<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>SepociKopi &#187; Partnership</title>
	<atom:link href="http://sepocikopi.com/category/partnership/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sepocikopi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Feb 2012 10:52:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.3</generator>
		<item>
		<title>Berpasangan Sampai Tua</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/21/berpasangan-sampai-tua/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/21/berpasangan-sampai-tua/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Jan 2012 02:00:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Friendship]]></category>
		<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[dunia maya]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17177</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Yasmin
&#8220;&#8216;Memiliki pasangan yang tetap berpasangan sampai tua’ itulah jawaban semua lesbian, ketika ditanya apa harapan hidupnya,” kata salah seorang teman. “Tanya ke aku dong…,” pintaku. “Ya, kalau kamu, apa harapan hidupmu sebagai lesbian?” tanyanya. “Boleh nggak sebagai manusia saja, nggak usah sebut sebagai lesbian,” pintaku lagi, ngeyel.
Jawaban saya, memiliki pasangan maupun tidak, saya ingin jadi manusia yang berguna bagi orang-orang di sekitar saya.  Kalimat “memiliki pasangan maupun tidak” adalah penekanan saya terhadap penyangkalan asumsi bahwa semua lesbian mempunyai harapan itu.
Sebenarnya pembicaraan ini diawali dengan debat kami akan perlunya mempertahankan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/stock-photo-a-photo-of-two-old-women-with-their-dog-enjoying-the-sunset-6159742.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-17404" title="two-old-women-with-their-dog-enjoying-the-sunset-6159742" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/stock-photo-a-photo-of-two-old-women-with-their-dog-enjoying-the-sunset-6159742-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a>Oleh: Yasmin</p>
<p>&#8220;&#8216;Memiliki pasangan yang tetap berpasangan sampai tua’ itulah jawaban semua lesbian, ketika ditanya apa harapan hidupnya,” kata salah seorang teman. “Tanya ke aku dong…,” pintaku. “Ya, kalau kamu, apa harapan hidupmu sebagai lesbian?” tanyanya. “Boleh nggak sebagai manusia saja, nggak usah sebut sebagai lesbian,” pintaku lagi, ngeyel.</p>
<p>Jawaban saya, memiliki pasangan maupun tidak, saya ingin jadi manusia yang berguna bagi orang-orang di sekitar saya.  Kalimat “memiliki pasangan maupun tidak” adalah penekanan saya terhadap penyangkalan asumsi bahwa semua lesbian mempunyai harapan itu.</p>
<p>Sebenarnya pembicaraan ini diawali dengan debat kami akan perlunya mempertahankan hubungan dengan pasangan dengan cara-cara tertentu.  Yang disebutkan dengan cara-cara tertentu oleh teman saya tersebut adalah hubungan pertemanan dia dan pasangannya dengan teman-teman mereka sangat terarah dan terstruktur. Teman hetero banyak, tapi khusus untuk teman lesbian, perlu kehati-hatian tersendiri. Hal inilah yang saya tolak mentah-mentah. Pertama, terbayang gerak sosial teman saya itu jadi sangat terbatas.  Kedua, status saya sebenarnya adalah teman lesbiannya (bukan mereka) karena saya tidak kenal partnernya.  Jadi, kemungkinan saya harus siap-siap ditendang.</p>
<p>Alasannya, kata teman saya itu, praktek teman-makan-teman sudah bukan rahasia lagi, dan sering terjadi di kelompok lesbian. <em>What??!!</em> Tambah nggak bisa terima lagi saya dengan alasan tersebut.  Urusan teman-makan-teman memang sering terjadi di kelompok lesbian, eh ralat, di mana pun sebenarnya, bukan di kelompok lesbian saja.  Saya pun pernah mengalaminya, pasangan hetero yang menikah pun kita lihat pernah mengalaminya. Namun, bukankah selingkuh atau tidak itu tergantung orangnya? Bukankah meski tanpa akad nikah atau pemberkatan pernikahan, pasangan lesbian juga berkomitmen untuk selalu bersama, saling setia?</p>
<p>Kalau ada peraturan pembatasan pergaulan, menurut saya itu sama artinya dengan tidak ada kepercayaan satu sama lain, terjadi pembelengguan kebebasan satu sama lain, melanggar privasi seseorang dalam melaksanakan haknya sebagai mahluk sosial. Mukaku pun merah padam, menahan kesal.</p>
<p>Kita ambil contoh, <em>webzine </em>SepociKopi ini, di sinilah tempat lesbian-lesbian berkumpul. Sama-sama membaca, sama-sama menulis, sama-sama berkomentar, dan seterusnya. Apakah interaksi seperti ini juga dilarang? Teman saya bilang, “Justru di SepociKopi banyak sekali orang-orang keren yang pintar-pintar sebagai penulis maupun pembaca, inilah godaan besar buat lesbian yang perpasangan. Saya malah nggak boleh buka website SepociKopi lagi,” katanya.</p>
<p><em>Oh</em> <em>God.</em> Saya pun nyerocos. “Lho, biar pintar dan cakep, emangnya mau diapain? Kamu kan udah punya pasangan, ya jangan dong,” kataku.</p>
<p>“Prakteknya susah, Yas, itu tetap menjadi godaan buat kami, daripada terjadi apa-apa, maka saya mau saja menuruti kata-kata partner saya, dia juga nggak buka-buka SepociKopi kok,” jawabnya.</p>
<p>Benarkah? Saya tetap dengan keteguhan hati bahwa pergaulan penting buat hidup kita. Pergaulan dengan sesama lesbian juga demikian.  Alangkah sayangnya kalau SepociKopi yang brilian ini dibiarkan berlalu, tanpa pernah dikunjungi. Benarkah kita tidak bisa melakukan apa-apa untuk mempertahankan hubungan kalau elemen godaan mengguncang hati kita? Bagaimana dengan pasangan Alex dan Lakhsmi yang mengelola <em>webzine </em>ini, dan berinteraksi dengan seluruh unsur-unsurnya? Manusia memang berbeda-beda, ya?</p>
<p>Harapan memiliki pasangan sampai tua tinggal harapan kalau prakteknya harus ada pembatasan pergaulan seperti yang dianut teman saya itu. Itulah sebabnya jawaban saya di atas jadi seperti tadi, menekankan kata-kata berpasangan maupun tidak…</p>
<p>Teman saya itu dan pasangannya termasuk yang awet.  Mereka sudah bertahun-tahun perpartner, tahun ini sudah memasuki hitungan berapa belas tahun mereka bersama. Sebelum ini saya sering bertanya kepadanya, apa sih yang membuat hubungan kalian awet? Jawabannya ya gitu-gitu deh, ada kata saling setia, dan lain-lain.  Tapi rupanya ada strategi lain, batasi pergaulan satu sama lain untuk bergaul di lingkungan lesbian.  Kalau memang begitu strategi menjaga hubungan, terima kasih deh…! Mendingan saya tidak berpartner.</p>
<p>Namun, saya kan orang yang optimis, saya masih yakin akan ada partner untuk saya yang tanpa perlu batas membatasi pergaulan akan awet sampai tua. Gitu aja harapannya, kok repot.</p>
<p>Kalau harapan itu tidak terkabul? Persiapan diri secara mandiri terhadap diri sendiri kan sudah saya rencanakan dengan rapi. Investasi masa depan, asuransi kesehatan dan asuransi jiwa sudah saya persiapkan juga. Sekarang urusan hati. Ya siap-siaplah dari sekarang. Menjalin hubungan baik dengan keluarga dan teman sebanyak-banyaknya adalah termasuk persiapan itu. Tidak ada yang tahu nasib kita di masa yang akan datang. Akan sampai tuakah usia kita? Atau besok sudah dijemput maut? <em>Wallohu&#8217;alam</em>.</p>
<p>@Yasmin, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/21/berpasangan-sampai-tua/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Commitment Phobia</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2012/01/19/commitment-phobia/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2012/01/19/commitment-phobia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Jan 2012 02:00:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[masyarakat]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=17304</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Cleo Andromeda
Apakah Anda mempunyai fobia terhadap sesuatu? Pasti setiap orang mempunyai ketakutannya masing-masing, entah pada serangga, ruangan gelap, atau mungkin pada makanan tertentu. Secara umum, fobia adalah rasa ketakutan yang kuat (berlebihan) terhadap suatu benda, situasi, atau kejadian, yang ditandai dengan keinginan untuk menjauhi sesuatu yang ditakuti itu. Orang menjadi fobia terhadap sesuatu karena merasa sesuatu ini akan menyakitinya atau memiliki trauma tersendiri terhadap sesuatu ini.
Bagaimana dengan fobia terhadap komitmen? Pernahkah punya pengalaman berurusan dengan orang seperti ini? Atau mungkin Anda sendiri adalah orang dengan fobia terhadap komitmen?
Menurut Cambridge ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/phobia_by_izzyherman.jpg"><img class="size-medium wp-image-17398 alignleft" title="phobia_by_izzyherman" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2012/01/phobia_by_izzyherman-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a>Oleh: Cleo Andromeda</p>
<p>Apakah Anda mempunyai fobia terhadap sesuatu? Pasti setiap orang mempunyai ketakutannya masing-masing, entah pada serangga, ruangan gelap, atau mungkin pada makanan tertentu. Secara umum, fobia adalah rasa ketakutan yang kuat (berlebihan) terhadap suatu benda, situasi, atau kejadian, yang ditandai dengan keinginan untuk menjauhi sesuatu yang ditakuti itu. Orang menjadi fobia terhadap sesuatu karena merasa sesuatu ini akan menyakitinya atau memiliki trauma tersendiri terhadap sesuatu ini.</p>
<p>Bagaimana dengan fobia terhadap komitmen? Pernahkah punya pengalaman berurusan dengan orang seperti ini? Atau mungkin Anda sendiri adalah orang dengan fobia terhadap komitmen?</p>
<p>Menurut Cambridge Advanced Learner’s Dictionary, Anda disebut berkomitmen jika &#8220;Ketika kita mau memberikan waktu dan energi untuk sesuatu yang kita yakini, atau sebuah janji, atau sebuah keputusan bulat untuk melakukan sesuatu.&#8221; Semua orang mempunyai keterbatasan waktu dan energi, tetapi dengan berkomitmen yang baik, waktu dapat “dibuat” dan energi dapat “dikumpulkan”. Berkomitmen&#8212;entah dalam hal pekerjaan, pendidikan atau dalam sebuah hubungan&#8212;bukanlah hal yang mudah, tapi setiap orang harus belajar untuk itu.</p>
<p>Ketika komitmen dianggap sebagai sebuah pengikat, mungkin inilah yang membuat orang menjadi takut akan sebuah komitmen. Membayangkan sebuah ikatan yang akan dihadapi di depan ketika membuat komitmen itu rasanya seperti membayangkan berada di sebuah ruangan sempit dan gelap. Fiuh, nasib mengidap <em>claustrophobia</em>.</p>
<p>Suatu waktu, aku pernah berdiskusi hebat dengan teman-teman di kampus soal hubungan, soal bagaimana aku tidak mau diikat dan diatur oleh pasanganku nanti, soal bagaimana nantinya aku dan pasanganku akan mendiskusikan dan membuat standar sendiri mengenai seluruh hubungan kami. Bayangkan, aku ingin memiliki hubungan tapi tidak ingin memiliki ikatan. Tiba-tiba saja setelah diskusi itu, seorang sahabat mengajakku berbicara empat mata dan langsing menembakku &#8220;Diskusimu kemarin terdengar seperti lesbian. Takut dengan komitmen.&#8221;</p>
<p><em>Deggg!</em> Tahukah kawan, bagaimana rasanya ditembak seperti itu? Dengan gelagapan aku mencoba untuk bertanya dan memperjelas maksud pernyataannya itu.<em> Well,</em> jadi menurutnya, salah satu alasan seseorang menjadi lesbian adalah karena mereka tidak mau berkomitmen dengan laki-laki, karena laki-laki itu brengsek, karena laki-laki itu kasar dan lain sebagainya. Wahai kawan, tahukah kau bahwa perempuan pun banyak yang brengsek? Menjadi homoseksual atau heteroseksual adalah masalah hati, kenyamanan dan pengakuan, terlepas dari urusan seseorang itu fobia terhadap komitmen atau tidak.</p>
<p>Memutuskan untuk membuat komitmen adalah keputusan yang berat dan bukanlah hal yang main-main. Buatku, ketika berani berkomitmen berarti berani menghadapi resiko ke depannya, tetap setia, dan bertanggungjawab. Jika tidak suka dengan standar serius yang umum diikuti orang, maka buatlah standar serius dalam berkomitmenmu sendiri dengan pasangan. Memang susah menemukan pasangan yang bisa diajak serius berkomitmen, apalagi mengikuti komitmen seperti apa yang kamu mau. Ujung-ujungnya, karena begitu inginnya memiliki pasangan dan sedikitnya jumlah kaum lesbian, akhirnya ada yang melepas standarnya demi mendapat pasangan .Lebih baik menunggu kan daripada repot di tengah jalan karena ternyata pengertian terhadap komitmen dalam berhubungan itu berbeda?</p>
<p>Untuk menghadapi orang-orang dengan fobia terhadap komitmen ini sebenarnya gampang. Jangan pernah ‘mengikat’ mereka. Jika dari awal memulai hubungan, tidak perlulah langsung membicarakan masa depan. Sebenarnya ini salah satu hal yang paling ditakuti mereka. Bicarakan saja tentang hal-hal seru yang bisa dilakukan bersama untuk menghabiskan waktu, misalnya menghabiskan sore bersama untuk hunting matahari terbenam. Atau jangan pernah menuntutnya untuk selalu ada 24 jam sehari buat kita, selalu terhubung dengan SMS atau telepon karena dia juga pasti memiliki banyak kegiatan di luar sana. Berikan perhatian secukupnya jangan sampai membuatnya risih.</p>
<p>Selamat menaklukkan manusia yang fobia dengan komitmen!</p>
<p>@Cleo Andromeda, SepociKopi, 2012</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2012/01/19/commitment-phobia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Opera Sabun Mandi</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/10/15/opera-sabun-mandi/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/10/15/opera-sabun-mandi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Oct 2011 08:00:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=15045</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Bening
“Dik, sabun kita habiiss…” teriakan partner  terdengar melengking dari kamar mandi.
Aku yang sudah selesai mandi duluan dan sedang mengenakan pakaian, menunda menyorongkan kaus yang sudah kukeluarkan dari lemari lalu menghampiri pintu kamar mandi.
“Iya, maaf ya… pakai yang ada dulu ya, Say. Soalnya kemarin sudah ke Carefour tapi sabun kayak sabun kita lagi kosong. Ada sih merek yang sama, tapi aromanya lain. Mau coba?”
Dengan kepala memutih oleh busa shampo, partner menggeleng kuat-kuat, tanpa mengucap sepatah kata pun.
Sebut saja namanya Sabun Charming (untuk menghindari tulisan ini menjadi promosi gratis produk tersebut ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/mom-bubble-bath-de.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-15053" title="mom-bubble-bath-de" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/mom-bubble-bath-de-300x234.jpg" alt="" width="300" height="234" /></a>Oleh: Bening</p>
<p>“Dik, sabun kita habiiss…” teriakan partner  terdengar melengking dari kamar mandi.</p>
<p>Aku yang sudah selesai mandi duluan dan sedang mengenakan pakaian, menunda menyorongkan kaus yang sudah kukeluarkan dari lemari lalu menghampiri pintu kamar mandi.</p>
<p>“Iya, maaf ya… pakai yang ada dulu ya, Say. Soalnya kemarin sudah ke Carefour tapi sabun kayak sabun kita lagi kosong. Ada sih merek yang sama, tapi aromanya lain. Mau coba?”</p>
<p>Dengan kepala memutih oleh busa shampo, partner menggeleng kuat-kuat, tanpa mengucap sepatah kata pun.</p>
<p>Sebut saja namanya Sabun Charming (untuk menghindari tulisan ini menjadi promosi gratis produk tersebut hehehe). Perkenalanku dengan sabun ini hampir seusia dengan hubunganku dengan partner, tujuh tahun lebih. Namanya juga lagi jatuh cinta sama partner, aku juga jatuh cinta dengan aroma sabun yang menempel di tubuhnya.  Berhubung saat itu kami masih LDR, setiba di kotaku aku bertekad untuk mencari sabun tersebut. Kupikir inilah salah satu cara mengobati kerinduanku padanya, dengan membawa aromanya selalu dekat dengan tubuhku. Sayang, meski sudah menyusuri setiap mal dan supermarket, aku gagal menemukannya. Dan pada pertemuan berikutnya, dengan malu-malu aku mengaku pada partner bahwa aku ingin membawa pulang sabun yang ada di kamar mandinya. Ha ha ha.</p>
<p>Partner sendiri cerita sudah setia memakai sabun ini hampir empat belas (14) tahun! Dan sekali pun tidak pernah berganti.</p>
<p>Kadang-kadang, kesetiaan membawa “masalah”. Urusan sabun ini salah satunya.  Meski bukan sabun mahal, sayangnya sabun yang kami gunakan bukan produk Unil*v*r yang mudah didapatkan. Bahkan di supermarket besar semacam Hypermart dan Carefour pun sering kosong. Kami pernah memborong sampai lima botol ukuran 500 ml saking senangnya menemukan kemasan besar (yang tentu lebih murah dari kemasan kecil). Kesetiaannya ini membuatku selalu “waspada”, supaya tidak sampai kehabisan. Tapi kalau memang lagi nggak ada, gimana dong? Repot, kan?</p>
<p>“Dik, tolong ambilin handuk,” pinta partner, sambil menggigil di atas keset di depan pintu kamar mandi.</p>
<p>Aku bergegas menyodorkan handuk kering. Dan seperti biasa aku selalu menyempatkan mengecup pipinya yang basah, menghirup dalam-dalam aroma yang menguar dari tubuhnya. Paduan wangi  shampo, pasta gigi, sabun badan dan sabun muka yang segar. Tapi seperti ada yang kurang…</p>
<p>“Tadi pakai sabun yang mana, Say?” selidikku. Karena aku menyediakan dua pilihan. Sabun cair di botol kecil (hadiah dari sabun wajah) dan sabun aromaterapi, oleh-oleh temanku dari Bali.</p>
<p>“Nggak pakai sabun. Shampo aja.”</p>
<p>“Hah? Lho… kan ada sabun yang udah adik siapin.”</p>
<p>“He he he. Kirain itu sabun tangan.”</p>
<p>Gubrakkss!</p>
<p>***</p>
<p>Saat belanja bahan makanan di Foodhall, aku sempatkan mengecek sabun tercinta kami. Seperti dugaanku, tetap tidak ada. Aku putuskan memilih salah satu sabun yang kurasa beraroma oke, paduan <em>Bergamot</em>, <em>Grapefruit</em> dan<em> Orange Flower.</em> Kupastikan juga sabun ini lembut di kulit. Aku makin mantap ketika membaca tulisan di labelnya, “<em>Illuminate your sense and soften your skin</em>”. Pasti mantap dong?</p>
<p>“Say, sabun kita di Foodhall nggak ada. Belum nemu. Pakai yang ini dulu ya. Warnanya sama-sama kuning. Aromanya juga mirip. Enak lho wanginya…” Aku mengeluarkan sabun dari kantong belanja dan menunjukkanya ke partner. Harus begitu. Harus ditunjukin. Harus dijelasin. Jangan sampai besok dia nggak sabunan lagi dengan alasan mengira sabun yang kubeli itu sabun untuk cuci piring.</p>
<p>Dengan lirikan sekilas dan tanpa komentar apa pun, partner mengangguk dan kembali asik dengan <em>game</em>-nya.</p>
<p>Aku menarik napas lega. Aman! Huff… mungkin minggu depan atau minggu depannya lagi aku bisa mengajak partner ke Carefour yang lebih besar. Atau ke Carefour lain. Pokoknya nyari deh sampai dapat.</p>
<p>***</p>
<p>Keesokan hari, menjelang tidur…</p>
<p>“Dik…”</p>
<p>“Hm…”</p>
<p>“Udah bobo?”</p>
<p>“Hampir.”</p>
<p>“Sabun baru kita kok kayaknya bikin kulit kering ya?”</p>
<p><em>*Sigh*</em></p>
<p>Dasar kampret item sayap bodong! Baru jadi sabun aja udah bohong. Mana janjinya <em>illuminate your sense? </em>Auk ah, gelap! Lalu, <em>soften your skin</em>… <em>Soften</em> apaan? <em>Soften</em> dari Hongkong! Bikin bete aja ih.</p>
<p>Tapi benar-benar kamar kami sudah gelap. Ini memang waktunya tidur. Lalu kenapa mau tidur begini partner ngomongin sabun sih?! Arrgghhh…</p>
<p>“Iya. Iya. Besok pulang kerja adik <em>cari sampai dapat</em>. Sekarang bobo ya.”</p>
<p>Sudahlah. Harusnya aku tau, ini bukan sekedar urusan sabun.  Sabun adalah  <em>sabun</em> <em>yang</em> <em>biasa dia pakai</em>. Bukan sabun yang lain. Meskipun ada produsen sabun yang memberikan garansi uang kembali bila sabunnya tidak mampu melembutkan kulit selembut sutera dan lembab serta halus seperti pantat bayi, sepertinya partner tetap nggak beralih.</p>
<p>Sekarang aku hanya minta bantuan doa dari seluruh warga Republik SepociKopi, semoga pabrik sabun itu nggak gulung tikar. Sebab kalau sampai itu terjadi, ada kemungkinan partner akan menyuruhku menelepon ke kantor DPR dan minta supaya pabrik itu buka tikar lagi.</p>
<p>P.S. Kira-kira, ada nggak sih hubungan setia sama sabun dengan kesetiaan pada pasangan?</p>
<p>@Bening, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/10/15/opera-sabun-mandi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sahabat Terbaik dan SepociKopi</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/10/11/sahabat-terbaik-dan-sepocikopi/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/10/11/sahabat-terbaik-dan-sepocikopi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Oct 2011 09:27:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=15287</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Krisha
Siapakah diantara kita yang memiliki sahabat? Saya yakin banyak yang mengacungkan jari telunjuk ke udara, sebagaimana halnya saya sendiri. Namun berapa banyak yang memiliki sahabat yang mengetahui identitas seksualmu yang sesungguhnya? Jumlah tangan yang teracung pastilah menurun drastis, tapi lihat tanganku masih teracung.
Saya yakin banyak diantara teman–teman telah memiliki definisi tentang sahabat &#8211; sebagai seseorang yang akan selalu berada di samping kita, baik dalam keadaan sehat, senang, gemah rimpah loh jinawi, maupun dalam keadaan yang aneh, gila, tragis dan menyedihkan. Tapi pertanyaaan terpentingnya adalah apakah seseorang akan bertahan setelah ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/you-will-always-be-my-best-friend.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-15289" title="you-will-always-be-my-best-friend" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/you-will-always-be-my-best-friend-254x300.jpg" alt="" width="203" height="240" /></a>Oleh: Krisha</p>
<p>Siapakah diantara kita yang memiliki sahabat? Saya yakin banyak yang mengacungkan jari telunjuk ke udara, sebagaimana halnya saya sendiri. Namun berapa banyak yang memiliki sahabat yang mengetahui identitas seksualmu yang sesungguhnya? Jumlah tangan yang teracung pastilah menurun drastis, tapi lihat tanganku masih teracung.</p>
<p><span id="more-15287"></span>Saya yakin banyak diantara teman–teman telah memiliki definisi tentang sahabat &#8211; sebagai seseorang yang akan selalu berada di samping kita, baik dalam keadaan sehat, senang, <em>gemah rimpah loh jinawi</em>, maupun dalam keadaan yang aneh, gila, tragis dan menyedihkan. Tapi pertanyaaan terpentingnya adalah apakah seseorang akan bertahan setelah dia tahu kamu adalah seseorang yang berbeda?</p>
<p>Sebagai seseorang yang benar-benar <em>zero </em>tentang hal–hal yang berbau lesbian, sejak awal masa pubertas saya telah merasakan hal yang berbeda pada diri saya. Saat teman sebaya mulai melirik lawan jenis kenapa saya malah melirik cewek cantik? Dalam melewatkan masa pubertas, saya mengenal beberapa teman–teman yang “unik” dan memiliki kesamaan tingkah laku: bengong dan melongo menatap perempuan cantik dan tanpa ragu membagikan cerita tentang cewek yang ditaksir, tentang tetangga yang aduhai manis dan berbotol–botol gosip segar tentang guru matematika yang seksi abis.</p>
<p>Beberapa teman dekat saya memilih jalan yang berbeda untuk mengaktualisasikan diri mereka. Ada yang memilih <em>coming out </em>pada keluarganya di usia belia, 14 tahun, dan dengan hebohnya memacari anak tetangga seberang kompleks. Dia menimbulkan prahara dalam kehidupan bertetangga yang sebelumnya harmonis. Ayahanda sang perempuan mendatangi rumahnya dan mengalungkan golok di lehernya. Sungguh suatu keberuntungan sang Ayah masih bisa menahan emosinya.</p>
<p>Teman saya yang lain meskipun memutuskan untuk tidak <em>coming out</em> benar–benar tidak mengindahkan nasehat orang tuanya dan lari dari rumah setelah pemilik hotel tempatnya bekerja mendatangi rumahnya. Ternyata dia meracuni keponakan pemilik hotel setelah cintanya ditolak.</p>
<p>Saya sendiri selamat dengan kondisi kritis, meskipun meninggalkan rumah setelah lulus SMA untuk kuliah dengan nilai baik. Tapi bukan berarti saya tidak pernah nyaris terperosok ke dalam lubang kesalahan yang sama. Sama sekali bukan kebanggaan saya! Kebanggaan terbesar saya adalah memiliki seorang sahabat dan kakak, yang hingga saat ini masih saya miliki dan berharap persahabatan kami akan terus abadi.</p>
<p>Sahabat dan “kakak” saya ini adalah saudara seperguruan saya, sekaligus pengayom dan penyelamat saya ketika saya dicengkram masa pubertas yang penuh pemberontakan menguasai diri. Sebagai seorang yang berwajah tidak terlalu jelek dan mempunyai prestasi gemilang di bidang olahraga, bukan hal yang sulit untuk mendapatkan pengagum sesama perempuan. Ketika hal–hal yang saya lakukan sudah nyaris kelewat batas, kakak saya ini akan menegur saya.</p>
<p>Suatu saat, ketika bertanding di luar pulau, kakak saya mengingatkan untuk tidak melakukan hal–hal yang terlalu mencolok untuk dipertontonkan. Bagaimana pun, orang–orang akan mengamati kamu, jelasnya saat itu. Tentu saja, darah muda saya bergolak mendapat teguran seperti itu dan kami nyaris tidak berbicara beberapa hari. Sepulang dari pertandingan itu, kakak saya mengajak saya mengunjungi seorang sahabatnya di masa lalu, yang ternyata sepasang Lesbian.</p>
<p>Mereka menerima kami dengan senang hati dan mereka membicarakan masa keemasan mereka ketika masih menjadi atlet. Ada satu percakapan yang membekas di hati saya hingga kini, yaitu ketika sahabat kakak saya bertanya tanpa tadeng aling–aling: <em>are you lesbian? </em> Saya tidak berkata apa-apa, tapi mereka yakin saya lesbian.</p>
<p>Ketika itu dia berujar kepada saya: “Kalau kamu adalah seorang Lesbian, jangan pikirkan masa sekarang, tapi pikirkanlah yang akan terjadi esok, lusa dan di masa yang akan datang. Jika kamu bertingkah laku yang menarik perhatian dan membuat orang mencerca orientasi seksualmu, apa yang akan kamu lakukan? Jangan pernah berpikir kamu adalah seseorang yang gagal karena orientasi seksual yang berbeda, tapi pikirkanlah bagaimana perbedaan ini menjadikanmu &#8216;seseorang&#8217;. Janganlah dipandang sebagai pecundang! Berhati–hatilah dalam bersikap karena kamu mempertaruhkan banyak hal dalam perjalanan hidupmu, keluargamu, dan orang–orang yang kamu cintai. Suatu saat kamu akan paham.”</p>
<p>Ketika saya telah meninggalkan bangku sekolah dan dua kali bangku kuliah, saya merenungkan kata–kata ini tepat setelah saya membaca sebuah artikel dari penulis SepociKopi &#8211; Tya Andriani, bahwa <a href="http://sepocikopi.com/2011/09/15/menjadi-lesbian-tidak-gampang/">Menjadi Lesbian Tidak Gampang</a>, tapi juga tidak sulit (<a href="http://sepocikopi.com/2011/09/29/te-lez-kop-menjadi-lesbian-itu-menyenangkan/">Menjadi Lesbian Itu Menyenangkan</a>) ketika kita mendapat bimbingan dari orang–orang di sekitar kita. Dalam pendapat pribadi saya, SepociKopi adalah situs &#8216;sesuatu&#8217; untuk para lesbian (pada umumnya) dan lesbian muda (pada khususnya) saat sedang kesulitan untuk mengendalikan gejolak jiwa yang melanda.</p>
<p>SepociKopi menawarkan untuk mencintai diri sebagai seorang lesbian dan tetapi bisa berbagi kepada sesama. Seperti yang terjadi pada diri saya di waktu lalu sehingga saya tetap bisa menjaga diri berada pada jalur, juga seperti yang kakak saya dan sahabatnya lakukan berpuluh tahun yang lalu.</p>
<p><em>Bravo,</em> Sepoci Kopi! <em>I adore you&#8230;.</em></p>
<p>@Krisha, SepociKopi, 2011</p>
<p><strong>Tentang Krisha:</strong><br />
Seseorang yang bersyukur dapat melewati masa – masa aneh dan mengerikan dalam hidup dengan ditemani para sahabat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/10/11/sahabat-terbaik-dan-sepocikopi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rumah Untuk Hatiku</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/10/08/rumah-untuk-hatiku-2/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/10/08/rumah-untuk-hatiku-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Oct 2011 08:33:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Memory]]></category>
		<category><![CDATA[Partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Life]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[mantan]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[pergerakan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=15178</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Violet
Terdengar sedikit egois?  Mungkin ya, dan mungkin juga tidak. Tapi siapa sih yang tidak mau memiliki rumah untuk hatinya? Tempat di mana kita menemukan kenyamanan, kehangatan, kepercayaan, keamanan, cinta, dan kasih sayang.
Rumah bukan melulu hanya soal kemesraan, keromantisan tapi juga soal bersatunya dua prinsip yang berbeda. Pertengkaran, ketidaksukaan, rasa cemburu, protes, dan hal lainnya adalah pelengkap dalam sebuah rumah. Karena sebuah rumah yang hanya berisi mengenai kemesraan sama tidak sehatnya dengan rumah yang hanya berisi soal pertengkaran.
Usiaku dua puluh lima tahun dan hidupku masih belum settle benar. Kecintaanku ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/home2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-15197" title="home2" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/10/home2-300x296.jpg" alt="" width="240" height="237" /></a>Oleh: Violet</p>
<p>Terdengar sedikit egois?  Mungkin ya, dan mungkin juga tidak. Tapi siapa sih yang tidak mau memiliki rumah untuk hatinya? Tempat di mana kita menemukan kenyamanan, kehangatan, kepercayaan, keamanan, cinta, dan kasih sayang.</p>
<p><span id="more-15178"></span>Rumah bukan melulu hanya soal kemesraan, keromantisan tapi juga soal bersatunya dua prinsip yang berbeda. Pertengkaran, ketidaksukaan, rasa cemburu, protes, dan hal lainnya adalah pelengkap dalam sebuah rumah. Karena sebuah rumah yang hanya berisi mengenai kemesraan sama tidak sehatnya dengan rumah yang hanya berisi soal pertengkaran.</p>
<p>Usiaku dua puluh lima tahun dan hidupku masih belum <em>settle </em>benar. Kecintaanku pada perempuan dan bisnis nyaris sama besar dan aku hanya ingin mencari rumah untuk hatiku. Aku bukan tipe gadis berhati besar atau yang berlapang dada. Kuanggap diriku pintar dan sisanya cuma orang-orang berbicara omong-kosong.</p>
<p>Banyak perempuan keluar masuk dalam kehidupanku. Menurutku itu sebuah kamuflase yang luar biasa; mereka datang, mereka terperangkap, dan mereka pergi. Siklus hidup yang membosankan. Lantas kapan rumah yang kumimpikan akan tiba?</p>
<p>Di usiaku 23 tahun, datang Is, si seksi yang membuatku penasaran. Sekuat tenaga kurayu dia, kureguk kegadisannya. Tidak ingin kusia-siakan pengabdiannya, aku hanya ingin menjadikan Is rumah untuk hatiku. Kukatakan padanya bahwa aku akan belajar untuk mencintai dia. Tapi apa daya rasa hati yang dipaksakan? Kepalaku penuh dengan rasa tanggung jawab atas kegadisannya.  Rumah yang kubangun bersama Is tidak memiliki pondasi yang kuat.</p>
<p>Dua tahun rumah mungil untuk hatiku terasa bagai neraka, hanya panas yang membara, banyak sudut kosong yang terbengkalai di dalamnya.  Aku dan Is, aku tenggelam dalam kesibukan.  Rumah yang kubina bersama Is akhirnya terbakar ketika aku bersandang ke rumah seseorang perempuan dewasa cantik dengan tiga orang buah hati yang luar biasa.</p>
<p>Semula aku hanya iseng mengetuknya, tidak pernah menyangka perempuan itu &#8211; Liy &#8211; akan membiarkanku masuk dan melangkah. Rumah modern yang berbau pelitur mahal, kaku tapi cukup nyaman.  Rumahnya tidak sehangat rumahku bersama Is, tapi menyenangkan. Aku mencintai furnitur mewahnya, aku mencintai ketiga anaknya. Aku bisa berlama-lama di sana, menonton TV dan merasa puas dengan senyum di wajah cantiknya, menelan bulat-bulat status menjadi simpanannya</p>
<p>Semakin lama aku semakin tidak sanggup membina rumah bersama Is, selalu saja terbakar oleh api cemburu, kemarahan dan kebencian. Kami saling menyakiti, tidak ada jalan keluar. Apa ini rumah yang kuinginkan untuk hatiku?  Is melangkah pergi dari rumah kami yang sudah hancur luluh lantak. Sudah tidak ada lagi tempat untuk dia berlindung. Aku tidak mengejarnya, hanya membiarkannya pergi.</p>
<p>Kembali aku berjalan dari satu rumah ke rumah yang lain, singgah untuk sekedar mencari kenikmatan dan kemudian pergi. Mengetuk rumah Liy, bersandar, tertawa, marah dan tertidur di dalamnya. Tetap saja sudut gelap yang berantakan itu tidak tersentuh, kuncinya pun tidak pernah kudapat. Seperti berjalan dalam imajinasi saja hidup di rumah bersama Liy, entah apa yang kucari.  Hingga akhirnya aku ucapkan ‘Selamat Tinggal’ juga.  Rumah modern mewah itu bukan yang kucari, meski aku tidak pernah merasa kekurangan apa pun.</p>
<p>Kembali aku berjalan, terus mencari rumah untuk hatiku. Kemudian langkahku terhenti.  Rumah berdinding bata merah, dengan sebuah <em>gazebo </em>mungil berdiri di depanku tiba-tiba. Entah dari mana asalnya rumah itu. Aroma rumah itu begitu familier, furniturnya tidak mewah tapi juga tidak sederhana. Bernuansa <em>victorian</em> modern, setiap sudut rumahnya memiliki penerangan yang cukup, tertata rapi dan sangat nyaman.</p>
<p>Jantungku berdetak hebat, kupejamkan mata dan kudengar suara anak-anakku bermain di dalam rumah ini. Aroma kopi yang semerbak bercampur dengan harum roti dan sedikit anggur merah yang semarak. Majalah-majalah berantakan di depan sebuah TV Flat 42”, tampak perabot dari kayu dan lantai marmer, halaman belakang yang luas, dapur yang menyenangkan. Ini..  …rumah yang kucari selama ini.</p>
<p>Tapi hei, rumah ini ada pemiliknya. Oh <em>well</em>, aku tadi seenaknya melangkah masuk karena terpesona dengan keindahannya. Tapi pemilik rumah ini tidak pantas sama sekali, akulah yang seharusnya menjadi pemilik rumah indah ini. Aku yang akan merawatnya dan yang akan mengisi rumah ini dengan kehangatan. Aku yang akan memilikinya sebab aku menginginkan rumah ini.</p>
<p>@Violet, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/10/08/rumah-untuk-hatiku-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mulutmu Doamu</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/09/20/mulutmu-doamu/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/09/20/mulutmu-doamu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Sep 2011 07:02:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bumbu Rahasia]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14844</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ade Rain
Subuh, terlambat bangun. Semua kulakukan terburu-buru. Mandi seadanya. Memakai baju gamis ditutup dengan mukena putih berlurik bordiran bunga dan motif uget-uget. Sekarang siap menuju ke mesjid. Saat keluar lift, di lobi hotel Movenpick terlihat serombongan lebah, eh maaf&#8230; serombongan jamaah Indonesia yang baru tiba.  Suara mereka riuh seperti sekumpulan kokon, isinya ratu-ratu lebah penyengat. Cerewet dan mencemaskan barang-barang mereka. Ah, jika di lift tadi aku menicum bebauannya parfum khas Arab yang bisa dibeli di pertokoan jalan menuju mesjid, di lobi ini, aku mencium bau parfum Paris.
Cahaya lampu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/grand_mosque_window_inside.09061124001COQOQ.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14845" title="grand_mosque_window,_inside.09061124001COQOQ" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/grand_mosque_window_inside.09061124001COQOQ-225x300.jpg" alt="" width="225" height="300" /></a>Oleh: Ade Rain</p>
<p>Subuh, terlambat bangun. Semua kulakukan terburu-buru. Mandi seadanya. Memakai baju gamis ditutup dengan mukena putih berlurik bordiran bunga dan motif uget-uget. Sekarang siap menuju ke mesjid. Saat keluar lift, di lobi hotel Movenpick terlihat serombongan lebah, eh maaf&#8230; serombongan jamaah Indonesia yang baru tiba.  Suara mereka riuh seperti sekumpulan kokon, isinya ratu-ratu lebah penyengat. Cerewet dan mencemaskan barang-barang mereka. Ah, jika di lift tadi aku menicum bebauannya parfum khas Arab yang bisa dibeli di pertokoan jalan menuju mesjid, di lobi ini, aku mencium bau parfum Paris.</p>
<p><span id="more-14844"></span>Cahaya lampu terang benderang. Sulit menemukan bintang di tengah bias sinar yang memenjar di sepanjang gedung pencakar langit. Tidak  heran, jika waktu salat Subuh pukul lima pagi, orang-orang sudah berada di mesjid pukul tiga pagi. Jam berapa mereka tidur ya? Itu pertanyaan pertama yang terlintas di benakku ketika di hari pertama tiba di Madinah, dan merasa sudah paling cepat bergegas ke mesjid pukul empat dini hari.</p>
<p>:Indonesia! Siti Rahmah! Siti Rahmah, Murah! Murah!&#8221; Para penjual Arab laki-laki bersuara lantang memanggil-manggil jamaah Indonesia yang ditandai dari kerudung dan mukanya yang selalu tersenyum manis. Beberapa perempuan bercadar menjajakan selendang tepatnya sejenis jilbab khas Arab di lantai pertokoan, berusaha memikat pembeli menunjuk-nunjuk ke dagangannya. Pedagang-pedagang ini pasti kaya raya karena sudah berdagang sejak dini hari.</p>
<p>Gejolak ekonomi memang dasyat di tempat ini. Kurma, jam tangan, kopiah, sandal India, parfum non alkohol berbau sangat Arab, baju muslim, payung, teko, permadani Turki, dan beragam mainan anak-anak mejeng keren seolah memaksa mata melirik. Dengan pejuangan yang hebat, akhirnya aku tiba di latar mesjid, sukses tanpa membeli apa pun. Tidak juga serenteng kurma muda kesukaanku. Di pintu masuk, para Askar Perempuan (polisi) memeriksa tasku. Mereka tidak memperbolehkan kamera dan segala bentuknya. Hape dan kamera juga haram. Seantero tas diperiksa, kecuali…</p>
<p>Aturan pertama tidak boleh membawa kamera di dalam tas. Jadi, tidak salah kalau aku menyelipkan kamera digitalku di dalam kaus kaki, tepatnya sejajar betis. Kriminal! Aku sudah terlalu banyak menonton film laga aksi. Masa kamera saja tidak sanggup kuselundupkan ke dalam mesjid? Dibanding Mekah, sebenarnya para Askar di Madinah lebih galak dan sangat ketat. Mereka juga memperhatikan gerak-gerik kita. Kameraku lolos.</p>
<p>Ruangan mesjid terasa sejuk dan sangat nyaman. Aku duduk di antara selasar tinggi menghadap ke sebuah deretan dispenser berisi Zamzam. Menunggu salat dimulai, aku duduk memerhati jemaah yang ada di sekitarku. Di sebelahku kebanyakan orangtua. Arah jam satu, tampak sekumpulan perempuan dari Indonesia. Tentunya dari grup tour yang tidak kukenal. Usai salat Subuh, kelompok ini sama denganku, tak membubarkan diri namun sibuk membaca Quran. Saat itulah aku mempergunakan kesempatan menjepretkan kameraku tadi dengan cara sembunyi-sembunyi. <em>Klik! Klik!</em></p>
<p>&#8220;Mbak, mbak dari Indonesia? Fotoin kami bisa? Nanti kirimi lewat email kalau sudah di Indonesia. Kami bayar juga nggak apa-apa.” Sebuah suara datang dari belakangku. Ternyata dua perempuan muda yang berasal dari kelompok arah jam satu tadi. Mau copot jantungku. Kupikir para Askar! Demi unta-unta yang bau, jangan harap kamera kembali kalau disita!</p>
<p>&#8220;Eh gimana motretnya ya? Saya juga diam-diam nih ambil gambar suasana mesjid,&#8221; kataku pucat.</p>
<p>Setelah mengajariku dengan licik, mereka akan duduk di antara jamaah. Aku harus mengambil foto mereka dan suasana di sekitarnya. Memang unik gambar-gambar di dalam mesjid tersebut. Saf rapi di antara para Arab yang memakai jubah dan beragam baju muslim yang unik.</p>
<p>&#8220;<em>Love</em>, sini? Dekat aku.&#8221; Perempuan muda ini memanggil perempuan yang berdiri di sampingku. <em>Love</em>? Kupingku menangkap kata <em>love </em>dengan sangat bermakna. <em>Love</em>, katanya?  Perempuan satunya bersikap genit-manja, menarik lengan perempuan di sebelahnya. Halah! Sejak momen itu kurasakan cinta mereka begitu bersinar. Rasanya risih. Aku merasa perlu memakai kaca mata hitam.</p>
<p>&#8220;Eh kufoto dua kali aja ya, Mbak. Saya takut ketahuan nih.&#8221; Mereka berdua mengangguk. Ah pose itu! Mereka duduk berdampingan yang satunya memeluk mushaf Quran di dada. Satunya lagi merangkul dari punggung. Pose lesbi banget. Sepersepuluh juta detik setiap lesbian yang melihat akan tahu apa yang mengikat mereka berdua. Aku menyeringai norak usai menjepret. Seorang Askar mendekati kami. Tiga dua, satu! Bikin jantung jatuh pokoknya. Askar hanya melewati kami sambil mengatur duduk jemaah lain yang menghalangi jalan. Piuh!</p>
<p>&#8220;Udah ya Mbak. Saya mau salat Duha,&#8221; kataku terbata ketakutan. Kameraku sudah berisi jepretan berharga sejak kemarin. Takkan kuikhlaskan jika disita Askar hanya gara-gara dua lesbian yang dimabuk asmara. Setelah menuliskan nama, email, dan nomor telepon, aku meninggalkan mereka.</p>
<p>“Mbak, mbaaak, nanti pulang bareng yuk! Kami di hotel Movenpick. Mbak di mana? Kami lewat pintu lima belas. Di sana ada pedagang yang menjual suvenir khas Mesir. Unik banget!&#8221; Apa? Movenpick? Souvenir Mesir?</p>
<p>&#8220;Saya di sini aja, Mbak.&#8221;</p>
<p>Si perempuan genit tadi menarik tanganku, &#8220;Kami traktir ya, kalau buka puasa nanti.&#8221;</p>
<p>Hah? Aku mulai berpikir-pikir apakah auraku lesbian juga terasa, sampai ia memaksaku bareng. Aku tersenyum lebar. &#8220;Mbak, udahan ya, saya ditunggu suami saya di luar.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, maaf kupikir mbak belum nikah loh. Abis keliahatan gaya kayak anak muda.&#8221;</p>
<p>Suami? Suami kataku? Tentu saja itu omong kosong. Aku akhirnya keluar dari mesjid sambil beristighfar. Aku sudah tak peduli dengan pernak-pernik Mesir, sajadah rajutan Turki, atau apalah. Ampun ya Allah, aku memang lesbian, tapi aku nggak mau ketahuan sebagai lesbian, dan aku nggak mau bohong lagi.</p>
<p>@Ade Rain, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/09/20/mulutmu-doamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Nikmatnya Mengasihi</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/09/10/nikmatnya-mengasihi/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/09/10/nikmatnya-mengasihi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Sep 2011 12:08:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Personal Life]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[mantan]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Relationship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14615</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Bening
“Dik, aa mau ngomong sesuatu,” ucap partner dengan nada yang agak mencurigakan. “Tapi jangan marah ya,” lanjutnya agak takut-takut.
Aku mengangguk dan tidak mampu menahan jantung yang mendadak dag-dig-dug. Lintasan pertanyaan dan kecurigaan menghambur. Aku yakin dan percaya, partner bukan jenis orang yang macam-macam. Tapi dia juga bukan tipe orang yang suka menyembunyikan sesuatu kalau tanpa alasan apa-apa. Bahkan ketika keluarganya meminjam mobil untuk berlibur, partner meminta izinku terlebih dahulu. Wah, jangan-jangan…
“Begini, Dik… Kemarin, waktu Aa jalan-jalan lebaran itu, ada Mba Kin.”
“Hah!” Aku terlonjak kaget. Satu sisi lega karena itu ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/i__ll_be_sincere_for_you_by_sereneimmorality.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14616" title="i__ll_be_sincere_for_you_by_sereneimmorality" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/i__ll_be_sincere_for_you_by_sereneimmorality-221x300.jpg" alt="" width="221" height="300" /></a>Oleh: Bening</p>
<p>“Dik, aa mau ngomong sesuatu,” ucap partner dengan nada yang agak mencurigakan. “Tapi jangan marah ya,” lanjutnya agak takut-takut.</p>
<p>Aku mengangguk dan tidak mampu menahan jantung yang mendadak dag-dig-dug. Lintasan pertanyaan dan kecurigaan menghambur. Aku yakin dan percaya, partner bukan jenis orang yang macam-macam. Tapi dia juga bukan tipe orang yang suka menyembunyikan sesuatu kalau tanpa alasan apa-apa. Bahkan ketika keluarganya meminjam mobil untuk berlibur, partner meminta izinku terlebih dahulu. Wah, jangan-jangan…</p>
<p>“Begini, Dik… Kemarin, waktu Aa jalan-jalan lebaran itu, ada Mba Kin.”</p>
<p>“Hah!” Aku terlonjak kaget. Satu sisi lega karena itu artinya ini tidak berkaitan dengan si roda empat kesayangan kami. Tapi tak juga bisa kutahan, mataku melotot mencari kebenaran dalam ucapan partner sambil memutar kembali ingatan pada hari yang disebutkan. “Bukannya hari itu pas aku sakit?!” todongku, sedikit mencoba sedikit mendramatisir. Masa aku lagi sakit dia malah ketemuan sama mantan pacarnya?! Diam-diam lagi.</p>
<p><span id="more-14615"></span>Ter-la-lu!</p>
<p>“Iya, adik sakit siangnya. Malamnya Aa ketemu Kin.”</p>
<p>Sesaat aku terdiam. Mencoba membaca perasaanku. Cemburukah? Kesalkah? Marahkah?</p>
<p>Tidak ada.</p>
<p>Yang ada hanya diliputi perasaan tidak enak. Aku mengenal Mba Kin, tidak sekadar dari semua cerita partner yang berulang-ulang hingga hafal dalam kepalaku, tetapi karena sudah beberapa kali aku bertemu langsung, ngobrol, dan melihat semua sikapnya pada partner. Benar dia perempuan yang baik, seperti yang selalu diungkapkan oleh partner. Tapi berurusan dengannya, pasti selalu mengandung unsur yang terang-terangan “memanfaatkan” partner baik secara materi atau jasa. Minimal urusan antar jemput. Ah… mengapa aku jadi begitu berburuk sangka. Belum tentu, kan? Lagi pula kalau partnerku melakukannya dengan suka cita, tentu tidak ada salahnya, kan? Aku kembali fokus mendengarkan cerita partner.</p>
<p>“Malam itu Kin ngajak ketemuan, Dik. Katanya dia sama anaknya. Mau sekalian makan malam. Tapi tahu, nggak? Ternyata saat Aa jemput, dia ngajak rombongan. Ada kali, enam orang anggota keluarganya yang diajak. Nggak cuma itu, semua makannya kayak orang kelaparan.  Lalu dia juga minta diajak jalan-jalan ke Puncak. Aa sudah wanti-wanti nggak mau kalau dia ngajak banyak orang, bahkan sampai  tegas-tegas bilang, tiket masuk obyek wisata yang dituju itu cukup mahal. Dia sih iya-iya saja. Tapi kenyataannya, keesokan hari pas dijemput, kembali dia menyertakan rombongannya. Gimana nggak bikin bete. Alasannya, keluarganya belum pada pernah ke sana. Nggak sekalian aja tuh, orang sekampung diajak semua!” Aa terkekeh sambil melanjutkan penuturan dan semua detailnya.</p>
<p>Air mataku mulai menggenang. Sedih, karena dugaanku ternyata benar. Sedih karena Mba Kin tidak pernah berubah, meski berbilang tahun. Sedih karena Aa tidak pernah jera. Sedih karena kasih sayang dan perhatian Aa pada Mba Kin tidak pernah berarti, kecuali hanya keuntungan materi. Sejujurnya, aku tidak merasa keberatan bila partner ingin melakukan apa pun untuk Mba Kin, perempuan yang pernah menempati ruang khusus di hatinya. Tapi bila Mba Kin memanfaatkan itu untuk yang lain, dan mengutamakan kepentingan keluarganya dan tidak menimbang sedikit pun perasaan Aa, itu yang membuatku merasa nyeri.</p>
<p>Aa meremas jemariku, menyeka pipiku yang mulai basah. Mengungkapkan permintaan maaf.</p>
<p>“Aa hanya ingin menyayangi dia seperti keluarga, Dik. Tapi ya, mau bagaimana lagi ya. Begitulah dia. Malah setelah urusan jalan-jalan itu selesai, dia masih meminta Aa mengantarkannya ke rumah keluarganya yang lumayan jauh. Dan Aa sudah berani menolak kok. Apalagi karena harus pulang sendirian. Tapi kayanya dia memang nggak peduli urusan Aa harus pulang sendirian, tengah malam pula. Lalu, sehari sebelum Kin pulang, dia minta tolong Aa menemani dia <em>shopping</em>. Ini juga Aa tolak mentah-mentah. Langsung saja Aa bilang nggak suka <em>shopping</em>. Bukan apa-apa sih, Aa sudah ingat, kalau dia dia minta ditemani <em>shopping </em>itu artinya <em>shoppingo</em>nya dari dompet Aa. Hehehe.”</p>
<p>Aku menghela napas, dan memutuskan hanya jadi pendengar yang baik saja sambil sesekali mengangguk  mengetujui tindakannya.</p>
<p>“Dik, setelah Kin pulang ke kotanya, Aa kembali menelepon dia. Menyampaikan hal yang sudah lama pengin Aa sampaikan.”</p>
<p>“Urusan apa lagi sih, A?” sergahku dengan nada suara agak tinggi.</p>
<p>“Hm…., tentang keinginan Aa untuk memiliki komunikasi yang baik dengan dia. Bagaimanapun kami seiman, layak untuk saling mendoakan. Aa juga minta supaya yang lalu biar berlalu.  Tidak ingin apa-apa, kecuali mengasihinya layaknya saudara sendiri. Itu saja. Boleh kan, Dik?”</p>
<p>Sampai di sini tanggul penahan air mataku runtuh.  Seperti runtuhnya segala teori tentang  cara menghadapi keberadaan mantan pacar sang partner. Sulit memang memahami cara kerja rasa cinta dan kasih sayang dalam hidup kita, sama sulitnya bagiku untuk mengerti bagaimana Aa masih tetap mengasihi orang semenyebalkan Mba Kin itu. Tapi bagaimana lagi, rasa sebal kalah oleh rasa belas kasih. Persis seperti orang yang kapok makan cabai saat tersengat rasa pedasnya, namun kembali tergoda oleh sensasi nikmatnya.</p>
<p>Ya, mengasihi memang nikmat.  Menyayangi juga. Terlebih bila dilakukan dengan tulus, tanpa tendensi apa-apa. Tanpa inginkan balasan apa pun. Bahkan tak peduli yang dikasihi akan menghargai dengan nilai yang setimpal atau tidak.</p>
<p>Aa kembali menyeka wajahku, sambil menunggu jawaban pertanyaannya tadi. Ah, mampukah aku menolak permintaan itu?</p>
<p>Aku menggenggam jemari partner, lalu mengangguk, “Dengan satu syarat,” tegasku, “Aa harus tahu kapan harus menolak. Dan Ning tidak akan membatasi apa pun, semua Ning percayakan sama Aa untuk tahu dan mampu membatasinya sendiri.”</p>
<p>Partner tersenyum lebar sambil mengangkat jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf “V” di dekat telinga.</p>
<p>Dan seketika aku tidak merasakan apa-apa, kecuali kenikmatan mencintai, menyayangi dan mengasihinya.</p>
<p>@Bening, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/09/10/nikmatnya-mengasihi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pintu Nomor Tujuh</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/09/07/pintu-nomor-tujuh/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/09/07/pintu-nomor-tujuh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Sep 2011 09:47:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Relationship]]></category>
		<category><![CDATA[Sepocikopiana]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[seksualitas]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14558</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Ade Rain
Ini seperti salat hari raya di tanah lapang. Untung masih gelap. Halaman mesjid masih sejuk. Salat seperti ini alas kaki harus ditaruh di dekat tempat kita duduk. Untung saja aku membawa plastik. Sandal kumasukkan ke dalamnya. Di sampingku seorang ibu Arab, memberi kode apakah aku masih memiliki kantong lagi.
Begitu aku berdiri di barisan jamaah, imam sudah mulai rakaat pertama. Suara jamaah pria bergema mengucapkan kata amin dengan serentak. Sebenarnya aku masih belum begitu terlambat, meskipun tidak sempat melakukan salat tambahan sebelum Subuh. Yang jadi masalah jemaah-jemaah lain datang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/veil.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14559" title="veil" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/veil-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Oleh: Ade Rain</p>
<p>Ini seperti salat hari raya di tanah lapang. Untung masih gelap. Halaman mesjid masih sejuk. Salat seperti ini alas kaki harus ditaruh di dekat tempat kita duduk. Untung saja aku membawa plastik. Sandal kumasukkan ke dalamnya. Di sampingku seorang ibu Arab, memberi kode apakah aku masih memiliki kantong lagi.</p>
<p><span id="more-14558"></span>Begitu aku berdiri di barisan jamaah, imam sudah mulai rakaat pertama. Suara jamaah pria bergema mengucapkan kata amin dengan serentak. Sebenarnya aku masih belum begitu terlambat, meskipun tidak sempat melakukan salat tambahan sebelum Subuh. Yang jadi masalah jemaah-jemaah lain datang terlalu cepat, mereka beruntung sempat masuk ke dalam mesjid.</p>
<p><!--more--></p>
<p>Setelah  membaca beberapa lembar Quran, aku bergegas menuju Makam Nabi Muhammad di Raudah. Tentu saja aku bukan satu-satunya yang akan ke sana. Rombongan beriringan dengan nama-nama tur yang membawa mereka berbaris berkelompok. Askar perempuan (polisi) yang menjaga setiap sudut mesjid mengatur jemaah agar tidak berdesak-desakan. Aduh, penuhnya! Pagi itu luar biasa yang akan menjenguk Nabi. Melihat itu aku sudah enggan melanjutkan ke antrean.</p>
<p>Namun tiba-tiba sebuah tangan halus menarikku di antara gerombolan. Wajah perempuan itu tak terlihat, bercadar, yang kuingat badannya sebesar tubuhku, dan sepasang bola mata memandang hangat, serta bau parfum Arab yang sedap. Ia menggenggam  tanganku, memastikan dengan cara mengangguk bahwa  ia tahu jalan yang cepat. Benar saja, ia seolah pemecah kerumunan, selalu ada celah di antara kaki-kaki para pengantre, dan tiba-tiba saja kami sudah berada tepat di makam Nabi.</p>
<p>Ia melepas tangannya dari tanganku, lalu salat. Aku pun salat di sampingnya. Sebenarnya agak kurang khusyuk. Oya, jika terlalu lama di sana, para askar atau polisi perempuan yang berjaga-jaga akan segera mengusir, karena antrean sangat banyak, sementara waktu yang diberikan untuk ratusan kaum perempuan ke tempat tersebut hanya dua jam saja. Kalau ingin berkunjung lagi bisa dilakukan usai Zuhur dan tentu saja harus mengantre lagi. Jika aku tidak memanfaatkan waktu itu sebaik-baiknya untuk berdoa dan menyapa Nabi, maka akan sia-sialah kesempatan itu.</p>
<p>Beidewei, tahu apa yang membuatku tidak khusyuk? Pertama karena aku lesbian, sentuhan perempuan tadi halus dan lembut. Baunya menyegarkan. Kebaikan dari seorang perempuan mudah membekas di hati lesbian, bener nggak? Selagi mencoba berkosentrasi, kuingat sentuhannya yang benar-benar hangat dan halus itu. Aduh, terasa batallah wudhuku jika lebih lama menyesap sentuhan tadi.</p>
<p>Akhirnya setelah dzikir, aku sukses berdoa khusyuk di makam Rasul. Ini, itu, itu ini. Ah, panjangnya doaku! Jarang-jarang ada kesempatan bertamu ke Makam Rasul, kiriman salam sepupu dan saudara kusebut satu-satu. Belum sempat semua terbaca, askar yang berdiri di dekatku menepuk pundak, mengingatkanku bahwa waktu sudah habis. Aku melirik ke arah perempuan tadi, ia juga baru selesai berdoa. Ia melihat ke arahku menunjukkan jalan yang lain. Sekali lagi, ia menarik tanganku dengan lembut menuntun ke sebuah pintu keluar yang berbeda. Perasaanku campur aduk. Beberapa kali aku sengaja melepas tangannya dari tanganku. Namun kemudian ia menarik tanganku lagi, di satukan rapat dengan jarinya. Kami keluar di pintu bernomor 7.</p>
<p>Di tempat yang agak lega, kunikmati matanya, suaranya, bentuk tubuhnya yang tertutup jubah. Ia berbahasa Arab fasih. Aku membuka tanganku ke arah langit seolah berdoa, bahuku ikut terangkat naik turun. Maaf wahai Perempuan, aku tidak mengerti. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih dan <em>thank you</em>. Kata yang terakhir adalah bahasa universal, kuharap ia cukup bergaul sehingga mengerti bahwa <em>thank you </em>adalah haturan rasa utang budiku padanya.</p>
<p>Ia kemudian memegang dua tanganku seolah seseorang yang tak rela melepas kekasihnya. “Zuhur?” Ia menunjuk pada pintu dengan angka 7 lalu jari telunjuknya menunjuk ke tempat kami berdiri. Aku mengangguk tanda setuju. Ah, kedipan bulu matanya! Hatiku berkecamuk. Ia mengusap tubuhku, pada  lengan yang masih dibungkus mukena. Tapi terasa kehangatan itu menjalar-jalar di sekitar situ. Kesepakatan bisu itu pun berakhir, ia melambai. Kutatapi punggungnya perlahan menghilang di kejauahan.</p>
<p>Jelang Zuhur kutepati janjiku, perempuan itu tidak tampak di bawah nomor tujuh. Kuperhatikan setiap perempuan yang memakai gamis dan cadar. Detik demi detik hingga azan Zuhur. Tak satu pun yang menghampiriku. Jika ada yang mirip dia, perempuan itu tidak mengenalku.</p>
<p>Barangkali ia hanya malaikat yang menyamar. Bisa jadi ia juga lupa nomor pintu tempat janji pertemuan kami karena ia lebih terpana melihat wajahku. Atau dia tersesat dan terlambat  menemukan pintu itu lagi, sementara aku tak mungkin menunggunya lebih lama. Azan Zuhur mulai berkumandang aku harus masuk ke dalam. Tidak seperti Subuh tadi, siang hari salat di halaman mesjid Madinah sama saja dengan menjemur ikan asin, program ganti kulit, atau pembuatan sarden homo sapiens.</p>
<p>Untuk terakhir kali kulihat angka tujuh di atas kepala. Di bawahnya hanya ada aku dan orang-orang yang bergegas lewat menuju pintu masuk ke dalam mesjid Nabawi. Akhirnya aku putuskan mulai bergerak masuk mengikuti mereka. Namun tiba-tiba sebuah tangan halus memegang lenganku. Rasa sentuhannya sama seperti waktu itu. Sebuah wajah yang ditutup kain hitam, matanya mengecil menandakan senyuman. Sekeliling kelopaknya berkeringat. Ia memasukkan jari jemarinya ke dalam jemariku, menggiring tubuhku masuk mesjid. Aku menarik napas dalam-dalam, mengucap namaNya berkali-kali.</p>
<p>Akhirnya kami berdiri berdampingan, tiada berkata apapun, tenang mendengar aba-aba imam. Doaku makbul, seketika aku tidak lagi berhasrat apa-apa padanya. Yang tersisa hanya rasa persahabatan dan kasih sayang. Kurasa ia cobaan buatku. Tuhan menguji imanku. Sesaat sebelum bacaan Takbiratul Ihram sempat kusyukuri diriku yang akhirnya mampu menakhlukkan diriku sendiri.</p>
<p>@Ade Rain, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/09/07/pintu-nomor-tujuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Siapa Berani Tinggal Bersama Pasangan?</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/09/06/siapa-berani-tinggal-bersama-pasangan/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/09/06/siapa-berani-tinggal-bersama-pasangan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Sep 2011 06:19:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Gaya Hidup]]></category>
		<category><![CDATA[Partnership]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>
		<category><![CDATA[inspirasi]]></category>
		<category><![CDATA[mantan]]></category>
		<category><![CDATA[partnership]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>
		<category><![CDATA[tanyajawab]]></category>
		<category><![CDATA[urban]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14530</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: IndieX
Tinggal bareng. Mungkin itu keinginan beberapa dari kita untuk tinggal bareng dengan pasangan kita. Yang ada di bayangan pasangan yang belum pernah tinggal bareng pasti semua kebaikan-kebaikannya. Kalau keburukan-keburukannya pasti ketahuan saat dijalani. Atau mungkin juga sudah mendengar dari beberapa teman yang berpengalaman.
Kebetulan aku sudah pernah merasakan tinggal bareng dengan beberapa pacarku dulu, tapi tidak di Indonesia. Sebenarnya apa sih suka dukanya tinggal bareng dengan pasangan sejenis? Inilah pengalamanku. Sebelum ngomongin enak dan nggak enaknya tinggal bersama pasangan, mending aku bagi dulu beberapa tipe housemate.
1. Tipe Loyal
Tipe ini bukan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/living-together.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14531" title="living-together" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/09/living-together-300x217.jpg" alt="" width="300" height="217" /></a>Oleh: IndieX</p>
<p>Tinggal bareng. Mungkin itu keinginan beberapa dari kita untuk tinggal bareng dengan pasangan kita. Yang ada di bayangan pasangan yang belum pernah tinggal bareng pasti semua kebaikan-kebaikannya. Kalau keburukan-keburukannya pasti ketahuan saat dijalani. Atau mungkin juga sudah mendengar dari beberapa teman yang berpengalaman.</p>
<p>Kebetulan aku sudah pernah merasakan tinggal bareng dengan beberapa pacarku dulu, tapi tidak di Indonesia. Sebenarnya apa sih suka dukanya tinggal bareng dengan pasangan sejenis? Inilah pengalamanku. Sebelum ngomongin enak dan nggak enaknya tinggal bersama pasangan, mending aku bagi dulu beberapa tipe <em>housemate</em>.</p>
<p><span id="more-14530"></span><strong>1. Tipe Loyal</strong></p>
<p>Tipe ini bukan tipe pelit dan perhitungan. Dia mau mengeluarkan biaya untuk membayar tagihan dan biaya sewa apartemen/rumah/kamar kos. Bahkan untuk kebutuhan sehari-hari, dia mau membeli segala sesuatu. Paling enak punya pasangan seperti ini. Jadi kita bisa <em>save money for fun</em>.</p>
<p><strong>2. Tipe Perhitungan</strong></p>
<p>Tipe ini sebenarnya bukan pelit, tapi perhitungan. Semua tagihan dan biaya dikalkulasikan, diteliti, lalu dibagi dua. Untuk kebutuhan sehari-hari, biasanya beli sendiri-sendiri. Jadi tidak merugikan kedua belah pihak. Punya pasangan seperti ini antara enak dan tidak enak. Enaknya sih dia selalu <em>fair</em>. Istilahnya kita bayar apa yang kita makan. Tapi tidak enaknya adalah, pacaran macam apa begitu? Seperti tidak ada kesatuan dan kebersamaan.</p>
<p><strong>3. Tipe Sok Nggak Punya Duit</strong></p>
<p>Tipe ini sebenernya tidak miskin atau tidak punya uang, tapi males banget mengeluarkan uang. Tiap kali mau bayar, pasti bilangnya belum ambil duit di ATM. Sukanya minta tolong dibeliin tapi tak pernah mengganti uang pembelian itu. Nanti giliran di restoran, makannya lama. Saat gilirannya membayar, dia pergi ke toilet. Paling malas punya pasangan seperti ini. Bukannya kita perhitungan tapi tau diri dong. Awal-awal sih tidak bermasalah karena pasti lagi sangat cinta, tapi lama-lama, pasti muak deh.</p>
<p><strong>4. Tipe Parasit</strong></p>
<p>Nah, tipe inilah yang harus kita hindari. Mereka hanya memanfaatkan untuk dapat menikmati fasilitas yang kita punya. Tidak bekerja, tidak ada penghasilan. Kadang tidak sekolah. Hidupnya hanya bergantung pada siapa pasangannya saat itu. Biasanya orang yang bisa hidup dengan tipe seperti ini adalah orang yang memiliki ekonomi mapan dan cinta mati sama pasangannya. Kalau tidak, maaf saja, orang jenis ini mau sama pasangannya karena duit. Hati-hati sama parasit seperti ini. Biasanya mereka <em>drama queen </em>banget. Kalo diputusin, mereka mengancam akan bunuh diri. Mereka akan melakukan segala cara agar tetap bisa &#8220;menumpang hidup&#8221;.</p>
<p>Yang terakhir&#8230; Jreng jreng jreng!</p>
<p><strong>5. Tipe Pasangan Idaman</strong></p>
<p>Tipe ini mengetahui hak dan tanggung jawabnya. Dia tahu kapan harus mengeluarkan uang, bersikap adil, dan yang mana yang harus dibagi berdua. Enak sekali punya pasangan seperti ini. Kita tidak menjadi parasit dan tidak diperah.</p>
<p>Sebenarnya, semua tipe di atas takkan ada artinya kalau kita cinta mati sama pasangan. Tapi ya sekali lagi, makan tuh cinta! Kita harus tetap rasional dalam menyikapi hidup bersama berdasarkan cinta kan? Nah, berikut ini hal-hal yang mungkin harus diperhatikan kalau mau tinggal bersama pasangan:</p>
<p><strong>1. <em>Privacy</em></strong></p>
<p>Karena tinggal bareng, ada beberapa hal pribadi yang mau nggak mau harus kamu bagi dengan pasanganmu. Memang untuk beberapa hal tidak masalah kalau pasangan tau, tapi ada beberapa hal yang lebih baik dipertahankan untuk diri sendiri. Meskipun tinggal bareng, lebih asyik loh kalau kita masih punya &#8220;ruang&#8221; pribadi di dalam rumah masing-masing.</p>
<p><strong>2. Kehidupan seksual</strong></p>
<p>Hal satu ini pasti yang paling menarik dari tinggal bersama. Ada dua hal yang bisa terjadi di sini, yaitu kesatu, kehidupan seks akan menjadi hebat, namun kedua, seperti mata pisau lainnya, kehidupan seks bisa menjadi sangat membosankan. Pada awal tinggal bareng, bukan hal yang aneh kalau setiap hari melakukan hubungan seksual. Setelah beberapa bulan, bahkan hitungan tahun (kalau bisa mencapai angka dua digit), kita sudah kehabisan gaya, tempat, dan enerji. Sudah pasti intensitas akan sangat berkurang. Jadi, seharusnya aktivitas seks diatur dari awal. Terlalu menggebu-gebu bisa mengakibatkan kebosanan setelah beberapa saat.</p>
<p>Untuk mendapatkan penyegaran seksual, carilah kamar hotel atau berliburlah bersama di luar kota. Kegiatan-kegiatan seperti ini bisa memicu semangat dan gairah lagi. Tapi, berlibur tentu saja butuh uang dan waktu, tidak bisa cuma uang atau waktu saja<em>. I believe sex is communication, two ways.</em> Tidak ada salahnya bernegoisasi dengan pasangan untuk mengatur intensitas, posisi, tempat, dan pernik-pernik lainnya.</p>
<p><strong>3. Pengaturan Waktu<br />
</strong></p>
<p>Jika tinggal bareng, hidup sering berkutat di sekitar kita berdua. Kuantitas dan kualitas waktu dengan keluarga, teman, atau kolega menjadi menurun. Hindari hal-hal seperti ini. Selain kehidupan cinta, kita pasti juga mau punya kehidupan pertemanan yang sehat di luar sana. Untuk pasangan yang bekerja misalnya. Karena terbatasnya waktu, tidak sedikit pasangan yang menuntut agar <em>weekend </em>dihabiskan berdua saja. <em>Please </em>deh, dunia kan tidak selebar kamar kos saja. Berbaurlah dengan dunia luar. Jangan batasi pasangan bertemu dengan teman-temannya. Intinya adalah kepercayaan. Sejauh-jauh merpati terbang, pasti akan balik ke sarang <img src='http://sepocikopi.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /><br />
<strong><br />
4. Kebiasaan buruk</strong></p>
<p>Kebiasaan buruk akan terpampang dengan lebarnya. Seperti misalnya pasangan yang ternyata hobi kentut, suka dengerin musik keras-keras. Ada lagi yang selalu lupa nge-<em>flush </em>toilet, atau yang paling males bersih-bersih. Lainnya, suka buang sampah sembarangan, perokok, jarang mandi, gila dengan hobinya.  Bernegosiasilah dengan itu semua.</p>
<p>***</p>
<p>Sebenarnya masih banyak lagi hal yang harus dibicarakan, seperti sejauh apa keterbukaan status kita di depan teman-teman dan keluarga, dan lain sebagainya. Bagaimana kita mengatasinya bersama adalah yang paling penting. Kalau harus berpisah karena sesuatu hal, kenangan selama tinggal bareng itu akan jadi kenangan yang manis. Canda tawa di tempat tidur, masak bareng di dapur, bersih-bersih rumah, dan lain-lain.</p>
<p>Sampai sekarang, meski sudah tidak berhubungan dengan mantan-mantanku lagi, tapi setiap kali mengingat kenangan-kenangan itu, aku pasti tersenyum. Dalam hidup, ada perjumpaan dan perpisahan. Penuhi hidup yang terjadi sekarang dengan nikmat keindahan. <em>No regret, as always.</em></p>
<p>@IndieX, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/09/06/siapa-berani-tinggal-bersama-pasangan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jeweran Tuhan Buat Si Andro Bandel</title>
		<link>http://sepocikopi.com/2011/08/13/jeweran-tuhan-buat-si-andro-bandel/</link>
		<comments>http://sepocikopi.com/2011/08/13/jeweran-tuhan-buat-si-andro-bandel/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Aug 2011 15:32:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Redaksi Sepocikopi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Humaniora]]></category>
		<category><![CDATA[Partnership]]></category>
		<category><![CDATA[Spiritualisme]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[kesetiaan]]></category>
		<category><![CDATA[renungan]]></category>
		<category><![CDATA[tubuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sepocikopi.com/?p=14275</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Deni Melisa
Ada satu hal yang masih menjadi misteri hingga saat ini. AADM, Ada-Apa-Dengan-Mel? Aku merasa bahwa Tuhan sangat menyayanginya, Tuhan tidak pernah membiarkannya disakiti sedikit pun dan selalu membela Mel kapan pun ia membutuhkan pembelaan. Simaklah beberapa kisah nyata dalam kehidupan kami.
Kisah pertama…
Suatu pagi saat mengantarkan Mel ke kantornya, aku dan Mel sarapan di sebuah kedai seafood di dekat kantornya. Saat memilih tempat duduk, sebenarnya aku sudah menyadari bahwa ada salah satu bagian kursi yang patah, tapi aku tetap menduduki kursi itu karena logikaku berkata bahwa kursi tersebut masih ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/08/Adentist2.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-14280" title="Adentist" src="http://sepocikopi.com/wp-content/uploads/2011/08/Adentist2-300x253.jpg" alt="" width="328" height="277" /></a>Oleh: Deni Melisa</p>
<p>Ada satu hal yang masih menjadi misteri hingga saat ini. AADM, Ada-Apa-Dengan-Mel? Aku merasa bahwa Tuhan sangat menyayanginya, Tuhan tidak pernah membiarkannya disakiti sedikit pun dan selalu membela Mel kapan pun ia membutuhkan pembelaan. Simaklah beberapa kisah nyata dalam kehidupan kami.</p>
<p>Kisah pertama…</p>
<p>Suatu pagi saat mengantarkan Mel ke kantornya, aku dan Mel sarapan di sebuah kedai <em>seafood</em> di dekat kantornya. Saat memilih tempat duduk, sebenarnya aku sudah menyadari bahwa ada salah satu bagian kursi yang patah, tapi aku tetap menduduki kursi itu karena logikaku berkata bahwa kursi tersebut masih cukup kuat untuk menyangga bobot tubuhku yang tidak terlalu besar.</p>
<p>Setelah beberapa menit menikmati sarapan, tibalah aku dan Mel pada perdebatan yang membuatnya merasa kesal dengan sikap dan cara pandangku. Keras kepalaku membuat Mel jengah dan akhirnya memutuskan untuk meninggalkanku dan berjalan menuju ke kantornya. Namun baru beberapa langkah Mel meninggalkanku, kekesalannya seperti menjadi kutukan, tiba-tiba bangku yang kududuki terbelah menjadi dua! Sialnya, saat aku jatuh bangku itu malah terbelah lagi menjadi empat bagian. Spontan kejadian ini mengundang gelak tawa orang-orang di kedai. Aku buru-buru bangkit dan berjalan cepat keluar kedai. Bukan hanya karena malu pada pengunjung yang lain, tapi juga karena takut disuruh mengganti bangku yang patah. Mel yang melihat kejadian itu cekikikan sendiri memandangiku. Sejak saat itu aku tidak pernah mau kembali ke kedai itu. Tuh kan, Tuhan sayang banget kan sama Mel?</p>
<p>Kisah kedua…</p>
<p>Lain hari, di atas motor aku marah-marah sama Mel gara-gara dia telat membangunkanku, padahal pagi ini aku ada janji bisnis penting dengan seseorang. Masih dengan perasaan marahl, aku menurunkan Mel di seberang kantornya. Di tepi jalan itu Mel mencoba membujuk untuk meluluhkanku, tapi aku sudah kepalang kesal. Jadi aku buru-buru memacu motorku meninggalkan Mel. Tapi, sekali lagi Tuhan menunjukkan pembelaannya pada Mel, baru sepuluh meter saja motorku melaju meninggalkannya, tiba-tiba polisi menghadang motorku. Aku kena tilang karena lupa menyalakan lampu motor.  Dari jauh, kulihat Mel terbahak-bahak menertawakan kejadian ini. Asyyem!!!</p>
<p>Nah, ini kisah ketiga&#8230;</p>
<p>Kisah yang membuatku tersiksa berminggu-minggu, kisah yang berhasil menurunkan bobot tubuhku berkilo-kilo, kisah yang membuat mataku sembab karena menangis bermalam-malam, kisah yang membuatku nyaris gila.</p>
<p>Semua berawal saat aku memulai <em>living together</em> dengan Mel. Latar belakang hidupku yang sembrawut dan tidak teratur membuatku harus beradaptasi gila-gilaan dengan gaya hidup Mel yang tertib, bersih dan teratur. Awal-awal tinggal bersama Mel sering banget mengungkapkan empat kalimat andalan:</p>
<p>1.       &#8220;Kalau kamu nggak mandi, aku nggak mau dicium kamu.&#8221;</p>
<p>2.       &#8220;Kalau tidur tuh pake baju tidur, dong. Kan baju kamu kotor. Kalau nggak pake baju tidur nggak boleh peluk aku, ya.&#8221;</p>
<p>3.       &#8220;Kalau nggak cuci kaki, kamu nggak boleh tidur sama aku, ya.&#8221;</p>
<p>4.      &#8220;Kalau kamu nggak gosok gigi sebelum tidur, besok pagi aku nggak mau bikinin kamu sarapan.&#8221;</p>
<p>Tapi lama kelamaan kalimat-kalimat itu mulai menghilang dari peredaran. Bukan karena aku menurut hingga nggak perlu diingatkan kembali, tapi lantaran Mel sudah bosan menasehati andro kepala batu seperti aku. Pernah saking kesalnya, Mel pernah melontarkan kalimat yang melukai perasaanku yang terdalam, begini kalimatnya: “Kenapa ya, aku baru ketemu andro-andro keren setelah aku jadian sama kamu? Aku sudah kepalang tanggung sekarang. Khilaf aku jadian sama kamu. Mau di-retur, aku juga bingung mau retur kamu kemana? Hikh!”</p>
<p>Coba bayangkan teman-teman seantero SepociKopi! Bagaimana perasaan kalian kalau pacar yang kalian cintai mengungkapkan kalimat yang menyakitkan itu? Hikh! Pasti kalian akan merasakan duka nestapa yang teramat sangat. Iya, kan? Iya, dong?</p>
<p>Tapi, sebenarnya inti kisah ketiga bukan itu.</p>
<p>Begini&#8230;, lantaran aku nggak <em>nurut </em>sama nasehat Mel supaya hidup bersih dan selalu sikat gigi sebelum tidur, beberapa minggu lalu gigi  gerahamku yang memang sudah bolong, mendadak kumat lantaran aku gemes mengigit tulang ayam yang jelas-jelas keras. Setelah sakitnya reda karena nekat meminum <em>painkiller </em>dosis tinggi ( aku benar-benar nggak tahan sakitnya), beberapa hari kemudian aku datang ke dokter gigi.</p>
<p>Melihat kondisi gigiku, dokter menyarankanku untuk menambal gigi tersebut yang langsung aku setujui. Dokter mengetuk dan menusuk sana sini untuk memastikan bahwa tidak ada rasa sakit dan bisa dilakukan penambalan. Rupanya pengaruh <em>painkiller </em>yang barusan kuminum membuatku tidak bisa merasakan sakit. Jadi setelah tanya ini itu, dan kuawab asal-asalan yang penting segera selesai, akhirnya dokter memutuskan melakukan penambalan gigi segera. Tapi, tanpa kuduga ternyata tambalan dalam kondisi gigi yang sakit membuat gigiku infeksi. Pipiku membengkak dan menimbulkan rasa sakit yang gila-gilaan. Aku memutuskan untuk kembali ke dokter beberapa hari kemudian.</p>
<p>Melihat kondisiku yang memilukan, dokter memutuskan untuk melakukan perawatan akar gigi. Tapi sumpah demi apa pun! prosesnya menyiksaku habis-habisan. Sakitnya bukan hanya di gigi, gusi dan ke kepala, tapi juga merambat ke dompet. Sepulang dari dokter gigi, aku mengalami sakit hati melihat tagihannya!</p>
<p>Berminggu-minggu hidupku bergantung pada <em>painkiller</em> yang membuat otakku jadi makin bego. Hampir tiap tengah malam aku terbangun dan mengerang kesakitan saat<em> painkiller</em> andalanku sudah habis khasiatnya. Aku jadi mudah kesal, marah dan emosi. Pernah suatu hari saat sakitnya mencapai puncak dan beberapa <em>painkiller </em>yang kuminum  tidak mampu lagi meredakan rasa sakit, aku berubah menjadi seperti monster, seperti orang yang kesetanan. Sakit gigi  yang sudah menjalar ke telinga dan sendi-sendi tulangku, nyaris mencuri semua kesadaranku. Aku memukul semua barang-barang yang bisa kujangkau, bahkan aku nekat mengkarate motorku sendiri yang imbasnya sukses membuat tanganku bengkak. Sungguh tindakan konyol itu aku lakukan di luar kesadaranku. Dan hal yang paling memalukan adalah saat aku menangis meraung-raung selama perjalanan menuju rumah sakit seperti orang gila. Padahal selama ini, aku termasuk perempuan yang kuat menahan sakit. Bayangkan, saat tulang kakiku patah, pergelangan kakiku robek dan harus dijahit lima belas jahitan tanpa bius, aku sama sekali tidak menangis. Tapi untuk urusan sakit gigi kali ini, aku menyerah! Ini adalah sakit gigi yang paling mengerikan yang pernah aku alami.</p>
<p>Imbasnya, orang yang paling menderita adalah Mel. Bermalam-malam dia tak bisa tidur, berusaha memeluk dan menenangkanku yang mengerang kesakitan. Berkali-kali dia menjadi sasaran amarahku karena menahan sakit. Berkali-kali dia ikut menangis karena tak tega melihat kesakitanku. Bahkan saat sakit mencapai puncaknya, aku sama sekali tak mau disentuh oleh siapa pun, termasul Mel. Aku tahu selama aku sakit , Mel sangat tersiksa secara fisik maupun psikis. Aku tahu, selama sakit aku banyak berbuat dosa padanya. Bukan saja dosa karena tidak mendengar nasehatnya, tapi juga dosa karena membuatnya tersiksa.</p>
<p>Saat itu aku sadar, Tuhan sangat sayang sama Mel. DIA sedang membela Mel atas kelakukanku yang tak mau menuruti nasehat baik Mel. Dan, saat aku meminta maaf pada Mel, hal yang paling menyentuh perasaanku adalah saat dia bilang, “Tanpa tantangan, kesetiaan dan cinta kita nggak akan teruji, kan? Cuma pesanku lain kali kalau marah jangan karate motor dong. Dodol banget sih. Kayak jagoan aja. Hahaha.”</p>
<p>Aku tidak tahu harus memberi pesan moral apa pada tulisan ini. Sebab jujur saja, sampai detik ini aku masih ngerasa bego akibat kebanyakan menenggak<em> painkiller. </em> Tapi yang jelas kejadian ini menyadarkanku untuk selalu menghargai Mel sebagai partner yang dianugerahkan Tuhan untukku. Karena  Tuhan tidak suka pada orang yang menyakiti hati partnernya. Betul nggak, ya? Hahahaha…</p>
<p>@Deni Melisa, SepociKopi, 2011</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sepocikopi.com/2011/08/13/jeweran-tuhan-buat-si-andro-bandel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

