Home » Archive

Articles in the Opini Category

Humaniora, Opini »

[2 Jun 2011 | 13 Comments | 640 views]
Born This Way

Oleh: FlaPuding
No matter gay, straight, or bi
lesbian, transgendered life
I’m on the right track, baby
I was born to survive

Awalnya kutemukan lagu ini saat diriku sedang iseng di jejaring sosial yang kubuka. Dimainkan ulang oleh grup musik kecil dari para pemain orkestra di negeri kanguru yang menamakan diri mereka Aston. Mereka membungkus lagu Born this Way yang dilantunkan oleh penyanyi kelas dunia, Lady Gaga dengan genre klasik yang benar-benar keren menurutku.

Humaniora, Opini »

[24 May 2011 | 22 Comments | 697 views]
Balas Dendam yang Cantik

Oleh: Lakhsmi
Suatu hari seorang anak lelaki berumur tiga belas tahun bertemu dengan pengemis yang sangat lapar. Anak lelaki itu tidak memiliki uang seperak pun. Dia merasa sedih tidak mampu memberikan apa-apa. Akhirnya dia melihat baju si pengemis yang compang camping, bertanyalah dia, “Mau kuberi kaos dan celanaku?” Si pengemis mengangguk. Maka anak lelaki itu memberikan semua yang dia miliki, pulang dalam keadaan telanjang.

Humaniora, Opini »

[15 Mar 2011 | 10 Comments | 432 views]
Republik SepociKopi

Oleh: Lakhsmi
Ingar bingar ulangtahun SepociKopi keempat sudah berlalu selama dua bulan. Situs tersayang ini semakin matang menapakkan kakinya di hosting dan desain brand new, menuju tahun kelima. Apa yang aku dapat selama mengurus, menjaga, dan membangun majalah online ini? Benar-benar sebuah pengalaman yang sangat berkesan. Mulai dari mengenali aneka jenis persahabatan yang setia, mendalami social network, memikirkan perubahasan sosial yang bisa dilakukan oleh lesbian, menciptakan berbagai ruang di SepociKopi untuk berbagi gagasan, sampai belajar menjadi editor. Kesempatan ini membuatku menyadari, bahwa semakin banyak aku membaca buku, artikel, majalah tentang lesbian …

Humaniora, Opini »

[17 Feb 2011 | 10 Comments | 410 views]
I’m a Dreamer

Oleh: Chossy Tan
Bermimpilah bebas seperti anak-anak tanpa beban, mereka  selalu bersemangat, berlari-lari untuk menjadi seperti yang mereka inginkan. Mereka tidak memikirkan apa yang akan ditemukan di depan, meraka hanya bermimpi dan yakin mimpi itu akan terwujud.
Semua orang pasti mempunyai impian , banyak hal yang dinginkan namun kadang langkah terhenti ketika impian itu hanyalah menjadi sebatas angan-angan. Mungkin banyak orang behenti bermimpi ketika dia menyadari orientasi seksualnya berbeda dengan orang kebanyakan. Lalu menghabiskan hidupnya dengan penyesalan dan permasalahan cinta yang rumit dan pelik yang sepertinya tidak pernah berujung dengan baik.

Humaniora, Opini »

[26 Dec 2010 | 5 Comments | 422 views]
Catatan Perjalanan Lesbian

Oleh: Alex
Hari ini adalah hari Minggu terakhir tahun 2010. Berbagai kilasan perjalanan hidup yang sudah saya lewati hingga sejauh ini berkelebatan di dalam benak. Tak henti saya bersyukur terhadap kemajuan hidup dan terobosan teknologi yang membawa kita untuk bertemu, berdiskusi, membagi gagasan secara online 24 jam 7 hari seminggu. Hal yang 20 tahun lalu takkan pernah terpikir bisa kita lakukan ketika lesbian masih berkenalan via surat PO Box.
Lebih dari selusin tahun saya mengenal orientasi seksual saya saat saya memutuskan keluar dari cangkang dan mencari komunitas lesbian. Bahkan saya menjadi aktivis …

Opini, Renungan, Sepocikopiana »

[21 Dec 2010 | 12 Comments | 227 views]

Oleh: Tya Andriani
Hidup sebagai lesbian, seringkali aku merasakan sakit hati yang teramat lekat. Kadang, sakit hati sangat bertubi-tubi sampai aku ingin berteriak sekencang-kencangnya. Tapi tidak mungkin kan? Nanti seluruh orang keluargaku bakal kaget dan mengira-ngira apa yang terjadi dengan diriku. Padahal aku tidak ingin peduli. Yang paling parah saat aku mulai membayangkan perempuan dan jatuh cinta dengan teman-teman perempuanku. Aduh! Seringkali aku benci dengan keadaan diriku. Keadaan ini bukan hanya sekali atau dua kali, tapi terjadi berkali-kali.
Sakit hatiku memuncak terasa ketika aku kuliah. Mulai dari keluarga yang tidak dekat denganku …

Humaniora, Opini »

[7 Dec 2010 | 2 Comments | 125 views]

Oleh: Sarah
Salah satu hal paling menyenangkan untukku sebagai seorang lesbian tentu saja teman–teman straight yang open minded. Orientasi seksual bukanlah masalah, hanya perbedaan tapi bukan penghalang untuk bisa menjadi teman. Itu yang membuatku merasa tentu akan sangat menyenangkan jika aku dapat coming out ke banyak orang, tidak perlu bersembunyi, tidak perlu berpura–pura. Bisa apa adanya dan biasa saja.
Hal pertama yang aku lakukan untuk coming out adalah melihat kesiapan temanku menerima seorang lesbian. Tentu saja keinginan coming out ke banyak orang harus tetap dipertimbangkan secara baik. Aku harus tetap rasional …

Humaniora, Opini »

[20 Nov 2010 | 5 Comments | 118 views]

Oleh: Frizzy Jo
Saat sedang iseng membaca artikel-artikel lama di arsip Sepocikopi, keisenganku tiba-tiba terhenti saat aku membaca artikel dalam Bengkel Menulis yang membahas tentang curhat sang penulis ketika menerima beberapa email dan tulisan yang berisikan penderitaan sebagai lesbian. Ada komentar yang membuatku tergelitik untuk melanjutkan keisenganku dengan menulis.
Salah satu komentar tersebut menuliskan tentang kekecewaan si komentator yang didukung oleh pendapat temannya yang hetero atas tulisan-tulisan yang ada di situs majalah lesbian Sepocikopi. Sebagai salah satu pengunjung yang lumayan sering mengikuti artikel-artikel yang disajikan dalam situs ini, aku merasa heran dengan …

Humaniora, Opini »

[26 Jun 2010 | 87 Comments | 2,741 views]

Oleh: Frizzy Jo
“Kenapa kamu menjadi lesbian?” adalah sebuah pertanyaan yang lumayan sering dilontarkan kepadaku. Berhubung aku masih in the closet, tentu saja pertanyaan itu selalu berasal dari teman-teman gay dan tidak pernah keluar dari mulut teman-teman hetero. Namun, dengan begitu seringnya aku juga mendapatkan pertanyaan serupa dari mereka yang telah coming out, aku jadi berasumsi kalau mereka juga pernah mendapatkan pertanyaan yang serupa.
Terus terang, setiap ditanya seperti itu ada rasa geli menggelitik hatiku. Kadang-kadang aku iseng ingin menjawab “Oh, menjadi lesbian memang cita-citaku sejak kecil kok.” Tapi nggak mungkin kan …

Opini, Sepocikopiana »

[25 May 2010 | 31 Comments | 217 views]

Oleh: Sarah
Beberapa hari yang lalu ada sebuah liputan tentang Lesbian Kota jakarta di salah satu stasiun televisi swasta. Durasinya hanya 30 menit, menampilkan sebuah taman kota tempat lesbian suka berkumpul, tapi entah kenapa liputan ini cukup mengganggu saya. Ada dua hal yang saya tidak suka. Pertama kenapa taman kota remang–remang yang mereka sorot, dan kedua kenapa harus mengundang ahli kejiwaan untuk membahas masalah ini?
Saya mencoba membayangkan para straight yang melihat acara ini akan berpikir beberapa hal. Pertama, bahwa lesbian adalah manusia–manusia malam yang senang keluyuran sampai pagi. Liputan ini bahkan …