Articles tagged with: dunia maya
Friendship, Humaniora, Opini, Partnership, Relationship, Renungan, Sepocikopiana »
Oleh: Yasmin
“‘Memiliki pasangan yang tetap berpasangan sampai tua’ itulah jawaban semua lesbian, ketika ditanya apa harapan hidupnya,” kata salah seorang teman. “Tanya ke aku dong…,” pintaku. “Ya, kalau kamu, apa harapan hidupmu sebagai lesbian?” tanyanya. “Boleh nggak sebagai manusia saja, nggak usah sebut sebagai lesbian,” pintaku lagi, ngeyel.
Jawaban saya, memiliki pasangan maupun tidak, saya ingin jadi manusia yang berguna bagi orang-orang di sekitar saya. Kalimat “memiliki pasangan maupun tidak” adalah penekanan saya terhadap penyangkalan asumsi bahwa semua lesbian mempunyai harapan itu.
Sebenarnya pembicaraan ini diawali dengan debat kami akan perlunya mempertahankan …
Have Your Say, Humaniora, Label, Sepocikopiana »
Masih belum mengenal orientasi seksual dengan tepat? Pasti masih ada banyak orang yang kebingungan dengan orientasi seksualitasnya. Dalam label LGBTIQ, orang-orang ini adalah mereka yang masuk dalam kategori Q, yaitu Questioning. Inilah manusia yang masih bertanya-tanya dan mencari tahu tentang orientasi seksualnya. Bagaimana lesbian menyikapi persahabatan dengan orang seperti ini? Dengarkan kisah sahabat kita, miss_lazy77, yang masih mencari kejujuran atas orientasi seksualnya.
Untuk orientasi seksual, sejujurnya saya adalah orang yang paling bingung seperti apa saya sebenarnya. Tipe heterokah, lesbiankah atau biseksualkah. Saya sendiri tidak begitu memahami, karena sampai detik ini saya …
Sepocikopiana, Ulang Tahun »
Oleh: Krishna A
Kenal Sepocikopi dari mana? Waduh, penyakit pikun saya mendadak kambuh nih, dari mana ya? Kapan ya? Kening saya berkerut-kerut, memikirkan dari mana saya pertama kali mengenal situs lesbian yang membuat saya kecanduan bak junkies…
Setelah bertapa tiga hari tiga petang (kalau malam saya jelas tidur pulas), saya akhirnya teringat pada rangkaian memori tentang SepociKopi. Saya mengenal SepociKopi ketika surfing di dunia maya, hampir 3 tahun yang lalu. Tampilannya belum sekeren saat ini. Kolom komentarnya belum begitu interaktif. Dan seingat saya hanya sedikit penulis yang muncul sebagai kontributor.
Mengenal SepociKopi seketika …
Ulang Tahun »
Oleh: Yasmin
Sepanjang umurnya yang lima tahun, saya mengenal SepociKopi di setengah umurnya. Kok mbulet ya? Maksudnya saya mengenal majalah lesbian online ini baru sekitar dua setengah tahun lalu. Berawal dari seseorang yang transparan—ha ha ha maksudnya Bening—meng-add saya di Facebook. Siapakah Bening? Seseorang menjawab: anggota redaksi SepociKopi. Saya tanya lagi: Apaan tuh SepociKopi? Dijawab: Ah, panjang deh jadinya… Masuk aja langsung ke website-nya.
Begitu masuk, Jreeeng…. Wiiih…. Waduh…. Buset…. Gokil! Inilah gudang jawaban yang saya cari-cari selama ini. Ibaratnya, saya sudah lama mengerjakan soal-soal dari buku kumpulan soal, selama ini saya …
Humaniora, Tajuk »
Oleh: Nuha Guwa
Pada zaman dahulu kala, di sebuah kerajaan besar, hiduplah seorang ibu peri yang pandai merapal sihir, baik hati, penggugup, dan pemalu. Jakarta, sebagai kerajaan padat dengan jurang-jurang sosial yang tinggi membuatnya menjadi linglung. Kehidupan manusia penuh sesak, kompleksitas perbedaan strata hidup antara kaya miskin, bodoh pintar, jahat baik, di antara pemukiman mewah dan kumuh, membuat hari-hari ibu peri yang bernama Lakhsmi tidak enak. Makan salah, tidur juga salah. Tongkat sihirnya menjadi berdebu karena sering terlupakan.
L'Amour, Sepocikopiana »
Oleh: Akapela
Berawal dari rasa penasaranku sama lesbi-lesbi kampus (baca tulisan sebelumnya), aku pun membuat account Twitter khusus lesbian. Account ini terbilang frontal sebab kujelaskan di sana bahwa aku lesbian yang kuliah di kampus X.
Jujur saja, niatku cuma ingin menemukan sekaligus berkawan dengan sesama lesbian satu perguruan. Dan, benar aja, aku berhasil menyaring beberapa lesbian kampus dari sana, walaupun ternyata semuanya bernasib sama sepertiku; buta sama lesbi-lesbi kampus.
Namun anehnya malah kutemukan cahaya terang benderang di antara kenalan-kenalanku itu yang sama-sama suram itu.
Hari itu (aku lupa tepatnya hari apa), follower-ku bertambah satu. Aku …
Humaniora, Label »
Oleh: Yasmin Sutomo
Saya mulai mengenal dunia lesbian, mengakui diri sebagai lesbian dan berteman dengan sesama lesbian (termasuk mulai pacaran sama perempuan, eheeem…) di tahun 80an. Kala itu lesbian yang tomboy—baik sedikit tomboy maupun tomboy banget—disebut Butch. Pasangannya “pasti” Femme. Sebenarnya mungkin tidak se-saklek itu, tapi di lingkungan tempat saya bergaul ya begitu.
Kondisi ini makin lama menjadi stigma dalam kelompok lesbian pertemanan saya bahwa sesama Butch dilarang saling naksir. Begitu juga kalau ada pasangan yang keduanya berpenampilan feminin, kami akan memandang dengan aneh. Siapa yang jadi laki dan siapa yang jadi …
Personal Life, Sepocikopiana »
Oleh: Legendre
“Tunggu! Tunggu! Ini jidat bercelah, nggak?” ujar Ve sebelum kamera dijepret.
“Haduuh, dibilang nggak! Rapat tuh gorden menutupin jidat lu!” jawab Yan gemas.
Aku cekikikan sambil mengamati mereka dari kejauhan. Kedua temanku, Ve dan Yan baru tiba di Sorong, kota tempatku di Propinsi Papua Barat. Sudah lama mereka merencanakan liburan ini. Dan aku, tentunya senang sekali kedatangan sahabat-sahabat dunia mayaku ini. Kami saling kenal lewat internet. Kami sama-sama tertarik dengan Papua. Bedanya, aku telah tinggal dan menetap di sini, sedang Ve dan Yan lahir dan tinggal di Jawa.
Humaniora, Telezkop »
Oleh: Tya Andriani
Pernah diam-diam menyayangi seseorang dan tak pernah bisa mengungkapkan perasaan ini? Tunjuk tangan yang pernah! Ada beberapa kendala mengapa tidak bisa mengatakan cinta kepada the object of my affection. Pertama, dia sudah punya pacar. Dua, dia tidak mungkin digapai (beda tingkat sosial, ekonomi, status, atau bahkan beda orientasi seksual. Yup, dia straight). Ketiga, lebih enak diam-diam mencintainya daripada dijadikan pacar. Menurut beberapa teman-teman lesbian, mereka memilih nomor tiga karena tidak ribet, ruwet, dan tetap bisa tetap menyayanginya tanpa merusak hubungan.
Humaniora, Telezkop »
Oleh: Alex
“Ideas are open knowledge don’t claim ownership.” (Paul Arden)
Belakangan ini, sejak internet menjadi bagian hormal dari kehidupan masyarakat, banyak orang ketakutan kalau-kalau konsep dan idenya yang dipublikasikan di dunia maya dicuri. Ada yang begitu ketakutan sampai-sampai rela menghabiskan waktu mencari kata-kata kunci yang berhubungan dengan tulisannya di dunia maya, untuk mencari kesamaan dengan produk/hasil tulisan yang diciptakannya. Bukan hal yang baru lagi saya melihat orang-orang berantem di dunia maya lewat berbagai media (blog, Twitter, Facebook) tentang tuduhan pencurian “ide” ini.





