Articles tagged with: ayah
Intermezzo, Tentang Cinta »
Oleh: Justine Ht
Udara kebebasan membelaiku lembut saat kuinjakkan kaki di universitas. Masa aku menjadi terpidana berat telah berakhir. Jadwal sekolah yang ketat, pekerjaan rumah yang segerobak, tas punggung yang isinya lebih berat dari tas para pencinta alam, terpaksa berdiri di depan kelas jika tidak membawa buku teks atau tidak bisa mengerjakan soal. Tidak ketinggalan upacara bendera setiap hari Senin. Bahkan saat ada pelajaran yang gurunya berhalangan hadir pun pasti diisi oleh kepala sekolah yang tidak pernah bosan membahas Pancasila dan UUD45.
Cupid memang anak nakal. Di hari pertama aku di kampus …
Humaniora »
Oleh: Ken Lee
Dulu, dia lelaki yang disiplin dan berwibawa. Pemimpin yang selalu menerapkan kebebasan berpendapat, menentukan pilihan, dan bertanggung jawab atas pilihan tersebut.
Lelaki itu adalah saingan dan sahabat lelaki terbaik yang kumiliki sampai saat ini.
Dia adalah pemainan catur di waktu senggang, menjadi sainganku. Dia juga teman berrsamaku untuk menonton bareng sepakbola dan taruhan tim-tim sepok bola favorit. Kami sering bersitegang tapi akhirnya baikan lagi.Aku tahu dia sering mengalah untukku, seorang “his little girl” yang keras kepala dan penuh ambisi. Dia rela berbagi kemeja jadulnya, celana pendek serta sandalnya. Jadi ingat …
Humaniora, Keluarga »
Oleh: Frizzy Jo
Aku membayangkan lelaki itu pasti iri karena begitu banyak tulisan tentang perempuan sedangkan hanya sekali ini, aku menulis tentangnya. Bukan karena aku tidak sayang padanya. Aku sayang banget sama dia. Lelaki itu pasti tahu, merasakannya. Walaupun aku lebih dekat dengan perempuan, tapi sayangku ke perempuan dan dirinya seimbang.
Aku juga membayangkan dan mengerti bagaimana perasaannya saat semua orang berkata bahwa surga itu berada di telapak kaki perempuan yang telah melahirkan. Seolah-olah keberadaan seorang ayah tidak ada artinya. Dunia seolah runtuh dan surga lenyap setelah seorang ibu pergi. Aku berharap …
Humaniora »
Oleh: De Ni
Untuk Ayahku,
Kemarin aku ke rumah paman. Aku melihat paman begitu kuatir ketika Calista belum pulang hingga jam sebelas malam. Paman berkali-kali meneleponnya, meski pun berkali-kali pula setelah menelepon paman berteriak, “Mail box lagi!”. Paman gelisah, berdiri di dapur, pindah ke ruang tamu, beranjak ke kamar, lalu pergi lagi ke teras. Itulah yang paman lakukan sepanjang menanti Calista. Hingga akhirnya paman memutuskan untuk menunggu Calista di bibir jalan. Malam itu, paman sangat marah, sampai-sampai ingin menampar wajah Calista. Untung tante berbaik hati membela Calista mati-matian hingga kemarahan paman mereda.
Ayah, …





