Articles in the Renungan Category
Humaniora, Renungan »
Oleh: Lakhsmi
Di milis SepociKopi, seseorang bertanya tentang kesepian dan ketergantungannya kepada partner sehingga dia harus selalu sering-sering mengecek pasangannya setiap saat. Kalau pasangannya tidak memberikan respons yang diinginkannya, dia memiliki pikiran-pikiran buruk. Menyadari sikapnya yang mengganggu pasangannya, bertanyalah orang itu kepada teman-teman lesbian lainnya di milis SepociKopi, apa yang harus dia lakukan.
Humaniora, Renungan »
Oleh: Lakhsmi
Di tahun 2011, manusia dikejutkan dengan entakan informasi yang mengerikan: makhluk mamalia homo sapiens sudah menguasai bumi dengan berjumlah tujuh milyar! Bandingkan dengan permulaan abad 19, tahun 1800, manusia seluruh dunia hanya berjumlah satu milyar saja. Diprediksi, pada tahun 2045, bumi akan penuh sesak dengan angka sembilan milyar manusia. Can the planet take the strain?
Dengan jumlah yang sangat tinggi itu, bagaimana cara bumi memberi makan kepada tujuh milyar manusia? Jika bermilyar-milyar manusia bermimpi untuk melepaskan belenggu kemiskinan mereka, mengikuti jejak langkah negara yang sukses dan berhasil, bayangkan betapa beratnya …
Humaniora, Renungan »
Oleh: Ade Rain
Matahari baru terbenam ketika seorang pemuda dengan serulingnya berhasil menggiring ratusan ribu tikus yang menjadi hama di sebuah puri. Pemuda itu adalah si Peniup Seruling. Ia berjanji dapat membasmi hama asalkan warga membayarnya. Pemuda itu diterima, dan memainkan musik dari seruling untuk memikat tikus-tikus ke sungai Weser, di mana semua tikus tersebut tenggelam. Meski pekerjaan itu berhasil, Sang Ratu dan orang-orang kota mengingkari janji mereka, menolak untuk membayar si penangkap tikus itu. Pemuda itu meninggalkan kota dengan kecewa, tetapi bersumpah untuk kembali beberapa waktu untuk berniat memberi …
Humaniora, Renungan »
Oleh: D Luminescence
Apa yang kau inginkan di dalam hidupmu? Apa yang kau idamkan, mimpikan dan berharap mereka akan terwujud nantinya? Kau pasti memiliki 1001 mimpi. Kau mulai memintal benang-benang impianmu, merajutnya hingga suatu hari kau dapat memakai hasilnya, merasakan kenyataan dari impianmu. Kebahagiaan yang merona-rona. Kesempurnaan kecil tapi sangat membuatmu menikmati hidup dengan sempurna walau bukanlah suatu kesempurnaan bentuk.
Kau kerap berdoa, acapkali memohon pada Yang Kuasa, dan di antara semua doamu, selain kesehatan dan kedamaian hidup orang tua dan keluarga serta sanak saudara dan teman-teman, kau selalu berdoa supaya suatu …
Renungan, Sepocikopiana »
Oleh: Deni Melisa
Tuhan, malam ini aku dan kekasihku memilih terjaga, mengalir bersama detik-detik yang mengubah tahun demi tahun. Pukul 12 tepatnya, saat kekasihku menggenggam jemariku hangat. Kami menyatu dan haru dalam doa yang kami panjatkan kepada-Mu. Ada harapan yang disampaikan, ada ucapan syukur yang digemakan. Kuharap Engkau berkenan. Kuucapkan juga terima kasih atas penyertaanMu sepanjang tahun yang baru saja kulewati. Terima kasih karena Engkau telah menjadi pandu setia, pelita terang dan penjaga yang tidak pernah terlelap.
Tuhan, aku bersyukur atas kedua bola mata sehat yang telah Engkau berikan kepadaku, sebab saat …
Humaniora, Opini »
Oleh: Tya Andriani
Terletak di antara kedua mata, di dahi, di atas hidung. Itulah tempat mata ketiga. Dulu aku tidak tahu apa-apa soal mata ketiga, pamanku yang mengajarkan hal itu. Paman percaya pada keberadaan mata ketiga. Setiap manusia yang terlahir pasti memiliki mata ketiga yang tak terlihat. Tidak ada manusia cacat yang tak mempunyai mata ketiga. Tapi seiring berjalannya waktu, mata ketiga sering diabaikan. Manusia lebih percaya pada mata kiri dan kanannya, sampai lama-lama mata ketiga malas memberitahu apa yang dilihatnya. Mata ketiga menutup …
Humaniora, Renungan »
Oleh: Ade Rain
Mari kuceritakan padamu, tentang dongeng perjalanan dalam dunia Semangka yang konon luas dan hebat. Rumah-rumah penghuninya adalah deretan biji yang menumpuk dari ujung kiri ke kanan atau dari kanan ke kiri tergantung dari mana memandang. Rumah-rumah itu berhalaman, terbuat dari beragam warna hingga batu kelabu. Sebagaimana rumah lain di desa itu, daun jendelanya juga dicat sesuai karakter pemilik. Ada yang dilukis lambang-lambang dan motif tertentu, bahkan memberinya label dan tanda di depan pintu.
Kami adalah mahluk hidup yang sebenarnya beradab. Namun mereka para manusia hanya menamakan kami …
Opini, Renungan, Sepocikopiana »
Oleh: Tya Andriani
Hidup sebagai lesbian, seringkali aku merasakan sakit hati yang teramat lekat. Kadang, sakit hati sangat bertubi-tubi sampai aku ingin berteriak sekencang-kencangnya. Tapi tidak mungkin kan? Nanti seluruh orang keluargaku bakal kaget dan mengira-ngira apa yang terjadi dengan diriku. Padahal aku tidak ingin peduli. Yang paling parah saat aku mulai membayangkan perempuan dan jatuh cinta dengan teman-teman perempuanku. Aduh! Seringkali aku benci dengan keadaan diriku. Keadaan ini bukan hanya sekali atau dua kali, tapi terjadi berkali-kali.
Sakit hatiku memuncak terasa ketika aku kuliah. Mulai dari keluarga yang tidak dekat denganku …
Humaniora, Renungan »
Oleh: Rae
Coba acungkan tangan, siapa di antara teman-teman sekalian yang memiliki hubungan yang tidak begitu dekat sang Ayah? Hmm… saya rasa pasti ada beberapa orang yang akan langsung mengacungkan telunjuk. Berdasarkan pengalaman, cukup sering saya mendengar sahabat maupun kenalan yang bilang kalau mereka tidak dekat dengan sosok sang Ayah. Sayangnya, saya juga termasuk salah satunya.
Saya jadi bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dengan sosok sang Ayah sehingga sering terlontar dari mulut seorang anak bahwa hubungannya dengan ayahnya hanya sebatas ayah dan anak. Titik. Sampai di situ saja. Tidak ada makna lebih dari …
Renungan, Sepocikopiana »
Oleh: Grey Sebastian
Mama Kim, begitu biasa kami memanggilnya. Ia tinggal sendirian di sebuah rumah kontrakan di daerah perkampungan kumuh yang hanya berukuran 2×2 m persegi tanpa keluarga dan sanak saudara. Usianya diperkirakan sudah lebih dari 92 tahun, namun tidak ada yang tahu berapa tepatnya usia Mama Kim, sama seperti tidak ada yang tahu di mana sanak saudaranya berada.
Sebenarnya aku kurang jelas bagaimana awalnya sahabat-sahabatku dari kepemudaan gereja mengenalnya, namun konon sejak masa mudanya, Mama Kim memang seorang yang rajin membantu di gereja. Apalagi setelah beliau pensiun dari pekerjaannya sebagai tukang …





