Home » Archive

Articles in the Telezkop Category

Humaniora, Telezkop »

[2 Feb 2012 | 12 Comments | 351 views]
te.Lez.kop: My Secret Identity

Oleh: Alex
Seorang sahabat straight bertanya pada saya tentang mekanisme nickname lesbian. “Jadi semua orang punya nickname?”
“Iya,” jawab saya.
“Jadi kalau ketemuan atau ngobrol semuanya akan saling memanggil dengan nickname?”
“Iya,” jawab saya lagi.
“Hm, kok jadi seperti secret agent dengan code name rahasia gitu?” tanyanya. “Repot ya jadi lesbian,” katanya lagi setelah diam sejenak.

Humaniora, Telezkop »

[26 Jan 2012 | 16 Comments | 273 views]
te.Lez.kop: Kesepian Oh Kesepian!

Oleh: Tya Andriani
“Saya kesepian. Kenalan dong.”
Selalu ada kata-kata “kesepian” dan ajakan “kenalan” di nyaris semua Facebook atau situs lesbian. Menurut kakak-kakak redaksi SepociKopi, Guestbook, komentar, mention Twitter, dan wall Facebook SepociKopi juga dihajar oleh puluhan (atau ratusan?) lesbian yang mengatakan kesepian dan mengajak kenalan. Menurut SepociKopi, media ini memiliki aturan main bagi setiap postingan, sehingga pesan-pesan “kesepian” dan “kenalan” itu sebagian dihapus jika tidak sesuai dengan rules dan regulation SepociKopi.

Humaniora, Telezkop »

[19 Jan 2012 | 8 Comments | 239 views]
te.Lez.kop: Menjadi Berbeda

Oleh: Alex
Dalam dunia heteroseksual ini, siapa pun takkan mendebat bahwa sebagai lesbian kita adalah kelompok minoritas. Berbagai gerakan homoseksual menjeritkan kondisi kita yang terdiskriminasi, terpinggirkan, jadi warga kelas dua, blablabla, dan lain sebagainya.
Tidak hanya homoseksual yang mengalami hal itu, mereka yang berbeda dari mayoritas juga mendapat diskriminasi. Mulai dari warga keturunan hingga urusan popularitas di sekolah. Siapa pun yang kelihatannya culun dan bukan kelompok populis, jadi sasaran bullying.
Tapi ironisnya, banyak orang yang berada dalam lingkungan mayoritas ingin selalu tampil beda. Beda is cool. Dan mereka memamerkan keberbedaan mereka …

Humaniora, Telezkop »

[5 Jan 2012 | 10 Comments | 487 views]
te.Lez.kop: Malu Sama Umur

Oleh: Tya Andriani
Beberapa hari ini saya bergabung dengan komunitas dan di komunitas itu, saya bertemu dengan beberapa teman-teman SMA. Anak-anak SMA ini berusia sekitar 16-19 tahun. Dari beberapa kali bertemu, saya menduga beberapa di antara mereka berorientasi lesbian.
Anak SMA lesbian?

Humaniora, Telezkop »

[29 Dec 2011 | 7 Comments | 215 views]
te.Lez.kop: Eksistensi Lesbian

Oleh: Lakhsmi
“Eksistensi melebihi esensi.”
Adakah yang setuju dengan pernyataan di atas? Kalau tidak mengerti, coba pikirkan tentang keberadaan lesbian di diri ini. Apakah kita adalah lesbian sebagai manusia, atau manusia sebagai lesbian? Jangan mengira aku sedang bermain-main dengan kalimat. Contoh konkritnya adalah, gelas beling yang terbuat dari kaca. Eksistensi adalah gelasnya itu sendiri dan esensi adalah kaca itu.
Ada humor yang berdasarkan eksistensi ini. Ceritanya begini:

Telezkop »

[22 Dec 2011 | 14 Comments | 452 views]
te.Lez.kop: The First Time

Oleh: Alex
Sejak kapan kau tahu bahwa kau lesbian? Mungkin itu jenis pertanyaan yang muncul 9 dari 10 kali percakapan saat kita tahu bahwa lawan bicara kita adalah lesbian. Seakan ada batas waktu mulai dan berakhir saat kau “menjadi” lesbian.
Kesadaran saat kita tahu bahwa kita lesbian biasanya berkaitan dengan manusia lain, atau tepatnya, perempuan lain, yang membuat kita menyadari keberadaan perasaan tersebut. Bukannya menyukai lawan jenis, seperti mayoritas manusia, kita jatuh cinta pada seseorang yang berkelamin sama. Dan semua rasa ini membuatmu… bingung. Kalau kata anak zaman sekarang… galau, gitu.

Humaniora, Telezkop »

[15 Dec 2011 | 8 Comments | 392 views]
te.Lez.kop: Diam-diam Menyayangi

Oleh: Tya Andriani
Pernah diam-diam menyayangi seseorang dan tak pernah bisa mengungkapkan perasaan ini? Tunjuk tangan yang pernah! Ada beberapa kendala mengapa tidak bisa mengatakan cinta kepada the object of my affection. Pertama, dia sudah punya pacar. Dua, dia tidak mungkin digapai (beda tingkat sosial, ekonomi, status, atau bahkan beda orientasi seksual. Yup, dia straight). Ketiga, lebih enak diam-diam mencintainya daripada dijadikan pacar. Menurut beberapa teman-teman lesbian, mereka memilih nomor tiga karena tidak ribet, ruwet, dan tetap bisa tetap menyayanginya tanpa merusak hubungan.

Humaniora, Telezkop »

[8 Dec 2011 | 3 Comments | 176 views]
te.Lez.kop: The Idea of Ideas

Oleh: Alex

“Ideas are open knowledge don’t claim ownership.” (Paul Arden)
Belakangan ini, sejak internet menjadi bagian hormal dari kehidupan masyarakat, banyak orang ketakutan kalau-kalau konsep dan idenya yang dipublikasikan di dunia maya dicuri. Ada yang begitu ketakutan sampai-sampai rela menghabiskan waktu mencari kata-kata kunci yang berhubungan dengan tulisannya di dunia maya, untuk mencari kesamaan dengan produk/hasil tulisan yang diciptakannya. Bukan hal yang baru lagi saya melihat orang-orang berantem di dunia maya lewat berbagai media (blog, Twitter, Facebook) tentang tuduhan pencurian “ide” ini.

Humaniora, Telezkop »

[1 Dec 2011 | 17 Comments | 390 views]
te.Lez.kop: Kanak-kanak dan Homoseksualitas

Oleh: Tya Andriani
Seminggu lalu, saya bertemu dengan seorang guru SD kelas dua di sebuah International School Jakarta. Kami bertemu di acara tunangan salah satu keponakan dari saudara sepupu saya. Karena kebetulan kami duduk berdua di satu meja, maka kami pun berkenalan dan terlibat percapan. Setelah diusut-usut, kami memiliki hubungan darah yang sangat jauh, saking jauhnya seperti membandingkan rumput dengan anggrek. Sebut saja namanya Amanda, berkulit cokelat gelap warisan genetika dari sang Ibu yang Jawa, berwarganegara Amerika.

Humaniora, Telezkop »

[24 Nov 2011 | 7 Comments | 244 views]
te.Lez.kop: Lingkaran Kebencian

Oleh: Alex
Awal minggu ini saya menonton film tentang J. Edgar Hoover tokoh pendiri FBI yang diperankan oleh Leonardo di Caprio berjudul J. Edgar. Tokoh ini dikenal sebagai tokoh yang kejam, paranoid, brutal. Dalam film ini diceritakan seumur hidupnya J. Edgar Hoover harus menekan orientasi seksualnya yang gay. Bahkan ibunya sendiri berpendapat, “Lebih baik punya anak yang mati, daripada punya anak yang openly gay.”