Articles in the Twilight Zone Category
Humaniora, Twilight Zone »
Oleh: Lakhsmi
Kau tahu Raja Shahryar dari kerajaan Sasan, kerajaan nan agung dan indah tiada duanya? Syahdan, pada dini hari, kerajaan ini tampak seperti buih mengilat berwarna biru keperakan, seakan-akan Tuhan sengaja meletakkannya di tengah-tengah gurun. Kerajaan Sasan membuat para musafir yang melihatnya seketika tersungkur dan memuji-muji namaNya. Dari tempat di mana air mengalirkan kebijakan itulah kudengar dongeng-dongeng ajaib yang mencengangkan, mampu menggetarkan tulang sumsum serta mengkristalkan kumpulan kata-kata. Cerita-cerita ini dibisikkan melalui angin, melewati kerajaan-kerajaan di daerah India, Persia, dan Arab, dan akhirnya tiba di pangkuanku di abad modern ini.
Siapakah …
God, Humaniora, Spiritualisme, Twilight Zone »
Oleh: Lakhsmi…mungkin jarum jam bosan bergerak ke arah yang sama terus menerus setiap tahun sehingga suatu hari mereka mendadak memutuskan bergerak ke arah sebaliknya… (*)
Kadang aku ingin bus yang kutumpangi bergerak mundur, pulang ke rumah, membayangkan meninggalkan senja yang sedang kusongsong menjadi semakin menjauh, menuju subuh yang berada di belakang punggungku, mencari-cari wajah seseorang dari masa lampau ketika bus yang kutumpangi melewati halte-halte sangkala lalu. Ada begitu banyak halte yang kulewati sepanjang perjalananku, halte yang mempunyai kisah yang berbeda di tiap-tiapnya, beberapa halte terlihat sangat familiar sebab pernah kutiduri emperannya, …
Humaniora, Twilight Zone »
Oleh: Oryza Sativa
Debur ombak menghantam jendela kecil kami kala malam. Kelas empat yang terletak di lambung kapal. Tempatku dan nenekku dan nenek-nenek lain istirahat dalam pelayaran. Berlayar: sampai kapal berlayar dalam alam bawah sadarku. Dalam mimpiku, jiwaku, dan anganku.
***
Tanpa sadar kulipat kertas-kertas menjadi kapal. Betapa jauh Jogja ini dari laut dan dari kapal, kecuali kapal terbang. Yang menurutku kini tidak lagi indah—sejak mulai kurindukan kapal-kapal. Aku melipat kertas-kertas jadi kapal. Ingin kukumpulkan stoples dan kukirim ke Bali. Membagi rinduku pada kapal dengan kasihku. Kemudian ingin kukumpulkan stoples lagi …
Humaniora, Twilight Zone »
Oleh: Cassey
Bayanganitu datang sejak Dita masih remaja. Seperti bayangan tubuh di bawah sorot matahari. Tampak gelap di tanah, dengan kaki bertemu di kaki Dita. Dia ada, kemudian tiada. Datangnya tidak terduga, kapan perginya pun tidak terasa. Kadang Dita mengibas-ngibas, menjauhkan dirinya. Melengos, melupakan.
Bayanganitu langsing sintal dengan payudara mencuat indah. Bibirnya penuh dan merah dengan sorot mata yang sulit diduga. Kadang nakal, kadang nelangsa, kadang menari, kadang menangis. Berkali-kali muncul, berkali-kali hilang. Siang atau malam, kakinya tetap bertemu di kaki Dita.Seiringwaktu berlalu, bayangan itu muncul kian kerap. Tubuhnya bertambah sintal, bibirnya …
Humaniora, Twilight Zone »
Oleh: Bening
Terkadang, ada hal-hal menakutkan serupa mimpu buruk yang ingin kita jejalkan ke gudang tak bertuan. Membiarkannya dibelit jejaring laba-laba, dibungkus debu yang diterbangkan angin selatan, dan selamanya terkurung di sana.
Lebih banyak lagi hal-hal menakutkan yang tidak ingin dibicarakan. Sebab membicarakannya sama seperti meletakkan dirimu di hadapan vacum cleaner super besar yang tidak hanya bisa menyedot debu, dirimu, kursi, lemari bahkan mampu menelan rumah dan seisinya bulat-bulat, tetapi juga menyedot kebahagiaan-kebahagiaan, harapan-harapan, impian-impian.Satu hal di antaranya adalah: perpisahan.
Sekarang, coba jelaskan padaku, bagaimana kamu bisa menjelaskan konsep perpisahan yang romantis pada …
Humaniora, Tentang Cinta, Twilight Zone »
Oleh: Arie Gere
Terkadang, aku bertanya-tanya pada diriku sendiri. Ke mana saja aku selama itu ya? Ke mana saja aku dulu, sampai-sampai tidak mengenal mutiara berkilau bernama kamu? Atau jangan-jangan, dulu kamu selalu bersembunyi di balik cangkangmu, enggan mengintip apalagi menatap dunia di luar sana. Ah, tapi mana mungkin, sepertinya dulu, akulah yang selalu bersembunyi di dalam tempurung, hanya mengeluarkan nyanyian merdu saat penghujan datang, dan tak tahu hendak kemana bila panas datang. Tempurungku berada di dalam semak belukar lalu terhimpit di antara ilalang, sedangkan cangkangmupun masih tenggelam di dasar …
Humaniora, Twilight Zone »
Oleh: Oryza Sativa
Aku pindah lagi. Sudah hampir seminggu aku menempati kamar baruku. Memang ukurannya tidak lebih luas dari kamar yang lama dan letaknya di ujung lorong. Kalau tengah malam, suara tikus—yang besar tubuhnya kubayangkan sebesar botol Frestea, menjadi pengantar tidur. Mereka kasak-kusuk di langit-langit atau turun dan mencicit di sekitar kamarku. Bahkan aku pernah membayangkan mereka nyemplung ke dalam tempat sampahku.
Teman-teman geleng-geleng. Menurut mereka aku rajin sekali pindah kos, disamping rajin ganti nomor handphone. Aku sendiri tidak tahu mengapa aku senang pindah-pindah tempat tinggal. Rasanya, setahun sekali aku pindah. Mungkin …
Opini, Twilight Zone »
Oleh: Lakhsmi
Coba tantang aku. Berapa kali aku sanggup menginjakkan kaki di tempat ganjil itu. Namanya Penampung Pengeluh. Letaknya di luar kota, terpencil, terpinggirkan, sesuai dengan semangat kemarjinalan mereka. Jalan ke sana agak sulit, penuh batu-batu dan listrik tidak mengalir. Kalau malam, tempat itu gelap seperti pojok kakus umum yang kumuh dan ditinggalkan oleh para pemakai karena tersebar gosip tak jelas tentang sundel bolong yang senang bersemayam di bilik air.
Maaf, pendapatku mungkin kurang patut. Tapi aku jujur. Tempat penampungan itu penuh dengan alang-alang tinggi yang bikin gatal kaki. Nyamuk-nyamuk gemuk berkeliaran. …
Humaniora, Twilight Zone »
Oleh: Lakhsmi
Dua puluh empat jam sehari. Waktu seperti pasir, yang digenggam di tangan. Seberapa rapat jari menempel, pasir akan tetap terburai. Jatuh atau beterbangan ditiup angin.
Pencuri waktu, dia adalah nenek sihir ompong atau kakek sihir berpunggung bungkuk. Memakai jaket berwarna kelabu atau mengenakan topi dengan gambar tengkorak. Mereka dapat menjadi angin atau badai, meniup seluruh butir pasir yang kugenggam dan kujaga di tangan.
Waktu yang kupunya sama dengan waktu yang kaupunya; 24 jam atau 1,440 menit atau 86,400 detik dalam satu hari. Pencuri waktu datang tiap hari, merampasnya dengan mudah sebagai …
Humaniora, Twilight Zone »
Oleh: Ade Rain
Bolehkah aku memaki sekali saja, atas ketidakpastian ucapan ketika berbicara, atas ketidakberesan komitmen sebagai seorang perempuan yang katanya berkategori lembut dan sabar. Juga atas kesedihan yang on and off tak jelas, ketika terbawa angin kencang lara semakin liar dan besar, di saat bayu semilir semuanya serba menghanyutkan bahkan dua bongkah hati dapat hanyut tenggelam ke dasarnya.
Bolehkan makian itu kuteriakkan ketika semua yang lucu menjadi tak lucu, ketika yang luar biasa menjadi biasa, ketika yang indah menjadi biasa, ketika rasa sayang juga menjadi datar dan biasa, ketika kesopanan bukan …





