<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; belanja</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/tag/belanja/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 05 Feb 2012 02:00:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Cuci Mata: Iklan Oh Iklan</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/07/27/cuci-mata-iklan-oh-iklan/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/07/27/cuci-mata-iklan-oh-iklan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jul 2011 16:37:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cuci Mata]]></category>
		<category><![CDATA[belanja]]></category>
		<category><![CDATA[gadget]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=13978</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sidney
Aku adalah perempuan yang lemah bujukan iklan. Bentangkan saja iklan se-billboard tentang sale tertentu, apa pun benda yang dijual, aku pasti tergoda&#8230; Yeah, I&#8217;m that weak.
Jadi wajar kan aku langsung menjadi lemah tak berdaya, meleleh melihat iklan billboard sepanjang jembatan penyeberangan yang menginformasikan bahwa ada sale gadget tertentu menyambut peluncuran perdananya, one day only di sebuah mal.
Iming-iming diskon sampai 1,5 juta rupiah dan plus-plus lain seperti betapa kerennya kita memiliki gadget terbaru yang belum dijual resmi, membuatku meradang. Iklan berwarna satu halaman di surat kabar satu hari sebelum peluncuran ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/07/Cell-Phones.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-13980" title="Cell Phones" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/07/Cell-Phones-300x240.jpg" alt="" width="300" height="240" /></a>Oleh: Sidney</p>
<p>Aku adalah perempuan yang lemah bujukan iklan. Bentangkan saja iklan se-<em>billboard</em> tentang sale tertentu, apa pun benda yang dijual, aku pasti tergoda&#8230; <em>Yeah, I&#8217;m that weak</em>.</p>
<p>Jadi wajar kan aku langsung menjadi lemah tak berdaya, meleleh melihat iklan <em>billboard </em>sepanjang jembatan penyeberangan yang menginformasikan bahwa ada <em>sale gadget </em>tertentu menyambut peluncuran perdananya, <em>one day only</em> di sebuah mal.</p>
<p>Iming-iming diskon sampai 1,5 juta rupiah dan plus-plus lain seperti betapa kerennya kita memiliki <em>gadget </em>terbaru yang belum dijual resmi, membuatku meradang. Iklan berwarna satu halaman di surat kabar satu hari sebelum peluncuran produknya, membuatku gatal-gatal ingin menyeret partner untuk menemaniku antre sejak pagi buta.</p>
<p>Tentu saja partner yang nalarnya lurus itu menolak. “Buat apa?” tanyanya.</p>
<p>“Buat punya,” jawabku keras kepala. Pokoknya. Aku. Mau. Punya. Gadget. Itu.</p>
<p>Akhirnya pada hari H, aku menemukan korban seorang sahabat lama yang memang imannya sama lemahnya dengan imanku. Kami adalah perempuan-perempuan “LBI” alias “Lemah Bujukan Iklan”. Sejak pagi hari, di mal kami sudah antre mengular yang ramainya seperti ada pembagian BLT. Euforia pun makin meluap.</p>
<p>Gila, sejak mal belum buka saja orang sudah antre cuma buat ambil nomor. Aku sudah deg-degan cemas nggak dapat nomor, akhirnya dapat nomor. 800-an. Konon jatah penjualan perdana ini cuma 1000 buah. Aku mengelus dada, untung sudah dapat nomor.</p>
<p>Kami pun menanti dengan manis sambil tegang-tegang cemas nomor kami terlewat jika kami keasyikan lama-lama mencoba sepatu. Konyol aja kan, kalau sudah antre sejak pagi malah kelewat gara-gara sibuk keliling mal. <em>See</em>, nalar Sidney masih bekerja&#8230;.</p>
<p>Akhirnya&#8230; jreng, jreng, jreng&#8230; aku berhasil! Berhasil, berhasil, berhasil *lompat ala Dora* mendapat <em>gadget android tablet</em> ini. Hati girang bukan kepalang&#8230; penantian di mal hingga bayar parkir 18000 rupiah pun terbayar sudah. *mendesah lega*</p>
<p>Kupamerkan barang itu pada orang-orang di rumah dengan bangga. Lihat, lihat, tuh&#8230; keren ya&#8230; Anggukan dan desahan macam aaah, ooooh, woooow terdengar selama sekitar sepuluh menit, setelah itu hanya aku dan <em>angry birds</em>-ku di gadget tersebut. Lalu&#8230; aku bosan.</p>
<p>Kutaruh gadget impian itu di samping BlackBerry, iPhone, iPod touch, dan Kindle-ku. Yak! Aku seakan sedang melihat display toko <em>gadget</em> di ITC. Sebelum sempat memikirkan jawaban, kenapa ya aku jadi pengumpul<em> gadget</em> seperti ini, terdengar pertanyaan Mama di belakangku, “Ngomong-ngomong, kenapa sih kamu beli barang baru ini?”</p>
<p>Aku garuk-garuk kepala bingung. Pertanyaan Mama menjadi gema yang panjang di kepalaku ketika aku lagi seru-serunya ngumpul dengan teman-teman lesbian. Beberapa dari mereka aktif di milis SepociKopi dan ruang <em>chatting</em>. Waktu aku tanya mereka, &#8220;Ngapain sih kenalan dengan banyak lesbian? Bukannya nggak ada bedanya teman lesbi dan teman heteroseksual?&#8221;</p>
<p>Jawaban mereka sama seperti lagakku menggaruk-garuk kepala sewaktu ditanya Mama.</p>
<p>&#8220;Eh&#8230;. apa ya? Supaya punya punya banyak teman.&#8221; Lalu mereka ramai-ramai mengocehiku, &#8220;Enak lagi punya banyak teman lesbian, Sid! Emangnya lu yang cuma ngumpulin <em>gadget </em> doang! Teman lesbian nggak bisa disamakan dengan <em>gadget </em>ya!&#8221;</p>
<p>&#8220;<em>Gadget</em> <em>is so much better than lesbian friends</em>,&#8221; jawabku. &#8220;Paling tidak di <em>gadget </em>kamu bisa melempari burung-burung yang marah tapi nggak bisa kan melempari teman-temanmu yang marah?&#8221;</p>
<p>*kaboooor aaahhh*</p>
<p>@Sidney, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/07/27/cuci-mata-iklan-oh-iklan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuci Mata: Meet Your Personal Shopper</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/12/23/cuci-mata-meet-your-personal-shopper/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/12/23/cuci-mata-meet-your-personal-shopper/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Dec 2010 04:44:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cuci Mata]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[belanja]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=9088</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sidney
Ada yang tahu bahwa ada pekerjaan yang bernama personal shopper? Yap, kamu dibayar untuk berbelanja. Dapat gaji untuk berbelanja. Apa artinya? Artinya, kamu harus hapal barang-barang jetset dan benda-benda bermerek. Tanggungjawabmu adalah membeli benda-benda itu. Sebelum ada lesbian yang supersensi menuduh si personal shopper sebagai orang yang tidak peduli dengan orang-orang miskin, kuingatkan ya personal shopper itu bukan kaum borjuis. Mereka hanya orang-orang biasa yang dibayar karena bekerja. Titik. Sama seperti sekretaris, sama seperti orang yang buka warung, sama seperti manager. Hanya saja bos mereka adalah manusia-manusia creme de ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/12/shopping-rome.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-9089" title="shopping-rome" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/12/shopping-rome-300x296.jpg" alt="" width="240" height="237" /></a>Oleh: Sidney</p>
<p>Ada yang tahu bahwa ada pekerjaan yang bernama <em>personal shopper</em>? Yap, kamu dibayar untuk berbelanja. Dapat gaji untuk berbelanja. Apa artinya? Artinya, kamu harus hapal barang-barang jetset dan benda-benda bermerek. Tanggungjawabmu adalah membeli benda-benda itu. Sebelum ada lesbian yang supersensi menuduh si <em>personal shopper</em> sebagai orang yang tidak peduli dengan orang-orang miskin, kuingatkan ya <em>personal shopper</em> itu bukan kaum borjuis. Mereka hanya orang-orang biasa yang dibayar karena bekerja. Titik. Sama seperti sekretaris, sama seperti orang yang buka warung, sama seperti manager. Hanya saja bos mereka adalah manusia-manusia <em>creme de la creme</em> di masyarakat. Seorang <em>personal shopper </em>yang hebat wajib mengerti merek dan gaya hidup supermewah.</p>
<p><span id="more-9088"></span>Dari dulu aku ingin mengintip seperti apa dunia <em>personal shopper</em> ini. Tampaknya menarik dan penuh suka duka. Seperti kejatuhan durian, ternyata aku yang tanpa sengaja ditahbiskan menjadi <em>personal shopper</em> seseorang. Gila, kan? Aku langsung jingkrak-jingkrak kesenangan. Ini rezeki yang tidak bakal aku tolak!</p>
<p>Coba bayangkan mempunyai pekerjaan yang khusus dibayar untuk berbelanja! Nah, aku sendiri <em>loveeeee to shop</em>. Menjelang Natal tahun ini, aku berkesempatan jadi <em>personal shopper</em> keluarga dari ayah yang supersibuk. Koneksinya dari mana? Jelas saja, pacarku. &#8220;Bos baru&#8221;-ku ini adalah paman pacarku yang bahkan untuk cuti saja merasa berdosa, tak kepikiran untuk menghabiskan waktu berbelanja. Jadi tahun ini, Om memutuskan untuk “menyewaku” demi memilihkan hadiah yang pas bagi istri tercinta dan anak tersayang yang berumur 21 tahun.</p>
<p>Ini semua ulah partnerku yang asal merekomendasikan aku yang konon ratu belanja dan berpengetahuan luas tentang merek dan dunia <em>blink-blink</em> glamour. Jadilah aku sibuk berat harus mengakrabkan diriku dengan tante dan putrinya. Om sudah memberi bujet, yah, nggak sampai wow gimana gitu, tapi aku ingin memberikan sesuatu yang disukai oleh si penerima. Satu-satunya cara untuk memberikan hadiah kejutan yang disukai seseorang adalah dengan mengenalnya. Mulailah aku bekerja sebagai seorang <em>personal shopper</em>. Yah, sedikit mirip-mirip detektif deh.</p>
<p>Kebanyakan perempuan suka tas atau sepatu. Tapi untuk orang yang sudah mapan dan berusia matang biasanya mereka memiliki kegemaran terhadap merek tertentu. Membelikan sepatu Christian Loubotin untuk Tante, misalnya, harus kita tahu dulu selera sepatunya. Memangnya sekarang zaman Cinderella, dikasih sepatu kaca nggak nyaman gitu aja dia <em>nrimo</em>?</p>
<p><em>In my opinion, </em>memilihkan perempuan sepatu untuk hadiah akan jauh lebih sulit dibanding <em>handbag</em>. Walaupun nggak semudah itu juga. Aku mencuri-curi lihat koleksi tas si Tante yang mereknya beragam dan bervariasi, mulai dari keluaran butik mewah Prada, Gucci, Bottega Veneta hingga butik junior macam Guess atau Elle. Waduh, bakal susah nih. Untungnya si Tante ini punya FB, yang sigap ku-<em>add </em>jadi teman. Dari sana aku menangkap obrolan bahwa si Tante ini sedang menimbang-nimbang akan membeli <em>handbag </em>Bottega Veneta atau kado iPad buat hadiah Natal untuk putrinya.<em> Ouch</em>. Otakku berputar keras. Bagaimana jika si Om membelikan Bottega Veneta itu? Si Tante pasti senang sekali. Tapi&#8230; tapi&#8230; bagaimana dengan si Putri? Om nggak bisa membelikan iPad, tentu saja. Kalau Tante mengetahui Om membelikan iPad, tentu Tante akan membeli <em>handbag </em>itu. Pusing, kan? Padahal kerjanya cuma belanja.</p>
<p>Jika Putri tak bisa dibelikan iPad, seharusnya ada benda lain yang benar-benar disukainya. Maka kuselidiki Putri lebih detil lagi. Ternyata Putri mempunyai kecenderungan lesbian&#8230; ups, maksudku, Putri suka benda-benda high-tech. Baru saja aku kepikiran membelikannya Samsung Galaxy Tab, ternyata, besoknya si Putri udah beli sendiri. Krik!</p>
<p>(<em>By the way,</em> menjadi <em>Personal Shopper</em> sungguh-sungguh harus memiliki talenta mengendus yang tajam. Siapa yang menduga kalau saat mencari merek-merek hadiah, kamu harus juga mengenali orientasi seksualnya supaya bisa lebih mudah melakukan <em>hunting </em>barang?)</p>
<p>Menurut jeritan hati Putri di Twitternya (yap, aku mengintai Twitter-nya seperti seorang fans berat yang tergila-gila padanya), yang dia inginkan adalah Adam Levine. Tapi dia terlambat membeli tiket pertunjukan Maroon 5 untuk April nanti. <em>Yes, great idea! </em>Tiket Maroon 5 untuk hadiah Natal. Tapi bagaimana caranya membelikan tiket yang konon sudah <em>sold out</em>? Untungnya, kita tinggal di Indonesia, dan jika kamu berteman dengan orang yang tepat, kamu bisa mendapatkan apa yang kaumau. Berkat pertolongan seorang penyiar radio sahabatku sejak masih SMA, aku berhasil membeli 2 tiket Maroon 5 itu dengan harga “lelang”. Apa pun, yang penting Putri bahagia.</p>
<p>Fiuh! Masalah hadiah selesai. Gaji yang kudapat sungguh menggembirakan hati. Bukan cuma rezeki tahun baru, tapi juga pengalaman sebagai <em>personal shopper. </em>Semoga di lain kali aku bisa direkomendasikan sama Om untuk temannya yang lain. Kapan pun, <em>my service is always ready. </em>Sebagai lesbian, kalau mau berbisnis sendiri, sepertinya <em>Personal Shopper</em> adalah salah satu <em>self-employee</em> yang mengasyikan! Belanja sampai keblinger, dibayarin pula, kapan lagi?</p>
<p>@Sidney, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/12/23/cuci-mata-meet-your-personal-shopper/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuci Mata: Homemade Natural Beauty</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/03/11/cuci-mata-homemade-natural-beauty/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/03/11/cuci-mata-homemade-natural-beauty/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Mar 2010 05:00:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cuci Mata]]></category>
		<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[belanja]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[lingkungan hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=6345</guid>
		<description><![CDATA[Oleh:  Sidney
Sekarang ini yang namanya produk-produk kecantikan sudah banyak ragamnya. Namanya juga perempuan, kulit dan wajah harus dirawat. Bukan cuma bagi femme lho! Butch dan andro juga butuh merawat keindahan dan kebersihan tubuh dan muka. Untuk membersihkan kulit wajah saja &#8211; misalnya, aku. perlu menyiapkan berbotol-botol jenis pembersih wajah yang cocok untuk kulit. Belum lagi pelembap, penghilang kerut di mata yang kelelahan, lipstik buat melembutkan bibir  agar tidak mudah pecah, krim tabir surya yang mengandung UV filter agar mencegah radiasi matahari, sampo pencegah kerontokan rambut, bedak agar kulit wajah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-medium wp-image-6355" title="honey_by_jordache" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/03/honey_by_jordache-199x300.jpg" alt="honey_by_jordache" width="199" height="300" />Oleh:  Sidney</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang ini yang namanya produk-produk kecantikan sudah banyak ragamnya. Namanya juga perempuan, kulit dan wajah harus dirawat. Bukan cuma bagi femme lho! Butch dan andro juga butuh merawat keindahan dan kebersihan tubuh dan muka. Untuk membersihkan kulit wajah saja &#8211; misalnya, aku. perlu menyiapkan berbotol-botol jenis pembersih wajah yang cocok untuk kulit. Belum lagi pelembap, penghilang kerut di mata yang kelelahan, lipstik buat melembutkan bibir  agar tidak mudah pecah, krim tabir surya yang mengandung UV filter agar mencegah radiasi matahari, sampo pencegah kerontokan rambut, bedak agar kulit wajah tidak mengkilat, dan lain-lain. Bayangkan berapa deret botol alat kosmetik yang aku (baca: kita semua) perlukan? Nah, itu kan baru untuk wajah dan rambut, belum perawatan sekujur tubuh.<span id="more-6345"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Berani nggak kita mengintip ke stiker yang menempel di botol produk kecantikan dan melihat berbagai jenis zat-zat bernama asing yang dicampur di botol itu? Segala rupa nama kimia yang tidak kita&#8212; ehm, aku&#8212;pahami berderet di sana. Nggak tahu lagi deh apa yang dimasukkan di sana. Ngeri nggak sih? Memang sih bisa kita google apa aja isi ingredients itu, tapi pastinya banyak yang sebenarnya berbahaya bagi kesehatan.</p>
<p style="text-align: justify;">Ikutan dengan program <em>go green</em>, aku jadi malas membeli produk-produk kecantikan yang menciptakan sampah bagi bumi tersayang. Botol plastik? Ih, menghancurkan botol sampo kita butuh waktu seratus tahun loh. Makanya, belakangan ini selain aku menggunakan botol yang sama, aku juga berusaha menggunakan bahan-bahan alami untuk kecantikan. Bagaimana caranya? Ya, buat sendiri dong! <em>Homemade</em>. Diolah dari rumah! Selain murah dan bebas dosa kepada <em>mother earth</em>, sudah pasti bahan-bahannya alamiah untuk wajah. Gini ya, banyak lho bahan-bahan yang kita pakai setiap hari yang bisa diolah untuk keindahan dan kecantikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulai dari beragam jenis buah, sayuran, bahan organik, bahkan <em>baking soda</em> bisa dipakai untuk meningkatkan kecantikan dan keindahan tubuh. Coba deh digoogle, kamu bakal menemukan bahwa <em>baking soda</em> punya lebih dari 50 kegunaan untuk kesehatan, kebersihan rumah, dan memasak. <em>Baking soda</em> bisa dipakai untuk mengempukan daging, menghilangkan ketombe, membersihkan panci dan piring kotor, sebagai antiseptik, membersihkan buah dan sayur, deodorant, dan lain-lain. Bayangin. Cuma beli sekotak baking soda, kamu bisa memenuhi seluruh kebutuhan diri kamu dan rumah. Hemat banget.</p>
<p style="text-align: justify;">Suka makan <em>yogurt</em>? Ternyata <em>yogurt</em> dan madu itu bisa dipakai untuk melembapkan dan menyegarkan kulit. Campurkan satu sendok teh <em>yogurt</em> dan satu sendok teh madu, lalu oleskan campurannya ke wajah. Diamkan sebagai masker selama lima belas menit. Segar bukan? Kulit terasa lembut dan kinclong. Sisa <em>yogurtnya</em> bisa kamu makan suap-suapan bersama pacar dong. Oya, campuran ini dipercaya juga bisa menghilangkan masalah-masalah kulit ringan.</p>
<p style="text-align: justify;">Teh bisa digunakan untuk berbagai fungsi sebagai kecantikan. Pernah<br />
berendam di air teh? Yang punya <em>bath tub</em>, coba deh. Buat teh kental<br />
dari tiga gayung air panas (dari sisa <em>tea-bag</em> yang kamu gunakan setelah nge-teh bareng sama yayang), lalu campurkan di air suam-suam kuku di <em>bath tub</em>. Kalau kurang kental, tambahkan lagi air tehnya. Siap deh bendam bersama-sama pacar. Tebarkan bunga-bunga yang dipetik di kebun, nyalakan lilin, pasang musik lembut di IPod, dan siapkan wewangian aromatherapi. Spa bersama pasangan di rumah, nggak perlu harus pergi keluar dari merasa nggak enak hati dengan terapis yang tidak kamu kenal. Wah, dijamin kalian berdua segar, harum, dan kulitnya kencang. Oya, sisa teh yang dibiarkan semalaman juga bisa dipakai untuk cuci muka di pagi hari dan konon bisa membuat wajah makin segar dan berseri. Aku salah satu yang mempraktikkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kopi juga bisa dipakai untuk membuat <em>scrub</em>. Caranya, ampas kopi yang sudah diseduh dicampur sedikit garam lalu dipakai untuk <em>scrub</em> ketika mandi. Bagaimana dengan susu? Pake kapas bulat dan celupkan di susu, lalu totol di wajah untuk membersihkan kulit muka atau make up. Setelah itu, jangan lupa dibilas dengan air hangat ya. Betul kan, tidak perlu bahan-bahan mahal untuk cantik. Buka lemari di dapur dan kulkas, intip isinya. Banyak harta karun di sana yang alamiah untuk kecantikan dan kebersihan tubuh. Jadi siapa bilang cantik itu harus mahal dan dengan produk impor? Yang jelas bukan aku!</p>
<p style="text-align: justify;">@Sidney, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/03/11/cuci-mata-homemade-natural-beauty/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuci Mata: Holiday Sale, Midnight Sale,&#8230;</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/12/17/cuci-mata-holiday-sale-midnight-sale/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/12/17/cuci-mata-holiday-sale-midnight-sale/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 08:21:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cuci Mata]]></category>
		<category><![CDATA[belanja]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=5175</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sidney
&#8230;Year End sale, Christmas sale, Shopping Rally.
Apa pun namanya, tugas mal dan toko-toko itu cuma satu, mengeruk uang kita melalui nafsu belanja. Siapa yang nggak tertarik melihat sale mulai dari 20-80%? Dari harga segini menjadi cuma harga segitu?
Aku, Sidney? Miss Shopaholic begini, tentu saja sudah mencoba segala model dan rupa cara belanja diskonan yang bikin kalap dan gelap mata. Tapi kali ini, aku mau ngasih tips belanja efektif dan efisien buat teman-teman lesbian semuanya. Lesbian kan juga perempuan biasa yang suka belanja kalau punya uang. Ingat, ingat, kita bukan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-5176" title="ShoppingLogoTSS" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/12/ShoppingLogoTSS.jpg" alt="ShoppingLogoTSS" width="188" height="202" />Oleh: Sidney</p>
<p><em>&#8230;Year End sale, Christmas sale, Shopping Rally.</em></p>
<p>Apa pun namanya, tugas mal dan toko-toko itu cuma satu, mengeruk uang kita melalui nafsu belanja. Siapa yang nggak tertarik melihat sale mulai dari 20-80%? Dari harga segini menjadi cuma harga segitu?</p>
<p>Aku, Sidney? Miss Shopaholic begini, tentu saja sudah mencoba segala model dan rupa cara belanja diskonan yang bikin kalap dan gelap mata. Tapi kali ini, aku mau ngasih tips belanja efektif dan efisien buat teman-teman lesbian semuanya. Lesbian kan juga perempuan biasa yang suka belanja kalau punya uang. Ingat, ingat, kita bukan cuma perempuan yang bisa pacaran, ngerebut cewek, dan berkeluh kesah aja loh. Selain bisa jadi ajang cuci mata melihat perempuan-perempuan penggila belanja (aku jamin pasti banyak lesbian kalap belanja juga di sana), kita juga bisa keluar dari kacamata kuda &#8220;dunia lesbian&#8221; dan bergaul dengan manusia-manusia <em>civilized </em>lainnya.</p>
<p><span id="more-5175"></span>Nih, sekarang aku mau akan ngasih tips bagaimana belanja efektif di masa pesta <em>sale </em>akhir tahun ini.<br />
<strong><br />
1. Fokus ke apa yang ingin kamu beli</strong><br />
Sebelum berangkat menuju mal yang melakukan<em> midnight sale</em>, pikirkan apa yang ingin kamu beli. Pertimbangkan harganya baik-baik, apa barang-barang itu sanggup kamu bayar nanti. Atau apakah barang-barang itu memang kamu butuhkan, selain kamu inginkan. Kalau perlu, buatlah daftar belanjaan lebih dulu. Misalnya: Lingerie di Debenhams, koper di Samsonite, atau tas di Kipling, sandal di Charles and Keith. Jangan melirik ke sana-kemari dulu sebelum barang-barang belanjaan yang kamu targetkan belum ada di tangan.</p>
<p>Ingat, kondisi lapar mata malah bikin belanja yang lain (yang kebanyakan tidak terlalu diperlukan) seperti kaus kaki lucu,<em> tank top</em> imut, atau sepatu cakep.</p>
<p><strong>2. Persiapan sebelum perang<br />
</strong>Nah ini dia! Untuk tahu apa yang ingin kita beli, kita harus melakukan persiapan sebelum berangkat bertarung memperoleh belanjaan yang kita inginkan dengan harga miring. Sebelum lonceng <em>sale </em>berdentang, jelajahi mal yang jadi target<em> midnight sale</em> (siangnya lebih baik), kalau perlu sekalian mencoba pakaian/sepatu/tas yang ingin dibeli. Jadi ketika <em>sale </em>dimulai, yang harus kamu lakukan adalah langsung menuju sasaran dan membawanya ke kasir.<br />
<strong><br />
3. Jangan latah atau bersikap “mumpung”</strong><br />
Ini dia yang sulit. Ketika melihat diskon, obral, <em>sale</em>, otak dan dompet sering kali tidak nyambung.  Lalu timbul apa yang namanya<em> shopping momentum effect</em>. Kebutuhan dan keinginan sudah jadi bias dan campur aduk.  Ditambah lagi melihat kehebohan <em>shoppers </em>lainnya dan konsep berpikir “mumpung diskon”. Fiuh, lengkaplah sudah kamu menciptakan malapetaka keuangan ketika tagihan kartu kredit datang.</p>
<p>Sekali lagi, kembali ke tips nomor satu. Jangan beli barang yang akan bikin kamu sengsara dengan makan mi instan tiap hari karena kehabisan uang dan terlilit utang.</p>
<p><strong>4. Bawa teman yang kuat iman</strong><br />
Kadang-kadang membantu mempunyai teman belanja yang tidak mudah kalap akan diskon dan tegar iman menghadapi godaan belanja. Jangan pergi ke <em>midnight sale </em>sendirian kalau kamu tahu kamu <em>shopaholic </em>sejati. Aku, misalnya, tidak akan pergi ke <em>midnight sale</em> sendiri tanpa ditemanin partner yang otaknya mahalogis. Partner akan mengingatkanku pada tips 1 dan 3 kalau kelihatannya aku mulai goyah atau mataku sudah bergerak liar. Bahkan tidak jarang menampilkan wajah jutek ingin segera pulang ketika melihat kantong belanjaan di tanganku sudah penuh. <em>Thanks God I have her.</em><strong></strong></p>
<p><strong>5. Tinggalkan kartu kredit di rumah</strong><br />
Kalau kamu tahu kamu orang yang mudah kalap, cobalah cara ini. Tinggalkan kartu kreditmu di rumah untuk menghindari <em>overlimit </em>dan utang belanja yang tidak sanggup kamu bayar. Bawa kartu debit saja dan silakan menghabiskan semua uang <em>cash</em>-mu kalau perlu. Belanja boleh gila tapi terlilit utang itu nggak asyik, kan?</p>
<p>Nah, teman-teman lesbian siap bertempur dengan <em>sale </em>akhir tahun? THR telah tiba, bahkan mungkin juga bonus perusahaan. Dompet telah menggembung, rekening telah penuh. Jangan lupa rajin <em>browsing </em>mencari jadwal <em>midnight sale</em> dan ikutan promo-promo khusus di <em>website </em>belanja. Kadang-kadang mereka sering membagikan <em>voucher </em>belanja gratis kalau kita beruntung.  Semoga tips ini membantu kita para lesbian untuk tampil makin keren dan cantik. Nggak ada yang salah dengan belanja menghabiskan uang hasil keringat kita sendiri selama itu uang halal dan bukan utang.</p>
<p>@Sidney, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/12/17/cuci-mata-holiday-sale-midnight-sale/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuci Mata: Pasar Tradisional di Tengah Kota</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/09/05/cuci-mata-pasar-tradisional-di-tengah-kota/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/09/05/cuci-mata-pasar-tradisional-di-tengah-kota/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Sep 2009 14:51:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cuci Mata]]></category>
		<category><![CDATA[belanja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=3979</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh: Sidney
Minggu lalu aku menginap di rumah tanteku di sebuah kompleks perumahan populer yang katanya sudah jadi kota mandiri di luar Jakarta. Tanteku pada weekend itu tinggal sendirian, hanya ditemani pembantu dan baru saja kena stroke ringan. Kebetulan anaknya si tante sedang keluar kota, jadi  dia membutuhkan seseorang yang bisa menemaninya selama  dua hari supaya tante tidak sendirian. Oke, cukup sudah preambule-nya, biar aku lanjut ke topik yang mau kubahas.
Hari Minggu jam tujuh pagi, pembantu mulai ribut melaporkan bahwa telor telah habis, tidak ada daging, dan bumbu masak ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-medium wp-image-3981" title="trainers_market_by_yellowcat" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/09/trainers_market_by_yellowcat-243x300.jpg" alt="trainers_market_by_yellowcat" width="170" height="210" /></p>
<p>Oleh: Sidney</p>
<p>Minggu lalu aku menginap di rumah tanteku di sebuah kompleks perumahan populer yang katanya sudah jadi kota mandiri di luar Jakarta. Tanteku pada <em>weekend </em>itu tinggal sendirian, hanya ditemani pembantu dan baru saja kena <em>stroke </em>ringan. Kebetulan anaknya si tante sedang keluar kota, jadi  dia membutuhkan seseorang yang bisa menemaninya selama  dua hari supaya tante tidak sendirian. Oke, cukup sudah <em>preambule</em>-nya, biar aku lanjut ke topik yang mau kubahas.</p>
<p>Hari Minggu jam tujuh pagi, pembantu mulai ribut melaporkan bahwa telor telah habis, tidak ada daging, dan bumbu masak lenyap. Pembantu langka &#8211; menurut ukuran zaman sekarang &#8211; yang sudah bekerja lebih dari 20 tahun di tempat tanteku memang ribut dan berisik. Jagoan bikin kepala pusing pokoknya. “Ya udah, nanti siang saya beliin deh ke supermarket,” kataku cepat-cepat, biar dia nggak makin ribut.</p>
<p><span id="more-3979"></span>Dia memandangku seakan-akan kepalaku memiliki dua cula. “Supermarket?” tanyanya tegang.</p>
<p>Aku mengangguk pelaaan. Tapi dalam hati, aku yakin kata &#8216;supermarket&#8217; terdengar nista di telinganya.</p>
<p>“Buat apa ke supermarket?”</p>
<p>“Buat beli bensin,&#8221; sahutku asal-asalan. Halooo, ke supermarket tentu saja beli perlengkapan rumah tangga. Melihatnya tulalit dengan ucapanku yang asbun, aku buru-buru meralat. &#8220;Buat beli ayam dan apa itu tadi&#8230;&#8221;</p>
<p>“Ya ampun, Non! Ngapain ke supermarket? Itu sih beli di pasar depan rumah aja.&#8221; Melihatku menggeleng dengan ragu-ragu, dia melanjutkan sambil meledekku telak, &#8220;Emangnya Non nggak pernah ke pasar? Duh, ini nih perempuan kota, mentang-mentang sekolah tinggi nggak pernah ke pasar.”</p>
<p>Dari bengong, aku langsung jadi nyolot. Apa? nggak pernah ke pasar? Yang bener saja! Sidney tidak pernah takut pada apa pun, apalagi yang namanya <em>shopping</em>. Ke pasar bau, becek, dan terbelah empat pun akan dia samperin.</p>
<p>“Sini, Bik. Saya beliin. Emangnya gue takut ke pasar?”</p>
<p>Dan mulailah petualanganku di pasar tradisional modern itu.</p>
<p>Sejujurnya aku agak menyesal keburu emosi tersulut si bibik tua ketika menyetir mobil ke pasar. Aku tahu di mana tempatnya karena sering kulewati, tapi jujur saja yang namanya pasar tradisional kukunjungi terakhir sewaktu aku masih SMP. Aku membayangkan tempat becek, bau, dan penuh orang-orang berdesak-desakan yang membuatku harus berjengit berkali-kali.</p>
<p>Setelah memarkir mobil, aku berjalan menuju pintu gerbang. Langkahku ragu mulanya, tapi lama-lama semakin ragu. Aku melongo, benar-benar melongo! Seperti melihat alien berantena dan bertotol-totol muncul di hadapanku. Ya Tuhan, aku sampai terbengong-bengong melihat pasar tradisional yang ditata secara modern nan apik. Aku langsung teringat pada hari pasar di Australia. Tidak ada bau aneh apa pun yang menyengat, tidak ada genangan becek yang bakal merusak sepatu Crocs-ku, tidak ada orang-orang mendorong kardus sambil berteriak, “Minggir-minggir, air panas!”</p>
<p>Bagian sayuran ada di sebelah kiri, bagian daging ada di kanan, bagian kebutuhan rumah tangga ada sebelah luar. Dagingnya terlihat segar, sayurannya juga. Harganya, <em>well</em>, aku tidak tahu sih semestinya berapa harga daging tapi  aku yakin di pasar tradisional pasti lebih murah dibanding supermarket di mal. Aku bahkan sempat melirik ke sepasang perempuan yang kuduga pasangan lesbian yang sedang menawar terong. Hihihihi, otakku langsung mesum nggak jelas. Menawar terong&#8230; membayangkan adegan itu lagi membuatku tak bisa menahan geli.</p>
<p>Inilah pasar impianku, perempuan kota modern pendidikan tinggi seperti kata si Bibik tadi. Tapi eh, menurutku, mestinya pasar tradisional memang seperti ini. Murah tidak berarti harus kumuh, kotor, dan becek, kan? Apalagi banyak lalat, nggak sehat, dan sumpek. Pasar seperti ini harusnya dapat dijadikan tempat untuk memajukan usaha golongan kecil menengah, juga tempat rekreasi yang tidak terlalu mahal.</p>
<p>Aku berjalan ke sana kemari, hingga bukan cuma membeli daging, telor, dan bumbu dapur, tapi membeli aneka rupa sayuran dan barang sehingga tas kain bahan <em>recycle</em>-ku pun penuh dengan belanjaan. Aku pulang, dengan dada membusung menunjukkan kepada bibik bahwa aku tidak butuh supermarket untuk membeli barang-barang kebutuhan dapur.</p>
<p>@Sidney, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/09/05/cuci-mata-pasar-tradisional-di-tengah-kota/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Obrolan Cewek: 10 Tips Memilih Sepatu Versi Fluffy</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/05/10/obrolan-cewek-10-tips-memilih-sepatu-versi-fluffy/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/05/10/obrolan-cewek-10-tips-memilih-sepatu-versi-fluffy/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 May 2009 13:25:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Obrolan Cewek]]></category>
		<category><![CDATA[belanja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=2020</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Fluffy
Hai cewek-cewek, di mana pun kalian berada. Jumpa lagi dengan Fluffy hari ini, masih dengan tips-tips seputar perempuan. Minggu ini, setelah membaca tulisan Sidney tentang sepatu, Fluffy jadi kepingin ikut-ikutan menulis tentang sepatu.
Di bawah ini, Fluffy akan mengelompokkan sepatu sesuai fungsi mereka. Bukan fungsi-fungsi yang serius kok. Masa wiken gini masih aja serius? Becanda dong, ah. Simpan laptop, organizer, blackberry, atau majalah bisnis yang lagi ada di tanganmu. Dan liriklah sepatumu!
1.       Untuk yang mati gaya tapi masih kepingin gaya, cobalah boots. Macam-macam lho. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-2021" title="shoes" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/05/shoes.jpg" alt="shoes" width="135" height="170" />Oleh: Fluffy</p>
<p>Hai cewek-cewek, di mana pun kalian berada. Jumpa lagi dengan Fluffy hari ini, masih dengan tips-tips seputar perempuan. Minggu ini, setelah membaca tulisan Sidney tentang sepatu, Fluffy jadi kepingin ikut-ikutan menulis tentang sepatu.</p>
<p>Di bawah ini, Fluffy akan mengelompokkan sepatu sesuai fungsi mereka. Bukan fungsi-fungsi yang serius kok. Masa wiken gini masih aja serius? Becanda dong, ah. Simpan <em>laptop, organizer, blackberry, </em>atau majalah bisnis yang lagi ada di tanganmu. Dan liriklah sepatumu!</p>
<p>1.       <strong>Untuk yang mati gaya tapi masih kepingin gaya,</strong> cobalah <em>boots. </em>Macam-macam lho. Ada <em>ankle boots</em> (tingginya sampai pergelangan kaki doang), <em>knee boots</em> (sampai lutut), <em>loose boots </em>(yang ini, panjang-pendeknya bisa diatur), atau <em>cuissard </em>(nyampe paha, bok).  Kalau <em>mood</em>-mu lagi lebay, pake aja waktu belanja bulanan ke supermarket. Hihihi.<span id="more-2020"></span></p>
<p>2. <strong> Untuk mereka yang sudah ogah akut terhadap aksesori cewek,</strong> jangan cemas dan mati gaya, <em>man! </em>Saat kamu bosan sama <em>sneakers </em>dan sepatu kets, dan sandal bulukmu, kamu boleh coba opsi lain dari lemari cowok-cowok. Kamu boleh coba itu model sepatu yang namanya <em>wingtip shoe </em>dan <em>huaraches. </em>Dua-duanya nyaman dipakai dan kalo kamu nggak saltum, bisa jadi oke. Sapa tau cewek-cewek jadi pada ngelirik gara-gara alas kakimu?</p>
<p>3.       <strong>Buat yang lagi horni, </strong>kenakanlah <em>pointy shoes </em>yang berujung runcing itu. Meski cuma kamu pakai di depan cermin buat gaya-gayaan, nggak hanya bisa bikin kamu ngerasa makin seksi tapi memang makin seksi. Apalagi kalau kamu punya <em>pointy shoes </em>warna hitam atau merah. <em>Can’t wait anymore? Grab your toy or girlfriend. Get a room, Lady.</em></p>
<p>4.       <strong>Untuk pecinta buah dan sayur,</strong> jangan cemas! Sepatu telah mengklasifikasikan dirinya juga yang bisa membantumu menumbuhkan rasa cinta terhadap buah dan sayur. Cobalah selenggarakan <em>one day with pumpkin shoes, </em>misalnya, saat dietmu berhasil. <em>Pick your own pump-shoes, </em>yang udah tersedia dalam aneka warna, <em>heel </em>tinggi/pendek, dan harga tentu saja. Ditambah lagi, ujungnya yang bulat bisa bikin kakimu terlihat imut dan menggemaskan.</p>
<p>5.       <strong>Kamu punya mimpi jadi penari atau balerina tapi nggak kesampaian? </strong>Sepatu telah berjasa besar karena punya model<em> ballerina shoes. </em>Dengan sepatu ini, kamu bisa tampil cantik saat kongkow sama grup lesbianmu, pergi belanja, nonton film sama pacar, atau sekadar gaya-gayaan di cermin sambil menari ala balet.</p>
<p>6. <strong> Untuk penggemar tali-temali </strong>dan yang nggak bisa ngelupain masa-masa bermain bersama tali zaman Pramuka dulu, <em>slingback shoes </em>bisa jadi temanmu. Dan kabarnya, tali-tali sepatu itu bisa menambah kesan seksi pada kakimu. Tapi jangan pindahkan tali bra ke sepatumu ya!</p>
<p>7. <strong> Untuk yang ingin terlihat lebih tinggi dan berani? </strong>Tentu saja solusinya ada pada <em>stiletto. </em>Haknya punya variasi ukuran, dari 5 cm sampai 12 cm. Selain bikin kamu makin cantik, ada sebuah informasi mengatakan kalau pakai <em>stiletto,</em> posturmu jadi tegak, seakan kamu berpose ‘siap menantang dunia’. Dan Fluffy sarankan untuk selalu berhati-hati: jangan sampai kepeleset atau hak <em>stiletto</em>-mu nyangkut di mana gitu. Bisa kandas pesona.</p>
<p>8.        <strong>Untuk yang lagi sial. </strong>Hanya sekedar peringatan dan siapa tau, siapa tau kamu suatu hari lagi dirudung nasib buruk. Dicopet atau dikejar anjing entah di mana. Kalau hari itu kamu pakai <em>wedge heels, </em>beruntunglah kamu. Karena selain nyaman dipakai, <em>wedge heels </em>yang model haknya menyatu dengan sol bagian depan, bisa berfungsi lain buat kamu. Ngelempar anjing atau pencopet pake <em>wedge heels </em>untuk melampiaskan kekesalanmu bakal seru dan tetap gaya! <strong>Tips tambahan: </strong>ingat-ingat dulu harga <em>wedge heels</em>-mu, ya!</p>
<p>9. <strong> Kalo lagi kepingin tampak dewasa, </strong>kita boleh pakai <em>mules. </em>Itu lho, sepatu sandal yang sempat <em>booming </em>beberapa tahun lalu.</p>
<p>10.   <strong>Last but not least, </strong>sepatu juga punya model <em>mary jane. </em>Sepatu ini juga hadir dalam banyak model dan ukuran hak. Dan yang bikin dia disebut <em>mary jane </em>adalah tali yang melintang di bagian depan kaki itu lho, Ladies. Sepatu model ini bisa dikenakan waktu ngambil rapor anak, reuni dengan teman-teman TK, atau <em>shooting </em>video porno dengan kostum Bu Guru, mungkin? Hihihihi.</p>
<p>So Ladies, periksa kembali koleksi sepatumu. Rawatlah mereka seperti merawat tubuh. Dalam momen-momen tertentu, penting, mendesak, dan membosankan, mereka bisa jadi teman yang superasyik!</p>
<p>Met Hari Minggu!</p>
<p>@Fluffy, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/05/10/obrolan-cewek-10-tips-memilih-sepatu-versi-fluffy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuci Mata: Dari Sepatu Naik ke Hati</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/05/09/cuci-mata-dari-sepatu-naik-ke-hati/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/05/09/cuci-mata-dari-sepatu-naik-ke-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 May 2009 09:16:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cuci Mata]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[belanja]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=2003</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sidney
Man must have invented high heels to torture women. Well, d&#8217;uh! Isn&#8217;t it obvious?
Sepatu high heels yang sesungguhnya menyiksa tumit tetap dipakai perempuan agar dia bisa tampil indah. Tapi banyak perempuan tampak tidak keberatan. Mereka tampak bahagia berlenggak-lenggok di mal dengan sepatu high heels.
Buat banyak perempuan keluar rumah tanpa sepatu yang pas serasa telanjang. Aku bisa pulang lagi untuk mengganti sepatu kalau sepatu yang kukenakan rasanya nggak sreg di kaki. Rasanya gelisah sepanjang hari kalau harus mengenakan sepatu sandal terbuka padahal aku memakai stoking, misalnya. Saltum itu nggak banget ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-2005" title="shoes__by_xxxflyingturtlexxx" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/05/shoes__by_xxxflyingturtlexxx.jpg" alt="shoes__by_xxxflyingturtlexxx" width="147" height="190" />Oleh: Sidney</p>
<p><em>Man must have invented high heels to torture women. Well, d&#8217;uh! Isn&#8217;t it obvious?</em></p>
<p>Sepatu <em>high heels </em>yang sesungguhnya menyiksa tumit tetap dipakai perempuan agar dia bisa tampil indah. Tapi banyak perempuan tampak tidak keberatan. Mereka tampak bahagia berlenggak-lenggok di mal dengan sepatu <em>high heels.</em></p>
<p>Buat banyak perempuan keluar rumah tanpa sepatu yang pas serasa telanjang. Aku bisa pulang lagi untuk mengganti sepatu kalau sepatu yang kukenakan rasanya nggak sreg di kaki. Rasanya gelisah sepanjang hari kalau harus mengenakan sepatu sandal terbuka padahal aku memakai stoking, misalnya. <em>Saltum </em>itu nggak banget deh.</p>
<p><span id="more-2003"></span>Kaki itu jelas lambang kecantikan. Di zaman-zaman kerajaan Cina dulu, perempuan kelas atas dibebat kakinya. Makin kecil kakinya, dianggap makin cantik. Entah siapa yang gila ya, mungkin sama seperti tujuan <em>high heels </em>diciptakan, perempuan-perempuan itu sengaja dibuat susah berlari biar tidak kabur dari istana. Sama seperti zaman sekarang, perempuan sengaja dipasung di<em> high heels</em> supaya tidak mudah kabur dari kejaran lelaki atau bebas bergerak ke mana saja.</p>
<p>Tapi kaki yang indah tidak hanya konsumsi mata lelaki. Perempuan-perempuan juga menikmati memandang kaki indah sesama perempuan. Di abad sekarang, ketika perempuan dengan kaki jenjang dan sepatu cantik dianggap sebagai dewi, <em>well</em>, lesbian yang juga jelas-jelas perempuan tidak ketinggalan menghias kakinya dengan sepatu-sepatu indah.</p>
<p>Aku termasuk yang girang ketika butik Christian Louboutin dibuka di Indonesia. Sepatu adalah lambang keindahan. Simbol seni di dunia glamor dan fashionista. Tidak pernah ada salah untuk membeli sepasang sepatu yang akan membuat tubuh perempuan menjadi lebih tinggi, lebih cantik, lebih sempurna, itu prinsipku. Seperti tabungan, sepatu bisa dikeluarkan saat butuh. Tidak perlu langsung dipakai saat baru dibeli. Peraturanku adalah, lebih baik beli sekarang daripada menyesal di kemudian hari. Menemukan sepatu yang pas seperti menemukan pacar cantik, cerdas, dan mapan yang “mungkin” hanya datang sekali seumur hidup.</p>
<p>Katanya, sepatu menjadikan para lesbian mau nggak mau ditempeli lebel. Untuk mereka yang menyombongkan diri dengan berkata keras <em>no label</em>, mendadak harus masuk dalam label tertentu ketika memilih sepatu. Para butchi akan mencintai seni memakai sepatu monoton dengan model yang sama dan warna serupa seperti merek-merek khas maskulin Clarks, Timberland, Johnston &amp; Murphy, Hugo Boss, Dr. Marten, Eastland, Ben Sherman, Cole Haan. Andro yang memilih sepatu tanpa ingin terlihat terlalu kemayu atau kebapakan, suka memilih sepatu sport, <em>sneakers</em>, sandal santai, atau sepatu berhak datar dan rendah, berkelamin universal seperti merek Adidas, Puma, Birkenstock, Converse, Anne Klein, Crocs, Hush Puppies. Sementara aku, yang mencintai sepatu berbentuk aneka rupa bisa jatuh dalam label femme. Aku selalu mematutkan sepatu sehingga serasi dengan tas dan busana yang kukenakan. Saat aku lagi demam androgini <em>look</em>, maka aku tinggal mengambil sepatu yang sesuai. Tapi jika aku harus menjadi putri keraton dengan kebaya batik dan selendangnya, aku tidak keberatan mengenakan sepatu yang tepat.</p>
<p>Sepatu selalu menjadi bagian dari hidup perempuan. Menjadi lesbian bukan berarti menjadi  gerombolan perempuan yang kelaki-lakian yang tak mampu berdandan dan beraneka gaya. Selain sepatu Christian Louboutin, sebagai femme, aku juga senang mengenakan sepatu Manolo Blahnik, Jimmy Choo, Rene Cauvilla, Dolce &amp; Gabbana, Emilio Pucci, Chloe, Kenneth Cole, Prada, dan lain-lain. Aku bisa menabung selama sebulan dengan tidak mendatangi restoran-restoran favoritku atau pergi ke salon dan spa hanya untuk membeli sepasang sepatu dari keluaran butik Dior, misalnya.</p>
<p>Sepatu memang hanya terletak jauh di bawah, dekat dengan bumi. Tapi karena junjungan dan kemantapanya, si pemakai bisa berdiri menjulang, meraih langit tertinggi.</p>
<p>@Sidney, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/05/09/cuci-mata-dari-sepatu-naik-ke-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuci Mata: Arisan Bling-Bling</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/05/02/arisan-bling-bling/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/05/02/arisan-bling-bling/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 02 May 2009 14:51:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cuci Mata]]></category>
		<category><![CDATA[belanja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=1912</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sidney
Weekend kemarin aku dan partner meluncur ke perumahan mewah di kawasan Kemang. Tujuannya: arisan berlian yang diadakan oleh sosialita-sosialita muda Jakarta. Sempat kebingungan sewaktu mencari rumah yang bisa menampung 50-70an orang itu ketika kami melihat parkiran mobil-mobil mewah di sebuah rumah hoek. Ya, pasti itu rumahnya.
Di dalam rumah, sudah ada beberapa perempuan berusia 20-40an dengan dandanan bling-bling. Lengkap dengan tas-tas Prada, Vuitton, Hermes. Entah itu tas miliknya sungguhan atau tas sewaan. Seperti rumah ini. Rumah yang disewakan untuk kegiatan-kegiatan semacam ini. Arisan, pertemuan keluarga, bahkan untuk shooting sinetron.

Selain tas, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-thumbnail wp-image-1915" title="bling2" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/05/bling2-150x150.jpg" alt="bling2" width="150" height="150" />Oleh: Sidney</p>
<p><em>Weekend </em>kemarin aku dan partner meluncur ke perumahan mewah di kawasan Kemang. Tujuannya: arisan berlian yang diadakan oleh sosialita-sosialita muda Jakarta. Sempat kebingungan sewaktu mencari rumah yang bisa menampung 50-70an orang itu ketika kami melihat parkiran mobil-mobil mewah di sebuah rumah hoek. Ya, pasti itu rumahnya.</p>
<p>Di dalam rumah, sudah ada beberapa perempuan berusia 20-40an dengan dandanan bling-bling. Lengkap dengan tas-tas Prada, Vuitton, Hermes. Entah itu tas miliknya sungguhan atau tas sewaan. Seperti rumah ini. Rumah yang disewakan untuk kegiatan-kegiatan semacam ini. Arisan, pertemuan keluarga, bahkan untuk <em>shooting</em> sinetron.</p>
<p><span id="more-1912"></span></p>
<p>Selain tas, bisa tercium aroma parfum mewah yang jelas asli bukan KW 1 atau KW 2 buatan aspal. Berlian-berlian juga terpantul berkilauan seperti kunang-kunang di sekujur tubuh para sosialita tersebut. Kami disambut oleh tuan rumah yang langsung memberi cipika-cipiki akrab dengan partner dan aku. Minuman dan makanan berlimpah dari jasa <em>catering</em> yang khusus disewa untuk acara ini tampak di dekat kolam renang. Berbagai jenis sushi, kambing guling, <em>scallop</em>, sup sirip ikan hiu, bahkan <em>wine</em>, dan minuman alkohol lainnya.</p>
<p>Kami saling mengobrol dan bertukar cerita. Kadang-kadang aku dan partner berbisik-bisik melihat ada pasangan lesbian lain yang “kelihatan” banget sebagai pasangan, seringkali pamer kemesraan. Tapi kami hanya saling tersenyum sopan tanpa bertanya, “Eh, lo lesbian juga ya?” Ada saling pengertian di antara tatapan dan senyum kami. Para perempuan sosialita ini pun jelas sangat <em>lesbian friendly. </em>Mereka tak segan-segan menggoda yang tampak pasangan.</p>
<p>Di antara para peserta arisan itu, tidak ketinggalan ada perantara alias penjual berlian yang ramai dikelilingi oleh beberapa perempuan. Sang perantara mengeluarkan koleksinya sambil berceloteh tentang 4 C. Itu lho, tips memilih berlian.<em> Color</em> (warna). <em>Clarity </em>(kejernihan). <em>Cut </em>(potongan), proporsi dari sudut dan paset kaca-kaca gosokan. <em>Carat</em>, ukuran berat dari berlian. Jadi tidak berarti <em>carat </em>yang besar berarti harga berliannya lebih mahal karena masih ada 3 C lain yang juga perlu dipertimbangkan.</p>
<p>Partner mengajakku melihat-lihat koleksi berlian sang perantara. Ngomong-ngomong, si perantara berpenampilan andro/butch tampan gitu&#8230; hm,  aku dan partner sampai sempat saling melirik dan memberikan kode penuh arti.</p>
<p>Kami melihat pasangan yang kami duga lesbian melihat-lihat cincin. Hm, lucu juga pikirku. Pada saat itulah, partner menoleh memandangku,  “<em>Hon</em>, gimana menurutmu liontin ini? Lucu nggak?” Kupandangi liontin berbentuk daun itu. “Lucu, <em>hon</em>. Kamu mau beli?” tanyaku. Aku tahu partner punya hobi membeli berlian, tidak hanya sebagai perhiasan tapi juga sebagai investasi. Menurutnya membeli logam berharga adalah investasi yang <em>smart. </em>Terutama untuk perempuan, karena bisa dipakai dan juga disimpan. Partner juga menyenangi aneka batu mulia yang berwarna-warni, bukan hanya berlian. Favoritnya adalah batu rubi.</p>
<p>“Kamu suka nggak?” tanya partner lagi. “Desainnya bagus. Sedikit mirip liontin Bvlgari yang dipakai Sandra kemarin.” Lalu partner bicara pada si perantara berlian, “Yang ini bisa dibuat  sepasang nggak?”</p>
<p>Si perantara memandangku lalu partner dan tersenyum. “Bisa. Bisa kok. Saya sarankan untuk dimodifikasi sedikit kalau dibuat untuk pasangan.&#8221; Dia membuka laptopnya, memperlihatkan beberapa contoh desain. &#8220;Bagaimana yang ini? Cocok untuk kalian berdua. Tapi untuk <em>personal design </em>seperti ini, butuh waktu sekitar satu bulan.”</p>
<p>“Oke, nggak masalah. Harganya bagaimana?” tanyaku setelah berembuk dengan partner.</p>
<p>Si perantara melihat harga yang tertera, dan menekan tuts kalkulatornya. “Untuk sepasang, saya kasih diskon tambahan, jumlahnya jadi segini.”</p>
<p>Aku memandangi deretan angka dan partner mengangguk-angguk.</p>
<p><em>Yap. Bungkus.</em></p>
<p>Sebelum kami pergi meninggalkannya, si perantara berlian itu mengeluarkan koleksi cincinnya dan berkata, “Cincin sepasang lucu juga lho. Bisa digravir,” katanya sambil tersenyum kepada kami. &#8220;Yang ini desain khusus dari Hong Kong.&#8221;</p>
<p>Kami tidak membeli cincin yang ditawarkannya, tapi pasangan lesbian yang di sebelah kami memutuskan untuk membeli.</p>
<p>@Sidney, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/05/02/arisan-bling-bling/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cuci Mata: Mari Berbelanja!</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/03/21/cuci-mata-mari-berbelanja/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/03/21/cuci-mata-mari-berbelanja/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Mar 2009 15:00:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cuci Mata]]></category>
		<category><![CDATA[belanja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepoci.wordpress.com/2009/03/21/cuci-mata-mari-berbelanja/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sidney
Weekend ini seperti biasa aku ke mal. Berjalan tak tentu arah sehabis makan di restoran sushi, aku melihat orang-orang berkerumun dari jarak sepuluh meter. Kakiku bergerak ke sana tidak bisa menahan rasa ingin tahu. Ada apa sih ramai-ramai seperti ada penjualan minyak goreng murah, pikirku. Ternyata bukan minyak goreng yang dijual, melainkan hape Blackberry.
Saking ramainya, perempuan-perempuan cantik mbak SPG yang biasanya diabaikan dan dijauhi kini malah cuma duduk santai sementara orang-orang berbondong mengelilinginya. Bahkan si mbak tampak kewalahan dicecar pertanyaan.
Aku jadi makin penasaran.

Kuhampiri juga gerai penjual Blackberry yang dibundling ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://2.bp.blogspot.com/_5cMJbl3JQfg/ScUO_IiO-8I/AAAAAAAABqg/xpAW1KLUuJw/s1600-h/Rich_by_Cathy71.jpg"><img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 133px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_5cMJbl3JQfg/ScUO_IiO-8I/AAAAAAAABqg/xpAW1KLUuJw/s200/Rich_by_Cathy71.jpg" border="0" alt="" /></a>Oleh: Sidney</p>
<p><span style="font-style:italic;">Weekend </span>ini seperti biasa aku ke mal. Berjalan tak tentu arah sehabis makan di restoran sushi, aku melihat orang-orang berkerumun dari jarak sepuluh meter. Kakiku bergerak ke sana tidak bisa menahan rasa ingin tahu. Ada apa sih ramai-ramai seperti ada penjualan minyak goreng murah, pikirku. Ternyata bukan minyak goreng yang dijual, melainkan hape Blackberry.</p>
<p>Saking ramainya, perempuan-perempuan cantik mbak SPG yang biasanya diabaikan dan dijauhi kini malah cuma duduk santai sementara orang-orang berbondong mengelilinginya. Bahkan si mbak tampak kewalahan dicecar pertanyaan.</p>
<p>Aku jadi makin penasaran.<span id="more-1034"></span><br />
<span class="fullpost"><br />
Kuhampiri juga gerai penjual Blackberry yang di<span style="font-style:italic;">bundling </span>dengan provider selular itu. Kulihat logo bank yang juga jadi sponsornya. Saking sibuknya menghadapi pertanyaan, si mbak SPG cuma menyodorkan selembar pamflet berisi daftar harga Blackberry.  Bold yang mestinya 7 juta lebih dijual &#8220;hanya&#8221; dengan harga 5 jutaan jika menggunakan poin dari kartu kredit yang disponsori bank yang jadi sponsor di sini.</span></p>
<p>Wah, mataku langsung hijau. Jantungku berdebar makin cepat. Ini ciri-ciri kalau sedang bersemangat saat menghadapi barang <span style="font-style:italic;">sale </span>atau kena diskon atau murah. Sesaat aku lupa bahwa aku sudah punya Blackberry saking murahnya harga yang ditawarkan. Sayangnya aku sudah punya, kalau tidak pasti menyenangkan pulang dari mal menentang hape baru.</p>
<p>Kulihat bagian kasir sibuk menggesek kartu kredit pembeli yang sampai rela antre untuk mendapatkan Blackberry murah itu.<span style="font-style:italic;"> (Bisa kebayang nggak sih orang Indonesia antre?). </span>Kepalaku langsung sakit. Semakin banyak orang membeli barang mahal, semakin banyak &#8220;pameran&#8221; barang-barang mahal yang dilambai-lambaikan di sana sini. <span>Pasti nanti makin banyak orang yang berpikir sinis terhadap mereka yang berpunya. </span></p>
<p>Maksudku begini, setiap hari kita membaca koran digempur dengan berita krisis keuangan global (selain berita pemilu tentunya). Tapi melihat ini, kita langsung mempertanyakan berita-berita yang kita baca. Krisis keungan global sepertinya naik andong sampai ke Indonesia. <span style="font-style:italic;">Yeah</span>, berita kolapsnya bank-bank di Amerika memang tampak mengerikan, tapi itu di Amerika, bo! Jauh banget dari Indonesia ya. Bahkan dalam kampanye-kampanye pemilu para capres saja tampak tenang dan tidak membahas soal krisis keuangan ini. Dan lihat saja buktinya, di mal ini ketika orang-orang berebutan Blackberry seperti mengantre beras murah.</p>
<p>Atau cobalah lihat apartemen-apartemen mewah yang ditawarkan di mal dan televisi dengan iming-iming harga naik tgl 23 Maret 2009 jadi segeralah <span style="font-style:italic;">booking </span>sekarang juga dan dapatkan <span style="font-style:italic;">cashback </span>100 juta atau pendingin ruangan dan <span style="font-style:italic;">kitchen set </span>mewah di setiap pembelian apartemen tipe tertentu. Cobalah terlambat sedikit datang ke kantor pemasarannya, apartemen yang Anda inginkan di lantai tertentu dengan view bagus pasti sudah terjual dengan <span style="font-style:italic;">cash </span>keras.</p>
<p>Atau lihat saja situs hotel bintang supermewah lima plus-plus yang membuka cabangnya di Indonesia. Mereka yakin seyakin-yakinnya tidak mengalami kerugian. Liburan adalah kepentingan urutan nomor buncit bagi mereka yang belum dapat memenuhi sandang pangan papannya. Apalagi liburan mewah. Tapi itu tidak membuat para investor bernyali kecut menanamkan investasi mereka di sini. Bvlgari, St. Regis, Banyan Tree, Four Season, Ritz Carlton adalah salah satu nama-nama kondang yang mempunyai outlet mewahnya di Indonesia.</p>
<p>Dan lihat juga mal pada setiap wiken. Bistro, resto, lounge, cafe mewah tumbuh seperti cendawan di musim penghujan. Mulai dari restoran lokal sampa <span style="font-style:italic;">franchise multimillion </span>dollar yang tempatnya bertebaran di lima benua. Herannya, tempat-tempat itu juga selalu sesak dan penuh. Bahkan untuk beberapa lounge perlu reservasi jauh-jauh hari. Resto yang penuh sesak  seperti itu adalah hal yang wajar bagi mereka yang biasa menghamburkan uang untuk kemewahan dan kenikmatan.</p>
<p>Tunggu, jangan sinis! Jangan berkotbah tentang materi dan dunia hedonis. Jangan sebut-sebut kata sombong dan sok pamer. Produsen memang harus mendorong dan mengiming-iming pembeli agar mau mengeluarkan uang. Karena belanja konsumen adalah salah satu cara menghajar krisis keuangan ini. Lihat berita Kompas akhir Januari lalu, tentang pesan untuk menghadapi krisis keuangan: <a href="http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/30/06050080/pesan.jet.li.untuk.hadapi.krisis.keuangan.dunia">www.kompas.com.</a> Penjualan apartemen mewah akan memberikan lapangan kerja buat ribuan buruh, pembelian Blackberry akan memberikan peluang buat provider selular dan penyedia jasa yang berhubungan dengan teknologi, pembukaan hotel, spa, dan resto baru selalu menyerap ratusan tenaga kerja profesional maupun <span style="font-style:italic;">unprofesional</span>. Semua kegiatan belanja ini akan menumbuhkan perekonomian. Jadi krisis keuangan yang jadi momok pun bisa kita kurangi dampaknya.</p>
<p>Orang kaya selalu menjadi bemper bagi si miskin. Dari hura-hura, kehidupan mewah dan gelimang harta, gaya hidup pamer, dan kegilaan belanja membuka banyak lapangan pekerjaan, memberi makan ribuan orang dan keluarganya, menjamin masa depan kanak-kanak duduk di bangku sekolah, mendorong kompetisi ekonomi, dan memperbaiki nasib orang miskin. Jangan memperlama krisis dengan memarkir uang di bank saja. Geliatkan uang itu, beli investasi sesuatu atau malah, nikmati hidup saja dengan berbelanja.</p>
<p>Jumat malam aku bertemu dengan beberapa teman-teman lesbianku. Teman lesbian A membawa hape iPhone-nya yang terbaru. Teman lesbian B memamerkan mobil CRV-nya yang mengilat baru keluar dari <span style="font-style:italic;">showroom </span>tiga hari lalu. Teman lesbian C memberitahu bahwa pengajuan kredit pembelian apartemen dua kamar tidurnya yang menghadap marina sedang diproses. Dan aku? Apa yang kubeli baru-baru ini? Aku menghadiahkan diriku Louis Vuitton <span style="font-style:italic;">monogram wallet </span>sebab aku mendapat kenaikan jabatan bulan kemarin. Oya, mereka bertiga juga mengajakku berlibur di Kura-kura Resort, sebuah vila mewah di pulau terpencil yang jauh dari keramaian kota.</p>
<p>Jadi tunggu apa lagi? Jika Anda berpunya, peduli dengan orang miskin, dan ingin dampak krisis keuangan global cepat dapat diselesaikan, mulailah belanja dari sekarang.</p>
<p>@Sidney, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/03/21/cuci-mata-mari-berbelanja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

