Home » Archive

Articles tagged with: Cerpen

Cerpen, Gay, Seni Budaya »

[13 May 2013 | 7 Comments | 1,320 views]
Cerpen: Kastil Walpole

Cerpen oleh: Guntur Alam
(Dimuat di Koran Tempo, 2 September 2012)
SUDAH bertahun-tahun orang-orang berdebat tentang hal-hal ini. Tentang Tuan Horace Walpole yang malang, yang meninggal dalam kesunyian dan membawa banyak rahasia ke dalam liang lahatnya. Tentang kisah cintanya yang berselimut kabut pekat yang sulit diungkap. Tentang novelnya yang melegenda, The Castle of Otranto, novel yang masih saja diperdebatkan apakah itu karyanya atau bukan. Tuan Walpole mengembuskan napas terakhirnya di musim semi 1797. Hidupnya benar-benar seperti cerita gothik yang ia tulis sendiri.

Cerpen, Seni Budaya »

[9 Apr 2012 | 10 Comments | 2,217 views]
Cerpen: Ramaraib

Ramaraib
Oleh: Djenar Maesa Ayu & Sardono W. Kusumo
Cerpen ini dimuat di kumpulan cerita 1 Perempuan 14 Laki-laki (Gramedia Pustaka Utama, 2011)
“Setiap kali kita bertemu, aku menabung rindu,” akunya sambil berbaring di tubuhku. Matanya terpejam. Jemarinya bergerak seperti seseorang yang tengah menganyam. Namun tubuhnya diam. Hanya kulitnya yang tekun menyerap tiap jentik keringat. Dekat. Lekat. Rapat. Selanjutnya, tubuhku pun merasakan. Jari-jemari yang semula menganyam harapan mulai meluncur di atas permukaan kulitku dengan amat perlahan. Memamah koin demi koin rindu untuk dijadikan tabungan. Ting tong ting tang, bunyinya, mirip suara gamelan.

Cerpen, Seni Budaya »

[23 Jan 2012 | 9 Comments | 2,775 views]
Cerpen: Lara Lana

Lara Lana
Oleh: Dewi Dee Lestari
Cerpen ini dimuat di kumpulan cerita dan prosa Filosofi Kopi (Gagas Media, 2005)
Sederet angka mencuat dari kertas putih, menusuk mata Lana. Ada sebersih takjub juga ngeri. Seberantak angka yang susah dihafal mampu membongkar kenangan usang dan memberinya makna baru. Dia yang baru. Aku yang usang.
Ruang tunggu selalu memancing dilema dalam hatinya, tapi tidak pernah seperti ini. Lana betul-betul tergerak untuk menelepon. Mungkin karena Lana sudah tak yakin kapan akan kembali, akankah dirinya kembali.
Lana memencet empat angka pertama dari sepuluh digit yang tertera. Dadanya berdegup kencang sampai …

Cerpen, Seni Budaya »

[5 Dec 2011 | 17 Comments | 1,661 views]
Cerpen: Di Tempatmu Berbaring Sekarang

Di Tempatmu Berbaring Sekarang
Oleh: Aan Mansyur
Cerpen ini dimuat di Kumpulan Cerpen Dari Datuk ke Sakura Emas (Gramedia Pustaka Utama, 2011)
POHON di tengah padang rumput tumbuh bersama rahasianya. Pohon itu menceritakannya kepadaku suatu siang saat aku istirahat selepas memandikan sapi-sapiku. Sebelumnya aku tak pernah berani berteduh di bawah pohon itu. Orang-orang kampung mengatakan pohon itu angker, namun panas matahari betul-betul tak membuatku takut kepada apa pun siang itu.
Pada sebuah batu di kaki pohon itu, aku berbaring. Angin padang seperti belaian lembut tangan Ibu. Aku tertidur.

Cerpen, Seni Budaya »

[7 Nov 2011 | 28 Comments | 3,002 views]
Cerpen: Sebuah Keputusan

Sebuah keputusan
Oleh: Alberthiene Endah
Cerpen ini dimuat di kumpulan cerpen Dari Datuk ke Sakura Emas (Gramedia Pustaka Utama, 2011)
“Jadi kau tidak mau pakai sawi?” aku menatapnya dengan rileks. Tepatnya, berusaha rileks. Memang biasanya serileks itu aku bertanya. Ia menggeleng. Aku mengangguk. Berusaha wajar. Angin sore menyentuh tengkukku. Aku makin merasakan ketidakwajaran.

Cerpen, Seni Budaya »

[18 Jul 2011 | 12 Comments | 2,932 views]
Cerpen: Satu-satunya Perempuan yang Kucinta

Satu-satunya Perempuan yang Kucinta
Oleh: Widya Arisma
Cerpen ini pernah dipublikasikan di majalah Femina nomor 5, 5 Februari 2011
Cahaya matahari pagi masuk dari sela-sela tirai jendela kamarku. Tanpa perlu alarm lagi, sinarnya telah menyadarkan aku bahwa pagi telah datang. Aku bangkit dari tempat tidur, langsung menjerang air untuk menyeduh teh, ritualku setiap pagi. Aku bukan penggemar kopi seperti laki-laki pada umumnya. Persetan dengan anggapan tidak macho.

Cerpen, Seni Budaya »

[6 Jun 2011 | 17 Comments | 2,333 views]
Cerpen: Senyum Vagina

Senyum Vagina
Oleh: Mahdiduri
Cerpen ini terpilih oleh Tim Kurator Sastra Dewan Kesenian Jakarta 2010, dijadikan bagian dari kumpulan cerpen Si Murai dan Orang Gila (KPG, 2010)

Vagina yang hitam manis. Vagina yang berambut lebat. Vagina yang bisu. Vagina yang lakunya agresif. Vagina yang kalau tertawa nampak gigi putihnya berbaris rapi…

Cerpen, Seni Budaya »

[9 May 2011 | 4 Comments | 1,582 views]
Cerpen: Misteri Polaroid

Misteri Polaroid
Oleh: Intan Paramaditha
Cerpen ini dimuat dalam kumpulan cerpen Sihir Perempuan (Kata Kita, 2005)
Sebuah foto mampu menangkap realitas bahkan lebih banyak dari yang kau yakini.
Di awal tahun 2000, sebelum fotografi digital populer di Indonesia, para fotografer profesional tergantung pada polaroid. Sebelum pemotretan yang sesungguhnya dengan menggunakan slide, mereka mengambil gambar instan instan dengan kertas polaroid yang dimasukkan ke dalam backfilm kamera medium format untuk melihat ketepatan cahaya dan komposisi. Lalu polaroid, yang ditutupi lapisan hitam, dikeluarkan dan dikeringkan. Gunakan pengering rambut atau gosok perlahan. Pisahkan lapisan hitam dari gambar, lantas… …

Cerpen, Seni Budaya »

[4 Apr 2011 | 12 Comments | 2,155 views]
Cerpen: Makan Malam

Makan Malam
Oleh: Indra Herlambang
Cerpen ini dimuat di majalah Femina no. 37, 25 September 2010
Tarik napas dalam-dalam.
Keluarkan perlahan.
Hitung mundur dari sepuluh hingga satu
Jangan terlalu terburu-buru.
Ingat.
Dia tidak akan tahu, jika tidak diberi tahu.
Ini rahasia yang masih bisa disimpan rapat.
Jadi tenang saja.

Cerpen, Seni Budaya »

[7 Mar 2011 | 6 Comments | 2,116 views]
Cerpen: Hantu Nancy

Hantu Nancy
Oleh: Ugoran Prasad
Cerpen ini dimuat di harian Kompas Minggu, 29 November 2009
Kebon Sawah dipaksa mengingat, pernah di salon itu, duduk di depan meja rias dan menemukan bayanganmu sendiri artinya kamu akan segera ditangani. Nancy akan menghampirimu, berdiri di belakangmu, embus napasnya lembut mencapai tengkukmu. Setelah Nancy mati, Zulfikar masih duduk di sana, menunggu embus napas mencapai tengkuknya sebab yakin gilirannya pasti.