Articles tagged with: Coming Out
Humaniora, Opini »
Oleh: Adette Curly
Suatu hari, seorang kawan lesbian bertanya mengenai hal-hal pribadi. Misalnya, bagaimana rupa kekasih saya, siapa namanya, apa nama samarannya, mana akun jejaring sosialnya, mengapa dia tak pernah memberi komentar pada status-status Facebook saya, dan lain sebagainya. Anda pernah mengalami kejadian semacam ini? Jika ya, Anda tidak sendirian.
Humaniora, Tajuk »
Oleh: Nuha Guwa
Pada zaman dahulu kala, di sebuah kerajaan besar, hiduplah seorang ibu peri yang pandai merapal sihir, baik hati, penggugup, dan pemalu. Jakarta, sebagai kerajaan padat dengan jurang-jurang sosial yang tinggi membuatnya menjadi linglung. Kehidupan manusia penuh sesak, kompleksitas perbedaan strata hidup antara kaya miskin, bodoh pintar, jahat baik, di antara pemukiman mewah dan kumuh, membuat hari-hari ibu peri yang bernama Lakhsmi tidak enak. Makan salah, tidur juga salah. Tongkat sihirnya menjadi berdebu karena sering terlupakan.
Obrolan Cewek, Sepocikopiana »
Oleh: Ade Rain
Berjalan kaki sambil menikmati udara pagi yang sejuk sungguh menyenangkan. Biasanya saat berpapasan dengan sesama penikmat pagi saling menabur cinta, eh, senyum maksudnya, dibarengi sapa olahraga yang lazim, “Selamat pagi! Sepatu larinya bagus, loh!” atau “Ayooo! Belum keringatan tuh.” Aku memilih rute jalan kaki di kompleks perumahan, di antara pertokoan sepi. Daerah yang masih banyak gedung kosong. Belum jauh melangkah, terdengar suara datang dari arah belakang.
“Boleh bergabung?”
L'Amour, Sepocikopiana »
Oleh: Akapela
Berawal dari rasa penasaranku sama lesbi-lesbi kampus (baca tulisan sebelumnya), aku pun membuat account Twitter khusus lesbian. Account ini terbilang frontal sebab kujelaskan di sana bahwa aku lesbian yang kuliah di kampus X.
Jujur saja, niatku cuma ingin menemukan sekaligus berkawan dengan sesama lesbian satu perguruan. Dan, benar aja, aku berhasil menyaring beberapa lesbian kampus dari sana, walaupun ternyata semuanya bernasib sama sepertiku; buta sama lesbi-lesbi kampus.
Namun anehnya malah kutemukan cahaya terang benderang di antara kenalan-kenalanku itu yang sama-sama suram itu.
Hari itu (aku lupa tepatnya hari apa), follower-ku bertambah satu. Aku …
Coming Out, Friendship, Humaniora, Opini »
Oleh: Yasmin
Dalam sebuah pembicaraan dengan seorang teman lesbian yang baru pulang dari nongkrong di kafe, dia bercerita, “Tadi beberapa meja di samping mejaku, kursi-kursinya diduduki pasangan-pasangan lesbian,” katanya.
Mendengar kalimat itu dalam benak saya langsung terpikir bahwa teman saya kenal dengan pasangan-pasangan yang dia ceritakan. Tapi pada saat saya tanya dan memastikan pernyataannya, dia menjawab, “Enggak. Aku nggak kenal. Tapi sudah pastilah mereka lesbian, kan terlihat dari penampilannya, yang satu butch gitu, dan pasangannya femme.”
“Belum tentu lho,” sanggah saya. “Jangan pernah nge-judge seseorang lesbian hanya karena penampilannya atau dua orang perempuan …
Have Your Say, Sepocikopiana »
Berpura-pura menjadi lelaki untuk menarik perhatian lawan jenis? Bukankah masih banyak perempuan yang tidak bisa mencintai lelaki namun hanya perempuan? Begitulah yang seharusnya terjadi pada hubungan percintaan: kejujuran. Tanpa kejujuran dan keterbukaan, sulit untuk memulai hubungan yang memiliki masa depan. Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, ReNn, yang bercerita tentang usahanya mencintai seseorang.
Humaniora, Telezkop »
Oleh: Tya Andriani
Pernah diam-diam menyayangi seseorang dan tak pernah bisa mengungkapkan perasaan ini? Tunjuk tangan yang pernah! Ada beberapa kendala mengapa tidak bisa mengatakan cinta kepada the object of my affection. Pertama, dia sudah punya pacar. Dua, dia tidak mungkin digapai (beda tingkat sosial, ekonomi, status, atau bahkan beda orientasi seksual. Yup, dia straight). Ketiga, lebih enak diam-diam mencintainya daripada dijadikan pacar. Menurut beberapa teman-teman lesbian, mereka memilih nomor tiga karena tidak ribet, ruwet, dan tetap bisa tetap menyayanginya tanpa merusak hubungan.
Humaniora, Perempuan, Sepocikopiana »
Oleh: Frizzy Jo
”Sayang sekali ya dia itu lesbian, padahal dia cantik lho.”
Pernah mendengar kalimat di atas?
Aku yakin sebagian besar dari kita pernah mendengarnya. Secara personal aku mendengar teman-teman heteroku mengucapkan kalimat tersebut pada saat Lindsay Lohan dikabarkan coming out sebagai lesbian. Selain itu, kalimat tersebut juga biasanya terselip pada bisik-bisik alias ngegosip tentang perempuan yang “diduga lesbian”
Tapi kalimat bernada penyesalan itu tidak hanya ditujukan kepada para perempuan lho, tapi juga menimpa Mas Bro kita, para pria tampan bertubuh maskulin dengan wajah rupawan yang ”ternyata” seorang gay.
Sikap mencemooh juga tak jarang …
Humaniora, Opini »
Oleh: Carmen dan Lakhsmi
(Sambungan dari bagian 2)
Apakah menurutmu analisis dari dua artikel sebelumnya berlebihan? Misalnya, “Ribet amat sih mau pacaran sama cewek aja, pakai acara mengenal identitas diri dulu!” atau “Banyak kok lesbian yang bisa langgeng dengan pacarnya, tanpa harus rempong mencintai diri sendiri!” Wiihh…. Kalau yang ini malah kasus yang super parah, lho! Mau contoh?
Inilah ilustrasi nomor tiga. Cekidot….
FabuLezlyCool, Humaniora »
Oleh: Lo
Ada dua kata yang ampuh membuat remaja berbicara serius: MASA DEPAN. Remaja adalah masa peralihan dari kita yang masih bocah, beranjak ke dewasa. Berarti tahap dewasa benar-benar sudah di depan mata kita, Sodara-sodara! (ngomong pake megaphone ala demonstran di depan gedung MPR, hihihi). Dewasa, identik dengan perempuan usia setengah abad lebih, wajah serius tidak banyak bercanda, tanggung jawab, kerja, menikah, lalu punya anak. Ah, serem amat penggambaran manusia dewasa, padahal biasa-biasa aja sih.





