Articles in the Renungan Category
Humaniora, Renungan »
Oleh: Alex
Seberapa sering kita mendengar pernyataan, “Wish you all the best.” Seberapa besar sih kemampuan kita untuk bisa melepaskan mantan dan mengucapkan kalimat di atas? Apalagi jika kita jadi pihak yang diputus, sanggup tidak kita berharap yang terbaik untuk si mantan ini? Pertanyaan lebih besar lagi, relakah kita? Atau kita malah berharap, “I wish you all the best, but i want your best is me.” Kita berharap si mantan tidak bahagia kemudian menyadari kesalahannya, lalu memohon-mohon pada kita agar mau menerimanya kembali.
Humaniora, Renungan, Uncategorized »
Humaniora, Renungan »
Oleh: IndieX
Terkadang kita harus meninggalkan orang-orang yang kita cintai untuk meraih sesuatu yang lebih besar dalam hidup kita. Meninggalkan keluarga, sahabat, teman, kekasih, maupun orang-orang terdekat kita untuk mencapai penghidupan yang yang lebih tinggi, sekolah, bekerja.
Itulah yang kualami dulu, setelah lulus dari SMA. Syukurlah, aku dapat beasiswa untuk sekolah sinematografi di salah satu universitas di Australia. Itu memang cita-citaku. Pada saat mendaftar, memang aku begitu antusias. Euforiaku terasa sekali. Membayangkan akan kuliah di luar negeri, dengan judul beasiswa memang sesuatu yang membanggakan dan menghidupkanku.
Opini, Sepocikopiana »
Oleh: Afida Husniya
Saya lahir dari keluarga yang banyak aturan. Jujur, saya mengakuinya. Apa saya bosan? Hampir setiap hari ‘iya’. Sejak saya masih SMP, saya sadar bahwa ada sesuatu yang harus saya keluarkan dari otak saya. Sesuatu yang akan jadi masalah kalau terus-terusan mengendap di kepala saya. Sesuatu yang berkobar-kobar dan tidak wajar. Sesuatu itu sifatnya ‘tidak masuk akal’ dan kadang-kadang ‘dilarang orang-orang’, seperti: naik helikopter pribadi, mendaki gunung Kilimanjaro, tersesat di India, pacaran dengan orang Korea, dan lain-lain.
Renungan, Sepocikopiana »
Oleh: Carmen Casanova
Aku selalu ingat kisah-kisah perjuanganku dengan pacar di masa lalu menjelang akhir masa SMA. Weits, gaya bicaraku seperti nenek-nenek. Tapi betul, buatku, masa-masa itu benar-benar perjuangan, sebelum sampai sekarang ini–bisa hidup bersama pacar dan merintis karir di luar negeri dengan keyakinan teguh. Dan setiap kali, dari awal, pacarku selalu mampu membuatku jatuh cinta berkali-kali di masa-masa sulit itu.
Humaniora, Renungan »
Oleh: Carmen
Beberapa tahun lalu, pertama kali membuka blog SepociKopi, aku terbengong-bengong. Wah! Asyik nih. Tulisan-tulisannya menampilkan cara berbahasa yang baik — itu kesan pertamaku. Aku memang cinta sekali sama bahasa Indonesia. Jadi kalau ada penggabungan antara bahasa Indonesia dan lesbian, itu nilainya sempurna! Itu karena aku juga menyukai diriku yang seperti ini, yang lesbian.
Humaniora, Renungan, Spiritualisme »
Oleh: Alex
Tidak ada api sepanas nafsu. Tidak ada kejahatan yang menyamai kebencian. Tidak ada penderitaan yang menyamai proses kelangsungan hidup. Tidak ada kebahagiaan melebihi kedamaian sejati. (Dhammapada, 202)
Hari ini adalah hari Waisak, hari yang dirayakan oleh umat Buddha di seluruh dunia untuk mengingatkan kita pada tiga peristiwa agung, yaitu kelahiran Pangeran Siddharta Gotama, ketika Pertapa Gotama mencapai pencerahan sempurna dan menjadi Buddha, dan ketika Sang Buddha Parinibanna (mangkat).
Sudah lebih dari 2500 tahun sejak pertama kali Sang Buddha membabarkan ajaran Dharma-Nya kepada manusia. Namun ajaran beliau hingga saat ini tidak terkikis …
Humaniora, Renungan »
Oleh: Rae
Tadinya saya adalah orang dengan segudang mimpi dan cita-cita setinggi langit. Saya begitu antusias mengejar mimpi dan cita-cita saya dengan berbagai usaha dan kerja keras. Rasanya tidak ada yang tidak mungkin saya lakukan ketika itu, kesuksesan berjalan sesuai dengan keinginan saya. Segalanya terasa begitu sempurna. Oh, benar-benar serasa di atas angin kala itu.





