<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; Persona</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/category/persona/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 10:52:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Persona: Emma Donoghue</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/05/23/persona-emma-donoghue/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/05/23/persona-emma-donoghue/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 May 2011 16:11:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Persona]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[persona]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=12311</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Alex
Tahun lalu jagat sastra dunia membicarakan novel Room karya Emma Donoghue. Novel ini menjadi bestseller internasional dan menjadi finalis Man Booker Prize. Meskipun tidak menang Man Booker Prize, novel Room memenangkan the Hughes &#38; Hughes Irish Novel of the Year, the Rogers Writers’ Trust Fiction Prize, dan Commonwealth Prize for Fiction (Canada &#38; Carribean) tahun 2011.
Novel terbitan 2010 yang dinarasikan oleh anak lelaki bernama Jack yang berumur lima tahun ini membuat banyak pembacanya merinding. Dikisahkan Jack dikurung dalam satu kamar bersama ibunya yang dipanggil Ma dan tak pernah diizinkan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/emma.jpg"><img src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/emma-199x300.jpg" alt="" title="emma" width="199" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-12312" /></a>Oleh: Alex</p>
<p>Tahun lalu jagat sastra dunia membicarakan novel <em>Room</em> karya Emma Donoghue. Novel ini menjadi bestseller internasional dan menjadi finalis Man Booker Prize. Meskipun tidak menang Man Booker Prize, novel<em> Room </em>memenangkan the Hughes &amp; Hughes Irish Novel of the Year, the Rogers Writers’ Trust Fiction Prize, dan Commonwealth Prize for Fiction (Canada &amp; Carribean) tahun 2011.</p>
<p>Novel terbitan 2010 yang dinarasikan oleh anak lelaki bernama Jack yang berumur lima tahun ini membuat banyak pembacanya merinding. Dikisahkan Jack dikurung dalam satu kamar bersama ibunya yang dipanggil Ma dan tak pernah diizinkan keluar kamar. Ternyata Jack dan Ma dikurung oleh lelaki jahat yang menculik dan menyekap si ibu selama tujuh tahun lalu memerkosa ibunya secara rutin.<span id="more-12311"></span></p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/Room.jpg"><img src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/Room.jpg" alt="" title="Room" width="140" height="215" class="alignright size-full wp-image-12313" /></a>Namun saya tidak ingin bercerita tentang novel <em>Room </em>ini melainkan sang pengarang, Emma Donoghue. Pengarang kelahiran Dublin, Irlandia tahun 1969 ini bukan orang baru dalam bidang sastra. Ia sudah menghasilkan banyak novel, naskah drama, juga cerita pendek sejak tahun 1990-an. Dari Irlandia, Emma Donoghue pindah ke Inggris untuk memperoleh PhD di University of Cambridge dengan tesis mengenai konsep hubungan persahabatan antar lelaki-perempuan dalam fiksi Inggris abad ke-18). Cerita sejarah abad pertengahan ini menarik perhatian Emma Donoghue yang kemudian memberinya sebuah novel <em>bestseller </em>tahun 2000 berjudul <em>Slammerkin</em>. Sejak kecil Emma senang menulis puisi dan memulai karier menulisnya pada usia 23 tahun ketika novelnya diterbitkan pertama kali. Bahkan ia langsung mendapat kontrak untuk dua buku sekaligus. Ia selalu menganggap dirinya beruntung bisa memiliki karier sebagai penulis dan selalu ingin menulis topik yang ingin dibaginya kepada publik. Sebelum <em>Room</em>, Emma Donoghue gemar mengambil kisah sejarah&#8230; dan lesbian.</p>
<p>Novel-novelnya biasanya memiliki karakter kuat yang bernarasi. Saya sendiri baru membaca <em>Room, The Sealed Letter, </em>dan <em>Landing</em>, yang masing-masing novel memiliki tema cerita yang berbeda. Jika ingin membaca novel Emma Donoghue, saya sarankan mencari tema yang disukai dan memulainya dari sana. Ada tujuh novelnya yang sudah terbit sejauh ini, lainnya adalah nonfiksi dan drama.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/sealed.jpg"><img src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/sealed-198x300.jpg" alt="" title="sealed" width="198" height="300" class="alignleft size-medium wp-image-12315" /></a>Di antara puluhan buku yang sudah dihasilkan Emma Donoghue, beberapa buku yang ditulisnya bertema lesbian, antara lain <em>Landing, The Sealed Letter, Life Mask, Hood</em>. Pada tahun 2006, ia menerbitkan <em>The Sealed Letter </em>tentang janda pada era Victoria. Sementara <em>Landing </em>adalah kisah modern tentang dua perempuan yang menjalin hubungan jarak jauh, Irlandia-Kanada. Dua novel terlaris Emma Donoghue entah kebetulan atau tidak sama sekali bersih dari tema lesbian, yaitu <em>Room </em>dan <em>Slammerkin</em>.<em> Slammerkin </em>berkisah tentang pembunuhan pada tahun 1763 di perbatasan Welsh, yang secara mengejutkan novel ini lumayan laris di pasaran. Selain langganan meraih penghargaan, buku-buku Emma Donoghue diterjemahkan ke dalam lebih dari 40 bahasa. Tapi sayangnya saya tidak pernah melihat terbitan bahasa Indonesianya.</p>
<p>Sebagai penulis novel yang banyak mengambil tema lesbian, Emma Donoghue tidak pernah takut pada label. Baginya yang terpenting adalah menghasilkan karya yang bagus, dan pembaca akan datang dengan sendirinya. Ia mengaku bahwa ia menulis untuk dirinya sendiri, baru kemudian untuk pembacanya.  Namun ia tidak mengkotak-kotakkan pembacanya melalui buku yang dihasilkannya, apalagi bukunya diterbitkan oleh penerbit besar sehingga sulit memusatkan diri pada satu jenis pembaca saja.</p>
<p>Sejak tahun 1998, Emma Donoghue tinggal di Kanada dan menjadi warga negara di sana setelah menjalani hubungan jarak jauh Kanada-Irlandia selama bertahun-tahun dengan partnernya lesbiannya, Chris Roulston. Dalam satu sesi jumpa pengarang, Emma Donoghue ditanya kenapa ia memutuskan pindah ke Kanada, ia menjawab karena “Cinta”, tapi si penanya bertanya lagi, “Cinta pada Kanada?”. Sehingga ia harus mengatakannya dengan gamblang, “Bukan, cinta dengan orang Kanada.” Saat ini bersama sang partner, Emma Donoghue tinggal di rumah berbata kuning di London, Ontario bersama dua anak mereka, Finn yang lahir tahun 2003 dan Una yang lahir tahun 2007.</p>
<p>@Alex, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/05/23/persona-emma-donoghue/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persona: Carol Ann Duffy – Puisi untuk Pernikahan Kerajaan</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/05/02/persona-carol-ann-duffy-puisi-untuk-pernikahan-kerajaan/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/05/02/persona-carol-ann-duffy-puisi-untuk-pernikahan-kerajaan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 May 2011 16:27:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persona]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=11907</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Alex
Demam royal wedding sudah mulai reda seiring dengan pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton pada tanggal 29 April 2011 di Westminster Abbey, Inggris. Di balik gemerlap gaun dari perancang ternama, topi-topi indah, dan semarak kegembiraan pernikahan bersejarah ini, Inggris juga menorehkan sejarah sastra dalam acara pernikahan ini.
Adalah umum di negara asal Shakespeare ini, jika mereka menggunakan puisi dalam menyatakan sukacita pernikahan keluarga kerajaannya. Tidak heran jika poet laureate kerajaan Inggris yang terpilih untuk membuat puisi pernikahan Pangeran William dan Kate. Sang poet laureate tersebut adalah Carol Ann Duffy.
Sebelum membahas ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/carolann.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-11908" title="carolann" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/carolann-300x209.jpg" alt="" width="300" height="209" /></a>Oleh: Alex</p>
<p>Demam <em>royal wedding </em>sudah mulai reda seiring dengan pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton pada tanggal 29 April 2011 di Westminster Abbey, Inggris. Di balik gemerlap gaun dari perancang ternama, topi-topi indah, dan semarak kegembiraan pernikahan bersejarah ini, Inggris juga menorehkan sejarah sastra dalam acara pernikahan ini.</p>
<p>Adalah umum di negara asal Shakespeare ini, jika mereka menggunakan puisi dalam menyatakan sukacita pernikahan keluarga kerajaannya. Tidak heran jika <em>poet laureate </em>kerajaan Inggris yang terpilih untuk membuat puisi pernikahan Pangeran William dan Kate. Sang <em>poet laureate </em>tersebut adalah Carol Ann Duffy.</p>
<p>Sebelum membahas lebih jauh tentang Carol Ann Duffy, mari saya terangkan tentang <em>poet laureate</em>. <em>Poet laureate </em>adalah penyair yang dipilih secara resmi oleh pemerintah dan bertugas membuat puisi untuk acara kenegaraan. Carol Ann Duffy adalah perempuan pertama setelah 341 tahun yang terpilih menjadi <em>poet laureate </em>pada tahun 2009 dari pemerintah kerajaan Inggris. Selain menjadi perempuan pertama, ia juga menyatakan diri secara terbuka bahwa dirinya biseksual. Jadi dia adalah perempuan pertama yang juga lesbian pertama yang memegang jabatan bergengsi ini.</p>
<p>Prestasi Carol Ann Duffy dalam bidang sastra terutama puisi, tak diragukan lagi. Buku-buku puisinya memenang berbagai penghargaan. Antara lain Scottish Arts Council Award; Somerset Maugham Award; Whitbread Poetry Award; dan T. S. Eliot Prize. Puisi-puisinya biasanya mengambil topik gender, kekerasan, dan perempuan. Pada usia 16 tahun, ia bertemu dengan Adrian Henry, penyair Inggris yang jadi teman hidupnya sampai tahun 1982, ketika ia berusia 27 tahun. Pada tahun 1995, Carol Ann Duffy melahirkan anak perempuan dari Peter Benson, seorang novelis Inggris. Kemudian tak lama setelah anaknya lahir, ia menjalin hubungan lesbian dengan  Jackie Kay.</p>
<p>Kontroversi orientasi seksual Carol Ann Duffy ini sempat menyandungnya ketika ia menjadi kandidat <em>poet laureate</em>, pada tahun 1999. PM Tony Blair kuatir hubungan lesbian Carol Ann Duffy dengan sesama penyair asal Skotlandia, Jackie Kay, akan tidak bisa diterima masyarakat Inggris.</p>
<p>Kini setelah ia memangku jawaban yang akan dipegangnya selama sepuluh tahun, Carol Ann Duffy harus menyusun puisi untuk pernikahan paling akbar tahun ini, pernikahan Pangeran William dan Kate. Banyak orang yang mengira ia akan menolak membuat puisi untuk pernikahan keluarga kerajaan ini, karena dalam suatu kesempatan ia pernah mengatakan bahwa ia hanya ingin membuat puisi yang membuat dirinya terinspirasi, jadi bukan puisi pesanan (meskipun jika pesanan itu dari keluarga kerajaan).</p>
<p>Akan tetapi pada tanggal 29 April 2011 kemarin, bersama beberapa penyair lain, termasuk di antaranya Jackie Kay, yang merupakan mantan partnernya, Carol Ann Duffy mempersembahkan puisi untuk pernikahan Pangeran William dan Kate Middleton. “Saatnya menyegarkan dan memperbarui hubungan yang tak terpisahkan antara cinta dan puisi,” demikian kata Carol Ann Duffy ketika menjelaskan alasannya membuat puisi yang indah untuk pasangan kerajaan ini:</p>
<p><strong>Rings<br />
Carol Ann Duffy<br />
</strong>for both to say</p>
<p><em>I might have raised your hand to the sky<br />
to give you the ring surrounding the moon<br />
or looked to twin the rings of your eyes<br />
with mine<br />
or added a ring to the rings of a tree<br />
by forming a handheld circle with you, thee,<br />
or walked with you<br />
where a ring of church-bells,<br />
looped the fields,<br />
or kissed a lipstick ring on your cheek,<br />
a pressed flower,<br />
or met with you<br />
in the ring of an hour,<br />
and another hour . . .<br />
I might<br />
have opened your palm to the weather, turned, turned,<br />
till your fingers were ringed in rain<br />
or held you close,<br />
they were playing our song,<br />
in the ring of a slow dance<br />
or carved our names<br />
in the rough ring of a heart<br />
or heard the ring of an owl&#8217;s hoot<br />
as we headed home in the dark<br />
or the ring, first thing,<br />
of chorussing birds<br />
waking the house<br />
or given the ring of a boat, rowing the lake,<br />
or the ring of swans, monogamous, two,<br />
or the watery rings made by the fish<br />
as they leaped and splashed<br />
or the ring of the sun&#8217;s reflection there . . .<br />
I might have tied<br />
a blade of grass,<br />
a green ring for your finger,<br />
or told you the ring of a sonnet by heart<br />
or brought you a lichen ring,<br />
found on a warm wall,<br />
or given a ring of ice in winter<br />
or in the snow<br />
sung with you the five gold rings of a carol<br />
or stolen a ring of your hair<br />
or whispered the word in your ear<br />
that brought us here,<br />
where nothing and no one is wrong,<br />
and therefore I give you this ring.</em></p>
<p>@Alex, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/05/02/persona-carol-ann-duffy-puisi-untuk-pernikahan-kerajaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mix n’Match: Catherine Deneuve Lesbian Filmography</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/05/01/mix-nmatch-deneuve-lesbian-filmography/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/05/01/mix-nmatch-deneuve-lesbian-filmography/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 May 2011 12:36:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Film]]></category>
		<category><![CDATA[Mix n' Match]]></category>
		<category><![CDATA[Persona]]></category>
		<category><![CDATA[persona]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=11884</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Carmen
Apakah kamu fans aktris cantik yang, saat melihatnya di layar kaca dan terpesona, kamu jadi super yakin bahwa kamu adalah lesbian? *wink wink, nudge nudge*
Buatku, aktris itu adalah Catherine Deneuve, the queen of French cinema. Film-film Catherine Deneuve biasanya bertema tidak umum, sehingga jarang mengecewakan penggemarnya. Di awal-awal kariernya, Catherine Deneuve banyak terlibat di film yang membiarkan image dirinya dalam peran sebagai fantasi pembaca. Oke, deskripsiku memang terdengar absurd. Mungkin akibat terlalu banyak menonton film-film lama tahun 1960- dan 70-an buatan sutradara-sutradara Eropa, yang ide-idenya kebanyakan tertuang secara literal ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/Belle-de-Jour-2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-11887" title="Belle de Jour-2" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/Belle-de-Jour-2-300x253.jpg" alt="" width="300" height="253" /></a>Oleh: Carmen</p>
<p>Apakah kamu fans aktris cantik yang, saat melihatnya di layar kaca dan terpesona, kamu jadi super yakin bahwa kamu adalah lesbian? <em>*wink wink, nudge nudge*</em></p>
<p>Buatku, aktris itu adalah Catherine Deneuve, <em>the queen of French cinema</em>. Film-film Catherine Deneuve biasanya bertema tidak umum, sehingga jarang mengecewakan penggemarnya. Di awal-awal kariernya, Catherine Deneuve banyak terlibat di film yang membiarkan <em>image</em> dirinya dalam peran sebagai fantasi pembaca. Oke, deskripsiku memang terdengar absurd. Mungkin akibat terlalu banyak menonton film-film lama tahun 1960- dan 70-an buatan sutradara-sutradara Eropa, yang ide-idenya kebanyakan tertuang secara literal di film-film mereka&#8211;berbeda dari kebanyakan film-film Hollywood, yang biasanya lebih gampang dicerna.</p>
<p>Di tengah keabsurdan film-film itu, Catherine Deneuve dijuluki<em> “ice queen”</em>, mungkin karena peran-perannya yang terkesan dingin dan misterius sekaligus glamor. Namun di beberapa tahun-tahun terakhir, di usia yang hampir mencapai 70 tahun, Catherine Deneuve membuktikan bahwa ia adalah aktris yang punya kemampuan, tidak hanya mengandalkan kecantikannya yang luar biasa; dan peran-peran yang dilakukannya pun semakin beragam. Ia pernah mendapatkan nominasi Academy Award sebagai Best Actress di film <em>Indochine</em> (1993) yang berlatar belakang kemerdekaan negara Vietnam.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/Indochine.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-11885" title="Indochine" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/Indochine-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p>Puluhan film sudah dilakoninya, walaupun sedikit sekali film-filmnya yang berbahasa Inggris. Namun selama lebih dari 40 tahun kariernya sebagai aktris, Catherine Deneuve cukup banyak terlibat atau berkontribusi di film-film yang memiliki unsur LGBT atau yang bertendensi lesbian.</p>
<p>Di tahun 1967, misalnya, Catherine Deneuve berani beradegan ciuman dengan perempuan di layar kaca. Tepatnya di film <em>Belle de Jour</em>, film yang menjadi <em>trademark</em> Deneuve yang disutradarai Luis Buñuel, sutradara Spanyol yang penuh kontroversi. Di film ini, ia memerankan seorang istri bernama Séverine dari kaum kelas atas Perancis yang tidak terpuaskan secara seksual oleh suaminya karena kecenderungannya yang memiliki fantasi masokis. Kemudian tanpa sepengetahuan suaminya, ia menjadi pelacur yang bekerja hanya di siang hari (nama aliasnya di tempat pelacuran adalah<em> Belle de Jour = daylight beauty</em>).</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/Belle-de-Jour-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-11886" title="Belle de Jour-1" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/Belle-de-Jour-1-300x216.jpg" alt="" width="300" height="216" /></a></p>
<p>Yang mengatur rumah pelacuran itu adalah Madame Anaïs (diperankan aktris cantik Geneviève Page), yang juga menyukai si Belle de Jour dan menunjukkan cintanya kepada pekerjanya itu. Salah satu pelanggan Belle de Jour, seorang anggota mafia, cemburu pada suami si Belle de Jour dan menimbulkan konflik cukup rumit di alur cerita film. Film ini memiliki ciri khas Luis Buñuel yang penuh fantasi-fantasi yang membuat penonton (baca: Carmen, hihi) terkadang bingung mana yang realita, mana yang hanya fantasi lamunan belaka. Tapi penulis tetap merasa tak rugi nonton film ini, karena selain melihat Catherine Deneuve masa muda yang sangat cantik, mata kita dimanjakan pula oleh pilihan kostum-kostum rancangan desainer Perancis ternama, Yves Saint Laurent.</p>
<p>Pada tahun 1979, Catherine Deneuve bermain di film drama-thriller Perancis, <em>Écoute Voir</em>, memerankan seorang detektif swasta Claude yang menyelidiki penculikan Chloe (Anne Parillaud), anak dari Arnaud (diperankan Sami Frey) seorang ilmuwan yang penemuannya sangat mengerikan, sebuah alat yang bisa mengendalikan perilaku manusia. Chloe ternyata diculik dan dipengaruhi oleh sekte religius yang aneh. Di film ini, Catherine Deneuve sempat beradegan lesbian.</p>
<p>Salah satu filmnya yang terkenal dan membuatnya banyak memiliki fans lesbian, termasuk diriku, adalah <em>The Hunger</em> (1983). Di film Amerika ketiganya itu, ia memerankan seorang vampir bernama Miriam, yang memberikan janji hidup bersama selamanya tanpa mengenal tua dan kematian kepada kekasih vampirnya, John (diperankan David Bowie), yang sebelumnya adalah manusia biasa yang hidup di abad 19 di Perancis. Sebagai pasangan vampir, mereka menegak darah manusia yang menjadi korbannya. Namun pada tahun 1983, John memiliki penyakit tak dapat tidur, yang membuatnya menjadi tua secara cepat dalam hitungan jam. John pun pergi menemui Dokter Sarah (diperankan Susan Sarandon) yang sedang meneliti fenomena tidur terkait dengan ketuaan. Sarah kemudian bertemu Miriam, yang kemudian tertarik padanya dan berencana menjadikan Sarah sebagai pasangan vampir berikutnya. Aku ingat saat remaja menonton film klasik ini di Laser Disc, dari awal hingga akhir tidak bisa melepaskan pandanganku dari layar kaca karena untuk pertama kalinya melihat seorang perempuan cantik yang membuatku terpesona dan deg-deg-an. Di film ini, adegan Miriam yang pdkt dengan Sarah sangatlah <em>classy</em> dan di masa itu adegan mesra mereka berdua berhasil melejitkan lagu <em>The Flower Duet</em> (opera Lakme) sebagai lagu klasik yang “lesbian banget”.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/the-hunger-1.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-11888" title="the hunger-1" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/the-hunger-1.jpg" alt="" width="285" height="387" /></a></p>
<p>Tahun 1996, di film <em>Les Voleurs</em>, Catherine Deneuve berperan sebagai profesor  bernama Marie, pengajar filsafat di universitas yang jatuh cinta secara mendalam kepada mahasiswinya Juliette (diperankan aktris cantik bergaya androgini Laurence Cote). Juliette memiliki kekasih laki-laki, yaitu Alex (Daniel Auteuil) seorang polisi, saudara laki-laki Ivan (Didier Bezace) penjahat yang mati tertembak di awal film. Juliette pun memiliki masalah personal terkait kematian Ivan, yang membuatnya mencoba bunuh diri dua kali. Dua adegan yang membuatku terkesan adalah saat Marie memperlihatkan afeksinya yang mendalam dan lembut pada Juliette (contoh, di bak mandi); dan pertengkaran dingin antara Marie dan Alex, yang pada akhirnya bersahabat saat bekerjasama melindungi Juliette di rumah sakit psikiatri. Alur film yang disutradarai Andre Techine ini sengaja loncat-loncat di antara kejadian dan waktu, jadi penonton mesti bersabar karena pada akhirnya, ceritanya apik memperlihatkan koneksi antar karakter dan cukup membekas di benak penonton.</p>
<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/les-voleurs-1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-11889" title="les-voleurs-1" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/05/les-voleurs-1-300x161.jpg" alt="" width="300" height="161" /></a></p>
<p>Tak hanya di film-film serius, Catherine Deneuve juga main di film komedi-pembunuhan-musikal berjudul <em>8 Femmes</em> (2000), salah satu film favoritku. Di film ini, semua karakternya adalah perempuan, dan jauh dari membosankan..! Cerita dimulai dari Marcel, kepala keluarga yang terbunuh (tapi tidak diperlihatkan mukanya di film) di rumah mewah, tempat bertemu keluarga saat liburan Natal. Terisolasi karena semua alat komunikasi putus, 8 perempuan di rumah itu berusaha menebak-nebak siapa yang membunuh ayah, suami, kakak, menantu, dan bos mereka itu. Catherine Deneuve berperan sebagai Gaby, istri Marcel. Adegan lesbiannya melibatkan aktris kenamaan Perancis lainnya yaitu Fanny Ardant, yang berperan sebagai adik Marcel,  pelacur ternama. Pelayan rumahnya (diperankan aktris seksi Emmanuelle Beart) yang ternyata selingkuhan Marcel, juga terobsesi oleh dan menyukai Gaby. Film ini bisa dibilang komplet, karena ada musikalnya,  pembunuhan, kostumnya keren-keren, dan ada yang lucu-lucuan; plus, menampilkan aktris-aktris Perancis cantik kelas atas yang berupah tertinggi di negaranya. Trailer filmnya yang seru dan kocak bisa dilihat di:<br />
<iframe width="425" height="349" src="http://www.youtube.com/embed/CAxqXsao2Ew" frameborder="0" allowfullscreen></iframe></p>
<p>Artikel ini adalah persembahan pribadiku untuk Catherine Deneuve. Dear Ms Deneuve, terimakasih! Melihat Anda di layar kaca membuatku makin yakin bahwa <em>I am just way too gay! Soooo gay</em> deh pokoknya, hihihi.</p>
<p>Kalau kamu, gimana? Punya aktris pujaan? <img src='http://sepocikopi.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>@Carmen, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/05/01/mix-nmatch-deneuve-lesbian-filmography/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenal Lebih Dekat 12 Penulis Kumcer “Un Soir Du Paris”</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2010/09/03/mengenal-lebih-dekat-12-penulis-kumcer-un-soir-du-paris/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2010/09/03/mengenal-lebih-dekat-12-penulis-kumcer-un-soir-du-paris/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 03 Sep 2010 08:08:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Persona]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[menulis]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=8197</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Alex
Cerpen-cerpen di &#8220;Un Soir du Paris&#8221; adalah cerpen yang pernah kami tampilkan di situs ini sejak tahun 2007. Berkat dukungan teman-teman dari para penulis atas izin pemuatan mereka di situs ini, akhirnya setelah tiga tahun kita bisa memiliki sebuah kumpulan cerpen yang  merupakan kumpulan cerpen full lesbian pertama di Indonesia.
Bukan sekadar kumpulan cerpen, tapi terdiri atas cerpen-cerpen yang pernah dimuat di media massa atau pernah dimuat dalam antologi/kumpulan cerpen. Semua penulis yang karyanya terangkum di sini karyanya pernah diterbitkan dalam bentuk buku, baik itu puisi, cerpen, dan novel. Ini memang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-full wp-image-8200" title="Cov_Un-Soir-du-PARIS" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2010/09/Cov_Un-Soir-du-PARIS.jpg" alt="Cov_Un-Soir-du-PARIS" width="267" height="380" />Oleh: Alex</p>
<p>Cerpen-cerpen di &#8220;Un Soir du Paris&#8221; adalah cerpen yang pernah kami tampilkan di situs ini sejak tahun 2007. Berkat dukungan teman-teman dari para penulis atas izin pemuatan mereka di situs ini, akhirnya setelah tiga tahun kita bisa memiliki sebuah kumpulan cerpen yang  merupakan kumpulan cerpen <em>full </em>lesbian pertama di Indonesia.</p>
<p>Bukan sekadar kumpulan cerpen, tapi terdiri atas cerpen-cerpen yang pernah dimuat di media massa atau pernah dimuat dalam antologi/kumpulan cerpen. Semua penulis yang karyanya terangkum di sini karyanya pernah diterbitkan dalam bentuk buku, baik itu puisi, cerpen, dan novel. Ini memang suatu kesengajaan untuk menunjukkan eksistensi suatu karya lesbian yang pernah dipublikasikan di media massa. Siapa tahu, ini bisa menjadi perintis untuk terbitnya karya-karya lesbian dari penulis baru di masa datang.</p>
<p>Mari kita kenali lebih akrab sosok 12 penulis cerpen dalam kumpulan cerpen &#8220;Un Soir du Paris&#8221;:<br />
<span id="more-8197"></span><br />
<strong>Cok Sawitri </strong>lahir di Sidemen, Karangasem, Bali tanggal 1 September 1968. Ia telah menerbitkan sejumlah buku puisi, cerpen dan novel. Dua bukunya yang masuk dalam <em>short list</em> Khatulistiwa Literary Award adalah <em>Janda dari Jirah </em>(2007) dan <em>Sutasoma</em> (2009). Kini Cok tinggal di Bali dan menjadi juru bicara Komponen Rakyat Bali.</p>
<p> <strong>Shantined</strong> lahir di Yogyakarta, 21 Oktober 1972. Sekarang tinggal di Bontang, Kaltim. Beberapa puisi diterbitkan oleh harian/majalah: HORISON, Republika, Suara Pembaharuan, Minggu Pagi, Kaltim Pos, Tribun Kaltim, Dinamika &amp; Kriminal, BEN!, cerpen dan puisinya juga dibukukan dalam antologi. Shanti aktif mengikuti berbagai seminar, kongres maupun pertemuan sastrawan di berbagai kota di Indonesia.</p>
<p><strong>Abmi Handayani</strong> perempuan kelahiran 5 januari 1987 di Balikpapan. Lulusan Jurusan Sejarah UGM dengan skripsi berjudul <em>Perkara Mesoem; penangkapan homoseksual di Indonesia circa 1938-1939</em>. Tertarik pada dunia penulisan sejak bersekolah di SLTP Patra Dharma 1 Balikpapan. Bersama kawan-kawan sekolahnya di SMA Negeri 6 Balikpapan pernah menjuarai kompetisi majalah dinding. Memutuskan untuk menjadi penulis—baik fiksi maupun lepas—di tahun-tahun awal kuliahnya. Memulai debutnya dengan teenlit  <em>Cha untuk Chayang</em>, duet dengan Dalih Sembiring (Gramedia, 2005). Beberapa cerpennya dimuat di media antara lain “The Sky Scribbler” (The Jakarta Post dan Prima Storia); “Sent” (Esquire), dan “Dua Malam Terakhir” dan “Sebuah Mimpi Rahasia” (Jeune). Kini intens menggeluti dunia seni dan sastra bersama kawan berprosesnya di Sanggar Kali Putih, Sawangan, Wonosobo.  </p>
<p><strong>Ucu Agustin</strong> adalah penulis, wartawan, juga pembuat film dokumenter. Ucu telah menerbitkan 2 buku kumpulan cerpen berjudul <em>Kanakar </em>dan <em>Dunia di Kepala Alice</em>, serta sebuah novel berjudul <em>Being Ing</em>.</p>
<p><strong>Stefanny Irawan</strong>, selain menulis, juga menjadi managing director suatu teater kecil, dosen di almamaternya, dan juga penerjemah. Karya-karyanya diterbitkan di berbagai media nasional, beberapa antologi, dan <em>Tidak Ada Kelinci di Bulan!</em> (GPU, 2006) adalah kumpulan cerpen pertamanya. Masih tinggal di Surabaya.</p>
<p><strong>Linda Christanty</strong> adalah sastrawan dan wartawan. Ia menulis buku kumpulan cerpen <em>Kuda Terbang Maria Pinto</em>  yang menjadi pemenang prosa Khatulistiwa Literary Award dan buku kumpulan esei <em>Dari Jawa Menuju Atjeh</em>. Ia bekerja sebagai pemimpin redaksi sindikasi feature Aceh Feature, tinggal di Banda Aceh.</p>
<p><strong>Clara Ng </strong>adalah penulis, pendongeng, dan pekerja sastra full time untuk cerita anak, novel, skenario, esai, dan cerpen. Lulus dari Ohio State University, Amerika. <em>Gaya Rambut Pascal</em> (2006), <em>Melukis Cinta</em> (2007), <em>Jangan Bilang Siapa-siapa</em> (2008) mendapat penghargaan cerita anak-anak Adikarya Ikapi. Novelnya yang diterbitkan antara lain: <em>Gerhana Kembar</em> (2007) dan <em>Tea for Two</em> (2009) pernah dimuat secara bersambung di koran Kompas. Dongeng-dongengnya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk konsumsi negara ASEAN. Sekarang tinggal di Jakarta.</p>
<p><strong>Triyanto Triwikromo</strong> lahir tanggal 15 September 1964. Cerpennya dimuat di sejumlah media cetak dan antologi termasuk antologi tahunan <em>Cerpen Kompas Pilihan</em> dan <em>20 Cepen Indonesia Terbaik Anugerah Sastra Pena Kencana</em>. Kumcer terbarunya adalah <em>Ular di Mangkuk Sang Nabi</em> (2009). Triyanto kini aktif sebagai redaktur budaya di harian Suara Merdeka, Semarang.</p>
<p><strong>Ratih Kumala</strong> lahir di Jakarta tanggal 4 Juni 1980. Ia telah menerbitkan tiga novel dan satu kumpulan cerpen. Novel terbarunya berjudul <em>Kronik Betawi</em> (2009). Ratih kini tinggal di Jakarta bersama suaminya Eka Kurniawan, dan bergiat sebagai skrip editor divisi drama di Trans TV.</p>
<p> <strong>Agus Noor</strong> menulis banyak prosa, cerpen, naskah lakon (monolog dan teater) juga skenario sinetron. Buku-buku yang telah ditulisnya antara lain, <em>Memorabilia</em>, <em>Bapak Presiden yang Terhormat</em>, <em>Selingkuh Itu Indah</em>, <em>Rendezvous (Kisah Cinta yang Tak Setia)</em>, <em>Matinya Toekang Kritik</em>, <em>Potongan Cerita di Kartu Pos</em>. Kumpulan cerpen terbarunya berjudul <em>Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia</em>. Ia bisa dikunjungi di http://agusnoorfiles.wordpress.com.</p>
<p><strong>Seno Gumira Ajidarma</strong> dilahirkan tahun 1958. Menulis sejak 1974 dan bekerja sebagai wartawan dari 1977. Mulai 1985 bekerja untuk Gramedia Majalah. Menerima sejumlah penghargaan sastra, dan tulisannya diterjemahkan ke berbagai bahasa. Selain menulis, juga memotret dan berpameran. Mengajar di almamaternya, Fakultas Film dan Televisi IKJ maupun Program Pascasarjana Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI.</p>
<p><strong>Maggie Tiojakin </strong>adalah jurnalis dan penulis kumpulan cerita pendek <em>Homecoming (And Other Stories), Balada Ching-Ching </em>(Gramedia Pustaka Utama, 2010). Karya fiksi pendeknya telah diterbitkan di&#8211;antara lain&#8211;Writers’ Journal, Voices, Femina, Sun Magazine, hackwriters.com, The Jakarta Post, Kompas, TNY, dan Eastown Fiction. Dia berdomisili di Jakarta, Indonesia.</p>
<p>Nantikan tanggal terbit &#8220;Un Soir du Paris&#8221; tanggal 9 September 2010. Buku ini tersedia di toko buku di seluruh Indonesia, juga di toko buku online langgananmu.</p>
<p>@Alex, SepociKopi, 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2010/09/03/mengenal-lebih-dekat-12-penulis-kumcer-un-soir-du-paris/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persona: Mira W. – Tak Pernah Takut Menulis Topik Apa Pun</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/12/21/persona-mira-w-tak-pernah-takut-menulis-topik-apa-pun/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/12/21/persona-mira-w-tak-pernah-takut-menulis-topik-apa-pun/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 14:21:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Persona]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[Coming Out]]></category>
		<category><![CDATA[individu]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[tokoh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=5233</guid>
		<description><![CDATA[Mira W. adalah nama yang sudah malang melintang dalam jagat sastra Indonesia selama lebih dari tiga puluh tahun. Perempuan dengan nama lengkap Mira Widjaja ini lahir dan dibesarkan di Jakarta. Ia lalu menempuh dan menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti. Selain menjadi penulis, Mira W., juga bertugas di Universitas Prof.Dr.Moestopo sebagai staf pengajar merangkap dokter di Klinik Karyawan dan Mahasiswa.
Ia merupakan salah satu penulis yang produktif. Sejak pertama kali novelnya diterbitkan pada tahun 1977, sampai kini Mira W. sudah menghasilkan 78 judul buku. Ia merupakan salah satu pengarang yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/12/mira-w.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-11452" title="mira-w" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/12/mira-w1.jpg" alt="" width="175" height="160" /></a>Mira W. adalah nama yang sudah malang melintang dalam jagat sastra Indonesia selama lebih dari tiga puluh tahun. Perempuan dengan nama lengkap Mira Widjaja ini lahir dan dibesarkan di Jakarta. Ia lalu menempuh dan menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti. Selain menjadi penulis, Mira W., juga bertugas di Universitas Prof.Dr.Moestopo sebagai staf pengajar merangkap dokter di Klinik Karyawan dan Mahasiswa.</p>
<p>Ia merupakan salah satu penulis yang produktif. Sejak pertama kali novelnya diterbitkan pada tahun 1977, sampai kini Mira W. sudah menghasilkan 78 judul buku. Ia merupakan salah satu pengarang yang karyanya paling banyak dibaca di Indonesia. Bahkan lebih dari satu juta eksemplar bukunya telah beredar sampai sekarang, dan terus bertambah jumlahnya. Mira W. juga menjadi penulis yang karya-karyanya telah menyentuh hati tiga generasi pembaca selama lebih dari tiga puluh tahun. Dan pada tahun 2009 ini novel-novelnya dicetak ulang lagi dengan cover baru yang makin <em>catchy</em> dan beberapa juga mengalami revisi isi agar lebih bisa diterima oleh pembaca masa kini.</p>
<p><span id="more-5233"></span>Dalam rangka terbitnya <em><a href="http://sepocikopi.com/2009/11/30/buku-relung-relung-gelap-hati-sisi-masterpiece-yang-melampau-zamannya/">Relung-Relung Gelap Hati Sisi</a></em> pada bulan November 2009, SepociKopi berhasil melakukan wawancara ekslusif dengan Mira W. di tengah kesibukan beliau yang padat. Wawancara berikut merupakan upaya untuk memperluas wawasan pembaca LGBT terhadap suatu karya sastra dan lebih mengenal salah satu penulis besar di Indonesia yang sesungguhnya lebih suka tampil <em>incognito </em>ini. Berikut adalah petikan wawancara Ade Rain dan Alex dengan Mira W.</p>
<p><strong>Novel  LGBT khususnya lesbian yang paling populer di Indonesia tahun 1980-an adalah <em>Relung-Relung Gelap Hati Sisi</em></strong><strong>, apa yang melatarbelakangi Ibu menuliskan kisah itu?</strong></p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-5235" title="sisi" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/12/sisi.jpg" alt="sisi" width="153" height="250" />Terima kasih telah mengangkat <em>Relung-Relung Gelap Hati Sisi </em>sebagai novel bertemakan lesbian paling populer di tahun 1980an. Saya harap novel itu tidak mengecewakan Anda dan teman-teman Anda, dan saya juga berharap novel itu bisa diterima dan dimengerti oleh pembaca yang memiliki selera yang berbeda. Mudah-mudahan novel itu masih bisa diterima pembaca dua puluh tahun setelah pertama kali diterbitkan.</p>
<p>Ide novel tersebut berasal dari seorang pasien ketika saya sedang bertugas di bagian Psikiatri. Suatu hari datang seorang ibu yang membawa anak perempuannya yang berumur tujuh belas tahun ke klinik saya. Ibu itu menganggap anaknya sakit karena pacaran dengan teman gadisnya. Kasus itu mencetuskan ilham di benak saya. Setelah diendapkan selama tiga bulan (itu memang proses kreatif yang biasa saya alami), saya mulai menulis. Dan jadilah<em> Relung Relung Gelap Hati Sisi</em>. Tentunya dengan ditambah bumbu imajinasi, supaya lebih menarik.</p>
<p><strong>Ketika itu bukan hanya saya saja yang sebagai lesbian tapi (juga berdasarkan pengalaman teman-teman seumuran saya) merasa takut ketahuan sebagai lesbian,  ketika membaca novel tersebut dengan cara sembunyi-sembunyi, apakah ibu sebagai penulis tidak takut dicap lesbian?</strong></p>
<p>Saya tidak pernah merasa takut menulis tentang topik apa pun, tema yang beragam malah memperluas lingkup pembaca buku-buku saya. Lagi pula menurut pendapat saya, seorang penulis harus mampu melukiskan dengan baik watak dan pergulatan batin tokoh utama dalam tulisannya. Justru di sanalah letak keberhasilan sebuah buku.</p>
<p>Saya telah menulis 78 buku, dengan beragam karakter tokoh utamanya. Saya tidak harus menjadi PSK untuk menulis tentang seorang wanita penghibur, kan? (Novel <em>Sampai Maut Memisahkan Kita</em>). Atau menjadi seorang berkepribadian ganda untuk menulis <em>Deviasi</em>.<br />
<strong><br />
Apakah Ibu sadar jika buku tersebut memberi pandangan baru bagi para lesbian Indonesia bahwa mereka tidak pernah sendirian setelah buku itu diterbitkan,   secara didaktis memberi  pelajaran bagi para lesbian?</strong></p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-5237" title="mira1" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/12/mira11.jpg" alt="mira1" width="153" height="250" />Saya bersyukur dan merasa tersanjung kalau buku saya dapat memberikan sesuatu yang berharga kepada pembaca. Justru di sanalah salah satu misi saya dalam menulis.</p>
<p><strong>Ibu termasuk salah satu penulis perempuan yang sangat produktif, apa kiat Ibu sehingga sanggup menghasilkan begitu banyak karya?</strong></p>
<p><strong> </strong>Terima kasih untuk pujiannya, Ade. Justru tanggapan dan masukan dari para pembaca buku saya yang setia seperti Anda-lah yang membuat saya tetap bertahan setelah tiga puluh empat tahun menulis. Tanpa dukungan fans saya, mungkin hobi menulis saya hanya menghasilkan naskah satu eksemplar untuk koleksi pribadi saya sendiri.</p>
<p><strong>Dari 78 novel yang telah Ibu tulis, manakah yang menjadi favorit Ibu Mira? Dan apa alasannya?<br />
</strong></p>
<p>Saya menyukai semua novel saya, karena kalau tidak suka tidak saya terbitkan. Karena saya berasumsi, kalau saya saja sudah tidak suka, apalagi pembaca. Tetapi novel yang paling saya sukai <em>Di Sini Cinta Pertama Kali Bersemi</em>. Karena saya merasa dekat dengan ceritanya.<br />
<strong><br />
Kami mendapatkan informasi bahwa Relung-relung Gelap Hati Sisi ini telah direvisi dan sedikit berbeda dibanding versi tahun 1983, mengapa revisi tersebut dilakukan?</strong></p>
<p><strong></strong>Revisi itu atas permintaan penerbit Gramedia, supaya <em>Relung Relung Gelap Hati Sisi </em>dapat diterbitkan kembali dengan tampilan sampul dan isi yang tidak jadoel. Tidak ada perubahan yang mendasar, benang merah dan garis besarnya sama. Adegan dan dialog pun sebagian besar tidak berubah. Hanya karena ingin menjaring pembaca dari kawula muda, ada beberapa adegan yang ditambah, dihapus, diganti.</p>
<p>Misalnya adegan di halaman terakhir: <em>Pada saat yang sama, di Halim pun hujan turun. Seorang wanita tegak menanti di puncak tangga pesawat yang akan menerbangkannya ke Amerika.</em></p>
<p>Untuk fans saya yang usianya di bawah tiga puluh, mungkin kalimat-kalimat ini janggal dan sulit dibayangkan seorang penumpang pesawat komersil berangkat dari Lapangan Udara Halim Perdana Kusuma dan dia menunggu di puncak tangga pesawat seperti tiga puluh tahun yang lalu.</p>
<p><strong><img class="alignright size-full wp-image-5239" title="mira2" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/12/mira21.jpg" alt="mira2" width="151" height="250" />Pesan-pesan Ibu terhadap penulis  novel LGBT?</strong></p>
<p>Saya menganggap penulis LGBT punya kemampuan dan peluang sama dengan penulis lain. Jadi pesan saya, jangan menyerah kalau karya Anda ditolak redaksi. Coba dan coba lagi. Sekali Anda berhasil, karya berikutnya akan lebih mudah diterima.</p>
<p><strong>Jika ditarik dari novel <em>Relung-Relung Gelap Hati Sisi</em>, kedua tokohnya (Airin dan Sisi)  tidak &#8220;coming out&#8221;. Banyak LGBT muda yang merasa bahwa &#8220;coming out&#8221; merupakan jalan keluar agar bisa diterima keluarga dan masyarakat, apa pandangan ibu terkait hal ini?</strong></p>
<p><strong><span style="font-weight: normal;">Saya kira keputusan itu tergantung kepribadian Anda dan di mana Anda berada. Jika Anda cukup tegar seperti Airin, dan dia hidup dalam lingkungan yang lebih bebas, boleh saja &#8220;coming out&#8221; (meminjam istilah Ade). Tetapi jika Anda ingin tampil sebagai &#8220;wanita sejati&#8221; (menurut istilah Sisi), dan lingkungan belum dapat menerima homoseksualitas sebagai suatu kewajaran, lebih baik menarik diri. Semuanya tergantung Anda sendiri. Apakah Anda sudah siap menerima semua konsekuensinya? Apakah keluarga Anda sudah siap menerima Anda seperti apa adanya? Apakah masyarakat di sekitar Anda sudah dapat memahami perbedaan yang Anda perlihatkan dan dapat menghormati sesuatu yang berbeda walau mungkin tak dapat dimengerti?</span></strong></p>
<p><strong><span style="font-weight: normal;">@Ade Rain/Alex, SepociKopi, 2009</span></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/12/21/persona-mira-w-tak-pernah-takut-menulis-topik-apa-pun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persona: Triyanto Triwikromo &#8211; Hasrat Penulis Menyuarakan Keresahan Sosial</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/11/02/persona-triyanto-triwikromo-hasrat-penulis-menyuarakan-keresahan-sosial/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/11/02/persona-triyanto-triwikromo-hasrat-penulis-menyuarakan-keresahan-sosial/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Nov 2009 13:41:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alex</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persona]]></category>
		<category><![CDATA[wawancara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=4641</guid>
		<description><![CDATA[Pembaca SepociKopi sebaiknya melirik pada tokoh yang satu ini, Triyanto Triwikromo, penulis yang telah banyak melahirkan karya tulis bertema LGBT dan memberikan cara pandang berbeda tentang homoseksual. Dua cerpen Triyanto Triwikromo bahkan termuat di kolom cerpen SepociKopi, Cahaya Sunyi Ibu dan Badai Bunga.
Lelaki kelahiran Salatiga tahun 1964 ini bukanlah nama asing dalam dunia sastra Indonesia. Ia adalah editor untuk rubrik sastra Edisi Minggu harian Suara Merdeka. Sejumlah cerpennya telah dibukukan, antara lain kumpulan cerita pendek Sayap Anjing (2003), Anak-anak Mengasah Pisau (2003), dan Malam Sepasang Lampion (2004). Yang terbaru adalah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pembaca SepociKopi sebaiknya melirik pada tokoh yang satu ini, Triyanto Triwikromo, penulis yang telah banyak melahirkan karya tulis bertema LGBT dan memberikan cara pandang berbeda tentang homoseksual. Dua cerpen Triyanto Triwikromo bahkan termuat di kolom cerpen SepociKopi, <em><a href="http://sepocikopi.com/2008/02/11/cerpen-cahaya-sunyi-ibu/">Cahaya Sunyi Ibu</a></em> dan<a href="http://sepocikopi.com/2009/07/06/cerpen-badai-bunga/"> <em>Badai Bunga</em>.</a></p>
<p>Lelaki kelahiran Salatiga tahun 1964 ini bukanlah nama asing dalam dunia sastra Indonesia. Ia adalah editor untuk rubrik sastra Edisi Minggu harian <em>Suara Merdeka</em>. Sejumlah cerpennya telah dibukukan, antara lain kumpulan cerita pendek <em>Sayap Anjing </em>(2003), <em>Anak-anak Mengasah Pisau </em>(2003), dan <em>Malam Sepasang Lampion </em>(2004). Yang terbaru adalah <em>Ular di Mangkuk Nabi </em>(2009). Karyanya juga termuat dalam 20 Cerpen Indonesia Terbaik: Anugerah Sastra Pena Kencana. Berbagai penghargaan juga sudah diperolehnya, antara lain tahun 2005 ia menjadi peserta Wordstorm: Northern Territory Writer Festival di Darwin, Australia. Pada Januari 2008 menjadi peserta Gang Festival dan residensi sastra di Sydney, Australia. Pusat Bahasa Depdiknas tanggal 28 Oktober 2009 kemarin juga memberi penghargaan sastra untuk kumpulan cerpen <em>Ular di Mangkuk Nabi</em>.</p>
<p><span id="more-4641"></span>SepociKopi berhasil melakukan wawancara dengan Triyanto Triwikromo dan mencoba menarik sisi pandang seorang heteroseksual ketika membuat kisah-kisah bertemakan homoseksual. Berikut petikan wawancara eksklusif Ade Rain dengan beliau.</p>
<p><strong>Apa yang melatarbelakangi Mas Triyanto membuat cerita bertema LGBT?<br />
</strong> <br />
Pertama, saya selalu berhasrat menulis dan menyuarakan keresahan-keresahan, perjuangan, dan problem-problem yang dihadapi oleh manusia-manusia yang disingkirkan dalam strata sosial. Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender&#8212;kalangan yang dianggap berada dalam ceruk seks minoritas ini&#8212;tak pelak lagi menjadi golongan yang <em>daif</em>. Sastra saya kira harus menyuarakan “suara-suara <em>daif</em>”, suara-suara yang dilemahkan, bahkan pinjam ungkapan Dede Oetomo, dibisukan.</p>
<p>Kedua, di Semarang, bersama desainer Anne Avantie, saya ditunjuk menjadi penasihat Persekutuan Hidup Baru dan Kudus&#8212;sebuah komunitas beranggota transgender,  gay,  lesbian, dan beberapa teman heteroseksual. Ini membuat saya terlibat dalam urusan-urusan spiritual, hukum, bahkan seksual mereka. </p>
<p>Karena saya seorang penulis, cara saya mengungkapkan hakikat mereka ya lewat tulisan-tulisan saya, terutama cerpen. Meskipun demikian, saya sedang mempersiapkan buku tentang kisah-kisah spiritual dan seksual para waria. Perjuangan waria untuk mencari Tuhan ternyata sangat dahsyat….</p>
<p><strong>Menurut Mas haruskah penulis cerita bertema LGBT  sebaiknya ditulis oleh LGBT sendiri?<br />
</strong> <br />
Tidak harus. Setiap pengarang yang baik harus bisa <em>“as a LGBT”</em> pada saat menuliskan karya-karya yang berkait dengan dunia LGBT. Meskipun demikian, tentu akan sangat mendalam dan lebih eksistensial dan esensial ketika para LGBT menulis dirinya sendiri. Sangat mungkin sebagai heteroseksual saya tak tahu ceruk paling dalam para LGBT. Sangat mungkin lapis-lapis yang tersembunyi lebih bias diungkapkan oleh para LGBT.</p>
<p><strong>Apa bedanya buat Mas membuat karya tulisan bertema LGBT dan non LGBT.<br />
</strong> <br />
Bagi saya  sama saja. Hanya tantangan untuk menuis tema-tema LGBT lebih besar. Saya harus benar-benar mengadakan riset mendalam baru bisa menulis tentang mereka. Saya harus bergaul dengan mereka, baru bisa memasuki karakter-karakter para LGBT.</p>
<p><strong>Apa kiat-kiat khusus Mas dalam membuat karya tulis bertema LGBT ?</strong></p>
<p>(a).Riset teks tentang mereka. (b).Bergaul dengan mereka. (c).Memahami persoalan mereka. (d).Mencari estetika yang paling pas untuk mengungkapkan dunia yang bagi kaum heteroseksual tak lazim itu. (e).Menulis dengan hati.</p>
<p><strong>Apa yang melatarbelakangi Mas menulis <em>Sirkus Api, Cahaya Sunyi Ibu, Ular di Mangkuk Nabi </em>dan <em>Badai Bunga</em>? </strong></p>
<p><em>Sirkus Api Natasja Korolenko</em> saya tulis saat saya berkenalan dengan perempuan asal Inggris yang menunjukkan gejala biseksual yang tinggi. Ia punya pacar seorang laki-laki Rusia, tetapi juga punya teman intim perempuan dari Rusia juga. Selama tinggal di Sydney, saya mencoba menyelami hidup mereka, akhirnya jadilah teks yang menceritakan kehidupan lesbian di Sydney itu. <em>Cahaya Sunyi Ibu </em>saya tulis di Amerika. Di beberapa panti jompo di Amerika, kehidupan cinta sesama jenis juga tak terhindarkan. Realitas itu kadang hendak ditutup-tutupi. Tugas saya hanya berperan membeberkan hal-hal yang hendak ditabukan itu. <em>Delirium Mangkuk Nabi </em>saya tulis untuk seorang teman gay Australia yang baru saja operasi otak. Saya ingin saat dia membaca teks itu, ia berani menghadapi hidup. Adapun <em>Badai Bunga</em> saya tulis di Amerika  untuk mengenang seorang teman di Semarang yang memiliki perilaku omnisex. Ia bisa bercumbu dengan siapa pun. Bisa denga pria, wanita, waria, lesbian, ataupun gay. Di Los Angeles, saya juga bertemu dengan orang-orang semacam itu. Ini juga sebuah realitas yang harus dibeberkan.</p>
<p><strong>Apa pandangan Mas terhadap hasil-hasil karya penulis LGBT baik yang dipublikasikan secara online maupun berbentuk cetak/novel/cerpen/dll?</strong></p>
<p>Beberapa yang saya baca sangat menarik. Beberapa biasa-biasa saja.</p>
<p><strong>Apakah ada kiat-kiat khusus dalam mengemas tulisan LGBT?</strong></p>
<p>Sebaiknya justru jangan menganggap terlalu istimewa. Menulis biasa-biasa saja dengan cara-cara yang lazim saja. Dengan memasuki dunia heteroseksual secara biasa, saya kira teks-teks tentang LGBT akan terbaca dengan cepat dan tanpa hambatan. Cerpen saya <em>Ikan Asing dari Weippa-Napranum</em>, <em>Angin dari Ujung Angin</em>, dan <em>Sepasang Ular di Salib Ungu</em> adalah cerpen-cerpen tentang lesbian yang bisa menembus Kompas tanpa memberi embel-embel itu sebagai cerpen LGBT. Para pembacanya juga tak melulu LGBT.</p>
<p><strong>Bagaimana cara Mas membuat cerita-cerita bertema lesbian? Apakah bersinggungan langsung dengan kehidupan para lesbian atau hanya mendapatkan ide tersebut dari fakta-fakta tertulis dari buku atau media massa ?</strong></p>
<p>Saya bersinggungan langsung dengan para lesbian karena memang mereka terbuka dan berteman dengan saya. Tentu agar lebih detail, saya membaca buku-buku dan melakukan riset.</p>
<p><strong>Menurut Mas apakah tulisan-tulisan LGBT dapat dikategorikan melanggar UU Pornografi Pornoaksi, mengingat beberapa poin dari undang-undang tersebut beranggapan bahwa homoseksual melanggar undang-undang?</strong><br />
 <br />
Menurut saya tidak. Itu undang-undang absurd!</p>
<p><strong>Apa pesan Mas untuk para penulis LGBT?</strong></p>
<p>Kini saat terbaik untuk mengungkapkan segala hal tentang LGBT dengan lebih terbuka. Jangan cuma menulis yang hanya berkait dengan seks. Persoalan LGBT lebih besar dari sekadar seks, bukan?</p>
<p>@Ade Rain, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/11/02/persona-triyanto-triwikromo-hasrat-penulis-menyuarakan-keresahan-sosial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persona: Enid Blyton &#8211; Hadiah Terindah buat Kanak-Kanak</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/10/26/persona-enid-blyton-hadiah-terindah-buat-kanak-kanak/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/10/26/persona-enid-blyton-hadiah-terindah-buat-kanak-kanak/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 11:04:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persona]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=4570</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Lakhsmi
Enid Blyton, siapa yang tidak mengenalnya? Lahir pada 11 Agustus 1897, ia terkenal sebagai penulis cerita kanak-kanak berasal dari Inggris bernama lengkap Enid Mary Blyton. Buku-bukunya terjual lebih dari 600 juta eksemplar di seluruh dunia dengan sangat sukses, mengalahkan kuantitas penjualan seri Harry Potter. Menurut catatan UNESCO, Enid Blyton adalah pengarang nomor lima yang buku-bukunya paling banyak diterjemahkan di seluruh dunia (India, Sri Lanka, Pakistan, Indonesia, Yugoslavia, Jepang, Saudi Arabia, dan Australi), setelah Shakespeare. Karya Enid Blyton lebih banyak ditujukan pembaca muda &#8211; kanak-kanak yang berpetualangan dengan bebas tanpa ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-full wp-image-4573" title="ripping-yarns-_148432s" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/10/ripping-yarns-_148432s.jpg" alt="ripping-yarns-_148432s" width="238" height="202" />Oleh: Lakhsmi</p>
<p>Enid Blyton, siapa yang tidak mengenalnya? Lahir pada 11 Agustus 1897, ia terkenal sebagai penulis cerita kanak-kanak berasal dari Inggris bernama lengkap Enid Mary Blyton. Buku-bukunya terjual lebih dari 600 juta eksemplar di seluruh dunia dengan sangat sukses, mengalahkan kuantitas penjualan seri Harry Potter. Menurut catatan UNESCO, Enid Blyton adalah pengarang nomor lima yang buku-bukunya paling banyak diterjemahkan di seluruh dunia (India, Sri Lanka, Pakistan, Indonesia, Yugoslavia, Jepang, Saudi Arabia, dan Australi), setelah Shakespeare. Karya Enid Blyton lebih banyak ditujukan pembaca muda &#8211; kanak-kanak yang berpetualangan dengan bebas tanpa bantuan dari orang dewasa.</p>
<p><span id="more-4570"></span>Buku-buku karangannya berjumlah 700an lebih selama 45 tahun ia menulis. Berbagai genre telah ditorehkan: puisi, novel, kisah-kisah pendek, dan saga yang bercerita tentang segala hal, menjadikan Enid Blyton sebagai pengarang yang kaya raya. Dia bercerita tentang anak-anak yang melarikan diri dari paman dan bibi yang sinting atau eksentrik dan berpetualangan ke tempat-tempat yang jauh; tentang kanak-kanak yang orangtuanya tidak pernah ada di hari-hari libur sehingga mereka dapat bepergian ke mana-mana, bertemu dengan penculik, penjahat, dan orang-orang asing.</p>
<p>Seri novelnya yang terkenal adalah Famous Five (Lima Sekawan, 21 buku), Five Find-Outers And Dog (Pasukan Mau Tahu, 15 buku), Secret Seven (Sapta Siaga, 15 buku), Malory Towers (7 buku), dan yang paling terkenal adalah seri Noddy, yang ditujukan untuk balita. Tokoh-tokoh kanak-kanak yang digambarkan di novelnya sangat hidup dan dikenang oleh para pembaca. Buku-buku kanak-kanaknya memiliki unsur homoseksual yang kental bahkan seri Noddy dilarang peredarannya di berbagai tempat di Amerika karena dianggap hubungan antara Noddy and tokoh lain Big Ear adalah hubungan homoseksual.</p>
<p>Blyton menikah dengan suami pertamanya selama 19 tahun sejak karir kepenulisannya dimulai pada tahun 1930. Pernikahan mereka mengalami kehancuran ketika Hugh menjadi alkoholik dan Blyton berhenti menulis karena berselingkuh. Setelah pernikahan yang pahit tersebut, Blyton menikah lagi dengan seorang dokter bedah bernama Kenneth Darrell Waters. Dalam program film dokumentari tentang kehidupan rahasia Enid Blyton oleh BBC Inggris, diketahui bahwa Blyton memiliki hubungan asmara dengan pengasuh anak-anaknya, Dorothy Richards.</p>
<p>Georgina (alias George) dalam seri Lima Sekawan berusia 12 tahun ketika seri itu dimulai sepanjang 21 kisah. Selama tiga sampai empat tahun, George tidak pernah memiliki pertumbuhan payudara atau perilaku yang feminim. George dibicarakan dalam pembahasan literatur-literatur sastra lesbian sebagai tokoh lesbian kanak-kanak/remaja. Menurut kerabat Blyton, tokoh George adalah potret dari Blyton ketika remaja; pemberontak, mudah marah, keras kepala, dan tomboy. Hubungannya dengan ibunya sangat buruk. Ia melarikan diri dari rumah, bekerja, dan kuliah dengan kebohongan kepada setiap orang bahwa ibunya telah tiada. Bahkan ketika ibunya benar-benar meninggal, ia menolak untuk menghadiri pemakamannya.</p>
<p>Selain dikritik dan dilarang peredarannya karena unsur homoseksual, karya-karya Blyton juga dianggap seksis dan rasis. Dalam karyanya di seri Malory Towers dan St. Clare&#8217;s, para kritikus menganggap para murid Inggris melecehkan murid-murid yang &#8220;bukan&#8221; Inggris, memberikan ajaran yang buruk bagi para pembaca remaja/kanak-kanak. Bukan itu saja, <em>queer subtext</em> (baca: <a href="http://sepocikopi.com/2009/06/25/bengkel-menulis-queer-subtext-talk/">Bengkel Menulis:  Queer Subtext Talk</a>) di antara para murid-murid perempuan di sekolah tersebut terasa sekali, di mana &#8220;persahabatan&#8221; intim dan erat di antara mereka dapat sekali dianggap sebagai hubungan yang tak lazim atau boleh disebut sebagai hubungan homoseksual.</p>
<p>Apapun kata kritik atau pelarangan peredaran, buku-buku Enid Blyton tetap berkibar sampai sekarang. Penulisnya sendiri telah meninggal pada tanggal 28 November 1968. Karya-karyanya masih bergema sampai sekarang, dibaca jutaan kanak-kanak dan orang dewasa. Dengan sisipan unsur homoseksual dalam kisah-kisah untuk anak-anak, sungguh, Enid Blyton telah memberikan kado terindah untuk masyarakat di masa depan yang lebih baik dan ramah bagi semua orang tanpa mengenal orientasi seksual.</p>
<p>@Lakhsmi, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/10/26/persona-enid-blyton-hadiah-terindah-buat-kanak-kanak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Little Review Sampai SepociKopi: Mari Berkarya</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/06/11/the-little-review-sampai-sepocikopi-mari-berkarya/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/06/11/the-little-review-sampai-sepocikopi-mari-berkarya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 05:12:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Persona]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=2491</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Oryza Sativa
Apa yang dapat diberikan lesbian kepada dunia dan sekitarnya? Pertanyaan ini mengandung banyak jawaban, mulai dari yang negatif sampai yang positif, tergantung individu-individu yang bersangkutan. Mengacu kepada hal tersebut, dalam tulisan kali ini, saya ingin bercerita tentang pengetahuan yang saya dapat mengenai lesbian dan untuk lesbian.
Terhitung sejak dua tahun lalu, saya menjadi bagian dari SepociKopi. Adalah pengalaman yang sungguh berharga ketika saya mengenal individu-individu yang terlibat di dalamnya, baik para penulis maupun pembaca. Rubrik demi rubrik muncul dengan eksplorasi tulisan yang semakin ke kini semakin mendalam. Dan tidak ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://farm4.static.flickr.com/3407/3616166600_591f5f6e01.jpg?v=0" alt="" />Oleh: Oryza Sativa</p>
<p>Apa yang dapat diberikan lesbian kepada dunia dan sekitarnya? Pertanyaan ini mengandung banyak jawaban, mulai dari yang negatif sampai yang positif, tergantung individu-individu yang bersangkutan. Mengacu kepada hal tersebut, dalam tulisan kali ini, saya ingin bercerita tentang pengetahuan yang saya dapat mengenai lesbian dan untuk lesbian.</p>
<p>Terhitung sejak dua tahun lalu, saya menjadi bagian dari SepociKopi. Adalah pengalaman yang sungguh berharga ketika saya mengenal individu-individu yang terlibat di dalamnya, baik para penulis maupun pembaca. Rubrik demi rubrik muncul dengan eksplorasi tulisan yang semakin ke kini semakin mendalam. Dan tidak berhenti di rubrik-rubrik khusus perempuan atau lesbian saja, SepociKopi juga memberikan artikel Bengkel Menulis setiap minggunya, yang sangat penting untuk dibaca, bagi mereka yang benar-benar ingin maju dan belajar.<br />
<span id="more-2491"></span><br />
Selain sebagai bukti, SepociKopi, bagi saya adalah kontribusi dari negeri lesbian untuk dunia di luar sana. Alex dan Laksmi telah membangun kafe kecil ini dari format blog hingga majalah <em>online</em>, yang menurut saya merupakan pencapaian yang tidak main-main. Keberadaan mereka juga merupakan bukti untuk banyak orang bahwa menjadi lesbian dengan segala hambatan dan tantangannya bukan berarti menghambat diri dalam berkarya</p>
<p>Lantas, jika sekarang kita punya SepociKopi, siapa sangka, dunia pernah memiliki majalah kecil yang dipelopori oleh seorang lesbian, yang telah menelurkan penulis-penulis besar dunia.</p>
<p>Beliau adalah Margaret Caroline Anderson (24 November 1886- 18 Oktober 1973). Saya mengetahuinya dari seorang sahabat yang kemudian mengirimkan caping Goenawan Mohammad. Saya menemukan di internet, foto dirinya yang terlihat <em>easy-going </em>namun tetap bersahaja dan punya pesona. Sorot matanya hangat dan cerdas. Beberapa menit kemudian saya memutuskan untuk mengaguminya seperti saya mengagumi Virginia Woolf atau Nina Simone, untuk ketekunan dan perjuangannya dalam dunia tulis menulis.</p>
<p>Sebelum berjalan bersama <em>The Little Review</em>-nya, Margaret Caroline Anderson sempat berkarier sebagai pianis. Kemudian bergabung dengan <em>The Continent </em>dan <em>The Dial </em>sebagai <em>book reviewer </em>serta <em>Chicago Evening Post, </em>di sana ia menjadi seorang kritikus buku (1913). Satu tahun berikutnya, Margaret menerbitkan majalah <em>The Little Review, </em>yang sangat berjasa membesarkan beberapa nama penulis kelas dunia. Salah satunya adalah James Joyce, dengan mahakarya <em>Ulysses</em>-nya. Beberapa nama lain, sebut saja Ezra Pound, yang saat itu merangkap editor Margaret; T.S. Elliot; Ernest Hermingway; dan banyak kontributor lain.</p>
<p>Mengutip GM, <em>“seperti lazimnya majalah seni dan sastra, The Little Review tak laku. Juga sulit mendapat sponsor.” </em>Margaret terpaksa menutup kantor majalahnya dan pergi dari rumah sewaan. Kemudian pada tahun 1916, ia berjumpa dengan Jane Heap, seorang seniman yang juga sempat menjadi kekasih Margaret. Bersama, mereka membangun kembali <em>The Little Review.</em></p>
<p>Dan tentu saja, SepociKopi maupun <em>The Little Review </em>hanya segelintir contoh dan pilihan di antara pilihan-pilihan lain. Seseorang sangat mungkin mengeksplorasi bakat dan kemampuannya di bidang lain, jika memang memiliki keinginan dan usaha yang tidak setengah-setengah. Pengorbanan dan hal-hal semacam kurang tidur, terlalu lelah, ditolak penerbit, ditolak rumah produksi, dikritik banyak orang, semestinya tidak menjadi penghalang. Karena sesungguhnya, di balik bungkus yang tidak sedap dipandang mata, tersimpan nilai-nilai positif yang harus disaring kemudian diolah untuk mencapai hasil terbaik.dalam berkarya. Secara personal, saya meletakkan harapan pada SepociKopi dalam penggalian-penggalian bibit baru di dunia tulis menulis. Tidak seorang pun dapat memastikan, bahwa nantinya penulis-penulis yang berkontribusi ataupun mereka yang terinspirasi, dapat menjadi Hermingway dan Joyce berikutnya.</p>
<p>Dari Margaret, Jane Heap, Alex, dan Lakhsmi, dapat kita perhatikan sebuah nilai. Yakni bagaimana lesbian tidak menjadi keseluruhan identitas seseorang. Mereka lesbian, itu benar, dan banyak yang tahu. Tetapi identitas tersebut kemudian hanya terlihat sebagai tempelan, karena sesungguhnya, siapa mereka yang sebenarnya dan karya-karya mereka, itulah yang paling penting  untuk dilihat.</p>
<p>Sekian tulisan dari saya kali ini. Saya berterima kasih kepada Sagita yang telah memberi ide, setelah cukup lama tidak menulis untuk SepociKopi. Sebagai penutup, saya ucapkan selamat berkarya untuk semua.</p>
<p>@Oryza Sativa, SepociKopi, 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/06/11/the-little-review-sampai-sepocikopi-mari-berkarya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persona: Patricia Cornwell &#8211; Hidup yang Kaya</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/05/12/persona-patricia-cornwell-hidup-yang-kaya/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/05/12/persona-patricia-cornwell-hidup-yang-kaya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 02:57:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persona]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=2036</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Alex
Dia bukan tokoh panutan yang ideal.
Dia pernah menderita anoreksia. Dia pernah ditangkap karena mengemudi sambil mabuk. Dia pernah menjalin affair yang buruk dengan istri orang hingga menjadi kasus pidana.  Dia juga membuat pembacanya ketakutan dengan kisah-kisah novel thriller pembunuhan/pemerkosaan yang menampilkan detail keji kasus-kasusnya melalui karakter pemeriksa medis, Dr. Kay Scarpetta yang ditulisnya sejak tahun 1990.
Patricia Cornwell terlahir dengan nama Patricia Carroll Daniels pada tgl 9 Juni 1956. Dia mengalami masa kecil yang sulit, kalau tidak mau dibilang buruk. Ayahnya meninggalkan keluarganya ketika Patricia berusia 5 tahun, meninggalkannya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-medium wp-image-2037" title="pat-cornwell" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2009/05/pat-cornwell-199x300.jpg" alt="pat-cornwell" width="199" height="300" />Oleh: Alex</p>
<p>Dia bukan tokoh panutan yang ideal.<br />
Dia pernah menderita anoreksia. Dia pernah ditangkap karena mengemudi sambil mabuk. Dia pernah menjalin <em>affair </em>yang buruk dengan istri orang hingga menjadi kasus pidana.  Dia juga membuat pembacanya ketakutan dengan kisah-kisah novel thriller pembunuhan/pemerkosaan yang menampilkan detail keji kasus-kasusnya melalui karakter pemeriksa medis, Dr. Kay Scarpetta yang ditulisnya sejak tahun 1990.</p>
<p>Patricia Cornwell terlahir dengan nama Patricia Carroll Daniels pada tgl 9 Juni 1956. Dia mengalami masa kecil yang sulit, kalau tidak mau dibilang buruk. Ayahnya meninggalkan keluarganya ketika Patricia berusia 5 tahun, meninggalkannya bersama dua saudara lelaki dan ibu yang depresi. Untungnya, Ruth Graham, istri pendeta terkenal, Billy Graham, membantu keluarga mereka dan menempatkan Patricia ke dalam keluarga asuh. Meskipun demikian, Patricia tetap dekat dengan keluarga Graham, yang diakuinya sebagai orang yang memiliki kebaikan hati dan kasih sayang yang membuatnya bisa seperti sekarang. Bahkan Ruth Graham-lah yang mendorongnya untuk menjadi penulis.<br />
<span id="more-2036"></span><br />
Perjalanan hidup Patricia Cornwell sendiri kaya cerita. Dia pernah mengalami pelecehan seksual dan anoreksia semasa remaja. Selulus kuliah di jurusan bahasa Inggris, pada tahun 1979, dia menikah dengan dosennya, Charles Cornwell yang usianya 17 tahun lebih tua. Sepuluh tahun kemudian mereka bercerai, namun Patricia tetap menggunakan nama belakang “Cornwell” dalam karier menulisnya.</p>
<p>Awal tahun 1990-an merupakan masa “gila”, sebagaimana yang diakui oleh Patricia Cornwell sendiri. Setelah berkali-kali ditolak penerbit, kariernya melesat dengan penerbitan novel pertamanya, <em>Postmortem</em>, yang masuk daftar laris. Dia menghabiskan uangnya dengan cepat, membeli rumah, mobil, dan mengadakan pesta-pesta. Pada tahun 1991, dia ditangkap karena mengemudi dalam keadaan mabuk dan harus menjalani rehab.</p>
<p>Tiga tahun setelah bercerai, Patricia Cornwell menjalani <em>affair </em>singkat dengan agen FBI, Margo Bennett, yang ditemuinya untuk riset novelnya saat itu. <em>Affair</em> itu berakhir buruk dan menjadi liputan media ketika suami Margo yang juga agen FBI, menculik dan mengancam membunuh istrinya pada tahun 1996. Kecemburuan sang suami ikut mengungkap hubungan Patricia dan Margo ke media massa, walaupun pada saat itu mereka sudah tidak menjalin <em>affair</em> lagi. Saat itu Patricia Cornwell menolak berkomentar dan menyatakan dirinya tidak ada sangkut paut atas tindak pidana suami terhadap istri tersebut.</p>
<p>Namun pada tahun 2007, Patricia Cornwell menyatakan secara terbuka di media bahwa dirinya lesbian dan sudah menikah dengan Dr. Staci Gruber, dosen psikiatri di Harvard Medical School. Pasangan ini menikah pada tahun 2005 di Massachusetts, satu-satunya negara bagian Amerika yang mengizinkan pernikahan sesama jenis saat itu.</p>
<p>Selama dua puluh tahun karier menulisnya, Patricia Cornwell dengan puluhan novel larisnya diperkirakan telah berhasil mengumpulkan kekayaan lebih dari seratus juta dolar. Selama lebih dari dua puluh tahun pula, Patricia Cornwell terjun langsung ke lapangan melihat kasus-kasus pembunuhan ke TKP, ruang-ruang autopsi, riset ke kepolisian dan universitas. Kengerian-kengerian semacam itu mungkin pula membuat Patricia Cornwell selalu berhati-hati dan waspada. Saat keluar rumah dia didampingi <em>bodyguard</em> dan membawa senjata. Rumahnya yang terparkir mobil-mobil sport mewah dan beberapa Harley Davidson dilengkapi pula dengan sistem keamanan tercanggih.</p>
<p>Nama Patricia Cornwell sendiri tidak bisa dilepaskan dari nama Dr. Kay Scapetta, tokoh utama dalam novel-novel  thrillernya. Walaupun tokoh Scarpetta begitu hidup, dia bukanlah alter-ego Patricia Cornwell.  Dalam banyak sisi, sosoknya bisa ditemui dalam karakter Lucy, keponakan Scarpetta yang sama seperti Patricia juga lesbian, menggemari olahraga ekstrem, menyukai senjata, mengemudikan mobil cepat, menunggang motor Harley, dan menerbangkan helikopter. Meskipun sama-sama lesbian, namun Lucy dan Patricia memiliki jalan hidup yang berbeda. Pada tahun 1994, Lucy menyatakan dirinya lesbian dalam novel kelima seri Scarpetta, <em>Body Farm</em>. Akan tetapi Patricia menyatakan dengan tegas bahwa &#8220;melesbiankan&#8221; Lucy bukanlah tindakan sengaja yang sudah direncakanannya saat seri-seri awal.</p>
<p>Sayangnya, buku-buku Patricia Cornwell tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara berurutan. Padahal salah satu bagian menarik dari novel-novelnya adalah bagaimana karakter-karakternya berkembang melalui perjalanan waktu. Bagi yang tidak pernah membaca bukunya, mungkin bisa menunggu film layar lebarnya. Menurut informasi terbaru, Angelina Jolie sudah menandatangani kontrak untuk berperan sebagai Dr. Kay Scarpetta yang rencananya akan dirilis tahun 2010.</p>
<p>Bertambahnya usia membuat Patricia Cornwell yang memang terbiasa berbicara blakblakan, jadi makin terbuka. Ia tidak segan menyatakan pendapatnya tentang banyak hal walaupun menuai kritik. Belakangan ini dia gencar mengkampanyaken legalisasi pernikahan sesama jenis di AS. Sebagai penulis yang juga filantropis ini, Patricia Cornwell tidak segan menyumbangkan kekayaannya untuk kepentingan sosial dan politik. Dia telah menyumbangkan jutaan dolar untuk yayasan penyelamatan hewan, penegak hukum, pendidikan dan melek huruf, juga untuk Harvard Art Museum.</p>
<p>Saat liburan, Patrcia dan Staci menikmati waktu dengan naik motor besar, <em>hiking, </em>dan bermain dengan anjing kesayangan mereka. Patricia mengakui bahwa Staci adalah orang yang bisa membuatnya tenang dan aman. <em>Image </em>publik Patricia Cornwell adalah dingin, sinis, dan tegang. Tidak heran jika banyak pewawancara yang terkejut mendapati kehangatan di rumah pasangan ini.</p>
<p>Setelah menikah, Patricia memutuskan untuk pindah ke Massachusetts dari Florida agar bisa bersama Staci Gruber, di rumah megah bergaya <em>farmhouse</em> dekat kampus Harvard. Kini pada usia lebih dari setengah abad, Particia Cornwell menyatakan hidupnya tenang dan bahagia. “Obrolan dan diskusi panjang yang tak pernah membosankan,” kata Patricia Cornwell, demikian ia menjelaskan hubungannya dengan Staci. “Kami bersahabat dan bisa menghabiskan waktu yang menyenangkan walaupun hanya melakukan hal sederhana seperti makan dan menonton TV atau DVD.”</p>
<p>@Alex, SepociKopi, 2009<br />
photo by Mark Garfinkel</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/05/12/persona-patricia-cornwell-hidup-yang-kaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gus Tf. Sakai: Apresiasi Cerpen Gay</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2009/01/06/gus-tf-sakai-apresiasi-cerpen-gay/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2009/01/06/gus-tf-sakai-apresiasi-cerpen-gay/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 00:50:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Persona]]></category>
		<category><![CDATA[Seni Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepoci.wordpress.com/2009/01/06/gus-tf-sakai-apresiasi-cerpen-gay/</guid>
		<description><![CDATA[Diambil dari www.sriti.comDitulis oleh: Chusnato
Cerpen yang baik acap berakhir titik dengan sebuah pesan. Membaca keindahan sastra kadang lebih ampuh dalam jagat pesan yang disampaikan. Cerita mengalir indah, lalu jatuh dipalung makna.  Sejumlah cerpen Gus tf Sakai juga begitu. Kendati sebagian cerpennya begitu gelap, ada yang jelas sengaja berdiam di balik makna cerita.
Beberapa bulan silam, saya mewawancari Gus karena ia mendapat penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2007 untuk karya Perantau (Gramedia Pustaka Utama, 2007). Lalu kami menyenggol ke sejumlah cerpen tema gay karyanya. &#8220;Dengan cerpen-cerpen tersebut, ada yang sempat menuduh saya ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Diambil dari <a href="http://www.sriti.com">www.sriti.com</a><br />Ditulis oleh: Chusnato</p>
<p>Cerpen yang baik acap berakhir titik dengan sebuah pesan. Membaca keindahan sastra kadang lebih ampuh dalam jagat pesan yang disampaikan. Cerita mengalir indah, lalu jatuh dipalung makna.  Sejumlah cerpen Gus tf Sakai juga begitu. Kendati sebagian cerpennya begitu gelap, ada yang jelas sengaja berdiam di balik makna cerita.</p>
<p>Beberapa bulan silam, saya mewawancari Gus karena ia mendapat penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2007 untuk karya <span style="font-style:italic;">Perantau </span>(Gramedia Pustaka Utama, 2007). Lalu kami menyenggol ke sejumlah cerpen tema gay karyanya. &#8220;Dengan cerpen-cerpen tersebut, ada yang sempat menuduh saya gay,&#8221; katanya.<br /><span class="fullpost"><br />Cerpen berjudul <span style="font-style:italic;">Tukang Cukur </span>(dimuat Kompas, 27 Agustus 1995) misalnya. Seorang pembaca dari Bandung menulis surat khusus untuknya lantaran dia begitu menyukai cerpen yang terhimpun dalam buku kumpulan cerpen <span style="font-style:italic;">Kemilau Cahaya dan Perempuan But</span>a (Gramedia Pustaka Utama, 1999). Cerpen itu juga dibukukan oleh The Lontar Foundation dalam versi bahasa Inggris, <span style="font-style:italic;">The Barber </span>(2002).</p>
<p>Sedangkan <span style="font-style:italic;">Upit </span>(dimuat Kompas 9 Juli 2000) adalah cerpen yang paling faktual dari dua cerpen gay lainnya. Upit masuk sebagai salah satu yang terbaik dalam buku Cerpen Pilihan Kompas 2001 <span style="font-style:italic;">Mata yang Indah</span> (Penerbit Buku Kompas, 2000). Dalam rencana, Gus tf Sakai akan menghimpun Upit dan sejumlah cerpen realisnya yang lain dalam buku kumpulan cerpen <span style="font-style:italic;">Perempuan Lumut</span> yang diterbitkan tahun mendatang.</p>
<p>Cerpen lain adalah <span style="font-style:italic;">Lak-uk Kam</span>. Cerpen tersebut juga akan dimasukan dalam kumpulan cerpen <span style="font-style:italic;">Perempuan Lumut</span>. Cerpen <span style="font-style:italic;">Lak-uk Kam </span>(dimuat Kompas, 23 September 2007) yang masuk dalam buku Cerpen Kompas Pilihan 2007 <span style="font-style:italic;">Cinta di Atas Perahu Cadik </span>(Penerbit Buku Kompas, 2008) silam.</p>
<p>Tentang tiga cerpen bertema gay itu, Gus memaparkan sedikit alasannya. &#8220;Aku hanya ingin menulis tentang mereka, yang saat itu masih relatif jarang. Kecuali kayaknya belakangan ini, ya?&#8221;Lebih dari 110 pembaca<a href="http://www.sriti.com"> www.sriti.com</a> kami berikan survei kecil tentang cerpen bertema gay karya Gus tf Sakai. Jajak pendapat sederhana itu disambut 48 responden yang memberi jawaban. Kami memberikan tiga pertanyaan dengan lampiran tiga cerpen gay karya Gus. Sekitar lebih dari 43 persen telah mengenal dan membaca cerpen <span style="font-style:italic;">Upit</span>. Lebih dari 60 persen dari penjawab memilih cerpen <span style="font-style:italic;">Tukang Cukur</span> sebagai yang terbaik ketimbang dua cerpen lainnya. Dan sekitar 25 persen memberi jawaban tidak menyangka kalau cerpen <span style="font-style:italic;">Lak-uk Kam</span> adalah cerpen bertema gay.</p>
<p>Survei tinggalah sebuah data. Kita bisa menikmati ketiga cerpen bertema gay itu, dan menggiringnya ke arah apresiasi.</p>
<p>@SepociKopi, 2009<br /></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2009/01/06/gus-tf-sakai-apresiasi-cerpen-gay/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

