<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; cinta</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/tag/cinta/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 02:00:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>L&#8217;Amour: Mawar Empat Warna</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/02/05/romantic-roses/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/02/05/romantic-roses/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Feb 2012 02:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[L'Amour]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[hari istimewa]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17810</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh: Octa Raymond
Tahun 2012 adalah tahun yang &#8220;sesuatu&#8221; banget buat saya dan partner. Bagaimana tidak? Awal tahun saja saya telah mengukir kenangan yang indah bagi kami berdua.
Begini ceritanya&#8230;
Saya dan partner penganut LDR, Long Distance Relationship alias hubungan jarak jauh. Dia tinggal di Kota Kembang dan saya di Sumatra. Ternyata LDR itu sangat menyiksa. Saya tidak bisa memandang wajahnya, menyentuh tubuhnya atau mencium pipinya. Belum lagi siksaan rasa kangen yang membuat saya merasa nyaris meledak. Kami hanya bertemu sekali dalam dua atau tiga bulan. Walaupun pertemuan yang sekali itu biasanya berlangsung selama seminggu.
Liburan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/For-You-Rose.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17812" title="For-You-Rose" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/For-You-Rose-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Oleh: Octa Raymond</p>
<p>Tahun 2012 adalah tahun yang &#8220;sesuatu&#8221; banget buat saya dan partner. Bagaimana tidak? Awal tahun saja saya telah mengukir kenangan yang indah bagi kami berdua.</p>
<p>Begini ceritanya&#8230;</p>
<p>Saya dan partner penganut LDR, <em>Long Distance Relationship</em> alias hubungan jarak jauh. Dia tinggal di Kota Kembang dan saya di Sumatra. Ternyata LDR itu sangat menyiksa. Saya tidak bisa memandang wajahnya, menyentuh tubuhnya atau mencium pipinya. Belum lagi siksaan rasa kangen yang membuat saya merasa nyaris meledak. Kami hanya bertemu sekali dalam dua atau tiga bulan. Walaupun pertemuan yang sekali itu biasanya berlangsung selama seminggu.</p>
<p>Liburan akhir tahun 2011 yang lalu saya berlibur ke Kota Kembang, mengunjungi partner. Kali ini saya akan menghabiskan waktu dua minggu bersama partner, merayakan Natal dan Tahun Baru bersama-sama. Kebetulan tanggal 1-1-2012 adalah hari jadian kami. Saya berencana menyiapkan kejutan kecil untuk sang partner tercinta. Dari Sumatra, saya sudah menyiapkan perlengkapan perang. Perang Romantis namanya. Sebenarnya, saya bukan orang yang kreatif atau romantis, dan terpikir untuk membuat kejutan kecil seperti ini saja sudah membuat saya senang sekali.</p>
<p>Inilah alat-alat perang yang saya siapkan:<br />
1. Amplop berisi puisi untuk partner yang saya buat sendiri jauh-jauh hari. Judulnya “Dunia Harus Tahu”<br />
2. Empat lembar kertas kecil berwarna biru yang bertuliskan makna mawar merah, putih, pink, dan oranye.<br />
3. Dua puluh lilin kecil.<br />
4. Lem dan korek api.</p>
<p>Bandung dijuluki Kota Kembang tentunya tak akan sulit mendapatkan bunga mawar, itu asumsi saya. Sebagai orang Sumatra saya tidak memiliki pengetahuan di mana tempat membeli bunga mawar di kota Bandung. Saat sedang ke Kampung Gajah menemani beberapa teman (tapi tanpa partner) saya sempatkan mencari mawar di daerah sana.</p>
<p>Singkat cerita saya menemukan kebun Teteh Nunung. Kebunnya berada di bukit yang agak tinggi, jalanannya pun terjal dan rusak. Sampai di sana, saya memesan empat tangkai mawar berbeda warna dan satu kodi mawar putih yang akan saya ambil pada tanggal 31 Desember 2011.</p>
<p>Sore itu, hujan mengguyur kota Bandung. Saya sengaja mengajak partner makan malam berdua di Kampung Daun agar saya bisa mengambil pesanan mawar tersebut. Tiba di dekat Kampung Gajah saya berkata kepada partner, “Yank, parkir di sini dulu ya. Saya mau naik ke sana sebentar, kamu tunggu di mobil sebentar saja.” Kemudian saya turun membawa tas ransel dan berjalan menerobos hujan. Awalnya saya kira menaiki bukit yang tak begitu jauh menuju kebun Teteh Nunung tidak akan membuat saya capek, tapi setelah saya coba… astaga! Dengan udara sedingin itu saya hampir tak bisa bernapas. Tapi saya terus berlari karena tak mau meninggalkan partner sendirian terlalu lama.</p>
<p>Setelah berhasil mengambil pesanan mawar, saya kembali menuruni bukit. Niatnya ingin berlari lagi, biar lebih cepat. Tapi jalanan licin dan berlumpur… Beberapa kali saya hampir terpeleset. Untung saja saya tiba di bawah dengan selamat.</p>
<p>Di dalam mobil, saya menyerahkan satu kodi mawar putih kepada partner. Dan kami melanjutkan perjalanan ke Kampung Daun. Setelah makan malam, kami kembali ke hotel tempat saya menginap. Dan malam itu partner akan menemani saya.</p>
<p>Tiba di hotel saya segera menganti pakaian dan lain-lain. Kemudian saat partner gantian masuk ke kamar mandi, saya membuka ransel dan mengeluarkan empat mawar yang lain. Saya mulai menempelkan kertas berbentuk <em>love </em>yang saya bawa dan meletakkan mawar itu di ranjang. Tak lupa saya mengeluarkan amplop berisi puisi dari koper dan menyalakan lilin di sekitar ranjang.</p>
<p>Setelah semua tertata rapi, lampu kamar saya matikan. Saya melakukan semua dengan terburu-buru takut partner keluar sebelum saya selesai. Tapi ternyata partner malah berlama-lama di kamar mandi.</p>
<p>“Yank, cepet keluar <em>atuh</em>, lama banget sih,” kata saya, agak tak sabar.</p>
<p>Setelah partner keluar, dia menyaksikan semua yang saya siapkan untuknya. Dia tersenyum membaca semua yang saya tulis. Sambil menangis haru, dia berkata, “<em>Thanks, </em>Sayang&#8230;”</p>
<p>Saya memeluknya dan mengucapkan, “<em>Happy New Year and Happy Anniversary, Dear&#8230;</em>”</p>
<p>Meski penuh perjuangan, tapi inilah kenangan yang tak terlupakan untuk kami.</p>
<p><em>Dear, I write directly for you,</em></p>
<p><em>I love you once, love you still, always have, always will. And there’s nothing more beautiful than imagine to against this world with you. Thanks for being such a good girlfriends for me. Hope each day you would passed will always bring happiness for you. I love you, SL.</em></p>
<p><em>@</em>Octa Raymond, SepociKopi, 2012</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/02/05/romantic-roses/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Have Your Say: Kesetiaan pada Cinta Putih</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/02/03/have-your-say-kesetiaan-pada-cinta-putih/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/02/03/have-your-say-kesetiaan-pada-cinta-putih/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Feb 2012 11:29:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Have Your Say]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17838</guid>
		<description><![CDATA[Apakah cinta lesbian isinya dengan cinta penuh pengkhianatan yang saling menyakitkan? Mungkin tidak. Masih banyak lesbian yang bisa berbahagia sampai usia hubungan yang sangat lama. Cinta putih bukan hanya diinginkan oleh pasangan lesbian, kaum heteroseksual juga merindukannya. Dengarkan kisah cinta sahabat lesbian kita, Visca, yang cinta pertamanya hancur gara-gara ketiadaan rasa setia.
Mati lampu dan saya jadi teringat Ambar. Kalau lagi liburan begini, biasanya dia yang selalu menghibur saya. Naikin mood, bikin bahagia, dan selalu menyemangati. Apalagi kalau keadaan rumah lagi tidak sinkron, rasanya semua terlihat sangat menyebalkan, hmm… dialah selimut ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/cala-lily-white.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17839" title="cala lily white" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/02/cala-lily-white-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a><em>Apakah cinta lesbian isinya dengan cinta penuh pengkhianatan yang saling menyakitkan? Mungkin tidak. Masih banyak lesbian yang bisa berbahagia sampai usia hubungan yang sangat lama. Cinta putih bukan hanya diinginkan oleh pasangan lesbian, kaum heteroseksual juga merindukannya. Dengarkan kisah cinta sahabat lesbian kita, Visca, yang cinta pertamanya hancur gara-gara ketiadaan rasa setia.</em></p>
<p><em><span id="more-17838"></span></em>Mati lampu dan saya jadi teringat Ambar. Kalau lagi liburan begini, biasanya dia yang selalu menghibur saya. Naikin <em>mood</em>, bikin bahagia, dan selalu menyemangati. Apalagi kalau keadaan rumah lagi tidak sinkron, rasanya semua terlihat sangat menyebalkan, hmm… dialah selimut nyaman itu. Dia akan selalu ada di samping saya.</p>
<p>Bukan hal mudah untuk saya sebagai seorang <em>straight </em>yang tiba-tiba disuguhi cinta seorang sahabat perempuan. Ini tidak pernah saya bayangkan. Waktulah yang mengajarkan saya untuk mencintai, membalas tulus cintanya. Saya belajar untuk mencintainya dari waktu ke waktu sampai pada akhirnya saya melihat keseriusannya untuk hidup dengan saya.</p>
<p>Hubungan cinta yang indah ternyata sementara. Di antara hubungan kami, muncul Dana—teman kuliah Ambar yang kebetulan juga lesbian. Suatu hari Dana mengantarkan Ambar bertemu dengan saya di kampus. Itu adalah saat pertama kalinya saya bertemu dengan Dana. Dana menjadi satu-satunya sahabat lesbian saya. Menjadi tempat cerita, satu-satunya yang saya percaya untuk menceritakan hubungan saya dengan Ambar, bahkan di saat buruk sekali pun. Dialah yang menjadi penambah kebahagiaan hubungan kami, tetapi kemudian dia jugalah yang menjadi malapetaka bagi saya. Keterpurukan dan kesakitan dalam hidup saya pun dimulai sejak saat itu.</p>
<p>Dana memang berbeda dengan saya. Saya adalah tipikal perempuan yang serius dalam menjalin hubungan. Saya tidak pernah bermain-main apalagi dalam hubungan lesbian. Saya akui, selama sembilan bulan, saya membuat Ambar berpikir bahwa dialah yang selalu menjadi penyebab atas semua pertengkaran kita. Sosok Dana membuat Ambar merasa bahwa saya bukanlah perempuan yang selama dia inginkan. Sosok perempuan yang benar-benar berbeda dengan saya dalam segala hal. Ambar jatuh cinta padanya.</p>
<p>Dana pernah meminta Ambar untuk menjadi pacarnya. Tetapi Ambar menolaknya karena saat itu ada saya. Dana menunggu Ambar, menunggu saya dan Ambar putus. Apakah ini yang dibilang setia? Menunggu pacar orang lain sedang dia sudah memiliki pacar juga? Lalu merebutnya dengan sangat sempurna?</p>
<p>Ambar mulai berpaling dari saya. Dia memilih Dana dan membiarkan saya tersakiti tiap detiknya. Dia membiarkan semuanya terjadi. Saya hancur, jatuh, dan sesak karena lupa bagaimana caranya bernapas. Banyak hal yang sudah saya korbankan. Segalanya, Ambar tahu semua itu. <em>My first kiss, my first girlfriend, my first romance experience. </em>Seluruh diri dan cinta saya dia dapatkan semua. Padahal saya selalu menjaga tubuh saya dari mantan-mantan pacar lelaki saya. Tetapi hanya dalam waktu singkat Ambar sanggup melupakan semua itu. Dia membuang saya jauh-jauh dari hidupnya, membiarkan Dana menari-nari di atas kesakitan saya.</p>
<p>Benar mereka terlihat bahagia, namun ada satu orang lagi yang sakit seperti saya. Namanya Nullish. Nullish adalah kekasih  Dana. Hubungan  Dana dan pacarnya memang sedang tidak baik. Saya tidak tahu hal-hal detil tentang itu. Yang pasti sejak kebersamaan mereka, situasi antara saya, Ambar, Dana,dan  Nullish naik turun. Banyak hal yang tidak dapat diterima dengan akal dan nurani .</p>
<p>Seribu pertanyaan berkeliaran membabi buta. Sampai sekarang saya tidak pernah mendapatkan jawaban dari semua drama ini. Seperti apakah yang disebut cinta lesbian? Apakah ada cinta lesbian yang setia sampai mati? Merasakan luka dari drama lesbian dan kisah-kisah yang pernah saya baca, saya pelan-pelan menyadari, barangkali benar cinta lesbian susah untuk setia.</p>
<p>Akhir dari drama ini, Dana dan Nullish akhirnya bisa memperbaiki hubungan mereka. Dana akhirnya mengakui bahwa dia tidak menyanyangi Ambar dan hanya Nullish yang dapat membuatnya bahagia. APA?! Bisa-bisanya dia berkata  seperti itu setelah semua yang dia lakukan. Sedangkan saya dan Ambar? Menyadari apa yang terjadi sebelumnya di antara kami, Ambar memutuskan tidak menjalin hubungan dengan siapa pun sampai ia menjadi manusia berkualitas, demikian yang dikatakannya. Apakah menjadi setia sama dengan kualitas?</p>
<p>Saya belum mendapat jawabannya. Belum juga bisa berhenti menangisi semua ini, padahal sudah berjalan selama lima bulan sejak kejadian itu. Meski hati saya merasa lega hubungan Ambar dan Dana berakhir, namun kenyataan yang saya sadari yang terjadi antara saya dan Ambar adalah jurang. Kalau Ambar membaca tulisan saya ini, ketahuilah bahwa saya tidak pernah mengekang cinta. Saya hanya ingin tahu, apakah ada cinta abadi itu? Apakah ada seorang lesbian yang akhirnya begitu lama hidup bersama orang yang dicintainya?</p>
<p>Dulu saya begitu percaya Ambar berbeda dari kisah lesbian-lesbian nakal yang saya ketahui. Ambar tidak akan mungkin mengkhianati saya, karena cintanya begitu besar. Tetapi apa yang saya dapatkan ini adalah pelajaran berharga sama seperti kisah-kisah pahit yang pernah dituliskan. Apa yang saya alami barangkali juga sama dengan yang dialami pasangan lain. Apakah ini bukti bahwa cinta lesbian susah untuk setia?<br />
Berbahagialah mereka yang masih sedang dan berhasil melewati kepahitannya, dan masih bisa bersama-sama.</p>
<p>Semua orang berhak mendapatkan kebahagiaan tetapi bukan berarti harus merebut kebahagiaan orang yang telah dibangun dengan susah payah. Belajar dari semua pengalaman ini, saya mengerti bahwa cinta begitu mudah untuk dikatakan tetapi sulit untuk dipertahankan. Sedang kesetiaan hanya dimiliki oleh orang-orang yang mengerti bahwa cinta itu sakral bukan dangkal. Terlepas dari hubungan lesbian ataupun heteroseksual, semua orang bisa saja melakukan kesalahan, termasuk orang yang kita cintai. Memaafkan dan melupakan adalah cara terbaik untuk mengobati luka di hati.</p>
<p>@Visca, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/02/03/have-your-say-kesetiaan-pada-cinta-putih/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerpen: Lara Lana</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/23/cerpen-lara-lana/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/23/cerpen-lara-lana/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jan 2012 08:00:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17310</guid>
		<description><![CDATA[Lara Lana
Oleh: Dewi Dee Lestari
Cerpen ini dimuat di kumpulan cerita dan prosa Filosofi Kopi (Gagas Media, 2005)
Sederet angka mencuat dari kertas putih, menusuk mata Lana. Ada sebersih takjub juga ngeri. Seberantak angka yang susah dihafal mampu membongkar kenangan usang dan memberinya makna baru. Dia yang baru. Aku yang usang.
Ruang tunggu selalu memancing dilema dalam hatinya, tapi tidak pernah seperti ini. Lana betul-betul tergerak untuk menelepon. Mungkin karena Lana sudah tak yakin kapan akan kembali, akankah dirinya kembali.
Lana memencet empat angka pertama dari sepuluh digit yang tertera. Dadanya berdegup kencang sampai ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/Lara-Lana.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17415" title="Lara Lana" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/Lara-Lana-214x300.jpg" alt="" width="214" height="300" /></a>Lara Lana</strong><br />
Oleh: Dewi Dee Lestari<br />
Cerpen ini dimuat di kumpulan cerita dan prosa <em>Filosofi Kopi</em> (Gagas Media, 2005)</p>
<p>Sederet angka mencuat dari kertas putih, menusuk mata Lana. Ada sebersih takjub juga ngeri. Seberantak angka yang susah dihafal mampu membongkar kenangan usang dan memberinya makna baru. <em>Dia yang baru. Aku yang usang.</em></p>
<p>Ruang tunggu selalu memancing dilema dalam hatinya, tapi tidak pernah seperti ini. Lana betul-betul tergerak untuk menelepon. Mungkin karena Lana sudah tak yakin kapan akan kembali, akankah dirinya kembali.</p>
<p>Lana memencet empat angka pertama dari sepuluh digit yang tertera. Dadanya berdegup kencang sampai sakit rasanya. Bibirnya bergetar resah, mengantisipasi. Begitu terdengar nada sambung nanti, Lana siap berekspresi layaknya pose untuk berfoto yang terakhir kali. Kata &#8216;apa kabar&#8217; akan meluncur dengan semangat penghabisan matahari sore sebelum dipadamkan malam. Lalu ia lancarkan sepaket basa-basi dalam urutan yang tepat, seperti yang selalu dilatihkannya dalam hati sebelum lelap tidur, agar percakapan mereka tercatat sejarah sebagai yang paling mengasyikkan.</p>
<p>Lalu perasaan itu. Rasa rindu yang akan ia ungkapkan hati-hati, dicicil sehingga tidak terasa picisan. Rasaya sayang dikemas dalam kiasan seperti membungku puteri dalam gaun pesta lalu dilepas anggun ke lantai dansa. Cantik mengundang tapi membuat segan. Semua itu telah dilatihkannya berhari-hari. Bertahun-tahun.</p>
<p>Dua angka sebelum digit terkahir. Jarinya bertahan oleh detik yang tahu-tahu membeku. Detik yang tahu-tahu melebar dan membentangkannya dua puluh tiga tahun perkawanan. Dia selalu memuja Lana, begitu kata semua orang. Tapi mereka tidak bsia bersama karena alasan yang tak perlu dipertanyakan lagi. Kamu itu bajaj bermesin BMW, begitu Lana mengungkapkan padanya saat didesak.</p>
<p>Lana kenal banyak BMW bermesin bajaj, dan semua itu habis ia hina-hina. Untuk benar-benar bersanding sebagai pacar Lana, seseorang harus jadi mobil mewah Eropa luar dalam. Lana yang unik dan glamor. Kamu cukup jadi kacung intelektualku saja, kata Lana padanya. Mereka berdua lantas tertawa-tawa, mereka suka perumpamaan itu, sekali pun hatinya patah setiap kali kata &#8216;kacung&#8217; terlontar dari bibir Lana yang menguncup menggemaskan.</p>
<p>Dia ingin jadi pendekar sakti, seorang master, ilmuwan kaya raya yang menciptakan temuan-temuan hebat untuk memajukan umat manusia. Lana ingin menjadi anggota dari kelompok ultraelit yang memperoleh teknologi dari makhluk Mars untuk membangun koloni rahasia di bulan. Mereka percaya teori konspirasi dan secara berkala bertukar informasi yang dikarang sendiri. Tak ada orang yang lain mampu menghibur Lana sebegitu sempurna, memuaskan rasa humornya, menjajal daya khayalnya.</p>
<p>Masa kuliah mereka habiskan di tempat berbeda. Dia kuliah di UI dan untuk itu terpaksa menumpang di dapur pamannya di Lenteng Agung karena beliau beranak delapan dan itulah satu-satunya tempat yang masih muat digelari kasur. Lana kuliah di USC yang mengharuskannya tinggal di Los Angeles. Sama-sama &#8216;L.A.&#8217;, baru kalau diuraikan perbedaannya terlihat, canda mereka selalu sama. Namun ada kalanya persamaan insignifikan itu, aksara L dan A, menjadi satu-satunya penghibur kala kangen mereka tak lagi terbendung.</p>
<p>Lana tidak menyelesaikan kuliahnya di USC, dan itu tidak masalah. Bisnis keluarganya terlalu banyak untuk menunggu sebuah gelar kesarjanaan. Lain halnya dengan dia yang mencicil gelar demi gelar, mengetuk banyak pintu demi beasiswa, lalu kembali berjuang meniti karier akademis yang terjal, yang tak akan pernah membuatnya sekaya raya Lana.</p>
<p>Saat dia menjadi dosen, hidup sederhana dalam rumah cicilan tipe 35 di perumahan milik universitas yang sebagian masih rawa-rawa, Lana membantunya pindahan, bahkan menginap dan ikut tidur di atas tikar. Pendar-pendar televisi pemberiannya menyemarakkan dinding polos yang tak berhias. Lana tidak punya koloni di bulan, tapi penghasilannya lebih dari cukup unutk menghadiahkan televisi.</p>
<p>Lana tinggal seminggu di rumah itu. Setelah kita mencoba hidup 24 jam x 7 hari dengan seseorang dan tidak merasa bosan, maka orang itu bisa kita nikahi, Lana berteori. Mendengar ucapan Lana, ia tertawa sampai berurai air mata, diikuti Lana sampai tercekik-cekik. Saya tidak mungkin menikahi kamu, ia bercelutuk di ujung tawanya. Barulah Lana sadar, mereka berdua tertawa karena alasan yang berbeda.</p>
<p>Suatu hari dia bilang kalau dia punya pacar. Baru seminggu. Seorang gadis tingkat akhir yang lugu, kaku, dan tidak seru. Tidak percaya UFO, tidak suka Kho Ping Hoo, dan tidak peduli ada tidaknya konspirasi global selama nasi tersaji di meja makan keluarganya setiap hari, selama adzan masih berkumandang lima kali sehari. Kenapa kamu bisa suka, Lana bertanya. Karena dia mau sama saya, ia menjawab. Lana spontan tertawa, kaku dan lama. Ia hanya tersenyum dan menunggu tawa Lana usai. Saya akan menikah, lanjutnya saat hening. Bagaimana kamu bisa menikahi orang yang baru kamu kenal, yang tak seru, yang tak bisa menghargai keunikan pikiranmu, yang tak bisa kamu ajak bercanda dan berkhayal semalam suntuk, cecar Lana yang mulai marah karena percakapan itu makin tidak lucu.</p>
<p>Dia diam, menatap Lana dengan lelah. Dia jemu menanti yang tak pasti. Dia jenuh menjadi pihak yang tak berdaya. Manusia mana yang tidak, pikir Lana. Namun dirinya tak bisa berbuat apa-apa. Keadaan mereka terlampau jauh berbeda. Terkadang Lana berpikir keajaibanlah yang melahirkan manusia satu ini. Bagaimana mungkin lingkungan serba kekurangan, kolot, konservatif, ortodoks, kampungan, dan segala ajektif yang menandakan sistem klaustrofobik sosial mampu menghadirkan dia yang sebegitu canggih dan gila. Seolah dia terbelah dalam dua dunia: dunianya bersama Lana dan bersama sisa dunia tanpa Lana.</p>
<p>Lana ingat saat terkahir kali nomor itu tertera di layar ponselnya: <em>Besok saya lamaran. Doakan ya</em>. Lana tergeli sendiri, apa yang harus didoakan? Hidup berjalan sesuai kontrak yang disepakati antar-roh sebelum terlahir menjadi daging di dunia. Apa pun yang terjadi bukanlah keberuntungan atau kesialan, melainkan eksekusi kontrak belaka. Jadi, apakah seseorang bisa dibilang sial kalau sebenarnya kesialan itu direncanakan? Lana tambah stres saat pertama kali mendengar konsep itu di retret anti-stres.</p>
<p>Akhirnya Lana tak tahan lagi, nelepon membabi buta: Saya mohon, jangan pergi melamar ke sana. Kalau kamu menikah, saya akan jadi orang paling kesepian di dunia. Kalau perlu, saya yang melamar ke orangtua kamu. Jangan bohongi diri kamu. Cuma saya yang mengerti siapa sebetulnya kamu&#8230;</p>
<p>Ia memotong, dingin, seolah disusupi roh asing yang tak Lana kenal: Selama ini kamu cuma mengenalku dalam versi yang kamu mau. Aku begitu karena kamu. Kamu tdak pernah tahu siapa diriku sebenarnya.</p>
<p>Lana menggeleng. Tidak mungkin. Barangkali ia salah sambung. Perjanjian macam apa ini? Benarkah ini roh yang sama, teman sebangkunya sejak SMA, yang selalu berkata mereka adalah sejiwa terbelah dua, <em>soulmate</em>? Lana menutup telepon. <em>Aku ditipu. Breach of contract</em>.</p>
<p>Anaknya yang paling besar sudah mau masuk SD, mereka masih tinggal di rumah yang sama. Lana tahu itu dari seorang alumni. Dan kamu belum menikah? Temannya itu bertanya, hati-hati. Lana menggeleng ringan dengan ekspresi yang bikin iri. Ada kemerdekaan di sana, penerimaan, dan keberanian untuk menjadi beda. Sejak dulu memang cuma Lana yang punya itu semua, temannya membatin. Bergaul dengan Lana seperti hanyut dalam air sejuk, tapi kesejukan itu lama-lama menjadi dingin yang mengintimidasi. Temannya pun permisi pergi, meninggalkan Lana yang kehilangan belahan jiwanya pada reuni akbar, pada sat jiwa-jiwa yang terpisah seharusnya kembali bertemu.</p>
<p>Digit terakhir. Jatuh pada angka nol. Jempol Lana gemetar seolah dibebani bergunung-gunung sampah batin yang dikoleksinya sepanjang hayat. Hatinya lalu mengukur dan menimbang: Akankah aku bertambah tenang bila berhasil membuktikan pada diriku, pada dia, pada dunia, kalau aku baik-baik saja?</p>
<p>Saut percakapan telepon akan membuktikannya. Satu dosis kejujuran sebelum Lana pergi meracuni tubuh dengan kemoterapi &#8211; racun yang berbohong jadi obat.</p>
<p>Jempol itu melayang di atas nol. <em>Kejujuranlah obat sejati.</em></p>
<p>Suara sintetik bernada tinggi menggema di ruang tunggu yang lengang. Tombol terakhir dipencet sudah. Aku mencintaimu. Tidak akan berubah.</p>
<p>Tombol merah yang Lana pilih menghapus kesembilan digit angka pada layar ponsel yang menyala biru. Seorang perempuan berseragam menghampirinya, &#8216;Bapak Maulana, mari saya antar ke pesawat.&#8217;</p>
<p>Lana tidak terburu-buru. Tangan bergerak pelan dan khidmat. Pesawat itu pasti mau menunggu seorang pesakitan untuk melipat dan menyimpan secarik kertas ke dalam dompet, sebagaimana kertas itu sudah terlipat dan menunggu bertahun-tahun di tempat sama. Lalu Lana beringsut hati-hati ke kursi roda yang dibawakan khusus untuknya.</p>
<p>&#8216;Tidak apa-apa, Pak?&#8217; petugas itu bertanya saat melihat mata Lana.</p>
<p>Lana tersenyum tipis, ringan, ekspresi yang memancing rasa iri. Ada kejujuran di sana, kepasrahan, dan keberanian untuk menjadi beda. Namun ada juga bulatan air menyerupai angka nol yang menyembul di pelupuk mata. Lana menghancurkan bulatan itu dengan punggung tangan, &#8216;Tidak apa-apa.&#8217;</p>
<p>***</p>
<p><strong>Tentang Dewi Dee Lestari</strong><br />
Diawali dengan debutnya lewat novel serial <em>Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh</em> pada tahun 2001, dan menyusul enam judul buku sesudahnya hingga yang terakhir <em>Madre </em>tahun 2011, Dee telah menancapkan jejak indahnya di khasanah perbukuan negeri dan hati pembacanya. Cerpen <em>Mencari Herman</em> yang diterbitkan dalam antalogi <em>Filosofi Kopi</em> merupakan karya sastra terbaik versi Majalah Tempo tahun 2006.</p>
<p>@SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/23/cerpen-lara-lana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>L’Amour: Kejutan Ulang Tahun</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/22/lamour-kejutan-ulang-tahun/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/22/lamour-kejutan-ulang-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 02:00:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[L'Amour]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17407</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh: Nita
Saya merasakan jatuh cinta yang berbeda saat menduduki bangku perkuliahan. Saat masih SMP maupun SMA saya menyukai laki-laki yang cenderung memiliki perawakan yang cukup besar. Tapi juga sempat mengidolakan teman perempuan yang mengikuti latihan basket bersama saya di sekolah dan terkadang saya merasa iri jika dia lebih dekat dengan teman perempuan yang lainnya. Saya berpikir,  oh mungkin itu namanya iri dengan fans-fans yang lain. Selama saya dekat dengan laki-laki, jarang saya memiliki keseriusan tinggi untuk meneruskannya lebih lanjut.
Ketika menduduki bangku perkuliahan, saya merasakan hal yang berbeda. Saya bertemu dengannya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/surprise_chu__by_cherriuki-d2yenjd.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17410" title="surprise_chu__by_cherriuki-d2yenjd" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/surprise_chu__by_cherriuki-d2yenjd-211x300.jpg" alt="" width="211" height="300" /></a>Oleh: Nita</p>
<p>Saya merasakan jatuh cinta yang berbeda saat menduduki bangku perkuliahan. Saat masih SMP maupun SMA saya menyukai laki-laki yang cenderung memiliki perawakan yang cukup besar. Tapi juga sempat mengidolakan teman perempuan yang mengikuti latihan basket bersama saya di sekolah dan terkadang saya merasa iri jika dia lebih dekat dengan teman perempuan yang lainnya. Saya berpikir,  <em>oh mungkin itu namanya iri dengan fans-fans yang lain</em>. Selama saya dekat dengan laki-laki, jarang saya memiliki keseriusan tinggi untuk meneruskannya lebih lanjut.</p>
<p>Ketika menduduki bangku perkuliahan, saya merasakan hal yang berbeda. Saya bertemu dengannya pada awal perkuliahan semester dua dimulai. Saat itu saya dan teman-teman sedang bersepeda dan salah satu teman mengajak dia, sebut saja L, dan saya pun diperkenalkan dengannya.</p>
<p>Saat itu untuk pertama kalinya saya memiliki rasa ingin tahu yang lebih tinggi kepada seseorang yang baru saja saya kenal. Semakin hari kami semakin dekat.  Saya, dia dan teman-teman sering pergi bersama atau sekadar makan siang bersama. Setiap Jumat L kuliah di kampus yang dekat dengan kost saya, biasanya setelah selesai kuliah dia mengajak saya makan siang atau sekadar bermain <em>game zone</em> di mal. Anehnya saya selalu mengiyakan ajakan L. Setelah selesai kuliah, setiap Jumat, saya jarang berkumpul dengan teman kampus, tetapi malah pergi bersama L.</p>
<p>Kurang lebih tiga bulan kami saling kenal, kadang-kadang dia bermain di kost saya, tetapi malah sering saya tinggal untuk membersihkan kamar, setelah itu baru kami pergi makan. Tidak hanya &#8220;makan&#8221; sebab setelah makan ini, kami makan itu. Setelah makan itu lalu makan ini. Ya, kami berdua sama-sama doyan makan he he he.</p>
<p>Kami semakin sering menghabiskan waktu berdua, mulai dari  nonton film terbaru di bioskop atau sekadar main di kost saya sambil membawa keponakannya yang lucu. Selama itu pula kami sering berkomunikasi lewat BBM atau SMS, saat baterai BB-nya mati. Terkadang di malam hari kami suka bertelepon sampai sama-sama ngantuk dan tertidur.</p>
<p>Hari demi hari yang saya lalui berbeda setelah saya mengenalnya. Saya semakin peduli dan ingin tahu lebih banyak tentangnya. Kalau dia tak kunjung membalas BBM atau SMS, saya jadi selalu memperhatikan HP, sebentar-sebentar melirik HP. Saat sedang teleponan atau membalas pesan darinya, bibir saya selalu melengkung membentuk senyum. Ketika pergi berdua dengannya, saya merasa ada ratusan kupu-kupu menari di perut saya. Entahlah, tidak tahu jelas apa yang saya rasakan saat itu.</p>
<p>Tapi pernah saya merasa sangat cemburu dengan teman perempuannya, entah cemburu atau apa. Saya tidak tahu apakah dia memiliki hubungan spesial atau tidak dengan perempuan itu. Setiap saya melihat <em>timeline</em>-nya dan ada <em>mention </em>dari perempuan itu, saya sedih, galau, atau&#8230; tak tahulah.</p>
<p>Mejelang ulang tahun saya, dia menghapus<em> contact</em> BBM saya. Bingung ada apa dengannya. Ternyata dia hanya ingin memberikan kejutan untuk saya. Tapi ternyata musibah terjadi tepat di hari ulang tahun saya. Dia dihipnotis dan barang-barang berharganya diambil. Saat itu dia tidak langsung memberikan <em>pancake </em>babi lucu kesukaan saya, melainkan dititipkannya pada teman saya.  Setelah kejadian hipnotis itu, dia takut keluar rumah sendirian. Meski bercampur sedih, saya senang mendapat hadiah dan kejutan darinya. Saya langsung menghubunginya dan mengucapkan terima kasih. Keesokan hari saya datang ke rumahnya, menengok keadaannya. Dia pun menceritakan bagaimana musibah itu terjadi.</p>
<p>Seminggu setelah ulang tahun saya, giliran ulang tahunnya yang akan tiba. Saya mengajak teman-teman memberikan kejutan di malam ulang tahunnya.  Tapi siangnya saya baru tahu perempuan yang pernah saya cemburui itu mengirimkan paket hadiah ulang tahun untuknya, dan L merasa senang sekali. Hati saya rasanya tersayat. Saya menangis dengan pikiran dan hati yang tidak keruan. Saat itu pula saya tahu, perempuan itu adalah mantannya. Apa mungkin mereka balikan lagi? Entahlah. Yang jelas saat itu saya menangis tiada henti.</p>
<p>Saya mulai mengurangi komunikasi dengannya, dan rasanya dia pun menyadarinya. Dia bertanya, ada apa dengan saya? Saat kesempatan itu tiba, dengan segenap hati saya ceritakan apa yang saya rasakan, apa yang membuat saya menjauhinya. Saya bercerita di telepon sambil menangis sesengukan.</p>
<p>Dan dia pun menjelaskan semuanya. Perempuan itu hanya mantannya dan dia bilang bahwa dia menyayangi saya. Ungkapan itu membuat hati saya lega dan bahagia mendengarnya, mesti saya tetap menangis.</p>
<p>Saya itu juga saya ungkapkan dengan jelas, bahwa saya menyayanginya.</p>
<p>@Nita, SepociKopi, 2012</p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/22/lamour-kejutan-ulang-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berpasangan Sampai Tua</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/21/berpasangan-sampai-tua/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/21/berpasangan-sampai-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 02:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Friendship]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17177</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Yasmin
&#8220;&#8216;Memiliki pasangan yang tetap berpasangan sampai tua’ itulah jawaban semua lesbian, ketika ditanya apa harapan hidupnya,” kata salah seorang teman. “Tanya ke aku dong…,” pintaku. “Ya, kalau kamu, apa harapan hidupmu sebagai lesbian?” tanyanya. “Boleh nggak sebagai manusia saja, nggak usah sebut sebagai lesbian,” pintaku lagi, ngeyel.
Jawaban saya, memiliki pasangan maupun tidak, saya ingin jadi manusia yang berguna bagi orang-orang di sekitar saya.  Kalimat “memiliki pasangan maupun tidak” adalah penekanan saya terhadap penyangkalan asumsi bahwa semua lesbian mempunyai harapan itu.
Sebenarnya pembicaraan ini diawali dengan debat kami akan perlunya mempertahankan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/stock-photo-a-photo-of-two-old-women-with-their-dog-enjoying-the-sunset-6159742.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17404" title="two-old-women-with-their-dog-enjoying-the-sunset-6159742" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/stock-photo-a-photo-of-two-old-women-with-their-dog-enjoying-the-sunset-6159742-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>Oleh: Yasmin</p>
<p>&#8220;&#8216;Memiliki pasangan yang tetap berpasangan sampai tua’ itulah jawaban semua lesbian, ketika ditanya apa harapan hidupnya,” kata salah seorang teman. “Tanya ke aku dong…,” pintaku. “Ya, kalau kamu, apa harapan hidupmu sebagai lesbian?” tanyanya. “Boleh nggak sebagai manusia saja, nggak usah sebut sebagai lesbian,” pintaku lagi, ngeyel.</p>
<p>Jawaban saya, memiliki pasangan maupun tidak, saya ingin jadi manusia yang berguna bagi orang-orang di sekitar saya.  Kalimat “memiliki pasangan maupun tidak” adalah penekanan saya terhadap penyangkalan asumsi bahwa semua lesbian mempunyai harapan itu.</p>
<p>Sebenarnya pembicaraan ini diawali dengan debat kami akan perlunya mempertahankan hubungan dengan pasangan dengan cara-cara tertentu.  Yang disebutkan dengan cara-cara tertentu oleh teman saya tersebut adalah hubungan pertemanan dia dan pasangannya dengan teman-teman mereka sangat terarah dan terstruktur. Teman hetero banyak, tapi khusus untuk teman lesbian, perlu kehati-hatian tersendiri. Hal inilah yang saya tolak mentah-mentah. Pertama, terbayang gerak sosial teman saya itu jadi sangat terbatas.  Kedua, status saya sebenarnya adalah teman lesbiannya (bukan mereka) karena saya tidak kenal partnernya.  Jadi, kemungkinan saya harus siap-siap ditendang.</p>
<p>Alasannya, kata teman saya itu, praktek teman-makan-teman sudah bukan rahasia lagi, dan sering terjadi di kelompok lesbian. <em>What??!!</em> Tambah nggak bisa terima lagi saya dengan alasan tersebut.  Urusan teman-makan-teman memang sering terjadi di kelompok lesbian, eh ralat, di mana pun sebenarnya, bukan di kelompok lesbian saja.  Saya pun pernah mengalaminya, pasangan hetero yang menikah pun kita lihat pernah mengalaminya. Namun, bukankah selingkuh atau tidak itu tergantung orangnya? Bukankah meski tanpa akad nikah atau pemberkatan pernikahan, pasangan lesbian juga berkomitmen untuk selalu bersama, saling setia?</p>
<p>Kalau ada peraturan pembatasan pergaulan, menurut saya itu sama artinya dengan tidak ada kepercayaan satu sama lain, terjadi pembelengguan kebebasan satu sama lain, melanggar privasi seseorang dalam melaksanakan haknya sebagai mahluk sosial. Mukaku pun merah padam, menahan kesal.</p>
<p>Kita ambil contoh, <em>webzine </em>SepociKopi ini, di sinilah tempat lesbian-lesbian berkumpul. Sama-sama membaca, sama-sama menulis, sama-sama berkomentar, dan seterusnya. Apakah interaksi seperti ini juga dilarang? Teman saya bilang, “Justru di SepociKopi banyak sekali orang-orang keren yang pintar-pintar sebagai penulis maupun pembaca, inilah godaan besar buat lesbian yang perpasangan. Saya malah nggak boleh buka website SepociKopi lagi,” katanya.</p>
<p><em>Oh</em> <em>God.</em> Saya pun nyerocos. “Lho, biar pintar dan cakep, emangnya mau diapain? Kamu kan udah punya pasangan, ya jangan dong,” kataku.</p>
<p>“Prakteknya susah, Yas, itu tetap menjadi godaan buat kami, daripada terjadi apa-apa, maka saya mau saja menuruti kata-kata partner saya, dia juga nggak buka-buka SepociKopi kok,” jawabnya.</p>
<p>Benarkah? Saya tetap dengan keteguhan hati bahwa pergaulan penting buat hidup kita. Pergaulan dengan sesama lesbian juga demikian.  Alangkah sayangnya kalau SepociKopi yang brilian ini dibiarkan berlalu, tanpa pernah dikunjungi. Benarkah kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk mempertahankan hubungan kalau elemen godaan mengguncang hati kita? Bagaimana dengan pasangan Alex dan Lakhsmi yang mengelola <em>webzine </em>ini, dan berinteraksi dengan seluruh unsur-unsurnya? Manusia memang berbeda-beda, ya?</p>
<p>Harapan memiliki pasangan sampai tua tinggal harapan kalau prakteknya harus ada pembatasan pergaulan seperti yang dianut teman saya itu. Itulah sebabnya jawaban saya di atas jadi seperti tadi, menekankan kata-kata berpasangan maupun tidak…</p>
<p>Teman saya itu dan pasangannya termasuk yang awet.  Mereka sudah bertahun-tahun perpartner, tahun ini sudah memasuki hitungan berapa belas tahun mereka bersama. Sebelum ini saya sering bertanya kepadanya, apa sih yang membuat hubungan kalian awet? Jawabannya ya gitu-gitu deh, ada kata saling setia, dan lain-lain.  Tapi rupanya ada strategi lain, batasi pergaulan satu sama lain untuk bergaul di lingkungan lesbian.  Kalau memang begitu strategi menjaga hubungan, terima kasih deh…! Mendingan saya tidak berpartner.</p>
<p>Namun, saya kan orang yang optimis, saya masih yakin akan ada partner untuk saya yang tanpa perlu batas membatasi pergaulan akan awet sampai tua. Gitu aja harapannya, kok repot.</p>
<p>Kalau harapan itu tidak terkabul? Persiapan diri secara mandiri terhadap diri sendiri kan sudah saya rencanakan dengan rapi. Investasi masa depan, asuransi kesehatan dan asuransi jiwa sudah saya persiapkan juga. Sekarang urusan hati. Ya siap-siaplah dari sekarang. Menjalin hubungan baik dengan keluarga dan teman sebanyak-banyaknya adalah termasuk persiapan itu. Tidak ada yang tahu nasib kita di masa yang akan datang. Akan sampai tuakah usia kita? Atau besok sudah dijemput maut? <em>Wallohu&#8217;alam</em>.</p>
<p>@Yasmin, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/21/berpasangan-sampai-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SepociKopi: Cinta vs 1,5 Miliar</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/15/sepocikopi-cinta-vs-15-miliar/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/15/sepocikopi-cinta-vs-15-miliar/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jan 2012 05:00:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Ulang Tahun]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[ulang tahun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17364</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Frizy Jo
Sudah seminggu ini aku sakit kepala. Bukan sakit kepala lantaran kepala terkena air hujan. Bukan juga sakit kepala karena tesis yang tak kunjung selesai. Sakit kepala yang ini cuma bisa sembuh oleh kemurahan hati sang editor SepociKopi. Lho, kok editor SepociKopi disebut-sebut? Ya, tentu saja, karena sudah seminggu ini aku bingung harus menulis tentang apa untuk ulang tahun SepociKopi yang kelima ini.
Kalau bicara tentang kecintaanku pada majalah online ini, nggak usah diragukan lagi deh! Cintaku mengalahkan rasa takut terhadap dewan redaksi. Tentunya sudah pada tahu dong kalau dewan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/Loves-A-Billion.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17365" title="Layout 1" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/Loves-A-Billion-232x300.jpg" alt="" width="232" height="300" /></a>Oleh: Frizy Jo</p>
<p>Sudah seminggu ini aku sakit kepala. Bukan sakit kepala lantaran kepala terkena air hujan. Bukan juga sakit kepala karena tesis yang tak kunjung selesai. Sakit kepala yang ini cuma bisa sembuh oleh kemurahan hati sang editor SepociKopi. Lho, kok editor SepociKopi disebut-sebut? Ya, tentu saja, karena sudah seminggu ini aku bingung harus menulis tentang apa untuk ulang tahun SepociKopi yang kelima ini.</p>
<p>Kalau bicara tentang kecintaanku pada majalah <em>online </em>ini, nggak usah diragukan lagi deh! Cintaku mengalahkan rasa takut terhadap dewan redaksi. Tentunya sudah pada tahu dong kalau dewan redaksi SepociKopi terkenal superkejam dalam hal seleksi artikel yang layak untuk dimunculkan di situs ini. Saking kejamnya&#8230; (ini rahasia ya), pernah suatu hari ketika aku mengunjungi Taman Safari di Cisarua dan sampai di area singa, ada seekor singa yang setengah berbaring menghalangi mobilku dan mengaum keras, seketika itu juga yang terpikirkan olehku adalah para dewan redaksi termasuk editorku di SepociKopi. Dan lebih parah lagi, ketika aku sedang mendiskusikan tulisanku dengan editor tercinta lewat YM dan beliau mengkritik habis tulisanku, tanpa sengaja aku mengetik kalimat, “Dasar singa duduk!” Kebayang kan betapa paniknya diriku kalau editor ngambek dan langsung mengembalikan tulisan tanpa penjelasan apa pun? Jadi nggak usah meragukan cintaku lagi deh.</p>
<p>Lalu aku pun kembali bingung dengan ide tulisan yang akan kuusung kali ini. Temanya sih gampang. Hari jadi kelima tahun. Pesta. Gembira. Meriah. Tapi begitu memandang layar monitor, <em>zinggggg</em>, dan ide pun kembali menguap. Akhirnya, sambil menunggu wangsit turun dari langit, aku pun iseng-iseng menganalisa SepociKopi dan menghitung biaya-biaya yang harus dikeluarkan SepociKopi selama beroperasional setiap hari tanpa henti selama lima tahun sejak tahun 2007.</p>
<p>Perhitungan secara kasar dan konservatif kira-kira sebagai berikut:</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="611">
<tbody>
<tr>
<td width="504" valign="bottom">Biaya  <em>host server</em> 5 tahun @ Rp. 2,000,000</td>
<td style="text-align: left;" width="107" valign="bottom">10,000,000</td>
</tr>
<tr>
<td width="504" valign="bottom">Biaya desain web</td>
<td style="text-align: left;" width="107" valign="bottom">50,000,000</td>
</tr>
<tr>
<td width="504" valign="bottom">Biaya penulis utk 3,650 artikel @ Rp. 100,000</td>
<td style="text-align: left;" width="107" valign="bottom">365,000,000</td>
</tr>
<tr>
<td width="504" valign="bottom">(satu hari dua artikel selama lima tahun)</td>
<td width="107" valign="bottom"></td>
</tr>
<tr>
<td width="504" valign="bottom">Biaya gaji kepala editor, wakil kepala editor, editor total Rp.15,000,000/bulan</td>
<td style="text-align: left;" width="107" valign="bottom">975,000,000</td>
</tr>
<tr>
<td width="504" valign="bottom">Biaya dua orang staff pelaksana admin Rp. 2,000,000/bulan</td>
<td style="text-align: left;" width="107" valign="bottom">130,000,000</td>
</tr>
<tr>
<td style="padding-left: 30px; text-align: right;" width="504" valign="bottom"><strong>Total biaya selama lima tahun</strong></td>
<td style="text-align: left;" width="107" valign="bottom"><strong> 1,530,000,000</strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Wuih, besar ya ternyata biaya yang seharusnya dikeluarkan oleh SepociKopi selama lima tahun. Padahal aku menghitungnya dengan asumsi paling rendah lho meskipun aku tahu bahwa artikel-artikel yang ada di SepociKopi tidak dapat dinilai secara materi. Mungkin uang sejumlah satu setengah milyar tidak ada apa-apanya  dalam sebuah usaha yang telah berjalan selama lima tahun meskipun bagi aku secara pribadi uang sebesar itu bisa aku investasikan untuk tabungan hari tua.</p>
<p>Keisengan berhitung pun membuatku terenyak. <em>Aje gile </em>nih SepociKopi! Selama lima tahun, sebuah majalah <em>online </em>lesbian dapat bertahan tanpa harus mengeluarkan dana sebanyak itu? <em>Big WOW! </em>Aku pun mencoba mencari jawaban atas kekagumanku dan menemukan satu kata sebagai jawabannya.</p>
<p>Kata itu adalah cinta.</p>
<p>Alex tidak akan mau repot-repot membuat aturan yang ketat kalau beliau tidak mencintai SepociKopi. Lakhsmi tidak akan seperti kebakaran jenggot saat akun web di-<em>suspend</em> karena kelebihan beban di hari ulangtahun SepociKopi kemarin kalau beliau tidak mencintai SepociKopi. Para editor tidak akan mau susah-susah mengedit tulisan yang bikin mereka kepengin jedotin kepala ke tembok saking “menyiksa”nya tulisan yang mereka terima. Para penulis tidak akan terima begitu saja dikejar-kejar <em>deadline </em>dan ditagih editor layaknya punya hutang kartu kredit. Dan semua pembaca juga tidak akan bersedih ketika mereka tidak dapat mengakses SepociKopi. Tidak. Semua itu tidak akan terjadi jika tidak ada cinta.</p>
<p>Jadi wajar rasanya jika aku mengucapkan terima kasih kepada SepociKopi dan semua orang yang telah membesarkannya. Wajar jika sambil mengetik tulisan ini, tiba-tiba aku kepengin <em>nyium</em> semua dewan redaksi yang mungkin memang benar-benar kayak singa duduk. Dan sangat wajar jika di hari jadi SepociKopi yang kelima ini aku mendoakan agar semua lesbian yang ada di muka bumi ini tidak lagi merasa sendirian dan dapat menciptakan kebahagiaannya sendiri.</p>
<p>Selamat ulang tahun, SepociKopi! Aku tetap mencintaimu meskipun kamu seperti singa duduk!</p>
<p>@Frizzy Jo, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/15/sepocikopi-cinta-vs-15-miliar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kekuatan Jari Telunjuk</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/10/kekuatan-jari-telunjuk/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/10/kekuatan-jari-telunjuk/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Jan 2012 06:32:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17117</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh: Justin
Kekuatan jari telunjuk adalah judul yang saya pilih karena terinspirasi dari kejadian di suatu acara perkawinan. Saat itu saya melihat seorang anak menunjuk-nunjuk temannya, menuduh si temanlah yang memecahkan gelas. Apa yang terjadi kemudian? Akan saya beritahukan nanti dong (kalau tidak tulisan saya hanya beberapa baris saja, bukan?).
Waktu saya kecil, saya diajarkan untuk menunjuk sesuatu dengan jari telunjuk. Entah siapa yang membuat aturan itu, karena pada akhirnya aturan itu membuat saya bertanya-tanya. Kenapa tidak menunjuk sesuatu dengan keempat jari yang lain selain telunjuk? Kenapa, kenapa dan kenapa?
Seiring perjalanan waktu, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/i-blame-you.jpg"><img class="size-medium wp-image-17205 alignleft" title="i-blame-you" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/i-blame-you-227x300.jpg" alt="" width="227" height="300" /></a>Oleh: Justin</p>
<p>Kekuatan jari telunjuk adalah judul yang saya pilih karena terinspirasi dari kejadian di suatu acara perkawinan. Saat itu saya melihat seorang anak menunjuk-nunjuk temannya, menuduh si temanlah yang memecahkan gelas. Apa yang terjadi kemudian? Akan saya beritahukan nanti dong (kalau tidak tulisan saya hanya beberapa baris saja, bukan?).</p>
<p><span id="more-17117"></span>Waktu saya kecil, saya diajarkan untuk menunjuk sesuatu dengan jari telunjuk. Entah siapa yang membuat aturan itu, karena pada akhirnya aturan itu membuat saya bertanya-tanya. Kenapa tidak menunjuk sesuatu dengan keempat jari yang lain selain telunjuk? Kenapa, kenapa dan kenapa?</p>
<p>Seiring perjalanan waktu, saya diberitahu teman saya yg sama-sama berumur empat belas tahun saat itu, bahwa kalau menunjuk dengan jari tengah, artinya saya sedang meminta orang untuk memukul saya. Menunjuk dengan jari manis akan dikira saya minta dikawinin, dan menunjuk dengan jari kelingking berarti saya baru saja meminta maaf atas sebuah kesalahan.</p>
<p>Penjelasan itu memang tidak logis dan cenderung diberikan asal-asalan. Tapi anehnya, saya percaya dan berpegang teguh pada penjelasan itu sampai saya dewasa. Karena memang aneh bukan kalau menunjuk sesuatu dengan ketiga jari yang saya sebutkan di atas. Tapi kemudian saya belajar menunjuk sesuatu dengan jempol. Ya, jempol, si jari tergendut itu ternyata mempunyai efek menyopankan penunjukan. Saya jadi ingat cara orang-orang kraton yang menggunakan jempol. Lebih sopan sih memang kelihatannya.</p>
<p>Sepelekah hal tunjuk-menunjuk itu?</p>
<p>Ternyata tidak.</p>
<p>Mari coba mengingat-ingat, berapa kali kita menggunakan jari telunjuk untuk kebaikan? Dan berapa kali kita menggunakan jari itu untuk hal yang buruk? Kebaikan jari telunjuk terlihat ketika kita menunjukan jalan pada orang yang bertanya pada kita. Keburukannya akan terlihat jelas ketika kita menunjukan kesalahan orang lain. Persis dengan apa yang anak itu lakukan di pesta pernikahan.</p>
<p>Apa relevansi tunjuk-menunjuk itu pada kehidupan saya, seorang lesbian? Saya mengakui (dan sama sekali tidak bangga) bahwa saya pernah menggunakan jari telunjuk saya untuk menunjuk orang-orang dengan orientasi seksual berbeda. Saya menunjuk si anu adalah lesbian atau saya menunjuk si anu adalah gay. Saya mengingkari dan tidak menerima kenyataan bahwa saya seorang lesbian sejak saya kecil dengan cara menunjuk &#8220;kelainan&#8221; orientasi seksual orang lain. Menyedihkan bukan? Sangat! (Nanya sendiri, jawab sendiri dong).</p>
<p>Apa yang terjadi saat itu? Tentu saja, keterpurukan orang-orang yang menerima akibat dari aktifitas jari telunjuk saya. Dengan cara yang pahit saya belajar, bahwa ketika jari telunjuk saya mengarah pada orang lain, keempat jari saya justru mengarah pada saya sendiri. Ya, pengalaman adalah pelajaran yang paling berharga. Pada akhirnya, peristiwa tunjuk-menunjuk itu membuat saya berdamai dengan diri sendiri yang kemudian menerima diri saya apa adanya tanpa ada pengingkaran terhadap siapa saya sebenarnya. Demikian halnya perdamaian itu terjadi dengan &#8220;korban-korban jari telunjuk&#8221; saya.</p>
<p>Berdasarkan pengalaman saya pribadi, dengan menunjukan kesalahan orang lain, saya menjadi merasa superior, lebih kuat, karena orang lain terjatuh dan saya tidak. Tapi faktanya tidak demikian. Dengan menunjukan kesalahan orang lain, saya sebenarnya sedang terjatuh dalam suatu lubang yang dinamakan lubang intoleransi dan kesombongan. Saya merasa diri saya lebih baik dari semua orang. Saya lupa, keempat jari yang lain menunjuk langsung pada diri saya sendiri.</p>
<p>Saya ingin mengajak teman-teman SepociKopi untuk sejenak melihat keadaan negara ini. Pernahkah terlintas dalam benak kita bahwa kekacauan demi kekacauan terjadi hanya oleh karena kekuatan jari telunjuk? Saat kekacauan terjadi, kita dengan entengnya berkata, &#8220;Dia yang salah, nggak bener dia ngurusin negara.&#8221; Atau mungkin kita pernah menunjuk orang sambil berkata, &#8220;Gara-gara dia semua jadi kacau!&#8221; Sadar atau tidak, kita dan jari telunjuk kita ikut andil membuat keadaan menjadi buruk, bahkan lebih buruk.</p>
<p>Kembali ke dunia lesbian, sering kali kita menggunakan si jari telunjuk untuk menunjuk-nunjuk keluarga kita, karena mereka tidak mengerti keputusan yang kita ambil untuk berpasangan dengan perempuan (ini terjadi dalam kehidupan beberapa teman saya). Apakah kita akan terus menerus menyalahkan keluarga, atau mungkin tetangga, karena mereka tidak mengerti jalan yang kita pilih? Atau justru kita berhenti menyalahkan mereka dan menggunakan keempat jari yang lain untuk membuktikan bahwa menjadi seorang lesbian bukan kejahatan?</p>
<p>Begitu hebatnya kekuatan jari telunjuk untuk membuat kerusakan. Begitu hebatnya kekuatan jari telunjuk untuk membuat hati pasangan kita ataupun keluarga dan orang-orang terdekat menjadi luluh-lantak. Begitu hebatnya kekuatan jari telunjuk untuk membuat seseorang menemukan jalan yang dia cari. Pilihan itu ada pada diri kita masing-masing. Apakah kita akan menggunakan kekuatan jari telunjuk kita untuk kebaikan, atau justru untuk keburukan.</p>
<p>Melalui tulisan pertama saya ini, saya ingin mengajak teman-teman untuk merenungkan kehidupan lesbian dalam perspektif yang berbeda. Dunia lesbian memang lekat dengan romantisme dan segala permasalahannya. Tapi lesbian tidak hanya hidup dalam dunia romantisme saja, bukan? Orientasi seksual kita mungkin berbeda dengan kebanyakan orang, tapi kita tetap bagian dari komunitas masyarakat, sehingga kita dituntut untuk tetap berbaur dan mengaktualisasikan diri kita di tengah masyarakat secara positif. Berhenti menyalahkan orang lain (ataupun diri sendiri) dan berusaha memperbaiki diri sendiri sebelum menunjuk kesalahan orang lain&#8230;. <em>Is highly recommended</em> <img src='http://sepocikopi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Oh ya, akhir kisah anak yang saya ceritakan di awal tulisan seperti ini: setelah dia menunjuk temannya, dia dipukul oleh sang teman. Tapi kemudian orangtua anak itu datang dan justru memarahinya, karena mereka melihat sendiri bahwa yang menyenggol gelas sampai terjatuh, adalah sang anak. Hehehe.</p>
<p>@Justin, SepociKopi 2012</p>
<p><em>Catatan Redaksi: Dear Justin, sebagai tulisan pertama ini sangat luar biasa! Semoga bukan jadi tulisan terakhir ya <img src='http://sepocikopi.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />  </em></p>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/10/kekuatan-jari-telunjuk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>L&#8217;Amour: Kuyakin Cinta</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/08/lamour-kuyakin-cinta/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/08/lamour-kuyakin-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jan 2012 15:46:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[L'Amour]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[mantan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17150</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: D&#8217;Jive
Kudatang mencari satu alasan
Menepis semua keraguan
Di dalam hatiku ini
Aku mengenal cinta lesbian di bangku SMA dari perempuan kakak kelasku. Dan tidak pernah membayangkan cinta seperti ini akan menghampiri hidupku. Cinta yang melambungkan harapanku sekaligus mengempaskanku pada keterpurukan panjang. Kadang aku menyesali. Kadang kupikir SIM tidak hanya berarti Surat Ijin Mengemudi tetapi juga Surat Ijin Mencintai dengan aturan batasan usia pemegangnya. Aku tahu akan banyak yang kontra denganku, tapi kukatakan ini karena pengalamanku. Bukankah pengalaman pelajaran yang paling berharga sekaligus guru yang terhebat? Terlalu muda mengenal cinta sangat berbahaya, apalagi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/good_morning___by_popoks-d4lopkf.jpg"><img class="size-medium wp-image-17153 alignleft" title="good_morning___by_popoks-d4lopkf" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/good_morning___by_popoks-d4lopkf-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Oleh: D&#8217;Jive</p>
<p><em>Kudatang mencari satu alasan<br />
Menepis semua keraguan<br />
Di dalam hatiku ini</em></p>
<p>Aku mengenal cinta lesbian di bangku SMA dari perempuan kakak kelasku. Dan tidak pernah membayangkan cinta seperti ini akan menghampiri hidupku. Cinta yang melambungkan harapanku sekaligus mengempaskanku pada keterpurukan panjang. Kadang aku menyesali. Kadang kupikir SIM tidak hanya berarti Surat Ijin Mengemudi tetapi juga Surat Ijin Mencintai dengan aturan batasan usia pemegangnya. Aku tahu akan banyak yang kontra denganku, tapi kukatakan ini karena pengalamanku. Bukankah pengalaman pelajaran yang paling berharga sekaligus guru yang terhebat? Terlalu muda mengenal cinta sangat berbahaya, apalagi tidak tau akibatnya.</p>
<p>Cinta masa remaja harusnya memang cinta monyet. Ibaratnya hanya <em>play group</em>, tempat semua pelajaran cinta diberikan dalam bentuk permainan. Bukan tekanan, paksaan, target, nilai, doktrin, atau apa pun. Tapi aku salah menafsirkan cinta. Kupikir cinta berarti ada seseorang yang memperhatikan dan memanjakanku, menjadikan aku ratu, atau seseorang yang sangat berarti. Ternyata semua ada harganya. Perhatian yang kuperoleh harus kubayar dengan melepaskan banyak hal dalam masa remajaku. Kekakangan, masalah yang berulang, tuntutan ini dan itu. Aku merasa seperti anak SD yang harus dijejali pelajaran SMA. Aku terbuai khayalan yang selalu disuntikkan pacarku ke dalam otakku. Inilah cinta. Penderitaan adalah cinta. Kekakangan bukti cinta. Ia milikku. Aku miliknya. Aku harus begini. Aku harus begitu. Cinta kami akan menaklukkan badai dan kami akan bahagia selamanya.</p>
<p>Hingga akhirnya semua berbalik 180 derajat. Aku dilemparkan ke dalam sumur penderitaan. Setelah kehilangan masa remajaku yang tidak akan pernah kuraih kembali.</p>
<p>Masa kuliah kulalui dengan dengan menjadi mahasiswi yang sangat tertutup. Aku merangkak keluar dari sumur penderitaan. Dan menjadi orang yang pesimis dan tidak percaya pada siapa pun. Cinta itu <em>bullsh*t</em>. Omong kosong. Hanya orang bego yang percaya bujukan cinta. Seperti janji kartu kredit yang menunggumu lalai hingga mencekik dan menghabiskan darahmu.</p>
<p><em>Benarkah bahwa cinta mampu mengobati<br />
segala rasa sakitku ini<br />
Ingin kupercaya, ingin kupercaya</em></p>
<p>Hingga aku bertemu dia. Seorang mahasiswi beda kelas (aku sengaja mengambil kelas ekstensi dan dia kelas reguler) yang kebetulan bertemu denganku saat menunggu dosen pembimbing. Kebetulan yang lain, judul skripsi kami mirip (hanya berbeda parameter). Dia mengajak berteman. Tapi kusuguhi kesinisan (bahkan aku pun kehilangan kepercayaan pada makhluk bernama teman). Dia seperti makhluk luar angkasa yg tidak tau namanyanya sakit hati. Bahkan ketika aku mulai tidak tahan pada kebaikannya, aku memutuskan ganti dosen pembimbing dan ganti judul bahkan ketika skripsiku sudah hampir bab empat. Bodohnya, aku tidak berani mengakui kepengecutanku bahwa aku ingin menghindarinya.</p>
<p>Ternyata dia terus mendekatiku. Dan berani menyambangi kantor dan kosku. Hingga suatu hari kutanya kenapa dia ingin berteman denganku. Katanya aku mirip abangnya yang meninggal karena  OD. Oh Tuhan, apa lagi ini?! Kukatakan, aku juga pernah ingin mati tapi terlalu pengecut, juga miskin jadi tidak bisa beli obat-obatan. Aku menyesali momen itu. Karena itu seperti memberi kunci masuk pintu untuknya masuk ke hidupku.</p>
<p><em>Kaubilang cinta selalu mengerti<br />
Kaubilang cinta tak salah<br />
Kaubilang cinta kan saling percaya<br />
Na na na na na hmm hmm hmm hmmmmn</em></p>
<p>Benar saja, dia mulai bertanya kenapa aku pernah ingin mati. Dan aku menceritakannya. Aku pun menyesalinya. Saranku bila kau tidak ingin jatuh cinta pada seseorang, jangan biarkan ia tahu apa masalah dan kepedihanmu. Sebab bila ia mau menanggungnya, kau dalam bahaya.</p>
<p>Setelah sekian tahun kurasa aku cukup pintar, merangkak keluar dari sumur kelam, dan mengobati luka serta membangun benteng. Aku mendadak bodoh di hadapan perempuan dengan kehidupan seperti perempuan lainnya. Perempuan yang beberapa kali berpacaran dengan lelaki lalu putus, namun tidak membuatnya ingin bunuh diri. Sedangkan aku menyerahkan masa remajaku untuk satu cinta dan ketika kehilangan aku merasa ingin mati saja.</p>
<p><em>Kukira kutakkan mampu sadari<br />
Ketulusan cinta yang sempurna<br />
Di balik semua kekurangan ini, ooh</em></p>
<p><em>Namun denganmu kutahu cinta kan mengobati<br />
segala hampa hatiku ini<br />
kini kupercaya, kini kupercaya</em></p>
<p>Di hadapannya benteng pertahananku seperti dibuat dari <em>gypsum </em>rapuh. Di hadapannya aku berharga. Dan mulai berpikir apakah aku cukup dewasa untuk menerima cinta? Dia tidak pernah mengumbar kata cinta seperti yang dilakukan pacarku dulu. Tapi dia selalu ada. Ketika aku memintanya pergi, dia bertahan. Ketika kupikir tidak akan ada orang di dunia ini yang memahamiku, senyumnya seperti melihat diriku sesederhana satu ditambah satu.</p>
<p>Dan ketika aku meminta dia menjauh dan menerima satu dari sekian lelaki yang mengejarnya, dia tetap berada di sisiku. Dia tidak meminta apa-apa kecuali memintaku membuka mata, telinga, dan hati agar aku percaya bahwa cinta masih ada.</p>
<p><em>Kuyakin cinta selalu mengerti<br />
Kuyakin cinta tak salah<br />
Kuyakin cinta kan saling percaya<br />
Na na na na na hmm hmm hmm hmmmm</em></p>
<p><em>Yakinlah cinta kan selalu mengerti<br />
Yakinlah cinta tak salah<br />
Yakinlah cinta kan saling percaya<br />
Ya na na na na hmm hmm hmm hmmmm</em></p>
<p><em>*Kuyakin Cinta adalah judul lagu D&#8217;Cinnamons</em></p>
<p>D&#8217;Jive, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/08/lamour-kuyakin-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Have Your Say: Jatuh Cinta Pada Teman</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/06/have-your-say-jatuh-cinta-pada-teman/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/06/have-your-say-jatuh-cinta-pada-teman/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jan 2012 10:08:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Have Your Say]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17109</guid>
		<description><![CDATA[Memiliki perasaan yang lebih kepada sahabat? Banyak manusia yang merasakan hal ini. Dari pertemanan biasa, muncul perasaan bunga-bunga indah yang membuat hari-hari menjadi bahagia. Namun bagaimana kalau sahabat itu sudah memiliki kekasih? Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, Sunny, yang jatuh cinta kepada teman sendiri.
 Nama saya Sunny. Setahun lalu saya berkenalan dengan seorang teman lesbian, sebut saja namanya Bintang. Saya dan Bintang mulanya jarang mengobrol, tapi suatu hari saya melihat stat YM-nya yang mengatakan bahwa dia baru saja membaca buku yang saya suka. Saya pun mengajaknya mengobrol. Ternyata Bintang adalah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/kawaii.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17110" title="kawaii" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/kawaii-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a><em>Memiliki perasaan yang lebih kepada sahabat? Banyak manusia yang merasakan hal ini. Dari pertemanan biasa, muncul perasaan bunga-bunga indah yang membuat hari-hari menjadi bahagia. Namun bagaimana kalau sahabat itu sudah memiliki kekasih? Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, Sunny, yang jatuh cinta kepada teman sendiri.<br />
<span id="more-17109"></span> </em>Nama saya Sunny. Setahun lalu saya berkenalan dengan seorang teman lesbian, sebut saja namanya Bintang. Saya dan Bintang mulanya jarang mengobrol, tapi suatu hari saya melihat stat YM-nya yang mengatakan bahwa dia baru saja membaca buku yang saya suka. Saya pun mengajaknya mengobrol. Ternyata Bintang adalah teman yang nyambung dan asyik diajak berbicara tentang apa saja.</p>
<p>Saya sudah punya pacar saat itu. Namun setelah beberapa bulan, saya putus dengan pacar saya. Saya menghabiskan waktu bercerita kepada Bintang tentang hati yang yang terlukai. Mantan saya selingkuh dengan teman kantornya. Bintang sendiri juga memiliki pacar yang sudah bersama dengannya selama tiga tahun.</p>
<p>Berbulan-bulan kami mengobrol tentang segala hal. Keinginan saya untuk menemuinya tidak saya lakukan karena saya tidak mau membuat pacar Bintang merasa terancam dan tidak suka dengan kehadiran saya. Suatu hari, Bintang dikirim oleh kantornya untuk menghadiri seminar di kota saya. Saat itulah, saya dan Bintang menyempatkan diri bertemu. Tidak ada acara apa-apa, hanya makan malam yang mulanya kikuk karena kami belum pernah bertemu sebelumnya.</p>
<p>Setelah kekakuan mencair, kami kembali seperti dulu saat kami mengobrol di dunia maya. Tertawa-tawa. Bercerita ini itu. Mengobrol segala hal. Nyambung sekali. Selama saya mengobrol dengannya, saya mulai menjadi curiga dengan diri saya. Saya merasakan deg-degan waktu memandang wajahnya. Saya merasakan kupu-kupu di perut saya. Saya kepingin menyatakan rasa suka saya kepada Bintang.</p>
<p>Tapi saya tahu itu tidak mungkin. Bintang sudah memiliki pacar. Akhirnya makan malam kami pun berakhir. Bintang kembali ke hotelnya dan saya kembali ke kehidupan saya. Itu adalah pertemuan kami yang pertama dan terakhir. Saya tidak pernah pergi ke kotanya dan Bintang juga tidak pernah datang lagi ke kota saya.</p>
<p>Selama beberapa bulan belakangan ini, sebagai lesbian jomblo, saya mencari-cari perempuan yang tepat untuk menjadi pendamping saya. Tapi selama itu, lagi-lagi Bintang selalu ada buat saya. Dia tidak pernah menjauh dari hidup saya. Dia selalu menjadi telinga buat saya berbagi curhat. Saya senang memiliki Bintang sebagai sahabat, walau sejujurnya saya tidak bisa mengenyahkan perasaan cinta saya kepadanya. Akhirnya karena tidak tahan, aku mengatakan terus terang kepada Bintang bahwa saya menyayanginya lebih daripada teman, tapi saya tidak akan pernah merebutnya dari pacarnya.</p>
<p>Bintang terlalu sayang sama pacarnya sehingga meyakinkan saya bahwa dia tida akan berselingkuh dengan saya. Dia juga bilang bahwa dia tidak memiliki perasaan apa-apa kepada saya kecuali rasa pertemanan yang wajar dan biasa. Saya senang mendengar pengakuan Bintang walaupun saya tahu saya ditolak. Setidaknya saya sudah bersikap jujur dan adil kepada Bintang.</p>
<p>Sebulan lalu saya sudah punya pacar. Pacar saya tahu tentang keberadaan Bintang dan bisa menerima Bintang sebagai teman dia juga. Perasaan saya kepada Bintang sudah berubah, tidak lagi jatuh cinta tapi perlahan mengalir menjadi rasa sayang dan peduli kepada sahabat. Namun saya dan Bintang pernah saling berjanji untuk selalu bersama. Kami percaya hidup adalah proses dan takdir. Jika suatu hari saya dan Bintang memang akan dipersatukan oleh alam raya, saya percaya kami tidak bisa mengelakkan takdir itu. Namun untuk sementara, kami menjalani hidup kami masing-masing dengan sebaik-baiknya.</p>
<p>@Sunny, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/06/have-your-say-jatuh-cinta-pada-teman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>L’Amour: Uhuy! Tahun Baru, Pacar Baru</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/01/lamour-uhuy-tahun-baru-pacar-baru/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/01/lamour-uhuy-tahun-baru-pacar-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 13:57:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[L'Amour]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Coming Out]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17029</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Akapela
Berawal dari rasa penasaranku sama lesbi-lesbi kampus (baca tulisan sebelumnya), aku pun membuat account Twitter khusus lesbian. Account ini terbilang frontal sebab kujelaskan di sana bahwa aku lesbian yang kuliah di kampus X.
Jujur saja, niatku cuma ingin menemukan sekaligus berkawan dengan sesama lesbian satu perguruan. Dan, benar aja, aku berhasil menyaring beberapa lesbian kampus dari sana, walaupun ternyata semuanya bernasib sama sepertiku; buta sama lesbi-lesbi kampus.
Namun anehnya malah kutemukan cahaya terang benderang di antara kenalan-kenalanku itu yang sama-sama suram itu.
Hari itu (aku lupa tepatnya hari apa), follower-ku bertambah satu. Aku ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/love_at_school_by_ming_shuw-d3h1gid.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17035" title="love_at_school_by_ming_shuw-d3h1gid" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/love_at_school_by_ming_shuw-d3h1gid-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Oleh: Akapela</p>
<p>Berawal dari rasa penasaranku sama lesbi-lesbi kampus (<a href="http://sepocikopi.com/2011/06/22/fabulezlycool-lesbi-lesbi-kampus/" target="_blank">baca tulisan sebelumnya</a>), aku pun membuat <em>account </em>Twitter khusus lesbian. <em>Account </em>ini terbilang frontal sebab kujelaskan di sana bahwa aku lesbian yang kuliah di kampus X.</p>
<p>Jujur saja, niatku cuma ingin menemukan sekaligus berkawan dengan sesama lesbian satu perguruan. Dan, benar aja, aku berhasil menyaring beberapa lesbian kampus dari sana, walaupun ternyata semuanya bernasib sama sepertiku; buta sama lesbi-lesbi kampus.</p>
<p>Namun anehnya malah kutemukan cahaya terang benderang di antara kenalan-kenalanku itu yang sama-sama suram itu.</p>
<p>Hari itu (aku lupa tepatnya hari apa), <em>follower</em>-ku bertambah satu. Aku iseng mengecek siapakah si <em>follower </em>ini. Oh, Stobeli namanya. Namun, ah&#8230; twitter-nya di-<em>protect</em>. Entah mengapa aku jadi penasaran sama <em>account </em>beravatar bintang itu. Kukirin <em>request </em>untuk mem-follow-nya, agar bisa berinteraksi dengannya.</p>
<p>Hari itu&#8212;kali ini aku ingat jelas, hari kamis&#8212;<em>following </em>ku bertambah satu. Oh, Stobeli baru <em>approve request-</em>ku. Tak lama ada mention dari dia. Singkat cerita kami berkenalan. Tidak disangka ternyata kami satu perguruan, satu angkatan, bahkan satu nasib… sama-sama jatuh hati sama sahabat sendiri yang tentunya <em>straight</em>. Haish!</p>
<p>Kami pun intens curhat tentang gebetan masing-masing. Dia teman yang enak diajak <em>chat</em>. Berhubung aku termasuk orang yang waspada sama orang baru, jadi setengah mati kucari-cari siapa wajah di balik <em>account </em>beravatar bintang tersebut. Siapa tau ternyata cowok kurang kerjaan, kan seram.</p>
<p>Karena mengaku seangkatan denganku, lebih mudah bagiku untuk menebak siapakah gerangan si Stobeli ini. Namun menurutnya, semua tebakanku salah! Payah deh. Hingga akhirnya malah dia yang berhasil menebak dengan benar siapa diriku. Hingga suatu saat, giliran dia yang mengaku (tentunya setelah kupaksa) bahwa dia adalah Audrey.</p>
<p><em>What</em>!?</p>
<p>Kaget. Nggak percaya!</p>
<p>Masalahnya, Audrey bukanlah orang baru bagiku.</p>
<p>Di pengujung masa sekolahku, aku mengikuti sebuah forum khusus remaja-remaja <em>mupeng </em>yang pengen masuk kampus X. Di sana aku sempat penasaran banget sama sosok dengan nama ID Chiz_Cake yang tampak jenius tapi tetap rendah hati.</p>
<p>Tahun pertama kuliah, tidak sengaja aku melihat tulisan Chiz_Cake@yahoo.com di deretan nama email mahasiswa fakultas temanku. Wah, pasti ini Chiz_Cake yang di forum itu! Batinku bergejolak. Dari sana pula aku tahu pemilik ID Chiz_Cake bernama asli Audrey. Lalu kutanya temanku, “Audrey itu yang mana sih orangnya?” dan temanku pun memberi tahu tanpa aku harus berkenalan langsung dengan perempuan bermuka polos itu.</p>
<p>Tahun kedua kuliah, aku ikut sebuah seminar. Celingak-celinguk sebentar mencari teman, tidak menyangka malah ku temukan Audrey yang tengah sibuk ke sana kemari sebagai panitia. <em>Eh ada si Chiz_Cake</em>, celetukku dalam hati. <em>Lucu juga yah tampak elegan pakai pakaian formal begitu,</em> tambahku mengulum senyum.</p>
<p>Dan sekarang, tahun ketiga kuliah… aku berkenalan dengan seorang pecinta perempuan di dunia maya yang ternyata adalah Audrey! Entahlah&#8230; ini hanya kebetulan atau memang takdir. Mendengar cerita kesehariannya membuatku semakin penasaran. Audrey itu perempuan baik-baik, pinter, multitalenta, punya segudang prestasi, aktivis kampus, perhatian, lucu sekaligus doyan ketawa. Pokoknya dia top banget deh! Berbeda 180 derajat dengan diriku! Aduh, rasanya aku pun mulai jatuh hati sama dia.</p>
<p>Awalnya sih mampu kupendam perasaan ini. Minder juga lah, lagipula Audrey cinta buta sama gebetannya yang <em>straight </em>itu! Tapi lama-lama <em>nggak kuku </em>juga bok! Aku pun mencoba jujur sama dia. Kupasang ikat kepala, kuentakkan kaki, kukepal tangan ke angkasa. Ehem&#8230; aku mengaku ingin pedekate sama dia.</p>
<p>Dan, beruntung banget dia mau memberikan kesempatanku untuk membuka hatinya! <em>Jangan lupa, gunakan kesempatan dengan baik. Kesempatan nggak datang dua kali lho.</em></p>
<p><em>Ending</em>-nya, kami jadian. Hore!</p>
<p>Aku berhasil membuat dia jatuh ke pelukanku. Oh, akhirnya! Dia juga berhasil meyakinkanku bahwa dia itu serius dan tidak menjadikanku sebagai pelarian dari si gebetannya yang <em>straight </em>itu. <em>Anyway</em>, ini bukan <em>ending </em>sih, justru ini sebuah awal bagi kami.</p>
<p>Yakin deh Tuhan punya rencana paling indah untuk kita. Setelah dua tahun luntang-lantung&#8212;<em>stuck </em>sama mantan, deket sama orang beberapa kali tapi nggak sampai jadi pacar, ngejar-ngejar cewek <em>straight </em>kayak orang gila tapi nggak ada hasil bahkan cuma buang-buang waktu dan tersakiti&#8212;akhirnya Dia kirimkan perempuan super buat aku!</p>
<p>Tahun baru, pacar baru, semangat baru!</p>
<p><em>Thank God, I found her.</em></p>
<p><em>PS: I love you, Audrey. Can’t wait for the new semester <img src='http://sepocikopi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em></p>
<p>@Akapela, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/01/lamour-uhuy-tahun-baru-pacar-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

