Articles in the Renungan Category
Opini, Opini »
Oleh: Lakhsmi
“I’ve seen people kill in the name of them; and die defending them. But you cannot touch an idea, cannot hold it or kiss it. An idea does not bleed, it cannot feel pain, and it does not love.” (V for Vendetta)
Baru-baru ini, aku menghabiskan waktu dengan berbincang-bincang dan berdiskusi bersama pasanganku tentang tujuan dan the code of honor sebagai seorang blogger. Entah apakah orang lain pernah membicarakannya, tapi yang jelas, kami sangat terpesona dengan kemajuan teknologi internet. Internet adalah mesin menakjubkan yang membawa terobosan baru dalam berbagai …
Opini, Opini »
Oleh: Fredric
Seorang teman mengeluh tentang etika persahabatan yang terjadi di dalam kehidupan dunia lesbian. Tikam-menikam, penuh lips service, kisah yang diulang-ulang sampai ke tahap memuakkan, tingkat daur ulang yang tinggi, dan pagar makan tanaman. Saya tersenyum mendengarnya, mengerti sekali dengan apa yang dia maksud. Curhat tentang topik ini telah menghiasi percakapan saya dengan beberapa teman lesbian sepanjang generasi.
Benarkah persahabatan di dunia lesbian seperti itu?
Saya pribadi menganggap urusan tikam-menikam adalah hal wajar yang dapat terjadi di kelompok hubungan pertemanan mana pun. Pertemanan dan urusan politik kantor juga mengantar banyak manusia terlibat …
Opini »
Oleh: Mata Hati
Cinta tak mengenal jenis kelamin. Istilah yang sering kali diperdengarkan ketika merujuk pada topik LGBT.
Kita tidak bisa mengatur kepada siapa kita harus jatuh cinta. Bisa kepada lelaki, bisa pula kepada makhluk ciptaan Tuhan yang bernama perempuan. Menurutku, jatuh cinta pada lelaki sama indahnya ketika aku jatuh cinta pada perempuan. Rasanya sama saja. Sensasinya juga sama. Deg-degannya pun sama persis. Tidak ada yang berbeda.
Mari kita singkirkan sebentar batasan-batasan antara dunia hetero dan homo. Cobalah untuk duduk dalam satu meja. Berbincanglah seperti biasa. Tertawalah jika ada yang menggelitik. Singkirkan dulu …
Humaniora, Opini, Renungan, Tentang Cinta »
Oleh: De Ni
Cemburu? Dulu aku bingung mengapa orang bisa cemburu membabi buta pada pasangannya. Dulu bagiku cemburu adalah penjara bagi sebuah kebebasan. Dua tahun hidup dengan Ranti dan dicemburui habis-habisan mesti tanpa ikatan cinta, cukup membuat aku mual pada kata cemburu. Jadi, aku bersumpah pada diriku, aku tidak akan pernah membiarkan kata cemburu masuk dalam kamus percintaan.Halah, ternyata semua omong kosong dan bualan belaka. Aku mengutuki sumpah yang aku ikrarkan pada diriku sendiri. Aku berteriak pada jiwaku yang bodoh itu untuk tidak melarangku berada dalam cemburu. Sebab hanya orang bodoh …
Opini, Opini »
Oleh: Oryza Satyva
Pasal 1, ayat 1: Pornografi adalah materi seksualitas dalam bentuk gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, kartun, suara, bunyi, percakapan, syair, gambar bergerak, animasi, gerak tubuh atau bentuk lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi atau pertunjukan di depan umum yang dapat membangkitkan hasrat seksual atau melanggar nilai-nilai kesusilaan dalam masyarakat.
***
RUU APP-RUUP (2006-2008). Saya masih ingat, hebohnya RUU APP dua tahun lalu. Karnaval Budaya, Gelar Seribu Tayub, Aksi Sejuta Umat, sampai pengaduan tentang omongan Fadholy El Muhir. Setelah ramai-ramai kontroversi itu, saya kira RUU ini akan mengundurkan diri dan ternyata …
Humaniora, Opini »
Oleh: Fredric
Belum lama ini saya mendengar kisah perampokan yang menyikat semua barang berharga di rumah. Perampok menggasak barang-barang seperti laptop, hape, bahkan membawa kartu ATM yang segera digunakan untuk dikuras isinya. Perampokan sebenarnya adalah kejadian lumrah di ibukota seperti Jakarta. Tapi kejadian ini tidak bisa disebut lumrah karena para pelakunya adalah sesama teman lesbian.
Menurut teman saya yang ditipu habis-habisan, kasusnya telah dilimpahkan ke pihak keamanan. Tidak henti-hentinya dia menyesalkan kejadian ini. Dari awal tidak sekali pun ia merasa curiga, malah dia segera menyambut hangat si pelaku kejahatan ini yang mulanya …
God, Humaniora, Renungan, Spiritualisme »
Oleh: De Ni
Lebaran telah menjadi salah satu hari yang spesial untukku. Aku memang tidak merayakannya. Tapi ada banyak kenangan yang menggembirakan di hari Lebaran. Selain opor ayam dan sayur ketupat buatan Mama, Lebaran juga selalu mengingatkan tentang cita-citaku yang ingin menjadi orang kaya. Loh? Begini masalahnya, lingkungan tempat tinggalku mayoritas Muslim, sehingga kalau Lebaran tiba suasana kompleks menjadi sangat ramai, berbeda dengan lingkungan tempat tinggal partner yang mayoritas Cina dan akan meriah saat Imlek.Ketika aku kecil, malam sebelum Lebaran adalah salah satu malam yang membuat aku sulit tidur; selain malam …
God, Humaniora, Renungan, Spiritualisme »
Oleh: Bening
Kamu bertanya dengan ujung mata yang basah, “Apa gerangan maksud Tuhan menimpakan ujian seperti ini pada kita?”
Lalu kita bersama mengingat, apakah tangan kita semakin pendek terhulur untuk membantu orang lain? Adakah rejeki yang tidak halal tercampur dalam rupiah demi rupiah yang kita kumpulkan? Ataukah ingatan yang semakin sering lalai padaNya?
Pipiku semakin basah. Resah mencari jawab, karena kamu salah satu orang yang paling dermawan yang pernah kukenal. Kamu salah satu orang paling jujur yang pernah kukenal. Kamu salah satu orang yang paling takut melukai Tuhan.Kita berpelukan dalam isak yang sama. …
Humaniora, Opini, Renungan, Spiritualisme »
Oleh: Bening
“Halo, Ie!” kataku menyapa seorang sahabat. Tampaknya tidak ada palang busy di pintu rumahnya.
“Iya, Sayang?” jawabnya pelan.
“Sebelum kelupaan, Ning mau ngucapin selamat menyambut bulan Ramadhan. Maafin kalo Ning banyak salah sama Ie ya!” ujarku.
Di antara beberapa teman, ia yang pertama kumintai maaf, karena dalam beberapa obrolan dan komunikasi kami, letupan salah paham dan perbedaan pendapat beberapa kali terjadi. Ngobrol sampai seru, lalu diem-dieman dalam waktu yang cukup lama karena dia sulit menerima pendapat dan prinsipku. Tapi kemudian saling menyapa lagi seolah kesalah pahaman itu tidak pernah terjadi.“Halah… Nggak penting, …
Humaniora, Memory, Renungan, Tentang Cinta »
Oleh: Pisank
Hari Sabtu pukul sebelas siang, aku menunggunya seperti biasanya; di tempat biasa, di bangku taman di bawah pohon kemuning tempat pertama kami saling berbicara, tempat pertama kali aku membuatnya menangis, tempat pertama kali dia mencium pipiku, dan tempat aku melepaskannya.
Aku tahu, dia tak akan datang kali ini. Seperti orang bodoh, aku hanya ingin duduk beberapa lama dan menunggunya di sini. Dan selalu saja aku mengenangnya saat kami duduk bersama. Dadaku sesak, serasa akan meledak saat merindukannya. Rindu! Rasa rindu yang selalu datang menyerangku setiap hari Sabtu pukul sebelas siang …





