Articles in the Opini Category
Humaniora, Opini »
Oleh: Jazzy
Kekasih saya seorang aktivis sejati di himpunan mahasiswa kampus. Kegiatannya seabrek, kadang saya sering dicuekin kalau dia lagi sibuk-sibuknya. Daripada saya menunggui kegiatannya melulu, mending saya mencoba ikutan menjadi aktivis kampus juga. Sekarang, saya adalah pengurus BEM kampus dan juga aktif di beberapa Unit Kegiatan Mahasiswa. Beraktivitas di sana membuat saya terpecut untuk belajar berorganisasi dan menjadi seorang pemimpin yang baik.
Humaniora, Opini »
Oleh: Lakhsmi
Seseorang pernah berkata kepadaku, “Dasar lesbian, terperangkap dalam tempurungnya seperti seekor katak!” Jawabanku berada di antara ya dan tidak. Sebelumnya, aku senang mengamati mainan anak-anak yang berbentuk kotak, di mana kotak yang kecil dimasukkan kotak yang lebih besar dan kotak yang lebih besar dimasukkan lagi dengan kotak yang lebih besar, demikian seterusnya sampai kotak-kotak itu saling dimasukkan ke dalam kotak yang lebih besar. Ketika kotak yang terbesar menampung seluruh kotak itu, apakah kotak yang terbesar terbebas dari “perangkap dalam tempurung kotak?”
Humaniora, Opini »
Oleh: Alifah
Aku mempunyai dua kehidupan yang kujalani; dunia nyata dan dunia maya. Dunia maya buatku merupakan dunia dengan kecepatan cahaya kilat, yang menghubungkanku dengan berbagai hiruk pikuk cerita dan kehidupan yang berbeda-beda. Ada kebohongan ada kejujuran. Ada kebebasan berekspresi dan kebebasan mengeluarkan pendapat. Aku memilih kehidupan ini untuk mencari ketenangan dan berusaha untuk melupakan seseorang yang telah pergi dari hidupku.
Humaniora, Opini »
Oleh: IndieX
Beberapa hari yang lalu, seorang teman baru bertanya padaku, “Apa cinta itu?” Dasar saya paling malas menjelaskan hal-hal seperti ini, jadi jawaban saya cuma, “Ya gitu, yang namanya cinta, gue nggak bisa menjelaskan dengan bahasa sastra tingkat advance or even tingkat pre-basic.” Mungkin orang itu agak sebel denganku karena dia pikir aku tidak serius menanggapi pertanyaannya.
Humaniora, Opini »
Oleh: Alex
Belakangan ini saya suka banget browsing youtube dan menonton video klip di sana. Tapi di antara banyak video klip yang saya lihat, saya melihat pola kebencian dan iri hati terhadap mereka yang sukses dan berhasil. Lihat bagaimana Justin Bieber dihujani kebencian bertubi-tubi. Atau Taylor Swift yang sering dibilang nggak bisa nyanyi-lah atau cuma modal cantik sajalah. Kebencian dan kedengkian menjadi makanan sehari-hari mereka yang berada dalam jalur kesuksesan.
Humaniora, Opini »
Oleh: Velvet Rose
Kerincingan tamburin terdengar samar dari dalam mobil yang kutumpangi. Seorang banci dengan suaranya yang asli bariton sumbang melantunkan sebait lagu dangdut dengan kelembutan yang dipaksakan. Seperti umumnya penampilan semua perempuan, ia mengenakan rok minim bahan yang jika diukur berkisar satu jengkal setengah di atas lutut dan dengan atasan kaus tank top menampilkan belahan yang aduhai.
Humaniora, Opini »
Oleh: Lakhsmi
Come back to reality, Dom. – Inception.
Virus tidak harus berbentuk seperti penyakit dan membuat tubuh sakit. Virus memiliki sejuta wajah, seperti kata Hubert Humprey, “kebebasan adalah virus yang paling menular bagi manusia”. Virus lainnya yang bisa kita tahu adalah ide. Jika ide ditanam di dalam kepala seseorang, maka dia akan berkembang menjadi virus yang bisa menular, bahkan membuat wabah.
Humaniora, Opini »
Oleh: Harumi
Aku menikmati masturbasi. Bolehlah dulu aku memaknai hubunganku dengan kaum lesbian sebagai masturbasi, artinya aku sibuk dengan diriku sendiri, hidup sendiri, tidak melakukan apa-apa yang ada hubungannya dengan memperjuangkan kelompokku (lesbian) yang minoritas di negeri ini. Namun itu tidak berlangsung lama. Dan memang tidak boleh terlalu lama.
Humaniora, Opini »
Oleh: Chossy Tan
Saya sangat mengagumi Patricia Saerang, seorang pelukis hebat yang karya-karyanya luar biasa. Dia semakin luar biasa karena dia tidak melukis dengan tangannya, tetapi dia menggunakan kakinya. Dia bebas mengekspresikan hatinya dalam goresan kanvas sehingga menghasilkan karya seni yang bisa disamakan dengan pelukis-pelukis lain yang menggunakan tangan.
Humaniora, Opini »
Oleh: Lakhsmi
Buku fenomenal international bestseller, yaitu The World Is Flat: A Brief History of Twenty First Century karya Thomas Friedman, menjelaskan tentang globalisasi yang terjadi di abad dua puluh, bersama dengan kemajuan teknologi. Judul yang terdengar ‘salah’ (dunia atau bumi seharusnya bulat) adalah semacam metafora untuk menjelaskan keadaan tentang era perdagangan di mana setiap pesaing memiliki kesempatan yang sama untuk meraup keuntungan.





