Articles in the Twilight Zone Category
God, Humaniora, Ibu, Keluarga, Spiritualisme, Twilight Zone »
Oleh: Deni Melisa
Malam Natal selalu mengingatkanku padamu, Ibu. Cengkeh yang biasa kau tusukkan di atas kue nastar kita, aromanya menyerebak di dapurmu. Aroma cengkeh itu sudah lama tak mampir ke hidungku. Sudah lama sekali, sejak kau meninggalkanku bergelut di dunia yang fana ini.
Sekarang, yang ada bukan aroma cengkeh, tapi aroma gurihnya ayam panggang. Hidup telah berubah Ibu, masa telah berganti. Meski di malam Natal ini aku tetap bersama orang-orang terkasih, tapi itu bukan kau, bukan Papa, bukan Cici, bukan Koko. Mereka adalah orang-orang yang berbeda dengan cinta yang sama. Mereka …
God, Humaniora, Spiritualisme, Twilight Zone »
Oleh: Frizzy Jo
Aku tak pernah suka tempat ini, sejak dulu, kemarin, mau pun esok. Tempat ini terlalu ramai dan memusingkan. Terlalu banyak orang di sini. Tua dan muda, pria dan wanita, bahkan abang-abang yang memajang dagangan beraneka produk kelas menengah ke bawah semakin memperparah sakit kepalaku.
Aku terus berjalan dengan wajah lurus menatap ke depan. Seperti zombie, kata teman-temanku yang sering menemaniku melewati tempat ini. Sedikit pun aku tak mengurangi kecepatan langkahku, hingga orang-orang yang memperhatikanku bisa saja menduga kalau aku sedang mengejar copet yang mengambil isi tasku. Aku tak peduli. …
Humaniora, Ibu, Keluarga, Twilight Zone »
Oleh: Frizzy Jo
Mama…
Masih ingatkah Mama saat mengikat tanganku pada kaki mesin jahit yang setiap hari Mama gunakan untuk mencari tambahan penghasilan bagi keluarga kita? Tangan yang Mama ikat itu sebelumnya telah kugunakan untuk memukul kawanku. Saat itu aku begitu marah pada Mama karena Mama bukannya membelaku dan memarahi temanku tapi malah menghukumku. Bahkan semua orang yang melihatku menangis pilu saat itu marah kepada Mama yang begitu tega menyakitiku, anakmu sendiri.
Masih ingatkah Mama saat tidak mengijinkan aku untuk menyentuh makan malamku? Saat itu aku begitu kelaparan dan tidak memiliki tenaga untuk …
Humaniora, Renungan, Twilight Zone »
Oleh: Deni Melisa
Manusia, masih ingat? Siapa yang menyebutku manusia? Kalian atau takdir? Ah, sudahlah, aku pun sudah tak berniat mencari jawab. Yang jelas, ketika aku keluar dari liang vagina ibuku, aku langsung disebut sebagai bagian dari kalian, manusia. Maaf, sebenarnya, aku tidak berharap disebut begitu, sebab jika ada nama lain yang lebih tepat untuk menggambarkan siapa kita, maka aku lebih memilih nama itu. Tapi, sepertimu, aku juga sudah dipilih dan ditakdirkan sebagai manusia. Ya manusia, makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, berakal budi, berpengetahuan, berhati nurani, …
Humaniora, Tajuk, Twilight Zone »
Oleh: Nuha Guwa
Pernah merasa sangat down? Merasa sangat berdosa karena melakukan sesuatu yang dianggap sangat tabu? Rendah, terhina, kalah, tidak punya uang, nilai ujian jelek, dan kejadian-kejadian buruk lain yang nggak ketulungan rasanya itu? Atau pada saat kita sangat mencintai seseorang tiba-tiba dikhianati tanpa rasa belas kasih, yang sakitnya oh mana tahan? Atau ketika berada di posisi nyaman di pekerjaan sekarang seketika fitnah dan ujian datang bertubi-tubi?
Setiap manusia secara umum pasti selalu ada permasalahan dalam kehidupan; baik pribadi, keluarga, teman, pekerjaan, konon pula lesbian yang harus berdamai dengan dirinya sendiri …
Humaniora, Twilight Zone »
Oleh: Frizzy Jo
Kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Dan aku memilih untuk bahagia.
Kalimat di atas bukan aku yang membuatnya. Aku hanya menyadurnya dari status FB seorang sahabat. Tapi membacanya aku langsung teringat dengan SepociKopi. Pertanyaannya adalah: “Mengapa SepociKopi?”
Bulan ini, SepociKopi mengusung tema Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Aku bukan psikolog yang dapat memberikan pendapat mengenai bagaimana mengatasi KDRT. Nggak bisa juga memberikan solusi jika ada teman-teman yang menjadi korban KDRT. Tetapi membaca kembali catatan temanku, aku jadi ingin berbagi dengan korban KDRT.
Kebahagiaan diri kita sejatinya tidak dapat dikendalikan oleh siapapun di dunia …
Sepocikopiana, Spiritualisme, Twilight Zone »
Oleh: Ade Rain
Peta yang sejak tadi berada dalam genggaman, kubentangkan di atas meja bundar, menyajikan menu utama. Sosok-sosok yang mengelilingin meja bundar mengerumun, berapa tangan langsung menunjuk bagian-bagian penting wilayah perladangan. Sesosok tubuh menjulang menyeruak, lalu berdehem sejenak.
”Jadi bagian ini tak boleh kami sentuh?” tanya memastikan.
Seseorang yang lebih tua mempersilakanku berbicara. Meski mereka penduduk asli yang lebih paham situasi sekitar, tetap kuingatkan mereka beberapa bagian sisi oase. Tebing-tebing terpacak indah di ceruk tanah yang sering didiami gerombolan kambing gunung terlarang dirobohkan, kecuali mereka siap bertempur dengan para Nomad.
Humaniora, Twilight Zone »
Oleh: Lakhsmi
Catatan akhir tahun adalah catatan tentang masa lalu, yang dulu kosong kini telah terisi dengan kata-kata. Kata-kata yang buruk maupun kata-kata tentang hikayat baik atau malah kata-kata tentang murkanya Tuhan. Kalau kamu membaca catatan akhir tahun, ingatlah titian menakjubkan di setiap adegan, bagian yang menarik yang sering terlupakan dari adegan itu sendiri. Seperti jembatan yang menghubungkan antara dua pulau. Seperti tiang yang menyangga dua rumah.
Catatan akhir tahun selalu berbicara tentang sejarah. Sejarah SepociKopi yang bagai asap dan bayang; ia ingin tak merisaukan yang risau, tak menyakiti yang tersakiti, tak …
Tentang Cinta, Twilight Zone »
Oleh: Lakhsmi
“Aku di sini.”
Aku menyilangkan lenganku; pikiranku seperti berputar-putar di dalam gerakan angin. Melihatnya duduk di sana membuatku tergelincir di lorong-lorong tak berujung. Aku tidak ingin memandanginya. Aku tidak ingin tinggal di lorong itu, aku hanya ingin lewat. Lewat berarti meninggalkan segala sesuatu pada tempatnya, berjalan lurus ke depan tanpa mengubah apa pun.
“I beg you a pardon?”
“Aku di sini.”
Coming Out, Humaniora, Twilight Zone »
Oleh: Lakhsmi
Kalau esok tak pernah tiba, aku takkan mati sebagai lesbian. Pentingkah untuk memberitahu kepada dunia bahwa aku adalah seorang lesbian? Aku bukan perempuan yang berada kebingungan di persimpangan jalan; menatap dua cabang jalan di hadapanku dan tak tahu mana yang hendak kuambil. Telah lama kutinggalkan jalan tua yang terlihat menggairahkan untuk dijalani. Kini pada jalan yang kutapaki, tak hendak kuberputar dan kembali pada titik itu.
Aku menjemput diriku di cermin, menatap aku pada pantulannya, melantunkan syukur karena aku mencintai sosok itu sepenuh hati sehingga tak perlu risau lagi. Aku tak …





