Hari itu kamu mengirimku sms singkat berisi pertanyaan, “Dear, tanggal jadian kita kapan sih?” Duh, kamu kan tahu aku ini pengingat tanggal yang buruk, kenapa pagi-pagi sudah diberondong dengan pertanyaan yang begitu singkat, padat, dan menikam? Jangankan tanggal, sekarang aku bahkan tidak inget persis kemarin itu tepatnya pagi atau malam kamu mengirimku sms. Ups, maaf ya, dear. Perlu waktu beberapa detik untuk memikirkan jawaban yang tepat, maka kuketiklah sms balasan. “Dear, dulu kan aku pernah bilang, tidak perlu set tanggal tertentu sebagai anniversary, kapan serasa ingin merayakan maka rayakanlah, lagian dengan adanya tanggal jadian cenderung ada juga tanggal putus, dan aku juga nggak terlalu suka hal-hal yang bersifat seremonial seperti itu.”
Oleh: Shinigami
Sejak kemarin Indonesia sudah berusia 65 tahun. Untuk ukuran manusia sudah cukup tua, bisa menimang cucu dan pensiun segala kalau mau, tapi untuk ukuran negara, mungkin umurnya baru cukup untuk masuk TK. Dan bagaimanakah keadaan negara usia TK ini? Jika kita melihat ke belakang dan membandingkannya dengan apa yang ada sekarang, tidak dapat dipungkiri bahwa semenjak kemerdekaan, sudah banyak yang dicapai. Ada pembangunan, ada perbaikan, ada perubahan dan kemajuan. Lalu, kalau kita tarik sedikit teropongnya ke dunia lesbian, seperti apakah kemerdekaan itu terlihat?
Kalau bicara dengan skala negara, 65 tahun kemerdekaan itu belum memberikan kemerdekaan secara hukum bagi para lesbian maupun gay, biseksual, dan transgender. Ketika civil partnership saja tidak diakui, pernikahan homoseksual itu bagaikan bulan bagi si pungguk—saya bahkan tidak tahu apa saya akan masih hidup pada waktu era itu terjadi di Nusantara ini. Read the rest of this entry »
“Hai, apa yang kamu lakukan di hari kemerdekaan?” Itulah topik heboh intro percakapan grup BBM pagi ini. Pertanyaan yang sama memenuhi timeline Twitter.
”Biasa saja, aku nggak melakukan apa-apa, merdeka ya merdeka.” Jawaban malas-malasan, yang barangkali banyak diucapkan oleh banyak lesbian di pagi hari yang mendung.
Menumpang mobilku, usai sahur di pagi buta, sepasang perempuan terbuai dalam kursi mereka masing-masing, perempuan yang lebih kurus menyamankan tubuhnya ke bahu seseorang. Seorang gadis di sampingnya tengah menatap ke luar jendela dan berkata, ”Masih jauh stasiunnya ?” Saya menggeleng mempercepat kendaraan melaju bagai peluru di jalan tol. Pasangan lesbian ini terpaksa menginap dirumahku, karena hubungan tersebut kepergok keluarga, akhirnya diusir, namun kemudian juga dicari. Bolak-balik hape mereka berbunyi penuh ancaman, hinaan, serta kutukan dosa.
Oleh: Arie Gere
Hayo, tunjuk tangan siapa yang suka sama drama Korea atau Jepang yang buang-buang air mata? Hm, berdasarkan penerawangan saya, sesangar apa pun wajah kamu, tetapi kalau ternyata hobinya adalah menonton drama Korea atau Jepang, pasti hatinya selembut es krim deh, gampang meler dan mencair. Film Last Friends ini adalah film drama Jepang bersambung dan pasti buat penontonnya penasaran, karena pengin cepat-cepat menghabiskan sepuluh episode yang ditayangkannya. Ah, tapi kalau kamu membayangkan film ini penuh dengan adegan hot dan erotis, sorry sorry jek, gak bakal ketemu deh. Hanya saja, kalau suka mendengar logat kental Jepang haik, arigato dan moshi-moshi yang diucapkan dengan nada tegas dan pas, akan banyak ditampilkan di film ini.
Oleh: Alex
Tulisan berikut ini terinspirasi karena keseringan nonton kartun, nggak ada maksud untuk mencari-cari tapi mata lesbian saya ini nggak bisa berhenti memicu otak saya untuk memikirkan “kemungkinan” seksualitas mereka. Ambiguitas seksualitas mereka tampak dari penampilan atau subteks yang terlihat melalui “mata lesbian” saya.
Saya yakin anak-anak yang menjadi sasaran film-film ini tidak berpikir semacam itu, tapi sekali lagi, ini mata lesbian saya yang mungkin berlebihan, atau mungkin kamu juga berpendapat sama?
Babi di Chicken Little. Babi dalam film ini menampilkan stereotipe gay, yang memiliki koleksi lengkap CD Barbra Streisand, berkaraoke riang dengan lagu Spice Girls, dan menyanyikan lagu “I Will Survive” dengan penuh semangat. (Buat yang nggak tahu, Barbra Streisand konon memiliki banyak fans dari kalangan gay.) Ia juga naksir si rubah yang tadinya tidak jelas kelaminnya kemudian berubah jadi perempuan pada akhinya.
Oleh: Vianne
Selesai membaca tulisan Living Together beserta semua komentarnya sambil tersenyum-senyum, aku langsung mengambil telepon, berencana menghubungi pacar untuk melaporkan bahwa aku sudah menyelesaikan PR-ku(PR kok baca SepociKopi hehehe.) Dia menyuruhku membaca tulisan itu pasti karena ada sesuatu, kadang ada cerita yang mirip dengan pengalaman kami, atau kadang akan jadi topik obrolan kami berjam-jam di telepon.
Tapi baru saja mau menelepon, ada bunyi SMS masuk. Tanpa membuka, aku tahu itu dari si pacar. Kalau sudah bertahun-tahun pacaran dengan telepon eh, maksudku pacaran lewat telepon, kita akan punya sense, mana sms dari pacar atau bukan. Benar saja tebakanku, ternyata si pacar sedang sibuk menyiapkan buka bersama dengan keluarga besarnya dan baru bisa ngobrol dengan tenang setelah selesai sholat tarwih (sekitar jam 10 malam.)
Dear DoMba yang ngangenin,
DoMba, impian saya sejak kecil adalah menjadi idola. Saya ingin sekali digilai cewek-cewek dan punya banyak fans fanatik yang ngebet ingin ketemu saya. Dari dulu saya sudah coba berbagai cara supaya bisa jadi idola. Tapi kayaknya usaha saya sia-sia. Sampai sekarang belum ada satu orang pun yang berminat jadi fans saya. Eh ada sih, tapi bukan manusia, melainkan anjing saya. Tiap ketemu saya bututnya goyang-goyang, dia langsung jilatin tangan saya dan duduk manis di samping saya. Tapi, belakangan saya tahu bahwa anjing saya melakukan itu bukan karena dia ngefans sama saya DoMba, tapi karena tulang ayam yang sedang saya pegang. Buktinya waktu saya dan anjing saya jalan-jalan di taman, tiba-tiba anjing saya tega meninggalkan saya, dan mengikuti Mbok Ijah pembantu tetangga yang sedang membawa tulang ayam. Hikh!