<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; Buku</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/tag/buku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 02:00:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Buku: Segera Terbit Club Camilan 2!</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/09/buku-segera-terbit-club-camilan-2/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/09/buku-segera-terbit-club-camilan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Jan 2012 09:13:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17165</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lakhsmi
Setelah ditunggu-tunggu selama setahun, dengan bangga SepociKopi mempersembahkan novel Club Camilan seri 2! Novel ini adalah cerita bersambung tak putus di situs www.camilan.sepocikopi.com yang dilahirkan sejak tahun 2008. Novel ini diluncurkan sebagai kado terindah ulang tahun SepociKopi kelima tanggal 11 Januari 2012.

Sangat bangga sekali bahwa satu per satu penulis-penulis SepociKopi berhasil menghasilkan karya yang menembus masyarakat umum, dimiliki pembaca lesbian maupun kaum straight, menjadi sumbangsih besar bagi sastra lesbian di Indonesia.
Novel Club Camilan seri 2 dengan judul 20, 30, 40 diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama akan hadir di ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/camilan.jpg"><img class="size-medium wp-image-17170 alignleft" title="camilan" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/camilan-219x300.jpg" alt="" width="219" height="300" /></a>Oleh: Lakhsmi</p>
<p>Setelah ditunggu-tunggu selama setahun, dengan bangga SepociKopi mempersembahkan novel Club Camilan seri 2! Novel ini adalah cerita bersambung tak putus di situs www.camilan.sepocikopi.com yang dilahirkan sejak tahun 2008. Novel ini diluncurkan sebagai kado terindah ulang tahun SepociKopi kelima tanggal 11 Januari 2012.</p>
<p><span id="more-17165"></span></p>
<p>Sangat bangga sekali bahwa satu per satu penulis-penulis SepociKopi berhasil menghasilkan karya yang menembus masyarakat umum, dimiliki pembaca lesbian maupun kaum <em>straight</em>, menjadi sumbangsih besar bagi sastra lesbian di Indonesia.</p>
<p>Novel Club Camilan seri 2 dengan judul <em>20, 30, 40</em> diterbitkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama akan hadir di rak toko-toko buku di bulan <strong>Februari 2012</strong>. Dengan membeli novel ini, kita mendukung industri buku bertema homoseksual di Indonesia agar tetap tumbuh. Hanya dengan kebersamaan kolektif kita, kita buktikan bahwa kita adalah kaum yang <em>ada </em>dan memiliki  kekuatan besar untuk terus menghidupkan bisnis buku bergenre gay di masa depan. Kalau bukan kita, siapa lagi yang peduli untuk meneruskan obor terang sastra lokal LGBT bagi bangsa ini?</p>
<p>Yuk, kita ramai-ramai membeli!</p>
<p>@Lakhsmi, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/09/buku-segera-terbit-club-camilan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mix n’ Match: The Best of 2011</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/01/mix-n-match-the-best-of-2011/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/01/mix-n-match-the-best-of-2011/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Jan 2012 12:04:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Mix n' Match]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Glee]]></category>
		<category><![CDATA[Grey's Anatomy]]></category>
		<category><![CDATA[Lagu]]></category>
		<category><![CDATA[pretty little liars]]></category>
		<category><![CDATA[TV]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17030</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Alex
Selamat Tahun Baru 2012! *tiup terompet* Tahun 2011 berlalu sudah meninggalkan jejak kenangan baik yang duka maupun suka. Namun kenangan, apa pun bentuknya selalu memperkaya kita dan ingatan kita tentang masa lalu menjadi bagian yang menjadikan diri kita sekarang. Tanpa perlu berpanjang lebar, (ini tulisannya udah panjang banget), hehehe&#8230; Yuk kita lihat kompilasi The Best of 2011 pilihan SepociKopi untuk lagu, film, buku, dan serial TV. Kenapa mereka yang terpilih? Bukan semata-mata karena isu lesbian, tapi karena juga mengusung isu perempuan dan segala keresahannya selama 2011.
Best Song
Adele – Someone ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/britt1.jpg"><img src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/britt1.jpg" alt="" title="britt" width="300" height="210" class="alignleft size-full wp-image-17033" /></a>Oleh: Alex</p>
<p>Selamat Tahun Baru 2012! *tiup terompet* Tahun 2011 berlalu sudah meninggalkan jejak kenangan baik yang duka maupun suka. Namun kenangan, apa pun bentuknya selalu memperkaya kita dan ingatan kita tentang masa lalu menjadi bagian yang menjadikan diri kita sekarang. Tanpa perlu berpanjang lebar, (ini tulisannya udah panjang banget), hehehe&#8230; Yuk kita lihat kompilasi The Best of 2011 pilihan SepociKopi untuk lagu, film, buku, dan serial TV. Kenapa mereka yang terpilih? Bukan semata-mata karena isu lesbian, tapi karena juga mengusung isu perempuan dan segala keresahannya selama 2011.</p>
<p><strong>Best Song</strong><br />
<strong>Adele – Someone Like You</strong><br />
Lagu <em>Someone Like You </em>ini sepertinya jadi lagu wajib putar di radio sejagat raya. Bahkan menduduki peringkat no. 1 di YouTube sebagai video yang paling sering ditonton sepanjang tahun 2011.<br />
<span id="more-17030"></span><br />
<iframe width="400" height="233" src="http://www.youtube.com/embed/hLQl3WQQoQ0" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p><em>“Never mind I&#8217;ll find someone like you. I wish nothing but the best for you. Don&#8217;t forget me, I beg. I remember you said, sometimes it last in love but sometimes it hurts instead.”</em>Ya, sekian, inilah lagu yang bikin puluhan juta manusia nggak bisa <em>move on</em>.</p>
<p><strong>SNSD – The Boys</strong><br />
Fans K-Pop angkat tangannyaaaaa&#8230; Biarpun kalian <em>haters</em>, tapi mau nggak mau harus mengakui bahwa selama dua tahun terakhir serbuan K-Pop melanda seluruh dunia. Bahkan di Indonesia mulai banyak grup KW-nya&#8230; SNSD alias Girls Generation yang beranggotakan sembilan gadis cantik ini merupakan girl band Korea yang paling terkenal sepanjang tahun 2011. Bahkan konsernya di Singapura bulan Desember lalu sudah <em>sold out </em>hanya dalam hitungan hari sampai mereka perlu melakukan konser tambahan satu hari karena banyaknya peminat. Cekidot video klip mereka terbaru di 2011, <em>The Boys</em>. (Jangan lupa tutup mulut, jangan kelamaan menganga kagumnya, kakakkk)<br />
<iframe width="400" height="233" src="http://www.youtube.com/embed/6pA_Tou-DPI" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p><strong>Glee – Rumor Has It/Someone Like You</strong><br />
Ya, ya, tahun 2011 memang tahunnya Adele dan Glee. Gabungan keduanya berarti&#8230; hits. Ketika dalam season 3 ini Glee me-<em>mashup </em>2 lagu Adele, <em>Rumor Has It </em>dan <em>Someone Like You </em>ditambah dengan cerita lesbian di dalamnya membuat lagu ini wajib jadi the <em>best song </em>2011 SepociKopi. Coba lihat dong tatapan Santana ke Brittany di menit 1:15. Saya sih udah meleleh di panggung kalau ditatap seperti itu.<br />
<iframe width="400" height="233" src="http://www.youtube.com/embed/qb7zjKkLCoQ" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p><strong>Best Book:<br />
Sing You Home &#8211; Jodi Picoult<br />
</strong><em>It&#8217;s not gender that makes a family; it&#8217;s love. You don&#8217;t need a mother and a father; you don&#8217;t necessarily even need two parents. You just need someone who&#8217;s got your back.&#8221;<br />
</em>&#8220;Sing You Home&#8221; adalah novel ke-18 dari Jodi Picoult, yang langsung menduduki no.1 <em>bestseller </em>di Amerika Serikat saat terbit awal bulan April 2011. Berkisah tentang Zoe dan Max sudah berusaha memiliki anak selama 10 tahun pernikahan mereka. Segala cara sudah dicoba hingga terakhir mereka melakukan bayi tabung. Zoe akhirnya berhasil hamil namun bayinya lahir mati ketika berusia 28 minggu. Duka yang amat dalam membuat mereka memutuskan bercerai. Zoe bertemu dengan Vanessa, memulai persahabatan hingga kemudian mereka saling jatuh cinta. Lalu masalah pun timbul ketika Zoe kepingin punya anak dan ditentang gereja Max. Buku yang akan membuat kita terharu saat membacanya. Review lengkap di: <a href="http://sepocikopi.com/2011/05/09/buku-sing-you-home-jodi-picoult/">http://sepocikopi.com/2011/05/09/buku-sing-you-home-jodi-picoult/</a></p>
<p><strong>Huntress &#8211; Malinda Lo<br />
</strong>Ini adalah novel kedua Malinda Lo, mantan <em>managing editor </em>situs lesbian afterellen.com. Masih berkutat dalam tema fantasi remaja. Malinda Lo menampilkan gagasan tentang cinta lesbian dalam novel terbarunya, <em>Huntress</em>, yang terbit awal April 2011. <em>Huntress </em>berkisah tentang petualangan dan cinta antara Kaede dan Taisin yang melakukan perjalanan mengunjungi negeri para peri untuk memusnahkan kutukan musim dingin yang membelenggu dunia mereka. Dalam perjalanan inilah kedua remaja perempuan ini mulai jatuh cinta. Kaede adalah putri penasihat raja yang terpilih ikut serta bersama rombongan pangeran muda dan para pengawalnya karena mimpi yang dilihat Taisin, sang peramal muda. Kedua karakter dalam novel ini, Kaede dan Taisin memiliki kekuatan dan kelemahan sesuai karakter masing-masing. Buat penyuka novel fantasi remaja dan ingin membaca tokoh utama lesbian, <em>Huntress </em>adalah buku yang harus dibaca. Review lengkapnya baca di: <a href="http://sepocikopi.com/2011/04/18/buku-huntress-kisah-cinta-dan-petualangan-sepasang-gadis-muda/">http://sepocikopi.com/2011/04/18/buku-huntress-kisah-cinta-dan-petualangan-sepasang-gadis-muda/</a></p>
<p><strong>IQ84 &#8211; Haruki Murakami<br />
</strong>Menurut saya, novel setebal hampi 1000 halaman ini bukan novel terbaik Murakami. Cinta pertama saya padanya tetap di <em>Norwegian Wood</em>. Tapi dalam novel yang jadi paling dinanti terbit bahasa Inggris-nya pada tahun 2011, kita bisa melihat “kecintaan” Murakami pada lesbian dengan menyertakan beberapa adegan lesbian dalam novel ini. <em>IQ84 </em>mendapat beragam review dan tidak sedikit yang kecewa, termasuk saya. Menurut saya, Haruki Murakami terlalu berusaha keras dalam novel ini. Tapi tidak menyebut <em>IQ84 </em>sebagai salah satu buku pilihan kok rasanya nggak sreg ya? Namun jika memang ingin membaca novel lesbian Murakami, <em><a href="http://sepocikopi.com/2011/06/27/buku-sputnik-sweetheart-segala-yang-terasing-dan-hilang/">Sputnik Sweetheart</a> </em>bisa jadi pilihan.</p>
<p><strong>Best TV Series<br />
Glee<br />
</strong>Season 3 <em>Glee </em>resmi menjadi season lesbian <em>Glee </em>dengan <em>coming out </em>dan penerimaan Santana (Naya Rivera) terhadap orientasi seksualnya. Jika dalam season 2, <em>Glee </em>banyak membahas <em>bullying </em>yang dialami Kurt yang gay setelah ketahuan gay, entah apa yang akan dibawa oleh Santana yang bitchy ini setelah ketahuan lesbian. Apa pun itu, serial ini menyenangkan untuk ditonton, tidak hanya isu homoseksualnya namun lagu-lagunya juga bikin kita kecanduan untuk terus menontonnya. Lebih jauh tentang Glee, bisa dilihat di: <a href="http://sepocikopi.com/2011/03/21/tv-raise-your-glass-if-youre-a-gleek/">http://sepocikopi.com/2011/03/21/tv-raise-your-glass-if-youre-a-gleek/</a></p>
<p><strong>Pretty Little Liars<br />
</strong>Serial remaja ini masuk Season 2 pada tahun 2011 dan masih menampilkan tokoh lesbian Emily Fields yang diperankan oleh Shay Mitchell. Dalam season 2 ini, isu orientasi seksual Emily makin berkembang dan kompleks. Ditambah dengan <em>coming out </em>dan homofobia di sekolah, juga penerimaan keluarganya. Sejauh ini <em>Pretty Little Liars </em>adalah salah satu seri yang lumayan oke untuk ditonton jika ingin melihat isu remaja dan segala kompleksitasnya.</p>
<p><strong>Grey&#8217;s Anatomy</strong><br />
Serial <em>medical drama </em>ini sudah masuk Season 8. Pada bulan Mei tahun 2011, serial ini mencapai puncak kelesbianannya dengan pernikahan lesbian antara dr. Callie Torres dan dr. Arizona Robbins pada season 7 dalam episode “White Wedding”. Apakah season 8 ini mereka masih layak ditonton? Tentu saja, buat mereka pecinta drama dan dokter-dokter cantik atau tampan, <em>Grey&#8217;s Anatomy </em>masih menjadi tontonan wajib.</p>
<p>Review lengkap soal TV series pilihan, bisa dilihat di: <a href="http://sepocikopi.com/2011/05/22/serial-tv-piliha/">http://sepocikopi.com/2011/05/22/serial-tv-piliha/</a></p>
<p><strong>Best Movie<br />
Daughter of Club Bilitis<br />
</strong>FTV <em>Daughters of Club Bilitis</em> tayang di KBS, Korea Selatan pada bulan Agustus 2011. Drama ini menceritakan tiga generasi lesbian berusia remaja, 30-an, dan 50-an. Inilah pertama kalinya Korea memutar drama yang menampilkan lesbian sebagai identitas seksual tokoh-tokohnya, bukan cuma tokoh tambahan. Kisahnya terpusat pada enam perempuan. Dua remaja lesbian yang masih duduk di SMA (Joo-yeon dan Yeo-gyung), sepasang kekasih berusia 30-an (Han-na dan Young-eun), dan pasangan lesbian senior (Myung-hee dan Han-ja). Tiga generasi ini mewakili lesbian dengan segala permasalahannya. Lesbian remaja berusaha menghindari gosip lesbian di sekolah. Lesbian berusia 30-an menghadapi tekanan keluarga dan lingkungan untuk menikah dengan laki-laki. Sementara lesbian 50-an yang sudah senior menghadapi masalah dengan keluarga serta kebersamaan.  Silakan menonton episode 1 dari 4-nya di:<br />
<iframe width="400" height="233" src="http://www.youtube.com/embed/aXFlYiPsguk" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p><strong>The Help</strong><br />
Ini bukan film lesbian, tapi film tentang segregasi ras antara kulit hitam dan kulit putih di Amerika Serikat pada tahun 1960-an. Berkisah tentang Skeeter (Emma Stone) yang pulang ke kampung halamannya di Jackson, Mississippi dan berniat menjadi penulis. Awalnya, dia mewawancarai pembantu kulit hitam di rumah sahabatnya untuk pekerjaannya sebagai kolumnis. Namun lambat laun wawancara itu berkembang menjadi isu diskriminasi warna kulit dan bagaimana nasib pembantu klit hitam di rumah keluarga kulit putih yang kaya raya. Film ini perempuan banget dengan peran utama yang nyaris semuanya perempuan. <em>The Help</em> diangkat dari novel berjudul sama karya Kathrynn Stockett yang novel debutnya ini menjadi <em>bestseller </em>pada tahun 2009 yang kemudian difilmkan dan dirilis tahun 2011.</p>
<p><strong>Sang Penari</strong><br />
Film Indonesia ini merupakan film terbaik dalam FFI 2011 yang diangkat dari novel klasik Indonesia, <em>Ronggeng Dukuh Paruk </em>karya Ahmad Tohari. Bersetting pada tahun 1960-an pada masa gejolak politik Indonesia menjelang G30S. Ini merupakan <em>remake </em>film tahun 1980-an dengan judul sama. Kini kisah cinta Srintil dan Rasus tahun 2011 diperankan oleh Prisia Nasution dan Oka Antara. Prisia Nasution juga mendapat penghargaan sebagai aktris terbaik di FFI. <em>Sang Penari </em>mengisahkan bagaimana Srintil bercita-cita menjadi sang penari ronggeng di Dukuh Paruk, yang tidak hanya sekadar menari, tapi juga harus “buka ranjang” alias menjual tubuhnya pada lelaki yang bisa membayar mahal. Srintil merupakan sosok perempuan yang harus menanggung “dosa” orangtuanya, beban desanya, juga terjebak dalam dosa politik bangsa era itu. Dan ketika PKI masuk ke Dukuh Paruk, Srintil kembali menjadi korban politik meskipun dia tak paham apa-apa. Sebuah kisah mengenaskan yang memaksa kita untuk berkaca pada masa lalu.</p>
<p>Demikian ulasan terbaik pilihan 2011. Oya, untuk film lesbian, mungkin bisa juga menonton film Thailand, <a href="http://sepocikopi.com/2011/07/11/film-yes-or-no-cinta-di-asrama/">Yes or No</a>, yang dirilis Desember 2010, jadi nggak bisa masuk The Best 2011, tapi saya yakin jadi <em>the best lesbian movie </em>di hati banyak pembaca SepociKopi.</p>
<p>@Alex, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/01/mix-n-match-the-best-of-2011/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tuduhan Lesbian</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/17/tuduhan-lesbian/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/17/tuduhan-lesbian/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 01:57:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coming Out]]></category>
		<category><![CDATA[Friendship]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16365</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Yasmin
Dalam sebuah pembicaraan dengan seorang teman lesbian yang baru pulang dari nongkrong di kafe, dia bercerita, “Tadi beberapa meja di samping mejaku, kursi-kursinya diduduki pasangan-pasangan lesbian,” katanya.
Mendengar kalimat itu dalam benak saya langsung terpikir bahwa teman saya kenal dengan pasangan-pasangan yang dia ceritakan. Tapi pada saat saya tanya dan memastikan pernyataannya, dia menjawab, “Enggak. Aku nggak kenal. Tapi sudah pastilah mereka lesbian, kan terlihat dari penampilannya, yang satu butch gitu, dan pasangannya femme.”
“Belum tentu lho,&#8221; sanggah saya. &#8220;Jangan pernah nge-judge seseorang lesbian hanya karena penampilannya atau dua orang perempuan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/Friends__Color_PSD__by_Mikeinel.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16758" title="Friends__Color_PSD__by_Mikeinel" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/Friends__Color_PSD__by_Mikeinel-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Oleh: Yasmin</strong></p>
<p><strong></strong>Dalam sebuah pembicaraan dengan seorang teman lesbian yang baru pulang dari nongkrong di kafe, dia bercerita, “Tadi beberapa meja di samping mejaku, kursi-kursinya diduduki pasangan-pasangan lesbian,” katanya.</p>
<p>Mendengar kalimat itu dalam benak saya langsung terpikir bahwa teman saya kenal dengan pasangan-pasangan yang dia ceritakan. Tapi pada saat saya tanya dan memastikan pernyataannya, dia menjawab, “Enggak. Aku nggak kenal. Tapi sudah pastilah mereka lesbian, kan terlihat dari penampilannya, yang satu butch gitu, dan pasangannya femme.”</p>
<p>“Belum tentu lho,&#8221; sanggah saya. &#8220;Jangan pernah nge-<em>judge </em>seseorang lesbian hanya karena penampilannya atau dua orang perempuan sebagai pasangan lesbian kalau mereka nggak menyatakannya,” tandas saya lagi.</p>
<p>Temanku pun bersungut-sungut mendengar pernyataanku. Aku memang dikenal oleh teman-teman lesbian sebagai orang yang &#8220;nggak asyik&#8221; kalau dikasih info atau bisikan tentang seseorang yang diduga lesbian.</p>
<p>Buat sebagian orang, obrolan tentang orientasi seksual seseorang bisa nyaris senikmat ngupil. Bahkan ketika rongga hidung dalam keadaan bersih pun ada yang tetap asik menggali dan &#8220;mengeskplorasi&#8221;. Tapi ada baiknya kita mengingat beberapa kode etik yang meski tidak/belum pernah tertulis. Bila Netiket merujuk pada etika umum yang berlaku bagi para netter (pengguna internet) siapa tahu suatu saat, kita, komunitas lesbian, bisa mengusung konsep Lestiket, etika umum untuk para lesbian. Asyik kan?</p>
<p><strong>1. Jangan cepat menuduh.</strong></p>
<p>Sebenarnya bukan di antara pertemanan saya saja, pembicaraan seperti ini sering terdengar di kalangan lesbian pada umumnya, bahkan di kalangan bukan lesbian pun.  Sering sekali kita menuduh perempuan yang dekat dengan sesama perempuan adalah lesbian.  Lebih mudah lagi menuduh (bahkan memastikan) perempuan berpenampilan tomboy sebagai lesbian berlabel butch atau andro. Apalagi si tomboy menggandeng tangan si feminin, langsung deh terdengar celetukan, &#8220;hmmm mereka pasti pasangan lesbi tuh.&#8221;</p>
<p>Untuk kesimpulan kita sendiri, sekadar memuaskan diri agar kita bisa tersenyum-senyum merasa ada teman &#8220;sehati&#8221; sih nggak apa-apa, tapi jangan sampai konklusi pribadi tersebut itu dijadikan topik obrolan dengan orang lain, apalagi bila mereka, yang dibicarakan ini, merupakan <em>public figure</em> atau orang yang selama ini kita ketahui sebagai <em>straight</em>, atau perempuan bersuami dan memiliki anak.</p>
<p><strong>2. Hormati status yang diproklamirkan.</strong></p>
<p>Anggap saja begini, ketika kita berkenalan dengan seseorang dan kita tanya, apa profesimu? Dan dijawab: arsitek.  Maka hormatilah pengakuannya bahwa dia seorang arsitek.  Kita tidak perlu menginvestigasi pengakuannya, bukan? Tidak ada perlunya, kecuali kalau kita ingin menggunakan jasanya utuk merancang rumah kita, sebab kalau bukan  arsitek benaran, bisa-bisa rumah kita yang didesainnya nanti rubuh.</p>
<p>Begitu pula dengan orientasi seksual seseorang, lesbian atau bukan, gay atau bukan. Kalau seseorang menyebut dirinya <em>straight</em>, hormatilah! Jangan kita ulik-ulik lagi mencari celah atau apa pun yang merujuk kemungkinannya sebagai lesbian. Meskipun penampilannya mencurigakan, meskipun gaydar alias gay radar kita akui bekerja dengan baik, dan meskipun kita tahu, seorang istri atau seorang ibu bisa saja berorientasi seksual lesbian  atau biseksual, tapi kita tetap harus menghormati status yang diproklamirkannya. Begitu seharusnya, bukan?</p>
<p><strong>3. Berkaca pada diri sendiri.</strong></p>
<p>Mumpung kali ini saya menulis untuk pembaca di kalangan lesbian, saya ingin mengungkapkan begini: ketika kita akan menuduh seseorang sebagai lesbian, berkacalah pada diri sendiri, apakah kita, yang sudah jelas lesbian ini mau atau suka jika dibicarakan kepada orang lain sebagai lesbian?</p>
<p>Bila dibanding dengan yang sudah <em>coming out</em>, ada berapa pembaca SepociKopi yang masih menyembunyikan orientasi seksualnya? Lebih banyak, kan? Itu artinya ada lebih banyak teman-teman kita yang harus kita hormati dan kita jaga. Kalau kita tahu nggak enaknya dituduh-tuduh, sebaiknya kita pun jangan menuduh orang lain, menempelkan status yang bukan statusnya, sebab itu bukan tindakan yang <em>fair</em>.</p>
<p>Bahwa kemungkinan orang itu berbohong, mengaku <em>straight </em>padahal lesbian, itu bukan urusan kita. Itu urusan dirinya sendiri. Sama-sama tidak saling tidak menyinggung orientasi seksual masing-masing sajalah&#8230; Begitu rasanya lebih bersaudara, kan?</p>
<p><strong>4. Apa perlunya?</strong></p>
<p>Pertanyaannya sekarang, apa perlunya kita mengulik kelesbianan seseorang? Baiklah, mungkin ada yang menjawab: seneng aja, jadi kita tahu kalau kita tidak sendirian. Padahal kan sudah jelas, Anda sedang membaca SepociKopi ya, <em>visitor</em>-nya saja sudah 2 juta, gimana sendirian? Anda tuh rame-rame, tauk! <img src='http://sepocikopi.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Apa lagi? Agar bisa kita suruh dia baca SepociKopi? Ya boleh juga, tapi ketika Anda mengatakannya, justru Anda yang sedang berusaha “mengatakan” bahwa Anda lesbian. Atau mungkin ada yang menjawab, agar kita bisa “nembak” dia.  Ya, kalau memang naksir, hajar sajalah! Nggak usah urus dia lesbian atau bukan, deketin saja. Kalau dia tertarik dan ada jalan cerita yang lain, yah sudah pastilah dia lesbian.</p>
<p>Tapi apa pun keperluannya, kembalilah ke poin 1, 2 dan 3. Sebab penghargaan kita kepada privasi orang lain adalah bentuk penghargaan kita kepada diri sendiri.</p>
<p>@Yasmin, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/17/tuduhan-lesbian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Noktah Merah: Virginia Woolf, Penulis Lesbian Garis Depan</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/11/25/noktah-merah-virginia-woolf-penulis-lesbian-garis-depan/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/11/25/noktah-merah-virginia-woolf-penulis-lesbian-garis-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Nov 2011 11:24:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Noktah Merah]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16279</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lakhsmi

The truth is, I often like women. I like their unconventionality. I like their completeness. I like their anonymity.
Kutipan ini adalah kutipan klasik dan legendaris dari Virginia Woolf, di buku esainya yang terkenal berjudul A Room of One’s One. Terlahir dengan nama Adeline Virginia Stephen tanggal 25 Januari 1882 di Hyde Park Gate, London. Dia adalah pengarang yang berasal dari Inggris.

Virginia menulis banyak sekali karya dalam bentuk novel, cerita pendek, dan kumpulan esai. Karya-karyanya dihormati sampai sekarang, karena itu Virginia ditahbiskan sebagai sastrawan modern di abad dua puluh. Novel-novelnya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/vw.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16283" title="vw" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/vw-222x300.jpg" alt="" width="222" height="300" /></a>Oleh: Lakhsmi<br />
<em><br />
The truth is, I often like women. I like their unconventionality. I like their completeness. I like their anonymity.</em></p>
<p>Kutipan ini adalah kutipan klasik dan legendaris dari Virginia Woolf, di buku esainya yang terkenal berjudul <em>A Room of One’s One.</em> Terlahir dengan nama Adeline Virginia Stephen tanggal 25 Januari 1882 di Hyde Park Gate, London. Dia adalah pengarang yang berasal dari Inggris.</p>
<p><span id="more-16279"></span><br />
Virginia menulis banyak sekali karya dalam bentuk novel, cerita pendek, dan kumpulan esai. Karya-karyanya dihormati sampai sekarang, karena itu Virginia ditahbiskan sebagai sastrawan modern di abad dua puluh. Novel-novelnya banyak yang terkenal, inilah beberapa di antaranya: <em>Mrs Dalloway </em>(1925), <em>To the Lighthouse </em>(1927), dan <em>Orlando </em>(1928). Virginia disebut sebagai &#8220;pembela garis depan dengan gaun ala Victoria&#8221; oleh kritikus sastra feminis, Jane Marcus.</p>
<p>Ayah Virginia bernama Leslie Stephen, yang mengedit<em> Dictionary of National Biography.</em> Ibunya, Julia Pattle Duckworth, menikah dengan ayahnya sebagai suami kedua. Salah satu kakak tiri Julia Gerald Duckworth pernah melakukan pelecehan seksual kepada Virginia saat dia remaja. Masa-masa remaja Virginia diisi dengan banyak kematian dan kegelapan depresi yang mengganggu Virginia seumur hidupnya. Ibunya meninggal di tahun 1895. Kakak tirinya Stella meninggal di tahun 1897. Ayahnya meninggal di tahun 1904 dan saudara lelakinya Thoby di tahun 1906. Virginia mulai mengalami gangguan kejiwaan pada usia tiga belas tahun sesaat kematian ibunya.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/vw1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-16284" title="vw1" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/vw1.jpg" alt="" width="247" height="250" /></a>Pada tahun 1912, Virginia menikah dengan Leonard Woolf, lelaki yang berada di kelas bawah dalam status ekonomi. Pernikahan ini adalah pernikahan yang memiliki ikatan kuat antara suami-istri. Mereka berdua mendirikan Hogarth Press, sebuah penerbitan yang menerbitkan buku-buku Virginia, T.S. Eliot, dan lain-lain. Virginia mulai aktif menjadi penulis di masa-masa ini. Karyanya masuk di koran <em>Guardian</em>, yang difasilitasi oleh Violet Dickinson.</p>
<p>Hubungannya dengan perempuan dimulai dari Violet. Mereka berdua saling tukar menukar surat dengan penuh gelora dan mengisi catatan harian tentang ketertarikan mereka satu sama lain. Gairah emosi dan seksualitas diungkapkan dalam bahasa erotisme yang sensual.  Mereka melahirkan karya sastra berdua, tapi tidak semua dipublikasikan. Kebanyakan ditulis untuk mengagung-agungkan hubungan persahabatan mereka yang sangat intim. Violet berusia dua kali lipat dari usia Virginia. Dalam tulisannya selanjutnya, Virginia mengatakan bahwa hubungannya dengan Violet membuatnya mampu menemukan jati dirinya sebagai “penulis”.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/vw4.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16287" title="vw4" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/vw4-194x300.jpg" alt="" width="194" height="300" /></a>Selanjutnya, Virginia bertemu dengan Vita Sackville-West, satu-satunya hubungan intim persahabatan Virginia dengan perempuan yang melibatkan hubungan fisik (seks) di tahun 1922. Usia mereka terpaut jauh, sama seperti hubungan Virginia dan Violet, namun kebalikannya. Virginia berusia empat puluh tahun dan Vita berusia tiga puluh tahun. <em>Affair</em> percintaan ini dimulai pada tahun 1925 dan berakhir pada tahun 1928. Selama tahun itu, Vita melakukan dua kali perjalanan ke Persia untuk mengunjungi suaminya di Tehran. Kedua kalinya, Vita pergi bersama perempuan lain yang menciptakan kecemburuan pada Virginia. Virginia semakin tidak bisa memberikan toleransi kepada Vita dan &#8220;perempuan-perempuannya&#8221;.</p>
<p>Pada tahun 1928, Virginia bersama E.M. Forster menulis surat membela Radclyffe Hall, pengarang yang menulis novel lesbian pertama kali <em>The Well of Loneliness</em>. Ini menunjukkan kompetensi Virginia sebagai feminis sejati. Virginia tidak membela Radclyffe karena novel tersebut dianggapnya berkualitas atau karena mengangkat isu lesbian, tapi karena Virginia membela hak-hak kebebasan berbicara atas nama seni.</p>
<p>Pada tahun yang sama, Virginia memberikan kuliah di Newnham And Girton College, yang menghasilkan esainya yang terkenal berjudul <em>A Room of One’s Own. </em>Virginia juga melahirkan novel berjudul <em>Orlando</em>, yang didedikasikan untuk Vita. Buku itu dianggap dunia sebagai &#8220;surat cinta terpanjang dan terindah dalam literatur klasik.&#8221; Walaupun hubungan percintaan antara Virginia dan Vita berakhir di tahun 1929, hubungan intim <a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/vw3.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16286" title="vw3" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/vw3-166x300.jpg" alt="" width="166" height="300" /></a>persahabatan mereka terus berlanjut dengan sangat baik sampai hari kematian Virginia. Tahun-tahun itu adalah tahun-tahun kesuksesan bagi dua penulis tersebut. Virginia membuat Vita &#8220;abadi&#8221; dalam sejarah sastra dunia lewat <em>Orlando</em>. Bukan itu saja, Virginia juga mewariskan tanah keluarganya, Knole, kepada Vita.</p>
<p>Karya Virginia diterjemahkan ke dalam lima puluh bahasa dunia. Virginia dianggap sebagai kreator brilyan dalam penggubahan bahasa Inggris. Istilah kritik sastra yang terkenal <em>stream of consciousness</em> (narasi yang menjelaskan pandangan karakter lewat proses pemikirannya, bisa lewat teknik monolog atau aksi-reaksi) dilekatkan dalam karya-karyanya. Ketenaran Virginia merosot setelah Perang Dunia II, namun bangkit kembali bersama kekuatan gelombang feminisme pada tahun 1970.</p>
<p>Setelah menyelesaikan naskah novelnya <em>Between the Acts,</em> Virginia terjatuh dalam kegelapan depresi lagi, sama seperti yang dialaminya ketika masih remaja. Perang Dunia II dan kehancuran rumahnya di London membuat kondisinya menjadi-jadi sehingga dia tak sanggup bekerja. Dalam surat terakhirnya untuk suaminya, Virginia mengaku dia mendengar suara-suara dan tak bisa berkonsentrasi. Dia tak ingin membuat suaminya dibebankan dengan penyakit jiwanya. Pada tanggal 28 Maret 1941, Virginia mengambil jaket panjangnya, mengisinya kantung-kantungnya dengan batu sebagai pemberat, dan berjalan ke Sungai Ouse, dekat rumahnya. Dia menenggelamkan dirinya di sungai itu. Mayatnya tak ditemukan sampai pada tanggal 18 April 1941.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/vw2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-16285" title="vw2" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/vw2.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>Di zaman sekarang, penelitian kepada buah karya Virginia lebih difokuskan pada topik feminisme dan lesbian. Esai berjudul <em>Virginia Woolf: Lesbian Readings </em>diterbitkan tahun 1997 oleh Eileen Barrett dan Patricia Cramer. Ada juga esai yang meneliti tentang pelecehan seksual yang dialami Virginia di masa remajanya. Buku itu berjudul <em>Virginia Woolf: The Impact of Sexual Abuse on Her Life And Work </em>oleh Louise A. DeSalvo.</p>
<p>Novel <em>The Hours </em>yang memenangkan penghargaan Pulitzer Prize ditulis oleh Michael Cunningham di tahun 1998 bercerita tentang tiga perempuan yang berasal dari tiga generasi, yang tersentuh oleh novel karya Virginia, <em>Mrs. Dalloway.</em> Pada tahun 2002, novel itu diangkat ke layar lebar dengan aktris Nicole Kidman yang beradu akting sebagai Virginia Woolf dengan Julianne Moore dan Meryl Streep. Nicole Kidman mendapatkan penghargaan Academy Award sebagai <em>Best Actress</em> di tahun yang sama lewat film tersebut.</p>
<p>Virginia Woolf rasanya pantas dinobatkan sebagai salah satu tokoh lesbian yang inspiratif lewat keteguhannya membela perempuan dan  kualitas karya-karyanya. Bukan itu saja. Cinta Virginia yang besar pada Vita tertulis di berlembar-lembar catatan hariannya, menjadi abadi dan dikenang oleh generasi selanjutnya: <em>“She shines with a candle-lit radiance, pink glowing, grape clustered, pearl hung.”</em></p>
<p>@Lakhsmi, SepociKopi, 2011</p>
<p>**Artikel ini ditulis atas diskusi/pertanyaan-pertanyaan tentang Virginia Woolf di milis SepociKopi. Terima kasih buat para miliser SepociKopi yang tertarik menanggapi pahlawan lesbian Virginia Woolf.</p>
<p><strong>Keterangan gambar:</strong><br />
1. Lukisan Virginia Woolf oleh George Charles Beresford<br />
2. Potret diri Vita Sackville-West<br />
3. Novel Orlando, didedikasikan untuk Vita Sackville-West<br />
4. Surat-surat cinta Virginia Woolf dan Vita Sackville-West<br />
5. Salah satu buku esai yang membahas hubungan percintaan Virginia dan Vita</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/11/25/noktah-merah-virginia-woolf-penulis-lesbian-garis-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mix n’ Match: Coming Out Anak – Referensi dari Orangtua</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/10/16/mnm-coming-out-anak-referensi-dari-orangtua/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/10/16/mnm-coming-out-anak-referensi-dari-orangtua/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Oct 2011 08:33:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Mix n' Match]]></category>
		<category><![CDATA[Coming Out]]></category>
		<category><![CDATA[referensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=15380</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Carmen
Akhir-akhir ini di SepociKopi, banyak tulisan bagus yang muncul tentang masalah coming out. Aku jadi pengin ikut-ikut ala anak bebek untuk ambil kail topik yang super seru ini. Nah gimana kalau bahas tema yang paling bikin banyak lesbian berdiri bulu roma-nya (halah kok jadi dangdut), yaituuuu&#8230; coming out pada&#8230; orangtua!
Ngacung yang sudah coming out sama mama papanya!

Seperti biasa, yang dilakukan pertama kali adalah mencari bahan. Setelah mengubek-ubek tumpukan buku dan film, majalah-majalah, buka-buka katalog, buka mata buka telinga, hingga buka jendela, akhirnya jidat pun ditepok tangan sendiri! Hei! Kenapa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Carmen</p>
<p>Akhir-akhir ini di SepociKopi, banyak tulisan bagus yang muncul tentang masalah <em>coming out</em>. Aku jadi pengin ikut-ikut ala anak bebek untuk ambil kail topik yang super seru ini. Nah gimana kalau bahas tema yang paling bikin banyak lesbian berdiri bulu roma-nya (halah kok jadi dangdut), yaituuuu&#8230; <em>coming out </em>pada&#8230; orangtua!</p>
<p>Ngacung yang sudah <em>coming out </em>sama mama papanya!<br />
<span id="more-15380"></span><br />
Seperti biasa, yang dilakukan pertama kali adalah mencari bahan. Setelah mengubek-ubek tumpukan buku dan film, majalah-majalah, buka-buka katalog, buka mata buka telinga, hingga buka jendela, akhirnya jidat pun ditepok tangan sendiri! Hei! Kenapa pusing, coba? Gimana kalau tanya orangtua langsung?</p>
<p>Aku sudah <em>coming out </em>ke orangtua. Bukan aku yang sengaja <em>coming out </em>atau bukan pula ketangkap basah, tapi mereka tahunya dari temanku yang keceplosan. Orangtuaku awalnya seperti kesamber petir dan menentang homoseksualitas secara keras. Singkat cerita, lewat drama yang berbukit-bukit dan berombak nyaris tsunami selama kurang lebih 6 bulan, akhirnya orangtua menerimaku apa adanya sebagai anaknya yang berorientasi seksual lesbian. Relatif singkat, ya? Tapi transformasinya nyata. Menerimanya tidak dengan berat hati lho, tapi dengan embel-embel tetap bangga dan sayang sama anaknya! Yipiii&#8230;!</p>
<p>Selama proses yang berat itu, apa sih yang membuat mama papaku menerima anaknya yang lesbian? Jawabannya mungkin adalah, selain karena elemen cinta, mereka juga mengedukasi diri! Terlepas perbedaan konteks orangtua yang lain, berikut adalah jawaban dari mama papaku waktu kutanya: “Bahan apa yang paling efektif waktu resolusi proses kemarin soal penerimaan anak yang lesbian?”</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/dimsum-terakhir.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-15381" title="dimsum terakhir" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/dimsum-terakhir.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>1.<br />
Menurut Mama, sebelum anaknya yang lucu ini ketahuan lesbian, mama membaca novel fiksi yang tergeletak di pangkuanku waktu kami sama-sama di pesawat (sedikit mancing? mungkin saja, hihi). Ternyata novel ini dianggap mamaku sebagai persiapan sebelum babak-babak realitas anaknya yang nyaris bikin jantungan. Judulnya adalah <a href="http://inibuku.com/2602/dimsum-terakhir.html">&#8220;Dimsum Terakhir&#8221; </a>karya Clara Ng. Begini komentar Mama yang mungkin jadi kunci, setelah membaca novel (sambil tersenyum sumringah) tersebut: “Lucu ya, Nak. Pusing orangtuanya. Empat anak perempuannya kembar, lingkungan tumbuhnya sama, dididiknya mirip, tapi pas gede jadinya beda-beda, masalahnya juga masing-masing. Eh penyelesaiannya juga nggak terduga, tetap saja (mereka) nggak berubah, (tetap jadi) anak-anak orangtuanya.” Nah, cerita salah satu anak kembar itu menyerempet-nyerempet kisah sesama jenis dan akhirnya meliputi isu transgender.</p>
<p>“Ya. Akhirnya, seaneh apa pun anaknya, orangtua akan tetap sayang. Mama sayang kamu lho, Carmen.” Kalimat yang diucapkan sambil setengah bercanda ini membuatku tersenyum-senyum sepanjang minggu. Ada harapan, dan sekarang sudah terwujud! </p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/beyond-acceptanc.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-15382" title="beyond acceptanc" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/beyond-acceptanc.jpg" alt="" width="183" height="280" /></a>2.<br />
Salah satu bahan yang jadi titik tolak penting bagi mamaku setelah aku ketahuan lesbian adalah bacaan non-fiksi “Beyond Acceptance: Parents of Lesbians and Gays Talk about their Experiences” karya Griffin, Wirth, dan Wirth (1996) yang diambilnya dari ruang kerjaku. Si mami di rumah memang suka beres-beresin ruang kerjaku yang biasanya aujubile berantakan penuh kertas-kertas dan buku terbuka di mana-mana. Ternyata, berantakan membawa berkah (halah), karena ia jadi melahap buku itu.</p>
<p>Menurut Mama, buku yang bercerita tentang pengalaman para orangtua yang mempunyai anak lesbian dan gay ini menyadarkannya benar bahwa yang ia dan papaku alami juga dialami oleh orang nyata yang lain. Mamaku yang sebelumnya merasa terisolasi/lain dari lingkungan (karena gagal mendidik, perasaan teramat sedih dll) sekarang tidak merasa sendirian. Alur bab demi bab mengantarkan mamaku dengan lembut dan hati-hati ke level pemahaman baru tentang yang ia alami. Banyak pertanyaan yang terjawab, banyak deskripsi-deskripsi perasaan yang mirip dengan yang dialami. Semua itu diberikan oleh 23 orangtua yang memberikan kesaksian dalam proses penerimaannya terhadap anaknya yang lesbian atau gay, yang tergabung dalam suatu grup bernama P-FLAG (Parents, Families, and Friends of Lesbians and Gays) di Amerika.</p>
<p>Ia membagi isinya dengan Papa, dan dari informasi akurat yang diberikan para orangtua yang heteroseksual juga di sana, orangtuaku mulai melihat jalan alternatif&#8211;bahwa ada cara untuk membangun hubungan baru denganku yang dilandasi kejujuran dan kasih sayang. Seperti salah satu penulis buku katakan, transformasi yang ditunjukkan dari mendapatkan pengetahuan akurat adalah “an incredibly beautiful thing to witness”.</p>
<p>Sayangnya, bukunya berbahasa Inggris. Jadi kalau orangtuanya terbatas bahasa inggrisnya memang jadi sulit. Seandainya ada buku seperti ini yang edisi bahasa Indonesia, pasti sangat luar biasa&#8230;! *lirik LSM lesbian* Ayo dong bikin bahan-bahan yang seperti ini! Kemungkinan kontribusinya terhadap kebahagiaan keluarga yang mempunyai anak lesbian bisa sangat tinggi lhooo, dan sifatnya positif.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/Cover-I-Love-my-Parents.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-15383" title="Cover I Love my Parents" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/Cover-I-Love-my-Parents-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>3.<br />
Berikutnya adalah referensi film terkait religi. Untuk kami keluarga Kristiani, di hari Minggu yang tenang dan damai, kami bertiga (aku + Papa + Mama) terkadang menonton bersama di ruang keluarga. Biasanya tayangan rohani, jadi kuselipin deh DVD keren ini  <a href="http://sepocikopi.com/2010/12/06/resensi-film-for-the-bible-tells-me-so/">For the Bible Tells Me So</a>. Lagi-lagi sayangnya aku belum nemu yang ada subtitle Bahasa Inggrisnya, apalagi Bahasa Indonesia. Hal ini krusial, karena seperti film dokumenter lainnya, dialog wawancara biasanya lebih penting dari aspek visual atau alur cerita.</p>
<p>Menurut Papa, film ini cukup membuatnya terkaget-kaget dan mulai membuka diri, terutama terhadap informasi-informasi baru yang berhubungan dengan homoseksualitas, tidak terbatas soal teologi. Masuknya elemen afeksi kasih tanpa syarat, dan lain-lain juga muncul setelah menonton film keluarga jenis ini. Untuk teman-teman yang non-Kristiani, mungkin bisa dicari film-film sejenis (contoh, untuk yang Muslim:  Jihad for Love atau Gay Muslims (2006); untuk yang Hindu: Anyone and Everyone (2007) atau I Am (2011); untuk yang Buddha: Friends in High Places (2001); untuk yang Yahudi Ortodoks: Trembling before G-D (2001).</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/psycotherapy-250x179.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-15384" title="psycotherapy-250x179" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/psycotherapy-250x179.jpg" alt="" width="250" height="179" /></a>4.<br />
Elemen berikut yang krusial setelah aku ketahuan lesbian, menurut papa-mamaku, adalah dibukanya dialog dengan psikolog, psikiater, tokoh agama, hingga ahli-ahli lain. Uniknya, bukan mereka lho yang mengajakku ke sana, tapi aku yang mengajak mereka ke ahli-ahli itu duluan! Hehehe. Dilandasi logika, jauuuhh sebelum ketahuan orangtua, aku sudah mempersiapkan diri bertahun-tahun dengan meraup informasi sebanyak-banyaknya tentang orientasi seksualku dan dampaknya bagi kehidupanku. Tak terkecuali mencari informasi pula sebanyak-banyaknya dari para pakar yang kupercaya dan yang kutahu bahwa para pakar itu sungguh-sungguh dalam profesinya. Setelah kupikir-pikir, mungkin informasi tentang memilih pakar dan melindungi diri sebagai klien dalam servis dari profesi-profesi ini penting bagi lesbian, jadi di artikelku berikutnya aku akan membahas lebih dalam soal hal ini.</p>
<p>5.<br />
Faktor yang juga krusial menurut papaku, yang membuat perasaanku berbunga-bunga dan agak melambung adalah si anak yang menunjukkan kemauan berdialog dan kompromi, teredukasi hal-hal homoseksual tapi dengan cara tetap sopan dan rendah hati. Bukan meledak-ledak marah, malah kabur dari rumah, atau menuntut orangtua untuk menerima secara membabibuta dalam waktu sekejap mata&#8230;! Ternyata benar kan yang kulakukan: Kalau ingin dihargai orangtua, junjunglah juga orangtua kita layaknya manusia heteroseksual biasa yang punya perasaan, dan punya keterbatasan informasi. Mau kan disayang orangtua? Sayangi juga mereka lewat perbuatanmu. Setelah papaku memujiku seperti itu, aku juga secara asertif bilang bahwa sikapku seperti itu kepada mereka karena aku percaya sepenuhnya pada kemampuan orangtua berproses dan berpikir, dan kemampuan mereka untuk mencintaiku seutuhnya. Memang terkadang aku sempat nyaris putus asa di masa-masa tersulit, namun itu bukan hal yang aneh karena, hei, namanya juga proses&#8230;! <em>Trust them more!</em></p>
<p>Semoga referensi dari mama papaku ini berguna untuk pembaca di sini. Artikel ini sifatnya rada personal dan sangat subjektif, tapi nulisnya pakai hati lhooo, dan semuanya dengan tujuan untuk berbagi dengan teman-teman. <em>Good luck!</em></p>
<p>@Carmen, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/10/16/mnm-coming-out-anak-referensi-dari-orangtua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mix n’ Match: Siapa Jagoanmu?</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/10/09/mix-n-match-siapa-jagoanmu/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/10/09/mix-n-match-siapa-jagoanmu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Oct 2011 16:29:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Mix n' Match]]></category>
		<category><![CDATA[fiksi]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=15223</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Alex 
Setiap anak perempuan idealnya memiliki jagoan perempuan yang bisa jadi panutan. Bagi saya, yang dibesarkan ditemani dengan bacaan, tentu saya memiliki jagoan perempuan yang berasal dari buku. Salah satunya adalah dari buku bacaan favorit saya semasa kecil yaitu Lima Sekawan. Dulu saya amat menyukai tokoh George, yang awalnya saya kira adalah anak lelaki ternyata anak perempuan tomboi bernama Georgina. George adalah anak yang menjadi petualang cilik yang cerdas dan berani.
Pada era masa kini jagoan perempuan dalam buku pun makin beragam. Begitu banyak buku yang menampilkan tokoh jagoan perempuan, mulai dari ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Alex </p>
<p>Setiap anak perempuan idealnya memiliki jagoan perempuan yang bisa jadi panutan. Bagi saya, yang dibesarkan ditemani dengan bacaan, tentu saya memiliki jagoan perempuan yang berasal dari buku. Salah satunya adalah dari buku bacaan favorit saya semasa kecil yaitu <em>Lima Sekawan</em>. Dulu saya amat menyukai tokoh George, yang awalnya saya kira adalah anak lelaki ternyata anak perempuan tomboi bernama Georgina. George adalah anak yang menjadi petualang cilik yang cerdas dan berani.<span id="more-15223"></span></p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/jennifer-lawrence-as-katniss_369x492.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-15226" title="jennifer-lawrence-as-katniss_369x492" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/jennifer-lawrence-as-katniss_369x492.jpg" alt="" width="259" height="346" /></a>Pada era masa kini jagoan perempuan dalam buku pun makin beragam. Begitu banyak buku yang menampilkan tokoh jagoan perempuan, mulai dari novel drama hingga novel thriller, novel remaja fantasi hingga novel dewasa penuh aksi. Di antara buku yang sudah saya baca, saya memilihkan tiga nama ini: Katniss Everdeen, Hermione Granger, dan Lisbeth Salander.  Definisi tokoh perempuan yang layak disebut jagoan ini tentu luas. Tapi saya selalu menganggap jagoan yang baik dalam buku adalah mereka yang memiliki kekurangan. Saya tidak pernah menyukai tokoh yang sempurna. Sebagaimana manusia pada umumnya, kekurangan mereka justru menjadikan mereka manusiawi. Sikap tangguh dan keras kepala Katniss, sikap antososial Lisbeth, serta sok ngaturnya Hermione membuat mereka seperti manusia yang kita kenal.</p>
<p>Tiga perempuan ini merupakan jagoan perempuan dari buku-buku hebat yang menjadi favorit jutaan pembaca. Selain memiliki kekurangan di atas, terutama mereka memiliki sifat dan kepribadian yang, menurut saya, masuk karakteristik sebagai jagoan/pahlawan perempuan. Pandai, berani, percaya diri, memiliki tekad kuat, memiliki harga diri dan kehormatan, menjunjung tinggi kebenaran, dll. Gabungan dari keseluruhan itulah yang menjadikan mereka layak disebut pahlawan.</p>
<p><strong>Katniss Everdeen</strong> adalah tokoh utama dalam trilogi The <em>Hunger Games. </em>Ia adalah gadis berusia enam belas tahun dalam novel bertema <em>dystopia </em>ini yang harus menjadi kepala keluarga dengan berburu dan memancing untuk menghidupi ibu dan adik perempuannya setelah kematian ayahnya. Pada era ini, Panem yang menjadi negara pengganti Amerika Utara memiliki 12 distrik yang berpusat di Capitol. Distrik-distrik itu hidup dalam kemiskinan dan kelaparan agar setiap orang patuh pada kekuasaan Capitol. Setiap tahun, dua anak remaja lelaki dan perempuan dipilih untuk mewakili distrik mereka untuk bertarung sampai mati yang ditayangkan langsung lewat televisi. Katniss yang berasal dari Distrik 12 menggantikan adik perempuannya untuk terjun ke arena pertarungan.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/lisbethsalander.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-15227" title="lisbethsalander" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/lisbethsalander.jpg" alt="" width="173" height="224" /></a><strong>Lisbeth Salander</strong> adalah buah karya novelis Swedia, almarhum Stieg Larsson. Buku pertama dari trilogi <em>Millenium </em>ini adalah <em>The Girl With the Dragon Tattoo</em>. Berbeda dari <em>The Hunger Games</em>, novel ini lebih ditujukan untuk pembaca dewasa karena ceritanya yang penuh kekerasan dan seks. Lisbeth Salander adalah <em>hacker </em>penuntut balas yang berusia dua puluhan. Seperti halnya Katniss, Lisbeth memiliki masa kecil yang buruk. Jika Katniss mengalami kelaparan dan tekanan hidup di bawa pemerintah tiran, Lisbeth mengalami penyiksaan dan pemerkosaan. Jika Katniss memiliki busur dan panah sebagai senjata, Lisbeth memiliki kecerdasan dan kemampuan otak sebagai <em>hacker </em>yang bisa menyusup ke sistem komputer mana pun. <em>Milleniun Trilogy </em>banyak berkisah tentang kejahatan terhadap perempuan antara lain perdagangan perempuan dan KDRT. Oya, Lisbeth merupakan tokoh biseksual dari tiga tokoh jagoan pilihan dalam mix n match ini.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/Hermione_granger.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-15228" title="Hermione_granger" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/Hermione_granger-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a><strong>Hermione Granger</strong>. Siapa yang tak pernah mendengar nama Hermione mungkin tinggal di kerak bumi selama sepuluh tahun terakhir. Dia adalah tokoh utama perempuan dalam novel legendaris abad ini<em>: Harry Potter</em>. Dalam banyak hal, Hermione menjadi otak dalam banyak tindak kepahlawanan seorang Harry Potter. Kecerdasan dan tekad Hermione untuk menjadi yang terbaik membuatnya layak menjadi tokoh jagoan favorit kita semua. Jika ada yang belum membaca novel fantastis karya J.K. Rowling ini, tak pernah ada kata terlambat untuk memulainya.</p>
<p>Sebagai lesbian, kita sering kali cuma mau membaca novel bertema “hidup kita” atau &#8220;pengalaman lesbian&#8221; sehingga tanpa sadar kita menutup diri kita dari wawasan lain yang seharusnya bisa memperkaya diri. Padahal banyak novel yang menampilkan tokoh perempuan hebat yang bisa mengajarkan kita tentang banyak hal yang tak bisa diberikan oleh didikan sekolah. Novel-novel di atas bisa mengajari kita tentang keberanian, ketekunan, kekerasan hati, pengorbanan diri, dan persamaan derajat. Dari Katniss, Hermione, dan Lisbeth kita bisa belajar mengembangkan diri menjadi perempuan yang berani dan percaya diri dalam kehidupan nyata.</p>
<p>Jadi, siapa jagoan favoritmu?</p>
<p>@Alex, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/10/09/mix-n-match-siapa-jagoanmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerpen: Kupunyakupu</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/09/12/cerpen-kupunyakupu/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/09/12/cerpen-kupunyakupu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Sep 2011 03:28:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14652</guid>
		<description><![CDATA[Kupunyakupu
Oleh: Djenar Maesa Ayu dan Totot Indrarto
Cerpen ini dimuat di buku kumpulan cerpen 1 Perempuan 14 Laki-laki (Gramedia Pustaka Utama, 2011)
Ada yang ingin memaksa ingin ikut. Memasrahkan nasibnya pada saya. Padahal saya sendiri sudah pasrah. Begitu banyak yang terjadi pada kami sehingga saya menyerah. Kelihatannya dia juga sama. Ini bakal menyulitkan. Seperti dua orang buta bergandengan mencari sebuah tujuan. Tapi mungkin dia masih punya secercah harapan. Karena itu dia masih bisa memaksa, dan itulah yang membedakan.
Apa sebetulnya yang dia harapkan? Saya mulai bertanya pada diri sendiri.
Ah, itu pertanyaan bodoh karena ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/the_face_the_fear_painting.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14653" title="the_face_the_fear_painting" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/the_face_the_fear_painting-212x300.jpg" alt="" width="222" height="259" /></a>Kupunyakupu<br />
Oleh: Djenar Maesa Ayu dan Totot Indrarto</strong><br />
Cerpen ini dimuat di buku kumpulan cerpen <em>1 Perempuan 14 Laki-laki</em> (Gramedia Pustaka Utama, 2011)</p>
<p>Ada yang ingin memaksa ingin ikut. Memasrahkan nasibnya pada saya. Padahal saya sendiri sudah pasrah. Begitu banyak yang terjadi pada kami sehingga saya menyerah. Kelihatannya dia juga sama. Ini bakal menyulitkan. Seperti dua orang buta bergandengan mencari sebuah tujuan. Tapi mungkin dia masih punya secercah harapan. Karena itu dia masih bisa memaksa, dan itulah yang membedakan.</p>
<p><span id="more-14652"></span>Apa sebetulnya yang dia harapkan? Saya mulai bertanya pada diri sendiri.</p>
<p>Ah, itu pertanyaan bodoh karena jawaban saya pasti berbeda dengan jawabannya. Sebab, kami pada dasarnya memang berbeda, ditambah lagi masing-masing sedang dalam suasana batin yang juga berbeda.</p>
<p>Matanya mengandung mendung. Diam-diam saya berharap mata yang tengah mengandung mendung itu tidak melahirkan titik-titik air. Runtuh membasahi pipi dan hidungnya yang bangir. Pipi dan hidung yang selalu memerah setiap kali dia sudah banyak minum bir. Pertanda dia mulai mabuk. Dan jika keinginannya tidak terpenuhi, dia akan dengan sangat mudah mengamuk. Tidak peduli kami sedang di keramaian atau hanya berdua. Tidak peduli tingkahnya diperhatikan oleh beberapa pasang mata.</p>
<p>&#8220;Kamu yakin?&#8221; akhirnya cuma itu yang bisa keluar dari mulut saya yang kering, campuran antara perasaan gundah dan terlalu banyak merokok. Gelas bir saya biarkan kosong agak lama. Saya tidak berani meminta tambahan pada pelayan karena khawatir dia juga memesan bir lagi dan membuatnya semakin kehilangan kendali.</p>
<p>Jadi sekarang saya sudah terjebak dan seperti tidak punya pilihan apa-apa. Terjebak pada berbagai peristiwa yang terjadi di antara kami berdua. Terjebak dalam pertemuan yang tak sengaja di kafe langganan ini. Terjebak oleh pengaruh alkohol dari gelas-gelas bir yang kami minum sejak tadi. Dan kini terjebak bersama kelemahan hati saya sendiri.</p>
<p>&#8220;Sejak kapan saya tidak yakin? Saya bertanya, justru karena kamu yang tidak pernah yakin!&#8221; jawabnya. Memecahkan jentik-jentik pikiran di kepala saya. Dan tanpa saya sadari, saya melambaikan tangan ke arah pelayan. Satu bir lagi saya pesan. Satu tindakan yang ternyata adalah kesalahan. Karena dia pun memesan satu bir lagi. Saya benar-benar tidak bisa membayangkan apa yang sebentar lagi terjadi.</p>
<p>***</p>
<p>Terakhir bertemu, kami bertengkar hebat. Pertemuan itu terjadi sebulan selewat saya dan dia merasa mungkin lebih baik masing-masing mencari jalan sendiri setelah bertahun-tahun gagal menyelaraskan irama hati kami. Saat itu dia menanyakan bagaimana ketegasan saya mengenai status hubungan kami. Merasa tidak ada pembicaraan soal itu, saya balik meminta agar dia saja yang memutuskan. Seketika itu juga, dia menuding saya orang yang tidak punya pendirian.</p>
<p>&#8220;Kenapa harus selalu saya?&#8221; tanya saya, membangun pagar di sekeliling diri, tahu kebiasaannya memojokkan dan pada saat bersamaan menumpahkan semua persoalan sebagai tanggung jawab saya. Pertanyaan pendek itu langsung menyulut sumbu emosinya dengan sangat cepat sampai ke pangkalnya. Dan meledak begitu rupa sampai memecahkan beberapa gelas bir dan membuat cacat sebuah patuh kayu berbentuk mirip kelamin pria. Peristiwa itu kebetulan terjadi di pesta seorang sahabat, ketika saya dan dia sudah terlalu banyak mengosongkan gelas-gelas bir.</p>
<p>&#8220;Kamu cuma butuh saya ketika kantung sperma kamu sudah penuh!&#8221; teriaknya. Masih segar di ingatan saya ekspresi tamu-tamu di pesta. Memandang ajaib ke arah kami, saya dan dia.</p>
<p>Ajaib, memang benar itulah kata yang paling tepat untuk menjelaskan dirinya.</p>
<p>Sejak pertemuan pertama, saya diliputi rasa yang tak pernah bisa diterjemahkan dengan lain kata. Ada bulan di sebelah kanan dan matahari di sebelah kiri matanya. Ada pelangi berbagai macam warna di hidungnya. Namun yang paling membuat saya takjub adalah kupu-kupu yang selalu mengepakkan sayap di bibirnya ketika ia berbicara. Dari setiap kepaknya, ia berubah warna.</p>
<p>Saya selalu takjub memandang kepaknya. Memandang warna-warni yang tercipta dari sana. Merah, kuning, hijau, dan jingga. Mengantarkan saya ke sebuah dunia yang begitu berbeda. Atau jangan-jangan hanya karena saya dengan sengaja tidak mau mengenalnya?</p>
<p>Dunia yang saya kenal adalah Ibu tinggal di rumah ketika Bapak pergi bekerja. Dunia yang saya kenal adalah doa sebelum makan dan menjelang tidur. Dunia yang saya kenal adalah belajar di sekolah dan mengerjakan PR di rumah. Dunia yang saya kenal adalah dunia yang sama dengan orangtua-orangtua ajarkan kepada anak-anak: &#8220;Raihlah cita-cita setinggi-tingginya. Carilah pasangan yang baik budi pekertinya. Hindari seks sebelum menikah, rokok, minuman keras, dan narkoba.&#8221; Dunia yang menjadi semakin jauh dan menjauh sejak saya memandang kepak sayap kupu-kupu di bibirnya.</p>
<p>Kupu-kupu itu begitu menyihir. Perlahan mengaburkan fokus mata. Pelan-pelan menggeser tempat pijakan. Sedikit demi sedikit mengalihkan frekuensi kesadaran. Lambat laun mengubah saya menjadi pengagum berat serangga lembut bersayap indah itu. Dan tanpa membutuhkan waktu lama, saya sudah menjadi makhluk asing terperangkap di dalam raga yang sama.</p>
<p>Sungguh ajaib, kupu-kupu di bibirnya tidak hanya berubah warna saja tapi juga bisa mendadak berubah wujud tergantung berapa banyak bir yang sudah diteguknya. Seperti saat itu. Saya melihat kupu-kupu itu seolah moncong meriam. Mulai menembakkan rentetan bom yang bakal memecahkan selangkangan. Dan sekarang, sperma saya yang jadi sasaran tembak awal.</p>
<p>&#8220;Padahal kamu tak pernah membiarkan setetes pun sperma saya terbuang!&#8221; Sekenanya saya menangkis hajaran bom pertama yang meluncur dari bibirnya yang sudah berubah menjadi moncong meriam. Terlalu sekenanya. Tak lagi memperhatikan berbagai pasang mata yang memandang kami dengan tatapan ajaib di pesta. Saya sudah berubah persis seperti dirinya yang tak peduli. Dia yang darahnya tengah mendidih mendengar jawaban saya barusan. Dan saat itulah, gelas bir melayang. Diikuti oleh gelas-gelas bir yag lain. Suara-suara teriakan. Dan malu. Dan kecewa. Dan hina. Dan&#8230; ajaib. Karena setelah segala rasa itu, kami kembali mengisi remang-remang malam bersama. Saling memagut. Saling larut. Saling lupa apa yang sudah kami lakukan sebelumnya, selain keinginan untuk kembali bersama.</p>
<p>Dan sekarang di kafe iin, saya terus berpikir soal keajaiban-keajaiban. Memikirkannya dengan sungguh-sungguh. Untuk pertama kali sejak bulan, matahari, pelangi, dan kupu-kupu di dalam dirinya itu memutar balik putaran bumi. Mengubah bola mata saya menjadi hitam semua, atau putih semua. Membalik titik gravitasi tubuh sehingga kepala saya berada di bawah dan kaki menjulur ke atas. Menukar fungsi telinga yang tadinya untuk mendengar jadi buat mencium, dan telinga yang awalnya indra pendengaran jadi penciuman. Dan yang paling aneh, adalah mengapa saya merasa sangat nyaman dengan semua itu?</p>
<p>&#8220;Hey, kamu benar-benar tidak yakin?&#8221; Dia mengulangi. Saya ingin segera menjawabnya. Selain takut kupu-kupu di bibirnya berubah menjadi meriam, sebenarnya saya juga tidak punya jawaban. Lidah saya kelu, sama seperti kali pertama kami bercumbu. Membiarkan lidahnya menari di tiap sudut tubuh saya yang dia mau. Membiarkan jemarinya menyentuh bagian tubuh yang dengan segera membuat saya mengaduh. Membiarkan helai demi helai kain ang menempel di tubuh saya dilucuti dan luruh. Tubuh saya seakan lumpuh. Membiarkan tubuhnya menyatu ke tubuh saya seluruh dan penuh.</p>
<p>Saya mengambil sebatang rokok dan menyulutnya dengan gerak perlahan untuk mengulur waktu. Pandangannya mengikuti setiap gerakan saya. Bulan dan matahari di matanya bersinar sama terang. Lebih terang dari biasanya. Saya menahan napas dan tanpa sadar memejamkan mata, takut membayangkan sebuah kiamat besar terjadi saat itu. Tapi saya justru merasa seperti bangun di pagi hari dengan bulan dan matahari bersinar pada waktu bersamaan, bergerak berbarengan ke titik yang sama sampai bertabrakan dan menimbulkan percikan api raksasa.</p>
<p>&#8220;Kenapa kamu tidak pernah merasa yakin?&#8221; Suaranya menyadarkan saya bahwa kiamat belum datang. Hidup belum selesai. Pembicaraan kami pun belum usai. Jangan-jangan kiamat memang harus terjadi. Harus ada yang mati sebelum ada yang terlahir kembali. Mungkinkah lebih baik saya membunuh cinta yang sesungguhnya masih bersemi di hati kami dengan jawaban yang akan membuat cintanya mati agar saya dapat memulai segalanya kembali? Kembali ke pelukan ayah dan ibu yang tak dapat saya temui lagi sejak dua tahun lalu hingga kini. Kembali ke doa sebelum makan dan tidur. Kembali kepada kenangan masa kecil yang dalam ingat masih sangat subur.</p>
<p>Saya ingat permainan yang ibu ajarkan kepada saya. Sebuah karton dilubangi di tengahnya dan saya harus menggapai bola yang ditaruh di baliknya. Ketika saya berhasil menggenggam bola di balik lubang itu, ibu meminta saya untuk melepaskannya. Tentu saja saya tidak au karena sebelumnya sudah sulit bagi saya untuk mendapatkan bola itu. &#8220;Sebelum kamu menggenggam bola, ia hanyalah imajinasimu. Namun kedua tetap tidak akan menjadi nyata ketika kamu tidak dapat melihatnya karena terhalang oleh karton itu. Karton itu adalah dirimu. Dan diri sendiri adalah musuh terbesar pada setiap manusia. Penghalang kita untuk belajar melepaskan sesuatu yang sebenarnya hanyalah imajinasi dan obsesi saja. Tidak nyata.&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena kamu tidak nyata,&#8221; gumam saya akhirnya.</p>
<p>&#8220;Maksud kamu?&#8221; tukasnya.</p>
<p>Tenggorokan saya tercekat. Pori-pori kulit wajah saya mengeras, menahan desakan bulir-bulir keringat dingin yang berebutan ingin meloncat keluar. Waktunya telah tiba dan nampaknya tak bisa diulur lagi. Kalimat yang keluar dari mulut saya setelah ini akan sangat menentukan apakah kiamat bakal datang atau tidak. Dan kalau datang, akan terjadi detik ini juga.</p>
<p>&#8220;Ya, kamu tidak&#8230;&#8221; ucapan saya terhenti oleh sayap kupu-kupu yang mengepak di bibirnya. Berubah warna, merah, kuning, hijau, dan jingga. Bulan di mata kiri dan matahari di mata kanannya sama-sama terbenam ketika matanya perlahan tertutup, saat warna-warni pelangi di hidungnya makin mendekat di atas bibir saya yang kelu namun tak terkatup. Kami pun saling memagut. Saling menukar warna. Saling menukar kenangan dan cerita, tentang dilema, memilih antar cinta dan orangtua. Tentang sejarah kami; dia dan saya.</p>
<p>Tangan saya perlahan membelai pipinya ketiak lidah kami masih saling menari bersama. Turun ke dagu, leher, dada, dan pinggangnya. Persis seperti saya mencari-cari bola di balik kardus. Perlahan namun menyimpan rakus. Dan ketika kedua tangan saya memeluk erat tubuhnya, saya merasa seperti sedang mendapatkan bola.</p>
<p>&#8220;Ia hanya imajinasi dan obsesimu, tidak nyata. Kamu harus berani melepaskannya untuk kami. Orangtuamu yang nyata.&#8221;</p>
<p>Saya mempererat pelukan. Melekatkan ciuman. Tak lagi memerhatikan kekacauan yang terjadi di dalam dan tak lagi mendengar keriuhan id luar kafe, ketika sekelompok orang membawa bendera bertuliskan slogan-slogan &#8220;KAFE HOMO HARAM!&#8221;. Dan mulai melempar batu juga membakar, sambil berteriak, &#8220;Tuhan Maha Besar!&#8221;</p>
<p style="text-align: right;">Jakarta, #coffeewar 25/10/10 2:20:35 AM</p>
<p>***</p>
<p><strong>Tentang Djenar Maesa Ayu</strong><br />
Lahir di Jakarta, 14 Januari 1973. Ia telah menerbitkan tiga kumpulan cerpen berjudul <em>Mereka Bilang, Saya Monyet!, Angan Main-main (dengan Kelaminmu), Cerita Pendek tentang Cerita Cinta Pendek</em> dan sebuah novel berjudul <em>Nayla</em>. Semuanya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Selain menulis, Djenar juga menyutradari film<em> Mereka Bilang, Saya Monyet</em> (2008) dan SAIA (2009). Ia mendapat Piala Citra untuk kategori Skenario Adaptasi Terbaik bersama Indra Herlambang dan sebagai Sutradara Baru Terbaik pada Festival Film Indonesia 2009.</p>
<p><strong>Tentang Totot Indrarto</strong><br />
Seorang raktisi periklanan &#8211; mulai <em>copywriter </em>sampai <em>Creative Director</em> dan kini <em>Strategic Planning Director -</em> tapi lebih dikenal sebagai kritikus film. Menulis kritik film untuk harian Kompas sejak 2001, dua kali menjadi anggota Komite Seleksi (2005, 2010) dan tiga kali menjadi Dewan Juri (2008, 2010) Festival Film Indonesia (FFI).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/09/12/cerpen-kupunyakupu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Club Camilan Kini Tersedia dalam Bentuk E-book</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/07/20/club-camilan-kini-tersedia-dalam-bentuk-e-book/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/07/20/club-camilan-kini-tersedia-dalam-bentuk-e-book/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jul 2011 14:45:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Pengumuman]]></category>
		<category><![CDATA[camilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=13792</guid>
		<description><![CDATA[Masih ingat cerita Bolu, Donat, dan Brownies yang sudah diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama menjadi novel metropop berjudul Club Camilan?
Kini ada kabar gembira bagi kita semua yang memiliki Samsung Galaxy Tab dan iPad. Novel yang pertama kali terbit Agustus 2009 ini sekarang bisa dibeli dalam bentuk e-book melalui aplikasi e-reading Samsung Galaxy Tab. Yeah! Ebook  (novel) lesbian lokal pertama di Indonesia yang dijual melalui aplikasi gadget. Sejarah akan mengingat ini.
Untuk pengguna iPad, menurut penerbit, novel Club Camilan juga dalam proses  konversi data. Rencananya e-book Club Camilan di iPad akan bisa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/07/camilan.jpg" alt="" width="220" height="310" />Masih ingat cerita Bolu, Donat, dan Brownies yang sudah diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama menjadi novel metropop berjudul <em><a href="http://gramedia.com/buku-detail/82503/Club-Camilan">Club Camilan</a></em>?</p>
<p>Kini ada kabar gembira bagi kita semua yang memiliki Samsung Galaxy Tab dan iPad. Novel yang pertama kali terbit Agustus 2009 ini sekarang bisa dibeli dalam bentuk e-book melalui aplikasi e-reading Samsung Galaxy Tab. Yeah! <strong>Ebook  (novel) lesbian lokal pertama di Indonesia yang dijual melalui aplikasi <em>gadget</em>. </strong>Sejarah akan mengingat ini.</p>
<p><span id="more-13792"></span>Untuk pengguna iPad, menurut penerbit, novel<em> Club Camilan</em> juga dalam proses  konversi data. Rencananya e-book <em>Club Camilan </em>di iPad akan bisa dibeli  melalui aplikasi Gramedia.com di <a href="http://itunes.apple.com/us/app/gramedia-com-for-ipad/id438193464?mt=8">itunes</a> dalam tahun ini.</p>
<p>Saat ini, <em>Club Camilan, </em>novel yang mengisahkan kehidupan tiga perempuan lesbian  yang berawal dari blog www.camilansepocikopi.blogspot.com ini sudah terjual lebih dari 6.500 eksemplar dalam bentuk buku fisik.</p>
<p>Buat kamu yang lebih nyaman membaca e-book, segeralah membeli buku ini via aplikasi e-reading Samsung Galaxy Tab. Oya, harganya lebih murah lho dibanding buku fisik yang dibandrol dengan harga Rp43.000,-.</p>
<p>Untuk yang ingin membeli buku fisiknya secara online silakan klik:<a href="http://www.gramediashop.com/book/detail/9789792248340/Club-Camilan">http://www.gramediashop.com/book/detail/9789792248340/Club-Camilan</a></p>
<p>Terima kasih atas dukungan teman-teman SepociKopi terhadap <em>Club Camilan</em>, dan menjadikannya sebagai novel seri lesbian pertama di Indonesia. Sungguh membanggakan dan terharu! Ebook lesbian lokal pertama di Indonesia&#8230; dari hati saya terdalam, <em>CONGRATULATIONS!</em></p>
<p>Tunggu ya kejutan terbitan kami selanjutnya&#8230;.</p>
<p>@Alex, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/07/20/club-camilan-kini-tersedia-dalam-bentuk-e-book/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buku: Sputnik Sweetheart – Segala yang Terasing dan Hilang</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/06/27/buku-sputnik-sweetheart-segala-yang-terasing-dan-hilang/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/06/27/buku-sputnik-sweetheart-segala-yang-terasing-dan-hilang/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Jun 2011 02:47:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=13026</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lakhsmi
Sebagai seorang fans berat dan pengagum Haruki Murakami, aku merasa malu ketika baru mengetahui bahwa di antara novel-novel karyanya, terselip satu novelnya yang memiliki tokoh lesbian dan bercerita tentang lesbianisme dan gairah seksual. Kaget, bersemangat, dan terharu ketika aku menemukan buku ini, Sputnik Sweetheart di toko buku Kinokuniya Jakarta &#8211; seperti menemukan harta karun berharga.
Siapakah Haruki Murakami? Dia adalah seorang penulis Jepang yang lahir tahun 1949. Karya-karyanya, baik non fiksi dan fiksi dianugrahkan penghargaan dan pujian, termasuk penghargaan bergengsi Franz Kafka Prize dan Jerusalem Prize. Dia termasuk sebagai salah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/06/sputnik.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-13035" title="sputnik" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/06/sputnik-206x300.jpg" alt="" width="206" height="300" /></a>Oleh: Lakhsmi</p>
<p>Sebagai seorang fans berat dan pengagum Haruki Murakami, aku merasa malu ketika baru mengetahui bahwa di antara novel-novel karyanya, terselip satu novelnya yang memiliki tokoh lesbian dan bercerita tentang lesbianisme dan gairah seksual. Kaget, bersemangat, dan terharu ketika aku menemukan buku ini,<em> Sputnik Sweetheart</em> di toko buku Kinokuniya Jakarta &#8211; seperti menemukan harta karun berharga.</p>
<p><span id="more-13026"></span>Siapakah Haruki Murakami? Dia adalah seorang penulis Jepang yang lahir tahun 1949. Karya-karyanya, baik non fiksi dan fiksi dianugrahkan penghargaan dan pujian, termasuk penghargaan bergengsi Franz Kafka Prize dan Jerusalem Prize. Dia termasuk sebagai salah satu tokoh penting dalam sastra post-modern. The Guardian memujinya sebagai &#8220;salah satu novelis dunia yang hebat&#8221; atas seluruh karya dan penghargaan yang diraihnya.</p>
<p><em>&#8220;In the spring of her twenty second year, Sumire fell in love for the first time in her life. An intense love, a veritable tornado sweeping across the plains &#8211; flattening everything in its path, tossing things up in the air, ripping them to shreds, crushing them to bits. The tornado&#8217;s intensity doesn&#8217;t abate for a second as it blasts across the ocean, laying waste to Angkor Wat, incinerating an Indian jungle, tigers, and everything, tranforming itself into a Persian dessert sandstorm, burying an exotic fortress city under a sea of sand. In short, a love of truly monumental proportions. The person she fell in love to be 17 years older than Sumire. And was married. And, I should add, was a woman. This is where it all began, and where it all ended.&#8221;</em></p>
<p>Begitulah bagaimana Murakami membuka novelnya <em>Sputnik Sweetheart</em> pada paragraf pertama. Sebuah pembukaan yang sangat indah dan puitis.</p>
<p>Sebagai pembaca Murakami yang setia, aku tahu betul caranya bercerita. Karyanya berkisah tentang satu tema penting &#8211; suatu kesepian yang dimiliki oleh manusia dan bagaimana kesepian bisa membunuh manusia hidup-hidup dari dalam dan meninggalkan manusia menjadi sepotong cangkang kosong.<em> Sputnik Sweetheart</em> juga (masih) merambah di tema yang sama, membabarkan tentang rasa kehilangan yang manusia rasakan justru saat cinta telah ditemukan, termasuk perasaan-perasaan kesadaran bahwa kedekatan yang dimiliki bersama orang tersayang suatu hari akan berlalu dan takkan pernah kembali.</p>
<p>Buku ini tidak tebal, hanya 288 halaman. Plot cerita juga sederhana. K &#8211; tokoh lelaki dalam <em>Sputnik Sweetheart </em>jatuh cinta kepada sahabat terbaiknya, Sumire, gadis kutu buku yang sedang berjuang menyelesaikan novelnya. Sumire sendiri tidak pernah jatuh cinta dengan K, hanya memiliki perasaan persahabatan saja. Sumire jatuh cinta dan tergila-gila dengan Miu, seorang wanita yang sudah menikah, pengusaha anggur yang mengalami trauma percintaan sehingga membuat rambutnya menjadi putih dalam sehari. Sumire bekerja menjadi asistan Miu dan mereka berdua pergi ke Eropa untuk sebuah perjalanan bisnis. Mendadak Sumire menghilang dan Miu memanggil K untuk mencarinya.</p>
<p>Setiap karakter dalam novel ini pernah mengalami kesedihan dan kesakitan karena kehilangan. Sama seperti <em>Sputnik </em>- satelit yang diluncurkan oleh Rusia tahun 1957 dan hilang di lautan tata surya &#8211; K, Sumire, da Miu terisolasi di sekitar mereka dan &#8216;hilang&#8217; di dunia mereka. Kesepian Sumire bahkan lebih besar. Tanpa pernah merasakan dan mengerti arti cinta, dia jatuh cinta sepenuhnya kepada Miu yang tak pernah mampu membalas cintanya. Seperti dua satelit yang secara singkat bertemu di angkasa, takkan pernah saling berpapasan lagi, Sumire menyadari ketakutannya, jika dia semakin dekat dengan Miu, maka dia akan kehilangan Miu suatu hari nanti.</p>
<p>Miu yang pernah mengalami peristiwa tragis di masa lalu, merasa bahwa setengah jiwa dan cintanya terlempar di tempat yang tak pernah dimengertinya. Sumire membayangkan dunia yang lain itu, dan mencoba mencari sebagian cinta Miu yang lenyap dengan menghilang juga. Sementara K yang merasa terasingkan sejak Sumire dekat dengan Miu mencoba segenap tenaganya untuk melupakan gadis itu. Tapi rasa kehilangan itu, membuat K mencoba mencari dan bergabung dengan Sumire di suatu tempat, yang jauh dari mana-mana.</p>
<p>Pada halaman pertama, novel ini perlu memberikan informasi tentang apa arti Sputnik. Pada tanggal 4 Oktober 1957, Soviet meluncurkan satelit pertama buatan manusia ke langit, <em>Sputnik I</em>, yang mengorbit bumi selama 96 menit dan 12 detik. Selanjutnya, 3 November 1957, Soviet meluncurkan <em>Sputnik II</em> dengan satu penumpang seekor anjing yang bernama Laika. Laika adalah makhluk hidup dari bumi pertama kali yang meninggalkan atmosfer bumi menuju batas angkasa. Sejak satelit itu diluncurkan ke langit, Laika tidak pernah kembali ke bumi. <em>Sputnik II </em>- benda yang menerbangkannya, adalah pengorbanan Laika bagi ilmu pengetahuan manusia.</p>
<p>Jika kamu lesbian dan fans berat Murakami, jangan ragu-ragu mencari buku ini. Jika belum pernah membaca Murakami, novel ini akan memberimu pintu masuk untuk mengerti bagaimana karya-karya literatur Murakami lainnya. Adegan-adegan lesbian dalam novel ini terasa sangat puitis, lembut, dan halus, sehalus metafora tentang cerita<em> Sputnik II</em>, tentang bagaimana pengorbanan seekor anjing menghantui ilmu pengetahuan; tentang masa lalu yang selalu menghantui masa depan. Aku teringat Murakami pernah berkata di <em>Norwegian Wood</em>, salah satu novel karyanya yang brilyan, <em>Don&#8217;t feel sorry for yourself. Only assholes do that.</em> Seakan-akan, Murakami sungguh-sungguh mengerti tentang  perasaan-perasaan keterasingan dan kesepian yang dimiliki lesbian.</p>
<p>Membaca Murakami pada <em>Sputnik Sweetheart</em>, jangan berharap menemukan plot cerita yang cepat, tegang, atau rumit. Cerita berjalan tenang, sederhana, dan hening. Nikmati saja keindahan kalimat-kalimat puitis di sekujur novel ini. Beberapa hari setelah membaca <em>Sputnik Sweetheart,</em> aku masih bisa merasakan kesedihan dan kehilangan yang sangat menggigilkan.</p>
<p><em>&#8220;No mistake about it.  Ice is cold; roses are red; I&#8217;m in love.  And  this love is about to carry me off somewhere.  The current&#8217;s too  overpowering; I don&#8217;t have any choice.  It may very well be a special  place, some place I&#8217;ve never seen before.  Danger may be lurking there,  something that may end up wounding me deeply, fatally.  I might end up  losing everything.  But there&#8217;s no turning back.  I can only go with the  flow.  Even if it means I&#8217;ll be burned up, gone forever.&#8221;</em></p>
<p>Ya, hilang selamanya&#8230;. dalam cinta.</p>
<p>@Lakhsmi, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/06/27/buku-sputnik-sweetheart-segala-yang-terasing-dan-hilang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buku: Unbearable Lightness – Memoar Nyonya Ellen DeGeneres</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/06/20/buku-unbearable-lightness-memoar-nyonya-ellen-degeneres/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/06/20/buku-unbearable-lightness-memoar-nyonya-ellen-degeneres/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Jun 2011 16:22:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Ellen]]></category>
		<category><![CDATA[memoar]]></category>
		<category><![CDATA[Portia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=12914</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Alex
“How could you ever be pretty enough to be a leading lady? You’re not even thin. You don’t have long, lean, limbs. You have ordinary looks and an ordinary body. You can’t play a leading lady in a movie. You’re gay. What a joke! Give it up, you stupid dyke.”
Unbearable Lightness: A Story of Loss and Gain adalah buku terbitan November 2010, memoar Portia De Rossi yang juga istri ikon lesbian Ellen DeGeneres. Kisah di buku ini dimulai pada awal karier Portia ketika dia bergabung dalam serial TV Ally ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/06/unberable.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-12915" title="unberable" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/06/unberable.jpg" alt="" width="270" height="402" /></a>Oleh: Alex</p>
<p><em>“How could you ever be pretty enough to be a leading lady? You’re not even thin. You don’t have long, lean, limbs. You have ordinary looks and an ordinary body. You can’t play a leading lady in a movie. You’re gay. What a joke! Give it up, you stupid dyke.”</em></p>
<p><em>Unbearable Lightness: A Story of Loss and Gain </em>adalah buku terbitan November 2010, memoar Portia De Rossi yang juga istri ikon lesbian Ellen DeGeneres. Kisah di buku ini dimulai pada awal karier Portia ketika dia bergabung dalam serial TV <em>Ally McBeal </em>tahun 1998. Buku ini juga menceritakan awal mula karier Portia sebagai model di Australia yang dimulai pada usia 12 tahun, dan bagaimana perempuan kelahiran Melbourne, Australia bernama asli Amanda Lee Rogers berubah menjadi Portia De Rossi.</p>
<p>Dalam memoar ini, Portia menyebutkan bahwa dia sering tidak makan atau memuntahkan makanannya untuk mencapai berat badan ideal. Sebagai model, dia bahkan menjalani diet gila-gilaan hingga pernah cuma makan 300 kalori per hari. Bayangkan dia cuma makan kacang-kacangan dan buah dalam sehari. Tapi ada saat-saat ketika dia melahap segala makanan yang diinginkannya lalu memuntahkannya. Anoreksia/Bulimia yang diidapnya ketika berusia belasan tahun makin parah ketika Portia pindah ke Hollywood. Peran yang membuat namanya terkenal sebagai pengacara dingin Nelle Porter di <em>Ally McBeal </em>dengan para pemeran lainnya seperti Calista Flockhart dan Courtney Thorne-Smith yang superkurus membuat Portia makin tidak nyaman dengan tubuhnya sehingga dia ingin lebih kurus lagi. Dia juga makin tertekan karena dia juga lesbian dan bagaimana pada tahun 1997 Ellen yang <em>coming out </em>sebagai lesbian menghadapi keruntuhan kariernya (pada saat itu Portia belum bertemu Ellen).</p>
<p>Portia menggambarkan secara mendetail tentang anoreksia dan bulimia-nya. Bagaimana Portia menjelaskan perasaan-perasaannya juga tubuhnya yang makin tipis mengerikan hingga pernah mencapai berat 82 <em>pounds </em>alias 42 kilogram dengan tinggi tubuh 175 sentimeter. Namun penggambaran secara detail ini juga membuat <em>Unbearable Lightness </em>terasa lambat, apalagi jika niat membaca buku ini hanya ingin tahu gosip-gosip aktris yang pernah beradu akting bersama Portia karena buku ini miskin gosip. Tapi harus diingat bahwa buku ini adalah tentang perempuan yang punya masalah dengan makanan dan tubuhnya. Tentang perempuan yang kesepian dan tak merasa cukup baik meskipun memiliki gemerlap Hollywood. Tentang lesbian yang selalu dirundung ketakutan karena hidupnya dikejar papparazi.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/06/portia.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-12916" title="portia" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/06/portia.jpg" alt="" width="270" height="405" /></a>Dua ketakutan terbesar dalam hidup Portia adalah kegemukan dan ketahuan lesbian. Saking dia tersiksa dengan ketakutan tersebut, dia menyiksa tubuhnya terus-menerus. Portia mengaku lesbian pada ibunya ketika berusia remaja, tapi ibunya meminta Portia agar tidak menceritakannya pada orang lain. Dan rahasia itu mengoyak Portia sepanjang kariernya sebagai aktris. Tidak ada aktris yang sukses jika mengaku lesbian. Setengah dari buku ini makin terasa menyiksa bukan karena buku ini buruk, tapi karena kita masuk ke benak perempuan penderita anoreksia/bulimia yang menyiksa dirinya sendiri tanpa kita sanggup membantunya. Namun kita tahu bahwa di akhir buku ini ada kisah bahagia, karena kita tahu seperti apa hidup Nyonya DeGeneres belakangan ini.</p>
<p><em>Unbearable Lightness </em>adalah kisah seorang perempuan dengan impian-impian yang tak terbayangkan akan bisa dicapainya, mimpi-mimpi buruknya, rasa malu karena merasa dirinya menanggung aib sebagai lesbian, dan perbuatannya yang merusak diri sendiri. Namun setengah buku menjelang akhir kita bisa melihat ada kisah dongeng dengan akhir bahagia selamanya ketika si perempuan ini berhasil menyembuhkan dirinya, kembali sehat karena cinta, dan pada akhirnya dia bertemu dengan sang pangeran impian, eh putri impian.<br />
Buku ini akan sangat membantu kita memahami mereka yang punya masalah anoreksia/bulimia. Masuk ke dalam isi pikiran mereka. Saya selalu menyukai Ellen DeGeneres, dan pernikahannya dengan Portia menjadikan kisah ini bak dongeng.</p>
<p>Lesbianisme yang tadinya menyiksa Portia kini jadi hal yang membebaskannya. Menjadikan Portia sebagai manusia yang positif. Jika seorang lesbian yang tadinya hancur lebur merusak tubuhnya bisa menjadi manusia yang sehat, itu berarti ada cahaya di ujung terowongan sana. Dan kita, sebagai perempuan dan lesbian, bisa belajar dari memoar ini, menyadari bahwa meskipun kita tidak bisa memiliki segalanya tapi kita bisa memilih untuk menderita atau memandang dunia dengan lebih optimis, dan percaya bahwa (mungkin) ada akhir yang bahagia untuk kita.</p>
<p><em>“I met Ellen when I was 168 pounds and she loved me. She didn’t see that I was heavy; she only saw the person inside. My two greatest fears, being fat and being gay, when realized, led to my greatest joy.”</em><br />
<strong><br />
Detail Buku:</strong><br />
Hardcover: 320 halaman<br />
Publisher: Atria (November 1, 2010)<br />
Bahasa: English<br />
ISBN-13: 978-1439177785<br />
Edisi paperback akan terbit bulan Juli 2011.</p>
<p>@Alex, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/06/20/buku-unbearable-lightness-memoar-nyonya-ellen-degeneres/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

