan pelatih-pelatih sukses lagi gencar-gencarnya membagi pengalaman lewat buku maupun Twitter ternyata ikut menyeret gue yang mengaku berambisi jadi <em>entrepreneur </em>muda ini. Kebanyakan dari buku-buku itu ternyata juga mengiming-imingi kita semua dengan kekuatan mimpi. <em>Well</em>, sebut saja ini impian. Mimpi terjadi waktu nggak sadar, sedangkan impian terjadi waktu lagi sadar. Nggak lupa juga, yang menyusul dan yang terpenting dari mimpi ini adalah TINDAKAN. <em>DNA, Dream And Action!</em></p>
<p><em><span id="more-12084"></span></em>Prinsip sukses yang udah jadi jargonnya motivator-motivator terkenal seperti Bong Chandra ataupun Purdi. E. Chandra ini yang menginspirasi gue untuk mengirim artikel tentang action ke SepociKopi. Tapi tunggu dulu, jangan dipikir gue bakal membahas mengenai kiat-kiat menjadi pengusaha sukses di umur kita yang masih sebiji jagung ini. Bukan, bukan itu.</p>
<p>Membahas DNA satu ini, gue jadi penasaran, apakah benar dengan <em>Dream And Action </em>kita bisa mendapatkan semua yang kita inginkan? Nggak cuma tentang materi, tapi gimana dengan aspek-aspek lain? Seperti pacar?</p>
<p>Bermimpi itu gampang, tapi seringkali banyak orang lupa dengan aksi untuk mewujudkan mimpi itu. Nah, anggap sajalah itu kesalahan yang pernah gue lakukan dulu. Sewaktu gue naksir dengan salah seorang senior gue, gue sampai menghabiskan tiga tahun sia-sia hanya untuk memimpikan si cewek imut itu; mengamati dari belakang, ketakutan ditolak dan nggak mau dianggap <em>freak </em>yang menghambat gue untuk bahkan sekedar ngajak kenalan. Aduh, plis deh. Padahal gue nggak akan rugi hanya sekedar ngobrol basa-basi seperti yang biasa gue lakukan dengan orang lain. <em>Nothing to lose</em>, kan?</p>
<p>Hingga tenggat waktu kepepet, si oknum akan segera lulus dari sekolah membuat gue gencar mencari cara, hingga akhirnya gue melakukan aksi mengajak kenalan itu, setelah menunggu tiga tahun. Parahnya adalah, ternyata si senior gue itu sudah mengenal gue semenjak tiga tahun yang lalu. Ya, meski pun sekedar nama dan cerewetnya gue sih&#8230; duh, gue merasa rugi sekali.</p>
<p>Gue terlalu sering mengharapkan kebetulan dan kesempatan untuk mendapatkan yang gue inginkan. Itu bukanlah suatu hal yang tepat untuk jadi seorang yang sukses sih gue rasa. Entah sukses jadi mantan jomblo, ataupun sukses jadi pengusaha. Sama aja lah, kita sama-sama meraih sesuatu.</p>
<p>Percaya atau nggak percaya ya, tapi toh akhirnya gue berhasil dapet pacar mengandalkan dua hal ini. Sebelum gue jadian dengan partner gue yang sekarang, gue bahkan pernah membuat satu fiksi tentang gue dan (calon) pacar gue ini setelah jadian. Serius. Padahal gue belum dapet sinyal atau apa aja yang menandakan “Oh, dia tertarik juga loh pacaran sama gue.” Semuanya gue simpan di tempat paling rahasia di data komputer saking malunya gue dengan diri sendiri. Setelah itu, baru gue mencanangkan aksi cewek agresif yang niat pedekate.</p>
<p>Oke, jadi intinya, pantang banget buat gue mengeluarkan kalimat seperti ini. “Ah, cewek itu terlalu cantik, terlalu keren, terlalu pintar buat gue.” Mengesampingkan segala kelebihan dan wah nya si orang itu. Nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini. Lagi pula, apa salahnya bermimpi? Gue rasa undang-undang kita belum mengeluarkan larangan bermimpi, deh.</p>
<p>Ngomong-ngomong, satu pesan aja, jangan lupa kalau sampai dia ternyata hetero, berarti impian lo belum tepat sasaran. Itu artinya ada kesempatan lain untuk mencari yang lebih pas dan kece dari pada dia. Pasti ada, pasti ada! Jadi gimana? Udah berani <em>action </em>sekarang juga?</p>
<p>@Cheese, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/05/11/fabulezlycool-dream-and-action/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

