Oleh: Alexhttp://rahasiabulan.blogspot.com/
Seorang Bre Redana pernah menulis tentang Jodie Foster di harian Kompas pada tahun 2002. Hingga saat ini, tulisan berjudul “Jodie Foster: Setelah Hujan Menyiram LA…” merupakan tulisan yang masih terngiang dalam benak saya. Dalam tulisan itu, Jodie Foster yang biasanya tampil sebagai sosok perempuan tangguh dikisahkan sebagai sosok lembut seorang perempuan dan ibu yang rela melakukan apa saja demi keluarga dan anak-anaknya.
Perannya sebagai ibu dalam dunia realitas pula yang membuatnya mengambil peran sebagai ibu dalam film. Lihatlah Panic Room dan Flightplan, dua film yang dikritik habis, di mana …
Oleh: BeningLanjutan dari : Menyibak Pekat
“Dik, singgah sebentar ya, Aa mau beli makan. Kalau mau beli buat sekalian nanti, ayo ikut turun” Kata aa, sambil meminggirkan mobilnya di halaman sebuah restoran padang.
Aku mengangguk, sambil membuka pintu.
Segera setelah di dalam restoran padang aa memilih beberapa lauk untuk di bungkus dan di bawa pulang. Aku memilih ikan bakar, satu. Tapi aa berkeras meminta dibungkusin dua. Tidak seperti biasa, kali ini aku manut. Aku hanya pengen satu kok. Mungkin aa memang pengen juga. Ah, tapi enggak, lauk pilihannya udah cukup banyak. …
Oleh: Alexhttp://rahasiabulan.blogspot.com/
Nggak tau kenapa sejak dulu saya nggak terlalu berminat pada film Jepang dan Korea, mungkin karena film dari dua negara itu biasanya mempunyai alur ceritanya yang lambaaaat, yang saking lambatnya bisa disalip mobil lain, hehehe. Nonton Love My Life saya kembali diingatkan dengan alur lambat ala film Jepang ini.
Love My Life bercerita tentang mahasiswi 18 tahun bernama Ichiko (Rei Yoshii) yang menjalin hubungan lesbian dengan Eri (Asami Imajuku), yang juga masih berstatus anak kuliahan meskipun Eri tidak pernah diceritakan berada di kampus. Ichiko tinggal bersama ayahnya setelah kematian …
“BOJOKU”Oleh: Ratna Indraswari Ibrahimpernah dimuat oleh Kompas, tahun 1997
Ona, mahasiswa S-2 yang tengah studi di negeri ini, membuka tirai apartemennya. Di luar, salju pertama turun di musim ini. Ona menghirup kopinya (pemberian bude dari Malang) kemudian kembali mengetik tugas kuliahnya. Dia harus menuntaskan tugasnya di sore ini!
Selang beberapa lembar mengetik, Ona meluruskan badannya di sofa dan kembali mereguk kopinya yang mulai dingin sampai habis. Lantas, seketika matanya bersirobok dengan foto suami, anak-anak, orangtua, dan budenya.
“Bojoku!” Ona menghembuskan napasnya pelan-pelan.
Malam nanti, ia dan Clara akan keluar bersama untuk nonton dan berbelanja …
Oleh: Lakhsmihttp://jejakartemis.blogspot.com/
Kami bertemu di udara.
Sahabat udara, begitu entitas yang mewakili dirinya, atau diriku. Kami menggunakan medium teknologi untuk bersahabat. Tidak pernah terbayang untuk mereka-reka wajah dan fisiknya seperti apa. Di dunia semesta ini, fisik kami tidak terwujud. Kami adalah zat yang tak berbentuk, dengan sinar kedip-kedip yang menggoda, enerji cahaya yang bersinar-sinar, ataupun jutaan citra yang mengeras lalu melumer bolak-balik seperti mentega.
Pada musim semi tahun 1995, aku memasuki dunia chatting. Itu adalah Dunia Lain, dunia yang tak berbentuk; hanya cair dan longgar, tanpa sekat, terlepas dari tempat maupun hukum kelekatan. …
Oleh: Ade Rain
Ketika terjaga kalender duduk yang ada di samping tempat tidur terjatuh ke lantai. Setelah mengambil dengan malas dan meletakkannya kembali di pojok meja, secepatnya gigi kusikat, kemudian memercikkan air dingin ke wajah di wastafel lalu bersiap menuju meja makan. Harum makanan yang merebak di pagi buta sangat khas sekali di bulan ramadan.
Kusempatkan melongok ke dalam kamar anak, menghirup sejumput aroma bayi sambil memandangi wajah lembutnya. Bau anakku merupakan wewangian terbaik dari apapun di muka bumi, betapa sering hati merindukannya. Dengan satu jari tersusun dibibir mengisyaratkan jangan berisik, patner …
Oleh: Frizzy Jo
Aku masih terlelap di alam mimpi ketika tiba-tiba suara renyah Beyonce Knowles dengan lagu Irreplaceable-nya mengalun dari HP-ku. Uuuh… siapa sih subuh-subuh ganggu orang tidur, kurang kerjaan banget… pikirku kesal sambil mencoba meraih HP di samping kepalaku.
“Halo…,” sahutku dengan suara masih diredam bantal.“Jo…, ini aku.” Sang penelepon berhasil membuatku bangun dengan kewaspadaan penuh. Suara yang sangat kukenal. Suara itu sekarang sedang berlomba dengan isak tangis.“Ssshh… Ada apa, Vin?” Aku berusaha menenangkannya dengan berbagai pertanyaan masih berputar di otakku.“Mama, Jo… mamaku udah nggak ada….” Tangis pun pecah saat …
Oleh: BeningLanjutan dari : Pekat Di Awal Badai
Diam-diam kuseka air mataku. Urusan di Kebon Kacang sudah selesai. Tapi neraka jalanan belum berakhir. Mobil kami hanya bisa bergerak tak lebih satu meter setiap injakan gas. Siksaan tak hanya rasa panas, sakit namun juga berisik oleh lengkingan klakson mobil, entah siapa mendesak siapa.
Akhirnya kami terlepas dari macet setelah berhasil mengambil celah ke jalur kanan dan mengambil jalan putar balik ke JACC. Huff leganya.Kulirik aa yang kepayahan menahan hidungnya yang meler. Ah, dia tidak sedang flu. Baiklah…baiklah… Tanpa berkata apa-apa, kuambil dua …
Topik: Impian Manis di Masa DepanSetelah mendengar aneka cerita di masa lalu, sekaranglah saatnya untuk bercerita tentang masa depan. Tentu saja kita semua tahu manusia merencana, Tuhan jua yang memutuskan. Tapi tidak ada salahnya bermimpi, bukan? Mari, ceritakan mimpi-mimpi kamu bersama pasangan atau seseorang yang bakal kamu cintai di masa depan.
Deadline: 31 Oktober 2007
Saya sih pengin yang sederhana aja deh di masa depan. Fisik sehat, tua bersama-sama, punya rumah tempat bernaung, punya tabungan yang dapat menopang hidup, terus pergi bersama pasangan ke Paris! Pengin lihat Eiffel, duduk di bawahnya, …