Articles in the Telezkop Category
Humaniora, Telezkop »
Oleh: Tya Andriani
Judul di atas diambil dari sebuah judul lagu (dinyanyikan oleh The Script) yang liriknya bercerita tentang seorang lelaki yang menunggu seorang gadis. Lelaki itu meyakini bahwa gadis itu adalah gadis yang ditakdirkan untuknya sehingga dia bersedia tidur di jalan, tempat gadisnya akan menemukannya. Lelaki itu bertekad akan diam di sana takkan berpindah – apa pun yang terjadi – sampai gadis itu berhasil menyadari cintanya yang kelewat besar padanya.
Humaniora, Telezkop »
Oleh: Alex
Max: My teacher tells me beauty is on the inside.
Fletcher: That’s just something ugly people say.
Dialog di atas adalah kutipan dari film tahun 1997 berjudul “Liar Liar” yang diperankan Jim Carrey sebagai Fletcher. Saya suka sekali dialog di atas hingga terkenang sampai sekarang. Saya merasa apa yang dikatakan oleh Fletcher ada benarnya.
Humaniora, Telezkop »
Oleh: Tya Andriani
Seberapa sering Anda mendengar orang menuduh orang lain dengan ucapan “sombong lu!” atau “mentang-mentang kaya, songong deh!” atau “udah terkenal, dia sombong!” atau “Cantik dan songong.” Lesbian tidak rentan dengan tuduhan-tuduhan sombong seperti ini. Bahkan, seberapa sering Anda menuduh orang lain dengan ucapan sombong? Sudah lama saya terusik kalau mendengar teman-teman saya menuduh orang lain sombong.
Humaniora, Telezkop »
Oleh: Alex
Pernahkah kita membayangkan seperti apa kita 30 tahun dari sekarang? Atau 40, atau 50 tahun lagi? Saat itu kita sudah seumuran mama kita atau bahkan oma kita. Seperti apa kondisi kita saat itu? Secara fisik dan mental. Siapa yang menemani kita? Apakah kita masih hidup? Jika kita masih hidup, apakah kita sehat? Tidak, saya tidak bicara tentang kematian melainkan bicara tentang menjadi tua.
Humaniora, Telezkop »
Oleh: Tya Andriani
Jatuh cinta berjuta rasanya, begitulah yang saya dengar dan rasakan. Kenapa jatuh cinta sama si dia? Sejujurnya saya tidak pernah tahu mengapa saya jatuh cinta dengan pasangan saya. Rasanya seperti ada magnet yang kuat yang menariknya mendekat ke arah saya, membuat saya jatuh pada pesonanya.
Humaniora, Telezkop »
Oleh: Alex
Seorang sahabat straight bertanya pada saya tentang mekanisme nickname lesbian. “Jadi semua orang punya nickname?”
“Iya,” jawab saya.
“Jadi kalau ketemuan atau ngobrol semuanya akan saling memanggil dengan nickname?”
“Iya,” jawab saya lagi.
“Hm, kok jadi seperti secret agent dengan code name rahasia gitu?” tanyanya. “Repot ya jadi lesbian,” katanya lagi setelah diam sejenak.
Humaniora, Telezkop »
Oleh: Tya Andriani
“Saya kesepian. Kenalan dong.”
Selalu ada kata-kata “kesepian” dan ajakan “kenalan” di nyaris semua Facebook atau situs lesbian. Menurut kakak-kakak redaksi SepociKopi, Guestbook, komentar, mention Twitter, dan wall Facebook SepociKopi juga dihajar oleh puluhan (atau ratusan?) lesbian yang mengatakan kesepian dan mengajak kenalan. Menurut SepociKopi, media ini memiliki aturan main bagi setiap postingan, sehingga pesan-pesan “kesepian” dan “kenalan” itu sebagian dihapus jika tidak sesuai dengan rules dan regulation SepociKopi.
Humaniora, Telezkop »
Oleh: Alex
Dalam dunia heteroseksual ini, siapa pun takkan mendebat bahwa sebagai lesbian kita adalah kelompok minoritas. Berbagai gerakan homoseksual menjeritkan kondisi kita yang terdiskriminasi, terpinggirkan, jadi warga kelas dua, blablabla, dan lain sebagainya.
Tidak hanya homoseksual yang mengalami hal itu, mereka yang berbeda dari mayoritas juga mendapat diskriminasi. Mulai dari warga keturunan hingga urusan popularitas di sekolah. Siapa pun yang kelihatannya culun dan bukan kelompok populis, jadi sasaran bullying.
Tapi ironisnya, banyak orang yang berada dalam lingkungan mayoritas ingin selalu tampil beda. Beda is cool. Dan mereka memamerkan keberbedaan mereka …
Humaniora, Telezkop »
Oleh: Lakhsmi
“Eksistensi melebihi esensi.”
Adakah yang setuju dengan pernyataan di atas? Kalau tidak mengerti, coba pikirkan tentang keberadaan lesbian di diri ini. Apakah kita adalah lesbian sebagai manusia, atau manusia sebagai lesbian? Jangan mengira aku sedang bermain-main dengan kalimat. Contoh konkritnya adalah, gelas beling yang terbuat dari kaca. Eksistensi adalah gelasnya itu sendiri dan esensi adalah kaca itu.
Ada humor yang berdasarkan eksistensi ini. Ceritanya begini:





