<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; Renungan</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/category/renungan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 10:52:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Kamu Lesbian Ya?</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/28/kamu-lesbian-ya/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/28/kamu-lesbian-ya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 11:23:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[stereotipe]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17725</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Frizzy Jo
Siapa di antara pengunjung Sepocikopi yang masih bergidik mendengar orang di sebelah kita mengucapkan kata lesbian? Atau jangan-jangan masih ada yang langsung lari terbirit-birit ketika ada yang dengan gamblangnya berkata, “Jalan kamu macho banget sih. Jangan-jangan kamu lesbian ya?!”
Beberapa minggu lalu seorang teman bercerita kepadaku. Jantungnya hampir saja jatuh lepas dari pengaitnya (memangnya ada ya pengait jantung?). Awalnya ia menyapaku dan menanyakan hal-hal yang sampai sekarang masih menjadi tanda tanya besar di dunia lesbian.
“Jo, kamu pakai jam tangan, nggak?”
“Pakai. Kenapa memangnya?”
“Di sebelah mana? Kanan atau kiri?”
Mendengar pertanyaan kedua ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/poci4.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17727" title="© Copyright 2011 CorbisCorporation" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/poci4-300x198.jpg" alt="" width="300" height="198" /></a>Oleh: Frizzy Jo</p>
<p>Siapa di antara pengunjung Sepocikopi yang masih bergidik mendengar orang di sebelah kita mengucapkan kata lesbian? Atau jangan-jangan masih ada yang langsung lari terbirit-birit ketika ada yang dengan gamblangnya berkata, “Jalan kamu macho banget sih. Jangan-jangan kamu lesbian ya?!”</p>
<p>Beberapa minggu lalu seorang teman bercerita kepadaku. Jantungnya hampir saja jatuh lepas dari pengaitnya <em>(memangnya ada ya pengait jantung?). </em>Awalnya ia menyapaku dan menanyakan hal-hal yang sampai sekarang masih menjadi tanda tanya besar di dunia lesbian.</p>
<p><span id="more-17725"></span>“Jo, kamu pakai jam tangan, nggak?”</p>
<p>“Pakai. Kenapa memangnya?”</p>
<p>“Di sebelah mana? Kanan atau kiri?”</p>
<p>Mendengar pertanyaan kedua ini, aku langsung menebak bahwa temanku ini baru saja memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan <em>gaydar</em>. Isengku kambuh. Langsung saja kujawab dengan cueknya.</p>
<p>“Sebelah kanan dong. Aku kan lesbian.”</p>
<p>Niatnya sih mengisengi eh ternyata temanku ini super duper polos. “Oooh, jadi benar ya kalau memakai jam tangan di sebelah kanan itu memang lesbian… hmm…”</p>
<p>“Lagi ngedeketin cewek tapi ragu dia itu lesbian atau bukan ya?”</p>
<p>“Emm… bukan gitu, Jo. Emm… kayaknya anak bosku lesbian juga deh.”</p>
<p>“Heh? Tahu dari mana?”</p>
<p>“Tadi saat kunjungan ke pabrik, kami jalan berdua menyusul rombongan yang sudah jalan duluan. Eh, tiba-tiba dia nembak aku “Kamu lesbian ya?” Mau copot jantungku, Jo.”</p>
<p>Aku serta merta tertawa mendengar ceritanya. Ceritanya sudah basi. Sumpah. Tapi entah mengapa selalu saja memberikan kesegaran kalau ada yang bercerita tentang betapa parnonya mereka menghadapi situasi seperti yang dialami temanku ini.</p>
<p>“Terus kamu jawab apa?”</p>
<p>“Ya aku tanya dia “Kenapa memangnya?” Eh dia malah senyum-senyum bikin penasaran dan bilang, “Tuh, pakai jam tangannya di sebelah kanan.”</p>
<p>Aku pernah mengalami apa yang dialami oleh temanku. Tidak seekstrem itu sih. Tapi tetap saja mendengar ada yang mengucapkan kata lesbian, rasanya diriku mengerucut mengecil seperti iklan krim penghilang bekas luka yang ada di media elektronik. Kemudian seiring perjalanan hidupku, aku belajar untuk hidup berdamai dengan sisi lesbianku.</p>
<p>Banyak yang bertanya kepadaku, bagaimana sih caranya berdamai. Dan aku hanya bisa menjawab, “Terimalah bahwa kamu memang seorang lesbian.” Menerima bahwa diri kita lesbian bukan lantas kita kemudian mencari sejuta cara untuk hidup sebagai lesbian. Aku pribadi memilih untuk me-manusiawi-kan sisi lesbianku dengan cara menganggapnya sebuah hal yang biasa saja, bukan sebuah hal yang istimewa dan harus dilebih-lebihkan.</p>
<p>Menjadi lesbian bukanlah pilihan, namun bagaimana menjalani kehidupan sebagai lesbian adalah pilihan. Hidup selibat dalam kehidupan lesbian adalah pilihan. Mencari pasangan perempuan untuk menjalani kehidupan lesbian berpasangan juga merupakan pilihan. Mau menjadi lesbian yang tertutup nggak ada yang melarang, mau terbuka ya silakan terbuka. Semua kembali kepada pilihan masing-masing pribadi.</p>
<p>Masih banyak hal sederhana yang mungkin sebaiknya lebih diperhatikan dibandingkan bila hidup kita terus menerus diisi dengan pertanyaan-pertanyaan yang isinya melulu tentang lesbian. Lebih baik memikirkan sisa hidup orangtua yang masih tersisa untuk kita isi dengan kebahagiaan sebelum mereka tutup usia dan meninggalkan penyesalan yang mendalam karena selama ini kita sibuk memikirkan ke-lesbian-an kita.</p>
<p>Masih ada sahabat-sahabat di luar sana yang menerima Jo sebagai seorang Jo, bukan Jo sebagai hetero atau Jo sebagai lesbian. Masih ada tugas-tugas kantor atau kuliah yang tidak bisa diselesaikan dengan ke-lesbian-an kita. Masih banyak hal yang mungkin ada di sekitar kita tapi kita menutup mata terhadapnya.</p>
<p>Jadi nggak usah terlalu lebay menghadapi ke-lesbian-an kita. Jadi ketika temanku bertanya kepadaku bagaimana responsku jika aku ada di posisi dia waktu itu, kira-kira akan begini ceritanya,</p>
<p>“Jo, kamu lesbian ya?”</p>
<p>“Kenapa? Jalanku keren kayak jagoan ya? Atau kamu lihat semua cewek-cewek pada ngeliatin aku terus-menerus? Udah, dimaklumi aja, kan pesonaku bukan cuma buat cowok aja tapi juga buat cewek, kucing juga boleh kalau mau bla bla bla… “</p>
<p>Dan aku jamin anak bosku nggak akan punya kesempatan buat senyum-senyum mikir aku ini beneran lesbian atau bukan karena sibuk mikirin gimana cara yang asyik buat nyumpal mulutku yang super bawel!</p>
<p>@Frizzy Jo, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/28/kamu-lesbian-ya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berpasangan Sampai Tua</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/21/berpasangan-sampai-tua/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/21/berpasangan-sampai-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 02:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Friendship]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17177</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Yasmin
&#8220;&#8216;Memiliki pasangan yang tetap berpasangan sampai tua’ itulah jawaban semua lesbian, ketika ditanya apa harapan hidupnya,” kata salah seorang teman. “Tanya ke aku dong…,” pintaku. “Ya, kalau kamu, apa harapan hidupmu sebagai lesbian?” tanyanya. “Boleh nggak sebagai manusia saja, nggak usah sebut sebagai lesbian,” pintaku lagi, ngeyel.
Jawaban saya, memiliki pasangan maupun tidak, saya ingin jadi manusia yang berguna bagi orang-orang di sekitar saya.  Kalimat “memiliki pasangan maupun tidak” adalah penekanan saya terhadap penyangkalan asumsi bahwa semua lesbian mempunyai harapan itu.
Sebenarnya pembicaraan ini diawali dengan debat kami akan perlunya mempertahankan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/stock-photo-a-photo-of-two-old-women-with-their-dog-enjoying-the-sunset-6159742.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17404" title="two-old-women-with-their-dog-enjoying-the-sunset-6159742" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/stock-photo-a-photo-of-two-old-women-with-their-dog-enjoying-the-sunset-6159742-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>Oleh: Yasmin</p>
<p>&#8220;&#8216;Memiliki pasangan yang tetap berpasangan sampai tua’ itulah jawaban semua lesbian, ketika ditanya apa harapan hidupnya,” kata salah seorang teman. “Tanya ke aku dong…,” pintaku. “Ya, kalau kamu, apa harapan hidupmu sebagai lesbian?” tanyanya. “Boleh nggak sebagai manusia saja, nggak usah sebut sebagai lesbian,” pintaku lagi, ngeyel.</p>
<p>Jawaban saya, memiliki pasangan maupun tidak, saya ingin jadi manusia yang berguna bagi orang-orang di sekitar saya.  Kalimat “memiliki pasangan maupun tidak” adalah penekanan saya terhadap penyangkalan asumsi bahwa semua lesbian mempunyai harapan itu.</p>
<p>Sebenarnya pembicaraan ini diawali dengan debat kami akan perlunya mempertahankan hubungan dengan pasangan dengan cara-cara tertentu.  Yang disebutkan dengan cara-cara tertentu oleh teman saya tersebut adalah hubungan pertemanan dia dan pasangannya dengan teman-teman mereka sangat terarah dan terstruktur. Teman hetero banyak, tapi khusus untuk teman lesbian, perlu kehati-hatian tersendiri. Hal inilah yang saya tolak mentah-mentah. Pertama, terbayang gerak sosial teman saya itu jadi sangat terbatas.  Kedua, status saya sebenarnya adalah teman lesbiannya (bukan mereka) karena saya tidak kenal partnernya.  Jadi, kemungkinan saya harus siap-siap ditendang.</p>
<p>Alasannya, kata teman saya itu, praktek teman-makan-teman sudah bukan rahasia lagi, dan sering terjadi di kelompok lesbian. <em>What??!!</em> Tambah nggak bisa terima lagi saya dengan alasan tersebut.  Urusan teman-makan-teman memang sering terjadi di kelompok lesbian, eh ralat, di mana pun sebenarnya, bukan di kelompok lesbian saja.  Saya pun pernah mengalaminya, pasangan hetero yang menikah pun kita lihat pernah mengalaminya. Namun, bukankah selingkuh atau tidak itu tergantung orangnya? Bukankah meski tanpa akad nikah atau pemberkatan pernikahan, pasangan lesbian juga berkomitmen untuk selalu bersama, saling setia?</p>
<p>Kalau ada peraturan pembatasan pergaulan, menurut saya itu sama artinya dengan tidak ada kepercayaan satu sama lain, terjadi pembelengguan kebebasan satu sama lain, melanggar privasi seseorang dalam melaksanakan haknya sebagai mahluk sosial. Mukaku pun merah padam, menahan kesal.</p>
<p>Kita ambil contoh, <em>webzine </em>SepociKopi ini, di sinilah tempat lesbian-lesbian berkumpul. Sama-sama membaca, sama-sama menulis, sama-sama berkomentar, dan seterusnya. Apakah interaksi seperti ini juga dilarang? Teman saya bilang, “Justru di SepociKopi banyak sekali orang-orang keren yang pintar-pintar sebagai penulis maupun pembaca, inilah godaan besar buat lesbian yang perpasangan. Saya malah nggak boleh buka website SepociKopi lagi,” katanya.</p>
<p><em>Oh</em> <em>God.</em> Saya pun nyerocos. “Lho, biar pintar dan cakep, emangnya mau diapain? Kamu kan udah punya pasangan, ya jangan dong,” kataku.</p>
<p>“Prakteknya susah, Yas, itu tetap menjadi godaan buat kami, daripada terjadi apa-apa, maka saya mau saja menuruti kata-kata partner saya, dia juga nggak buka-buka SepociKopi kok,” jawabnya.</p>
<p>Benarkah? Saya tetap dengan keteguhan hati bahwa pergaulan penting buat hidup kita. Pergaulan dengan sesama lesbian juga demikian.  Alangkah sayangnya kalau SepociKopi yang brilian ini dibiarkan berlalu, tanpa pernah dikunjungi. Benarkah kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk mempertahankan hubungan kalau elemen godaan mengguncang hati kita? Bagaimana dengan pasangan Alex dan Lakhsmi yang mengelola <em>webzine </em>ini, dan berinteraksi dengan seluruh unsur-unsurnya? Manusia memang berbeda-beda, ya?</p>
<p>Harapan memiliki pasangan sampai tua tinggal harapan kalau prakteknya harus ada pembatasan pergaulan seperti yang dianut teman saya itu. Itulah sebabnya jawaban saya di atas jadi seperti tadi, menekankan kata-kata berpasangan maupun tidak…</p>
<p>Teman saya itu dan pasangannya termasuk yang awet.  Mereka sudah bertahun-tahun perpartner, tahun ini sudah memasuki hitungan berapa belas tahun mereka bersama. Sebelum ini saya sering bertanya kepadanya, apa sih yang membuat hubungan kalian awet? Jawabannya ya gitu-gitu deh, ada kata saling setia, dan lain-lain.  Tapi rupanya ada strategi lain, batasi pergaulan satu sama lain untuk bergaul di lingkungan lesbian.  Kalau memang begitu strategi menjaga hubungan, terima kasih deh…! Mendingan saya tidak berpartner.</p>
<p>Namun, saya kan orang yang optimis, saya masih yakin akan ada partner untuk saya yang tanpa perlu batas membatasi pergaulan akan awet sampai tua. Gitu aja harapannya, kok repot.</p>
<p>Kalau harapan itu tidak terkabul? Persiapan diri secara mandiri terhadap diri sendiri kan sudah saya rencanakan dengan rapi. Investasi masa depan, asuransi kesehatan dan asuransi jiwa sudah saya persiapkan juga. Sekarang urusan hati. Ya siap-siaplah dari sekarang. Menjalin hubungan baik dengan keluarga dan teman sebanyak-banyaknya adalah termasuk persiapan itu. Tidak ada yang tahu nasib kita di masa yang akan datang. Akan sampai tuakah usia kita? Atau besok sudah dijemput maut? <em>Wallohu&#8217;alam</em>.</p>
<p>@Yasmin, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/21/berpasangan-sampai-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tuduhan Lesbian</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/12/17/tuduhan-lesbian/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/12/17/tuduhan-lesbian/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Dec 2011 01:57:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coming Out]]></category>
		<category><![CDATA[Friendship]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16365</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Yasmin
Dalam sebuah pembicaraan dengan seorang teman lesbian yang baru pulang dari nongkrong di kafe, dia bercerita, “Tadi beberapa meja di samping mejaku, kursi-kursinya diduduki pasangan-pasangan lesbian,” katanya.
Mendengar kalimat itu dalam benak saya langsung terpikir bahwa teman saya kenal dengan pasangan-pasangan yang dia ceritakan. Tapi pada saat saya tanya dan memastikan pernyataannya, dia menjawab, “Enggak. Aku nggak kenal. Tapi sudah pastilah mereka lesbian, kan terlihat dari penampilannya, yang satu butch gitu, dan pasangannya femme.”
“Belum tentu lho,&#8221; sanggah saya. &#8220;Jangan pernah nge-judge seseorang lesbian hanya karena penampilannya atau dua orang perempuan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/Friends__Color_PSD__by_Mikeinel.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16758" title="Friends__Color_PSD__by_Mikeinel" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/12/Friends__Color_PSD__by_Mikeinel-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Oleh: Yasmin</strong></p>
<p><strong></strong>Dalam sebuah pembicaraan dengan seorang teman lesbian yang baru pulang dari nongkrong di kafe, dia bercerita, “Tadi beberapa meja di samping mejaku, kursi-kursinya diduduki pasangan-pasangan lesbian,” katanya.</p>
<p>Mendengar kalimat itu dalam benak saya langsung terpikir bahwa teman saya kenal dengan pasangan-pasangan yang dia ceritakan. Tapi pada saat saya tanya dan memastikan pernyataannya, dia menjawab, “Enggak. Aku nggak kenal. Tapi sudah pastilah mereka lesbian, kan terlihat dari penampilannya, yang satu butch gitu, dan pasangannya femme.”</p>
<p>“Belum tentu lho,&#8221; sanggah saya. &#8220;Jangan pernah nge-<em>judge </em>seseorang lesbian hanya karena penampilannya atau dua orang perempuan sebagai pasangan lesbian kalau mereka nggak menyatakannya,” tandas saya lagi.</p>
<p>Temanku pun bersungut-sungut mendengar pernyataanku. Aku memang dikenal oleh teman-teman lesbian sebagai orang yang &#8220;nggak asyik&#8221; kalau dikasih info atau bisikan tentang seseorang yang diduga lesbian.</p>
<p>Buat sebagian orang, obrolan tentang orientasi seksual seseorang bisa nyaris senikmat ngupil. Bahkan ketika rongga hidung dalam keadaan bersih pun ada yang tetap asik menggali dan &#8220;mengeskplorasi&#8221;. Tapi ada baiknya kita mengingat beberapa kode etik yang meski tidak/belum pernah tertulis. Bila Netiket merujuk pada etika umum yang berlaku bagi para netter (pengguna internet) siapa tahu suatu saat, kita, komunitas lesbian, bisa mengusung konsep Lestiket, etika umum untuk para lesbian. Asyik kan?</p>
<p><strong>1. Jangan cepat menuduh.</strong></p>
<p>Sebenarnya bukan di antara pertemanan saya saja, pembicaraan seperti ini sering terdengar di kalangan lesbian pada umumnya, bahkan di kalangan bukan lesbian pun.  Sering sekali kita menuduh perempuan yang dekat dengan sesama perempuan adalah lesbian.  Lebih mudah lagi menuduh (bahkan memastikan) perempuan berpenampilan tomboy sebagai lesbian berlabel butch atau andro. Apalagi si tomboy menggandeng tangan si feminin, langsung deh terdengar celetukan, &#8220;hmmm mereka pasti pasangan lesbi tuh.&#8221;</p>
<p>Untuk kesimpulan kita sendiri, sekadar memuaskan diri agar kita bisa tersenyum-senyum merasa ada teman &#8220;sehati&#8221; sih nggak apa-apa, tapi jangan sampai konklusi pribadi tersebut itu dijadikan topik obrolan dengan orang lain, apalagi bila mereka, yang dibicarakan ini, merupakan <em>public figure</em> atau orang yang selama ini kita ketahui sebagai <em>straight</em>, atau perempuan bersuami dan memiliki anak.</p>
<p><strong>2. Hormati status yang diproklamirkan.</strong></p>
<p>Anggap saja begini, ketika kita berkenalan dengan seseorang dan kita tanya, apa profesimu? Dan dijawab: arsitek.  Maka hormatilah pengakuannya bahwa dia seorang arsitek.  Kita tidak perlu menginvestigasi pengakuannya, bukan? Tidak ada perlunya, kecuali kalau kita ingin menggunakan jasanya utuk merancang rumah kita, sebab kalau bukan  arsitek benaran, bisa-bisa rumah kita yang didesainnya nanti rubuh.</p>
<p>Begitu pula dengan orientasi seksual seseorang, lesbian atau bukan, gay atau bukan. Kalau seseorang menyebut dirinya <em>straight</em>, hormatilah! Jangan kita ulik-ulik lagi mencari celah atau apa pun yang merujuk kemungkinannya sebagai lesbian. Meskipun penampilannya mencurigakan, meskipun gaydar alias gay radar kita akui bekerja dengan baik, dan meskipun kita tahu, seorang istri atau seorang ibu bisa saja berorientasi seksual lesbian  atau biseksual, tapi kita tetap harus menghormati status yang diproklamirkannya. Begitu seharusnya, bukan?</p>
<p><strong>3. Berkaca pada diri sendiri.</strong></p>
<p>Mumpung kali ini saya menulis untuk pembaca di kalangan lesbian, saya ingin mengungkapkan begini: ketika kita akan menuduh seseorang sebagai lesbian, berkacalah pada diri sendiri, apakah kita, yang sudah jelas lesbian ini mau atau suka jika dibicarakan kepada orang lain sebagai lesbian?</p>
<p>Bila dibanding dengan yang sudah <em>coming out</em>, ada berapa pembaca SepociKopi yang masih menyembunyikan orientasi seksualnya? Lebih banyak, kan? Itu artinya ada lebih banyak teman-teman kita yang harus kita hormati dan kita jaga. Kalau kita tahu nggak enaknya dituduh-tuduh, sebaiknya kita pun jangan menuduh orang lain, menempelkan status yang bukan statusnya, sebab itu bukan tindakan yang <em>fair</em>.</p>
<p>Bahwa kemungkinan orang itu berbohong, mengaku <em>straight </em>padahal lesbian, itu bukan urusan kita. Itu urusan dirinya sendiri. Sama-sama tidak saling tidak menyinggung orientasi seksual masing-masing sajalah&#8230; Begitu rasanya lebih bersaudara, kan?</p>
<p><strong>4. Apa perlunya?</strong></p>
<p>Pertanyaannya sekarang, apa perlunya kita mengulik kelesbianan seseorang? Baiklah, mungkin ada yang menjawab: seneng aja, jadi kita tahu kalau kita tidak sendirian. Padahal kan sudah jelas, Anda sedang membaca SepociKopi ya, <em>visitor</em>-nya saja sudah 2 juta, gimana sendirian? Anda tuh rame-rame, tauk! <img src='http://sepocikopi.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Apa lagi? Agar bisa kita suruh dia baca SepociKopi? Ya boleh juga, tapi ketika Anda mengatakannya, justru Anda yang sedang berusaha “mengatakan” bahwa Anda lesbian. Atau mungkin ada yang menjawab, agar kita bisa “nembak” dia.  Ya, kalau memang naksir, hajar sajalah! Nggak usah urus dia lesbian atau bukan, deketin saja. Kalau dia tertarik dan ada jalan cerita yang lain, yah sudah pastilah dia lesbian.</p>
<p>Tapi apa pun keperluannya, kembalilah ke poin 1, 2 dan 3. Sebab penghargaan kita kepada privasi orang lain adalah bentuk penghargaan kita kepada diri sendiri.</p>
<p>@Yasmin, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/12/17/tuduhan-lesbian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lagak Lajang: Avatar</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/11/26/lagak-lajang-avatar/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/11/26/lagak-lajang-avatar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Nov 2011 10:44:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Coming Out]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Lagak Lajang]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16306</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Oscar A.
Ada hamparan perasaaan yang muncul ketika melihat kolom yang sama terbit lagi di majalah ini. Namanya, hamparan perasaan bangga, senang, sekaligus iri dan cemburu. Bangga dan senang, tak perlu dijelaskan lagi. Tapi iri dan cemburu yang muncul di hati penulisnya sendiri, bagaimana menafsirnya? Kalaulah semuanya ideal, dualisme sungguh tak diperlukan lagi kehadirannya. Menjadi ini, lalu besok menjadi itu, adalah fase menjijikkan yang harus saya hadapi setiap waktu. Bermuka dua. Saya adalah orang yang bermuka dua, menjadi pengajar baik-baik di institusi, lalu berubah menjadi lesbian munafik yang nangkring sana-sini ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/Mirror_Mask_by_InertiaK.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16307" title="Mirror_Mask_by_InertiaK" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/Mirror_Mask_by_InertiaK-241x300.jpg" alt="" width="241" height="300" /></a>Oleh: Oscar A.</p>
<p>Ada hamparan perasaaan yang muncul ketika melihat kolom yang sama terbit lagi di majalah ini. Namanya, hamparan perasaan bangga, senang, sekaligus iri dan cemburu. Bangga dan senang, tak perlu dijelaskan lagi. Tapi iri dan cemburu yang muncul di hati penulisnya sendiri, bagaimana menafsirnya? Kalaulah semuanya ideal, dualisme sungguh tak diperlukan lagi kehadirannya. Menjadi ini, lalu besok menjadi itu, adalah fase menjijikkan yang harus saya hadapi setiap waktu. Bermuka dua. Saya adalah orang yang bermuka dua, menjadi pengajar baik-baik di institusi, lalu berubah menjadi lesbian munafik yang nangkring sana-sini di hamparan bumi lainnya. Sungguh, saya benar-benar jijik menjadi diri saya sendiri.</p>
<p>Semuanya menjadi sok suci ketika saya terbelenggu aturan-aturan sosial yang harus saya akui keberadaanya, padahal seharusnya, kesucian itu tak boleh ternodai ketika alam pikiran saya bergerak bebas mengikuti arus yang tercipta dengan sendirinya itu. Mungkin bukan ciptaan Tuhan, mungkin bukan ciptaan manusia. Mungkin saja, memang alam yang menciptakannya, agar sekeping rasa yang bernama cinta itu, berkembang jenis, bermetamorfosis, atau berevolusi dengan sendirinya.</p>
<p>Ada nama Oscar A. di sini, entah Arumi entah Aishiteru, entalah&#8230; Saya membenci nama itu. Nama itu membuat penulisnya seolah-olah mentereng dengan kolomnya sendiri, padahal jelas-jelas saya yang menulisnya. Itu semua ada dalam kepala saya, saya yang menciptakannya, saya yang melahirkannya, saya yang membuatnya berproduksi. Kau tahu? Oscar Arumi itu sesungguhnya tidak ada! Yang ada hanyalah saya, saya, saya! Saya yang berkedok di balik nama Oscar. Saya, manusia nyata yang benar-benar menjalani hidup dan pemikiran yang nyata, tetapi terdampar dalam ke-<em>avatar</em>-an seorang tokoh yang bernama Oscar lalu terjebak dalam karya-karya sok ilmiahnya&#8212;kalau boleh dibilang begitu&#8212;di dalam dunia maya. Ulangi, <em>di dalam sebuah dunia maya!</em></p>
<p>Sungguh! Saya ingin menjerit kuat dan meneriaki kencang-kencang ketikan tuts yang sedang saya mainkan. Lagi-lagi, ini <em>avatar</em> saya, Oscar A. Dan, saya benci harus terus menerus sembunyi di balik <em>avatar</em> ini, menyembunyikan semua kedok yang saya punya, demi memuaskan dahaga-dahaga haus yang berkeliaran di sini. Oh ya, bukan cuma kalian kok yang kehausan. Sebab saya juga menulis bukan karena kekenyangan atau sedang puas dahaganya.</p>
<p>Paling enak kalo menulis teriak-teriak, meskipun tak ada yang membaca, mendengar apalagi menggubris sama sekali. Pernah saya membayangkan berkata lantang seperti ini, misalnya, “Hai, saya Pujianti Rukmini, Kepala SDN 087910. <em>(Btw, nama ini cuma contoh lho)</em>. Saya seorang lesbian dan baru <em>coming out. </em>Oh ya, apakah Anda yakin akan menyekolahkan anak Anda di sini?”</p>
<p>Oke, itu kalimat yang ingin sekali saya utarakan di dunia nyata. Tanpa perlu lagi bertopeng dan harus mengucapkannya dengan <em>avatar</em> di dunia maya, seperti si Oscar A.&#8212;yang lama-lama bikin saya sendiri jijik melihatnya: sok suci, sok pintar padahal hanya berani berbicara di dunia maya. Ah, lagi-lagi, saya iri melihat <em>avatar</em> sendiri, kenapa dia begitu nyata melakoni semuanya di dunia maya? Meneriakkan semaunya di sini, menjadi seorang lesbian sejati dalam jajaran bahasa pemrograman yang saya sendiri nggak mengerti?</p>
<p>Sementara saya sendiri, menjadi apa di dunia nyata?</p>
<p>Hanya, robot sosial yang digerakkan melalui bahasa norma dan etika. Ah, <em>bullshit! </em></p>
<p>Tiba-tiba saya ingin berdoa, <em>Semoga,</em> avatar <em>ini berhenti dengan sendirinya, hingga saya bisa menjelma menjadi sebenar-sebenarnya diri sendiri, di dunia yang sungguhan dan tidak maya lagi.</em></p>
<p>@Oscar A., SepociKopi, 2011.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/11/26/lagak-lajang-avatar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meja Takdir</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/11/17/meja-takdir/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/11/17/meja-takdir/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 02:00:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[Coming Out]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=16098</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ade Rain
Undangan peresmian partai politik baru.  Kertas bersampul biru dengan logo parpol sampai di meja kerja. Pendirinya kukenal baik. Suka nggak suka, sepertinya aku wajib datang! Jadwal pun disesuaikan. Setelah bertemu dengan dua klien, rambut kupasrahkan di salon langganan. Tidak sampai satu jam, rambut itu kelar. Harum, halus, lembut, melambai ketika diembus angin. Halah, nggak ada hubungannya dengan cerita ini, hanya ingin pamer rambut aja. Oya, dari  salon aku balik ke kantor sebentar.
Entah kenapa menjelang berangkat ke undangan, sepasang tamu tiba-tiba nongol. Klien yang satu ini nggak ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/banquet_table_set_up.jpeg"><img class="alignleft size-medium wp-image-16099" title="banquet_table_set_up" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/11/banquet_table_set_up-300x236.jpg" alt="" width="300" height="236" /></a>Oleh: Ade Rain</p>
<p>Undangan peresmian partai politik baru.  Kertas bersampul biru dengan logo parpol sampai di meja kerja. Pendirinya kukenal baik. Suka nggak suka, sepertinya aku wajib datang! Jadwal pun disesuaikan. Setelah bertemu dengan dua klien, rambut kupasrahkan di salon langganan. Tidak sampai satu jam, rambut itu kelar. Harum, halus, lembut, melambai ketika diembus angin. Halah, nggak ada hubungannya dengan cerita ini, hanya ingin pamer rambut aja. Oya, dari  salon aku balik ke kantor sebentar.</p>
<p><span id="more-16098"></span>Entah kenapa menjelang berangkat ke undangan, sepasang tamu tiba-tiba nongol. Klien yang satu ini nggak mengenal kata besok.  Otomatis aku harus melayani dengan baik. Sepuluh menit, dua puluh menit, setengah jam, mereka masih membicarakan program yang ingin dijalankan. Aku semakin gelisah karena untuk sampai ke lokasi peresmian partai itu butuh 40 menit di jam macet sore begini. Sejam berlalu dan aku terpaksa kejam mengatakan pada  tamu bahwa aku harus menghadiri acara peresmian partai.</p>
<p>Supir melaju. Meski ingin sekencang apa pun, mobil tak bisa melesat di tengah kemacetan. Setelah lima puluh menit akhirnya tiba di lokasi. Tempat parkiran sudah terlalu penuh. Aku bergegas menuju ruang yang tertera di undangan.</p>
<p>&#8220;Di lantai dua ya, Mbak.&#8221;</p>
<p>Seorang pria berdasi norak mengarahkanku ke tangga atau lift. Jelas aku memilih tangga, hanya di lantai dua. Kapan lagi membakar lemak di pahaku ini.  Pintu terbuka lebar, dari meja penerima tamu terlihat meja bundar dengan taplak meja putih tersusun rapi. Usai mengisi buku tamu, aku meringsek masuk ke dalam. Di meja oval terdekat, terlihat sejumlah camilan dan bunga Genbera merah menghiasi ruangan. Hmmm… celingak-celinguk.  Penerima tamu juga masih sibuk mencarikan tempat. Mengarahkan pandangan ke bagian kanan, rupanya  ada satu kursi yang sepertinya didesain Tuhan buatku.</p>
<p>Penerima tamu yang berusaha mencarikanku tempat duduk memintaku mengarah ke sana. Melihat sisi kursi kosong dan siapa yang duduk di sana membuatku seperti kebakaran. Itu membuat j-jan&#8230; jan&#8230; jantungku berdegup seakan harus melewati arus deras sungai besar. Tak ada pilihan lain sepertinya! Memang harus meja yang itu.</p>
<p>Meja ini berisi tiga perempuan, seseorang memakai blazer rapi, rambut di-<em>bleaching </em>keren dengan <em>style </em>urakan namun rapi. Wax yang dia pakai berfungsi baik. Sementara perempuan di sebelahnya, &#8211; secepat air tumpah di kemiringan curam &#8211; aku sudah tahu dia seorang butchy. Penampilannya segagah tokoh butchy di film seri <em>L World</em>! Sebelahnya apalagi. Payudaranya nyaris tidak kelihatan karena tertutup kemeja semi militer ketat polka dot. Warnanya hijau seperti warna TNI kalau lagi menyamar di rerumputan.</p>
<p>&#8220;Sebentar ya Pak, ada yang tertinggal di mobil saya.&#8221;</p>
<p>Posisiku yang masih dekat pintu membuatku leluasa keluar dari ruangan. Pret! Aku celingak celinguk mencari mobilku. Tidak kelihatan. Barangkali supir mencari parkir yang jauh. Ke mana? Ke mana sekarang? Rasanya berat sekali duduk semeja dengan teman-teman tadi. Tidak mungkin aku keluar begitu saja. Sahabat baikku pendiri partai belum melihat mukaku. Setelah menarik napas panjang beberapa kali, akhirnya aku memberanikan diri masuk  lagi. Kali ini si penerima tamu meyakinkan kursi yang tadi kosong!</p>
<p>“Hai…” Kataku sopan. Menyalami ketiga rekan semeja. Tuhan, tidak ada yang salah sama mereka.  Tapi kenapa aku tidak didudukkan saja dengan bapak-bapak yang rambutnya sudah putih semua, yang nggak jauh dari mejaku? Atau di bagian yang ada artisnya? Hitung-hitung aku  bisa cuci mata. Atau dudukkan saja aku dengan salah satu pemain musik orkestra di depan sana. Suruh saja aku nyanyi sepuluh lagu, aku sanggup! Asal jangan duduk di sini.</p>
<p>Harapan tinggal harapan.  Faktanya aku duduk di meja ini, duduk bersama tiga orang lesbi. Tuhan sudah mengatur meja itu khusus untuk lesbian seperti kami. Hah, kami? Ya termasuk aku. Melihat aneka camilan lezat yang ada di meja dan buah-buahan yang ditata indah, aku tidak selera. Reaksi yang terjadi aku tidak berkosentrasi mengikuti acara tersebut.  Kucoba berpikir positif. Mungkin Tuhan tahu betapa paranoidnya aku. Ini mungkin salah satu caraNya agar aku bisa beradaptasi dengan lesbian lain. Nalarku pelan-pelan mulai bekerja.  Perempuan di kananku! Aku meliriknya. Dia sedang memerhatikanku juga.</p>
<p>&#8220;Eh, si Jiane apa kabar, ya?&#8221;</p>
<p>Tuing! Jiane?</p>
<p>Perempuan ini memang mengenalku! Tapi bukan mengenal aku sebagai lesbi. Atau memang dia sudah tahu tapi pura-pura tidak tahu. Jiane yang dia tanya adalah teman yang sepak terjangnya sebagai lesbian sudah mendunia.  Jiane terkenal selalu membawa  pacar perempuannya ke beragam acara. Nyaris teman-teman <em>straight </em>menyebut mereka pasangan.  Jadi, kenapa tanya Jiane sama aku? Mungkin karena kami pernah ketemu berbarengan dulu. Tapi itu kan sudah lama sekali? Lututku gemetar ditanyai begitu. Aku menggeleng, menandakan tidak tahu. Jujur, memang aku tidak tahu  di mana Jiane.</p>
<p>Aku menarik napas panjang, mengukur waktu akan berapa lama acara berlangsung. Jangan tanyakan bagaimana tingkah dan sikapku selama dua jam berada di meja itu. Satu hal yang kusadari, tidak ada yang sembarangan dalam hidup ini. Semua sudah diatur. Lesbian bukan dicari dan dibuat-buat. Meja lesbian tadi juga bukan meja yang kucari-cari. Aku tidak menginginkannya, namun Tuhan sudah mengatur di mana aku duduk, dengan siapa aku lahir, bagaimana ayahku, siapa keluargaku, siapa teman-temanku, dan  dengan siapa aku berpasangan. Apa aku masih mau mengutuki meja itu?</p>
<p>@Ade Rain, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/11/17/meja-takdir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Say No to Corruption!</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/10/27/say-no-to-corruption/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/10/27/say-no-to-corruption/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Oct 2011 14:55:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=15610</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Yasmin
Kalau kita baca di koran-koran serta majalah-majalah, korupsi sepertinya makin merajalela di negara kita ini. Setiap terbit, koran dan majalah memberitakan pejabat-pejabat yang korupsi, baik dari unsur eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Daerah pun rentangnya merata. Mengerikan ya?
Tak sedikit yang masa bodoh seolah-olah ranah pejabat jauh dari ikatan darah kita. Berpikiran bahwa kita hanyalah pekerja swasta yang hanya sebagai sekrup dalam menggerakkan bisnis kecil milik orang lain. Ada pula yang bergejolak memaki para koruptor dengan sindiran halus sampai makian kasar di komen-komen berita online, Twitter, bahkan muncul di running text ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/corruption.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-15611" title="corruption" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/corruption-300x221.jpg" alt="" width="300" height="221" /></a>Oleh: Yasmin</p>
<p>Kalau kita baca di koran-koran serta majalah-majalah, korupsi sepertinya makin merajalela di negara kita ini. Setiap terbit, koran dan majalah memberitakan pejabat-pejabat yang korupsi, baik dari unsur eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Daerah pun rentangnya merata. Mengerikan ya?</p>
<p>Tak sedikit yang masa bodoh seolah-olah ranah pejabat jauh dari ikatan darah kita. Berpikiran bahwa kita hanyalah pekerja swasta yang hanya sebagai sekrup dalam menggerakkan bisnis kecil milik orang lain. Ada pula yang bergejolak memaki para koruptor dengan sindiran halus sampai makian kasar di komen-komen berita <em>online</em>, Twitter, bahkan muncul di <em>running text</em> televisi dan lain-lain. Saya bertanya dalam hati, begitukah cara menunjukkan sikap bahwa kita anti korupsi? Apakah yang berteriak sehari-harinya sudah berpikir anti korupsi? Bebas dari kelakuan budaya korupsi?</p>
<p>Sering saya membaca artikel obituari tentang profil seorang tokoh yang baru saja meninggal dunia. Seperti biasa, yang diungkapkan adalah fakta-fakta keteladanan dan kebaikan almarhum. Tak jarang disebutkan bahwa almarhum adalah sosok yang jujur, yang ketika menjadi pejabat tidak pernah korupsi. Loh, bukankah pejabat memang sepatutnya tidak korupsi? Oh, saking banyaknya korupsi di Indonesia, kita justru menganggap kejujuran/ ketidakkorupsian sebagai hal yang “luar biasa&#8221;. Kalau pejabat korupsi, itu sih hal yang “biasa”.</p>
<p>Saya mau mengajak teman-teman untuk memerangi budaya korupsi ini mulai dari hal yang paling kecil. Akan saya jabarkan poin-poinnya:</p>
<p><strong>1. Hindari kata-kata &#8220;lahan basah&#8221;, &#8220;profesi basah&#8221;, &#8220;posisi basah&#8221;</strong></p>
<p>Dalam perjalanan dinas ke Bandung, tiba-tiba seorang teman berkata, &#8220;Wah lahan basah tuh.&#8221; Saya bertanya, &#8220;Apa lahan basah?&#8221; Teman menjawab, &#8220;Tuh, lihat mobil itu tulisannya Dinas Pendapatan Daerah. Orang-orang yang kerja di situ pasti mengurus pendapatan daerah.&#8221; Saya tidak mengerti. &#8220;Lho, kan dia cuma mengurus? Uangnya bukan punya dia.&#8221; Teman tetap ngotot. &#8220;Ya, tapi tau sendiri kan biasanya di tempat yang ada kesempatan korupsi, orang pasti akan memanfaatkanya.&#8221;</p>
<p>Sejak mengerti tanggung jawab, saya menghindari tuduhan &#8220;posisi basah&#8221; untuk posisi tertentu. Saya berprinsip, saya harus yakin dengan tanggung jawab orang-orang yang bekerja di posisi tersebut. Dengan memberikan kepercayaan penuh, maka mereka akan bekerja dengan baik. Kalau tidak ada lagi tuduhan &#8220;lahan basah&#8221; maka praktek korupsi lama-lama akan menjadi praktek yang memalukan, bukanlah merupakan praktek yang &#8220;biasa&#8221;.</p>
<p><strong>2. Jangan mau gratisan!</strong></p>
<p>Orang berhasil kaya karena kerja kerasnya. Kalau kita mau kaya, kita harus kerja keras. Kalau mau menikmati kesenangan, kita harus mengeluarkan biaya. Kalau kita tidak punya biaya, tidak usah ngotot mau mendapatkan kesenangan itu. Apalagi kalau mau menikmati kesenangan dengan minta gratisan dari orang yang sudah kerja keras tersebut. Di mana keadilan dalam praktik ini?</p>
<p>Budaya maunya gratisan ini ada di mana-mana. Keseringan minta gratisan memicu korupsi. Sikap malas akan tumbuh dalam diri karena keberuntungan mendapatkan gratisan. Ketika gratisan sulit didapatkan, gelap mata membawa ke arah mencuri. Kalau tadinya minta terang-terangan, lama-lama mengambil diam-diam. Dalam jumlah kecil saja jatuhnya korupsi, apalagi dalam jumlah besar. Dan kalau sudah bisa dapatkan yang kecil, selalu ingin yang lebih besar.</p>
<p><strong>3. Minta oleh-oleh? <em>No way!</em></strong></p>
<p>Mendengar teman pergi ke luar kota atau luar negeri, kalimat yang muncul dari saya, baik terucap maupun dalam hati: &#8220;Semoga selamat sampai tujuan, semoga kamu menikmati perjalanan ini.: Dalam kalimat bahasa gaulnya: <em>have fun</em> ya. Sudah lama banget saya tidak ngomong, &#8220;Oleh-oleh ya.&#8221; Lebih sadar lagi kalau membayangkan perjalanan yang hanya singkat dan padat harus ditambah padat dan merepotkan kalau harus mencari oleh-oleh dan memikirkan membawanya. Jauhilah kata-kata itu. Sumpeh lho, ini nggak ada hubungannya sama basa basi.</p>
<p>Apa pemicu korupsi? Di balik korupsi seringkali ada CINTA. Demi membahagiakan istri tercinta, pasangan melakukan korupsi. Lesbian, berhati-hati! Perempuan matre berada di mana-mana. Hubungan asmara para lesbian banyak dibutakan gara-gara cinta. Tak sedikit lesbian yang mencari pacar untuk “bersandar” alias menghidupi dirinya. Jika kita yang tidak tegas dengan prinsip anti korupsi seperti contoh-contoh di atas, ditambah dengan mengelu-elukan cinta dan rasa kasihan, maka terjerembablah lesbian ke dunia korupsi. Bisakah kita menelan pernyataan masyarakat yang sinis, &#8220;Dasar lesbian memang biang koruptor!&#8221;? Ah, sungguh mengerikan.</p>
<p>@Yasmin, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/10/27/say-no-to-corruption/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat Kecil Untuk Manusia</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/10/22/surat-kecil-untuk-manusia/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/10/22/surat-kecil-untuk-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Oct 2011 15:31:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Twilight Zone]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=15510</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Deni Melisa
Manusia, masih ingat? Siapa yang menyebutku manusia? Kalian atau takdir?  Ah, sudahlah, aku pun sudah tak berniat mencari jawab. Yang jelas, ketika aku keluar dari liang vagina ibuku, aku langsung disebut sebagai bagian dari kalian, manusia.  Maaf, sebenarnya, aku  tidak berharap disebut begitu, sebab jika ada nama lain yang lebih tepat untuk menggambarkan siapa kita, maka aku lebih memilih nama itu. Tapi, sepertimu, aku juga sudah dipilih dan ditakdirkan sebagai manusia. Ya manusia, makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, berakal budi, berpengetahuan,  berhati nurani, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/Little_Girl_Dreams_by_inmysolitude43.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-15511" title="Little_Girl_Dreams_by_inmysolitude43" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/Little_Girl_Dreams_by_inmysolitude43-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /></a>Oleh: Deni Melisa</p>
<p>Manusia, masih ingat? Siapa yang menyebutku manusia? Kalian atau takdir?  Ah, sudahlah, aku pun sudah tak berniat mencari jawab. Yang jelas, ketika aku keluar dari liang vagina ibuku, aku langsung disebut sebagai bagian dari kalian, manusia.  Maaf, sebenarnya, aku  tidak berharap disebut begitu, sebab jika ada nama lain yang lebih tepat untuk menggambarkan siapa kita, maka aku lebih memilih nama itu. Tapi, sepertimu, aku juga sudah dipilih dan ditakdirkan sebagai manusia. Ya manusia, makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, berakal budi, berpengetahuan,  berhati nurani, bertubuh, berjiwa, ber-roh.</p>
<p>Dulu, sebenarnya aku pernah bangga menjadi manusia. Tahun-tahun pertama dalam hidupku, kau, manusia, pernah mengajarkanku arti kehangatan. Ingatkah? Jutaan belaian dan sentuhan tangan membalut kulitku. Pada telapak tanganmu, aku menemukan kehangatan dan cinta manusia. Hingga tanpa sadar aku menjadikan tanganmu candu. Sebagai manusia yang sama sepertimu, aku ingin disentuh, aku ingin dibelai,  aku ingin disayang melalui tangan itu. Tangan yang lembut, tangan yang penuh kasih.</p>
<p>Dulu, kau manusia, pernah membuatku bangga ketika kau mengajarkanku arti cinta. Ingatkah?Ah, malah aku hampir lupa sudah berapa juta pasang mata yang memandangku gemas? Mata-mata indahmu manusia, telah memandangku hangat, penuh cinta, penuh kasih. Seolah lewat pandangan mata itu, aku menemukan kebermaknaan diriku. Sorot matamu yang lembut, telah berhasil membuatku yakin bahwa  dalam dirimu dan dalam dunia ini, cinta benar-benar hidup dan bertumbuh.</p>
<p>Dulu, aku juga pernah terlena pada kepedulianmu manusia.  Masih segar dalam ingatanku, ketika aku terjatuh saat belajar berjalan, kaki-kakimu yang kokoh dan besar segera menghampiriku, menembus jarak yang begitu jauh membentang. Lewat kaki-kaki itu, aku tahu benar bahwa kau tidak akan pernah membiarkanku sendiri. Kaki-kaki itu memberiku sebuah pengertian baru, bahwa sesulit apa pun masalah yang akan kuhadapi kelak, kalian akan selalu ada besertaku, mendampingiku.</p>
<p>Dan dulu, kuberitahu, aku juga pernah bangga menjadi manusia ketika kutemukan hati nurani luhur dalam diri kalian. Berawal dari semangkuk mi yang diberikan ibuku, katanya, mi itu bukan untuk kumakan, melainkan untuk kuberikan pada seorang pengemis tua di tikungan jalan rumah kami. Waktu itu, gerimis mengguyur dan pengemis tua itu mengigil di bawah pohon angsana, tapi mendadak wajahnya tersenyum melihatku yang datang dengan semangkuk mi di tangan. Aku bahagia sekali melihat senyum pengemis tua itu, dan kebahagiaanku semakin bertambah ketika si nenek menyatap mi-nya dengan lahap. Hatiku membuncah, dan aku tahu, kebahagiaan yang membuncah ini adalah bentuk kepuasan hati nurani. Sejak saat itu, aku mulai menemukan bahwa bukan hanya aku yang berhati nurani, ada banyak orang, ratusan, ribuan bahkan jutaan orang yang berhati nurani. Semua terlihat jelas melalui  recehan yang ditaruh di topi pengemis, melalui makanan yang diberikan kepada  yatim piatu, melalui pemeliharaan orang-orang kepada orang-orang jompo dan banyak kegiatan sosial lain yang digerakan oleh kemurnian hati nurani. Dan saat itu, kunyatakan, aku bangga menjadi manusia.</p>
<p>Ya, hanya saat itu. Hanya waktu dulu. Sebab semakin usiaku bertambah, aku makin dibingungkan oleh  dua wajah dunia yang berbeda. Wajah baik dan wajah jahat, wajah malaikat dan wajah iblis. Keegoisan manusia perlahan mematikan kekagumanku pada hati nurani yang dimiliki manusia. Betapa terkejutnya aku ketika mengetahui dibelahan dunia lain, kejahatan menjadi begitu biasa.  Perampasan, pemerkosaan, kekerasan,  bahkan pembunuhan dianggap menjadi hal yang lumrah dilakukan. Tak ada lagi harga untuk sebuah nyawa. Bahkan keegoisan manusia telah membuat orang-orang yang berkuasa lenggang berjalan di atas jejeran jenazah manusia. Aku mulai bertanya, di mana hati nurani? Di mana kepedulian? Bukankah kebaikan hati yang Tuhan tanamkan ketika Dia menciptakan kita?</p>
<p>Tapi, sayangnya, sebelum aku bisa bertumbuh untuk meneriakkan suara kemanusiaan, sebelum aku bertumbuh untuk memperjuangan perdamaian, sebelum aku besar dan berjuang untuk mengembalikan hati nurani manusia yang telah mati, aku malah terbunuh oleh hati nurani itu sendiri. Terbunuh atas nama keegoisan manusia.</p>
<p>Saat meregang nyawa, kulihat wajah dunia yang mengerikan. Wajah yang busuk, wajah berulat. Sebenarnya waktu itu aku masih berharap bisa tetap hidup untuk mengganti wajah itu. Tapi tidak, bukan karena aku tak bisa bertahan hidup, tapi karena manusia yang tak mengijinkan aku hidup. Ke mana tangan-tangan yang hangat membelai, menggedong, dan memelukku dulu? Yang kulihat hanya tangan-tangan sedingin es, tangan yang beku, tangan yang tak mau terulur demi mempertahankan hidupku di  bumi. Ke mana pasang mata yang dulu memandangku dengan cinta itu? Sorot mata hangat itu lenyap, yang kulihat hanya pasangan mata buta yang seolah menganggapku tidak pernah ada, tak pernah dilihat. Bahkan, kaki-kaki yang dulu selalu menghampiri saat aku membutuhkan pertolongan, kini melangkah menjauh. Kaki-kaki itu pergi bersama hati nurani yang telah mati. Ke mana nurani? Ke mana perasaan? Jika benar karena menolongku dapat mendatangkan hukuman bagimu, bukankah hukuman hati nurani lebih menyakitkan? Ya, sebenarnya lebih menyakitkan, tapi jika kau memiliki hati  nurani.</p>
<p>Jika saat ini aku mati karena ketidakpedulianmu, maka jangan pernah menganggap aku malang. Sebab di sini, tempatku jauh lebih indah, surga namanya, tempat di mana cinta dan kasih menjadi begitu abadi, tempat yang dipenuhi oleh manusia-manusia berhati murni. Hanya saja, justru aku yang sekarang memilikirkanmu manusia, memikirkan kemalanganmu. Memikirkan kemalangan dunia fana yang diisi oleh begitu banyak manusia yang tak berhati nurani.</p>
<p>Dariku,</p>
<p>Gadis kecil, di surga.</p>
<p><em>Untuk Yue Yue, malaikat kecil yang kembali menyadarkan manusia tentang hati nurani. Selamat jalan malaikat kecilku.</em></p>
<p>@Deni Melisa, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/10/22/surat-kecil-untuk-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>te.Lez.kop: Menjadi Lesbian Tidak Gampang</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/09/15/menjadi-lesbian-tidak-gampang/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/09/15/menjadi-lesbian-tidak-gampang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Sep 2011 05:48:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14720</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Tya Andriani
Menjadi lesbian tidak gampang. Memangnya menjadi lesbian cuma sekadar suka sama cewek lalu pedekate dengannya? Kalau lesbian adalah lelaki, tentu tidak sulit mendekati cewek yang sudah pasti bakal melirik ke kita kan? Lesbian harus mengecek apakah cewek yang ditaksirnya juga sama-sama pencinta perempuan atau minimal, cewek yang bakalan punya kecenderungan lesbian di masa depan. Dengan kata lain, harus belajar jadi cenayang.
Masih bagus kalau udah berhasil mendapatkan gebetan jadi pacar, bagaimana dengan nasib lesbian lain yang ditolak melulu sama cewek straight? Mencari calon pacar yang sama-sama lesbian juga bukan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/clothes-fashion-girls-happy-jeans-Favim.com-113275_large.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14721" title="clothes-fashion-girls-happy-jeans-Favim.com-113275_large" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/clothes-fashion-girls-happy-jeans-Favim.com-113275_large-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Oleh: Tya Andriani</p>
<p>Menjadi lesbian tidak gampang. Memangnya menjadi lesbian cuma sekadar suka sama cewek lalu pedekate dengannya? Kalau lesbian adalah lelaki, tentu tidak sulit mendekati cewek yang sudah pasti bakal melirik ke kita kan? Lesbian harus mengecek apakah cewek yang ditaksirnya juga sama-sama pencinta perempuan atau minimal, cewek yang bakalan punya kecenderungan lesbian di masa depan. Dengan kata lain, harus belajar jadi cenayang.</p>
<p><span id="more-14720"></span>Masih bagus kalau udah berhasil mendapatkan gebetan jadi pacar, bagaimana dengan nasib lesbian lain yang ditolak melulu sama cewek <em>straight</em>? Mencari calon pacar yang sama-sama lesbian juga bukan pekerjaan gampang. Pertanyaannya, nyari di mana? Emangnya di kontak jodoh di koran ada gitu yang menyatakan &#8220;cewek mencari cewek&#8221;? Atau cari di kampus? Di pasar? Di tempat kerja? Amannya sih, mencari pacar di dunia maya. Di dunia maya katanya gudangnya cewek-cewek lesbi mencari jodoh.</p>
<p>Tapi&#8230;. masuk ke dunia maya dan mencari jodoh juga bukan pekerjaan mudah. Banyak cerita lesbian yang ditipu cinta oleh calon pacar di dunia maya. Bukan saja ditipu cinta, tapi juga harta dan uang dikuras habis-habis. Mengerikan! Artinya, lesbian harus berhati-hati kalau mencari pacar di dunia maya. Artinya, lesbian harus menyelidiki calon gebetan dengan tingkat keseriusan lebih tinggi. Jangan sampai ternyata si calon pacar adalah lelaki yang menyamar jadi cewek. Atau yang jeleknya lagi, orang-orang <em>straight </em>yang mencari mangsa calon lesbian demi meluruskan hidup lesbian menjadi lurus-selurus-lurusnya.</p>
<p>Ya, jadi lesbian memang susah. Itu baru urusan pacar, yang menurut teman-teman di situs SepociKopi bukan satu-satunya hal yang terpenting di dunia. Bagaimana cara lesbian mencari teman? Bagaimana bisa menajamkan gaydar? Kesulitan mencari teman juga setingkat dengan kesulitan mencari pacar. Memangnya kenapa sih harus mencari teman yang khusus disebut sebagai &#8220;lesbian&#8221;? Memangnya teman-teman di kampus/kantor/kelas nggak bisa dijadikan teman? Ya, nggak gitu juga sih, kadang manusia kan berkelompok sesuai dengan hobi, kesenangan, agama, atau apa saja yang membuat mereka merasakan &#8220;kesamaan&#8221;. Kecenderungan manusia ya itu&#8230; mencari kesamaan dalam diri mereka dengan yang lain sehingga bisa mengidentifikasikan diri pada orang lain. Kalau lesbian cari teman sesama lesbian sih normal-normal aja.</p>
<p>Pertemanan sesama lesbian ini juga penuh resiko. Ada yang beruntung bisa menjadi sahabat karib yang seperti saudari, tapi juga ada yang berakhir dengan luka. Alasannya macam-macam. Pengkhianatan. Teman merebut pacar. Mantan menggoda teman. Pacar merebut teman. Dan lain-lain. Dan lain-lain. Namanya juga lesbian, teman dan pacar sama-sama berjenis kelamin cewek. Jadi begitu semua berkumpul plek plek, susah memilah mana pacar, mana teman.</p>
<p>Jadi lesbian tidak gampang. Jauuuh sebelum mendapatkan teman dan pacar, hati seorang lesbian pasti dimulai dengan perasaan galau dan kacau. Ada apa dengan diri ini yang suka sama Mella yang jelas-jelas berkelamin cewek? Kenapa mata ini terpaku hanya kepada Cindy? Kok hari ini Intan kelihatan memikat sekali dengan kemeja kuning dan jinsnya? Setiap lesbian pasti memiliki perang batin sendiri-sendiri menuju tempat di mana dia bisa berdamai dengan dirinya dan perjalanannya sudah pasti bisa ditebak: bonyok dan babak belur.</p>
<p>Jadi lesbian tidak gampang. Kalau terus terang ke masyarakat, nanti di-<em>bully </em>di kampus, kerja, dan merembet ke masalah karir dan masa depan. Kalau tidak terus terang, hati rasanya capek main petak umpet terus-terusan.</p>
<p>Jadi lesbian tidak gampang. Kalau tidak menikah, dapat stempel cewek kurang laku di pasaran, padahal yang ngantri di dunia maya banyak banget! Belum lagi dijodohkan oleh keluarga, aduh capek deh! Kalau akhirnya menikah, tetap tidak bahagia dengan suami dan terpikat dengan perempuan-perempuan lain. Hati pun mendua.</p>
<p>Jadi lesbian tidak gampang. Pusing mikirin persiapan masa tua karena hidup bakal sendiri atau cuma ditemani pasangan saja. Pusing mikirin tempat tinggal. Mau tinggal sama siapa? Pusing mikirin biaya hidup dan tabungan. Kalau tidak menabung, kalau sudah tua dan sakit siapa yang membayar pengobatan? Kalau menabung, ini semua harta diberikan kepada siapa kalau meninggal nanti?</p>
<p>Benar, jadi lesbian tidak gampang. Masih ada ribuan pertanyaan dan tips tentang menjadi lesbian yang <em>survive</em> dan <em>happy</em> di ujung hari, agar tidak tersesat dan salah jalan, supaya tidak kena sial atau tersiksa seumur hidup, apalagi <em>broken heart </em>berkepanjangan. Putus semangat? Nggak banget.  Mau bunuh diri? Nggak banget. Takut? Siapa sih yang tidak takut menjadi manusia? Sebagai lesbian yang selalu termehek-mehek di setiap kejadian, saya tidak pernah berhenti belajar dan bersumpah bakal menjadi lesbian yang tidak akan merugikan siapa-siapa. Semangat!</p>
<p>@Tya Andriani, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/09/15/menjadi-lesbian-tidak-gampang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>23</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menua di Hari yang Fitri</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/09/14/menua-di-hari-yang-fitri/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/09/14/menua-di-hari-yang-fitri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Sep 2011 09:21:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14694</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Arie Gere
Pulang kampung atau mudik adalah perjalanan besar-besaran yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia kebanyakan pada saat Lebaran. Sesuai namanya, pulang atau kembali ke kampung halaman, ke kampung asal, ke tempat kelahiran atau orangtua. Ritual pulang kampung bagi keluargaku adalah kembali ke tempat kelahiran Bapak, di pinggiran tanah Batak, yang jarak tempuhnya sekitar duabelas jam dari pusat kota Medan dengan kendaraan mobil. Sayangnya, belum ada akses pesawat udara ke daerah terpencil ini.
Perjalanan menuju tempat Bapak benar-benar melelahkan. Jalanan yang jelek, aspal yang tak merata  penuh dengan lubang dan kubangan. ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/mudik-lebaran-pulang-kampung.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14695" title="mudik-lebaran-pulang-kampung" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/mudik-lebaran-pulang-kampung-300x198.jpg" alt="" width="300" height="198" /></a>Oleh: Arie Gere</p>
<p>Pulang kampung atau mudik adalah perjalanan besar-besaran yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia kebanyakan pada saat Lebaran. Sesuai namanya, pulang atau kembali ke kampung halaman, ke kampung asal, ke tempat kelahiran atau orangtua. Ritual pulang kampung bagi keluargaku adalah kembali ke tempat kelahiran Bapak, di pinggiran tanah Batak, yang jarak tempuhnya sekitar duabelas jam dari pusat kota Medan dengan kendaraan mobil. Sayangnya, belum ada akses pesawat udara ke daerah terpencil ini.</p>
<p><span id="more-14694"></span>Perjalanan menuju tempat Bapak benar-benar melelahkan. Jalanan yang jelek, aspal yang tak merata  penuh dengan lubang dan kubangan. Kampungku benar-benar kampung dan terpencil. Adatnya yang kolot menempatkan posisi laki-laki begitu terhormat sementara posisi perempuan berada di bawahnya. Ya, terbayang nggak sih kalau perempuan terbenam di dalam dapur semata-mata buat mengurus makan anak dan suami sebanyak tiga kali sehari, lalu mencuci piring bertumpuk-tumpuk disambung dengan tumpukan pakaian kotor yang harus dibilas hingga bersih. Ke mana kaum laki-laki?</p>
<p>Kembali ke asal, kembali ke kampung&#8230; aku kembali menjadi perempuan kampung yang taat pada adat. Aku tidak bisa masak menggunakan kayu bakar, jadinya aku tak pernah disuruh masak. Lagian, anak perempuan yang belum menikah memang selalu kebagian tugas mencuci piring. Karena itu, pekerjaanku adalah mencuci piring dan gelas kotor yang jumlahnya ratusan, tiga kali sehari. Bayangkan saja, hidangan makan malam yang tertata di atas tikar terdiri dari: piring, gelas air, mangkuk tempat cucian tangan (karena tidak menggunakan sendok) untuk satu orang. Belum lagi, berbagai piring lauk pauk. Di dapur ada kuali, mangkuk nasi, teko, kuali dan lain-lain yang harus dibilas. Kalau ada tiga keluarga yang totalnya sekitar duapuluh orang menetap di rumah yang sama, pada saat yang sama, artinya aku harus mencuci lebih dari seratus alat-alat memasak dan makan setiap waktunya. Malangnya, anak perempuan di antara duapuluh orang itu hanya aku dan adikku.</p>
<p>Kegiatan ini membuatku bete dan kesal. Liburan yang cuma seminggu dihabiskan di kampung halaman Bapak dengan kegiatan mencuci piring yang tak habis-habisnya. Sebuah kegiatan yang tak pernah kulakukan di kota asalku. Ya, Emak memang selalu melakukannya untukku, untuk kami. Di kampung, bukan hanya untuk keluargaku, aku harus melakukannya untuk dua keluarga ainnya, termasuk keluarga adik-adik bapak yang tak memiliki anak perempuan. Semua ini belum termasuk acara sedekahan, yaitu kegiatan memberi makan orang sekampung. Bayangkanlah tumpukan piring yang harus kami bereskan!</p>
<p>Sebenarnya, Emak dan Bapak tak pernah menyuruhku melakukannya. Hanya saja, mau taruh di mana mukaku sebagai anak perempuan terbesar dalam keluarga? Emak atau Bapak paham dengan tabiatku yang berbeda dari anak perempuan kebanyakan. Ah, &#8220;anak perempuan&#8221; sepertinya bukan istilah yang tepat. Umurku sudah mencapai usia matang buat melanjutkan jawaban dari pertanyaan orang usil tentang urusan beranak-pinak. Untungnya, orangtuaku sepertinya sudah bosan bertanya hal yang sama. Pertanyaan tiga tahun terakhir selalu berakhir dengan jawaban sama dari mulut anak perempuannnya: &#8220;Nanti saja!&#8221;</p>
<p>Akhirlah tibalah saat orangtuaku duduk berdampingan di hari Lebaran. Saat pelukan dan air-mata lebih banyak berbicara. Sentuhan tangan keduanya di atas kepalaku yang membatu seolah-olah bertanya kapan mereka akan memberi restu untukku dan calon suami. Kecupanku pada tangan keduanya yang keriput seakan-akan menjawab, &#8220;Ya, nanti, akan kucari.&#8221; Atau mungkin bermakna beda, &#8220;Maaf, Emak, Bapak! Calon menantumu sebenarnya perempuan.&#8221;</p>
<p>Pelukan orang tuaku semakin renta. Tulang-tulangnya semakin rapuh. Rambut putih menjalar ke mana-mana. Orangtuaku sudah semakin tua. Sudah saatnya untuk merasakan nikmatnya hari tua, bermain dengan cucu-cucu yang lucu dan menggemaskan, atau menua di kampung halaman ini. Aku melihat perutku yang membuncit. Tentu saja bukan calon bayi yang ada di dalam sana. Mau tahu isinya apa? Menurutku, isinya adalah kenikmatan.</p>
<p>Ah, tua. Aku merasa semakin tua di kampung ini, semuanya terlihat jelas. Orangtua yang semakin tua, aku yang tua dan &#8220;terlambat&#8221; dibandingkan sepupu dan saudara-saudara lain yang sudah membentuk keluarganya sendiri. Semuanya menggendong bayi, sementara yang kugendong adalah tumpukan kue kering dan dodol kampung buatan Opung. Ya mungkin, misi pulang kampung kali ini adalah itu. Membuatku semakin merasa tua, dan ingat untuk selalu bersyukur atas kehidupanku yang penuh warna.</p>
<p>@Arie Gere, SepociKopi, 2011.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/09/14/menua-di-hari-yang-fitri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Twat Twit Twut</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/09/13/twat-twit-twut/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/09/13/twat-twit-twut/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Sep 2011 04:36:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14667</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Muthia
Siapa yang lagi ketagihan ngetwit? Aku! (*tunjuk tangan*) Dan&#8230;. banyak teman-teman lesbian lain. Aku punya akun nama asliku, sementara baru-baru saja aku memiliki akun lesbian. Aku sudah ngetwit dengan nama asli selama setahun lebih dan mulai mengenal kebiasaan Twitter, termasuk yang baik dan buruknya. Sekarang banyak lesbian memiliki akun Twitter dan mulai twat-twit-twut segala hal.
Asyik banget membaca teman-teman lesbian di timeline-ku, mulai dari yang sedang PDKT, berkenalan, mengungkapkan rasa cintanya buat si yayang, sampai berkeluh kesah. Aku berusaha membagi kuantitas twitku antara akun nama asli dengan nama lesbian. Tapi ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/Twitter-Down-Bird.png"><img class="alignleft size-medium wp-image-14668" title="Twitter-Down-Bird" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/Twitter-Down-Bird-300x300.png" alt="" width="240" height="240" /></a>Oleh: Muthia</p>
<p>Siapa yang lagi ketagihan ngetwit? Aku! (*tunjuk tangan*) Dan&#8230;. banyak teman-teman lesbian lain. Aku punya akun nama asliku, sementara baru-baru saja aku memiliki akun lesbian. Aku sudah ngetwit dengan nama asli selama setahun lebih dan mulai mengenal kebiasaan Twitter, termasuk yang baik dan buruknya. Sekarang banyak lesbian memiliki akun Twitter dan mulai twat-twit-twut segala hal.</p>
<p><span id="more-14667"></span>Asyik banget membaca teman-teman lesbian di <em>timeline</em>-ku, mulai dari yang sedang PDKT, berkenalan, mengungkapkan rasa cintanya buat si yayang, sampai berkeluh kesah. Aku berusaha membagi kuantitas twitku antara akun nama asli dengan nama lesbian. Tapi lama-lama, twit akun asliku semakin berkurang, apalagi ketika aku mulai berkenalan dengan teman-teman lesbian di Twitter.</p>
<p>Ternyata mendapatkan teman lesbian di Twitter secepat merusak pertemanan, baik pertemanan yang sudah eksis dari dulu sampai pertemanan yang baru seumur jagung. Lah, lama-lama aku jadi bertanya-tanya dan mulai instrospeksi diri. Kenapa bisa seperti itu? Jangan-jangan sarana ngetwit dan akun generik lesbian di Twitter membuat lesbian menjadi egoistis, di mana semua berpusat di ke&#8221;aku&#8221;an. Siapa pun bisa mengoceh dan berbicara apa saja, tanpa takut memiliki rasa tidak enak ketika kita berhadapan langsung dengan orang yang bersangkutan. Beda kalau kita sudah bertemu <em>face to face.</em></p>
<p>Di Twitter, sesama lesbian ada perasaan tidak enak kalau tidak saling mem-<em>follow</em>. Eh, sebenarnya bukan lesbian doang sih, orang-orang lain juga begitu, tapi aku lagi mengkhususkan diri untuk lesbian nih. Kalau aku tidak <em>follow </em>A, nanti B bertanya-tanya. Atau kalau B nggak <em>follow </em>C, aku mulai kepo mau tahu kenapa B tidak <em>follow </em>C. Yang lucunya, karena dunia lesbian sempit, B bisa saja mantannya C. Sementara A bisa juga mantan yang menjadi teman dari D. <em>Follow </em>dan <em>unfollow </em>menjadi membingungkan. Di satu sisi aku ingin <em>follow </em>Z karena kelihatannya asyik, tapi Z adalah mantan pacarku dan pacarku tidak suka aku <em>follow </em>Z. Z sendiri <em>follow </em>X di mana X adalah teman ngobrolku. Z <em>follow </em>aku dan X, sering menimbrung saat kami saling memberi <em>mention</em>. Kalau pacarku melihat hal ini, dia akan tersinggung. Nah, ribet kan?</p>
<p>Membaca twit teman-teman lesbianku membuatku mengenal mereka dengan lebih baik. Itu positifnya. Kadang aku jadi tahu apa yang sedang membuat dirinya sedih. Atau apa yang sedang dinanti-nantikannya. Ini menyenangkan. Tapi kadang kebanyakan membaca twit seorang lesbian yang sedang ditaksir malah membuat jadi ilfil. Segala yang kita rindukan pada dirinya hilang saat kita sudah tahu 100% keadaan dirinya, termasuk hal-hal yang buruk tentangnya. Banyak cerita teman-teman lesbian yang berawal dari naksir menjadi ilfil saat keseringan baca twit-twit gebetan. Beberapa hal yang buruk kayaknya lebih baik tidak usah dipublikasikan, biarkan disimpan dan dikubur sedalam-dalamnya.</p>
<p>Setahun lalu waktu aku punya akun twitter atas nama pribadiku, aku belum melihat lalu lintas seramai ini di dunia Twitter. Masih lumayan sepi, apalagi dunia twitter lesbian. Sekarang, kecenderungan kaum lesbian memasuki Twiter sudah semakin meninggi. Akibatnya, beberapa lesbian membentuk banyak <em>gank</em>, alias pertemanan yang eksklusif yang sering jadi ajang mem-<em>bully </em>orang-orang lain. <em>Unfollow </em>adalah kegiatan yang sehat kalau sudah seperti itu. Aku tidak nyaman dengan pem-<em>bully</em>-an, penyerangan <em>mention </em>bersama-sama dan sistematis kepada orang-orang tertentu.</p>
<p>Apa pun yang ingin ditwit di Twitter adalah sah-sah saja, tapi bagi si pembaca, kalau tidak suka, sah-sah juga mengambil keputusan untuk <em>unfollow</em>. Jangan <em>hard feeling</em> dong kalau udah di-<em>unfollow</em>, kan artinya bukan akhir dunia atau diputus pacar. Twitter mengubah bagaimana dunia berinteraksi satu sama lain. Twitter juga mengubah bagaimana lesbian saling mem-<em>broadcasting </em>pikiran dan pendapatnya dalam karakter yang lebih simpel dan pendek. Harapanku sih sederhana saja, semoga lewat media Twitter ini, kaum lesbian mendapatkan manfaat yang baik dan berguna bagi perkembangan komunitas ini di masa depan. Kalau Twitter mencoreng wajah lesbian, kan malu-maluin tuh. Ya, kan?</p>
<p>@Muthia, SepociKopi, 2011</p>
<p><strong>Tentang Muthia:</strong><br />
21 tahun. Tinggal dan kuliah di Yogyakarta. Pencinta kopi dan SepociKopi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/09/13/twat-twit-twut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

