Oleh: Nuha Guwa
Presiden, raja, syeikh, manajer, kepala, bos, datuk, ibu ketua, apalah namanya hanya sebutan untuk orang yang berkuasa atau yang disebut pemimpin. Dalam bahasa Indonesia “pemimpin” sering disebut penghulu, pemuka, pelopor, pembina, panutan, pembimbing, pengurus, penggerak, penuntun, tua-tua, dan sebagainya. Sedangkan istilah “memimpin” digunakan dalam konteks hasil penggunaan peran seseorang berkaitan dengan kemampuannya memengaruhi orang lain dengan berbagai cara. Istilah pemimpin, kepemimpinan, dan memimpin pada mulanya berasal dari kata dasar yang sama yakni “pimpin”. Namun demikian ketiganya digunakan dalam konteks yang berbeda.
Aku pernah bermimpi tentang dirimu, tidak hanya satu kali namun berulang kali. Memimpikanmu bahkan sebelum aku bertemu dengan dirimu. Aku tahu dengan pasti itu adalah dirimu. Karena apa yang kurasakan saat bersamamu sama seperti yang kurasakan dalam mimpiku. Aku merasa aman dan nyaman berada di dekatmu. Keberadaanmu mengisi kekosongan yang selama ini ada dalam hatiku. Adanya dirimu membuat hidupku terasa penuh.
Masih kuingat dengan jelas mimpi pertamaku tentang dirimu. Kau gandeng tanganku dan kita pun berangkulan dengan sangat mesra, membuat semua orang di sekeliling kita memandang dengan penuh kecemburuan. Mereka semua cemburu padaku karena dirimu. Bahkan beberapa dari mereka menatap dengan pandangan yang seakan berkata padaku betapa beruntungnya aku bisa berdampingan dengan seseorang seperti dirimu. Aku hanya bisa tersenyum bangga dan bahagia kepada mereka. Kau juga membuat mereka semakin cemburu saat kau tarik diriku mendekat dan mengecup pipiku. Tak cukup bagiku, aku pun mencumbu bibirmu dengan lembut. Ciuman pertama kita terasa begitu indah, lembut, dan manis seperti madu.
#11
Oleh: Talitha Anaya
Aku berdiri di ngarai ini
memandangmu jauh di bawah sana
Sakit. Harus melihatmu terberai,
rambutmu masai tercabik ilalang
dan karang tajam
Sakit. Mengingatmu, menepis ulurku
dan memilih keabadian yang tak pernah kita tahu
Angin berdesau di kaki kaku, membujukku melompat menujumu
Read the rest of this entry »

Oleh: Oscar A.
Dunia adalah samudra kesulitan, di seberangnya samudra kemudahan. Dalam kesulitan, semuanya terlihat buram. Lampu-lampu temaram, langit berwajah muram, tak ada senyuman selain wajah-wajah penuh rintihan dan meringis. Apa yang kau ingat tatkala kesedihan itu datang? Sakit hati yang sudah berkarat? Kekasih yang seenaknya meninggalkanmu dan menyayatmu perlahan-lahan? Apa yang kau lihat? Air hujan yang menetes dari sudut atapmu yang sudah bocor? Apa yang kau rasakan? Kepedihan yang tiada tara melebihi sakitnya seorang anak yang ditinggal mati kedua orangtuanya? Apa yang kau inginkan? Kekasih berengsek mu itu kembali pada dirimu, lalu dengan seenaknya menjajahmu kembali seperti yang lalu-lalu? Bangkitlah, berdirilah lalu berjalanlah.
Oleh: Frizzy Jo
Rasanya sudah cukup kita bertanya-tanya dalam dua tulisanku sebelumnya yang berjudul “Karena Aku Adalah Lesbian” dan “Ya, Aku Adalah Lesbian”. Tulisannya memang baru dipublish sekitar sebulan yang lalu, namun jika membaca komentar dari beberapa pengunjung Sepocikopi, sepertinya telah cukup lama kita mempertanyakan keberadaan kita sebagai seorang lesbian.
Menjadi seorang lesbian tidak memerlukan proses pendidikan seperti layaknya kita meluangkan sebagian hidup kita di bangku sekolah. Tidak ada hal yang baku dan mutlak seperti saat kita mempelajari ilmu pasti. Meski pun banyak sekali hal-hal yang berkaitan dengan lesbian dikaji dari sudut pandang psikologi, namun secara sadar sebenarnya kita memahami bahwa seseorang menjadi lesbian bukan karena ia mengalami masalah kejiwaan.
Coba kita pikir lagi, apakah ada yang ingin dirinya menjadi lesbian?
Bertepuk sebelah tangan? Mengagumi dari jauh? Tidak berani mendekati? Begitulah cerita klasik yang sering dialami oleh teman-teman lesbian kita. Bagaimana kita menghadapinya? Dengarkan kisah sahabat kita, Andika Y., yang bercerita tentang obsesinya terhadap kekasih yang tak pernah didapatkannya.
Aku berkenalan dengan dia di sebuah pesta sekolah. Dia kakak kelasku, setahun di atasku. Aku langsung jatuh cinta pada matanya yang sipit tapi selalu bersinar-sinar. Aku juga jatuh cinta pada tawanya, keceriaannya, dan supelnya yang membuatnya dikelilingi oleh banyak teman-teman. Dia adalah ketua OSIS di sekolahku.
Oleh: Sidney
Sering nggak mendengar pernyataan, “Kalau sudah di luar negeri kita baru sadar betapa kita mencintai negeri kita.”? Ya begitulah yang juga terjadi pada diriku. Walaupun ini bukan pertama kalinya aku berada lama di luar negeri, tapi keberadaanku di Bangkok yang sudah memasuki minggu kedua membuatku merasakan cinta yang menggebu. Apalagi dalam situasi bangsa yang dilanda berbagai isu negatif, kita memasuki hari kemerdekaan yang ke-65.
Pada tanggal 17 Agustus kemarin aku tidak libur, tapi masih mengikuti training di Thailand ini. Aku bahkan lupa hari itu HUT RI kalau pacar tidak mengirimiku SMS yang sambil lalu menceritakan hari liburnya karena 17-an. Baru pada saat itu aku merasakan rindu yang sangat besar, bukan hanya kepada pacar, tapi kepada negeriku yang tercinta.