Articles in the Opini Category
Opini, Sepocikopiana »
Oleh: Carmen
“How can you be so sure of yourself?” kata Sopak. Temanku ini gelagatnya seperti bersiap-siap mau interview. Dan ditanya pertanyaan yang multitafsir dan bikin ge-er itu, aku jadi merapikan dudukku.
“Maksudnya apa nih, yang mana?” tanyaku. Sopak menjelaskan panjang lebar; hingga akhirnya aku berkesimpulan bahwa ia menanyakan alasan mengapa aku memilih jalan hidupku sebagai aku (yang lesbian, dan percaya diri). Tentang perasaan sebagai pendosa, misalnya. Kata Sopak, selayaknya aku pernah merasa sebagai pendosa karena mencintai perempuan padahal aku sendiri perempuan. Sempat sih memang dulu aku bingung, bukan karena mencintai perempuan, …
Humaniora, Opini »
Oleh: Ade Rain
Akhirnya aku duduk paling belakang nggak jauh dari meja makanan dan minuman yang sudah tertata rapi. Lima belas menit sebelum break pertama usai, aku masih tepat waktu sesuai jadwal yang dijanjikan. Pola duduk membentuk huruf U membuat mata cukup luas memandang tamu. Aku menemukan seorang andro duduk di depan. Nggak lama waktu istirahat itu pun tiba, ia menuju ke arahku. Buru-buru aku memperbaiki pose, seolah sedang menunggu pangeran melintas, eh putri ding. Dia bukan mau menyapa, tapi mengarah ke meja penuh penganan tadi.
Beruntunglah para andro, diciptakan Tuhan tengah-tengah. …
Humaniora, Opini »
Oleh: Alex
Pernah nggak kamu ketemu orang yang tiap kali kamu ajak ngobrol yang keluar ada keluhan? Mulai dari keluhan kecil sampai keluhan besar. Mulai dari kutil di jempolnya, pekerjaannya yang banyak masalah, hidupnya yang membosankan, dan ayah, ibu, atau pasangan yang menyebalkan. Seakan hidupnya itu begitu malang dan hanya kau yang bisa menyelamatkannya dengan mendengarkannya. Tapi apa pun saran yang kauberikan padanya, dia akan mengamininya, lalu beberapa lama kemudian kembali dengan curhat yang sama dalam versi berbeda. Dia juga menjelaskan bahwa saranmu itu tidak bisa diterapkan karena… “Begini lho, nggak …
Humaniora, Opini »
Oleh: Arie Gere
Harusnya kata ‘’lesbian’’ tidak termasuk dalam pengklasifikasian rasisme dalam sebuah kebudayaan. Seperti kulit putih, hitam, mata sipit, alis lebar. Makna lesbian tidak boleh jatuh kepada pengkotak-kotakan manusia. Tapi sedihnya, lesbian sendiri yang mengkotak-kotakkannya, membuatnya menjadi tertutup, ekskusif, dan hanya kalangan tertentu saja.
Kita tahu si X adalah lesbian atau si A adalah lesbian. Sudahlah, kita sama-sama tahu, nggak usah ribut di belakang layar. Lingkaran pertemanan lesbian memang itu-itu saja. Padahal komunitas lesbian sendiri telah tercipta lumayan besar. Lihat seja sekeliling, banyak lesbian di mana-mana. Tapi sayangnya, lesbian memang …
Humaniora, Opini »
Oleh: Sky
Do you like men? Hayo, mau jawab apa? Mungkin pertanyaan itu cukup aneh, terutama jika dilontarkan di sebuah webzine lesbian seperti SepociKopi ini. Ketika mengetikkan pertanyaan itu, saya bahkan sudah dapat membayangkan beberapa pembaca memberikan komentar seperti, “Yah, kalo gue suka, gue gak bakal jadi lesbian, kan?!”
Namun, pertanyaan itu mungkin memang perlu kita renungkan, setidaknya untuk beberapa lama. Saya tidak mempertanyakan ketertarikan seksual lesbian terhadap lelaki. Poin yang saya pertanyakan adalah apakah kita menyukai mereka, entah sebagai saudara, sahabat, rekan kerja, atau pun sekedar orang asing yang kita lihat …
Humaniora, Opini »
Oleh: Lakhsmi
Sejarah membuktikan bahwa dunia dikendalikan oleh banyak perempuan besar dan hebat di zamannya. Perempuan-perempuan ini memiliki kekuatan/pengaruh luar biasa yang akhirnya mengubah sejarah, menciptakan era baru, dan melakukan reformasi besar-besaran. Banyak dari perempuan-perempuan itu ternyata lesbian; kolom Noktah Merah SepociKopi sudah memberikan beberapa sosok lesbian di masa lalu (yang sudah terang-terangan coming out atau masih in the closet karena keadaan) pantas diacungi jempol karena keperkasaan dan keberaniannya.
Mulai dari kalender Sebelum Masehi: Hatshephut (Mesir), Theodora (Byzantium), Amalasuntha (Goth), Suiko (Jepang), Olga (Rusia), Elizabeth 1 (Inggris), Isabela (Spanyol), Cixi atau Tz’u-Shi …
Humaniora, Opini »
Oleh: Lakhsmi
Setiap dari kita akan sampai pada satu titik di kehidupan untuk bertanya, “Apakah pahlawan itu?” Kita punya hari pahlawan kok. Pada hari itu, kita merayakan upacara bendera di lapangan, lalu mengheningkan cipta untuk memikirkan jasa-jasa para pahlawan yang sudah tiada demi kemerdekaan negeri. Apakah gelar pahlawan hanya dimiliki oleh segelintir orang yang sudah mati karena mengusir penjajahan?
Kata “pahlawan” belakangan ini menjadi hot sejak Gus Dur meninggal di akhir tahun kemarin. Berbondong-bondong orang mengajukan wacana agar Gus Dur dijadikan pahlawan nasional. Berlomba-lomba orang memberikan berbagai kisah-kisah kepahlawanan Gus Dur semasa …
Humaniora, Opini »
Oleh: Sky
Mendadak saya teringat akan sebuah acara talkshow yang dibawakan oleh Anjasmara. Pada salah satu episode acara tersebut, tampil seorang perempuan yang mengaku tidak jadi dinikahi oleh tunangannya karena menurut gosip yang beredar, adik laki-laki dari perempuan tersebut adalah seorang gay. Si tunangan tidak ingin memiliki anggota keluarga dengan orientasi seksual yang “menyimpang”. Kedua hal tersebut kemudian membuat saya bertanya-tanya: sebenarnya, seberapa besar, sih, kaitan antara gen atau hubungan kekeluargaan terhadap orientasi seksual seseorang?
Humaniora, Opini »
Oleh: Rafilus Olenka
Bagi kamu para pegiat chatting dan conference, via apa saja, sesekali coba deh kamu perhatikan pilihan-pilihan kata yang digunakan kawan ngobrolmu. Sedikit teliti, pasti akan menemukan beberapa faktu unik (cenderung menggelikan) seputar gaya bahasa yang dipakai dan kaitannya dengan label lesbian yang diakuinya.
Setiap kali chat dengan seorang lesbian yang berlabel andro, ada beberapa kesamaan pilihan gaya bahasa yang digunakannya jika dibandingkan dengan andro-andro yang lain, yaitu:
Humaniora, Opini »
Oleh: Grey Sebastian
Beberapa hari yang lalu saat aku buka-buka Facebook, aku menemukan ada beberapa temanku yang sudah berganti status, dari sekedar in relationship menjadi married. Saat aku tanyakan pada yang bersangkutan, ternyata yang bersangkutan memang sudah resmi menikah. Berarti dalam waktu kurang dari satu tahun ini aku sudah melewati sekitar enam sampai tujuh pernikahan teman-temanku. Dan seperti biasa, saat aku mengucapkan selamat menempuh hidup baru, balasan yang aku terima adalah “Jadi kapan giliran kamu yang menikah, Grey?” dan aku pun tidak bisa membalas lagi.





