Home » Archive

Articles in the Tajuk Category

Humaniora, Tajuk »

[31 Jan 2012 | 6 Comments | 167 views]
Tajuk: Umur Dewasa dan Kita

Oleh: Nuha Guwa
Sultan Muhammad al-Fatih Murrad atau Sultan Muhammad II menjelang usianya yang ke-22 tahun harus menggantikan ayahnya. Waktu itu 18 Februari 1451 M. Dalam catatan sejarah Ad-Daulah al-Utsmaniyyah menceritakan bahwa sejak muda Sultan Muhammad II yang gemar menyerap dan menangkap ilmu pengetahuan ini merupakan orang muda yang sangat aktif, masa mudanya tidak sedikit pun dibiarkan sia-sia. Semangat belajarnya tinggi, keinginannya menyatukan banyak wilayah di sekitar kerajaan ayahnya sangat kuat. Satu hasratnya yang terbesar adalah menaklukkan Konstantinopel.

Tajuk »

[24 Jan 2012 | 9 Comments | 277 views]
Tajuk: Usia Kesadaran Seksualitas dan Kita

Oleh: Nuha Guwa
Gue punya pacar cowok tapi sering berfantasi ciuman dengan cewek. Saya baru sadar saya lesbian setelah saya punya dua anak. Katanya kelesbianan bisa dicegah, tapi tak bisa diobati benar nggak sih? Ada yang punya pertanyaan yang sama dengan pernyataan teman lesbian yang masuk ke e-mail redaksi SepociKopi itu? Berapa usiamu ketika menyadari dirimu lesbian? Apakah usia mempunya faktor signifikan terhadap homoseksualitas?
Konon usia dalam stigma yang ada memiliki pengaruh luas terhadap berbagai aspek kehidupan. Umur juga merupakan salah satu indikator penting dalam mengukur tingkat pendidikan, kinerja di perusahaan, kesehatan, …

Humaniora, Tajuk »

[10 Jan 2012 | 5 Comments | 220 views]
Tajuk: Dongeng Cinderella dan Kita

Oleh: Nuha Guwa
Pada zaman dahulu kala, di sebuah kerajaan besar, hiduplah seorang ibu peri yang pandai merapal sihir, baik hati, penggugup, dan pemalu. Jakarta, sebagai kerajaan padat dengan jurang-jurang sosial yang tinggi membuatnya menjadi linglung. Kehidupan manusia penuh sesak, kompleksitas perbedaan strata hidup antara kaya miskin, bodoh pintar, jahat baik, di antara pemukiman mewah dan kumuh, membuat hari-hari ibu peri yang bernama Lakhsmi tidak enak. Makan salah, tidur juga salah. Tongkat sihirnya menjadi berdebu karena sering terlupakan.

Humaniora, Tajuk »

[3 Jan 2012 | 4 Comments | 289 views]
Tajuk: Generasi Lesbian Sekarang, Dulu, dan Kita

Oleh: Nuha Guwa
Perempuan muda bersepatu kets, mengenakan jins, dan kaos bertuliskan Blue Jeans tertegun di dalam sebuah toko baju. Dengan serius, dia menatap sederetan gaun, blus, rok, dan sepatu. Sesekali matanya pindah ke sebuah cermin besar. Dia masih memerhatikan cermin, lalu pindah ke deretan gaun. Bertanya dalam hati, ah mengapa dirinya tak berkenan memilih gaun seperti perempuan lazimnya?

Humaniora, Tajuk »

[27 Dec 2011 | 8 Comments | 160 views]
Tajuk: New Year, New You, dan Kita

Oleh: Nuha Guwa
Berapa banyak sih orang bekerja sesuai dengan bidang pendidikannya? Kebanyakan pekerja tidak mampu membedakan antara pekerjaan dan karier lho. Atau berapa banyak dari kita yang sangat memperhatikan gaya hidup, baik dalam hal pola makan, bergaul, memperhatikan kerapian dan kecantikan diri?
Selama setahun ini kebanyakan orang terpaku pada rutinitas kerja. Tanpa disadari, semua itu menyebabkan pada pemenuhan atas tuntutan dapur semata sehingga tidak mampu mengoptimalkan passion hidup. Orang tidak bekerja karena memang ingin dan menyukai pekerjaan tersebut, namun memaksa diri pada kebutuhan-kebutuhan pokok saja. Kalau benar begitu, jangan-jangan bidang yang …

Humaniora, Tajuk »

[20 Dec 2011 | 10 Comments | 182 views]
Tajuk: (Bukan) Ibu dan Kita

Oleh: Nuha Guwa
Ketika aku masih duduk di sekolah dasar, aku paling malas bangun pagi. Namun, ibuku ini selalu sabar membujuk agar aku menghirup udara bersih setiap hari. Dia menemaniku bermain badminton di bawah sinar mentari. Katanya biar tulang-tulangku kokoh dan sekuat baja. Ayahku, beliau selalu mengajakku menyempatkan diri berkunjung ke tetangga kami yang kulit dan statusnya sangat berbeda. Sehingga aku mengenal apa artinya kemuliaan dan toleransi. Mereka memelihara sehelai jiwaku yang masih kecil untuk selalu peduli dengan kepapaan orang lain.

Humaniora, Tajuk »

[13 Dec 2011 | 2 Comments | 235 views]
Tajuk: Narsisme dan Kita

Oleh: Nuha Guwa
Narcissus, anak Dewa Sungai Cephissus dan Peri Liriope merupakan pemuda yang sangat tampan. Karena ketampananya, banyak gadis jatuh cinta. Namun, tidak satu pun yang menarik perhatiannya. Echo, salah satu gadis rela mengejar Narcissus, menguntit ke mana pun Narcissus pergi.
Echo pada suatu hari pun memberanikan diri mengatakan, “Aku mencintaimu!” Namun, Narcissus menolak. Penolakan tersebut membuat Echo menjadi sangat sedih. Gadis ini segera sembunyi di tengah hutan yang sepi. Tubuh Echo makin lama makin menghilang hingga yang terdengar cuma suaranya yang mengucapkan “I love you.”

Humaniora, Tajuk »

[6 Dec 2011 | 3 Comments | 158 views]
Tajuk: Percaya Diri dan Kita

Oleh: Nuha Guwa
Lesbian? Tapi tidak percaya diri? Tunggu. Jangan buat pengakuan yang mengerikan, atau pernyataan yang hanya memberikan alasan-alasan agar kita cukup pantas dikasihani. Rasa percaya diri tentu saja bukan kodrat pemberian Tuhan seperti halnya kelesbianan. Rasa pede – seperti juga rezeki, baru bisa muncul jika kita yang memunculkannya. Untuk itu penting bagi kita memberi ruang bagi diri untuk membuatnya tumbuh ke permukaan.

Humaniora, Tajuk »

[30 Nov 2011 | 7 Comments | 205 views]
Tajuk: Tenar di Dunia Maya dan Kita

Oleh: Nuha Guwa
Kondang di dunia maya tampaknya bukan isapan jempol. Sejak booming situs jejaring sosial, orang mulai memanfaatkan jagat maya untuk eksistensi diri. Modelnya bisa dilihat pada Shinta dan Jojo. Kedua remaja ini sukses besar setelah melantunkan lipsinc “Keong Racun” yang kemudian disukai banyak pengunduh. Ketenarannya malah kemudian dikolaborasikan secara populer lewat media massa, sehingga menyentuh ranah kehidupan manusia yang tidak ramah internet.

Humaniora, Tajuk »

[22 Nov 2011 | One Comment | 113 views]
Tajuk: Sportivitas dan Kita

Oleh: Nuha Guwa
Masih tertinggal kesan mendalam tentang drama pertandingan sepak bola final antara Malaysia dan Indonesia kemarin. Kehebohan atas tim Garuda menelurkan banyak komentar positif di berbagai sosial media internet. Meski Indonesia kalah dalam adu penalti namun decak kagum terhadap kesebelasan Indonesia menjadi pemersatu dan kebanggaan tersendiri. Wasit yang tegas, pemain yang langsung bersalaman ketika terjadi ketegangan di lapangan, serta perjuangan jatuh bangun. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat inspiratif.