<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; dunia maya</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/tag/dunia-maya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 10:52:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Berpasangan Sampai Tua</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/21/berpasangan-sampai-tua/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/21/berpasangan-sampai-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 02:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Friendship]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17177</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Yasmin
&#8220;&#8216;Memiliki pasangan yang tetap berpasangan sampai tua’ itulah jawaban semua lesbian, ketika ditanya apa harapan hidupnya,” kata salah seorang teman. “Tanya ke aku dong…,” pintaku. “Ya, kalau kamu, apa harapan hidupmu sebagai lesbian?” tanyanya. “Boleh nggak sebagai manusia saja, nggak usah sebut sebagai lesbian,” pintaku lagi, ngeyel.
Jawaban saya, memiliki pasangan maupun tidak, saya ingin jadi manusia yang berguna bagi orang-orang di sekitar saya.  Kalimat “memiliki pasangan maupun tidak” adalah penekanan saya terhadap penyangkalan asumsi bahwa semua lesbian mempunyai harapan itu.
Sebenarnya pembicaraan ini diawali dengan debat kami akan perlunya mempertahankan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/stock-photo-a-photo-of-two-old-women-with-their-dog-enjoying-the-sunset-6159742.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17404" title="two-old-women-with-their-dog-enjoying-the-sunset-6159742" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/stock-photo-a-photo-of-two-old-women-with-their-dog-enjoying-the-sunset-6159742-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>Oleh: Yasmin</p>
<p>&#8220;&#8216;Memiliki pasangan yang tetap berpasangan sampai tua’ itulah jawaban semua lesbian, ketika ditanya apa harapan hidupnya,” kata salah seorang teman. “Tanya ke aku dong…,” pintaku. “Ya, kalau kamu, apa harapan hidupmu sebagai lesbian?” tanyanya. “Boleh nggak sebagai manusia saja, nggak usah sebut sebagai lesbian,” pintaku lagi, ngeyel.</p>
<p>Jawaban saya, memiliki pasangan maupun tidak, saya ingin jadi manusia yang berguna bagi orang-orang di sekitar saya.  Kalimat “memiliki pasangan maupun tidak” adalah penekanan saya terhadap penyangkalan asumsi bahwa semua lesbian mempunyai harapan itu.</p>
<p>Sebenarnya pembicaraan ini diawali dengan debat kami akan perlunya mempertahankan hubungan dengan pasangan dengan cara-cara tertentu.  Yang disebutkan dengan cara-cara tertentu oleh teman saya tersebut adalah hubungan pertemanan dia dan pasangannya dengan teman-teman mereka sangat terarah dan terstruktur. Teman hetero banyak, tapi khusus untuk teman lesbian, perlu kehati-hatian tersendiri. Hal inilah yang saya tolak mentah-mentah. Pertama, terbayang gerak sosial teman saya itu jadi sangat terbatas.  Kedua, status saya sebenarnya adalah teman lesbiannya (bukan mereka) karena saya tidak kenal partnernya.  Jadi, kemungkinan saya harus siap-siap ditendang.</p>
<p>Alasannya, kata teman saya itu, praktek teman-makan-teman sudah bukan rahasia lagi, dan sering terjadi di kelompok lesbian. <em>What??!!</em> Tambah nggak bisa terima lagi saya dengan alasan tersebut.  Urusan teman-makan-teman memang sering terjadi di kelompok lesbian, eh ralat, di mana pun sebenarnya, bukan di kelompok lesbian saja.  Saya pun pernah mengalaminya, pasangan hetero yang menikah pun kita lihat pernah mengalaminya. Namun, bukankah selingkuh atau tidak itu tergantung orangnya? Bukankah meski tanpa akad nikah atau pemberkatan pernikahan, pasangan lesbian juga berkomitmen untuk selalu bersama, saling setia?</p>
<p>Kalau ada peraturan pembatasan pergaulan, menurut saya itu sama artinya dengan tidak ada kepercayaan satu sama lain, terjadi pembelengguan kebebasan satu sama lain, melanggar privasi seseorang dalam melaksanakan haknya sebagai mahluk sosial. Mukaku pun merah padam, menahan kesal.</p>
<p>Kita ambil contoh, <em>webzine </em>SepociKopi ini, di sinilah tempat lesbian-lesbian berkumpul. Sama-sama membaca, sama-sama menulis, sama-sama berkomentar, dan seterusnya. Apakah interaksi seperti ini juga dilarang? Teman saya bilang, “Justru di SepociKopi banyak sekali orang-orang keren yang pintar-pintar sebagai penulis maupun pembaca, inilah godaan besar buat lesbian yang perpasangan. Saya malah nggak boleh buka website SepociKopi lagi,” katanya.</p>
<p><em>Oh</em> <em>God.</em> Saya pun nyerocos. “Lho, biar pintar dan cakep, emangnya mau diapain? Kamu kan udah punya pasangan, ya jangan dong,” kataku.</p>
<p>“Prakteknya susah, Yas, itu tetap menjadi godaan buat kami, daripada terjadi apa-apa, maka saya mau saja menuruti kata-kata partner saya, dia juga nggak buka-buka SepociKopi kok,” jawabnya.</p>
<p>Benarkah? Saya tetap dengan keteguhan hati bahwa pergaulan penting buat hidup kita. Pergaulan dengan sesama lesbian juga demikian.  Alangkah sayangnya kalau SepociKopi yang brilian ini dibiarkan berlalu, tanpa pernah dikunjungi. Benarkah kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk mempertahankan hubungan kalau elemen godaan mengguncang hati kita? Bagaimana dengan pasangan Alex dan Lakhsmi yang mengelola <em>webzine </em>ini, dan berinteraksi dengan seluruh unsur-unsurnya? Manusia memang berbeda-beda, ya?</p>
<p>Harapan memiliki pasangan sampai tua tinggal harapan kalau prakteknya harus ada pembatasan pergaulan seperti yang dianut teman saya itu. Itulah sebabnya jawaban saya di atas jadi seperti tadi, menekankan kata-kata berpasangan maupun tidak…</p>
<p>Teman saya itu dan pasangannya termasuk yang awet.  Mereka sudah bertahun-tahun perpartner, tahun ini sudah memasuki hitungan berapa belas tahun mereka bersama. Sebelum ini saya sering bertanya kepadanya, apa sih yang membuat hubungan kalian awet? Jawabannya ya gitu-gitu deh, ada kata saling setia, dan lain-lain.  Tapi rupanya ada strategi lain, batasi pergaulan satu sama lain untuk bergaul di lingkungan lesbian.  Kalau memang begitu strategi menjaga hubungan, terima kasih deh…! Mendingan saya tidak berpartner.</p>
<p>Namun, saya kan orang yang optimis, saya masih yakin akan ada partner untuk saya yang tanpa perlu batas membatasi pergaulan akan awet sampai tua. Gitu aja harapannya, kok repot.</p>
<p>Kalau harapan itu tidak terkabul? Persiapan diri secara mandiri terhadap diri sendiri kan sudah saya rencanakan dengan rapi. Investasi masa depan, asuransi kesehatan dan asuransi jiwa sudah saya persiapkan juga. Sekarang urusan hati. Ya siap-siaplah dari sekarang. Menjalin hubungan baik dengan keluarga dan teman sebanyak-banyaknya adalah termasuk persiapan itu. Tidak ada yang tahu nasib kita di masa yang akan datang. Akan sampai tuakah usia kita? Atau besok sudah dijemput maut? <em>Wallohu&#8217;alam</em>.</p>
<p>@Yasmin, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/21/berpasangan-sampai-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Have Your Say: Saya Adalah Tipe Q</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/20/have-your-say-saya-adalah-tipe-q/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/20/have-your-say-saya-adalah-tipe-q/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Jan 2012 02:00:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Have Your Say]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Label]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17317</guid>
		<description><![CDATA[Masih belum mengenal orientasi seksual dengan tepat? Pasti masih ada banyak orang yang kebingungan dengan orientasi seksualitasnya. Dalam label LGBTIQ, orang-orang ini adalah mereka yang masuk dalam kategori Q, yaitu Questioning. Inilah manusia yang masih bertanya-tanya dan mencari tahu tentang orientasi seksualnya. Bagaimana lesbian menyikapi persahabatan dengan orang seperti ini? Dengarkan kisah sahabat kita, miss_lazy77, yang masih mencari kejujuran atas orientasi seksualnya.
Untuk orientasi seksual, sejujurnya saya adalah orang yang paling bingung seperti apa saya sebenarnya. Tipe heterokah, lesbiankah atau biseksualkah. Saya sendiri tidak begitu memahami, karena sampai detik ini saya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/raindrops_of_a_flower_by_whatsaworld-d3g0xk6.jpg"><img class="size-medium wp-image-17401 alignleft" title="raindrops_of_a_flower_by_whatsaworld-d3g0xk6" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/raindrops_of_a_flower_by_whatsaworld-d3g0xk6-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>Masih belum mengenal orientasi seksual dengan tepat? Pasti masih ada banyak orang yang kebingungan dengan orientasi seksualitasnya. Dalam label LGBTIQ, orang-orang ini adalah mereka yang masuk dalam kategori Q, yaitu Questioning. Inilah manusia yang masih bertanya-tanya dan mencari tahu tentang orientasi seksualnya. Bagaimana lesbian menyikapi persahabatan dengan orang seperti ini? Dengarkan kisah sahabat kita, miss_lazy77, yang masih mencari kejujuran atas orientasi seksualnya.</em></p>
<p>Untuk orientasi seksual, sejujurnya saya adalah orang yang paling bingung seperti apa saya sebenarnya. Tipe heterokah, lesbiankah atau biseksualkah. Saya sendiri tidak begitu memahami, karena sampai detik ini saya seolah membiarkan segala sesuatunya berjalan begitu saja, seperti air mengalir.</p>
<p>Saya mulai penasaran dengan orientasi seksual setelah saya mengenal Andien, sahabat saya yang luar biasa saya sayangi. Semakin dewasa, saya semakin intens mencari jati diri saya. Karena begitu besar rasa sayang saya kepada Andien, dalam beberapa bulan terakhir, saya getol mencari artikel-artikel homoseksual, khususnya lesbian.</p>
<p>Sempat ngeri, karena beberapa artikel ketika saya mengetik <em>keyword </em>“Lesbian”, sebagian besar artikel yang keluar dari <em>search engine Google</em> adalah cerita-cerita panas tentang lesbian. Sempat berfikir, kaum homoseksual sepertinya memiliki kecenderungan dengan aktivitas seksual yang lebih tinggi dibanding mereka yang hetero. Kengerian lain yang sempat saya baca adalah mengenai kecenderungan sifat posesif dari kaum homoseksual. Memiliki perasaan yang lebih mendalam, umumnya pasangan homo lebih sulit melepaskan pasangannya ketika rasa cinta itu masih terpendam dalam hati. Bahkan dari artikel yang pernah saya baca, kaum homo lebih cenderung pendendam dan memiliki potensi lebih besar untuk membunuh. Entah juga sih kebenarnnya, itu hanya sebatas pengetahuan yang pernah saya baca.</p>
<p>Beberapa artikel juga memaparkan lesbian dari sudut pandang psikologi. Ini terdiri dari apa saja faktor seseorang bisa menjadi lesbian, pertentangan batin yang mereka rasakan, serta bagaimana menyikapi orientasi seksual lesbian yang dianggap &#8220;menyimpang&#8221;. Dari sini, saya bisa memandang bahwa lesbian sama seperti manusia lainnya yang cukup menarik untuk dipelajari dan dikaji lebih lanjut dari sudut pandang keilmuan.</p>
<p>Saya menghabiskan cukup banyak waktu untuk membaca artikel-artikel terkait homoseksual, tak hanya lesbian tetapi juga kaum gay, hingga saya menemukan situs Sepocikopi. Wow, benar-benar tidak menyangka. Membaca SepociKopi membuat saya berada di antara takjub, heran, aneh, tetapi juga salut. Takjub dan heran karena ternyata ada situs yang benar-benar menampung dan mungkin menjadi wadah para perempuan lesbian yang selama ini menjadi kaum minoritas.</p>
<p>Pasti semua sependapat, bahwa kehadiran SepociKopi menjadi oase bagi para lesbian di Indonesia. Di tengah keheranan saya, saya juga salut dengan SepociKopi karena tulisan-tulisan dan artikel yang disajikan berisi kisah nyata, opini, dan wawasan terkait dunia lesbian yang dikemas dari sudut pandang yang berbeda, apa adanya, dan mengedepankan intelektualitas. Dan yang paling penting, tidak berbau pornografi seperti artikel-artikel lesbian kebanyakan.</p>
<p>Hampir setiap hari saya menyempatkan diri untuk membaca Sepocikopi. Walaupun tidak membenarkan orientasi seksual para lesbian, namun membaca SepociKopi membuat saya bisa melihat lesbian dari sudut pandang lain. Beberapa cerita, bahkan membuat saya terharu dan kagum atas mereka apa yang mereka alami dan bagaimana mereka menyikapinya. Saya benar-benar belajar dari mereka.</p>
<p>Dari artikel, saya mencoba menyambangi ke jejaring social Facebook untuk mengenal lebih dekat dengan kaum lesbian. Dari hasil pencarian pertemanan dengan kata kunci “lesbian” di sana saya menemukan banyak akun-akun lesbian, dan saya memilih membuka akun komunitas lesbian. Sempat membaca status-status yang ditulis serta komen-komen yang ditinggalkan. Hal ini cukup mengejutkan buat saya. Jadi sedikit geli, aneh, unik, serem, dan ada lucu-lucunya. Dengan beberapa pertimbangan, saya pun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan nomor handphone (HP) pada dinding komentar di salah satu status mereka.</p>
<p>Malamnya saya mendapatkan SMS yang tiba-tiba mengajak berkenalan. Dari SMS-nya, ia mengaku berasal dari Surabaya dan menanyakan hal tentang saya. SMS kedua datang dari teman lesbian di Jakarta dan terakhir dari Sukabumi, hanya tiga orang. Yang membuat saya heran, SMS-SMS perkenalan yang awalnya begitu semangat dan menggebu-gebu, semua berakhir begitu saja ketika mereka mengetahui saya bukan atau lebih tepatnya belum mengetahui apakah saya lesbian atau tidak. Lah, faktanya seperti itu, mau mengakui lesbian kok rasanya aneh. Faktanya saya tidak pernah pacaran dengan perempuan dan tidak pernah punya teman lesbian.</p>
<p>Mau tidak mengakui, di satu sisi saya pernah begitu menyayangi seorang perempuan. Makanya saya bilang “Tidak tau.” atau “Bukan.”, setiap kali mereka bertanya “Apakah kamu lesbian?” Jawaban saya berakhir dengan menjauhnya mereka, bahkan mereka sama sekali tidak membalas SMS-SMS saya berikutnya. Malah, slah satu dari mereka mereka yang begitu menggebu-gebu berkenalan dengan saya, mendadak berkata bahwa dia bukan lesbian dan meminta maaf kepada saya. Haduh, saya jadi bingung sendiri. Kenapa mereka seperti itu?</p>
<p>Selama ini banyak sekali lesbian yang beranggapan mereka tidak diterima masyarakat karena dianggap menyimpang. Homoseksual menganggap selama ini masyarakat yang tidak mau menerima kehadirannya. Tapi kenapa ketika ada seseorang yang ingin mengenal keberadaan kaum lesbian, justru lesbian malah bersikap introver dan menarik diri? Padahal saya tidak berniat menjadikan lesbian sebagai objek pemuas rasa penasaran saya. Kendati sedikit kecewa, namun tetap berusaha untuk bisa memahami sikap mereka. Mungkin bukan hal yang mudah untuk bisa membuka diri dengan orang di luar komunitas lantaran menganggap diri lesbian sebagai kaum berbeda. Atau mungkin juga karena memang tak nyaman untuk menjalin hubungan/persahabatan dengan orang baru yang bukan/belum lesbian?</p>
<p>Entahlah, sampai sekarang saya masih bingung dengan orientasi seksual saya dan belum memiliki seorang teman lesbian satu pun. Adakah yang ingin menjadi sahabat saya?</p>
<p>@miss_lazy77, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/20/have-your-say-saya-adalah-tipe-q/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Setelah Pesta Usai</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/17/setelah-pesta-usai/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/17/setelah-pesta-usai/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jan 2012 02:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[Ulang Tahun]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[ulang tahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17418</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Krishna A
Kenal Sepocikopi dari mana?  Waduh, penyakit pikun saya mendadak kambuh nih, dari mana ya? Kapan ya? Kening saya berkerut-kerut, memikirkan dari mana saya pertama kali mengenal situs lesbian yang membuat saya kecanduan bak junkies&#8230;
Setelah bertapa tiga hari tiga petang (kalau malam saya jelas tidur pulas), saya akhirnya teringat pada rangkaian memori tentang SepociKopi. Saya mengenal SepociKopi ketika surfing di dunia maya, hampir 3 tahun yang lalu. Tampilannya belum sekeren saat ini. Kolom komentarnya belum begitu interaktif. Dan seingat saya hanya sedikit penulis yang muncul sebagai kontributor.
Mengenal SepociKopi seketika ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/after-party.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17429" title="after party" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/after-party-300x273.jpg" alt="" width="300" height="273" /></a>Oleh: Krishna A</p>
<p>Kenal Sepocikopi dari mana?  Waduh, penyakit pikun saya mendadak kambuh nih, dari mana ya? Kapan ya? Kening saya berkerut-kerut, memikirkan dari mana saya pertama kali mengenal situs lesbian yang membuat saya kecanduan bak <em>junkies</em>&#8230;</p>
<p>Setelah bertapa tiga hari tiga petang (kalau malam saya jelas tidur pulas), saya akhirnya teringat pada rangkaian memori tentang SepociKopi. Saya mengenal SepociKopi ketika <em>surfing </em>di dunia maya, hampir 3 tahun yang lalu. Tampilannya belum sekeren saat ini. Kolom komentarnya belum begitu interaktif. Dan seingat saya hanya sedikit penulis yang muncul sebagai kontributor.</p>
<p>Mengenal SepociKopi seketika menimbulkan rasa bahagia di hati saya, karena di dunia nyata banyak teman lesbian yang saya temui <em>happy </em>dengan sebotol bir dingin, sebatang rokok, dan seorang perempuan sebagai pacar. SepociKopi memberikan sesuatu yang berbeda tentang dunia lesbian. Ternyata dunia ini tidak selebar daun pisang, Kawan! <em>So, where have you been, dear?</em> Masih banyak yang bisa diraih dalam kehidupan ini. Membaca tulisan di SepociKopi memberi pendangan baru untuk berusaha menjadi seseorang yang lebih baik lagi.</p>
<p>Ada tulisan Kak Alex tentang buku, film, dan perkembangan LBGT di seluruh dunia yang bikin melek bahwa LBGT di luar sana sedang mencari pengakuan akan eksistensi mereka. Tulisan Kak Lakhsmi yang penuh makna dan indah untuk direnungkan, terkadang sarat akan kritik dan membuat pusing karena imajinasi saya tidak sanggup untuk mengikuti aliran kata-katanya (<em>poor me, processor</em>-nya masih keluaran lama, jadi <em>loading</em>-nya lambat, he he he). Ada Kak Rain dengan kisah ajaib para lesbian yang ditemui dalam berbagai suasana, sangat disarankan bagi yang ingin mengasah lesbidar-nya. Tulisan Kak Deni dan Kak Frizzy Jo dengan cerita-cerita menyentuh hati dan penuh makna, serta duet maut mereka di kolom S.O.S yang bisa membuat cengar-cengir di depan layar monitor, hingga ngakak guling-guling tanpa kehilangan inti cerita yang disampaikan. Ada lagi rangkaian kisah Kak Bening, tentang banyak hal mengenai cinta dan kepercayaan dalam suatu hubungan. Dan masih banyak penulis lainnya yang muncul di halaman SepociKopi, namun keterbatasan memori saya menjadi penghambat untuk mengingat mereka satu persatu.</p>
<p>Saya sering berpikir bagaimana sebenarnya SepociKopi dikelola, siapa yang menentukan tampilan, tema tulisan sampai kelayakan tulisan yang boleh terbit di SepociKopi. Tapi dapur SepociKopi ternyata tidak sesederhana itu, terlebih setelah menjadi sebuah <em>website</em>, tentu yang dibutuhkan tidak hanya dapur tulisan saja, namun juga dapur <em>supporting</em>-nya seperti server, jaringan, dll.</p>
<p>Rasa salut akan dedikasi orang-orang dibelakang layar SepociKopi makin bertambah, setelah di kantor saya berpindah divisi dan berada satu lantai dengan divisi pengelolaan jaringan. Saya melihat sendiri bagaimana mereka jatuh-bangun jika ada masalah server, jaringan, serangan virus sampai dengan <em>blocking ip address</em> karena disusupi oleh orang tidak bertanggung jawab. Jika di kantor mereka bekerja karena digaji, di SepociKopi&#8212;yang merupakan situs nirlaba&#8212;semua dilakukan karena kecintaan akan situs yang menjadi tempat mampir, tidak hanya para lesbian, namun juga gay, heteroseksual, sampai mahasiswa yang ingin mengadakan penelitian.</p>
<p>Rasa salut, bangga dan terima kasih mungkin tidak akan cukup menggambarkan makna keberadaan SepociKopi di antara para penggemarnya, termasuk saya pribadi. Dalam hingar-bingar dan gegap-gempita perayaan lima tahun berdirinya situs ini, tersimpan pertanyaan, apakah setelah euforia ini berakhir, kita akan berhenti? Tentu tidak. Masih banyak pekerjaan rumah yang tersisa, masih banyak harapan baru untuk situs tercinta, masih banyak hal dan ide gila nan cemerlang untuk diwujudkan. Dan kitalah yang berperan serta di dalamnya, menjadikan SepociKopi rumah yang nyaman dan indah untuk kita semua.</p>
<p><em>Happy Birthday SK!! We love you.</em></p>
<p><em>@</em>Krishna, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/17/setelah-pesta-usai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Ulang Tahun, Semoga Semakin Yahuuuud!</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/14/selamat-ulang-tahun-semoga-semakin-yahuuuud/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/14/selamat-ulang-tahun-semoga-semakin-yahuuuud/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Jan 2012 00:27:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulang Tahun]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[ulang tahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17182</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Yasmin
Sepanjang umurnya yang lima tahun, saya mengenal SepociKopi di setengah umurnya. Kok mbulet ya? Maksudnya saya mengenal majalah lesbian online ini baru sekitar dua setengah tahun lalu.  Berawal dari seseorang yang transparan&#8212;ha ha ha maksudnya Bening&#8212;meng-add saya di Facebook. Siapakah Bening? Seseorang menjawab: anggota redaksi SepociKopi.  Saya tanya lagi: Apaan tuh SepociKopi? Dijawab: Ah, panjang deh jadinya&#8230; Masuk aja langsung ke website-nya.
Begitu masuk, Jreeeng…. Wiiih…. Waduh…. Buset…. Gokil! Inilah gudang jawaban yang saya cari-cari selama ini.  Ibaratnya, saya sudah lama mengerjakan soal-soal dari buku kumpulan soal, selama ini saya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/bobsmade_birthday_card_by_bobsmade-d49mdzs.jpg"><img class="size-medium wp-image-17346 alignleft" title="bobsmade_birthday_card_by_bobsmade-d49mdzs" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/bobsmade_birthday_card_by_bobsmade-d49mdzs-211x300.jpg" alt="" width="261" height="350" /></a>Oleh: Yasmin</p>
<p>Sepanjang umurnya yang lima tahun, saya mengenal SepociKopi di setengah umurnya. Kok <em>mbulet </em>ya? Maksudnya saya mengenal majalah lesbian <em>online </em>ini baru sekitar dua setengah tahun lalu.  Berawal dari seseorang yang transparan&#8212;ha ha ha maksudnya Bening&#8212;meng-<em>add </em>saya di Facebook. Siapakah Bening? Seseorang menjawab: anggota redaksi SepociKopi.  Saya tanya lagi: Apaan tuh SepociKopi? Dijawab: Ah, panjang deh jadinya&#8230; Masuk aja langsung ke <em>website</em>-nya.</p>
<p>Begitu masuk, <em>Jreeeng</em>…. Wiiih…. Waduh…. Buset…. Gokil! Inilah gudang jawaban yang saya cari-cari selama ini.  Ibaratnya, saya sudah lama mengerjakan soal-soal dari buku kumpulan soal, selama ini saya jawab-jawab saja, tanpa tahu apakah jawabannya benar atau tidak.  Nah, menemukan SepociKopi seperti menemukan buku kunci jawaban soal-soal tersebut.  Soal-soal dalam hal ini, persoalan kehidupan yang menggayuti saya selama hidup sebagai lesbian.<em> Which is</em>, dari lahir!</p>
<p>Sebenarnya yang dihadirkan di SepociKopi bukan jawaban benar atau salah, tapi paling tidak di sini terjawab pertanyaan saya selama ini, apakah saya ini mahluk yang aneh sebagai lesbian? Di sini terjawab bahwa kita tidak sendirian.  Banyak sahabat-sahabat berorientasi seksual sama yang sama-sama menikmati SepociKopi.  Sebagai penulis, sebagai pengomentar, dan yang paling banyak, sebagai pembaca. Isinya pun bukan menyebutkan ini yang benar dan itu yang salah, tapi menghadirkan berbagai pendapat dan opini tentang lesbian yang banyak samanya dengan pendapat saya. Ada juga yang berbeda pendapat tapi membuat saya manggut-manggut: oooh ada juga ya yang berpendapat demikian. Belum lagi artikel-artikel yang sarat info, nonton film apa, baca buku apa, dengerin lagu apa, sampai pakai parfum apa…. yang bisa/biasanya dilakukan lesbian.</p>
<p>Sebagai orang yang berkecimpung di bidang media, saya pun merasakan gairah yang sama ketika membayangkan proses pengkonsepan, penulisan, pengeditan, dan penataan majalah <em>online </em>ini.  Saya bandingkan dengan prosesnya di tempat saya bekerja. Gairah yang sama, komitmen yang sama, namun SepociKopi lebih hebat karena segalanya tentang lesbian dan pekerjanya berjiwa tulus dan ikhlas. Nggak urusan digaji seperti kalau saya mengelola majalah di kantor. Hebat kan?</p>
<p>Persahabatan dengan Bening berlangsung terus, sejalan dengan aktivitasku membaca SepociKopi.  Cerita-cerita Bening tentang serunya mengelola redaksi SepociKopi sering kali mencuat ke permukaan obrolan kami sehari-hari.  Sampai suatu hari Bening berkata, “Yas, tulisan Yasmin aku publikasikan di SepociKopi ya?” Eh, yang bener? Mungkinkah tulisan saya laku buat mengisi majalah lesbian <em>online </em>sekaliber SepociKopi? Ya mungkin saja, <em>abrakadabra</em>! Tau-tau sudah masuk. Tulisan saya yang dimuat itu membuat hati saya mekar, bangganya minta ampun. Apalagi beberapa pembaca mengomentari tulisan itu.</p>
<p>Sebenarnya menjadi penulis di SepociKopi bukan cita-cita saya. Saya senang membaca dan ingin teman-teman lesbian juga senang membaca SepociKopi.  Saya bahkan seringkali mencibir orang-orang yang berambisi menulis walau dengan keterbatasan kemampuannya menulis. Sering kali dibantah Bening.</p>
<p>“Ning, kenapa sih orang-orang tuh maksa banget pengen menulis di SepociKopi? Begitu masuk SepociKopi bilangnya aku ingin menulis. Kenapa nggak ingin membaca? Mereka udah baca semua artikelnya belum? Dapat sesuatu nggak dari situ? Kenapa buru-buru ingin menulis? Emang tulisannya bagus?” begitu biasanya gaya saya nyerocos, kadang-kadang setajam silet.</p>
<p>Biasanya Bening menjawab, “Tapi Yas, kan SepociKopi juga membutuhkan penulis-penulis untuk mengisi halaman-halaman SepociKopi dari waktu ke waktu,” begitu jawabnya. Lalu kalau lagi banyak energi saya bantah lagi. Atau ya sudah, biarkan kami berbeda. Lalu ngomongin yang lain lagi.</p>
<p>Hubungan aneh saya dan Bening ini kemudian menyebabkan saya kena tulahnya. Suatu hari saya sedang gemas dengan suatu persoalan, persoalan lesbian tentunya.  Kemudian saya tulis jadi artikel dan dikirim ke Bening. “Ning, ini aku tulis artikel untuk SepociKopi.  Terserah mau diapain.” Ha ha ha, kalimat yang aneh ya? Sebenarnya saya mau menulis begini “Ning aku kirim artikel, mohon dimuat di SepociKopi” Wihiiiiiii, saya nggak berani dong mengeluarkan kalimat seperti itu ke Bening. Sumpeeeh! Itu namanya kena tulah.</p>
<p>Kali pertama itu kemudian disusul dengan kali kedua, dan seterusnya. Senangnya bisa ikut-ikutan mengisi halaman-halaman SepociKopi yang kini berulang tahun kelima. Hip hip hura… Lima tahun umur yang cukup panjang buat majalah lesbian <em>online </em>yang  paling yahuud setanah air.  Dari dulu sampai sekarang, konstan nggak  pake surut. Hebat! Semoga panjang umur. Panjang umur kehebatannya,  menjadi bacaan bermanfaat buat lesbian-lesbian di Indonesia. Buat penggagas, pengelola, penulis, dan pembacanya. Semoga SepociKopi makin jaya abadi kayak nama toko elektronik. Uhuuuuy….</p>
<p>@Yasmin, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/14/selamat-ulang-tahun-semoga-semakin-yahuuuud/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tajuk: Dongeng Cinderella dan Kita</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/10/tajuk-dongeng-cinderella-dan-kita/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/10/tajuk-dongeng-cinderella-dan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 10:02:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Tajuk]]></category>
		<category><![CDATA[Coming Out]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[ulang tahun]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17208</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nuha Guwa
Pada zaman dahulu kala, di sebuah kerajaan besar, hiduplah seorang ibu peri yang pandai merapal sihir, baik hati, penggugup, dan pemalu. Jakarta, sebagai kerajaan padat dengan jurang-jurang sosial yang tinggi membuatnya menjadi linglung. Kehidupan manusia penuh sesak, kompleksitas perbedaan strata hidup antara kaya miskin, bodoh pintar, jahat baik, di antara pemukiman mewah dan kumuh, membuat hari-hari ibu peri yang bernama Lakhsmi tidak enak. Makan salah, tidur juga salah. Tongkat sihirnya menjadi berdebu karena sering terlupakan.
Tak jelas siapa tokoh antagonis dalam kisah ini. Apakah keadaan, ketakutan, kemiskinan, kecemasan, atau ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/cinderella.jpg"><img class="size-full wp-image-17209 alignleft" title="cinderella" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/cinderella.jpg" alt="" width="259" height="194" /></a>Oleh: Nuha Guwa</p>
<p>Pada zaman dahulu kala, di sebuah kerajaan besar, hiduplah seorang ibu peri yang pandai merapal sihir, baik hati, penggugup, dan pemalu. Jakarta, sebagai kerajaan padat dengan jurang-jurang sosial yang tinggi membuatnya menjadi linglung. Kehidupan manusia penuh sesak, kompleksitas perbedaan strata hidup antara kaya miskin, bodoh pintar, jahat baik, di antara pemukiman mewah dan kumuh, membuat hari-hari ibu peri yang bernama Lakhsmi tidak enak. Makan salah, tidur juga salah. Tongkat sihirnya menjadi berdebu karena sering terlupakan.</p>
<p><span id="more-17208"></span>Tak jelas siapa tokoh antagonis dalam kisah ini. Apakah keadaan, ketakutan, kemiskinan, kecemasan, atau ketidaktahuan, namun kekejaman ala ibu tiri pada masyarakat &#8211; sadar atau tanpa sadar &#8211; menyentuh banyak lesbian yang hidup dalam ketidakadilan. Pandangan hina dan rendah terhadap homoseksual sebagai suku pendosa memang masih diberlakukan. Ibu peri Lakhsmi semakin kalut, seperti dikejar-kejar mimpi buruk setiap malam. Apa yang bisa dia lakukan untuk merapal sihir ajaib, agar setidaknya lesbian bisa merasakan kegembiraan menjadi seorang putri dan pengeran kerajaan?</p>
<p>Saat perempuan-perempuan lain sibuk mendandani diri untuk menghadiri pesta dan mengejar nama besar di istana, para lesbian yang ada di cerita ini diberi nama sebagai Cinderella &#8211; yang berarti gadis kotor dan penuh debu &#8211; masih <em>rempong </em>mencari-cari identitas diri. Boro-boro menghadiri pesta dansa sang pengeran, mengurus diri sendiri aja kacau balau. Pandangan bahwa kelesbianan adalah penyakit yang bisa disembuhkan sangat merisaukan. Para ibu tiri percaya bahwa membawa Cinderella ke dukun bisa membuatnya menjadi kaum <em>straight</em>. Mereka juga melakukan tindakan kasar dan tak beradab, semena-mena, dan penuh kejahatan.</p>
<p>Suatu malam, Lakhsmi, si ibu peri penggugup, menyihir kereta kuda dengan segala kemewahannya. Dibantu oleh sahabat-sahabatnya, Cinderalla menjadi seorang putri yang cantik jelita. Bersama kereta kuda itu, ibu peri dan Cinderella bersama-sama pergi ke istana bernama SepociKopi. Di istana itu, para putri cantik dan tampan menikmat satu malam pesta dansa yang menggembirakan. Lihat, betapa meriahnya suasana! Sosok-sosok yang berbahagia muncul satu per satu di depan pintu istana, dengen kereta kencana emas yang berkelap-kelip mewah.</p>
<p>Pesta tidak pernah usai. Setiap malam, para putri berjalan ke pesta SepociKopi dengan kegembiraan. Setiap malam, tujuh hari seminggu, selama lima tahun. Ibu peri Lakhsmi yang baik hati sudah tidak bekerja sendirian lagi. Sihirnya mampu dirapal oleh para putri-putri Cinderella yang lain. Sampai detik ini, pesta masih berjalan dengan ritme kerja yang luar biasa. Begitu banyak sepatu-sepatu tertinggal di tangga ketika jam berdentang pukul dua belas malam. Tidak ada yang ingin meninggalkan pesta SepociKopi.</p>
<p>Karakter dan cerita di atas tidak saya lebih-lebihkan, juga tidak semata-mata dibuat  untuk mengundang simpati atau tawa. Atau ingin membuat sosok lesbian terlihat suci. Semua kisah kegembiraan dan kesedihan yang terjadi pada setiap malam di pesta SepociKopi hadir apa adanya. Dongeng Cinderella di sini berbeda dengan dongeng Cinderella yang heteronormatif.  Sebagaimana kehidupan putri dan pangeran yang berbahagia di akhir kisahnya, SepociKopi berharap lesbian menjadi perempuan-perempuan bisa menggali  “harta karun” dan “berlian yang belum diasah” di setiap pribadi masing-masing sebelum menemukan pasangan hidup mereka.</p>
<p>Namun, berbeda dengan dongeng-dongeng lainnya, Cinderella di kisah ini belum berakhir. Tidak sama dengan cerita Cinderella yang ditutup dengan kalimat <em>&#8220;happily ever after&#8221;</em>, Cinderalla lesbian masih perlu berjuang lebih keras lagi untuk mencapai kebahagiaan selama-lamanya. Bahkan masih banyak yang cemas menunggu pukul dua belas malam saat sihir ibu peri berakhir, sehingga kereta yang membawanya berubah menjadi labu dan teman-temannnya kembali berubah wujud menjadi tikus-tikus dan burung. Pertarungan antara pagi, siang malam; dunia maya dan dunia asli adalah perjuangan yang nyata.</p>
<p>Sayang, mantra sihir ibu peri Lakhsmi dan ibu-ibu peri lainnya hanya bertahan sampai tengah  malam. Tapi memang begitulah yang harusnya terjadi, sebab sosok-sosok  lesbian tidak perlu menjadi lesbian setiap detik tapi melainkan menjadi  manusia biasa yang bisa berkarya pada sepanjang hari. Namun saya percaya, suatu hari akan hadir mantra sihir yang lebih kuat sehingga para lesbian bisa berpesta di istana SepociKopi sepanjang hari dan menjadi permaisuri/pangeran yang berkuasa di seantero negeri. Dengan begitu, akhir kisah ini bisa ditutup dengan kalimat .<em>..And they live happily ever after</em>.</p>
<p>Selamat ulang tahun SepociKopi tercinta.</p>
<p>@Nuha Guwa, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/10/tajuk-dongeng-cinderella-dan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>L’Amour: Uhuy! Tahun Baru, Pacar Baru</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/01/lamour-uhuy-tahun-baru-pacar-baru/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/01/lamour-uhuy-tahun-baru-pacar-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 13:57:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[L'Amour]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Coming Out]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17029</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Akapela
Berawal dari rasa penasaranku sama lesbi-lesbi kampus (baca tulisan sebelumnya), aku pun membuat account Twitter khusus lesbian. Account ini terbilang frontal sebab kujelaskan di sana bahwa aku lesbian yang kuliah di kampus X.
Jujur saja, niatku cuma ingin menemukan sekaligus berkawan dengan sesama lesbian satu perguruan. Dan, benar aja, aku berhasil menyaring beberapa lesbian kampus dari sana, walaupun ternyata semuanya bernasib sama sepertiku; buta sama lesbi-lesbi kampus.
Namun anehnya malah kutemukan cahaya terang benderang di antara kenalan-kenalanku itu yang sama-sama suram itu.
Hari itu (aku lupa tepatnya hari apa), follower-ku bertambah satu. Aku ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/love_at_school_by_ming_shuw-d3h1gid.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17035" title="love_at_school_by_ming_shuw-d3h1gid" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/love_at_school_by_ming_shuw-d3h1gid-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Oleh: Akapela</p>
<p>Berawal dari rasa penasaranku sama lesbi-lesbi kampus (<a href="http://sepocikopi.com/2011/06/22/fabulezlycool-lesbi-lesbi-kampus/" target="_blank">baca tulisan sebelumnya</a>), aku pun membuat <em>account </em>Twitter khusus lesbian. <em>Account </em>ini terbilang frontal sebab kujelaskan di sana bahwa aku lesbian yang kuliah di kampus X.</p>
<p>Jujur saja, niatku cuma ingin menemukan sekaligus berkawan dengan sesama lesbian satu perguruan. Dan, benar aja, aku berhasil menyaring beberapa lesbian kampus dari sana, walaupun ternyata semuanya bernasib sama sepertiku; buta sama lesbi-lesbi kampus.</p>
<p>Namun anehnya malah kutemukan cahaya terang benderang di antara kenalan-kenalanku itu yang sama-sama suram itu.</p>
<p>Hari itu (aku lupa tepatnya hari apa), <em>follower</em>-ku bertambah satu. Aku iseng mengecek siapakah si <em>follower </em>ini. Oh, Stobeli namanya. Namun, ah&#8230; twitter-nya di-<em>protect</em>. Entah mengapa aku jadi penasaran sama <em>account </em>beravatar bintang itu. Kukirin <em>request </em>untuk mem-follow-nya, agar bisa berinteraksi dengannya.</p>
<p>Hari itu&#8212;kali ini aku ingat jelas, hari kamis&#8212;<em>following </em>ku bertambah satu. Oh, Stobeli baru <em>approve request-</em>ku. Tak lama ada mention dari dia. Singkat cerita kami berkenalan. Tidak disangka ternyata kami satu perguruan, satu angkatan, bahkan satu nasib… sama-sama jatuh hati sama sahabat sendiri yang tentunya <em>straight</em>. Haish!</p>
<p>Kami pun intens curhat tentang gebetan masing-masing. Dia teman yang enak diajak <em>chat</em>. Berhubung aku termasuk orang yang waspada sama orang baru, jadi setengah mati kucari-cari siapa wajah di balik <em>account </em>beravatar bintang tersebut. Siapa tau ternyata cowok kurang kerjaan, kan seram.</p>
<p>Karena mengaku seangkatan denganku, lebih mudah bagiku untuk menebak siapakah gerangan si Stobeli ini. Namun menurutnya, semua tebakanku salah! Payah deh. Hingga akhirnya malah dia yang berhasil menebak dengan benar siapa diriku. Hingga suatu saat, giliran dia yang mengaku (tentunya setelah kupaksa) bahwa dia adalah Audrey.</p>
<p><em>What</em>!?</p>
<p>Kaget. Nggak percaya!</p>
<p>Masalahnya, Audrey bukanlah orang baru bagiku.</p>
<p>Di pengujung masa sekolahku, aku mengikuti sebuah forum khusus remaja-remaja <em>mupeng </em>yang pengen masuk kampus X. Di sana aku sempat penasaran banget sama sosok dengan nama ID Chiz_Cake yang tampak jenius tapi tetap rendah hati.</p>
<p>Tahun pertama kuliah, tidak sengaja aku melihat tulisan Chiz_Cake@yahoo.com di deretan nama email mahasiswa fakultas temanku. Wah, pasti ini Chiz_Cake yang di forum itu! Batinku bergejolak. Dari sana pula aku tahu pemilik ID Chiz_Cake bernama asli Audrey. Lalu kutanya temanku, “Audrey itu yang mana sih orangnya?” dan temanku pun memberi tahu tanpa aku harus berkenalan langsung dengan perempuan bermuka polos itu.</p>
<p>Tahun kedua kuliah, aku ikut sebuah seminar. Celingak-celinguk sebentar mencari teman, tidak menyangka malah ku temukan Audrey yang tengah sibuk ke sana kemari sebagai panitia. <em>Eh ada si Chiz_Cake</em>, celetukku dalam hati. <em>Lucu juga yah tampak elegan pakai pakaian formal begitu,</em> tambahku mengulum senyum.</p>
<p>Dan sekarang, tahun ketiga kuliah… aku berkenalan dengan seorang pecinta perempuan di dunia maya yang ternyata adalah Audrey! Entahlah&#8230; ini hanya kebetulan atau memang takdir. Mendengar cerita kesehariannya membuatku semakin penasaran. Audrey itu perempuan baik-baik, pinter, multitalenta, punya segudang prestasi, aktivis kampus, perhatian, lucu sekaligus doyan ketawa. Pokoknya dia top banget deh! Berbeda 180 derajat dengan diriku! Aduh, rasanya aku pun mulai jatuh hati sama dia.</p>
<p>Awalnya sih mampu kupendam perasaan ini. Minder juga lah, lagipula Audrey cinta buta sama gebetannya yang <em>straight </em>itu! Tapi lama-lama <em>nggak kuku </em>juga bok! Aku pun mencoba jujur sama dia. Kupasang ikat kepala, kuentakkan kaki, kukepal tangan ke angkasa. Ehem&#8230; aku mengaku ingin pedekate sama dia.</p>
<p>Dan, beruntung banget dia mau memberikan kesempatanku untuk membuka hatinya! <em>Jangan lupa, gunakan kesempatan dengan baik. Kesempatan nggak datang dua kali lho.</em></p>
<p><em>Ending</em>-nya, kami jadian. Hore!</p>
<p>Aku berhasil membuat dia jatuh ke pelukanku. Oh, akhirnya! Dia juga berhasil meyakinkanku bahwa dia itu serius dan tidak menjadikanku sebagai pelarian dari si gebetannya yang <em>straight </em>itu. <em>Anyway</em>, ini bukan <em>ending </em>sih, justru ini sebuah awal bagi kami.</p>
<p>Yakin deh Tuhan punya rencana paling indah untuk kita. Setelah dua tahun luntang-lantung&#8212;<em>stuck </em>sama mantan, deket sama orang beberapa kali tapi nggak sampai jadi pacar, ngejar-ngejar cewek <em>straight </em>kayak orang gila tapi nggak ada hasil bahkan cuma buang-buang waktu dan tersakiti&#8212;akhirnya Dia kirimkan perempuan super buat aku!</p>
<p>Tahun baru, pacar baru, semangat baru!</p>
<p><em>Thank God, I found her.</em></p>
<p><em>PS: I love you, Audrey. Can’t wait for the new semester <img src='http://sepocikopi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em></p>
<p>@Akapela, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/01/lamour-uhuy-tahun-baru-pacar-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>My Label is No Label</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/31/my-label-is-no-label/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/31/my-label-is-no-label/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 31 Dec 2011 04:15:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Label]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17021</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Yasmin Sutomo
Saya mulai mengenal dunia lesbian, mengakui diri sebagai lesbian dan berteman dengan sesama lesbian (termasuk mulai pacaran sama perempuan, eheeem&#8230;) di tahun 80an.  Kala itu lesbian yang tomboy&#8212;baik sedikit tomboy maupun tomboy banget&#8212;disebut Butch.  Pasangannya “pasti” Femme.  Sebenarnya mungkin tidak se-saklek itu, tapi di lingkungan tempat saya bergaul ya begitu.
Kondisi ini makin lama menjadi stigma dalam kelompok lesbian pertemanan saya bahwa sesama Butch dilarang saling naksir.  Begitu juga kalau ada pasangan yang keduanya berpenampilan feminin, kami akan memandang dengan aneh. Siapa yang jadi laki dan siapa yang jadi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/no-label-freshjive-1-360x540.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17022" title="no-label-freshjive-1-360x540" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/no-label-freshjive-1-360x540-200x300.jpg" alt="" width="300" height="400" /></a>Oleh: Yasmin Sutomo</p>
<p>Saya mulai mengenal dunia lesbian, mengakui diri sebagai lesbian dan berteman dengan sesama lesbian (termasuk mulai pacaran sama perempuan, eheeem&#8230;) di tahun 80an.  Kala itu lesbian yang tomboy&#8212;baik sedikit tomboy maupun tomboy banget&#8212;disebut Butch.  Pasangannya “pasti” Femme.  Sebenarnya mungkin tidak se-<em>saklek </em>itu, tapi di lingkungan tempat saya bergaul ya begitu.</p>
<p>Kondisi ini makin lama menjadi stigma dalam kelompok lesbian pertemanan saya bahwa sesama Butch dilarang saling naksir.  Begitu juga kalau ada pasangan yang keduanya berpenampilan feminin, kami akan memandang dengan aneh. Siapa yang jadi <em>laki </em>dan siapa yang jadi <em>perempuan </em>nih? Aneh kan kalimat ini? Bukankah mereka sama-sama perempuan? Kok tetap ada peran laki dan peran perempuan?</p>
<p>Stigma itulah yang membatasi lesbian zaman itu dalam mencari pasangan. Aturannya memang tidak digeneralisir, tapi paling tidak di kelompok saya begitulah adanya.</p>
<p>Baru beberapa tahun kemudian, saya mengenal ada kelompok lesbian berlabel Andro. Itu pun masih terdapat sublabel Andro-ke-Femme dan Andro-ke-Butch. Terus terang saya nggak mengerti betul.  Seorang teman seangkatan saya suatu hari berujar, “Zaman sekarang lesbian tomboy lebih senang mengaku Andro daripada Butch. Coba deh perhatikan,” katanya.</p>
<p>Menurut dia, teman saya itu, kalau seseorang secara yakin langsung mengatakan dia Butch, berarti dia hidup di angkatan yang sama dengan kami.  Sedangkan mengaku sebagai Andro lebih disukai oleh lesbian tomboy yang lebih muda. Hmmm&#8230; ya bolehlah diasumsikan demikian, walaupun lagi-lagi tidak se-<em>saklek </em>itu, mungkin hanya di kelompok pertemanan lesbian saya saja yang begitu.</p>
<p>Kenyataannya, beberapa kali pacaran, saya selalu berpasangan sama Femme.  Meski kadang-kadang ada rasa naksir juga ke Andro, tapi biasanya saya akan berusaha mematikan perasaan tersebut, mengingat, teman-teman saya pasti akan melecehkan saya, dengan bilang, &#8220;Kamu ih&#8230; kok jeruk minum jeruk?&#8221; Begitu.</p>
<p>Berpasangan dengan beberapa Femme (tentunya tidak di waktu yang sama), membuat saya bagaikan mengarungi bukit yang terjal dan menuruni lembah yang curam. Jatuh bangun nggak keruan.  Agak lebay sih, tapi begitulah analoginya. Saya sering kali mengalami tidak enaknya. Nggak usah disebutlah nggak enaknya apa, yang jelas kisah percintaan saya tidak berlangsung mulus. Ujung-ujungnya&#8230;. jomblo lagi… jomblo lagi.</p>
<p>Sampai suatu saat, saya menemukan ada yang menarik dari seseorang di dunia maya yang mengaku No Label. Lah… apa <em>pulak </em>ini?</p>
<p>“Saya tidak memposisikan diri berlabel apa pun, dan saya bisa tertarik dengan perempuan berlabel apa pun. Asal nyambung dan dia perempuan, bisa saja kami jadian,” katanya.</p>
<p>Dengar lesbian menyebut dirinya No Label sih sering, tapi kadang-kadang saya tidak mengerti maknanya, serupa dengan ketidakmengertian saya akan Andro-ke-Femme dan Andro-ke-Butch itu. Baru dari si Miss No Label yang menarik ini, pikiran saya terbuka lebar.</p>
<p>Saya sendiri sering kali <em>blank </em>kalau ditanya apa labelmu. Spontan ingin jawab: Butch (sesuai zamannya saya), tapi mikir lagi, benarkah? Saya nggak kelaki-lakian banget kok, apalagi sifat dan tutur kata. Ciaelaaah. Lagi pula beberapa referensi mengatakan, label tidak ditentukan dari penampilan, tapi dari sifat-sifat di dalam dirinya. Tuh kan? Selama ini kalau dicecar musti menyebutkan label, saya suka ngasal dan menjawab sekenanya, &#8220;Kata orang-orang sih Butch.&#8221;</p>
<p>Apakah mulai sekarang saya harus mengatakan pada dunia (dunia SepociKopi doang sih beraninya) bahwa saya ini No Label? Dengan demikian saya tidak memposisikan pada label mana pun. Hmm&#8230; No Label…. keren tuh kayaknya!  Walaupun No Label sering dicap pemakan segala, saya nggak peduli.</p>
<p>Intinya, saya nggak mau lagi label membatasi cakupan pencarian pasangan,  yang penting nyambung. Meskipun kata <em>nyambung </em>itu sendiri berkaitan dengan banyak variabel yang hanya bisa dirasakan dan susah dituliskan dengan kata-kata. Setuju atau setuju? He he he. Intinya lagi (lho inti kok banyak?), bukan cewek-cewek yang ngerepotin, manja dan nggak mandiri (ini pengalaman pribadi), terserah labelnya apa.</p>
<p>Kalau kelak nyambungnya sama cewek mandiri, nggak manja dan nggak ngerepotin yang berpenampilan kayak laki, trus saya dikatain jeruk minum jeruk, nggak peduli juga ah&#8230; Asal perbuatan, sikap, dan karakternya bikin geli-geli di perut (alias <em>butterfly in my stomach</em>), terusin aja ya… he he he.</p>
<p>Ayo, siapa berani maju? Hayyaaaah buntutnya: cari pacar!</p>
<p>@Yasmin, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/31/my-label-is-no-label/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>40</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seperti Poni</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/29/seperti-poni/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/29/seperti-poni/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Dec 2011 08:53:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Personal Life]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16994</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Legendre
“Tunggu! Tunggu! Ini jidat bercelah, nggak?” ujar Ve sebelum kamera dijepret.
“Haduuh, dibilang nggak! Rapat tuh gorden menutupin jidat lu!” jawab Yan gemas.
Aku cekikikan sambil mengamati mereka dari kejauhan. Kedua temanku, Ve dan Yan baru tiba di Sorong, kota tempatku di Propinsi Papua Barat. Sudah lama mereka merencanakan liburan ini. Dan aku, tentunya senang sekali kedatangan sahabat-sahabat dunia mayaku ini. Kami saling kenal lewat internet. Kami sama-sama tertarik dengan Papua. Bedanya, aku telah tinggal dan menetap di sini, sedang Ve dan Yan lahir dan tinggal di Jawa.

Dibandingkan kami berdua, Ve ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/flirty.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-16995" title="flirty" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/flirty.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Oleh: Legendre</p>
<p>“Tunggu! Tunggu! Ini jidat bercelah, nggak?” ujar Ve sebelum kamera dijepret.</p>
<p>“Haduuh, dibilang nggak! Rapat tuh gorden menutupin jidat lu!” jawab Yan gemas.</p>
<p>Aku cekikikan sambil mengamati mereka dari kejauhan. Kedua temanku, Ve dan Yan baru tiba di Sorong, kota tempatku di Propinsi Papua Barat. Sudah lama mereka merencanakan liburan ini. Dan aku, tentunya senang sekali kedatangan sahabat-sahabat dunia mayaku ini. Kami saling kenal lewat internet. Kami sama-sama tertarik dengan Papua. Bedanya, aku telah tinggal dan menetap di sini, sedang Ve dan Yan lahir dan tinggal di Jawa.</p>
<p><span id="more-16994"></span></p>
<p>Dibandingkan kami berdua, Ve memang paling narsis. Meski sering mengeluh tentang dirinya yang jidatnya kelebaran, hidungnya kebesaran, atau lehernya yang kependekan; Ve paling hobi berfoto. Di mana pun, saat apapun, Ve selalu meminta difoto. Saat mengunjungi pasar, di tengah keramaian pasar, dia minta difoto. Di samping ibu-ibu Papua yang tengah mengunyah sirih, bersama sang kepala suku, anak-anak bertelanjang dada, gadis manis berkulit hitam, dengan guru, pendeta, tentara, tukang cendol yang orang Jawa, perajin patung, penjaga loket, supir mobil L200,&#8230;. dan banyak orang lainnya! Hingga tak terhitung berapa ratus fotonya di kameraku.</p>
<p>Dari ratusan foto-foto itu, ada tiga pose wajib Ve. Yang pertama duduk membungku, ibu jari menyangga dagu, dan telunjuk terangkat ringan hingga menyentuh bibir. Ekspresi muka sok <em>cool </em>dengan sorot mata dibuat tajam dan bibir tanpa senyum. Kemudian pose “belagak mencium” dengan kondisi bibir manyun, kepala miring ke kanan, mata membesar dan alis mata terangkat, biasanya disertai dengan kedua tangan di bawah dagu seperti girlband Cherrybelle. Pose terakhir, berlagak bingung yang biasa didominasi dengan tangan kanan yang menggaruk kepala, dagu yang mendongak ke kiri atas seperti orang berpikir, mata kiri yang menyipit.</p>
<p>Yang pasti, dari semua foto itu, poni Ve tak pernah bercelah. Ia selalu meminta mengulang fotonya tiap ada celah yang mengintip dari balik poninya. Dengan muka cemberut, Yan akan menfoto ulang buat Ve. Ve akan mengulang pose foto sebelumnya, kali ini dengan poni yang rapi dan manis menutup jidatnya yang lebar. Sesampai di rumah, segera dibukanya laptop dan meng-<em>upload </em>foto. Foto dengan pose pertama di <em>upload </em>ke Facebook berlabel “butchy” miliknya. Foto dengan pose kedua di <em>upload </em>ke Facebook berlabel “femme” miliknya. Dan foto dengan pose ketiga akan di <em>upload </em>ke Facebook berlabel “andro” miliknya.</p>
<p>Aku dan Yan hanya geleng-geleng melihat kelakuannya. Dari tiga Facebook yang dimilikinya, ada tiga perempuan berbeda yang jadi pacarnya. Bahkan ketiga nomor hapenya digunakan masing-masing untuk berhubungan dengan perempuan-perempuan itu. Entah sudah berapa banyak perempuan tampan, perempuan cantik, perempuan lugu yang dipacarinya. Entah juga berapa banyak perempuan yang telah jatuh cinta padanya. Terlebih entah, berapa banyak perempuan yang terluka karena diselingkuhi, dibohongi oleh Ve. <em>Image-</em>nya meski sudah sedemikian buruk di mata beberapa orang, toh masih membuatnya laku.</p>
<p>Seratus kali kami mengingatkan Ve, seribu kali Ve akan membantah. “Biarlah, tidak usaha mencari yang paling cakep.&#8221;</p>
<p>Kalau sudah begini, aku hanya bisa berujar, &#8220;Nggak malu tuh ama poni. Jidat lebar yang dibilang jelek aja ditutupin. Sifat jelek mainin cewek bukannya dihilangkan, malah diturutin seperti poni.&#8221;</p>
<p>Ve hanya mengernyitkan alis pertanda protes kepadaku. Kalau sudah begitu, aku hanya bisa menghela nafas. Ve dan poni, untung aku tidak seperti poninya.</p>
<p>@Legendre, SepociKopi, 2011</p>
<p><strong>Tentang Legendre: </strong><br />
20 tahun, sering bolos kuliah, dari kota lumpia.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/29/seperti-poni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>te.Lez.kop: Diam-diam Menyayangi</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/15/te-lez-kop-diam-diam-menyayangi/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/15/te-lez-kop-diam-diam-menyayangi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 07:23:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Telezkop]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Coming Out]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16728</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Tya Andriani
Pernah diam-diam menyayangi seseorang dan tak pernah bisa mengungkapkan perasaan ini? Tunjuk tangan yang pernah! Ada beberapa kendala mengapa tidak bisa mengatakan cinta kepada the object of my affection. Pertama, dia sudah punya pacar. Dua, dia tidak mungkin digapai (beda tingkat sosial, ekonomi, status, atau bahkan beda orientasi seksual. Yup, dia straight). Ketiga, lebih enak diam-diam mencintainya daripada dijadikan pacar. Menurut beberapa teman-teman lesbian, mereka memilih nomor tiga karena tidak ribet, ruwet, dan tetap bisa tetap menyayanginya tanpa merusak hubungan.
Mengamati seseorang dari jauh itu memiliki seni tersendiri. Menurut ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/plate.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16729" title="plate" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/plate-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Oleh: Tya Andriani</p>
<p>Pernah diam-diam menyayangi seseorang dan tak pernah bisa mengungkapkan perasaan ini? Tunjuk tangan yang pernah! Ada beberapa kendala mengapa tidak bisa mengatakan cinta kepada <em>the object of my affection</em>. Pertama, dia sudah punya pacar. Dua, dia tidak mungkin digapai (beda tingkat sosial, ekonomi, status, atau bahkan beda orientasi seksual. Yup, dia <em>straight</em>). Ketiga, lebih enak diam-diam mencintainya daripada dijadikan pacar. Menurut beberapa teman-teman lesbian, mereka memilih nomor tiga karena tidak ribet, ruwet, dan tetap bisa tetap menyayanginya tanpa merusak hubungan.</p>
<p><span id="more-16728"></span>Mengamati seseorang dari jauh itu memiliki seni tersendiri. Menurut saya, menjaga seseorang dalam jarak jauh lebih susah daripada menarik seseorang menjadi sangat dekat dalam rentang jarak. Katakan saja, saya orang yang penuh percaya diri, karena begitu saya menyukai seseorang dan melakukan PDKT, maka pasti saya mengubah statusnya menjadi pacar saya. Tapi untuk tetap membiarkan seseorang dalam jarak yang cukup jauh dan tetap berhubungan dengannya, itulah seni yang ternyata memiliki kenikmatan tersendiri.</p>
<p>Bayangkan layang-layang. Dengan benang yang terentang antara yang memegang dan layang-layang, terdapat jarak yang sangat jauh. Kadang, layang-layang mendekat, tapi kadang layang-layang melayang begitu tinggi. Setinggi-tingginya layang-layang, apabila benang tidak putus, si pemegang benang masih selalu dapat melihat layang-layang melayang di langit biru. Permainan layang-layang begitu mengasyikan. Bisakah kita bayangkan permainan yang sama dilakukan untuk orang yang diam-diam kita sayangi?</p>
<p>Saat kita menyayangi seseorang dari jarak tertentu, kita melihat keindahan saja. Seperti kita memandang gunung yang begitu cantik dan gagah dari kejauhan. Cobalah kita daki gunung itu, maka kita akan tahu tentang betapa kejamnya gunung. Menyayangi seseorang dari jauh artinya kita mengkristalkan keindahan dirinya dan takkan terganggu dengan semua kelemahannya sebagai manusia.</p>
<p>Sayangnya, tidak semua orang bisa melakukannya. Ketika keinginan untuk mendekat dan gairah yang tak bisa ditahan, kebanyakan kita akhirnya malah melakukan tindakan-tindakan bodoh yang akhirnya disesali. Dalam banyak kasus, jarak adalah pelindung. Tapi, jarak juga bisa menjadi kekosongan yang meminta untuk diisi. Kesanggupan untuk terus diam-diam menyayangi dalam jarak yang terbatas adalah kenikmatan mencintai yang memiliki citarasa berbeda.</p>
<p>Dengan teknologi dan kehadiran sosial media, yang menarik dari sikap diam-diam menyayangi tentu saja membaca tulisan-tulisan si obyek yang sangat disayang itu. Tidak pernah alpa. Menyempatkan diri mengetahui apa kabarnya. Yang membedakan dengan membaca orang yang kita taksir dengan orang yang diam-diam kita sayangi, tentu saja pada perasaan ketika membaca tulisan-tulisannya. Untuk mereka yang kita kagumi dari jauh, tidak ada rasa sakit hati atau kecewa atau kemarahan saat mengetahui pikiran dan suasana hatinya. Yang ada rasa kebahagiaan dan kegembiraan melihatnya bertumbuh dan mendewasa.</p>
<p>Dalam kasus saya, diam-diam menyayanginya berarti memandangnya dari kejauhan, tapi tetap dekat dengan dirinya sebagai sahabat. Kalau tidak bisa menjadi sahabat juga tidak apa-apa. Cukup dengan mengaguminya dari jauh sudah ada nikmat yang tiada kalah lezatnya bagai dicium oleh kekasih. Diam-diam menyayanginya berarti diam-diam memilikinya di dalam hati, mengisi sepetak tanah kosong yang takkan tergantikan. Bagi saya, diam-diam menyayangi seseorang meretas batas orientasi seksual, tak perlu meyakinkan diri bahwa dia adalah seorang lesbian seperti saya.</p>
<p>@Tya Andriani, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/15/te-lez-kop-diam-diam-menyayangi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>te.Lez.kop: The Idea of Ideas</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/08/te-lez-kop-the-idea-of-ideas/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/08/te-lez-kop-the-idea-of-ideas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 11:32:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Telezkop]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16598</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Alex

“Ideas are open knowledge don’t claim ownership.” (Paul Arden)
Belakangan ini, sejak internet menjadi bagian hormal dari kehidupan masyarakat, banyak orang ketakutan kalau-kalau konsep dan idenya yang dipublikasikan di dunia maya dicuri. Ada yang begitu ketakutan sampai-sampai rela menghabiskan waktu mencari kata-kata kunci yang berhubungan dengan tulisannya di dunia maya, untuk mencari kesamaan dengan produk/hasil tulisan yang diciptakannya. Bukan hal yang baru lagi saya melihat orang-orang berantem di dunia maya lewat berbagai media (blog, Twitter, Facebook) tentang tuduhan pencurian &#8220;ide&#8221; ini.

Sebentar, sebelum kita membahas aktivitas &#8220;pencurian&#8221; ini lebih jauh, bedakan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/idea.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16603" title="idea" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/idea-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a>Oleh: Alex<br />
<em><br />
“Ideas are open knowledge don’t claim ownership.”</em> (Paul Arden)</p>
<p>Belakangan ini, sejak internet menjadi bagian hormal dari kehidupan masyarakat, banyak orang ketakutan kalau-kalau konsep dan idenya yang dipublikasikan di dunia maya dicuri. Ada yang begitu ketakutan sampai-sampai rela menghabiskan waktu mencari kata-kata kunci yang berhubungan dengan tulisannya di dunia maya, untuk mencari kesamaan dengan produk/hasil tulisan yang diciptakannya. Bukan hal yang baru lagi saya melihat orang-orang berantem di dunia maya lewat berbagai media (blog, Twitter, Facebook) tentang tuduhan pencurian &#8220;ide&#8221; ini.</p>
<p><span id="more-16598"></span></p>
<p>Sebentar, sebelum kita membahas aktivitas &#8220;pencurian&#8221; ini lebih jauh, bedakan antara mencuri karya secara utuh 100% (itu namanya plagiat)  dengan mengambil ide. Saya akan membuat pagar penulisan ini dengan fokus kepada peristiwa pengambilan &#8220;ide&#8221; yang sering dituduhkan satu sama lain di dunia maya. Menurut kamus Merriem Webster, <em>idea </em>adalah (salah satunya)<em> opinion, an image of mind.</em></p>
<p>Sesungguhnya, saya menganggap perkelahian perebutan ide adalah perbuatan sia-sia dan tidak ada gunanya. Ide asli itu sendiri bukanlah milik dia. Memangnya sudah berapa tahun berlalu sejak manusia mencapai peradabannya? Semua yang ada di bawah langit ini tak ada ide yang baru. Ide &#8211; mulai dari ide bisnis, seni, teknologi, bahkan budaya tersebar di langit, di udara, di partikel yang kita hidup setiap hari, hidup selama berabad-abad. Setiap bangsa memiliki persamaan budaya dan seni juga. Sementara teknologi dan bisnis memiliki hak paten dan hak cipta dalam hal hasil barang, tapi tidak untuk ide. Apakah ide &#8220;manusia ingin terbang&#8221; cuma dimiliki oleh Wright bersaudara? Apakah ide &#8220;ban yang diisi angin sehingga bisa menjadi alat transportasi&#8221; dimiliki oleh John Dunlop saja? Tentu tidak! Ide itu sudah malang melintang dalam sejarah manusia sejak manusia mencapai peradabannya. Semua ide terus-menerus diperbaiki sepanjang kehidupan, sehingga menjadi hasil akhir yang berguna bagi masyarakat.</p>
<p>Dalam sebuah diskusi dengan seorang penulis senior, saya mendengar bahwa Djenar Maesa Ayu mengatakan apa yang ditulisnya bukanlah sesuatu yang baru. Semua tema pernah ditulis. Semua teknik pernah dicoba. Semua gaya pernah dieksplorasi. Demikian juga dengan ide bisnis. Setiap <em>brand </em>mati-matian berjuang untuk menciptakan ide-ide, mulai dari <em>advertising </em>sampai peluncuran produk baru. Walaupun eksekusi akhir berbeda-beda, kita tetap bisa melihat kemiripan &#8220;ide&#8221; antara konsep <em>brand </em>yang &#8220;itu&#8221; dengan konsep <em>brand </em>yang &#8220;ini&#8221;. Coba saja lihat berbagai jenis <em>brand</em> untuk air minum kemasan. Atau berbagai <em>brand </em>minimarket yang bertebaran di kompleks perumahan.</p>
<p>Para pekerja kreatif mengerti sekali soal pengolahan ide ini. Setiap hari jutaan manusia berputar otak mencari ide baru yang bisa diolah menjadi ide yang seakan-akan terlahir pertama kali. Pekerja kreatif yang bergerak di bukit Hollywood berpikir keras, menonton ribuan film-film yang pernah diproduksi dari film-film luar negeri lainnya, seperti Bollywood, Eropa, Hongkong, Asia, dan lain-lain dan mencoba mengadopsi segala-galanya ke dalam format Hollywood, mulai dari cerita, teknologi, trik kamera, dan kemampuan visual lainnya. Mereka mengerti sekali tentang ide yang tidak perlu dicuri, tapi hanya perlu dipinjam dan diolah menjadi hal yang &#8220;mirip tapi berbeda&#8221; atau hal yang &#8220;berbeda tapi mirip&#8221;.</p>
<p>Hidup dalam ketakutan bahwa ide kita akan dicuri orang akan membuat kita seperti Paman Gober yang paranoid, melindungi uangnya mati-matian. Dia akan tidur, makan, bekerja, bahkan buang air besar di antara tumpukan uang-uangnya; tidak pernah hidup dalam ketenangan. Demikian juga dengan orang yang ketakutan akan idenya dicuri. Dia akan menutup diri dari kesempatan belajar, yaitu kesempatan untuk mengembangkan ide-ide yang lain. Ketakutan idenya dicuri membuatnya cemas jika mengambil dan mengolah ide orang lain, seperti maling yang ketahuan memasuki mal yang sebenarnya terbuka untuk umum.</p>
<p>Dunia maya membuka sekat-sekat perbedaan yang kita miliki di dunia sesungguhnya. Sekat-sekat ekonomi, status, seksualitas, bahkan tangga sosial. Waktu dan tempat pun lumer dalam dunia maya. Artinya apa? Artinya, dunia maya adalah tanah subur untuk melakukan pekerjaan persilangan &#8220;memberi&#8221;. <em>The art of giving</em> hidup dengan subur di dunia maya. Perhatikan, bagaimana pekerja sosial dan kampanye sosial semakin bisa merengkuh banyak manusia di dunia maya untuk melakukan pekerjaan atas nama humanisme. Contohnya, Akademi Berbagi, Indonesia Mengajar, dan Pengajar Muda. Ini membuktikan, ketika kita memasuki dunia maya, kita harus bersiap memiliki perilaku juara, yakni perilaku memberi/membagi dengan ikhlas.</p>
<p>Mengklaim suatu ide sebagai miliknya sama dengan mengklaim bahwa cuma dia yang boleh menghirup udara. Tak ada yang bisa diklaim dari ide. Yang bisa diklaim adalah eksekusi akhir dari ide alias pelaksanaan final. Bahkan penelitian teori dalam ilmu pengetahuan juga mengambil &#8220;ide&#8221; dari teori sebelumnya, sehingga teori baru akan menggantikan teori lama, atau teori baru memperbaiki teori lama. Lihat juga bagaimana ribuan artikel-artikel SepociKopi mempunyai kemiripan antara satu dengan yang lainnya. Bahkan SepociKopi memiliki satu tema sebagai kampanye bulanan yang diusung, sehingga setiap bulan ada beberapa artikel yang ditulis dari berbagai <em>angle </em>dengan topik/tema/ide yang <em>sama</em>.</p>
<p>Intinya, pengembangan ide dan kritik pada diri sendiri akan menjadikan diri kita lebih baik. Tak perlulah takut ide kita dicuri. Santai saja. Siapa pun yang ingin membuat majalah <em>online </em>seperti SepociKopi adalah kebebasan masing-masing individu lesbian. Majalah <em>online </em>dengan keredaksionalan seperti ini juga bukan ide istimewa milik SepociKopi. Sebelum pendiri dan redaksi SepociKopi melahirkan dan bahkan memikirkan kehadiran media LGBT seperti ini, pasti ada jutaan lesbian lain sebelum aku ada, yang bermimpi/memiliki ide mempunyai e-<em>magazine </em>lesbian.</p>
<p>Memperebutkan ide? Saling klaim ide satu sama lain? Sama sekali tidak <em>cool</em>. Sebab&#8230;<br />
<em><br />
&#8230;they’re not your ideas, anyway. They’re someone else’s! They are out there floating by on the ether.</em> (Paul Arden)</p>
<p>@Alex, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/08/te-lez-kop-the-idea-of-ideas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

