Oleh: Manies
Secara keseluruhan, saya menyuarakan diri saya sebagai penulis. Saya melabelkan diri saya sebagai penulis. Saya mengaku sebagai penulis. Dan saya merasa sebagai penulis. Intinya satu, saya memang penulis. Separah apapun tulisan saya, saya tetap penulis. Dan hidup untuk menulis. Mau di maki-maki, mau dipuji, saya tetaplah penulis.
Dan saya berharap tulisan saya dihargai meskipun jelek. Kritik adalah nafas buat saya. di mana saya dapat melihat pandangan orang lain tentang tulisan saya. Mereka boleh menghina tulisan saya seenaknya. Bukan masalah. Dihina pun saya senang karena menurut saya, artinya tulisan saya dihargai. Bukan masalah.
Alufiru
Oleh: Zetha Septina Abdu
kita melewati masa kecil dengan amat lucu
tanpa lolipop, balon warna-warni
dan tak pernah tahu bagaimana cara membuat gelembung dari permen karet
usia mengumpul dalam ketukan langkah berirama tango
dan kita mengenangnya
sebagaimana bunyi harmonika
yang dimainkan dengan leher kaku
berusaha melarikan senja dengan suara seserak mungkin
karena pagi hari selalu saja datang lebih cepat
sementara mimpi-mimpi diburu dan ditombaki
pada sebuah akhir yang dipaksakan,
kita selalu menunggu gerimis menderas menjadi hujan
membiarkan curahnya memenuhi seluruh kekosongan
sebuah cara sederhana, kelak kita berharap ia punya nama:
tapi bukan cinta
Tentang Zetha Septina Abdu:
Tinggal di kota berhati nyaman, masih saja suntuk menyelesaikan skripsi di salah satu universitas negri di Jogja.
Oleh: Alex
Bahasan Mix n’Match kali ini bakal rada serius walaupun nggak lepas dari topik hiburan. Tanggal 7 Maret ini kebetulan pengumuman Academy Award alias Oscar. Keramaian yang muncul adalah nama Kathryn Bigelow yang disebut berkali-kali sebagai kandidat kuat pemenang sutradara terbaik untuk film The Hurt Locker yang juga dinominasikan sebagai film terbaik. Yang lucu sebenarnya, Kathryn Bigelow yang berusia 58 tahun ini bersaing ketat dengan mantan suaminya, James Cameron—sutradara Avatar untuk dua penghargaan penting ini.
The Hurt Locker bercerita tentang perang yang amat sangat lelaki dari sudut pandang sutradara perempuan. Filmnya mendapat banyak pujian dan penghargaan. Kalau suka film perang yang manusiawi, The Hurt Locker adalah film yang patut ditonton. Kathryn Bigelow sebelumnya pernah menyutradarai film Point Break dengan bintang utama Keanu Reeves. Walaupun gagal di Golden Globe, Kathryn Bigelow menjadi sutradara terbaik dalam BAFTA Award dan Directors Guild of America. Read the rest of this entry »
Dear DoMba yang aneh,
DoMba saya punya masalah yang cukup rumit. Saya adalah butch sejati dan pacar saya seorang femme. Sejak living together dengan pacar, saya jadi stres. Pasalnya gini DoMba, pacar menuntut saya memenuhi semua kebutuhan rumah tangga kami sendiri. Sedangkan gaji saya pas-pasan. Saya jadi merasa kewalahan.
Alasan pacar saya sih karena dia menganggap bahwa living together mirip dengan kehidupan rumah tangga betulan. Jadi saya diposisikan menjadi seorang ”suami” yang harus memenuhi semua kebutuhan “istri” dan rumah tangga. Dalam hubungan lesbian ini, saya merasa semua menjadi tidak jelas. Benarkah tindakan pacar saya DoMba? Menurut pendapat DoMba, bagaimana sistem keuangan pasangan lesbian yang living together sebenarnya? Adakah kewajiban-kewajiban seperti demikian yang harus dipatuhi? Karena jujur, secara fisik saya sudah tidak kuat mencari uang siang-malam demi mencukupi kebutuhan rumah tangga.
Mohon bimbingan DoMba.
Thanks,
Sarungkan
Read the rest of this entry »
Oleh: Oscar Arumi
Hati saya hampir berkarat, kelamaan nggak digosok, kelamaan nggak diasah. Jangan-jangan, ada lumut penuh kerak yang sedang tumbuh di dalamnya. Kulit saya mengering, bukan karna gak pernah ditaruh lotion, tapi karena terlalu lama nganggur, dan gak ada yang mengelusnya. Kepala juga semakin membatu, sebab sudah lama gak ada yang membelainya. Udah lama, lamaaaaaaa banget, hampir 3 atau 4 tahun sudah menjomblo. Iya iya iya, kita lagi membicarakan tentang diri saya, si Lajang Lapuk.
Ngaku deh, gue jablay! Hiks. Pengen dibelai, pengen! Mulai ngawur deh kalau saya sudah mulai menulis dengan tanda seru. Artinya, hati lagi nggak stabil, otak lagi awut-awutan. Mau tahu sebabnya? Saya lagi jatuh hati, sepertinya begitu, saya deg-degan nggak keruan kalau lagi dekat-dekat sama si cantik itu. Mungkin, lumut di hati saya sedang berubah wujud menjadi kembang melati tujuh rupa yang tiap jamnya berubah sesuai suasana hati. Kalau hati saya lagi berbunga-bunga, melatinya mekar hingga bikin dada saya sesak dan buat muka saya merah. Kalau hati saya lagi kangen si dia, melatinya bakalan kuncup tertutup rapat, persis otak saya yang lagi mampet karena cuma mikirin si dia. Kalau saya lagi dekat-dekat si dia, melatinya akan mengeluarkan nada-nada dahsyat persis konser musik yang bermandikan diva. Ah, gawat, malu mau nulis panjang-panjang di sini, rasanya kok persis ABG yang lagi maruk cinta.
Oleh: Ade Rain
Bagaimana sejarah lesbian yang tercatat di zaman dari penanggalan sebelum Masehi sampai sekarang? Ternyata setelah melakukan riset, aku menemukan banyak sejarah lesbian yang lumayan lengkap dan dirunut berdasarkan tahun. Mulai dari 580 Sebelum Masehi hingga abad 21.
Intinya, perkembangan era lesbian dari tahun ke tahun ternyata nggak jauh berbeda dengan kehidupan kita sekarang. Jangan sedih atau bete kalau menemukan kekejaman yang dilakukan otoritas di masa itu. Sejarah bukan untuk dibenci, tapi untuk dipelajari agar tak terulang. Tundukkan kepala sebagai tanda duka cita pada lesbian-lesbian yang menjadi korban kekejaman masa lalu akibat ketidaktahuan tentang homoseksual. Yuk, rapikan dudukmu, resapi, dan kita akan mundur sejenak menembus waktu.
Oleh: Lakhsmi
Ini diawali dengan seorang sahabat lesbian yang hendak memenuhi tugas universitasnya dengan melakukan wawancara kepadaku seputar jurnalisme SepociKopi. Pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban menarik (dan menantang) membuat kami menghabiskan satu malam di Y!M dengan tingkat keseriusan yang santai. Dari sanalah, aku berkilas balik tentang ribuan tulisan-tulisan yang dipublikasikan secara kongkrit di sepocikopi.com.
Sepocikopi.com adalah media – itu sudah jelas – bukan suatu komunitas lesbian. Media dengan hukum yang patuh pada aturan jurnalistik, terlahir dari masyarakat lesbian yang kritis dan cerdas. Para pembacanya – yang mencintai media tersebut – bolehlah disebut sebagai komunitas. Tulisan-tulisan di SepociKopi adalah ribuan “jendela atau pintu yang terbuka”. Para pembaca dapat melihat di balik jendela/pintu itu dan menilainya dengan kacamata masing-masing.