Home » Archive

Articles in the Renungan Category

Humaniora, Opini »

[28 Jan 2012 | 13 Comments | 401 views]
Kamu Lesbian Ya?

Oleh: Frizzy Jo
Siapa di antara pengunjung Sepocikopi yang masih bergidik mendengar orang di sebelah kita mengucapkan kata lesbian? Atau jangan-jangan masih ada yang langsung lari terbirit-birit ketika ada yang dengan gamblangnya berkata, “Jalan kamu macho banget sih. Jangan-jangan kamu lesbian ya?!”
Beberapa minggu lalu seorang teman bercerita kepadaku. Jantungnya hampir saja jatuh lepas dari pengaitnya (memangnya ada ya pengait jantung?). Awalnya ia menyapaku dan menanyakan hal-hal yang sampai sekarang masih menjadi tanda tanya besar di dunia lesbian.

Friendship, Humaniora, Opini, Partnership, Relationship, Renungan, Sepocikopiana »

[21 Jan 2012 | 10 Comments | 345 views]
Berpasangan Sampai Tua

Oleh: Yasmin
“‘Memiliki pasangan yang tetap berpasangan sampai tua’ itulah jawaban semua lesbian, ketika ditanya apa harapan hidupnya,” kata salah seorang teman. “Tanya ke aku dong…,” pintaku. “Ya, kalau kamu, apa harapan hidupmu sebagai lesbian?” tanyanya. “Boleh nggak sebagai manusia saja, nggak usah sebut sebagai lesbian,” pintaku lagi, ngeyel.
Jawaban saya, memiliki pasangan maupun tidak, saya ingin jadi manusia yang berguna bagi orang-orang di sekitar saya.  Kalimat “memiliki pasangan maupun tidak” adalah penekanan saya terhadap penyangkalan asumsi bahwa semua lesbian mempunyai harapan itu.
Sebenarnya pembicaraan ini diawali dengan debat kami akan perlunya mempertahankan …

Coming Out, Friendship, Humaniora, Opini »

[17 Dec 2011 | 18 Comments | 569 views]
Tuduhan Lesbian

Oleh: Yasmin
Dalam sebuah pembicaraan dengan seorang teman lesbian yang baru pulang dari nongkrong di kafe, dia bercerita, “Tadi beberapa meja di samping mejaku, kursi-kursinya diduduki pasangan-pasangan lesbian,” katanya.
Mendengar kalimat itu dalam benak saya langsung terpikir bahwa teman saya kenal dengan pasangan-pasangan yang dia ceritakan. Tapi pada saat saya tanya dan memastikan pernyataannya, dia menjawab, “Enggak. Aku nggak kenal. Tapi sudah pastilah mereka lesbian, kan terlihat dari penampilannya, yang satu butch gitu, dan pasangannya femme.”
“Belum tentu lho,” sanggah saya. “Jangan pernah nge-judge seseorang lesbian hanya karena penampilannya atau dua orang perempuan …

Coming Out, Humaniora, Lagak Lajang, Renungan, Sepocikopiana »

[26 Nov 2011 | 18 Comments | 305 views]
Lagak Lajang: Avatar

Oleh: Oscar A.
Ada hamparan perasaaan yang muncul ketika melihat kolom yang sama terbit lagi di majalah ini. Namanya, hamparan perasaan bangga, senang, sekaligus iri dan cemburu. Bangga dan senang, tak perlu dijelaskan lagi. Tapi iri dan cemburu yang muncul di hati penulisnya sendiri, bagaimana menafsirnya? Kalaulah semuanya ideal, dualisme sungguh tak diperlukan lagi kehadirannya. Menjadi ini, lalu besok menjadi itu, adalah fase menjijikkan yang harus saya hadapi setiap waktu. Bermuka dua. Saya adalah orang yang bermuka dua, menjadi pengajar baik-baik di institusi, lalu berubah menjadi lesbian munafik yang nangkring sana-sini …

Renungan, Sepocikopiana »

[17 Nov 2011 | 8 Comments | 344 views]
Meja Takdir

Oleh: Ade Rain
Undangan peresmian partai politik baru. Kertas bersampul biru dengan logo parpol sampai di meja kerja. Pendirinya kukenal baik. Suka nggak suka, sepertinya aku wajib datang! Jadwal pun disesuaikan. Setelah bertemu dengan dua klien, rambut kupasrahkan di salon langganan. Tidak sampai satu jam, rambut itu kelar. Harum, halus, lembut, melambai ketika diembus angin. Halah, nggak ada hubungannya dengan cerita ini, hanya ingin pamer rambut aja. Oya, dari salon aku balik ke kantor sebentar.

Humaniora, Opini »

[27 Oct 2011 | 4 Comments | 90 views]
Say No to Corruption!

Oleh: Yasmin
Kalau kita baca di koran-koran serta majalah-majalah, korupsi sepertinya makin merajalela di negara kita ini. Setiap terbit, koran dan majalah memberitakan pejabat-pejabat yang korupsi, baik dari unsur eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Daerah pun rentangnya merata. Mengerikan ya?
Tak sedikit yang masa bodoh seolah-olah ranah pejabat jauh dari ikatan darah kita. Berpikiran bahwa kita hanyalah pekerja swasta yang hanya sebagai sekrup dalam menggerakkan bisnis kecil milik orang lain. Ada pula yang bergejolak memaki para koruptor dengan sindiran halus sampai makian kasar di komen-komen berita online, Twitter, bahkan muncul di running text …

Humaniora, Renungan, Twilight Zone »

[22 Oct 2011 | 5 Comments | 233 views]
Surat Kecil Untuk Manusia

Oleh: Deni Melisa
Manusia, masih ingat? Siapa yang menyebutku manusia? Kalian atau takdir? Ah, sudahlah, aku pun sudah tak berniat mencari jawab. Yang jelas, ketika aku keluar dari liang vagina ibuku, aku langsung disebut sebagai bagian dari kalian, manusia. Maaf, sebenarnya, aku tidak berharap disebut begitu, sebab jika ada nama lain yang lebih tepat untuk menggambarkan siapa kita, maka aku lebih memilih nama itu. Tapi, sepertimu, aku juga sudah dipilih dan ditakdirkan sebagai manusia. Ya manusia, makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, berakal budi, berpengetahuan, berhati nurani, …

Humaniora, Renungan »

[15 Sep 2011 | 23 Comments | 657 views]
te.Lez.kop: Menjadi Lesbian Tidak Gampang

Oleh: Tya Andriani
Menjadi lesbian tidak gampang. Memangnya menjadi lesbian cuma sekadar suka sama cewek lalu pedekate dengannya? Kalau lesbian adalah lelaki, tentu tidak sulit mendekati cewek yang sudah pasti bakal melirik ke kita kan? Lesbian harus mengecek apakah cewek yang ditaksirnya juga sama-sama pencinta perempuan atau minimal, cewek yang bakalan punya kecenderungan lesbian di masa depan. Dengan kata lain, harus belajar jadi cenayang.

Renungan, Sepocikopiana »

[14 Sep 2011 | 7 Comments | 151 views]
Menua di Hari yang Fitri

Oleh: Arie Gere
Pulang kampung atau mudik adalah perjalanan besar-besaran yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia kebanyakan pada saat Lebaran. Sesuai namanya, pulang atau kembali ke kampung halaman, ke kampung asal, ke tempat kelahiran atau orangtua. Ritual pulang kampung bagi keluargaku adalah kembali ke tempat kelahiran Bapak, di pinggiran tanah Batak, yang jarak tempuhnya sekitar duabelas jam dari pusat kota Medan dengan kendaraan mobil. Sayangnya, belum ada akses pesawat udara ke daerah terpencil ini.

Humaniora, Opini »

[13 Sep 2011 | 7 Comments | 266 views]
Twat Twit Twut

Oleh: Muthia
Siapa yang lagi ketagihan ngetwit? Aku! (*tunjuk tangan*) Dan…. banyak teman-teman lesbian lain. Aku punya akun nama asliku, sementara baru-baru saja aku memiliki akun lesbian. Aku sudah ngetwit dengan nama asli selama setahun lebih dan mulai mengenal kebiasaan Twitter, termasuk yang baik dan buruknya. Sekarang banyak lesbian memiliki akun Twitter dan mulai twat-twit-twut segala hal.