Buku&Film: Fingersmith – Kisah Lesbian penuh Twist

14 Sep 2007 In: Budaya/Hiburan, Buku, Film
Viewed 365 times, 3 so far today

Oleh: Alex

http://rahasiabulan.blogspot.com/

Sarah Waters adalah penulis historical (lesbian) fiction terbaik saat ini. Dua bukunya, Fingersmith dan The Night Watch masuk dalam daftar shorlist Man Booker Prize dan Orange Prize untuk tahun 2002 dan 2006. Dua penghargaan bergengsi untuk sastra dunia.

Ia memang spesialis menulis novel-novel lesbian yang bersetting sejarah. Tema disertasi PhD-nya adalah gay and lesbian historical fiction yang kemudian menjadi dasar novel pertamanya Tipping the Velvet yang terbit pada tahun 1998.

Fingersmith bersetting di Inggris pada tahun 1800an. Novel ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama dimulai ketika gadis yatim piatu bernama Sue yang dibesarkan kelompok pencuri di London diminta untuk membantu lelaki yang dijuluki Gentleman untuk menipu harta seorang gadis lugu bernama Maud. Jadilah Sue menyamar menjadi pembantu pribadi Maud di daerah pedesaan. Di situ tugasnya memuluskan jalan Gentleman agar bisa menikahi Maud lalu menguasai harta gadis itu. Sama seperti Sue, Maud juga yatim piatu. Dia dibesarkan oleh pamannya dan harta yang dimiliki Maud baru bisa jatuh ke tangannya jika dia menikah.

Perlahan-lahan di antara Sue dan Mau terbentuk persahabatan yang melebihi persahabatan antara pembantu dan majikan. Dan Sue yang mulai jatuh cinta pada Maud makin lama jadi tidak enak hati mengingat sejak awal dia memang bertujuan menipu Maud. Namun cerita novel ini tidaklah sederhana karena pada akhir bagian pertama, pembaca disuguhi kejutan dahsyat. Pada bagian kedua, narasi pindah ke sudut pandang Maud. Dan baru ditutup lagi pada bagian ketiga oleh Sue.

Novel ini penuh dengan twist, yang bakal membuat pembaca terpelintir terseret masuk ke dalam plot novel. Saya tidak mau bercerita terlalu banyak tentang isi ceritanya karena bakal mengurangi kenikmatan membaca jika saya sudah membocorkan terlalu banyak di sini. Tapi dijamin Anda akan terpukau dengan kehebatan Sarah Waters dalam memesona Anda lewat tulisannya. Beneran deh, ini satu novel yang membuat kita nggak bisa berhenti baca, dan filmnya juga amat “menegangkan”.

Buat Anda yang “malas” baca buku, mungkin bisa menggunakan jalan pintas dengan menonton filmnya yang sudah difilmkan oleh BBC. Filmnya juga tidak kalah seru dan termasuk film yang bisa memindahkan isi buku ke layar dengan baik, tapi kenikmatan membaca buku masih lebih tinggi dibanding menonton film yang berdurasi sekitar 3 jam ini. Oya, kalau Anda menonton DVD-nya, jangan lupa bahwa DVD ini terbagi menjadi 2 bagian, yang bagian keduanya harus Anda pilih di bagian Menu. Jadi film ini tidak langsung 3 jam nonstop.

@Alex, SepociKopi, 2007

Welcome to Jakarta

14 Sep 2007 In: Humaniora, Intermezzo
Viewed 169 times, 2 so far today

Oleh: Ade Rain

Gedung menjulang tinggi mengkerubuti mata di sepanjang Mega Kuningan, Kawasan Niaga Sudirman dan Thamrin, aku berbisik pada diri, “Selamat datang di Gotham City.” Jakarta bagai pemandangan kota-kota buatan di film Batman yang kerap memberikan kesan misteri akan sebuah komunitas masyarakat urbannya. Di bagian sisi lain teriakan para pedagang makanan keliling dan deru lengkingan bajaj saling menjerit, sangat terasa kota ini menyajikan ruang hidup penuh tantangan bagi siapa saja yang berada di sana.

Mata berpendendar di antara ratusan mal yang bermunculan, hiruk-pikuk manusia langsung mengintimidasi pikiran. Semua urusan birokrasi melesat lincah mengurusi aneka pekerjaan, namun dalam keadaan otak tumpul sebuah cafe yang padat pengunjung sangat cocok sebagai ruang termenung yang sangat nikmat. Di saat itulah tersadar betapa Jakarta semakin berani saja dari tahun ke tahun. Orang-orangnya tak lagi menjadi preman di kumpulan kampung-kampung kecil, namun sudah menjadi jutaan eksekutif kerah putih di residensi kondominium modern.

Di sana ada puluhan juta keunikan manusia yang rapi, lincah, sigap, pintar, gelap, hitam rahasia, menakutkan dan benar Jakarta kemudian menjadi tempat mahal yang penuh problem. Di kota ini pepohonan hutan kotanya beraroma bubble gum, lampu pengatur lalulintas terasa rasberry, bis Trans Jakartanya bercita rasa grape, taksi-taksi yang beragam nama itu seasam pineapple. Aneka rasa itu juga terhidang dalam berjuta macam billboard mulai yang hanya diletakkan dalam sepotong papan kecil, hingga satu dinding penuh kata-kata yang terdengar asing.

Menatap grafiti di sepanjang beton jembatan layang dengan campur aduknya bahasa, terasalah Jakarta bagaikan New York yang membingungkan. Detail semua ini semakin terasa ketika memasuki mal, tempat semua produk di muka bumi ini dipasarkan dengan sangat cerdas, dan di antara beragam suku di dalamnya juga tak sulit menemukan sepasang homoseksual.

Mata akhirnya terjerat jajaran jaket winter yang sangat modis, hampir setiap interval etalase yang terpandang hanyalah baju-baju model musim dingin. Jika dijual pada waktu musim panas seharusnya obral setengah harga. Melihat sebuah desain semi mantel sebetis yang dipenuhi dengan beludru tebal, tak terbayang jika jubah tersebut dipakai di jalanan kota yang panasnya bisa mengasinkan seluruh tubuh. Entah mengapa pikiran terdogma suasana summer yang tak terkira di negeri sendiri. Pikiran kacau mencoba meyakinkan baju-baju itu memang dijual di kota Jakarta yang panasnya bisa sampai 34 derajat Celcius.

Harga jaket sejuta rupiah bisa dipastikan merupakan harga diskon, di negara yang bermusim empat jika dijual pada musim yang tepat, baju-baju hangat itu bisa sekitar 300 hingga 500 Euro. Ketika pikiran masih sibuk siapa yang akan membeli barang-barang tersebut, mata mengarah ke bawah, deretan sepatu desain winter yang tingginya di atas mata kaki memanjang penuh di bawah kaca. Tak jauh dari sana terlihatlah sebuah meja panjang seukuran lutut berisikan baju-baju bertuliskan Le Feu yang bergambarkan kehidupan kaumku.

Motif lukis bergaya fine art ini dipamerkan di lorong jalan utama, tempat di mana semua pengunjung toko melihat-lihat sambil berseliweran ke bagian etalase lain. Anak-anak kecil pun bisa memandang ke arah lukisan romantis motif utama bagian depan baju tersebut. Sepasang perempuan sedang duduk manis di taman, sang andro memakai jas rapi, memakai sepatu tumit tinggi dipangku dengan mesra oleh perempuan yang memakai gaun modis. Motif baju di sebelahnya bercorak lebih indah lagi, femme berpakaian anggun memberikan tangan kirinya dicium perempuan bergaya androgini. Semua yang melihat akan mudah menyadari bahwa dua perempuan di motif itu sedang saling jatuh cinta.

Aku terperangah, barang-barang sedemikian dijual di tempat umum, ini negaraku atau bukan ya? Diri mencoba meresapi aroma mal, merasa bodoh, tumpul, tak sensitif, kuhirup lagi udara di sekelilingnya tetap saja itu bau Jakarta bukan Paris, Bonn, atau Vienna. Mata melahap habis satu per satu mimik pengunjung dalam sebuah outlet merek mode terkemuka tersebut, mereka berbahasa Indonesia kok. Sambil jalan pulang bersama kekasih aku masih terus saja terperanjat dengan barang dagangan berbudaya lesbian yang dijual di sana. Dalam hati mungkin sang empunya outlet ingin meramahkan dunia homoseksual bagi warga Jakarta.

Saat pindah ke mal lain masih di hari yang sama, sebuah tempat pajangan handphone menangkap signal yang sama, sebuah kotak tempat menyimpan rokok bergambar dua perempuan tanpa busana saling berpelukan memandang penuh gairah cinta.

Kembali aku melotot ke arah kekasih… dengan gamang memegang tangannya, “Kita benar masih berada di Jakarta kan, Hun? Kok gambarnya beginian sih, emang ada perempuan-perempuan yang begitu di Jakarta?” Aku bertanya dengan muka sok naif sambil cengengesan.

“Wah jangan salah, mbak, itu laku banget lho…” Sambil ketawa pegawai toko mengambilkan kotak itu sambil meletakkanya di atas etalase kaca mencoba menjualnya padaku.

Kami berdua melengos pergi, kerongkongan tersekat, masih terkaget dengan dua tanda-tanda dunia lesbian tadi. Sampai akhirnya melewati deretan kotak penjual DVD, dan ”Tuh lihat…” Kekasihku menunjukkan jarinya ke sampul DVD dua perempuan saling berciuman bibir di bagian terdepan tumpukan DVD yang dipajang menjorok ke arah penjualnya. Mata mendelik tak percaya, DVD tersebut menjadi pemancing utama agar pengunjung berhenti di toko mereka.
Napas tersengal, keluar dari semua tempat itu kuperhatikan baik-baik semua hal di sekeliling, benar di sana ada Monas, ada tugu Pak Tani, patung Pembawa Obor, patung Kereta Arjuna dan kuda-kudanya. Semakin jauh ke arah bundaran HI kulihat tugu selamat datang Jakarta .., agar merasa yakin kukatakan keras-keras pada sosok diriku yang lesbian: ”Welcome to Jakarta…”

@AdeRain, SepociKopi, 2007

*spoiler alert*

Sekali lagi saya ingin mereview film secara 2in1, secara dua film ini serupa tapi tak sama. Common Ground adalah film televisi tahun 2000 hasil produksi Showtime yang berisi tiga cerita pendek kehidupan gay di kota kecil (fiktif) bernama Homer di Connecticut. Film ini disutradarai oleh Donna Deitch, yang pernah menyutradari film lesbian, Dessert Hearts. Masing-masing skenario dalam tiga cerita di film ini ditulis oleh Paula Vogel, Terrence McNally,dan Harvey Fierstein. Dalam Common Ground kita bisa melihat bagaimana mereka yang hidup dan tinggal di Homer melalui sudut pandang Johnny Burroughs (Eric Stoltz) menyaksikan perubahan sosial hingga akhirnya mereka “menerima” kaum homoseksual di kota itu.

Segmen pertama film ini berlangsung tahun 1954, ketika Dorothy Nelson (Brittany Murphy) pulang ke Homer, Connecticut, setelah dipecat secara tidak hormat dari US Navy gara-gara kedapatan berada di bar khusus homoseksual. Ketika penduduk kota tahu Dorothy dipecat dari ketentaraan karena lesbian, bahkan ibunya pun mengusirnya dari rumah. Akhirnya Dorothy menyadari bahwa Homer mungkin belum bisa menerima kehadiran homoseksual. Dan tidak ada jalan lain bagi Dorothy kecuali pergi dari kampung halamannya.

Segmen kedua bersetting tahun 1974, tentang penganiayaan yang dialami siswa SMA bernama Tobias (Jonathan Taylor Thomas) karena ketahuan gay. Dan bagaimana guru bahasa Prancisnya, Gil Roberts (Steven Weber) yang juga gay, membela Tobias. Gil terpaksa coming out ketika Tobias dihajar sampai luka parah dan Tobias akhirnya memilih meninggalkan Homer untuk melanjutkan kuliahnya.

Segmen terakhir berlangsung pada tahun 2000. Berkisah tentang Amos (James LeGros) yang gugup menjelang pernikahannya dengan Andy. Pernikahan itu sendiri diwarnai dengan demonstrasi oleh penduduk Homer yang menentang pernikahan sesama jenis. Percakapan Amos dan Ira (Ed Asner), ayahnya, mengangkat berbagai isu homoseksual menjadi penutup dan klimaks dari perjuangan homoseksual di Homer sejak lebih dari setengah abad lalu.

Jika Common Ground berfokus pada kisah gay, If These Walls Could Talk 2 yang diproduksi HBO juga dalam tahun yang sama, berfokus pada kehidupan lesbian. Selain itu masing-masing segmen cerita dalam If These Walls Could Talk 2 disutradari oleh tiga sutradara berbeda yang semuanya perempuan.
Benang merah yang menghubungkan ketiga cerita yang berlangsung selama hampir setengah abad adalah rumah yang sama yang jadi setting tempat cerita ini.

Pada tahun 1961, rumah itu dihuni pasangan lesbian manula bernama Edith (Vanessa Redgrave) dan Abby (Marian Seldes). Ketika Abby meninggal dunia, keluarga Abby yang tidak memahami hubungan Abby dan Edith malah berencana menjual rumah tempat tinggal pasangan itu. Edith yang tak berdaya hanya bisa pasrah karena rumah itu memang terdaftar atas nama Abby dan tidak ada ikatan legal antara mereka meskipun mereka sudah berpasangan selama puluhan tahun.
(Saya angkat topik pada akting Vanessa Redgrave dalam segmen ini.–red)

Pada tahun 1972, rumah itu jadi tempat tinggal anak kuliahan, Michelle (Amy Carlson), Linda (Michelle Williams) Karen (Nia Long), and Jeanne (Natasha Lyonne). Empat perempuan itu kebetulan feminis lesbian yang aktif dalam gerakan di kampus. Masalah muncul ketika Linda jatuh cinta pada Amy (Chloe Sevigny), butch yang menjurus ke transeksual. Bagi sahabat-sahabatnya, Amy adalah sosok yang tidak sesuai bagi perjuangan feminis/lesbian yang mereka perjuangkan selama ini, karena Amy dianggap sosok yang tidak perempuan dan juga tidak laki-laki.

Pada tahun 2000, Fran (Sharon Stone) and Kal (Ellen DeGeneres), pasangan yang sudah hidup bersama selama beberapa tahun di rumah itu memutuskan untuk memiliki anak untuk melengkapi ikatan mereka. Berbagai cara mereka diskusikan agar mereka bisa punya anak, mulai dari adopsi, bank sperma, hingga meminta sperma pada sahabat gay mereka.

Dalam ketiga cerita di dua film di atas kita bisa melihat bagaimana masa berganti dan masyarakat mengalami perubahan cara pandang atau bahkan ada yang masih tidak berubah sejak setengah abad lalu. Common Ground dan If These Walls Could Talk 2 mengajak kita kembali ke belakang, merefleksikan kembali perjuangan yang mungkin terlupakan saat hidup sudah lebih nyaman sekarang dengan melihat kehidupan yang dialami oleh pendahulu kita. Dua film ini lumayan jadi tontonan yang mengisi otak bersama pasangan kita pada akhir pekan. Dijamin habis nonton pasti kita bisa debat sama pasangan nonton kita tentang segmen-segmen dalam kedua film itu.

@Alex, SepociKopi, 2007

Kuntum Luruh

11 Sep 2007 In: Humaniora, Your Story
Viewed 78 times

Oleh: Jupiter

Beranjak dewasa, ketika aku mulai mengadu nasib di luar kota, aku menemukan ternyata sebagian dari sahabatku mempunyai perbedaan yang serupa. Berdasarkan kisah cinta mereka, aku mendapat keberanian untuk mulai mendekati sosok gadis yang selama ini selalu aku puja.

Awalnya dia tidak mempunyai perasaan yang sama, dia hanya menganggap aku sebagai kakak. Namun seiring berjalannya waktu dan karena gigihnya perjuanganku, perlahan gadis yang aku puja mulai menunjukan gelagat yang sama. Berkat kesabaranku dalam meluluhkan keteguhan hatinya, tidak sampai satu bulan, akhirnya dia membalas menggenggam erat uluran kasih yang aku tawarkan.

Sembilan tahun kami menjalani hidup bersama dengan penuh rasa bahagia.

Ya. Sembilan tahun.

Komitmen kami yang tidak saling mengekang kebebasan dan selalu menjunjung tinggi kepercayaan telah membuat tahun-tahun yang kami jalani begitu terasa sangat nyaman dan melenakan. Meski tak jarang ada perbedaan-perbedaan kecil yang menimbulkan rasa sensi di hati kami. Namun semua itu malah semakin membuat kami tidak dapat terpisahkan. Virus ketergantungan mewarnai hubungan kami.

Walau begitu, kerahasiahan hubungan kami tetap tersimpan dengan sangat rapi. Keakraban kami di mata keluarga besar membuat mereka percaya kalau kebersamaan itu memang wajar adanya, layaknya hubungan antar saudara.

Seiring bertambahnya usia, satu per satu masalah mulai muncul. Pertanyaan demi pertanyaan mulai memojokkan status kesendirian kami. Di mata keluarga, kami dianggap sudah sangat matang untuk membina satu keluarga yang ”sebenarnya”.

Tekanan yang lebih besar muncul dari keluarga besarku. Di usiaku yang sudah menginjak kepala tiga dan di antara enam bersaudara, tinggal aku sendiri yang masih tetap mempertahankan kelajanganku. Meski aku selalu berkelit dengan berdalih belum menemukan calon pasangan yang sesuai, namun lama kelamaan mereka mulai curiga pada kedekatanku dengan partner, yang memang selalu aku manjakan.

Segala cara mereka lancarkan, agar aku bersedia untuk segera berumah tangga. Mulai dari pembahasan di dalam keluarga seputar pembukaan aura jodohku sampai bantuan orang-orang yang dianggap bisa mengusir ”bala” pada hubungan kami, yang mulai dianggap sudah di luar batas kewajaran.

Berdasarkan informasi dari salah satu saudara yang pro pada kedekatan kami, ternyata keluarga besarku mulai menimpakan kesalahan ”kesendirianku” pada partner, yang sebelumnya sudah mereka perlakukan sebagai anggota keluarga sendiri. Tanpa sepengetahuanku, mereka meminta partner untuk mulai mengurangi porsi kebersamaan kami. Partner sama sekali tidak pernah mengutarakan hal ini kepadaku. Dia hanya mengambil sikap diam, dan selalu menolak apabila aku ajak mengunjungi orang tuaku.

Berawal dari dilema yang terus-menerus mewarnai hubungan kami, perlahan keterbukaan di antara kami mulai berkurang. Meski masih bersama, namun kami menjadi semakin jarang berbicara, terutama kalau sudah menyangkut masalah keluarga. Sampai pada akhirnya secara terang-terangan partner mulai mencoba menjalin hubungan dengan seorang pria asing, yang notabene adalah salah satu customer di perusahaan tempat kami bekerja.

Mengetahui hal tersebut, aku benar-benar merasa terpukul. Namun aku tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah pelariannya tersebut. Aku sangat memahami perasaan sakit hati partner akibat tudingan yang dilancarkan oleh keluargaku. Sepertinya dia ingin membuktikan pada keluargaku kalau kebersamaan kami ini bukan lantaran dia sudah tidak dilirik oleh lawan jenis.

Tiga bulan partner menjalin hubungan dengan pria asing customer kami tersebut. Dan selama itu pula rahasia demi rahasia mulai mewarnai kebersamaan kami. Perlahan, kepercayaan di antara kami mulai memudar.

Pada suatu malam seorang pria asing yang dikenalnya melalui salah satu Friendster, datang bertamu ke rumah kami. Dia sengaja datang dari negaranya, untuk berkencan dengan partner. Singkat cerita mereka pergi berkencan ke daerah pantai yang letaknya berada di ujung ibu kota. Malam itu aku masih tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan ketika mereka pamit pun, aku hanya sanggup mengecup kening partner serta berpesan untuk hati-hati dalam menjaga diri. Saat itu partner hanya tersenyum. Sepintas kulihat sorot matanya begitu berbeda, seolah ada kabut yang menyelimuti cerianya.

Sepeninggal mereka, aku langsung terpuruk luruh di dalam sepinya kamarku. Aku benar-benar merasa menjadi pecundang karena tak mampu lagi menghibur dan melindungi orang yang sangat aku sayang. Semenjak saat itu aku tak pernah berhenti menyalahkan diri sendiri dan perlahan-lahan kehilangan rasa percaya diri.

Hampir setahun keadaan seperti itu terus berlanjut. Dilema perdebatan keluarga yang kami hadapi telah sanggup menciptakan jarak pada kebersamaan kami. Tanpa kami sadari, kami telah berubah menjadi sosok orang-orang yang selama ini selalu kami hindari. Aku berubah menjadi sosok orang yang sangat pendiam dan selalu menutup diri, sementara partner berubah menjadi sosok gadis liar, yang seolah tak pernah bosan terus berganti pasangan.

Awal tahun 2005, atas nama saling introspeksi diri dan dengan tujuan agar tidak saling menyakiti. Akhirnya dengan berat hati kami sepakat untuk berpisah sementara. Kami tidak sadar, kalau ternyata kesepakatan yang telah kami pilih tersebut merupakan kesalahan kami yang sangat fatal.

Tahun pertama, kami masih bisa saling mengungkapkan rasa sayang meski hanya melalui fasilitas jaringan.

Tahun kedua, keakraban di antara kami sudah mulai terasa hambar. Semakin hari aku semakin tidak bisa mengerti jalan pikiran partner.

Tahun ketiga, petualangannya dengan berbagai macam lelaki, perlahan tapi pasti telah sanggup menumbuhkan rasa jijik di dalam diriku. Walau tak bisa kupungkiri, rasa sayangku kepada partner tak pernah berubah. Namun aku mulai kehilangan semangat untuk bisa memperbaiki hubungan kami kembali.

Di antara petualangannya, partner mulai menaburiku dengan berbagai dalil yang mengatas namakan larangan agama.

Dalam sendiri, kugoreskan sebaris tanya kepada Sang Maha Pencipta. Benarkah segala rasa yang aku punya, hanya merupakan ujian semata? Mengapa dorongan hasratnya begitu kuat, hingga membuat aku selalu merasa tersiksa?

@Jupiter, SepociKopi, 2007

Sayang, Bikin Anak Yuk

10 Sep 2007 In: Humaniora, Thoughts
Viewed 63 times

Oleh: Bening

Malam sudah semakin tua, beranjak dini hari. Namun mata masih enggan untuk terpejam. Kamu sudah tidur sejak tadi, naik ke ranjang dengan kepala berat dan tubuh yang letih. Ingin sekali rasanya meredakan penatmu dengan sedikit pijatan, tapi kusadar itu hanya sebatas keinginan, tubuhku dan juga pikiranku sedang tidak bisa diajak kompromi untuk bersantai. Begitu banyak hal yang berjejalan di dalam kepala membuat hasrat untuk bermesra menguap entah ke mana.

Aku merindukamu… sangat rindu. Kamu kan tau, rindu hadir tak peduli meski engkau hanya sejengkal di sampingku.

Hal ini bukan baru ini saja terjadi, aku selalu takut kesibukan membuatkan aku dan kamu semakin terbiasa berjalan sendiri. Membuat aku dan kamu tidak memiliki momen untuk bersama.
Hidup mengalir tenang. Hanya ada ceritaku, ceritamu. Aku takut semakin tak ada cerita yang bisa kita tuturkan tentang kita, atau tentang sesuatu yang selalu membuat mata kita sama berbinar olehnya, tentang anak kita, misalnya…

Saat aku cerita tentang lelahku, lelahmu juga begitu. Tak ada hal yang membuat lepas lelah kita pada saat yang sama. Aku kerap melihat seorang anak memiliki keajaiban yang mampu menyihir lelah orangtuanya menjadi tenaga, menyihir pedih menjadi sukacita. Dan aku menginginkannya.

Saat engkau gundah, pelukku menenangkanmu. Saat aku gamang dekapanmu membuatku tenang. Tapi saat kita sama-sama resah, tak ada ramuan yang sekejap menyembuhkan sebagaimana ramuan yang dimiliki seorang anak lewat ocehan cadelnya, bening matanya atau damai lelap tidurnya yang membuat kita yakin hidup dan hari esok akan tiba sebagai anugerah, tak ada yang perlu kita cemaskan.

Kita pernah baik-baik saja dalam bersendiri, tapi kehadiran satu sama lain membuat hidup kita lebih indah dan lebih utuh. Ternyata berdua jauh lebih baik. Dan kini, tiba-tiba aku merasa inginkan seorang malaikat kecil, membuat lengkap jiwa kita dari dua menjadi tiga, membuat dunia kita lebih ceria dengan tangis dan tawanya.
Sayang, bikin anak yuk…
:(
Serius….

@Bening, SepociKopi, 2007

Me Against The World

10 Sep 2007 In: Humaniora, Thoughts
Viewed 65 times

Oleh: Lakhsmi
http://jejakartemis.blogspot.com

“Kamu pernah dilecehkan oleh masyarakat?”
“Karena hubungan lesbianku dengan Alex?” Aku agak gagap.
“Iya.”
“Nggak pernah.”
“Aku pernah.”
“Kok bisa?”

Obrolan YM yang dimulai dengan santai menjadi agak tegang. Sebenarnya, aku yang tegang, bukan dia. Dia sendiri tampaknya bersemangat membagi pengalamannya yang sangat penting untuk dijadikan contoh kecil tentang hak asasi manusia. Sementara aku sendiri? Seperti kataku tadi, aku tegang. Belum apa-apa, aku sudah membayangkan adegan-adegan ngilu yang bakal diceritakan oleh temanku.<
Dan betul saja… dia bercerita tentang pelecehan yang dialaminya. Bukan hanya pelecehan dirinya tapi obrolan kami berlarut-larut pada cerita lain yang tak kalah menyedihkan tentang kaum homoseksual.

“Emangnya lu berciuman hot, sekalian grepe-grepe di depan orang-orang?”
“Nggak juga. Hanya gandengan.”
“Kok bisa?”

Aku terpesona. Aku hanyalah perempuan lesbian yang bekerja tiap hari tanpa henti, dengan dunia yang tidak berhubungan dengan dunia perjuangan homoseksual. Aku juga seorang ibu, yang kesibukannya nggak jauh-jauh dari memikirkan menu makanan yang sehat, mengawasi perkembangan anakku, sibuk menyiapkan aneka pekerjaan sekolah, mengajar si kecil membaca. Sama sekali tidak mempunyai waktu maupun tenaga untuk kegiatan yang lainnya, selain tentu saja, rekreasi untuk menyegarkan pikiran dan perasaan. Mendengar cerita-cerita tentang penyiksaan fisik dan diskriminasi kaum homoseksual seperti menonton film Hollywood atau mendengar berita tentang perang di CNN.

‘Kok bisanya’ aku terus melantur sampai aku bertemu dengan partner pada sore harinya. Partner juga punya seribu cerita tentang kekerasan pada homoseksual yang diceritakan oleh teman-temannya. “Pernah mengalami sendiri? Melihat dengan mata kepala sendiri? Menjadi saksi atau apalah?” tanyaku menekankan. “Nggak, nggak pernah,” katanya. Lagi-lagi aku terpesona.

“Kok bisa?”

Aku nyaris memukul kepalaku dengan ulekan sambel. Lupakan kata ‘kok bisa’ itu. Sekarang saatnya untuk tidak berpikir naif. Ini adalah kenyataan di luar sana. Kenyataan dengan huruf kapital. Kenyataan itu bukan kenyataan yang kuhadapi setiap hari. Kenyataan tentang teman-teman lesbianku sebagai perempuan-perempuan yang hidupnya nyaman-aman, tenang, mempunyai pendidikan dan status, sebagian kaya raya, dan sebagian lagi mempunyai anak-anak yang menjadi kebanggaan dan harapan bangsa. Kenyataan tentang teman-teman lesbianku yang kalau lagi kangen, wara-wiri ketemu di restoran atau bistro dengan musik jazz yang asyik dan harga makanan yang selangit.

Apakah aku tidak peduli dengan perjuangan kaum homoseksual?

Perjuangan. Ah, kata yang sangat mahal harganya di kamus kosakataku.

Aku berjuang agar pekerjaanku dapat diselesaikan tepat waktu. Aku berjuang agar kehidupan rumah tanggaku stabil dan aman. Aku berjuang agar cintaku pada Alex terpupuk dan tumbuh subur. Aku berjuang agar aku tidak dihantui oleh kebencian, kegetiran hidup, atau rasa putus asa. Aku berjuang agar sekolah selalu menjadi tempat yang aman bagi seluruh anak-anak. Aku berjuang agar pada akhir hari, apa yang kukerjakan adalah hal layak kukerjakan.

Bukannya aku nggak simpati dengan perjuangan teman-teman lesbian terhadap diskriminasi homoseksual. Bukan juga aku hendak melukai hati para sista yang telah mati-matian melawan. Dalam sudut hatiku, sejujurnya aku merasa sentuhan empati itu. Sejujurnya, aku pun merasa ikut terkoneksi.

Tapi mau bagaimana lagi? Aku lelah membayangkan perjuangan jenis itu. Aku lelah dengan keseriusan aneka diskusi masalah feminisme, jender, dan homoseksual. Aku lelah meribetkan hal-hal yang tampaknya di awang-awang, sangat nggak pararel dengan hidupku. Aku lelah dengan hari-hariku, nggak punya ekstra tenaga untuk mengurus perjuangan ideologi kaum homoseksual. Aku lelah dengan distraksi yang mengganggu kesibukanku. Sebut saja aku lesbian yang nggak peduli. Sebut saja aku lesbian yang sok mapan. Sebut saja aku lesbian yang pengecut atau mau enaknya sendiri. Bagiku, menjadi lesbian aja udah sulit, lalu kenapa makin dipersulit dengan melawannya? Bagiku, ikuti saja arus ombak, dan jadilah peselancar yang asyik. Gosong di bawah cahaya matahari, dekat dengan keindahan alam.

@Lakhsmi, SepociKopi, 2007

Jangan Takut Jika Harus Sendiri

9 Sep 2007 In: Bumbu Rahasia, Relationship
Viewed 115 times, 1 so far today

Oleh: Nat

Sekali lagi, ini tentang KDRT. Tidak bosan-bosannya kita akan membahas tentang hal ini karena ini satu sisi yang paling perih dari hubungan kasih. Yaitu saat orang yang kita cintai memilih untuk menyakiti kita lebih dari dia menyayangi kita. Baik kekerasan fisik maupun verbal, keduanya sama merusaknya, atau bahkan banyak yang menggabungkan dua jenis kekerasan ini, amat menyakitkan.

Saya baru saja pulang dari luar kota, di mana saya menjadi saksi dari hal ini. Ada sepasang kekasih butchie dan femme, sebutlah namanya Miko dan Ani. Miko adalah teman lama saya sejak SMA, salah satu my treasured people, saya menyayanginya. Miko secara fisik terlihat perkasa, kuat, dan gagah. Tapi hatinya lembut dan sungguh penyayang. Dia cukup lama berhubungan dengan Ani, femme, teman kuliahnya dulu.

Sejak awal memang hubungan itu tidak sehat. Ani promiscuous, Miko one person person. Ani memiliki banyak pasangan laki-laki, baik tetap maupun tidak tetap. Miko tetap mencoba setia, menerima apa adanya, menerima bahwa suatu hari nanti dia akan melepas Ani pergi untuk menikah dengan laki-laki. Ini titik lemahnya. Miko menjadi permisif, walau tentunya dengan terpaksa, terhadap sepak terjang Ani di dunia perlaki-lakian. Yang ternyata kiprah Ani bukan hanya untuk tujuan mulia manusia pro reproduction, tapi juga, sebagian besar, pro pleasure.

Miko berlapang dada dengan hal itu, dia sangat mencintai Ani, dan celakanya, hal ini sangat disadari Ani. Ani lalu melakukan hal-hal yang memang akan dilakukan bila seseorang merasa di atas angin. Dia melampiaskan semua emosi nagatif kepada Miko. Dia menyiksa batin Miko dengan datang dan pergi sesukanya, menyiksa Miko dengan kata-kata pahit, dan yang terakhir, menyiksa Miko secara fisik dengan memukul. Ironis sekali, padahal bila Miko mau, sekali dia balas memukul, Ani akan mendapat akibat yang fatal. Karena Miko tidak membalas, Ani semakin brutal, dan terakhir, dia memukul Miko sampai pingsan, karena tepat telak di bagian kepala yang paling ringkih.

Yang saya ingin sampaikan adalah, cobalah untuk memilih pasangan dengan bijak. Jika sebelum resmi jadi pasangan kita sudah tahu bahwa dia memiliki sejarah suka menyiksa, kalau bisa janganlah dilanjutkan. Atau jika dalam suatu hubungan pasangan kita mulai menyiksa, segeralah pergi. Kalau dia memukul Anda sekali saja, dia akan memukul Anda lagi. Kita semua berhak dicintai, dan orang yang mencintai kita bahkan akan rela menggantikan kita menderita, bukan menciptakan penderitaan baru buat kita. Jangan berpikir bahwa Anda bisa mangubah seseorang, karena tidak mungkin. Sekali kita sudah memilih, kita harus merasa nyaman baik dengan kelebihan maupun kekurangannya. Dan sifat suka menyiksa adalah bukan sifat yang harus ditolerir. Satu langkah untuk Anda: pergi.

Sebenarnya saya merasa aneh, banyak sekali dalam kasus KDRT seperti ini, baik pasangan lesbian maupun straight, pihak yang disiksa sepertinya sangat sulit meninggalkan pasangannya yang suka menyiksa ini. Dia hanya khilaf, dia minta maaf samapi menangis, dia berjanji untuk tidak mengulanginya, dan berbagai macam alasan lainnya. Saya sempat berpikir, apakah ini semangat martir, semangat rela berkorban demi cinta. Satu pesan saya: mohon dibedakan antara rela berkorban dengan menipu diri.

Dari semua alasan mengapa para korban KDRT sering sulit meninggalkan pasangannya sebenarnya bisa dibilang bersumber dari keinginan bawah sadar untuk tidak ingin sendirian. Oh rasanya seperti mau mati bila berpisah darinya, misalnya begitu ungkapannya. Itu kan hanya rasanya. Tidak ada orang yang jatuh dan mati seketika akibat harus meninggalkan pasangan yang masih dicintainya. Sayangilah diri Anda terlebih dahulu sebelum berharap disayangi orang lain secara pantas. Hargailah diri Anda sendiri, Anda manusia penuh martabat, tidak ada seorang pun yang boleh merendahkan diri Anda dengan segala siksaannya.

Jangan takut jika harus sendiri. Jika kita nyaman dengan kesendirian kita, merasa penuh dan lengkap secara pribadi, kita akan memancarkan aura bahagia. Aura bahagia yang positif itu akan ditangkap oleh orang-orang yang positif juga, orang-orang yang akan mampu mencintai dan menghargai Anda dengan pantas. Jika sudah terjebak dalam hubungan yang abusive, beranikan diri untuk pergi. Lebih baik sendiri saja dulu, menata kembali hidup dan jiwa, sambil terus menantikan datangnya orang-orang baik dalam hidup kita. Bila Anda percaya kepada Tuhan, berdoalah. Bila lidah rasanya tidak mempu berucap, setetes air mata pun sudah merupakan doa. Dengan segala kerendahan hati saya mengajak: marilah percaya, segala sesuatunya akan baik adanya.

@Nat, SepociKopi, 2007

Esensi Espresso


Lesbian, ketika September menjelang, apa yang teringat? Apakah ingat lagu September Ceria? Lagu lama tapi rohnya masih terasa hingga sekarang. Ya, semoga September ini selalu menjadi hari-hari yang menggembirakan kita semua. Senang sekali kalau kita bisa merasakan keceriaan di antara teman, di antara keluarga, di antara masyarakat.

Lesbian, bulan ini juga, bagi kaum Muslim, kita akan merayakan Lebaran. Apa arti Lebaran bagi kita semua? Lebaran adalah penyucian diri setelah sebulan penuh berpuasa menahan segala godaan tubuh dan jiwa. Ingat loh, godaan. Tuhan menciptakan Yin-Yan, lawan atas segala sesuatu. Kesucian tercipta karena ada godaan. Puasamu penuh dan tidak bolong? Berterimakasihlah pada godaan, karena dengannya, kita bisa mencapai kemenangan.

Lesbian, selamat merayakan Lebaran, selamat bersilahturahim kepada sesama sahabat, keluarga, lingkungan, dan orang-orang yang membenci/menjatuhkanmu. Berikan pintu maaf selapang-lapangnya, bukan saja kepada mereka yang (hanya) berbuat baik padamu, tapi khususnya kepada mereka yang (selalu) berbuat buruk. Minal Aidin wal faizin, maaf lahir batin. Semoga teman-teman lesbian bisa menjadi sumber kebaikan di mana-mana.

Stop Press!

Para pencinta SepociKopi,

Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.

Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!

Salam SepociKopi!

CHECK THIS OUT

  • Camilan Sepoci Kopi Teman Minum Kopi yang Lezat

  • Say It Out Loud! Topik Bulan September 2010: Keceriaan Bersama Teman Lesbian

  • Community and TravelingLesbian Indonesia di berbagai penjuru kota dan sudut dunia


  • The Planets Semesta Dunia Lesbian yang Tak Berbatas
  • Senggolan SepociKopi

    Friendly Reminder

  • Tulisan-tulisan situs SepociKopi adalah karya dan kreasi para penulis lesbian.
  • Redaksi meminta dengan hormat kepada para pangunjung dan pembaca setia kami untuk tidak melanggar kode etik serta menghormati hak cipta para penulis.

  • Silakan mengutip tulisan di situs ini, tapi harap cantumkan nama penulis yang bersangkutan dan sertakan link alamat SepociKopi (http://www.sepocikopi.com)

  • Terima kasih atas kehormatan yang diberikan kepada kami agar kami dapat terus berkarya di masa depan

  • Redaksi memoderasi semua komen yang masuk

  • Redaksi berhak menghapus komen yang bersifat SPAM, menyerang, menghina, fitnah, melecehkan, curhat berlebih, SARA, obrolan chatting, atau tidak relevan dengan isi tulisan.
  • Kategori

    Arsip SepociKopi

    .: SELAMAT DATANG :.


  • Home
  • Opini
  • Budaya/Hiburan
  • Berita
  • Humaniora
  • Buku Tamu

  • Rubrik Tetap

  • Tajuk - Suara aktual, berita terhangat

  • Cerpen - Nikmati cerpen bertema LGBT karya penulis Indonesia yang telah diterbitkan di media umum

  • Bengkel Menulis - Tempat untuk meningkatkan kemampuan menulismu

  • Have Your Say - Mutiara inspirasi kehidupan

  • Obrolan Cewek - Temukan tips seru seputar dunia perempuan

  • Cuci Mata - Mengupas gaya hidup manusia modern perkotaan: shopping, kuliner, dan rileksasi

  • Te.Lez.Kop - Catatan pinggir tentang dunia lesbian dari jarak yang dekat

  • Lagak Lajang - Potret kehidupan lesbian lajang

  • Poling - Ikuti polingnya, temukan faktanya

  • Puisi - Kumpulan sajak bertema LGBT

  • Kesehatan dan Seksualitas - Mari kenali tubuhmu

  • S.O.S! - Pertolongan Pertama Pada Kegilaan

  • Mix n' Match - Musik, fashion, hiburan, dan segala yang keren dari pop culture

  • Noktah Merah - Mengenali sejarah, masa lalu, dan budaya homoseksualitas di berbagai belahan bumi

  • Persona - Kenali mereka, tokoh-tokoh yang membuat perbedaan

  • Film - Film pilihan buat tontonan akhir pekan

  • Buku - Review buku-buku rekomendasi buat Lesbian

  • L'Amour - Cerita tentang cinta, kebersamaan, dan kebahagiaan semanis gula

  • Overall Top Posts


    Berlangganan artikel SepociKopi via e-mail:

    Enter your email address:

    Delivered by FeedBurner


    Mau Mengirim Naskah?

  • Kirimkan Tulisan Anda kepada Kami

  • Visitor Number:


    Pengunjung Online

    site statistics

    Powered by:
    Free Guestbook
    Creative Commons License