Home » Archive

Articles in the Renungan Category

Humaniora, Renungan »

[20 May 2009 | 17 Comments | 150 views]

Oleh: De Ni
Anak-anak rohaniku, anak-anak yang aku perkenalkan kepada jalan Tuhan. Aku sangat mengenal kalian. Kalian bertumbuh dalam dekapan tanganku. Masih teringat aku pada sepuluh tahun silam, saat aku pertama kali dinobatkan sebagai guru iman kalian. Saat itu kalian masih disebut sebagai balita. Kalian berlari ke sana kemari sambil mengelap ingus yang meleleh. Kadang kalian saling berebut mainan, saling jambak dan dorong yang kemudian diakhiri dengan pecah tangis. Kini kalian sudah disebut ABG. Kalian mulai bertumbuh menjadi orang yang bertanya tentang ini-itu dan mengerti ini-itu.
Anak-anak rohaniku, anak-anak yang aku perkenalkan …

Opini, Tajuk »

[19 May 2009 | 5 Comments | 114 views]

Oleh: Nuha Guwa
Baru saja di-PHK? Putus cinta? Patah hati? Merasa dikucilkan dunia? Perasaan ini tentu saja sangat menggelisahkan. Bagaimana jika kemurungan meluas secara global, nasional, menuju seantero dunia. Mengerikan! Masyarakat mengalami krisis kepercayaan, krisis moral, krisis pendidikan, krisis minat baca, krisis energi, sampai pada krisis kepercayaan pada pemimpin. Keinginan untuk bangkit kembali terpupus oleh lingkaran kolusi. Ingin pekerjaan yang baik membutuhkan backing kuat, ingin menaikkan jabatan memerlukan “tangan orang dalam”, nilai bagus memerlukan pendekatan pribadi dengan dosen. Sistem yang kita miliki merajut kegelapan, memupus semangat, dan memudarkan semangat dalam meraih …

Humaniora, Renungan, Sepocikopiana »

[19 May 2009 | 12 Comments | 311 views]
Nicole Scherzinger, Perempuanku

Oleh: Ade Rain
Ketika melakukan perjalanan, selain tas sandang, koper tarik ukuran kabin merupakan satu-satunya benda paling berharga buatku. Mahkluk yang kuberi jenis kelamin perempuan ini kuanggap yang paling alim, cantik, cakep, dan keren yang bisa membuatku tidak sendirian dan kesepian. Namanya NS alias Nicole Scherzinger, perempuanku eh tas kabinku maksudnya. Sudah pasti warnanya ngejreng, desain paling baru, nggak cupu. Pokoknya model up to date persis personil Pussy Cat Doll itu.
Berjalan berdua dengan perempuan ini memang keren. Di bandara, kalau keluar masuk toko duty free aku nggak malu menarik dirinya. Kugandeng …

Humaniora, Opini »

[1 May 2009 | 10 Comments | 57 views]

Oleh: Jeng Asih
Ini jargon yang sudah lama tak saya dengar. Sebuah analogi bombastis Pak Guru Matematika. Jika duduk di posisi depan maka akan mendapat prestasi terdepan. Sebaliknya, jika duduk di belakang, prestasi berada di ekor macan.
Boleh jadi tiap pelajaran Matematika berlangsung, saya meratapi nasib. Seluruh murid ingin mendapatkan posisi paling depan agar nilai Matematika membaik. Saya yang datang terlambat harus puas mencari bangku belakang dengan seorang teman lelaki berprestasi kacau balau. Tukang mabuk, tukang merokok, dan tukang-tukang lainnya. Menyebalkan! Saya ingin duduk di depan, menatap Pak Guru dan mendapat pujiannya, …

Humaniora, Renungan »

[29 Apr 2009 | 16 Comments | 369 views]
Karena Tuhan Tidak Berdiri di Balik Tikungan

Oleh: Bening
Jakarta tersaput mendung. AC sentral yang menggantung di langit-langit kantor tidak dapat dikompromikan suhunya, dia terus berembus kencang, tak peduli ratusan karyawan di bawahnya menggigil semakin mengepalkan tangan melawan dingin, bolak-balik ke toilet menuntaskan hasrat pipis yang berulang kali datang menekan perut bagian bawah.
Pada sore itu, tanpa direncana sebelumnya Ibet muncul di hadapanku. Memulai perbincangan yang entah apa topik awalnya hingga pembicaraan kami semakin serius.

Humaniora, Opini »

[16 Apr 2009 | 10 Comments | 279 views]

Oleh: Arie Gere

Dua belas tahun lalu…

Seusai berseragam putih biru, saya melanjutkan aktivitas anak-anak seusia saya pada umumnya, kursus bahasa Inggris. Semangat saya menggebu-gebu, bukan karena pelajaran Inggris yang memang saya sukai dan bukan pula karena Miss yang mengajarkan tata bahasa kepada kami. Semangat saya tak dapat dibendung sama sekali tatkala membayangkan saya dan seorang gadis yang saya idami saat itu: duduk berdua, berdampingan, dempet-dempetan, tanpa spasi di dalam sebuah angkutan mini di dalam kota. Masih terpatri di otak saya, bagaimana sang gadis idaman saya setengah bergelayut manja di bahu saya. …

Opini, Renungan »

[16 Mar 2009 | 2 Comments | 63 views]

Oleh: Alex
Melihat kampanye-kampanye partai politik yang sekarang sedang seru-serunya, saya jadi teringat pada kampanye perjuangan lesbian Indonesia. Slogan dan ajakan untuk berjuang dan menuntut hak menjadi bagian yang tampak wajar dalam gerakan lesbian. Tapi sebenarnya siapa yang diajak berjuang di sini? Apakah seluruh lesbian di Indonesia punya tanggung jawab untuk berjuang? Jelas tidak.
Mengajak orang berjuang untuk melawan sesuatu (fighting against) adalah hal yang mudah. Apalagi jika hidup tampak tidak ramah pada kita. Mari berjuang melawan segala ketidakadilan yang membuat hidup kita merana! Fighting against berarti anti atau bergerak …

Humaniora, Renungan »

[11 Jan 2009 | 9 Comments | 161 views]
Waktu, Tuhan, dan Budaya

Oleh: Lakhsmi
Tahun baru. Aku mulai mengganti kalender-kalender di seluruh rumah. Awal yang baru, hari yang baru; ah, mari buat resolusi. Awal seperti apa, aku bertanya dalam hati. Bukankah waktu adalah hal yang relatif? Bumi berputar tiap hari, malam dan siang berganti wajah. Musim bergerak dari depan dan maju dari belakang. Ternyata bumi telah berusia beberapa miliar tahun. Astaga, kita menopang hidup di planet yang aku bayangkan seperti nenek tua. Dan, masih sering kudengar orang-orang berbicara, “Bumi semakin tua.” Yah, bumi memang sudah tua. Tapi menurut ilmuwan, planet ini belum terlalu …

God, Renungan, Spiritualisme, Tentang Cinta »

[7 Jan 2009 | 6 Comments | 274 views]

Oleh: De Ni
Apa yang akan kau lakukan saat kau tahu bahwa ternyata hidupmu tidak akan lama lagi? Oke, mungkin kau sulit membayangkannya. Rambutmu belum memutih, kulitmu belum mengkriput, jantungmu masih sehat memompa, dan gigimu masih rapih pada tempatnya. Intinya kau belum bau tanah. Tapi marilah berpikir sejenak, kematian bukan hanya milik para lansia, kematian adalah milik semua orang. Sahabatku Hanry berusia 23 tahun. Sorenya masih asyik bernyanyi denganku, namun malamnya meninggal hanya karena sakit kepala. Mas Barno berusia 30 tahun. Paginya masih cekikikan sambil ngopi denganku, siangnya meninggal …

Humaniora, Renungan »

[31 Dec 2008 | 6 Comments | 48 views]
SepociKopi, Once Upon A Time

Oleh: Alex
Tahun 2009 merupakan tahun terakhir dari era satu dasawarsa pertama abad milenium. Teknologi internet yang berkembang pesat selama sepuluh tahun terakhir membuat banyak dari kita tidak bisa lepas dari internet dalam kehidupan sehari-hari. Nyaris segala informasi bisa diperoleh di internet. Ada hal yang tidak kita ketahui? Google aja. Mau mengobrol dengan sahabat di Uzbekistan? YM aja. Tidak hanya, itu generasi blogger juga lahir dari pesatnya kemajuan teknologi ini.
Sewaktu saya mulai jadi blogger pada tahun 2004, tidak terpikir oleh saya untuk memulai sebuah blog lesbian macam SepociKopi ini. Membayangkannya pun …