<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 May 2012 08:53:39 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Masa Lalu dan Masa Depan</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/05/18/masa-lalu-dan-masa-depan/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/05/18/masa-lalu-dan-masa-depan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 08:50:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=19924</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: bE
Untuk semua yang sudah terjadi, terima kasih.
Untuk semua yang akan terjadi, baiklah.
Beberapa waktu yang lalu aku menghadiri sebuah seminar yang menghadirkan salah seorang guru spiritual yang cukup tenar. Sebenarnya itu bukan kali pertama aku menghadiri seminar dengan pembicara yang sama, namun tema yang diusung kali ini &#8216;All is Well’ terlebih lagi tagline-nya meresap lebih dalam ke relungku.
Untuk semua yang sudah terjadi, terima kasih&#8230; Sebuah deretan kalimat yang sederhana, tenang dan damai, namun maknanya begitu dalam. Kalimat ini berbicara tentang masa lalu. Berapa banyak dari kita yang dapat menerima masa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/05/jendela.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-19925" title="jendela" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/05/jendela-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Oleh: bE</p>
<p><em>Untuk semua yang sudah terjadi, terima kasih.<br />
Untuk semua yang akan terjadi, baiklah.</em></p>
<p>Beberapa waktu yang lalu aku menghadiri sebuah seminar yang menghadirkan salah seorang guru spiritual yang cukup tenar. Sebenarnya itu bukan kali pertama aku menghadiri seminar dengan pembicara yang sama, namun tema yang diusung kali ini <em>&#8216;All is Well’</em> terlebih lagi <em>tagline</em>-nya meresap lebih dalam ke relungku.</p>
<p><span id="more-19924"></span><em>Untuk semua yang sudah terjadi, terima kasih&#8230;</em> Sebuah deretan kalimat yang sederhana, tenang dan damai, namun maknanya begitu dalam. Kalimat ini berbicara tentang masa lalu. Berapa banyak dari kita yang dapat menerima masa lalu? Berapa banyak dari kita yang bisa berdamai dengan masa lalu? Bahkan berterima kasih pada masa lalu? Masa lalu tidak jarang pahit, kejam, menyakitkan, bahkan gelap.</p>
<p>Kita yang sekarang tidak akan ada tanpa masa lalu. Masa lalulah yang membentuk diri/pribadi kita yang sekarang. Seberapa sering kita masih menyalahkan masa lalu atas apa yang dilakukannya pada hidup kita? Terlebih lagi kita sebagai lesbian. Betapa mudahnya menyalahkan masa lalu atas rasa sakit dan yang ditanggung sekarang.</p>
<p>Seberapa sering kita menyalahkan masa lalu di mana kita sering dikecewakan oleh orang-orang lain yang kita kasihi sehingga kita menjadi pribadi yang tidak bisa mencintai, atau bahasa kerennya ’mati rasa’? Bagaimana dengan menyalahkan masa lalu dalam hubungan keluarga yang kurang harmonis sehingga membuat kita trauma menjalin hubungan berkomitmen? Masihkah ada lesbian yang menyalahkan teman-teman yang di menyakiti hati sehingga kita tidak lagi bisa mempercayai orang lain?</p>
<p>Bahkan tidak sedikit dari kita menyalahkan laki-laki di masa lalu kita sebagai penyebab kita menjadi lesbian, terlepas dari banyak penelitian yang menduga bahwa lesbian juga adalah genetik. Hal itu sering diyakini oleh masyarakat di luar sana, bahwa kaum lesbian adalah kumpulan orang-orang yang penuh kekecewaan dan tidak bisa lepas dari masa lalunya. Betapa menyedihkannya.</p>
<p>Seperti yang aku kemukakan sebelumnya, masa lalu memang turut andil di dalam membentuk diri kita yang sekarang, namun bukan berarti kita harus terus berdiam di dalamnya. Kita tidak mau keluar dari selubung kegelapan bernama masa lalu, takut menghadapi dunia. Kita tidak bisa menerima dan berdamai dengannya, pasrah membiarkan masa lalu mengubah kita menjadi pribadi yang menyedihkan, sinis, dengki, marah, pendendam, bahkan apatis dalam memandang kehidupan. Jika sudah demikian, bagaimana kita bisa turut andil di semesta ini?</p>
<p>Untuk itu, sepahit, sekejam, sepedih, atau segelap apa pun masa lalu, kita harus berterima kasih padanya. Berterima kasih karena masa lalu sudah menjadi guru tentang kesedihan dan luka yang dapat ditimbulkan dari tindakan-tindakan itu sehingga untuk ke depannya kita tidak akan melakukan hal yang sama. Ketika di masa lalu kita sakit hati karena dibohongi, maka berterima kasihlah karena berkatnya kita tidak akan melakukan hal yang sama. Ketika di masa lalu kita selalu dimudahkan, maka berterima kasih jugalah karena berkat itu, sehingga kita akan menjadi pribadi yang memudahkan orang lain. Singkatnya, berterima kasihlah karena masa lalu sudah memberi begitu banyak pelajaran yang sangat berharga untuk membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik sekarang.<br />
<em><br />
Untuk semua yang akan terjadi, baiklah&#8230;</em> Kalimat ini tidak menggambarkan hal lain selain kesiapan untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi masa depan. Tanpa ragu dan gentar. Apa pun yang akan datang, ayo aja. Apakah kita semua seperti itu? Selalu siap menghadapi apa pun yang akan datang tanpa berpikir aneh-aneh? Tidak cemas atau bahkan takut menghadapinya?</p>
<p>Menanti jawaban dari gebetan dengan harap-harap gemas. Menunggu pengumuman hasil ujian dengan was-was. Bahkan menantikan pesawat yang membawa kekasih dari kota tujuan juga dengan perasaan tak karuan. Cemas kalau ada apa-apa yang menggagalkan. Cemas&#8230; cemas&#8230; dan cemas&#8230;</p>
<p>Aku tidak menyangkal bahwa kecemasan juga kadangkala penting. Dengan adanya rasa cemas, maka kita akan berusaha mempersiapkan segalanya dengan baik. Namun seperti pepatah ’Manusia hanya bisa berencana, Yang Kuasa yang memutuskan’, maka jika kita sudah melakukan yang terbaik sebisa kita, maka mencemaskan hal-hal yang mungkin menggagalkan rencana kita hanya akan membawa kita ke titik lain. Stress dan paranoid.</p>
<p>Yakinlah, amat sangat tidak menyenangkan jika kita harus menjalani hidup dengan dihantui hal-hal yang bahkan belum terjadi. Ketika orang-orang yang mungkin bercanda mempertanyakan preferensi seksual kita, maka kita langsung paranoid. Mulai cemas dan mengira-ngira, aduh, jangan-jangan mereka tahu kita adalah seorang lesbian. Setelah itu, kita mulai menyiksa diri dengan permainan dugaan. Apa yang akan terjadi pada kita? Apakah harus mengaku? Lantas jika mengaku apakah mereka akan menerima? Dan seterusnya, dan seterusnya.</p>
<p>Kita lantas menjadi hipokrit, hanya sebagai upaya untuk menutupi kelesbianan kita. Berpura-pura <em>ngebet </em>ke laki-laki, atau bahkan yang lebih parah adalah ikut-ikutan mendiskreditkan kaum lesbian. Semua itu kita lakukan sebagai upaya agar kita tidak ketahuan. Kita cemas dan akhirnya memilih cara itu. Waduh, nggak kebayang deh&#8230;</p>
<p>Lalu apa yang harus kita lakukan? Ya itu tadi. Hadapi saja. Tentu dengan persiapan yang maksimal. Lakukan yang terbaik semampu kita mulai sekarang. Apa pun yang masih akan terjadi tidak semestinya membuat kita mandek di tengah jalan. Jika toh pada akhirnya mereka tahu tentang kelesbianan kita, maka pada saat itu biarlah mereka melihat sosok Lesbian yang bermartabat, berhasil, berwawasan luas, dan pastinya berperan aktif untuk sekitarnya. Nah, tidak terlalu buruk kan? Keren banget malah.</p>
<p>Jadi, masa depan bukanlah untuk ditakuti tapi jadikan sebagai tantangan sekaligus pembuktian sebagai pribadi yang lebih baik lagi dari sekarang. Karena kita yang sekarang adalah yang menentukan kita di masa depan.</p>
<p>@bE, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/05/18/masa-lalu-dan-masa-depan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Have Your Say: Jatuh Cintaku yang Pertama</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/05/18/have-your-say-jatuh-cintaku-yang-pertama/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/05/18/have-your-say-jatuh-cintaku-yang-pertama/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 May 2012 06:14:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Have Your Say]]></category>
		<category><![CDATA[Headline]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=19916</guid>
		<description><![CDATA[Ketika pertama kali jatuh cinta, ada rasa bingung yang menggebu. Mengapa ternyata perempuan? Kebingungan itu ditambah dengan ketakutan untuk memulai sebuah hubungan, apalagi jika si dia sudah memiliki pacar. Apa yang harus dilakukan? Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, Arindy, yang mengalami jatuh cinta pertama dengan perempuan yang sudah memiliki kekasih lelaki.
Aku merasakan hal yang lain di hatiku. Tapi bukan tentang dia yang berdetak lebih kencang dari biasanya, bukan juga badan yang tiba-tiba panas-dingin seperti meriang, atau mungkin pipi yang tiba-tiba bersemu merah. Bukan tentang itu semua. Tapi ini tentang hatiku ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/05/beautiful-flower-beautiful-reflection-sabrina-sampson.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-19918" title="beautiful-flower-beautiful-reflection-sabrina-sampson" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/05/beautiful-flower-beautiful-reflection-sabrina-sampson-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Ketika pertama kali jatuh cinta, ada rasa bingung yang menggebu. Mengapa ternyata perempuan? Kebingungan itu ditambah dengan ketakutan untuk memulai sebuah hubungan, apalagi jika si dia sudah memiliki pacar. Apa yang harus dilakukan? Dengarkan kisah sahabat lesbian kita, Arindy, yang mengalami jatuh cinta pertama dengan perempuan yang sudah memiliki kekasih lelaki.</em></p>
<p><span id="more-19916"></span>Aku merasakan hal yang lain di hatiku. Tapi bukan tentang dia yang berdetak lebih kencang dari biasanya, bukan juga badan yang tiba-tiba panas-dingin seperti meriang, atau mungkin pipi yang tiba-tiba bersemu merah. Bukan tentang itu semua. Tapi ini tentang hatiku yang semakin hari semakin terasa hangat. Semakin hari semakin terasa berseri. Dan mungkin sebentar lagi akan segera tersenyum.</p>
<p>Aku tak tahu kapan perubahan itu terjadi. Terlalu sering mengabaikannya membuatku lupa ternyata ada hal seperti itu terjadi di hatiku. Di awal-awal aku mengenalnya, dia tersenyum sangat manis, bahkan mungkin lebih dari itu. Karena apa yang disebut “senyumu mengalihkan duniaku” itu benar-benar nyata. Aku seperti dibawa ke dunianya. Mengalir begitu saja, mengikuti arus lembut untaian kata-kata yang diucapkannya. Indah memang, tapi aku mengabaikannya.</p>
<p>Di penghujung tahun 2011, malam itu jalanan menuju pantai sangatlah padat dan macet, sehingga tidak memungkinkan bagiku dan kawan-kawanku untuk menggunakan kendaraan. Jadi kami dengan terpaksa harus berjalan kaki menuju tepi pantai, dan itu tidaklah dekat. Jika ditempuh dengan berjalan kaki mungkin membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Saat akan di mulai <em>tour </em>jalan kaki kami, aku hampir saja terserempet motor. Mungkin karena saking banyaknya orang jadi aku tidak dapat fokus dan berkonsentrasi. Untung saja saat itu ada sebuah tangan dengan jari-jemari yang begitu lembut menariku.</p>
<p>“Dy, hati-hati dong! Udah tahu lagi ramai, sempet-sempetnya ngelamun.” Suaranya samar-samar terdengar. Karena aku bukannya mendengarkan apa yang diucapkannya, tapi malah memperhatikan tanganku yang digenggamnya erat. Ada sebuah rasa yang berbeda saat kelembutan tangannya menyentuhku. Terasa begitu hangat dan menyejukan. Sebuah ketenangan yang sulit kugambarkan.</p>
<p>Perjalananku pun tak dapat kunikmati. Semua perhatianku telah direbutnya secara paksa. Keramaian jalanan mendadak tak dapat kurasakan, semuanya terasa hening! Dan tahu-tahu aku sudah sampai di tepi pantai. Di situ aku hanya bisa tertegun, mencoba memahami rasa apa itu. Namun jawabannya tak kunjung kutemukan. Rasanya aku harus mengabaikannya lagi.</p>
<p>Semakin hari kejanggalan-kejanggalan itu semakin sering kurasakan setiap kali aku berdekatan dengannya. Seperti saat sendiri, aku tak dapat memikirkan hal lain selain kejanggalan itu. Aku tak mengerti kenapa hal itu begitu sangat menggangguku? Tapi pada setiap kali aku memikirkannya selalu ku akhiri dengan mengabaikannya.</p>
<p>Seperti malam itu, saat aku dan dia akan pulang dari tempat makan. Hujan turun tanpa permisi. Menunggu reda sepertinya akan lebih baik bagi kami. Namun setelah aku dan dia menunggu cukup lama, sang hujan tak kunjung reda juga. Maka terpaksa kami putuskan untuk membiarkan butiran air menggapai tubuh kami. Aku naik motor terlebih dahulu. Karena kulihat dia agak ragu-ragu. Namun melihatku yang sudah basah kuyup dia sepertinya tak tega juga, akhirnya dia pun ikut naik. Kudengar sayup pekikannya. Aku hanya menoleh dan tersenyum ke arahnya.</p>
<p>Pelan-pelan kujalankan motor. Tak kusangka jemari lembut itu mulai menggapai pinggangku. Sangat perlahan, terasa agak ragu-ragu, namun akhirnya dia memelukku juga. Jemari itu lagi! Rasanya ingin sekali kuperlambat laju motor yang kukendarai, supaya kebersamaan kami tak segera berakhir. Namun sayang hujan semakin deras mengguyur jalanan dan kami harus segera sampai ke kos.</p>
<p>Setelah sampai di tempat kos, dia malah berlari tak menghiraukanku. Aku hanya memandang punggunya yang semakin lama semakin menjauh. Aku kembali tertegun! Apa-apaan ini? Bisa-bisanya aku merasakan rasa yang aneh itu lagi.</p>
<p>Aku duduk di bangku teras mencoba sekali lagi mecari jawaban pasti atas pertanyaan-pertanyaanku selama ini. Namun tetap saja, hal itu masih terlalu sulit untuk kupahami, terlalu asing untuk kukenal, dan telalu takut untuk kuakui. Ini adalah rasa pertama kalinya untukku. Mengapa ada seseorang yang berjenis sama denganku mampu menyentuh hatiku?</p>
<p>Namun sekeras apa pun aku mencoba, aku selalu terhenti di jalan buntu. Kebuntuan yang selalu aku ciptakan sendiri. Karena mencari kebenaran di atas ketakutan ini begitu menyesakan dan melelahkan. Jawaban atas semua ke kisruhan di hatiku akan tetap sama. Rasa ini tak lebih dari rasa sayangku terhadap seorang sahabat. Mencoba pasrah dan menerima kenyataan. Karena laki-laki gagah di sampingnya sudah sangat cukup untuk menghentikan pencarianku.</p>
<p>@Arindy, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/05/18/have-your-say-jatuh-cintaku-yang-pertama/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>te.Lez.kop: Too Good to Be True</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/05/17/te-lez-kop-too-good-to-be-true/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/05/17/te-lez-kop-too-good-to-be-true/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 10:39:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Telezkop]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=19897</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Tya Andriani
Sekitar setahun lalu, pesohor Kim Kardashian mendapat kejutan dua juta dolar di jemarinya. Cincin tunangan karya desainer Lorraine Schwartz yang terbuat dari batu permata emerald 20,5 karat, dikelilingi oleh berlian sebesar dua karat, adalah hadiah lamaran dari calon suami (saat itu) Kris Humphries. Mereka menikah tanggal 20 Agustus dengan menghabiskan sepuluh juta dolar untuk pesta pernikahan super mewah. Dalam waktu 72 hari setelah pernikahan, mereka bercerai.
Sebenarnya saya tidak terlalu terkejut dengan berita itu. Mereka yang kebetulan kaya raya memang mampu menghabiskan milyaran rupiah untuk kesenangan-kesenangan mereka. Tidak perlu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/05/sweet-talk.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-19898" title="sweet talk" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/05/sweet-talk-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Oleh: Tya Andriani</p>
<p>Sekitar setahun lalu, pesohor Kim Kardashian mendapat kejutan dua juta dolar di jemarinya. Cincin tunangan karya desainer Lorraine Schwartz yang terbuat dari batu permata <em>emerald</em> 20,5 karat, dikelilingi oleh berlian sebesar dua karat, adalah hadiah lamaran dari calon suami (saat itu) Kris Humphries. Mereka menikah tanggal 20 Agustus dengan menghabiskan sepuluh juta dolar untuk pesta pernikahan super mewah. Dalam waktu 72 hari setelah pernikahan, mereka bercerai.</p>
<p><span id="more-19897"></span>Sebenarnya saya tidak terlalu terkejut dengan berita itu. Mereka yang kebetulan kaya raya memang mampu menghabiskan milyaran rupiah untuk kesenangan-kesenangan mereka. Tidak perlu menghujat gaya hidup seperti itu jika kita belum pernah merasakan kenikmatan menghamburkan puluhan juta dolar dalam sekejab. Tapi, untuk direnungkan bersama, apakah berarti orang-orang yang tak memiliki milyaran  rupiah di dompet tak pernah terlepas dari fenomena seperti ini: <em>romance that is too good to be true?<br />
</em><br />
Tak perlu menjadi Kim Kardashian untuk menjadi lebay dan merasaka euforia dalam percintaan. Cobalah tengok stat Facebook atau kicauan Twitter. Cobalah tengok avatar pasangan lesbian yang penuh dengan adegan ciuman, pelukan, dan oh-betapa-mesranya-sentuhan itu. Bahkan hal ini telah dijadikan kritik oleh Nura Ranu dalam artikel humornya di SepociKopi berjudul <a href="http://sepocikopi.com/2012/05/02/fabulezlycool-gaya-pacaran-yang-nggak-banget/">Gaya Pacaran yang Nggak Banget</a>. Ah, tidak perlu memiliki jutaan dollar untuk menjadi kloning Kim Kardashian dalam hal kelebayan, cukup memiliki duit seribu perak di dalam dompet, kita semua bisa menjadi lebay dalam hal percintaan dan romantisme.</p>
<p>Ketika seseorang jatuh cinta, ada masa yang dinamakan masa euforia. Masa-masa itu adalah masa yang luar biasa indah. Mabuk. Kita cenderung menjadi berbeda ketika berada di awal percintaan. Kekasih adalah manusia yang paling sempurna. Kita juga cenderung menganggap diri beruntung karena memiliki manusia sesempurna itu sebagai pasangan. Masa-masa mabuk ini sering saya sebut sebagai masa tenggang.</p>
<p>Cinta seharusnya tidak berhenti pada level euforia. Berapa banyak lesbian yang – setelah melewati – mabuk-mabukan ini kehilangan rasa cintanya kepada pacar? Masa tenggang memiliki usia yang berbeda-beda. Ada yang cukup singkat seperti 72 hari, ada juga yang mencapai usia beberapa tahun. Ciri khas cinta yang berhenti pada level euforia adalah hilangnya rasa kepada pasangan, munculnya gelagat tawar, kebosanan mendera, tidak mampu melihat pasangan sebagai manusia yang sempurna (lagi), dan lain-lain.</p>
<p>Cinta sejati tentu bukan saja berada di kala mabuk. Cinta sejati adalah cinta yang berhasil melewati masa itu. Jika cinta dipenuhi dengan kelebayan terus menerus, seharusnya kita sudah berani curiga dan bertanya kepada diri sendiri, <em>sampai sejauh mana ini bisa bertahan</em>? Kita tidak mungkin menjalani hari dengan <em>adrenaline rush to the max</em> berisi cinta setiap menit bukan? Cinta yang seperti itu harus segera dicurigai sebagai cinta yang <em>too good to be true</em>. Cinta <em>too good to be true</em> adalah cinta yang berumur &#8220;singkat&#8221; dan sulit bertahan dari terjangan badai percobaan.</p>
<p>Saya senang sekali mengamati pasangan (baik pasangan heteroseksual maupun pasangan homoseksual) yang sudah hidup selama belasan atau bahkan puluhan tahun saling mencintai. Bagaimana relasi mereka satu sama lain? Bagaimana mereka bersikap di tempat umum? Bagaimana tingkah laku mereka sebagai <em>couple</em>? Saya justru menemukan bahwa pasangan yang sudah melewati masa-masa euforia memiliki beberapa ciri khas, misalnya sikap mereka tenang, santai, stabil, dan terikat satu sama lain tanpa perlu aksi bombastis romantisme.</p>
<p>Cinta <em>too good to be true</em> adalah cinta yang dibayangkan seperti cinta <em>fairy tale;</em> sebagai pangeran tampan atau putri cantik yang saling mencintai<strong></strong><em></em>. Si putri mengharapkan seorang pangeran membangunkan dirinya dari kematian yang panjang dan membosankan. Si pangeran mengharapkan putri nan jelita mau naik ke atas kudanya menuju istana terindah di atas bukit. Apakah ini salah? Tentu tidak. Namun saya tidak mau hidup dalam sebuah kisah dongeng yang ditutup dengan kata &#8220;tamat&#8221; setelah kalimat &#8220;<em>happily ever after&#8221;.</em></p>
<p>Dan oya, ini juga mengingatkan saya dengan sebuah <em>statement</em> yang pernah saya baca di stiker mobil teman saya: <em>I used to believe in forever, but forever was too good to be true.</em></p>
<p>@Tya Andriani, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/05/17/te-lez-kop-too-good-to-be-true/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Biseksual</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/05/17/tentang-biseksual/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/05/17/tentang-biseksual/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 May 2012 05:07:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[biseksual]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Biseksual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=19884</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Vilinnz
Begitu banyak artikel di SepociKopi yang membuka wawasan terhadap lesbian. Tentu saja, ini adalah situs lesbian sehingga sedikit sekali artikel yang menyerempet sisi biseksual. Menyambut hari IDAHO (International Day Against Homophobia, termasuk biphobia dan transphobia) semoga beberapa pandangan berikut dapat membuka sisi pandang tentang biseksual, sebagai bagian dari perayaan IDAHO.
Kraff-Ebing, salah satu seksologis Jerman menyebutkan biseksual dengan sebutan psychosexual hermaphroditism yaitu eksistensi dua seks biologis dalam satu spesies atau kejadian yang merupakan kebetulan dari karakteristik pria dan wanita dalam satu tubuh. Ellis (dalam Storr, 1999) kemudian meninggalkan istilah sebutan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/05/bimanifesto.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-19885" title="bimanifesto" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/05/bimanifesto-212x300.jpg" alt="" width="212" height="300" /></a>Oleh: Vilinnz</p>
<p>Begitu banyak artikel di SepociKopi yang membuka wawasan terhadap lesbian. Tentu saja, ini adalah situs lesbian sehingga sedikit sekali artikel yang menyerempet sisi biseksual. Menyambut hari IDAHO (<em>International Day Against Homophobia, termasuk biphobia dan transphobia</em>) semoga beberapa pandangan berikut dapat membuka sisi pandang tentang biseksual, sebagai bagian dari perayaan IDAHO.</p>
<p><span id="more-19884"></span>Kraff-Ebing, salah satu seksologis Jerman menyebutkan biseksual dengan sebutan <em>psychosexual hermaphroditism</em> yaitu eksistensi dua seks biologis dalam satu spesies atau kejadian yang merupakan kebetulan dari karakteristik pria dan wanita dalam satu tubuh. Ellis (dalam Storr, 1999) kemudian meninggalkan istilah sebutan <em>psychosexual hermaphroditism</em> dan memperluas makna dari biseksual sebagai hasrat seksual untuk pria maupun wanita yang dialami oleh individu.</p>
<p>Menurut Freud, biseksual merupakan kombinasi dari maskulinitas dan feminitas, sedangkan menurut Stekel dan Klein, biseksual bukanlah merupakan kombinasi dari maskulinitas dan feminitas, melainkan heteroseksualitas dan homoseksualitas.</p>
<p>Pengertian secara umum, biseksual adalah orientasi seksual yang mempunyai ciri-ciri berupa ketertarikan estetis, cinta romantis, dan hasrat kepada pria dan wanita. Biseksual juga didefinisikan sebagai orang yang memiliki ketertarikan emosional dan seksual kepada laki-laki dan perempuan. Di Indonesia sendiri belum ada data statistik yang menunjukkan presentasi biseksual karena wacana sosial tentang biseksual masih terbatas. Individu gay, lesbian, atau biseksual sering mengalami diskriminasi. Secara khusus, kaum biseksual sering mendapatkan penolakan dari komunitas heteroseksual dan homoseksual.</p>
<p>Dalam kehidupan sehari-hari, sudah biasa jika bertemu orang dengan orientasi seksual hetero dan homo/lesbian. Nah, bagaimana dengan yang namanya biseksual? Apakah salah jika seorang biseksual jatuh cinta kepada pria atau perempuan? Dan tidak ada yang tersakiti, apakah ini termasuk kategori salah? Halo, jika anda bukan seorang biseksual, saya berharap Anda tidak banyak berkomentar.</p>
<p>Menjadi seorang perempuan biseksual itu tidak gampang, kawan. Di kalangan khalayak umum, biseksual merupakan orientasi seksual yang tidak lazim dan perlu dihindari. Perempuan biseksual muda kurang memiliki dukungan masyarakat. Identitas seksualnya lebih berfluktuasi dibandingkan pria muda biseksual. Hal ini cenderung menyebabkan depresi dan stres.</p>
<p>Seperti dimuat dalam <em>American Journal of Public Health</em>, Lisa Lindley dan rekannya dari George Mason University&#8217;s College of Health and Human Services meneliti data survei dari 7.696 orang perempuan dan 6.716 orang pria. Para peserta dua kali mengisi survei, pertama pada tahun antara 1994 dan 1995 ketika masih duduk di kelas 7 hingga 12, dan kedua antara tahun 2007 dan 2008 ketika berusia 24 hingga 32 tahun.</p>
<p>Para peneliti melihat tiga dimensi yang berbeda dari identitas seksual, perilaku seksual, dan daya tarik seksual, kemudian mempelajari hubungannya dengan kesehatan. Hasil dari survei awal menunjukkan bahwa baik perempuan dan pria yang merasa sebagai biseksual dalam survei pertama beresiko tinggi mengalami depresi, stres, dan kecanduan alkohol ketika remaja. Hasil survei kedua menunjukkan bahwa meski memiliki resiko depresi, stres dan alkohol pada pria biseksual saat dia bertambah tua, resiko ini tidak tampak menurun pada perempuan biseksual.</p>
<p>Banyak prasangka terhadap perempuan biseksual. Orang-orang akan mengatakan bahwa mereka sedang bingung. Perempuan biseksual dituntut untuk memilih satu identitas seksual. Banyak juga kesalahpahaman tentang biseksual, yang mengakibatkan menciptakan stigma identitas biseksual. Artinya, perlu kekuatan yang untuk terus melawan tekanan sosial dalam menyesuaikan diri dengan orientasi heteroseksual-homoseksual.</p>
<p>Para peneliti tidak yakin mengapa pria biseksual bernasib lebih baik daripada perempuan biseksual. Hal ini disebabkan karena pria memiliki keterikatan yang kuat dengan komunitasnya, baik pria gay atau heteroseksual. Sedangkan perempuan biseksual mungkin merasa seolah-olah tidak punya komunitas, lebih terisolasi dan tidak memiliki siapa pun yang mengerti kondisi mereka. Perempuan biseksual juga mungkin tidak diajak bicara serta cenderung memiliki identitas seksual yang naik turun dari waktu ke waktu. Sedangkan pria lebih tegas menyatakan &#8216;saya hetero&#8217; atau &#8216;saya gay’.</p>
<p>Perilaku biseksual juga termasuk penyimpangan kegiatan seksual yang tidak sesuai dengan norma agama mau pun masyarakat. Oleh karena itu, kaum biseksual menghadapi masalah yang sama dengan para gay dan lesbian. Tapi pada umumnya mereka lebih tertekan daripada kaum gay atau lesbian karena identitas seksual mereka dianggap tidak jelas. Sana-sini mau atau &#8220;AC/DC&#8221; adalah hinaan buat kaum biseksual, sehingga mereka lebih mudah mengalami gangguan mental dibandingkan dengan heteroseksual maupun homoseksual/lesbian. Atas masalah ini, kaum biseksual perlu dilibatkan dalam penyadaran tentang pentingnya aktivitas perawatan diri seperti olahraga, keterlibatan rohani, dukungan jaringan yang sehat dan kegiatan seni dengan tujuan menjaga emosional.</p>
<p>Setelah mengulas penjelasan mengenai biseksual di atas, ada rasa sakit, stres, diskriminasi ketika kita terlahir menjadi seorang perempuan biseksual. Tapi, secara pribadi saya menerima, menikmati orientasi seksual tersebut dan tidak terlalu serius menanggapi semua pandangan negatif dari pihak mana pun. Karena saya percaya, apa pun orientasi seksual kita baik itu hetero, gay, lesbian, biseksual maupun transgender mempunyai harga diri dan derajat yang sama. Hanya saja tergantung bagaimana kita menyikapi pandangan masyarakat dan menjalani hidup ini.</p>
<p><em>Well, the last one,</em> cintai dirimu, hargai orang lain, dan jadilah manusia yang selalu positif <em>thinking</em>. <em>No </em>Galau! Selamat merayakan IDAHO. Semoga kesadaran atas kemerdekaan orentasi seksual menjadi nyata di muka bumi ini.</p>
<p>@Vilinnz, SepociKopi, 2012<br />
&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/05/17/tentang-biseksual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>FabuLezlyCool: Perempuan Tangguh</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/05/16/fabulezlycool-perempuan-tangguh/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/05/16/fabulezlycool-perempuan-tangguh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 16:03:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[FabuLezlyCool]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=19871</guid>
		<description><![CDATA[Oleh:  Chossy Tan
Jika Tuhan hanya menciptakan lelaki saja di muka bumi ini, pastinya tidak akan ada keindahan. Karena itulah perempuan diciptakan, untuk memberi warna, kehangatan dan kelembutan. Meskipun terlihat lemah, namun Tuhan memberikan kekuatan bagi setiap perempuan yang diciptakanNya. Tuhan menciptakan perempuan bukan sebagai sosok lemah yang harus tunduk pada seorang lelaki, namun Tuhan menciptakan perempuan sepadan dengan lelaki.
Tercipta  sebagai seorang perempuan adalah anugerah dan berkat, sebab banyak hal yang dipercayakan sang pencipta di pundak seorang perempuan. Namun seringkali  seorang perempuan dijadikan objek kejahatan dan pelecehan  karena  dipandang lemah dan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/05/smw-career-tool-work-strong1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-19876" title="strong woman" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/05/smw-career-tool-work-strong1-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Oleh:  Chossy Tan</p>
<p>Jika Tuhan hanya menciptakan lelaki saja di muka bumi ini, pastinya tidak akan ada keindahan. Karena itulah perempuan diciptakan, untuk memberi warna, kehangatan dan kelembutan. Meskipun terlihat lemah, namun Tuhan memberikan kekuatan bagi setiap perempuan yang diciptakanNya. Tuhan menciptakan perempuan bukan sebagai sosok lemah yang harus tunduk pada seorang lelaki, namun Tuhan menciptakan perempuan sepadan dengan lelaki.<span id="more-19871"></span></p>
<p>Tercipta  sebagai seorang perempuan adalah anugerah dan berkat, sebab banyak hal yang dipercayakan sang pencipta di pundak seorang perempuan. Namun seringkali  seorang perempuan dijadikan objek kejahatan dan pelecehan  karena  dipandang lemah dan tidak berdaya. Padahal sesungguhnya, di balik kerentanan seorang perempuan ada sesuatu yang luar biasa hebat. Hanya terkadang perempuan sendiri yang tidak mampu melihat kekuatan yang tersembunyi itu.</p>
<p>Perempuan kadang memang tampak begitu tak berdaya, bergantung kepada lelaki dan dianggap sebagai kelas nomor dua yang harus manut, nurut dan ngikut. Tapi semua itu terbantahkan. Tidak zamannya lagi perempuan hanya dianggap sebagai <em>konco wingking</em>, yang bisanya hanya <em>nunduk manggut-manggut sendiko dawuh</em>.  Karena perempuan pun memiliki potensi dan kekuatan yang mungkin  bisa lebih  hebat dan kuat dibanding kaum lelaki.</p>
<p>Di mataku perempuan selalu mengagumkan, bukan karena aku seorang lesbian sehingga aku berkata seperti itu. Tetapi karena  begitu banyak perempuan di sekelilingku yang begitu luar biasa  dan mampu  menginspirasi hidupku.</p>
<p>Perempuan pertama yang aku kagumi adalah ibuku, perempuan perkasa dan mandiri yang tidak pernah mengeluh. Dalam kamus hidupnya hanya ada dua  kata yaitu kerja keras dan pantang menyerah. Aku pun semakin terkagum-kagum dengan sosok perempuan setelah mengenal SepociKopi. Lihatlah pemimpinnya, mereka berdua juga perempuan hebat. Bagiku mereka menginspirasi banyak lesbian yang masih kerap dirundung duka nestapa tanpa jeda. Lihat pula para perempuan di panggung gemerlap SepociKopi, ada deretan penulis-penulis hebat yang mencacat sejarah dan pencapaian mereka. Masing-masing tampil dan berprestasi di bidang masing-masing. Bahkan untuk bangkit dari keterpurukan dan menjadikan kehidupan lebih baik dari hari kemarin pun merupakan perjuangan yang butuh ketangguhan. Dan itu yang semakin membuatku terpana.</p>
<p>Seiring waktu, aku  kembali dipertemukan dengan satu lagi perempuan yang tak kalah hebat. Dia kekasihku, perempuan muda nan cantik dan pintar. Bukan mau memamerkan ataupun  menyombongkan diri. Bagiku dia menjadi luar biasa karena ketangguhannya berjuang dari titik nol untuk mencapai kehidupan yang mapan seperti sekarang ini, mencapai karier yang gemilang saat usianya masih di bilangan dua puluh lima.</p>
<p>Masa kecilnya yang harus dilalui tanpa kehadiran seorang ayah, membentuknya menjadi sosok perempuan yang tegar. Bagai pejuang yang tak kenal menyerah. Dengan tekad kuatnya dia merantau ke ibukota, berbekal beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Dalam suatu kesempatan dia juga bercerita padaku bagaimana perjuangannya  ketika kuliah di Jakarta, sedangkan dia hanya seorang anak kampung di ujung Kalimantan yang sebelumnya jauh dari kata &#8220;kuliah&#8221;.</p>
<p>Ketika aku tanyakan padanya  apa yang membuat dia mampu mencapai posisi seperti sekarang ini, dia menjawab sambil tersenyum, “kerja keras dan takut akan Tuhan”. Begitu sederhana jawabannya. Namun memang benar yang ia katakannya, jika ingin berhasil, kita harus rela bekerja lebih tekun dan lebih keras dan memercayakan semuanya kepada Tuhan.</p>
<p>Apakah kita, perempuan, lesbian, bisa mencapai posisi hebat dan bermartabat di tengah masyarakat  jika hanya berkeluh kesah dan tidak mau berjuang? Apakah lesbian masih identik dengan perempuan pemalas dan pengangguran tidak  jelas, pembuat masalah dan keonaran? Tentu saja tidak. Karena fakta telah menunjukkan, lesbian telah tampil sebagai perempuan cerdas, bermartabat, mempunyai potensi yang hebat. Menjadi lesbian tidak berarti hidup menjadi suram tanpa masa depan.</p>
<p>Oya, aku bisa mengatakan hal tersebut di atas bukan sekadar omong kosong<em>  </em>tanpa bukti nyata, sebab perempuan-perempuan hebat dan tangguh itu ada di sekelilingku, menjadi bagian hidupku. Merekalah  yang selalu menginspirasi dan memotivasiku untuk terus maju dan berjuang mencapai asa, agar aku bisa menjadi perempuan lesbian setangguh mereka.</p>
<p>@Chossy Tan, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/05/16/fabulezlycool-perempuan-tangguh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LezBiz: Mencermati Pajak dalam Investasi</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/05/16/mencermati-pajak-dalam-investasi/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/05/16/mencermati-pajak-dalam-investasi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 15:42:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[LezBiz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=19872</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Seez Lim
Ada yang sudah membayar pajak? Bagaimana rasanya saat kita membayar pajak atau bagaimana rasanya ketika menerima gaji ternyata gaji kita telah dipotong pajak? Atau contoh sederhana, pada saat kita makan di restoran yang ada di mal, kita hanya menikmati makanan Rp100.000,- eh ternyata harga yang kita bayar harus ditambah lagi 10% untuk pajak (pajak daerah untuk pajak restoran), bagaimana rasanya? Sakit hati? Pernah berpikir, “Untuk apa sih pajak-pajak kayak begini, bikin mahal aja?!”Pajak memang kadang membuat kita ragu akan keberadaan dan manfaatnya. Apalagi ditambah dengan kasus “mafia pajak” ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/05/taxcuts.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-19873" title="taxcuts" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/05/taxcuts-300x262.jpg" alt="" width="300" height="262" /></a>Oleh: Seez Lim</p>
<p>Ada yang sudah membayar pajak? Bagaimana rasanya saat kita membayar pajak atau bagaimana rasanya ketika menerima gaji ternyata gaji kita telah dipotong pajak? Atau contoh sederhana, pada saat kita makan di restoran yang ada di mal, kita hanya menikmati makanan Rp100.000,- eh ternyata harga yang kita bayar harus ditambah lagi 10% untuk pajak (pajak daerah untuk pajak restoran), bagaimana rasanya? Sakit hati? Pernah berpikir, “Untuk apa sih pajak-pajak kayak begini, bikin mahal aja?!”<span id="more-19872"></span>Pajak memang kadang membuat kita ragu akan keberadaan dan manfaatnya. Apalagi ditambah dengan kasus “mafia pajak” yang sempat heboh belakangan ini, selesai satu kasus, eh malah ada kasus yang baru lagi. Pastinya makin banyak masyarakat Indonesia yang semakin bingung, sebenarnya apa manfaat dari pajak yang telah kita bayarkan?</p>
<p>Pendapatan terbesar dari negara kita adalah berupa pajak, baik dari pajak pribadi maupun perusahaan dan yang paling besar menyumbang untuk anggaran pendapatan negara kita adalah berupa pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai.</p>
<p>Jangan garuk-garuk kepala dulu ya, yuk kita bahas apa itu pajak dan mengapa saya menulis tentang pajak. Apa kaitannya dengan keuangan kita sebagai lesbian.</p>
<p>Pengertian pajak menurut Undang-undang Nomor 28 tahun 2007 tentang Ketentuan Umum Dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP), pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Itu berarti mau tidak mau kita sebagai warga negara Indonesia yang taat dan patuh, wajib untuk membayar pajak, salah satunya adalah jika kita sudah mempunyai penghasilan.<br />
Penghasilan apa saja yang bisa dikenakan pajak? Bukan cuma penghasilan aktif kita yang bisa dikenakan pajak (gaji/upah), tapi penghasilan pada saat kita berinvestasi juga dikenakan pajak, jangankan penghasilan, belum menjadi penghasilan saja kita sudah dihadapkan dengan begitu beragamnya pajak.</p>
<p>Pada beberapa instrumen investasi ternyata juga terselip pajak, jika kita tidak bisa menyiasatinya maka bukannya meraup untung dari investasi kita, tapi ternyata kita harus membayar pajak terus-terusan. Saya bukan melarang untuk membayar pajak, tapi menurut saya alangkah baiknya jika kita tahu manfaat dari pajak tapi juga mengerti kalau kita bisa membuat investasi kita lebih menghasilkan daripada harus membayar pajak yang besar.</p>
<p>Begitu beragamnya produk-produk investasi yang telah beredar sekarang, membuat kita semakin mudah untuk memilih. Mulai dari investasi yang membutuhkan modal lumayan kecil hingga modal yang lumayan besar. Dan negara juga tidak mau ketinggalan dengan melihat kebutuhan akan investasi dari rakyatnya, sehingga mengeluarkan peraturan pajak untuk beberapa instrumen investasi yang telah beredar saat ini.</p>
<p>Beberapa instrumen investasi, mulai dari Properti, Saham, Obligasi, juga dikenakan pajak. Ada yang berpendapat kalau deposito adalah tempat yang baik untuk menyimpan uang dan tidak dikenakan pajak. Coba hitung bunga yang diterima tiap bulan, apakah cocok dengan tingkat bunga yang sudah ditawarkan oleh bank sebelumnya? Deposito saja dikenakan pajak final 20% dari bunga yang kita terima.<br />
Jika kita bisa berinvestasi dan tidak harus dikenakan pajak secara langsung, kenapa tidak memulainya dengan investasi yang simpel tapi bisa disesuaikan dengan tujuan kita, seperti Reksa Dana (RD). Sebenarnya RD adalah investasi yang sangat cocok untuk kita semua. Saya selalu bersemangat jika membicarakan RD, karena menurut saya investasi yang paling mudah untuk dipraktikkan adalah RD, modal yang tidak seberapa dan kita bisa konsisten untuk berinvestasi di instrumen ini.</p>
<p>Ada yang berpendapat bahwa RD dikenakan pajak semenjak awal tahun 2011, memang benar ada peraturan yang mengatur tentang itu, tapi kalau kita telusuri lebih dalam lagi, ternyata pada praktiknya yang dikenakan pajak adalah pada saat pengalokasian dan penjualan dari RD itu sendiri, bukan pada saat kita menerima penghasilan dari penjualan RD kita. Jadi misalnya kita membeli RD sebesar 1juta setiap bulan, dan pada saat kita ingin menjual RD kita, maka yang akan kita peroleh adalah sebesar nilai perolehan dari investasi dan keuntungan dari harga RD yang kita beli. Pajak yang dikenakan adalah pajak yang telah diperhitungkan didalam harga unit RD tersebut, jadi yang akan menanggung pajak tersebut sebenarnya bukan dari sisi investornya secara langsung. Selain RD, emas / logam mulia (LM) juga tidak dikenakan pajak pada saat kita membeli maupun menjualnya.</p>
<p>Saya tidak bilang kalau berinvestasi di instrumen lain itu tidak baik lho. Setiap instrumen tentu saja ada risiko-risikonya dan pajak merupakan salah satu hal yang harus kita perhitungkan dalam memilih investasi.</p>
<p>Jadi bagaimana lesbian? Sudah mulai memilah-milah akan diinvestasikan ke mana uangnya? Jangan hanya punya modal banyak lalu tidak hati-hati memilih instrumen investasi yang cocok. Bijak dalam memilih investasi, jangan sampai pajak malah menyulitkan kita untuk berinvestasi dan mendapatkan keuntungan.</p>
<p>Negara memang membutuhkan pajak agar tetap bisa memberikan subsidi bagi rakyatnya serta untuk pembangunan infrastruktur dan lainnya, tapi kita sebagai warga negara yang taat pajak juga bisa menyiasatinya kok. Saya tidak mengajarkan korupsi atau menggelapkan pajak di sini.</p>
<p>Tambahan: Saat ini pemerintah sedang membahas untuk mengubah PTKP (Penghasilan Tidak Kena Pajak) menjadi sebesar Rp2.000.000,-/bulan yang sebelumnya hanya sebesar Rp1.320.000,-/bulan, semoga rencana ini dapat terealisasi dengan segera supaya penghasilan yang kita terima lebih besar dan kita bisa berinvestasi lebih banyak lagi.</p>
<p>@SeezLim, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/05/16/mencermati-pajak-dalam-investasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tajuk: Pola Pikir Lesbian dan Kita</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/05/15/tajuk-pola-pikir-lesbian-dan-kita/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/05/15/tajuk-pola-pikir-lesbian-dan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 12:26:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Tajuk]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=19865</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Nuha Guwa
“Ada lesbian yang begitu takut ketahuan lesbian sampai tidak mau melakukan apa-apa, bahkan berbuat kebaikan untuk sesama. Teganya! Teganya!” Sepotong kalimat di atas mengisi pagi kami hari ini di rapat redaksi.Yang disusul dengan sahutan-sahutan ini.
“Kalau tidak mau ditanya-tanya lesbian atau bukan, sebaiknya tidak usah bertanya-tanya apakah orang lain lesbian atau tidak. Yang seringkali kepo dan menyebarkan orientasi seksual orang lain biasanya justru dari lesbian itu sendiri. Itu jahat banget.&#8221;
&#8220;Karya-karya LGBT belum tentu datang dari lesbian. Ada kaum non lesbian yang ikut berpartisipasi. Yang berpikir dunia lesbian ekslusif untuk ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/05/ballet-woman.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-19866" title="ballet woman" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/05/ballet-woman-300x300.jpg" alt="" width="300" height="300" /></a>Oleh: Nuha Guwa</p>
<p>“Ada lesbian yang begitu takut ketahuan lesbian sampai tidak mau melakukan apa-apa, bahkan berbuat kebaikan untuk sesama. Teganya! Teganya!” Sepotong kalimat di atas mengisi pagi kami hari ini di rapat redaksi.Yang disusul dengan sahutan-sahutan ini.</p>
<p><span id="more-19865"></span>“Kalau tidak mau ditanya-tanya lesbian atau bukan, sebaiknya tidak usah bertanya-tanya apakah orang lain lesbian atau tidak. Yang seringkali kepo dan menyebarkan orientasi seksual orang lain biasanya justru dari lesbian itu sendiri. Itu jahat banget.&#8221;</p>
<p>&#8220;Karya-karya LGBT belum tentu datang dari lesbian. Ada kaum non lesbian yang ikut berpartisipasi. Yang berpikir dunia lesbian ekslusif untuk lesbian saja pastilah pikirannya terpenjara sekali.&#8221;</p>
<p>Culas. Ya betul, kami di redaksi menjadi sangat culas ketika berhadapan dengan hal-hal yang tidak mengenakkan soal pola pikir lesbian. Hidup seseorang sangat dipengaruhi oleh semua tindakan yang dilakukannya. Tentu saja tindakan-tindakan itu dimotori oleh pola pikirnya. Menjadi miskin, bodoh, sukses, kaya bukanlah karena nasib, melainkan karena pola pikir yang berakibat pada keadaan sekarang.</p>
<p>Menjadi pintar misalnya, hal ini sangat tergantung pada kebiasaan. Tentu pintar di sini bukanlah suatu destinasi (tujuan akhir), melainkan suatu proses perjalanan. Setiap keputusan dan tindakan yang dilakukan ke arah tersebut sudah merupakan keberhasilan. Kepintaran tidak dihasilkan hanya dari satu keputusan dan satu tindakan saja, melainkan merupakan akumulasi dari setiap proses yang diperoleh sehari-hari. Membaca, bertanya, mendalami, mempraktekkan. Dengan demikian, kepintaran adalah suatu kebiasaan positif di dalam hidup, demikian juga halnya pola pikir.</p>
<p>Lesbian harusnya mengetahui bagaimana agar pola pikirnya konsisten. Antara prinsip yang satu dengan prinsip yang lain tidak saling bertentangan. Misal, ketika kita dihadapkan pada isu homoseksual, kita menggunakan prinsip dari sistem pemikiran X. Ketika kita dihadapkan dengan isu heteroseksual, kita tetap menggunakan prinsip yang berasal sistem pemikiran X. Dengan kata lain, prinsip-prinsip yang kita pakai berasal dari sistem pemikiran yang sama.</p>
<p>Pola pikir bisa merupakan turunan dari sebuah sistem pemikiran yang lebih besar. Pelajarilah apakah ada konsistensi antara prinsip yang satu dan yang lain dalam sistem itu. Perhatikan juga apakah itu juga terjadi pada hidup kita dan apakah tindakan kita sinkron dengan pola pikir. Lesbian dapat mengalami pembusukan kepribadian ketika dirinya sendiri sangat pro pada anggapan negatifnya sendiri. Sehingga dalam kerangka berpikir yang sungguh rapuh itu akhirnya menjadi landasan berpikir, berbicara, atau bertindak.</p>
<p>Benar agak sulit menjaga bagaimana agar konsistensi antara pengetahuan dan tindakan kita, begitu pun harusnya lesbian tidak perlu takut bila bersentuhan dengan arus pikiran lain. Misal, anggapan diri sendiri bahwa menjadi lesbian adalah tabu dan berbahaya, seharusnya pola pikir ini segera terbentuk sejalan dengan kesungguhan penerimaan kodrat dengan ikhlas dan tulus.</p>
<p>Singkirkan sikap negatif, baik kepada diri sendiri maupun kepada kaum heteroseksual. Berusahalah hidup damai dengan kelesbianan dan di tengah masyarakat majemuk. Banyak membaca buku yang berkaitan dengan homoseksualitas dari berbagai sumber akan memberikan pencerahan dan pemikiran yang luas pada pola pikir kita. Bila perlu baca juga buku-buku yang sangat menentang kelesbianan, mengenal musuh lebih baik daripada tidak mengenalnya sama sekali. Tidak perlu takut membaca pendapat-pendapat kontroversial tentang homoseksualitas.</p>
<p>Ketahuan sebagai lesbian mungkin membuat kita dibenci orang lain. Orang-orang yang paling dekat menjadi orang pertama yang membenci. Namun harusnya kita tidak perlu takut sebab hal ini merupakan proses. Yang terpenting uji ketangguhan diri, menjalani hidup dengan segala kesulitannya dalam damai, serta memiliki pengharapan yang teguh kepada Tuhan.</p>
<p>Benar agak sulit menjaga bagaimana agar konsistensi antara pengetahuan dan tindakan kita, begitu pun harusnya lesbian tidak perlu takut bila bersentuhan dengan arus pikiran lain. Misal, anggapan diri sendiri bahwa menjadi lesbian adalah tabu dan berbahaya. Atau kaum heteroseksual yang <em>LGBT friendly</em> selayaknya dicurigai orientasi seksualnya. Atau sesama lesbian tuding hidung siapa saja artis/pesohor yang dicurigai lesbian  dan menjadikan mereka semua olok-olok publik yang menggelikan.  Apakah pemikiran seperti ini adalah pemikiran yang baik dan sehat?</p>
<p>Pola pikir yang hebat juga tidak layak disembunyikan dari publik. Setiap orang berhak mendengarkannya. Kita perlu &#8211; bahkan harus &#8211; membagi kepada orang lain. Tunjukkan semua itu dengan saling menolong; seperti yang dilakukan para penulis SepociKopi . Teruslah berbagi pada orang lain sekali pun kita tidak pernah bisa sempurna. Semoga pola pikir yang hebat tadi membuat kita memiliki kebangkitan menjadi pribadi mulia, jujur, tidak mementingkan diri sendiri, dan beretos kerja tinggi.</p>
<p>@Nuha Guwa, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/05/15/tajuk-pola-pikir-lesbian-dan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Janda Casanova</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/05/15/janda-casanova/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/05/15/janda-casanova/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 09:08:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=19854</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Carmen
Pernahkah kamu merasa tersesat seperti domba yang hilang? Aku pernah, tepatnya saat ini.
Tertegun lama saat aku membaca kisah Bening yang manis dengan kekasihnya di Dongeng Mati Lampu. Rasanya cerita yang familiar, tapi sempat terlupa. Tinggal bersama dengan yang dicinta; saling jaga, saling memperhatikan satu sama lain; dan bertahan hidup di masyarakat. Ah tentu saja, aku pernah mengalaminya selama sembilan tahun lamanya dengan mantanku saat itu.
Di waktu kehidupan itu seperti sebuah garis lurus. Orang sekitar yang melenceng jalannya saat itu akan kucemooh atau kuremehkan. Itu dulu, masa lalu, yang sangat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/05/rel-kereta.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-19855" title="rel kereta" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/05/rel-kereta-287x300.jpg" alt="" width="287" height="300" /></a>Oleh: Carmen</p>
<p>Pernahkah kamu merasa tersesat seperti domba yang hilang? Aku pernah, tepatnya saat ini.</p>
<p>Tertegun lama saat aku membaca kisah Bening yang manis dengan kekasihnya di <a href="http://sepocikopi.com/2012/04/14/dongeng-mati-lampu/">Dongeng Mati Lampu</a>. Rasanya cerita yang familiar, tapi sempat terlupa. Tinggal bersama dengan yang dicinta; saling jaga, saling memperhatikan satu sama lain; dan bertahan hidup di masyarakat. Ah tentu saja, aku pernah mengalaminya selama sembilan tahun lamanya dengan mantanku saat itu.</p>
<p><span id="more-19854"></span>Di waktu kehidupan itu seperti sebuah garis lurus. Orang sekitar yang melenceng jalannya saat itu akan kucemooh atau kuremehkan. Itu dulu, masa lalu, yang sangat berbeda dengan kondisi sekarang. Saat ini aku mengalami masa-masa <em>moratorium</em>&#8211;sebuah transisi identitas peran&#8211;yaitu dari peran seorang istri, menjadi seorang janda. Dan seperti kebanyakan orang yang menjalani masa transisi, ada rasa tersesat; walaupun juga ada antusiasme akan hal-hal baru dan pintu-pintu jalan yang terbuka lebar-lebar.</p>
<p>Selama setahun lebih menjalani masa moratorium, kesimpulannya adalah, aku belumlah seberuntung Alex di tulisannya <a href="http://sepocikopi.com/2012/04/12/te-lez-kop-going-solo/">Living Solo</a>, di mana si penulis menyatakan bahwa hidup sendirian merupakan opsi utama dalam menjalani keseharian. Betapa beruntungnya jika bisa seperti itu. Sejujurnya, aku masih merasa kesulitan untuk hidup sendiri.</p>
<p>Dari belia, aku sudah belajar menjadi istri&#8211;<em>a shepherd, prime wife</em>. Tulang-tulangku seperti dirancang untuk menjadi istri seorang perempuan. Aku bertransformasi cantik saat berperan sebagai istri: Di mana kesetiaan adalah nama tengah, kompromi merupakan kewajiban, pelayanan adalah syarat prima, dan menanam kebahagiaan pelan-pelan adalah kenyataan luar biasa saat hidup bersama belahan jiwa. Penampilanku terawat baik&#8211;prinsip kami berdua waktu itu adalah, jangan sampai kalau salah satu pulang belakangan, melihat pihak yang di rumah dalam keadaan lecek, bau, dan awut-awutan; tapi harus rapi, cantik, bersih, dan wangi. Hal itu terjadi setiap hari.</p>
<p>Jika ditanya, apakah menyesal sudah putus sama mantanku yang cantik lembut itu? Jawabannya adalah tidak. Itu adalah keputusan rasional yang pertimbangannya masak&#8211;ada rasa bangga saat proses putus dijalani dengan baik. <em>Move on</em> pun tak masalah; mantan adalah sahabat. Saat ia memulai hubungan baru, secara tulus aku ikut senang. Saat ia putus lagi, aku pun merasa sedih dan menghiburnya. Tak bisa kubayangkan bisa hidup bersamanya lagi, karena aku yang dulu tidak sama dengan aku yang sekarang; dan aku yang sekarang tidak punya keinginan untuk mengulang masa lalu dengannya.</p>
<p>Namun yang membuat menyesal adalah kenyataan bahwa masa <em>moratorium</em> yang kualami sekarang memiliki proses yang kurang dijalani dengan baik. Aku gelisah, dan melakukan hal-hal yang dulu tidak kupercaya bahwa bisa kulakukan, seperti <em>promiscuity</em> (tak punya pasangan tetap, melakukan <em>one night stand</em>), yang menjadi masalah besarku saat ini. Aku bertransformasi sebagai pribadi Casanova yang dulu kucela tak habis-habis. Pemilihan <a href="http://sepocikopi.com/2011/05/20/nickname-vs-real-name/">nama nickname</a> dunia maya yang dulunya random, sekarang menjadi seperti kutukan. Terkadang malah benar-benar malu untuk berkaca di depan cermin karena pergumulanku ini.</p>
<p>Hidupku memang sangat lain tanpa peran sebagai istri: Berkencan tiada henti dengan perempuan yang berbeda-beda, mencicip keharuman perempuan-perempuan pada satu malam, dan mendaraskan kata-kata tak berujung yang intinya anti berkomitmen. Modus syaratnya hanya tiga: 1. tidak pakai bohong bahwa yang satunya sudah punya pacar (baca: anti buaya darat), 2. <em>non-drama please</em>, 3. tidak kenal dari dunia maya saja.</p>
<p>Pertanyaan itu sering diulang dalam hati&#8211;Sebenarnya apa sih yang dicari dari tindakan <em>promiscuity</em>?</p>
<p>Sejujurnya aku belum bisa jawab. Aku memang jatuh cinta lagi habis-habisan kepada seorang perempuan, setelah mantanku. Cinta yang ini memang terjawab lagi, dan juga indah karena berbalut ketulusan dan kasih sayang sangat besar yang buncahannya merebak sampai ke ujung jari. Betapa senangnya dikasihi pula seperti itu. Tapi karena satu dan lain hal, secara rasional pun kami merasa jalan tertutup untuk hidup bersama. Bukan karena kami berdua lesbian, tapi karena perbedaan umur dan komitmennya untuk hal-hal lain yang tak memungkinkan untuk hidup bersama. Mungkin itu juga menyebabkan aku patah hati.</p>
<p>Setiap perempuan, kupercaya, memiliki daya tarik magnet sendiri-sendiri terhadap orang di sekitarnya. Wangi-wangi setiap perempuan pun berbeda-beda. Aku selalu terpekur pada keindahan-keindahan setiap perempuan. Hal ini juga bisa jadi faktor penyebab.</p>
<p>Bersamaan dengan itu, faktor lain adalah, daya tarik magnet yang kupunya cukup baik untuk bisa membuat perempuan-perempuan yang tertarik padaku menggunakan segala kesempatan untuk menyentuh tangan, bahu, kulit, dan lainnya, hingga mencengkeram lewat aksi-aksi posesif yang jadinya drama juga. Gilanya adalah, aku sempat menyukai keadaan seperti itu. Betapa hebatnya merasa diinginkan, dipuja, dikejar-kejar, diperhatikan. Bahkan saat berat badanku bertambah seperduapuluh kuintal, masih banyak perempuan yang menyebutku cantik dan mengajak berkencan. Betapa bangganya dan betapa bodohnya.</p>
<p>Di sini, jangan bayangkan aku sedang narsis&#8211;itu sama sekali salah. Aku sedang getir, teman. Getir yang ini berujung tangisan kecil. Untuk apa cantik fisik tapi kelakuannya jelek? Bukankah lebih baik ada <em>inner beauty</em>?</p>
<p>Terlebih, setelah setiap kali melakukan tindakan <em>promiscuity</em>, ada kekosongan yang mengerikan. Tentu saja, saat kau berusaha menyerap emosi dari pihak random yang lain, kau memberikan sesuatu yang sangat berharga dari dirimu. Namun selanjutnya, dirimu itu kau lepas begitu saja dari yang lain tanpa sisa emosi. Saat kau menganggap dirimu yang berharga itu menjadi seharga uang receh, yang tersisa adalah hampa. Seperti tersedot habis sampai ke luaran epidermis kulit yang paling kasar.</p>
<p>Menyedihkan, bukan? Di saat itulah, seperti yang kusebutkan sebelumnya, nama Casanova dalam <em>nick</em>-ku yang dulu Carmen Casanova, ibarat kutukan.</p>
<p>Apakah tulisan ini termasuk sebuah rengekan? Bukan, buatku ini adalah sebuah refleksi. Refleksi dan pengakuan seperti ini sejatinya jauh dari mudah. Saat ini pun, rasanya ingin tenggelam dari dasar bumi saking malunya karena berefleksi seperti ini. Tapi ada keyakinan, bahwa refleksi dengan niatan baik bisa dijadikan tonggak untuk bersiasat terhadap kelemahan diri; ataupun menggarap jalan untuk perbaikan diri. Selanjutnya terserah pada pribadi, apakah mau berenang menuju arus kencang membuat tenggelam, atau memilih untuk berenang pelan-pelan menuju ke tepi agar selamat?</p>
<p>Dari sini, aku memilih yang kedua.</p>
<p>Kehidupan sebagai lesbian memang tak terduga. Kita takkan tahu kemana kaki ini akan berjalan, seperti apa tantangan ke depan, cinta apa yang menghampiri, dan transformasi diri apa yang akan dialami. Tapi selain kemampuan melihat harapan, aku melihat satu lagi kemampuan yang diperlukan secara absolut buat lesbian:<em> Kemampuan untuk mau memperbaiki diri.</em> Siapa yang mau berlatih kemampuan ini bersama-sama denganku?</p>
<p>@Carmen, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/05/15/janda-casanova/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Donny B.U.: Menggunakan Akun Anonim Tidak Masalah, Tergantung Niat Awal</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/05/14/donny-b-u-menggunakan-akun-anonim-tidak-masalah-tergantung-niat-awal/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/05/14/donny-b-u-menggunakan-akun-anonim-tidak-masalah-tergantung-niat-awal/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 May 2012 11:42:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[wawancara]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=19844</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lakhsmi dan Vilinnz
Donny Budhi Utoyo atau yang lebih sering kita kenal dengan nama ngetopnya sebagai Donny B.U. adalah executive director dari ICT Watch Indonesia (www.itcwatch.com). Keterkenalan ilmu dan pengetahuannya menyebar di seluruh dunia maya. Siapa pun yang ingin belajar lebih jauh tentang dunia inet/teknologi dan aspek komunikasinya, pasti menghubungi beliau.
Dengan latar belakang master degree di bidang  Communication Management dari Universitas Indonesia, Donny juga seorang dosen di Universitas Bina Nusantara, Paramadina University, LSPR, dan Universitas Pelita Harapan. Di pekerjaan dan aktivitasnya yang demikian padat, Donny masih sering memberikan ceramah, seminar, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/05/Donny_BU.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-19847" title="Donny_BU" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/05/Donny_BU-300x294.jpg" alt="" width="300" height="294" /></a>Oleh: Lakhsmi dan Vilinnz</p>
<p>Donny Budhi Utoyo atau yang lebih sering kita kenal dengan nama ngetopnya sebagai Donny B.U. adalah <em>executive director</em> dari ICT Watch Indonesia (www.itcwatch.com). Keterkenalan ilmu dan pengetahuannya menyebar di seluruh dunia maya. Siapa pun yang ingin belajar lebih jauh tentang dunia inet/teknologi dan aspek komunikasinya, pasti menghubungi beliau.</p>
<p><span id="more-19844"></span>Dengan latar belakang master <em>degree</em> di bidang  <em>Communication Management</em> dari Universitas Indonesia, Donny juga seorang dosen di Universitas Bina Nusantara, Paramadina University, LSPR, dan Universitas Pelita Harapan. Di pekerjaan dan aktivitasnya yang demikian padat, Donny masih sering memberikan ceramah, seminar, dan berbagi informasi tentang internet sehat.</p>
<p>Latar belakangnya di dunia media (jabatan terakhir Vice President dari Group Media Detik.com) sungguh-sungguh membuatnya tidak hanya mengenal teori, namun juga aplikasi dunia maya dengan segala intriknya. Beliau telah melanglang di berbagai negara (Amerika, Kanada, Mesir, Malaysia,Thailand, Singapore, Vietnam, Spanyol, dan lain-lain) untuk mengikuti berbagai seminar <em>up-to-date</em> tentang teknologi dan komunikasi.</p>
<p>SepociKopi sangat berberbahagia atas kehadiran Donny B.U. pada tanggal 9 Mei 2012 menjadi tamu istimewa di forum #QASK di Twitter. Yuk, kita simak obrolan @donnybu dengan admin @sepocikopi yang sedang bertugas saat itu!</p>
<p>***</p>
<p>Malam ini saya mendapat kehormatan diundang berbagi info tentang dinamika internet kepada teman-teman @sepocikopi. Berdasarkan permintaan, saya akan mencoba fokus berbagi tentang dinamika komunikasi interpersonal di internet. <em>Sharing </em>saya akan santai, bebas nilai, dan tidak untuk menggurui.</p>
<p>Topik menarik ini dimulai dari pertanyaan, misalya: &#8220;Kok bisa pacaran onlen, tapi belum pernah bertemu? Kenapa gampang tertipu di inet? Kenapa orang harus anonim?&#8221;. Dan pertanyaan lain-lainnya.</p>
<p>Internet memungkinkan terjadinya komunikasi <em>hyperpersonal</em>, alias menjadi lebay daripada kalau kita melakukan tatap wajah alias face2face (f2f). <em>Hyperpersonal </em>artinya lebih hangat, intim, akrab daripada kalau melakukan tatap wajah. Ini semua bisa terjadi, setidaknya karena dua hal pokok:</p>
<p>1. Tidak harus pusing dengan penampilan diri saat berkomunikasi. Paling-paling hanya bermodalkan avatar yang ukurannya seuprit.</p>
<p>2. Saat mengobrol via SMS, BBM, DM, chat, dan lain-lain, kita selalu mempunyai waktu jeda untuk memikirkan balasan yang ciamik.</p>
<p>Nah, kita akan bahas satu persatu logika di balik dua alasan tadi. Pertama perihal tentang &#8220;tidak harus pusing dengan penampilan diri&#8221;.</p>
<p>Ada istilahnya &#8220;<em>disembodiment</em>&#8221; di inet, yaitu jati/indetitas diri kita tak lg harus terikat atau tunduk pada raga. Istilah <em>&#8220;On the internet, nobody knows you&#8217;re a dog</em>&#8220;, kalimat itu meggambarkan <em>disembodiment</em>. Lalu apa akibatnya? Karena <em>disembodiment </em>, maka ada <em>&#8220;identity play&#8221;, misalnya cowok menyaru menjadi cewek dan sebaliknya.<br />
<em><br />
Identity play </em></em>dalam bentuk lain misalnya, yang aslinya pendiam, menjadi ramai di inet. Yang biasanya kalem, menjadi nyinyir<em>. <em>Identity play</em> kerap </em>disalahgunakan orang untuk melakukan aksi menipu, tebar pesona dan rayuan, menjerat sana-sini.<em> <em>Identity play </em></em>lebih seperti kita ingin dicitrakan sebagai orang yang bagaimana, bukan sebagai siapa atau memakai identitas orang.<em> Faker</em> yang memakai identitas atau foto orang lain sebagai citra diri namanya<em> <em>impersonation</em></em></p>
<p>Sejak jaman dulu, chat IRC sampai dengan sosmed Facebook dan Twitter, modus <em>identity play</em> tidak berubah. Begitu-gitu saja. Aksi menipu ala <em>identity play</em> bisa merupakan motif iseng sampai dengan tindakan kriminal; dari niat mencuri hati sampai dengan mencuri duit! Video <em>call</em> dan IRC sama-sama komunikasi bermediasi komputer. Walau IRC berupa <em>text</em> dan Skype berupa video, komunikasi non verbal tetap saja tereduksi, karena termediasi komputer.</p>
<p><em>Identity play</em> dan <em>disembodiment </em>ini mempunyai &#8220;saudara kandung&#8221;, yang kita kenal dengan istilah akun &#8220;anonimus&#8221;. Tidak semua akun yang anonimus jelek, tapi kita cenderung memukul rata dan melabel buruk anonimitas di internet. Ada dua alasan yang saling bertolak belakang mengapa seseorang memutuskan anonimus ketika <em>online</em>:<br />
<em><br />
1. Freedom of Constraints</em><br />
Orang ingin bebas berekspresi tanpa harus menjadi bias pesannya karena identitas diri. Kecenderungan orang masih &#8220;menilai&#8221; siapa orangnya, bukan menilai apa pesan/ilmu yang dibawanya. Selain itu, &#8220;freedom of constraints&#8221; juga menjadi alasan bagi orang-orang yang dirinya beresiko kalau terlalu blak-blakan dan terbuka. Anonimus yang bertujuan untuk menikmati <em>&#8220;freedom of constraints&#8221;</em> sebenarnya bagus dan etis dilakukan. Sama sekali tak memiliki masalah.</p>
<p><em><br />
2. Freedom of Responsibility</em><br />
Ini anonimus yang tidk bagus. Anonimus ini melakukannya karena ingin mendapatkan <em>&#8220;freedom of responsibility&#8221;</em>, alias ngibrit dari tanggung jawab! Anonimus <em>&#8220;freedom of responsibility&#8221;</em> memiliki konten yang cenderung ke arah <em>flame</em>, mencaci-maki, menfitnah, menghasut, dan lain-lain yang sejenisnya.</p>
<p>Jika akun<em> anonomus</em> tidak memakai foto asli (misalnya akun lesbian) maka dia adalah anonim bagi &#8220;<em>outsiders</em>&#8220;. Tapi bagi &#8220;<em>insiders</em>&#8220;, dari isi tuitnya saja, orang akan bisa mengetahui ini siapa. Jadi identitas diri bersifat seperti <em>&#8220;symbolic marker&#8221;</em>, penanda yang membedakan seseorang dengan orang lain. Ini termasuk di ranah onlen. Jadi, menggunakan akun anonimus tergantung niat awalnya saja. Jangan belum apa-apa, kita sudah langsung antipati dengan orang yang memilih anonim.</p>
<p>Baiklah, balik lagi ke awal tentang <em>hyperpersonal</em>. Alasan pertama sudah dibahas, yaitu krn <em>disembodiment</em> dan <em>identity play.</em></p>
<p>Alasan kedua mengapa terjadi <em>hyperpersonal </em>di inet karena selalu ada waktu untuk mencari-cari jawaban yang ciamik. &#8220;Komunikasi&#8221; di onlen cenderung <em>asynchronous</em>, yang artinya tidak terus menerus. Selalu ada jeda saat mengobrol. Berbeda saat komunikasi berhadapan yang tidak hanya verbal, tapi juga terdiri dari gerak tubuh (gestur), intonasi, dan lain-lain.</p>
<p>Ini mengapa saat <em>face2face</em>, sedikit saja kita tau pacar tidak jujur, gelisah, bete, dan lain-lain dari sikap <em>non-verbal</em> nya. Saat <em>face2face,</em> nyaris tak ada jeda &#8220;komunikasi&#8221; lagi. Kita saling &#8220;berbicara&#8221;. Nah, berbeda dengan di onlen. Sudah bahasa <em>non-verbal</em>-nya nyaris tak ada, ditambah lagi kita selalu memiliki waktu yang lapang untuk bermanis-manis.</p>
<p>Misalnya kita sedang menghibur teman yang sedang galau di onlen. Maka kita pasti sempat mencari kata-kata bijak, mengutip lagu, dan lain-lain. Atau saat ada yg galau, sambil browsing kita bisa mengutip kata-kata indah, utak-atik dikit, dan kita pun bisa menjadi <em>so romantic. </em> Itulah mengapa orang mudah terpesona dgn &#8220;karisma&#8221; seseorang yang bahkan belum pernah ditemuinya. Sangat wajar jika kemudian seolah &#8220;pacar&#8221; yang di onlen lebih peduli, lebih mengayomi, ketimbang pacar yang oflen.</p>
<p>Di sinilah kita perlu kehati-hatian, bahwa sangat mudah &#8220;anjing&#8221; menjadi siapa pun di onlen untuk niat apa pun. Dan jangan heran, hanya dari <em>chat/text</em> saja, bisa terjalin komunikasi yang ekstra intim hingga ke <em>cybersex</em>. yes!<em></em></p>
<p><em>Cybersex is defined as erotic messages or sexual fantasies exchanged between them who are online at the same time.</em> Dlm <em>cybersex</em> ada kegiatan <em>foreplay </em>yang disebut &#8220;simulasi aksi&#8221;, bisa melalui <em>chat</em>, DM, BBM, YM, dll. Simulasi aksi perlu sinkron dari kedua belah pihak, ditambah daya imajinasi yang kuat, apalagi kalau <em>text-based</em> saja.</p>
<p>Contoh simulasi aksi, misalnya saat kita mengetik, &#8220;Aku sedang menggenggam tanganmu, Dik.&#8221; Genggam tangan apa, ada juga keyboard?! Selanjutnya, &#8220;Aku sedang mencium bibirmu dengan hangat.&#8221; Ada juga mencium monitor! Tapi itulah &#8220;simulasi aksi&#8221;. Memang bagi sepasang kekasih, reaksi kimiawi otaknya dpt bergejolak sampai pada satu titik, para pihak yang melakukan <em>cybersex </em>akan bareng meningkat ke <em>&#8220;self-stimulation&#8221;</em>.</p>
<p>Alasan seseorang kecanduan jejaring sosial, biasanya krn jiwanya &#8220;tertinggal&#8221; di dalamnya, sebagaimana <em>game online</em>. Raga tidak ikutan. Kenapa jiwa kita tertinggal? Karena dia bisa menjadi &#8220;<em>someone</em>&#8220;, mempunyai banyak teman, dan lain-lain di dalam ranah socmed or <em>game</em> onlen. Kalau kecanduannya sudah parah, ini butuh &#8220;ditarik&#8221; oleh orang lain, entah keluarga dekat atau psikiater. Tapi kalau masih bisa membedakan mana <em>real-life</em> dan mana yang maya, kuncinya ya sering jalan dan menntraktir teman.</p>
<p>Apa pun yang sudah di-<em>posting</em> di inet basisnya <em>networked</em>. <em>You can&#8217;t delete it, once posted online.</em> Selalu ada cara data bisa bocor. Yang terbaik agar data tidak pernah bocor di internet, adalah jangan mempostingnya sama sekali. Atau posting secukupnya. Di internet banyak ragam kejahatan, dari penipuan (<em>fraud</em>), pornografi anak, dan pencurian data/identitas. Kejahatan inet tidak hanya memilih korban perempuan. Sebenarnya, kejahatan tidak pandang bulu. Lelaki juga mudah lengah, sehingga selalu bisa menjadi korban. Apalagi kalau imajinasinya  sudah dimainkan.</p>
<p>Jadi, itulah sekedar tuit-tuit singkat tentang dinamika komunikasi interpersonal yang bermediasi internet. Walau teknologi berubah, dari jaman <em>text </em>(MIRC) ke video (Skype), perilaku dasar komunikasinya tetap sama. Dengan paham esensi dasar komunikasi interpersonal di inet, kita dapat lebih paham posisi untuk menjaga diri.</p>
<p>Yang ingin mendalami/riset tentang hal-hal tadi, kata kuncinya &#8220;<em>computer mediated communication</em>&#8220;. Semuanya ada jurnal onlen. Terima kasih kepada teman2 @sepocikopi yang mengundang saya untuk berbagi malam ini.</p>
<p>***<br />
<strong><br />
Respons follower:</strong></p>
<p>@hujan_cinta: Sangat menggugah, Min. Mampu membangunkan kita dari hibernasi dan membangkitkan semangat buat nulis. #nulisSK</p>
<p>@LSenjaaa: Ayeeee. Jadi makin penasaran sama pembahasannya. <img src='http://sepocikopi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> ) #QASK</p>
<p>@riytariyta: Siaap.</p>
<p>@sksemarang: Jangan lupa ya kak sis pantengin #QASK jam 21.00 WIB di linimasa @sepocikopi agar melek <em>internet safety</em> \(´?`)/</p>
<p>@kathmetta: Sudah gw duga pak @donnybu yang bakal mengisi #QASK buat @sepocikopi kali ini. Mantengin terus deh TL-nya malam ini \(´?`)/</p>
<p>?@cintabening; Menyimak informasi dari kak bro @donnybu di @sepocikopi. Selamat bertugas kak mimin dan kak @Vilinnz *hug* semoga koneksi lancar jaya sentosa. :*</p>
<p>@cintabening: Ya ampuuun! #QASK @donnybu di @sepocikopi malam ini super bangett-nget-ngeet. Anonimus <em>&#8220;freedom of responsibility&#8221;</em>?! Enggak banget.</p>
<p>@cintabening: Kak bro @donnybu banyk sekali kasus penipuan dari dunia maya dengan berbagai modus, apa memang perempuan sangat mudah terbuai oleh komunikasi <em>text</em>?</p>
<p>@rahasiabulan: Wah, asyik! Nunggu sharing @donnybu tentang internet sehat dan dinamika komunikasi di internet dalam #QASK @sepocikopi</p>
<p>@soir_de_lune69: Mari merapat ke TL @sepocikopi yg menghadirkan tamu hebat kak @donnybu. membahas tentang komunikasi di dunia maya. Info penting nih buat kita <img src='http://sepocikopi.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>@soir_de_lune69: Topik #QASK malam ini ok banget. Benar-benar berhubungan dengan prilaku yang kita lakukan secara langsung. Komunikasi interpersonal di dunia maya. Good job @sepocikopi <img src='http://sepocikopi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>@soir_de_lune69: @sepocikopi Kak, jika umumnya komunikasi di internet cenderung <em>hyperpersonal</em>, bagaimana cara untuk membatasi kemungkinan tidak seperti itu atau memang pasti alami terjadi?#QASK</p>
<p>@soir_de_lune69: Terima kasih yang sebesarnya atas jawabannya dan kultwitnya yang sangat berharga malam ini kak @donnybu. Terima kasih banyak juga untuk mimin @sepocikopi =D #QASK</p>
<p>@PINCdongker : Menyimak @sepocikopi, ada hacker hebat <img src='http://sepocikopi.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>@PINCdongker : @sepocikopi aq pny 2 akun (lesbi &amp; normal) tp sering aktif di akun lesbi, trmasuk anonim gk kl akun ini gk pake foto asli? #QASK @donnybu</p>
<p>@PINCdongker : Terima kasih pak @donnybu sudah menjawab pertanyaan saya, makasih juga buat kak min @sepocikopi dan forum #QASK mala min</p>
<p>@Librinaa : Eh! kenapa gw jadi ikut mantengin TL nya sir @donnybu yaa. Ini semua karena kathmetta!!</p>
<p>@dearlydevotedme: @sepocikopi @donnybu Aku nih suka identity play. Haha. Kalau faker, pakai identitas orang atau foto orang yang diakui sebagai dirinya termasuk?</p>
<p>@dearlydevotedme: Baiklah. Berarti selama ini diriku sudah<em> &#8220;identity play&#8221;</em> makasih @sepocikopi dan tamu malam ini <img src='http://sepocikopi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>@michaberween: Sinyal jelek banget, duhai tukang wifi aku cepatlah pulang ? mau mantengin #QASK nya @sepocikopi ini.</p>
<p>@yanuarnugroho: Baca TL @donnybu tentang diskusi @sepocikopi &#8211; anonimitas komunikasi online (email ) itu topik disertasi master saya 12th yang lalu <img src='http://sepocikopi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  Memang menarik!</p>
<p>@superlightsaber: @sepocikopi @donnybu Masa sih perilaku dasar zaman MIRC dibanding skype sama? Apa videocall tidak bisa dihitung<em> direct communication</em>? #QASK #9id</p>
<p>@hesdynov: Gimana sih cara menyetop kecanduan akan jejaring sosial? #QASK @donnybu</p>
<p>@YaSaTra: @sepocikopi Gimana caranya memproteksi akun agar tidak dapat dicari melalui situs apapun? Aku sudah <em>protect </em>akun, tapi dapat dicari via google. Tolong bantuannya</p>
<p>@micinbury: Pak @donnybu tolong jelaskan macam-macam kejahatan dunia maya? <em>Thank you</em>. Cc @sepocikopi</p>
<p>@A_d_e_Rain: Ya ampuuun kerennya ini orang, suka tentang <em>‘symbolic marker’</em>, penanda yang membedakan seseorang dengan orang lain, termasuk di online @sepocikopi.</p>
<p>@A_d_e_Rain: A1 <em>Indentity play </em>lebih seperti kita ingin dicitrakan sebagai orang yang bagaimana, bukan sebagai siapa/pakai identitas orang @sepocikopi @donnybu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>@Lakhsmi, Vilinnz, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/05/14/donny-b-u-menggunakan-akun-anonim-tidak-masalah-tergantung-niat-awal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mix n&#8217; Match: Lesbian Anti Kepancing</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/05/13/mix-n-match-lesbian-anti-kepancing/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/05/13/mix-n-match-lesbian-anti-kepancing/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 May 2012 13:03:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Mix n' Match]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=19835</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Carmen
Kamu tipe yang mudah kepancing emosinya? Ih cupu. Atau yang sering merasa tersinggung? Ya ampun, capeknya. Gampang stres kalau ada yang mengintimidasi? Aduh kasihan&#8230; Sini-sini merapat ke penulis lesbian yang cantik.
Oke, sebelum mulai, aku mengaku bahwa objek tulisan kali ini bisa dibilang mikroskopik&#8211;menunjuk ke diri sendiri. Lesbian kan umumnya gemar menjelek-jelekkan diri sendiri tuh, nah sekarang mungkin saatnya sekali-sekali ada yang mengangkat diri sendiri secara terbuka terang-terangan.
Eksperimen nih, di tulisan ini akan kucoba menghindari garis tipis arah narsisme&#8211;yang sudah bersifat patologis&#8211;dan lebih mendekati ke arah paparan fakta positif tentang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/05/keep_calm___dftba_by_jamesmontour-d356vm9.jpg"><img src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/05/keep_calm___dftba_by_jamesmontour-d356vm9-270x300.jpg" alt="" title="keep_calm___dftba_by_jamesmontour-d356vm9" width="270" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-19836" /></a>Oleh: Carmen</p>
<p>Kamu tipe yang mudah kepancing emosinya? Ih cupu. Atau yang sering merasa tersinggung? Ya ampun, capeknya. Gampang stres kalau ada yang mengintimidasi? Aduh kasihan&#8230; Sini-sini merapat ke penulis lesbian yang cantik.</p>
<p>Oke, sebelum mulai, aku mengaku bahwa objek tulisan kali ini bisa dibilang mikroskopik&#8211;menunjuk ke diri sendiri. Lesbian kan umumnya gemar menjelek-jelekkan diri sendiri tuh, nah sekarang mungkin saatnya sekali-sekali ada yang mengangkat diri sendiri secara terbuka terang-terangan.<span id="more-19835"></span></p>
<p>Eksperimen nih, di tulisan ini akan kucoba menghindari garis tipis arah narsisme&#8211;yang sudah bersifat patologis&#8211;dan lebih mendekati ke arah paparan fakta positif tentang pribadi. Tujuannya adalah untuk mempermudah ilustrasi lesbian-anti-kepancing. Siap?</p>
<p>Tidak mudah bagi orang untuk memancing emosiku. Beberapa teman berkata bahwa ia paling rugi saat mencoba menekanku secara sengaja; yang bisa dipastikan belum pernah berhasil. Padahal kalau disebut cuek sih, tidak juga. Aku bukan tipe yang cuek. Sebut deh <em>perpetrators</em>-nya: Teman yang suka mem-<em>bully</em> orang lain, kolega yang punya kebiasaan menjelek-jelekkan orang lain, atasan yang suka menekan, bos yang dicap arogan, teman yang meninggikan diri sendiri dengan cara merendahkan orang lain, dan sebagainya. Familier? Nah, untuk Carmen, semua dari mereka biasanya juga ingin kujadikan teman yang sifatnya mutualisme; dan sebagian besar sih berhasil.</p>
<p>Kalau ditanya kenapa alasannya, biasanya dijawab dalam hati begini: “karena aku lesbian, makanya kece”, hihihihi (catatan: Oops sedikit tergelincir ke gerbang narsis). Tapi setelah berpikir lebih jauh, mungkin hal tersebut karena beberapa kebiasaan dan cara pandang, yang bisa jadi tips untuk lesbian lain yang kurang beruntung (baca: yang tombol merahnya gampang kepencet akibat intimidasi orang lain).</p>
<p><strong>1. Jika ada yang mencoba memancing emosi, sambut saja dengan tawa yang penuh kasih.</strong></p>
<p>Ini tips yang lumayan sering kulakukan dan sangat mudah dilakukan. Akibatnya juga sangat positif untuk orang lain juga diri sendiri. Begini, anggaplah kamu disindir sama A, diancam, atau ditegur yang sifatnya aneh. Dari yang kuperhatikan, tipikal respons yang orang lain lakukan adalah merasa tersinggung lalu marah, atau merasa takut lalu menunduk minder.</p>
<p>Di sini aku mengajak untuk tersenyum. Lebih bagus lagi, tertawalah dengan niat yang baik. Tertawa dengan niat baik itu berbeda lho dengan tertawa dengan niat mempermalukan orang lain.</p>
<p><em>It’s all within the mind</em> yang akan tercermin ke perilaku. Niat baiknya apa? Niat baiknya mencakup menenangkan orang yang bersangkutan, karena orang yang berusaha memancing emosi kita biasanya sedang dalam kondisi emosional juga. Apalagi menurut penelitian, gestur emosi positif seperti tersenyum dan tertawa itu relatif gampang ditiru pihak yang lain tersebut.</p>
<p>Memang sih, kesannya naif: Masa saat dipancing-pancing, kita malah harus memperhatikan kondisi orang mancing itu? Kalau ada yang komentar begini, biasanya aku akan berkata bahwa terkadang bersikap mengasihi orang lain yang sedang “troubled” merupakan jalan pintas untuk kondisi damai, bagi si perpetrator dan diri sendiri.</p>
<p>Saat berhasil melakukannya dan semuanya berjalan dengan baik, yuk dengerin lagu random yang menyenangkan, lesbian <img src='http://sepocikopi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><iframe src="http://w.soundcloud.com/player/?url=http%3A%2F%2Fapi.soundcloud.com%2Ftracks%2F43923280&#038;auto_play=false&#038;show_artwork=true&#038;color=ff7700" frameborder="no" scrolling="no" width="100%" height="166"></iframe></p>
<p><strong>2. Jika ada yang mencoba menekan kita berkali-kali, sambit saja dengan baygon&#8230; eh salah, anggaplah dia sebagai kecoa.</strong></p>
<p>Tips nomor 1 biasanya berhasil untuk banyak konteks. Tapi terkadang ada lho orang-orang aneh yang sangat bersikeras untuk menekan orang lain berkali-kali secara konsisten. Kalau sudah begini, saat dia sedang aneh seperti badut di depan mata, anggaplah yang bersangkutan sebagai kecoa. Tujuannya apa? Biar yang kecoa menjadi kupu-kupu. Aih, manis sekali bukan?</p>
<p>Di sini aku mengajak lesbian untuk bervisualisasi. Kalau bertemu dengan orang yang huruf nama depannya “A” belakangnya “G” alias <em>annoying </em>yang selalu dalam setiap kesempatan mencari cara untuk membuat kita tidak nyaman, bersikaplah seperti biasa dengan menganggapnya kecoa. Gemas kan kalau ada kecoa hidup? Penginnya disemprot pakai baygon? Jadi mekanismenya adalah, bersikaplah gemas seolah menghadapi kecoa yang tinggal disemprot pakai baygon; atau lebih mudahnya, anggaplah dia seperti anak kecil yang memaksa kita untuk bermain layang-layang. Eh gimana sih kak, tadi kecoa sekarang kok layang-layang? Yah namanya juga usaha, teman. Susah nih menerangkannya&#8230;</p>
<p>Dianggap lucu-lucuan gitu lho. Habis itu sih biasanya yang bersangkutan juga capek sendiri karena waktu dia bersikap <em>annoying</em>, kita menganggapnya lucu. Senang kan kalau orang dianggap lucu? Yang tadinya kecoa jadi kupu-kupu deh. Oke Carmen, stop super randomnya. Sekarang saatnya menghadiahi diri sendiri dengan mendengarkan lagu yang <em>upbeat</em>, karena kecoa yang <em>annoying </em>sekarang sudah jadi kupu-kupu yang ikut tertawa bersama kita <img src='http://sepocikopi.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" src="http://w.soundcloud.com/player/?url=http%3A%2F%2Fapi.soundcloud.com%2Ftracks%2F37719458&#038;auto_play=false&#038;show_artwork=true&#038;color=ff7700"></iframe></p>
<p><strong>3. Jika ada yang merendahkan kita di depan orang banyak, bersikap tetap tenang.</strong></p>
<p>Nah gimana kak Carmen, kalau orang yang bersangkutan sudah melanggar batasan kesopanan dan benar-benar keterlaluan? Misalnya, merendahkan atau menghina kita di depan orang banyak? Hohohoho nona, tetaplah bersikap anti kepancing. Hiraukan jika bisa (terutama untuk masalah yang tidak penting), dengan cara melakukan hal lain yang produktif daripada capek-capek tersinggung. Misalnya dengan pakai masker mata atau melakukan <em>quick manicure </em> agar kita tidak terpancing. Hasilnya adalah menjaga mata agar tidak keriput dan kuku yang bersih selagi kencan. Produktif, kan?</p>
<p>Kalau tidak bisa menghiraukan karena menyangkut orang banyak atau menyangkut tanggung jawab, maka minta waktu untuk berpikir dan bersikap asertif. Umumnya dialog hanya bisa terjadi kalau ada dua kepala, bukan dua tank perang berisi bom. Faktanya adalah, kalau sekeliling ruangan suasananya panas, hal itu bukanlah waktu yang tepat untuk mengambil keputusan&#8211;baik untuk menilai lawan bicara, atau berespons terhadap suatu masalah. Waktu untuk berpikir bisa digunakan dengan memakan es krim sambil berbincang dengan sahabat yang baik dan netral yang bisa memberikan masukan, misalnya. Pikirkan juga alternatif memang ada dari pihak kita yang salah. Atau mendengarkan lagu santai sambil berpikir soal komunikasi yang paling efektif untuk menyelesaikan masalah juga bisa dicoba.</p>
<p><iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" src="http://w.soundcloud.com/player/?url=http%3A%2F%2Fapi.soundcloud.com%2Ftracks%2F36103437&#038;auto_play=false&#038;show_artwork=true&#038;color=ff7700"></iframe></p>
<p>Poinku adalah, sikap elegan sangat krusial untuk gerakan anti kepancing. Saat kita mencoba membalas atau membuat orang yang bersangkutan menjadi malu, kita kejeblos di lubang yang sama. Jadi daripada begitu, mending tertawa, atau visualisasi kecoa, atau hiraukan, atau minta waktu untuk berpikir dan berespons untuk fokus ke masalahnya itu sendiri, bukan ke orangnya.</p>
<p>Banyak lho manfaat dari kemampuan nggak-gampang-kepancing ini. Satu: hidup jadi lebih santai dan positif. Jelas dong, kalau tidak gampang terpancing emosi kan jadi lebih santai terhadap kritikan, misalnya, atau menganggap banyak hal sebagai positif. Kedua: Kalau tidak mudah terpancing, otomatis relatif lebih sedikit kemungkinan untuk diintimidasi. Mengapa? Karena rasa hormat yang didapat. Gini deh, siapa juga yang mau mengintimidasi orang yang jelas-jelas akan tenang menghadapi tekanan? Yang ada malah keder. Ketiga dan mungkin yang paling penting adalah: jadi bisa punya banyak teman dengan kualitas yang heterogen. Yup, termasuk berteman dengan orang-orang yang <em>annoying. </em>Mengapa? Karena setiap orang punya kelebihan; dan saat berinteraksi dengan banyak orang, kita pun bertumbuh. Bayangkan pertumbuhan dan kedewasaan kita kalau kita memiliki kemampuan untuk bekerja dan berinteraksi dengan segala macam tipe orang. Lesbian pengin menuju pucuk pimpinan bagi orang banyak? Mulai dari mengasah kemampuan untuk bekerja sama dengan segala tipe orang!</p>
<p><iframe width="100%" height="166" scrolling="no" frameborder="no" src="http://w.soundcloud.com/player/?url=http%3A%2F%2Fapi.soundcloud.com%2Ftracks%2F44925064&#038;auto_play=false&#038;show_artwork=true&#038;color=ff7700"></iframe></p>
<p>Hidup lesbian!</p>
<p>@Carmen, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/05/13/mix-n-match-lesbian-anti-kepancing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

