Articles in the Renungan Category
Renungan, Sepocikopiana »
Oleh: Kikan
Aku tidak bisa tidur malam itu ketika aku mendapat berita dari keluarga di Jogjakarta kalau gunung kesayanganku, Merapi, mulai terbatuk-batuk beberapa hari yang lalu. Aku selalu cinta Merapi, aku tak pernah lupa dengan pesona sinar matahari paginya yang menyembul di balik gagahnya gunung tersebut. Dari jendela kamar tidurku, aku tahu gunung Merapi selalu menungguku bangun tidur.
“Kikan,” kata Ibuku lewat telpon. Tak terdengar suara panik sama sekali, hanya suara lembut khas Ibu. Kupikir itu nada pasrah. “Semalam hujan abu. Tebal banget. Rumah kita, genteng kita. Kena semua.”
Renungan, Sepocikopiana »
Oleh: Lakhsmi
Dalam satu pelayaranku di dunia maya, aku menemukan satu kalimat menarik di salah satu situs. Kata-kata itu mengagetkanku, bunyinya: “Hal terbaik dalam hidup ini adalah tidak usah pernah memaafkan.” Yang mengucapkan ternyata seorang penulis Inggris yang sudah melahirkan karya berupa novel, cerita pendek, dan naskah drama, yaitu P.G. Wodehouse.
Lucu kan, kalimatnya. Mungkin yang membaca akan mengerutkan dahi, tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Mungkin ada juga yang langsung antipati dengan pernyataan tersebut. Apa pun reaksinya, aku mengerti bahwa mudah sekali orang beranggapan bahwa nasihat tersebut adalah nasihat yang buruk.
Renungan, Sepocikopiana »
Dokter Jo: Tentang Merapi
Masih lekat dalam ingatan saat dua bulan lalu aku menghabiskan waktu berlibur paling lama sepanjang pengalaman hidupku. Entah mengapa saat itu aku begitu ngotot ingin berlibur ke Yogyakarta. Dan aku dengan pasti menuliskan Merapi dalam rencana perjalananku. Ya, kenangan Merapi beberapa tahun silam membuat aku rindu untuk kembali menyambanginya.
Saat aku dan Mbah mengunjungi lereng Merapi bersama seorang sahabat yang berdomisili di Yogyakarta, kami merasakan hawa sejuk dan dingin yang tak akan pernah bisa kami dapatkan di Jakarta. Mataku dengan jelas memandang gunung teraktif di dunia ini dari …
Humaniora, Opini, Telezkop »
Oleh: Shinigami
Lesbian memang bukan mainstream. Kita bukan kelompok mayoritas dalam hal orientasi seksual. Hal ini dengan jelas memisahkan kita dengan orang-orang pada umumnya, dan disadari atau tidak, mau atau tidak, ada semacam keekslusifan yang melingkupi kita. Rasa dan kesadaran memandang diri serta teman-teman lesbian sebagai “kita” dan orang-orang hetero sebagai “mereka” sangatlah kuat. Ada keterikatan, ada koneksi yang sulit digambarkan, dan mungkin bahkan ada kebanggaan menjadi salah satu dari sedikit ornag ini. Lantas, apa yang akan terjadi bila ada salah satu dari “kita” kemudian berpindah kubu menjadi salah satu dari …
Opini, Sepocikopiana »
Oleh: De Ni
Sepiring ketupat sayur baru saja kuhabiskan. Kali ini aku mengincar kolang kaling, sagon dan kue sagu. Pak Haji, selaku pemilik makanan, justru malah menyuruhku untuk makan lebih banyak. Ia sibuk memerintahkan Bu Haji mengeluarkan kue lapis, kue pisang, dan unti. Semakin banyak makanan yang masuk ke dalam perutku, semakin besar senyum yang menyembang di wajah Pak Haji.
“Makan yang banyak, Den. Kapan lagi kamu makan banyak, gratis pula,” kata Pak Haji.
Mendengar kata gratis, selera makanku jadi bertambah. Mel yang ketakutan badanku jadi bertambah montok, tidak berhenti menginjak kakiku. Untuk …
Humaniora, Renungan »
Oleh: Nuage
Mungkin, inilah misi kita hidup di dunia ini. Sebuah proyek besar yang tanpa sengaja selalu kita kerjakan dari hari ke hari, the unloneliness project. Proyek mengusir kesepian adalah sesuatu yang alamiah, kita lakukan tanpa kita sadari, sebagaimana kita berjalan dan bernapas.
Hingga suatu saat aku berada di suatu tempat, sendiri, barulah aku sadar. Barulah aku berpikir tentang kesepian-kesepian, barulah aku terpikir tentang proyek besar yang tidak pernah kita sadari itu.
Aku telah ditinggal sendiri di tempat ini, tempat ini bukanlah Shangrilla, bukan tempat ideal yang indah untuk menyendiri dan merenung, malah …
Humaniora, Opini »
Oleh: Frizzy Jo
Rasanya sudah cukup kita bertanya-tanya dalam dua tulisanku sebelumnya yang berjudul “Karena Aku Adalah Lesbian” dan “Ya, Aku Adalah Lesbian”. Tulisannya memang baru dipublish sekitar sebulan yang lalu, namun jika membaca komentar dari beberapa pengunjung Sepocikopi, sepertinya telah cukup lama kita mempertanyakan keberadaan kita sebagai seorang lesbian.
Menjadi seorang lesbian tidak memerlukan proses pendidikan seperti layaknya kita meluangkan sebagian hidup kita di bangku sekolah. Tidak ada hal yang baku dan mutlak seperti saat kita mempelajari ilmu pasti. Meski pun banyak sekali hal-hal yang berkaitan dengan lesbian dikaji dari sudut …
Humaniora, Renungan »
Oleh: Zetha Septina Abdu
Ada sebuah momen yang membikin saya benar-benar kehilangan selera terhadap daging selama berbulan-bulan. Waktu itu, untuk pertama kali saya berada dalam lingkaran sekumpulan orang yang mabuk akan alkohol dan puisi. Perkara mabuk akan alkohol dan puisi ini bisa dijelaskan oleh sebuah ritual nyentrik.
Ritual itu mensyaratkan persekutuan antara alkohol dan puisi. Sederhananya, jika berminat ikut kau harus membuat puisi, caci-makilah puisi bikinan rekanmu sebelum kemudian giliran puisimu dicaci-maki, lalu tenggaklah alkohol. Perhelatan digelar tiap Jumat malam di salah satu ruangan …
Renungan, Sepocikopiana »
Oleh: parikesit n1nna
Saya termasuk orang yang ketinggalan berita tentang Ariel vs Luna Maya-Cut Tari, karena saya termasuk orang yang jarang menonton TV. Tapi ketertinggalan itu cukup tertutupi dengan kegemaran saya online, membaca berita lewat Yahoo! maupun detik.com.
Ariel adalah seorang artis yang menurut saya cool dalam arti jarang diberitakan buruk, prestasi bermusik sangat menonjol dan lebih cenderung tidak banyak tingkah. Tapi seketika khalayak ramai dikejutkan oleh berita kebinalannya dengan—katanya, 23 artis dari 32 video porno miliknya yang sebagian sudah tersebar di internet (sejauh ini yang saya tahu masih 2 biji aja …
Humaniora, Opini »
Oleh: Alex
Ada yang nonton sepak bola? Pernah nggak melihat pemain bola yang jatuh lalu langsung bersikap seakan habis ditabrak serombongan truk dan bus? Dia akan bergulingan di lapangan memegangi bagian tubuhnya yang terluka. Kalau perlu, pura-pura pingsan saja biar terlihat sangat dramatic. Drama seperti itu memang “diharuskan” dalam sepak bola walaupun pertandingan olahraga selalu menjunjung fair play. Tujuannya? Agar wasit jatuh kasihan dan memberi si korban “hadiah”, syukur-syukur tendangan penalti.
Tapi kalau kita lihat dalam kehidupan nyata, perbuatan seperti itu malah menyebalkan. Ingat cerita The Boy Who Cried Wolf? Tentang anak …





