Articles tagged with: Coming Out
Opini, Sepocikopiana »
Oleh: Carmen
Selama beberapa bulan aku agak pening karena masuk dan bergaul di salah satu lingkungan fanatik fundamentalis yang menghujat homoseksual secara bebas merdeka. Ceritanya sih aku melakukan itu untuk mengetahui dan berempati pada segala macam orang/kelompok yang tampaknya sangat membenci homoseksual. Aku ingin tahu, apa sih yang membuat dan memotivasi mereka mengeluarkan kalimat yang sangat jahat (misalnya, merasa paling benar, merasa paling tahu pikiran Tuhan; sehingga menekan, mendiskriminasi, dan lain-lain).
FabuLezlyCool, Humaniora »
Oleh: Lo
Adakah yang setuju bahwa hari gini makin banyak aja manusia yang menjadikan lesbian sebagai gaya hidup alias status untuk menunjukkan kalau dirinya “berbeda” dari mayoritas? Kebetulan, pada waktu aku kuliah, situasi seperti ini pernah dideskripsikan oleh para pakar cultural studies. Cultural studies itu adalah salah satu bagian dari ilmu sosial yang mempelajari budaya. Tapi budaya yang dimaksud di sini bukanlah kebudayaan seperti wayang atau tarian daerah, melainkan budaya dalam arti “suatu tindakan atau makna yang dilakukan secara terus menerus oleh sekelompok manusia”.
bisnis, Sepocikopiana »
Oleh: Krishna
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sembilan saat saya tiba di meeting room sebuah hotel berbintang, tempat berlangsungnya training dan seminar. Terburu-buru saya dan bos memasuki ruangan, mendaftarkan diri di meja registrasi lalu diantarkan ke tempat duduk di jajaran depan. Ah sial, tadinya saya berharap bisa duduk di barisan belakang saja berhubung mata saya rasanya berat dan nyaris tidak bisa diajak kompromi. Semalam saya bergadang gila-gilaan menyelesaikan paper dan mesti berangkat ke bandara pukul empat pagi mengejar pesawat yang terbang ke kota tempat berlangsungnya seminar.
Humaniora, Opini »
Oleh: Adette Curly
Suatu hari, seorang kawan lesbian bertanya mengenai hal-hal pribadi. Misalnya, bagaimana rupa kekasih saya, siapa namanya, apa nama samarannya, mana akun jejaring sosialnya, mengapa dia tak pernah memberi komentar pada status-status Facebook saya, dan lain sebagainya. Anda pernah mengalami kejadian semacam ini? Jika ya, Anda tidak sendirian.
Humaniora, Tajuk »
Oleh: Nuha Guwa
Pada zaman dahulu kala, di sebuah kerajaan besar, hiduplah seorang ibu peri yang pandai merapal sihir, baik hati, penggugup, dan pemalu. Jakarta, sebagai kerajaan padat dengan jurang-jurang sosial yang tinggi membuatnya menjadi linglung. Kehidupan manusia penuh sesak, kompleksitas perbedaan strata hidup antara kaya miskin, bodoh pintar, jahat baik, di antara pemukiman mewah dan kumuh, membuat hari-hari ibu peri yang bernama Lakhsmi tidak enak. Makan salah, tidur juga salah. Tongkat sihirnya menjadi berdebu karena sering terlupakan.
Obrolan Cewek, Sepocikopiana »
Oleh: Ade Rain
Berjalan kaki sambil menikmati udara pagi yang sejuk sungguh menyenangkan. Biasanya saat berpapasan dengan sesama penikmat pagi saling menabur cinta, eh, senyum maksudnya, dibarengi sapa olahraga yang lazim, “Selamat pagi! Sepatu larinya bagus, loh!” atau “Ayooo! Belum keringatan tuh.” Aku memilih rute jalan kaki di kompleks perumahan, di antara pertokoan sepi. Daerah yang masih banyak gedung kosong. Belum jauh melangkah, terdengar suara datang dari arah belakang.
“Boleh bergabung?”
L'Amour, Sepocikopiana »
Oleh: Akapela
Berawal dari rasa penasaranku sama lesbi-lesbi kampus (baca tulisan sebelumnya), aku pun membuat account Twitter khusus lesbian. Account ini terbilang frontal sebab kujelaskan di sana bahwa aku lesbian yang kuliah di kampus X.
Jujur saja, niatku cuma ingin menemukan sekaligus berkawan dengan sesama lesbian satu perguruan. Dan, benar aja, aku berhasil menyaring beberapa lesbian kampus dari sana, walaupun ternyata semuanya bernasib sama sepertiku; buta sama lesbi-lesbi kampus.
Namun anehnya malah kutemukan cahaya terang benderang di antara kenalan-kenalanku itu yang sama-sama suram itu.
Hari itu (aku lupa tepatnya hari apa), follower-ku bertambah satu. Aku …
Coming Out, Friendship, Humaniora, Opini »
Oleh: Yasmin
Dalam sebuah pembicaraan dengan seorang teman lesbian yang baru pulang dari nongkrong di kafe, dia bercerita, “Tadi beberapa meja di samping mejaku, kursi-kursinya diduduki pasangan-pasangan lesbian,” katanya.
Mendengar kalimat itu dalam benak saya langsung terpikir bahwa teman saya kenal dengan pasangan-pasangan yang dia ceritakan. Tapi pada saat saya tanya dan memastikan pernyataannya, dia menjawab, “Enggak. Aku nggak kenal. Tapi sudah pastilah mereka lesbian, kan terlihat dari penampilannya, yang satu butch gitu, dan pasangannya femme.”
“Belum tentu lho,” sanggah saya. “Jangan pernah nge-judge seseorang lesbian hanya karena penampilannya atau dua orang perempuan …
Have Your Say, Sepocikopiana »
Berpura-pura menjadi lelaki untuk menarik perhatian lawan jenis? Bukankah masih banyak perempuan yang tidak bisa mencintai lelaki namun hanya perempuan? Begitulah yang seharusnya terjadi pada hubungan percintaan: kejujuran. Tanpa kejujuran dan keterbukaan, sulit untuk memulai hubungan yang memiliki masa depan. Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, ReNn, yang bercerita tentang usahanya mencintai seseorang.
Humaniora, Telezkop »
Oleh: Tya Andriani
Pernah diam-diam menyayangi seseorang dan tak pernah bisa mengungkapkan perasaan ini? Tunjuk tangan yang pernah! Ada beberapa kendala mengapa tidak bisa mengatakan cinta kepada the object of my affection. Pertama, dia sudah punya pacar. Dua, dia tidak mungkin digapai (beda tingkat sosial, ekonomi, status, atau bahkan beda orientasi seksual. Yup, dia straight). Ketiga, lebih enak diam-diam mencintainya daripada dijadikan pacar. Menurut beberapa teman-teman lesbian, mereka memilih nomor tiga karena tidak ribet, ruwet, dan tetap bisa tetap menyayanginya tanpa merusak hubungan.





