A Blade Of Truth

7 Mar 2007 In: Uncategorized
Viewed 25 times, 4 so far today

Oleh: Lakhsmi
From: http://jejakartemis.blogspot.com

Dalam tubuhku tumbuh sebilah pedang. Mulanya dia hanya sebentuk pisau kecil bermata dua. Tak lama dia berubah bentuk menjadi pisau dapur berhulu runcing. Bagai kelopak bunga yang menelanjangkan dirinya di hadapan matahari, pisau itu bermetamorfosis menjadi pedang teramat tajam. Pedang yang kini kubawa setiap saat. Pedang yang bersemayan nyaman dalam hati.

Sungguh sulit membawa pedang di dalam diri, setiap saat. Sudah tak terhitung berapa kali bilahnya menusuk hatiku, membuatnya terluka. Membuatku mengernyit menahan pedih, menahan tetes air yang berkolam di mata. Aku bertanya kepada Tuhan pada saat kami mengadakan obrolan kecil-kecilan di suatu senja. Bolehkah kucabut keluar pedang ini? Telah habis langkahku ditebasnya. Telah payah tangan mungilku menekan semburat darah.

Tuhan menghabiskan kue cokelat buatanku, menghirup kopi sampai cangkirnya licin tandas lalu Dia berlalu. Berlalu tanpa berkata apa-apa. Ingin kumaki punggung-Nya yang menghilang dalam keremangan senja. Ingin kuracun kopi itu kelak. Ingin kuangkat pedangku dan kubiarkan Dia saja yang menanggungnya. Aku tersuruk jatuh di beranda sia-sia memanggil nama-Nya, pada malam itu. Menghitung bintang sambil mengurai air mata.

Kucoba mencabut pedang itu sendiri. Sial. Efeknya ternyata membuatku terkejut. Pedang itu dapat menebas hati orang lain. Jangan, itu kata suara hati. Kusarungkan pedang itu kembali di dalam hatiku. Takkan kubiarkan orang lain terluka. Cukuplah aku saja yang merasakan betapa perih darah yang menetes dari lambung jantungku.

Sepanjang perjalananku, aku melihat perempuan-perempuan lain yang mempunyai taman pedang di dalam hatinya. Darah yang berada di hulu pedang itu bukan hanya darah diri sendiri, tapi juga penuh dengan darah manusia lainnya. Aku termangu tak percaya. Butuh berapa pengorbanan lagikah yang perempuan itu inginkan? Satu tidak cukup. Dua tidak cukup. Bahkan tiga atau empat mungkin juga belum cukup untuk memuaskan kegilaannya dengan darah hati manusia lain. Baginya, berpedang adalah seni pertunjukan kolosal yang gegap gempita.

Butuh waktu bagiku untuk mencerna semua ini. Pedang yang hidup di hatiku bukan sekadar pedang. Dialah pedang kebenaran sejati diriku. Ada pantulan wajahku di kilau matanya. Aku sering kali gugup melihat keindahan pedang ini. Begitu sempurna, begitu tak tercela. Tapi mengapa aku tak rela jika orang lain mengintip pedangku dan membiarkan mereka mengaguminya? Kusimpan rapat-rapat benda keramat ini di hatiku. Biarlah hanya hatiku yang tertusuk dan terluka dan mata nyalang menghitung malam. Yang penting takkan ada orang lain yang sangat kukasihi menderita terkena sabetannya. Bukankah sesuatu yang tidak diketahui takkan pernah bisa menyakiti?

Terkadang pada malam sepi, kukeluarkan pedangku dan kuhayati kebersamaan kami berdua. Kubayangkan pedang yang kini di tanganku merobek-robek jantung hati keluargaku. Kumulai dari suamiku. Di mana letak keindahannya jika pada akhirnya kebenaran terungkap tapi harus kubayar mahal dengan nyawa orang yang sangat kusayangi? Kuakhiri dengan ibuku. Di mana letak kesempurnaannya jika pada akhirnya kejujuran terangkat sebagai nilai terutama tapi harus kubayar mahal dengan sebilah pedang lagi yang tumbuh dan hidup di hati Mama?

Aku telah menelan pedangku, kembali membiarkannya meringkuk nyaman pada rahimku bagai bayi mungil nan lembut yang menyusu pada ibu. Kutunggu kedatangan Tuhan. Saat Dia kembali bertamu pada suatu senja, aku telah siap mengatakan pada-Nya bahwa telah kutemukan kebenaran sejati pada seni memiliki pedang. Berpedang bukanlah panggung penuh cahaya dan tepuk tangan. Berpedang bukan juga pelajaran tentang kebenaran dengan pengorbanan jiwa orang lain. Aku yakin Dia akan tersenyum, menghabiskan bolu kukus strawberiku dan secangkir teh manis, lalu berlalu dalam kesunyian lagi. Tapi kali itu, sungguh, aku akan menatap punggung-Nya dengan ikhlas, tanpa secarik keinginan untuk kelak membubuhkan racun pada teh-Nya di pertemuan kami selanjutnya.

@Lakhsmi, JejakArtemis, 2007

Unidentified Flying Object

6 Mar 2007 In: Uncategorized
Viewed 13 times

Oleh: Ade Rain

Aku hampir tak percaya ketika suatu hari menerima e-mail kagetan. E-mail itu mengundangku dengan ucapan sangat hangat untuk bergabung dalam milis. Sudah lama aku tak ingin mengikuti milis. Sejak suatu kali aku dianjurkan bertaubat dalam satu milis, aku memang sibuk melakukan ritual pengampunan. Aku mulai mengumpat pada diriku yang lagi-lagi tergoda untuk masuk dan melihat ada apa di dalamnya.

Seragam milis yang satu ini agak unik dan bersahaja. Kok sepertinya universal, sangat welcome, tapi tujuannya yang sangat utopis itulah yang menarik hatiku. Sangat muluk tapi apa mungkin menggapai semua ibu yang bernasib sama seperti diriku?

1. Ibu yang dianggap uzur oleh anak-anak single les, berapa banyak di antaranya yang hobi membuka internet?
2. Berapa banyak dari mereka yang hobi membaca?
3. Siapa yang punya waktu untuk browsing iseng mencari tempat-tempat seperti Jejak Artermis?

Plak! Buktinya saja mereka menemukanku dan mengajakku bergabung. Kenapa aku jadi reaksioner menentang kemungkinan-kemungkinannya?

Aku dan kekasihku yang sejak lama merasa lesbian menikah merupakan sosok Unidentified Flying Object. Jadi wajar kalau aku sedikit kaget saat tahu ada habitat UFO lain di jagat raya ini. Ketika kulihat situs itu, aku seperti menemukan warung hidup yang isi pekarangannya ditanami berbagai macam tanaman obat, malah ada sayurannya yang bisa dimanfaatkan sebagai lauk setiap hari.

Melakukan keseharian, mengajari anak-anak muda memakai adobe premiere, canopus pro coder2 cut to cut membuat footage, mencoret-coret movie script, membahasnya di depan forum, mengirim file, membaca semua fakta, mencicipi setiap potongan gambar yang diambil anak-anak, menentukan feature yang menyentuh perasaan, memerhatikan detail tempat kejadian perkara, menemani anakku makan siang, memerhatikannya membuat PR, mengobrol dengan suami tentang topik media cetak, semuanya menjadi lebih enak sejak hari itu.

“Beb, hampir satu minggu, aku masih dengan tak percaya menerima pancaran elektron positif kebersamaan yang mereka miliki.”

Patner yang supersibuk di ruangannya yang penuh dengan sejuta peraturan di lantai 17, hanya mengangguk-angguk ketika kuceritakan soal Jejak Artemis.

Aku bilang padanya aku ingin menjadi ahli filologi ibu-ibu les, mempelajari kebudayaannya melalui naskah-naskah tertulis sastra mereka. Kekasihku yang berhidung bengkok malah tertawa selebar lapangan sepak bola tanpa mengeluarkan komentar apa pun.

“Iya… iya, buat saja kalau memang punya waktu.”

Pasanganku terus tersenyum membiarkanku tenggelam dengan buku-bukunya yang kubolak-balik, sambil terus mengisi time sheet agar bisa segera pulang bersamaku.

Ketika memasuki lift dan meninggalkan ruangannya, ia berbisik kecil, ”Hun, kamu sadar kan kita ini unidentified flying object, jangan aneh-aneh, kita sudah sepakat untuk tidak mengikuti mainstream kebanyakan teman-teman yang ekstrem melakukan sesuatu agar bisa diterima masyarakat.”

“Kamu udah lihat e-mailku atau Jejak Artemis belum, Beb?”

“Belum sempat, tapi kan kamu sudah cerita banyak.”

“Ah, pantes.”

“Sudahlah toh sejak dulu kita sudah sepakat, menjadi yang baik-baik bagi keluarga kita. Mengajarkan pada anak kita bahwa keluarga yang ideal itu ada bapak, ibu, dan anak. Dan mengajarkan pada mereka ibu, ibu dan anak, atau bapak-bapak anak, itu kondisi keluarga UFO yang keadaannya di luar kebiasaan.”

Lampu jalanan di Sudirman berkelap-kelip, sepasang UFO merangsek ke dalam jeep, meninggalkan deretan pepohonan hijau pembatas jalan, padanganku melihat ke mobil di sebelah kanan dan kiri. Di belakang bahu pak sopir, diam-diam tanganku digenggam hangat oleh kekasih yang kelelahan bekerja hingga tengah malam. Aku menikmati enzim-enzim damai, dan mengurainya dalam gelombang listrik, membisu kemudian mengarah pada wajahnya yang diam memandangiku penuh cinta di antara sorotan sinar.

Kubiarkan Al menatapku, berbisik padanya, “Beb… if you have time, please have a look for the website just for a while, you can have over view about the people inside, there are some UFOs among them.”

End of Pebruary 2007

Perempuan di Persimpangan Jalan

5 Mar 2007 In: Uncategorized
Viewed 11 times

Oleh: Cassey
From: http://www.jejakartemis.blogspot.com/

Kita semua pernah berada di persimpangan jalan. Alamat yang dicatat di secarik kertas bagaikan teka teki silang yang membangkitkan gairah sekaligus keraguan. Apakah kita akan rela berhenti di pinggir jalan penuh debu, dengan segala kesantunan bertanya pada orang-orang sekitar? Apakah kita dengan jiwa petualang yang ceroboh akan mencoba setiap arah? Ataukah kita tidak punya keberanian sedikit pun lalu berbalik arah dan kembali ke cangkang yang aman dan hidup dengan rasa ragu yang membelit sepanjang usia?

Setiap lesbian pernah mengalami kekalutan di persimpangan jalan. Tidak sedikit yang selama bertahun-tahun masih bertahan di sana demi norma, adat, dan kehormatan keluarga.

Aku pernah di sana, persis di titik yang menyebabkan mata nyalang sepanjang malam. Berpikir dan meraba bagai hati yang buta. Tak terhitung labirin yang kugambar pada langit-langit kamar dan berapa warna keraguan yang kulukis di kanvas pikiranku seperti seorang buta mencoba memilah putih dan hitam.

Di usia kanak-kanak, aku sudah merasakan bulu kuduk yang meremang karena sentuhan tangan seorang wanita. Merasakan wangi kulitnya yang memabukkan sampai tatapan mata yang menggoda iman. Di usia remaja aku sudah merasakan madu dari mulut seorang wanita yang kucium serta-merta di kamar sempit tempat kami menghabiskan liburan semester. Tidak ada hal aneh karena semata aku tiba-tiba merasakan kehausan untuk menikmatinya.

Dan menjelang dewasa, aku mengambil langkah besar dengan gagah berani memilih jalanku. Menikah dengan lelaki menawan dan menikmati proses regenerasi paling alami, menjadi ibu dari bayi mungil yang lahir setahun kemudian. Lelaki-lelaki indah dalam hidupku yang kini sering kuabaikan karena dari rahim cinta telah lahir seorang wanita. Dengannya sepotong hatiku yang tidak lengkap digenapi.

Masih terlalu sering dalam perjalanan ini, aku terdiam di persimpangan jalan walaupun hatiku sudah menetapkan tujuannya. Utara atau selatan, sekarang tidak ada bedanya. Sama-sama menjanjikan kemanisan dan kepahitan, sama-sama menoreh luka bila ditinggalkan. Tapi luka ini tidak lagi begitu menyakitkan karena apakah ada luka yang lebih mematikan daripada mengkhianati hati sendiri?

Perempuan-perempuan di persimpangan jalan, apakah kita akan bertemu di titik di mana langit tidak berbatas dan hujan tidak lagi membasahi? Apakah sudah cukup labirin yang kau tempuh di mana kesesatan sudah menyalakan setiap sel kedewasaanmu? Apakah ketakutanmu menyebut diri lesbian sudah kausimpan di pojok lemarimu? Apabila belum, kukirimkan padamu sebilah pedang untuk membela kehormatan takdirmu. Dan dengarlah, kita tidak perlu genderang untuk berperang. Kita tidak butuh perisai baja karena takut luka. Sebab luka ternyata menggoreskan sesuatu yang indah.

@Cassey, JejakArtemis, 2007

Bagaimana jika Mami Mertua Intan punya Anak Gay?

4 Mar 2007 In: TV
Viewed 68 times

Oleh: Alex
From: http://rahasiabulan.blogspot.com

Tokoh-tokohnya tidak hitam-putih. Ceritanya seru, nggak cuma tarik ulur. Mengharukan, lucu, kadang-kadang katro juga sih. Meriam Bellina mainnya bagus di sana. Itulah beberapa alasan yang muncul ketika saya bertanya kenapa mereka suka nonton sinetron Intan, yang diputar stripping tiap hari pk. 18.00 di RCTI. Yeah, yeah, Anda pasti udah merasa jijay bajay mendengar kata sinetron, dan menganggapnya cuma tontonan pembantu atau ibu-ibu nganggur. Tapi komentar di atas disebutkan oleh perempuan-perempuan cerdas yang berkarier bagus. Editor. Akuntan. Manajer pembelian. Kepala toko.

Sementara saya, kalau saya bisa jujur terus terang menyatakan bahwa saya lesbian, dengan ini saya juga ingin coming out sebagai penggemar sinetron, hahaha. Tapi di sini saya bukan ingin mempromosikan Intan, yang konon Indonesiasi alias saduran dari serial Korea Be Strong, Geum-soon.

Pada episode 112, 26 Februari 2007, salah satu tokoh dalam sinetron tersebut diduga gay. Jemmy, demikian nama tokoh itu, sebenarnya bukan tokoh utama. Dia salah satu kakak ipar Intan. Jemmy diduga gay karena: (1) Selalu bersama-sama sahabat karibnya Toni, bahkan sampai memaksa tidur sekamar berdua waktu Toni menumpang di rumah Jemmy karena kebanjiran. (2) Jemmy tidak pernah membawa cewek ke rumah. (3) Terdengar suara-suara aneh ketika Toni menginap berdua di kamar Jemmy. Kalau saya, saya emang udah rada curiga sih melihat Jemmy sejak episode 50-an

Mami (Meriam Bellina) dan Papi Jemmy panik bukan kepalang. Seisi rumah pun dipesan oleh Mami yang mertua Intan itu untuk mengawasi tingkah-laku Jemmy, melihat apakah ada yang aneh dari anak lelakinya. Aneh, maksudnya, gay. Makin lama kelihatannya memang Jemmy “tampak” mencurigakan.

Bahkan sebelum sinetron ini memasuki episode 115 pun, saya yakin seyakin-yakinnya tanpa perlu menghubungi penulis skenario sinetron ini bahwa, Jemmy tidak mungkin gay. Hanya produser tidak waras yang memasukkan tokoh gay dalam serial yang sedang berada di puncak rating (apalagi di Indonesia). Ternyata pada episode tgl 1 Maret 2007 terungkap bahwa Jemmy bukan gay, dan dia sedang naksir cewek yang tomboi abis (soal apakah cewek tomboi ini lesbian, entahlah).


Namun sekeluarga sudah telanjur heboh akibat kesalahpahaman ini. Adik Jemmy, Romy, yang memang mudah naik darah marah besar ketika mengira Jemmy gay. Romy menghajar Jemmy karena telah membuat Mami kecewa. Mami menangis sedih dan kecewa ketika mengira Jemmy gay, namun akhirnya berusaha menerima kenyataan, karena biar bagaimanapun Jemmy anak mereka. Akan tetapi, tetap saja Mami lega ketika tau Jemmy bukan gay, selega orang yang lima hari kecegukan akhirnya bisa bebas dari cegukannya itu.

Saya sih belum menonton serial Korea-nya, karena serial itu panjangnya minta ampyun, tapi katanya tidak ada tokoh gay dalam serial aslinya tersebut. Selidik punya selidik, ternyata setelah kurleb 2 bulan menempati posisi rating nomor 1. Pertengahan Februari kemarin, Intan tergeser dari posisi nomor satu oleh Putri yang Terbuang. Kalau di Amerika, beberapa kali tokoh gay/lesbian masuk ke dalam karakter serial TV ketika rating sedang jeblok dan perlu ada bumbu untuk membangun cerita. Contohnya Buffy the Vampire Slayer, The OC, dan ER. Tapi sekali lagi, apakah memasukkan tokoh gay adalah langkah cerdas untuk menaikkan rating di Indonesia?

Jelas tidak!

Tapi untuk menambah bumbu cerita, dan tarik-ulur cerita agar bikin penasaran, lumayanlah bisa nambah 3 hari penonton bertanya-tanya apakah Jemmy gay. Paling tidak dengan cara ini, penonton diberi icip-icip tentang “what if” jika kau punya anak gay.

@Alex, RahasiaBulan, 2007

Scent of Life

3 Mar 2007 In: Uncategorized
Viewed 12 times

Oleh: Lakhsmi
From: http://jejakartemis.blogspot.com

Ketika aku kecil, kakek bercerita tentang seorang musafir. Seorang lelaki pengembara yang mengumpulkan bau kehidupan yang paling indah lalu menyimpannya rapat-rapat dalam sebuah botol. Mengoleksinya bagai mengoleksi kupu-kupu kering berbingkai kaca.

Pertanyaan-pertanyaan dalam hatiku pun bermunculan Apakah kamu pernah mengendus bau kehidupan? Seperti apakah bau itu yang perlahan-lahan menyelinap di hidungmu, terkadang membiusmu, terkadang membuatmu ragu?

Seorang teman lesbian yang baru saja kukenal menulis sebait email teramat panjang tentang isi hatinya. Seketika hidungku mengendus jutaan bau yang menyerbu masuk di nostrilku. Suratnya sangat indah; mendayu bagi seorang penyair, berwarna-warni bagai cipratan krayon kanak-kanak di selembar kertas besar. Suratnya adalah bau hujan di sore hari, bau matahari hangat, bau cahaya bintang, bau pekik sorak, dan bau tangis air mata.

Aneh memang bagaimana dunia maya dapat menguarkan aneka ribuan bau. Di dalamnya ada identitas-identitas yang tak hening, melompat-lompat dalam negeri bebas yang abadi – seabadi avatar. Partner selalu mengatakan dunia maya adalah keajaiban dunia. Kuakui bahwa perkataannya sungguh tepat; kini aku merasakan tenaga luar biasa keajaiban ini. Seperti pemain sulap, aku menghilang dan tersihir menjadi ribuan data dan teks, bertemu dengan ribuan data dan teks lainnya. Menciptakan dialog-dialog dalam ribuan jaring laba-laba berwarna abu-abu. Bersilatuhrahmi pada puluhanjuta alamat tempat tinggal tanpa atap, pintu, dan jendela.

Dalam dunia yang berwajah sesungguhnya, aku sendiri menguarkan bau. Bau seorang ibu lesbian yang tiap hari mengkhianati suami dengan mencintai perempuan lain. Aku adalah malaikat kelas bawah; botak punggung, tak bersayap – karena sayapku takkan pernah bisa tumbuh oleh dosa yang kutorehkan dengan kejam. Dampak rasa bersalah yang berubah wujud menjadi meteor panas yang melesak tepat di jantungku. Merobek-robek dan menghancurkan nadiku tiap-tiap hari. Tapi, ah, suatu malam aku didatangi malaikat. Malaikat tingkat tinggi yang bertutur bahwa sayapku akan tumbuh jikalau dalam hidup, aku berhasil menyelamatkan seseorang dari malapetakanya. Jikalau dalam hidup, aku berhasil menyelamatkan seseorang dari kubangan putus asa. Dengan begitu, malaikat tingkat tinggi itu berjanji aku akan mendapatkan sayapku kelak di surga.

Bagaimana caraku untuk mendapatkan sayapku?

Begitulah bagaimana cerita kakekku terulang kembali di memoriku. Aku memutuskan untuk mengoleksi bau. Bau keindahan, bau harapan, bau senyum kanak-kanak, bau teriakan kemenangan, bau inspirasi, dan bau merah jambu. Saat aku bertemu dengan berbagai orang bahagia, diam-diam kuperas bau mereka. Saat aku mengalami peristiwa yang teramat indah, kusimpan bau itu. Kumasukkan dalam botol, kusumbat dengan gabus, dan kujaga rapat-rapat. Tapi berbeda dengan cerita kakek, aku tidak sekadar mengoleksi bau dan memajangnya di suatu ruangan khusus.

Begini yang kulakukan. Saat aku bertemu dengan seseorang yang sedang berdiri di pinggir gedung, berancang hendak melompat ke bawah, kubuka salah satu botol itu. Kusentuhkan di hidungnya, kukatakan agar dia menghirup bau ini agar paru-parunya dapat bernapas dari kesesakan, agar jantungnya kembali dapat berdenyut, dan agar senyum kembali mempigura wajahnya.

Ah, ternyata mujarab. Koleksi bauku menyentuh hati orang-orang. Koleksi bauku membuka pintu jiwa mereka yang tertutup rapat. Mereka menjadi lebih baik, lebih sehat, lebih riang, dan lebih berharap. Kunyalakan obor inspirasi di dalam hati mereka, menyebarkan doa pada jiwa-jiwa yang rapuh, dan kuterima titipan rahasia mereka. Aku kini menjadi semakin sibuk dengan usaha pengobatan spiritualku.

Sudah tumbuhkan sayapku sekarang?

Kupikir belum. Aku masih sekadar malaikat kelas bawah. Aku masih menggenggam biji-biji kebijakan sambil terus mencangkuli tanah agar biji-biji itu tumbuh menjadi pohon-pohon berkelimpahan. Aku menggunakan talenta yang dititip oleh malaikat tingkat sempurna; talenta yang kini menjadi pedang dan baju zirah perdamaianku melalui tulisan-tulisanku. Aku jaga baik-baik botol-botol berisi bau indah itu, agar setiap orang yang menginginkannya dapat mencicipinya. Agar segarlah perjalanan pengembaraannya. Agar berbinarlah bola matanya. Agar menjadi oase dalam pengelanaan dirinya sebagai musafir.

Jikalau kamu melihat bintang jatuh, bunga merekah, atau bunyi lonceng berdenting, ingatlah peristiwa itu baik-baik. Tundukan kepalamu dan bersyukurlah dalam doa yang kaubisikkan dalam hati. Karena pada detik itu, seseorang seperti aku – malaikat kelas bawah, mendapatkan sayapnya di surga.

@Lakhsmi, JejakArtemis, 2007

A Hundred Years of Solitude

2 Mar 2007 In: Twilight Zone
Viewed 21 times

Oleh: Lakhsmi
From: http://jejakartemis.blogspot.com

Ini adalah kenangan. Satu keping mozaik kecil di kehidupan yang sedari dulu ingin kupotret. Satu noktah langkah hidup yang tertinggal dalam belanga ingatanku.

November 1995. Mata kuliah History of Art membuatku harus mengunjungi museum. Tidak ada sesama sahabat Indonesia yang dapat kuajak untuk menemani ke museum. Ah, maklumlah, para mahasiswa itu lebih memilih jurusan Bisnis atau Teknik yang terdengar lebih hebat dan “normal”. Bagi mereka, jurusan lain di luar itu – apalagi jurusan seni, adalah tempat buangan untuk mereka yang tidak mempunyai otak sebrilian Profesor Calculus-nya Tintin.

Ah, aku kok selalu menjadi minoritas dalam setiap komunitas? Ada apa dengan diriku?

Akhirnya aku mengajak Valent, sahabat lelaki terbaikku. Hetero murni. Lelaki metroseksual yang pandai berdandan. Sangat maskulin, tinggi dan tampan. Kebetulan kami membagi kesukaan yang sama; sama-sama mencintai seni sehingga ide untuk menghabiskan waktu di museum dan mengagumi deretan lukisan dan patung tidak menjadi masalah bagi Valent.

Setelah selesai bercengkrama dengan isi museum, kami pun hendak pulang. Gerimis salju turun perlahan-lahan bagai rinai hujan yang sangat halus. Butir-butir kapasnya meluncur, melenggak lenggok di hadapanku, mendarat di ubun-ubun. Valent menutup kepalanya dengan topi rajutan berwarna merah.

“Yuk kita pergi ke sungai.”

Aku mengangguk setuju. Kota kami dibelah oleh sungai besar yang mengalir di tengah-tengah. Sungai ini menjadi keindahan tersendiri. Aku sangat mencintai sungai ini. Terkadang sampai sekarang pun, aku masih dapat mengingat kedamaian hatiku saat aku menyetir, menyusuri sungai menuju ke apartemenku.

Sungai telah beku. Ada tugu teramat besar berbentuk kapal dibangun di bibir sungai. Suasana sangat sepi. Kami berada jauh dari keributan jalan raya. Aku mengetatkan jaket tebalku, berjalan bersama Valent, beriringan, menghayati ledakan hening. Tanpa suara kaki kami menyentuh salju. Hidung kami mengeluarkan uap dingin.

Tiba-tiba hujan salju menderas. Sangat deras sehingga aku nyaris tidak dapat melihat Valent. Di antara kami berdua turun beratus-ratus kapas putih dari langit membentangkan jarak di antara kami berdua. Dinginnya tak tertahankan. Valent menarik tanganku yang bersarung tangan tebal. Kami berdua segera berlari menuju emperan gedung besar. Sebuah gedung masif yang berkubah tinggi bagaikan bangunan gereja. Tanpa suara, kami berteduh di emperan itu, di bawah kubah raksasanya.

Valent tidak melepaskan genggaman tanganku dan aku pun tidak berniat melepaskannya. Kami berdua berdiri bersebelahan – bahu dengan bahu, mengamati hujan salju yang begitu indah. Begitu hening. Aku melirik ke arah Valent. Betapa tingginya dia dibandingku. Betapa maskulinnya dia. Seperti digerakkan oleh magnet, aku bergeser ke kanan, mendekati dirinya. Bau tubuhnya bagaikan bau musim gugur, bau apel yang dipanggang dengan karamel, seperti wangi sehabis hujan ketika tanah basah berubah menjadi lantai embun.

Tak terasa, aku menggigil.

Valent melepaskan genggamanku. Dia merangkulku erat-erat. Merangkulku seperti tidak akan pernah melepaskanku lagi. Aku merapat padanya, merasakan dunia begitu damai, begitu tentram. Kami berpelukan selama sepuluh menit, menonton rinai salju yang berjatuhan, membagi kehangatan tubuh, tanpa kata-kata. Siluet kami meleleh menjadi satu dalam bayang yang semakin kelam.

“Berapa lama rumput di luar sana tertidur?”

“Seratus tahun kalender rumput.”

“Rumput punya kalender?”

“Setiap orang membawa kalendernya sendiri-sendiri di dalam hati.”

Aku tersenyum. Valent menoleh dan tersenyum kecil.

Hari itu, kami tidak melakukan apa-apa kecuali berpelukan dan menonton salju meleleh. Sampai sekarang, kami adalah dua sahabat baik. Dia orang pertama yang kuceritakan saat aku jatuh cinta dengan perempuan. Dia lelaki pertama yang tidur bersebelahan denganku, bergelung layaknya saudara sejiwa. Biarpun sekarang kami jarang bertemu, sebenarnya hatiku masih berdekapan dengannya dengan bungah, layaknya bunga yang abadi mekar.

Bersama sahabat lelaki ini, aku melakukan perjalanan seratus tahun perenungan dalam kesunyian. Jika aku adalah perempuan yang mempunyai takdir bersama lelaki, dengan mudahnya aku jatuh cinta padanya saat itu. Salju, dingin, sentuhan, gedung, kubah,… semuanya begitu indah, orkestra alam sempurna yang dapat menumbuhkan setetes cinta. Seperti yang kubayangkan sebagai pasangan pangeran dan putri. Tapi, tidak. Tidak ada kejadian seperti itu. Bahkan tidak ada kejadian romantis apa pun.

Kejadian itu adalah titik awal, satu peristiwa penting, pengingatku yang menunjukkan bahwa aku mampu berhubungan dengan lelaki tanpa harus melibatkan perasaan romantisme. Menyayanginya karena hatiku seluas samudra. Ada ruang lapang bagi seorang lelaki untuk singgah di sana. Ada sebidang tanah kosong untuk ditanamani deretan perdu berbunga baginya.

Hujan salju masih deras turun. Valent memelukku semakin erat. Aku bertanya dalam hati. Jikalau semua pendapat masyarakat tentang hubungan hetero adalah sangat penting, apakah aku sungguh-sungguh mempunyai pendapat sendiri?

Seratus tahun kesunyian. Musim dingin bersama Valent. Salju berjatuhan. Bunga-bunga urung mekar. Kutulis ini untuk mengenangnya. Kutulis ini karena sekarang aku adalah perempuan bersuami. Kutulis ini karena hatiku merekah bagi kekasih perempuanku.

@Lakhsmi, JejakArtemis, 2007

Remains of the Day

1 Mar 2007 In: Thoughts
Viewed 20 times

Oleh: Lakshmi
From: http://jejakartemis.blogspot.com

Menjadi perempuan bukan pilihan, tapi adalah takdir. Kalau ada yang memercayai reinkernasi, menjadi perempuan adalah karma yang dituai pada kehidupan yang lalu. Pada perjalanan spiritualku mencari sosok Tuhan, aku bertanya kepada partner, jikalau dia dapat kesempat memilih, jenis kelamin manakah yang dia inginkan dalam kehidupan yang akan datang. Dia bilang dia memilih jadi perempuan. Aku bertanya, bagaimana jika kita bertemu lagi di kehidupan di masa yang akan datang saat aku pun memilih menjadi perempuan. Dia tetap memutuskan ingin menjadi perempuan. Aku menghela napas panjaaaang. Kalau begitu, di masa yang akan datang – dengan kata lain – kita berdua akan menjadi lesbian selamanya. Kacian deh kami!

Bagaikan penari topeng, aku menari dengan berbagai peran yang kulakoni dalam kehidupanku. Subuh aku terbangun, menyiapkan urusan rumah tangga dan membangunkan anakku. Aku mengentak dengan beat lembut sebagai ibu dan istri. Menyapa para ibu yang mengantar anaknya ke sekolah, aku tetap seorang ibu yang peduli, walaupun aku telah siap dengan pakaian kerjaku yang rapi dan sering kali formal. Setelah itu, sepanjang hari, aku menarikan goyangan hot, meliuk lincah, terbang tinggi ke setiap sudut jalan raya, sepuluh jari melompat di tuts laptop, mengurus aneka beban dan tanggungjawab pekerjaanku. Aku menjahit satu keberhasilan dan keberhasilan lainnnya, menaiki satu anak tangga ke anak tangga berikutnya, berputar-putar dalam angin ribut yang terkadang menyerbu hari-hariku, dan akhirnya terpaksa berpose dengan manis sebagai sosok perempuan berpigura publik.

Tengah hari aku harus memutuskan hendak berlabuh di mana untuk mengeyangkan perutku. Terkadang aku berhasil mengikat jurai-jurai kesibukanku sehingga ada celah untuk makan siang bersama partner. Jikalau tidak, aku mengirimkan SMS kepadanya, bertanya dia makan di mana dan mengucapkan selamat makan. Terkadang aku mendarat di kantor suami di bilangan tempat perkantoran elit Jakarta, di lantai sekian-sekian, di mana pemandangan terbentang anggun dari ruang kerjanya yang luas dan tertata rapi.

Aku tenggelam dalam pekerjaanku sampai senja memutarkan dadu, ketika kereta kuda Helios berderap masuk menuju gerbang tinggi di kaki langit cakrawala. Terkadang aku tersadar, terkadang aku tidak tersadar, sampai gelap sungguh-sungguh menebarkan gaun kelamnya di atas kota Jakarta. Saat itulah aku harus berhenti memerankan diriku sebagai pekerja. Bagai bunglon, aku berubah kembali menjadi ibu bagi kedua anakku, menyuapi bubur saring untuk si baby, dan menemani yang sulung makan malam. Sering kali ada undangan khusus bagiku untuk menghadiri suatu acara yang berhubungan dengan pekerjaan profesionalku pada malam hari. Aku pun harus meluncur ke tempat itu, di mana terkadang aku menjadi guest of honor. Ada hari-hari khusus ketika aku harus mendampingi suami untuk menjadi permaisuri (undangan selalu dimulai dengan tulisan Mr. And Mrs.) saat dia harus menyambut tamu-tamu penting kerajaannya.

Malamnya, saat tubuh letih dan hati berubah warna menjadi pucat, aku bergelung nyaman bersama piamaku. Aku bagaikan kain pel tua yang terlalu sering digunakan untuk mengelap lantai, sekarang terangguk-angguk di tiang jemuran menunggu saat kering mengecup seluruh tubuhku. Sungguh lelah melakoni berbagai peran ganda dalam kehidupanku. Tapi di lain pihak aku juga merasa kaya; kaya raya karena aku diberi kesempatan untuk memiliki aneka peran ini karena tidak semua perempuan mempunyai kesempatan yang sama denganku.

Bateraiku belum seutuhnya habis karena otakku masih menyala terang. Mengendap-endap aku mengambil laptopku, membukanya. Dalam kegelapan kamar sambil membuai anak-anakku, aku pun bermetamorfosis menjadi Lakhsmi, perempuan lesbian yang menulis puluhan blog di dunia maya, menebarkan segenggam demi segenggam kisah hidup seorang perempuan yang membagi napas dalam tubuh yang sama. Lakhsmi ingin merengkuh hati banyak perempuan yang mungkin juga mengalami terpaan kelelahan batin pada malam itu dengan jutaan kata-kata yang tertuang dari sepuluh jemarinya. Kusimpan dalam memori komputer sepotong esai atau sepenggal opini yang berhasil kuselesaikan pada tiap-tiap malam, agar besok aku mencuri waktu untuk “menerbitkan”nya di tengah pusaran hari kesibukanku.

Demikianlah hari pun berakhir. Kupegang erat-erat ekor malam sambil merengkuh si baby dalam pelukan. Kuingat teman lesbianku mengirimkan SMS pada pukul satu dini hari, mengingatkanku untuk berdoa, memasrahkan satu hari di dalam tanganNya. Dan aku merundukan kepala, membiarkan sayapku tumbuh agar aku dapat mengepakkannya menuju galaksi terluar dari taman berbunga bintang. Lamat-lamat jiwaku telah dipeluk oleh semesta. Aku pun berdoa.

@Lakhsmi, JejakArtemis, 2007

Esensi Espresso


Lesbian, Maret menanti untuk diisi, tak terasa tiga bulan di 2010 menghampiri. Kita mungkin menyangka sudah cukup sukses mencapai prestasi, oh no! Jangan tergesa-gesa dan merasa puas dengan pencapaian yang sudah ada, lakukan terus perbaikan diri. Tuhan menciptakan tempat tinggal kita, bumi yang indah dan taburan bintang di angkasa. Di antara sekian banyak bintang, tentu kita bisa memilih satu. Mari kita lihat potret bintang dalam potensi diri, temukanlah kehebatan, kelebihan, dan prestasi yang memukau layaknya kemegahan bintang di langit.

Lesbian, mari tanamkan nilai-nilai positif pada lingkungan, menolong orang yang kesusahan, dan menjadi sesorang yang selalu dinantikan kedatangannya. Gairahkan semangat, cukupkan energi agar mempunyai tenaga yang dahsyat agar selalu bersinar laksana bintang - walau kecil tapi mampu menerangi dunia. Kita bisa menjadi bintang bagi orang lain, bintang di tempat kerja, bintang di panggung politik, bintang di arena bisnis, bintang dalam dunia seni, hingga bintang di lapangan olah raga. Bintang yang baik adalah bintang yang mampu mengajak sekelilingnya bercahaya dan sukses menjadi bintang juga. Indah bukan bila banyak bintang bertaburan di angkasa?

Lesbian, perubahan memang tidak selalu membawa kita kepada hal yang lebih baik, tetapi hal yang lebih baik takkan terjadi tanpa perubahan. Maka, jangan takut untuk berubah, selama di dalam perubahan itu kita terus dipimpin oleh Tuhan menuju arah yang lebih baik. Jadikan pribadi kita menjadi bintang yang dapat diandalkan, yang selalu setia bersinar. Teruslah berusaha menggapai bintang.

Stop Press!

Para pencinta SepociKopi,

Kami mempersembahan kaos SepociKopi yang bakal keren dipakai dalam berbagai acara.
Silakan pilih dan unduh sendiri desainnya, lalu kamu sablon sendiri di kaos warna favoritmu.

Satu desain pasti tidak cukup, dua juga pasti nggak... semuanya saja! Tenang kok, kaosnya sangat lesbian-friendly dan hetero-friendly, jadi nggak bakal ketahuan! Kalau ketemu sesama teman yang juga mengenakan kaos ini, cukup saling melirik penuh arti. Kodenya udah udah dipatenkan di kepala masing-masing bo!

Salam SepociKopi!

CHECK THIS OUT

  • Camilan Sepoci Kopi Teman Minum Kopi yang Lezat

  • Say It Out Loud! Topik Bulan Maret 2010: I love you forever!

  • Community and TravelingLesbian Indonesia di berbagai penjuru kota dan sudut dunia


  • The Planets Semesta Dunia Lesbian yang Tak Berbatas
  • Senggolan SepociKopi

    Friendly Reminder

  • Tulisan-tulisan situs SepociKopi adalah karya dan kreasi para penulis lesbian.
  • Redaksi meminta dengan hormat kepada para pangunjung dan pembaca setia kami untuk tidak melanggar kode etik serta menghormati hak cipta para penulis.

  • Silakan mengutip tulisan di situs ini, tapi harap cantumkan nama penulis yang bersangkutan dan sertakan link alamat SepociKopi (http://www.sepocikopi.com)

  • Terima kasih atas kehormatan yang diberikan kepada kami agar kami dapat terus berkarya di masa depan

  • Redaksi memoderasi semua komen yang masuk

  • Redaksi berhak menghapus komen yang bersifat SPAM, menyerang, menghina, fitnah, melecehkan, curhat berlebih, SARA, obrolan chatting, atau tidak relevan dengan isi tulisan.
  • Kategori

    Arsip SepociKopi

    .: SELAMAT DATANG :.


  • Home
  • Opini
  • Budaya/Hiburan
  • Berita
  • Humaniora
  • Buku Tamu

  • Rubrik Tetap

  • Tajuk - Suara aktual, berita terhangat

  • Cerpen - Nikmati cerpen bertema LGBT karya penulis Indonesia yang telah diterbitkan di media umum

  • Bengkel Menulis - Tempat untuk meningkatkan kemampuan menulismu

  • Have Your Say - Mutiara inspirasi kehidupan

  • Obrolan Cewek - Temukan tips seru seputar dunia perempuan

  • Cuci Mata - Mengupas gaya hidup manusia modern perkotaan: shopping, kuliner, dan rileksasi

  • Te.Lez.Kop - Catatan pinggir tentang dunia lesbian dari jarak yang dekat

  • Lagak Lajang - Potret kehidupan lesbian lajang

  • Poling - Ikuti polingnya, temukan faktanya

  • Puisi - Kumpulan sajak bertema LGBT

  • Kesehatan dan Seksualitas - Mari kenali tubuhmu

  • S.O.S! - Pertolongan Pertama Pada Kegilaan

  • Mix n' Match - Musik, fashion, hiburan, dan segala yang keren dari pop culture

  • Noktah Merah - Mengenali sejarah, masa lalu, dan budaya homoseksualitas di berbagai belahan bumi

  • Persona - Kenali mereka, tokoh-tokoh yang membuat perbedaan

  • Film - Film pilihan buat tontonan akhir pekan

  • Buku - Review buku-buku rekomendasi buat Lesbian

  • Overall Top Posts


    Berlangganan artikel SepociKopi via e-mail:

    Enter your email address:

    Delivered by FeedBurner


    Mau Mengirim Naskah?

  • Kirimkan Tulisan Anda kepada Kami

  • Visitor Number:


    Pengunjung Online

    site statistics

    Powered by:
    Free Guestbook
    Creative Commons License